Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

1144

Genre Romance

230

Genre Folklore

228

Genre Horror

228

Genre Fantasy

230

Genre Teen

228

Reset
Gelang Setan
Horror Noveltoon
30 Nov 2025

Gelang Setan

Semburat rembulan kian memucat, mencumbu pucuk-pucuk mendira yang kian membuku dibalut embun kelabu. Suara derit mesin kendaraan yang lalu lalang di depan kantorku berangsur-angsur mulai sirna seiring berjalannya waktu. Yang terdengar hanya nyanyian jangkrik dan hembusan angin malam yang membelai ranting-ranting pohon beringin dan jambu *** yang ada di halaman depan kantor. Itu berlangsung hingga fajar menjemput di balik hari.Aku duduk dalam ruangan kantor perpustakaan tempat aku bekerja sebagai penjaga malam. Aku sudah menjalani pekerjaan ini selama delapan tahun, setiap malam tanpa ada libur. Aku memang bekerja seorang diri, jika aku libur tentu tidak ada yang menggantikan tugasku. Pernah aku mengusulkan kepada atasanku agar menambah lagi petugas jaga malam, agar pekerjaan bisa dilakukan secara bergilir. Namun menurut atasanku anggaran untuk penjaga malam dari PEMKOT hanya satu orang. Mungkin kantor perpustakaan dianggap tidak terlalu rawan dari pencurian, maka untuk penjaga malam cukuplah satu orang. Sehingga dengan demikian hingga sekarang aku tetap bertugas seorang diri.Sebagai seorang penjaga malam honorer tentu tidaklah memiliki gaji yang besar. Tapi aku tetaplah mensyukurinya, karena menurutku kebahagiaan tidaklah diukur dari gaji yang besar. Kebahagian akan kita rasakan jika kita selalu merasa syukur dengan apa-apa yang diberikan Sang Pencipta kepada kita. Dan aku pun terus bersyukur karena anak dan istriku tidak pernah minta yang berlebihan. Mereka selalu menampakkan wajah gembira dan penuh keceriaan, jika kami sedang berkumpul menikmati makanan di atas meja apa adanya.Istriku pun tidak tinggal diam, sehari-hari dia membantu juga untuk menambah penghasilan kami dengan membuat cemilan untuk dititipkan di warung-warung. Hasilnya lumayanlah untuk membuat dapur tetap ngebul dan anak tetap bersekolah. Dan istriku dengan senang hati mengerjakan semua itu. Hingga sampai sekarang dia tetap setia menemaniku walau kami sudah berusia 50-an tahun.Selama delapan tahun aku bertugas sebagai penjaga malam tak pernah ada gangguan apapun, baik dari alam nyata maupun alam yang kasat mata. Oh... ya aku hampir lupa, pernah satu kali ada anak muda makai motor dalam keadaan mabok. Motornya menabrak pintu pagar, sehingga slot pintu pagar lepas. Hanya satu kali itu saja. Untuk gangguan dari alam ghaib tidak pernah sama sekali.Pernah seorang pegawai kantor yang sudah lama dariku bekerja di situ menceritakan hal-hal ganjil dan aneh yang dia alami selama bekerja di situ, kejadiannya di siang hari. Tapi aku tak pernah menggubris cerita-cerita semacam itu. Dia juga mengatakan bahwa kantor itu dulunya dibangun di atas kuburan tua milik Belanda. Aku anggap ceritanya itu hanya untuk menakuti ku, jangan-jangan dia menginginkan aku agar tidak betah atau takut bekerja di situ. Aku yakin aku lebih tahu dari pegawai itu soal kantor itu, sebab aku dilahirkan di kota itu. Sedari kecil aku juga pernah bermain-main di sekitar kantor itu, yang dulu belum menjadi kantor perpustakaan seperti sekarang ini. Terus terang dalam kehidupan sehari-hari aku tidak terlalu suka dengan hal-hal mistis, walaupun aku sering menonton film horor.Demikianlah hingga hari ini tidak ada kejadian yang berarti selama aku menjalankan tugasku sebagai penjaga malam.Aku menikmati pekerjaanku seorang diri di tengah kesunyian malam yang penuh ketenangan dan kedamaian.. Ditemani sebuah laptop dan secangkir kopi untuk menghibur diri dan mengusir rasa ngantuk, sehingga aku bisa tidur dan istirahat jika malam sudah hampir berakhir. Keamanan pun terus terkendali hingga sampai pada suatu malam....Aku menonton film horor di video YouTube. Itu aku lakukan hampir setiap malam. Sudah ratusan atau mungkin ribuan film horor sudah aku tonton di video YouTube, baik yang dari barat maupun dari negeri sendiri. Tapi aku lebih suka yang dari Barat, sebab menurutku yang dari Barat lebih masuk akal daripada yang lokal. Terkadang aku juga nonton film action dan video-video lain yang tersebar di YouTube. Itu semua aku lakukan untuk mengusir kejenuhan dan mengulur waktu hingga sampai saatnya aku menghempaskan tubuhku di atas sofa yang ada di ruangan kantorku untuk beristirahat.Sejenak aku menoleh ke arah jam tanganku yang terletak di atas meja dekat laptop. Waktu sudah menunjukkan pukul 03:00. Kulihat juga jam yang ada di pojok bawah layar monitor untuk meyakinkan kalau-kalau arlojiku tidak akur, jam di monitor juga menunjukkan waktu yang sama. Mataku terasa sudah berat untuk melotot kearah monitor, sebentar melek sebentar merem. Aku sudah tidak jelas lagi awal dan akhirnya adegan di film yang ku tonton. Aku menguap lebar tanda kantuk sudah benar-benar menyerang.Ku matikan laptopku yang sudah termasuk usang, karena sudah sepuluh tahun yang lalu aku beli, yang selalu setia menemaniku setiap malam. Aku masukkan kedalam tas yang setiap aku berangkat kerja selalu aku bawa yang isinya selain laptop ada juga benda-benda lain yang aku perlukan.Usai itu aku menuju toilet yang rutin aku lakukan setiap malam sebelum aku menghempaskan tubuhku di atas sofa.Hal itu sudah diajarkan oleh ibuku sedari kecil, agar sebelum tidur buang air kecil dulu. Mungkin itu diajarkan juga oleh ibu-ibu yang lain kepada anak-anaknya.Perlahan-lahan aku merebahkan tubuhku di atas sofa yang setiap malam menjadi ranjang bagiku. Kutarik kain sarung untuk membungkus tubuhku dari ujung kaki hingga sebatas leher. Tubuhku terasa nyaman. Hembusan AC yang sudah ku kurangi volumenya, yang menempel di dinding kantor, membuat tubuhku tidak merasa gerah pada saat musim kemarau seperti ini.Ada hal yang tak pernah aku tinggalkan saat menjelang tidur.Aku selalu mengucapkan doa dan zikir yang telah diajarkan oleh Ayahku sejak dari kecil. Karena saat tertidur hanya Allah yang menjaga diri kita dari segala gangguan baik yang datang dari bumi maupun dari langit, begitulah yang dikatakan Ayahku dulu. Dan itu tetap kuingat dan ku yakini betul hingga aku sudah menjadi seorang ayah juga.Tapi entah mengapa malam itu aku benar-benar lupa mengucapkan doa dan zikir, mungkin karena kantuk sudah terlalu berat, sehingga begitu merebahkan tubuhku di atas Saat aku terpana memandang ke arah sekeliling goa, aku merasakan ada tangan dingin dan kaku menyentuh pundak ku. Secara refleks aku membalikkan tubuh dengan maksud untuk menghindar karena didera rasa yang teramat sangat.Bersamaan dengan itu, di dalam gua menyeruak bau kemenyan yang entah dari mana datangnya, membuat bulu kuduk tambah merinding. Di hadapanku berdiri sesosok makhluk yang belum pernah aku lihat sepanjang hidupku.Dadaku terasa berdebar, bulu kudukku merinding, lutut ku terasa bergetar sehingga lantai goa yang aku pijak tidak terasa lagi. Perasaan takut dan cemas menyerang jiwa dan ragaku. Belum pernah aku merasakan takut seperti itu di dunia nyata.Makhluk di hadapanku benar-benar makhluk aneh dan menyeramkan, lebih seram daripada makhluk-makhluk yang pernah ku tonton di film horor. Tubuhnya berbentuk besar tinggi, ditumbuhi bulu-bulu lebat dan hitam seperti gorila ataupun orang hutan. Daun telinganya lebar dan agak meruncing mengarah ke belakang. Di kepalanya terdapat dua buah tanduk yang runcing, bola matanya besar melotot berwarna merah seperti bara api yang masih menyala.Benar-benar pemandangan yang menyeramkan bagi mereka yang tidak pernah berkubang dengan dunia mistik dan alam supranatural.Dengan dada berdebar dan wajah agak memucat aku merasa ngeri untuk menatap makhluk yang sangat menyeramkan itu.Yang membantu menguatkan jiwaku hanyalah sepotong iman kepada yang menciptakan makhluk itu. Aku yakin tidak ada kekuatan yang bisa menandingi kekuatan nya, baik yang ada di langit maupun di bumi. Dengan didorong oleh pikiran seperti itu, perlahan-lahan aku beranikan diri untuk menatap makhluk itu, mulai dari ujung kukunya sebesar mata linggis hingga bola matanya seperti bola api yang pernah dijadikan oleh sebagian anak pesantren untuk bermain sepak bola.Tapi anehnya makhluk itu tidak mengucap sepatah kata pun. Dia hanya menatapku dengan tajam mengerikan. Kemudian dia menyentuh tangan kananku dengan tangannya membuat dadaku makin bergemuruh. Tangannya sangat dingin dan kaku membuat bulu kudukku kembali merinding. Kakiku terasa makin lemas menginjak lantai goa itu. Aku merasakan tangannya mulai meremas tanganku. Remasan nya semakin lama semakin keras yang aku rasakan. Saat itu keluarlah dari mulutku firman Allah yang ada di Al-Quran yang sudah aku hafal dan sering aku ucapkan selama ini.Aku tersentak kaget. Aku terjaga dari tidurku yang baru setengah jam. Semua mimpi-mimpi itu buyar seketika. Tak ada lagi batu-batu dan air mengalir yang ada di dalam goa saat aku bermimpi. Yang ada di sekelilingku sekarang hanya kursi; rak-rak buku, serta lampu yang cahayanya menerangi ruangan, yang tentu saja menjadi pemandangan yang aku lihat setiap malam di ruang kantor perpustakaan.Saat itu juga aku merasakan ada sebuah benda yang melingkar di pergelangan tangan kananku. Benda itu benar-benar aku rasakan keberadaannya di tanganku. Aku perhatikan pergelangan tanganku. Di tanganku melingkar sebuah gelang yang terbuat dari biji-biji tasbih berwarna hitam pekat. Aku tidak jelas terbuat dari bahan apa biji-biji itu. Hanya keesokan harinya ku perhatikan biji-biji tasbih itu mirip biji kacang kecipir yang sudah dikeringkan, yang di daerahku orang tua jaman dulu sering membuatnya menjadi gelang untuk anak-anak bayi, agar bayi tidak suka menangis di malam hari.Aku sangat tidak menyukai gelang yang ku peroleh dari alam mimpi itu. Aku memang tidak suka berhubungan dengan hal-hal mistik. Karena menurutku hal semacam itu akan menjerumuskan kita ke jurang kemusyrikan, yang menurut ceramah para ustadz itu adalah dosa yang tidak bisa diampuni. Aku tidak punya niat sama sekali untuk menyimpan gelang itu apalagi memakai dan membawanya kemana-mana. Bagiku gelang itu miliknya para setan, jika aku pakai berarti aku menjadi temannya para setan. Aku Pun tak pernah menceritakan perihal gelang itu kepada isteri dan anakku, karena menurutku mereka tidak perlu tahu dan memang tidak ada gunanya buat mereka.Timbullah pikiran-pikiran dan pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari otakku. Kemana aku harus membuang gelang itu? Aku Pun tidak berani sembarangan membuangnya. Aku khawatir jika aku buang sembarangan akan ada akibat buruk bagiku dan keluargaku. Perasaan bingung menyeruak ke benakku. Sebab makhluk dalam mimpiku tidak memberitahu apa-apa perihal gelang itu. Di samping itu aku juga khawatir perbuatan syirik bakal mendekatiku jika gelang itu tetap berada padaku. Dan akhirnya tentu saja akan menjadikanku umat yang ingkar kepda Allah dan mengikuti jejak-jejak setan.Lama aku termenung memikirkan hal itu, hingga akhirnya aku ingat kepada seorang temanku yang suka mengoleksi benda-benda mistik. Temanku itu bernama Jarot. Aku tidak faham mengapa Jarot menyukai benda-benda seperti itu. Aku Pun tak pernah usil untuk menanyakan perihal itu kepadanya. Biar bagaimanapun dia adalah teman, aku tidak suka membicarakan hal-hal yang menyinggung perasaan teman. Biarlah itu akan menjadi urusannya dengan Sang Pencipta di hari kemudian, karena hanya Dia yang berhak memberi hukuman kepada umatnya pada hari itu.Keesokan harinya kutemui Jarot di rumahnya. Dia sehari-harinya berprofesi sebagai tukang gunting rambut. Terkadang jasanya sering dipakai juga oleh orang-orang yang suka mengobati penyakit dengan cara-cara ghaib, walaupun sebenarnya penyakitnya bukan berasal dari alam ghaib.Kedatanganku diterima Jarot dengan ramah, sebagaimana layaknya seorang teman. Selang beberapa menit kemudian istri Jarot keluar dari dapur dan menghidangkan dua cangkir kopi hangat dan sepiring pisang rebus di atas meja. Dia mempersilakan ku mencicipi hidangannya, kemudian masuk lagi ke arah dapur.Di dinding rumah Jarot terpampang keris dan beberapa benda kuno yang tak aku fahami."Ada apa, Bok? Adakah sesuatu yang akan kamu ceritakan hari ini kepadaku?" tanya Jarot kepadaku. Di kalangan teman-teman, aku memang biasa dipanggil "Abok". Aku tidak tahu mengapa mereka memanggilku seperti itu, padahal namaku bukan seperti itu. Yang kutahu panggilan "Abok" berarti "Kakek" dalam bahasa Indonesia-nya. Mungkin mereka memanggilku seperti itu karena rambutku sudah ditumbuhi uban, bahkan kumis ku sudah tidak ada lagi rambut hitamnya. Teman-temanku yang sebaya sebenarnya juga sudah banyak yang memiliki uban, cuma yang paling banyak itu aku.Menjawab pertanyaan Jarot, aku ceritakan semua kejadian di mimpi yang ku alami. Dan tentu saja masalah gelang itu. Setelah mendengar ceritaku, tanpa basa-basi lagi dengan cepat Jarot mengambil gelang itu dari tanganku. Diperhatikannya gelang itu dengan teliti, kemudian dia tersenyum sambil menyeringai, sebagi tanda dia sangat menyukai benda itu.Menurut Jarot gelang itu milik raja iblis bernama Datuk Antu Kuwek. Gelang itu berkhasiat untuk menundukkan segala makhluk dari golongan setan. Tapi aku tak peduli dengan segala khasiat dari benda itu. Yang aku tahu gelang itu milik setan, jika memakainya berarti akan dekat dengan setan.Setelah puas melihat-lihat benda itu dengan seksama, Jarot berkata kepadaku, "Berapa, Bro?" sambil tangannya merogoh kantong celananya bagian belakang. Mungkin dia mau mengambil uang dari kantong itu."Gak usahlah, Bro. Ambillah.. gratis, ku kasih Cuma-cuma." Sahutku.Setelah pulang dari rumah Jarot, aku tidak mau lagi memikirkan mimpi dan masalah gelang itu. Aku Pun tidak pernah bertanya kepada Jarot, apa yang akan dia perbuat terhadap gelang itu. Aku merasa lega karena gelang itu tidak berada di tanganku lagi. Dalam hati aku yakin Jarot tahu apa yang akan dia perbuat dengan gelang itu, karena dia sudah biasa berurusan dengan hal semacam itu.Hingga sekarang aku pun tidak pernah mengalami hal-hal buruk dan aneh yang berasal dari gelang setan itu. Setiap malam hari aku masih tetap menjalankan tugasku seperti biasa sebagai penjaga malam di kantor perpustakaan dan arsip. Dan setiap menjelang tidur aku tidak lupa lagi mengucapkan doa dan zikir.Kabar yang terakhir kudengar dari Jarot, anaknya yang bungsu bernama Lengos yang masih berumur lima tahun, raib entah kemana perginya. Sudah dicari dengan cara nyata maupun dengan pertolongan orang pintar, tapi hasilnya nihil. Menurut teman-temannya, mereka melihat Lengos terakhir saat bermain hujan-hujanan di pinggir selokan. Karena memang saat ini baru memasuki musim hujan yang memang disukai anak-anak. Sudah hampir enam bulan di tempatku dilanda kemarau panjang.Menurut teman-teman Lengos, mereka melihat Lengos waktu itu memakai gelang tasbih warna hitam menyeramkan. Saat itu kelakuan Lengos agak kasar, suka menendang teman-temannya, sehingga teman-temannya menjauh dari LengosTAMAT

Diary Terkutuk
Horror Noveltoon
30 Nov 2025

Diary Terkutuk

Hai guys, perkenalkan namaku amalia fellicie camille. Aku berusia 10 tahun. Hari ini aku akan menceritakan kejadian saat ulang tahunku yang ke 9.Jadi seperti biasa aku bangun jam 06.30, sebelum aku ke kamar mandi aku baru ingat bahwa hari ini aku sedang ulang tahun, setelah aku mandi ibuku memanggilku untuk sarapan pagi. Setiap hari aku sarapan dengan sereal rasa coklat dan susu.Ibu dan ayahku berkata "Lia ayah dan ibu akan kerja dan pulang sekitar jam 2 siang"."Ok ibu dan ayah" aku menjawab.Setelah aku sarapan aku masuk kembali ke kamar dan membaca buku ku yang berjudul "Bel rumah yang terkutuk", sekitar jam 12.00 aku mendengar suara bel rumah ku berbunyi, ting tong, ting tong. Dengan perasaan takut karena sedang membaca buku yang seram, aku semakin takut dengan suara bel itu yang berulang ulang berbunyi, "Semoga itu ayah dan ibu yang datang" ucapku dalam hati, dengan perasaan takut aku membuka pintunya dan memegang erat buku yang ku baca, "Krekk, loh kok gak ada orang", akhirnya aku menutup pintu dan lari ke kamar dengan ketakutan.Karena ku takut aku berbaring dan lama lama tertidur lelap, di dalam mimpiku aku berada di depan toko buku yang pernah kulihat di pinggiran pasar dekat danau, akhirnya aku masuk dan melihat buku buku yang sudah tidak bagus, kecuali buku diary yang berwarna ungu dan memiliki motif tetesan air bewarna merah. Karena aku tertarik aku membelinya.Tiba tiba aku terbangun dari mimpi aneh itu, dan orangtuaku sudah pulang. "Lia, ayo kita pergi ke mall untuk membeli kado untuk ulang tahunmu sayang" kata ibuku. Karena ibuku sudah mengingati aku langsung bersiap siap untuk pergi, aku biarkan rambutku yang sepinggang ku gerai dan kuberi pita di poniku. Sebelum berangkat aku berkata kepada orangtuaku "Ibu, ayah ada tidak sih toko buku di pasar yang dekat danau?" kataku kepada ibu dan ayahku. Mereka pun menjawab "Oh, maksudmu toko buku pak siman" jawab ayah, karena ini kesempatanku mendapatkan diary itu aku meminta orangtuaku ke sana, tapi sebenarnya orangtuaku merasa aneh karena aku meminta buku diary yang ada di situ, padahal aku tidak suka menulis, tetapi akhirnya jadi ke toko tersebut karena aku memaksa.Setelah membeli aku pergi ke mall, pada saat ku di mall aku melihat ada perempuan yang memakai topi, baju dan sepatu sama dengan diary yang aku punya, saat aku melihat wajahnya, aku kaget karena wajahnya hancur dan bola matanya putih tidak memiliki pupil mata, sejak saat itu aku merasa semakin takut, aku langsung meminta orangtuaku untuk pulang.Saat sampai di rumah aku mengisi diary ku:Buku harian sayangHari ini aku mengalami hari teraneh dan terburuk yang pernah aku alamiSeperti ada yang datang ke rumahkuAda perempuan di mall yang tidak punya pupil mataSemoga esok hari aku tidak mengalami hari seperti iniKeesokan harinya, saat aku di sekolah aku memberi tahu tentang kejadian kemarin kepada sahabatku yang bernama Maria Natallia Astan, yang biasa dipanggil Ria.Sesaat ku memberi tahu ria, "Oh Lia aku tahu cara menghentikan ini, dengan cara kamu harus mencari di lembaran itu sebuah tanda tangan dan kamu membakar bukunya di bawah sinar matahari dengan mengarahkan tanda tangan itu ke sinar matahari dan membakar tanda tangan tersebut ke terakhir" kata Ria.Saat pulang sekolah aku mencari tanda tangan tersebut, ternyata kata ria benar, ada tanda tangan di suatu lembaran. Aku langsung melakukan yang diajarkan ria padaku. Akhirnya beberapa hari kemudian tidak ada kejadian aneh lagi, aku merasa sangat lega karena sudah tidak ada yang menggangguku.Sejak saat kejadian tersebut aku sangat menyesali perbuatanku di hari ulang tahunku, jika aku tidak melakukan itu aku tidak akan dihantui oleh diary terkutuk tersebut.Tamat

HOROR DI RUMAH KOST NO. 13
Horror Wattpad
30 Nov 2025

HOROR DI RUMAH KOST NO. 13

Waktu menunjukkan jam 09.30 WIB saat Sasha melihat jam tangannya, dia pun menaiki tangga menuju ke kantornya di lantai 2, saat masuk ke ruang kantornya bu Alena melihat dengan pandangan sinis dari arah kaca bening ruangannya, Sasha berusaha diam - diam tidak mau mengeluarkan suara berisik menuju meja dan kursinya yang berada di pojok ruangan."Sasha, lo dari mana saja?" tanya Gaby sahabat Sasha dikantor yang berpostur mungil dengan raut wajah polosnya"Sssh.... Gab, jangan berisik, jalan tol macet parah, padahal gw sudah berangkat dari pagi ke kantor, dari habis subuh kali, setiap jalanan sudah macet mana busnya ngetem lama lagi di terminal" ucap Sasha kesal dengan kondisinya setiap pagi harus mengalami hal yang sama.Bulan ini Sasha sudah terlambat lebih dari 20 hari kerja,kondisi rumah Sasha yang jauh dari kantornya Depok - Tanjung Priok harus dihadapinya setiap hari, dengan kondisi lalu lintas yang padat belum lagi pembangunan jalan hampir di semua tempat, dan kondisi bus yang sering lama menunggu penumpang, membuat Sasha harus berkejaran dengan waktu setiap harinya. Sedangkan perusahaan tempat Sasha bekerja adalah perusahaan Jepang yang bergerak di bidang otomotif yang terkenal dengan kedisiplinan dan peraturan yang ketat."Sha lo dipanggil sama bu Alena" ucap Dito teman sekantor Sasha yang berambut keriting dengan memakai kacamata tebalnya."Sekarang?""iya, cepetan, bu Alena tampangnya sudah marah tuh kayanya"sedikit gemetar Sasha menuju ruangan bu Alena"Tok..tok..tok""masuk Sasha, silahkan duduk" suara tegas bu Alena membuat Sasha menjadi sedikit gugup"Ini surat buat kamu""Surat apa ya bu?""Surat peringatan untuk kamu, karena kamu banyak sekali terlambat bulan ini Sha""Maaf bu, saya sudah berusaha sepagi mungkin dari rumah, bahkan saya berangkat hampir jam lima pagi bu untuk menghindari macet dijalanan, tetapi tetap saja saya terlambat seperti hari ini" jawab Sasha jujur"Sasha, management perusahaan tidak akan perduli jam berapa kamu berangkat dari rumah, tetapi yang mereka lihat jam berapa kamu datang kekantor, kamu mengerti?""iya bu" jawab Sasha dengan kepala menunduk merasa bersalah atas jawabannya tadi"Ibu tahu, rumah kamu jauh, dan terkenal dengan rute yang sangat macet, mungkin kamu harus mencari solusi lain Sha, kamu masih mau bekerja disini kan?" tanya bu Alena"Mau bu""Maka menurut ibu kamu harus kost Sha..""Kost bu..." Sasha berfikir sebentar, seumur hidupnya Sasha tidak pernah jauh dari rumah bahkan menginap di rumah temannya pun Sasha tidak pernah"Baik bu akan saya pertimbangkan dulu""Baiklah, ibu mau melihat perubahan kamu ke depannya, kamu karyawan yang baik dan dapat ibu andalkan, ibu harap kamu segera mencari solusi permasalahan kamu Sha" ucap bu AlenaSaat tiba di rumah, Sasha sedang melihat ibu merapihkan baju di ruang belakang"Bu, Sasha dapat surat peringatan" ucapnya"Kenapa Sha, kok bisa?" jawab ibu kaget"Sasha terlambat lagi bu, bulan ini saja sudah lebih dari dua puluh hari keterlambatan bu, padahal Sasha bangunnya kan sudah pagi banget bu" ucap Sasha manja"lalu bagaimana Sha? kamu mau keluar dari pekerjaanmu?" tanya ibu"tidak bu, sayang kalau Sasha keluar, perusahaan besar, gajinya juga sudah lumayan, Sasha mau kost saja bu" ucapnya"Apa?? Kost??"tiba - tiba ayah masuk ke ruangan, "Iya Sha kamu harus bersikap profesional, kalau menurut kamu itu menjadi masalah ayah tidak keberatan kalau kamu mencari tempat kost, setiap akhir pekan kamu kan bisa pulang kerumah" jawab ayah menenangkan"Tapi.... nanti makan mu bagaimana?" pertanyaan seorang ibu memang tidak jauh - jauh, takut melihat anaknya kelaparan dan menderita."Tenang aja bu kan warung makan banyak, nanti Sasha akan mencari kost - kostan yang tidak terlalu mahal bu, sama seperti ongkos Sasha sekarang" ujar Sasha"Baiklah, kamu cari tempat kost yang baik..." ucap ibu Sasha merelakan keputusan anak perempuan semata wayangnya.----------{}-----------Siang itu Sasha ditemani Gaby, mencari kost - kostan di daerah cempaka putih, Gaby tinggal di kost dekat situ, tetapi menururt Sasha kost - kostan Gaby terlalu kecil.Hampir sore mereka berdua masih belum mendapatkan tempat kost yang sesuai, akhirnya mereka sepakat untuk beristirahat dan makan di Warung makan yang berada di area itu, saat mereka selesai makan dan mau meninggalkan warung makan tersebut, Sasha melihat brosur di bawah lantai rumah makan tersebut"Menyewakan kost - kostan besar dan Murah, di Jalan Tramboli 4 No. 13 silahkan hubungi ke Nomor : 08345216796 dengan Agung" didalam brosur tersebut juga terlihat gambar rumah besar dengan ruangan kamar yang besar"Gab, ini kayanya rumah Kost yang gw cari" ujar Sasha"Iya Sha, tapi kok gw belum pernah denger kost - kostan ini sama nama jalannya" fikir Gaby aneh"Yuk... cepetan kita tanya sama tukang bajaj, alamatnya sekalian minta dianterin" ucap Sasha bersemangat"Ini Jalan tramboli 4 neng" kata tukang bajaj itu menyuruh Sasha dan Gaby untuk turun"ini bang uangnya, makasih ya"Di jalan Tramboli 4 itu hanya tanah kosong yang berdiri satu rumah paling ujung, Rumah tersebut terdiri dari 2 lantai dengan bangunan cukup besar, tiba - tiba keluar lah seorang wanita tua berambut putih dari pintu pagar"Ada yang bisa saya bantu?" ucap wanita itu dengan tatapan tajam"Saya mau kost bu" jawab Sasha"Oh baiklah, silahkan duduk dulu" jawab wanita tua tadi lalu masuk kedalam rumahlima belas menit kemudian, ada lelaki berpostur tinggi besar dengan rambut botak keluar bersamanya,"Hai saya Agung, anda mau kost disini?" tanyanya"Iya Pak, berapa harga sewa nya ya?""tidak usah memikirkan harga sewa dulu, biar saya tunjukkan kamar kostnya dulu" lalu Agung mengajak Sasha dan Gaby ke seluruh ruangan kamar kost di rumahnya, di lantai dua ada sekitar dua puluh kamar kost dengan ruang tamu diatas jika ada penyewa yang mau menerima tamunya tetapi dilantai atas ini semua kamar sudah terisi.Lalu dilanjutkan kembali ke kamar kost yang dibawah ini lebih sedikit hanya ada lima kamar kost dengan ukuran ruangan yang lebih besar dan empat dari kamar tersebut juga sudah terisi, sedangkan ada satu kamar yang masih kosong, berada di pojok rumah belakang, disana ada pagar kecil untuk masuk langsung kekamar belakang jadi jika Sasha mau keluar bisa melalui pintu tersebut tanpa harus melewati pintu rumah utama.Kamarnya luas, dua kali kamar kost Gaby, dengan ranjang yang nyaman dan lemari pakaian yang cukup besar"kalau kamar ini sewanya berapa mas?" tanya Sasha"Dua Ratus Ribu""Dua ratus ribu perbulan?" tanya Sasha tidak percaya itu murah sekali bahkan kost - kostan gaby saja sudah membayar tiga ratus ribu perbulan."Kalau kita ngekost berdua harganya sama mas?" tanya Sasha berfikiran Gaby bisa pindah bersamanya"Maaf di kost ini kami tidak ada ranjang untuk berdua" jawab Agung sinis"Baiklah saya langsung bayar untuk satu bulan" ucap Sasha bersemangatlalu Agung pun membuatkan kwitansi untuk SashaKeesokan harinya ayah mengantar Sasha pindahan ke kostan barunya, sebagian pakaian dan kebutuhan sehari - hari Sasha ikut dibawa ke tempat barunya.Setelah ayah bersiap - siap pulang, Sasha merasa ada perasaan aneh, seperti takut,,, ketakutan dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan ayahnya,,, tapi Sasha berfikiran positif ini mungkin karena dia tidak pernah jauh dari rumah.-----------{}---------Saat malam di rumah kost ini tiba - tiba Sasha merasa semua berubah, tidak ada ibu, tidak ada ayah bahkan tidak ada Gaby, dia hanya sendiri di depan kamar kostnya dia mencari sinyal telepon supaya dapat menghubungi rumah dan menghilangkan kesepiannya, tiba - tiba lewat dari pintu belakang dua perempuan bertubuh pendek dan berambut panjang."Eh mba penyewa kost baru ya?""Iya" jawab Sasha ramah"Saya Nita dan ini teman saya Hani" jawab salah satu perempuan tersebut"Iya saya sasha, kamar kamu dimana?" tanya sasha"kami tinggal berdua di kamar depan sana" ucap hani"Berdua? tapi kata mas Agung dia tidak menyewakan kamar berdua?" tanya Sasha bingungtiba - tiba mas agung lewat dengan membawa pakaian kotor ke kamar mandi, dan melihat kepada mereka, seketika itu juga Hani dan Nita tampak ketakutan dan pamit kepada Sasha."maaf ya mba, kami ke kamar dulu, mba hati - hati ya?" ucap Nitaentah perasaan Sasha saja atau Nita lebih menekankan kata hati - hati, seperti akan ada sesuatu yang bisa membahayakannya, tiba - tiba bulu kudu Sasha merinding, dia langsung menutup pintu kamar kostnya.Sudah hampir jam dua belas malam Sasha masih belum dapat memejamkan matanya, sudah dalam posisi di kasur, miring kanan dan miring kiri ada suasana panas yang membuat Sasha tidak dapat tidur, akhirnya Sasha pun menyerah dia segera membuka pintu kamar kostnya.Tiba - tiba ada seorang gadis berdiri didepan pintu, cantik wajahnya, berkulit putih dan tinggi semampai dengan rambut lurus sebahu"Maaf mengagetkanmu" ucap gadis itu"tidak apa - apa, aku hanya gerah, namaku Sasha" jawab Sasha ramah"Aku Angel, kamu penyewa baru disini ya?""Iya baru hari ini, kamu penyewa disini juga?""iya, tapi sudah lama" jawab AngelTidak terasa kami ngobrol panjang lebar tentang asal kami, pekerjaan, hobi, dan obrolan lainnya, selain cantik Angel sosok wanita karir yang sukses dari ceritanya sebagai salah satu marketing komunikasi di perusahaannya, dan dia berasal dari Manado, dia merantau seorang diri di Jakarta.Waktu pun menunjukkan pukul tiga dini hari dan Sasha segera memutuskan untuk mengakhiri obrolan tadi dan pergi tidur sebelum beraktivitas kembali esok hari.Sudah lebih dari tiga hari kejadian serupa selalu terulang, Sasha pasti tidak bisa tidur dan Angel akan menemaninya begadang sampai dini hari dengan obrolan yang berbeda lagi, dan Sasha senang karena dia sudah memiliki teman baru di kostan ini.Hari ini Gaby main ke kostan Sasha dan berencana akan menginap, Sasha pun tidak berencana untuk memberitahu mas Agung pemilik kostan tersebut, dan saat mulai menjelang malam, Sasha dan Gaby sudah siap berada di atas kasur sambil curhat satu sama lain, tentang kondisi kantor, cowok yang jadi incerannya, tiba - tiba handphone Gaby jatuh ke bawah ranjang"Brak..."Saat Gaby hendak mengambil handphone yang jatuh ke kolong, tiba - tiba ada bingkai foto kecil disana, Gaby pun mengambilnya, dia fikir ini milik Sasha."Sha, ini saudaramu?""Siapa Gab?""Wanita di foto ini?"lalu Sasha pun mengambil foto tersebut"Angel....""Nama saudaramu Angel?" tanya Gaby sekali lagi"Bukan Gab, ini salah satu anak kost di rumah ini""Lho kok bisa ada fotonya dikamar kamu"Sasha juga agak sedikit bingung sebenarnya, tapi dia berusaha untuk berfikir positif"Mungkin jatuh dari tasnya saat main kekamarku kemarin" jawab Sasha entengtabi pandangan Gaby jatuh ke pinggir lemari baju, Sha menurutmu ini warna merah seperti darah bukan?""Bisa jadi Gab, mungkin darah nyamuk atau tikus" jawab Sasha tanpa berfikir panjangTiba - tiba Gaby merasa ada hal yang aneh pada kost - kostan tersebut dan seketika itu juga bulu kudunya mulai merinding.---------------{}-------------Sudah beberapa malam ini Sasha tidak bertemu dengan Angel, ada sedikit pertanyaan dalam diri Sasha, apakah Angel sakit atau dia mungkin sedang sibuk di kantor.Tetapi dia tidak bisa bertanya kepada anak kost yang lain dimana kamar Angel, setiap dia bertanya bahkan kepada Nita atau Hani, mereka diam seribu bahasa malah langsung meninggalkan Sasha sendirian.Akhirnya Sasha memututskan untuk masuk ke dalam kamarnya lagi, dan akhirnya Sasha pun dapat tertidur dengan pulas.Tiba - tiba, Sasha seperti mendengar ada suara pintu yang bergerak dari kamarnya"Kreet.... kreeeetttt"Tiba - tiba Sasha melihat mas Agung berada dikamarnya"Ngapain kamu kesini mas Agung?" tanya Sasha marah"Sudah lah kamu tidak usah malu - malu" ucap mas Agung dengan nada suara pelan dan mata menyeringai seperti singa yang ingin menelan korbannya."Bagaimana kamu bisa masuk, pintunya kan sudah aku kunci" Ucap Sasha sambil duduk dikasurnya dengan nada emosi"Kamu lupa, aku yang memiliki rumah kost disini, aku pasti punya kunci serep setiap kamar disini, dasar wanita bodoh" lalu agung semakin mendekati Sasha dengan membawa pisau di tangannyaSasha ketakutan dia berusaha melarikan diri, tetapi badan mas Agung lebih kuat dari tenaga Sasha, dan mas Agung pun menempelkan pisau itu di leher Sasha"Jika kamu berteriak, dan tidak menuruti perintahku, kamu akan tahu rasanya pisau ini menggorok lehermu" ucap lelaki berbadan tegap tersebutSasha ingin teriak sekencang - kencangnya berharap penghuni kost lain dapat menyelamatkannya tetapi sepertinya bibirnya kaku tidak dapat bergerak, dan Agung pun mulai menggerayangi badan Sasha perlahan - lahan, dengan desahan nafsu bejatnya yang semakin tidak dapat terkendali, Tiba - tiba pintu kamar terbuka lebar."Braaakkkk"Sasha melihat sosok Angel berdiri disitu sambil melotot dengan tatapan kebencian kepada Agung, seketika itu juga pisau yang digenggam Agung langsung terjatuh"Kamu.... kamu..... sudah mati" ucap Agung"Dasar bajingan.... kamu selalu saja mencari korban untuk pelampiasan nafsumu" Ucap Angel, diapun semakin mendekati Agung dan ternyata Angel dapat menembus Agung, Sasha seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Angel itu hantu....."Saat Agung ingin melarikan diri dari situasi ini, tiba - tiba kakinya tersenggol pecahan kaca dari bingkai kecil menusuk kekakinya dan membuatnya terjatuh membentur dinding lemari dengan keras, dan seketika itu juga Agung langsung tidak sadarkan diri.Sasha seperti tidak percaya saat Angel mendekatinya, saat ruh Angel menembus dirinya, seketika itu dia seperti berada di dimensi lainDia melihat dikamar yang sama dengan kamarnya ada Angel yang sedang tertidur terbangun dengan suara Agung yang masuk ke dalam kamarnya, dengan membawa pisau seperti yang dilakukannya, dia berusaha memperkosa Angel, tetapi Angel berusaha melarikan diri tetapi Agung malah membenturkannya ke lemari selama beberapa kali sampai akhirnya Angel tidak bernyawa lagi.Agung pun membawa jasad Angel keluar dan dia menguburkannya di taman samping belakang rumahnya, hampir semua penghuni mengetahui kejadian tersebut tetapi mereka hanya bisa menontonnya.Ternyata rumah kost itu hanyalah kedok belaka sebenarnya itu adalah tempat penampungan manusia yang akan membawa korbannya untuk dijual belikan ke luar negeri, dan hampir semua penghuni kost mengalami nasib serupa yang dilakukan oleh nafsu bejat Agung, tetapi mereka tidak bisa berbuat apapun karena kondisi mereka yang jauh dari rumah atau perantauan, belum lagi ditambah ancaman Agung yang membuat mereka semua tidak dapat berkutik, tetapi Agung tidak puas dengan wanita yang ada di kostan tersebut, oleh karena itu dia membuat brosur rumah kost No. 13 untuk mencari korban selanjutnya........Sasha pun langsung pergi dari rumah tersebut begitu dia sadarkan diri, dia melihat Agung masih dalam kondisi pingsan, dia menelepon ayahnya untuk minta dijemput di warung dekat jalan utama, dan menceritakan semua kejadian yang baru dialamainya.Satu jam kemudian ayah Sasha datang bersama petugas kepolisian setempat, dan Agung pun langsung ditangkap akibat perbuatan yang dilakukannya, serta usaha gelapnya memperjual belikan manusia di dalam rumah kostnya tersebut.Dengan kejadian tersebut Sasha pulang ke rumah, dan keesokan paginya saat dia dikantor dia pun memberi Bu Alena surat"Surat apa ini Sasha?""Surat pengunduran diri saya bu, saya tidak bisa jadi anak kost, terpaksa saya harus mencari tempat kerja yang lebih dekat" ucap Sasha.

HOROR SHIFT TIGA
Horror Wattpad
29 Nov 2025

HOROR SHIFT TIGA

Diego duduk di lobby sambil membaca majalah yang disediakan, hari ini adalah hari pertama Diego diterima bekerja di PT. Asterio, dan saat ini dia menunggu manager HRD untuk memanggilnya ke ruangan."Bapak Diego febrianto, silahkan masuk ke ruangan HRD Manager, di ruangan paling ujung sebelah kanan" ucap wanita berkulit putih yang rambutnya disanggul kecil dengan tubuh semampai dan menggunakan kemeja merah marun dan rok span hitam, dia sepertinya sekretaris di kantor tersebut."tok... tok..." Diego mengetuk pintu ruangan tersebut"baik silahkan masuk" jawab Bapak - bapak stengah baya berusia empat puluh tahunan yang duduk di meja ruangan tersebut, di atas meja tertulis Bapak Wibowo HRD Manager."Anda yang bernama Diego""betul pak""selamat, anda sudah bergabung pada perusahaan kami, dan anda mulai bekerja pada hari ini, silahkan membaca dan menandatangani kontrak dari perusahaan kami" ucap Pak WibowoDiego pun membaca isi dari perjanjian kontrak tersebut, dimana dia akan mengalami masa percobaan selama tiga bulan terlebih dahulu, dan jika sudah selesai kontrak tersebut maka akan di evaluasi apakah akan diperpanjang kontrak kembali.Hampir semua call center dibeberapa perusahaan memang hanya memberlakukan sistem kontrak atau outsourcing, tetapi memang pekerjaan ini bisa memberikan kemudahan untuk orang lulusan baru seperti Diego memulai karirnya.setelah Diego menandatangani kontrak tersebut, Pak Wibowo pun segera menyuruh sekretarisnya tadi untuk masuk dan membawa Diego ke ruangannya dan ke user yang akan bekerjasama dengannya."Selamat pagi pak Hermawan, saya ingin mengenalkan orang yang akan bergabung di tim call centre" ucap wanita tersebut"Diego pak""Baik Diego, selamat datang" ucap pak Hermawan "terimakasih siska" mempersilahkan sekretaris tersebut untuk meninggalkan Diego disana."Untuk hari ini sampai satu minggu ke depan kamu akan kami beri pelatihan mengenai produk dan pelayanan yang ada pada perusahaan, tetapi setelah satu minggu tersebut kami akan menempatkanmu di shift tiga untuk departemen ini""shift tiga?" tanya Diego"iya untuk bagian call centre kami membutuhkan orang di shift tiga yang bekerja dari jam sebelas malam sampai jam tujuh pagi, kami membutuhkan laki - laki seperti kamu, sedangkan shift satu dan shift dua kami prioritaskan untuk yang perempuan dan yang rumahnya jauh dari kantor" ucap pak Hermawan"oh.. baik pak" jawab Diego sedikit ragu, karena itu berati jam kerja dia akan terbalik, saat orang - orang istirahat maka dia akan bekerja, dan kebalikannya saat orang - orang bekerja dia akan beristirahat.Seminggu masa training pun selesai, hari ini hari pertama Diego masuk shift tiga, jam sembilan malam dia baru berangkat dari rumah, dan sampai kekantor sekitar jam setengah sepuluh, Saat Diego masuk ke ruangan call centre dia sempat bertemu dengan Prita call center yang bekerja di shift dua"Hai, kamu Diego ya?" sapa prita ramah "aku prita""iya mbak, saya Diego""jangan panggil mbak, prita saja, oh iya kenalin ini sulastri anak shift dua juga, kita pulang duluan ya Diego, hati - hati ya..." lalu mereka berdua pun berlalu dari hadapan DiegoDiego pun mengambil tempat duduk di ujung ruangan, satu set telepon dihadapannya, microphone telinga sudah siap dia pakai, dan dia pun mulai log in semua sistem dengan namanya, semua data telepon masuk akan segera terekam dalam mesin tersebut.Setelah menunggu setengah jam belum ada satu pun telepon masuk, tiba - tiba ada bayangan yang mendekatinya,,"Hai.... anak baru ya? kenalin gw pieter, temen lo di shift tiga" jawab cowok bertubuh sedikit pendek dengan postur gemuk dan putih"Diego mas, senang kenal dengan anda" jawab Diego menghormati seniornya"santai aja Diego, kalau shift tiga seperti kita, telepon malah jarang masuk" sambil mengambil posisi duduk di sebelah Diego dan menyalakan komputer serta semua systemnya."Baik mas""mau kopi gak? gw mau ke pantry biar gak ngantuk" ucap Pieter"Gak usah repot - repot mas""gak apa apa kok, terus jangan panggil gw mas panggil pieter aja" sambil berjalan meninggalkan Diego di ruanganSuasana hening kembali, tiba - tiba ada ada suara telepon berbunyi dan lampu di telepon berkedap kedip menandakan ada telepon masuk"Halo PT Asterio dengan Diego bisa dibantu""..........................." suasana hening tidak ada yang menjawab"Halo PT Asterio dengan Diego bisa dibantu" diulangi kembali greeting Diego memastikan ada suara diseberang teleponnya.Dan tiba - tiba telepon ditutup, dan saat Diego membalikkan badannya ke belakang dia kaget sekali....Tiba - tiba Pieter sudah berada dibelakangya membawa dua cangkir kopi"nih buat kamu" ucap Pieter"Te.. terimakasih" jawab Diego "hmmm tadi ada telepon masuk pieter, tapi saat aku jawab tidak ada suaranya""Biasa itu, paling telepon iseng" jawab Pieter"kamu juga sering mengalaminya Pieter?"Pieter menengok ke arah Diego sambil meminum kopi yang berada di tangannya, tanpa menjawab pertanyaan Diego.-------{}----------Sudah beberapa jam Diego hanya ngobrol - ngobrol dengan Pieter tanpa ada suara telepon masuk, sekitar pukul dua pagi, tiba - tiba ada lampu yang menyala di telepon,"Angkatlah Diego, aku masih mau santai dulu" ucap Pieter"Halo PT Asterio dengan Diego bisa dibantu""Halo.... halooo.... tolong saya" suara perempuan di seberang telepon dengan nada lirih"iya bu, ada yang bisa saya bantu?""Saya.... saya dibunuh..... ""maaf ibu tolong jangan bercanda, ada yang bisa saya bantu?" tanya Diego sekali lagi"saya dibunuh Didit.... dia pacar saya"Diego pun menutup teleponnya, merasa dia dipermainkan"kenapa Diego?" tanya Pieter sambil menelisik ke mata Diego yang mulai ketakutan"Tadi ada telepon iseng lagi, dia telepon untuk bilang dia dibunuh" jawab Diego getir"Lalu kamu tutup teleponnya?" tanya Pieter"iya...""kamu disini tidak boleh melakukan itu, data kita semua direkam saat telepon masuk, kamu tidak bisa menutup telepon sampai si penelepon puas dengan pelayanan kita, ingat kita itu Call Centre" ucap Pieter menasehati semua definisi dan tujuan dari call centreDan telepon berbunyi lagi"Angkatlah Diego kamu harus sering - sering latihan supaya cepat mahir" jawab Pieter enteng"Halo PT Asterio dengan Diego bisa dibantu""Aku dibunuh Didit.... Tolong" suara perempuan yang sama yang menelepon tadi"apa yang bisa saya bantu ibu?""tolong beritahu mamah saya,dia pasti khawatir, anda bisa menolong saya tolong catat alamat rumah saya" ucap perempuan tersebutada keraguan dari diri Diego untuk menuruti perempuan itu, tetapi dia ingat kata - kata Pieter tadi, kebutuhan konsumen paling penting"alamat ibu dimana?""jalan cendrawasih blok A1 jakarta" lalu dia menjawab lagi "tolong lihat saya di siliwangi, saya akan menunggu"dan setelah itu tiba - tiba telepon terputus"Kenapa? masih telepon misterius lagi?" tanya Pieter"iya, perempuan yang tadi dia bilang dia dibunuh Didit pacarnya dan ingin aku menyampaikannya ke mamahnya" sambil melihat alamat yang dia tulis di buku"sudahlah tidak ada salahnya kan hanya sekedar mencatat" seperti biasa Pieter menjawab dengan entengnyaLalu sejam kemudian ada telepon lagi yang masuk"Halo PT Asterio dengan Diego bisa dibantu""Tolong..... saya Bram, kamu harus bantu saya" suara bass dari laki - laki di seberang telepon sangat terdengar marah"Baik pak, apa yang bisa saya bantu?""Saya dibunuh oleh Tio rekan bisnis saya dikantor""maksudnya?" Diego betul - betul merasa aneh kali ini, sepertinya itu bukan suatu kebetulan kalau ada dua orang yang menelepon dan bercerita mereka dibunuh"kamu harus bantu saya melaporkan ini kepada pihak kantor"" anda ingin saya menyampaikan kepada pihak kantor anda? tapi maaf saya tidak bisa membantu" jawab Diego agak sedikit kesal, karena merasa dia dipermainkan"Gedung Triad jl. keladi no 26 jakarta nama perusahaan saya PT Andalas, kamu harus membantu saya, saya menunggu di Jalan Panglima digudang kosong tempat saya dibunuh oleh Tio"dan telepon terputus lagi"Pieter sepertinya ini pelonco dari kantor ini ya? hahahaha ini lucu"Pieter hanya diam dan melihat Diego tanpa menjawab apapun"Pieter, aku rasa leluconnya jangan diteruskan lagi""aku tidak mengerjaimu Diego, aku kan selalu berada didekatmu dari tadi, dan tidak ada seorangpun diruangan ini selain kita berdua" Jawab Pieter mulai menegaskandan telepon pun mulai nyala kembali"Pieter kamu yang jawab ya?" aku mau belajar dari kamu"baiklah" jawab Pieter"Halo PT Asterio, dengan Pieter ada yang bisa saya bantu"dan Pieterpun menutup teleponnya "tidak ada yang menjawab" mungkin mereka hanya ingin diangkat oleh kamu" jawab Pieter sambil senyum menyeringaidan betul saja telepon pun berbunyi lagi, kali Diego mengangkat kembali"Halo PT Asterio dengan Diego bisa dibantu""hiks....hiks...." suara anak kecil menangis diseberang telepon"Ada yang bisa saya bantu?""Aku dibunuh oleh mamah tiriku, tolong beritahu papah, dia wanita yang kejam""maaf ini dengan siapa?""Aku agnes,, usiaku enam tahun""Apa yang bisa saya bantu?""tolong sampaikan kepada papah, di jalan anggrek lima No 11 bogor, bahwa aku dikubur di taman belakang dirumah"mendengar suara anak kecil yang polos tadi Diego pun mencatat alamat tersebut, dan telepon pun terputus."ini benar - benar aneh....." sambil mengelap keringat dikeningnya"Lagi?" tanya pieter "anggap saja ini hari perdana mu" sambil tersenyum menyindir DiegoAkhirnya tidak ada telepon yang masuk lagi, dan waktu pun mulai menunjukkan jam lima subuh"Diego, aku ada keperluan aku pergi dulu ya?""kamu gak absen Piet?""Tidak apa - apa" jawab Pieter enteng seperti biasanya---------{}-----------Jam pun akhirnya menunjukkan jam 7 pagi, dan Diego siap - siap untuk absen pulang dan keluar dari ruangan.Saat berdiri di depan mesin absen, Diego di tepuk pundaknya oleh seseorang"Eh Pak Hermawan""Bagaimana Diego, hari pertama mu di shift tiga?"Diego agak terdiam, dia berfikir haruskah dia menceritakan kejadian aneh tentang telepon - telepon tadi malam."hmmm... baik kok pak, terutama ada mas pieter yang membantu saya mengajari banyak hal di shift tiga kemarin" jawab Diego"Pieter?" ucap Pak Hermawan kaget "tolong kamu masuk ke ruangan saya sebentar Diego, sambil melangkahkan kaki ke ruangan, Diego pun mengikutinya dari belakang"silahkan duduk, coba kamu ceritakan apa yang terjadi semalam?" bujuk pak Hermawan kepada Diego"iya pak, awalnya saya takut, saya fikir saya akan bekerja sendirian, tetapi untung ada mas Pieter yang masuk di shift tiga juga, dan kemarin saya banyak mengalami telepon - telepon aneh yang masuk, banyak dari mereka bercerita tentang pembunuhan"Tiba - tiba pak Hermawan, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya "Oh Pieter.... maafkan aku" ucap pak Hermawan membuat Diego tidak mengerti dengan apa yang dia ucapkan."Diego aku akan menceritakan kepadamu sesuatu, tapi kamu harus janji kamu tidak boleh menceritakan kepada yang lain" ucap pak Hermawan"Baik pak""Jadi pada waktu lima tahun yang lalu, saya baru masuk di call centre ini, sama seperti kamu saya juga ditempatkan di shift tiga, tetapi saya tidak sendiri, ada satu orang lagi bernama Pieter, dan pada saat itu rekan - rekan senior sangatlah jahil, karena mereka melihat kami sangat muda dan tidak berpengalaman, suatu malam mereka bermaksud menjahili kami saat sedang bekerja di shift tiga. suasana sedang sepi aku berjaga diruangan ini, dan Pieter sedang ke pantry untuk membuat kopi supaya kita tidak mengantuk" lalu pak Hermawan terdiam sebentar"lalu tiba - tiba lampu mulai hidup dan mati tiba - tiba, dan aku melihat ada banyak bayangan yang berdiri di ruangan kaca tempat kita berisitirahat, tapi tiba - tiba ada telepon masuk aku harus mengangkatnya, dan akhirnya peristiwa itu terjadi" pak Hermawan menahan nafas dan mulai bercerita lagi"senior - senior itu masuk ke ruangan pantry dan mereka menakut - nakuti Pieter,sampai pieter lari ketakutan dan dia terjatuh membentur meja di sisi pantry sampai akhirnya dia meregangkan nyawanya" aku benar - benar menyesal, kenapa pada saat itu aku tidak menemaninya ke pantry, dan senior - senior itu ketakutan dan mereka takut untuk di penjara, sehingga mereka mengubur mayat Pieter di belakang tanah lapang yang sekarang berdiri gudang, dan dia mengancam aku jika sampai rahasia ini terbongkar maka dia akan membunuhku juga.""Setelah kejadian itu semua senior yang terlibat mulai mengundurkan diri satu persatu, dan entah mengapa tidak pernah ada yang mau untuk mengisi shift tiga selain saya..... dan....." tiba - tiba pak Hermawan berhenti bercerita"sudah dua tahun tidak pernah ada shift tiga, baru saat kamu masuk itu diberlakukan kembali"Tiba - tiba Diego merasa ada yang menusuk di dalam dadanya, dia tidak prcaya bahwa kemarin dia ditemani oleh hantu Pieter selama bekerja, dan semua kejadian aneh mungkin berhubungan dengan hal tersebut, dengan dimensi yang berbeda."saya mengerti kalau kamu tidak mau bekerja lagi, setelah mengalami kejadian ini, saya tidak akan memaksa kamu" ucap pak Hermawan"jujur saya kaget sekali pak, tapi pieter itu benar - benar sosok yang baik" dan Diego pun menengok ke arah mejanya dimana masih ada dua cangkir yang berada di sana."dia membuatkan saya kopi pak" matanya menerawang jauhAkhirnya Diego keluar dari kantor dengan perasaan campur aduk, saat masuk ke parkiran motor, dia ingat dia membawa kertas catatan di tangannya, dan ini adalah data semua penelepon yang masuk malam itu, akhirnya Diego pun memutuskan untuk mndatanginya satu persatu"Tok... tok..." pintu rumah kayu beraroma pinus diketok oleh Diegodan dilihatnya seorang perempuan tengah baya berusia lima puluh tahun berada di depannya, kulitnya terlihat pucat seperti orang yang kurang tidur"Anda mempunyai anak perempuan yang tidak pulang ke rumah?" tanya Diego"anda siapa? polisi? kalian sudah menemukan Nanda?" teriak ibu itu histeris"maaf bu, sepertinya roh anak ibu berusaha berkomunikasi dengan saya, dia menceritakan bahwa dia telah dibunuh bu"tiba - tiba badan ibu itu terhuyung, Diego pun membantunya untuk duduk di kursi didalam rumah, dan setelah ibu itu sadar, Diego menceritakan kembali kejadian yang dia alami"Aku sudah menduganya... pacarnya itu memang brengsek" jawab ibu itu sambil menangis histeris"tenang bu, sebaiknya kita lapor ke polisi lebih dahulu" jawab Diego menenangkanLalu Diego mengantar ibu Nanda ke kantor polisi, dan menerangkan kronologis kejadian yang dia alamisemula polisi tidak langsung mempecayainya dan ibu Nanda bersikeras untuk polisi mengecek dulu ke alamat yang diinformasikan oleh Diego.dan akhinya misteri terkuak, mayat Nanda ditemukan dalam kondisi yang mengenaskan, dia ditelanjangi dan disiksa sekujur tubuhnya, dan polisipun banyak menemukan bukti sidik jari didit disana, siang itu juga Didit ditangkap di depan kampusnya"lalu polisi mengecek lagi ke alamat anak kecil Agnes, dan menginformasikan akan menggeladah area rumah tersebut, papah Agnes sampai pingsan saat menemukan mayat anaknya yang hilang di taman belakang rumahnya, lalu polisi dengan sigap menangkap ibu tirinya di belakang rumah.Dan terakhir kasus Bram, polisi pun, mengorek keterangan dari Tio selama 24 Jam, dan akhirnya Tio pun mengakui perbuatannyaDiego agak sedikit mendesah lega, sepertinya semua tugas yang di minta oleh hantu - hantu gentayangan itu telah terselesaikan, lalu Diego mengingat sosok Pieter sepertinya dia kesepian dan Diego memutuskan untuk terus menjalani shift tiga bersama Pieter.

MISTERI KADO SEBUAH BONEKA
Horror Noveltoon
28 Nov 2025

MISTERI KADO SEBUAH BONEKA

Kado ulang tahun menumpuk rapi di atas meja. Di sampingnya sudah siap kue tart dilingkari dua puluh satu lilin. Hari ini ulang tahunku. Dari jumlah lilin yang disematkan pada kue tart, pasti sudah dapat mengira umurku kini dua puluh satu tahun. Bukan umur yang muda lagi, namun juga bukanlah umur yang sudah tua. Karena aku masih bisa berkarya dan melakukan sesuatu untuk keluarga, nusa, dan bangsa.Pukul tujuh malam pesta ulang tahunku dimulai. Kawan-kawan dengan membawa kado masing-masing sudah datang sejak tadi. Di sinilah kami berada, di ruang tamu yang berukuran tujuh kali enam meter ini. Ruang yang cukup luas untuk menampung kurang lebih dua puluh orang yang meramaikan pesta ulang tahunku.Suasananya cukup meriah, dentuman lagu pop membahana ke seluruh sudut ruangan. Ayah, ibu, dan kedua adik perempuanku ikut meramaikan pesta ini. Lampu-lampu hias berwarna-warni menambah gemerlapnya malam. Pesta ulang tahun yang meriah. Kami bersenda gurau. Dan… tibalah saat aku harus meniup lingkaran lilin di atas kue tart.“Selamat ulang tahun kami ucapkan…” Iringan lagu membuat hasratku terus membuncah ingin segera meniup lingkaran lilin kecil itu.“… Selamat panjang umur dan bahagia! Tiup lilinnya… tiup lilinnya, tiup lilinnya… sekarang juga…”Aku berdo’a di dalam hati sebelum ku tiup lilin. Dan inilah saatnya!“Sekarang juga… sekarang… juga… !”Pet…Seketika lampu mati serentak setelah lilin ku tiup. Sontak semua berteriak, tak terkecuali aku. Bagaimana tidak kaget, jika tiba-tiba saja ruangan sebelumnya begitu terang dengan gemerlapnya lampu pesta seketika padam, begitu pula dengan lilin yang ku tiup.“Ayah cek sekring di luar dulu…” ujar ayahku sedikit cemas.“Wah gelap banget nih…” ujar Ayana, salah satu temanku.“Iya, nih… nakutin!”Tak ingin kawan-kawanku kecewa, aku menyusul ayah yang sibuk mengecek sekring di depan. “Aku susul ayah dulu, ya! Siapa tahu butuh bantuanku.”Adik perempuanku menarik tanganku. “Jangan, Mbak. Biar aku saja. Kan, mbak sedang ulang tahun. Jadi, mbak diam saja di sini.”Aku menyetujuinya. Dan, aku kini menemani kawan-kawanku yang mulai ribut sendiri. Lima menit berlalu, ayah dan adikku belum juga kembali. Kami terpaksa menyalakan kembali lilin-lilin di kue tart ku, agar ada sedikit cahaya yang melegakan pupil mata kami.Puk! Ada yang menepuk pundak kiriku. Sontak aku menoleh. Heran, tidak ada siapa-siapa. Aku agak merinding karena suasana gelap gulita. Aku merapat pada Inna yang duduk di samping kananku. Tak lama kemudian, ayah dan ibuku datang membawa nyala api dari korek api.“Sekringnya terbakar, enggak bisa dibetulkan. Biar ayah panggil tukang listrik saja.”“Aduh, kalau panggil tukang listrik, masih lama dong?” Aku agak sedih. Mengapa ulang tahunku jadi begini?Salah satu kawanku, Hendra, mengusulkan, “Bagaimana kalau kita rayakan ulang tahunmu dengan suasana lilin saja?”“Benar kata Hendra, Mila!” Serentak lainnya menyetujui.Aku mengangguk. “Ya sudah, kalau begitu, kita potong kuenya!”Ibu berdiri. “Oke, ibu carikan lilin yang lebih banyak lagi di dapur.”Pukul 00.30 WIB. Listrik sudah menyala dan kawan-kawan pulang semua. Saatnya aku membuka kado dari mereka. Dua puluh orang dengan lima belas kado. Ada yang berpatungan. Tak apa, penting sudah hadir.Satu per satu aku membuka kado. Ada jam tangan, tas, bantal lucu, hingga boneka yang memiliki tatapan dingin dan menyeramkan!Rambutnya pirang kusut dan kumal. Bajunya kumal. Warna kainnya memudar kekuningan. Kedua tangannya dari plastik dan rapuh. Tangan dan kakinya bisa ditekuk. Wajahnya… pucat kekuningan dengan bibir merah mencolok. Senyumnya tegas dan mengerikan. Matanya bulat biru, seperti menatapku… ingin mencengkeramku.Aku bergidik. Tengah malam di kamar, aku membuka kado terakhir. Bungkusnya merah legam dengan pita hitam. Ada kartu ucapan:“Selamat ulang tahun Mila. Hari ini adalah harimu! Kau akan mendapatkan keinginanmu.”Tanpa nama.Aku cocokkan semua kartu ucapan dari undangan yang hadir, tak ada yang terlewat. Semua yang hadir sudah tercatat. Lalu, dari siapa kado tadi?Lelah memikirkan, aku meletakkan boneka itu ke kotaknya, memasukkannya ke kolong tempat tidur. Lainnya ku letakkan di meja.Aku mengantuk. Menutup mata.Kakiku bergerak-gerak. “Nanti dululah… capek nih…”Namun, guncangan semakin keras. Dingin. Seperti tangan seseorang menyentuh kakiku. Aku bangun—jempolku TIBA-TIBA DITARIK sangat kuat! Sampai persendiannya bunyi.“Aduh! Siapa sih!”Aku membuka mata. Gelap. Jam menunjukkan pukul satu kurang lima menit.Tak ada siapa-siapa. Tapi jempol kakiku masih ngilu…Aku mencoba tidur lagi. Tapi insomnia menyerang. Baru saja selimut ketarik!Ya Tuhan!Aku tak berani membuka selimut. Kupikir hanya mimpi… tapi ngilu jempolku nyata…Pagi. Aku bangun karena rasa perih di lenganku. Darah mengering. Ada goresan panjang membiru.“Astagaaa, Mila!” Ibuku menangis.Adikku memberikan cermin. Wajahku… BERUBAH. Aku menjadi… seperti boneka yang ku dapat tadi malam! Lipstik merah menyala, kulit pucat kekuningan.Aku mencari boneka itu. Kotaknya terbuka. Kosong.Aku menangis. Aku tampak muda! Sangat muda! Bahkan nyaris seperti gadis kecil berwujud boneka. Apa ini jawaban doaku semalam? Bahwa kuingin tetap muda seperti gadis kecil. Dan kini…?TAMAT

MIDNIGHT SALE HOROR
Horror Wattpad
28 Nov 2025

MIDNIGHT SALE HOROR

Bianca seorang artis ternama berusia 25 tahun, dengan kulit putih, tinggi dan memiliki tubuh yang proporsional untuk dilihat, saat ini Bianca sedang berada di puncak karirnya, semua fans myengaguminya, stasiun Televisi pun hampir semua mengundang Bianca untuk datang ke dalam program acara mereka, bisa di bilang Bianca adalah Super Star dan Bianca sangat senang berbelanja, terutama Midnight Sale, karena menurut Bianca berbelanja di malam hari memiliki sensasi yang luar biasa, dibandingkan jika Bianca ke tempat hiburan malam atau tempat makan.Hari ini Bianca selesai melakukan syuting video klipnya sampai jam sepuluh malam, dan Bianca pun bersiap - siap untuk pulang ke apartemennya yang berada di bilangan Jakarta Selatan, Bianca menyetir sendiri kendaraan SUV miliknya, tetapi kondisi jalanan hari itu sangat melelahkan, Macet dan tidak bergerak sama sekali.Saat Bianca merasa putus asa, Bianca melihat ada gang sempit yang tidak terlihat oleh kendaraan lainnya, tetapi gang tersebut cukup untuk jalan dengan kondisi kendaraan yang dimilikinya, merasa frustasi dengan kondisi jalan saat itu, Bianca pun langsung membelokkan setir masuk ke dalam gang tersebut, setidaknya mobil tetap bergerak tidak statis seperti kondisi jalanan tadi, fikir Bianca.Tidak berapa lama Bianca menemukan jalan keluar dari gang dengan jalan yang lebih besar, "Akhirnya" fikir Bianca, kondisi jalan ini sangat sepi berbeda dengan jalan utama tadi, tetapi Bianca belum pernah melewati jalan ini, fikir Bianca tapi Bianca terus menginjak gas kendaraannya, ini Jakarta tidak mungkin a.ku tersasar, fikir Bianca.Tiba - Tiba Bianca melihat sebuah tempat besar dengan lampu yang bersinar terang, setelah Bianca dekati ternyata itu adalah Mall, besar dan mewah terlihat lebih seperti istana di bandingkan dengan Mall biasa, nama Mall tersebut adalah MALL DARKLAND dan anehnya Bianca belum pernah ke Mall ini sebelumnya.HAmpir Bianca menginjak gas mobilnya kembali, tiba - tiba Bianca melihat media promosi yang besar untuk Mall tersebut, "MIDNIGHT SALE if your lucky you get all Item Free".Bianca langsung menyetir mobilnya untuk masuk ke dalam parkiran Mall tersebut.Parkir mobil di Mall tersebut cukup ramai, hanya saja yang membuat Bianca bingung kenapa semua mobil yang terparkir adalah mobil - mobil klasik seperti di era lima puluhan, tapi ya sudahlah fikir Bianca, kalangan yang ada di Mall ini pasti kalangan yang mewah dan menyukai hal - hal yang antik, fikir Bianca sambil mencari tempat untuk memarkir mobilnya.Setelah turun dari mobil, Bianca disambut oleh petugas di Mall tersebut, dengan seragam tempo dulu seperti prajurit kerajaan, "Oke" fikir Bianca mungkin ada tema untuk midnight sale kali ini, yaitu dengan memakai kostum Zaman dulu.Memasuki Lobby Mall tersebut sangat mewah, bahkan seperti istana yang mewah, semua lampu kristal, bangunan yang besar, dan semua dihias dengan dekorasi istana, tidak ada tangga jalan atau lift, yang terlihat tangga - tangga tinggi seperti di kastil - kastil kerajaan.Setiap Toko memajang sepatu dan baju yang mewah dan menarik,banyak pengunjung wanita yang datang di acara tersebut tetapi barang yang dijual dan baju yang mereka pakai seperti Zaman di era lima puluhan."Baik untuk pengunjung di Mall DARK LAND, segera bersiap - siap untuk berbelanja sepuasnya" ucap MC yang ada didalam Mall tersebut, dengan kostum baju satria yang dipakainya"semakin banyak berbelanja, semakin banyak kesempatan untuk mendapatkan hadiah yang menarik" seru MC tersebutBianca senang sekali membeli sepatu, dan dia melihat ada sepatu berwarna emas, yang pasti akan cocok dengan kostum baru yang dibelinya saat di New York kemarin, Waktu berjalan cepat dan Bianca tanpa sadar sudah membeli banyak sekali barang malam itu, Sepatu, baju, Tas, dan Aksesoris, karena menurut Bianca semua barang - barang tersebut terlihat menarik dan vintage, pasti akan sangat keren kalau aku pakai fikir Bianca.Tetapi anehnya setiap pengunjung yang datang, berbelanja dengan kesunyian, tetapi mereka juga sama seperti Bianca membeli banyak barang.Akhirnya waktu Midnight Sale telah berakhir, dan MC tadi pun sudah menutup acara hari itu, Bianca segera pergi ke parkiran, dan menuju mobil untuk kembali melanjutkan perjalanannya ke rumah, saat Bianca sudah keluar dari area Mall tersebut, sekitar seratus meter, ada Bapak - bapak tua mengahadang mobil Bianca.Bianca ketakutan, tetapi Bapak tua tadi menghadang mobilnya dan meminta Bianca membuka jendela mobilnya, akhirnya Bianca pun membuka jendela mobil."Maaf pak ada yang bisa saya bantu?" ucap Bianca sopan"Justru saya yang ingin bertanya kepada ibu, ada yang bisa saya bantu? karena sepertinya ibu tersesat""Tersesat? tidak pak saya ingin pulang ke rumah" jawab Bianca"apa yang ibu lakukan disini?" tanya bapak tua tadi"saya hanya habis berbelanja sebentar pak, sekarang saya sudah mau pulang" jawab Bianca bingung"Belanja? dimana ibu belanja?" tanya bapak tua itu lagi"di Mall......" sambil Bianca menunjukkan arah Mall tadiBianca sangat kaget dengan apa yang dilihatnya,,,, ternyata tidak ada Mall yang tadi dia masuki, yang ada hanya lahan kuburan belanda dengan ornamen khas eropa yang luas dan sepi...Tiba - tiba Bianca merasa merinding, dia melihat hasil belanjaannya di belakang kursi mobilnya, dan semua masih ada, utuh, tidak ada yang hilang....."Hati - hati mba" ucap bapak tua tadi"Ini Malam Jum'at Kliwon........"

Hikiko
Horror Wattpad
27 Nov 2025

Hikiko

Tercatat dalam sejarah, Hikiko adalah gadis kecil yang selalu menyeret bonekanya. Namun, setelah didekati, ternyata yang diseret bukanlah boneka, melainkan mayat manusia.Menurut catatan yang beredar di Jepang, Hikiko tewas mengenaskan karena sebuah penyiksaan. Ia kerap kali dirisak, ditindas, dan disiksa oleh orang tua maupun teman-teman di sekolah. Tidak ada alasan lain mengapa mereka berbuat hal sekejam itu. Hanya karena Hikiko berperangai aneh, juga rambut panjang yang menjuntai sampai lutut.Betapa ia membenci angka 2020. Konon katanya, angka tersebut adalah angka kematian. Di mana, gadis kecil itu tewas pada jam 20:20 malam. Terdengar tidak masuk akal, namun setelah membaca kabar ini, kamu akan menyesal tidak mempercayainya.Tanggal 11 Januari 1987, seorang gadis cantik bernama Haruka ditemukan tertidur tanpa kepala. Ia tinggal sendirian di kamar dengan nomor 2020. Pada tanggal 20 Oktober 1996, Arata Nakagawa tewas dengan anggota tubuh terpisah saat menulis angka 2020. Dan masih banyak lagi daftar kematian yang tercatat. Terhitung sudah 2019 jiwa yang tewas dengan sebab yang belum diketahui. Mereka menduga, angka tersebut dapat memanggil si hantu kecil Hikiko.Aku bergidik ngeri, seseram itukah angka 2020? Mengingat banyak mitos-mitos yang beredar, sepertinya hantu Hikiko juga hanya sekadar mitos. Biasanya, para orang tua jaman dulu sering bercerita seram untuk menakut-nakuti anaknya yang susah tertidur. Jika memang Hikiko itu nyata, di tahun ini pasti akan memakan banyak korban.Di malam yang hampir larut ini, perutku malah susah diajak kompromi. Mulas, seperti diremas-remas. Padahal, hanya makan sedikit cabai. Dasar lemah, pedas sedikit saja minta dikeluarkan. Untung saja, lampu kamar tidur hingga jalan menuju kamar mandi lumayan terang. Kelihatan sekali kalau aku penakut, terutama fobia kegelapan. Mati lampu sekejap saja rasanya ingin berteriak.“Mama, temani aku ke kamar mandi!” teriakku.Beberapa menit kemudian, aku menepuk jidat. Ah, lupa kalau Papa dan Mama pergi ke luar kota. Untuk malam ini, harus berani ke kamar mandi sendiri.Akhirnya, selepas bergelut dengan perut, rasanya lega. Lebih lega lagi tidak ada hal yang menakutkan terjadi. Mungkin aku yang terlalu berpikir negatif. Sampai kembali ke kamar, kunyalakan lampu tidur. Bulu kuduk tiba-tiba meremang.**“Selamat pagi, Ayumi!” sapa Naomi saat aku duduk di bangku kelas.“Pagi!”Ah, anak ini, sangat antusias sekali menyapaku. Naomi dikenal sebagai siswi paling cantik dan juga pandai. Dengan sedikit kepolosan dan keluguannya, membuat ia tampak lucu seperti anak kecil. Umurku tak jauh beda dengannya. Naomi berusia 15 tahun, hanya terpaut satu tahun lebih muda dariku.Bel sekolah sudah berdering. Sensei Kitaro masuk dan memulai pelajaran.Entah mengapa rasanya membosankan di kelas ini. Sensei Kitaro adalah tipe guru dengan sistem mengajar yang santai. Berkali-kali aku menguap, dan berusaha menahan kantuk.“Ayumi!”Panggilan itu mengagetkanku. Rasa kantuk hilang ketika sensei melotot tajam. Kena, lagi.“Basuh wajahmu. Jangan tertidur di jam pelajaran saya!” sentaknya.Meskipun orangnya santai, tetap saja, ia risi dengan murid yang berleha-leha di kelasnya. Terpaksa, aku bangkit dan beranjak keluar kelas. Sekolah tampak sepi saat jam pelajaran dimulai. Biasanya, hanya ada satu atau dua orang saja yang keluar, untuk sekadar pergi ke toilet.Ketika mencuci tangan di wastafel, seketika terlonjak melihat air berubah menjadi cairan merah kental. Kaki mundur selangkah demi selangkah. Kemudian, menatap ekspresiku sendiri di pantulan cermin. Sekelebat bayangan kecil tiba-tiba melesat dari belakang. Kaki gemetar hebat sesaat sebelum siswi lain masuk. Cairan merah yang membanjiri wastafel, kembali menjadi bening seperti semula.Apa tadi hanya halusinasi? Tidak mungkin!Aku kembali ke kelas sambil lari terbirit-birit. Orang-orang menatap heran. Tapi, aku tak pedulikan itu. Hal mengerikan tadi lebih mengganggu di pikiran.**Sial sekali, tugas sekolah menumpuk mengharuskanku berkutik dengan buku-buku. Kalau saja besok tidak dikumpulkan, malas sekali untuk menyelesaikannya malam ini. Kutulis tanggal di bagian atas catatan tugas. Sempat termenung beberapa detik untuk mengingat tanggal hari ini.“Ah, iya. Sekarang ... tanggal 20 Januari 2020,” ucapku bermonolog.Baru sampai jam 20.00, mataku terserang rasa kantuk. Bahkan, hampir terjungkal dari kursi. Meski begitu, kupaksakan tetap terbuka sambil memakan camilan.Gelap.Tiba-tiba, lampu kamar mati tanpa sebab yang jelas. Padahal, tidak ada hujan ataupun angin. Apa lampunya rusak? Sesaat kemudian, kamar terang kembali. Aku dapat bernapas lega. Namun, terasa ada sesuatu yang janggal. Ke mana tanggal yang kutulis tadi?Aku tercekat. Angin yang besar masuk ke dalam kamar, sampai gorden ikut berseliweran. Kertas-kertas tugas terbang berhamburan. Bukannya cepat-cepat menutup jendela, aku justru terduduk dengan kepala menelungkup. Tubuh gemetar hebat, jantung berdegup tak beraturan. Ditambah, angin yang menggelabur membuatku semakin menggigil. Tuhan, tolong aku!Sampai akhirnya, embusan angin berhenti perlahan. Sebelum kututup jendela rapat-rapat, sebuah kertas kecil mendarat di meja. Aku bergidik ngeri. Namun, bermodalkan rasa penasaran yang kuat, kudekati meja selangkah demi selangkah. Betapa membuatku terbungkam, angka 2020 tercetak jelas dengan noda darah.Seorang gadis kecil melotot ke arahku dari jendela. Ia tertawa dengan deretan gigi yang hitam. Rambut panjang menjuntai sampai lutut. Wajahnya sulit digambarkan karena hancur tak berbentuk.Panas dingin menjalar ke seluruh tubuh. Rasa takut menyerang hebat sampai membuatku terkulai lemas. Lidah seakan kelu, semua terwakili oleh air mata yang membanjiri. Sekadar bernapas pun, begitu sesak dan pengap. Bahkan, detak jantungku sendiri dapat terdengar.Gadis itu mendekat sambil tertawa. Menyeret-nyeret boneka penuh noda darah. Kupaksakan kaki ini berdiri, menggapai pintu yang tak jauh dariku.Terkunci!Kugebrak-gebrak berkali-kali. Namun nihil, pintu seolah terkunci rapat dari luar. Aku menangis tersedu-sedu. Ternyata benar, Hikiko bukanlah mitos hantu belaka. Dia benar-benar ada. Mendatangi kamar, dan siap mengantarku pada malaikat maut.“Kumohon ... jangan sakiti aku,” lirihku sambil terisak.Tetapi, gadis itu malah menarik bibir, tersenyum menyeringai. Aku menelan saliva dengan susah payah. Tiba-tiba, leher tercekik hingga kaki tak menyentuh lantai. Tuhan, tolong ....Bruk!Tangan yang mencekik leher, terlepas. Tubuh jatuh tersungkur membentur lantai. Rambut panjang itu, menyapu wajahku. Terlihat rupa wajahnya yang menyeramkan. Aku sulit bernapas, ketakutan yang menyerang begitu menyesakkan.“Dua ribu dua puluh,” ucapnya samar-samar.Apa maksud yang dia katakan?Aku baru tersadar, kulirik jam dinding yang berdenting. Sekarang adalah tanggal 20, tahun 2020, dan tepat jam 20:20. Atau mungkin ... ah, jangan sampai terjadi!Matanya yang hampir terlepas, melotot tajam ke arahku. Jarak kami hanya sekitar lima senti. Sangat dekat, nyaris menempel. Aku tak dapat melakukan apa-apa. Seakan tubuh ini, ada yang mengendalikan. Darah segar keluar dari mulutnya. Tepat mengucur ke wajahku. Bau anyir dan busuk menyatu padu hingga membuatku mual.Hanya sedetik, sesuatu tampak masuk ke dalam perut. Tangan mungil itu mengoyak organ-organ di dalamnya. Inikah isyarat yang dia katakan? Aku adalah korban yang ke-2020. Menyesal tidak mempercayainya. Harusnya aku sudah tertidur di jam ini. Menggeluti dunia mimpi, tanpa mengundang hantu si kecil Hikiko. Tubuhku terseret meninggalkan jejak darah di lantai. Sebelum nyawa terlenggut, kupesankan agar cepat tertidur sebelum jam 20:20 malam. Jangan menulis angka tersebut, memilih, atau apa pun yang berhubungan dengan 2020.Hikiko itu nyata. Tolong percayalah, atau kau akan menjadi korban yang ke-2021. Gadis kecil itu akan datang ke kamarmu, dan siap menggorok leher hingga terputus.

Jam Berdentang
Horror Noveltoon
27 Nov 2025

Jam Berdentang

Kira-kira satu bulan yang lalu, Ayahku membawa sebuah jam bandul besar—seukuran lemari—ke ruang tamu. Ia bercerita bahwa jam itu dibelinya dari seorang kakek tua yang hidup sebatang kara. Kakek itu menjual jam tersebut karena sangat membutuhkan uang. Ayahku membeli jam bekas itu seharga enam ratus ribu rupiah.Suatu malam, saat kami sedang makan malam bersama, tiba-tiba jam itu berdentang. Anehya, dentangannya tidak sesuai dengan waktu yang ditunjukkan. Ketika jam menunjukkan pukul 08.00, jam itu justru hanya berdentang dua kali. Aku berpikir jam itu rusak, karena setahuku jam bandul seharusnya berdentang sesuai jumlah jam.Aku menyarankan agar Ayah menjual atau membuang jam itu. Namun Ayah menolak. Ia justru berpesan agar kami jangan pernah menjual atau membuang jam itu, bahkan setelah ia tidak ada di dunia ini. Saat itu aku heran, karena Ayah jarang sekali berbicara soal kematian.Delapan hari setelah kejadian itu, kabar buruk datang. Ayah meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas.---Setelah Ayah meninggal, jam itu tetap berada di ruang tamu, namun tidak kami gunakan lagi karena baterainya habis. Suatu malam, saat makan malam, Ibu meminta kakakku untuk membeli baterai baru. Keesokan harinya, sore yang cerah, aku dan kakakku membersihkan jam itu dari debu, lalu mengganti baterainya.Ketika jam itu kembali menyala, dentangannya terdengar normal sesuai waktu. Namun keesokan paginya, saat kami sarapan, jam itu berdentang tiga kali ketika waktu menunjukkan pukul 07.00. Firasatku langsung buruk. Aku hanya bisa berdoa agar semuanya baik-baik saja.Tapi doa itu tidak terkabul.Beberapa hari kemudian, Ibu jatuh sakit dan dibawa ke rumah sakit. Ia meninggal dunia pada bulan Maret.---Kematian Ayah dan Ibu adalah pukulan terberat dalam hidupku. Berhari-hari aku hanya bisa menangis di kamar, merindukan mereka, dan berdoa agar mereka bahagia di alam sana.Suatu hari, saat aku sendirian, bel rumah berbunyi. Ternyata tanteku datang bersama suami dan anaknya. Ia membawa bahan-bahan pokok serta uang lima ratus ribu rupiah untuk membantu kami. Ia juga memberi nasihat agar aku tetap tabah.Sore harinya, aku membagi uang itu dengan kakakku. Namun malamnya, ketika kami makan bersama, jam itu kembali berdentang tiga kali, padahal jam menunjukkan pukul 09.00. Aku langsung sadar bahwa jam itu tidak normal.Aku berkata pada kakakku bahwa jam itu mungkin terkutuk.Kakakku menolak percaya. Ia bilang semuanya hanya kebetulan. Tapi aku mengingat sesuatu:Sebelum Ayah meninggal, jam itu berdentang dua kali pada pukul 08.00 malam. Ayah meninggal delapan hari setelah dentangan itu.Saat Ibu meninggal, jam itu berdentang tiga kali pada pukul 07.00, dan Ibu meninggal tujuh hari setelahnya.Kakakku masih menyebutnya kebetulan. Aku hanya diam.---Keesokan harinya, kakakku mendapat telepon dari suami tanteku. Suaranya sangat sedih. Ia memberi tahu bahwa sepupu kami, Sella, yang berusia sepuluh tahun, meninggal dunia tanpa sebab. Kami pun menghadiri pemakaman kecil itu. Tanteku tampak tegar, tapi aku bisa merasakan hatinya rapuh.Sepulang pemakaman, aku mengambil palu di dapur. Aku berdiri di depan jam itu, berniat menghancurkannya. Namun kakakku tiba-tiba muncul di belakangku. Ia berkata bahwa jika aku menghancurkan jam itu, berarti aku tidak menghargai pesan Ayah.Dengan kesal aku menjawab bahwa jam itu membawa sial dan terkutuk.Tanpa peringatan, kakakku menamparku sangat keras.Ia lalu mengejekku, menyebutku bodoh karena percaya jam itu terkutuk. Mendengar ejekannya, amarahku memuncak tanpa kusadari. Aku berjalan ke dapur, mengambil palu yang tadi, lalu melemparkannya ke wajah kakakku.Ia tersungkur ke lantai.Dalam keadaan panik, aku memungut palu itu lagi dan memukulkannya berulang kali ke kepalanya sampai ia tewas berlumuran darah.Saat itulah aku sadar… akulah yang membuat kutukan itu menjadi kenyataan.---Tiba-tiba jam itu berdentang tiga kali pada pukul 01.00 malam. Lalu terdengar suara tawa seorang perempuan—tawa yang mengerikan, bahagia, namun membuat seluruh tubuhku merinding.Ketika kakakku akhirnya terdiam untuk selamanya, aku memutuskan menjual jam itu. Aku memotretnya diam-diam dan memasang harga murah, dua ratus ribu rupiah, di toko online.Namun setelah kupasang, jam itu kembali berdentang tiga kali—tepat pukul 01.00.Firasatku langsung buruk.---Keesokan harinya, ada pesan dari calon pembeli. Ia bilang akan datang hari itu, tanpa menyebut jam berapa. Aku menunggunya. Sore hari, pembeli itu datang dan melihat-lihat jamnya.Tak lama kemudian, kakakku (yang masih hidup pada bagian ini dalam ceritamu—jadi ini flashback sebelum ia tewas) pulang dan bertanya siapa pemuda itu. Aku menjelaskan bahwa ia pembeli jam tersebut.Kakakku marah besar dan mengusir pembeli itu.Setelah itu ia memarahiku habis-habisan.Kemudian… terjadilah kejadian yang membuatku masuk penjara: pertengkaran, palu, darah, dan kematian kakakku.Besoknya aku menyerahkan diri ke polisi. Aku mengaku semua perbuatanku.---Beberapa tahun setelah kejadian itu, aku dibebaskan dari sel tahanan. Kini aku sudah dewasa, berusia sekitar tiga puluh tahun. Ketika kembali ke rumah, semua jendela berdebu dan jam itu tampak tidak lagi berfungsi.Hari itu juga aku memotret jam itu lagi dan menjualnya di toko online. Ada orang yang ingin membelinya seharga enam ratus ribu rupiah.Aku bersyukur jam itu akhirnya pergi dari rumah ini. Aku tidak menceritakan kutukan jam tersebut kepadanya—kalau kuceritakan, tentu ia tak akan membelinya.Dan kini… jam sial itu sudah tidak ada di rumahku.Hanya saja…Aku merasa rumah ini jauh lebih sepi daripada sebelumnya.Sangat sepi.---END

KEPRIBADIAN GANDA
Horror Wattpad
26 Nov 2025

KEPRIBADIAN GANDA

Malam ini, lagi-lagi kurasakan hal aneh dan bau busuk yang menyeruak di setiap sudut jalan. Hawa dingin dan suara gonggongan anjing bersahutan menambah kesan seram. Bulu kudukk meremang, netra memicing di bawah cahaya yang temaram.Aku tidak takut. Kukatakan sekali lagi aku tidak takut. Kupercepat langkah menyusuri jalan yang gelap dan pekat. Tidak ada sumber cahaya yang membantu, bahkan bulan seakan takut memancarkan sinar."Hei!"Aku berbalik dan mendapati seorang gadis seusiaku. Dia berjalan mengendap-endap menghampiriku. Wajahnya terlihat waspada dan ketakutan. Tangannya tiba-tiba membekap mulutku lalu berbisik."Sstt ...! Kau ke sini lagi Luna? Sudah kuperingatkan jangan ke sini. Ah, sebaiknya aku mengantarmu pulang," bisiknya.Aku tidak bergeming. Bagaimana bisa dia memanggilku Luna? Aku merasa tidak memiliki nama itu sebelumnya."Kenapa kau diam saja? Di sini berbahaya, ayo kita pulang!"Gadis itu menarikku keluar dari jalanan yang gelap. Mulutnya tak henti-hentinya mengoceh. Entah apa yang dia maksud, aku tak mengerti.Aku terbangun mendengar siulan burung di luar sana. Berkali-kali kukejapkan mata memastikan tempat ini adalah kamarku.Lagi, setiap pagi kudapati kedua tangan dan kaki terikat ke sisi ranjang. Aku berteriak, meronta, menangis, dan tiba-tiba terbahak-bahak sendiri. Hingga datang seorang wanita paruh baya membawa nampan dan sekotak obat."Luna, makan dulu ya Sayang ... habis itu minum obat. Ibu masak menu yang enak loh hari ini."Wanita itu membelai rambutku dan menatapku sendu. Ada drama apa ini? Aku kenapa? Aku sakit apa? Wajahnya mirip sekali dengan sosok yang ada di foto. Dia tengah menggendong gadis kecil waktu itu."Lily mengantarmu pulang semalam. Dia melihatmu berjalan sendirian di jalanan gelap. Luna Sayang, kalau kamu ingin keluar, bilang sama Ibu ya ...," tuturnya sambil tersenyum.Aku membisu, tak pernah kulontarkan sepatah kata pun setiap dia berbicara. Bagiku dia sangat asing, tapi mengapa dia begitu peduli terhadapku?***Kutengok dua remaja seusiaku dari balik jendela. Mereka mengenakan seragam yang sama, dan menggendong ransel di punggung. Aku menatap diriku dari pantulan cermin. Lusuh dan ... menjijikkan. Mengapa aku tak seperti mereka? Bukankah seharusnya aku sekolah?Kubuka lemari pakaian yang telah usang. Banyak debu di setiap pakaian yang menggantung. Kamarku berantakan sekali dan tak terurus. Kata ibu, aku yang mengacak-acak kamarku sendiri dan mengamuk.Beberapa seragam sekolah tertata rapi di lemari. Bahkan masih terlihat cantik dan menarik. Hiasan dasi pita di kerah lehernya dan rok pendek lucu bermotif kotak-kotak.Tiba-tiba kepalaku pening seakan ada yang menghantam. Tubuhku terjungkal dan membentur lantai.Aku terbangun di sebuah tempat yang asing. Kakiku terpasung dengan banyak darah yang mengucur. Sadar, aku berada di balik jeruji besi. Datang seorang wanita menangis dan meneriaki namaku dari balik sel."Luna ... Ibu menyayangimu!"Itulah kalimat yang diucapkannya sebelum seorang pria yang kuduga adalah penjaga tahanan menariknya kasar. Nafasku tersengal-sengal. Sekelebat bayangan kejadian melintas di kepalaku."Hei!"Suara gadis itu terdengar lagi. Lily menarikku kasar. Dia menggenggam tanganku dan membawaku pulang. Gadis itu kembali mengadu pada ibuku. Aku mengamuk. Mengacak semua barang yang ada. Lily mengambil gulungan tali. Tangan dan kakiku terikat di ranjang. Mereka pergi, meninggalkanku di ruangan yang gelap ini."Luna," panggil seorang perempuan cantik membawa nampan berisi makanan.Dia membuyarkan lamunanku. Ingatanku kembali kacau. Ah ... aku menjerit merasakan sakit seperti ada yang mengacak-acak isi otakku."Luna, tenanglah!"Perempuan itu menggoyangkan bahuku pelan. Dia tersenyum manis. Manik matanya sangat meneduhkan."Makanlah dulu, kau pasti sangat lapar," ucapnya sambil menyodorkan sesendok nasi."Tidak!"Aku menangkis tangannya membuat sendok terlempar dan nasi berceceran di lantai.Dia memungut sendok yang tergeletak, lalu mengelapnya. Dia sangat penyabar. Meskipun begitu, dia tetap menatapku ramah."Luna, aku tahu kau sangat tertekan," ucapnya seraya mengelus rambutku.Aku membisu, cukup menyimak setiap kalimat yang diucapnya. Sesekali mengangguk atau menggeleng sekedar merespons. Dia bercerita banyak tentang kisah hidupnya. Namanya Naila, bekerja sebagai pelayan rumah sakit jiwa."Kak, bagaimana aku bisa berada di sini?" tanyaku lirih."Ah, kau tidak ingat? Pasti sangat sulit memiliki kepribadian ganda.""Sesuai informasi yang aku dengar, semalam kau membunuh temanmu. Dan beberapa jam yang lalu, ditemukan tumpukan mayat dengan bagian tubuh yang berserakan di pinggiran jalanan gelap. Dari mayat tersebut ditemukan sidik jari yang sama denganmu," jelasnya panjang lebar.Aku menaikkan alis. "Maksudmu Lily? Dan bagaimana bisa aku membunuh banyak orang?" tanyaku lagi.Naila menghela nafas lalu mengangguk. "Kau mencekik Lily dengan tali, lalu merobek mulutnya. Dan mayat di pinggir jalan itu, katanya setiap malam kau selalu ke sana sehingga diduga kau memutilasi setiap orang yang lewat dengan kapak.""Sudah, cepatlah makan, akan kuceritakan lagi nanti," sambungnya.***Aku berjalan di tengah malam yang sunyi di antara jalanan yang gelap dan hawa dingin yang menyeruak. Suara geretan kapak melengking indah, menggesek ke setiap bahu jalan.Cerat!Cipratan cairan anyir menodai pakaianku. Jalanan tampak manis dengan lumuran darah yang merembes dari kepala manusia yang baru saja kutebas. Tak sempat kudengar teriakan nyaring yang menurutku bagaikan alunan melodi.Kepalanya tersangkut pada kawat-kawat pagar. Lidahnya menjulur keluar dengan mata yang hampir terlepas. Sedang tubuhnya telah kucincang dan dikemas ke dalam kantong keresek. Ini adalah hadiah khusus untuk ibuku di rumah.Tak terhitung berapa banyak daging yang kusumbangkan pada anjing-anjing liar. Mereka terus saja menggonggong sebagai ucapan terima kasih padaku.Setiap malam, Lily selalu merusak kesenanganku. Aku belum selesai bermain. Tak tanggung-tanggung kuayunkan kapak ke paha kirinya. Dia meraung, meronta-ronta dan menyeret kakinya. Ini adalah pertama kalinya aku bermain dengan Lily.Aku menyeringai, tersenyum puas dengan keadaannya sekarang. Tubuh cantiknya telah cacat dengan bacokan yang kubuat. Lily memekik, berteriak meminta tolong. Percuma, tak akan ada yang mendengar."Kau berteriak sama saja mengundang anjing-anjing liarku," ucapku menyeringai."Berhenti Luna! Aku temanmu!""Aku bukan Luna!"Kemarahanku tak terkendali. Dia baru saja membangkitkan emosiku. Lily terlihat panik melihat arah kapak yang kuayunkan."Aaaahhh ...," rintihnya keras."Itu tak seberapa Lily, ini baru dimulai!" ucapku lalu tertawa hambar.Kulirik segulung tali menggantung di sisi tas kecilnya. Tali itu ... untuk mengikatku setiap malam. "Kau harus menerima pembalasanku Lily!" pekikku.Lehernya tercekik, kedua tangannya berusaha merenggangkan tali. Lihat, dia seperti seekor anjing yang sekarat. Kedua kakinya meronta-ronta. Tapi apa boleh buat, kematian menjemputnya.Aku pulang. Tubuhku tak lagi terikat. Kudapati kedua kakiku dipasung. Aku berada di balik jeruji besi. Tuhan, apa yang telah kuperbuat?

 Penghuni Rumah Terbengkalai
Horror Noveltoon
26 Nov 2025

Penghuni Rumah Terbengkalai

Cerita ini terjadi sudah sangat lama, saat aku melakukan salah satu hal paling bodoh dalam hidupku: mengunjungi sebuah rumah terbengkalai. Aku pergi ke sana sendirian karena tidak ada satu pun temanku yang berani ikut. Terlalu banyak cerita menyeramkan dan kabar aneh yang katanya pernah terjadi di rumah tua itu.Rumah itu tidak jauh dari rumahku. Jika berjalan kaki butuh sekitar sepuluh menit, namun waktu itu aku mengendarai sepeda, jadi kurang dari lima menit aku sudah sampai di depan rumahnya.Sesampainya di sana, terlihat jelas rumah itu sudah lama terbengkalai. Temboknya berlumut, pagarnya berkarat, dan pekarangannya dipenuhi tanaman liar yang tumbuh tak terurus.Aku datang karena mendapat pesan dari seorang kenalan. Ia meminta tolong untuk mencari sebuah benda yang tertinggal di dalam rumah itu. Saat membaca pesannya, aku sempat bertanya-tanya betapa bodohnya orang itu meninggalkan sesuatu di tempat seperti ini. Namun karena aku penasaran, akhirnya aku tetap berangkat.---Setelah memasuki rumah itu, aku langsung naik ke lantai atas. Ruang pertama yang kudatangi adalah kamar mandi. Begitu membuka pintu, hawa panas menyergapku.“Ya Tuhan, panas sekali di sini… Sudah berapa lama kamar mandi ini ditutup?” gumamku.Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh. Aku mencoba cuek dan keluar untuk menuju kamar lain yang belum sempat kukunjungi.Kamar pertama di lantai atas tampak seperti kamar tidur milik sepasang suami istri. Ada bingkai foto pernikahan, namun wajahnya sudah buram dimakan usia. Di dalam laci aku menemukan pakaian dan beberapa lembar kertas berisi materi pelajaran. Di lemari hanya ada pakaian rusak entah karena siapa.Aku lalu menuju kamar terakhir. Saat membuka pintu, firasatku benar: ini adalah kamar anak perempuan pasangan itu. Dindingnya dipenuhi gambar-gambar, ada cermin kecil yang bingkainya sudah kusam.“Syukurlah… semoga di rumah ini tidak ada mayat,” ucapku lirih.Tapi lagi-lagi, suara benda jatuh terdengar dari arah belakangku. Aku terdiam sebentar lalu memilih untuk tetap melanjutkan pencarian benda yang dimaksud kenalanku.---Aku turun ke lantai bawah, masuk ke ruang kerja di sebelah dapur. Rak bukunya penuh dengan buku-buku tua yang menguning. Namun seperti sebelumnya, benda yang kucari tidak kutemukan.Aku menuju kamar mandi kecil di bawah. Cerminnya masih utuh, meski bingkainya penuh noda garis kusam.Keluar dari kamar mandi, aku kembali naik ke lantai atas. Sepanjang tangga, kulihat foto-foto keluarga itu yang sudah memudar. Jika ke tempat seperti ini, seharusnya aku memakai masker dan sarung tangan, pikirku.Saat memasuki salah satu ruangan, tiba-tiba aku melihat sebuah benda tergeletak di lantai.“Apa ini…?”Saat aku memungutnya, suara benda jatuh kembali terdengar. Kali ini lebih keras. Degup jantungku meningkat. Aku memutuskan sudahi semuanya dan segera keluar. Namun saat berjalan menuju pintu, kudengar langkah kaki seseorang dari arah atas.Masalahnya… rumah ini tidak memiliki loteng.Atau mungkin sebenarnya rumah ini memiliki loteng?Entahlah. Ada hal-hal yang memang lebih baik tidak kucari tahu.---Beberapa minggu setelah kejadian itu, aku bertemu kenalanku di sebuah kafe kecil saat hujan lebat. Ia datang menggunakan gaun merah panjang, terlihat cantik.“Kotak waktu itu… kau menemukannya?” tanyanya.Aku mengangguk lalu menyerahkan benda yang kutemukan di rumah itu. Ia bilang benda itu adalah miliknya sejak kecil. Setelah itu, aku menceritakan pengalamanku memasuki rumah tersebut—tentang sosok di kamar mandi yang ternyata adalah pembantu yang tewas tertembak, noda merah di cermin yang ternyata darahnya, lalu sosok di kamar tidur yang merupakan ayahnya, dan terakhir sosok ibu yang merindukan putrinya.Ternyata semua cerita menyeramkan tentang rumah itu memang benar. Dengan mataku sendiri aku melihat para PENGHUNI RUMAH TERBENGKALAI.Setelah menyerahkan kotak itu, aku pulang. Di tengah hujan, aku berjalan tanpa payung karena aku benci jika ada “sosok” yang menumpang di bawah payungku.---Rumah terbengkalai itu ternyata memiliki masa lalu kelam. Satu keluarga beserta pembantu mereka dibunuh secara kejam, namun putri mereka berhasil selamat dan kini tinggal bersama neneknya di Belanda.Namun ada satu hal yang tidak kuceritakan kepada gadis itu: di loteng rumah itu—yang katanya tidak ada—aku menemukan jasad sang pelaku, tergantung.Yang jadi pertanyaanku… mengapa para penghuni rumah itu belum pergi?Apakah mereka ingin menjemput sang putri?Ketika aku meninggalkan kafe, dari kejauhan aku melihat kenalanku berjalan. Tapi aku juga melihat tiga sosok lain mengikuti di belakangnya—tiga sosok penghuni rumah terbengkalai itu.---END

Arganta
Horror
25 Nov 2025

Arganta

laki-laki kesepian yang mencari rumah untuk pulang. Kakinya lemas saat pisau menancap ke tubuh seorang gadis dia sebut Isyana. Gadis itu dia bunuh dengan tangan dinginnya.Malam mencekam kilat menyambar Arga berhasil melancarkan aksinya. Keluar dari apartemen yang dia sewa Arga memakai masker agar tidak ketahuan. “Sebaiknya gue pergi!”Masuk ke dalam mobil, dia senang berhasil melukai gadis itu. Tapi tangisnya semakin kencang. Tertawa sepertu orang gila.Di hari berikutnya dia bertemu Isyana. Dia seorang mahasiswi pintar, cuma punya satu teman Ilona. Dan Isyana benci sekali sama laki-laki makanya dia ilfeel mendekati laki-laki manapun.Sampai Arga meminta nomornya. “Gue mau nomor lo?” “Gak akan gue kasih anjir, lo orang gila.” “Sejak kapan gue gila? Bisa kasih penjelassan?” “Dari sorot mata lo ada sesuatu? Gue ngeliat lo itu seiko.” “Cih stress lo, di baikkin salah.” Arganta tidak peduli pada stetment gadis itu. Ia mendekati Kimberly mangsanya ini cukup empuk, dia badgirl broken-home.“Lo laper gak ke kantin bareng yuk?” Mereka sekarang ada di kantin Nusa Pelita kampus dengan ukuran kantin cukup luas, ada westafel fasilitas makanan bersih, sehat, dan juga bisa dipilih gorengan di sini aja minyaknya olive oil. Tidak ada yang seperti di pedagang gorengan.Duduk di deretan bangku paling depan keduanya belum mengobrol sampai di mana Arganta mengemgam tangannya. “Gue mau lo ngedate sama gue?” Secepat itu. Deru napas Kim kian menggebu.Mereka resmi jadian setelah sering jalan bareng. Bahkan orangtua Kim mengenal Arganta. Malam itu keduanya pergi ke rumah Arga ini permainan pertamanya di rumah. Di dalam tidak siapa-siapa pembantu sudah pulang. “Elo mau ngapain?” “Gue mau bikinin lo surprise!” Arganta mengambil sirup, menyalahkan televisi besar menonton film death note. Tidak lama jari-jari Kim terasa lemas.Airmatanya perlahan jatuh saat Arganta membawa pisau dan juga karung. Ini sudah kelewatan berusaha berlari pintu terkunci. Semuanya biar pintu belakang juga tidak ada akses.Kim merasakan sakit saat sayatan mengenai leher kemudian kulitnya. Jika takdirnya mati sekarang dia siap. Arganta berhasil melakukan memasukkan ke dalam karung. Mengubur di sebelah rumah.Setahun kemudian… Tidak terasa Arganta sudah membunuh 150 gadis. Bukan hal mudah melakukan hanya dengan pedekate semua siap. Hanya ada satu murid kampus susah dilumpuhkan dia Isyana Mirabella.

Pagi ini Rama dikejutkan dengan Hantu
Horror
25 Nov 2025

Pagi ini Rama dikejutkan dengan Hantu

Pagi ini Rama dikejutkan dengan maraknya obrolan penduduk Kampung Hantu di warung makan yang sibuk membicarakan hilangnya anak penduduk Kampung Hantu saat bermain dengan teman-teman yang di sekitaran Sungai Tersesat.Ceritanya anak penduduk yang hilang tersebut bernama Ahmad, seorang anak laki-laki yang baru berusia enam tahun. Saat dia pamitan ke orang tuanya untuk pergi bermain dengan teman-temannya di dekat Sungai Tersesat, dia terlihat gembira dan penuh semangat. Ahmad memakai baju kemeja putih dan celana pendek biru yang terlihat agak kebesaran untuk tubuhnya yang mungil.Orang tuanya memberikan peringatan untuk tidak terlalu jauh dari rumah dan selalu berhati-hati di sekitar sungai yang terkenal berbahaya itu. Ahmad menanggapi peringatan tersebut dengan senang hati dan berkata bahwa dia akan bermain dengan teman-temannya di dekat rumah.Namun sayangnya, Ahmad tidak pernah kembali ke rumah. Seharian kemarin orang tuanya mencari ke sekeliling dan bertanya kepada teman-teman Ahmad, tetapi tidak ada yang tahu ke mana dia pergi. Kemudian mereka melaporkan kejadian tersebut ke polisi dan Rama yang ikut mendengarkan obrolan penduduk Kampung Hantu merasa penasaran dan terpanggil untuk ikut dalam pencarian Ahmad.Sungai Tersesat yang berada di Kampung Hantu konon kabarnya memiliki keadaan fisik yang sangat angker. Sungai ini dikelilingi oleh pepohonan yang lebat dan tumbuhan liar yang menjulang tinggi, sehingga membuatnya menjadi gelap dan menakutkan terutama saat malam hari. Airnya pun konon kabarnya sangat gelap dan keruh, sehingga tidak terlihat dasar sungai. Selain itu, suara gemericik air yang mengalir di Sungai Tersesat terdengar seperti suara tangisan atau rintihan orang yang terjebak di dalamnya.Beberapa penduduk setempat bahkan mengatakan bahwa Sungai Tersesat seringkali menjadi tempat munculnya makhluk halus seperti Wewe Gombel, yang seringkali menakut-nakuti orang-orang yang lewat di sekitarnya. Oleh karena itu, Sungai Tersesat menjadi dihindari dan dianggap sebagai tempat yang sangat angker dan berbahaya.Setelah mendengar bahwa Ahmad telah hilang, orang tua teman-temannya yang sebelumnya sedang bermain di sekitar Sungai Tersesat beserta penduduk Kampung Hantu pun langsung bergabung dalam upaya pencarian. Mereka mencari di sekitar sungai dan hutan di sekitarnya, berharap dapat menemukan tanda-tanda keberadaan Ahmad.Rama dan beberapa relawan dari kelompok SAR (Search and Rescue) juga turut bergabung dalam pencarian. Mereka memperluas wilayah pencarian hingga ke hutan belantara yang ada di sekitar sungai. Namun, meski telah berusaha mencari dengan sungguh-sungguh, Ahmad belum juga ditemukan. Kondisi semakin sulit karena cuaca di sekitar Kampung Hantu menjadi semakin tidak bersahabat, hujan deras mengguyur wilayah itu sehingga mempersulit upaya pencarian.Mereka mencari di sekitar aliran sungai yang dangkal dan dalam, dan melintasi beberapa jembatan yang ada di sepanjang sungai. Selama pencarian, mereka juga memperhatikan kondisi aliran sungai yang cukup deras dan berbahaya.Namun, setelah beberapa jam mencari, mereka belum juga menemukan anak tersebut. Rama dan warga Kampung Hantu lainnya merasa semakin khawatir dan gelisah, namun mereka tidak kehilangan harapan dan terus berupaya mencari anak yang hilang tersebut.Setelah 2 hari melakukan pencarian bersama tim SAR, Rama merasa tidak bisa meninggalkan Sungai Tersesat tanpa menemukan anak yang hilang. Ia memutuskan untuk terus mencari bahkan hingga malam hari.Saat matahari sudah terbenam dan langit mulai gelap, Rama masih saja berkeliling di sekitar Sungai Tersesat mencari Ahmad yang hilang. Kondisi ini membuat Rama semakin merasa khawatir dan gelisah. Tiba-tiba, ia melihat cahaya yang samar-samar di kejauhan dan memutuskan untuk mengikutinya.Setelah berjalan beberapa saat, Rama akhirnya sampai di sebuah hutan bambu yang lebat. Di tengah-tengah hutan tersebut, ia melihat pohon bambu yang sangat besar dan menjulang tinggi. Rama merasa tertarik dan ingin mendekati pohon bambu tersebut. Namun, tiba-tiba ia mendengar suara aneh yang muncul dari dalam hutan.Suara itu semakin lama semakin terdengar jelas dan membuat Rama semakin takut. Ia merasa bahwa ada makhluk halus yang mengintainya dari balik rimbunnya hutan bambu. Namun, Rama mengumpulkan keberanian dan terus melangkah mendekati pohon bambu tersebut.Sampai di dekat pohon bambu, Rama merasa kaget melihat Wewe Gombel yang muncul dari dalam pohon. Namun, Wewe Gombel justru terlihat tenang dan tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menyakiti Rama. Wewe Gombel pun akhirnya membuka suara dan berkata kepada Rama."Jangan takut, anak muda. Aku adalah Wewe Gombel, penunggu pohon bambu di sekitar sini," kata Wewe Gombel.

Teror di Sebuah Gedung Stasiun TV Indonesia
Horror
25 Nov 2025

Teror di Sebuah Gedung Stasiun TV Indonesia

Perempuan berambut panjang itu sering menampakkan diri kepada siapa saja yang sendirian di gedung kantor stasiun TV Indonesia. Senyumnya tak terlupakan.Sudah cukup lama saya tidak menulis untuk rubrik Malam Jumat Mojok. Tetapi saya hampir tak pernah absen mengikuti rubrik ini setiap Kamis malam. Saya menikmati cerita-cerita misteri yang ditulis oleh anak-anak muda, yang rata-rata usianya masih separuh bahkan ada yang masih sepertiga dari usia saya.Tulisan-tulisan mereka membuktikan bahwa negeri ini tidak pernah kekurangan penulis kreatif dan imajinatif. Mereka mampu membawa pembaca ke wilayah yang kebanyakan orang tidak berani menjamahnya. Yang saya maksud adalah wilayah makhluk tak kasat mata, yang dimensinya sering beririsan dengan dimensi manusia. Salah satunya teror di sebuah stasiun TV Indonesia yang akan saya ceritakan.Pengalaman saya ini terjadi di penghujung era Orde Baru menuju awal era reformasi. Saat itu, berbagai stasiun berita TV Indonesia yang ada di Jakarta sedang sibuk-sibuknya meliput dan memberitakan rangkaian unjuk rasa akbar para mahasiswa yang menduduki gedung DPR-RI. Ada juga soal kerusuhan rasial yang sangat masif di berbagai wilayah kota metropolitan. Hingga berakhir dengan lengsernya Bapak Presiden Soeharto. Saat itu saya masih bekerja di divisi pemberitaan salah satu stasiun TV Indonesia yang cukup terkemuka.Bukan. Bukan tentang pengalaman saya memproduksi berita TV Indonesia yang akan saya ungkapkan. Pengalaman saya adalah dipeluk oleh sesosok makhluk menyerupai gadis cantik saat saya rehat di suatu ruangan yang biasa digunakan oleh para pemburu berita melepas lelah.Siang ramai, malam mencekamSaat itu, stasiun TV tempat saya bekerja belum memiliki gedung permanen. Oleh sebab itu, kami sering berpindah-pindah dari satu gedung ke gedung lainnya, dalam hitungan tahun. Dan, sebagai divisi yang relatif baru dibangun, divisi pemberitaan pernah menempati beberapa gedung yang terpisah dari divisi-divisi lainnya. Salah satunya adalah gedung yang akan saya ceritakan.Gedung tersebut terdiri dari beberapa lantai. Divisi kami mengisi dua lantai paling atas yang selalu beroperasi sepanjang hari. Saat siang hari, gedung ini cukup ramai dengan kesibukan kerja. Selain stasiun TV kami, ada beberapa perusahaan lainnya yang menyewa tempat ini.Nah, saat malam hari, hanya divisi kami yang bekerja hingga pagi. Itu saja tidak seluruh karyawan divisi pemberitaan masuk, melainkan hanya sepersepuluh dari seluruh kekuatan divisi. Jika saat itu melewati gedung ini di malam hari, akan Anda melihat hanya dua lantai teratas yang lampunya selalu menyala. Sementara itu, lantai-lantai lain di bawahnya gelap gulita.Jumlah karyawan stasiun TV yang bekerja di malam hari mungkin hanya sekitar 20 orang. Terdiri dari beberapa produser, beberapa editor visual, beberapa penata desain grafis, petugas perpustakaan, beberapa juru kamera studio, sepasukan petugas master control yang jumlahnya sekitar enam orang, serta sekitar dua tim pemburu berita malam (reporter dan juru kamera) yang bergantian datang dan pergi.Jumlah 20 orang mungkin cukup banyak jika menempati gedung yang tidak terlalu besar. Tetapi, 20 orang di dua lantai yang sangat luas, yang di siang hari biasa dipenuhi sekitar 200 karyawan, tentunya akan terasa senyap saat malam hari. Lantai-lantai lainnya yang sepi dan gelap menambah suasana semakin sunyi. Kami, yang sekitar 20 orang itu, juga bekerja di ruangan-ruangan terpisah.Teror yang sudah menjadi buah bibirSaya sering mendengar cerita dari beberapa teman yang katanya pernah bertemu sesosok perempuan berambut panjang. Kesaksian mereka berbeda-beda. Ada yang mengaku melihatnya di lobi utama, ada juga yang melihatnya di tempat parkir rubanah (basement), di dalam studio siaran stasiun TV, ruang perpustakaan, toilet, dan tangga darurat.

Aruna Mengerti
Horror
25 Nov 2025

Aruna Mengerti

“Kamu tahu kan, Bapak ngelakuin ini semua, karena sayang sama kamu.”Aruna menatap tangan bapaknya yang mengulurkan sejumlah uang. Senyum bapaknya melebar, simetris, seakan tulus dari hati. Anak perempuan itu menerima lembaran uang dengan tangan gemetar, kulitnya yang kurus dan dingin bergetar meski malam tadi tubuhnya hangat oleh darah yang kering di sekujur lengannya. Aruna tahu, uang itu bukan hadiah—itu adalah imbalan untuk pekerjaan yang baru saja ia lakukan, mencuri dari pejalan kaki yang tak sengaja lewat, tanpa ampun. Elusan kepala bapaknya menjadi penguat, meski sekaligus mengikat Aruna dalam jaring takut dan cinta yang rumit.“Aruna ngerti,” jawabnya lirih.Sinar mata Aruna perlahan meredup, kehilangan kilau yang tadi sempat menyala. Ia menatap punggung bapaknya yang menjauh, sosok itu menapaki jalan setapak keluar rumah, meninggalkan Aruna sendiri dalam hening yang menelan. Sunyi malam terasa lebih pekat sekarang, seolah dinding-dinding rumah menghisap setiap napas yang ia hembuskan. Aruna menekan bibirnya, menahan rasa ingin menangis, lalu tanpa sadar menggaruk kulitnya yang tak gatal. Tidak ada jawaban atas rasa sepi yang menempel di tulang. Tidak ada suara selain detak jantungnya sendiri yang menjerit dalam dada.Akhirnya, Aruna memilih tidur. Ia merapatkan tubuhnya yang kurus, beralas koran bekas, memeluk diri sendiri seakan ingin menyerap sedikit panas dari tubuhnya sendiri. Udara malam yang dingin menusuk kulit tipisnya, membuatnya menggigil, menekuk lutut ke dada, bersandar ke dinding. Di sana, di sudut kamar yang gelap, Aruna menemukan sepotong kehangatan yang bisa ia genggam—meski itu hanyalah bayangan dari cinta bapaknya, yang dibungkus darah dan rasa takut.Keesokan harinya, siklus itu akan terulang. Pagi tiba dengan aroma daging hangat, dihidangkan di atas piring yang sama, rapi dan menggoda selera. Aruna duduk di meja, menyantap potongan daging itu dengan lahap, rasa bersalah dan ketakutan terbenam di setiap kunyahan. Bapak di dekatnya menatap dengan mata yang lembut, seakan memuji usaha dan ketaatannya.“Aruna tahu kan, Bapak ngelakuin semua ini, karena sayang sama kamu.”“Aruna ngerti,” jawabnya lagi, dengan suara yang lebih tegar kali ini. Namun di dalam hatinya, ada bisikan lain yang tak pernah ia ucapkan—bisikan yang bertanya apakah cinta yang dibalut darah itu benar-benar nyata, ataukah hanya cermin kebohongan yang membungkus kesepian dan ketakutannya.Aruna menatap jendela yang menampakkan langit pagi, namun sinar mentari tidak mampu menembus gelap yang menyelimuti pikirannya. Ia tahu, setelah sarapan selesai, siklus hari itu akan berlanjut: pekerjaan, uang, elusan, dan keheningan yang menekan hingga malam kembali datang, membawa dingin, darah, dan rasa takut yang menempel seperti bayangan abadi.

Boneka ukiran
Horror
25 Nov 2025

Boneka ukiran

Sebetulnya ada beberapa pengalaman horor, tapi menurut saya ini yang paling membekas di ingatan. Hehehe.Jadi, kisah dimulai sekitar tahun 2003 ketika saya masih kelas 5 SD. Suatu hari, ibu saya yang baru saja pulang dari kota J dengan riang gembira mengatakan bahwa beliau membeli sepasang boneka ukiran (ibu dan ayah saya dulu sangat suka mengoleksi patung loro blonyo—boneka atau patung sepasang pengantin, tolong dikoreksi bila terjadi kesalahan penulisan atau definisi)Lain dari boneka yang biasa mereka beli, ibu saya membawa pulang sepasang boneka dari kayu berwujud kakek dan nenek, menggunakan pakaian tenun oranye sambil membawa tas. Kalau diingat-ingat lagi sekarang dari sisi seni, kedua boneka itu sangat cantik. Ukirannya detail dan pakaian kedua boneka itu dijahit rapi dari kain tenun. Pokoknya bukan kualitas abal-abal, lah! Namun, saya yang masih berusia 10–11 tahun saat itu merasa bahwa kedua boneka itu sangat menyeramkan.'Keseraman' itu bertambah ketika ibu meletakkan kedua boneka itu di lemari yang letaknya di lorong, persis menghadap ke pintu kamar saya. Setiap kali saya berjalan melewati lemari tersebut, saya menyadari bahwa kedua boneka tersebut agak miring. Jadi, tidak lagi menghadap ke depan tetapi agak menyerong sekitar 45 derajat. Kalau saya lewat lagi, posisinya berubah jadi 90 derajat. Kalau saya lewat lagi, posisinya balik lagi menghadap ke depan.Saat itu, saya kecil yg selalu diajarkan untuk berpikir logis, menganggap "hmm mungkin kesenggol si bibi yang suka lap-lap disitu." Tapi kalau dipikir-pikir, misalkan memang kesenggol pasti si bibi bakal membetulkan ke posisi semula, bukan? Dan si bibi juga nggak mungkin berani memposisikan barang-barang ibu tidak sesuai dengan 'kaidah' yang empunya rumah.Akhirnya, pada suatu hari, seorang sahabat saya di sekolah, berkunjung ke rumah saya. Saya pun mengutarakan pada dia, bahwa saya takut pada kedua boneka kakek-nenek tersebut. Namun, alih-alih ikut takut, teman saya malah dengan berani memegang kedua boneka itu dan mempermainkan mereka seolah pesawat terbang."Kamu nggak perlu takut!" Dia memainkannya sambil tertawa girang.Saya cuma bisa diam saat itu."Kalau kamu takut, bonekanya dihadepin ke belakang aja." Ucapnya seraya meletakkan boneka itu kembali di tempatnya semula, namun kali ini posisinya membelakangi (jadi saya cuma bisa lihat punggungnya saja). Dalam hati saya sangat lega akhirnya teman saya berhenti mempermainkan boneka yang bahkan saya tidak berani tatap itu.

"Sampai kutemukan jasadku"
Horror
25 Nov 2025

"Sampai kutemukan jasadku"

"Pak, maaf, dokter sudah tidak ada visit, sampai kapan di sini? mending besok aja balik lagi""Sampai kutemukan jasadku"Wajahnya pucat separuh hancur, matanya bolong, dari bagian perutnya merembas darah. Dia mencari jasadnya sendiri."---Desc:Utas ini menggunakan sudut pandang orang pertama (narasumber). Segala bentuk nama dan tempat telah di samarkan.2013, dari meja jaga perawat ruang ICU samar terdengar suara bunker roda berjalan mendekat. Namun ada yang aneh, bunker roda itu diiringi suara serentak bak pengantar jenazah,"LAILLAHAILLAH”“LAILLAHAILLAH”“LAILLAHAILLAH”Dari kejauhan, suara itu kian dekat dan semakin jelas. Aku yang sedang terlenyap di bawah meja jaga tersentak bangun. Kepalaku pening, pandanganku berbayang, kuraih kacamataku yang tergeletak di atas mejaTubuhku mematung seketika melihat satu bunker kosong didorong oleh empat perawat berwajah pucat pasi, bibir biru dan tanpa bola mata.Mengalir darah dari tiap-tiap kepala perawat, lebih mengerikan lagi, mata putih milik satu perawat yang berdiri di baris paling depan seketika menggelinding ke lantai seperti habis di congkel.Aku terkesiap ketakutan setengah mati, kuperhatikan sekeliling, tak ada tanda-tanda orang lain di sekitar selain aku.Mereka terus berjalan mendekat menelusuri lorong temaram seolah tak memperdulikan rasa sakit dan darah yang merembas di kepala dan badanAku terpaku tak dapat menggerakan sendi-sendi tubuhku sendiri. Ingin berteriak sekeras-kerasnya namun leher seolah tercekat.Aku hilang kendali diri, panik dan takut menguasaiku sepenuhnya—satu-satunya yang dapat kulakukan ialah menatap sosok-sosok mengerikan itu yang berada di garis lurus yang samamereka kian mendekat ke arahku seraya hendak menjemputku untuk naik ke bunker kosong yang mereka bawa.Gilanya, mereka juga terus mengucap kalimat doa yang biasa dilafalkan para pengantar jenazah,"LAILLAHAILLAH”“LAILLAHAILLAH”“LAILLAHAILLAH”Bisa kalian bayangkan bagaimana posisi aku saat itu?…satu-satunya yang kuingat hanya wajah ibuku di kampung halaman yang belum sempat kukunjungi.Langkah mereka semakin cepat, menggaung suara tawa memekik dari berbagai arah, aku seperti berada di jalan buntu yang mana hanya bisa nangis.Secepat kilat keempat perawat mengerikan dan bunker roda itu menabrakku keras.Berikutnya, pandanganku gelap.****Aku tersadar membuka mata di ruang IGD. Bu Desi, salah seorang perawat senior menghampiri untuk memeriksa kondisiku.Dia mengatakan semalam aku kejang-kejang di meja jaga dengan mata mendelik ke atas.Untung saja, cepat ditemukan Pak Manto, satpam rumah sakit yang sedang keliling.Aku masih ingat betul apa yang menimpaku tadi malam, rasanya begitu nyata. Sekujur tubuhku remuk, ada luka lebam membiru dibeberapa bagian badan seperti bekas benturan benda tumpul.“Sebenarnya tadi malam kamu kenapa tih?” Tanya Bu Desi.Aku gagap menjawab, tetapi Bu Desi melanjutkan kalimatnya,“Kamu Indigo?Sebelumnya ada perawat juga yang indigo, dia resign karena sakit, gak kuat katanya, tapi sebelumnya persis kayak kamu, kejang begitu pas lagi jaga rawat.”Aku menggeleng pelan, menyangkal. Entah mengapa aku tidak suka dan merasa tidak pantas mendapat predikat sebagai ‘anak indigo’ meskipun aku memang peka dan kerap bersinggungan dengan mereka yang tak kasat mata.Namun kenyataan itu, bagiku seperti hal memalukan yang harus kusembunyikan rapat-rapat. Lagi pula aku bukan seorang praktisi, mengontrol mataku sendiri saja aku tak bisa—ya, kadang ‘mereka’ terlihat jelas, kadang samar, bahkan kadang hanya suara saja yang kudengar.Aku tidak tahu apa yang menyebabkan begitu, namun yang pasti, sejak aku menstruasi pertama sampai saat ini usiaku menginjak 24 tahun, aku masih belum bisa terbiasa dengan keberadaan mereka disekitarku.Rasanya seperti aku bisa saja mati jantungan sewaktu-waktu.Aku memang terhitung baru menjadi perawat di Rumah Sakit ini, sebelumnya aku hanya berani bekerja menjadi perawat di sebuah klinik kecil tak jauh dari rumah.Ya, kepekaanku terhadap ‘mereka’ menjadi alasanku memilih bekerja di klinik. Bagiku, kala itu rumah sakit seperti tempat penyiksaan mental.Bagi kalian yang bekerja di rumah sakit, pasti setuju kalau shift malam selalu jadi tantangan tersendiri, meskipun sudah biasa tapi rasa getir, takut, merinding jadi tamu setia yang hinggap setiap malamnya.Namun satu tahun ke belakang, aku merasa diriku sudah tak lagi sepeka dulu. Aku bahkan sudah jarang bersinggungan apalagi melihat mereka.Paling parah, aku hanya melihat gumpalan asap membentuk sosok, siluet bayang hitam, dan suara-suara aneh yang masih bisa dihiraukan—karena itu lah, aku memberanikan diri melamar untuk bekerja lagi di rumah sakit, selain sudah merasa aman, gaji yang kudapat juga lebih besar bekerja di Rumah Sakit dibanding di klinik.“Kenapa bisa begitu bu, perawat itu kenapa?” tanyaku balik ke Bu Desi, penasaran.“Mending kamu gak usah tau deh, lagi sering jaga malam kan? “ kekeh Bu Desi.Sejak aku membuka mata. Aku merasa ada yang berbeda dari sekitarku—rasanya rumah sakit ini nampak lebih padat sesak dari biasanya, banyak lalu lalang melintas wajah-wajah perawat dan dokter yang tak kukenali.Ada apa di rumah sakit ini?*****Tak terlalu kupikirkan mengenai peristiwa tempo hari—kadang kala, sakit juga bisa merenggut alam sadar dan membuat kita berhalusinasi, jadi kusimpulkan saat itu aku hanya sedang tidak sehat.Sekarang, Aku mendapat gilir jaga IGD, baru saja seluruh pasien IGD ditransfer ke kamar rawat, jadi IGD malam ini tampak sepi, hanya tersisa satu pasien koma yang masih menunggu pihak keluarganya tiba.Suara sirine ambulan berbunyi nyaring memeceh hening malam. Ramai sentakan langkah para perawat sigap menghampiri membawa bunker roda. Tari, rekan perawatku menyiapkan satu tempat tidur di IGD.Aku ikut membantu,“Ada pasien darurat apa tar? Kok tumben gak ada info dulu ke IGD kalau mau ada pasien dari ambulance kita?” ujarku.Tari tak menjawab, namun raut wajahnya tampak begitu serius. Tak lama, suara bunker roda terdengar mendekat. Rombongan para perawat dan satu dokter membuatku tersisih menepi.

-JASADNYA DI COR, NYAWANYA JADI TUMBAL-
Horror
25 Nov 2025

-JASADNYA DI COR, NYAWANYA JADI TUMBAL-

Kalo denger kata ‘corcoran’, ada yg viral bberapa waktu lalu. Satu peristiwa yg pernah aku alami. Peristiwa yg gak akan bisa aku lupakan. Peristiwa yg mungkin kalian atau pemerintah belum tahu.Disclaimer dulu ya. Cerita ini sudah mendapatkan ijin dari pihak yg bersangkutan. Walaupun sebenarnya rada ngeri juga, karena yg akan saya bagikan ini sebenarnya rahasia dan hanya beberapa orang yg tahu. Tp gapaplah, udah lama juga kejadiannya.Kebetulan perusahaan tempat di mana aku kerja magang ini sedang ada semacam projek besar. Jadi dalam beberapa hari dalam seminggu ini aku dan beberapa rekan kerjaku suka pulang malam terus. Oiya, kenalin aku Dini. (samaran)Di kantorku ada perempuan namanya Rina. Dia adalah ketua projek yang di angkat baru-baru ini. Dan anehnya, setelah pengangkatan Rina menjadi ketua, banyak sekali cerita serem yang di alami oleh beberapa karyawan. Jadi kantorku ini mendadak berasa berhantu.Suatu hari ketika lembur, Rina ini harus memfotocopy beberapa lembar surat-surat. Kebetulan mesin fotocopy berada di lantai atas.Ketika Rina sampai di lantai atas, tepatnya posisi dia lagi berdiri gak jauh dari mesin foto copy, ada satu ruangan yang di kunci.Pintunya warna merah, beda dari pintu-pintu yang lain di kantorku. Dan gak ada yang tahu atau pernah masuk ke ruangan itu, karena memang gak dibolehin masuk sekalipun karyawan lama.Tiba-tiba dia teriak histeris. Semacam teriakan orang ketakutan gitu. Dan suaranya keras banget sampai aku yang lagi di ruang bawah pun denger. Otomatis aku dan beberapa rekan kerjaku yang mendengar, langsung berhambur keluar buat lihat keadaan si Rina ini.Sesampainya kami di atas, Rina ini sudah dalam kondisi duduk di sudut ruangan sambil nutup mukanya pakai tangan.“Eh cepet-cepet bantu Rina!” celetuk salah satu rekan kerjaku.Untungnya malam itu tuh ada cowoknya, jadi Rina bisa di bopong untuk turun ke lantai bawah.Setelah di tenangin, Rina cerita sambil nangis gituu. Katanya dia liat sosok manusia keluar dari tembok!Dan seremnya, sosok itu kemudian berjalan ke arah Rina.Makanya dia sampai teriak histeris. Gak lama, Rina nelfon temannya. Kalau gak salah namanya Cipto.Kira-kira, mirip kyk stranger things gini.Sedikit aku kasih tahu latar belakang Rina ini. Dia ini sebatang kara yang hidupnya sangat mandiri. Sampai aku sendiri begitu kagum sama sosok Rina ini. Karena selain mandiri, dia juga pinter banget di kantor.Dan siapa Cipto? Dia itu adalah mantan supervisi Rina sebelum dia naik jabatan dan jadi ketua projek. Tapi anehnya, malam itu orang yang pertama kali dia telfon tuh si Cipto. Padahal suami bukan, pacar apalagi. Yah positif ajalah, mungkin sahabatnya.

Rumah Megah Tak Bertuan
Horror
25 Nov 2025

Rumah Megah Tak Bertuan

“Klik..” ada notice sms masuk ke hpku. Kuambil hpku yang tengah tergeletak di atas meja, dan benar dugaanku gajiku bulan ini telah ditransfer oleh pak Burhan. Pak Burhan adalah majikanku, beliau adalah pemilik rumah mewah di jalan Anyelir no 5. Rumah itu sangat mewah tepatnya 20 tahun yang silam. Aku masih sangat ingat dengan jelas kala itu aku datang ke kota ini untuk melamar menjadi penjaga di rumah pak Burhan.“Pak, ini orangnya yang kemarin saya ceritakan ke bapak” ucap seorang pria bertubuh kekar “Oh iya” jawab seorang pria paruh baya yang tengah duduk di depanku sambil menikmati cerutu. “Kalau begitu saya kembali ke basement ya pak” ucap pria kekar itu “Iya silahkan” jawab pria paruh baya itu. Kemudian pria paruh baya itu menatapku lekat-lekat dari ujung kepala hingga ujung kaki.“Siapa namamu, anak muda?” Tanya pria paruh baya itu “Azali pak” Jawabku singkat “Oh.. kau sudah pernah bekerja di tempat lain?” tanyanya lagi “Belum pak, baru kali ini saya melamar kerja” ucapku “Kau berasal darimana?” tanyanya lebih jauh “Dari kampung SekarAsri pak” ucapku “Di kampung kamu bekerja apa?” Tanya pria paruh baya itu “Setelah lulus SMP, saya bantu-bantu orangtua di sawah pak” jawabku “Berapa usiamu?” tanyanya berlanjut “Masih 17 tahun pak” ucapku “Kamu tidak melanjutkan SMA?” tanyanya lebih jauh “Tidak pak, orangtua saya tidak ada biaya lagipun di kampung saya masih belum ada SMA. Ya, daripada nganggur selama ini saya bantu-bantu bapak di sawah” ucapku “Kok ngelamar ke sini?” Tanya pria itu lagi “Saya ingin merubah nasib pak, siapa tahu kerja di kota penghasilannya lebih baik” jawabku“Begini anak muda, kebetulan saya sedang membutuhkan tukang kebun untuk merawat halaman rumah saya. Kamu bersedia?” Tanya pria itu “Iya pak, saya mau sekali” ucapku “Ya sudah kamu saya terima kerja di sini, sekarang kamu ikut saya kenalan dengan pegawai-pegawai saya dan juga keluarga saya” ucap pria ituPria itu kemudian mengajakku ke sebuah tempat bernama basement tapi kalau kataku tempat itu mirip seperti rumah kecil. Di sana aku berkenalan dengan bu Murti si tukang masak, pak Hans si sopir sekaligus bodyguard dan mbak Is si tukang bersih-bersih rumah. Setelah itu kami menaiki tangga yang ada di dalam basement yang ternyata tembus ke dalam rumah megah itu. Wauuu, benar-benar rumah yang indah. Di dalam rumah itu ada aneka perabot mewah yang aku sendiri tidak tahu namanya tapi yang jelas itu semua perabot mahal. Di samping almari ada seorang wanita memakai daster pink yang tengah mengasuh seorang anak laki-laki tampan. Wanita itu ternyata bernama mbak Ayu dan anak kecil itu adalah cucu pak Burhan, namanya Bram.“Yang tadi itu para pegawaiku dan sekarang kau akan kukenalkan dengan keluargaku” ucap pak Burhan. Pak Burhan kemudian menyuruh mbak Ayu agar memanggil semua anak pak Burhan ke Ruang mewah itu. Beberapa saat kemudian, di depanku sudah ada 3 orang wanita dan 2 orang pria. Pak Burhan kemudian berjalan menuju ke belakang mereka.“Azali, inilah keluargaku. Yang sebelah kanan ini adalah Asmita, istriku. Ini anakku yang pertama yaitu Velita dan ini suaminya Yoga. Kalau yang ini Viona dan ini Rio suaminya Viona. Kalau anak laki-laki yang kau temui tadi itu adalah cucuku, anak dari Yoga dan Velita” ucap Pak Burhan dengan ramahnya “Iya pak” jawabku singkat terkungkung gerogi“Mulai hari ini Azali akan bekerja di sini sebagai tukang kebun. Ingat, kalian harus memperlakukannya seperti pegawai-pegawai yang lain karena tanpa mereka kita tidak bisa mengurus rumah ini” ucap pak Burhan “Iya Papa” jawab mereka kompak. Kemudian mereka kembali melakukan aktivitasnya masing-masing dan pak Burhan mengantarkanku keliling rumahnya.“Inilah rumahku, Azali. Sekarang sudah menjadi tugasmu untuk merawat halaman dan hewan peliharaanku. Oh iya, segala peralatan kebunmu ada di basement” ucap Pak BUrhan “Baik pak” jawabkuPagi-pagi buta setelah sholat subuh aku mulai bekerja memotong rumput di halaman rumah Pak Burhan. Rencanaku, rumput yang telah kupotong akan keberikan pada kelinci dan rusa, tanpa banyak cakap aku segera mengambil peralatan kebunku lengkap dengan karung untuk wadah rumput. Satu per satu rumput telah kupotong dan kumasukkan ke karung yang kubawa. Kemudian karung itu kubawa ke kandang kelinci yang ada di tepi rumah sebelah kanan. Setelah itu, kulanjutkan memotong rumput di lain tempat namun yang jelas tetap di rumah pak Burhan. Rumput-rumput yang telah kupotong, kumasukkan ke karung untuk makanan hewan ternak pak Burhan. Begitulah kerjaku setiap hari, tanpa banyak kata menjalankan tugas dan ternyata cara kerjaku menarik hati pak Burhan.“Bagaimana perasaanmu kerja di sini, Azali?” Tanya pak Burhan di suatu sore “Saya senang pak, rumput di tempat bapak banyak sehingga saya bisa sekalian merawat halaman juga memberi makan ternak” jawabku “Iya, saya juga suka dengan etos kerjamu. Kalau begitu terimalah ini gaji pertamamu” ucap pak Burhan sambil menyodorkan sebuah amplop padaku. “Oh iya, kau harus membuat atm untuk gajimu bulan selanjutnya karena gaji semua pegawaiku langsung kutransfer ke atm mereka masing-masing” ucap pak Burhan “Tapi saya tidak tahu cara membuat atm pak” ucapku “Nanti biar Hans membantumu” ucap pak Burhan “Baik pak” jawabkuKeesokan harinya pak Hans membantuku membuat ATM di bank terdekat dan seperti janji pak Burhan gajiku tiap bulan langsung ditransfer ke ATM. Gaji yang kuterima dari pak Burhan sangat besar bagiku. Bagaimana tidak, bocah kampung yang jauh dari keramaian digaji jutaan rupiah hanya untuk merawat halaman rumah orang kaya dan tak hanya itu setiap hari aku mendapat jatah makan 3 kali, kadang aku juga mendapat cemilan entah itu singkong rebus atau hanya sekedar pisang goreng. Dan di akhir tahun seluruh pegawai pak Burhan mendapat parsel juga baju baru. Jadi, tentu saja aku bisa memberi uang kedua orangtuaku di kampung agak banyak. Dan tak ayal juga setelah 8 tahun aku bekerja di tempat itu, aku bisa membeli rumah di dekat rumah pak Burhan.Rumah yang kubeli dari hasil keringatku, amatlah kecil jika dibandingkan dengan rumah pak Burhan yan luasnya sekitar 1,5 hektar. Rumah kecilku terletak di jalan Matahari no 7, jaraknya sekitar 300 meter dari rumah pak Burhan. Jadi, setiap hari aku cukup berjalan kaki untuk bekerja di rumah pak Burhan. Kenikmatan itu kukira akan berlangsung lama namun ternyata sebaliknya.Pagi itu, seperti biasa aku pergi bekerja setelah sholat subuh untuk memotong rumput dan merawat hewan ternak. Namun, sejak pagi kulihat keluarga pak Burhan tampak murung dan bingung. Bahkan masakan bu Murtipun utuh tak ada seorangpun yang menyentuh.“Kok tumben bu, masakannya masih banyak?” tanyaku “Iya. Aku sendiri juga nggak tahu Al sejak tadi pak Burhan sekeluarga Nampak murung dan bingung” tukas bu Murti. “Memang apa yang dimurungkan bu?” tanyaku “Entahlah Al, urusan orang besar mungkin. Udah buruan makan gih” ucap bu Murti namun bu Murtipun juga Nampak murung. “Ibu lagi sakit?” tanyaku “Enggak kok, ibu cuman capek saja” jawab bu Murti singkat kemudian meninggalkanku entah kemana. Akupun segera menyantap masakan bu Murti yang aduhai enaknya.Seusai makan, aku akan melanjutkan membersihkan kandang ternak dan menguras kolam. Seusai melaksanakan semua tugas, aku mandi dan segera sholat ashar. Tiba-tiba.. “Jadi benar apa kata Hans, kalau kamu sholat?” Tanya pak Burhan yang tiba-tiba berdiri di belakangku. “Iya pak. Sholat kan tanda terimakasih kita pada yang Maha Kuasa” jawabku enteng “Azali, setelah ini kami semua akan pergi. Aku hanya titip pesan agar kau selalu merawat halaman rumahku seperti biasa” ucap pak Burhan “Bapak mau pergi kemana?” tanyaku “Kau tak usah Tanya kami pergi kemana yang jelas kami pergi agak lama dan untuk gajimu akan kutransfer setiap bulannya. Kau mengerti kan?” ucap pak Burhan “Iya pak saya mengerti. Oh iya pak, barang-barangnya biar saya bantu menyiapkan” ucapku “Tidak usah Al, semuanya sudah siap kok” ucap pak Burhan “Oh iya pak kunci gerbangnya kan ada di saya” ucapku “Bawalah kunci itu agar kau mudah merawat halaman rumahku. Sekarang kau boleh pulang” ucap pak Burhan “Baik pak” jawabkuKeesokan harinya aku berangkat kerja seperti biasa namun aku sangat syok melihat rumah pak Burhan. Rumah itu sepi, Semua penghuni rumah pergi berikut dengan hewan peliharaan pak Burhan. Masak iya liburan bawa hewan peliharaan? Kan itu mustahil? Kucari ke seluruh rumah namun hasilnya tetap sama tidak ada dan anehnya mobil pak Burhan masih tetap parkir di garasi. Aku jadi semakin bingung akan kepergian seluruh penghuni rumah pak Burhan. Kemanakah mereka?Kepulangan mereka selalu kunanti setiap hari namun tak satupun dari mereka yang pulang ataupun memberi kabar hingga tak terasa rumah itu telah ditinggalkan selama 20 tahun. Selama 20 tahun, aku hanya membersihkan halaman dan melihat-lihat ke sekeliling rumah masih tetap sama seperti 20 tahun silam. Kerusakan-kerusakan rumah satu-persatu mulai muncul, sebagai pegawai yang baik kutelepon pak Burhan namun tidak bisa dan anehnya setiap kali aku masuk ke halaman rumah pak Burhan tercium bau kemenyan. Waallahu a’lam bi showaf..

Terbunuh Sepi
Horror
25 Nov 2025

Terbunuh Sepi

Dikisahkan ada sekumpulan remaja tampan di salah satu sekolah bernama Galaxy School. Di sana ada cowok bernama Ricky yang pendiam. Ricky sedang mengeluarkan rokok membuang ke tempat sampah. Kemudian ada yang memotret Ricky secara diam-diam tanpa izinnya. Ialah Divya. Divya sangat mengangumi Ricky. Namun Ricky cuek.Suatu hari kematian dari seorang gadis dan banyak menuduh kalau Ricky saiko. Divya tetap saja tidak percaya kabar miring tersebut. “Gue nggak percaya Bang Ricky bisa ngebunuh Nelly.” jawab Divya membentak meja.Di tempat berbeda sosok cowok sedang memotretnya tanpa sepengetahuan Divya. Senyum merekah. “gue harus bisa dapatin lo.”Didalam kesunyian malam geng bernama UN1Ty tengah duduk membahas soal Ricky yang dituduh jadi tersangka. Shandy muka sangat aneh. Berbeda dari biasanya. Wajah berkeringat dingin. “Kenapa bro apa ada sesuatu?” “Gak ada, gue hanya ngerasa yakin kalo sih Ricky itu Seiko cuma dia kan paling pendiam di grup kita.” ucap Shandy menerka-nerka.Di hari berikut Fiki sedang bermain gitar asyik pada dentingan yang ia mainkan. Kemudian Shandy menghampiri memberikan segelas marimas dibeli di warung. “Gak yakin gue tampang Ricky pembunuh!” “Mau gimana lagi udah tercemar geng kita, gue mau Ricky keluar dari UN1Ty.” Semua memandang negatif pada Ricky.Kian hari semakin ada berita kurang sedap. Sehingga Ricky menegaskan sesama kalo geng ini mesti mengeluarkan membernya. Memberikan penjelasan namun tetap saja semua sudah benci pada Ricky.Divya mendekati Ricky, disaat semua menjatuhkan Divya mensupport penuh Ricky memberikan kekuatan. Suara di gedung terdengar lagi tangisan kencang. Pergi ke sana Ricky berlari pisau terbuang di lantai. Memungutinya terkejut Divya hampir mau pingsan.“JADI ELO KAN BIANG KEROK DI UN1TY?” tanya Fenly memojokkan Ricky. “Bukan gue sumpah, gak bohong!” Tidak ada yang percaya padanya.Di hari berikutnya Ricky dimintai keterangan atas kematian Yani. Jawaban hanya gelengan sementara polisi perlu tahu semua dijawab sama. “Penyelidikan kita akan proses kamu tetap di sini.” Belum ada bukti sehingga Ricky ditetapkan sebagai tersangka.Semua membenci Ricky bahkan UN1Ty terpecah belah. Sudah rusak, tidak ada artinya lagi. Merasa kehilangan sosok baik, misterius. Dulu dikenal sebagai pahlawan akibat sering menolong jasa Ricky tentu saja besar.Seseorang berjalan ke toilet menemukan pemandangan aneh. Segera merekam melalui kamera ponsel. Membawa sesuatu di dalam kantung plastik. Tiba di rooftop seluruh urat leher menegang.Mata tertuju pada sesuatu yang di lempar ke atas gedung. Cowok itu melepas Hoodie muka tertutup masker. “Astagafrullah jadi lo?” Divya terkejut. “Kenapa kalo itu gue, mau lapor silakan… gue iri sama Ricky kenapa dia selalu dicintai beda dengan gue yang dianggap sampah.” Tatapan mata terus tertuju pada sosok itu. “Terus kenapa lo bunuh murid Galaxy School? Jangan bilang lo sakit hati sama UN1Ty.” “Bukan cuma itu gue sering dibully sama Shandy, terus di jambak rambutnya sama Fenly.” Bayangan sewaktu smp terbuka lebar. Di mana ada anak cowok berkacamata tebal lewat lalu disiksa sama beberapa orang. Perut ditendang, kaki keinjak sepatu dibeli dari hasil tabungan dibuang ke got.Miris menyesakkan dada sekarang sudah terbongkar pelaku sebenarnya. Divya mengerti permasalahan yang terjadi.Menarik Divya hingga ke bagian titik, dan member UN1Ty datang. “Gue sempat lewat dan ngeliat sesuatu yang gak beres.” Zweitson dia paling suka belajar pintar. Kacamata juga selalu dibersihkan. Pokoknya member idola di sini.Divya kaget lalu berjalan tapi leher dicekek. “Lepasin gue tau lo demdam sama kita…” Zweitson bukan tukang bully. Cuma Fenly, Shandy dan satu lagi Fiki. Fajri juga tingkat level yang paling keras adalah mereka. “Gue akan lepasin asal kalian buat video permohononan maaf buat gue yang selalu kalian tindas.” Wajahnya penuh amarah. Menahan rasa sakit di hati.Alani sahabat dari Divya terkejut. Melongo. Bisa-bisanya cowok dikenal kutu buku membunuh banyak korban. Airmata Divya terjatuh. “Oke gue terima ini semua demi nona cantik itu, lepasin dia sekarang.” “Gak bisa, buat dulu.”Zweitson membuat videonya dengan latar rooftrop dan menyerahkan kamera handycam kepada cowok itu menyuruh memasukan ke channel YouTube UN1Ty. Hingga viral. “Gue Zweitson mewakili member yang lain buat minta maaf.”Fenly tersenyum kecut berjalan ke rooftop demi Divya Zweitson rela melakukan itu semua. Dia setia kawan kepada Ricky yang ternyata menyimpan rasa pada Divya.Setelah Divya selamat Arnold digiring ke kantor polisi bukan cuma dia dituduh masih ada satu lagi. Dulu sewaktu Nelly kebunuh masih ada saksi belum terungkap. Menghilangkan jejak sangat kreatif.Berjalan ke tempat gudang penuh debu. Mencari beberapa informasi. Ada tumpukan mayat dimasukkan ke sini. Sebagian belum ketahuan. Ngeri sekali mereka dibungkus plastik hitam. Ada Gita, Nayla, Jihan, Cinta. Semua cewek cantik di Sma Galaxy School.“Gue gak boleh ketahuan dan gak akan gue biarin UN1Ty kompak seperti dulu.” Malam hari bayangan datang ke kamar dorm member.Di sana ada Shandy yang tengah main PlayStation. Permainan mobile-lagend di sukai oleh Shandy. Suara mendesis menganggu pendengaran dari Shandy. Melangkah keluar melihat taman belakang rumah kosong.“Gak ada siapa-siapa palingan kucing.” Seketika sesuatu mencekik leher Shandy. Shandy dibawa ke alam berbeda. Tampak di mana ada cowok dengan motornya baru saja tiba ketika kelas kosong. Menemui gadis bernama Gita yang belajar malam akibat les. “Gue gak akan tanggung jawab, gue gak cinta sama lo.” “Tapi kalo nyokap tahu gue hamil gimana?” ucap Gita ketakutan setengah mati. “Gugurin aja simple kan, gak usah ada nikah, gue masih pengen bebas.” Shandy tahu siapa dia? Keluar dari dalam alam mimpi matanya perlahan terbuka.Masuk ke kamar lagi. Fiki terbangun ke toilet menemukan play-station menyala. Segera mematikan. “Kenapa dimatiin?” “Dari mana aja boros nih main playstion terus ditinggalin gitu aja.” ujar Fiki mendengus sebal, sembari mengucek kedua kantung mata. Kesal Shandy memilih tidur.Keesokan paginya lekas ditemui cowok itu. Menghajar hingga babak belur. Semua anak memperhatikan perkelahian seru. Mereka digiring masuk BK. Di sana perdebatan kembali terjadi. Guru bertanya heran mengapa keduanya bisa bersitegang. Dan membuat tontonan bagi anak cewek. “Saya begini karena dia yang udah bunuh Gita!” “Mana buktinya?” “Lo malam-malam kesini gue lupa kapan? Terus lo nemuin Gita gak mau tanggung jawab.” ucap Shandy berkata tegas. Pak Fadhil kaget menatap tajam wajah Martino. “Benar itu apa yang di bilang sama Tino?” ujar Pak Fadhil. “Gak benar,” “Mana mau ngaku dia aja pandai berkila? Dasar pembunuh.” Mereka berjalan mengecek cctv mencari letak bukti. Sampai akhirnya Tino berhasil di tangkap. Ricky dibebaskan.Nyanyian kebebasan menggema semua murid cewek termaksuk youn1ty fanbase mereka memberikan sambutan baik. Ricky sudah bersih dari segala masalah.Malam itu dinner di salah restoran. Divya memakai dress berwarna pink. Cantik. Sesuai sama dirinya yang feminin. Ricky mengajaknya berdansa dan juga menyanyikan sebuah lagu. Suara Ricky begitu merdu. “Makasih selalu ada disaat-saat tersulit aku.”Gilang yang jarang muncul kehadiran berkerja part-time sebagai pelayan restoran membawakan menu steak daging kesukaan Divya.“Aku ada karena aku tulus mencintai kamu, tanpa embel-embel apa pun.” ujar Divya memeluk erat.Tapi di sebuah pohon beringin dekat kafe sesosok kuntilanak hadir. Tertawa, rambut panjang lebat, hitam. Bukan tersenyum pada kemesraan keduanya tapi berkata, “kamu akan diganggu oleh makhluk astral persiapkan diri, jika kamu harus melewati ini semua hi… hi… hi…” Mencium aroma tidak sedap para pegawai berniat mengantar makanan orderan berlari merasa merinding.Pulang dari sana ada perasaan gelisah melingkup di wajan Ricky. Badannya jadi aneh. Di kaca spion sosok berwajah pucat berseragam Sma lewat. Kenapa ia bisa melihatnya setelah mengantar Divya pulang? Berpikir positif.Semakin hari semua makhluk bisa Ricky temui. Pacarnya juga aneh pada perubahan sikap emosional member UN1Ty satu itu.“Kita break aja ya, aku mau fokus ujian sekolah.”“Apa karena aku gak romantis lagi?” “Bukan lebih tepatnya aku mau lulus demi mama.” “Oh, ya udah bye.” Divya menitikkan sebongkah cairan basah di pipi.Setiap kali belajar malam Ricky terganggu oleh suara panggilan meminta bantuan. Kadang terpaksa harus menolong. Galaxy School di kenal angker menyisahkan banyak penampakan entah mantan ibu kantin di tahun 90 mati. Berbagai kejadian janggal terus menghantui.Ricky bosan sekali menelepon Kakek. Ternyata benar jika dirinya sudah diwarisi ilmu turun temurun melihat hantu. Bahkan Ricky benci.“GUE HARUS LEPAS DARI INI SEMUA ARG!” Ricky membuang batu mengenai kepala seorang wanita bermuka gosong dan bola mata merah keluar. Belum lagi darah di sekujur baju. “Kamu gak akan bisa lepas, asal kamu putuskan pacarmu aku suka sama kamu.” Tidak Ricky cuma mencintai Divya hati sulit di bagi ke orang lain, apalagi hantu. Mendadak hantu tersebut lenyap dari pandangan.Sebulan kemudian kehidupan semakin tidak terkendali. Banyak hari dilalui penuh warna cerita indah. Namun sisi gelap terus menerus masuk ke hidupnya.Ricky bertemu orang bisa membantunya melepaskan semua ilmu tentang kebatinan. Demi cinta ia ingin hidup normal seperti yang lain tanpa merasa beban, diikuti, diburu, dimintai tolong. Kini Ricky lulus dan berkuliah di kampus Gunadarma.Selesai

Lake of Black Water
Horror
25 Nov 2025

Lake of Black Water

Pandanganku buram, tak sangup bernafas, tubuhku seolah melayang di luar angkasa, perlahan turun ke dasar. Di sana, kulihat seorang gadis yang mirip denganku, wajahnya pucat pasi sedang tersenyum sembari mencoba menggapaiku dengan tangan putihnya untuk menariku ke ke dasar.Seharusnya tak terjadi seperti ini, kenapa selalu ada halangan ketika ingin menepati janji kami untuk selalu bersama? saat dia berhasil menyentuhku seolah ada pewarna dengan kadar yang cukup banyak, merambat seperti akar menghitamkan air hingga semuanya gelap.Beberapa jam yang lalu…Aku terkadang gemetar ketika bersentuhan dengan air, apalagi saat melihat pantulan diriku dari air yang menggenang, bukan karena aku tak sanggup berenang, mungkin karena sesuatu dimasa lalu, kenangan yang samar seolah terhalang kabut tebal.Orangtua angkatku mengatakan aku hampir tenggelam di kolam saat masih kecil dulu, mereka jadi overprotective setiap aku ingin berenang. Entahlah, aku bahkan tidak bisa mengingat masa kecilku dulu, siapa aku sebenarnya dan bagaimana diriku dulu. Anehnya aku akan merasakan kecemasan berlebih ketika kata ‘tenggelam’ itu diucapkan.Sebenarnya apa hubunganku dengan air hitam? Ada seorang gadis selalu berniat mencelakaiku, ketika kulihat pantulan diriku di kolam, wajah bayanganku berubah pucat secara perlahan lalu sebuah tangan putih tiba-tiba muncul dari dalam kolam mearikku untuk menggelamkan diriku, aku bisa saja mati jika Kakakku tak sempat menyelematkanku.Bukan hanya itu saja, ketika aku mandi di bathtub airnya berubah hitam lalu tangan itu muncul lagi menarikku kembali ke dalam membawa diriku seolah berada di lautan luas, sebelum leherku dicengkram dan airnya menghitam semakin pekat. Setelah kejadian itu, aku biasanya akan terbangun dengan keadaan pucat seperti mayat.Seorang gadis dan semua ilusi itu terus menghantuiku sampai aku sendiri tak ingat kapan ini dimulai, sejak aku diadopsi bertahun-tahun yang lalu aku sudah mengalaminya.“Kak Ferry, sebenarnya apa yang pernah terjadi padaku sebelumnya?” tanyaku saat duduk di sampingnya ketika kami berada di halaman belakang rumah.“Andriana, kakak tidak tahu menahu selain kamu berasal dari panti,” jawabnya, masih sibuk dengan tanah yang dia gunakan untuk bercocok tanam.“Aku sungguh bersyukur memiliki keluarga ini, aku tak ingat apa-apa, maaf jika aku sering menyusahkan selama ini,” ujarku berjongkok di sampingnya, menatap kakakku yang masih tersenyum.“Ayolah, kamu sudah aku anggap sebagai adikku yang manis, kita pernah meraih berbagai prestasi bersama, ingat kita menang turmamen sebagai absolute duo? Kita ini saudara yang kompak, bukan?” ujarnya sembari melepas sarung tangan itu lalu menyentuh pucuk kepalaku.“Kenapa, keluarga ini memilihku?” ujarku menurunkan pandangan sampai keningku tiba-tiba disentil Kakak, “Aw! Sakit kakak!” ringisku sembari menggosok kening yang panas karena sentilannya.“Dulu saat kami memberikan bantuan ke panti aku lihat kamu begitu kesepian,” ujarnya menatapku yang masih manyun, “disaat yang lain sibuk bersalaman kamu malah diam termenung di bangku taman, kamu ingat aku menyapamu dan mengajakmu bermain catur, disaat itu aku selalu memperhatikanmu, cara bicaramu, gerak-gerikmu, seyummu, sikapmu sama seperti adik perempuanku yang meninggal dulu, satu lagi kamu itu imut,” lanjutnya lalu menekan hidungku seperti tombol.“Ma-makasih,” bisikku yang mencoba menyembunyikan wajahku yang memerah karenanya.Iya aku ingat dulu saat masih di panti, aku diusia 6 tahun selalu menyendiri, aku merasa seperti kehilangan sesuatu yang sangat berarti bagi hidupku, masalah aku kehilangan apa? Kenapa hatiku begitu sedih ketika mencoba untuk mengingatnya? Bahkan aku akan merasa kecewa jika gagal mengingatnya.Saat pertama kali kakak datang menyapa saat itulah dia seolah mengembalikan ‘sesuatu’ yang telah hilang dalam hati ini, ketika kami bermain catur saat itu dia memang sedang memperhatikanku, tapi saat itu aku tak peduli denganya.Kakak senang sekali saat itu, saat aku mengalahkannya, dia langsung meminta ayah dan ibunya untuk mengadopsiku, sejak saat itu aku hidup sebagaimana anak mereka, rasa kehilanganku perlahan memudar dengan kehadiran kakak, namun entah kenapa masih ada sesuatu yang mengganjal di hati hingga saat ini diusiaku yang ke17 tahun.“Jangan sungkan, aku kakakmu sekarang, sebagai kakak laki-laki aku akan menjagamu, kami semua menyayangimu itu yang pasti,” dia kembali tesenyum padaku, aku memeluknya tersentuh oleh kebaikannya.Mereka memang orang baik, aku tak pernah sekalipun menceritakan apa yang terjadi padaku, dengan semua gangguan tak masuk akal ini, aku tidak mau membebani mereka dengan ini. Meski begitu aku tak tenang jika terus menerus seperti ini, aku harus mencari tau penyebab kenapa gadis di air hitam itu terus muncul.kuputuskan untuk mencari tau sendiri, menelusuri tempat dimana awal aku mengingat, untuk itu aku sengaja mengunjungi sebuah panti tempat tinggalku dulu. Aku bertemu dengan orang-orang di sana, sayangnya Ibu panti dan orang-orang di sana pelit infomasi, mereka menutup mulut dan berpura-pura tak tau tentang diriku di masa lalu.Tak mau menyerah, setelah bertanya kesana-kesimi akhirnya aku mendapat infomasi dari temanku dulu, dia pernah mendengar Ibu panti membicarakan alamat rumahku dulu, untungnya dia mengingatnya sehingga aku segera ke alamat yang dituju. Aku tiba di sebuah rumah yang nampak tak asing, tempat ini sudah diisi sebuah keluarga, meski mereka tak menerima tamu hari ini setidaknya aku diizinkan untuk melihat-lihat sekitar untuk sesaat.Kepalaku mendengung ketika berada di tempat tertentu, ketika berada di taman aku ingat ada seorang gadis yang menggengam erat tanganku, kami berlarian kesana-kemari tertawa menikmati hari yang indah bersama.Ketika di gudang kepalaku kembali berdengung, dulunya ini adalah kamar tempat kami mengikrarkan janji untuk selalu bersama.—“Aku sayang Kak Adriana, kita akan selalu bersama kan?” ujar adikku menatap polos sembari memeluk bonekanya.“Tentu saja, meski Ibu dan ayah akan berpisah tak akan ada yang dapat memisahkan kita,” ujarku sembari saling mengaitkan jari kelingking dengannya—Terakhir ketika aku mencapai bagasi kepalaku mendengun lebih sakit dari sebelumnya, terasa sakit sampai ke hati. Dalam pandanganku, sebuah mobil sedan yang bersih di sini berubah menjadi mobil hancur sehabis kecelakaan.Yah aku ingat semua, orangtuaku meninggal karena kecelakaan di dekat sebuah danau dan jasadnya tidak pernah ditemukan, aku menduga mereka kecelakaan karena bertengkar di dalam mobil. Dulu hubungan mereka memang tidak baik tapi aku dan adik perempuanku masih menyayangi mereka, tak jarang kami berusaha membuat mereka akur namun hasilnya percuma.Aku bergegas menuju tempat kejadian untuk mendapat kepingan ingatan yang terakhir, mencari kembali sesuatu yang hilang dan sempat kulupakan. Di sini kecelakaan terjadi, suasananya tak berubah, masih tertutup rapat oleh kesedinghan dari masa laluku yang kelam.Tak jauh dari sini setelah melewati hutan ada Danau hitam, hanya namanya saja yang hitam namun sebenarnya airnya jernih, hitam di sini berarti menyembunyikan, seperti artinya konon katanya banyak rahasia yang tersembunyi di danau ini.Salah satunya terdapat sebuah mitos, jika ada orang yang menghilang di sekitar danau dan hutan, maka danau itu akan menyembunyikan mereka, kita harus memohon di depan danau untuk dapat bertemu dengan orang yang kita sayang, ini tidak hanya berlaku untuk orang hilang tapi juga berlaku untuk orang yang telah meninggal.Sialnya karena kepolosan kami dulu, aku dan saudara kembarku percaya begitu saja, malapetaka pun muncul,—Hari itu langit jingga berawan, angin berembus cukup kencang saat kami menembus hutan demi mencapai Danau hitam.“Ayo adek, kita harus menemukan ayah dan ibu sebelum gelap!” ujarku menarik lengannya tergesa-gesa“Kakak yakin? Ke sini jalannya?” tanya adikku nampak terengah-engah.“Itu dia ayo!” tunjukku girang saat berhasil menemukannya, Danau Hitam.“Tunggu kakak!”Kami berlarian di atas jalan yang cukup licin dan terjal, aku yang tak memperhatikan langkah membuat kakiku sendiri menginjak batu dan terpeleset.“Kakak!”Saudaraku berhasil menggapai lenganku namun dia kehilangan kesemimbangannya malah ikut terbawa jatuh, aku tak ingat lagi selain saudaraku yang melindungiku hingga lukaku tak terlalu parah saat aku mulai tak sadarkan diri.—Air mataku jatuh ketika kulihat kini kembaranku sedang melayang di atas air lenganya mencoba menggapaiku seperti menagih janji kami untuk selalu bersama, dengan terisak aku memasuki danau mencoba menggapai lengan putih pucatnya.“Maafkan aku Indriana, maafkan kesalahan kakak!” tangisku, “dulu aku masih bodoh, polos dan egois, aku tidak tau sebenarnya apa yang aku lakukan dulu, aku menyesal membawamu ke sini, aku harap akulah yang mati saat itu,” lanjutku sembari terus melangkah menebas air untuk meraihnya.Sebelum aku dapat menyentuhnya diriku ditarik sesuatu ke dalam bagian danau yang dalam, dan di sinilah tempat di awal cerita, aku pasrah dengan keadaanku, demi menepati janji kami untuk selalu bersama, aku rela tetap di sini bersamanya.Aku memandang lekat dirinya, wajah pucat pasinya mirip seperti diriku, meski agar buram oleh air tapi aku masih mengenali kecantikannya saat saudaraku tersenyum, aku memeluknya di dalam air yang telah menghitam, menangis, melepas kerinduan dan penyesaalan karena kesalahanku dia meninggal, maafkan aku…“Dengarkan suara hatiku kakak, aku hanya rindu denganmu, jangan menyalahkan dirimu sendiri, aku bahagia jika kakak baik-baik saja, jaga dirimu baik-baik, ini ucapan selamat tinggal dariku,” batinnya jelas terdengar olehku meski sedang berada di dalam air seperti telepati.Setelah mendengar itu darinya, kerah bajuku tiba-tiba ditarik seseorang membawaku ke darat dengan cepat, dia adalah kak Ferry yang ternyata mengikutiku sendari tadi.“Apa kamu sudah gila? Kenapa kamu berniat mengakhiri hidupmu,” teriaknya, “i-itu kenapa ada padamu?” tanya kakaku agak gemetar.Dia terkejut saat aku masih memeluk saudara kembarku yang telah menjadi tulang belulang.“Aku mengingat semuanya kak, ini adalah adikku yang selama ini merindukanku, ingatanku memang hilang tapi perasaan kehilanganku tak pernah hilanh,” tangisku, lalu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.“Sudah ya masih ada kakak yang selalu di sisimu,” dia mendekapku, “kita akan menguburkannya dengan layak, nanti kamu bisa berjiarah untuk ketenangan adikmu,”Aku mengangguk di bahunya“Maaf saudaraku, aku tak bisa memenuhi janji kita untuk selalu bersama, setidaknya aku akan memakamkanmu dengan layak dan menghapus rahasiamu dari air hitam ini”Tamat

Tidak Tenang
Horror
25 Nov 2025

Tidak Tenang

Pukul 02.00 dini hari, tepatnya hari Selasa, suasana di kampung itu masih sangat gelap, dingin sekali, bahkan warga yang ada di luar rumah hanyalah tiga warga yang bertugas jaga pos kamling. Suasana di pos jaga itu tidak seperti biasanya, kalau biasanya pos jaga itu ramai, sekarang hanya ada tiga orang yang jaga.“Malam-malam gini enaknya nonton bola, betul gak,” kata Pakde salah satu warga kepada dua warga lain yang bertugas malam itu. Dua warga itu saling melihat dan Dika berkata, “Memangnya mau nonton bola apa, kan hari ini gak ada jadwal bola, tidur ajalah aku, Romli kamu malam ini keliling sendiri aja ya, aku ngantuk berat!” Romli pun segera mengangkat kaki dari pos jaga itu dan pergi sendiri untuk berkeliling malam terakhir sebelum subuh menyapa. “Siapa juga yang mau maling di sini, kalaupun ada yang mau maling disini pasti maling itu gila, soalnya kampung ini dekat dengan kantor polisi, hahaha,” Romli berbicara sendiri sambil berjalan menjauh dari pos.Sudah sepuluh menit berjalan Romli pun menjauh dari pos jaga dan berada di area kampung yang gelap karena lampu yang menerangi area itu sedang mati dan belum diganti. Romli pun menyalakan senter sambil berkata, “Capek juga jalan-jalan terus, duduk dulu ah disini, tapi tempat ini gelap banget, ahh sambil nyetel lagu dangdut aja biar suasananya gak terlalu serem.” Romli pun duduk di area yang gelap itu sambil menyenter area sekitar. Tiba-tiba saat Romli menyenter area sekitar ada suatu hal yang aneh dan Romli berkata dengan nada pelan sambil merinding, “Kenapa ada warga yang keluar rumah pagi-pagi gini, bukannya warga yang berjualan sayur ada di di kawasan yang masih jauh dari sini?” “Tunggu kok dia bisa melayang di atas tanah, itu bukan karpet kan, eh itu itu ahhhhhh,” Romli pun teriak dan lari meninggalkan area itu dan menuju rumahnya.Pagi tiba dan aktivitas di kampung sudah berjalan seperti pagi-pagi pada umumnya. Pagi ini dimulai dengan Pakde yang menuju ke rumah Romli lalu memanggil Romli dan berkat “Romli kamu sudah gila ya, bisa-bisanya kamu pulang saat keliling malam, di area rumahnya Pak Hardi ada warga yang pingsan tepat jam tiga pagi tadi dan baru ketolong jam lima pagi, kamu kan keliling malam di sekitar area sana kan!” Lalu Romli yang wajahnya masih ketakutan karena melihat sesuatu yang membuatnya kabur pun masih plongo melihat wajah Pakde.Lalu Romli berkata kepada Pakde, “Pakde saya kemarin sudah berjalan di area sana tapi saya memang kabur, soalnya saya melihat hantu Pakde.” Mengatakan itu kepada pakde dengan wajah takut, tapi Pakde terlihat sangat tidak peduli, tapi memang maklum karena Pakde jiwanya berani, bahkan setiap jaga malam Pakde selalu mendampingi karena sifatnya yang berani dan tidak mudah takut. Pakde lalu berkata kepada Romli, “Hantu-hantu harusnya jam segitu sudah dekat dengan subuh, mana ada hantu, udah sekarang kamu ganti baju mandi, lalu kita pergi ke rumah warga yang pingsan itu!”Setelah Romli mandi dan ganti baju, Ia dan Pakde segera menuju ke rumah warga yang pingsan dan warga itu masih syok. Warga itu bernama David, Pakde lalu melihat David sebentar dan bertanya, “David kamu sudah minum?” “Sudah Pakde,” Jawab David. Lalu Pakde melanjutkan lagi pertanyaannya, “Apa yang membuatmu keluar pagi-pagi dan pingsan?” Jawab David, “Kemarin malam saya bekerja shift malam dan harus lembur malam, saya selesai jam dua pagi dan baru pulang dari kantor jan setengah tiga pagi, pas saya sudah tiba didepan rumah Pak Hardi, saya lihat ada putih-putih terbang dan menabrak saya, saya melihat wajahnya Pakde, dan itu yang membuat saya pingsan!” Lalu tanya Pakde, “Bagaimana wajanya David?” Jawab David, “Wajahnya seram, ada luka di wajahnya, tapi saya tidak tau jelas apa luka itu.” Setelah mendengar jawaban dari David Pakde lalu menemui Pak Hardi dan menyuruh Romli untuk menemui warga yang pertama kali menemukan David pingsan.Pakde lalu bertemu Pak Hardi di teras rumah Pak Hardi lalu mengajukan pertanyaan kepada Pak Hardi, “Pak sebelumnya kan di rumah Bapak ada kamera CCTV yang mengarah ke jalan, coba mungkin dilihat Pak penyebabnya apa mengapa sampai David pingsan!” Lalu Pak Hardi menjawab, “Saya juga tadi awalnya mau melihat Pakde, tapi saat saya membuka rekamannya, kamera itu hanya merekam sampai jam tiga pagi kurang lima menit dimana saat itu David masih berjalan dan belum pingsan, tapi setelah itu kameranya mati sampai sekarang dan baru saja dibawa anak saya ke tempat service.” Setelah mengatakan itu Pak Hardi pamit ke Pakde untuk pergi ke kantor karena hari itu posisinya hari selasa yang masih menjadi hari produktif.Romli datang ke Pakde dan mengatakan bahwa, “Warga yang pertama kali menemukan bu Sri dan katanya Bu Sri juga melihat ada orang pakai baju putih tapi jalannya cepet banget Pakde, Bu Sri juga bilang pada saat lihat David pingsan di jalan wajah David itu lebam.” Setelah mendengar itu Pakde lalu pergi menuju ke rumah Pak RT dan menyuruh Romli untuk menyari informasi ke warga sekitar yang tadi shalat subuh dan warga yang keluar rumah sekitar jam setengah empat.Sesampainya di rumah Pak RT, Pakde pun berbincang-bincang singkat dengan Pak RT, “Pak, soal kejaidan David pingsan di jalan jam tiga pagi masih belum menemukan jalan terang, David bilang bahwa Ia ditabrak sosok bewarna putih, lalu Ibu yang melihat David pertama kali juga mengatakan hal serupa bahwa Ibu itu melihat sosok putih.” Lalu Pak RT menjawab, “Saya juga sudah bertanya kepada dua warga yang memasang kamera disekitar kawasan itu, kamera Pak Hardi mati saat terlihat David masih berjalan, sedangkan kamera yang satu ternyata pada saat kejadian juga mati, jadi tidak ada rekaman jelas soal kejadian ini.”Setelah Pak Rt dan Pakde mencoba mencari jalan keluar Romli datang dan berkata, “Pakde semua orang yang keluar disekitar jam setengah empat pagi hanya ada lima warga dan mereka semua melihat sosok bewarna putih berjalan cepat serta bau melati di sekitar area pemakaman.” Area pemakaman kampung memang dekat dengan gang kedua jalan masuk ke area kampung selain itu saat pukul sepuluh malam sampai pukul lima pagi memang jalan untuk mengkases kampung hanyalah gang dua. Setelah mendengar perkataan Romli Pak RT mengumpulkan semua petugas kemanan kampung dan orang muda kampung.Rapat dimulai sekitar jam dua siang dan pada saat rapat dimulai salah satu petugas kemanan kampung berkata, “Soal sosok putih sudah banyak warga melihatnya, bahkan dari kemarin awal bulan, semua warga yang keluar di jam setengah empat pagi selalu melihatnya.”Lalu dipertengahan rapat anak Pak Hardi datang dan berkata, “Pak RT rekaman semalam sudah pulih dan dapat dilihat tapi gambarnya agak buram di kisaran jam setengah tiga pagi sampai setengah empat pagi.” Lalu Pak RT melihat rekaman itu bersama Pakde, sosok yang menabrak David tidak terlihat jelas tapi sosok itu bewarna putih. Pakde lalu melihat Romli dan bertanya kepada Romli, “Apa saja yang kau lihat sesaat sebelum kau kabur karena takut Romli?” Lalu Romli menjawab, “Sosok putih, wajahnya ada luka Pakde.”Pakde lalu seperti ingat sesuatu dan berkata kepada semua petugas kemanan kampung, “Bukankah pernah ada laporan sebanyak sepuluh warga melihat sosok putih?” Petugas keamanan kampung saling melihat sambil mengingat-ingat, untungnya ada salah satu petugas keamanan yang membawa buku yang berisi laporan-laporan warga. “Betul Pakde ada setidaknya sepuluh laporan bulan kemarin dan hari ini terdapat sebanyak dua puluh kali laporan mengatakan bahwa melihat sosok itu disekitar jam setengah empat,” kata salah satu petugas keamanan kampungTiga puluh menit rapat belangsung ada empat warga datang ke rumah Pak RT dan berkata bahwa, “Pak RT petugas penjaga pemakaman kampung ternyata tidak sadarkan diri!” Semuanya kaget dan Pakde bertanya ke empat warga itu, “Sudah kalian bawa ke rumah sakit?” Empat warga itu terdiam sejenak dan menjawab, “Sudah Pakde tapi sepertinya Penjaga pemakaman itu sudah tidak sadarkan diri dari berjam-jam lalu, karena memang tadi pagi area pemakaman tidak ada yang membersihkan dan penjaga itu ditemukan di area belakang pemakaman dengan dahan pohon diatas badannya.”Semua orang yang mendengar itu terkejut lalu Pak RT memerintahkan penjaga kompleks kampung untuk tetap berada disini sedangkan lima pemuda kampung dan Pakde ikut Pak RT ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit Pak RT menemui keluarga dari penjaga pemakaman yang sudah ada di rumah sakit, pemuda kampung itu lalu disuruh Pak RT untuk membantu mengurus data-data yang diperlukan rumah sakit.“Bapak sudah sadar,” Tanya Pak RT kepada keluarga. Lalu anak dari penjaga pemakaman menjawab, “Belum sadar, tapi kata dokter kondisinya baik-baik saja, tapi ditemukan lebam di wajah.” Lalu Pakde berbicara kepada Pak RT, “Bu Sri yang menemukan David pertama kali juga bilang kepada Romli bahwa kepala David terdapat lebam.” Pak RT yang mendengar itu masih kebingungan dan tidak lama kemudian dokter memanggil keluarga dan mengatakan bahwa sudah sadar.Penjaga pemakaman yang masih belum kuat itu lalu mengumpulkan kekuatannya dan berkata, “Sosok putih itu sepertinya adalah sosok yang tidak tenang, tadi pagi itu saat sosok itu menabrak saya dan David, sosok itu ternyata menunjukan detik terakhirnya.”Untungnya penjaga pemakaman itu juga memiliki kemampuan khusus sehingga Ia sudah tau apa yang dilakukan sosok itu. Sosok itu memang masih belum bisa dimengerti oleh Pak RT dan Pakde. Penjaga pemakaman itu lalu berkata, “Tubuh dari sosok itu adalah korban tabrak lari yang disengaja dan sosok itu tidak dimakamkan dengan benar dan baik, sehingga sosok itu selalu mempraktekan bagaimana detik-detik terakhirnya setiap hari Selasa dimana itu juga hari sosok itu meninggal dan jam tiga sampai setengah empat adalah jam dimana sosok itu ditabrak, sosok itu ditabrak di sekitar lahan kosong yang dimana digunakan sebagai ladang pohon pisang.”Pulang dari Rumah sakit Pakde dan Pak RT pun mengintruksikan untuk mencari tubuh dari Sosok itu di sekiar lahan pohon pisang pada keesokan harinya. Keesokan harinya para Pemuda kampung dan petugas yang biasanya membantu penjaga pemakaman juga ikut membantu mencari. Kira-kira satu jam menggali ditemukan Tubuh dari sosok itu, polisi yang ada disekitar kampung itu datang dan mengambilnya lalu dilakukan otopsi, segera setelah itu Tubuh itu dimakamkan dengan baik dan penyelidikan dilakukan. Butuh waktu sekitar tiga bulan barulah polisi menemukan siapa pelaku dibalik semuanya ini, pelaku itu dihukum lima tahun penjara, dan sosok itu tidak pernah menggangu kampung itu lagi.

Namamu Adalah Kematianmu
Horror
25 Nov 2025

Namamu Adalah Kematianmu

Banyak orang bilang masa SMA adalah masa paling menyenangkan, tapi bagiku masa SMA adalah masa paling menyakitkan, menyedihkan, menyeramkan hanya itu yang terbayang di pikirku tentang masa SMA. Bahkan aku tidak ingin mengingat kembali masa masa itu.Panggil saja aku Rian, aku murid kelas 2 SMA, aku bersekolah di SMAN 123 Bandung. Ketika itu Pak Farhan masuk bersama dengan seseorang yang tampak asing.“Selamat pagi anak-anak” Sapa pak Farhan kepada semua murid “Pagi Pak” Teriakan seisi kelas menjawab salam dari pak Farhan “Hari ini kalian dapat teman baru, dia adalah pendatang di kota kita.. Namanya Rafli, hari ini adalah hari yang penting karena Rafli pertama kali masuk sekolah umum, sebelumnya dia Homeschooling dan hanya ikut ujian penyertaan saja.. Saya harap kalian akur dengannya ya, jadilah teman yang baik dan ajak Rafli berbaur, paham?” Ujar pak Farhan sambil memperkenalkan murid baru tersebut “Paham pak~!” Jawab murid paham atas penjelasan pak Farhan “Ayo jangan malu dan sapa teman teman barumu Rafli” Ucap pak Farhan kepada Rafli “Salam, namaku Rafli.. ” Setelah itu sekolah berjalan seperti biasanya sampai bel pulang berbunyiSepulang sekolah rencananya aku akan menyatakan cintaku kepada Lala teman masa kecilku, namun ternyata aku terlambat menyadari… Bencana yang akan mendatangi kami…“Lala, pulang sekolah nanti kau ada acara nggak?” Ucapku sambil berjalan menuju Lala “Hmm.. Pulang sekolah aku mau ke karaoke sama Indah, memangnya kenapa Rian?” Jawab Lala “Ada yang mau aku bicarakan denganmu sepulang sekolah nanti, di belakang gedung sekolah” Ujarku “Hmm.. Oke nanti aku akan kesana” Ujar LalaAku menunggu Lala di belakang gedung sekolah sesuai janji, tak lama Lala pun datang “Jadi apa yang mau Rian bicarain?” Tanya Lala “Um.. La, sebenernya aku..- ” Aku pun mulai mengungkapkan perasaanku kepada Lala namun “Eh tunggu-tunggu, suasana kayak gini… Jangan jangan kamu mau nembak aku ya Rian..?” Lala tiba tiba memotong ucapanku dan menebak maksud aku mengajaknya ke sini “…” Aku terdiam karena Lala menebak dengan tepat“Ahaha… Kamu gak beneran mau nembak aku kan? Kok diem aja.. Eh.. Jangan-jangan kamu beneran mau nembak aku? Aduuh~ maaf ya Rian aku gak maksud…” Ujar Lala ketika mulai menyadari situasi yang menjadi canggung“TOLOOONG!!” Terdengar suara teriakan dari atas gedung sekolah Seketika aku dan Lala menoleh ke atas, disana terlihat sosok Indah yang mati tergantung di atap gedung sekolah. Seketika Lala pingsan karena syok, saat itu juga aku melihat satu sosok lagi yang agak asing bagiku, dia memasang wajah tersenyum dan seketika itu aku pun pingsan karena syok.Aku terbangun di sebuah kamar, dikelilingi oleh Agung, pak Farhan, polisi, dan beberapa suster. Setelah aku merasa lebih baik, polisipun mulai menanyakan kronologi atas kematian temanku yang bernama Indah, lalu aku menjelaskan semua yang kutahu. Polisipun menanyakan hal yang sama kepada Lala yang sudah siuman sejak tadi, namun kesaksianku dan Lala masih kurang untuk polisi bisa menindaklanjuti peristiwa ini.Keesokan harinya Polisi mulai melihat CCTV yang terpasang di atap gedung sekolah, sesuai dengan kesaksianku disitu terlihat ada satu sosok lagi yang menghampiri Indah untuk membantu Indah.Pada hari itu Lala tidak masuk sekolah karena masih syok, sepulang sekolah aku, pak Farhan, Agung, dan Rafli, mampir ke rumah Lala sekalian menanyakan keadaannyaKetika kami sampai di rumah Lala, Lala keluar dan mempersilakan kami masuk ke rumahnya, Lala tampak ceria seperti biasanya. Tiba tiba Rafli minta izin untuk menggunakan toilet di rumah Lala, Lala ikut pergi ke dapur untuk menyajikan makanan untuk kami, tapi tiba tiba

Pesanan
Horror
25 Nov 2025

Pesanan

Sekarang pukul 1 malam. Aku terbangun dan tidak bisa tidur kembali. Suara ketukan dari arah jendela sedari tadi terdengar seram. Disusul desiran angin malam yang berhembus, membuat bulu kudukku berdiri. Ini sudah yang ke sekian kalinya kami dihantui begini. Tak henti-hentinya mulutku melantunkan ayat kursi. Aku harap, Mama cepat pulang.Perkenalkan, namaku Ulfah. Aku tinggal di perumahan Melati bagian Timur. Perumahan yang aku tinggali terbilang sudah lama sekali. Banyak kejadian janggal yang menimpa keluargaku. Mulai dari suara-suara aneh, hawa tidak enak, sampai penampakannya sendiri, kami sudah melihatnya berulang kali. Berjalan bolak-balik di dalam rumah sendiri saja rasanya terkadang masih takut.. Konon katanya, rumahku itu dulu banyak mengalami kasus mengerikan.Hingga suatu hari, aku meminta Mama untuk segera pindah rumah karena sudah tidak tahan lagi dengan berbagai gangguan mereka. Mama pun setuju. Kami pindah keesokan harinya sekitar 2 km lebih jauh dari rumah lama.“Rumah lama itu kita kontrakan saja ya, ” Ujar Mama. Aku hanya menjawab ‘hem’, tidak peduli. Kini urusan rumah lama itu biar Mama saja, yang penting kami sudah pindah dari rumah berhantu itu.Sebulan kemudian, rumah itu ada orang yang mengontrak disana. Belum sampai 3 bulan, Orang itu buru-buru ingin pindah kontrakan. Katanya sih, ia ingin mencari kontrakan yang lebih dekat dengan kantor kerjanya. Tapi gaya bicaranya tergagap-gagap seolah ketakutan karena sesuatu. Apa itu karena ia juga diganggu? Kami tidak bertanya lebih lanjut kepadanya.Rumah lama kamipun akhirnya hanya menjadi sebuah rumah kosong terbengkalai. Kukira dengan kami pindah rumah adalah cara yang aman, namun ternyata hal aneh masih menimpa kami.Pada suatu malam, sekitar pukul setengah 11, Aku bersiap untuk tidur karena badanku sudah sangat pegal setelah seharian mengikuti acara sekolah. Tiba-tiba ada yang meneleponku. Seorang bapak-bapak driver makanan.“Halo, selamat malam. Ini atas nama Ulfah?” “Iya pak benar. Ini siapa ya?” “Lho kok siapa, Mbak Ulfah memesan makanan kan? Rumahnya kok kosong gini mbak. Mbaknya mau ngerjain saya?” Driver itu kebingungan, begitupun aku yang matanya sudah tinggal 5 watt. “Saya gak mesen apa apa kok pak!” Jawabku. Bapak driver itu malah marah-marah, lalu memberikan lokasi rumah yang dimaksud. Mataku yang awalnya sayu mendadak terbelalak menatap layar handphone. Lokasi yang dituju adalah rumah lamaku. Kenapa bisa menyambung kesini?Akhirnya, demi membantu si bapak driver, akupun memberikan lokasi rumahku yang sekarang. Saat datang, ternyata itu sudah dibayar dan isinya sebungkus nasi padang. Mama yang melihat kejadian itu, tertawa. “Makanya kalau ngantuk berat jangan main hp. Kepencet kan tuh jadinya,” Ledek Mama. Aku mengerutkan alis. Betul juga. Mungkin karena tidak sengaja terpencet.Aku tidak tahu harus senang, bingung atau takut. Namun itu terjadi berulang-ulang kali dan selalu bertujuan pada rumah lamaku itu. Berbagai tukang antar meneleponku. Aku kaget, tidak memesan apapun, tukang antar marah-marah, lantas aku memberikan lokasi sekarang. Begitu terus kejadiannya selama 3 bulan pindah rumah. Aku semakin yakin itu bukan karena terpencet. Melainkan memang ada seseorang yang iseng atau malah ‘hantu’? Aku tidak tahu sampai kini. Hingga pada suatu hari, datang sebuah paket dari aplikasi yang bahkan aku tidak memilikinya. Isi paket itu kecil sekali. Ketika kami membukanya, hanyalah sepasang tali sepatu berwarna pink cerah.Kami sekeluarga tertawa. Kejadian ini sudah sering sekali, jadi kami tidak lagi merasa takut. Akhirnya kami pindah ke Malaysia karena Mama ada urusan pekerjaan. Pesanan-pesanan misterius itu pun kini sudah tidak mengikuti kami lagi.

Pocong Jembatan Kedung Kulon
Horror
25 Nov 2025

Pocong Jembatan Kedung Kulon

Langit tampak cerah, sang Dewi Malam mulai menampakan sinarnya dengan malu-malu dari ufuk barat. Sore itu Tony dan Romy berencana untuk pergi menonton sebuah grub band terkenal yang konser di daerahnya.“Yakin kita mau berduaan nih?” tanya Tony, tampak keraguan di wajahnya. “Iya, Bejo sama Warno nggak jadi ikut,” jawab Romy, suaranya jelas menunjukan kekesalan. “Udah lah, kita nonton aja, peduli apa dengan hantu Nina yang menghuni jembatan gedung kulon itu?” lanjutnya setengah memaksa. Tony berfikir sejenak, terlihat ia sangat bingung untuk menerima ajakan Romy. Bayangan hantu Nina, terus mengganggu fikirannya.Nina, merupakan seorang gadis yang meninggal belum lama ini. Ia meninggal dengan cara yang tidak wajar, jenazahnya ditemukan tanpa busana di pinggir sungai Gedung Kulon, sebuah sungai besar yang airnya mengalir deras di sebelah barat desa Gedung Kulon. Dari jenazahnya, jelas Nina meninggal karena diperkosa secara brutal. Jenazahnya ditemukan sudah membusuk dan diperkirakan sudah meninggal selama tiga atau lima hari.Setelah ditemukannya jenazah Nina, warga desa sangat gempar, karena kabarnya Nina gentayangan, arwahnya sering mengetuk-mengetuk rumah warga saat tengah malam. Selain itu, kabarnya setiap warga yang melintas di jembatan Gedung Kulon tengah malam, juga akan bertemu hantu Nina. Hantu itu menyetop setiap pengendara motor yang melintas tengah malam di jembatan itu. Sudah banyak warga yang bertemu dengan hantu Nina, bahkan ayah Tony sendiri.Hal itulah yang membuat Tony merasa ketakutan untuk pergi nonton konser dengan Romy. Ia tahu, nonton konser pasti sampai tengah malam dan Ia takut pulangnya akan bertemu hantu Nina di jembatan Gedung Kulon.“Udahlah, ayo kita berangkat, mumpung nggak hujan juga, lagian kapan lagi kita melihat artis ibukota secara langsung?” ujar Romy terus mengajak Tony.Karena Romy terus-terusan memaksa, akhirnya Tony menerima ajakannya juga. Motor melaju dengan kecepatan sedang, jalanan yang berbatu membuat Romy tak bisa melaju motornya dengan kecepatan tinggi, meskipun hatinya tak sabar untuk segera sampai di lokasi konser.Motor terus melaju ke arah barat, keluar desa dan semakin mendekati jembatan Gedung Kulon. Suasana semakin sepi, bokhlam 5 watt penerangan jalan yang sesekali mereka lewati justru membuat suasana semakin temaram, dan menambah keseraman menurut Tony.Akhirnya mereka tiba di jembatan Gedung Kulon. Tony bersukur karena tak ada apapun di sana. “Nggak ada apa-apa kan? Mana hantu Nina? Dia mah nggak berani menampakan diri di hadapan gue! Kalo berani biar gue cium!” ujar Romy tiba-tiba, disusul suara tawanya. Sontak ucapan itu membuat Tony kesal, karena Romy ngomongnya tepat di atas jembatan.Setelah hampir satu jam mengendara, akhirnya mereka tiba di lokasi konser. Romy sedikit kesal karena ternyata konser sudah dimulai. Ia dan Tony berdesakan dengan orang-orang yang memenuhi lapangan. Tiba-tiba, Wajah Tony memucat seketika ketika melihat seorang wanita di hadapannya, diantara kerumunan ratusan orang, jelas Tony melihat Nina disana. Ia berjarak tak kurang dari 2 meter di hadapan Tony, tersenyum kepada Tony, dengan wajahnya yang sangat pucat.Tony mencoba untuk menghilangkan perasaan takutnya, Ia berbaur dengan orang-orang yang berjoget menikmati musik reggae yang dibawakan artis ibu kota.Konser telah selesai, Tony dan Romy bersiap untuk pulang. Kembali rasa takut mengganggu perasaan Tony, bayangan wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Nina kembali terbayang, seolah melekat di pelupuk matanya.Dengan kecepatan tinggi Romy melaju motornya, akan tetapi saat memasuki daerah pedesaan motor sudah tidak dapat melaju cepat, karena jalanan aspalnya yang sudah rusak dan berbatu. Motor terus melaju, semakin mendekati jembatan Gedung Kulon. Refleks Tony mengusap pergelangan tangannya, saat merasakan ada tetesan air yang jatuh ke tangannya. Ia menengadahkan wajahnya ke atas, untuk melihat apakah langit mendung?. Saat Ia melihat ke atas, sekelebat Ia melihat ada benda berwarna putih yang terbang, hanya sesaat Ia melihatnya, hanya dalam hitungan detik.Pulangnya memang Tony tak banyak terlibat pembicaraan dengan Romy, selain lelah dan mengantuk, Tony juga merasakan, suasana sangat mencekam. “Hyhyhyhyhy.” Sedari tadi Tony mendengar suara itu, tapi awalnya tak terlalu jelas, sehingga Tony masih berfikir itu suara binatang malam. Tapi diantara suara deru mesin motor, Tony mencoba fokus mendengarkan, itu suara apa, dan Tony mulai yakin bahwa suara itu suara orang merintih.Tony masih belum berani menyampaikan apa yang didengarnya kepada Romy, dan Ia benar-benar tersentak kaget bahkan hampir jatuh dari motor saat tiba-tiba Romy mengerem motornya sangat mendadak.“Allah huakbar! Ada apa, Ro?” tanya Tony. Rony hanya diam, saat itu mereka hanya sekitar jarak 10 meter dari jembatan Gedung Kulon. Romy diam, tak menjawab pertanyaan Tony, akan tetapi tangannya menunjuk kedepan. Ternyata di sana, diatas jembatan, berdiri sosok pocong yang meskipun didalam kegelapan, jelas Mereka dapat melihat wajah pocong itu yang merupakan wajah Nina.“Yaa Allah Pocong, Rom!” seru Tony dengan suara gemetar. “Iya gue juga tau itu pocong, siapa bilang itu bencong?” jawab Romy dengan suara yang juga gemetar. “Kita puter balik, Rom, kita ke rumah Dewi aja, kita nginep di sana!” Romy setengah dongkol mendengar saran Tony, dalam suasana kaya gini, dia masih berfikir buat nginep di rumah cewek.Meskipun demikian, Romy memutar motornya ke arah barat, dan melajunya dengan kencang meskipun jalanan berbatu. Ia memutuskan untuk pergi ke rumah Dimas, kawan mereka di desa sebelah. Beruntung Dimas belum tidur karena dia juga baru pulang nonton konser.TAMAT

Menampilkan 24 dari 228 cerita Halaman 8 dari 10
Menampilkan 24 cerita