Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

830

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

166

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
Boneka ukiran
Horror
25 Nov 2025

Boneka ukiran

Sebetulnya ada beberapa pengalaman horor, tapi menurut saya ini yang paling membekas di ingatan. Hehehe.Jadi, kisah dimulai sekitar tahun 2003 ketika saya masih kelas 5 SD. Suatu hari, ibu saya yang baru saja pulang dari kota J dengan riang gembira mengatakan bahwa beliau membeli sepasang boneka ukiran (ibu dan ayah saya dulu sangat suka mengoleksi patung loro blonyo—boneka atau patung sepasang pengantin, tolong dikoreksi bila terjadi kesalahan penulisan atau definisi)Lain dari boneka yang biasa mereka beli, ibu saya membawa pulang sepasang boneka dari kayu berwujud kakek dan nenek, menggunakan pakaian tenun oranye sambil membawa tas. Kalau diingat-ingat lagi sekarang dari sisi seni, kedua boneka itu sangat cantik. Ukirannya detail dan pakaian kedua boneka itu dijahit rapi dari kain tenun. Pokoknya bukan kualitas abal-abal, lah! Namun, saya yang masih berusia 10–11 tahun saat itu merasa bahwa kedua boneka itu sangat menyeramkan.'Keseraman' itu bertambah ketika ibu meletakkan kedua boneka itu di lemari yang letaknya di lorong, persis menghadap ke pintu kamar saya. Setiap kali saya berjalan melewati lemari tersebut, saya menyadari bahwa kedua boneka tersebut agak miring. Jadi, tidak lagi menghadap ke depan tetapi agak menyerong sekitar 45 derajat. Kalau saya lewat lagi, posisinya berubah jadi 90 derajat. Kalau saya lewat lagi, posisinya balik lagi menghadap ke depan.Saat itu, saya kecil yg selalu diajarkan untuk berpikir logis, menganggap "hmm mungkin kesenggol si bibi yang suka lap-lap disitu." Tapi kalau dipikir-pikir, misalkan memang kesenggol pasti si bibi bakal membetulkan ke posisi semula, bukan? Dan si bibi juga nggak mungkin berani memposisikan barang-barang ibu tidak sesuai dengan 'kaidah' yang empunya rumah.Akhirnya, pada suatu hari, seorang sahabat saya di sekolah, berkunjung ke rumah saya. Saya pun mengutarakan pada dia, bahwa saya takut pada kedua boneka kakek-nenek tersebut. Namun, alih-alih ikut takut, teman saya malah dengan berani memegang kedua boneka itu dan mempermainkan mereka seolah pesawat terbang."Kamu nggak perlu takut!" Dia memainkannya sambil tertawa girang.Saya cuma bisa diam saat itu."Kalau kamu takut, bonekanya dihadepin ke belakang aja." Ucapnya seraya meletakkan boneka itu kembali di tempatnya semula, namun kali ini posisinya membelakangi (jadi saya cuma bisa lihat punggungnya saja). Dalam hati saya sangat lega akhirnya teman saya berhenti mempermainkan boneka yang bahkan saya tidak berani tatap itu.

"Sampai kutemukan jasadku"
Horror
25 Nov 2025

"Sampai kutemukan jasadku"

"Pak, maaf, dokter sudah tidak ada visit, sampai kapan di sini? mending besok aja balik lagi""Sampai kutemukan jasadku"Wajahnya pucat separuh hancur, matanya bolong, dari bagian perutnya merembas darah. Dia mencari jasadnya sendiri."---Desc:Utas ini menggunakan sudut pandang orang pertama (narasumber). Segala bentuk nama dan tempat telah di samarkan.2013, dari meja jaga perawat ruang ICU samar terdengar suara bunker roda berjalan mendekat. Namun ada yang aneh, bunker roda itu diiringi suara serentak bak pengantar jenazah,"LAILLAHAILLAH”“LAILLAHAILLAH”“LAILLAHAILLAH”Dari kejauhan, suara itu kian dekat dan semakin jelas. Aku yang sedang terlenyap di bawah meja jaga tersentak bangun. Kepalaku pening, pandanganku berbayang, kuraih kacamataku yang tergeletak di atas mejaTubuhku mematung seketika melihat satu bunker kosong didorong oleh empat perawat berwajah pucat pasi, bibir biru dan tanpa bola mata.Mengalir darah dari tiap-tiap kepala perawat, lebih mengerikan lagi, mata putih milik satu perawat yang berdiri di baris paling depan seketika menggelinding ke lantai seperti habis di congkel.Aku terkesiap ketakutan setengah mati, kuperhatikan sekeliling, tak ada tanda-tanda orang lain di sekitar selain aku.Mereka terus berjalan mendekat menelusuri lorong temaram seolah tak memperdulikan rasa sakit dan darah yang merembas di kepala dan badanAku terpaku tak dapat menggerakan sendi-sendi tubuhku sendiri. Ingin berteriak sekeras-kerasnya namun leher seolah tercekat.Aku hilang kendali diri, panik dan takut menguasaiku sepenuhnya—satu-satunya yang dapat kulakukan ialah menatap sosok-sosok mengerikan itu yang berada di garis lurus yang samamereka kian mendekat ke arahku seraya hendak menjemputku untuk naik ke bunker kosong yang mereka bawa.Gilanya, mereka juga terus mengucap kalimat doa yang biasa dilafalkan para pengantar jenazah,"LAILLAHAILLAH”“LAILLAHAILLAH”“LAILLAHAILLAH”Bisa kalian bayangkan bagaimana posisi aku saat itu?…satu-satunya yang kuingat hanya wajah ibuku di kampung halaman yang belum sempat kukunjungi.Langkah mereka semakin cepat, menggaung suara tawa memekik dari berbagai arah, aku seperti berada di jalan buntu yang mana hanya bisa nangis.Secepat kilat keempat perawat mengerikan dan bunker roda itu menabrakku keras.Berikutnya, pandanganku gelap.****Aku tersadar membuka mata di ruang IGD. Bu Desi, salah seorang perawat senior menghampiri untuk memeriksa kondisiku.Dia mengatakan semalam aku kejang-kejang di meja jaga dengan mata mendelik ke atas.Untung saja, cepat ditemukan Pak Manto, satpam rumah sakit yang sedang keliling.Aku masih ingat betul apa yang menimpaku tadi malam, rasanya begitu nyata. Sekujur tubuhku remuk, ada luka lebam membiru dibeberapa bagian badan seperti bekas benturan benda tumpul.“Sebenarnya tadi malam kamu kenapa tih?” Tanya Bu Desi.Aku gagap menjawab, tetapi Bu Desi melanjutkan kalimatnya,“Kamu Indigo?Sebelumnya ada perawat juga yang indigo, dia resign karena sakit, gak kuat katanya, tapi sebelumnya persis kayak kamu, kejang begitu pas lagi jaga rawat.”Aku menggeleng pelan, menyangkal. Entah mengapa aku tidak suka dan merasa tidak pantas mendapat predikat sebagai ‘anak indigo’ meskipun aku memang peka dan kerap bersinggungan dengan mereka yang tak kasat mata.Namun kenyataan itu, bagiku seperti hal memalukan yang harus kusembunyikan rapat-rapat. Lagi pula aku bukan seorang praktisi, mengontrol mataku sendiri saja aku tak bisa—ya, kadang ‘mereka’ terlihat jelas, kadang samar, bahkan kadang hanya suara saja yang kudengar.Aku tidak tahu apa yang menyebabkan begitu, namun yang pasti, sejak aku menstruasi pertama sampai saat ini usiaku menginjak 24 tahun, aku masih belum bisa terbiasa dengan keberadaan mereka disekitarku.Rasanya seperti aku bisa saja mati jantungan sewaktu-waktu.Aku memang terhitung baru menjadi perawat di Rumah Sakit ini, sebelumnya aku hanya berani bekerja menjadi perawat di sebuah klinik kecil tak jauh dari rumah.Ya, kepekaanku terhadap ‘mereka’ menjadi alasanku memilih bekerja di klinik. Bagiku, kala itu rumah sakit seperti tempat penyiksaan mental.Bagi kalian yang bekerja di rumah sakit, pasti setuju kalau shift malam selalu jadi tantangan tersendiri, meskipun sudah biasa tapi rasa getir, takut, merinding jadi tamu setia yang hinggap setiap malamnya.Namun satu tahun ke belakang, aku merasa diriku sudah tak lagi sepeka dulu. Aku bahkan sudah jarang bersinggungan apalagi melihat mereka.Paling parah, aku hanya melihat gumpalan asap membentuk sosok, siluet bayang hitam, dan suara-suara aneh yang masih bisa dihiraukan—karena itu lah, aku memberanikan diri melamar untuk bekerja lagi di rumah sakit, selain sudah merasa aman, gaji yang kudapat juga lebih besar bekerja di Rumah Sakit dibanding di klinik.“Kenapa bisa begitu bu, perawat itu kenapa?” tanyaku balik ke Bu Desi, penasaran.“Mending kamu gak usah tau deh, lagi sering jaga malam kan? “ kekeh Bu Desi.Sejak aku membuka mata. Aku merasa ada yang berbeda dari sekitarku—rasanya rumah sakit ini nampak lebih padat sesak dari biasanya, banyak lalu lalang melintas wajah-wajah perawat dan dokter yang tak kukenali.Ada apa di rumah sakit ini?*****Tak terlalu kupikirkan mengenai peristiwa tempo hari—kadang kala, sakit juga bisa merenggut alam sadar dan membuat kita berhalusinasi, jadi kusimpulkan saat itu aku hanya sedang tidak sehat.Sekarang, Aku mendapat gilir jaga IGD, baru saja seluruh pasien IGD ditransfer ke kamar rawat, jadi IGD malam ini tampak sepi, hanya tersisa satu pasien koma yang masih menunggu pihak keluarganya tiba.Suara sirine ambulan berbunyi nyaring memeceh hening malam. Ramai sentakan langkah para perawat sigap menghampiri membawa bunker roda. Tari, rekan perawatku menyiapkan satu tempat tidur di IGD.Aku ikut membantu,“Ada pasien darurat apa tar? Kok tumben gak ada info dulu ke IGD kalau mau ada pasien dari ambulance kita?” ujarku.Tari tak menjawab, namun raut wajahnya tampak begitu serius. Tak lama, suara bunker roda terdengar mendekat. Rombongan para perawat dan satu dokter membuatku tersisih menepi.

-JASADNYA DI COR, NYAWANYA JADI TUMBAL-
Horror
25 Nov 2025

-JASADNYA DI COR, NYAWANYA JADI TUMBAL-

Kalo denger kata ‘corcoran’, ada yg viral bberapa waktu lalu. Satu peristiwa yg pernah aku alami. Peristiwa yg gak akan bisa aku lupakan. Peristiwa yg mungkin kalian atau pemerintah belum tahu.Disclaimer dulu ya. Cerita ini sudah mendapatkan ijin dari pihak yg bersangkutan. Walaupun sebenarnya rada ngeri juga, karena yg akan saya bagikan ini sebenarnya rahasia dan hanya beberapa orang yg tahu. Tp gapaplah, udah lama juga kejadiannya.Kebetulan perusahaan tempat di mana aku kerja magang ini sedang ada semacam projek besar. Jadi dalam beberapa hari dalam seminggu ini aku dan beberapa rekan kerjaku suka pulang malam terus. Oiya, kenalin aku Dini. (samaran)Di kantorku ada perempuan namanya Rina. Dia adalah ketua projek yang di angkat baru-baru ini. Dan anehnya, setelah pengangkatan Rina menjadi ketua, banyak sekali cerita serem yang di alami oleh beberapa karyawan. Jadi kantorku ini mendadak berasa berhantu.Suatu hari ketika lembur, Rina ini harus memfotocopy beberapa lembar surat-surat. Kebetulan mesin fotocopy berada di lantai atas.Ketika Rina sampai di lantai atas, tepatnya posisi dia lagi berdiri gak jauh dari mesin foto copy, ada satu ruangan yang di kunci.Pintunya warna merah, beda dari pintu-pintu yang lain di kantorku. Dan gak ada yang tahu atau pernah masuk ke ruangan itu, karena memang gak dibolehin masuk sekalipun karyawan lama.Tiba-tiba dia teriak histeris. Semacam teriakan orang ketakutan gitu. Dan suaranya keras banget sampai aku yang lagi di ruang bawah pun denger. Otomatis aku dan beberapa rekan kerjaku yang mendengar, langsung berhambur keluar buat lihat keadaan si Rina ini.Sesampainya kami di atas, Rina ini sudah dalam kondisi duduk di sudut ruangan sambil nutup mukanya pakai tangan.“Eh cepet-cepet bantu Rina!” celetuk salah satu rekan kerjaku.Untungnya malam itu tuh ada cowoknya, jadi Rina bisa di bopong untuk turun ke lantai bawah.Setelah di tenangin, Rina cerita sambil nangis gituu. Katanya dia liat sosok manusia keluar dari tembok!Dan seremnya, sosok itu kemudian berjalan ke arah Rina.Makanya dia sampai teriak histeris. Gak lama, Rina nelfon temannya. Kalau gak salah namanya Cipto.Kira-kira, mirip kyk stranger things gini.Sedikit aku kasih tahu latar belakang Rina ini. Dia ini sebatang kara yang hidupnya sangat mandiri. Sampai aku sendiri begitu kagum sama sosok Rina ini. Karena selain mandiri, dia juga pinter banget di kantor.Dan siapa Cipto? Dia itu adalah mantan supervisi Rina sebelum dia naik jabatan dan jadi ketua projek. Tapi anehnya, malam itu orang yang pertama kali dia telfon tuh si Cipto. Padahal suami bukan, pacar apalagi. Yah positif ajalah, mungkin sahabatnya.

Rumah Megah Tak Bertuan
Horror
25 Nov 2025

Rumah Megah Tak Bertuan

“Klik..” ada notice sms masuk ke hpku. Kuambil hpku yang tengah tergeletak di atas meja, dan benar dugaanku gajiku bulan ini telah ditransfer oleh pak Burhan. Pak Burhan adalah majikanku, beliau adalah pemilik rumah mewah di jalan Anyelir no 5. Rumah itu sangat mewah tepatnya 20 tahun yang silam. Aku masih sangat ingat dengan jelas kala itu aku datang ke kota ini untuk melamar menjadi penjaga di rumah pak Burhan.“Pak, ini orangnya yang kemarin saya ceritakan ke bapak” ucap seorang pria bertubuh kekar “Oh iya” jawab seorang pria paruh baya yang tengah duduk di depanku sambil menikmati cerutu. “Kalau begitu saya kembali ke basement ya pak” ucap pria kekar itu “Iya silahkan” jawab pria paruh baya itu. Kemudian pria paruh baya itu menatapku lekat-lekat dari ujung kepala hingga ujung kaki.“Siapa namamu, anak muda?” Tanya pria paruh baya itu “Azali pak” Jawabku singkat “Oh.. kau sudah pernah bekerja di tempat lain?” tanyanya lagi “Belum pak, baru kali ini saya melamar kerja” ucapku “Kau berasal darimana?” tanyanya lebih jauh “Dari kampung SekarAsri pak” ucapku “Di kampung kamu bekerja apa?” Tanya pria paruh baya itu “Setelah lulus SMP, saya bantu-bantu orangtua di sawah pak” jawabku “Berapa usiamu?” tanyanya berlanjut “Masih 17 tahun pak” ucapku “Kamu tidak melanjutkan SMA?” tanyanya lebih jauh “Tidak pak, orangtua saya tidak ada biaya lagipun di kampung saya masih belum ada SMA. Ya, daripada nganggur selama ini saya bantu-bantu bapak di sawah” ucapku “Kok ngelamar ke sini?” Tanya pria itu lagi “Saya ingin merubah nasib pak, siapa tahu kerja di kota penghasilannya lebih baik” jawabku“Begini anak muda, kebetulan saya sedang membutuhkan tukang kebun untuk merawat halaman rumah saya. Kamu bersedia?” Tanya pria itu “Iya pak, saya mau sekali” ucapku “Ya sudah kamu saya terima kerja di sini, sekarang kamu ikut saya kenalan dengan pegawai-pegawai saya dan juga keluarga saya” ucap pria ituPria itu kemudian mengajakku ke sebuah tempat bernama basement tapi kalau kataku tempat itu mirip seperti rumah kecil. Di sana aku berkenalan dengan bu Murti si tukang masak, pak Hans si sopir sekaligus bodyguard dan mbak Is si tukang bersih-bersih rumah. Setelah itu kami menaiki tangga yang ada di dalam basement yang ternyata tembus ke dalam rumah megah itu. Wauuu, benar-benar rumah yang indah. Di dalam rumah itu ada aneka perabot mewah yang aku sendiri tidak tahu namanya tapi yang jelas itu semua perabot mahal. Di samping almari ada seorang wanita memakai daster pink yang tengah mengasuh seorang anak laki-laki tampan. Wanita itu ternyata bernama mbak Ayu dan anak kecil itu adalah cucu pak Burhan, namanya Bram.“Yang tadi itu para pegawaiku dan sekarang kau akan kukenalkan dengan keluargaku” ucap pak Burhan. Pak Burhan kemudian menyuruh mbak Ayu agar memanggil semua anak pak Burhan ke Ruang mewah itu. Beberapa saat kemudian, di depanku sudah ada 3 orang wanita dan 2 orang pria. Pak Burhan kemudian berjalan menuju ke belakang mereka.“Azali, inilah keluargaku. Yang sebelah kanan ini adalah Asmita, istriku. Ini anakku yang pertama yaitu Velita dan ini suaminya Yoga. Kalau yang ini Viona dan ini Rio suaminya Viona. Kalau anak laki-laki yang kau temui tadi itu adalah cucuku, anak dari Yoga dan Velita” ucap Pak Burhan dengan ramahnya “Iya pak” jawabku singkat terkungkung gerogi“Mulai hari ini Azali akan bekerja di sini sebagai tukang kebun. Ingat, kalian harus memperlakukannya seperti pegawai-pegawai yang lain karena tanpa mereka kita tidak bisa mengurus rumah ini” ucap pak Burhan “Iya Papa” jawab mereka kompak. Kemudian mereka kembali melakukan aktivitasnya masing-masing dan pak Burhan mengantarkanku keliling rumahnya.“Inilah rumahku, Azali. Sekarang sudah menjadi tugasmu untuk merawat halaman dan hewan peliharaanku. Oh iya, segala peralatan kebunmu ada di basement” ucap Pak BUrhan “Baik pak” jawabkuPagi-pagi buta setelah sholat subuh aku mulai bekerja memotong rumput di halaman rumah Pak Burhan. Rencanaku, rumput yang telah kupotong akan keberikan pada kelinci dan rusa, tanpa banyak cakap aku segera mengambil peralatan kebunku lengkap dengan karung untuk wadah rumput. Satu per satu rumput telah kupotong dan kumasukkan ke karung yang kubawa. Kemudian karung itu kubawa ke kandang kelinci yang ada di tepi rumah sebelah kanan. Setelah itu, kulanjutkan memotong rumput di lain tempat namun yang jelas tetap di rumah pak Burhan. Rumput-rumput yang telah kupotong, kumasukkan ke karung untuk makanan hewan ternak pak Burhan. Begitulah kerjaku setiap hari, tanpa banyak kata menjalankan tugas dan ternyata cara kerjaku menarik hati pak Burhan.“Bagaimana perasaanmu kerja di sini, Azali?” Tanya pak Burhan di suatu sore “Saya senang pak, rumput di tempat bapak banyak sehingga saya bisa sekalian merawat halaman juga memberi makan ternak” jawabku “Iya, saya juga suka dengan etos kerjamu. Kalau begitu terimalah ini gaji pertamamu” ucap pak Burhan sambil menyodorkan sebuah amplop padaku. “Oh iya, kau harus membuat atm untuk gajimu bulan selanjutnya karena gaji semua pegawaiku langsung kutransfer ke atm mereka masing-masing” ucap pak Burhan “Tapi saya tidak tahu cara membuat atm pak” ucapku “Nanti biar Hans membantumu” ucap pak Burhan “Baik pak” jawabkuKeesokan harinya pak Hans membantuku membuat ATM di bank terdekat dan seperti janji pak Burhan gajiku tiap bulan langsung ditransfer ke ATM. Gaji yang kuterima dari pak Burhan sangat besar bagiku. Bagaimana tidak, bocah kampung yang jauh dari keramaian digaji jutaan rupiah hanya untuk merawat halaman rumah orang kaya dan tak hanya itu setiap hari aku mendapat jatah makan 3 kali, kadang aku juga mendapat cemilan entah itu singkong rebus atau hanya sekedar pisang goreng. Dan di akhir tahun seluruh pegawai pak Burhan mendapat parsel juga baju baru. Jadi, tentu saja aku bisa memberi uang kedua orangtuaku di kampung agak banyak. Dan tak ayal juga setelah 8 tahun aku bekerja di tempat itu, aku bisa membeli rumah di dekat rumah pak Burhan.Rumah yang kubeli dari hasil keringatku, amatlah kecil jika dibandingkan dengan rumah pak Burhan yan luasnya sekitar 1,5 hektar. Rumah kecilku terletak di jalan Matahari no 7, jaraknya sekitar 300 meter dari rumah pak Burhan. Jadi, setiap hari aku cukup berjalan kaki untuk bekerja di rumah pak Burhan. Kenikmatan itu kukira akan berlangsung lama namun ternyata sebaliknya.Pagi itu, seperti biasa aku pergi bekerja setelah sholat subuh untuk memotong rumput dan merawat hewan ternak. Namun, sejak pagi kulihat keluarga pak Burhan tampak murung dan bingung. Bahkan masakan bu Murtipun utuh tak ada seorangpun yang menyentuh.“Kok tumben bu, masakannya masih banyak?” tanyaku “Iya. Aku sendiri juga nggak tahu Al sejak tadi pak Burhan sekeluarga Nampak murung dan bingung” tukas bu Murti. “Memang apa yang dimurungkan bu?” tanyaku “Entahlah Al, urusan orang besar mungkin. Udah buruan makan gih” ucap bu Murti namun bu Murtipun juga Nampak murung. “Ibu lagi sakit?” tanyaku “Enggak kok, ibu cuman capek saja” jawab bu Murti singkat kemudian meninggalkanku entah kemana. Akupun segera menyantap masakan bu Murti yang aduhai enaknya.Seusai makan, aku akan melanjutkan membersihkan kandang ternak dan menguras kolam. Seusai melaksanakan semua tugas, aku mandi dan segera sholat ashar. Tiba-tiba.. “Jadi benar apa kata Hans, kalau kamu sholat?” Tanya pak Burhan yang tiba-tiba berdiri di belakangku. “Iya pak. Sholat kan tanda terimakasih kita pada yang Maha Kuasa” jawabku enteng “Azali, setelah ini kami semua akan pergi. Aku hanya titip pesan agar kau selalu merawat halaman rumahku seperti biasa” ucap pak Burhan “Bapak mau pergi kemana?” tanyaku “Kau tak usah Tanya kami pergi kemana yang jelas kami pergi agak lama dan untuk gajimu akan kutransfer setiap bulannya. Kau mengerti kan?” ucap pak Burhan “Iya pak saya mengerti. Oh iya pak, barang-barangnya biar saya bantu menyiapkan” ucapku “Tidak usah Al, semuanya sudah siap kok” ucap pak Burhan “Oh iya pak kunci gerbangnya kan ada di saya” ucapku “Bawalah kunci itu agar kau mudah merawat halaman rumahku. Sekarang kau boleh pulang” ucap pak Burhan “Baik pak” jawabkuKeesokan harinya aku berangkat kerja seperti biasa namun aku sangat syok melihat rumah pak Burhan. Rumah itu sepi, Semua penghuni rumah pergi berikut dengan hewan peliharaan pak Burhan. Masak iya liburan bawa hewan peliharaan? Kan itu mustahil? Kucari ke seluruh rumah namun hasilnya tetap sama tidak ada dan anehnya mobil pak Burhan masih tetap parkir di garasi. Aku jadi semakin bingung akan kepergian seluruh penghuni rumah pak Burhan. Kemanakah mereka?Kepulangan mereka selalu kunanti setiap hari namun tak satupun dari mereka yang pulang ataupun memberi kabar hingga tak terasa rumah itu telah ditinggalkan selama 20 tahun. Selama 20 tahun, aku hanya membersihkan halaman dan melihat-lihat ke sekeliling rumah masih tetap sama seperti 20 tahun silam. Kerusakan-kerusakan rumah satu-persatu mulai muncul, sebagai pegawai yang baik kutelepon pak Burhan namun tidak bisa dan anehnya setiap kali aku masuk ke halaman rumah pak Burhan tercium bau kemenyan. Waallahu a’lam bi showaf..

Terbunuh Sepi
Horror
25 Nov 2025

Terbunuh Sepi

Dikisahkan ada sekumpulan remaja tampan di salah satu sekolah bernama Galaxy School. Di sana ada cowok bernama Ricky yang pendiam. Ricky sedang mengeluarkan rokok membuang ke tempat sampah. Kemudian ada yang memotret Ricky secara diam-diam tanpa izinnya. Ialah Divya. Divya sangat mengangumi Ricky. Namun Ricky cuek.Suatu hari kematian dari seorang gadis dan banyak menuduh kalau Ricky saiko. Divya tetap saja tidak percaya kabar miring tersebut. “Gue nggak percaya Bang Ricky bisa ngebunuh Nelly.” jawab Divya membentak meja.Di tempat berbeda sosok cowok sedang memotretnya tanpa sepengetahuan Divya. Senyum merekah. “gue harus bisa dapatin lo.”Didalam kesunyian malam geng bernama UN1Ty tengah duduk membahas soal Ricky yang dituduh jadi tersangka. Shandy muka sangat aneh. Berbeda dari biasanya. Wajah berkeringat dingin. “Kenapa bro apa ada sesuatu?” “Gak ada, gue hanya ngerasa yakin kalo sih Ricky itu Seiko cuma dia kan paling pendiam di grup kita.” ucap Shandy menerka-nerka.Di hari berikut Fiki sedang bermain gitar asyik pada dentingan yang ia mainkan. Kemudian Shandy menghampiri memberikan segelas marimas dibeli di warung. “Gak yakin gue tampang Ricky pembunuh!” “Mau gimana lagi udah tercemar geng kita, gue mau Ricky keluar dari UN1Ty.” Semua memandang negatif pada Ricky.Kian hari semakin ada berita kurang sedap. Sehingga Ricky menegaskan sesama kalo geng ini mesti mengeluarkan membernya. Memberikan penjelasan namun tetap saja semua sudah benci pada Ricky.Divya mendekati Ricky, disaat semua menjatuhkan Divya mensupport penuh Ricky memberikan kekuatan. Suara di gedung terdengar lagi tangisan kencang. Pergi ke sana Ricky berlari pisau terbuang di lantai. Memungutinya terkejut Divya hampir mau pingsan.“JADI ELO KAN BIANG KEROK DI UN1TY?” tanya Fenly memojokkan Ricky. “Bukan gue sumpah, gak bohong!” Tidak ada yang percaya padanya.Di hari berikutnya Ricky dimintai keterangan atas kematian Yani. Jawaban hanya gelengan sementara polisi perlu tahu semua dijawab sama. “Penyelidikan kita akan proses kamu tetap di sini.” Belum ada bukti sehingga Ricky ditetapkan sebagai tersangka.Semua membenci Ricky bahkan UN1Ty terpecah belah. Sudah rusak, tidak ada artinya lagi. Merasa kehilangan sosok baik, misterius. Dulu dikenal sebagai pahlawan akibat sering menolong jasa Ricky tentu saja besar.Seseorang berjalan ke toilet menemukan pemandangan aneh. Segera merekam melalui kamera ponsel. Membawa sesuatu di dalam kantung plastik. Tiba di rooftop seluruh urat leher menegang.Mata tertuju pada sesuatu yang di lempar ke atas gedung. Cowok itu melepas Hoodie muka tertutup masker. “Astagafrullah jadi lo?” Divya terkejut. “Kenapa kalo itu gue, mau lapor silakan… gue iri sama Ricky kenapa dia selalu dicintai beda dengan gue yang dianggap sampah.” Tatapan mata terus tertuju pada sosok itu. “Terus kenapa lo bunuh murid Galaxy School? Jangan bilang lo sakit hati sama UN1Ty.” “Bukan cuma itu gue sering dibully sama Shandy, terus di jambak rambutnya sama Fenly.” Bayangan sewaktu smp terbuka lebar. Di mana ada anak cowok berkacamata tebal lewat lalu disiksa sama beberapa orang. Perut ditendang, kaki keinjak sepatu dibeli dari hasil tabungan dibuang ke got.Miris menyesakkan dada sekarang sudah terbongkar pelaku sebenarnya. Divya mengerti permasalahan yang terjadi.Menarik Divya hingga ke bagian titik, dan member UN1Ty datang. “Gue sempat lewat dan ngeliat sesuatu yang gak beres.” Zweitson dia paling suka belajar pintar. Kacamata juga selalu dibersihkan. Pokoknya member idola di sini.Divya kaget lalu berjalan tapi leher dicekek. “Lepasin gue tau lo demdam sama kita…” Zweitson bukan tukang bully. Cuma Fenly, Shandy dan satu lagi Fiki. Fajri juga tingkat level yang paling keras adalah mereka. “Gue akan lepasin asal kalian buat video permohononan maaf buat gue yang selalu kalian tindas.” Wajahnya penuh amarah. Menahan rasa sakit di hati.Alani sahabat dari Divya terkejut. Melongo. Bisa-bisanya cowok dikenal kutu buku membunuh banyak korban. Airmata Divya terjatuh. “Oke gue terima ini semua demi nona cantik itu, lepasin dia sekarang.” “Gak bisa, buat dulu.”Zweitson membuat videonya dengan latar rooftrop dan menyerahkan kamera handycam kepada cowok itu menyuruh memasukan ke channel YouTube UN1Ty. Hingga viral. “Gue Zweitson mewakili member yang lain buat minta maaf.”Fenly tersenyum kecut berjalan ke rooftop demi Divya Zweitson rela melakukan itu semua. Dia setia kawan kepada Ricky yang ternyata menyimpan rasa pada Divya.Setelah Divya selamat Arnold digiring ke kantor polisi bukan cuma dia dituduh masih ada satu lagi. Dulu sewaktu Nelly kebunuh masih ada saksi belum terungkap. Menghilangkan jejak sangat kreatif.Berjalan ke tempat gudang penuh debu. Mencari beberapa informasi. Ada tumpukan mayat dimasukkan ke sini. Sebagian belum ketahuan. Ngeri sekali mereka dibungkus plastik hitam. Ada Gita, Nayla, Jihan, Cinta. Semua cewek cantik di Sma Galaxy School.“Gue gak boleh ketahuan dan gak akan gue biarin UN1Ty kompak seperti dulu.” Malam hari bayangan datang ke kamar dorm member.Di sana ada Shandy yang tengah main PlayStation. Permainan mobile-lagend di sukai oleh Shandy. Suara mendesis menganggu pendengaran dari Shandy. Melangkah keluar melihat taman belakang rumah kosong.“Gak ada siapa-siapa palingan kucing.” Seketika sesuatu mencekik leher Shandy. Shandy dibawa ke alam berbeda. Tampak di mana ada cowok dengan motornya baru saja tiba ketika kelas kosong. Menemui gadis bernama Gita yang belajar malam akibat les. “Gue gak akan tanggung jawab, gue gak cinta sama lo.” “Tapi kalo nyokap tahu gue hamil gimana?” ucap Gita ketakutan setengah mati. “Gugurin aja simple kan, gak usah ada nikah, gue masih pengen bebas.” Shandy tahu siapa dia? Keluar dari dalam alam mimpi matanya perlahan terbuka.Masuk ke kamar lagi. Fiki terbangun ke toilet menemukan play-station menyala. Segera mematikan. “Kenapa dimatiin?” “Dari mana aja boros nih main playstion terus ditinggalin gitu aja.” ujar Fiki mendengus sebal, sembari mengucek kedua kantung mata. Kesal Shandy memilih tidur.Keesokan paginya lekas ditemui cowok itu. Menghajar hingga babak belur. Semua anak memperhatikan perkelahian seru. Mereka digiring masuk BK. Di sana perdebatan kembali terjadi. Guru bertanya heran mengapa keduanya bisa bersitegang. Dan membuat tontonan bagi anak cewek. “Saya begini karena dia yang udah bunuh Gita!” “Mana buktinya?” “Lo malam-malam kesini gue lupa kapan? Terus lo nemuin Gita gak mau tanggung jawab.” ucap Shandy berkata tegas. Pak Fadhil kaget menatap tajam wajah Martino. “Benar itu apa yang di bilang sama Tino?” ujar Pak Fadhil. “Gak benar,” “Mana mau ngaku dia aja pandai berkila? Dasar pembunuh.” Mereka berjalan mengecek cctv mencari letak bukti. Sampai akhirnya Tino berhasil di tangkap. Ricky dibebaskan.Nyanyian kebebasan menggema semua murid cewek termaksuk youn1ty fanbase mereka memberikan sambutan baik. Ricky sudah bersih dari segala masalah.Malam itu dinner di salah restoran. Divya memakai dress berwarna pink. Cantik. Sesuai sama dirinya yang feminin. Ricky mengajaknya berdansa dan juga menyanyikan sebuah lagu. Suara Ricky begitu merdu. “Makasih selalu ada disaat-saat tersulit aku.”Gilang yang jarang muncul kehadiran berkerja part-time sebagai pelayan restoran membawakan menu steak daging kesukaan Divya.“Aku ada karena aku tulus mencintai kamu, tanpa embel-embel apa pun.” ujar Divya memeluk erat.Tapi di sebuah pohon beringin dekat kafe sesosok kuntilanak hadir. Tertawa, rambut panjang lebat, hitam. Bukan tersenyum pada kemesraan keduanya tapi berkata, “kamu akan diganggu oleh makhluk astral persiapkan diri, jika kamu harus melewati ini semua hi… hi… hi…” Mencium aroma tidak sedap para pegawai berniat mengantar makanan orderan berlari merasa merinding.Pulang dari sana ada perasaan gelisah melingkup di wajan Ricky. Badannya jadi aneh. Di kaca spion sosok berwajah pucat berseragam Sma lewat. Kenapa ia bisa melihatnya setelah mengantar Divya pulang? Berpikir positif.Semakin hari semua makhluk bisa Ricky temui. Pacarnya juga aneh pada perubahan sikap emosional member UN1Ty satu itu.“Kita break aja ya, aku mau fokus ujian sekolah.”“Apa karena aku gak romantis lagi?” “Bukan lebih tepatnya aku mau lulus demi mama.” “Oh, ya udah bye.” Divya menitikkan sebongkah cairan basah di pipi.Setiap kali belajar malam Ricky terganggu oleh suara panggilan meminta bantuan. Kadang terpaksa harus menolong. Galaxy School di kenal angker menyisahkan banyak penampakan entah mantan ibu kantin di tahun 90 mati. Berbagai kejadian janggal terus menghantui.Ricky bosan sekali menelepon Kakek. Ternyata benar jika dirinya sudah diwarisi ilmu turun temurun melihat hantu. Bahkan Ricky benci.“GUE HARUS LEPAS DARI INI SEMUA ARG!” Ricky membuang batu mengenai kepala seorang wanita bermuka gosong dan bola mata merah keluar. Belum lagi darah di sekujur baju. “Kamu gak akan bisa lepas, asal kamu putuskan pacarmu aku suka sama kamu.” Tidak Ricky cuma mencintai Divya hati sulit di bagi ke orang lain, apalagi hantu. Mendadak hantu tersebut lenyap dari pandangan.Sebulan kemudian kehidupan semakin tidak terkendali. Banyak hari dilalui penuh warna cerita indah. Namun sisi gelap terus menerus masuk ke hidupnya.Ricky bertemu orang bisa membantunya melepaskan semua ilmu tentang kebatinan. Demi cinta ia ingin hidup normal seperti yang lain tanpa merasa beban, diikuti, diburu, dimintai tolong. Kini Ricky lulus dan berkuliah di kampus Gunadarma.Selesai

Lake of Black Water
Horror
25 Nov 2025

Lake of Black Water

Pandanganku buram, tak sangup bernafas, tubuhku seolah melayang di luar angkasa, perlahan turun ke dasar. Di sana, kulihat seorang gadis yang mirip denganku, wajahnya pucat pasi sedang tersenyum sembari mencoba menggapaiku dengan tangan putihnya untuk menariku ke ke dasar.Seharusnya tak terjadi seperti ini, kenapa selalu ada halangan ketika ingin menepati janji kami untuk selalu bersama? saat dia berhasil menyentuhku seolah ada pewarna dengan kadar yang cukup banyak, merambat seperti akar menghitamkan air hingga semuanya gelap.Beberapa jam yang lalu…Aku terkadang gemetar ketika bersentuhan dengan air, apalagi saat melihat pantulan diriku dari air yang menggenang, bukan karena aku tak sanggup berenang, mungkin karena sesuatu dimasa lalu, kenangan yang samar seolah terhalang kabut tebal.Orangtua angkatku mengatakan aku hampir tenggelam di kolam saat masih kecil dulu, mereka jadi overprotective setiap aku ingin berenang. Entahlah, aku bahkan tidak bisa mengingat masa kecilku dulu, siapa aku sebenarnya dan bagaimana diriku dulu. Anehnya aku akan merasakan kecemasan berlebih ketika kata ‘tenggelam’ itu diucapkan.Sebenarnya apa hubunganku dengan air hitam? Ada seorang gadis selalu berniat mencelakaiku, ketika kulihat pantulan diriku di kolam, wajah bayanganku berubah pucat secara perlahan lalu sebuah tangan putih tiba-tiba muncul dari dalam kolam mearikku untuk menggelamkan diriku, aku bisa saja mati jika Kakakku tak sempat menyelematkanku.Bukan hanya itu saja, ketika aku mandi di bathtub airnya berubah hitam lalu tangan itu muncul lagi menarikku kembali ke dalam membawa diriku seolah berada di lautan luas, sebelum leherku dicengkram dan airnya menghitam semakin pekat. Setelah kejadian itu, aku biasanya akan terbangun dengan keadaan pucat seperti mayat.Seorang gadis dan semua ilusi itu terus menghantuiku sampai aku sendiri tak ingat kapan ini dimulai, sejak aku diadopsi bertahun-tahun yang lalu aku sudah mengalaminya.“Kak Ferry, sebenarnya apa yang pernah terjadi padaku sebelumnya?” tanyaku saat duduk di sampingnya ketika kami berada di halaman belakang rumah.“Andriana, kakak tidak tahu menahu selain kamu berasal dari panti,” jawabnya, masih sibuk dengan tanah yang dia gunakan untuk bercocok tanam.“Aku sungguh bersyukur memiliki keluarga ini, aku tak ingat apa-apa, maaf jika aku sering menyusahkan selama ini,” ujarku berjongkok di sampingnya, menatap kakakku yang masih tersenyum.“Ayolah, kamu sudah aku anggap sebagai adikku yang manis, kita pernah meraih berbagai prestasi bersama, ingat kita menang turmamen sebagai absolute duo? Kita ini saudara yang kompak, bukan?” ujarnya sembari melepas sarung tangan itu lalu menyentuh pucuk kepalaku.“Kenapa, keluarga ini memilihku?” ujarku menurunkan pandangan sampai keningku tiba-tiba disentil Kakak, “Aw! Sakit kakak!” ringisku sembari menggosok kening yang panas karena sentilannya.“Dulu saat kami memberikan bantuan ke panti aku lihat kamu begitu kesepian,” ujarnya menatapku yang masih manyun, “disaat yang lain sibuk bersalaman kamu malah diam termenung di bangku taman, kamu ingat aku menyapamu dan mengajakmu bermain catur, disaat itu aku selalu memperhatikanmu, cara bicaramu, gerak-gerikmu, seyummu, sikapmu sama seperti adik perempuanku yang meninggal dulu, satu lagi kamu itu imut,” lanjutnya lalu menekan hidungku seperti tombol.“Ma-makasih,” bisikku yang mencoba menyembunyikan wajahku yang memerah karenanya.Iya aku ingat dulu saat masih di panti, aku diusia 6 tahun selalu menyendiri, aku merasa seperti kehilangan sesuatu yang sangat berarti bagi hidupku, masalah aku kehilangan apa? Kenapa hatiku begitu sedih ketika mencoba untuk mengingatnya? Bahkan aku akan merasa kecewa jika gagal mengingatnya.Saat pertama kali kakak datang menyapa saat itulah dia seolah mengembalikan ‘sesuatu’ yang telah hilang dalam hati ini, ketika kami bermain catur saat itu dia memang sedang memperhatikanku, tapi saat itu aku tak peduli denganya.Kakak senang sekali saat itu, saat aku mengalahkannya, dia langsung meminta ayah dan ibunya untuk mengadopsiku, sejak saat itu aku hidup sebagaimana anak mereka, rasa kehilanganku perlahan memudar dengan kehadiran kakak, namun entah kenapa masih ada sesuatu yang mengganjal di hati hingga saat ini diusiaku yang ke17 tahun.“Jangan sungkan, aku kakakmu sekarang, sebagai kakak laki-laki aku akan menjagamu, kami semua menyayangimu itu yang pasti,” dia kembali tesenyum padaku, aku memeluknya tersentuh oleh kebaikannya.Mereka memang orang baik, aku tak pernah sekalipun menceritakan apa yang terjadi padaku, dengan semua gangguan tak masuk akal ini, aku tidak mau membebani mereka dengan ini. Meski begitu aku tak tenang jika terus menerus seperti ini, aku harus mencari tau penyebab kenapa gadis di air hitam itu terus muncul.kuputuskan untuk mencari tau sendiri, menelusuri tempat dimana awal aku mengingat, untuk itu aku sengaja mengunjungi sebuah panti tempat tinggalku dulu. Aku bertemu dengan orang-orang di sana, sayangnya Ibu panti dan orang-orang di sana pelit infomasi, mereka menutup mulut dan berpura-pura tak tau tentang diriku di masa lalu.Tak mau menyerah, setelah bertanya kesana-kesimi akhirnya aku mendapat infomasi dari temanku dulu, dia pernah mendengar Ibu panti membicarakan alamat rumahku dulu, untungnya dia mengingatnya sehingga aku segera ke alamat yang dituju. Aku tiba di sebuah rumah yang nampak tak asing, tempat ini sudah diisi sebuah keluarga, meski mereka tak menerima tamu hari ini setidaknya aku diizinkan untuk melihat-lihat sekitar untuk sesaat.Kepalaku mendengung ketika berada di tempat tertentu, ketika berada di taman aku ingat ada seorang gadis yang menggengam erat tanganku, kami berlarian kesana-kemari tertawa menikmati hari yang indah bersama.Ketika di gudang kepalaku kembali berdengung, dulunya ini adalah kamar tempat kami mengikrarkan janji untuk selalu bersama.—“Aku sayang Kak Adriana, kita akan selalu bersama kan?” ujar adikku menatap polos sembari memeluk bonekanya.“Tentu saja, meski Ibu dan ayah akan berpisah tak akan ada yang dapat memisahkan kita,” ujarku sembari saling mengaitkan jari kelingking dengannya—Terakhir ketika aku mencapai bagasi kepalaku mendengun lebih sakit dari sebelumnya, terasa sakit sampai ke hati. Dalam pandanganku, sebuah mobil sedan yang bersih di sini berubah menjadi mobil hancur sehabis kecelakaan.Yah aku ingat semua, orangtuaku meninggal karena kecelakaan di dekat sebuah danau dan jasadnya tidak pernah ditemukan, aku menduga mereka kecelakaan karena bertengkar di dalam mobil. Dulu hubungan mereka memang tidak baik tapi aku dan adik perempuanku masih menyayangi mereka, tak jarang kami berusaha membuat mereka akur namun hasilnya percuma.Aku bergegas menuju tempat kejadian untuk mendapat kepingan ingatan yang terakhir, mencari kembali sesuatu yang hilang dan sempat kulupakan. Di sini kecelakaan terjadi, suasananya tak berubah, masih tertutup rapat oleh kesedinghan dari masa laluku yang kelam.Tak jauh dari sini setelah melewati hutan ada Danau hitam, hanya namanya saja yang hitam namun sebenarnya airnya jernih, hitam di sini berarti menyembunyikan, seperti artinya konon katanya banyak rahasia yang tersembunyi di danau ini.Salah satunya terdapat sebuah mitos, jika ada orang yang menghilang di sekitar danau dan hutan, maka danau itu akan menyembunyikan mereka, kita harus memohon di depan danau untuk dapat bertemu dengan orang yang kita sayang, ini tidak hanya berlaku untuk orang hilang tapi juga berlaku untuk orang yang telah meninggal.Sialnya karena kepolosan kami dulu, aku dan saudara kembarku percaya begitu saja, malapetaka pun muncul,—Hari itu langit jingga berawan, angin berembus cukup kencang saat kami menembus hutan demi mencapai Danau hitam.“Ayo adek, kita harus menemukan ayah dan ibu sebelum gelap!” ujarku menarik lengannya tergesa-gesa“Kakak yakin? Ke sini jalannya?” tanya adikku nampak terengah-engah.“Itu dia ayo!” tunjukku girang saat berhasil menemukannya, Danau Hitam.“Tunggu kakak!”Kami berlarian di atas jalan yang cukup licin dan terjal, aku yang tak memperhatikan langkah membuat kakiku sendiri menginjak batu dan terpeleset.“Kakak!”Saudaraku berhasil menggapai lenganku namun dia kehilangan kesemimbangannya malah ikut terbawa jatuh, aku tak ingat lagi selain saudaraku yang melindungiku hingga lukaku tak terlalu parah saat aku mulai tak sadarkan diri.—Air mataku jatuh ketika kulihat kini kembaranku sedang melayang di atas air lenganya mencoba menggapaiku seperti menagih janji kami untuk selalu bersama, dengan terisak aku memasuki danau mencoba menggapai lengan putih pucatnya.“Maafkan aku Indriana, maafkan kesalahan kakak!” tangisku, “dulu aku masih bodoh, polos dan egois, aku tidak tau sebenarnya apa yang aku lakukan dulu, aku menyesal membawamu ke sini, aku harap akulah yang mati saat itu,” lanjutku sembari terus melangkah menebas air untuk meraihnya.Sebelum aku dapat menyentuhnya diriku ditarik sesuatu ke dalam bagian danau yang dalam, dan di sinilah tempat di awal cerita, aku pasrah dengan keadaanku, demi menepati janji kami untuk selalu bersama, aku rela tetap di sini bersamanya.Aku memandang lekat dirinya, wajah pucat pasinya mirip seperti diriku, meski agar buram oleh air tapi aku masih mengenali kecantikannya saat saudaraku tersenyum, aku memeluknya di dalam air yang telah menghitam, menangis, melepas kerinduan dan penyesaalan karena kesalahanku dia meninggal, maafkan aku…“Dengarkan suara hatiku kakak, aku hanya rindu denganmu, jangan menyalahkan dirimu sendiri, aku bahagia jika kakak baik-baik saja, jaga dirimu baik-baik, ini ucapan selamat tinggal dariku,” batinnya jelas terdengar olehku meski sedang berada di dalam air seperti telepati.Setelah mendengar itu darinya, kerah bajuku tiba-tiba ditarik seseorang membawaku ke darat dengan cepat, dia adalah kak Ferry yang ternyata mengikutiku sendari tadi.“Apa kamu sudah gila? Kenapa kamu berniat mengakhiri hidupmu,” teriaknya, “i-itu kenapa ada padamu?” tanya kakaku agak gemetar.Dia terkejut saat aku masih memeluk saudara kembarku yang telah menjadi tulang belulang.“Aku mengingat semuanya kak, ini adalah adikku yang selama ini merindukanku, ingatanku memang hilang tapi perasaan kehilanganku tak pernah hilanh,” tangisku, lalu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.“Sudah ya masih ada kakak yang selalu di sisimu,” dia mendekapku, “kita akan menguburkannya dengan layak, nanti kamu bisa berjiarah untuk ketenangan adikmu,”Aku mengangguk di bahunya“Maaf saudaraku, aku tak bisa memenuhi janji kita untuk selalu bersama, setidaknya aku akan memakamkanmu dengan layak dan menghapus rahasiamu dari air hitam ini”Tamat

Tidak Tenang
Horror
25 Nov 2025

Tidak Tenang

Pukul 02.00 dini hari, tepatnya hari Selasa, suasana di kampung itu masih sangat gelap, dingin sekali, bahkan warga yang ada di luar rumah hanyalah tiga warga yang bertugas jaga pos kamling. Suasana di pos jaga itu tidak seperti biasanya, kalau biasanya pos jaga itu ramai, sekarang hanya ada tiga orang yang jaga.“Malam-malam gini enaknya nonton bola, betul gak,” kata Pakde salah satu warga kepada dua warga lain yang bertugas malam itu. Dua warga itu saling melihat dan Dika berkata, “Memangnya mau nonton bola apa, kan hari ini gak ada jadwal bola, tidur ajalah aku, Romli kamu malam ini keliling sendiri aja ya, aku ngantuk berat!” Romli pun segera mengangkat kaki dari pos jaga itu dan pergi sendiri untuk berkeliling malam terakhir sebelum subuh menyapa. “Siapa juga yang mau maling di sini, kalaupun ada yang mau maling disini pasti maling itu gila, soalnya kampung ini dekat dengan kantor polisi, hahaha,” Romli berbicara sendiri sambil berjalan menjauh dari pos.Sudah sepuluh menit berjalan Romli pun menjauh dari pos jaga dan berada di area kampung yang gelap karena lampu yang menerangi area itu sedang mati dan belum diganti. Romli pun menyalakan senter sambil berkata, “Capek juga jalan-jalan terus, duduk dulu ah disini, tapi tempat ini gelap banget, ahh sambil nyetel lagu dangdut aja biar suasananya gak terlalu serem.” Romli pun duduk di area yang gelap itu sambil menyenter area sekitar. Tiba-tiba saat Romli menyenter area sekitar ada suatu hal yang aneh dan Romli berkata dengan nada pelan sambil merinding, “Kenapa ada warga yang keluar rumah pagi-pagi gini, bukannya warga yang berjualan sayur ada di di kawasan yang masih jauh dari sini?” “Tunggu kok dia bisa melayang di atas tanah, itu bukan karpet kan, eh itu itu ahhhhhh,” Romli pun teriak dan lari meninggalkan area itu dan menuju rumahnya.Pagi tiba dan aktivitas di kampung sudah berjalan seperti pagi-pagi pada umumnya. Pagi ini dimulai dengan Pakde yang menuju ke rumah Romli lalu memanggil Romli dan berkat “Romli kamu sudah gila ya, bisa-bisanya kamu pulang saat keliling malam, di area rumahnya Pak Hardi ada warga yang pingsan tepat jam tiga pagi tadi dan baru ketolong jam lima pagi, kamu kan keliling malam di sekitar area sana kan!” Lalu Romli yang wajahnya masih ketakutan karena melihat sesuatu yang membuatnya kabur pun masih plongo melihat wajah Pakde.Lalu Romli berkata kepada Pakde, “Pakde saya kemarin sudah berjalan di area sana tapi saya memang kabur, soalnya saya melihat hantu Pakde.” Mengatakan itu kepada pakde dengan wajah takut, tapi Pakde terlihat sangat tidak peduli, tapi memang maklum karena Pakde jiwanya berani, bahkan setiap jaga malam Pakde selalu mendampingi karena sifatnya yang berani dan tidak mudah takut. Pakde lalu berkata kepada Romli, “Hantu-hantu harusnya jam segitu sudah dekat dengan subuh, mana ada hantu, udah sekarang kamu ganti baju mandi, lalu kita pergi ke rumah warga yang pingsan itu!”Setelah Romli mandi dan ganti baju, Ia dan Pakde segera menuju ke rumah warga yang pingsan dan warga itu masih syok. Warga itu bernama David, Pakde lalu melihat David sebentar dan bertanya, “David kamu sudah minum?” “Sudah Pakde,” Jawab David. Lalu Pakde melanjutkan lagi pertanyaannya, “Apa yang membuatmu keluar pagi-pagi dan pingsan?” Jawab David, “Kemarin malam saya bekerja shift malam dan harus lembur malam, saya selesai jam dua pagi dan baru pulang dari kantor jan setengah tiga pagi, pas saya sudah tiba didepan rumah Pak Hardi, saya lihat ada putih-putih terbang dan menabrak saya, saya melihat wajahnya Pakde, dan itu yang membuat saya pingsan!” Lalu tanya Pakde, “Bagaimana wajanya David?” Jawab David, “Wajahnya seram, ada luka di wajahnya, tapi saya tidak tau jelas apa luka itu.” Setelah mendengar jawaban dari David Pakde lalu menemui Pak Hardi dan menyuruh Romli untuk menemui warga yang pertama kali menemukan David pingsan.Pakde lalu bertemu Pak Hardi di teras rumah Pak Hardi lalu mengajukan pertanyaan kepada Pak Hardi, “Pak sebelumnya kan di rumah Bapak ada kamera CCTV yang mengarah ke jalan, coba mungkin dilihat Pak penyebabnya apa mengapa sampai David pingsan!” Lalu Pak Hardi menjawab, “Saya juga tadi awalnya mau melihat Pakde, tapi saat saya membuka rekamannya, kamera itu hanya merekam sampai jam tiga pagi kurang lima menit dimana saat itu David masih berjalan dan belum pingsan, tapi setelah itu kameranya mati sampai sekarang dan baru saja dibawa anak saya ke tempat service.” Setelah mengatakan itu Pak Hardi pamit ke Pakde untuk pergi ke kantor karena hari itu posisinya hari selasa yang masih menjadi hari produktif.Romli datang ke Pakde dan mengatakan bahwa, “Warga yang pertama kali menemukan bu Sri dan katanya Bu Sri juga melihat ada orang pakai baju putih tapi jalannya cepet banget Pakde, Bu Sri juga bilang pada saat lihat David pingsan di jalan wajah David itu lebam.” Setelah mendengar itu Pakde lalu pergi menuju ke rumah Pak RT dan menyuruh Romli untuk menyari informasi ke warga sekitar yang tadi shalat subuh dan warga yang keluar rumah sekitar jam setengah empat.Sesampainya di rumah Pak RT, Pakde pun berbincang-bincang singkat dengan Pak RT, “Pak, soal kejaidan David pingsan di jalan jam tiga pagi masih belum menemukan jalan terang, David bilang bahwa Ia ditabrak sosok bewarna putih, lalu Ibu yang melihat David pertama kali juga mengatakan hal serupa bahwa Ibu itu melihat sosok putih.” Lalu Pak RT menjawab, “Saya juga sudah bertanya kepada dua warga yang memasang kamera disekitar kawasan itu, kamera Pak Hardi mati saat terlihat David masih berjalan, sedangkan kamera yang satu ternyata pada saat kejadian juga mati, jadi tidak ada rekaman jelas soal kejadian ini.”Setelah Pak Rt dan Pakde mencoba mencari jalan keluar Romli datang dan berkata, “Pakde semua orang yang keluar disekitar jam setengah empat pagi hanya ada lima warga dan mereka semua melihat sosok bewarna putih berjalan cepat serta bau melati di sekitar area pemakaman.” Area pemakaman kampung memang dekat dengan gang kedua jalan masuk ke area kampung selain itu saat pukul sepuluh malam sampai pukul lima pagi memang jalan untuk mengkases kampung hanyalah gang dua. Setelah mendengar perkataan Romli Pak RT mengumpulkan semua petugas kemanan kampung dan orang muda kampung.Rapat dimulai sekitar jam dua siang dan pada saat rapat dimulai salah satu petugas kemanan kampung berkata, “Soal sosok putih sudah banyak warga melihatnya, bahkan dari kemarin awal bulan, semua warga yang keluar di jam setengah empat pagi selalu melihatnya.”Lalu dipertengahan rapat anak Pak Hardi datang dan berkata, “Pak RT rekaman semalam sudah pulih dan dapat dilihat tapi gambarnya agak buram di kisaran jam setengah tiga pagi sampai setengah empat pagi.” Lalu Pak RT melihat rekaman itu bersama Pakde, sosok yang menabrak David tidak terlihat jelas tapi sosok itu bewarna putih. Pakde lalu melihat Romli dan bertanya kepada Romli, “Apa saja yang kau lihat sesaat sebelum kau kabur karena takut Romli?” Lalu Romli menjawab, “Sosok putih, wajahnya ada luka Pakde.”Pakde lalu seperti ingat sesuatu dan berkata kepada semua petugas kemanan kampung, “Bukankah pernah ada laporan sebanyak sepuluh warga melihat sosok putih?” Petugas keamanan kampung saling melihat sambil mengingat-ingat, untungnya ada salah satu petugas keamanan yang membawa buku yang berisi laporan-laporan warga. “Betul Pakde ada setidaknya sepuluh laporan bulan kemarin dan hari ini terdapat sebanyak dua puluh kali laporan mengatakan bahwa melihat sosok itu disekitar jam setengah empat,” kata salah satu petugas keamanan kampungTiga puluh menit rapat belangsung ada empat warga datang ke rumah Pak RT dan berkata bahwa, “Pak RT petugas penjaga pemakaman kampung ternyata tidak sadarkan diri!” Semuanya kaget dan Pakde bertanya ke empat warga itu, “Sudah kalian bawa ke rumah sakit?” Empat warga itu terdiam sejenak dan menjawab, “Sudah Pakde tapi sepertinya Penjaga pemakaman itu sudah tidak sadarkan diri dari berjam-jam lalu, karena memang tadi pagi area pemakaman tidak ada yang membersihkan dan penjaga itu ditemukan di area belakang pemakaman dengan dahan pohon diatas badannya.”Semua orang yang mendengar itu terkejut lalu Pak RT memerintahkan penjaga kompleks kampung untuk tetap berada disini sedangkan lima pemuda kampung dan Pakde ikut Pak RT ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit Pak RT menemui keluarga dari penjaga pemakaman yang sudah ada di rumah sakit, pemuda kampung itu lalu disuruh Pak RT untuk membantu mengurus data-data yang diperlukan rumah sakit.“Bapak sudah sadar,” Tanya Pak RT kepada keluarga. Lalu anak dari penjaga pemakaman menjawab, “Belum sadar, tapi kata dokter kondisinya baik-baik saja, tapi ditemukan lebam di wajah.” Lalu Pakde berbicara kepada Pak RT, “Bu Sri yang menemukan David pertama kali juga bilang kepada Romli bahwa kepala David terdapat lebam.” Pak RT yang mendengar itu masih kebingungan dan tidak lama kemudian dokter memanggil keluarga dan mengatakan bahwa sudah sadar.Penjaga pemakaman yang masih belum kuat itu lalu mengumpulkan kekuatannya dan berkata, “Sosok putih itu sepertinya adalah sosok yang tidak tenang, tadi pagi itu saat sosok itu menabrak saya dan David, sosok itu ternyata menunjukan detik terakhirnya.”Untungnya penjaga pemakaman itu juga memiliki kemampuan khusus sehingga Ia sudah tau apa yang dilakukan sosok itu. Sosok itu memang masih belum bisa dimengerti oleh Pak RT dan Pakde. Penjaga pemakaman itu lalu berkata, “Tubuh dari sosok itu adalah korban tabrak lari yang disengaja dan sosok itu tidak dimakamkan dengan benar dan baik, sehingga sosok itu selalu mempraktekan bagaimana detik-detik terakhirnya setiap hari Selasa dimana itu juga hari sosok itu meninggal dan jam tiga sampai setengah empat adalah jam dimana sosok itu ditabrak, sosok itu ditabrak di sekitar lahan kosong yang dimana digunakan sebagai ladang pohon pisang.”Pulang dari Rumah sakit Pakde dan Pak RT pun mengintruksikan untuk mencari tubuh dari Sosok itu di sekiar lahan pohon pisang pada keesokan harinya. Keesokan harinya para Pemuda kampung dan petugas yang biasanya membantu penjaga pemakaman juga ikut membantu mencari. Kira-kira satu jam menggali ditemukan Tubuh dari sosok itu, polisi yang ada disekitar kampung itu datang dan mengambilnya lalu dilakukan otopsi, segera setelah itu Tubuh itu dimakamkan dengan baik dan penyelidikan dilakukan. Butuh waktu sekitar tiga bulan barulah polisi menemukan siapa pelaku dibalik semuanya ini, pelaku itu dihukum lima tahun penjara, dan sosok itu tidak pernah menggangu kampung itu lagi.

Namamu Adalah Kematianmu
Horror
25 Nov 2025

Namamu Adalah Kematianmu

Banyak orang bilang masa SMA adalah masa paling menyenangkan, tapi bagiku masa SMA adalah masa paling menyakitkan, menyedihkan, menyeramkan hanya itu yang terbayang di pikirku tentang masa SMA. Bahkan aku tidak ingin mengingat kembali masa masa itu.Panggil saja aku Rian, aku murid kelas 2 SMA, aku bersekolah di SMAN 123 Bandung. Ketika itu Pak Farhan masuk bersama dengan seseorang yang tampak asing.“Selamat pagi anak-anak” Sapa pak Farhan kepada semua murid “Pagi Pak” Teriakan seisi kelas menjawab salam dari pak Farhan “Hari ini kalian dapat teman baru, dia adalah pendatang di kota kita.. Namanya Rafli, hari ini adalah hari yang penting karena Rafli pertama kali masuk sekolah umum, sebelumnya dia Homeschooling dan hanya ikut ujian penyertaan saja.. Saya harap kalian akur dengannya ya, jadilah teman yang baik dan ajak Rafli berbaur, paham?” Ujar pak Farhan sambil memperkenalkan murid baru tersebut “Paham pak~!” Jawab murid paham atas penjelasan pak Farhan “Ayo jangan malu dan sapa teman teman barumu Rafli” Ucap pak Farhan kepada Rafli “Salam, namaku Rafli.. ” Setelah itu sekolah berjalan seperti biasanya sampai bel pulang berbunyiSepulang sekolah rencananya aku akan menyatakan cintaku kepada Lala teman masa kecilku, namun ternyata aku terlambat menyadari… Bencana yang akan mendatangi kami…“Lala, pulang sekolah nanti kau ada acara nggak?” Ucapku sambil berjalan menuju Lala “Hmm.. Pulang sekolah aku mau ke karaoke sama Indah, memangnya kenapa Rian?” Jawab Lala “Ada yang mau aku bicarakan denganmu sepulang sekolah nanti, di belakang gedung sekolah” Ujarku “Hmm.. Oke nanti aku akan kesana” Ujar LalaAku menunggu Lala di belakang gedung sekolah sesuai janji, tak lama Lala pun datang “Jadi apa yang mau Rian bicarain?” Tanya Lala “Um.. La, sebenernya aku..- ” Aku pun mulai mengungkapkan perasaanku kepada Lala namun “Eh tunggu-tunggu, suasana kayak gini… Jangan jangan kamu mau nembak aku ya Rian..?” Lala tiba tiba memotong ucapanku dan menebak maksud aku mengajaknya ke sini “…” Aku terdiam karena Lala menebak dengan tepat“Ahaha… Kamu gak beneran mau nembak aku kan? Kok diem aja.. Eh.. Jangan-jangan kamu beneran mau nembak aku? Aduuh~ maaf ya Rian aku gak maksud…” Ujar Lala ketika mulai menyadari situasi yang menjadi canggung“TOLOOONG!!” Terdengar suara teriakan dari atas gedung sekolah Seketika aku dan Lala menoleh ke atas, disana terlihat sosok Indah yang mati tergantung di atap gedung sekolah. Seketika Lala pingsan karena syok, saat itu juga aku melihat satu sosok lagi yang agak asing bagiku, dia memasang wajah tersenyum dan seketika itu aku pun pingsan karena syok.Aku terbangun di sebuah kamar, dikelilingi oleh Agung, pak Farhan, polisi, dan beberapa suster. Setelah aku merasa lebih baik, polisipun mulai menanyakan kronologi atas kematian temanku yang bernama Indah, lalu aku menjelaskan semua yang kutahu. Polisipun menanyakan hal yang sama kepada Lala yang sudah siuman sejak tadi, namun kesaksianku dan Lala masih kurang untuk polisi bisa menindaklanjuti peristiwa ini.Keesokan harinya Polisi mulai melihat CCTV yang terpasang di atap gedung sekolah, sesuai dengan kesaksianku disitu terlihat ada satu sosok lagi yang menghampiri Indah untuk membantu Indah.Pada hari itu Lala tidak masuk sekolah karena masih syok, sepulang sekolah aku, pak Farhan, Agung, dan Rafli, mampir ke rumah Lala sekalian menanyakan keadaannyaKetika kami sampai di rumah Lala, Lala keluar dan mempersilakan kami masuk ke rumahnya, Lala tampak ceria seperti biasanya. Tiba tiba Rafli minta izin untuk menggunakan toilet di rumah Lala, Lala ikut pergi ke dapur untuk menyajikan makanan untuk kami, tapi tiba tiba

Pesanan
Horror
25 Nov 2025

Pesanan

Sekarang pukul 1 malam. Aku terbangun dan tidak bisa tidur kembali. Suara ketukan dari arah jendela sedari tadi terdengar seram. Disusul desiran angin malam yang berhembus, membuat bulu kudukku berdiri. Ini sudah yang ke sekian kalinya kami dihantui begini. Tak henti-hentinya mulutku melantunkan ayat kursi. Aku harap, Mama cepat pulang.Perkenalkan, namaku Ulfah. Aku tinggal di perumahan Melati bagian Timur. Perumahan yang aku tinggali terbilang sudah lama sekali. Banyak kejadian janggal yang menimpa keluargaku. Mulai dari suara-suara aneh, hawa tidak enak, sampai penampakannya sendiri, kami sudah melihatnya berulang kali. Berjalan bolak-balik di dalam rumah sendiri saja rasanya terkadang masih takut.. Konon katanya, rumahku itu dulu banyak mengalami kasus mengerikan.Hingga suatu hari, aku meminta Mama untuk segera pindah rumah karena sudah tidak tahan lagi dengan berbagai gangguan mereka. Mama pun setuju. Kami pindah keesokan harinya sekitar 2 km lebih jauh dari rumah lama.“Rumah lama itu kita kontrakan saja ya, ” Ujar Mama. Aku hanya menjawab ‘hem’, tidak peduli. Kini urusan rumah lama itu biar Mama saja, yang penting kami sudah pindah dari rumah berhantu itu.Sebulan kemudian, rumah itu ada orang yang mengontrak disana. Belum sampai 3 bulan, Orang itu buru-buru ingin pindah kontrakan. Katanya sih, ia ingin mencari kontrakan yang lebih dekat dengan kantor kerjanya. Tapi gaya bicaranya tergagap-gagap seolah ketakutan karena sesuatu. Apa itu karena ia juga diganggu? Kami tidak bertanya lebih lanjut kepadanya.Rumah lama kamipun akhirnya hanya menjadi sebuah rumah kosong terbengkalai. Kukira dengan kami pindah rumah adalah cara yang aman, namun ternyata hal aneh masih menimpa kami.Pada suatu malam, sekitar pukul setengah 11, Aku bersiap untuk tidur karena badanku sudah sangat pegal setelah seharian mengikuti acara sekolah. Tiba-tiba ada yang meneleponku. Seorang bapak-bapak driver makanan.“Halo, selamat malam. Ini atas nama Ulfah?” “Iya pak benar. Ini siapa ya?” “Lho kok siapa, Mbak Ulfah memesan makanan kan? Rumahnya kok kosong gini mbak. Mbaknya mau ngerjain saya?” Driver itu kebingungan, begitupun aku yang matanya sudah tinggal 5 watt. “Saya gak mesen apa apa kok pak!” Jawabku. Bapak driver itu malah marah-marah, lalu memberikan lokasi rumah yang dimaksud. Mataku yang awalnya sayu mendadak terbelalak menatap layar handphone. Lokasi yang dituju adalah rumah lamaku. Kenapa bisa menyambung kesini?Akhirnya, demi membantu si bapak driver, akupun memberikan lokasi rumahku yang sekarang. Saat datang, ternyata itu sudah dibayar dan isinya sebungkus nasi padang. Mama yang melihat kejadian itu, tertawa. “Makanya kalau ngantuk berat jangan main hp. Kepencet kan tuh jadinya,” Ledek Mama. Aku mengerutkan alis. Betul juga. Mungkin karena tidak sengaja terpencet.Aku tidak tahu harus senang, bingung atau takut. Namun itu terjadi berulang-ulang kali dan selalu bertujuan pada rumah lamaku itu. Berbagai tukang antar meneleponku. Aku kaget, tidak memesan apapun, tukang antar marah-marah, lantas aku memberikan lokasi sekarang. Begitu terus kejadiannya selama 3 bulan pindah rumah. Aku semakin yakin itu bukan karena terpencet. Melainkan memang ada seseorang yang iseng atau malah ‘hantu’? Aku tidak tahu sampai kini. Hingga pada suatu hari, datang sebuah paket dari aplikasi yang bahkan aku tidak memilikinya. Isi paket itu kecil sekali. Ketika kami membukanya, hanyalah sepasang tali sepatu berwarna pink cerah.Kami sekeluarga tertawa. Kejadian ini sudah sering sekali, jadi kami tidak lagi merasa takut. Akhirnya kami pindah ke Malaysia karena Mama ada urusan pekerjaan. Pesanan-pesanan misterius itu pun kini sudah tidak mengikuti kami lagi.

Pocong Jembatan Kedung Kulon
Horror
25 Nov 2025

Pocong Jembatan Kedung Kulon

Langit tampak cerah, sang Dewi Malam mulai menampakan sinarnya dengan malu-malu dari ufuk barat. Sore itu Tony dan Romy berencana untuk pergi menonton sebuah grub band terkenal yang konser di daerahnya.“Yakin kita mau berduaan nih?” tanya Tony, tampak keraguan di wajahnya. “Iya, Bejo sama Warno nggak jadi ikut,” jawab Romy, suaranya jelas menunjukan kekesalan. “Udah lah, kita nonton aja, peduli apa dengan hantu Nina yang menghuni jembatan gedung kulon itu?” lanjutnya setengah memaksa. Tony berfikir sejenak, terlihat ia sangat bingung untuk menerima ajakan Romy. Bayangan hantu Nina, terus mengganggu fikirannya.Nina, merupakan seorang gadis yang meninggal belum lama ini. Ia meninggal dengan cara yang tidak wajar, jenazahnya ditemukan tanpa busana di pinggir sungai Gedung Kulon, sebuah sungai besar yang airnya mengalir deras di sebelah barat desa Gedung Kulon. Dari jenazahnya, jelas Nina meninggal karena diperkosa secara brutal. Jenazahnya ditemukan sudah membusuk dan diperkirakan sudah meninggal selama tiga atau lima hari.Setelah ditemukannya jenazah Nina, warga desa sangat gempar, karena kabarnya Nina gentayangan, arwahnya sering mengetuk-mengetuk rumah warga saat tengah malam. Selain itu, kabarnya setiap warga yang melintas di jembatan Gedung Kulon tengah malam, juga akan bertemu hantu Nina. Hantu itu menyetop setiap pengendara motor yang melintas tengah malam di jembatan itu. Sudah banyak warga yang bertemu dengan hantu Nina, bahkan ayah Tony sendiri.Hal itulah yang membuat Tony merasa ketakutan untuk pergi nonton konser dengan Romy. Ia tahu, nonton konser pasti sampai tengah malam dan Ia takut pulangnya akan bertemu hantu Nina di jembatan Gedung Kulon.“Udahlah, ayo kita berangkat, mumpung nggak hujan juga, lagian kapan lagi kita melihat artis ibukota secara langsung?” ujar Romy terus mengajak Tony.Karena Romy terus-terusan memaksa, akhirnya Tony menerima ajakannya juga. Motor melaju dengan kecepatan sedang, jalanan yang berbatu membuat Romy tak bisa melaju motornya dengan kecepatan tinggi, meskipun hatinya tak sabar untuk segera sampai di lokasi konser.Motor terus melaju ke arah barat, keluar desa dan semakin mendekati jembatan Gedung Kulon. Suasana semakin sepi, bokhlam 5 watt penerangan jalan yang sesekali mereka lewati justru membuat suasana semakin temaram, dan menambah keseraman menurut Tony.Akhirnya mereka tiba di jembatan Gedung Kulon. Tony bersukur karena tak ada apapun di sana. “Nggak ada apa-apa kan? Mana hantu Nina? Dia mah nggak berani menampakan diri di hadapan gue! Kalo berani biar gue cium!” ujar Romy tiba-tiba, disusul suara tawanya. Sontak ucapan itu membuat Tony kesal, karena Romy ngomongnya tepat di atas jembatan.Setelah hampir satu jam mengendara, akhirnya mereka tiba di lokasi konser. Romy sedikit kesal karena ternyata konser sudah dimulai. Ia dan Tony berdesakan dengan orang-orang yang memenuhi lapangan. Tiba-tiba, Wajah Tony memucat seketika ketika melihat seorang wanita di hadapannya, diantara kerumunan ratusan orang, jelas Tony melihat Nina disana. Ia berjarak tak kurang dari 2 meter di hadapan Tony, tersenyum kepada Tony, dengan wajahnya yang sangat pucat.Tony mencoba untuk menghilangkan perasaan takutnya, Ia berbaur dengan orang-orang yang berjoget menikmati musik reggae yang dibawakan artis ibu kota.Konser telah selesai, Tony dan Romy bersiap untuk pulang. Kembali rasa takut mengganggu perasaan Tony, bayangan wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Nina kembali terbayang, seolah melekat di pelupuk matanya.Dengan kecepatan tinggi Romy melaju motornya, akan tetapi saat memasuki daerah pedesaan motor sudah tidak dapat melaju cepat, karena jalanan aspalnya yang sudah rusak dan berbatu. Motor terus melaju, semakin mendekati jembatan Gedung Kulon. Refleks Tony mengusap pergelangan tangannya, saat merasakan ada tetesan air yang jatuh ke tangannya. Ia menengadahkan wajahnya ke atas, untuk melihat apakah langit mendung?. Saat Ia melihat ke atas, sekelebat Ia melihat ada benda berwarna putih yang terbang, hanya sesaat Ia melihatnya, hanya dalam hitungan detik.Pulangnya memang Tony tak banyak terlibat pembicaraan dengan Romy, selain lelah dan mengantuk, Tony juga merasakan, suasana sangat mencekam. “Hyhyhyhyhy.” Sedari tadi Tony mendengar suara itu, tapi awalnya tak terlalu jelas, sehingga Tony masih berfikir itu suara binatang malam. Tapi diantara suara deru mesin motor, Tony mencoba fokus mendengarkan, itu suara apa, dan Tony mulai yakin bahwa suara itu suara orang merintih.Tony masih belum berani menyampaikan apa yang didengarnya kepada Romy, dan Ia benar-benar tersentak kaget bahkan hampir jatuh dari motor saat tiba-tiba Romy mengerem motornya sangat mendadak.“Allah huakbar! Ada apa, Ro?” tanya Tony. Rony hanya diam, saat itu mereka hanya sekitar jarak 10 meter dari jembatan Gedung Kulon. Romy diam, tak menjawab pertanyaan Tony, akan tetapi tangannya menunjuk kedepan. Ternyata di sana, diatas jembatan, berdiri sosok pocong yang meskipun didalam kegelapan, jelas Mereka dapat melihat wajah pocong itu yang merupakan wajah Nina.“Yaa Allah Pocong, Rom!” seru Tony dengan suara gemetar. “Iya gue juga tau itu pocong, siapa bilang itu bencong?” jawab Romy dengan suara yang juga gemetar. “Kita puter balik, Rom, kita ke rumah Dewi aja, kita nginep di sana!” Romy setengah dongkol mendengar saran Tony, dalam suasana kaya gini, dia masih berfikir buat nginep di rumah cewek.Meskipun demikian, Romy memutar motornya ke arah barat, dan melajunya dengan kencang meskipun jalanan berbatu. Ia memutuskan untuk pergi ke rumah Dimas, kawan mereka di desa sebelah. Beruntung Dimas belum tidur karena dia juga baru pulang nonton konser.TAMAT

Mitos Jam Lima Sore
Horror
25 Nov 2025

Mitos Jam Lima Sore

Siang menjelang sore itu udara sangat panas. Aku mengipaskan buku tulisku karena kegerahan. Teman temanku yang lain malas malas tiduran di kelas. Guru sejarah tidak masuk kelas siang ini karena ada kepentingan. Kami disuruh mengerjakan soal di buku paket. Tentu saja hanya siswa rajin dengan otak encer yang mengerjakan soal itu dengan senang hati. Aku malas malasan, masih ada hari esok dan masih ada teman teman yang bisa kumintai contekan‍. Jangan kalian tiru kebiasaanku ini. Aku hanya malas, tapi otakku jika kugunakan sepenuhnya aku bisa menjadi juara satu di sekolah. Aku membenamkan wajahku di meja. Aku tertidur.Sepi.. hening… Aku membuka mataku, mengerjapkan mataku. Melihat sekeliling. Sudah sepi. Hanya aku sendirian di kelas. Aku ditinggal pulang. Sialan!. Aku melihat ke jendela, matahari segera terbenam. Jam menunjukkan pukul 5 sore lebih satu menit saja. Aku segera memberesi buku sambil merutuki teman temanku yang dengan tega tidak membangunkanku saat bel pulang. Akan aku balas perbuatan mereka besok!. Dengan keadaan yang sepi dan sunyi seperti ini, kelasku terlihat sedikit menyeramkan. Aku segera bangkit untuk langsung pergi.Tiba tiba… “Brakkk!!!” Aku dikagetkan dengan pintu kelas yang tadinya terbuka lebar, tiba tiba menutup sendiri. Aku mengatur degub jantungku. Tiba tiba udara disekitarku menjadi dingin, bulu kudukku berdiri semua. Aku berlari ke arah pintu. Mencoba membukanya.“Tolong!!!!! Buka pintu ini!!! Tolong!!!” Ucapku sambil berteriak histeris. Aku takut. Berkali kali mencoba membukanya. Namun pintu tidak terbuka sedikitpun, seperti dikunci. Aku sangat ketakutan. Suasana menjadi menyeramkan. “Sreettt… sreetttt…” aku berhenti berteriak dan mendobrak pintu saat suara itu terdengar. Itu suara kursi guru yang bergerak sendiri seperti ada yang menyeretnya. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kursi itu seperti ada yang menyeretnya. Dan sialnya arahnya menuju aku. Aku kembali berteriak histeris dan memukul mukul pintu berusaha keluar. Kursi itu semakin dekat padaku. Aku menangis ketakutan. Untuk ukuran cowok SMA menangis adalah sebuah hal memalukan. Tapi itu refleks karena aku sangat ketakutan dengan apa yang aku hadapi sekarang.“Sreet.. sreett…” suara itu membuatku berteriak histeris. Aku membaca doa doa yang aku hafal, entah doa itu benar atau tidak. Kursi itu terangkat perlahan, semakin tinggi dan semakin tinggi. Tidak terlihat sosok yang mengangkat kursi itu. Namun hal itu adalah hal mengerikan yang pernah aku lihat. Saat kursi itu semakin tinggi. Tiba tiba saja gagang pintu bisa berfungsi kembali. Aku dengan kecepatan kilat segera keluar dan menutup pintu itu segera. Aku berlari sekuat tenaga.“Braakkkkkk!!!!!” Terdengar bunyi yang amat keras dari kelasku. Sepertinya kursi itu dilemparkan menuju pintu. Aku segera berlari menuju parkiran. Tanpa melihat kanan kiri. Untungnya di parkiran masih ada beberapa anak pramuka yang telah selesai ekskul. Aku sedikit tenang. Anak anak itu menatapku keheranan yang berlari dengan wajah ketakutan serta rambut berantakan.“Kenapa bang?” Tanya salah satu anak pramuka itu menghampiriku. Sepertinya dia anak kelas 10. Aku dengan nafas yang masih naik turun segera menggelengkan kepala. Lalu memasukkan kunci motor dan segera pergi. Anak itu keheranan melihat tingkahku. Aku sempat melihat ruang kelasku yang berada di lantai dua. Ada sosok disana. Melihatku memacu motor. Sosok itu tersenyum amat menyeramkan, tanpa sedetikpun memalingkan pandangannya padaku. Aku segera pulang. Aku sangat ketakutan.Sesampainya di rumah, aku segera menelepon Yeremia, teman sebangkuku. Aku mencaci maki dirinya. Aku memarahinya yang tidak membangunkanku. Aku menyumpahi dirinya. Mengatakan semua kata caci maki. Dan dia hanya tertawa menanggapinya. “Memangnya ada apa?” Ucapnya menanggapi semua cacian dariku dengan santai. Aku berteriak, menceritakan semua yang aku alami tadi padanya. Tanpa sedikitpun yang aku lewatkan. Saat di ujung ceritaku, dia terdiam. Dan mengatakan hal yang sama sekali aku tidak tahu apa maksudnya.“Ternyata benar mitos jam lima sore di kelas itu..” ucap Yeremia. Aku tidak mengerti apa maksudnya, tapi yang pasti aku akan mengamuk padanya jika besok aku bertemu dengannya!.Tamat

Rumah Baru
Horror
25 Nov 2025

Rumah Baru

Izinkan aku bercerita mengenai pengalamanku saat pindah ke rumahku yang baru. Namaku Alfian. Umur 16 tahun. Akan masuk Sekolah Menengah Atas tahun ini.Selepas kepergian Papa bulan lalu, Mama mengajak kami pindah ke rumah baru yang ada di luar kota. Kebetulan mama ditugaskan mengajar di luar kota, jadi mau tidak mau kami sekalian pindah rumah. Mama memanfaatkan uang peninggalan dari kantor lama Papa untuk membeli rumah baru kami ini. Singkat kata, hari itu kami memindahkan semua barang barang yang ada di rumah lama ke rumah yang baru.Rumah baru kami memiliki dua lantai. Lebih sederhana dan minimalis daripada rumah yang lama. Aku yang pada dasarnya memiliki indera yang lebih sensitif daripada orang pada umumnya, merasakan ada energi yang aneh di rumah itu. Mamaku dan adikku terlihat biasa saja, malah mereka terlihat senang melihat lihat fasilitas yang ada. Apalagi mama terlihat puas karena harga rumah ini lebih miring untuk ukuran rumah sebesar dan sebagus ini dan dengan fasilitas yang bagus. Aku saat pertama kali memasuki rumah itu, bulu kudukku berdiri semua. Padahal hari itu masih siang. Aku langsung merasakan kehadiran ‘mereka’, meskipun aku tidak bisa melihat ‘mereka’. Aku segera membaca doa doa, saat suasana normal kembali aku segera membereskan barang barangku ke kamarku yang baru.Aku yakin sosok yang tidak terlihat di rumah ini sangat banyak sekali. Aku mengusulkan pada mama supaya menggelar pengajian dalam rangka pindah rumah. Mama mengetujuinya dan besoknya kami mengundang para tetangga untuk mendoakan kami. Setelah pengajian itu selesai, suasana rumah menurutku menjadi hangat dan menjadi agak berbeda dari sebelumnya. Aku bersyukur akan itu.Hari hari berikutnya, aku mengalami berbagai gangguan dari ‘mereka’. Seperti saat aku akan tidur tiba tiba jendela kamar seperti ada yang mengetuknya. Berkali kali dan semakin lama semakin keras. Hal itu terjadi berhari hari lamanya. Namun aku sudah kebal dengan hal hal semacam itu. Mungkin mereka ingin mengajakku main atau sekedar iseng menjahiliku. Entah. Saat aku menonton televisi di ruang tengah yang berbatasan dengan kamar mandi, terdengar suara kran air yang menyala sendiri padahal sebelumnya tertutup dan saat itu hanya ada aku di rumah itu. Kejadian itu memang mengerikan dan membuat bulu kuduk berdiri. Namun, aku tak terlalu menghiraukannya selagi mereka tidak berniat jahat padaku. Tapi kejadian yang membuatku penasaran adalah saat mereka mengetuk jendela kamarku. Kejadian itu terus berlangsung tanpa seharipun reda. Karena penasaran, aku mencoba membuka jendela itu. Tidak ada apapun, aku kembali menutup jendela itu. Tiba tiba terdengar bunyi wanita menangis. Aku terkejut. Tubuhku merinding tak terkira. Jelas sekali itu bukan suara mama. Aku jatuh terduduk di ranjang. Suara itu terdengar kecil namun mampu membuat tubuh bergetar.“Mau apa kamu?!” Teriakku. Hening dan hanya ada suara gesekan dahan pohon di luar rumah. Sosok itu muncul, menampakkan diri di sebelah jendela. Menatap kosong diriku yang memeluk lutut karena ketakutan. Berkali kali aku melihat sosok yang menyeramkannya lebih dari ini. Namun melihat sosoknya tetap saja membuatku takut.“Apa yang kamu mau?!” Ucapku. Wajah pucatnya menatapku dalam dalam. Pakaiannya penuh bercak darah. Anggota tubuhnya normal, dan ada sedikit aliran darah yang mengering dari sudut kiri bibirnya.“Tolong aku..” suara itu bergema. Sangat mengerikan mendengarnya. “To.. tolong apa? Kamu mau apa??!” Ucapku takut takut melihat sosok dia. “Pindahkan makamku. Makamkan aku secara layak.” Ucapnya lalu merintih lalu tubuhnya perlahan jatuh. Sosok itu sepertinya sangat sedih.“Memangnya kamu siapa? Makam kamu dimana?” Tanya ku yang sedikit iba padanya. “Aku Sulastri. Pemilik rumah ini. Aku dibunuh suamiku. Dimakamkan di samping kamarmu ini. Tolong pindahkan makamku..” ucap sosok itu. Aku mencoba mencerna ucapannya. “Aku akan mencari cara untuk membantumu.. tapi aku mohon berhentilah mengetuk jendela kamarku. Aku ingin beristirahat dengan tenang tanpa ada gangguan dari makhluk seperti kamu..” ucapku. Sosok itu perlahan mengangguk lalu menghilang secara tiba tiba. Aku pun segera tidur. Amat lelah.Besoknya, hari sabtu aku gunakan untuk mencari tahu mengenai suami yang sosok itu katakan. Dia tidak mengatakan nama suaminya, hanya mengatakan Sulastri pemilik rumah ini. Aku bertanya pada mama. Mama mana tahu perihal privasi pemilik rumah ini sebelumnya. Aku pun menghubungi Pak Aryo, orang yang menjual rumah ini. Aku menemuinya di rumah dia yang baru. Pak Aryo mengatakan memang istrinya telah meninggal. Saat aku menanyakan apakah nama istrinya adalah Sulastri, ekspresi wajah Pak Aryo mendadak berubah.“Tahu darimana kamu?!” Ucapnya sedikit membentakku. Aku terkejut akan nada bicaranya yang mendadak berubah. Aku menelan ludah. “Maaf Pak, bukannya saya ingin menggurui bapak, tapi sebaiknya makam Bu Sulastri dipindahkan dan dimakamkan secara layak. Dia berpesan pada saya tadi malam.” Ucapku berterus terang. Wajah Pak Aryo mendadak merah padam. “Sulastri sialan! Sudah mati saja masih merepotkan!” Gerutu Pak Aryo, terlihat seperti marah sekali.“Ka.. kalau boleh tahu, dia meninggal karena apa Pak? Kenapa dimakamkan disamping kamar saya?” Tanyaku dengan sedikit gemetar melihatnya marah. “Kamu jangan macam macam! Ini urusan saya, ini urusan pribadi keluarga saya!. Kamu jangan ikut campur. Biarkan saja arwah dia menderita. Saya sudah muak dengan wanita sialan itu!” Ucap Pak Aryo menunjukku. “Tapi pak, kasihan dia. Apa tidak sebaiknya pindahkan saja makamnya?” Ucapku sehalus mungkin. “Sudah saya bilang! Kamu jangan ikut campur!. Biar saya yang menangani!!” Ucap Pak Aryo. Aku pun pamit pulang karena tak ada gunanya lagi berdebat dengannya.Malam harinya, hantu Sulastri masih menerorku dengan mengetuk jendela kamarku. Aku menutup kuping rapat rapat dengan bantal. Aku lelah mendengarkannya.Berhari hari kemudian, aku rasa tidak ada tindakan dari Pak Aryo. Dibuktikan dengan hantu Sulastri yang terus saja menerorku tiap malam. Aku pun meminta mama melapor ke polisi mengenai kejadian ini dan meminta polisi mengusut kasus ini jika benar ada jasad yang dimakamkan disamping kamarku.Saat polisi menyelidikinya, benar saja ada kerangka tubuh seseorang. Polisi dan ahli forensik segera menelitinya. Hasil mengejutkan segera terungkap. Ternyata kerangka ini adalah Sulastri. DNA nya sama. Setelah diautopsi, segera terungkap penyebab dia meninggal. Dia dipukul berkali kali di bagian punggung. Serta wajah. Satu satunya orang yang patut dicurigai adalah suaminya, yaitu Pak Aryo.Sesuai dengan cerita dari hantu Sulastri. Polisi segera menangkap Pak Aryo yang akan mencoba melarikan diri ke luar kota. Dan dia mendapatkan balasan atas apa yang telah dia lakukan. Kemudian, kerangka tubuh Sulastri dimakamkan di tempat pemakaman umum setempat. Aku lega, akhirnya kasus ini selesai. Dan hantu Sulastri tidak lagi menerorku dengan mengetuk jendela kamarku. Sekarang aku bisa istirahat dengan tenang.Tamat

Teh Mawar
Horror
25 Nov 2025

Teh Mawar

Aroma bunga mawar yang khas seketika menenangkan diriku. Sudah lama aku tidak pergi ke kebun mawar. Apalagi kebun mawar milik Nenek. Aku memang belum meminta izin kepada Nenek untuk memasuki kebun bunga mawarnya, tetapi aku tahu jika beliau akan mengizinkanku karena aku adalah cucu kesayangannya! Hehehe.Oh ya, aku lupa untuk memperkenalkan diri kepada kalian. Perkenalkan! Namaku Florin. Aku berumur 12 tahun, dan saat ini aku sedang menduduki bangku Sd kelas 6. Aku telah menjalani ujian kenaikan kelas, dan di hari ini aku akan berlibur sepuasnya selama 2 minggu. Itulah mengapa keluargaku mengajakku untuk pergi ke rumah Nenek.Sudah lama aku tidak pergi ke rumah Nenek. Seingatku, sudah 4 tahun yang lalu sejak terakhir kali aku pergi ke rumah Nenekku. Sesekali, mamaku memulai panggilan dengan ibunya. Namun, karena beliau tidak terlalu paham dengan teknologi, alhasil Nenek sering dibantu oleh adik mama untuk menelepon kami. Sayangnya, akhir-akhir ini tanteku jarang menemani Nenek, alhasil kami pun jarang berjumpa dengan beliau.Tetapi, hal itu tidak perlu dikhawatirkan, karena saat ini aku sudah berada di desa Airadem, desa dimana Nenek tinggal. Papa memperbolehkanku untuk bermain sebentar di kebun mawar milik Nenek. Biasanya, ketika aku bersama nenek di kebunnya, aku diperbolehkan untuk memetik beberapa mawar yang aku suka. Tapi, karena nenek tidak ada di sini, aku mengurung niatku untuk mengambilnya. Aku hanya melihat-lihat saja, karena hari pun sudah sangat sore.“Florinn, ayo ke dapur sebentar, bantuin mama masak ayam goreng yuk!” Waduh, mama memanggilku. Aku harus cepat-cepat pergi dari sini, dan membantu mama untuk memasak ayam goreng. Kemungkinan besar, ayam goreng tersebut akan disajikan untukku. Siapa lagi kalau bukan Florin yang merupakan seorang gadis yang paling menyukai ayam goreng di desa ini? Hahaha.Selesai meniriskan ayam gorengku, aku pun berpikir untuk membuat sambal sebagai pelengkap makan malamku nanti. Kebetulan, tanteku baru saja pulang berbelanja dari pasar. Dan aku yakin jika ia membeli beberapa cabai dan bawang putih, karena sebelumnya, mamaku menitipkan uangnya untuk membeli cabai dan bawang.Karena saat itu tante sedang berada di ruang keluarga, aku perlu beranjak dari dapur untuk menemui tante. Tidak lupa untuk menutup ayam goreng yang baru saja kuangkat dengan tutup panci, agar tidak ada satupun lalat atau serangga yang akan mengotori ayamku. Hehehe, maafkan aku tetapi aku hanya khawatir, karena di rumah Nenek banyak serangga yang sedikit menyeramkan bagiku!Aku pun berjalan dari dapur menuju ke arah ruang keluarga. Aku hanya berjalan pelan-pelan saja, karena aku tahu daerah rumah Nenek hawanya sangatlah segar. Tidak heran, karena desa Airadem merupakan desa yang berada di kaki gunung.Saking terlalu menikmati udara sekitar, aku tidak sadar jika aku berada tepat di depan pintu belakang. Pintu tersebut mengarah tepat di mana kebun mawar milik Nenek berada. Tetapi, aku merasakan suatu keanehan. Biasanya, setiap hari aku dapat mencium aroma bunga mawar ketika aku berada di dekat kebun nenek. Namun, sekarang aku tidak dapat mencium aroma apapun. Aku hanya dapat merasakan hawa dingin yang membuatku merinding.“Florin… Kamu mau kemana ndhuk?” Eh, suara Nenek? Aku pun menoleh ke belakang dan menemukan nenek tengah duduk di tikar yang biasanya aku tempati. “Wah, Nenek di sini pasti lagi ngelihatin kebun mawar punyanya Nenek!” Ucapku sembari menuju ke tikar untuk ikut duduk bersamanya.Nenek terlihat sedang mengaduk-aduk minuman panas yang ada di dalam sebuah cangkir kecil. Di situlah aku mulai mencium harum bunga mawar yang khas. Namun, harumnya sudah tercampur dengan aroma lain, tetapi aku tidak dapat mengenali harum yang asing tersebut. Karena penasaran, aku pun menanyakan hal tersebut kepada Nenek. “Nenek lagi bikin apa? Kok baunya mirip mawar tapi bukan mawar banget?” Tanyaku dengan penuh keheranan. Nenek hanya tersenyum. Ia pun lanjut mengaduk-aduk, kemudian ia meniupnya sedikit demi sedikit. “Nenek lagi bikin teh mawar, Nenek sering bikin ini sejak nenek masih muda dulu…” Jawabnya dengan suara yang lemah. Aku tidak pernah melihat Nenek meminum teh yang terbuat dari mawar. Apa Nenek memang jarang meminum teh itu, atau hanya aku saja yang 4 tahun terakhir tidak pernah menemui Nenek? Udah deh, pertanyaan tersebut tidak terlalu penting sekarang, karena saat ini aku sudah bersama dengan Nenekku yang tersayang.“Nenek di sini sendirian? Nggak ikut mama sama tante di ruang keluarga kah? Apalagi di luar kan dingin Nek.” Tanyaku. Lagi-lagi, Nenek hanya tersenyum kecil. Beliau tidak menjawab pertanyaanku, dan malah menyodorkanku cangkir yang berisi teh mawar yang Nenek aduk tadi. “Coba aja dulu, teh mawarnya nenek enak lho.” Tawarnya.Karena aku adalah anak yang baik, aku pun menerimanya dengan senang hati. Aku tidak pernah menncoba teh yang memiliki rasa bunga di dalamnya, apalagi terdapat aroma bunga mawar yang Nenekku sukai. Karena teh tersebut baru saja diseduh, pasti akan terasa lebih nikmat, apalagi diminum di saat malam hari yang memiliki hawa dingin. Yah, meskipun teh lebih sering diminum di pagi hari untuk menemani sarapan, tetapi aku tidak tahu menahu jika teh mawar buatan Nenek memiliki manfaat dan kegunaan yang berbeda.Kuseruput teh tersebut, dan rasa yang kudapatkan sangatlah tidak terduga. Rasa pahit dan manis bercampur menjadi satu. Dan anehnya lagi, rasa manis tersebut tidak berasal dari gula, namun dari madu murni yang harganya saat ini menjulang tinggi. Teh ini dapat dinikmati kapanpun dan dimana pun. Tidak kusangka teh mawar buatan Nenek ini seketika menjadi yang paling kusuka!Eh, tapi aku merasakan hal yang ganjil. Sebelumnya, aku mendapati teh ini memiliki uap panas. Dan hal tersebut mengartikan jika teh ini memiliki suhu yang panas. Namun, mengapa ‘panas’ yang kumaksud tidak berada di dalam teh ini? Bagaimana mungkin teh yang tadinya hangat langsung berubah menjadi dingin?“Gimana ndhuk? Enak kan tehnya?” Di tengah-tengah aku sedang berpikir keras, Nenek mendadak menanyakan rasa teh buatannya. Memang enak sih, tapi perubahan suhu yang drastis tadi membuatku merasa ada seseuatu yang ganjil “Tehnya Nenek memang enak! Tapi kok rasanya dingin yah, padahal kan teh lebih enak diminum pas panas.” Heranku. Dan lagi-lagi, Nenek tidak menjawab. Ia malah lanjut membuat teh mawar yang lain untuk dirinya sendiri. Nenek juga menambahkan taburan beberapa kelopak mawar yang telah dikeringkan. Sepertinya hal itu dilakukan olehnya untuk menambahkan cita rasa yang khas ke teh tersebut.“Biasanya mamamu dan tantemu sering membantu nenek membuat teh mawar ini. Bahkan hampir beberapa bunga mawar di kebun habis dipetik sama mereka.” Jelasnya panjang. “Kamu tahu kan bekas luka di pahanya mamamu? Dia dulu pernah bikin teh mawar sama nenek, dan tiba-tiba mamamu ketumpahan air panas. Saking semangatnya anak itu lupa cara berhati-hati.” “Cara bikin teh mawar emang mudah, tapi nggak semua orang tahu ndhuk.” Lanjut Nenek.Aku terheran-heran kepada Nenek yang tiba-tiba saja menceritakan hal tersebut. Apalagi pertanyaanku yang sebelumnya belum Nenek jawab. Apa ia berusaha untuk mengalihkan pembicaraan?Tiba-tiba, Nenek mengambil tanganku dan memberiku sebuah kertas kecil. Tangannya dingin, sangat dingin. Entah mengapa aku membayangkan tangan Nenek sebagai sebuah besi yang terkena suhu dingin di malam hari. “Nenek pingin kamu nyimpen resep teh mawarnya ya… Nenek sudah percaya sama kamu daripada yang lain…” Pesannya sambil tersenyum Aku melihatnya. Senyum terhangat yang pernah aku lihat. Senyuman yang akan aku rindukan selamanya. Kini, berada tepat di depanku. Senyuman itu terpasang di wajah Nenek yang sudah bekeriput. Namun, keindahannya tetap berada di senyuman itu hingga aku tidak bisa berpaling darinya.“Florinnn!” Eh, tante memanggilku. Aku harus beranjak dari sini, tapi Nenek tetap saja memegang tanganku. Sepertinya beliau ingin mengatakan sesuatu kepadaku. “Tolong ya ndhuk, jangan sampai resep teh mawarnya hilang…” Aku pun mengangguk, dan pergi ke arah pintu belakang. Tetapi, aku mengkhawatirkan kondisi Nenek. Kan di luar rumah udaranya sangat dingin di malam hari. Apalagi letak rumah Nenek berada di kaki gunung. Aku pun kembali ke Nenek untuk mengajaknya masuk ke dalam.“Nek, ayo ikut ke dalam, di luar dingin lho.” Ajakku kepada Nenek. Sayangnya, Nenek hanya menggelengkan kepalanya sebagai respon dari ajakanku. Ia menoleh ke kebun mawarnya, dan seketika aku pun paham apa maksudnya. Nenek ingin memandangi kebun mawarnya disertai teh mawar buatannya itu. Aku pun berpamitan kepadanya, lalu pergi ke dalam rumah untuk menemui tanteku yang sebelumnya memanggilku.Aku mencari dimana tanteku berada, tetapi aku tidak dapat menemukannya. “Kamu habis darimana sih ndhuk, tante sudah bawain cabe sama bawangnya lho.” Aku terkejut, seketika aku menghadap ke belakang, dan menemukan tante tengah membawa sebuah plastik hitam. Sepertinya, plastik tersebut berisi cabai dan bawang yang sudah mama pesan sebelumnya. “Hehe, maaf te, tadi sempet ngobrol sama Nenek. Yaudah yuk te, bikin sambelnya aja sekarang.” Ajakku menuju ke dapur. Aku melangkahkan kakiku menuju arah dapur. Tetapi, aku tidak dapat mendengar suara langkah kaki yang ada di belakangku. Apa tante hanya diam saja dan tidak mengikutiku? Wah, perasaanku benar ternyata. Tante terdiam mematung setelah aku mengucapkan hal yang wajar. Yaitu bertemu Nenek. Tetapi, mengapa Tante memasang wajah yang penuh akan keterkejutan?“Kamu ngobrol sama Nenek? Di deket kebun mawar?” Tanyanya heran. “Bukannya mama papamu mengajak kamu ke rumah Nenek untuk—” Kalimatnya terputus. Aku bertanya-tanya mengapa Tante mengucapkan hal seperti itu. Tetapi, “Uhh… Nenek kan sudah meninggal sayang?”—Banyak pelanggan baru maupun lama berdatangan ke toko kecilku. Setelah aku memposting sebuah produk baru di viralgram, entah mengapa aku selalu mendengar orang-orang membahas teh mawar instan yang biasa aku buat.‘Tadi lho, barusan nyobain teh mawar dari FlorinTea jadi lebih percaya diri aku!’ ‘Aduh, pingin beli teh mawarnya tapi selalu kehabisan, jadi kepingin dapet yang gratis langsung dari kak Florin!’ ‘Eh kamu minumnya teh yang biasa aja, kayak aku dong minumnya yang teh mawar, produk baru dari FlorinTea lho!’Sebagian besar orang yang mencintai teh mawar tersebut senang karena dapat mencobanya sambil memamerkannya di storiesnya. Tetapi, tidak sedikit juga orang yang sedih dan kesal karena tidak kebagian teh mawar yang nikmat rasanya ini.“FLORINNNN!” Di saat aku sibuk mendata hasil penjualanku hari ini, temanku mendadak mendobrak pintu ruang kerjaku dan berlari ke arah meja kerja. “Kamu tahu nggak??!” Ucapnya dengan lantang. “Aku nggak tahu.” Balasku dengan santai. Seketika Jefa menghembuskan nafas. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi kesal. Sepertinya ia tidak suka dengan balasanku barusan. “Teh mawar buatanmu buanyak yang suka lho! Kamu nggak nyoba buat pasarin lebih banyak gitu?? Aku juga tadi lihat ada postingan baru dari Jestin Bubar nyukain teh mawar kamu lho! Kamu nggak nyadar gitu kalo tehmu dibelik ama orang?? Astaghfirullahhaladzim kamu ini ya bla bla bla…”Aku memang benci terhadap orang yang terlalu banyak cerita, namun Jefa yang merupakan sahabatku tidak pantas untuk diberikan respon amarah dariku. Aku hanya dapat mendengarnya, dan sesekali aku memalingkan pandangan menuju ke arah sebuah bingkai foto di dekatku. Bingkai foto tersebut merupakan penyemangatku hari ini. Penyemangat disaat aku sedang bersedih. Penyemangat disaat aku sedang merasakan putus asa. Dan juga penyemangat di berbagai hal. Foto yang saat ini kondisinya sudah hampir rusak parah, namun untung saja beberapa perekat seperti isolasi dan lem berhasil membuatnya tidak hancur. Foto yang berisikan seorang Nenek tua dan diriku di masa lalu. Dan juga selembar kertas kecil yang pernah aku dapatkan di dekat kebun mawar Nenek.“Hei kamu dengerin aku nggak sih Flor?” Jefa tiba-tiba saja mengagetkanku. Aku tidak terlalu peduli dengan apa yang ia katakan dan ucapkan, asalkan aku sedang tidak mengamuk saat itu, hahaha. “Tenang saja, teh mawarnya nggak bakalan kujadiin produk yang terbatas kok, hanya saja kan bahan-bahannya yang bikin susah didapet Jef.” Ucapku sambil menenangkan dirinya. “Kamu dari dulu aku udah nawarin kamu kebun mawar 2 hektar, tapi masih aja nggak mau!” Marah Jefa. “Haduh, kan kamu tahu kan kalau aku nggak suka nyusahin orang lain, apalagi sahabat dekatku kayak kamu Jef.” “Eh, sahabat dekat yah hehe.” Jefa tersipu malu.“Tapi aku selalu penasaran Flor, kamu dapat resep tehnya itu dari mana sih? Kok bisa uenak banget!” Heran Jefa. Aku hanya tersenyum. Bisa-bisanya Jefa tidak menyadari hal itu. Padahal kan, resepnya selalu berada di meja kerjaku. Aku pun menjawabnya dengan, “Dari kebun mawar Jef.”

Kamar Mayat
Horror
25 Nov 2025

Kamar Mayat

Di gerbang depan sebuah Rumah Sakit di tengah kota yang sedang diguyur hujan, masuk sebuah motor bebek yang dikendarai oleh seorang pria paruh baya. Motornya melaju pelan ke arah parkiran motor di samping bangunan.Setelah memakirkan motor dan melepaskan helmnya, pria itu segera berlari menuju pintu samping. Dengan masih mengenakan jas hujannya pria itu berjalan menuju ke arah belakang bangunan Rumah Sakit.Sesampainya di sebuah ruangan yang cukup besar, segera dia melepaskan jas hujan yang dikenakannya dan menggantungnya.“Si Rudi sudah pulang rupanya. Tak biasanya dia pulang terlebih dahulu sebelum aku datang. Mungkin karena dia tidak mau terjebak hujan, makannya dia segera pulang”, gumam Andi pelan. Andi adalah seorang penjaga Ruangan Mayat. Seperti biasa dia bertukar shif dengan temannya yang bernama Rudi.Diperhatikannya sekeliling ruangan, terlihat berderet kereta mayat yang berjumlah 8 buah. “Sepertinya ada penghuni baru nih”, katanya pelan. Andi menyadari itu karena sehari sebelumnya hanya ada 4 kereta mayat yang terisi.Dilangkahkan kakinya ke arah kereta mayat bernomor 5 dan 6. Dibacanya keterangan yang menempel pada kereta mayat itu.Saat dia sedang membaca, tiba-tiba terdengar sebuah benda jatuh di belakangnya. Seketika Andi menoleh ke belakang. Andi sudah terbiasa dengan kejadian-kejadian ganjil di ruangan ini. Suara-suara manusia tanpa wujud, benda yang bergerak sendiri dan sebagainya.Dilangkahkan kakinya menuju sumber suara itu. “Iya saya tau, kamu penghuni baru kan?, Saya tau kamu mau kenalan. Saya kerja di sini, kamu juga baru di sini, jadi kita jangan saling mengganggu ya”, kata andi sambil memungut jas hujan yang baru saja digantungnya yang kemudian entah kenapa tiba-tiba terjatuh ke lantai.“Dingin-dingin begini enaknya minum kopi manis nih”, gumamnya. Dilangkahkan kakinya ke sebelah ruangan kamar mayat yang merupakan dapur kecil untuk berbagai keperluan. Dihidupkannya kompor dan diletakkannya panci untuk memanaskan air. Sambil menunggu airnya panas, Andi bersenandung pelan menyanyikan lagu band kesukaannya.Terdengar sayup-sayup siulan yang mengiringi senandungnya. Didengarnya siulan itu cukup nyaring, seperti berasal dari ruangan kamar mayat.Beberapa saat kemudian bunyi panci air mengagetkan Andi. Segera dituangkannya air panas itu ke dalam cangkir yang telah berisi kopi dan gula. Segera dia kembali lagi ke ruangan mayat.Diletakkannya cangkir kopi itu di atas meja, tapi baru saja Andi ingin duduk, matannya menangkap sesuatu yang ganjil. Dia terdiam terpaku, wajahnya pucat pasi. Tak terasa keringat dingin menetes dari keningnya. Seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya dia berkata, “kemana mayat di kereta nomor 6??”.Dengan keberanian yang masih dimilikinya, perlahan dia berjalan mendekati kereta mayat itu. Dilihatnya kereta itu seperti telah bergeser dari tempatnya semula dan kain penutup mayatnya pun telah jatuh di atas lantai.Dengan keadaan panik diarahkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ditundukkannya tubuhnya hingga dia berjongkok untuk melihat di sekitar kolong kereta-kereta mayat. “Tidak ada, astaga! Kemana mayat itu?”Seketika pandangannya terhenti pada kolong kereta mayat nomor 1. Kereta mayat nomor 1 terletak di dekat pintu keluar kamar mayat. Betapa terkejutnya Andi, tampak sepasang kaki manusia berdiri tepat di samping kereta mayat nomor 1. Karena dalam posisi sedang berjongkok dan pandangannya terhalang, Andi hanya dapat melihat bagian kakinya saja. Kakinya seperti kaki manusia akan tetapi kulitnya berwarna hitam legam dan tanpa alas kaki. Secepat kilat Andi berdiri, dan melihat ke arah kereta nomor 1.Heran, itu lah yang ada dipikirannya sekarang. Tak tampak satu pun manusia yang berdiri di sana. Padahal dengan pasti tadi dia telah melihat sepasang kaki yang sedang berdiri. “Apakah itu hantu?”, batin Andi dalam hati.Selama 10 tahun dia bekerja di ruangan mayat ini, tapi kalau dibilang baru kali ini dia melihat wujud hantu walaupun cuma sebatas kaki. Seakan tak percaya dan ingin memastikannya kembali cepat-cepat dia berlari ke arah pintu keluar kamar mayat, siapa tau memang ada orang yang berdiri tadi di sana. Hanya tampak lorong-lorong kosong dan rintik hujan yang membasahi taman kecil di depannya.Seketika hawa dingin menyelimutinya, tubuhnya menggigil kedinginan, disilangkannya kedua tangannya di depan dadanya. Cepat-cepat dia berbalik masuk dan menutup pintu kamar mayat.Seketika Andi terpaku, didengarnya suara seperti benda yang diseret di lantai. Kemudian dia berbalik dan mencari asal suara itu, suaranya pelan tapi jelas sekali. Arahnya dari kereta yang paling ujung yaitu nomor 8. Karena pandangannya terhalang oleh kereta-kereta yang lain, sehingga dia tidak dapat melihat ke arah lantai dimana suara itu berasal.Untuk memastikan benda apa yang membuat suara itu, perlahan dia berjalan ke arah tengah ruangan agar pandangannya lebih jelas. “AaakKkkhhh….!!!”, tiba-tiba Andi menjerit sejadi-jadinya. Seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya, tubuh Andi melemah, seakan kakinya tak kuasa menahan berat tubuhnya, dia pun jatuh terduduk di lantai.Dihadapannya tampak sesosok makhluk dengan kulit hitam legam dalam posisi merangkak pelan ke arah Andi. Matanya seakan memandang tajam ke arah Andi dengan giginya yang menyeringai marah.Makhluk hitam itu merangkak maju sambil mengeluarkan suara geraman yang membuat Andi tambah ketakutan.Tak kuasa Andi melihatnya, ditutupnya wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Pergi!!, jangan sakiti aku!”, pekik andi gemetar.Semakin lama suara geraman itu semakin jelas, yang sepertinya sudah mulai mendekat ke arah Andi.Tiba-tiba sebuah cengkraman kuat memegang kedua belah tangan Andi dan menyingkirkannya dari wajahnya. Betapa terkejutnya Andi, sekarang dihadapannya terpampang sosok makhluk hitam dengan wajah setengah hancur di bagian atas kepalanya. Walaupun wajahnya hitam, andi dapat melihat tetesan darah segar yang mengucur dari atas kepalanya yang hancur.“Kenapa kau membunuhku?”, terdengar sebuah pertanyaan dari sosok makhluk hitam itu. “Membunuhmu? Apa yang kau bicarakan? Aku tak mengerti”, jawab andi gemetar. “Kau tak ingat apa yang telah terjadi? Aku begini karena ulahmu. Lihatlah aku sekarang, apakah kau tak mengenaliku?”, wujud makhluk hitam itu semakin mendekatkan wajahnya ke hadapan Andi.“Rudi… itukah kau?”, kata Andi seakan tak percaya. Andi baru menyadari kalau yang dihadapannya sekarang adalah teman kerjanya. “Ya, ini aku Rudi. Akibat ulahmu aku jadi celaka, aku kehilangan kendali hingga aku terjatuh dan menabrak sebuah mobil Truk dan terbakar”, kata makhluk itu dengan nada marah. “Apa yang kau bicarakan? Tak pernah aku..”, Andi terdiam, sebelum dia menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba dia teringat kejadian saat di jalan menuju Rumah Sakit.Saat itu jalanan sedang sepi karena hujan, hanya beberapa kendaraan roda empat yang melaju di jalanan.Karena terburu-buru, Andi menambah kecepatan motornya dan mencoba menyalip sebuah mobil di depannya. saat Andi menyalip, tiba-tiba dari arah berlawanan muncul sebuah motor. Karena terkejut cepat-cepat Andi menghindar ke arah kiri.Karena teringat akan hal itu tak terasa air matanya menetes dan Andi mulai menangis. “Apakah orang yang mengendarai motor itu adalah kau, Rudi? Oh.. tuhan, maafkan aku”, Andi menangis sejadi-jadinya. “Ya, Andi. Itu aku. Sekarang aku ada di sini, menjadi penghuni Ruangan ini selamanya sama sepertimu”, kata makhluk itu sambil tersenyum hingga menampakkan giginya yang mengeluarkan darah.“Penghuni di sini selamanya bersamamu? Apa maksudmu?”, Andi terkejut dengan perkataan makhluk itu.“Kau sama sepertiku, Andi. Kau juga sudah mati. Kau terjatuh dan menabrak sebuah pohon saat mencoba menghindariku”, kata makhluk itu sambil tersenyum sinis dan kemudian dia mulai tertawa hingga menggema di dalam kamar mayat.

Jeratan Kutuk
Horror
25 Nov 2025

Jeratan Kutuk

Suara tangisan yang tak berhenti membuat aku semakin merinding. Tepat hari ini, ibu dari ibuku, yah biasa dipanggil nenek, meninggal dunia. Nenek meninggal di usia 97 tahun. Semasa hidupnya, ia banyak menolong orang, bahkan menyembuhkan orang, tetapi kata mamaku tidak dengan cara yang baik.Keesokan hari setelah kepergian nenek, rumah nenek belum kunjung sepi kedatangan orang-orang desa setempat. Beberapa dari mereka membawa hasil panen dan ternak mereka ke rumah nenek sebagai ucapan terimakasih karena pernah menolong mereka. Aku tidak paham, tetapi aku harus menghargai.“Ma, untuk siapa nanti semua pemberian itu?” Tanyaku ke pada mama yang sedang merapikan barang-barang yang mereka beri. “Ya tentu untuk keluarga yang ditinggalkan, ga mungkin untuk nenek kan?” Jawab mama sambil menggodaku.Tiba-tiba seseorang menyentuh pundakku. Hmm, ternyata tanteku, kuperjelas, adek dari mamaku. “Halo, sedang repot yah disini”. ujarnya sambil memegang pundakku. “Kak, ke belakang bentar, ada yang mau aku bilang. Biar Blessia yang lanjutin rapiin barang-barangnya”. Lanjutnya sambil menarik tangan mama. Oh iyaa, namaku Blessia Theophani. Tahun ini umurku genap 18 tahun, aku seorang mahasiswa baru, jurusan sosiologi di universitas swasta terdekat di daerah tempat tinggalku.Setelah berbincang dengan tanteku, mama terlihat sangat aneh. Terlihat murung dan kebingungan sambil mencari papa yang sedang ngobrol dengan para tamu. Beberapa saat kemudian mama menemuiku sambil membawa beberapa barang-barang kami. “Blessia, beresein barang-barangmu, kita pulang sore ini karena si papa ada kerjaan mendadak, jangan sampai buru-buru nanti bahaya di jalan loh.” Kata mama sambil mengambil koper di atas lemari. Sebagai anak tunggal yang baik, aku nurut dan segera mengemas barang.Satu persatu barang di masukan papa ke mobil, sementara mama dan aku sibuk salam-salaman dengan saudara-saudara yang lain. “Pamit yaa om baik.” Ujarku sambil bersalaman dengan kakak paling tua dari keluarga mamaku, om yang tidak pernah memarahiku sejak kecil, bahkan ia menganggapku seperti anaknya sendiri, oleh sebab itu aku memanggilnya “Om baik”. Beliau belum menikah padahal umur sudah hampir 50 tahun, kalau aku tanya sih katanya ia sudah berjanji tidak menikah seumur hidupnya untuk sebuah ilmu yang akan membuat ia kuat seumur hidup. Tidak perlu heran, keluarga mama emang masih kuat percaya dengan hal-hal itu.Sore itu, kami pulang dari kampung dan menuju rumah yang jauhnya sekitar 7 jam dari kampung nenek. Ditengah perjalanan, tiba-tiba aku melihat seorang perempuan yang seperti mau bunuh diri. Ia berdiri di tengah jalan ketika mobil kami hendak melaju. Seketika aku berteriak kencang. “Aaaarggggghhhh!!!” sambil menutup mataku dengan kedua tangan. Mama langsung memegangku, “Blessia! Kenapa sayang? Kenapa kamu teriak?”. Tanyanya dengan khawatir. Ini benar-benar aneh, sangat aneh. Aku melihat jelas ada wanita yang mau bunuh diri di tengah jalan, tetapi Papa dan Mama tidak melihatnya. “Mam, pap, tadi disitu tuh ada cewe berdiri di tengah jalan. Kayak mau kita tabrak.” Jawabku sambil menunjuk kearah belakang. “Hei, hei.. Sayang, kamu ngantuk kah? Tidak ada siapa-siapa di jalan, gak mungkin kan Papa tabrak orang ga kerasa.” Sahut Papa meyakinkan bahwa aku salah lihat. Aku cuma bisa terdiam, aku tidak ngantuk dan aku tidak mungkin salah lihat. Tadi itu benar-benar sangat jelas. Aku sangat berharap kalian melihatnya.Beberapa saat kemudian kami tiba di rumah, aku memutuskan untuk langsung tidur karena sangat lelah.“Blessia! Blessia bangun! Bangun nak!” Mama menarik-narik badanku untuk membangunkanku. Ternyata sudah pagi, aku terbangun dan melihat mama dan papa yang tampak gelisah di sisiku. “Apa sih mam, pap, aku masih ngantuk, ntar lagi deh.” Kataku sambil berusaha duduk. “Kamu gak apa-apa kan sayang? ada yang sakit?” Tanya papa. Aku bingung, mengapa papa bertanya seperti itu padahal sejak kemarin kami bersama dan tidak terjadi apa-apa denganku. Lalu mama langsung menceritakan apa yang terjadi padaku barusan. Ternyata aku ngigau. Kata mama aku teriak-teriak dan memukuli badanku sendiri. Astaga aku benar-benar tidak sadar, bahkan tidak merasa kesakitan padahal tubuhku sudah merah-merah. Anehnya keadaan ini terus-terusan terjadi padaku setiap malam saat tertidur. Apa sebenarnya yang terjadi? Bahkan mama dan papa rela tidur di kamarku untuk menjagaku, agar tidak melukai tubuhku.Karena hal ini benar-benar aneh, Mama menceritakan hal ini kepada keluarganya lewat telepon. “… Tapi dek, bukankah sudah dilepas? Mengapa Blessia masih kena?” Kata Mama yang sedang menelepon Tanteku. Spontan aku langsung bertanya ke mama, “Apa yang dilepas ma? Kena Apa?” Mama kaget melihat ku ada dibelakangnya dan langsung mematikan telepon. Akhirnya, Mama menceritakan apa sebenarnya yang terjadi.Saat aku lahir, Nenek sedang jatuh-jatuhnya dari pekerjaannya sebagai bidan desa. Karena tidak ingin usahanya hancur, Nenek menyerahkanku kepada sosok yang ia sembah selama hidupnya. Bukan kepada Tuhan, tetapi kepada roh jahat. Ia berjanji bahwa ia akan menjadikanku sama sepertinya kelak, bila ia sudah tiada. Mama marah, ketika ia tau hal itu, ia langsung membawaku ke rumah ibadah dan meminta agar Pendeta melepaskan perjanjian Nenek dengan roh kegelapan itu. Mama adalah anak yang paling dekat dengan Kakekku, sehingga mama ikut jalan Kakek. Beliau adalah seseorang yang taat agama, namun sayangnya beliau sudah lama meninggal bahkan sebelum aku lahir. Oleh sebab itu, mama berbeda dengan tante dan omku, mereka ikut dengan jalan Nenek.Aku sangat kaget mendengar cerita Mama, aku sangat ketakutan. Mama berusaha meyakinkanku semuanya akan baik-baik saja. Namun, seketika saat itu tubuhku menjadi dingin, kepalaku sangat sakit. “Aaaaarghhhhhh!! Jangan lepaskan aku dari tubuh ini! Jangan coba-coba atau gadis ini akan menderita! Hahahah.. Bodohhh kalian!” Roh jahat itu masuk lagi kedalam tubuhku. Mama terkejut dan berteriak memanggil Papa, sementara roh jahat itu terus tertawa dan berteriak.Papa datang dan langsung memeluk tubuhku dengan kuat, lalu mama mulai berdoa sambil memegang kepalaku. Roh jahat itu berteriak kesakitan lalu pergi, aku langsung lemas dan tak berdaya. Hal itu benar-benar membuatku takut, aku benci Nenekku, mengapa ia melakukan itu kepadaku. Aku sangat ketakutan sambil melihat seisi kamarku, berharap roh jahat itu tidak datang lagi.Setelah kejadian itu, kami mendapat kabar buruk dari kampung. Ternyata Omku mengalami kecelakaan, ia harus kehilangan salah satu kakinya karena kecelakaan itu. Om baik sangat tidak berdaya, katanya ia mengalami kecelakaan karena jalan licin. Mama sangat tertekan, ia cuma bisa menangis melihat apa yang terjadi dengan keluarganya.“Gimana keadaan om baik sekarang?” Tanyaku lewat telepon. Seketika Omku menangis mendengar suaraku, ia sangat ingin aku ada disana bersamanya, tetapi menurut ibu kediaman Nenek di kampung berbahaya untukku yang sedang seperti ini. “Om sudah baik sekarang, kamu juga baik kan nak?” Jawab Om dengan suara sedikit gemetar menahan nangis. Aku berusaha menguatkan dan menghibur Om baik, sekarang ia tidak bisa apa-apa. Ia kehilangan salah satu kakinya, dan ia menyesal. Impiannya untuk mendapatkan ilmu kuat justru membuat dia semakin lemah. Ia sadar bahwa semua kepercayaan buruknya adalah sia-sia, ia kehilangan banyak harta dan bahkan kesempatan untuk memiliki keluarga. Tanteku yang melihat langsung keadaan Om baik juga ikut tersadar, dan memilih untuk melepas semua kepercayaan buruknya dan memulai hidup dengan percaya kepada Tuhan. Mama dan Papa memutuskan untuk membawa Om baik tinggal bersama kami karena tidak akan ada yang merawatnya, sementara tanteku punya keluarga yang harus ia rawat juga. Mama berharap bisa membawa Om ku kepada hidup yang baru, yang jauh lebih baik. Aku senang sekali, akhirnya impian Mama melihat keluarganya bertobat terwujud, aku berharap setelah ini keluarga kami akan baik-baik saja.Tetapi harapanku tidak semudah itu aku dapatkan, saat Mama dan Papa di perjalanan pulang dari kampung menjemput Omku menuju rumah, aku kembali di ganggu roh jahat itu. Bahkan ia sangat menguasaiku, membuatku menghancurkan seisi rumah bahkan lagi dan lagi melukai tubuhku. Tetangga yang sudah lama tau keadaanku segera mengabari Mama dan Papa, mereka langsung bergegas pulang ke rumah.Roh jahat itu membawaku keliling halaman rumah sambil berteriak, “Kalian semua bodoh!Harusnya kalian percaya padaku!Ayo percaya padaku! Hahahahha.. Percayalah padaku!!” Semua tetangga keluar dan berusaha menangkapku yang sudah seperti orang gila. Sampai pada akhirnya salah satu tetangga memanggil Pendeta untuk mendoakanku. Aku berhasil ditangkap, lalu Pendeta merangkulku dengan lembut dan berbisik, “Nak, kamu bisa melawannya sendiri, jangan anggap dia kuat, karena kamu jauh lebih kuat sebab Tuhan besertamu, lawanlah! Sebut Nama Tuhan yang berkuasa dan akan melenyapkan roh jahat itu!” Aku mendengar jelas suara Pendeta itu, aku menangis. Lalu aku melakukan sesuai saran Pendeta, seketika roh jahat itu menjerit kesakitan dan langsung pergi dari tubuhku. Tepat saat itu juga Mama dan Papa sudah sampai dan langsung memelukku.Pendeta menasehati kami sekeluarga agar terus mendekatkan diri kepada Tuhan. Lalu Mama menceritakan kepada Pendeta bahwa saat kecil aku sudah didoakan untuk dilepaskan dari ikatan kutuk itu, tetapi mengapa masih belum lepas.Tiba-tiba Omku yang duduk di atas kursi rodanya menyahut pembicaraan Mama dan Pendeta. Om mengatakan bahwa ia memberitahu Nenek tentang hal itu, sehingga Nenek kembali menyerahkanku kepada roh jahat tanpa sepengetahuan Mama. Saat mendengar itu, Mama langsung menangis dan sangat kesal, ia sangat sedih dengan kelakuan keluarganya.Pendeta menjelaskan bahwa semua ini disebut kutuk, dimana kutuk ini akan menjerat garis keturunan bila tidak dilepaskan. Tidak hanya anak yang diserahkan yang akan kena, bahkan anak yang tidak diserahkan juga bisa kena, tergantung siapa yang dipilih. Tetapi Pendeta juga meyakinkan kami bahwa ini benar-benar sudah lepas karena aku sudah tau kunci melepaskannya. Ya, caranya adalah menguasai diri sendiri untuk percaya bahwa kekuatan Tuhan jauh lebih dahsyat dan berkuasa dari pada roh jahat itu dan mendekatkan diri kepada Tuhan untuk menguatkan iman percaya kita. Tuhan sekuat dengan apa yang kita percaya sendiri, kalau kita percaya Tuhan luar biasa, maka kekuatan Nya pun akan luar biasa.

Desa Mati
Horror
25 Nov 2025

Desa Mati

Hai nama aku Santun, ini adalah cerita horor, tepatnya tentang “Desa Mati”Rumah itu ditempati 1 nenek, dia tinggal sendirian tidak punya keluarga, dan keluargaku sering ke rumah itu, karena keluarga aku peduli sama nenek itu, keluarga aku sering membantu kepadanya,Dan pada suatu hari nenek itu jatuh sakit terkena kanker paru paru, tidak ada orang yang menolong, hanya keluargaku yang sering menjenguknya dan membantu merawatnya,Namun si nenek itu sudah tidak bisa dirawat lagi kondisinya sudah sangat lemah, dan setelah 12 hari nenek itu sudah meninggal,Tidak ada orang yang berani menjenguknya karena tetangga tidak tau jika nenek itu sudah meninggal sejak 12 hari yang lalu, tetangga bilang kalau rumah itu sudah membusuk,Setelah itu keluarga aku tidak tau kalau nenek itu sudah meninggal 12 hari yang lalu, keluarga aku tidak mampu menjenguknya karena keluarga aku takut karena rumah itu sudah mulai membusuk, semua orang membiarkannya,Tak lama juga pada beberapa hari selang rumah itu sudah roboh, sehingga mayat nenek itu terlihat dari kejauhan, tepatnya rumah nenek itu di pinggir jalan, jarak jauh rumah itu sekitar 13 meter di jalan, sehingga orang pertama yang melihat mayat itu jatuh pingsan di jalan,Setelah dia bangun dari jalan dia langsung lari terbirit birit, sambil berteriak dan dia menceritakan kepada seluruh warga, dan para tetangga mulai takut dan tidak akan melewati di depan rumahnya,Pada malam hari jam 12 malam aku terbangun dari tidur di kamar, dan diluar hujan deras, aku ketakutan mengingat nenek itu aku tidak bisa melupakannya,Dan aku melihat keluar ada yang terbang, di depan jendela ada wajah nenek itu, aku berteriak sekencang kencangnya dan pingsan, setelah aku bangun dari pingsan, Ayah dan ibuku bilang “Kamu kenapa bertieriak nak?” ucap ayah, “aku ketakutan tadi aku melihat sosok wajah nenek itu” ucap aku, “dimana kamu melihatnya, nak” ucap ibu “aku melihat di jendela itu buk, dan ada yang terbang diluar”Terus ayah dan ibuku menyuruh untuk tidur bersama, dan pada siang hari tetangga menceritakan bahwa sosok nenek itu mengganggu seluruh warga, para tetangga Memutuskan untuk pergi dari desa ini, dan pindah tempat,Karena semua tetangga pergi, keluarga aku juga memutuskan untuk pergi dari desa ini, tetapi kepala RT dan Kyai Memutuskan untuk tidak pergi, Kyai Bilang kalau almarhum nenek itu hanya mau untuk dikuburkan dan disholatkan, dan pak RT telah menyuruh Tim Medis untuk menguburkan dan setelah itu almarhum nenek sudah dikuburkan dan disholatkan oleh warga setempat, dan warga merasa kalau almarhum nenek itu tidak mengganggunya lagi, dan semua warga semua tenang,“Seburuk buruknya perbuatan manusia semasa hidupnya, namun dia beragama islam, maka kita diwajibkan untuk Men sholatkannya”

Kita, yang Pulang
Horror
25 Nov 2025

Kita, yang Pulang

Dalam gelap malam, tiba-tiba petir seperti menyambar tepat di sebelahku, Duaarrrr!!!. Aku kaget setengah mati, tiba-tiba kurasakan hawa merinding di tubuhku. kuhentikan sepeda motorku, mengingat rute yang biasa kulalui dan sekarang ini berbeda aku memutuskan untuk berhenti.Lalu tiba-tiba seseorang menghampiriku, Seorang pria tua bertubuh kekar tanpa mengenakan baju, hanya bercelana panjang tanpa alas kaki mengenakan blangkon dengan wajah yang selalu meringis seperti menahan sakit.Dalam bahasa yang bisa kuhpahami dia berkata, suaranya agak berbisik dan mendesis namun jelas perkataan yang dia katakan kepadaku, “Ini sudah malam, kamu mau kemana? Disini bukan tempat untuk orang sepertimu” kata beliau, dalam bahasa jawa halus Aku berusaha menjawab dengan bahasa jawa halus “Mohon maaf pak, saya mau pulang, namun saya tersasar” Dia memandangku tajam, aku bergidik.Dalam kengerianku, aku menyadari ada bau khas menyan, dan sedikit sentuhan melati, kantil atau sejenisnya Aku makin merinding, lenganku di pegang oleh orang itu,“Pulanglah, tempat ini bukan tempatmu ” Aku tak menjawab, aku berusaha tenang walau sangat ketakutan, tubuhku bergetar. “Kalau kamu tersesat, ingatlah bahwa kamu hanya punya keyakinan, pilihlah dengan bijak ” Kata pria tua itu melanjutkan.Pria tua itu melepas tangannya lalu pergi meninggalkanku begitu saja, setengah sadar tidak sadar ketika pria tua itu melangkahkan kaki, yang kudengar adalah langkah tapak kaki kuda, ya! Ketika ia melangkah aku mendengar seperti suara kaki empat berjalan dengan ketukan yang sama ketika kuda sedang berjalan.Aku mendongak ke atas, agak aneh memang, walaupun gelap ini terasa seperti terang bulan, namun tidak ada bulan yang bersinar, bintang juga tak kutemukan satupun. Dalam gelap gerimis mengguyur, mengguyurku dalam gelap terang bulan.Sepeda motor kunyalakan, sayang motorku yang sebelumnya memang kurang sehat sekarang bisa dibilang sekarat. Motor tua, macet, dan agak brengsek ini tak bisa diajak kerjasama.Lalu, sekonyong konyong pundakku ditepuk seseorang, aku sangat kaget dan tersentak. Aku membalikkan tubuhku, kulihat seseorang di belakangku. Seorang wanita, tersenyum, namun senyumannya ganjil, di dahi kanannya mengalir darah yang masih mengalir hingga menyentuh bibirnya, wanita itu berbau anyir, pakaian nya bukan seperti pakaian jaman sekarang, itu pakaian adat jawa lengkap dengan sanggul di kepala dan kebaya hijau dan matanya, matanya selalu melotot namun tak pernah memandangkuTubuhku kaku, kelu dan tak bisa berbuat apapun. Wanita melotot sambil mengeram, Lalu dalam bahasa jawa kasar yang dapat kupahami dia bersuara dengan agak berteriak “Kamu, kamu tahu jalan pulang kemana?” Kulihat wajahnya, matanya selalu melotot tapi tak pernah memandangku, seolah dia memandang ke arah lain, tersenyum namun ganjil Aku merinding, menahan nafas, tak bisa kujawab pertanyaan itu“Kamu, kamu antar aku pulang sekarang” kata katanya sangat keras, Aku masih tak menjawab, ketakutanku terlalu mengekang tubuhku “Kamu, kamu tahu bisa kesini sekarang antar aku pulang” wanita itu masih berteriak dan masih tak memandangiku. Lalu tangan wanita itu memegang pundakku, aku yang di depannya hampir saja jatuh pingsan tak sadarkan diri.“Kamu, kamu tidak pantas…” Dia tak melanjutkan perkataannya, hanya meremas pundakku dengan sangat kuat lalu melepasnya dengan kasar seperti menarik pundakku. Hampir jatuh aku dibuatnya. Aku tak berkata apa apa, membisu dan takut.Kini dengan wajah yang tiba-tiba agak ketakutan dan mata masih melotot wanita itu mundur dengan masih melihat satu objek yang sama entah aku juga tak paham, dia berjalan mundur, dalam gelap dan gerimis, wanita itu berjalan mundur lurus, hingga jauh dan tak lihat lagi wanita itu berada.Aku menyeka keringat, tubuhku masih bergetar, mataku memerah, mungkin aku menangis namun air hujan membuat tangisanku tak terlihat. Sadar akan hal buruk yang terjadi, aku mengucap nama tuhan dan berdoa semampuku, banyak doa yang kuucap. Aku menengadah, kurasakan atmosfir bumi terasa bergerak sangat cepat, lalu kudengar ayam berkokok menandakan pagi telah tiba, lalu sayup kudengar seseorang melantunkan adzan, suara yang sayup lalu bersahut-sahutan, seperti disiram air dalam panas nya api, dalam sejenak aku merasakan kebebasan, rasa syukur dan kebahagiaan.Motor tua yang ku sumpah dan kumusuhi tanpa kupegang tiba-tiba hidup begitu saja, Tak kuambil waktu lama, kuputuskan untuk pulang,Aku memang sudah selangkah untuk pulang, namun kurasakan pundak yang diremas wanita tadi kini sangat berat, seperti menahan sesuatu yang aku juga tak paham, aku masih tak peduli, yang kupikirkan hanya pulang Ketika hendak memasuki rumah, tiba-tibaBrukkk…Saking beratnya beban di pundakku, aku jatuh, tak sadarkan diri.

Pesan Lewat Mimpi
Horror
25 Nov 2025

Pesan Lewat Mimpi

Terlihat kerumunan orang-orang berdiri di depan lift rumah sakit, Sarah duduk di bangku ruang tunggu rumah sakit. Tidak lama ia melihat Wika keluar dari dalam lift dan langsung dipeluk oleh sebagian orang-orang yang berdiri tadi. Ternyata mereka adalah teman-teman sekolah Wika. Tampak raut muka yang simpati dan sedih sekaligus, bahkan Sarah melihat Wika masih meneteskan air matanya.Ya, Mamanya Wika baru saja meninggal dunia karena penyakitnya yang sudah lama komplikasi. Kami sekeluarga langsung datang ke rumah sakit setelah mendengar kabar duka ini. Padahal baru dua hari lalu Sarah dan Ibunya menjenguk Mamanya Wika, keadaannya waktu itu memang sudah tidak tertolong lagi hanya menunggu waktu saja, tetapi kami sekeluarga berharap ada keajaiban datang, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain.Bergantian orang-orang pada datang melayat ke rumah Wika, kami para sepupu Wika berada di rumah samping, di kamar Mbah. Sebagian berada di rumah Wika, jenazah Mama Wika disemayamkan di ruang keluarga mereka. Ya rumah ini adalah dua rumah menjadi satu, rumah disamping ini adalah rumah Mbah mereka.Kesedihan tampak di wajah Papanya Wika, Wika dan Ferry abangnya Wika. Sarah berusaha menenangkan Wika, ia tahu Wika sangat sangat dekat dengan Mamanya. Walaupun Sarah tidak dekat dengan Mamanya Wika, atau kata lain Tantenya itu, karena Sarah sempat dengar kalau Wika tidak diperbolehkan dekat dengan dirinya, entah karena apa alasannya. Tetapi malah selama ini Wika selalu dekat dengan dirinya, karena selama ini Sarah tinggal dengan Mbahnya, karena kedua orangtua Sarah bekerja di luar kota.“Itu di bagian kain yang menutup wajahnya, ada bercak merah ya..” ucap salah satu tantenya “Mungkin itu adalah salah satu balasan dari Tuhan,” jawab tantenya yang lain Bercak darah?? Gumam Sarah dalam hati, kalau dengar dari pembicaraan kedua tantenya itu, Sarah sedikit bisa menebak kenapa hal itu bisa terjadi, tapi ia tidak mau berspekulasi dengan pendapatnya itu, takut salah. Walaupun sudah menjadi rahasia umum kalau Mamanya Wika dengan mertuanya, yang tidak lain adalah Mbahnya sendiri, tidak pernah akur.Singkat cerita, setelah menguburkan jenazah Mamanya Wika, sebagian dari kami pulang terlebih dahulu, sebagian masih ada di rumah Wika untuk mempersiapkan tahlilan. Hari menjelang sore, Wika terlihat sudah agak lebih baik, terlihat dia sudah bisa tersenyum. Sarah mendekati Wika yang sedang duduk di bangku tamu diteras rumah. Sarah memeluknya dengan erat, Wika pun memeluk Sarah dengan sama eratnya. “Sabar, ya” ucap Sarah, “Masih ada gue kok disini..”Beberapa hari setelah meninggalnya Mama Wika, keadaan di rumah itu menjadi normal kembali. Wika masih suka datang ke kamar Sarah untuk sekedar rebahan dan bercerita. Apapun dia ceritakan kepadanya. Sarah sedikit tenang melihat kondisi Wika sekarang ini.Hingga pada suatu malam Sarah bermimpi, mimpi yang cukup seram menurutnya. Tiba-tiba saja dirinya sudah berada di daerah pemakaman dan keadaan saat itu terlihat gelap atau seperti saat malam hari. Sarah terkejut melihat liang kubur disampingnya terbuka, liang kubur siapakah ini, ucapnya dalam hati. Dan ternyata di samping liang kubur yang terbuka itu, tergeletak jenazah yang sudah dikain kafani tetapi tali yang mengikat di atas kepala, di badannya dan di kaki itu terbuka semua. Dengan mengumpulkan keberaniannya, Sarah berusaha mengikat kembali tali-tali itu, dan di saat ia mau mengikat tali di bagian badan tiba-tiba jenazah itu bangun!!! Dengan wajah dan badan yang berdarah-darah seperti disayat dan dicambuk.Sarah tidak dapat bergerak sama sekali, kini wajah jenazah itu melotot kepadanya, “Kamu harus jaga bayi saya” ucap jenazah itu dengan wajah yang sedih dan berharap kepadanya Sarah kaget jenazah itu berbicara kepadanya, ia pun langsung cepat berdiri dan berusaha memasukkan jenazah itu ke dalam liang kubur dengan cara mendorongnya, tetapi jenazah itu bertahan dengan kuatnya karena tidak mau kembali ke dalam liang kubur itu. “Kamu harus masuk ke dalam lagi, itu tempat kamu berada!” ucap Sarah “Saya tidak mau kembali ke bawah, ada api berkobar-kobar di bawah sana..” ucapnyaSarah pun melihat ke arah liang kubur itu dan ternyata benar ada kobaran api besar menjulur dari bawah, sangat besar sampai ia hampir merasakan panasnya api itu. Tanahnya pun berwarna hitam pekat “Berjanjilah kepada saya, kamu harus menjaga bayi saya” ucapnya lagi “Bayi siapa? Saya tidak mengerti apa yang kamu bicarakan” tanya Sarah “Pokoknya kamu harus menjaga bayi saya.. tolong jaga bayi saya..” ucapnya lagiTidak lama kemudian Sarah mendengar suara langkah kaki seperti kerumunan orang-orang, duk duk duk duk.. banyak suara langkah kaki mendekati ke arahnya. Sarah melihat ke arah datangnya suara itu, tapi dirinya tidak bisa melihat siapa mereka. Yang bisa ia lihat hanyalah, banyak bayangan hitam pekat mendekati jenazah itu, berbaris rapi di hadapannya dan kemudian kaki jenazah itu ditarik oleh bayangan hitam pekat itu dengan kasarnya. Ditarik kembali ke dalam liang kubur yang terdapat api yang berkobar-kobar. “Tidaaaaakkkkkkkkkk!!!” teriak jenazah itu saat ditarik ke bawah liang kubur, api pun semakin tambah membesar saat jenazah itu masuk ke dalam.Sarah terbangun dengan keringat yang membasahi wajahnya. Ia melihat jam, pukul 03.05 pagi. Ia masih merasakan ketakutan dengan mimpinya itu. Ya, dirinya memimpikkan tantenya yang baru meninggal dunia kemarin. Mamanya Wika.“Jadi begitu ceritanya tante..” jelas Sarah kepada tantenya Saat ini ia berada di rumah tantenya dan menceritakan semua mimpinya itu, masih jelas ia rasakan panasnya api di liang kubur itu. Wajah Mamanya Wika yang ketakutan dan berdarah-darah dan badannya pun seperti tercabik-cabik. Dengan kata lain, itulah siksa kubur, di mana manusia akan mendapatkan balasannya akibat perbuatannya selama di dunia.“Ya tante sih nggak bisa bicara banyak ya. Tapi mungkin maksud dari mimpi itu adalah, kamu diminta jagain Wika. Siapa lagi coba bayinya yang dimaksud itu, kalau mengenai wajah dan badannya berdarah-darah, mungkin itu adalah hukuman buat almarhumah selama hidup. Tapi lebih baik kita doakan saja almarhumah semoga diampuni semua dosa-dosanya..” “Ammiinn…” ucap Sarah “Semoga Sarah juga bisa menjaga Wika seperti yang almarhumah minta” tambahnya

Penunggu Rumah Nenek
Horror
25 Nov 2025

Penunggu Rumah Nenek

Sudah beberapa hari ini Lucy menempati kamar barunya di rumah neneknya. Ia pindah karena tempat kerjaannya lebih dekat dengan rumah neneknya di tengah pusat Jakarta. Kamarnya berada di lantai dua.Di rumah neneknya, sudah dua kali Lucy mengalami kejadian seram, tepatnya di kamarnya sendiri. Pertama, pada saat malam hari dimana Lucy sudah tertidur pulas tiba-tiba terdengar suara ngorok yang keras dari kamar sebelah. Memang kamarnya bersebelahan dengan kamar om nya kala itu dan hanya disekat olah papan triplek yang tebal dan di pojok atas terdapat potongan papan triplek sehingga terdapat bolongan antara kamarnya dengan kamar om nya itu. Sesaat Lucy pikir itu suara om nya yang sedang tidur, maka ia pun tidur kembali, tapi setengah jam kemudian ia terbangun karena ingin ke kamar mandi. Saat ia turun ke bawah, Lucy melihat om nya baru pulang kerja, karena shift siang.“Loh om baru pulang kerja??” tanya Lucy “Iya, kenapa emang??” jawab om nya “Terus tadi yang ngorok di dalem kamar om siapa dong?!” tanya Lucy lagi dengan kaget “Ohh itu, paling yang tunggu kamar di pojokkan” jawab om nya dengan santai “????”Kedua, Lucy merasa lelah sekali seharian kerja dan kuliah. Maka setelah sampai rumah dan mandi, ia segera rebahan di kasurnya dan merasakan nikmat yang luar biasa karena bisa meluruskan tubuhnya. Tidak terasa kemudian ia terlelap tidur, bahkan sampai ibunya masuk ke dalam kamarnya pun ia tidak tahu.Sampai di saat ia terbangun karena ada dua suara anak kecil seperti sedang main di dalam kamarnya dan terdengar ceria suara anak anak itu. Saat Lucy berusaha untuk membalikkan tubuhnya, saat itu ia tertidur menghadap ke tembok, Lucy tidak bisa membalikkan tubuhnya. Terasa berat sekali dan sesak di dadanya. Ia pun berusaha melihat ke arah langit langit kamarnya, ia melihat ada dua bayangan anak kecil sedang berada di atas tubuhnya, berloncat-loncatan tertawa riang. Jelas terdengar suara tertawa cekikian mereka. Lucy semakin merasakan sesak di dada, disaat itu pun ia sadar kalau dirinya ditindih oleh makhluk astral. Berbagai doa pun ia ucapkan dalam hati, bahkan ia sampai berpikir kalau ia tidak bisa selamat karena sesak yang dirasakan di dadanya. Tapi tetap ia berdoa sebanyak banyaknya sampai ia kembali tertidur pulas.Keesokannya, Lucy menceritakan kejadian itu kepada ayah dan ibunya, “Mas, itu coba kamarnya Lucy kamu sholatin, supaya jangan gangguin Lucy lagi” ucap ibunya, “Iya, nanti aku sholat di kamarnya Lucy” jawab ayahnyaSorenya sampai malam, ayahnya Lucy sholat di kamarnya dan setelah itu, Lucy tidak pernah diganggu lagi oleh mereka. Walaupun kesan seram masih ia rasakan, karena memang di rumah neneknya itu banyak sekali penunggunya. Bahkan ayahnya bilang, di rumah neneknya itu ada nenek nenek yang berdiam di daerah kamar mandi, tante kunti di kamar ayah dan ibunya, ada penunggu hitam di depan pintu rumah dan di kamar om nya itu dan ada juga yang sekeluarga (ayah, ibu dan anaknya) katanya sih itu bawaan dari kakak iparnya.“Sekarang udah aman, paling mereka mau kenalan sama kamu aja itu” kata ayahnya sedikit ketawa, “Eh ..” ucapku,

Di Bawah Cahaya Bulan
Horror
25 Nov 2025

Di Bawah Cahaya Bulan

Sore ini, langit terlihat indah, burung burung terbang kesana kemari, daun daun beterbangan ditimpa angin senja. Aku baru saja pulang dari kampus tempatku kuliah. Tapi hari ini aku akan mampir ke taman terlebih dahulu. Karena hari ini adalah hari yang cukup melelahkan menurutku. Aku memutuskan duduk di bangku dekat air mancur. Tiba tiba ponsel di sakuku bergetar, tanda panggilan masuk. Ternyata dari Mada, teman sekamar kostku“Hei kenapa kau belum pulang?” Mada bertanya lewat telepon. “Bentar aku masih capek, ini lagi di taman balai kota” jawabku. “Jangan sampai telat, acaranya mau mulai, nanti Bu Gendut marah gimana?” Mada mengingatkan. “Iya bentar lagi” Aku menutup telepon.Sebenarnya, hari ini putri Ibu Gendut-eh Ibu Kost berulang tahun. Ya, Bu Kost kalau marah memang menyeramkan sekali. Sesekali kami dihukum menyikat toilet selama satu minggu. Tapi jika moodnya sedang bagus, dia bisa mendadak perhatian kepada kami. Hhh aku masih ingin disini sambil menikmati senja yang indah. Lagipula aku masih lelah. Menunggu sebentar lagi mungkin tidak masalah. Tiba tiba sepasang mataku menangkap seorang gadis yang duduk di bangku di bawah pohon besar. Meskipun agak jauh, tapi masih terlihat jelas rupa gadis itu. Rambutnya panjang tergerai sepinggang, mengenakan gaun putih selutut, kulitnya putih pucat, wajahnya cantik sekali. Dengan bunga mawar merah di telinganya. Gadis itu juga melihat kemari. Mata kami pun bertemu. Entah kenapa dia berjalan ke tempatku duduk. Lalu duduk di sebelahku. Aku pun terheran heran dan mencoba berbicara.“Hei, s-siapa namamu?” Aku gugup bertanya. Gadis itu hanya diam, tidak menjawab. Sementara hari mulai gelap, matahari mulai bersembunyi, lampu lampu taman mulai dinyalakan. Lupakan ulang tahun putri Ibu Gendut. Aku masih menunggu gadis ini berbicara, setidaknya menjawab pertanyaanku tadi.Lima menit berlalu akhirnya gadis itu menjawab pertanyaanku. “Bulan” Gadis itu menjawab. Aku refleks menoleh ke samping. “Namaku Bulan” dia mengulanginya. “Kenapa kamu sendirian?” tanyaku. “Karena aku sudah tidak punya siapa siapa lagi” Suaranya terdengar sedih. “Apa maksudmu?” “Aku sudah kehilangan keluargaku, teman temanku, semuanya. Tidak ada lagi yang mau berteman denganku. Aku menjadi kesepian, tanpa siapapun” Gadis itu lalu menunduk, air mata mulai menetes dari matanya yang indah itu. Membasahi gaun putih yang dikenakannya. “Hei jangan menangis, aku bersedia menjadi temanmu” Ucapku sambil menghapus air matanya. “Benarkah?” “Iya, temanmu. Selamanya…” Aku merasa sedikit tidak yakin dengan perkataanku. “Apa kau bersedia mendengarkan ceritaku?” Tanyanya. “Baiklah”—Hai, namaku Bulan. Sesuai nama, aku juga menyukai bulan. Aku juga menyukai bunga mawar. Papaku walikota ini. Dan mamaku mempunyai butik. Aku anak tunggal. Sebenarnya aku sama seperti teman temanku yang lain. Papa dan mamaku tidak memanjakanku. Di sekolah juga teman dan guruku memperlakukanku dengan adil meskipun aku adalah anak dari walikota. Tapi akhir akhir ini, terdengar isu isu tidak baik menimpa keluarga kami. Papaku dituduh selingkuh dengan wanita lain, korupsi dan sebagainya. Mamaku juga mengalami masalah dalam bisnisnya. Teman temanku juga mulai menjauhiku gara gara itu.Malam ini, adalah perayaan hari ulang tahunku. Dilaksanakan di taman balai kota. Bulan purnama bersinar terang, lampu lampu taman menyala terang dihiasi oleh berbagai macam dekorasi. Wangi bunga tercium sepanjang jalan taman. Kue ulang tahunku tinggi sekali. Aku sudah siap sejak tadi, mengenakan gaun putih selutut favoritku.“Nak” Panggil mamaku dengan nada lembut. “Kau cantik sekali hari ini” Imbuhnya. “Mama juga” Aku tersenyum. Lalu mamaku menyelipkan sebuah mawar merah ditelingaku. “Terima kasih, Ma”Papaku masih mengobrol dengan sahabatnya. Tiba tiba entah dari mana datanglah sekelompok pemuda yang membawa berbagai senjata. Mereka semua menyerbu taman balai kota. Aku tau siapa mereka. Mereka orang orang yang membenci papaku, gara gara isu itu. Mereka membunuh satu persatu tamu undangan. Darah berceceran dimana mana. Mereka benar benar telah menghancurkan pesta ulang tahunku.“DOR!” Salah satu dari mereka menembak papaku.tewas. “DOR!” Lagi kepada mamaku, meleset. Tapi dari belakang, mamaku ditusuk oleh seseorang yang membawa pisau.Aku segera berlari secepat mungkin dan bersembunyi di bawah pohon besar.Aku mendongak keatas. Cahaya bulan bersinar terang. Tuhan, tolonglah aku.“Ternyata kau disini” Oh, tidak aku ketahuan. JLEB! Sebuah pisau menusuk dadaku. Tubuhku dimutilasi dan dikubur di bawah pohon besar itu. Aku telah pergi, selama lamanya.—“Terima kasih telah menjadi temanku, selamanya…” Tiba tiba udara malam terasa sangat menusuk sekali. Aroma bunga yang wangi tergantikan oleh bau anyir yang menyengat. Gadis ini sudah tiada. Dia adalah hantu.Gadis itu mendongakkan kepalanya, menatapku. Tidak ada lagi wajah cantik itu. Rambutnya penuh dengan serangga. Darah mengalir dari kepalanya. Dan ke 2 mata yang sudah hilang entah kemana. Tiba tiba bagian tubunya mulai terpisah pisah. Kepala, tangan, kaki, tidak menyatu lagi.“Terima kasih kau sudah bersedia menjadi temanku. Sekarang kau harus ikut denganku, khihihihi” Tawa itu menyeramkan sekali.Tiba tiba sepasang tangan bergerak mendekatiku. Tangan yang berlumuran darah itu kemudian mencekikku. Aku kehabisan napas. Lengang, gelap. Aku telah pergi menyusulnya. Di bawah cahaya bulan yang bersinar terang.

Book of Nina Diary
Horror
25 Nov 2025

Book of Nina Diary

Hari kamis telah tiba, seperti biasa malam ini kita akan menelusuri suatu rumah kosong yang terkenal cukup angker di pinggir kota. “Bella, Tiara, seperti biasa nanti malam kita menelusuri rumah angker di pinggir kota. kata Vanya. “Siap.” sahut bella dan tiara. Malam pun tiba, mereka sampai di rumah tersebut. Satu per satu mereka telusuri kamar yang berada di rumah tersebut. Pada akhirnya, mereka sampai di kamar Nina, Nina adalah salah satu anak dari pemilik rumah ini. rumah ini tidak ditempati karena ada kasus pembunuhan Nina, yang pada saat itu dibunuh di kamarnya. Namun sayangnya, belum diketahui pelaku atas pembunuhan Nina.Saat memasuki kamar Nina, Mata Vanya tertuju pada sebuah buku yang bertuliskan “Nina Diary”. Lalu Vanya mengambil buku itu dan berkata “Nina Diary, kisah tentang Nina mungkin semuanya ada disini.” Satu per satu halaman tersebut dibuka, namun belum dibaca, sampai pada akhirnya ia melihat tulisan di akhir halaman buku itu. Tulisan tersebut adalah “Jangan ambil buku ini, jangan baca buku ini, atau kamu akan merasakan akibatnya”. Vanya, bella dan Tiara membaca tulisan di akhir halaman itu.Vanya berkata “Sudah, ayo kita pergi dari tempat ini dan ambil buku ini”. Bella menjawab “bukankah kita tidak diperbolehkan untuk mengambil buku ini? Mengapa kau ambil buku ini?”. Tiara berkata “Kembalikan bukunya, Vanya! Jika terjadi sesuatu pada kita atau salah satu dari kita, bagaimana?”. “Ck, gitu aja dipercaya. Dah lah pulang yu”, Bella dan Tiara hanya bisa saling tatap tatapan dengan wajah yang ketakutan dan cemas tentang hal ini. Mereka pun kembali ke rumah masing masing.Saat sampai di rumah, Vanya membaca sebagian buku Diary Nina. Lalu Vanya sampai pada halaman tepat 1 hari sebelum Nina Dibunuh. Vanya membaca halaman tersebut, yang bertuliskan “Hari ini kucingku Miaw mati, Miaw kucing yang lucu, dan pintar. Miaw memiliki bulu bewarna hitam, mempunyai warna mata merah, dan telinga yang besar.” Sampai pada akhirnya, Vanya membaca tepat saat hari pembunuhan Nina, dibuku Diary itu Nina menulis “Hari ini aku mimpi, bahwa kucingku Miaw mati, pada saat itu aku melihat jam menunjukkan pukul 23:47. Lalu aku merasa seperti ada seseorang di depan pintu, saat itu hatiku sangat penasaran untuk melihat siapa yang disitu, maka ku buka pintu itu dan tiba tiba aku melihat teman papaku. Dan dengan cepat menusukkan sesuatu yang sangat tajam di tubuhku. Aku terbangun sangat kaget, pada saat itu. Aku melihat sekarang adalah jam 21:29, aku takut jika terjadi apa apa maka aku putuskan untuk tidak tidur untuk semalaman, lagian besok juga libur.”Vanya membalikkan halaman Diary, selanjutnya. Vanya pun melanjutkan membaca cerita yang dituliskan Nina, “Jam pun menunjukkan 23:47, aku benar benar merasa bahwa ada seseorang di depan pintu, aku takut membuka pintu itu, dan aku lupa mengunci pintu itu. Aku takut bahwa ada orang jahat, maka sekarang aku sedang sembunyi di selimut. Orang itu pun membuka pintuku, dia berkata “Keluar nina” berkali kali. Aku melihat dia membawa senjata tajam, tolongg dia sudah menemukanku.”Vanya yang membaca cerita itu langsung merinding ketakutan, ia langsung membuang buku itu ke arah meja belajarnya. 3 hari pun berlalu, Vanya ingin bersantai di depan rumah sekaligus mencari udara segar. Tiba tiba ada 1 ekor kucing lucu, bewarna hitam, memiliki mata warna merah, dan teliga yang besar. Vanya pun ingin memelihara kucing tesebut, “Sekarang namamu Nia yaa, ayo masuk ke dalam rumahku. Nia”. Kucing tersebut diberi nama Nia, dia sangat begitu sayang dengan Nia. Saat malam, Nia tertidur di samping Vanya. Vanya tidak mengetahui bahwa kucing itu adalah Nina. Iya, kucing bewarna hitam, memiliki warna mata merah, dan telinga yang besar adalah ciri ciri dari Miaw, kucing Nina.Saat Vanya tertidur, kucing tersebut berubah menjadi Nina, dan menaruh buku Diary Nina di bawah kolong kasur. Vanya terbangun karena terdapat suara dibawah kolong kasur, Vanya segera melihat apa yang ada dibawah kolong kasur. Saat melihat apa yang dibawah kolong kasur dia melihat Nina yang sembari memegang buku Diarynya. Vanya melihat itu lari ketakutan memojok di sudut kamarnya, Nina mulai berjalan kearah Vanya, lalu berkata “Sudah kubilang jangan ambil buku ini, jangan baca buku ini, atau kamu akan merasakan akibatnya”. Vanya tidak bisa berkata dan bergerak, sampai pada akhirnya Vanya melihat Nina membawa senjata tajam, dan.. Tolongg…

Perempuan di Bangunan Kampus
Horror
25 Nov 2025

Perempuan di Bangunan Kampus

Siang itu setelah dosen keluar dari kelas rasanya lega banget. Seakan semua beban hilang begitu saja. Ya entah itu beban pikiran, beban perasaan, beban laper karena dari pagi gak sarapan, yah pokoknya semua beban seakan sirna.Berhubung sudah waktunya istirahat, aku pun memutuskan untuk cabut aja dari kelas buat beli makan di kantin. Kupungut buku-buku dan beberapa alat tulis yang berserakan diatas mejaku, memasukkannya kedalam tas kemudian beranjak keluar dari sana. Oh ya, kelasku ini terletak di lantai tiga, sementara kantinnya ada di lantai satu, jadi butuh sebuah effort untuk menuju kesana haha. Mana lift yang biasa dipake sama anak-anak lagi dalam masa perbaikan pula. Kesel sih sebenernya harus naik turun tangga, tapi ya mau gimana lagi? Demi mengganjal perut yang kosong, daripada entar pingsan di kelas kan malah berabe.Melewati teras-teras kelas, tak jarang aku berpapasan dengan beberapa mahasiswa senior. Iya, kating istilahnya. Ya sebagaimana mestinya kalo kita gak sengaja papasan sama orang, aku pun menyapa dengan menundukkan kepalaku, begitupun sebaliknya mereka membalasnya dengan hal yang sama.Kayaknya bentar lagi udah mau nyampe tangga, gak sabar pengen cepat-cepat turun. Aku bergegas untuk mempercepat irama langkahku. Selain karena gak sabar, aku juga pengen mempersingkat waktu supaya nanti bisa agak lamaan di kantinnya. Satu tangga berhasil kulewati, tinggal satu tangga lagi dan aku akan segera sampai. Entah apa yang membuatku begitu exited hingga beberapa kali aku hampir terpeleset oleh lantai teras yang licin ini.“Eh, Ta! Mau kemana? Sini gabung!” suara itu mendadak membuatku berhenti. Sial, gak tau apa kalo aku lagi buru-buru?Aku yang sudah hampir menuruni anak tangga kedua itu pun lantas menoleh. Kulihat Karisma, Edo, dan Ardian yang tengah duduk santai di sebuah bangku panjang dekat pintu kelas. Mereka adalah teman seperjuangan dari jurusan yang berbeda. Udah lumayan akrab sih, karena kami udah kenal dari zaman masih SMA. Melihat bahwa yang memanggilku ternyata adalah Karisma, aku pun mengurungkan niatku untuk pergi ke kantin dan memilih untuk kembali menghampiri mereka.“Ada apa nih? Tumben banget kumpul-kumpul kaya gini?” tanyaku basa-basi. “Ya ngga ada apa-apa sih, tadi gak sengaja aja ketemu disini. Kamu sendiri mau kemana sih, buru-buru amat?” tanya balik Karisma. “Biasalah, mau ke kantin, hehe.” jawabku. “Eh lanjutin yang tadi dong! Mumpung ada Tata juga nih” kata Edo. “Oh iya, jadi katanya dia tuh suka muncul tiap jam 10 malam, di gedung ini.” Karisma melanjutkan ceritanya. “Tunggu! Tunggu! Kalian lagi nyeritain apa sih?” tanyaku dengan polosnya. Ya mana aku tau mereka cerita apa, orang aku aja baru dateng.“Jadi kamu belum tau soal penunggu gedung ini Ta?” tanya Ardi yang kubalas dengan sebuah gelengan. Mengingat belum cukup lama juga aku kuliah disini, jadi ya gak begitu banyak cerita ataupun sejarah yang aku tau. Mungkin hanya beberapa, dan itupun hanya ‘katanya’ saja. “Wah, kasih paham Ris” kata Ardi pada Karisma.“Jadi gini Ta, semalem itu kan ada mahasiswa yang dateng ke kampus. Katanya buat ngambil tugas di kelas gitu, soalnya besok udah deadline. Nah, awalnya kan pak satpam gak ngizinin, tapi karena ini penting banget jadi dia pun dibolehin buat masuk kampus dengan syarat gak boleh lama-lama, soalnya dia datangnya juga udah malem kan. Nah ya itu, katanya sehabis dia ngambil tugas itu dia ngeliat ada cewe lagi duduk di tangga lantai tiga sana tuh” jelasnya sembari menunjuk keatas.“Awalnya sih dia mikirnya mungkin ada mahasiswa lain yang juga ada kepentingan di kampus gitu. Nah pas dia ngelewatin cewe itu kan, ya sebagai seorang mahasiswa yang beretika dia nyapa dong, dan pas disapa itu si cewe pun noleh, dan kalian tau apa yang terjadi? Mahasiswa itu ngelihat sesosok wanita menyeramkan dengan wajah hancur, mulut yang sobek, dan lidah panjangnya menjulur keluar. Hih, gak kebayang aku kalo jadi mahasiswa itu” lanjut Karisma yang berhasil membuat bulu kudukku meremang.“DOORR!!” “EH SETAN!!” teriakku yang otomatis langsung nabok lengan orang yang udah bikin jumpscare tadi. Hal itu pun sukses mengundang gelak tawa dari ketiga temanku. “Ihh, Ardi, ngagetin aja sih” rajukku. “Ya lagian serius amat nyimaknya” ujar Ardi meledek. “Tau ah, ngambek aku”Waktu menunjukkan pukul 8 malam. Rencananya malam ini aku mau COD sama kurir buat ngambil barang yang udah aku beli dari onlineshop. Emang agak nyebelin sih abangnya, kenapa coba harus COD nya malem-malem gini? Kan aku tuh mau istirahat, huh. Tapi ya aku paham sih, kerja jadi kurir itu gak gampang emang, kebetulan juga katanya hari ini lagi banyak barang yang harus dikirim dan nahasnya aku kebagian pas malem.Karena udah malem aku pun berniat untuk mengajak Karisma, maksud hati biar ada temennya ngobrol nanti pas di jalan, ya biar gak sepi-sepi amat. Baru aja aku chat dia, baru manggil nama, dia udah klarifikasi duluan kalo dia lagi gak bisa diganggu. Ya akhirnya mau gak mau aku pun chat Ardian, dan syukurnya dia mau nganterin aku.Gak lama Ardian pun tiba di rumahku, aku pun buru-buru pamitan ke orangtuaku buat pergi COD di daerah dekat kampus.Sesampainya di tempat yang udah aku setujui sama si abang kurir, aku pun ngajak Ardian buat mampir di sebuah cafe yang gak jauh dari tempat itu, ya pantesnya aja sih, daripada harus berdiri di pinggir jalan? Bisa habis digigiti nyamuk kita nanti.Ngga terasa waktu berjalan begitu cepat, sampai minuman yang kami pesan sudah hampir habis. Udah sekitar satu jam kami menunggu di cafe ini, tapi tak ada tanda-tanda si kurir datang.“Mau berapa lama nih kita nungguin disini?” Ardian menengok arloji hitam dipergelangan tangan kirinya. “Bentar lagi udah mau jam sepuluh loh, emang kamu gak takut dicariin sama mamahmu?” lanjutnya. Mendengar penuturan sahabatku itu aku pun turut panik, “Ya takut sih Ar. Cuma ya mau gimana lagi? Si abang kurirnya juga nih ngeselin banget sih” kataku disela-sela kepanikanku.Karena udah gak sabar lagi akupun mencoba untuk menghubungi si kurir. Tapi, tiba-tiba ada pesan masuk yang mengatakan bahwa kuotaku sudah habis masa aktif. Sial, kenapa aku harus kehabisan kuota disaat-saat seperti ini?Melihat ekspresi wajahku yang mendadak berubah, Ardi pun bertanya, “Kenapa Ta?” “Kuotaku abis masa aktif Ar, bisa gak tathering sama kamu sebentar?” tanyaku canggung. Kalo gak kepaksa ya mana mau aku ngemis ke Ardi kaya sekarang ini? “Hah, kamu nih” setelah berucap demikian, kulihat Ardian tengah meraba-raba kantung celananya. Lama sekali, jangan bilang kalau kau lupa bawa handphone ya Ar!Oke, dan benar saja. Ternyata Ardian lupa membawa handphonenya. Ck, lagian gimana bisa di cafe yang se-elite ini gak ada satu pun wifi yang terhubung? Oke lah, sepertinya terpaksa aku harus bobol gerbang kampus buat nyari wifi, karena sinyalnya gak mungkin sampai keluar gerbang, hah.Sampai juga didalam kampus. Ngomong-ngomong sepi juga ya, walaupun penerangan ada dimana-mana bahkan bisa dibilang boros banget, tapi tetep aja kalo udah malem mah suasananya bakalan beda. Gak mau lama-lama ditempat ini, aku segera menyambungkan handphoneku pada wifi gratis yang udah disediain oleh pihak kampus.GUBRAKK!! Terdengar suara sebuah benda berbenturan dengan lantai, begitu keras. Membuatku sedikit terperanjat.“Gak papa kok Ta, palingan cuma kucing. Udah nyambung belum wifinya?” ujar Ardi menenangkan, mungkin dia peka kalo aku lagi ketakutan. “Udah Ar. Tapi kurirnya gak bales juga” kataku mulai panik.TRIINGG… TRIIINGG… Sebuah panggilan masuk dari kurir yang akan mengantarkan barangku. Buru-buru kuangkat panggilan itu. “Halo” sapaku. Beberapa detik aku menunggu, tak kunjung ada jawaban. Hingga tiba-tiba semilir angin berhembus menerpa wajahku. Membuat beberapa helai rambutku turut terbawa angin. Bersamaan dengan meremangnya bulu kuduk ini, tiba-tiba sambungan terputus.Aku buru-buru menghampiri Ardian yang berdiri tak jauh dari tempatku, “Ar, aku takut” ujarku sembari memegang erat tangan cowok tinggi disebelahku.HIHIHIHIHI… Oh tuhan suara apa ini? Katakan padaku kalau ini hanya halusinasiku saja.“Lari Ta!” tanpa aba-aba Ardian menarik lenganku, menggenggam pergelangan tanganku dengan erat. “Hihihihihi… Kalian tak akan bisa lari…” Suara itu? Kumohon, hilangkan suara itu dari pendengaranku.Saat kami tengah berlari, tiba-tiba saja kami dikejutkan oleh sesosok wanita berambut panjang dengan wajah yang sudah tak berbentuk, berdiri mencegat kami di depan gerbang. Apa yang harus kulakukan?“Ta! Lari! Ayo ikut aku!” teriak Ardian begitu jelas, menginstruksiku agar tidak salah jalan.Wanita mengerikan itu terus mengejar kami. Ia melayang namun dengan kecepatan yang sangat pesat. Tak sampai beberapa detik dia sudah ada didepan kami. Kini, wujudnya tak lagi sama. Ia menyeringai lebar kearah kami, dengan bola mata yang hampir keluar dari tengkoraknya. Wajah putih pucat itu, darah tak henti merembes dari kedua matanya.DAKK!! “Argghh!!” pekik Ardian ketika sebuah kayu berhasil mengenai tengkuknya, membuatnya terkapar tak berdaya, tak lama ia mulai tak sadarkan diri.“Ardi!!” teriakku sembari mencoba untuk menyadarkannya.“Hahaha, bersiaplah untuk menyusulnya ke neraka! TATA!!” Tunggu! Siapa yang baru saja menyebut namaku itu? Aku mendongak. Kulihat seorang berjubah hitam berdiri tepat dibelakangku. Membawa sebuah kayu besar yang sempat ia gunakan untuk memukul Ardian, detik saat yang lalu. Siapa dia?SRETT!! Perlahan sosok itu membuka jubah yang hampir menutup seluruh wajahnya.“KARISMA!”SELESAI

Itu Bukan Gue
Horror
25 Nov 2025

Itu Bukan Gue

Sore hari menjelang magrib suasana di kampus serasa sangat dingin karena siang hari hujan sangat lebat dan mengguyur seantero universitas. Di pojok paling jauh terlihat sebuah gedung tua yang merupakan sebuah fakultas di kampus ini, tembok-tembok yang mulai berlumut, semak belukar yang menjalar dari atas gedung sampai ke setengah bangunan hingga gedung itu terlihat begitu suram. Di depan pintu gedung itu terlihat dua orang mahasiswi yang sedang bercakap cakap.“Kemarin gue lihat lo di perpus sendirian, meg, ngapain lu, yang lain kan sudah pada selesai bimbingan?” Tanya tresya usai dari kantin dan hendak kembali ke ruang kelas. “Emang iya? Bukannya lo tegur” Mega tidak mengingatnya, ‘apakah memang iya aku sendirian di perpus? Ah, mungkin saat aku mengerjakan proposal skripsi’. Katanya dalam hati. “Lo sibuk gitu”Percakapan mereka berdua berakhir sampai di situ, karena Mega hendak ke kelas menemui teman-temannyaSetelah sampai di ruang kelas, Mega menemui teman-temannya yang lain. Ada Silvi, Diki dan Teguh. Mereka sedang menyusun proposal penelitian untuk mengampu tugas seminar proposal 2 minggu mendatang. Mendadak percakapan mereka berganti topik.“meg, dua hari yang lalu lo dandanan gak seperti biasanya deh. Pake gamis serba putih gitu, terus gue panggil gak nyaut.” Ujar Diki. “Bener, meg. Padahal biasanya lo kalo ke kampus kan stylish banget. Kita yang tadinya mau ke kantin, gak pergi-pergi gara-gara manggil lo doang” teguh menyambar pembicaraan Diki “Hah?” Mega terkejut “Gue gak ke kampus dua hari yang lalu.” “Lah terus itu siapa dong? Sumpah muka, badan, mirip lo banget” Diki bertanya keheranan “Ih jadi takut gue. Lo gak bercanda, kan?” Silvi menimpali percakapan. “Ya enggaklah, Sil. Ngapain juga.”Mereka semua saling pandang memandang dan keheranan. Terlebih lagi Mega yang berusaha mencerna terhadap apa yang telah terjadi. Sementara itu, tanpa mereka ketahui, sosok yang mirip Mega mendatangi mereka dari luar jendela. Menyeringai dan tertawa pelan, tak ada yang mengetahuinya, kecuali Mega yang menengok ke arah jendela.

Jam Berdentang
Horror
25 Nov 2025

Jam Berdentang

Kira-kira satu bulan yang lalu Ayahku membawa sebuah jam bandul seukuran lemari ke ruang tamu lalu dia menceritakan kepada kami bahwa jam tersebut dibelinya dari seorang kakek-kakek yang hidup sebatang kara, kakek-kakek itu menjual jam bandul tersebut karena sangat membutuhkan uang kemudian Ayahku membeli jam bekas tersebut seharga 600 ribu.Disaat kami sedang makan malam bersama tiba-tiba jam tersebut berdentang namun anehnya jam tersebut berdentang tidak sesuai dengan waktu yang ditunjukan karena pada saat itu waktu menunjukan Pukul 08:00 namun jam tersebut hanya berdentang sebanyak dua kali, lalu aku pun merasa bahwa jam tersebut telah rusak, karena yang aku ingat ketika sore jam tersebut masih berdentang dengan jumlah normal.Kemudian aku menyarankan kepada Ayahku untuk menjual jam tersebut atau membuangnya, akan tetapi Ayahku tidak setuju dengan saranku kemudian dia berpesan kepada kami bahwa jangan pernah menjual ataupun membuang jam tersebut bahkan ketika dia sudah tidak ada di dunia ini lagi, pada saat itu juga aku mempunyai firasat yang buruk karena tidak biasanya Ayahku berbicara tentang kematian dan benar saja delapan hari kemudian aku menerima kabar buruk bahwa Ayahku telah meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas.Semenjak Ayahku meninggal dunia sekitar satu bulan yang lalu Jam tersebut masih berada di ruang tamu dan jam tersebut tidak pernah kami gunakan lagi semenjak baterainya kosong. Ketika kami sedang makan malam bersama, Ibuku meminta kepada Kakak cowokku untuk membelikan baterai jam sepulang dari dia berkerja, lalu Kakakku setuju dengan permintaan Ibu dan pada keesokkan harinya di sore hari yang cerah Aku bersama Kakakku membersihkan jam tersebut dari debu dan mengganti baterainya dengan yang baru.Kemudian semenjak jam itu dihidupkan kembali bunyi dari dentangan jam tersebut bejumlah normal sesuai dengan waktu yang ditunjukan, namun keesokkan harinya ketika kami sedang sarapan tiba-tiba jam tersebut berdentang sebanyak tiga kali padahal waktu menunjukkan Pukul 07:00 Tiba-tiba firasatku menjadi buruk dan Aku hanya bisa berdoa semoga semuanya akan baik-baik saja. Akan tetapi doaku tidak terkabulkan karena beberapa hari kemudian Ibuku jatuh sakit dan dia dilarikan ke rumah sakit, hingga akhrinya dia meninggal dunia di bulan Maret.Kematian Ibu dan Ayahku adalah hal yang begitu menyakitkan yang pernah Aku rasakan didalam hidupku. Berhari-hari di dalam kamar Aku hanya bisa menangis dan juga berdoa. Menangis karena merindukan mereka dan berdoa karena ingin mereka tetap bahagia di alam sana.Ketika Aku sedang sendirian di dalam rumah tiba-tiba bel rumah berbunyi. Awalnya Aku pikir kakakku yang datang tapi ternyata tanteku yang sedang bertamu bersama suami dan juga anaknya. Tanteku memberikan kami sebuah bungkusan plastik besar berisakan bahan pokok makanan dan juga uang lima ratus ribu rupiah. kemudian dia memberikan nasihat kepadaku agar tetap harus tabah dalam menjalani kehidupan walaupun tanpa kedua orangtua. Aku pun sangat berterimakasih kepadanya lalu dia pun pulang bersama suami dan anaknya. Sore harinya Aku membagi secara adil uang tersebut kepada kakakku.Saat kami makan malam bersama tiba-tiba jam tersebut kembali berdentang sebanyak tiga kali padahal jam menunjukkan pukul 09:00 Tiba-tiba Aku pun menyadari adanya suatu keanehan dengan jam tersebut, kemudian Aku mencoba menjelaskan kepada kakaku sepertinya jam tersebut memiliki kutukan. Karena sebelum Ayah meninggal jam tersebut berdentang sebanyak dua kali pada pukul 08:00 malam dan dia meninggal di bulan februari delapan hari setelah dentangan tersebut, lalu kakakku mengatakan bahwa itu cuma kebetulan saja, Aku pun menjawab bahwa bisa saja itu bukan suatu kebetulan karena jika diingat kembali jam tersebut pernah berdentang sebanyak tiga kali pada pukul 07:00 pagi dan Ibu meninggal di bulan Maret dan tujuh hari setelah dentangan jam tersebut, lagi-lagi kakakku mengatakan bahwa itu hanya kebetulan saja karena yang namanya kematian adalah takdir Tuhan dan aku pun hanya bisa terdiam seribu kata.Keesokkan harinya kakakku menerima panggilan telepon dari suami tanteku, lalu setelah dia menutup panggilan, dia memberitaukanku bahwa sepupu kami yang bernama Sella yang masih berumur sepuluh tahun tiba-tiba saja meninggal dunia tanpa sebab apapun dan di siang itu juga kami berhadir ke pemakaman putri tugalnya, lalu setelah upacara pemakamannya selesai tanteku hanya diam dengan wajahnya yang terlihat seperti orang yang tegar dalam menghadapi kenyataan, namun aku dapat merasakan kerapuhan di dalam hatinya. Aku memahaminya karena aku pernah didalam kodisi seperti itu dan tidak lama kemudian kakakku mengajakku pulang ke rumah.Ketika malam hari tiba kami duduk bersantai di ruang tamu, lalu kakakku mengatakan kepadaku bahwa kematian Sella adalah bukti bahwa kutukan jam tersebut hanyalah kebetulan saja. Karena jika kutukan itu benar seharusnya Sella meninggal dunia sembilan hari setelah dentangan jam tersebut dan untuk sekarang apa yang dikatakan oleh dia memanglah terasa benar, akan tetapi tujuh hari kemudian tanpa diduga suami tanteku meneleponku dengan suaranya yang amat bersedih. dia menceritakan bahwa tanteku telah bunuh diri dan diduga bunuh diri karena dia stress menghadapi kenyataan bahwa putrinya telah meninggal dunia dan Aku pun tidak bisa berkata-kata lagi.Sepulang dari pemakaman tanteku Aku mengambil palu di dapur, lalu Aku berdiri di depan jam tersebut dengan niat hati untuk menghancurkannya namun niat hati ini seketika pudar ketika dia sedang berdiri di belakangku dan mengatakan bahwa jika aku menghancurkan jam tersebut berarti aku tidak mengharagai pesan Ayah. Kemudian dengan kesalnya aku menjelaskan kepada kakakku, bahwa jam tersebut sudah mengambil satu persatu anggota keluarga, lalu dengan tenangnya dia mengatakan bahwa sekali lagi kutukan itu hanya kebetulan saja.Kemudian pada malam hari ketika aku berada didalam kamar tiba-tiba jam tersebut berdentang sebanyak tiga kali pada pukul 10:00. Aku tidak tau apa yang akan terjadi sepuluh hari kemudian namun aku hanya bisa berharap semoga Tuhan tidak mengambil nyawa anggota keluargaku lagi. Karena sudah begitu banyak anggota keluargaku yang meninggal dunia, namun harapan itu telah sirna karena sepuluh hari kemudian kami mendapatkan berita lokal, bahwa polisi menemukan jasad suami tanteku mengambang di sungai dekat komplek tempat dia tinggal. Kematian dia diduga karena bunuh diri dan kini aku tambah yakin bahwa firasat kutukan jam tersebut memang benar adanya.Ketika kakakku tertidur lelap di kamarnya. Diam-diam aku memotret jam tersebut dengan kamera Hp dan mempromosikannya lewat toko online lalu aku menaruh harga sangat murah yaitu dengan harga 200 ribu. Setelah aku mempromosikan jam tersebut tiba-tiba benda terkutuk ini berdentang sebanyak tiga kali pada pukul 01:00 Kemudian Aku memiliki firasat yang membuat tubuhku merinding karena sepertinya besok kami akan mendapatkan kabar kematian lagi.Lalu pagi harinya aku mendapatkan sebuah pesan dari orang yang mau membeli jam tersebut dan dia menulisakan pesan bahwa dia hari ini akan datang ke rumah untuk melakukan transaksi jual beli namun dia tidak tau pasti jam berapa datangnya, Aku pun memutuskan untuk menunggu pembeli itu. Beberapa lama kemudian di sore hari dengan berselimut awan mendung akhirnya pembeli itu datang ke rumahku, lalu dia melihat-lihat detail di jamnya. Tidak lama kemudian kakakku pulang ke rumah lalu dia menanyakan tentang siapa remaja itu, Aku pun menjelaskan bahwa dia adalah orang yang akan membeli jam tersebut. Sontak kakakku pun marah dan dia langsung mengusir pembeli itu dari dalam rumah, lalu setelah itu dia pun memarahiku dengan mengatakan bahwa diriku sudah tidak menghargai pesan Ayah ketika Ayah masih hidup dan sampai kapanpun dia bersumpah berpegang teguh dengan pesan itu, dengan kesalnya Aku menjawab bahwa Jam tersebut pembawa sial dan terkutuk, Tiba-tiba dia memukul wajahku dengan sangat keras.Setelah dia memukul wajahku kemudian dengan tenangnya dia mengejekku dengan mengatakan bahwa diriku bodoh, karena diriku yang telah memiliki pemikiran bahwa jam tersebut terkutuk, mendengarkan ejekkan tersebut hatiku semakin panas dan jengkel dan tanpa kusadari Aku berjalan ke dapur, lalu mengambil palu di atas meja makan dan dengan sekuat tenaga aku melemparkan palu itu ke arah wajahnya dan dia langsung tersungkur ke lantai. Lalu karena Aku panik Aku pun mengambil palu itu lagi dan memukulkannya ke kepala dia berulang kali hingga dia tewas berlumuran darah dan sekarang Aku mengerti bahwa Akulah orang yang membuat kutukan dentangan pada pukul 01:00 malam itu menjadi kenyataan.Lalu tiba-tiba saja jam tersebut mengeluarkan bunyi tertawa bahagia seorang perempuan yang sangat mengerikan dan membuat seluruh tubuhku merinding. Kemudian aku pun mencoba menghancurkan jam tersebut dengan palu bekas darah kakakku, namun jam tersebut tidak bisa dihancurkan dan pada keesokkan harinya aku mengubungi polisi dan mengakui semua perbuatanku.Beberapa tahun setelah kejadian itu Aku dibebaskan dari dalam sel tahanan dan sekarang diriku sudah terlihat seperti orang dewasa berumur 30an, kemudian ketika Aku berada di rumah semua kaca jendela nampak berdebu dan jam tersebut terlihat sudah tidak berfungsi lagi. Lalu pada hari itu juga Aku mempromosikan jam tersebut ke toko online dan aku bersyukur ada orang yang mau membeli jam tersebut seharga 600 ribu rupiah namun aku tidak menceritakan masalah jam tersebut kepadanya, Karena jika aku menceritakan masalah jam tersebut kemungkinan besar dia tidak akan mau membelinya dan sekarang benda sial itu sudah tidak berada di rumahku lagi, hanya saja aku merasa kesepian.

Menampilkan 24 dari 166 cerita Halaman 6 dari 7
Menampilkan 24 cerita