Gelang Setan
Horror
30 Nov 2025

Gelang Setan

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (15).jpeg

download (15).jpeg

30 Nov 2025, 16:28


Semburat rembulan kian memucat, mencumbu pucuk-pucuk mendira yang kian membuku dibalut embun kelabu. Suara derit mesin kendaraan yang lalu lalang di depan kantorku berangsur-angsur mulai sirna seiring berjalannya waktu. Yang terdengar hanya nyanyian jangkrik dan hembusan angin malam yang membelai ranting-ranting pohon beringin dan jambu *** yang ada di halaman depan kantor. Itu berlangsung hingga fajar menjemput di balik hari.


Aku duduk dalam ruangan kantor perpustakaan tempat aku bekerja sebagai penjaga malam. Aku sudah menjalani pekerjaan ini selama delapan tahun, setiap malam tanpa ada libur. Aku memang bekerja seorang diri, jika aku libur tentu tidak ada yang menggantikan tugasku. Pernah aku mengusulkan kepada atasanku agar menambah lagi petugas jaga malam, agar pekerjaan bisa dilakukan secara bergilir. Namun menurut atasanku anggaran untuk penjaga malam dari PEMKOT hanya satu orang. Mungkin kantor perpustakaan dianggap tidak terlalu rawan dari pencurian, maka untuk penjaga malam cukuplah satu orang. Sehingga dengan demikian hingga sekarang aku tetap bertugas seorang diri.


Sebagai seorang penjaga malam honorer tentu tidaklah memiliki gaji yang besar. Tapi aku tetaplah mensyukurinya, karena menurutku kebahagiaan tidaklah diukur dari gaji yang besar. Kebahagian akan kita rasakan jika kita selalu merasa syukur dengan apa-apa yang diberikan Sang Pencipta kepada kita. Dan aku pun terus bersyukur karena anak dan istriku tidak pernah minta yang berlebihan. Mereka selalu menampakkan wajah gembira dan penuh keceriaan, jika kami sedang berkumpul menikmati makanan di atas meja apa adanya.


Istriku pun tidak tinggal diam, sehari-hari dia membantu juga untuk menambah penghasilan kami dengan membuat cemilan untuk dititipkan di warung-warung. Hasilnya lumayanlah untuk membuat dapur tetap ngebul dan anak tetap bersekolah. Dan istriku dengan senang hati mengerjakan semua itu. Hingga sampai sekarang dia tetap setia menemaniku walau kami sudah berusia 50-an tahun.


Selama delapan tahun aku bertugas sebagai penjaga malam tak pernah ada gangguan apapun, baik dari alam nyata maupun alam yang kasat mata. Oh... ya aku hampir lupa, pernah satu kali ada anak muda makai motor dalam keadaan mabok. Motornya menabrak pintu pagar, sehingga slot pintu pagar lepas. Hanya satu kali itu saja. Untuk gangguan dari alam ghaib tidak pernah sama sekali.


Pernah seorang pegawai kantor yang sudah lama dariku bekerja di situ menceritakan hal-hal ganjil dan aneh yang dia alami selama bekerja di situ, kejadiannya di siang hari. Tapi aku tak pernah menggubris cerita-cerita semacam itu. Dia juga mengatakan bahwa kantor itu dulunya dibangun di atas kuburan tua milik Belanda. Aku anggap ceritanya itu hanya untuk menakuti ku, jangan-jangan dia menginginkan aku agar tidak betah atau takut bekerja di situ. Aku yakin aku lebih tahu dari pegawai itu soal kantor itu, sebab aku dilahirkan di kota itu. Sedari kecil aku juga pernah bermain-main di sekitar kantor itu, yang dulu belum menjadi kantor perpustakaan seperti sekarang ini. Terus terang dalam kehidupan sehari-hari aku tidak terlalu suka dengan hal-hal mistis, walaupun aku sering menonton film horor.


Demikianlah hingga hari ini tidak ada kejadian yang berarti selama aku menjalankan tugasku sebagai penjaga malam.


Aku menikmati pekerjaanku seorang diri di tengah kesunyian malam yang penuh ketenangan dan kedamaian.. Ditemani sebuah laptop dan secangkir kopi untuk menghibur diri dan mengusir rasa ngantuk, sehingga aku bisa tidur dan istirahat jika malam sudah hampir berakhir. Keamanan pun terus terkendali hingga sampai pada suatu malam....


Aku menonton film horor di video YouTube. Itu aku lakukan hampir setiap malam. Sudah ratusan atau mungkin ribuan film horor sudah aku tonton di video YouTube, baik yang dari barat maupun dari negeri sendiri. Tapi aku lebih suka yang dari Barat, sebab menurutku yang dari Barat lebih masuk akal daripada yang lokal. Terkadang aku juga nonton film action dan video-video lain yang tersebar di YouTube. Itu semua aku lakukan untuk mengusir kejenuhan dan mengulur waktu hingga sampai saatnya aku menghempaskan tubuhku di atas sofa yang ada di ruangan kantorku untuk beristirahat.


Sejenak aku menoleh ke arah jam tanganku yang terletak di atas meja dekat laptop. Waktu sudah menunjukkan pukul 03:00. Kulihat juga jam yang ada di pojok bawah layar monitor untuk meyakinkan kalau-kalau arlojiku tidak akur, jam di monitor juga menunjukkan waktu yang sama. Mataku terasa sudah berat untuk melotot kearah monitor, sebentar melek sebentar merem. Aku sudah tidak jelas lagi awal dan akhirnya adegan di film yang ku tonton. Aku menguap lebar tanda kantuk sudah benar-benar menyerang.


Ku matikan laptopku yang sudah termasuk usang, karena sudah sepuluh tahun yang lalu aku beli, yang selalu setia menemaniku setiap malam. Aku masukkan kedalam tas yang setiap aku berangkat kerja selalu aku bawa yang isinya selain laptop ada juga benda-benda lain yang aku perlukan.


Usai itu aku menuju toilet yang rutin aku lakukan setiap malam sebelum aku menghempaskan tubuhku di atas sofa.


Hal itu sudah diajarkan oleh ibuku sedari kecil, agar sebelum tidur buang air kecil dulu. Mungkin itu diajarkan juga oleh ibu-ibu yang lain kepada anak-anaknya.Perlahan-lahan aku merebahkan tubuhku di atas sofa yang setiap malam menjadi ranjang bagiku. Kutarik kain sarung untuk membungkus tubuhku dari ujung kaki hingga sebatas leher. Tubuhku terasa nyaman. Hembusan AC yang sudah ku kurangi volumenya, yang menempel di dinding kantor, membuat tubuhku tidak merasa gerah pada saat musim kemarau seperti ini.


Ada hal yang tak pernah aku tinggalkan saat menjelang tidur.


Aku selalu mengucapkan doa dan zikir yang telah diajarkan oleh Ayahku sejak dari kecil. Karena saat tertidur hanya Allah yang menjaga diri kita dari segala gangguan baik yang datang dari bumi maupun dari langit, begitulah yang dikatakan Ayahku dulu. Dan itu tetap kuingat dan ku yakini betul hingga aku sudah menjadi seorang ayah juga.


Tapi entah mengapa malam itu aku benar-benar lupa mengucapkan doa dan zikir, mungkin karena kantuk sudah terlalu berat, sehingga begitu merebahkan tubuhku di atas Saat aku terpana memandang ke arah sekeliling goa, aku merasakan ada tangan dingin dan kaku menyentuh pundak ku. Secara refleks aku membalikkan tubuh dengan maksud untuk menghindar karena didera rasa yang teramat sangat.


Bersamaan dengan itu, di dalam gua menyeruak bau kemenyan yang entah dari mana datangnya, membuat bulu kuduk tambah merinding. Di hadapanku berdiri sesosok makhluk yang belum pernah aku lihat sepanjang hidupku.


Dadaku terasa berdebar, bulu kudukku merinding, lutut ku terasa bergetar sehingga lantai goa yang aku pijak tidak terasa lagi. Perasaan takut dan cemas menyerang jiwa dan ragaku. Belum pernah aku merasakan takut seperti itu di dunia nyata.


Makhluk di hadapanku benar-benar makhluk aneh dan menyeramkan, lebih seram daripada makhluk-makhluk yang pernah ku tonton di film horor. Tubuhnya berbentuk besar tinggi, ditumbuhi bulu-bulu lebat dan hitam seperti gorila ataupun orang hutan. Daun telinganya lebar dan agak meruncing mengarah ke belakang. Di kepalanya terdapat dua buah tanduk yang runcing, bola matanya besar melotot berwarna merah seperti bara api yang masih menyala.


Benar-benar pemandangan yang menyeramkan bagi mereka yang tidak pernah berkubang dengan dunia mistik dan alam supranatural.


Dengan dada berdebar dan wajah agak memucat aku merasa ngeri untuk menatap makhluk yang sangat menyeramkan itu.


Yang membantu menguatkan jiwaku hanyalah sepotong iman kepada yang menciptakan makhluk itu. Aku yakin tidak ada kekuatan yang bisa menandingi kekuatan nya, baik yang ada di langit maupun di bumi. Dengan didorong oleh pikiran seperti itu, perlahan-lahan aku beranikan diri untuk menatap makhluk itu, mulai dari ujung kukunya sebesar mata linggis hingga bola matanya seperti bola api yang pernah dijadikan oleh sebagian anak pesantren untuk bermain sepak bola.


Tapi anehnya makhluk itu tidak mengucap sepatah kata pun. Dia hanya menatapku dengan tajam mengerikan. Kemudian dia menyentuh tangan kananku dengan tangannya membuat dadaku makin bergemuruh. Tangannya sangat dingin dan kaku membuat bulu kudukku kembali merinding. Kakiku terasa makin lemas menginjak lantai goa itu. Aku merasakan tangannya mulai meremas tanganku. Remasan nya semakin lama semakin keras yang aku rasakan. Saat itu keluarlah dari mulutku firman Allah yang ada di Al-Quran yang sudah aku hafal dan sering aku ucapkan selama ini.


Aku tersentak kaget. Aku terjaga dari tidurku yang baru setengah jam. Semua mimpi-mimpi itu buyar seketika. Tak ada lagi batu-batu dan air mengalir yang ada di dalam goa saat aku bermimpi. Yang ada di sekelilingku sekarang hanya kursi; rak-rak buku, serta lampu yang cahayanya menerangi ruangan, yang tentu saja menjadi pemandangan yang aku lihat setiap malam di ruang kantor perpustakaan.


Saat itu juga aku merasakan ada sebuah benda yang melingkar di pergelangan tangan kananku. Benda itu benar-benar aku rasakan keberadaannya di tanganku. Aku perhatikan pergelangan tanganku. Di tanganku melingkar sebuah gelang yang terbuat dari biji-biji tasbih berwarna hitam pekat. Aku tidak jelas terbuat dari bahan apa biji-biji itu. Hanya keesokan harinya ku perhatikan biji-biji tasbih itu mirip biji kacang kecipir yang sudah dikeringkan, yang di daerahku orang tua jaman dulu sering membuatnya menjadi gelang untuk anak-anak bayi, agar bayi tidak suka menangis di malam hari.


Aku sangat tidak menyukai gelang yang ku peroleh dari alam mimpi itu. Aku memang tidak suka berhubungan dengan hal-hal mistik. Karena menurutku hal semacam itu akan menjerumuskan kita ke jurang kemusyrikan, yang menurut ceramah para ustadz itu adalah dosa yang tidak bisa diampuni. Aku tidak punya niat sama sekali untuk menyimpan gelang itu apalagi memakai dan membawanya kemana-mana. Bagiku gelang itu miliknya para setan, jika aku pakai berarti aku menjadi temannya para setan. Aku Pun tak pernah menceritakan perihal gelang itu kepada isteri dan anakku, karena menurutku mereka tidak perlu tahu dan memang tidak ada gunanya buat mereka.


Timbullah pikiran-pikiran dan pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari otakku. Kemana aku harus membuang gelang itu? Aku Pun tidak berani sembarangan membuangnya. Aku khawatir jika aku buang sembarangan akan ada akibat buruk bagiku dan keluargaku. Perasaan bingung menyeruak ke benakku. Sebab makhluk dalam mimpiku tidak memberitahu apa-apa perihal gelang itu. Di samping itu aku juga khawatir perbuatan syirik bakal mendekatiku jika gelang itu tetap berada padaku. Dan akhirnya tentu saja akan menjadikanku umat yang ingkar kepda Allah dan mengikuti jejak-jejak setan.


Lama aku termenung memikirkan hal itu, hingga akhirnya aku ingat kepada seorang temanku yang suka mengoleksi benda-benda mistik. Temanku itu bernama Jarot. Aku tidak faham mengapa Jarot menyukai benda-benda seperti itu. Aku Pun tak pernah usil untuk menanyakan perihal itu kepadanya. Biar bagaimanapun dia adalah teman, aku tidak suka membicarakan hal-hal yang menyinggung perasaan teman. Biarlah itu akan menjadi urusannya dengan Sang Pencipta di hari kemudian, karena hanya Dia yang berhak memberi hukuman kepada umatnya pada hari itu.


Keesokan harinya kutemui Jarot di rumahnya. Dia sehari-harinya berprofesi sebagai tukang gunting rambut. Terkadang jasanya sering dipakai juga oleh orang-orang yang suka mengobati penyakit dengan cara-cara ghaib, walaupun sebenarnya penyakitnya bukan berasal dari alam ghaib.


Kedatanganku diterima Jarot dengan ramah, sebagaimana layaknya seorang teman. Selang beberapa menit kemudian istri Jarot keluar dari dapur dan menghidangkan dua cangkir kopi hangat dan sepiring pisang rebus di atas meja. Dia mempersilakan ku mencicipi hidangannya, kemudian masuk lagi ke arah dapur.


Di dinding rumah Jarot terpampang keris dan beberapa benda kuno yang tak aku fahami.


"Ada apa, Bok? Adakah sesuatu yang akan kamu ceritakan hari ini kepadaku?" tanya Jarot kepadaku. Di kalangan teman-teman, aku memang biasa dipanggil "Abok". Aku tidak tahu mengapa mereka memanggilku seperti itu, padahal namaku bukan seperti itu. Yang kutahu panggilan "Abok" berarti "Kakek" dalam bahasa Indonesia-nya. Mungkin mereka memanggilku seperti itu karena rambutku sudah ditumbuhi uban, bahkan kumis ku sudah tidak ada lagi rambut hitamnya. Teman-temanku yang sebaya sebenarnya juga sudah banyak yang memiliki uban, cuma yang paling banyak itu aku.


Menjawab pertanyaan Jarot, aku ceritakan semua kejadian di mimpi yang ku alami. Dan tentu saja masalah gelang itu. Setelah mendengar ceritaku, tanpa basa-basi lagi dengan cepat Jarot mengambil gelang itu dari tanganku. Diperhatikannya gelang itu dengan teliti, kemudian dia tersenyum sambil menyeringai, sebagi tanda dia sangat menyukai benda itu.


Menurut Jarot gelang itu milik raja iblis bernama Datuk Antu Kuwek. Gelang itu berkhasiat untuk menundukkan segala makhluk dari golongan setan. Tapi aku tak peduli dengan segala khasiat dari benda itu. Yang aku tahu gelang itu milik setan, jika memakainya berarti akan dekat dengan setan.


Setelah puas melihat-lihat benda itu dengan seksama, Jarot berkata kepadaku, "Berapa, Bro?" sambil tangannya merogoh kantong celananya bagian belakang. Mungkin dia mau mengambil uang dari kantong itu.


"Gak usahlah, Bro. Ambillah.. gratis, ku kasih Cuma-cuma." Sahutku.


Setelah pulang dari rumah Jarot, aku tidak mau lagi memikirkan mimpi dan masalah gelang itu. Aku Pun tidak pernah bertanya kepada Jarot, apa yang akan dia perbuat terhadap gelang itu. Aku merasa lega karena gelang itu tidak berada di tanganku lagi. Dalam hati aku yakin Jarot tahu apa yang akan dia perbuat dengan gelang itu, karena dia sudah biasa berurusan dengan hal semacam itu.


Hingga sekarang aku pun tidak pernah mengalami hal-hal buruk dan aneh yang berasal dari gelang setan itu. Setiap malam hari aku masih tetap menjalankan tugasku seperti biasa sebagai penjaga malam di kantor perpustakaan dan arsip. Dan setiap menjelang tidur aku tidak lupa lagi mengucapkan doa dan zikir.


Kabar yang terakhir kudengar dari Jarot, anaknya yang bungsu bernama Lengos yang masih berumur lima tahun, raib entah kemana perginya. Sudah dicari dengan cara nyata maupun dengan pertolongan orang pintar, tapi hasilnya nihil. Menurut teman-temannya, mereka melihat Lengos terakhir saat bermain hujan-hujanan di pinggir selokan. Karena memang saat ini baru memasuki musim hujan yang memang disukai anak-anak. Sudah hampir enam bulan di tempatku dilanda kemarau panjang.


Menurut teman-teman Lengos, mereka melihat Lengos waktu itu memakai gelang tasbih warna hitam menyeramkan. Saat itu kelakuan Lengos agak kasar, suka menendang teman-temannya, sehingga teman-temannya menjauh dari Lengos


TAMAT

Kembali ke Beranda