“Kamu tahu kan, Bapak ngelakuin ini semua, karena sayang sama kamu.”
Aruna menatap tangan bapaknya yang mengulurkan sejumlah uang. Senyum bapaknya melebar, simetris, seakan tulus dari hati. Anak perempuan itu menerima lembaran uang dengan tangan gemetar, kulitnya yang kurus dan dingin bergetar meski malam tadi tubuhnya hangat oleh darah yang kering di sekujur lengannya. Aruna tahu, uang itu bukan hadiah—itu adalah imbalan untuk pekerjaan yang baru saja ia lakukan, mencuri dari pejalan kaki yang tak sengaja lewat, tanpa ampun. Elusan kepala bapaknya menjadi penguat, meski sekaligus mengikat Aruna dalam jaring takut dan cinta yang rumit.
“Aruna ngerti,” jawabnya lirih.
Sinar mata Aruna perlahan meredup, kehilangan kilau yang tadi sempat menyala. Ia menatap punggung bapaknya yang menjauh, sosok itu menapaki jalan setapak keluar rumah, meninggalkan Aruna sendiri dalam hening yang menelan. Sunyi malam terasa lebih pekat sekarang, seolah dinding-dinding rumah menghisap setiap napas yang ia hembuskan. Aruna menekan bibirnya, menahan rasa ingin menangis, lalu tanpa sadar menggaruk kulitnya yang tak gatal. Tidak ada jawaban atas rasa sepi yang menempel di tulang. Tidak ada suara selain detak jantungnya sendiri yang menjerit dalam dada.
Akhirnya, Aruna memilih tidur. Ia merapatkan tubuhnya yang kurus, beralas koran bekas, memeluk diri sendiri seakan ingin menyerap sedikit panas dari tubuhnya sendiri. Udara malam yang dingin menusuk kulit tipisnya, membuatnya menggigil, menekuk lutut ke dada, bersandar ke dinding. Di sana, di sudut kamar yang gelap, Aruna menemukan sepotong kehangatan yang bisa ia genggam—meski itu hanyalah bayangan dari cinta bapaknya, yang dibungkus darah dan rasa takut.
Keesokan harinya, siklus itu akan terulang. Pagi tiba dengan aroma daging hangat, dihidangkan di atas piring yang sama, rapi dan menggoda selera. Aruna duduk di meja, menyantap potongan daging itu dengan lahap, rasa bersalah dan ketakutan terbenam di setiap kunyahan. Bapak di dekatnya menatap dengan mata yang lembut, seakan memuji usaha dan ketaatannya.
“Aruna tahu kan, Bapak ngelakuin semua ini, karena sayang sama kamu.”
“Aruna ngerti,” jawabnya lagi, dengan suara yang lebih tegar kali ini. Namun di dalam hatinya, ada bisikan lain yang tak pernah ia ucapkan—bisikan yang bertanya apakah cinta yang dibalut darah itu benar-benar nyata, ataukah hanya cermin kebohongan yang membungkus kesepian dan ketakutannya.
Aruna menatap jendela yang menampakkan langit pagi, namun sinar mentari tidak mampu menembus gelap yang menyelimuti pikirannya. Ia tahu, setelah sarapan selesai, siklus hari itu akan berlanjut: pekerjaan, uang, elusan, dan keheningan yang menekan hingga malam kembali datang, membawa dingin, darah, dan rasa takut yang menempel seperti bayangan abadi.