Diego duduk di lobby sambil membaca majalah yang disediakan, hari ini adalah hari pertama Diego diterima bekerja di PT. Asterio, dan saat ini dia menunggu manager HRD untuk memanggilnya ke ruangan.
"Bapak Diego febrianto, silahkan masuk ke ruangan HRD Manager, di ruangan paling ujung sebelah kanan" ucap wanita berkulit putih yang rambutnya disanggul kecil dengan tubuh semampai dan menggunakan kemeja merah marun dan rok span hitam, dia sepertinya sekretaris di kantor tersebut.
"tok... tok..." Diego mengetuk pintu ruangan tersebut
"baik silahkan masuk" jawab Bapak - bapak stengah baya berusia empat puluh tahunan yang duduk di meja ruangan tersebut, di atas meja tertulis Bapak Wibowo HRD Manager.
"Anda yang bernama Diego"
"betul pak"
"selamat, anda sudah bergabung pada perusahaan kami, dan anda mulai bekerja pada hari ini, silahkan membaca dan menandatangani kontrak dari perusahaan kami" ucap Pak Wibowo
Diego pun membaca isi dari perjanjian kontrak tersebut, dimana dia akan mengalami masa percobaan selama tiga bulan terlebih dahulu, dan jika sudah selesai kontrak tersebut maka akan di evaluasi apakah akan diperpanjang kontrak kembali.
Hampir semua call center dibeberapa perusahaan memang hanya memberlakukan sistem kontrak atau outsourcing, tetapi memang pekerjaan ini bisa memberikan kemudahan untuk orang lulusan baru seperti Diego memulai karirnya.
setelah Diego menandatangani kontrak tersebut, Pak Wibowo pun segera menyuruh sekretarisnya tadi untuk masuk dan membawa Diego ke ruangannya dan ke user yang akan bekerjasama dengannya.
"Selamat pagi pak Hermawan, saya ingin mengenalkan orang yang akan bergabung di tim call centre" ucap wanita tersebut
"Diego pak"
"Baik Diego, selamat datang" ucap pak Hermawan "terimakasih siska" mempersilahkan sekretaris tersebut untuk meninggalkan Diego disana.
"Untuk hari ini sampai satu minggu ke depan kamu akan kami beri pelatihan mengenai produk dan pelayanan yang ada pada perusahaan, tetapi setelah satu minggu tersebut kami akan menempatkanmu di shift tiga untuk departemen ini"
"shift tiga?" tanya Diego
"iya untuk bagian call centre kami membutuhkan orang di shift tiga yang bekerja dari jam sebelas malam sampai jam tujuh pagi, kami membutuhkan laki - laki seperti kamu, sedangkan shift satu dan shift dua kami prioritaskan untuk yang perempuan dan yang rumahnya jauh dari kantor" ucap pak Hermawan
"oh.. baik pak" jawab Diego sedikit ragu, karena itu berati jam kerja dia akan terbalik, saat orang - orang istirahat maka dia akan bekerja, dan kebalikannya saat orang - orang bekerja dia akan beristirahat.
Seminggu masa training pun selesai, hari ini hari pertama Diego masuk shift tiga, jam sembilan malam dia baru berangkat dari rumah, dan sampai kekantor sekitar jam setengah sepuluh, Saat Diego masuk ke ruangan call centre dia sempat bertemu dengan Prita call center yang bekerja di shift dua
"Hai, kamu Diego ya?" sapa prita ramah "aku prita"
"iya mbak, saya Diego"
"jangan panggil mbak, prita saja, oh iya kenalin ini sulastri anak shift dua juga, kita pulang duluan ya Diego, hati - hati ya..." lalu mereka berdua pun berlalu dari hadapan Diego
Diego pun mengambil tempat duduk di ujung ruangan, satu set telepon dihadapannya, microphone telinga sudah siap dia pakai, dan dia pun mulai log in semua sistem dengan namanya, semua data telepon masuk akan segera terekam dalam mesin tersebut.
Setelah menunggu setengah jam belum ada satu pun telepon masuk, tiba - tiba ada bayangan yang mendekatinya,,
"Hai.... anak baru ya? kenalin gw pieter, temen lo di shift tiga" jawab cowok bertubuh sedikit pendek dengan postur gemuk dan putih
"Diego mas, senang kenal dengan anda" jawab Diego menghormati seniornya
"santai aja Diego, kalau shift tiga seperti kita, telepon malah jarang masuk" sambil mengambil posisi duduk di sebelah Diego dan menyalakan komputer serta semua systemnya.
"Baik mas"
"mau kopi gak? gw mau ke pantry biar gak ngantuk" ucap Pieter
"Gak usah repot - repot mas"
"gak apa apa kok, terus jangan panggil gw mas panggil pieter aja" sambil berjalan meninggalkan Diego di ruangan
Suasana hening kembali, tiba - tiba ada ada suara telepon berbunyi dan lampu di telepon berkedap kedip menandakan ada telepon masuk
"Halo PT Asterio dengan Diego bisa dibantu"
"..........................." suasana hening tidak ada yang menjawab
"Halo PT Asterio dengan Diego bisa dibantu" diulangi kembali greeting Diego memastikan ada suara diseberang teleponnya.
Dan tiba - tiba telepon ditutup, dan saat Diego membalikkan badannya ke belakang dia kaget sekali....
Tiba - tiba Pieter sudah berada dibelakangya membawa dua cangkir kopi
"nih buat kamu" ucap Pieter
"Te.. terimakasih" jawab Diego "hmmm tadi ada telepon masuk pieter, tapi saat aku jawab tidak ada suaranya"
"Biasa itu, paling telepon iseng" jawab Pieter
"kamu juga sering mengalaminya Pieter?"
Pieter menengok ke arah Diego sambil meminum kopi yang berada di tangannya, tanpa menjawab pertanyaan Diego.
-------{}----------
Sudah beberapa jam Diego hanya ngobrol - ngobrol dengan Pieter tanpa ada suara telepon masuk, sekitar pukul dua pagi, tiba - tiba ada lampu yang menyala di telepon,
"Angkatlah Diego, aku masih mau santai dulu" ucap Pieter
"Halo PT Asterio dengan Diego bisa dibantu"
"Halo.... halooo.... tolong saya" suara perempuan di seberang telepon dengan nada lirih
"iya bu, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya.... saya dibunuh..... "
"maaf ibu tolong jangan bercanda, ada yang bisa saya bantu?" tanya Diego sekali lagi
"saya dibunuh Didit.... dia pacar saya"
Diego pun menutup teleponnya, merasa dia dipermainkan
"kenapa Diego?" tanya Pieter sambil menelisik ke mata Diego yang mulai ketakutan
"Tadi ada telepon iseng lagi, dia telepon untuk bilang dia dibunuh" jawab Diego getir
"Lalu kamu tutup teleponnya?" tanya Pieter
"iya..."
"kamu disini tidak boleh melakukan itu, data kita semua direkam saat telepon masuk, kamu tidak bisa menutup telepon sampai si penelepon puas dengan pelayanan kita, ingat kita itu Call Centre" ucap Pieter menasehati semua definisi dan tujuan dari call centre
Dan telepon berbunyi lagi
"Angkatlah Diego kamu harus sering - sering latihan supaya cepat mahir" jawab Pieter enteng
"Halo PT Asterio dengan Diego bisa dibantu"
"Aku dibunuh Didit.... Tolong" suara perempuan yang sama yang menelepon tadi
"apa yang bisa saya bantu ibu?"
"tolong beritahu mamah saya,dia pasti khawatir, anda bisa menolong saya tolong catat alamat rumah saya" ucap perempuan tersebut
ada keraguan dari diri Diego untuk menuruti perempuan itu, tetapi dia ingat kata - kata Pieter tadi, kebutuhan konsumen paling penting
"alamat ibu dimana?"
"jalan cendrawasih blok A1 jakarta" lalu dia menjawab lagi "tolong lihat saya di siliwangi, saya akan menunggu"
dan setelah itu tiba - tiba telepon terputus
"Kenapa? masih telepon misterius lagi?" tanya Pieter
"iya, perempuan yang tadi dia bilang dia dibunuh Didit pacarnya dan ingin aku menyampaikannya ke mamahnya" sambil melihat alamat yang dia tulis di buku
"sudahlah tidak ada salahnya kan hanya sekedar mencatat" seperti biasa Pieter menjawab dengan entengnya
Lalu sejam kemudian ada telepon lagi yang masuk
"Halo PT Asterio dengan Diego bisa dibantu"
"Tolong..... saya Bram, kamu harus bantu saya" suara bass dari laki - laki di seberang telepon sangat terdengar marah
"Baik pak, apa yang bisa saya bantu?"
"Saya dibunuh oleh Tio rekan bisnis saya dikantor"
"maksudnya?" Diego betul - betul merasa aneh kali ini, sepertinya itu bukan suatu kebetulan kalau ada dua orang yang menelepon dan bercerita mereka dibunuh
"kamu harus bantu saya melaporkan ini kepada pihak kantor"
" anda ingin saya menyampaikan kepada pihak kantor anda? tapi maaf saya tidak bisa membantu" jawab Diego agak sedikit kesal, karena merasa dia dipermainkan
"Gedung Triad jl. keladi no 26 jakarta nama perusahaan saya PT Andalas, kamu harus membantu saya, saya menunggu di Jalan Panglima digudang kosong tempat saya dibunuh oleh Tio"
dan telepon terputus lagi
"Pieter sepertinya ini pelonco dari kantor ini ya? hahahaha ini lucu"
Pieter hanya diam dan melihat Diego tanpa menjawab apapun
"Pieter, aku rasa leluconnya jangan diteruskan lagi"
"aku tidak mengerjaimu Diego, aku kan selalu berada didekatmu dari tadi, dan tidak ada seorangpun diruangan ini selain kita berdua" Jawab Pieter mulai menegaskan
dan telepon pun mulai nyala kembali
"Pieter kamu yang jawab ya?" aku mau belajar dari kamu
"baiklah" jawab Pieter
"Halo PT Asterio, dengan Pieter ada yang bisa saya bantu"
dan Pieterpun menutup teleponnya "tidak ada yang menjawab" mungkin mereka hanya ingin diangkat oleh kamu" jawab Pieter sambil senyum menyeringai
dan betul saja telepon pun berbunyi lagi, kali Diego mengangkat kembali
"Halo PT Asterio dengan Diego bisa dibantu"
"hiks....hiks...." suara anak kecil menangis diseberang telepon
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Aku dibunuh oleh mamah tiriku, tolong beritahu papah, dia wanita yang kejam"
"maaf ini dengan siapa?"
"Aku agnes,, usiaku enam tahun"
"Apa yang bisa saya bantu?"
"tolong sampaikan kepada papah, di jalan anggrek lima No 11 bogor, bahwa aku dikubur di taman belakang dirumah"
mendengar suara anak kecil yang polos tadi Diego pun mencatat alamat tersebut, dan telepon pun terputus.
"ini benar - benar aneh....." sambil mengelap keringat dikeningnya
"Lagi?" tanya pieter "anggap saja ini hari perdana mu" sambil tersenyum menyindir Diego
Akhirnya tidak ada telepon yang masuk lagi, dan waktu pun mulai menunjukkan jam lima subuh
"Diego, aku ada keperluan aku pergi dulu ya?"
"kamu gak absen Piet?"
"Tidak apa - apa" jawab Pieter enteng seperti biasanya
---------{}-----------
Jam pun akhirnya menunjukkan jam 7 pagi, dan Diego siap - siap untuk absen pulang dan keluar dari ruangan.
Saat berdiri di depan mesin absen, Diego di tepuk pundaknya oleh seseorang
"Eh Pak Hermawan"
"Bagaimana Diego, hari pertama mu di shift tiga?"
Diego agak terdiam, dia berfikir haruskah dia menceritakan kejadian aneh tentang telepon - telepon tadi malam.
"hmmm... baik kok pak, terutama ada mas pieter yang membantu saya mengajari banyak hal di shift tiga kemarin" jawab Diego
"Pieter?" ucap Pak Hermawan kaget "tolong kamu masuk ke ruangan saya sebentar Diego, sambil melangkahkan kaki ke ruangan, Diego pun mengikutinya dari belakang
"silahkan duduk, coba kamu ceritakan apa yang terjadi semalam?" bujuk pak Hermawan kepada Diego
"iya pak, awalnya saya takut, saya fikir saya akan bekerja sendirian, tetapi untung ada mas Pieter yang masuk di shift tiga juga, dan kemarin saya banyak mengalami telepon - telepon aneh yang masuk, banyak dari mereka bercerita tentang pembunuhan"
Tiba - tiba pak Hermawan, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya "Oh Pieter.... maafkan aku" ucap pak Hermawan membuat Diego tidak mengerti dengan apa yang dia ucapkan.
"Diego aku akan menceritakan kepadamu sesuatu, tapi kamu harus janji kamu tidak boleh menceritakan kepada yang lain" ucap pak Hermawan
"Baik pak"
"Jadi pada waktu lima tahun yang lalu, saya baru masuk di call centre ini, sama seperti kamu saya juga ditempatkan di shift tiga, tetapi saya tidak sendiri, ada satu orang lagi bernama Pieter, dan pada saat itu rekan - rekan senior sangatlah jahil, karena mereka melihat kami sangat muda dan tidak berpengalaman, suatu malam mereka bermaksud menjahili kami saat sedang bekerja di shift tiga. suasana sedang sepi aku berjaga diruangan ini, dan Pieter sedang ke pantry untuk membuat kopi supaya kita tidak mengantuk" lalu pak Hermawan terdiam sebentar
"lalu tiba - tiba lampu mulai hidup dan mati tiba - tiba, dan aku melihat ada banyak bayangan yang berdiri di ruangan kaca tempat kita berisitirahat, tapi tiba - tiba ada telepon masuk aku harus mengangkatnya, dan akhirnya peristiwa itu terjadi" pak Hermawan menahan nafas dan mulai bercerita lagi
"senior - senior itu masuk ke ruangan pantry dan mereka menakut - nakuti Pieter,sampai pieter lari ketakutan dan dia terjatuh membentur meja di sisi pantry sampai akhirnya dia meregangkan nyawanya" aku benar - benar menyesal, kenapa pada saat itu aku tidak menemaninya ke pantry, dan senior - senior itu ketakutan dan mereka takut untuk di penjara, sehingga mereka mengubur mayat Pieter di belakang tanah lapang yang sekarang berdiri gudang, dan dia mengancam aku jika sampai rahasia ini terbongkar maka dia akan membunuhku juga."
"Setelah kejadian itu semua senior yang terlibat mulai mengundurkan diri satu persatu, dan entah mengapa tidak pernah ada yang mau untuk mengisi shift tiga selain saya..... dan....." tiba - tiba pak Hermawan berhenti bercerita
"sudah dua tahun tidak pernah ada shift tiga, baru saat kamu masuk itu diberlakukan kembali"
Tiba - tiba Diego merasa ada yang menusuk di dalam dadanya, dia tidak prcaya bahwa kemarin dia ditemani oleh hantu Pieter selama bekerja, dan semua kejadian aneh mungkin berhubungan dengan hal tersebut, dengan dimensi yang berbeda.
"saya mengerti kalau kamu tidak mau bekerja lagi, setelah mengalami kejadian ini, saya tidak akan memaksa kamu" ucap pak Hermawan
"jujur saya kaget sekali pak, tapi pieter itu benar - benar sosok yang baik" dan Diego pun menengok ke arah mejanya dimana masih ada dua cangkir yang berada di sana.
"dia membuatkan saya kopi pak" matanya menerawang jauh
Akhirnya Diego keluar dari kantor dengan perasaan campur aduk, saat masuk ke parkiran motor, dia ingat dia membawa kertas catatan di tangannya, dan ini adalah data semua penelepon yang masuk malam itu, akhirnya Diego pun memutuskan untuk mndatanginya satu persatu
"Tok... tok..." pintu rumah kayu beraroma pinus diketok oleh Diego
dan dilihatnya seorang perempuan tengah baya berusia lima puluh tahun berada di depannya, kulitnya terlihat pucat seperti orang yang kurang tidur
"Anda mempunyai anak perempuan yang tidak pulang ke rumah?" tanya Diego
"anda siapa? polisi? kalian sudah menemukan Nanda?" teriak ibu itu histeris
"maaf bu, sepertinya roh anak ibu berusaha berkomunikasi dengan saya, dia menceritakan bahwa dia telah dibunuh bu"
tiba - tiba badan ibu itu terhuyung, Diego pun membantunya untuk duduk di kursi didalam rumah, dan setelah ibu itu sadar, Diego menceritakan kembali kejadian yang dia alami
"Aku sudah menduganya... pacarnya itu memang brengsek" jawab ibu itu sambil menangis histeris
"tenang bu, sebaiknya kita lapor ke polisi lebih dahulu" jawab Diego menenangkan
Lalu Diego mengantar ibu Nanda ke kantor polisi, dan menerangkan kronologis kejadian yang dia alami
semula polisi tidak langsung mempecayainya dan ibu Nanda bersikeras untuk polisi mengecek dulu ke alamat yang diinformasikan oleh Diego.
dan akhinya misteri terkuak, mayat Nanda ditemukan dalam kondisi yang mengenaskan, dia ditelanjangi dan disiksa sekujur tubuhnya, dan polisipun banyak menemukan bukti sidik jari didit disana, siang itu juga Didit ditangkap di depan kampusnya"
lalu polisi mengecek lagi ke alamat anak kecil Agnes, dan menginformasikan akan menggeladah area rumah tersebut, papah Agnes sampai pingsan saat menemukan mayat anaknya yang hilang di taman belakang rumahnya, lalu polisi dengan sigap menangkap ibu tirinya di belakang rumah.
Dan terakhir kasus Bram, polisi pun, mengorek keterangan dari Tio selama 24 Jam, dan akhirnya Tio pun mengakui perbuatannya
Diego agak sedikit mendesah lega, sepertinya semua tugas yang di minta oleh hantu - hantu gentayangan itu telah terselesaikan, lalu Diego mengingat sosok Pieter sepertinya dia kesepian dan Diego memutuskan untuk terus menjalani shift tiga bersama Pieter.