Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

1144

Genre Romance

230

Genre Folklore

228

Genre Horror

228

Genre Fantasy

230

Genre Teen

228

Reset
Putri yang Tidur di Sampingku ... Bukanlah Dirinya!
Horror
24 Nov 2025

Putri yang Tidur di Sampingku ... Bukanlah Dirinya!

Pada tengah malam, ponselku menerima pesan dari nomor yang tidak dikenal, "Ibu, selamatkan aku! Cepat, selamatkan aku!"Aku melihat ke ranjang di sebelah. Di situ, terbaring putriku yang sedang tidur dengan napasnya yang tenang.Siapa yang mengirim lelucon seperti ini?Aku tak bisa menahan tawa dan langsung memblokir nomor tersebut.1Betty suka menggambar. Beberapa hari yang lalu, aku mengajaknya berwisata ke pedesaan. Namun, di tengah perjalanan, kami terjebak dalam hujan deras. Akibatnya, Betty pun masuk angin dan demam tinggi. Aku benar-benar terkejut.Namun, ketika aku hendak keluar, aku secara kebetulanmelirik ke arah cermin.Di sana, terdapat jejak darah yang terus mengalir."Ibu, bunuh dia! Dia bukan aku. Dia datang untuk membunuhmu!"Aku terkejut.Dalam keadaan gemetar, napasku menjadi terengah-engah. Ketika hendak menutup pintu, tiba-tiba terdengar suara pelan dari belakangku."Ibu."Entah sejak kapan Betty bangun. Dia memandangiku dengan kepala sedikit miring tanpa bergerak sedikit pun.2Entah mengapa, saat itu aku merasa putriku berbeda dari biasanya.Pupil hitam matanya sangat besar dan menakutkan, seolah-olah tidak berfokus. Dia menatapku dengan tajam, entah itu karena cahaya atau bukan. Ekspresinya juga sangat pucat dengan benda kecil yang samar-samar berwarna hitam."Ibu, kenapa Ibu memandangiku seperti itu?" Betty duduk perlahan, lalu menginjakkan kakinya ke lantai. "Ibu, tadi Ibu melihat ke cermin, lalu menutup mulutmu. Kenapa Ibu begitu?""Ibu, apa yang kamu maksud adalah cermin ini?" Betty berkata, "Di dalamnya, seakan-akan ada seorang gadis kecil yang persis seperti diriku."Kalimat itu benar-benar membuatku terkejut.Aku mengira mungkin Betty sedang linglung karena demam sehingga buru-buru keluar untuk mengambil termometer.Namun, suara Betty terus terdengar di belakangku."Ibu, sepertinya dia menangis."3Kejadian aneh ini masih berlanjut.Aku mencari-cari termometer di laci ruang tamu. Aneh sekali, sebelumnya aku selalu meletakkannya di sana. Baru saja beberapa hari yang lalu, aku sempat menggunakannya. Namun, mengapa hari ini tidak bisa kutemukan.Hingga bola karet kecil jatuh di lantai.Itulah mainan kesukaan Betty. Bola itu melompat-lompat di lantai. Aku membungkuk untuk mengambilnya, tetapi pada saat aku menyentuhnya, bola itu tiba-tiba berubah bentuk.Seperti air yang menyebar, bola itu pun meleleh di lantai.Air tersebut berubah menjadi merah darah, seperti mengeluarkan tangan, lalu bergerak-gerak dan berjuang di lantai. Rasa ketakutan melanda hatiku. Aku memandangi tulisan yang menari-nari di lantai dengan huruf yang sangat berantakan dengan ngeri."Ibu! Jangan kembali ke kamarmu! Dia akan membunuhmu langsung malam ini!"Tulisan yang sangat mengejutkan itu bergerak liar seakan-akan penulis di baliknya menderita rasa sakit yang parah dan berusaha keras untuk memberi tahu aku sesuatu ....Tiba-tiba, tangan yang dingin menyentuh bahuku."Ibu, apa yang sedang Ibu lihat?"3Bisa-bisanya Betty berjalan tanpa suara!Secara naluri, aku kembali melihat ke bawah. Namun, aku hanya melihat bola karet melompat dan tulisan berdarah tadi menghilang begitu saja."Betty, kapan kamu datang?" Jantungku berdetak kencang. Ketika melihat kaki telanjangnya, hatiku hampir berhenti. "Kenapa kamu tidak mengenakan sepatu saat berjalan di lantai? Jangan sampai kedinginan.""Ibu, aku merasa takut sendirian di kamar. Temani aku tidur di kamar, ya?" Wajah Betty menempel di leherku, lalu kedua tangannya terpaut erat dalam pangkuanku.Tiba-tiba, aku teringat dengan perumpamaan. Seolah-olah ada laba-laba besar yang melekat di tubuhku.Aku tertawa sendiri dengan pemikiran itu."Baiklah, ibu akan tidur bersamamu." Aku mengelus punggung putriku, lalu menggendongnya menuju kamar tidur.Namun, saat aku sampai di depan pintu kamarnya, langkahku terhenti.Aku melihat dengan jelas ada sepotong lengan putih di bawah ranjang. Di tengah lengan itu, ada tahi lalat hitam yang familier.Itu adalah Betty!Jika orang di bawah ranjang adalah Betty, orang di pelukanku ini ....Napasku pun menjadi berat.Sementara itu, orang di pelukanku merasakan ketakutan yang kurasakan. Dia berbalik, lalu membelalakkan matanya dan menatapku. Mata hitamnya sangat menakutkan."Ibu, kenapa Ibu diam saja?" Suaranya bahkan membuatku ketakutan."Ibu tampak sangat takut. Apa yang Ibu lihat?"4Kali ini, aku yakin bahwa ini bukanlah sugesti. Orang yang kugendong benar-benar terasa asing bagiku. Dia bukan putriku!Gawat, kenapa aku sepertinya aku tidak bisa melepaskannya?Dia seakan-akan melekat pada diriku!"Ibu, apa yang Ibu takutkan?" Gadis di pangkuanku makin membelalakkan matanya. Ketika hidungnya hampir menyentuhku, dia tiba-tiba tersenyum dengan lebar."Aku tahu. Kamu sedang takut padaku, 'kan?"Kemudian, gadis itu langsung menggigit leherku. Dia mengisap darahku dengan gila-gilaan. Aku melihat dengan mata kepala sendiri bahwa lengan tanganku berubah menjadi selembar kulit yang tipis."Aahhhh!"Aku terbangun dengan keringat bercucuran di atas sofa.Sebuah pesan masuk dari nomor asing, "Ibu, tolong selamatkan aku! Tolong selamatkan aku segera!"5Mimpi nyata yang mengerikan tadi tiba-tiba muncul dalam pikiranku.Mungkinkah yang berbaring di ranjang sekarang bukanlah putriku, melainkan penggantinya yang tampak persis seperti dia?Lalu, di mana putriku berada?Kepalaku menegang. Aku hampir saja patah semangat. Aku segera membuka pesan tersebut dan membalas, "Siapa kamu dan di mana kamu sekarang?"Namun, setelah pesan dikirim, aku tak mendapat respons apa pun.Tiba-tiba, aku sadar bahwa suara mendengkur dari dalam kamar sepertinya sudah berhenti sejak tadi.Aku menyadari sesuatu, lalu perlahan mendongak.Aku melihat sebuah wajah menempel pada kaca pintu dan menatapku tanpa berkedip!Suara putriku terdengar melalui kaca ke telingaku."Ibu, tadi kamu sedang mengirim pesan kepada siapa?"6Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca dan berkata, "Ibu, kamu sudah tidak mau Betty hanya karena satu pesan, ya?"Aku memeluknya erat-erat. "Ibu salah, Betty. Maafkan Ibu. Bagaimana mungkin Ibu tidak mengiginkan Betty? Ibu bukanlah kucing kecil ....""Apa itu kucing kecil?"Satu kalimat yang dilontarkan oleh sosok yang kupeluk membuat hatiku terasa berat.Kucing kecil adalah lagu anak-anak yang kami ciptakan bersama."Kucing kecil jahat. Ibu tidak menginginkanku, tapi mau si kucing kecil ...."Betty sempat menolak tidur selama beberapa saat, kecuali jika kami menyanyikan lagu itu bersama-sama sebelum tidur. Namun, "putri" yang kupeluk sekarang justru bertanya padaku apa itu kucing kecil?Aku mencoba bertanya dengan penuh keraguan, "Betty, apakah kamu lupa? Ini adalah lagu anak-anak yang diajarkan gurumu di taman kanak-kanak."Suasana pun hening beberapa detik.Dia berkata, "Aku ingat, dulu aku bisa mempelajarinya dengan cepat. Guru juga memuji aku."Rasa takut yang intens merayap ke hatiku.Layaknya memeluk monster yang mengerikan, dia berpenampilan seperti anak perempuan dan memiliki suara anak perempuan. Namun, entah mengapa dia tidak tahu rahasia apa pun antara aku dan Betty.Dia bukanlah putriku!Tiba-tiba, gadis itu merangkak dan meraih leherku. Dia memelukku erat-erat, lalu tawa aneh pun terngiang di telingaku. Hal itu dilanjutkan oleh sensasi menusuk yang tajam. Suara seperti meneguk minuman terdengar dari tubuhku.Aku pun mulai kehilangan kesadaran.

Pembunuh Terkurung di Rumahku, tetapi Pembunuh Aslinya Ternyata ....
Horror
24 Nov 2025

Pembunuh Terkurung di Rumahku, tetapi Pembunuh Aslinya Ternyata ....

Di rumahku, ada sebuah rahasia.Di ruang bawah tanah, ada orang gila yang seluruh tubuhnya terbakar.Dia adalah pembunuh.Suatu hari, dia berhasil melarikan diri dari ruang bawah tanah.1"Besok adalah hari peringatan kematian orang tua kita."Saat makan malam, kakakkutiba-tiba berbicara sambil menepuk bahuku dengan lembut dan ekspresi sedih. "Seperti biasa, aku akan minta Bi Wanda untuk mengantarkanmu ke sekolah. Biarkan Kakak yang menangani urusan peringatan kematian. Kamu sangat ketakutan saat orang tua kita dibunuh, jadi lebih baik kamu tidak pergi lagi agar tidak terkena dampaknya."Namaku Lana Kenzo, sedangkan kakakku bernama Randi Kenzo. Setelah orang tua kami tewas dengan tragis, kami berdua hidup bersama dan bergantung satu sama lain.Aku mengalami cedera otak berat saat kecil dan kehilangan ingatan. Aku tidak bisa mengingat apa pun sebelum usiaku enam tahun. Selama ini, kakakku dengan sabar menemaniku dan membantuku mengingat sedikit demi sedikit tentang masa lalu. Namun, sayangnya aku tetap tidak bisa mengingatnya.Wanita gila di ruang bawah tanah bernama Melisa. Di masa lalu, ayahku melihatnya sedang berkelahi dengan anjing liar di depan pintu perusahaan sendirian sehingga membawanya itu pulang.Dia tinggal dan makan bersama kami. Kami memperlakukan wanita itu seperti keluarga. Namun, siapa yang tahu, ini akan menjadi sebuah kisah tragis.2Melisa memiliki kecenderungan kekerasan yang parah dan kepribadian antisosial. Dia membenci segala sesuatu yang dia lihat. Dia iri dan membenci bahwa aku yang seumur dengannya mendapat perhatian dan cinta dari orang tua dan kakakku.Pada suatu malam, dia diam-diam masuk ke dalam kamar dan berniat membunuhku untuk menggantikanku. Namun, tak disangka kakakku melewati kamar itu dan melihatnya.Mereka berkelahi, tetapi Melisa kalah dan melarikan diri dengan luka. Orang tua kami sayang padanya dan memberinya kesempatan kedua, jadi mereka tidak melaporkannya ke polisi.Namun, malam berikutnya, dia datang lagi secara diam-diam dan menyalakan api. Dia berniat untuk membakar kami semua sampai mati!Orang tua kami meninggal dalam kebakaran itu.Kakakku yang berani menyelamatkanku dan mengorbankan dirinya sendiri. Punggungnya bahkan terbakar parah.Lantaran menghirup banyak asap yang merusak saraf otak, aku tidak bisa lagi mengingat masa lalu.Ada beberapa bekas luka jahat di wajahku. Ini adalah sesuatu yang sangat menghancurkan hati seorang gadis.Kakakku sangat membenci Melisa. Setelah dia kabur usai membakar rumah, kakakku tidak melapor polisi, tetapi memberi hadiah uang besar sebagai imbalan untuk mencari keberadaan Melisa.Akhirnya, kakakku sendiri menangkapnya dan memenjarakannya di ruang bawah tanah untuk menyiksanya.Tiba-tiba, ada seseorang yang muncul dari bawah meja. Tubuhnya membusuk dan dia berusaha mengeluarkan suara. Namun, dia hanya bisa mengeluarkan desisan yang menyeramkan. Dia gemetar dan mengeluarkan sehelai kertas yang ditulisi dengan darah."Jangan berbicara! Dia bukan kakakmu! Dia adalah anak yang diadopsi oleh ayahmu! Aku adalah kakakmu yang sebenarnya!"3Tiba-tiba, kakakku yang ada di ruang bawah tanah menyadari Melisa telah menghilang dan mulai berteriak dengan keras."Lana, Melisa hilang!"Beberapa saat yang lalu, kakakku pergi ke ruang bawah tanah dan menemukan sisa-sisa rantai yang terlepas dan perabotan yang hancur. Yang paling menakutkan adalah ada tulisan besar dengan darah di dinding."Aku akan mencari kamu.""Lana, berhati-hatilah. Kalau Melisa berhasil melarikan diri, dia tidak akan melepaskan kita. Dia pasti akan mencari kita dan membalas dendam. Dia selalu berkeinginan untuk membunuh kita." Suara kakakku terdengar gemetar. Dia memberiku beberapa petunjuk sebelum pergi dengan orang lain untuk mencari di rumah-rumah lain.Dia yakin bahwa Melisa pasti bersembunyi di suatu tempat dan hanya menunggu waktu yang tepat untuk membunuh kami.Langkah kakakku makin menjauh. Melisa yang bersembunyi di bawah meja masih gemetar tanpa dapat menahan diri."Kamu bilang kamu adalah kakak kandungku dan dia bukan kakakku. Apa buktimu?""Aku punya! Tentu saja aku punya!"Bibir Melisa berbusa putih saking gemetarnya. Dia mengeluarkan foto yang basah oleh darah dari sakunya dengan hati-hati.Itu adalah foto keluarga, ada ayah dan ibu. Mereka duduk di kursi dengan seorang gadis kecil duduk di pangkuan masing-masing.Dari tampang kedua gadis, itu adalah aku dan Melisa!Di foto itu, memang tidak ada kakakku.4Pada saat ini, tiba-tiba kakakku terlihat sangat asing dan dingin.Seekor anjing besar bernama Mike yang sangat dekat pada kakakku tiba-tiba mengangkat kepala dan menggonggong sebanyak dua kali. Kemudian, ia melepaskan diri dari genggaman kakakku dan berlari masuk ke dalam, lalu langsung menuju meja depanku!"Kak, aku takut!" ucapku tanpa sadar dan memohon bantuan pada kakakku."Lana, beri tahu Kakak, apa yang ada di bawah meja itu?"Momen berikutnya, dia langsung menyingkirkan meja."Aah!"Aku berteriak keras dan kakakku pun terkejut. Dia segera berlari mendekat dan memegang tanganku dengan penuh kasih sayang seraya berkata, "Adik, kenapa lenganmu berdarah seperti ini? Apa yang terjadi padamu? Kenapa tidak memberi tahu kakak?"Aku segera digendong kakakku masuk ke kamar tidur. Dokter keluarga merawat lukaku dengan cermat.Setelah semua orang pergi, aku pun berkata dengan lemah, "Kamu bisa keluar sekarang."Aku melihat keadaannya dan merasa iba, lalu menghela napas sambil berkata, "Apakah kamu memiliki bukti lain?""Ada! Seingatku, Ayah memiliki kebiasaan mencatat dalam buku harian. Saat itu, aku pernah melarikan diri setelah dikurung oleh pembunuh ini. Aku melihat dia membuang semua peninggalan orang tua kita ke loteng! Coba kamu cari di sana!"Aku melihat matanya yang gelisah dan terperangkap dalam pemikiran."Baiklah, kamu bersembunyilah di sini. Jangan sampai ketahuan oleh orang lain. Aku akan mencari buku harian Ayah di loteng."5Semua kamar di rumah itu terbuka, kecuali pintu loteng yang terkunci. Ini agak aneh.Aku menghidupkan senter dan dengan takut-takut, lalu menyinari ruangan yang gelap gulita ini.Aku mengelilingi sudut dinding, lalu tanpa sengaja menginjak sesuatu yang membuat suara berguling di lantai. Segera, aku mengarahkan senter ke arahnya dan ternyata itu adalah cincin pernikahan ayah dan ibu!Hubungan ayah dan ibuku sangat baik. Ibuku selalu memakai cincin itu.Sepertinya, Melisa tidak berbohong padaku. Kakakku benar-benar meletakkan barang-barang warisan mereka di sini.Aku duduk di lantai dalam sedih yang tak terucapkan. Ketika ingin bangkit, aku tiba-tiba melihat sebuah buku catatan yang kusam di depan dengan dua kata yang jelas, tetapi tertulis dengan jelas, "Buku Harian."Apakah itu buku harian ayah yang Melisa sebutkan?Aku sangat senang dan dengan segera meraihnya. Namun, saat aku mengangkat kepala, aku tak sengaja melihat ekspresi datar kakakku!"Lana, kenapa kamu bisa di sini? Aku melihat ada cahaya di loteng, jadi mengira ada pencuri di rumah."Dia memicingkan mata saat melihatku. Melalui sudut mataku, aku melihat dia memegang pisau yang tajam di tangannya.Saat ini, satu-satunya pikiran yang ada dalam benak aku hanyalah "semuanya telah berakhir."Kini, aku sepenuhnya percaya pada kata-kata Melisa. Aku kehilangan semua akal sehat. Ketakutan yang luar biasa memberiku keberanian ekstrem. Dengan tekad pemberani yang mendekati kematian, aku berkata padanya, "Berhenti berpura-pura! Kamu bukan kakakku, Randi Kenzo. Kamu adalah anak yang ayahku bawa pulang dulu. Kamu adalah sang pembunuh!"Saat dia memandangiku dengan kebingungan, emosiku pun makin memuncak. "Melisa telah memberitahukusegalanya. Sesungguhnya, dia bukan pembunuh seperti yang kamu katakan. Dia adalah kakak perempuanku. Dia adalah kakak kandungku! Segalanya sudah terungkap, yang aku pegang sekarang adalah buku harian ayah dulu. Di dalamnya pasti mencatat segalanya!"6Sambil menahan air mata, aku membuka buku harian ini. Setidaknya sebelum mati, aku harus membuatnya mengakui bahwa yang ayah bawa pulang bukanlah seorang gadis, tapi laki-laki ....Aku terperanjat.Pada halaman ketiga buku harian, jelas tertulis, "Melisa benar-benar malang. Dia hanya tahu namanya sendiri dan tidak tahu apa-apa yang lainnya. Aku tidak tega melihatnya bertarung dengan anjing liar demi makanan, jadi aku membawanya pulang dan merawatnya dengan penuh kasih. Hanya saja, aku menyadari perlahan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan anak ini. Dia sering muncul di samping tempat tidur kami di tengah malam dan beberapa kali dia bahkan membawa pisau ...."Lenganku lemas. Buku harian itu terjatuh dari tanganku ke lantai.Kakakku mengambil buku harian yang aku lemparkan ke lantai dan tidak marah padaku. Dia hanya menepuk-nepuk bahuku dengan lembut. "Kakak sudah melihat semuanya. Tadi, ada jejak kaki berdarah menuju meja. Hanya saja, Kakak tidak ingin memaksamu mengatakannya. Kalau kamu tidak mengatakan, Kakak tidak akan bertanya. Kamu terluka, Kakak akan membawamu untuk diobati ...."Aku menangis dengan sepenuh hati sambil memeluk kakak. Tiba-tiba, aku teringat sesuatu dan berteriak, "Kak! Saat ini, Melisa bersembunyi di lemari kamar tidurku. Cepat tangkap dan bunuh dia! Dia telah menipuku. Aku membencinya!"

Mimpi Si Mayit
Horror
21 Nov 2025

Mimpi Si Mayit

Ting.. ting… ting.. Kubuka mataku perlahan, kulihat jam tepat menunjukkan pukul 01.00, seperti biasa aku menggeliat dulu sebelum bangun dari ranjangku. Dari luar, sayup-sayup kudengar suara pak To menjemputku ke pasar.“Bu Mur.. bu Mur.. nggak ke pasar nih?” “Iya pak To, ini saya sedang bersiap tunggu sebentar ya” “Bu Mur.. Bu Mur.. sudah jam 01.15, nanti kesiangan lo bu katanya hari ini mau belanja agak banyak” “Iya ini saya datang pak To” “Bu Mur..” Kretek… “Pak To? Sebentar ya pak, saya bangunkan emak dulu” “Iya mas, tak tunggu di sini saja ya” ucap Pak To.Kemudian Sarpin berjalan ke kamarku, ia berusaha membangunkanku agar tidak kesiangan ke pasar. “Mak.. mak.. mak.. ayo bangun mak. Itu lo pak To sudah jemput” “Iya Pin.. Emak sudah bangun” “Mak.. mak.. mak… Ya Allah mak!! Innalillahi wa inna ilaihi rojiun” “Ada apa mas?” ucap pak To tergopoh-gopoh masuk ke kamar emakku “Pak To.. emak pak To” “Kenapa mas?” “Emak sudah tiada pak To” ucap Sarpin sambil berlinang air mata “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Mas, kalau gitu saya tak ngasih kabar ke tetangga dan kawan-kawan pedagang sayur dulu ya supaya ada yang membantu kita menyemayamkan bu Mur” “Iya pak To, tolong saya”“Bocah gemblung! Emak e masih hidup kok dibilang mati. Hei, sarpin! Emak di sini. Sarpin! Hei.. Sarpin. Apakah kau tak melihat emakmu ini? Emak ada di sampingmu Sarpin” ucapku namun Sarpin tetap tak bergeming. Kupanggil lagi anakku namun tetap sama ia hanya terdiam. Aku semakin bingung ada apa dengan diriku. Tetanggaku berduyun-duyun datang ke rumahku padahal masih pukul 02.00.“Hei buk, toko saya belum buka. Saya mau belanja dulu ke pasar” ucapku sambil menyentuh bahu tetanggaku namun aneh, entah apa yang terjadi pada diriku. Tanganku tak mampu menyentuh bahu tetanggaku bahkan tubuhku dengan mudahnya mereka terobos seolah tak ada apa-apa.“Hu.. hu.. hu.. hu.. Emak.. jangan pergi.. hu.. hu.. hu..” “Sarpin, emak nggak pernah pergi kemana-mana, emak di sini duduk di sampingmu” ucapku sambil menyentuh bahu Sarpin namun tembus “Mas.. Emak sudah tiada, lalu siapa yang akan menemani kita mas? Hu.. hu.. hu..” tangis anak bungsuku Gito.Aku hanya terdiam, bingung melihat suami, anak, saudara dan tetanggaku menangis tersedu. Apa yang sedang terjadi pada kalian? Kenapa kalian menangisi aku? Aku ada di sini. Lalu, mereka bergotong royong mengganti bajuku bahkan mereka tak tanggung-tanggung menggunting bajuku.“Hei.. jangan! Apa yang kalian lakukan?” namun mereka tetap saja menggunting setiap serat kain bajuku. Kemudian mereka menggantinya dengan jarik dan dari dagu hingga kepalaku mereka ikat dengan kerudung. Setelah itu, mereka bergotong royong mengangkat tubuhku. Diletakkannya tubuh gendutku di atas sebuah ranjang khusus jenazah yang telah disiapkan sejak tadi. Akupun mengelilingi rumahku, kulihat semua tetanggaku sibuk memasang tenda, bendera duka cita, dan mereka juga mengeluarkan kursi-kursi di rumahku.“Pak, tikarnya saya gelar sekarang ya biar enak nanti kalau kita mengkafani bu Mur” “Iya silahkan” ucap pak SabilSeusai persiapan di dalam rumah, tampak jelas di depan mataku suami, anak dan menantuku menggotong tubuhku ke ranjang tempat jenazah dimandikan. “Hati-hati pak. Kalau nyawa habis tercabut itu badannya masih sakit” “Iya pak Sabil” ucap suamiku. Kemudian pak Sabil memandu keluargaku memandikan jenazah, saat itu semua anakku memandikanku namun Siti memandikanku sambil menangis tersedu-sedu.“Mak.. mak.. jangan tinggalin Siti mak..” ucap Siti sambil mengusap tubuhku dengan kapas, air matanya terus saja berurai. “Augh sakit! Siti, kenapa kau membakar tanganku?” Kulihat Siti dan badanku sekali lagi, ini benar-benar mimpi yang sangat aneh. Siti memandikanku dengan air dan yang jatuh tertetes ke tanganku adalah air matanya tapi kenapa rasanya seperti api? Mimpi apa aku ini?Seusai memandikanku, mereka menggotongku ke keranda. Di sana, sudah ada kain kafan berlapis-lapis dan mereka juga menaruh kapas yang dibubuhi aneka wewangian khusus untukku. Tak banyak bicara mereka mengkafaniku namun lagi-lagi mereka menetesiku dengan api. “Hei sakit! Aduh.. panas sekali. Sudah.. sudah kalian pergi sana!” ucapku pada mereka namun tetap saja mereka terus mengkafaniku hingga semua tubuhku terbungkus kain kafan.“Pak.. Mas.. Mbak.. sudah ikhlas ditinggal bu Mur?” “Ya.. ikhlas nggak ikhlas harus ikhlas pak, mau bagaimana lagi istri saya sudah meninggal dunia” “Apa? Aku meninggal dunia? Bapak.. ibu di sini, kok dibilang meninggal?” “Ayo kalau begitu kita semuanya mendo’akan almarhumah agar khusnul qotimah”Kebingunganku semakin bertambah ketika di pagi hari suami, anak, menantu, sanak saudara dan tetangga mengantarku ke kuburan dengan isak tangis tak tertahan. Apa yang sebenarnya terjadi? Kudekati Sarpin namun ia tak menghiraukan, kudekati suamiku namun ia tetap terdiam, Siti dan Gitopun hanya menjawabku dengan isakan. Kemudian mereka berduyun-duyun membawa tubuhku ke kuburan. Di sana, kulihat sebuah lobang yang siap yang telah sengaja digali untukku. “Ya Allah! Liang lahaat”Lukman, Handak, kang So dan Marwan menurunkan keranda. Mereka telah bersiap membuka keranda itu dan mengangkat tubuhku kemudian memasukkannya ke dalam lubang itu. “Maann jangan! Jangan.. jangan!” teriakku namun tetap saja mereka tak menggubris teriakanku seolah mereka tak menganggap keberadaanku. Dimasukkannya tubuhku ke lubang itu, dan di lubang itu suami, anak dan menantuku bersiap menerima tubuhku.“Kamu, baik-baik di sana ya” ucap suamiku dengan lelehan air matanya “Augh.. sakit pak! Kenapa bapak memberiku tetesan api?” tuturku namun ia tetap tak menjawab Kemudian mereka membuka tali kepalaku, dihadapkannya pipiku ke gumpalan-gumpalan tanah lalu menutupi tubuhku dengan papan-papan kayu yang ditata seperti papan seluncur. Tak hanya itu mereka juga dengan sengaja menutupi tubuhku dengan tanah galian lubang tadi.“Apa? Aku dikubur? Aku habis menonton apa ya kok mimpi dikubur?” gumamku Aku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi? Aku hanya bisa duduk terdiam di atas pusara yang bertuliskan namaku. Aku bingung, semuanya bergotong-royong menyemayamkan aku dengan tangisan padahal aku masih hidup dan anehnya mereka tak menggubris setiap kata ataupun teriakanku.“Bapak.. adik-adik.. marilah kita bersama-sama mendo’akan almarhumah bu Mur supaya tenang di sisi Allah ta’ala. Al-fatihah” ucap pak Sabil Aku semakin bingung dengan tingkah mereka semuanya almarhumah? Benarkah aku sudah meninggal? Aku tak percaya, ini hanyalah sebuah mimpi belaka. Setelah membaca do’a, pak Sabil mengajak semua pelayat meninggalkan pusara yang bertulis namaku.Tiba-tiba aku terjaga dari tidur panjangku. “Ah.. ternyata ini hanyalah sebuah mimpi belaka. Bangun ah.. aku mau ke pasar” gumamku Namun kusadari aku mencium bau tanah, semua gelap. Kupanggil-panggil semua keluargaku, sanak saudaraku namun tak ada seorangpun yang menjawab. Benarkah aku telah wafat?Tiba-tiba kudengar langkah kaki yang menghampiriku. Kutatap wajah tampannya yang murah senyum. “Pak, saya dimana?” “Bu.. ibu ada di liang lahat, sebentar lagi ibu akan saya antar ke alam barzah” ucap pria tampan itu dengan ramahnya “Jadi, saya sudah meninggal?” “Iya bu. Ibu sudah meninggal saat ibu sedang tidur kemarin malam” “Ha? Orang tidur bisa meninggal?” “Bisa bu karena nyawa adalah milik Allah, kapanpun Allah menginginkannya maka nyawa itu akan kembali padaNya” “Kenapa kau tak memberi tahuku tanda-tanda aku akan berpulang? Setidaknya jika kau memberitahuku maka aku bisa berpamitan pada keluargaku” “Bu aku sudah memberi tahumu 3 kali. Pertama saat pusarmu berkedut, itu artinya daun namamu di Arsy sudah gugur. Kedua, saat kau enggan menatap saat kau diajak bicara ataupun berjumpa dengan manusia, itu berarti umurmu hanya tinggal 3 hari. Dan yang ketiga di saat kepalamu berdenyut sampai ubun-ubun, itu tandanya kau sudah tak bisa menikmati hari esok” ucap pria tampan itu padakuKemudian pria itu mengajukan beberapa pertanyaan kepadaku dan kujawab sebisaku. Namun, sedikitpun pria itu tak marah kepadaku bahkan diakhir pertanyaanya ia memberikan sebuah senyuman manis padaku. “Bu, semua pertanyaanku telah ibu jawab setulus hati sekarang tugasku adalah memberimu hadiah. Kau akan aku ajak ke sebuah tempat yang nyaman, senyaman saat kau beribadah” “Iya” jawabkuKuulurkan tanganku dan dia mengajakku ke sebuah tempat yang nyaman, tempat itu seperti taman namun tak dingin dan bernyamuk. Indah, ada banyak bunga dan juga buah-buahan, aku tak pernah menjumpai tempat seindah ini di dunia.“Bu, tempat ini ibu bangun sendiri lewat amal ibadah ibu. Nikmatilah tempat ini sampai nanti ibu mendengar sangkakala dari malaikat Isrofil” “Terimakasih pak” jawabku singkatBapak, Sarpin, Siti dan Gito. Emak sudah bahagia di sini. Di sini, emak sudah mendapat sebuah tempat yang indah. Emak ingin kita bisa berkumpul di sini namun emak yakin pertemuan kita akan membutuhkan waktu yang panjang. Emak hanya berpesan jagalah diri kalian baik-baik, tingkatkan ibadah kalian agar kalian memiliki tempat yang lebih indah daripada emak. Bapak dan anak-anakku, meskipun kita sudah berjauhan namun emak tetap sayang kalian..

The Secret Beneath
Horror
21 Nov 2025

The Secret Beneath

Samudera adalah seorang pemegang saham dari sebuah perusahaan besar. Suatu hari, dia pulang lebih awal, dia hampir tidak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya: istrinya yang muda dan cantik, Vania, terlibat hubungan dengan mitra bisnisnya-Surya-di atas tempat tidur.Samudera berdiri seperti patung, diam, lalu perlahan menutup pintu dan pergi tanpa suara. Pasangan tersebut terkejut, Vania tahu suaminya adalah orang yang egois dan licik, dan dia takut Samudera akan melakukan sesuatu yang buruk.Namun, untuk kejutan mereka, Samudera seperti melupakan insiden itu. Dia jadi jarang berbicara dengan Vania setelah itu. Setelah itu, pertemuan pemegang saham tahunan mendekati, dan Samudera harus menghadirinya, yang dimana artinya dia akan pergi selama tiga minggu. Vania dengan cepat mengetahui hal ini dan merasa senang dan khawatir pada saat yang bersamaan.Senang akhirnya bisa memiliki waktu luang, Vania memikirkan berbagai ide. Namun, dia tidak menyadari bahwa Samudera belakangan ini mulai terasa dingin.Samudera akan berangkat ke RUPS. Malam ini dia menghampiri Vania dan secara mengejutkan memberikan senyuman yang sudah berhari-hari tidak pernah dilihat, Vania menatapnya dengan heran. Sebelum dia bisa bereaksi, Samudera tiba-tiba meninjunya dan Vania merasakan ada sesuatu yang berdengung di kepalanya dan kemudian dia tidak sadarkan diri. Ketika dia terbangun, dia merasa ngeri mendapati dirinya terkunci di sebuah gua di ruang bawah tanah. Gua tersebut berada di ruang bawah tanah rumah, di mana para pekerja telah memindahkan batu-batu dari dinding, menambahkan jeruji besi ke pintu, dan memasukkan tiang pancang yang tebal ke dalamnya. Dia diikat ke tiang pancang dengan rantai besi tebal!Samudera dengan dingin memandang wajah Vania yang ketakutan dan mengolok-olok, "Ada roti kering dan air yang cukup untukmu selama tiga minggu di pojokan sana. Aku tidak ingin melakukannya, tapi aku tidak punya pilihan. Kamu suka mengendap-ngendap di belakangku, jadi aku harus melakukan ini. Jujurlah dan aku akan kembali dalam tiga minggu untuk membebaskanmu!" Dengan itu, dia mengambil sebuah papan dan menutup rapat pintu basement, hanya meninggalkan lubang ventilasi yang kecil.Samudera memutuskan untuk memanfaatkan kesempatan ini untuk menikmati hidupnya dengan membawa sekretarisnya yang cantik, Miss Lidya, bersamanya ke rapat pemegang saham. Kisah ini terjadi di malam hari ketika Samudera minum beberapa gelas lagi karena dia bahagia dan ketika dia keluar, dia harus mengemudi sendiri. Dia melihat Lidya yang cantik di sebelahnya dan entah bagaimana teringat pada Vania di ruang bawah tanah, berpikir bahwa ia memiliki teman di sini sementara wanita yang telah mengkhianatinya terjebak di ruang bawah tanah bersama tikus dan serangga. Pikiran ini membuatnya bersemangat.

The Abyssal Maelstrom
Horror
21 Nov 2025

The Abyssal Maelstrom

Di sebuah pulau tak bernama di Kepulauan Riau, Pulau Sumatera, tinggal sekitar sepuluh keluarga yang tersebar. Ini adalah malam musim panas yang gelap, dengan udara yang tidak biasa panas dan lembap. Jasmine duduk tegak di tempat tidur dan melihat ke arah pria yang terbaring di sebelahnya. Ia bangkit dengan hati-hati dan meraba-raba melewati ruang tamu, lalu berjalan ke kamar tidur kecil di sebelahnya. Ia menutup pintu dengan lembut dan menyalakan lilin kecil. Dalam cahaya redup dan berkedip, kamar kecil itu tampak semakin berantakan dan kotor. Jasmine mengambil bungkusan kain hitam dari lemari dan perlahan-lahan membukanya, mengungkapkan sebuah foto seorang pria. Ia meletakkannya di depan patung Yesus dan berbisik doa sambil air mata mengalir di pipinya.Jasmine menikah di sebuah desa asing dengan Jordan, yang tinggal bersama dengan saudara laki-lakinya dan tiga saudara laki-lakinya dan mencari nafkah dengan menangkap ikan. Setelah menikah, Jasmine menyadari bahwa kakak laki-lakinya, Michael, mengolok-olok dan melecehkannya, sehingga membuatnya merasa sakit. Dia akhirnya mau tidak mau menceritakan hal ini kepada suaminya, namun Jordan tidak mempercayainya. Suatu hari, Jasmine sedang membantu suaminya memperbaiki jaring mereka, dan hari itu sangat panas sehingga dia hanya mengenakan kaus pendek yang longgar di bagian atas, dengan tangan terangkat tinggi di atas tali untuk memperbaiki jaring. Jordan melupakan kejadian itu setelah beberapa hari, tetapi Michael menyimpan dendam dan memutuskan untuk membunuh saudaranya dan menculik istrinya.Jasmine teringat pada suatu hari dari tahun sebelumnya di mana ketiga kakak laki-lakinya bergegas berangkat ke laut di pagi buta, tepat saat jam menunjukkan pukul empat. Langit sangat gelap pada hari itu, dan udaranya sangat lembab. Di bawah perlindungan malam, kabut tebal dan berat bergulung masuk. Ketika ia melihat kakak-kakaknya pergi, Jasmine membaringkan dirinya di sofa untuk tidur siang. Tiba-tiba, ia mendengar suara berderit dan ketika ia membuka matanya, ia melihat seseorang sedang mengacak-acak sesuatu pada jam kakek yang tinggi. "Siapa di sana?" tanyanya dengan tajam. "Ini aku," suara kasar dan serak Michael terdengar."Kenapa kamu kembali?" Jasmine merasa tidak enak badan. "Aku sakit perut sekali karena suatu alasan. Aduh!" Jasmine tidak berpikir dia akan melihat suaminya lagi. Orang-orang mengatakan bahwa mereka pasti telah tersapu ke dalam pusaran gua ajaib, karena potongan-potongan perahunya telah ditemukan beberapa bagian. Suatu malam, tidak lama kemudian, Jasmine diperkosa oleh Michael yang penuh nafsu dan telah dirusak sejak saat itu. Jalan apa lagi yang bisa dipilih oleh seorang wanita yang kesepian dan lemah selain tunduk?Besok adalah ulang tahun ke-1 kematian suaminya. Ketika Jasmine sedang berdoa untuk suaminya yang telah meninggal, bayangan tiba-tiba muncul di belakangnya. "Kamu masih sangat sentimental, ya?" Jasmine terkejut, tapi segera memohon, "Michael, besok adalah ulang tahun kematian Jordan dan Kevin, aku ingin..." Michael tidak menunggu dia selesai berbicara dan dengan marah menghardiknya, "Kamu wanita yang menyedihkan. Kamu bisa berbaring di pelukan laki-laki lain tanpa peduli sama sekali, dan sekarang kamu memaksa diri untuk berpartisipasi dalam tradisi berduka kita yang penting ini. Cukup memberikan "mm" setengah hati dan kembali ke kamar tidurmu saja."Sebuah malam dengan angin yang kencang serta hujan yang mengguyur membuat jalur-jalur kasar di pulau itu semakin sulit untuk dilalui. Michael, Jasmine, dan seorang orang asing berangkat pada pagi hari untuk mendaki ke tebing tertinggi di pulau, tiba di sana sekitar tengah hari. Di puncak tebing, terdapat altar sederhana yang terbuat dari lempengan batu, dikelilingi oleh sebuah ruang terbuka seluas sepuluh meter persegi, dengan pulau di tiga sisinya dan laut di satu sisinya. Sisi yang menghadap laut adalah tebing yang curam, dan dua pohon pinus tua menjulur dari tepi tebing menuju laut, seolah-olah menarik jiwa para korban.Si orang asing dengan santai menempatkan anggur, makanan, dan camilan yang mereka bawa di atas altar. Michael, yang gemar minuman beralkohol, duduk di sana dengan tak segan-segan meminum minuman. Jasmine dan si orang asing duduk diam, menatap laut.Di bawah tebing, sekitar 500 kaki di bawah, terletak samudra luas, dengan ombaknya yang bergulung. Sekitar lima kilometer di sana ada sebuah pulau besar bernama Pulau Bintan, sedangkan pulau kecil lainnya diberi nama Pulau Gua Ajaib. Laut antara dua pulau itu terlihat agak tidak biasa, dengan ribuan gelombang kecil yang bergerak cepat dan menciptakan rasa takut yang tidak menentu.Jasmine menatap laut dan semakin takut. Suara ombak semakin keras, seakan puluhan ribu kuda berlari mendekatinya. Ombak-ombak menjadi semakin ganas dan tiba-tiba ombak kecil yang sebelumnya di sebar rata berkumpul membentuk arus besar yang mengalir ke arah timur. Dalam beberapa menit saja, laut mendidih seperti air yang dipanaskan di dalam panci dan menjadi ganas serta tidak terkendali. Tempat paling berbahaya ada di antara Pulau Gua Ajaib dan pesisir laut, tempat dimana ombak besar muncul, mengalir ke arah timur dan barat, dan kemudian menjadi jutaan pusaran yang ganas. Tak lama kemudian, laut menjadi semakin ganas dan pusaran-pusaran yang berputar itu terus menyebarkan diri membentuk lingkaran besar. Yang muncul jelas di depan matanya adalah pusaran yang sangat besar dengan lebar sekitar dua kilometer yang memiliki arus yang sangat kuat. Pinggiran pusaran besar itu dikelilingi oleh sabuk putih, yang sebenarnya adalah busa putih yang diciptakan oleh tabrakan antara ombak-ombak kecil. Dinding dalam pusaran itu cenderung miring hingga ke dasar laut yang dalam dan air laut yang hitam itu mengeluarkan suara yang menakutkan.Pada saat itu, Jasmine merasakan goyangan batu gunung di bawah kakinya. "Apakah ini 'Pusaran Gua'?" Jasmine menggenggam erat lengan orang asing yang berada di sampingnya.Apakah Jordan yang malang menghilang di pusaran mengerikan ini? Cemas tentang Jordan, si orang asing berbisik kepada Jasmine tentang asal usul pusaran air itu. Sementara itu, Michael telah mabuk dengan dirinya sendiri.Pembentukan pusaran dipengaruhi terutama oleh pasang surut, tetapi ada jendela waktu khusus yang berlangsung sekitar 15 menit, terletak di antara pasang dan surut. Pola ini sangat stabil. Individu yang berani dapat memanfaatkan periode 15 menit ini untuk menavigasi area pusaran, dan berani menjelajahi area laut lain di mana orang lain tidak berani pergi memancing untuk lebih banyak ikan. Namun, kelalaian kecil dalam faktor seperti arah angin, kecepatan arus, atau waktu, dapat mengakibatkan terhisap oleh pusaran dengan konsekuensi yang sangat fatal.Mendengar hal ini, Jasmine tak kuasa menahan tangis, seolah terbangun dari mimpi buruk, ia dengan sedih berkata, "Sekarang saya mengerti sepenuhnya, pusaran air yang keji inilah yang merenggut Jordan-ku. Mengapa Tuhan tidak menghukumnya?"Orang asing itu menepuk pundaknya dengan lembut, lalu berbalik untuk melihat Michael, yang mabuk seperti lumpur, dan tiba-tiba melepaskan seutas benang panjang dari pinggangnya dan mengikat Michael. Michael terbangun oleh angin laut dan melihat sekelilingnya dengan ngeri pada pemandangan itu.Orang asing itu berpaling pada Jasmine lalu berkata, "Sekarang aku akan bercerita". Kemudian dia berkata pada Michael, yang sedang berteriak dengan tidak terkendali, "Tuan Michael, Anda harus sabar dan menunggu sampai aku selesai bercerita. Kemudian Anda akan dilepaskan." Jasmine memandang orang asing itu dengan aneh dan mendengarkan ceritanya. Di pulau ini, ada tiga bersaudara yang sering melintasi pusaran berbahaya untuk memancing di laut yang belum terjamah. Mereka sangat memperhatikan perubahan pasang surut dan selalu menyetel jam mereka sebelum meninggalkan rumah. Keluarga mereka memiliki jam buatan pembuat jam terkenal dari Swiss yang dirawat oleh seorang ahli jam setiap tahunnya. Jam tersebut adalah jam ternama di daerah itu yang tidak pernah bermasalah. Mereka juga ahli dalam pengamatan angin. Karena sudah melakukan ini selama tujuh tahun, namun menyebrangi perairan yang berbahaya dalam waktu lima belas menit tidaklah cukup, dan terkadang penundaan satu atau dua menit dalam mencapai tujuan bisa membuat mereka merinding.

Es Teh Gratis
Horror
21 Nov 2025

Es Teh Gratis

Delila berjalan pulang dengan lesu. Tubuhnya membungkuk seperti bunga yang layu. Hari ini sungguh berat baginya. Prnya tertinggal di rumah. Nilai ulangannya terjun ke dalam jurang remedial. Tangannya tertusuk pensil. Dan entah bagaimana, penghapusnya terbakar.Delila menghela napas. Teriknya matahari berhasil membuat tubuhnya bercucuran keringat. Diusapnya keringat yang menetes dari keningnya. “Ah, hari gini, enak kalau minum yang seger–seger,” pikirnya.Rupanya, ia tidak sepenuhnya tidak mujur hari ini. Mungkin sudah takdir, seorang lelaki—sepertinya pedagang kaki lima—menghampiri Delila dan menawarinya minuman. “Eh, dek, kamu mau tah, es teh?” tanya lelaki itu. “Gratis, lho, dek.” “Wah, mau dong, bang!” seru Delila tanpa berpikir panjang.Tak diingat perkataan ibunya untuk selalu waspada terhadap pemberian makanan ataupun minuman dari orang asing. Yang hanya di pikirannya, “Asyik! Panas–panas gini, dapet minuman seger, gratis lagi!”Diambilnya es teh berwadah kantong plastik itu dari tangan si lelaki. Setelah mengucapkan terimakasih, ia melanjutkan perjalanannya.Rumah Delila memang cukup jauh dari sekolah. Biasanya, perjalanan pulang membutuhkan waktu empat puluh lima menit berjalan kaki. Tetapi, hari ini, Delila memutuskan untuk melewati jalan pintas melalui hutan jati yang hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit karena—entah mengapa—kepalanya terasa sangat berat. Mungkin karena ia terlalu lama terpapar sinar matahari. Entahlah. Yang jelas, ia ingin segera pulang.Sebenarnya, ia enggan melewati hutan jati. Hutan tersebut terkenal akan pohon–pohon yang lebat dan menjulang tinggi, sehingga tidak banyak cahaya yang dapat memasuki tempat itu. Namun, hari ini, matahari bersinar sangat terang, sehingga hutan jati itu tidak terlalu gelap. Delila pun memberanikan diri untuk memasuki hutan itu.Delila berjalan dengan cepat. Ia ingin segera keluar dari tempat itu. Tidak lupa sesekali ia menyeruput minuman es tehnya yang ia dapatkan secara gratis.Ia menyadari ada yang aneh dari es teh tersebut. Seharusnya, es teh itu membuat dirinya merasa segar. Tetapi, setiap meminumnya, rasanya lidahnya semakin kering. Sepertinya ada yang salah dari minuman itu, tetapi Delila tidak dapat menemukan kesalahan apapun.Es teh itu terlihat seperti es teh biasa. Warnanya seperti teh pada umumnya, cokelat transparan. Rasanya juga biasa saja, manis, seperti—eh? Delila menyeruput lagi minumannya itu. Ia cicipi dengan baik. Kali ini, Delila merasakan sesuatu yang tidak biasa. Seperti ada rasa asin yang samar di dalam tehnya.Barulah Delila mengingat perkataan ibunya. “Jangan sembarangan makan atau minum pemberian orang yang nggak kamu kenal, lho ya!” begitu kata Ibu.Matanya melebar ketika ia menyadari apa yang telah ia lakukan. Ia lengah. Tetapi, apa boleh buat. Nasi sudah menjadi bubur. Ia sudah meminum setengah bungkus es teh tersebut. Hatinya berdegub kencang. Pikirannya kacau.

Spirit Doll di Rumah Hantu Kami Menyerap Arwah dari Rumah Sakit
Horror
21 Nov 2025

Spirit Doll di Rumah Hantu Kami Menyerap Arwah dari Rumah Sakit

Ibu tak pernah mengira boneka bayi yang dia beli akan menjadi spirit doll, menyerap banyak arwah dari rumah hantu dan rumah sakit.Lima tahun lalu, bungkusan paket besar sampai ke rumah keluarga saya. Sebuah rumah yang sudah dikenal angker oleh tetangga. Semacam rumah hantu di tengah perumahan.Paket yang datang berisi sebuah boneka bayi yang mirip sekali dengan bayi manusia. Wajahnya yang bulat dan tembam terbuat dari plastik keras, begitu pula tangan dan kakinya yang mungil. Sedangkan badannya yang seukuran bayi asli terbuat dari kapas empuk dan nyaman untuk dipeluk.Dia diberi nama Bodhi. Kelak, boneka biasa ini berubah jadi spirit doll.Ya, saat itu, kami mengira Bodhi hanya boneka biasa. Sama seperti banyak boneka lain yang dibeli ibu untuk dikoleksi. Namun siapa sangka, kehadiran Bodhi akan membawa perubahan besar di keluarga saya.Kalau dipikir-pikir, itu karena kesalahan kami juga. Keluarga saya sangat menyukai Bodhi. Kami memperlakukannya dengan hangat, bahkan terlalu hangat… seolah-olah dia adalah bayi betulan. Apalagi kami melakukannya di dalam rumah yang dikenal sebagai rumah hantu ini. Perubahannya menjadi spirit doll tak pernah kami ketahui.Mula-mula kami hanya bercanda. Secara bergantian, kami mendudukkan Bodhi di kursi dan menidurkannya di kasur. Lalu kami mengganti-ganti bajunya, berlagak menyuapkan makanan ke mulutnya yang tertawa lebar, dan mengajaknya ngobrol. Semua berlangsung lebih dari setahun sampai rasanya Bodhi sudah menjadi bagian dari keluarga.Yang tak kami ketahui, harusnya kami tak melakukan itu. Sebab, benda mati yang terus-menerus diperlakukan sebagai makhluk hidup… bisa mengundang atau menyerap berbagai roh halus untuk bersemayam di dalamnya. Itulah awal perubahan Bodhi menjadi spirit doll. Perlahan, “isian” Bodhi jadi semakin banyak.Hal itu mulai terasa pada 2018. Saat bapak saya sakit parah dan harus dirawat inap di rumah sakit. Selama berminggu-minggu, kami bergantian menjaga beliau dan tak lupa mengajak Bodhi.Padahal, rumah sakit tempat bapak rawat inap itu cukup angker. Dibangun lebih dari 30 tahun lalu, rumah sakit ini menjadi saksi meninggalnya begitu banyak orang. Konon, di rumah sakit ini, terlalu banyak arwah yang belum bisa menerima kematiannya. Kadang terlihat hantu anak-anak yang suka berlarian, hantu perempuan yang menjerit-jerit saat malam, sosok hitam besar di koridor, dan masih banyak lagi.Dulu saya tak menyadari kalau arwah-arwah penasaran itu bisa menyusup ke dalam tubuh Bodhi dan mengubahnya menjadi spirit doll. Namun, sepertinya bapak sadar karena beliau lebih peka pada hal gaib. Saya, yang lama hidup di rumah hantu malah biasa saja. Ya bisa merasakan, tapi saya memilih untuk tidak memikirkannya.Suatu malam di rumah sakit, dengan tangannya yang lemah dan gemetaran, tiba-tiba bapak memeluk Bodhi dengan erat dan lama. Padahal beliau hampir tak pernah melakukan itu. Rasanya, bapak sedang berusaha melindungi Bodhi dari sesuatu yang tak kasatmata. Mungkin bapak sedang berusaha mencegah Bodhi menjadi “rumah” bagi banyak makhluk halus, mengubahnya menjadi spirit doll.Beberapa minggu setelah kejadian itu, bapak tak kuasa menahan penyakit di tubuhnya dan mengembuskan napas terakhir. Keluarga kami sangat sedih dan kaget. Di antara sedu sedan dan air mata, lagi-lagi Bodhi hadir di tengah kami. Bahkan dia diajak ke pemakaman bapak, meskipun hanya disimpan dalam tas.Selama bertahun-tahun, hidup di rumah hantu dan lama menginap di rumah sakit angker, membantu Bodhi menyerap kesedihan, kegembiraan, dan emosi-emosi lain dari keluarga kami sehingga membuatnya lebih “berisi”. Mulutnya memang masih tertawa lebar seperti biasa, tetapi sorot mata dan raut wajahnya mulai membuat kami tak nyaman. Seolah ada yang berubah.Setelah meninggalnya bapak, kami sudah yakin kalau Bodhi bukan boneka biasa lagi. Perasaan dia menjadi spirit doll sudah mulai sering kami obrolkan.“Sekarang kok aneh ya kalau megang Bodhi, kayak bukan dari plastik sama kapas. Nggak tahu ya… rasanya kayak bukan boneka,” kata ibu mulai curiga.Seperti almarhum bapak, ibu juga peka pada hal gaib. Setelah Bodhi ikut menginap selama berminggu-minggu di rumah sakit dan diajak ke pemakaman, ibu menjaga jarak dengan boneka bayi itu. Seiring waktu, ibu semakin yakin yang sering dia perlakukan dengan sayang berubah menjadi spirit doll.“Rasanya ada sesuatu di dalam Bodhi,” kata ibu dengan gelisah, “Nggak cuma satu, tapi ada banyak.”Saya merinding mendengarnya. Dengan hati-hati, saya meminta ibu untuk menjelaskan. Beliau sempat ragu untuk jujur bercerita, apalagi Bodhi adalah boneka kesayangan anak-anaknya. Namun, akhirnya beliau mau bercerita.Ibu cukup yakin kalau saat berada di luar rumah, khususnya di rumah sakit, Bodhi telah menarik arwah-arwah penasaran yang tak lagi memiliki raga dan membuatnya menjadi spirit doll. Kini mereka bersemayam di dalam tubuh boneka bayi ini. Yang lebih menyeramkan, ternyata Bodhi juga menyerap hantu-hantu yang menjadi penghuni rumah keluarga kami!Jadi, selama 18 tahun, keluarga kami menempati rumah yang cukup besar dan angker. Bagian luarnya tampak tua dan tak terawat. Seperti ada keheningan aneh yang menyelimutinya. Tak heran anak-anak tetangga yang lewat kadang menjerit, “Rumah hantu! Rumah hantu!”Kesan seram itu semakin bertambah saat memasuki rumah kami. Karena ibu dan almarhum bapak adalah seniman, mereka mengoleksi begitu banyak benda kesenian. Mulai dari lukisan tua, patung-patung berbagai ukuran, dan berbagai barang kerajinan lain yang tak jelas asal-usulnya. Semua itu disimpan di kamar-kamar yang jarang ditengok dan dirawat.Menurut beberapa kerabat kami yang bisa berkomunikasi dengan makhluk halus, kamar-kamar yang jarang dirawat itu bisa dan sudah menjadi “sarang” mereka. Buktinya, saat berkunjung ke “rumah hantu kami”, mereka pernah melihat hantu perempuan berambut panjang mengintip dari jendela kamar yang sudah lama terlantar. Sungguh bikin jantungan.Penampakan lainnya muncul di salah satu kamar mandi yang sudah bertahun-tahun tidak dipakai. Ibu pernah mendengar suara gemericik air dari sana. Saat diintip, ternyata ada seorang anak kecil yang sedang cuci tangan di kamar mandi.Sosoknya hanya terlihat dari belakang, tetapi jelas sekali kalau dia bukan manusia. Kaos dan celana pendek yang dipakainya tampak terkoyak dan kotor oleh darah. Sedangkan tubuhnya abu-abu kusam, agak transparan, dan mengeluarkan bau yang aneh.Sontak ibu langsung berlari masuk ke kamar dan menguncinya rapat-rapat. Beliau gemetaran bukan main.Pada hari-hari berikutnya, beliau kembali melihat penampakan anak kecil di kamar mandi itu. Mereka muncul bergantian, ada yang bertubuh tinggi dan pendek, tetapi sama-sama menyeramkan.Ibu menduga kalau hantu anak-anak kecil itulah yang masuk ke dalam tubuh Bodhi, boneka bayi kesayangan kami. Entah yang mana yang berasal dari rumah sakit atau dari rumah kami yang dikenal tetangga sebagai rumah hantu.Di berbagai negara, biasanya spirit doll memang berisi arwah bayi atau anak kecil yang sudah meninggal. Barangkali mereka senang menjadi boneka karena bisa dirawat oleh “orang tua” masing-masing dengan penuh kasih sayang.Setelah menyadari kalau Bodhi menampung banyak arwah, ibu mulai sering mengalami kejadian aneh. Beliau pernah terbangun tengah malam di kamar dan melihat ada bayangan hitam di hadapannya.Dalam kondisi kaget dan ketakutan, tiba-tiba kedua kakinya ditarik ke bawah. Ibu berusaha meronta-ronta agar lepas, tetapi tarikan itu semakin kuat, dan akhirnya beliau pingsan.Saat terbangun di pagi hari, ibu melihat Bodhi duduk di kursi yang tak jauh dari tempat tidurnya. Padahal, sebelumnya, kursi itu kosong tidak ada yang duduk di atasnya.Dengan ngeri, beliau menyambar Bodhi dan langsung memasukkannya ke dalam lemari. Lantas beliau berdoa agar apa pun yang berada di dalam Bodhi tidak mengganggu keluarga kami lagi. keyakinan ibu sudah bulat kalau Bodhi sudah menjadi spirit doll tanpa kami kehendaki.Hal itu terjadi sekitar dua tahun lalu. Sampai sekarang, Bodhi masih disimpan di dalam lemari dan kami tak pernah bermain-main lagi dengannya, bahkan hampir tak pernah melihatnya.Sementara itu, kadang-kadang ibu masih berdoa untuk Bodhi. Suatu saat nanti, beliau juga ingin merukiah Bodhi supaya boneka bayi ini kembali “bersih”. Sampai saat itu terjadi, Bodhi tetap disimpan di dalam lemari.Namun sungguh aneh, beberapa kali pintu lemari itu pernah terbuka sendiri, dan Bodhi menggelinding ke luar….

Sumur Tua di Belakang Rumah yang memikat Orang untuk Bunuh Diri
Horror
21 Nov 2025

Sumur Tua di Belakang Rumah yang memikat Orang untuk Bunuh Diri

Sumur itu seperti mempunyai magnet. Menarik orang untuk mendekat dan bunuh diri dengan menceburkan diri. Misteri yang tak terpecahkan hingga kini.Dua rumah itu menempel satu sama lain. Sebagai sumber air, keduanya berbagi satu sumur. Airnya bagus, tidak pernah habis atau menjadi dangkal, bahkan di musim kemarau yang keras. Masalahnya, sumur itu seperti mempunyai magnet. Menarik orang yang sedang tidak “lurus” untuk terjun ke dalamnya; bunuh diri.Sebenarnya, dahulu, dua rumah itu adalah satu bangunan. Namun, oleh pemiliknya yang tidak lagi mukim di Jogja, dibagi menjadi dua untuk dikontrakkan. Rumah sisi kiri ditempati oleh sebuah keluarga yang tertutup dan konon mengidap gangguan jiwa. Sementara itu, sisi kanan digunakan sebagai tempat jasa. Saya tidak boleh menyebutkan jenis usahanya karena akan dapat dengan mudah diidentifikasi oleh pembaca yang akrab dengan daerah di sekitar sebuah stadion.Mundur jauh ke belakang, sebelum rumah itu dibagi menjadi dua, ada sebuah keluarga yang menghuninya. Bukan, keluarga ini bukan pemilik sah. Saya dan keluarga tidak begitu tahu asal-usul keluarga tersebut. Satu hal yang pasti, keluarga itu sudah mukim di sana sejak zaman buyut masih ada.Keluarga tersebut dari satu keluarga inti berjumlah lima orang; orang tua dan tiga anak. Selain itu, ada sepupu mereka yang ikut mukim di sana. Mereka mempunyai kebiasaan untuk duduk meriung di sekitar sumur itu untuk mengobrol sampai melakukan kegiatan sehari-hari seperti memasak dan mencuci. Tetangga bisa melihat aktivitas mereka karena tembok belakang rumah pendek saja, tidak seperti sekarang yang sudah ditiunggikan.Kasus percobaan bunuh diri yang pertama terjadi tidak lama setelah si sepupu mulai ikut tinggal di sana. Sebuah kejadian yang menggegerkan satu kampung.Kasus bunuh diri pertamaSi sepupu ini bernama Kelik. Tentu saja bukan nama sebenarnya. Usianya baru awal 30 tahun kalau saya tidak salah mengingat. Sebagai pendatang, Kelik sangat mudah akrab dengan pemuda setempat. Dia selalu punya tabungan tema untuk membuka obrolan dengan orang yang baru ditemui. Dia cukup kuat minum alkohol. Sifat yang membuatnya langsung disukai para pemuda.Namun, kalau sudah mulai mabuk, Kelik suka meracau. Para pemuda zaman itu menganggapnya sebagai hal yang wajar. Orang mabuk memang suka menunjukkan perilaku yang terbilang ajaib. Anehnya, racauan Kelik ya itu-itu saja. Soal penunggu sumur, seorang perempuan yang masih remaja, dengan senyum menggoda. Si penunggu ini, kata Kelik, sering bilang kalau air di dalam sumur itu ajaib dan bisa menyembuhkan banyak penyakit dan kesusahan hidup.Yah, tidak ada yang menyangka kalau racauan itu sebetulnya penanda ketakutan Kelik. Lantaran dibalut dengan kondisi mabuk, tidak ada yang menganggapnya serius. Apalagi, sebelumnya, tidak pernah ada cerita seram dari rumah dan sumur tua di belakangnya. Semuanya baik-baik saja sampai Kelik melompat ke dalam sumur itu untuk bunuh diri.Percobaan bunuh diri Kelik ini sungguh dramatis. Kejadiannya di siang bolong dan banyak saksi.Tetangga samping dan belakang rumah bisa melihat kejadian horor itu. Kelik berlari dengan cepat, naik ke bibir sumur, dan melompat ke dalam. Konon, ada yang melihatnya menangis ketika melakukan percobaan bunuh diri itu. Saya sebut “percobaan” karena Kelik berhasil diselamatkan.Warga langsung menghambur ke sumur tua itu. Para pemuda mengikat dirinya menggunakan tali tampar yang panjang dan kuat. Mereka mengerek Kelik ke atas. Terlambat sedikit, Kelik pasti meninggal mengingat dia tidak bisa berenang dan bisa jadi mati tercekik oleh gas di dalam sumur. Mengerikan.Beberapa jam kemudian, di rumah sakit, Kelik akhirnya sadar. Perwakilan keluarga menunggu di dalam, sementara para pemuda berjaga di luar. Setelah bisa berkomunikasi, Kelik menceritakan detik-detik kejadian percobaan bunuh diri yang dia lakukan. Semua yang hadir mendengarkan dengan tegang.Siang itu, Kelik baru selesai makan lalu berbaring di ruang depan. Ketika berada dalam kondisi setengah sadar sebelum tertidur, kaki Kelik dipegang oleh anak perempuan yang katanya menunggu sumur tua itu.Seketika Kelik merasa sangat sedih dan ingin menemani si anak perempuan itu. Perasaan itu sangat kuat dan dia tidak sadar sudah berdiri di pintu belakang rumah. Dia bisa melihat si anak perempuan itu melompat ke dalam sumur. Niat awal Kelik adalah mencegah anak perempuan itu untuk “bunuh diri”. Namun, yang akhirnya dia sadari adalah dirinya ikut menceburkan diri ke sumur.Setelah sadar dan diizinkan pulang, Kelik lebih banyak di luar rumah. Seakan-akan dia takut untuk pulang. Bahkan pernah dia menginap di pos ronda selama beberapa hari. Di lain kesempatan, dia tidur di balai-balai di depan rumah tetangga. Kami tahu kelik ketakutan, tapi dia tidak bisa menceritakan ketakutan itu. Iya, dia merasa tidak bisa, bukannya tidak ingin.Kejadian bunuh diri keduaDua bulan kemudian, Kelik memutuskan untuk pergi. Kami dengar dia pergi ke Sumatera untuk bekerja di perkebunan sawit yang baru buka. Di satu sisi kami kehilangan sosok yang pintar mencari tema obrolan. Namun, setidaknya, kejadian horor percobaan bunuh diri tidak akan terjadi lagi. Setidaknya itulah prediksi kami. Kalau sudah begini, pembaca pasti tahu kalau prediksi kami salah.

Wanita Menakutkan di Lorong Asrama di Malam Hari
Horror
21 Nov 2025

Wanita Menakutkan di Lorong Asrama di Malam Hari

Pada pukul 23.50, aku menerima pesan singkat dari teman sekamarku, "Yetty, bisakah kamu segera datang ke kamar mandi untuk menjemputku? Ada seseorang yang berhenti di luar bilikku."Koridor di asrama sangat tidak aman akhir-akhir ini. Aku sedang berniat untuk mematikan ponsel dan berpura-pura tidur, tetapi tiba-tiba dia melakukan panggilan video ....1Aku teringat pada unggahan yang baru saja aku baca, "Asrama perempuan Gedung B, Lantai 3, setelah pukul 23.30 malam, akan ada seorang perempuan dengan wajah hancur yang membawa tali dan berjalan-jalan di lorong."Beberapa hari yang lalu, ada satu komentar yang mengatakan ingin bertemu dengan perempuan yang mengunggah hal itu. Pemilik lantai tersebut selalu melakukan pembaruan setiap hari. Dua hari yang lalu, dia mengatakan bahwa dia sepertinya melihat orang itu.Waktunya juga pukul 23.50. Sejak saat itu, lantai ini tidak pernah memperbarui informasi lagi.Aku hanya bisa berdoa, semoga unggahan ini hanyalah lelucon dari sekelompok orang yang bosan."Yetty! Tolong jemput aku sekarang juga. Aku sudah terlalu lama menunggu di sini. Orang itu terus berdiri di luar dan tidak bergerak. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku sungguh sangat ketakutan."Aku dengan berat hati memutuskan untuk berpura-pura sudah tidur dan menekan tombol matikan. Namun, pada detik berikutnya, Valen pun melakukan panggilan video.Jari-jariku tak sengaja menekannya.Tiba-tiba, hatiku menjadi sangat takut saat panggilan video terhubung.Dengan cahaya yang menyelinap masuk dari luar jendela kamar mandi, aku melihat Valen gemetar. Dia menggunakan jarinya untuk menutup mulutnya, memberi isyarat agar aku tidak bersuara. Kemudian, dia membalikkan lensa kamera ponselnya.Sebuah sepatu bola perempuan yang sangat kotor tampak di luar. Orang itu tidak jelas sedang menunggu apa. Dia hanya berdiri diam di luar.Beberapa helai rambut terjatuh. Segera, wajah tanpa fitur yang jelas pun muncul secara tiba-tiba di dalam lensa.Perempuan itu tengah melihat ke dalam bilik toilet dari arah bawah.Perempuan itu berwajah hancur. Aku yakin dia adalah perempuan berwajah hancurseperti yang disebutkan dalam unggahan itu!Perempuan berwajah hancuritu menampilkan senyuman yang menyeramkan.Aku dapat memahami bahwa dia menggunakan gerakan bibirnya untuk mengatakan kepadaku, "Aku telah datang mencarimu."Panggilan video langsung terputus.2Saat berikutnya, tiba-tiba, suara keras terdengar. Pintu asrama didorong keras oleh seseorang, ternyata orang itu sudah berdiri di luar pintu!Suara ini membuat aku ketakutan. Ketika aku gemetar sambil berusaha menelepon nomor darurat polisi, suara terbuka jendela dari balkon terdengar.Dengan mata membelalak, aku melihat perempuan itu menggunakan kedua tangannya untuk merayap masuk dari luar jendela.Di momen genting, yang aku lihat adalah bola matanya yang jseperti bola kamper yang berputar.3Pukul 23.40.Suara pintu tertutup membangunkanku.Leherku masih sangat sakit. Sensasi menggigit yang baru saja menyerangku masih terasa. Aku terpaku memandangi sosok yang akrab melintas."Valen!"Aku terperanjat, lalu segera mulai bernapas dengan cepat dan berat.Apakah yang baru saja terjadi hanyalah mimpi buruk?Pada 23.50, ketika aku sedang asyik menonton video, pesan Whatsapp yang muncul membuatku merasa tenggelam dalam keputusasaan."Yetty! Bisakah kamu segera datang ke kamar mandi untuk menjemputku? Ada seseorang yang berhenti di luar bilikku."Setiap kata itu terpampang di depan mataku dengan sangat jelas. Itu terasa sungguh nyata. Aku segera menelepon polisi untuk melaporkan situasi sekarang dan meminta mereka datang secepat mungkin. Lantaran gugup, aku melompat dari tempat tidur tanpa mengenakan sepatu.Benar, aku harus melarikan diri.Maaf, Valen. Kita sama-sama tidak mampu melawan perempuan itu. Aku sudah melakukan semua yang aku bisa, sekarang aku hanya ingin menyelamatkan nyawaku sendiri. Aku harap kamu bisa memahaminya.4Napasku terasa berat. Dengan gemetar, aku membuka pintu kamar dan memasuki lorong. Setelah setengah jalan, aku akan dapat melihat tangga. Itu berarti bahwa aku akan selamat.Aku berjalan dengan hati-hati di lantai karena takut mengganggu perempuan itu. Namun, sebelum aku berjalan cukup jauh, layar ponselku menyala.Ini adalah panggilan video dari Valen.Di seberang lorong, seseorang melompat keluar dari kegelapan. Kecepatannya beberapa kali lipat daripadaku. Aku bisa mendengar tawa aneh perempuan itu yang makin mendekat.Pada saat jari-jariku hampir menyentuh pegangan tangga, seseorang meraih rambutku dengan kuat.Dua jari langsung menusuk mataku.5Aku terbangun lagi pada pukul 22.00.Valen belum kembali ke asrama. Aku tidak tahu dia berada di mana.Pada saat ini, aku tiba-tiba menyadari bahwa aku sepertinya telah memasuki siklus yang berulang.Waktu selalu berjalan mundur. Setiap kali setelah Valen meninggal, orang berikutnya yang akan menjadi korban adalah aku. Namun, aku tidak bersalah. Siklus ini adalah kesempatan yang diberikan oleh takdir untuk melarikan diri.Aku langsung menelepon Valen.Sambil mengemas barang, aku menelepon dia. "Jadi, jangan salahkan aku tidak mengingatkanmu. Malam ini, pada pukul 23.50, jangan pergi ke kamar mandi. Aku tidak akan tinggal di asrama lagi, jaga dirimu sendiri."Setelah mengemas barang dengan cepat, aku menaiki taksi menuju jalan paling ramai di pusat kota dan memaksakan diri untuk menginap di hotel yang sangat mahal.Aku sudah memberi tahu resepsionis sebelumnya, bahwa aku berharap mereka bisa tepat waktu mengetuk pintu kamarku pukul 23.50 karena kemungkinan malam ini aku akan mengalami beberapa masalah.Setelah mematikan lampu, aku berbaring di atas tempat tidur dan baru sadar bahwa di dinding sebelah tempat tidur, tergantung sebuah lukisan minyak, yaitu siluet perempuan.Pukul 23.30, Valen bertanya kepadaku di mana aku berada. Aku menjawab jujur dan juga menanyakan apakah dia ingin datang bersama, tetapi dia tidak merespons.Pukul 23.40, aku melakukan panggilan video kepada Valen. "Untuk menghindari waktu yang kamu sebutkan, aku sudah pergi ke kamar mandi lebih awal pada pukul 23.30. Karena kamu membuatku ketakutan, aku lupa membawa ponselku. Ketika kembali, pintu asrama terbuka. Aku pikir ada pencuri masuk. Itu membuatku terkejut."Pukul 23.30 ....Pada waktu itu, Valen tidak membawa ponsel. Lalu, siapa yang mengirim pesan dan menanyakan di mana aku berada?6Di dinding sebelah tempat tidur, ada sebuah jendela.Saat ini, aku sedang menatap pemandangan malam di kota ini dengan ketakutan. Bayangan wanita yang muncul tadi telah menghilang.Hingga ....Terdengar sebuah suara.Di lorong yang gelap, perempuan itu berdiri di depan pintu. Dengan setengah wajahnya yang hancur, dia menampilkan senyuman menakutkan.Dia memegang seutas tali yang tebal dan menutup pintunya.....Pada saat aku menutup mata, aku bisa mendengar suara resepsionis di luar pintu.Sayangnya, semua itu sudah terlambat.

Bayangan di Lembah Kering
Horror
21 Nov 2025

Bayangan di Lembah Kering

Alya berlari menembus semak berduri, napasnya terputus-putus, lututnya perih, dan udara panas gurun menghantam wajahnya seperti pecahan kaca. Suara tembakan terdengar lagi, memantul di antara tebing batu yang menjulang. Ia menoleh sekilas dan menemukan satu-satunya hal yang membuatnya tetap bergerak, Arga, tepat di belakangnya, wajah penuh debu, tapi matanya masih tajam mengawasi keadaan sekitar."Alya, kiri!" teriak Arga.Ia meloncat ke samping, dan peluru menghantam batu di depan tempat ia berdiri. Pecahan serpihan beterbangan. Tubuhnya goyah. Arga menangkap lengannya, menstabilkan langkahnya. Sentuhan itu cepat, hanya sepersekian detik, tapi cukup membuat jantung Alya berdebar lebih kencang dari ancaman kematian yang mengikuti.Mereka harus terus maju. Sudah tiga hari mereka terjebak di lembah kering ini, berusaha kabur dari kelompok pemburu bayaran yang sebelumnya menculik rombongan ekspedisi tempat mereka bekerja. Dari dua belas orang, hanya mereka berdua yang selamat. Selebihnya entah mati atau diangkut entah ke mana.Tiga orang lain yang kini bersama mereka hanyalah sisa-sisa kekuatan perjuangan, Reno, mantan tentara yang kini pincang setelah terkena ranjau buatan.Sera, mahasiswa magang yang mentalnya mulai retak setelah melihat kematian teman-temannya.Pak Darun, sopir tua yang lebih banyak berdoa daripada berbicara.Mereka bukan kelompok penyelamat yang ideal. Mereka hanyalah manusia-manusia yang belum sempat mati.Alya dan Arga kembali ke tempat persembunyian, celah sempit di antara bebatuan besar. Reno mengintip dari balik batu, wajahnya pucat."Mereka sudah makin dekat," katanya dengan suara pelan. "Aku bisa dengar suara ban mobil dari bawah lembah."Sera menutup telinganya. "Kenapa mereka terus kejar kita? Kita cuma peneliti. Kita bahkan ga ngerti apa yang mereka cari."Pak Darun menjawab lirih, "Karena mereka kira kalian tahu tempat penyimpanan artefak itu. Padahal kita bahkan belum lihat bentuknya."Alya duduk, menahan rasa sakit di kakinya. Debu kering menyatu dengan darah segar. Arga berlutut di depannya, memeriksa luka tanpa meminta izin. Tangan itu cekatan, tapi lembut. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, kini mereka tak menyembunyikan perhatian satu sama lain. Situasinya terlalu kacau untuk pura-pura dingin."Kamu harus berhenti nekat lari seperti itu," gumam Arga.Alya memutar bola mata. "Kamu yang lambat."Bibir Arga terangkat tipis. Sekilas, mereka terlihat seperti orang normal yang sedang bercanda ringan, bukan dua manusia yang dikejar kematian. Reno memperhatikan interaksi itu dengan tatapan half-annoyed seperti orang tua yang muak melihat dua remaja saling jatuh cinta di tengah krisis hidup dan mati.Menjelang malam, suhu turun tajam. Udara menggigit tulang. Mereka berlima berlindung dalam gelap, hanya diterangi cahaya rembulan yang jatuh samar ke lembah. Suara serangga malam bercampur dengan langkah-langkah samar musuh yang semakin mendekat.Alya memejamkan mata, mencoba menenangkan napas. Tapi pikiran tentang tiga hari terakhir terus menghantuinya, jeritan, darah, tubuh-tubuh yang tertinggal, dan rasa bersalah yang mencengkram.Arga duduk tak jauh darinya. Ia menyentuh bahunya, pelan, tidak memaksa. "Tidur sebentar. Aku jaga."Alya membuka mata. "Kalau aku tidur, kamu kapan istirahat?""Kalau kamu mati kecapekan, aku harus lari sendiri. Itu lebih melelahkan."Alya menatapnya, mencoba membaca apakah ini candaan atau kebenaran pahit. Arga hanya menatap balik dengan mata yang tak lelah, hanya tekad. "Kita keluar sama-sama," katanya pelan.Untuk pertama kalinya sejak kekacauan itu dimulai, Alya merasa dirinya masih manusia yang layak diselamatkan.Pagi berikutnya membawa ketegangan baru. Mereka mendengar suara mesin mobil mendekat. Lembah yang sempit memperkuat gema suara itu. Musuh makin dekat."Kita ga bisa diam di sini," kata Reno. "Mereka akan temukan kita.""Lari lagi?" Sera mulai panik. "Aku ga kuat.""Kita turun ke jurang itu," kata Arga sambil menunjuk celah sempit di dasar lembah. "Ada aliran air kecil di bawah. Kalau kita bisa ikuti itu, kita mungkin bisa keluar ke sisi timur.""Turunnya saja sudah bunuh diri," sahut Reno."Aku lebih pilih itu daripada ditembak di sini," timpal Arga.Mereka semua setuju. Pilihan buruk tetap lebih baik daripada tidak punya pilihan sama sekali.Turunan itu curam. Batuan licin. Alya hampir jatuh dua kali, tapi Arga selalu ada satu langkah di belakang, siap menangkapnya. Ketika mereka sampai di dasar, air sungai kecil menyambut, dingin dan jernih.Reno duduk terengah, wajah menahan sakit. Luka kakinya makin parah."Kita ga bisa bawa dia jauh," bisik Sera.Alya menatap Arga. Arga paham tanpa perlu dijelaskan. Ia mendekati Reno."Aku bisa jalan," kata Reno cepat, seolah membacanya. "Tapi kalau mereka sudah dekat, jangan pikirkan aku."Tidak ada yang menjawab.Mereka berjalan menyusuri sungai. Arus air kecil itu mengarah ke celah batu yang membentuk lorong sempit. Cahaya di ujungnya tampak seperti pintu keluar.Lalu terdengar teriakan dari belakang, "Mereka melihat kita!"Peluru memantul di dinding batu. Sera menjerit. Alya dan Arga menarik Reno, memaksanya berjalan lebih cepat. Pak Darun menangkupkan tangan, berdoa sambil berlari. Suara langkah musuh makin nyaring.Saat mereka hampir mencapai celah, Reno melepaskan pegangan."Sudah!" katanya. "Pergi. Sekarang!""Tidak," Alya menolak.Reno mendorong Arga. "Bawa dia. Kalau kalian berhenti, semua mati."Arga menarik Alya paksa. "Alya, jangan keras kepala."Reno berbalik, mengambil posisi bertahan di belakang batu, siap menghadapi musuh seorang diri. Tembakan pertama terdengar. Lalu kedua. Lalu hening.Alya ingin menoleh, tapi Arga menahan wajahnya agar tetap memandang ke depan. "Jangan lihat."Mereka masuk ke celah batu sempit dan merayap hingga akhirnya sinar matahari menyambut mereka di sisi timur lembah. Dari kejauhan terlihat jejak permukiman kecil."Kita selamat," gumam Pak Darun dengan suara gemetar.Alya jatuh terduduk, menangis diam-diam. Arga duduk di sampingnya, tidak menyentuhnya, hanya berada cukup dekat agar ia tahu bahwa ia tidak sendirian."Kita selamat," ulang Arga, kali ini lebih pelan. "Dan kita akan terus hidup."Untuk pertama kalinya dalam tiga hari, Alya percaya itu.

Rumah misterius
Horror
21 Nov 2025

Rumah misterius

Di sebuah kota kecil bernama Rosadale, terdapat sebuah rumah tua yang sudah terbengkalai selama beberapa tahun. Rumah itu di tinggali oleh seorang wanita tua yang pendiam dan jarang berbicara dengan tetangga sekitarnya. Tidak ada yang tahu banyak tentang wanita itu kecuali bahwa dia telah kehilangan suaminya dalam kecelakaan mobil beberapa tahun yang lalu.Banyak yang mengatakan bahwa rumah itu terkutuk dan ada sesuatu yang sangat mengerikan terjadi di dalamnya. Tapi seperti halnya dengan sebagian besar cerita horor, tidak ada yang pernah benar-benar tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi.Hingga suatu malam sebuah kelompok remaja yang terdiri dari 4 orang, terdorong untuk mengeksplorasi rumah itu. Mereka ingin melihat sendiri apakah rumor rumor horor tentang rumah itu benar adanya atau tidak. Tanpa sepengetahuan orang tua mereka, mereka mencoba memanjat pagar dan mencoba membuka pintu rumah itu.Setelah beberapa saat merayap di pagar itu mereka akhirnya menemukan pintu belakang yang terbuka. Tidak ada yang berbicara saat mereka memasuki rumah itu, hanya suara langkah kaki mereka yang menciptakan suara seperti gemericik air hujan di lantai tua itu.Ketika mereka masuk ke dalam ruangan utama, mereka merasakan bahwa ada sesuatu yang ganjil di dalam rumah itu. Cukup lama mereka merasa kesepian dan kosong. Namun, semakin mereka melanjutkan pencarian mereka, semakin banyak pula yang mereka temukan. Mereka menemukan foto-foto tua, perabotan lama dan di dalam cupboards gelap, mereka menemukan kulit binatang dan tulangnya sekaligus. Hal itu membuat mereka merasa takut namun mereka tidak patah semangat untuk menggali lebih dalam lagi ke dalam rumah itu.Hingga pada saat mereka tiba di tangga yang menuju ke kamar atas mereka mendengar suara bisikan-bisikan misterius yang datang dari beberapa kamar, ketika tiba di kamar dengan pintu yang terkunci, mereka melihat kalau ada seorang wanita yang tidak di kenal terbaring di kasur itu.Tubuh si wanita itu di tutupi oleh selimut yang tidak meresap, di samping kasur itu juga terdapat sebuah kotak kayu besar yang misterius. Dengan penuh rasa ingin tahu mereka akhirnya mengambil kotak itu dan membukanya.Namun, apa yang mereka temukan mampu membuat nafas mereka sementara berhenti untuk sesaat. Di dalam kotak itu terdapat kepala manusia yang menatap lurus pada mereka dengan leher yang masih tercium darah baru. Pada saat itu juga sekelompok remaja tersebut menyadari bahwa mereka tidak sendirian di dalam rumah. Hingga pada akhirnya mereka lari berhamburan, mereka di kejar sampai ke dalam Lorong gelap dan terperangkap di dalam rumah itu. Yang mereka hadapi bukanlah wanita tua yang kesepian melainkan sesuatu yang kejam dan ganas, itu adalah setan dari dunia lain yang bersembunyi di balik kisah-kisah horor yang memanggil mereka untuk masuk ke dalam rumah ini.Remaja itu tidak pernah terlihat lagi setelah malam itu, ada yang mengatakan bahwa mereka terkutuk dan akan menghantui rumah itu selamanya sementara yang lain berkata bahwa mereka telah menjadi korban kekuatan jahat yang ada di dalam rumah yang terlantar itu. Siapa yang tahu tetapi suatu hal yang pasti rumah itu masih berdiri dan misterius sampai hari ini.

Kepulangan yang Gila
Horror
21 Nov 2025

Kepulangan yang Gila

Kelakar tawa menggema di ruangan yang tak lebih dari 4 x 4 meter persegi itu. Salah seorang berseru, “Lekaslah pulang, Kinai,” tegas dan disusul pecah tawa pria-pria dewasa lainnya. Terus begitu hingga lelah memeluk jiwa mereka. Memaksa mereka untuk beristirahat.Pagi kali ini, ruangan yang pengap itu tampak lebih pengap dari biasanya.Dipenuhi sisa-sisa gelagak kebahagiaan,Dipenuhi sisa-sisa rasa kemanusiaan.Bima, satu dari 3 lelaki yang kemarin tertawa hingga rahang mereka tak lagi terasa menatap sudut ruangan yang semalam dibanjiri dengan rembesan merah dari tubuh yang kini tak ber-raga, mulai mengering, menyisakan bau-bau yang menambah sesak ruangan.“Kinai pulang,” Bisiknya. Lalu dengan lamat-lamat melihat sekeliling ruangan. Seakan memindai dan kelebatan memori kembali hadir di depannya. Menunduk gelisah saat matanya kembali menatap sudut ruangan itu. Tiba-tiba tertawa,“Aku memulangkannya,”“Berterimakasihlah kepadaku dan teman-temanku, Kinai”“Kau mendapatkan apa yang kau mau, setelah kami mendapatkan apa yang kami mau. Kita semua menang, bukan?”Dalam hati, Bima merutuk bukan main. Memaki dengan lelah. Bukan beginilah seharusnya hidup Kinai berakhir.“Bima!” Seru seorang teman yang baru saja selesai menenun mimpinya. “Bagaimana ini?!” Tanya nya.Lelaki yang ditanyai memandang sekali lagi tubuh Kinai, “Selesaikan. Pulangkan Kinai dengan cara yang benar!” Tuntasnya.Dengan dibebat rasa takut dan penyesalan yang tipis dan nyaris hampir tak terlihat, Bima menjejak keluar ruangan. Berhenti sepersekian detik, “Selagi kalian memulangkan Kinai, aku akan memulangkan kita,”“Apa maksudmu?!” Seru salah seorang teman Bima yang lain.“Berhenti disana, Bim! Aku tak mau!” Seru yang lain. Tapi Bima tetaplah Bima. Dia tahu semua orang menantikan kepulangan mereka. Akhir dari tujuan hidup mereka hari itu. Kemanapun tempat yang dituju, untuk pulang.

Menampilkan 12 dari 228 cerita Halaman 10 dari 10
Menampilkan 12 cerita