Penghuni Rumah Terbengkalai
Horror
26 Nov 2025 27 Nov 2025

Penghuni Rumah Terbengkalai

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (21).jpeg

download (21).jpeg

27 Nov 2025, 06:36

Cerita ini terjadi sudah sangat lama, saat aku melakukan salah satu hal paling bodoh dalam hidupku: mengunjungi sebuah rumah terbengkalai. Aku pergi ke sana sendirian karena tidak ada satu pun temanku yang berani ikut. Terlalu banyak cerita menyeramkan dan kabar aneh yang katanya pernah terjadi di rumah tua itu.


Rumah itu tidak jauh dari rumahku. Jika berjalan kaki butuh sekitar sepuluh menit, namun waktu itu aku mengendarai sepeda, jadi kurang dari lima menit aku sudah sampai di depan rumahnya.


Sesampainya di sana, terlihat jelas rumah itu sudah lama terbengkalai. Temboknya berlumut, pagarnya berkarat, dan pekarangannya dipenuhi tanaman liar yang tumbuh tak terurus.


Aku datang karena mendapat pesan dari seorang kenalan. Ia meminta tolong untuk mencari sebuah benda yang tertinggal di dalam rumah itu. Saat membaca pesannya, aku sempat bertanya-tanya betapa bodohnya orang itu meninggalkan sesuatu di tempat seperti ini. Namun karena aku penasaran, akhirnya aku tetap berangkat.



---


Setelah memasuki rumah itu, aku langsung naik ke lantai atas. Ruang pertama yang kudatangi adalah kamar mandi. Begitu membuka pintu, hawa panas menyergapku.


“Ya Tuhan, panas sekali di sini… Sudah berapa lama kamar mandi ini ditutup?” gumamku.


Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh. Aku mencoba cuek dan keluar untuk menuju kamar lain yang belum sempat kukunjungi.


Kamar pertama di lantai atas tampak seperti kamar tidur milik sepasang suami istri. Ada bingkai foto pernikahan, namun wajahnya sudah buram dimakan usia. Di dalam laci aku menemukan pakaian dan beberapa lembar kertas berisi materi pelajaran. Di lemari hanya ada pakaian rusak entah karena siapa.


Aku lalu menuju kamar terakhir. Saat membuka pintu, firasatku benar: ini adalah kamar anak perempuan pasangan itu. Dindingnya dipenuhi gambar-gambar, ada cermin kecil yang bingkainya sudah kusam.


“Syukurlah… semoga di rumah ini tidak ada mayat,” ucapku lirih.


Tapi lagi-lagi, suara benda jatuh terdengar dari arah belakangku. Aku terdiam sebentar lalu memilih untuk tetap melanjutkan pencarian benda yang dimaksud kenalanku.



---


Aku turun ke lantai bawah, masuk ke ruang kerja di sebelah dapur. Rak bukunya penuh dengan buku-buku tua yang menguning. Namun seperti sebelumnya, benda yang kucari tidak kutemukan.


Aku menuju kamar mandi kecil di bawah. Cerminnya masih utuh, meski bingkainya penuh noda garis kusam.


Keluar dari kamar mandi, aku kembali naik ke lantai atas. Sepanjang tangga, kulihat foto-foto keluarga itu yang sudah memudar. Jika ke tempat seperti ini, seharusnya aku memakai masker dan sarung tangan, pikirku.


Saat memasuki salah satu ruangan, tiba-tiba aku melihat sebuah benda tergeletak di lantai.


“Apa ini…?”


Saat aku memungutnya, suara benda jatuh kembali terdengar. Kali ini lebih keras. Degup jantungku meningkat. Aku memutuskan sudahi semuanya dan segera keluar. Namun saat berjalan menuju pintu, kudengar langkah kaki seseorang dari arah atas.


Masalahnya… rumah ini tidak memiliki loteng.


Atau mungkin sebenarnya rumah ini memiliki loteng?


Entahlah. Ada hal-hal yang memang lebih baik tidak kucari tahu.



---


Beberapa minggu setelah kejadian itu, aku bertemu kenalanku di sebuah kafe kecil saat hujan lebat. Ia datang menggunakan gaun merah panjang, terlihat cantik.


“Kotak waktu itu… kau menemukannya?” tanyanya.


Aku mengangguk lalu menyerahkan benda yang kutemukan di rumah itu. Ia bilang benda itu adalah miliknya sejak kecil. Setelah itu, aku menceritakan pengalamanku memasuki rumah tersebut—tentang sosok di kamar mandi yang ternyata adalah pembantu yang tewas tertembak, noda merah di cermin yang ternyata darahnya, lalu sosok di kamar tidur yang merupakan ayahnya, dan terakhir sosok ibu yang merindukan putrinya.


Ternyata semua cerita menyeramkan tentang rumah itu memang benar. Dengan mataku sendiri aku melihat para PENGHUNI RUMAH TERBENGKALAI.


Setelah menyerahkan kotak itu, aku pulang. Di tengah hujan, aku berjalan tanpa payung karena aku benci jika ada “sosok” yang menumpang di bawah payungku.



---


Rumah terbengkalai itu ternyata memiliki masa lalu kelam. Satu keluarga beserta pembantu mereka dibunuh secara kejam, namun putri mereka berhasil selamat dan kini tinggal bersama neneknya di Belanda.


Namun ada satu hal yang tidak kuceritakan kepada gadis itu: di loteng rumah itu—yang katanya tidak ada—aku menemukan jasad sang pelaku, tergantung.


Yang jadi pertanyaanku… mengapa para penghuni rumah itu belum pergi?


Apakah mereka ingin menjemput sang putri?


Ketika aku meninggalkan kafe, dari kejauhan aku melihat kenalanku berjalan. Tapi aku juga melihat tiga sosok lain mengikuti di belakangnya—tiga sosok penghuni rumah terbengkalai itu.



---


END


Kembali ke Beranda