Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
830
Genre Romance
166
Genre Folklore
166
Genre Horror
166
Genre Fantasy
166
Genre Teen
166
Mencurah Rindu Di Hangtuah
Nuke adalah alasan mengapa aku selalu melewati jalan ini. Jalan yang dimana Nuke sering mencubit perut buncitku ketika berboncengan di atas motor. Gemas katanya. aku pun melihat ekspresi wajahnya dari spion kiri yang menghadap ke arahnya. Dengan rambut yang tergerai, pipi gembil dan matanya yang melotot. Nuke, wangi parfumnya yang masih terpaku di pikiran.Sore yang sedang berawan, aku berhenti di taman. Menyapu tatapan sekeliling tanaman, lalu berhenti di huruf G yang mengingatkan aku kepada pose saat Nuke berfoto. Saat aku tanya mengapa huruf G, ia menjawab G adalah Gift. Dengan sumringah ia menjawab itu, aku dengan bingungnya bertanya kembali. Gift sabun maksud kamu? Ia diam. Entah jokes yang tidak lucu atau ia merasa kesal atas ucapanku. Tapi aku setuju dengan alasan dia yang mengartikan huruf G untuk Gift. Iya. Nuke adalah hadiah. Hadiah dari Tuhan untukku. Semoga ia mengartikan hal yang sama.Aku menghampiri huruf G tersebut, kemudian memfotonya. Bermaksud untuk mengunggahnya ke sosial media Instagram, dengan bertuliskan Gone. Karena itu yang sekarang terjadi. Sebuah hadiah yang sudah hilang dari dekapan. Nuke, apa kabar dan di mana kamu sekarang?Langit hampir gelap. Aku melipir ke pedagang sate taichan. Tempat di mana terakhir kali aku bersama Nuke. Aku memesan sambil melihat ke arah tempat duduk kami yang dulu diduduki. Aku menghela nafas. Kenangan oh kenangan. Membekas enggan lepas.—Saat itu memang berpisah seperti pilihan yang tepat, pikirku. Gejolak pikiran negatif yang selalu bernaung di otak, terus menerus mencari pembenaran dari ketidakpastian insting terhadap Nuke. Kecurigaan akan perasaannya yang membuat aku selalu berpikir ada dan tidaknya rasa cinta untukku. Walaupun setiap kegelisahan pasti ia tenangkan, tetapi aku selalu hanyut pada terpaan ombak pikiran negatif. Ketakutan akan gerak gerik Nuke di belakangku, kecemasan pada sikap dia yang supel kepada laki-laki lain, posesif, overprotektif. Iya itulah aku. Kemudian matinya akal sehatku yang menghasilkan puluhan kata-kata umpatan terlontar, sampai menembus hati Nuke yang berujung perpisahan.—Pukul 23.05. aku merebah sambil mendengarkan lagu yang kuputar berkali-kali. Naif, senang bersamamu. Tetiba musik berhenti, panggilan telepon masuk. Nuke. Tertegun aku melihat layar handphone. Selama ini ia membatasi aku untuk menghubunginya, bahkan sampai memblokir semua akses yang menuju ke dirinya.“Halo!” Ucapku perlahan, bibirku gemetaran. “Halo!” Jawabnya.101 hari yang tidak pernah aku dengar kembali, malam itu suara Nuke memecah hening.Ritme yang dikeluarkan Nuke di telepon membingungkan. Aku menebak ia mabuk. Betul saja saat ia mengaku sedang minum alkohol seorang diri di kamar hotel. Seketika kecurigaanku mencuat. Aku mengenalnya, ia tidak mungkin melakukan itu. Apa yang sedang ia lakukan, dengan siapa ia di situ, apa tujuannya ia mabuk. Semua pertanyaan yang aku lontarkan itu membuat ia kesal dan menolak untuk menjawabnya.“Kamu lagi di mana? Cepet kamu ke sini, aku tungguin” ucapnya. “Tunggu. Aku ke sana!” Jawab ku kemudian menutup telepon.Aku bergegas pergi sambil melihat peta yang ia berikan. Tepat di depan taman Hang Tuah, sebuah mobil menabrakku dari samping. Hanya itu yang aku ingat sampai sekarang.—Hampir 1 bulan aku tidak sadarkan diri, semua kejadian diceritakan oleh kakekku. Aku dibawa ke rumah sakit oleh orang-orang yang menolongku. Tetapi semua yang aku punya, lenyap dibawa orang yang tidak bertanggung jawab. Handphone, motor dan dompet. Masih untung ada yang menghubungi keluargaku dan memberitahu kejadian tersebut.Malam itu aku memikirkan Nuke yang pasti menungguku datang. 1 bulan berlalu aku mendapati kabar bahagia, ia mendatangi rumahku seorang diri, lalu bertanya perihal malam itu mengapa aku tidak datang. Ia pun susah menghubungiku saat itu.“Waktu itu kamu kemana?” Tanya Nuke. “Maaf Nuke, waktu itu aku bohong, aku ngga berangkat, aku tidur”. “Terus kenapa nomor kamu ngga aktif, sampai sebulan lebih?” Tanyanya kembali. “Aku ganti nomor, maaf ya” “Bohong!” Ucapnya “Bener, Nuke. Aku ganti nomor” ucapku meyakinkan.“Andrea. Maksud aku ke sini, aku mau ngasih ini ke kamu” sambil memberikan kertas berwarna bersampul plastik. “Undangan? Nuke, kamu mau nikah?” Tanyaku terkejut. “Iya, Andrea. Aku harap sih kamu bisa dateng ya”Aku diam, menatap dalam bola matanya. Tatapan kami membuatku hanyut dalam kegetiran. Ia memegang pipiku sambil tersenyum. Aku meleleh, seketika aku menunduk. Aku membaca undangannya, nampak tertulis Nuke dan Wijaya, 22 Oktober 2019.“Selamat ya, Nuke” ucapku tegar. “Iya makasih, Andrea. Aku do’ain kamu juga cepet nyusul aku, ya”. “Aamiin” jawabku sambil tersenyum memandang wajahnya kembali. “Yaudah aku pamit pulang, ya” ucapnya. Kemudian ia melenggang pergi dengan mengendarai motor Vespa matic putihnya.—Pukul 17.30 tanggal 21 Oktober 2019. Dalam kamar kosong. Aku sudah mengikat seseorang laki-laki di atas meja. Mulutnya tersumpal kain, tanpa busana. Ia menjerit dalam tenggorokannya. Aku membelai rambutnya dan tersenyum padanya. Ia menangis, aku ikut meratapi.“Wijaya Putra, beruntung banget ya kamu bisa menikah dengan Nuke” ucapku.Ia mencoba kembali berteriak, tubuhnya meronta. Makin keras teriakannya, tetapi untungnya diredam dengan bungkaman kain dari kemejanya.Aku meraih pisau kecil yang tergeletak di ujung meja tersebut. Lihai jariku menyayat kulit dari ujung kaki sebelah kirinya dan berhenti di paha. Ia berteriak.“Diam!” Ucapku lantang.Dibalas dengan teriakannya kembali.Aku berdiam diri menatapnya. Lalu aku mengambil kain yang berada di dalam mulutnya.“Aaaarggghh bangsaaatttt. Lepasin gua anjiiiing” ucapnya sambil meronta melihat ke arah ku. “Ssstt. Jangan berisik” jawabku. “Andrea bangsaaatttt. Mati lu bajingan” ucapnya. “Ooohh kamu kenal sama aku?” Tanyaku Lalu ia tertawa.“Hahaha gua sih kalo jadi lu sedih. Nuke itu benci sama lu, Dia sebenernya ngga mau sama lu, lu posesif, lu selalu curiga sama dia hahah kasian banget sih lu Andrea. Nuke selingkuh sama gua. Ngga tau kan lu? Hampir setahun gua jalanin sama dia. Haha dasar tolol” ucapnya.Aku berteriak. Hampir 10 kali tikaman pisau ke perutnya yang membuat ia terdiam.Nuke, aku tunggu di taman Hang Tuah ya sekarang.Tulisku di pesan menggunakan handphone Wijaya.—Aku sudah bersiap pergi dengan ojek online. Dengan membawa plastik hitam besar. Aku menuju taman Hang Tuah. Sesampainya di sana, aku menggantungkan plastik tersebut di huruh G. Kemudian aku kembali ke kamar kosong tersebut untuk menyelesaikan tulisan ini di laptopku.—Nuke. Maafkan aku.Terakhir kali kamu ke rumahku untuk memberikan surat undangan pernikahanmu, aku mengikutimu sampai kamu berhenti di sebuah rumah yang bukan rumahmu. Sampai akhirnya aku mengetahui itu adalah rumah Wijaya, Calon suamimu.Hampir setiap hari aku mendatangi rumah tersebut. Memantau aktifitas Wijaya dari ia keluar rumah sampai masuk rumah kembali. Aku mengikutinya kemanapun. Kemanapun, Nuke.Sampai di hari ini. 1 hari sebelum pernikahan kalian. Aku menunggu di dekat rumahnya dengan mobil yang aku sewa. Aku memukul belakang kepalanya sampai ia tidak sadarkan diri.Nuke, semoga saat kamu datang ke taman Hang Tuah dan membuka plastik itu di huruf G, kamu tidak terkejut melihat wajah Wijaya di dalamnya. Itu adalah wajah laki-laki yang kamu cintai. Dan ketika kamu menemukan kami di kamar ini, percayalah. Aku yang tergantung lunglai ini membawa rasa cinta untukmu, Nuke.Selesai
Secret Ballerina
Aku sangat suka menari dan bagiku melakukan gerakan ballet adalah suatu hal yang mudah karena aku memiliki bakat itu. Aku merentangkan tangan mengangkat kedua kaki sampai suatu malam… Aku mendengar suara aku berjalan mengikuti sumber suaranya. Segera aku dekati malah aku terjatuh kakiku sakit susah digerakkan.Merasa seluruh badan lemas aku duduk memeriksa lututku. Aku pun pergi ke Dokter dan memeriksakan rasa sakit ini kata Dokter aku mengalami kelumpuhan kaki. “Kelumpuhan atau paralisis adalah kondisi ketika satu atau beberapa bagian tubuh tidak dapat digerakkan. Kondisi ini dapat disebabkan oleh gangguan pada otot atau saraf, akibat cedera atau penyakit tertentu.” ucap Dokter Alim memberitahu aku.Rasanya kakiku seluruhnya lemas aku tidak pernah menyangka penyakit ini terjadi. Sehingga aku tidak bisa menari. Suatu hari aku mendengar kabar jika Frans pelatihku mencari ballerina baru.“Kira-kira apakah Clara kamu mau jadi ballerina utama untuk penampil nanti di show besar?” “Tentu saja.”Aku kesal kenapa aku diganti? Sejak hari itu aku merenung sampai sebuah bayangan itu muncul lagi. Aku berusaha mendekati ada seorang gadis berwajah pucat.“Kamu tau aku adalah korban Frans si psikopat dia membuatku mati” “Benarkah?” “Ya tentu saja Frans Kagawa pria keturunan Jepang itu adalah pelatihku aku jatuh cinta padanya kami berpacaran lalu ia membunuhku dan membuang mayatku di sungai.” “Kenapa ia melakukan itu?” tanyaku heran. “Karena aku tidak menuruti perintahnya.” ucap gadis tersebut bercerita. “Perintah apa?” Otakku berasa dejavu aku seakan sulit percaya selama ini dikenal baik, santun walaupun pribadinya agak sedikit tegas, memang sih Frans tertutup tapi aku yakin dia menyimpan banyak kebaikan dari cara dia memotivasi supaya kita bisa tampil dengan sempurna. “Kau akan tau nanti.” Seketika gadis itu menghilang. Aku bertanya kenapa hantu itu bisa ada di sini? Sungai yang mana? Aku teringat sungai dekat sini tidak jauh dari lokasi tempat aku berangkat ke tempat les menari.Mendatangi lokasi aku mengucapkan doa. Rasanya aku benar-benar ketakutan tentang cerita mengenai gadis itu. Penasaranku kian membuncah. Pernah terpikir olehku untuk berusaha mencari tahu? Tapi aku takut sekali kalau aku akan dikeluarkan dari sana. Terlebih kondisi aku yang buruk.Riska salah satu temanku di tempat les berkata padaku, “kamu kenapa akhir-akhir ini melamun? Apakah kamu sakit? Aku lihat kau sering melamun.” “Kakiku mengalami kelumpuhan sepertinya aku akan sulit menari.” ujarku mengatakan kejujuran.Riska mendengar cerita aku langsung menganga pantas saja Clara Devina berdiri di sana bukannya aku. Itulah yang akhirnya diketahui oleh Riska. Percuma mengubah kenyataan dan mengelak ternyata semuanya benar.Akhirnya Riska langsung pergi ke pantry mengambil air menjatuhkan gelas kala melihat bayangan muncul seperti sosok gadis berambut panjang dengan poni warnanya hitam. “Hihihi…” Suara khas kuntilanak terdengar Riska berlari.Ia bertemu denganku dan memelukku aku heran sama sikapnya mukanya pucat. Sebelum show dimulai tersiar kabar jika Frans meninggal saat menuju perjalanan kesini dia mengalami kecelakaan. Aku tercengang semua ulah hantu itu. Seharusnya tidak bertindak sejauh ini.Penampilan dari Clara kurang memukau padahal sudah latihan. Kemudian panitia memberikan nilai tinggi pada pemampil lain yang lumayan memukau.Di show berikutnya… Clara berlatih cukup keras sekarang Frans diganti oleh Andrew. Andrew menunjukkan performa yang bagus dalam melatih semoga saja dia orang baik. Ternyata diam-diam hantu itu memperhatikan Clara ketika menari keluar darah di lututnya sehingga gadis itu berlari..Lalu Clara diganti olehku. Mana bisa aku mengikuti ritme musik dan bergerak lincah. Tapi semenjak itu aku bisa melakukan gerakan ini mukjizat dari Allah SWT. Aku bersyukur. Kugerakan kaki ke atas lalu melakukan split wah aku tampak lincah mengikuti musik klasik. Selesai itu Andrew bertepuk tangan.Kabarnya jenazah dari Rani gadis tersebut berhasil diautopsi. Aku lega mendengarnya.Di saat show tiba aku menemukan secarik kertas. “Akan ada bahaya? Untukmu.” Tulisan itu ada bercak darah. Aku takut siapa pengirimnya teror apalagi ini? Aku menatap diri di cermin sosok lelaki dengan muka menyeramkan pucat pasi ada di sebelahku. Aku tidak boleh takut.Penampilan kedua itu aku. Aku menari mengikuti alur. Setelah selesai semua berdecak kagum pada gerakanku. Kemudian aku menelepon Riska. “Tolong akh… akh…” Teriak mendesis saat aku menerima telepon rasanya seluruh tubuh aku terguncang.Aku menarik napas sampai sebuah darah tertulis di cermin. “You will die too waiting for the date to play.” (Kamu akan mati juga tunggu tanggal mainnya)Napasku sesak aku segera mengambil air berharap apa yang tertulis hanyalah ilusi belaka. Aku keluar dari ruanganku ambil tas belum pengunguman aku sudah kabur dari sini. Tanpa disangka aku bertemu Andrew dia mengajakku kembali ke dalam, namun aku menolak.“Hei ada apa? Ceritakan padaku.” “Ada… ada yang berniat…” Tiba-tiba aku merasa ada seorang lelaki membawa tombak dengan pakaian serba hitam. Aku terus berlari keluar kuambil kunci mobil. Pergi entah ke mana? Sampai aku bertemu ustadz Juki ia membantuku mengusir hantu itu dan tubuh dari hantu itu terbakar.“Kamu bisa baca Ayat Kursi dan An Nas, sini bantu saya…” “Baik,” Jawabku pelan mengikuti instruksi dari Ustadz Juki.Syukurlah aku selamat ini berkat bantuan dari Ustadz Juki. Berhutang budi padanya, begitu baik padaku padahal aku baru mengenalnya di dekat masjid ini.Andrew mengatakan jika aku dinyatakan pemenang sejak saat itu aku lebih mendekatkan diri pada Allah SWT, dan memperbanyak beribadah. Siapa pun makhluk gaib di sana bisa ditaklukkan dengan seringnya kita mejalankan perintah dari yang maha kuasa tanpa meninggalkannya. Aku juga mengetahui rahasia dari Frans jika ternyata dia ingin memerintah menjadikan budak para penari di tempat lesnya supaya bisa menghasilkan banyak uang menforsir hingga kelelahan, melarang makan sembarang memaksa diet ketat. Semata demi mendapatkan apa yang diinginkan.Aku tercengang ketika tahu dari diary milik Rani tersembunyi di lemari. Selama ini disimpan rapi di bawah handuk terselip. Aku kaget menemukan buku berwarna pink kusam.Selesai
Patung Manekin
Hari itu, aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Rasanya seperti mimpi! Aku tidak ingin melihat ini! Aku ingin bangun!. Siapapun tolong keluarkan aku dari sini!.—“Risya, bangun waktunya sekolah”.Aku mengerjapkan mataku sebentar, melirik jendela dengan tirai terbuka. Mengernyit sebagai refleks dari sinar matahari, aku melirik wanita paruh baya di sebelahku. Aku mengusap mata lalu menyapa ibuku. “Pagi ma..” Ibu membalas sapaanku lalu menyuruhku untuk mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah.“Untung aja PR sudah selesai.” Aku bergumam seraya memasukan beberapa buku pelajaran sesuai dengan jadwal sekolah, lalu berlari menuju meja makan untuk sarapan. Sesampainya disana aku bertemu dengan adik laki-lakiku yang super jahil sedunia. “Wah, kakak kenapa bangunnya cepat? Biasanya bangunnya siang banget.” Ia meledekku dengan senyuman miring, benar-benar mengesalkan. Aku menggembungkan pipiku, “Kau pikir cuma kau yang bisa bangun pagi?”. Adikku Ali tertawa remeh, segera mungkin ia menyantap roti panggangnya yang sudah tersedia di atas meja. “Sudah Ali, jangan mengganggu kakakmu, makan yang benar!” Ali yang mendengar itu menunduk sambil mengunyah roti panggang di tangannya. “Iya ma, maaf..” itu ucapnya, walaupun sedikit menggerutu. Aku tertawa dalam hati, rasakan itu, siapa suruh meledek pagi-pagi?.Setelah berpamitan, aku mulai berangkat ke sekolah sedangkan ibuku pergi ke butik untuk bekerja. Pekerjaan ibuku sebagai seorang designer memang tidak mudah, ia selalu merancang desain pakaian di rumah. Maka dari itu, dibuatlah sebuah ruangan yang berfungsi untuk ruang kerja ibuku. Tadinya ruangan itu bekas gudang lama, barang-barang dan kardus menumpuk secara asal-asalan. Aku tidak tahu pasti itu bekas gudang atau apa karena memang setelah pindah rumah kesini seminggu yang lalu keluarga kami tidak pernah menggubris ruangan itu, langsung saja dijadikan ruang kerja. Dan anehnya di antara banyak tumpukan kardus yang menggunung, ada 3 buah patung manekin yang telah usang. Warnanya yang semula putih mulai berdebu menambah kesan yang suram. Ibuku tidak menyia-nyiakan patung itu, ia mensejajarkan mereka dengan patung-patung yang ia miliki dan menggunakan mereka untuk uji coba pakaian yang telah dibuat.Entah mengapa, aku merasa tidak enak hati ketika melewati ruangan itu. Sebenarnya sudah bersih, tetapi karena hawanya yang masih lembab makin menambah kesan yang sedikit seram. Setiap ingin berangkat sekolah ataupun keluar rumah aku selalu melewatinya, karena letaknya memang di ruang tamu dekat pintu luar. Dan hari ini sialnya aku harus melewatinya lagi.Ibuku ada jadwal kerja setiap harinya, beliau hanya membuat desain setiap hari kamis atau sabtu, sisanya ruang kerja ini ditinggalkan, kosong sepanjang waktu. Aku melirik ke dalam, melihat lampu ruangan yang berwarna kuning temaram masih menyala disana. Ibuku bilang jangan membuang listrik, kami harus menghematnya apalagi kalau sudah tinggal di rumah sebesar ini. Dengan sedikit keberanian, aku masuk kedalam, melangkahkan kakiku yang masih terbalut kaus kaki pada lantai ruangan yang terasa dingin. Sedikit berlari, aku menuju saklar lampu yang terletak di pojok, setelahnya aku menekan tombol yang ada disana.Setelah lampu mati, aku merasakan hawa tidak enak menyelimuti. Kulirik manekin tua di sebelahku, itu adalah manekin yang tinggal di rumah ini sebelum aku pindah. Ia tidak memiliki mata, wajahnya rata. Tapi mengapa aku merasa seperti ditatap dari samping?. Ah, sudahlah! Lebih baik aku pergi saja dari sini, untuk apa mengkhayal tidak jelas dipagi buta?. Sesegera mungkin aku mengambil tasku, memakai sepatu, dan pergi ke sekolah.Jam menunjukan pukul 15.23, aku mengayuhkan sepedaku agar cepat sampai ke rumah. Tubuhku penuh keringat, aku lelah karena ekskul basket tadi siang.Beberapa menit kemudian aku sampai di depan rumahku, kuparkirkan sepedaku dan masuk ke dalam rumah besar yang telah aku tempati bersama keluargaku seminggu lalu. “Aku pulang~”. Tidak ada yang menjawab, sampai akhirnya aku mengernyitkan alis. “Kemana anak itu?”. Ya, kemana Ali? Biasanya ketika aku baru pulang ia selalu meledekku bahkan menyambutku dari kamarnya. Tapi hari ini tidak, rumah serasa sepi melompong. Aku mengendikkan pundak, mungkin ia sedang bermain nintendonya di kamar, sehingga tidak mendengarku.Aku melangkah untuk memasuki rumah dan lagi-lagi… Ruangan itu. Lampunya yang gelap semakin membuatku merinding. Dan yang aku lihat adalah pintu kayu yang sudah reot itu sedikit tertutup, bukankah pintu ini rusak sehingga tidak bisa tertutup?. Aku semakin takut, dengan cepat aku berlari kecil menuju dapur untuk mengambil minum.Saat sampai di dapur, aku melihat piring bekas di atas meja. Dengan malas aku menaruhnya di tempat cuci piring, “pasti anak itu.” Aku mengira Ali habis makan, biasanya setelah pulang dari TK ia langsung mengambil piring dan makan. Setelah minum, aku langsung pergi mandi.Sore-sore seperti ini, cocok untukku untuk membaca novel di kamar. Tapi rasanya membaca terlalu sepi kalau tidak ada cemilan. Dengan ide cemerlang, aku membuka pintu kulkas, melongok kedalam untuk menemukan cemilan yang aku beli tadi malam. Niatnya untuk kumakan besok. Dan yang aku lihat, puding coklat itu tidak ada di tempatnya. Dimana puding itu? Apakah Ali yang mengambilnya?. Iissh, aku berjanji akan menjewernya.Belum selesai keherananku, aku menginjak sesuatu yang lengket. Eh.. apa ini?. Berwarna coklat dan… Ini puding?. Aku mengedarkan pandangan, remahan puding itu membentuk jalur menuju ke suatu tempat. Tanpa sadar aku mengikuti arah puding itu, sampai pada suatu ruangan. Ruangan kerja ibuku. Dan yang aku lihat, potong besar puding terakhir jatuh di antara pintu.Aku tertegun, dengan rasa penasaran yang bergejolak, aku membuka pintu itu sedikit. Gelap, sampai aku melihat deretan patung manekin yang menyeramkan itu. Langkahku tidak berhenti sampai disitu, tubuhku bergerak dengan sendirinya berjalan kedalam dan yang aku lihat adalah….“A-ali?..” Ali disana dengan mulut ternganga, tubuhnya tergeletak di lantai. Air liur keluar dengan jelas dari sela-sela mulutnya. Matanya yang melotot menatapku lalu tangannya yang bergetar mengibas kearahku seakan memberi kode aku harus pergi. “P-pergi.. kakak–pergi!-” Aku berteriak kencang, dengan cepat aku memeluk Ali. “Ali apa yang terjadi?!” Ali tidak menjawab, hanya terdengar nafas tersengal dari mulutnya.Blam! Pintu tertutup dengan sendirinya, aku terpaku. “Ali.. tunggu disini”. Dengan cepat aku berlari ke arah pintu, berusaha membukanya tapi mustahil. Apakah ini terkunci?!. “Keluarkan kami! Tolong! Mama!!” Aku menjerit sambil menggedor-gedor pintu. Percuma, pintu sudah tertutup dan tidak ada siapa-siapa di rumah selain kami.“Kakak!” Aku terkejud, menoleh ke belakang menatap Ali yang sudah tercekik oleh salah satu patung manekin. Jatungku berdegup tidak teratur, aku langsung berteriak memanggil adikku. “Ali! Ali!” Kami saling bersahut-sahutan dalam ruangan sempit. Dan yang aku lihat, beberapa manekin lain bergerak ke arahku. Wajah mereka yang datar, tiba-tiba berbentuk seringai dengan gigi bertaring di mulut mereka. Aku menjerit lagi, menggedor pintu sambil menangis. “Mama! Mama! Tolong!!! Huaaaaaa–!”.Dan yang aku rasakan adalah tangan dingin menyentuh pundakku, lalu tangan lainnya mencengkram leherku, dan yang lainnya menarikku ke belakang. “Mamaaaa!” “Kakak! Kakak!!!”.Dan hari itu menjadi hari yang paling mencekam untukku.—Pintu rumah terbuka, menampakan seorang wanita masuk ke dalamnya. “Risya? Ali?” Ia memanggil anaknya dari bawah.Hening, tidak ada yang menjawabnya.“Mungkin mereka sudah tidur.” Ia melangkah, tepat di depan ruang kerjanya, membuka sedikit pintunya, menyalakan lampunya. Dan yang ia lihat adalah… “Bersih sekali, apakah Risya yang membersihkannya?”.Karena terlalu lelah, ia memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan menyapa anak-anak. Tetapi ada sedikit keanehan. Ia melirik ke bawah ketika menginjak sesuatu di tengah ruangan. “Mobil mainan Ali?”. Mobil mainan merah itu tergeletak di tengah ruangan, jelas-jelas itu milik anak laki-lakinya. Kepalanya menoleh menatap keanehan sekali lagi yang ada di belakangnya.“Patung ini… kenapa posisinya terlihat aneh?”.
Dimethyl Sulfone
Decitan engsel jendela kamar mengejutkan lamunku, jendela itu terdorong angin perlahan hingga sedikit menutup dan berdecit nyaring. Aku yang saat itu terduduk di depan meja belajar tersontak dan spontan melirik ke arah jendela. Terlihat bayangan sesosok anak laki laki seumuran adikku seperti berdiri dibalik jendela.Aku masih memandangi jendela itu, mengumpulkan keberanian tuk mendekati bayangan itu, tubuhku seakan terangkat tuk bangkit dan mendekati jendela. Aku pun bergerak mendekati jendela tersebut, bayangan yang semula samar kian jelas. Dan benar saja, ada seorang anak kecil tertunduk di balik jendelaku.“Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan disini?” bibirku spontan mengucapkan pertanyaan ganda, namun ia tak langsung menjawabnya. Anak kecil itu menyodorkan secarik kertas berwarna hitam dengan tinta putih mengisi permukaannya. Tanganku langsung meraup kertas itu dari tangannya yang kaku. Namun, setelah kertas itu berada di genggamanku, pandangan anak itu berubah. Semula yang matanya sayu dan tertunduk lesu, kini berubah menjadi sinis dan menatap dengan tajam.“Jangan dibaca sebelum kamu diperintahkan untuk membacanya!” ucapnya tegas dan dengan nada yang dinaikkan satu oktaf. Aku terheran “T-Tapi, siapa yang akan memerintahkan aku tuk membacanya? Apa maksudmu?” Tanyaku terbata-bata. “Ia akan datang saat kamu memintanya datang.” Belum sempat kedua bibirku mengkatup menanyakan siapa yang akan kupinta tuk datang, sekelebat bayangan hitam menyelubungi sekujur tubuh anak itu. Seketika, anak itu menghilang serentak dengan hilangnya bayangan hitam tersebut. Rintik hujan gerimis menitik di tanganku yang memegang kertas hitam itu. Perasaan hatiku saat itu bercampur aduk antara takut, penasaran, dan keheranan. Apa yang terjadi jika aku membaca secercah tulisan ini sebelum aku diperintahkan tuk membacanya?Aku tak mau ambil resiko, seketika kuselipkan kertas itu dibalik buku novel Harry Potterku yang berjudul Orde of Phoenix. Aku mencoba melupakan apa yang baru saja terjadi, dan beranjak keluar kamar berniat mengambil soda dingin di kulkas. Tapi saat aku keluar dari kamar, angin sejuk nan kaku seakan menerpa tubuhku. Suasana rumah ini tak seperti biasanya, cahaya lampu remang-remang menerangi sudut ruangan di rumah ini. Keadaan di rumah ini juga sunyi, tak seperti biasanya, kemana semua orang? Kemana Kak Astri? Kemana perginya Buk Jum? Biasanya mereka selalu bercerita dan tertawa bersama di kesenggangan waktu kerja mereka. Ayah dan Ibu sudah pasti tidak ada di rumah ini, mereka bekerja di kantornya dan baru akan kembali nanti sore.Aku tak terlalu memikirkan keanehan yang terjadi, dan langsung menuju ke dapur untuk mengambil soda dingin, aku sangat haus, padahal waktu itu cuaca sedang mendung, dan beberapa tetes gerimis tampaknya sudah menitik di pekarangan rumah, dan sebagian mungkin juga terhempas diantara dedaunan.Aku telah berdiri di depan kulkas dan langsung membuka pintu kulkas tersebut. Namun, isi kulkas itu kosong, biasanya banyak sayur-sayuran yang didinginkan di kulkas itu, banyak juga terpampang minum-minuman dingin, tapi saat itu isinya kosong layaknya kulkas baru. Aku terheran, dan pandangan mataku terfokus pada secarik kertas yang ada di lantai bawah kulkas 1 pintu itu, kertas itu berwarna hitam, pembayanganku langsung mengingat kejadian saat aku di kamar, aku tersontak, bukankah tadi kertas itu sudah kuselipkan di buku novel Harry Potter, lalu kenapa kertas itu bisa berada di sini? Aku langsung mengambil kertas itu dengan tanganku yang berkeringat dingin, spontan kubuka lipatan kertas itu, dan samar-samar tulisan di kertas itu mulai dideteksi kornea mataku, disitu tertulis “Bukankah sudah kukatakan untuk tidak membacanya sebelum ada yang memerintahkanmu untuk membacanya?”Seketika, tangan dingin bercakar yang panjang keluar dari kulkas itu, mengarah ke tubuhku. Dan menyeretku paksa ke dalam kulkas, mulutku seakan terkunci tak mampu berteriak, seluruh tubuhku lunglai tertarik, aku tak bisa melawan! Pandanganku mulai gelap, dan saat aku tersadar, aku berada di kamarku, dan orang ramai berkumpul di sekelilingku. “Apa yang terjadi?” Tanyaku sambil memegangi kepalaku yang terasa sakit. “Kamu pingsan sejak tadi siang, dan baru tersadar sekarang” jawab ayahku spontan. “kenapa aku bisa pingsan, ayah?”, “kamu semulanya duduk di meja belajarmu, dan tak sadarkan diri karena menghirup kertas hitam yang kata dokter mengandung dimhetyl sulfone, zat kimia langka yang berbahaya, dan berasal dari tubuh mayat yang telah membusuk.”.
Gadis Taman
Pagi ini, kau terjaga dengan kepala berat dan tulang seakan lungkah. Jarum jam menunjuk angka sepuluh—angka yang terlalu tinggi untuk bisa disebut pagi. Rombongan orang yang berlalu lalang terpukau dengan gadis yang sedang duduk murung di taman itu, walau terpukau, mereka tetap tidak berani mengusik diamnya.Salah seorang diantara dari sekian banyaknya orang yang hanya berlalu lalang itu, maka datanglah seorang Ibu yang memberanikan diri mengahampiri gadis itu, untuk menanyakan perihal apa ia seperti itu di hari ini, karena ia sudah mengulangi murungnya sejak tiga hari yang lalu.“Hai… Nak mengapa kau nampak merenung seperti ini, sikapmu begitu mencolok sekali, kemari nak.” Ibu itu mengajak bicara ke tempat terdekat dari taman itu agar tidak terlalu menarik perhatian banyak orang. “Nak… Kenapa sayang? Apa yang terjadi padamu? Apa yang membuatmu seperti ini? Saya sering melihatmu duduk termenung di taman ini, kenapa nak?” Dengan segenap perhatian, Ibu itu tetap didiamkan.Gadis itu tetap termenung, belum membuka mulutnya sedikit pun sejak memenuhi ajakan Ibu itu. Ibu tetap menunggu sampai gadis itu bicara, dengan keyakinan kuat bahwa gadis itu pasti akan mengajaknya bicara, ia tetap duduk di samping gadis itu sambil membaca Al-Qur’an di hp dengan suara lirih. Gadis itu mulai mengangkat tengkuknya, dan menatap Ibu yang sedang membaca. Ia menyentuh tangan Ibu itu dengan pandangan penuh harapan.“Bu… Bisakah Ibu bantu aku?” Tanyanya. Bacaan Ibu terhenti, ia sengaja menghentikan di akhir ayat. “Bila bisa Ibu akan bantu dan bila sulit, Ibu akan tetap akan mengusahakannya, In Syaa Alloh.” Jawab Ibu dengan harapan dapat membantunya.“Aku risau bu, Papah dan Mamahku berantem trus, terakhir tadi… Mamahku minta pisah dari Papah dan… Papah menyetujuinya, akhirnya Mamahku sekarang sedang mengurus gugatan cerainya. Aku pusing Bu… Memang Mamah tetap di rumah dan Papah pergi tidak lagi kembali. Tapi hari-hari yang kurasakan gelap Bu… Mamah malah terlihat seperti sosok yang tidak seperti biasanya, seperti kehilangan sebagian akalnya. Aku takuuut Bu… Sudah tiga hari aku tak berangkat sekolah. Aku takuut… Menghadapi hari-hari ini, semua tampak begitu gelap walau matahari tetap bersinar terang.”“Nak… Kamu muslimah?” “Bukan Bu… Tapi aku Satiyem” “Oh baik… Kalau kamu mau, bisakah mengizinkan saya tinggal di rumahmu dalam beberapa hari?” “… E’… Bu… Aku pulang dulu ya, Mamahku sekarang pasti risau karena ketiadaanku dalam waktu lama.” Gadis itu lari dengan sangat kencang! Ibu yang sejak tadi di hadapannya tercengang. “Heeeiii naak!” Teriak Ibu itu. Tapi sia-sia ia telah lari begitu cepat, sangat cepat.Angin bertiup dengan kencang, mengembuskan debu-debu taman yang tadi nampak ramai, hingar bingar, menjadi sepi seketika, mendung awan pun hadir. Ibu itu mengira “gadis” itu bukan seorang manusia, melainkan makhluk lain yang sengaja sedang menaruh jebakan yang sangat mencolok. Dengan rasa syukur, sangat bersyukur tadi menyempatkan membaca Al-Qur’an di sampingnya. Ibu itu pun mengingat kembali gelagat gadis itu yang tiba-tiba saja menghentikan bacaan Qur’annya, lalu memegang tangannya.“Aneh! Anak zaman sekarang sungguh aneh! Tapi mengapa tangannya ‘dingin’ sekali, mukanya pucat, tatapan matanya kosong, rasanya dia seperti bukan manusia.‘Allah-lah yang mencukupi (segala kebutuhanku) tidak ada illah yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, kepada-Nya aku bersandar. Dia-lah Rabb (yang menguasai) ‘Arsy yang agung.’Ibu itu berpaling sambil mengucapkan sebuah dzikir, dan segera pergi dari taman itu. Taman yang tadinya sering dilihatnya ramai, bahkan terdapat seorang gadis yang termenung dan mengundang orang tuk datang. Kini taman itu berubah sepi, bahkan gadis itu pun tak nampak lagi. Kondisi taman yang tadinya nampak cerah dan memukau, sekarang menjadi suram dan kelam.
Jangan Biarkan Orang Mati Menyadari Bahwa Mereka Sudah Mati
Saat kuliah, aku mengenal seorang janda kaya melalui internet. Dia sangat baik padaku dan sering memberiku uang, ia memanggilku adik yang baik.Dia bilang, kami berdua berasal dari desa dan dia sangat menyukaiku. Di masa depan setelah aku lulus, dia akan membawa aku meraih kekayaan.Aku memanggilnya Tante Lusi. Untuk mendukungku, dia membuka sebuah warung kecil di desa dan memberiku pekerjaan di sana. Dia bahkan berjanji akan memberiku sepuluh juta setiap bulannya.Aku menyarankan untuk menjual rokok murah karena di kota kami tidak banyak orang kaya, tetapi dia tidak setuju, dia hanya ingin menjual rokok merek Gudang Garam.Dia adalah bos, jadi tentu saja aku tidak bisa berkata banyak.Tante Lusi juga mengatakan bahwa dia tidak akan memberiku gaji secara langsung. Jika aku butuh uang, aku bisa langsung menggunakan uang dari pelanggan dan mencatat sendiri. Itu karena dia sibuk berbisnis di luar, tapi dia percaya padaku.Ada seseorang yang begitu baik padaku, tentu saja aku tidak akan mengecewakannya. Aku bersumpah dalam hati untuk melakukan pekerjaan ini dengan baik.1Pada malam pembukaan warung kecil, aku langsung datang untuk bekerja. Pegawai yang membantu mengawasi warung saat siang hari adalah nenek tua. Pintu depan warung terdiri dari dua pintu kayu tua, satu dibuka dan satunya ditutup setengah. Tante Lusi memberitahuku untuk tidak membuka semua pintu, katanya itu membawa keberuntungan.Tak lama kemudian, pelanggan pertama datang.Seorang pemuda datang dan meminta sebatang rokok Gudang Garam. Ketika aku memberikan rokok kepadanya, aku merasa agak tidak nyaman.Karena tangannya sangat kotor, kuku-kukunya penuh dengan tanah hitam.Dalam hatiku, aku menggerutu bahwa dia tidak suka kebersihan. Namun, beberapa pelanggan berikutnya yang datang, ternyata juga sama seperti dia.Tengah malam, datang seorang teman lama.Dia adalah teman sekelas SMA-ku, namanya Levi. Aku tidak pernah membayangkan dia akan datang ke tokoku untuk membeli barang, tapi ternyata celah kuku tangannya juga sangat kotor.Ini membuatku sedikit aneh, karena dalam ingatanku dia adalah gadis yang sangat suka bersih.Levi membuka bungkusan rokok dan memberikanku satu batang, lalu dia mengatakan bahwa dia masih sibuk dan harus pergi terlebih dahulu.Aku bersandar di belakang kursi, menyalakan rokok itu, tetapi baru menghirup sedikit, aku tercekik.Ini adalah rokok?Rasa rokok ini juga sangat aneh, sudah basi, rasanya seperti sudah kadaluarsa.2Ketika aku datang untuk bekerja lagi malam itu, Levi datang lagi."Apakah kamu tidak merasa aneh dengan rokok ini?" kataku."Tidak sih, baunya enak," jawabnya.Aku mulai mengerti.Mungkin dia sebenarnya tidak merokok, hanya membeli dan menggigitnya saja.Dia tampak seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya dia berkata, "Dulu aku melihat kamu punya nilai bagus, aku pikir kamu akan sukses. Bekerja di warung kecil adalah pekerjaan terendah dalam masyarakat, itu adalah pekerjaan orang miskin yang paling hina. Kalau kamu terus seperti ini, lebih baik kamu berhenti sekarang juga, cepat resign saja."Setelah Levi pergi, aku tetap berusaha menjalankan bisnis seperti biasa, hingga hampir pagi, seorang kakak cantik datang, wanita ini sangat bersih dari atas hingga bawah.Aku merasa seolah-olah telah melihatnya sebelumnya, tapi tidak bisa mengingat siapa dia.Dia juga meminta sebatang rokok dariku, aku tidak menyangka bahwa gadis cantik yang begitu bersih ini juga merokok, rasanya ada hal menarik di dalamnya.Ketika wanita cantik itu baru saja pergi, ponselku berdering.Itu adalah panggilan dari Tante Lusi.Tante Lusi memberitahuku, bahwa stok minuman di toko tidak cukup, setelah matahari terbit, aku harus menggunakan uang di kasir untuk membeli minuman sebanyak dua juta, jika uang tidak cukup, aku yang akan menanggung terlebih dulu, dan setelah itu akan dikembalikan langsung dari kasir.Setelah aku menutup telepon, Levi kembali.Aku kira dia datang untuk meminta maaf, tetapi begitu dia masuk, dia malah berkata, "Daniel, bisakah kamu mentraktirku? Kembalikan uang yang kuberikan padamu tadi."Dalam keadaan marah, aku mengembalikan uang 130 ribu, uang pembelian rokok gudang garam tadi. Namun, dia berkata, "Nanti jika aku yang membeli, biarkan kamu yang membayar untukku, bagaimana?" Setelah itu, dia pergi lagi, meninggalkanku yang sedang marah.3Tante Lusi memberikanku alamat tempat pemasokan barang, suatu gang kecil yang terpencil di kota itu, di mana makanan ringan dijual grosir, dan tempat ini hampir tidak ada pelanggan.Dia memberitahuku bahwa tempat itu adalah milik temannya, dan di sini kami bisa mendapatkan barang dengan lebih murah.Aku masuk ke toko grosir itu, di dalamnya ada seorang pria muda. Aku mengatakannya bahwa aku datang untuk mengambil barang dari Tante Lusi, dan dia tersenyum dan berbicara denganku sebentar, memintaku memanggilnya "Kak Michael".Pada saat senja, saat aku pergi untuk makan malam, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk bahuku. Aku berbalik dan ternyata orang itu adalah teman sekelas SMA-ku, Tony.Dia berkata dengan penuh perasaan, "Waktu berlalu begitu cepat, sekejap saja sudah lulus beberapa tahun, tapi tidak ada reuni teman sekelas."Sambil mengelus perutku yang terasa kembung dan sakit, aku menggerutu, "Aku memang tidak ingin menghadiri reuni, beberapa teman sekelas membuatku kesal.""Siapa yang membuatmu kesal?""Si Levi itu, aku selalu merasa dia tidak tahu malu."Tony menggelengkan kepala. "Caramu bicara terlalu berlebihan, setidaknya hormati mereka yang sudah meninggal."Aku berkata dengan tidak sabar. "Kapan dia meninggal, mengapa aku tidak tahu?""Itu terjadi saat kami di semester dua, mungkin kamu tidak tahu karena kamu kuliah di luar kota. Levi keluar dari SMA dan bekerja di pabrik garmen, sayangnya pabrik itu terbakar dan dia mati di dalamnya."Aku menghela napas. "Itu hanya omong kosong, beberapa hari yang lalu aku baru bertemu dengannya."Tony sangat terkejut. "Jadi dia tidak mati ya? Sialan! Aku sudah bilang, jangan percaya rumor. Sebelumnya aku benar-benar berpikir dia sudah meninggal."Perutku terasa sakit dan ingin muntah.Aku berdiri dan berkata ingin pergi ke toilet, begitu masuk toilet, aku tidak tahan dan muntah.Warna air di kloset berubah menjadi warna merah..Ini ... darah?Bagaimana mungkin aku yang sehat tiba-tiba muntah darah?Setelah sampai di rumah sakit, aku menjalani pemeriksaan. Setelah dokter memeriksa, dia mengatakan aku mengalami pendarahan lambung, dan disarankan untuk mengurangi minum alkohol dan menjaga pola makan yang sehat.Aku heran karena aku tidak minum alkohol.4Aku membawa obat dan kembali ke warung, tetapi tidak lama kemudian Levi datang lagi.Kali ini dia membawa beberapa teman, dan semuanya adalah pelanggan yang pernah kutemui sebelumnya."Daniel, berikan aku satu bungkus rokok gudang garam untuk kami masing-masing, kamu yang traktir."Aku marah. "Apakah kamu tidak tahu malu? Jika aku yang traktir untuk enam orang ini, berapa banyak uang yang harus kukeluarkan? Kamu hanyalah temanku, kamu bukan wanitaku, mengapa aku harus memberimu uang?""Aku bisa sementara menjadi wanitamu, asalkan kamu tidak menciumku."Aku hendak mengumpat, tetapi tiba-tiba dia meraih tanganku dan meletakkannya di dadanya!Sekejap, seluruh tubuhku hampir terpaku.Aku kembali ke toko dengan perasaan malu, memberikan mereka enam bungkus gudang garam.Aku bukan tipe orang yang membuang-buang uang hanya untuk menyentuh wanita.Jadi aku berencana untuk mengatakannya dengan jelas pada Levi saat hanya dia sendiri di lain waktu, agar dia tidak melakukannya lagi.Marah, aku duduk di kursi dan merenung, hanya saat itu, aku sedikit lebih ramah saat si kakak cantik datang.Kakak cantik itu melihat wajahku yang pucat, dia bertanya, "Apa yang terjadi denganmu?"
Tetap Hidup
Aku terbangun dari mimpiku. Masih terdiam di tempat tidur sembari menatap langit-langit plafon. Aku mimpi apa yah? Itulah yang tersirat dalam pikiranku ketika bangun. Tak ingin berlama-lama, aku mulai bangun dan melakukan aktivitasku seperti biasa.“Ana, makan dulu baru berangkat,” sebuah suara menggagalkan niatku yang ingin berangkat sekolah. “hehe, males makan bunda,” balasku disertai senyuman. Bunda. Bunda adalah sosok yang paling kukagumi di dunia ini. Sosoknya yang terlihat kuat padahal rapuh, membuatku tidak bisa berhenti mengaguminya. “kalau gak makan nanti sakit perut loh, makan aja sedikit,”Aku melepas sepatuku lalu berjalan menuju meja makan. Kuliat masakan bunda yang tertata rapi di meja makan. Dengan cepat aku mulai mengambil nasi dan lauk lalu memakannya dengan terburu-buru. “uhuk… Uhuk!” “duh makannya pelan-pelan aja dong,” Ucap bunda sembari memberikanku segelas air.Lebih pelan dibandingkan sebelumnya, aku sarapan dengan cepat. Setelah selesai, aku buru-buru memakai sepatu dan mengambil tasku lalu berjalan keluar rumah. “Bunda aku berangkat dulu ya! Assalamualaikum,” “Waalaikumsalam, hati-hati ya!”Aku sudah merasakan keanehan semenjak masuk di kelas. Rasanya seperti deja vu. Entah mengapa, sekolah hari itu cepat sekali selesai. Karena bosan di rumah, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke taman lalu pulang ke rumah.Taman itu terlihat ramai dari biasanya. Banyak anak kecil yang sedang bermain disana. Tetapi setelah kulihat lagi, sepertinya kata bermain itu tidak terlihat cocok. Kata yang lebih cocok adalah… Beberapa anak sedang mengganggu seorang anak perempuan. Mereka mendorong anak itu, menarik rambutnya, bahkan tak sesekali mereka melemparkan benda yang mereka bawa pada anak perempuan itu.“hei! Kok kalian gituin teman kalian sih? Pergi sana, kakak laporin nih ke orangtua kalian, ” Mendengar ancamanku, beberapa anak itu lantas pergi meninggalkan si gadis kecil yang masih terduduk di tanah.“masih kecil udah ganggu orang, gimana kalau besar coba?” aku membantu gadis kecil itu lalu menepuk pakaiannya yang kotor terkena tanah. “kamu gak papa?” tanyaku pada gadis itu. Ia mengangguk lalu tersenyum.“Cecil,” Aku menatap gadis kecil itu dengan bingung. Melihat kebingunganku, ia tersenyum lalu menunjuk dirinya. “nama cecil,” ucapnya. “oh, nama kamu cecil?” Ia mengangguk membenarkan pertanyaanku. Aku tersenyum lalu merapikan rambutnya.“rumahnya dimana? Mau kakak antar?” Cecil menggelengkan kepalanya lalu memberikanku sebuah kotak tua. Aku memegang kotak itu lalu menatap Cecil. “ini buat kakak, makasih ya,” setelah mengatakan itu Cecil pergi meninggalkanku yang masih terdiam menatap kotak tua itu. Tanpa kusadari, hari mulai sore dan dengan membawa kotak tua itu aku berjalan pulang ke rumah. Tetapi tiba-tiba saja sebuah mobil menghampiriku dengan cepat tanpa sempat aku menghindar.BRUK Aku membuka mataku. Kurasakan benda empuk di bawahku. Kasur? Dengan tergesa-gesa aku bangkit dan berjalan menuju cermin. “loh? Kok aku baik-baik saja? Bukannya tadi aku ketabrak ya?” kutepuk pipiku berkali-kali. “sakit kok, ah berarti tadi aku sedang mimpi iya gitu!”Kubalikkan badanku dan terpaku melihat sebuah kotak di samping tempat tidurku. Aku meraih kotak itu dan membukanya. Terdapat beberapa jam pasir dengan waktu yang berbeda-beda. Tapi yang lebih anehnya kotak itu terbagi dua. Di bagian atas seluruh jam pasir berwarna merah. Sedangkan yang bawah jam pasirnya berwarna biru. Kuraih jam pasir berwarna biru. “ini berapa menit ya?” kubalikkan jam pasir itu dan…BRUK… “Aw…” aku mengelus kepalaku yang terbentur di meja. Aku mengernyitkan dahi bingung. Sekolah? Batinku.Terlihat seorang gadis dan beberapa anak lainnya mendekati gadis berambut kepang. “heh, katanya kamu cuman tinggal sama ibu kamu ya? Kasihan deh gak punya ayah!”Ah… Aku ingat, ini adalah saat aku diejek karena hanya tinggal bersama bunda. Aku menatap gadis berkepang dua yang sedang dikelilingi gadis lainnya. Ia menangis, gadis kepang dua itu menangis. Senyum getir terlukis di wajahku. Ah… Begitu rupanya aku di masa lalu. Padahal aku bisa melawan mereka, padahal aku bisa menyuruh mereka pergi… Kenapa aku hanya diam?Suara bunyi jam pasir mengalihkan pandanganku. Eh? Jam pasirnya hanya lima menit? Di depanku adalah aku lima tahun yang lalu. Apakah aku… Kembali ke lima tahun yang lalu?Belum sempat pertanyaanku terjawab aku sudah terduduk di atas kasur. Kulirik jam pasir yang kupegang. Kini warna pasir itu berubah menjadi abu-abu. Aku turun dari kasur dan berjalan menuju cermin.“apa aku… Benar-benar kembali ke masa lalu? Lalu setelah itu aku kembali lagi?” kucubit diriku berusaha memastikan bahwa aku sedang tidak bermimpi. “okay… Tenang, kita harus coba sekali lagi,” ku raih jam pasir berwarna biru dengan ukuran yang lebih kecil dari sebelumnya. “3… 2… 1…”“pemenangnya adalah Ariana Leteshia!!! ” Sorakan dan teriakan memenuhi ruangan tempatku berada. Semuanya bersorak untuk seseorang bernama Ariana Leteshia itu. Aku tersenyum melihat diriku berdiri di atas panggung di hadapan banyak orang. “padahal saat itu adalah hari yang paling sulit bagiku, tetapi setelah kulihat lagi… Ternyata… Rasanya bangga ya… ”Aku menengok kanan kiri mencari seseorang yang dulu sangat kunantikan datang. Badanku terpaku melihat seorang laki-laki yang sedang berdiri menatap panggung. Setelah menatap panggung, laki-laki itu mengalihkan pandangannya dan tanpa sengaja kami bertatapan. “Ry…”BRUK… Aku kembali lagi di kamarku masih dengan posisi yang sama. Dengan cepat aku mengambil kotak yang berisi 1 jam pasir berwarna merah. Kubalikkan jam pasir itu.CRIIING… Suara bel membuatku memfokuskan pandanganku. Hm… Tempat yang bagus, batinku sembari berjalan menyelusuri tempat itu. Tatapanku tertuju pada seorang gadis yang sedang duduk di hadapan kanvas besar. Gadis itu melukis dengan sangat fokus. Tiba-tiba saja terdengar bunyi ledakan yang memekakkan telinga. Entah kenapa orang-orang yang tadi tidak terlihat, kini terlihat dan berlari melewati gadis yang sedang melukis itu.Gadis itu terjatuh dan terdorong oleh orang-orang. Gedung di tempat itu hancur, kebakaran terjadi di gedung lainnya. Semua orang menjadi panik. Sedangkan gadis pelukis itu pingsan di lantai. Aku berusaha membangunkan gadis itu tapi tak bisa.“Ariana!” terdengar teriakan laki-laki dari kejauhan. Aku segera berlari mencari sumber suara itu. Aku berdiri di hadapan laki-laki yang sedang meneriakkan nama ‘Ariana’ itu. Kupejamkan mataku.“kumohon… Tolong! Tolong aku Ryan!” teriakku. “Ariana?” Ryan menatapku. “kamu… Kenapa kamu jadi kayak dulu?” Aku terpaku. “tolong, disana ada aku. Tolong aku!”Ryan mengikuti instruksiku dan membawa gadis ah, tidak. Ryan mengikuti instruksiku dan membawa ‘aku’ di masa depan keluar dari sana.Mereka selamat. Ryan dan ‘aku’ berhasil keluar dari tempat itu dengan selamat. Aku tersenyum lega sebelum akhirnya aku kembali terduduk di kasur.Kini di tanganku bukanlah jam pasir melainkan sebuah kertas.Kamu mungkin tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi kamu bisa mengubah masa depan. Tidak ada yang tau apa yang akan terjadi di masa depan. Dibanding kamu hanya terlarut pada masa kelammu, mulailah untuk membuat masa bahagiamu di masa depan…
Rumah Hantu Darmo
Khusus membahas kisah misteri, warga Surabaya pasti sudah akrab dengan kisah horor Rumah Hantu Darmo. Kisah rumah hantu ini dikenal di kalangan Ghost Haunters, bahkan sampai dibuatkan film pada tahun 2014 berjudul “Malam Suro di Rumah Darmo.”Menurut info yang berhasil dihimpun, Rumah Hantu Darmo sudah tidak berpenghuni sejak tahun 1988. Rumah yang beralamat di Jalan Puncak Permai II Nomor 26, Kelurahan Tanjungsari, Sukomanunggal, Surabaya ini memiliki beragam versi cerita horor yang berkembang di masyarakat sekitar.Versi pertama, sebagian besar sumber mengatakan, rumah kosong ini menjadi angker akibat pesugihan yang dilakukan oleh keluarga pemilik rumah tersebut. Diceritakan, keluarga itu dulunya sangat kaya raya dan bergelimang harta. Keluarga ini sering memberi tumbal pesugihan berupa nyawa manusia.Lambat laun, keluarga tersebut berniat mengingkari perjanjian mereka dengan mengganti nyawa manusia dengan hewan. Sikap curang itulah yang menjadi awal malapetaka pemilik rumah.Mereka sempat mencoba pergi meninggalkan rumah naik kapal laut agar kutukannya terpatahkan, namun nahas mereka berakhir tenggelam dan tidak pernah ditemukan.Sedangkan versi kedua menceritakan bahwa pemilik Rumah Hantu Darmo disebut meninggal di Selat Bali ketika ingin berlibur. Kapal yang ditumpangi karam dan mereka sekeluarga mati tenggelam.Dalam suatu kesempatan, Andreas Sabar, selaku komandan Security kompleks perumahan Darmo memberikan keterangan terkait rumah tersebut.“Penghuninya itu meninggal di Selat Bali yaitu karam tenggelam dengan kapal-kapal pelayarnya ya dia punya dia punya kapal untuk layar bertamasya ke Bali. Itu di selat Bali sana dia tenggelam semuanya habis,” ujarnya.Ada juga kejanggalan pohon besar yang tidak bisa ditebang saat pembangunan rumah itu dulu hingga harus dibantu oleh seorang kiai.“Dulu itu ada pohon pada waktu pembangunan rumah sini, ada pohon yang enggak bisa di tebang lalu untuk bisa ditebang itu mendatangkan kyai dari Banyuwangi,” kata Andreas.Kabar sisa keluarga yang masih selamatDalam versi lain cerita, ada dua orang anggota keluarga tersebut yang tidak ikut pergi, yaitu bayi bungsu dan sang pembantu. Hanya saja, keberadaan mereka tidak ada yang mengetahui.Ada yang mengatakan mereka dibunuh dengan dan ada pula yang mengatakan bahwa bayi itu tetap tumbuh dewasa hingga kini.Kemudian, ada saksi yang mengatakan bahwa ada seorang perempuan muda yang menaburkan bunga di sana setiap Jumat Kliwon. Menurut masyarakat perempuan itu adalah sang bayi yang selamat itu. Perempuan itu hanya duduk di mobil dan supirnya atau pembantunya lah yang turun untuk menaburkan bunga ke rumah tersebut.Sejarahnya, rumah tersebut juga sempat disewakan kepada sebuah keluarga lain, tetapi kemudian keluarga tersebut juga tewas dengan tidak wajar.Dari cerita yang beredar inilah timbul persepsi bahwa siapa saja yang menempati rumah itu, maka akan mendapatkan kutukan yang sama. Bahkan pada tahun 1997, rumah sempat terjadi terbakar yang diketahui penyebabnya.Kisah misteri inilah yang mengilhami film berjudul “Malam Suro di Rumah Darmo”. Dipercaya bahwa setiap tragedi yang menimpa keluarga tersebut terjadi pada Malam Suro. Bagi kamu yang penasaran, cuplikan filmnya dapat ditemukan di YouTube.Itulah kisah misteri Rumah Hantu Darmo yang pastinya bikin bulu kuduk berdiri. Untuk kamu pecinta kisah misteri atau Ghost Haunters yang ingin mengunjungi rumah ini, pastikan untuk bersikap sopan dan menghargai masyarakat sekitar.
Setelah Ibu Meninggal dalam Kecelakaan Mobil, Dia Kembali dan Mengaku Masih Hidup !
Setelah ibuku meninggal dalam kecelakaan mobil, aku terus dalam keadaan linglung. Namun, pada hari ketujuh, ibuku kembali dan mengatakan bahwa dia tidak mati.Akan tetapi, perilakunya makin lama makin aneh dan sama sekali tidak terlihat seperti manusia yang hidup.Aku ingin menjalani kehidupan normal, jadi maafkan aku. Ibu, tolong matilah lagi ....1Upacara pemakaman akhirnay sudah selesai.Aku duduk di ambang pintu dan terpaku melihat kekacauan di halaman.Tidak ada lagi ibu yang membantuku dengan segala sesuatu. Ibu sudah tiada.Ibuku ....Bagaimana dia bisa meninggal?Oh ya, dia meninggal dalam kecelakaan mobil.Pada awal bulan dari bulan tujuh kalender lunar, yaitu tepatnya tujuh hari sebelum Hari Hantu, ibu menemaniku untuk mendaftar di SMA yang ada di kota.Tak disangka, kami mengalami kecelakaan mobil dalam perjalanan menuju kota.Dalam sekejap, ketika mobil dari arah berlawanan menabrak kami, aku masih mengingat bahwa ibu berusaha memelukku, tetapi dia tidak bisa menarikku. Setelah itu, semuanya menjadi kabur. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Tentu saja, aku juga tidak bisa mengingatnya.Ketika kembali ke rumah, aku sadar bahwa upacara pemakaman telah diadakan.Sudah pasti keluarga ibu yang mengatur semuanya.Aku hanya duduk di ambang pintu, lalu diam-diam melihat .... aku suka dan duka di dunia ini yang sepertinya tidak ada hubungannya denganku.Aku berjalan ke dekat karangan bunga di tanah dan terpaku melihat tulisan ucapan yang besar. Ketika hendak membereskannya, tiba-tiba aku mendengar panggilan dari arah belakang."Clara?"Aku mendadak menoleh dan melihat seseorang yang membawa tas liburan. Dia tampak berdiri di pintu gerbang halaman.Itu ibuku."Ibu, Ibu, bagaimana bisa ...."Suaraku terdengar gemetar. Aku menoleh dan melihat peti mati besar yang ada di dalam rumah."Ibu diselamatkan oleh ambulans. Ibu pingsan beberapa hari di rumah sakit kota, jadi tidak menelepon .... dasar anak bodoh, apa kamu juga berpikir bahwa Ibu telah meninggal?""Aku, aku ...."Betul sekali .... aku sama sekali tidak pernah memastikan kematian ibu dengan saksama, bahkan tidak pernah melihat jasadnya.Itu hanya peti kosong .... ibuku sama sekali belum meninggal!2Dalam pelukan yang hangat, aku segera terlelap dalam tidur yang nyenyak.Aku buru-buru bangun dan berjalan ke sana. Ternyatam ibu sedang membakar sesuatu di halaman.Dia menumpuk karangan bunga, kain putih, tulisan duka cita, meja persembahan, dan uang kertas yang belum terbakar di tengah halaman, lalu menyalakan api."Ibu!"Aku memandang ke tengah-tengah bara api. Di sana, ada satu tumpukan benda berwarna hitam yang terjepit oleh dua meja persembahan dan telah menjadi arang. Aku memicingkan mata dengan saksama. Ternyata, itu adalah tas liburan yang ibu bawa saat pulang malam tadi.Ibu seolah-olah memperhatikan pandanganku sehingga berinisiatif untuk memberi penjelasan."Di dalamnya, hanya ada pakaian lusuh, selimut lama, dan barang-barang lainnya. Biarkan terbakar saja."Ibu menggali lubang besar dan membuang abu yang telah terbakar ke kebun sayuran di belakang rumah. Kemudian, ibu menutupinya dengan tanah dengan tergesa-gesa.Saat melewati ruang tamu, tiba-tiba aku menyadari bahwa foto dan papan yang seharusnya berada di belakang peti mati telah menghilang.Sesaat kemudian, seseorang mengetuk pintu halaman. Aku bangkit dan memeriksanya. Ternyata, itu bibiku. Dia membawa keranjang dengan telur, roti, dan barang-barang lainnya.Ibu juga berlari keluar dari kamarnya dan mencoba menarikku yang hendak melarikan diri ke pintu halaman. Namun, dia tidak berhasil melakukannya."Clara, jangan pergi!""Bibi, ibuku tidak mati!"Bibi tampak mundur dua langkah, kemudian duduk di tanah."Tidak mati? Jadi, kita salah paham."Dia berbicara dengan suara rendah dan nada dingin.Bibi bangkit, lalu berlari sembari terhuyung. Aku memandang punggungnya yang terhuyung setiap tiga langkah. Hatiku pun dipenuhi keraguan.3Sejak kecil, aku hidup bersama ibu.Ayahku sudah meninggal tak lama setelah aku lahir. Aku sama sekali tidak memiliki kenangan tentangnya.Ibu tidak menikah lagi. Entah mengapa, desas-desus tentang dia yang membunuh suaminya dan berhubungan dengan ilmu hitam beredar di desa kami sehingga tak ada yang berani menikahinya.Aku tidak tahu apakah senyumnya sekarang berbeda dengan senyumnya yang dahulu. Secara kasat mata, senyuman ibu terlihat sama persis.Namun, aku selalu merasa kekurangan sesuatu yang penting.Sesudah matahari terbit, aku memakai sepatu dan ingin keluar. Ibuku melihatnya dan ingin menghentikanku lagi."Clara, kamu mau ke mana?""Aku ... aku ingin memberi tahu orang-orang di desa bahwa Ibu baik-baik saja.""Lebih baik nanti saja. Pergilah ketika matahari sudah terbenam."Apakah ada perbedaan antara pergi nanti dan pergi sekarang ... rasa bingung kembali menghantuiku.Malam harinya, aku pergi bersama ibu. Kami mendapati bahwa semua orang telah mengunci pintu rumah mereka dengan rapat, bahkan menutup gorden mereka.Biasanya, ini adalah saat yang paling ramai dalam sehari. Orang-orang cenderung memasak, saling berkunjung, dan bertengkar.Aku terpaku menatap bayangan di bawah kakiku. Setelah sekian lama, aku baru berangsur paham.Ini pasti karena bibi.Aku melemparkan diriku ke pelukan ibu dengan erat. Air mataku seketika membasahi kerah baju ibu."Ibu ... huhu ... mereka ... mereka tidak percaya bahwa Ibu tidak meninggal! Mereka ... Mereka menindas kita lagi!""Clara, kali ini kita berdua selamat dari bahaya besar. Kita harus hidup dengan baik dari sekarang dan tidak akan berpisah lagi, ya?""Ya ...."Ibu menghiburku beberapa kali. Sambil berjalan, aku menundukkan kepala dan menghapus air mata di wajahku, lalu aku melihat tanah di bawah kakiku tanpa sengaja.Aku menyadari bahwa permukaan tanah di bawah kakiku, yaitu tempat ibu berdiri barusan, terdapat dua jejak sepatu yang jelas terpisah dengan permukaan tanah sekitarnya.Apakah dia benar-benar berdiri di sini selama berjam-jam tanpa bergerak sedikit pun?4Saat tengah malam, aku terbangun karena ingin membuang air kecil. Kemudian, aku bangun dan pergi ke kamar mandi.Kamar mandi terletak di belakang rumah, jadi aku pertama-tama melewati ruang tamu, menyalakan lampu, lalu membuka pintu belakang menuju kamar mandi.Saat melewati kamar ibu, tiba-tiba terdengar suara bisikan yang samar-samar berasal dari jendela yang tertutup rapat.Suara itu terdengar rendah, suram, dan melambat, seolah-olah sedang membaca mantra ataupun puisi.Saat melewati lemari pakaian, aku tiba-tiba berhenti dan perlahan-lahan berbalik. Kemudian, aku melihat ke arah cermin pakaian yang terpasang di atas lemari tua.Tidak ada bayanganku di cermin.Di cermin itu, ada sosok hitam yang berantakan. Tubuhnya tegap, tetapi berubah-ubah.Ketika aku menyalakan lampu, orang di balik cermin kembali menjadi diriku sendiri. Begitu aku mematikan lampu, bayangan hitam itu muncul lagi. Aku menyalakan lampu lagi dan masih ada tampak bayangan diriku sendiri di cermin.Aku pun merasa lega dan hendak menyalakan lampu dengan ujung tongkat. Namun, begitu aku berbalik, aku melihat sosok hitam berantakan itu berdiri tepat di belakangku."Aaaaahhhhhh!!"Dia merebut tongkat bambuku dan menyalakan lampu.
Menangkap Penjahat dari Masa Depan!
Aku sedang menjalin hubungan online dengan seorang pria yang telah membantuku menghasilkan satu juta rupiah."Apa yang membuatnya begitu hebat?" Aku bertanya, tapi dia enggan untuk menjawab, mengatakan bahwa itu adalah rahasia."Kapan kamu menyadari bahwa dia adalah orang dari masa depan?" Karena aku telah melihatnya.1Malam itu kami melakukan panggilan video.Akhirnya aku melihat wajahnya, seorang pria yang mengenakan masker di sebuah apartemen sederhana.Di dinding belakangnya, ada poster film "Inception".Tentu saja, pada tahun 2006, aku hanya penasaran dengan orang yang ada di poster itu, mengapa dia mirip dengan Leonardo yang gemuk?Tahun-tahun berlalu, ketika aku menonton film "Inception", aku merasa ngeri.Dia adalah orang yang hidup setelah tahun 2010."Tunggu sebentar, apa tujuannya? Dia menjalin hubungan denganmu melintasi waktu, hanya untuk membuatmu kaya?" Tidak, itu karena dia membenciku, dia ingin membunuhku."Hah? Bagaimana bisa?" Pertama-tama, namanya adalah "James". Itu adalah nama aslinya.Dia adalah seorang anak magang, bekerja di bidang pintu dan jendela. Dia cukup cerdas, hanya saja dia tidak bisa mendapatkan banyak uang dan dia pendiam, tidak memiliki teman.Pada tahun 2012, dia membeli sebuah laptop murah secara online.Tapi dia menemukan bahwa dengan mengubah pengaturan waktu sistem, dia bisa terhubung ke jaringan tahun-tahun lain.Katakanlah seperti ini - ada sebuah laptop, aku mengubah kalendernya menjadi 8 Agustus 2008, lalu mengakses sebuah situs portal, yang menampilkan persiapan menyambut Olimpiade.Orang-orang yang hidup pada tahun 2008 bisa melihat komentar yang aku tinggalkan di situs tersebut; aku pun bisa menambahkan mereka sebagai teman dan berbicara dengannya.Laptop tersebut terhubung dengan dunia internet pada tahun 2008.Inilah asal-usul dari hubungan online yang melintasi waktu.2Aku dan James sebenarnya berasal dari kampung yang sama.Waktunya berada pada tahun 2006.Pada saat itu, kami berdua masih sekolah, hanya saja aku berada di tingkat SMA, dan dia di tingkat SMP.Kami berdua mengalami intimidasi.Dengan demikian, mungkin karena kami memiliki pengalaman yang sama, James mulai memiliki perasaan aneh terhadapku.Namun, perasaan ini perlahan-lahan berubah menjadi sesuatu yang tidak sehat.Waktu berjalan hingga tahun 2012.Dia mencari tahu dengan tidak sedikit usaha, akhirnya mengetahui di mana apartemen tempat aku tinggal, dan dia menyewa apartemen di sebelahku.Berkali-kali kami bertemu di dalam lift, tapi dia tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan cinta kepadaku.Tetapi, tidak lama kemudian, James marah.Karena pada tahun 2012, aku berhasil terbebas dari intimidasi.James merasa aku telah mengkhianatinya.Hal yang lebih buruk pun terjadi, suatu hari James membuka pintu dan melihatku pulang dengan pacar.Khianat, itu adalah pengkhianatan.Dia merasa ingin membunuhku.James memutuskan untuk membalas dendam.Dia merancang sebuah rencana yang akan menyebabkan gadis itu mati dengan sangat tragis.Inilah harga yang harus dibayar karena "pengkhianatan" kepada dia.3Pada musim dingin, aku pergi mewawancarai Jojo, dan terjadi percakapan seperti di atas.Kami berdua bertemu di Jakarta. Dia adalah seorang agen properti, pada saat itu dia mengendarai sepeda motor membawaku untuk melihat rumah, di perjalanan dia mendengar bahwa aku adalah seorang penulis skenario, lalu dia bertanya kepadaku, apakah ceritanya bisa diangkat ke layar lebar?Tidak pernah terpikir sebelumnya, cerita yang dia ceritakan membuatku terkejut.Aku, ya, aku menghabiskan tahun 2006 dengan penuh kesedihan.Orang tuaku meninggal di waktu aku masih kecil, teman sekelas mengucilkanku, dan kakak perempuanku juga selalu bersikap keras terhadapku.James muncul.Dia tahu saat itu adalah saat-saat yang paling tak berdaya bagiku, itulah sebabnya dia memilih tahun itu.Dia bahkan menunjukkan fotonya kepadaku.Tentu saja, bukan dirinya sendiri, sebenarnya itu adalah foto kehidupan seorang selebriti pada masa muda, hanya wajahnya saja yang agak mirip.Aku pun terjebak.Tidak lama kemudian, kami melakukan video call, dan dia masih menggunakan masker itu.Dia mengatakan, dia ingin melihat tubuhku, ingin aku melepas pakaianku.Aku melakukan seperti yang dia minta.Namun, ini hanya memperburuk keadaan.Beberapa hari kemudian, dia meminta agar aku menuliskan namanya di tubuhku, menulis beberapa kata kotor; dia meminta agar aku bertutut padanya di dalam video, serta meminta aku untuk menggores pergelangan tanganku dan menunjukkan kepadanya, sebagai bukti bahwa aku mencintainya.Aku tidak pernah mengira bahwa dia merekam video tersebut dan akan menggunakannya untuk melakukan pemerasan padaku!"Jojo, jika kamu tidak mendengar kata-kataku, maka bukan aku saja yang akan melihat video itu."Aku melaporkannya kepada polisi.Polisi bertanya padaku, "Nak, ada apa denganmu?"Mereka mengatakan bahwa orang di foto tersebut sedang mengajar di desa, dan tidak memiliki jaringan internet, jadi mana mungkin mengenalmu?. Sedangkan nomor LINE yang kau berikan, pemiliknya adalah seorang remaja SMP. Dia mengatakan dia mendaftar akun LINE saat mengikuti pelajaran komputer. Masalahnya, bukankah kamu mengatakan dia adalah orang dewasa?Pada akhirnya, tidak ada yang mempercayaiku.Akhirnya, James pun semakin merajalela."Aku mau kamu melakukan tiga hal untukku."Aku melakukan tiga hal sesuai petunjuknya.Aku mentransfer semua uangku ke sebuah rekening bank."Harus menggunakan kartu pita magnetik, dan kata sandi harus tanggal lahirmu. Jika aku menemukan kata sandinya salah, kau akan tahu konsekuensinya," kata James."Di kota kalian, ada sebuah taman hiburan terbengkalai. Pergilah ke sana dan kuburkan kartu itu di tempat yang kuminta."Sesuai permintaannya, beberapa barang pribadiku juga aku masukkan ke dalamnya."Terakhir, di dermaga kota, peti kemas nomor 187, kau tunggu aku di sana pukul 00:55, aku akan muncul tepat waktu pada pukul 01:00 dini hari dan akan memberikan mp4 ini langsung padamu. Sejak saat itu, urusan finansial kita berdua akan berakhir, tanpa utang-mengutang lagi di antara kita.""Ingat, kau harus bersama kakakmu," kata James, ketika dia memaksaku melakukan tugas untuknya. Tanpa diketahui oleh James, Bapak Polisi Jack bersembunyi di sekitar sana dan memberi tahu rekan-rekannya.Aku tiba di lokasi kontainer, Bapak Polisi Jack dan rekan-rekannya bersembunyi di sekitarnya.Asalkan James muncul, dia akan segera ditangkap.Namun, kami sudah kalah sejak awal.Cahaya merah muncul di depan mataku.Tubuh kontainer mulai membesar.Kakakku dengan cepat mendorongku menjauh.Pada saat yang sama, udara bergetar karena ledakan, mengguncang laut di dekat dermaga.5Di kedai kopi, Jojo membuka ponselnya dan menunjukkan sebuah berita padaku."Pada tanggal 12 Juli 2006, pukul 01.00 pagi.""Di atas Pelabuhan Tanjung Priok, sebuah kontainer yang tidak tersegel dengan benar menyebabkan ledakan hebat."...Dia berkata, "Kontainer itu adalah nomor 187."Dia berkata, "Aku berada di tengah-tengah ledakan itu."Dia berkata, "Itulah rencana sebenarnya dari James."6Malam itu sangat mengerikan.Petugas kepolisian sama sekali tidak melihat adanya orang yang muncul.Kakakku tidak bisa diselamatkan dan meninggal di meja operasi.Seluruh tubuhku terbakar parah, beberapa kali mendekati ambang kematian, dan jatuh dalam keadaan komaKami semua dikalahkan oleh pria tahun 2012 ini.James, pada tahun 2012, mencari tahu banyak hal tentang kota kami.Dia mengetahui bahwa pada malam itu, akan ada sebuah ledakan di kontainer.Maka, gadis itu terkubur dalam ledakan di tepi laut.Membayar harga untuk pengkhianatannya.Sementara dia menggali tanah yang telah tersegel.Mencuri segala miliknya.Pada tahun 2012, James datang ke kota tempat tinggalku dengan marah.Di tanah yang digali berulang kali, tidak ada apa-apa.Ya, polisi mengambil kartu tersebut.Uang itu akhirnya menjadi biaya pengobatan yang menyelamatkan nyawaku.Dia tersenyum.Si gadis yang dimaksud sudah mendapat balasannya.7"Tunggu sebentar, ada sesuatu yang tidak beres." Aku harus menghentikan Jojo. "Mengapa dia meminta uang, mengapa tidak memilih cara yang lebih aman? Misalnya, menghubungi diri sendiri yang kemarin, membeli lotere, dan dia bisa menjadi kaya mendadak sambil tiduran, bukankah cara seperti itu lebih aman?"Dia berkata, "Dia tidak hanya mebalas dendam kepadaku, tetapi juga melakukan sebuah eksperimen."Aku bertanya, "Apa maksudmu?"Setelah ledakan terjadi.Pada tahun 2012, gadis tetangga James menghilang.Dia harusnya memiliki masa depan yang cerah, tetapi malah menjadi seorang pasien vegetatif di tempat tidur.Pada catatan yang ditempelkan oleh James, ada tambahan kalimat:"Selama waktu yang tepat, aku bisa mengendalikan siapa saja."8"—Setelah aku, dia mengerti bahwa setiap orang memiliki saat-saat terlemah dan rentan, cukup dengan menemukan titik waktu itu, dengan sedikit usaha, dia bisa menjadi pengendali kehidupan orang itu."Aku mengerti, dan merasa sedikit mengerikan.Jojo teringat sesuatu, dia menambahkan, "Berbicara tentang hal itu, dia benar-benar mendapatkan banyak uang dengan cara seperti yang kamu katakan, dia melihat berita masa depan, mengetahui kenaikan dan penurunan saham, serta guncangan pasar. Dia dengan seenaknya menumpuk hutang, karena dia tidak akan pernah kalah. Dia dengan cepat mengumpulkan uang yang setara dengan sepuluh generasi orang biasa.""Namun dia juga membuat suatu aturan bagi dirinya sendiri — yaitu tidak akan pernah menghubungi dirinya sendiri," kata Jojo."Coba kamu pikir, kamu bisa mengizinkan dirimu yang kemarin berlari ke sana kemari, dan kamu yang di masa depan, apakah tidak akan membiarkan dirimu yang saat ini melakukan hal-hal tersebut? Celah ini tidak boleh terbuka, karena jika terbuka, kamu akan kehilangan kendali atas hidupmu - yang sangat penting bagi James, hanya dia yang bisa mengendalikan orang lain, tidak ada orang lain yang bisa mengendalikannya, bahkan versi dirinya yang lain.""Dia tidak bisa melupakan sensasi itu, mencuri kenikmatan dari wanita, dia kecanduan, lebih kuat dari semua obat terlarang di dunia ini," Jojo berhenti sejenak, lalu berkata, "dia tidak bisa berhenti."Jojo berkata, "Hanya dengan menghancurkan mereka, dia baru bisa mendapatkan arti hidup."Aku mengangguk, ini adalah persetujuanku terhadap ucapannya."Setelah aku, dia mulai melakukan tindakan dengan gila.""Pada saat itu, dia tidak lagi perlu menggunakan uang untuk menggoda mereka.""Dia hanya perlu memberikan kebohongan dan cinta palsu, maka dia bisa mendapatkan penderitaan dan kematian mereka."9Pada tahun 2007, seorang gadis remaja bernama Kelly menjalin hubungan cinta daring dengan seorang pria misterius. Seminggu kemudian, dia meninggal dalam kebakaran yang tidak disengaja.Enam tahun kemudian, dia seharusnya menjadi seorang mahasiswi yang menonjol di universitas terkemuka.Pada tahun 2006, seorang gadis remaja bernama Merry menjalin hubungan cinta daring dengan seorang pria misterius, dua minggu kemudian, dia meninggal dalam kecelakaan kapal tenggelam.Tujuh tahun kemudian, dia seharusnya menjadi seorang artis idola yang populer.Pada tahun 2008, seorang gadis remaja bernama Devina menjalin hubungan cinta daring dengan seorang pria misterius, pada tahun yang sama, dia pergi sendirian dan mengalami tanah longsor, dan tidak dapat terhindar dari musibah.Lima tahun kemudian, dia seharusnya menjadi seorang istri yang bahagia setelah menikah.....Dia telah melakukan 327 kejahatan sepanjang hidupnya.Dia tidak selalu berhasil setiap kali.Namun, orang-orang itu telah mati dengan menderita.Gadis-gadis yang selamat juga harus menderita dari penderitaan mental yang mendalam.Bahkan orang yang selamat sangat jarang.James selalu merasa bangga dengan kesempurnaan kejahatan yang dilakukannya.Karena tak ada yang dapat menangkap seorang penjahat yang bersembunyi di masa depan.
Putri yang Tidur di Sampingku ... Bukanlah Dirinya!
Pada tengah malam, ponselku menerima pesan dari nomor yang tidak dikenal, "Ibu, selamatkan aku! Cepat, selamatkan aku!"Aku melihat ke ranjang di sebelah. Di situ, terbaring putriku yang sedang tidur dengan napasnya yang tenang.Siapa yang mengirim lelucon seperti ini?Aku tak bisa menahan tawa dan langsung memblokir nomor tersebut.1Betty suka menggambar. Beberapa hari yang lalu, aku mengajaknya berwisata ke pedesaan. Namun, di tengah perjalanan, kami terjebak dalam hujan deras. Akibatnya, Betty pun masuk angin dan demam tinggi. Aku benar-benar terkejut.Namun, ketika aku hendak keluar, aku secara kebetulanmelirik ke arah cermin.Di sana, terdapat jejak darah yang terus mengalir."Ibu, bunuh dia! Dia bukan aku. Dia datang untuk membunuhmu!"Aku terkejut.Dalam keadaan gemetar, napasku menjadi terengah-engah. Ketika hendak menutup pintu, tiba-tiba terdengar suara pelan dari belakangku."Ibu."Entah sejak kapan Betty bangun. Dia memandangiku dengan kepala sedikit miring tanpa bergerak sedikit pun.2Entah mengapa, saat itu aku merasa putriku berbeda dari biasanya.Pupil hitam matanya sangat besar dan menakutkan, seolah-olah tidak berfokus. Dia menatapku dengan tajam, entah itu karena cahaya atau bukan. Ekspresinya juga sangat pucat dengan benda kecil yang samar-samar berwarna hitam."Ibu, kenapa Ibu memandangiku seperti itu?" Betty duduk perlahan, lalu menginjakkan kakinya ke lantai. "Ibu, tadi Ibu melihat ke cermin, lalu menutup mulutmu. Kenapa Ibu begitu?""Ibu, apa yang kamu maksud adalah cermin ini?" Betty berkata, "Di dalamnya, seakan-akan ada seorang gadis kecil yang persis seperti diriku."Kalimat itu benar-benar membuatku terkejut.Aku mengira mungkin Betty sedang linglung karena demam sehingga buru-buru keluar untuk mengambil termometer.Namun, suara Betty terus terdengar di belakangku."Ibu, sepertinya dia menangis."3Kejadian aneh ini masih berlanjut.Aku mencari-cari termometer di laci ruang tamu. Aneh sekali, sebelumnya aku selalu meletakkannya di sana. Baru saja beberapa hari yang lalu, aku sempat menggunakannya. Namun, mengapa hari ini tidak bisa kutemukan.Hingga bola karet kecil jatuh di lantai.Itulah mainan kesukaan Betty. Bola itu melompat-lompat di lantai. Aku membungkuk untuk mengambilnya, tetapi pada saat aku menyentuhnya, bola itu tiba-tiba berubah bentuk.Seperti air yang menyebar, bola itu pun meleleh di lantai.Air tersebut berubah menjadi merah darah, seperti mengeluarkan tangan, lalu bergerak-gerak dan berjuang di lantai. Rasa ketakutan melanda hatiku. Aku memandangi tulisan yang menari-nari di lantai dengan huruf yang sangat berantakan dengan ngeri."Ibu! Jangan kembali ke kamarmu! Dia akan membunuhmu langsung malam ini!"Tulisan yang sangat mengejutkan itu bergerak liar seakan-akan penulis di baliknya menderita rasa sakit yang parah dan berusaha keras untuk memberi tahu aku sesuatu ....Tiba-tiba, tangan yang dingin menyentuh bahuku."Ibu, apa yang sedang Ibu lihat?"3Bisa-bisanya Betty berjalan tanpa suara!Secara naluri, aku kembali melihat ke bawah. Namun, aku hanya melihat bola karet melompat dan tulisan berdarah tadi menghilang begitu saja."Betty, kapan kamu datang?" Jantungku berdetak kencang. Ketika melihat kaki telanjangnya, hatiku hampir berhenti. "Kenapa kamu tidak mengenakan sepatu saat berjalan di lantai? Jangan sampai kedinginan.""Ibu, aku merasa takut sendirian di kamar. Temani aku tidur di kamar, ya?" Wajah Betty menempel di leherku, lalu kedua tangannya terpaut erat dalam pangkuanku.Tiba-tiba, aku teringat dengan perumpamaan. Seolah-olah ada laba-laba besar yang melekat di tubuhku.Aku tertawa sendiri dengan pemikiran itu."Baiklah, ibu akan tidur bersamamu." Aku mengelus punggung putriku, lalu menggendongnya menuju kamar tidur.Namun, saat aku sampai di depan pintu kamarnya, langkahku terhenti.Aku melihat dengan jelas ada sepotong lengan putih di bawah ranjang. Di tengah lengan itu, ada tahi lalat hitam yang familier.Itu adalah Betty!Jika orang di bawah ranjang adalah Betty, orang di pelukanku ini ....Napasku pun menjadi berat.Sementara itu, orang di pelukanku merasakan ketakutan yang kurasakan. Dia berbalik, lalu membelalakkan matanya dan menatapku. Mata hitamnya sangat menakutkan."Ibu, kenapa Ibu diam saja?" Suaranya bahkan membuatku ketakutan."Ibu tampak sangat takut. Apa yang Ibu lihat?"4Kali ini, aku yakin bahwa ini bukanlah sugesti. Orang yang kugendong benar-benar terasa asing bagiku. Dia bukan putriku!Gawat, kenapa aku sepertinya aku tidak bisa melepaskannya?Dia seakan-akan melekat pada diriku!"Ibu, apa yang Ibu takutkan?" Gadis di pangkuanku makin membelalakkan matanya. Ketika hidungnya hampir menyentuhku, dia tiba-tiba tersenyum dengan lebar."Aku tahu. Kamu sedang takut padaku, 'kan?"Kemudian, gadis itu langsung menggigit leherku. Dia mengisap darahku dengan gila-gilaan. Aku melihat dengan mata kepala sendiri bahwa lengan tanganku berubah menjadi selembar kulit yang tipis."Aahhhh!"Aku terbangun dengan keringat bercucuran di atas sofa.Sebuah pesan masuk dari nomor asing, "Ibu, tolong selamatkan aku! Tolong selamatkan aku segera!"5Mimpi nyata yang mengerikan tadi tiba-tiba muncul dalam pikiranku.Mungkinkah yang berbaring di ranjang sekarang bukanlah putriku, melainkan penggantinya yang tampak persis seperti dia?Lalu, di mana putriku berada?Kepalaku menegang. Aku hampir saja patah semangat. Aku segera membuka pesan tersebut dan membalas, "Siapa kamu dan di mana kamu sekarang?"Namun, setelah pesan dikirim, aku tak mendapat respons apa pun.Tiba-tiba, aku sadar bahwa suara mendengkur dari dalam kamar sepertinya sudah berhenti sejak tadi.Aku menyadari sesuatu, lalu perlahan mendongak.Aku melihat sebuah wajah menempel pada kaca pintu dan menatapku tanpa berkedip!Suara putriku terdengar melalui kaca ke telingaku."Ibu, tadi kamu sedang mengirim pesan kepada siapa?"6Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca dan berkata, "Ibu, kamu sudah tidak mau Betty hanya karena satu pesan, ya?"Aku memeluknya erat-erat. "Ibu salah, Betty. Maafkan Ibu. Bagaimana mungkin Ibu tidak mengiginkan Betty? Ibu bukanlah kucing kecil ....""Apa itu kucing kecil?"Satu kalimat yang dilontarkan oleh sosok yang kupeluk membuat hatiku terasa berat.Kucing kecil adalah lagu anak-anak yang kami ciptakan bersama."Kucing kecil jahat. Ibu tidak menginginkanku, tapi mau si kucing kecil ...."Betty sempat menolak tidur selama beberapa saat, kecuali jika kami menyanyikan lagu itu bersama-sama sebelum tidur. Namun, "putri" yang kupeluk sekarang justru bertanya padaku apa itu kucing kecil?Aku mencoba bertanya dengan penuh keraguan, "Betty, apakah kamu lupa? Ini adalah lagu anak-anak yang diajarkan gurumu di taman kanak-kanak."Suasana pun hening beberapa detik.Dia berkata, "Aku ingat, dulu aku bisa mempelajarinya dengan cepat. Guru juga memuji aku."Rasa takut yang intens merayap ke hatiku.Layaknya memeluk monster yang mengerikan, dia berpenampilan seperti anak perempuan dan memiliki suara anak perempuan. Namun, entah mengapa dia tidak tahu rahasia apa pun antara aku dan Betty.Dia bukanlah putriku!Tiba-tiba, gadis itu merangkak dan meraih leherku. Dia memelukku erat-erat, lalu tawa aneh pun terngiang di telingaku. Hal itu dilanjutkan oleh sensasi menusuk yang tajam. Suara seperti meneguk minuman terdengar dari tubuhku.Aku pun mulai kehilangan kesadaran.
Pembunuh Terkurung di Rumahku, tetapi Pembunuh Aslinya Ternyata ....
Di rumahku, ada sebuah rahasia.Di ruang bawah tanah, ada orang gila yang seluruh tubuhnya terbakar.Dia adalah pembunuh.Suatu hari, dia berhasil melarikan diri dari ruang bawah tanah.1"Besok adalah hari peringatan kematian orang tua kita."Saat makan malam, kakakkutiba-tiba berbicara sambil menepuk bahuku dengan lembut dan ekspresi sedih. "Seperti biasa, aku akan minta Bi Wanda untuk mengantarkanmu ke sekolah. Biarkan Kakak yang menangani urusan peringatan kematian. Kamu sangat ketakutan saat orang tua kita dibunuh, jadi lebih baik kamu tidak pergi lagi agar tidak terkena dampaknya."Namaku Lana Kenzo, sedangkan kakakku bernama Randi Kenzo. Setelah orang tua kami tewas dengan tragis, kami berdua hidup bersama dan bergantung satu sama lain.Aku mengalami cedera otak berat saat kecil dan kehilangan ingatan. Aku tidak bisa mengingat apa pun sebelum usiaku enam tahun. Selama ini, kakakku dengan sabar menemaniku dan membantuku mengingat sedikit demi sedikit tentang masa lalu. Namun, sayangnya aku tetap tidak bisa mengingatnya.Wanita gila di ruang bawah tanah bernama Melisa. Di masa lalu, ayahku melihatnya sedang berkelahi dengan anjing liar di depan pintu perusahaan sendirian sehingga membawanya itu pulang.Dia tinggal dan makan bersama kami. Kami memperlakukan wanita itu seperti keluarga. Namun, siapa yang tahu, ini akan menjadi sebuah kisah tragis.2Melisa memiliki kecenderungan kekerasan yang parah dan kepribadian antisosial. Dia membenci segala sesuatu yang dia lihat. Dia iri dan membenci bahwa aku yang seumur dengannya mendapat perhatian dan cinta dari orang tua dan kakakku.Pada suatu malam, dia diam-diam masuk ke dalam kamar dan berniat membunuhku untuk menggantikanku. Namun, tak disangka kakakku melewati kamar itu dan melihatnya.Mereka berkelahi, tetapi Melisa kalah dan melarikan diri dengan luka. Orang tua kami sayang padanya dan memberinya kesempatan kedua, jadi mereka tidak melaporkannya ke polisi.Namun, malam berikutnya, dia datang lagi secara diam-diam dan menyalakan api. Dia berniat untuk membakar kami semua sampai mati!Orang tua kami meninggal dalam kebakaran itu.Kakakku yang berani menyelamatkanku dan mengorbankan dirinya sendiri. Punggungnya bahkan terbakar parah.Lantaran menghirup banyak asap yang merusak saraf otak, aku tidak bisa lagi mengingat masa lalu.Ada beberapa bekas luka jahat di wajahku. Ini adalah sesuatu yang sangat menghancurkan hati seorang gadis.Kakakku sangat membenci Melisa. Setelah dia kabur usai membakar rumah, kakakku tidak melapor polisi, tetapi memberi hadiah uang besar sebagai imbalan untuk mencari keberadaan Melisa.Akhirnya, kakakku sendiri menangkapnya dan memenjarakannya di ruang bawah tanah untuk menyiksanya.Tiba-tiba, ada seseorang yang muncul dari bawah meja. Tubuhnya membusuk dan dia berusaha mengeluarkan suara. Namun, dia hanya bisa mengeluarkan desisan yang menyeramkan. Dia gemetar dan mengeluarkan sehelai kertas yang ditulisi dengan darah."Jangan berbicara! Dia bukan kakakmu! Dia adalah anak yang diadopsi oleh ayahmu! Aku adalah kakakmu yang sebenarnya!"3Tiba-tiba, kakakku yang ada di ruang bawah tanah menyadari Melisa telah menghilang dan mulai berteriak dengan keras."Lana, Melisa hilang!"Beberapa saat yang lalu, kakakku pergi ke ruang bawah tanah dan menemukan sisa-sisa rantai yang terlepas dan perabotan yang hancur. Yang paling menakutkan adalah ada tulisan besar dengan darah di dinding."Aku akan mencari kamu.""Lana, berhati-hatilah. Kalau Melisa berhasil melarikan diri, dia tidak akan melepaskan kita. Dia pasti akan mencari kita dan membalas dendam. Dia selalu berkeinginan untuk membunuh kita." Suara kakakku terdengar gemetar. Dia memberiku beberapa petunjuk sebelum pergi dengan orang lain untuk mencari di rumah-rumah lain.Dia yakin bahwa Melisa pasti bersembunyi di suatu tempat dan hanya menunggu waktu yang tepat untuk membunuh kami.Langkah kakakku makin menjauh. Melisa yang bersembunyi di bawah meja masih gemetar tanpa dapat menahan diri."Kamu bilang kamu adalah kakak kandungku dan dia bukan kakakku. Apa buktimu?""Aku punya! Tentu saja aku punya!"Bibir Melisa berbusa putih saking gemetarnya. Dia mengeluarkan foto yang basah oleh darah dari sakunya dengan hati-hati.Itu adalah foto keluarga, ada ayah dan ibu. Mereka duduk di kursi dengan seorang gadis kecil duduk di pangkuan masing-masing.Dari tampang kedua gadis, itu adalah aku dan Melisa!Di foto itu, memang tidak ada kakakku.4Pada saat ini, tiba-tiba kakakku terlihat sangat asing dan dingin.Seekor anjing besar bernama Mike yang sangat dekat pada kakakku tiba-tiba mengangkat kepala dan menggonggong sebanyak dua kali. Kemudian, ia melepaskan diri dari genggaman kakakku dan berlari masuk ke dalam, lalu langsung menuju meja depanku!"Kak, aku takut!" ucapku tanpa sadar dan memohon bantuan pada kakakku."Lana, beri tahu Kakak, apa yang ada di bawah meja itu?"Momen berikutnya, dia langsung menyingkirkan meja."Aah!"Aku berteriak keras dan kakakku pun terkejut. Dia segera berlari mendekat dan memegang tanganku dengan penuh kasih sayang seraya berkata, "Adik, kenapa lenganmu berdarah seperti ini? Apa yang terjadi padamu? Kenapa tidak memberi tahu kakak?"Aku segera digendong kakakku masuk ke kamar tidur. Dokter keluarga merawat lukaku dengan cermat.Setelah semua orang pergi, aku pun berkata dengan lemah, "Kamu bisa keluar sekarang."Aku melihat keadaannya dan merasa iba, lalu menghela napas sambil berkata, "Apakah kamu memiliki bukti lain?""Ada! Seingatku, Ayah memiliki kebiasaan mencatat dalam buku harian. Saat itu, aku pernah melarikan diri setelah dikurung oleh pembunuh ini. Aku melihat dia membuang semua peninggalan orang tua kita ke loteng! Coba kamu cari di sana!"Aku melihat matanya yang gelisah dan terperangkap dalam pemikiran."Baiklah, kamu bersembunyilah di sini. Jangan sampai ketahuan oleh orang lain. Aku akan mencari buku harian Ayah di loteng."5Semua kamar di rumah itu terbuka, kecuali pintu loteng yang terkunci. Ini agak aneh.Aku menghidupkan senter dan dengan takut-takut, lalu menyinari ruangan yang gelap gulita ini.Aku mengelilingi sudut dinding, lalu tanpa sengaja menginjak sesuatu yang membuat suara berguling di lantai. Segera, aku mengarahkan senter ke arahnya dan ternyata itu adalah cincin pernikahan ayah dan ibu!Hubungan ayah dan ibuku sangat baik. Ibuku selalu memakai cincin itu.Sepertinya, Melisa tidak berbohong padaku. Kakakku benar-benar meletakkan barang-barang warisan mereka di sini.Aku duduk di lantai dalam sedih yang tak terucapkan. Ketika ingin bangkit, aku tiba-tiba melihat sebuah buku catatan yang kusam di depan dengan dua kata yang jelas, tetapi tertulis dengan jelas, "Buku Harian."Apakah itu buku harian ayah yang Melisa sebutkan?Aku sangat senang dan dengan segera meraihnya. Namun, saat aku mengangkat kepala, aku tak sengaja melihat ekspresi datar kakakku!"Lana, kenapa kamu bisa di sini? Aku melihat ada cahaya di loteng, jadi mengira ada pencuri di rumah."Dia memicingkan mata saat melihatku. Melalui sudut mataku, aku melihat dia memegang pisau yang tajam di tangannya.Saat ini, satu-satunya pikiran yang ada dalam benak aku hanyalah "semuanya telah berakhir."Kini, aku sepenuhnya percaya pada kata-kata Melisa. Aku kehilangan semua akal sehat. Ketakutan yang luar biasa memberiku keberanian ekstrem. Dengan tekad pemberani yang mendekati kematian, aku berkata padanya, "Berhenti berpura-pura! Kamu bukan kakakku, Randi Kenzo. Kamu adalah anak yang ayahku bawa pulang dulu. Kamu adalah sang pembunuh!"Saat dia memandangiku dengan kebingungan, emosiku pun makin memuncak. "Melisa telah memberitahukusegalanya. Sesungguhnya, dia bukan pembunuh seperti yang kamu katakan. Dia adalah kakak perempuanku. Dia adalah kakak kandungku! Segalanya sudah terungkap, yang aku pegang sekarang adalah buku harian ayah dulu. Di dalamnya pasti mencatat segalanya!"6Sambil menahan air mata, aku membuka buku harian ini. Setidaknya sebelum mati, aku harus membuatnya mengakui bahwa yang ayah bawa pulang bukanlah seorang gadis, tapi laki-laki ....Aku terperanjat.Pada halaman ketiga buku harian, jelas tertulis, "Melisa benar-benar malang. Dia hanya tahu namanya sendiri dan tidak tahu apa-apa yang lainnya. Aku tidak tega melihatnya bertarung dengan anjing liar demi makanan, jadi aku membawanya pulang dan merawatnya dengan penuh kasih. Hanya saja, aku menyadari perlahan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan anak ini. Dia sering muncul di samping tempat tidur kami di tengah malam dan beberapa kali dia bahkan membawa pisau ...."Lenganku lemas. Buku harian itu terjatuh dari tanganku ke lantai.Kakakku mengambil buku harian yang aku lemparkan ke lantai dan tidak marah padaku. Dia hanya menepuk-nepuk bahuku dengan lembut. "Kakak sudah melihat semuanya. Tadi, ada jejak kaki berdarah menuju meja. Hanya saja, Kakak tidak ingin memaksamu mengatakannya. Kalau kamu tidak mengatakan, Kakak tidak akan bertanya. Kamu terluka, Kakak akan membawamu untuk diobati ...."Aku menangis dengan sepenuh hati sambil memeluk kakak. Tiba-tiba, aku teringat sesuatu dan berteriak, "Kak! Saat ini, Melisa bersembunyi di lemari kamar tidurku. Cepat tangkap dan bunuh dia! Dia telah menipuku. Aku membencinya!"
Mimpi Si Mayit
Ting.. ting… ting.. Kubuka mataku perlahan, kulihat jam tepat menunjukkan pukul 01.00, seperti biasa aku menggeliat dulu sebelum bangun dari ranjangku. Dari luar, sayup-sayup kudengar suara pak To menjemputku ke pasar.“Bu Mur.. bu Mur.. nggak ke pasar nih?” “Iya pak To, ini saya sedang bersiap tunggu sebentar ya” “Bu Mur.. Bu Mur.. sudah jam 01.15, nanti kesiangan lo bu katanya hari ini mau belanja agak banyak” “Iya ini saya datang pak To” “Bu Mur..” Kretek… “Pak To? Sebentar ya pak, saya bangunkan emak dulu” “Iya mas, tak tunggu di sini saja ya” ucap Pak To.Kemudian Sarpin berjalan ke kamarku, ia berusaha membangunkanku agar tidak kesiangan ke pasar. “Mak.. mak.. mak.. ayo bangun mak. Itu lo pak To sudah jemput” “Iya Pin.. Emak sudah bangun” “Mak.. mak.. mak… Ya Allah mak!! Innalillahi wa inna ilaihi rojiun” “Ada apa mas?” ucap pak To tergopoh-gopoh masuk ke kamar emakku “Pak To.. emak pak To” “Kenapa mas?” “Emak sudah tiada pak To” ucap Sarpin sambil berlinang air mata “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Mas, kalau gitu saya tak ngasih kabar ke tetangga dan kawan-kawan pedagang sayur dulu ya supaya ada yang membantu kita menyemayamkan bu Mur” “Iya pak To, tolong saya”“Bocah gemblung! Emak e masih hidup kok dibilang mati. Hei, sarpin! Emak di sini. Sarpin! Hei.. Sarpin. Apakah kau tak melihat emakmu ini? Emak ada di sampingmu Sarpin” ucapku namun Sarpin tetap tak bergeming. Kupanggil lagi anakku namun tetap sama ia hanya terdiam. Aku semakin bingung ada apa dengan diriku. Tetanggaku berduyun-duyun datang ke rumahku padahal masih pukul 02.00.“Hei buk, toko saya belum buka. Saya mau belanja dulu ke pasar” ucapku sambil menyentuh bahu tetanggaku namun aneh, entah apa yang terjadi pada diriku. Tanganku tak mampu menyentuh bahu tetanggaku bahkan tubuhku dengan mudahnya mereka terobos seolah tak ada apa-apa.“Hu.. hu.. hu.. hu.. Emak.. jangan pergi.. hu.. hu.. hu..” “Sarpin, emak nggak pernah pergi kemana-mana, emak di sini duduk di sampingmu” ucapku sambil menyentuh bahu Sarpin namun tembus “Mas.. Emak sudah tiada, lalu siapa yang akan menemani kita mas? Hu.. hu.. hu..” tangis anak bungsuku Gito.Aku hanya terdiam, bingung melihat suami, anak, saudara dan tetanggaku menangis tersedu. Apa yang sedang terjadi pada kalian? Kenapa kalian menangisi aku? Aku ada di sini. Lalu, mereka bergotong royong mengganti bajuku bahkan mereka tak tanggung-tanggung menggunting bajuku.“Hei.. jangan! Apa yang kalian lakukan?” namun mereka tetap saja menggunting setiap serat kain bajuku. Kemudian mereka menggantinya dengan jarik dan dari dagu hingga kepalaku mereka ikat dengan kerudung. Setelah itu, mereka bergotong royong mengangkat tubuhku. Diletakkannya tubuh gendutku di atas sebuah ranjang khusus jenazah yang telah disiapkan sejak tadi. Akupun mengelilingi rumahku, kulihat semua tetanggaku sibuk memasang tenda, bendera duka cita, dan mereka juga mengeluarkan kursi-kursi di rumahku.“Pak, tikarnya saya gelar sekarang ya biar enak nanti kalau kita mengkafani bu Mur” “Iya silahkan” ucap pak SabilSeusai persiapan di dalam rumah, tampak jelas di depan mataku suami, anak dan menantuku menggotong tubuhku ke ranjang tempat jenazah dimandikan. “Hati-hati pak. Kalau nyawa habis tercabut itu badannya masih sakit” “Iya pak Sabil” ucap suamiku. Kemudian pak Sabil memandu keluargaku memandikan jenazah, saat itu semua anakku memandikanku namun Siti memandikanku sambil menangis tersedu-sedu.“Mak.. mak.. jangan tinggalin Siti mak..” ucap Siti sambil mengusap tubuhku dengan kapas, air matanya terus saja berurai. “Augh sakit! Siti, kenapa kau membakar tanganku?” Kulihat Siti dan badanku sekali lagi, ini benar-benar mimpi yang sangat aneh. Siti memandikanku dengan air dan yang jatuh tertetes ke tanganku adalah air matanya tapi kenapa rasanya seperti api? Mimpi apa aku ini?Seusai memandikanku, mereka menggotongku ke keranda. Di sana, sudah ada kain kafan berlapis-lapis dan mereka juga menaruh kapas yang dibubuhi aneka wewangian khusus untukku. Tak banyak bicara mereka mengkafaniku namun lagi-lagi mereka menetesiku dengan api. “Hei sakit! Aduh.. panas sekali. Sudah.. sudah kalian pergi sana!” ucapku pada mereka namun tetap saja mereka terus mengkafaniku hingga semua tubuhku terbungkus kain kafan.“Pak.. Mas.. Mbak.. sudah ikhlas ditinggal bu Mur?” “Ya.. ikhlas nggak ikhlas harus ikhlas pak, mau bagaimana lagi istri saya sudah meninggal dunia” “Apa? Aku meninggal dunia? Bapak.. ibu di sini, kok dibilang meninggal?” “Ayo kalau begitu kita semuanya mendo’akan almarhumah agar khusnul qotimah”Kebingunganku semakin bertambah ketika di pagi hari suami, anak, menantu, sanak saudara dan tetangga mengantarku ke kuburan dengan isak tangis tak tertahan. Apa yang sebenarnya terjadi? Kudekati Sarpin namun ia tak menghiraukan, kudekati suamiku namun ia tetap terdiam, Siti dan Gitopun hanya menjawabku dengan isakan. Kemudian mereka berduyun-duyun membawa tubuhku ke kuburan. Di sana, kulihat sebuah lobang yang siap yang telah sengaja digali untukku. “Ya Allah! Liang lahaat”Lukman, Handak, kang So dan Marwan menurunkan keranda. Mereka telah bersiap membuka keranda itu dan mengangkat tubuhku kemudian memasukkannya ke dalam lubang itu. “Maann jangan! Jangan.. jangan!” teriakku namun tetap saja mereka tak menggubris teriakanku seolah mereka tak menganggap keberadaanku. Dimasukkannya tubuhku ke lubang itu, dan di lubang itu suami, anak dan menantuku bersiap menerima tubuhku.“Kamu, baik-baik di sana ya” ucap suamiku dengan lelehan air matanya “Augh.. sakit pak! Kenapa bapak memberiku tetesan api?” tuturku namun ia tetap tak menjawab Kemudian mereka membuka tali kepalaku, dihadapkannya pipiku ke gumpalan-gumpalan tanah lalu menutupi tubuhku dengan papan-papan kayu yang ditata seperti papan seluncur. Tak hanya itu mereka juga dengan sengaja menutupi tubuhku dengan tanah galian lubang tadi.“Apa? Aku dikubur? Aku habis menonton apa ya kok mimpi dikubur?” gumamku Aku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi? Aku hanya bisa duduk terdiam di atas pusara yang bertuliskan namaku. Aku bingung, semuanya bergotong-royong menyemayamkan aku dengan tangisan padahal aku masih hidup dan anehnya mereka tak menggubris setiap kata ataupun teriakanku.“Bapak.. adik-adik.. marilah kita bersama-sama mendo’akan almarhumah bu Mur supaya tenang di sisi Allah ta’ala. Al-fatihah” ucap pak Sabil Aku semakin bingung dengan tingkah mereka semuanya almarhumah? Benarkah aku sudah meninggal? Aku tak percaya, ini hanyalah sebuah mimpi belaka. Setelah membaca do’a, pak Sabil mengajak semua pelayat meninggalkan pusara yang bertulis namaku.Tiba-tiba aku terjaga dari tidur panjangku. “Ah.. ternyata ini hanyalah sebuah mimpi belaka. Bangun ah.. aku mau ke pasar” gumamku Namun kusadari aku mencium bau tanah, semua gelap. Kupanggil-panggil semua keluargaku, sanak saudaraku namun tak ada seorangpun yang menjawab. Benarkah aku telah wafat?Tiba-tiba kudengar langkah kaki yang menghampiriku. Kutatap wajah tampannya yang murah senyum. “Pak, saya dimana?” “Bu.. ibu ada di liang lahat, sebentar lagi ibu akan saya antar ke alam barzah” ucap pria tampan itu dengan ramahnya “Jadi, saya sudah meninggal?” “Iya bu. Ibu sudah meninggal saat ibu sedang tidur kemarin malam” “Ha? Orang tidur bisa meninggal?” “Bisa bu karena nyawa adalah milik Allah, kapanpun Allah menginginkannya maka nyawa itu akan kembali padaNya” “Kenapa kau tak memberi tahuku tanda-tanda aku akan berpulang? Setidaknya jika kau memberitahuku maka aku bisa berpamitan pada keluargaku” “Bu aku sudah memberi tahumu 3 kali. Pertama saat pusarmu berkedut, itu artinya daun namamu di Arsy sudah gugur. Kedua, saat kau enggan menatap saat kau diajak bicara ataupun berjumpa dengan manusia, itu berarti umurmu hanya tinggal 3 hari. Dan yang ketiga di saat kepalamu berdenyut sampai ubun-ubun, itu tandanya kau sudah tak bisa menikmati hari esok” ucap pria tampan itu padakuKemudian pria itu mengajukan beberapa pertanyaan kepadaku dan kujawab sebisaku. Namun, sedikitpun pria itu tak marah kepadaku bahkan diakhir pertanyaanya ia memberikan sebuah senyuman manis padaku. “Bu, semua pertanyaanku telah ibu jawab setulus hati sekarang tugasku adalah memberimu hadiah. Kau akan aku ajak ke sebuah tempat yang nyaman, senyaman saat kau beribadah” “Iya” jawabkuKuulurkan tanganku dan dia mengajakku ke sebuah tempat yang nyaman, tempat itu seperti taman namun tak dingin dan bernyamuk. Indah, ada banyak bunga dan juga buah-buahan, aku tak pernah menjumpai tempat seindah ini di dunia.“Bu, tempat ini ibu bangun sendiri lewat amal ibadah ibu. Nikmatilah tempat ini sampai nanti ibu mendengar sangkakala dari malaikat Isrofil” “Terimakasih pak” jawabku singkatBapak, Sarpin, Siti dan Gito. Emak sudah bahagia di sini. Di sini, emak sudah mendapat sebuah tempat yang indah. Emak ingin kita bisa berkumpul di sini namun emak yakin pertemuan kita akan membutuhkan waktu yang panjang. Emak hanya berpesan jagalah diri kalian baik-baik, tingkatkan ibadah kalian agar kalian memiliki tempat yang lebih indah daripada emak. Bapak dan anak-anakku, meskipun kita sudah berjauhan namun emak tetap sayang kalian..
The Secret Beneath
Samudera adalah seorang pemegang saham dari sebuah perusahaan besar. Suatu hari, dia pulang lebih awal, dia hampir tidak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya: istrinya yang muda dan cantik, Vania, terlibat hubungan dengan mitra bisnisnya-Surya-di atas tempat tidur.Samudera berdiri seperti patung, diam, lalu perlahan menutup pintu dan pergi tanpa suara. Pasangan tersebut terkejut, Vania tahu suaminya adalah orang yang egois dan licik, dan dia takut Samudera akan melakukan sesuatu yang buruk.Namun, untuk kejutan mereka, Samudera seperti melupakan insiden itu. Dia jadi jarang berbicara dengan Vania setelah itu. Setelah itu, pertemuan pemegang saham tahunan mendekati, dan Samudera harus menghadirinya, yang dimana artinya dia akan pergi selama tiga minggu. Vania dengan cepat mengetahui hal ini dan merasa senang dan khawatir pada saat yang bersamaan.Senang akhirnya bisa memiliki waktu luang, Vania memikirkan berbagai ide. Namun, dia tidak menyadari bahwa Samudera belakangan ini mulai terasa dingin.Samudera akan berangkat ke RUPS. Malam ini dia menghampiri Vania dan secara mengejutkan memberikan senyuman yang sudah berhari-hari tidak pernah dilihat, Vania menatapnya dengan heran. Sebelum dia bisa bereaksi, Samudera tiba-tiba meninjunya dan Vania merasakan ada sesuatu yang berdengung di kepalanya dan kemudian dia tidak sadarkan diri. Ketika dia terbangun, dia merasa ngeri mendapati dirinya terkunci di sebuah gua di ruang bawah tanah. Gua tersebut berada di ruang bawah tanah rumah, di mana para pekerja telah memindahkan batu-batu dari dinding, menambahkan jeruji besi ke pintu, dan memasukkan tiang pancang yang tebal ke dalamnya. Dia diikat ke tiang pancang dengan rantai besi tebal!Samudera dengan dingin memandang wajah Vania yang ketakutan dan mengolok-olok, "Ada roti kering dan air yang cukup untukmu selama tiga minggu di pojokan sana. Aku tidak ingin melakukannya, tapi aku tidak punya pilihan. Kamu suka mengendap-ngendap di belakangku, jadi aku harus melakukan ini. Jujurlah dan aku akan kembali dalam tiga minggu untuk membebaskanmu!" Dengan itu, dia mengambil sebuah papan dan menutup rapat pintu basement, hanya meninggalkan lubang ventilasi yang kecil.Samudera memutuskan untuk memanfaatkan kesempatan ini untuk menikmati hidupnya dengan membawa sekretarisnya yang cantik, Miss Lidya, bersamanya ke rapat pemegang saham. Kisah ini terjadi di malam hari ketika Samudera minum beberapa gelas lagi karena dia bahagia dan ketika dia keluar, dia harus mengemudi sendiri. Dia melihat Lidya yang cantik di sebelahnya dan entah bagaimana teringat pada Vania di ruang bawah tanah, berpikir bahwa ia memiliki teman di sini sementara wanita yang telah mengkhianatinya terjebak di ruang bawah tanah bersama tikus dan serangga. Pikiran ini membuatnya bersemangat.
The Abyssal Maelstrom
Di sebuah pulau tak bernama di Kepulauan Riau, Pulau Sumatera, tinggal sekitar sepuluh keluarga yang tersebar. Ini adalah malam musim panas yang gelap, dengan udara yang tidak biasa panas dan lembap. Jasmine duduk tegak di tempat tidur dan melihat ke arah pria yang terbaring di sebelahnya. Ia bangkit dengan hati-hati dan meraba-raba melewati ruang tamu, lalu berjalan ke kamar tidur kecil di sebelahnya. Ia menutup pintu dengan lembut dan menyalakan lilin kecil. Dalam cahaya redup dan berkedip, kamar kecil itu tampak semakin berantakan dan kotor. Jasmine mengambil bungkusan kain hitam dari lemari dan perlahan-lahan membukanya, mengungkapkan sebuah foto seorang pria. Ia meletakkannya di depan patung Yesus dan berbisik doa sambil air mata mengalir di pipinya.Jasmine menikah di sebuah desa asing dengan Jordan, yang tinggal bersama dengan saudara laki-lakinya dan tiga saudara laki-lakinya dan mencari nafkah dengan menangkap ikan. Setelah menikah, Jasmine menyadari bahwa kakak laki-lakinya, Michael, mengolok-olok dan melecehkannya, sehingga membuatnya merasa sakit. Dia akhirnya mau tidak mau menceritakan hal ini kepada suaminya, namun Jordan tidak mempercayainya. Suatu hari, Jasmine sedang membantu suaminya memperbaiki jaring mereka, dan hari itu sangat panas sehingga dia hanya mengenakan kaus pendek yang longgar di bagian atas, dengan tangan terangkat tinggi di atas tali untuk memperbaiki jaring. Jordan melupakan kejadian itu setelah beberapa hari, tetapi Michael menyimpan dendam dan memutuskan untuk membunuh saudaranya dan menculik istrinya.Jasmine teringat pada suatu hari dari tahun sebelumnya di mana ketiga kakak laki-lakinya bergegas berangkat ke laut di pagi buta, tepat saat jam menunjukkan pukul empat. Langit sangat gelap pada hari itu, dan udaranya sangat lembab. Di bawah perlindungan malam, kabut tebal dan berat bergulung masuk. Ketika ia melihat kakak-kakaknya pergi, Jasmine membaringkan dirinya di sofa untuk tidur siang. Tiba-tiba, ia mendengar suara berderit dan ketika ia membuka matanya, ia melihat seseorang sedang mengacak-acak sesuatu pada jam kakek yang tinggi. "Siapa di sana?" tanyanya dengan tajam. "Ini aku," suara kasar dan serak Michael terdengar."Kenapa kamu kembali?" Jasmine merasa tidak enak badan. "Aku sakit perut sekali karena suatu alasan. Aduh!" Jasmine tidak berpikir dia akan melihat suaminya lagi. Orang-orang mengatakan bahwa mereka pasti telah tersapu ke dalam pusaran gua ajaib, karena potongan-potongan perahunya telah ditemukan beberapa bagian. Suatu malam, tidak lama kemudian, Jasmine diperkosa oleh Michael yang penuh nafsu dan telah dirusak sejak saat itu. Jalan apa lagi yang bisa dipilih oleh seorang wanita yang kesepian dan lemah selain tunduk?Besok adalah ulang tahun ke-1 kematian suaminya. Ketika Jasmine sedang berdoa untuk suaminya yang telah meninggal, bayangan tiba-tiba muncul di belakangnya. "Kamu masih sangat sentimental, ya?" Jasmine terkejut, tapi segera memohon, "Michael, besok adalah ulang tahun kematian Jordan dan Kevin, aku ingin..." Michael tidak menunggu dia selesai berbicara dan dengan marah menghardiknya, "Kamu wanita yang menyedihkan. Kamu bisa berbaring di pelukan laki-laki lain tanpa peduli sama sekali, dan sekarang kamu memaksa diri untuk berpartisipasi dalam tradisi berduka kita yang penting ini. Cukup memberikan "mm" setengah hati dan kembali ke kamar tidurmu saja."Sebuah malam dengan angin yang kencang serta hujan yang mengguyur membuat jalur-jalur kasar di pulau itu semakin sulit untuk dilalui. Michael, Jasmine, dan seorang orang asing berangkat pada pagi hari untuk mendaki ke tebing tertinggi di pulau, tiba di sana sekitar tengah hari. Di puncak tebing, terdapat altar sederhana yang terbuat dari lempengan batu, dikelilingi oleh sebuah ruang terbuka seluas sepuluh meter persegi, dengan pulau di tiga sisinya dan laut di satu sisinya. Sisi yang menghadap laut adalah tebing yang curam, dan dua pohon pinus tua menjulur dari tepi tebing menuju laut, seolah-olah menarik jiwa para korban.Si orang asing dengan santai menempatkan anggur, makanan, dan camilan yang mereka bawa di atas altar. Michael, yang gemar minuman beralkohol, duduk di sana dengan tak segan-segan meminum minuman. Jasmine dan si orang asing duduk diam, menatap laut.Di bawah tebing, sekitar 500 kaki di bawah, terletak samudra luas, dengan ombaknya yang bergulung. Sekitar lima kilometer di sana ada sebuah pulau besar bernama Pulau Bintan, sedangkan pulau kecil lainnya diberi nama Pulau Gua Ajaib. Laut antara dua pulau itu terlihat agak tidak biasa, dengan ribuan gelombang kecil yang bergerak cepat dan menciptakan rasa takut yang tidak menentu.Jasmine menatap laut dan semakin takut. Suara ombak semakin keras, seakan puluhan ribu kuda berlari mendekatinya. Ombak-ombak menjadi semakin ganas dan tiba-tiba ombak kecil yang sebelumnya di sebar rata berkumpul membentuk arus besar yang mengalir ke arah timur. Dalam beberapa menit saja, laut mendidih seperti air yang dipanaskan di dalam panci dan menjadi ganas serta tidak terkendali. Tempat paling berbahaya ada di antara Pulau Gua Ajaib dan pesisir laut, tempat dimana ombak besar muncul, mengalir ke arah timur dan barat, dan kemudian menjadi jutaan pusaran yang ganas. Tak lama kemudian, laut menjadi semakin ganas dan pusaran-pusaran yang berputar itu terus menyebarkan diri membentuk lingkaran besar. Yang muncul jelas di depan matanya adalah pusaran yang sangat besar dengan lebar sekitar dua kilometer yang memiliki arus yang sangat kuat. Pinggiran pusaran besar itu dikelilingi oleh sabuk putih, yang sebenarnya adalah busa putih yang diciptakan oleh tabrakan antara ombak-ombak kecil. Dinding dalam pusaran itu cenderung miring hingga ke dasar laut yang dalam dan air laut yang hitam itu mengeluarkan suara yang menakutkan.Pada saat itu, Jasmine merasakan goyangan batu gunung di bawah kakinya. "Apakah ini 'Pusaran Gua'?" Jasmine menggenggam erat lengan orang asing yang berada di sampingnya.Apakah Jordan yang malang menghilang di pusaran mengerikan ini? Cemas tentang Jordan, si orang asing berbisik kepada Jasmine tentang asal usul pusaran air itu. Sementara itu, Michael telah mabuk dengan dirinya sendiri.Pembentukan pusaran dipengaruhi terutama oleh pasang surut, tetapi ada jendela waktu khusus yang berlangsung sekitar 15 menit, terletak di antara pasang dan surut. Pola ini sangat stabil. Individu yang berani dapat memanfaatkan periode 15 menit ini untuk menavigasi area pusaran, dan berani menjelajahi area laut lain di mana orang lain tidak berani pergi memancing untuk lebih banyak ikan. Namun, kelalaian kecil dalam faktor seperti arah angin, kecepatan arus, atau waktu, dapat mengakibatkan terhisap oleh pusaran dengan konsekuensi yang sangat fatal.Mendengar hal ini, Jasmine tak kuasa menahan tangis, seolah terbangun dari mimpi buruk, ia dengan sedih berkata, "Sekarang saya mengerti sepenuhnya, pusaran air yang keji inilah yang merenggut Jordan-ku. Mengapa Tuhan tidak menghukumnya?"Orang asing itu menepuk pundaknya dengan lembut, lalu berbalik untuk melihat Michael, yang mabuk seperti lumpur, dan tiba-tiba melepaskan seutas benang panjang dari pinggangnya dan mengikat Michael. Michael terbangun oleh angin laut dan melihat sekelilingnya dengan ngeri pada pemandangan itu.Orang asing itu berpaling pada Jasmine lalu berkata, "Sekarang aku akan bercerita". Kemudian dia berkata pada Michael, yang sedang berteriak dengan tidak terkendali, "Tuan Michael, Anda harus sabar dan menunggu sampai aku selesai bercerita. Kemudian Anda akan dilepaskan." Jasmine memandang orang asing itu dengan aneh dan mendengarkan ceritanya. Di pulau ini, ada tiga bersaudara yang sering melintasi pusaran berbahaya untuk memancing di laut yang belum terjamah. Mereka sangat memperhatikan perubahan pasang surut dan selalu menyetel jam mereka sebelum meninggalkan rumah. Keluarga mereka memiliki jam buatan pembuat jam terkenal dari Swiss yang dirawat oleh seorang ahli jam setiap tahunnya. Jam tersebut adalah jam ternama di daerah itu yang tidak pernah bermasalah. Mereka juga ahli dalam pengamatan angin. Karena sudah melakukan ini selama tujuh tahun, namun menyebrangi perairan yang berbahaya dalam waktu lima belas menit tidaklah cukup, dan terkadang penundaan satu atau dua menit dalam mencapai tujuan bisa membuat mereka merinding.
Es Teh Gratis
Delila berjalan pulang dengan lesu. Tubuhnya membungkuk seperti bunga yang layu. Hari ini sungguh berat baginya. Prnya tertinggal di rumah. Nilai ulangannya terjun ke dalam jurang remedial. Tangannya tertusuk pensil. Dan entah bagaimana, penghapusnya terbakar.Delila menghela napas. Teriknya matahari berhasil membuat tubuhnya bercucuran keringat. Diusapnya keringat yang menetes dari keningnya. “Ah, hari gini, enak kalau minum yang seger–seger,” pikirnya.Rupanya, ia tidak sepenuhnya tidak mujur hari ini. Mungkin sudah takdir, seorang lelaki—sepertinya pedagang kaki lima—menghampiri Delila dan menawarinya minuman. “Eh, dek, kamu mau tah, es teh?” tanya lelaki itu. “Gratis, lho, dek.” “Wah, mau dong, bang!” seru Delila tanpa berpikir panjang.Tak diingat perkataan ibunya untuk selalu waspada terhadap pemberian makanan ataupun minuman dari orang asing. Yang hanya di pikirannya, “Asyik! Panas–panas gini, dapet minuman seger, gratis lagi!”Diambilnya es teh berwadah kantong plastik itu dari tangan si lelaki. Setelah mengucapkan terimakasih, ia melanjutkan perjalanannya.Rumah Delila memang cukup jauh dari sekolah. Biasanya, perjalanan pulang membutuhkan waktu empat puluh lima menit berjalan kaki. Tetapi, hari ini, Delila memutuskan untuk melewati jalan pintas melalui hutan jati yang hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit karena—entah mengapa—kepalanya terasa sangat berat. Mungkin karena ia terlalu lama terpapar sinar matahari. Entahlah. Yang jelas, ia ingin segera pulang.Sebenarnya, ia enggan melewati hutan jati. Hutan tersebut terkenal akan pohon–pohon yang lebat dan menjulang tinggi, sehingga tidak banyak cahaya yang dapat memasuki tempat itu. Namun, hari ini, matahari bersinar sangat terang, sehingga hutan jati itu tidak terlalu gelap. Delila pun memberanikan diri untuk memasuki hutan itu.Delila berjalan dengan cepat. Ia ingin segera keluar dari tempat itu. Tidak lupa sesekali ia menyeruput minuman es tehnya yang ia dapatkan secara gratis.Ia menyadari ada yang aneh dari es teh tersebut. Seharusnya, es teh itu membuat dirinya merasa segar. Tetapi, setiap meminumnya, rasanya lidahnya semakin kering. Sepertinya ada yang salah dari minuman itu, tetapi Delila tidak dapat menemukan kesalahan apapun.Es teh itu terlihat seperti es teh biasa. Warnanya seperti teh pada umumnya, cokelat transparan. Rasanya juga biasa saja, manis, seperti—eh? Delila menyeruput lagi minumannya itu. Ia cicipi dengan baik. Kali ini, Delila merasakan sesuatu yang tidak biasa. Seperti ada rasa asin yang samar di dalam tehnya.Barulah Delila mengingat perkataan ibunya. “Jangan sembarangan makan atau minum pemberian orang yang nggak kamu kenal, lho ya!” begitu kata Ibu.Matanya melebar ketika ia menyadari apa yang telah ia lakukan. Ia lengah. Tetapi, apa boleh buat. Nasi sudah menjadi bubur. Ia sudah meminum setengah bungkus es teh tersebut. Hatinya berdegub kencang. Pikirannya kacau.
Spirit Doll di Rumah Hantu Kami Menyerap Arwah dari Rumah Sakit
Ibu tak pernah mengira boneka bayi yang dia beli akan menjadi spirit doll, menyerap banyak arwah dari rumah hantu dan rumah sakit.Lima tahun lalu, bungkusan paket besar sampai ke rumah keluarga saya. Sebuah rumah yang sudah dikenal angker oleh tetangga. Semacam rumah hantu di tengah perumahan.Paket yang datang berisi sebuah boneka bayi yang mirip sekali dengan bayi manusia. Wajahnya yang bulat dan tembam terbuat dari plastik keras, begitu pula tangan dan kakinya yang mungil. Sedangkan badannya yang seukuran bayi asli terbuat dari kapas empuk dan nyaman untuk dipeluk.Dia diberi nama Bodhi. Kelak, boneka biasa ini berubah jadi spirit doll.Ya, saat itu, kami mengira Bodhi hanya boneka biasa. Sama seperti banyak boneka lain yang dibeli ibu untuk dikoleksi. Namun siapa sangka, kehadiran Bodhi akan membawa perubahan besar di keluarga saya.Kalau dipikir-pikir, itu karena kesalahan kami juga. Keluarga saya sangat menyukai Bodhi. Kami memperlakukannya dengan hangat, bahkan terlalu hangat… seolah-olah dia adalah bayi betulan. Apalagi kami melakukannya di dalam rumah yang dikenal sebagai rumah hantu ini. Perubahannya menjadi spirit doll tak pernah kami ketahui.Mula-mula kami hanya bercanda. Secara bergantian, kami mendudukkan Bodhi di kursi dan menidurkannya di kasur. Lalu kami mengganti-ganti bajunya, berlagak menyuapkan makanan ke mulutnya yang tertawa lebar, dan mengajaknya ngobrol. Semua berlangsung lebih dari setahun sampai rasanya Bodhi sudah menjadi bagian dari keluarga.Yang tak kami ketahui, harusnya kami tak melakukan itu. Sebab, benda mati yang terus-menerus diperlakukan sebagai makhluk hidup… bisa mengundang atau menyerap berbagai roh halus untuk bersemayam di dalamnya. Itulah awal perubahan Bodhi menjadi spirit doll. Perlahan, “isian” Bodhi jadi semakin banyak.Hal itu mulai terasa pada 2018. Saat bapak saya sakit parah dan harus dirawat inap di rumah sakit. Selama berminggu-minggu, kami bergantian menjaga beliau dan tak lupa mengajak Bodhi.Padahal, rumah sakit tempat bapak rawat inap itu cukup angker. Dibangun lebih dari 30 tahun lalu, rumah sakit ini menjadi saksi meninggalnya begitu banyak orang. Konon, di rumah sakit ini, terlalu banyak arwah yang belum bisa menerima kematiannya. Kadang terlihat hantu anak-anak yang suka berlarian, hantu perempuan yang menjerit-jerit saat malam, sosok hitam besar di koridor, dan masih banyak lagi.Dulu saya tak menyadari kalau arwah-arwah penasaran itu bisa menyusup ke dalam tubuh Bodhi dan mengubahnya menjadi spirit doll. Namun, sepertinya bapak sadar karena beliau lebih peka pada hal gaib. Saya, yang lama hidup di rumah hantu malah biasa saja. Ya bisa merasakan, tapi saya memilih untuk tidak memikirkannya.Suatu malam di rumah sakit, dengan tangannya yang lemah dan gemetaran, tiba-tiba bapak memeluk Bodhi dengan erat dan lama. Padahal beliau hampir tak pernah melakukan itu. Rasanya, bapak sedang berusaha melindungi Bodhi dari sesuatu yang tak kasatmata. Mungkin bapak sedang berusaha mencegah Bodhi menjadi “rumah” bagi banyak makhluk halus, mengubahnya menjadi spirit doll.Beberapa minggu setelah kejadian itu, bapak tak kuasa menahan penyakit di tubuhnya dan mengembuskan napas terakhir. Keluarga kami sangat sedih dan kaget. Di antara sedu sedan dan air mata, lagi-lagi Bodhi hadir di tengah kami. Bahkan dia diajak ke pemakaman bapak, meskipun hanya disimpan dalam tas.Selama bertahun-tahun, hidup di rumah hantu dan lama menginap di rumah sakit angker, membantu Bodhi menyerap kesedihan, kegembiraan, dan emosi-emosi lain dari keluarga kami sehingga membuatnya lebih “berisi”. Mulutnya memang masih tertawa lebar seperti biasa, tetapi sorot mata dan raut wajahnya mulai membuat kami tak nyaman. Seolah ada yang berubah.Setelah meninggalnya bapak, kami sudah yakin kalau Bodhi bukan boneka biasa lagi. Perasaan dia menjadi spirit doll sudah mulai sering kami obrolkan.“Sekarang kok aneh ya kalau megang Bodhi, kayak bukan dari plastik sama kapas. Nggak tahu ya… rasanya kayak bukan boneka,” kata ibu mulai curiga.Seperti almarhum bapak, ibu juga peka pada hal gaib. Setelah Bodhi ikut menginap selama berminggu-minggu di rumah sakit dan diajak ke pemakaman, ibu menjaga jarak dengan boneka bayi itu. Seiring waktu, ibu semakin yakin yang sering dia perlakukan dengan sayang berubah menjadi spirit doll.“Rasanya ada sesuatu di dalam Bodhi,” kata ibu dengan gelisah, “Nggak cuma satu, tapi ada banyak.”Saya merinding mendengarnya. Dengan hati-hati, saya meminta ibu untuk menjelaskan. Beliau sempat ragu untuk jujur bercerita, apalagi Bodhi adalah boneka kesayangan anak-anaknya. Namun, akhirnya beliau mau bercerita.Ibu cukup yakin kalau saat berada di luar rumah, khususnya di rumah sakit, Bodhi telah menarik arwah-arwah penasaran yang tak lagi memiliki raga dan membuatnya menjadi spirit doll. Kini mereka bersemayam di dalam tubuh boneka bayi ini. Yang lebih menyeramkan, ternyata Bodhi juga menyerap hantu-hantu yang menjadi penghuni rumah keluarga kami!Jadi, selama 18 tahun, keluarga kami menempati rumah yang cukup besar dan angker. Bagian luarnya tampak tua dan tak terawat. Seperti ada keheningan aneh yang menyelimutinya. Tak heran anak-anak tetangga yang lewat kadang menjerit, “Rumah hantu! Rumah hantu!”Kesan seram itu semakin bertambah saat memasuki rumah kami. Karena ibu dan almarhum bapak adalah seniman, mereka mengoleksi begitu banyak benda kesenian. Mulai dari lukisan tua, patung-patung berbagai ukuran, dan berbagai barang kerajinan lain yang tak jelas asal-usulnya. Semua itu disimpan di kamar-kamar yang jarang ditengok dan dirawat.Menurut beberapa kerabat kami yang bisa berkomunikasi dengan makhluk halus, kamar-kamar yang jarang dirawat itu bisa dan sudah menjadi “sarang” mereka. Buktinya, saat berkunjung ke “rumah hantu kami”, mereka pernah melihat hantu perempuan berambut panjang mengintip dari jendela kamar yang sudah lama terlantar. Sungguh bikin jantungan.Penampakan lainnya muncul di salah satu kamar mandi yang sudah bertahun-tahun tidak dipakai. Ibu pernah mendengar suara gemericik air dari sana. Saat diintip, ternyata ada seorang anak kecil yang sedang cuci tangan di kamar mandi.Sosoknya hanya terlihat dari belakang, tetapi jelas sekali kalau dia bukan manusia. Kaos dan celana pendek yang dipakainya tampak terkoyak dan kotor oleh darah. Sedangkan tubuhnya abu-abu kusam, agak transparan, dan mengeluarkan bau yang aneh.Sontak ibu langsung berlari masuk ke kamar dan menguncinya rapat-rapat. Beliau gemetaran bukan main.Pada hari-hari berikutnya, beliau kembali melihat penampakan anak kecil di kamar mandi itu. Mereka muncul bergantian, ada yang bertubuh tinggi dan pendek, tetapi sama-sama menyeramkan.Ibu menduga kalau hantu anak-anak kecil itulah yang masuk ke dalam tubuh Bodhi, boneka bayi kesayangan kami. Entah yang mana yang berasal dari rumah sakit atau dari rumah kami yang dikenal tetangga sebagai rumah hantu.Di berbagai negara, biasanya spirit doll memang berisi arwah bayi atau anak kecil yang sudah meninggal. Barangkali mereka senang menjadi boneka karena bisa dirawat oleh “orang tua” masing-masing dengan penuh kasih sayang.Setelah menyadari kalau Bodhi menampung banyak arwah, ibu mulai sering mengalami kejadian aneh. Beliau pernah terbangun tengah malam di kamar dan melihat ada bayangan hitam di hadapannya.Dalam kondisi kaget dan ketakutan, tiba-tiba kedua kakinya ditarik ke bawah. Ibu berusaha meronta-ronta agar lepas, tetapi tarikan itu semakin kuat, dan akhirnya beliau pingsan.Saat terbangun di pagi hari, ibu melihat Bodhi duduk di kursi yang tak jauh dari tempat tidurnya. Padahal, sebelumnya, kursi itu kosong tidak ada yang duduk di atasnya.Dengan ngeri, beliau menyambar Bodhi dan langsung memasukkannya ke dalam lemari. Lantas beliau berdoa agar apa pun yang berada di dalam Bodhi tidak mengganggu keluarga kami lagi. keyakinan ibu sudah bulat kalau Bodhi sudah menjadi spirit doll tanpa kami kehendaki.Hal itu terjadi sekitar dua tahun lalu. Sampai sekarang, Bodhi masih disimpan di dalam lemari dan kami tak pernah bermain-main lagi dengannya, bahkan hampir tak pernah melihatnya.Sementara itu, kadang-kadang ibu masih berdoa untuk Bodhi. Suatu saat nanti, beliau juga ingin merukiah Bodhi supaya boneka bayi ini kembali “bersih”. Sampai saat itu terjadi, Bodhi tetap disimpan di dalam lemari.Namun sungguh aneh, beberapa kali pintu lemari itu pernah terbuka sendiri, dan Bodhi menggelinding ke luar….
Sumur Tua di Belakang Rumah yang memikat Orang untuk Bunuh Diri
Sumur itu seperti mempunyai magnet. Menarik orang untuk mendekat dan bunuh diri dengan menceburkan diri. Misteri yang tak terpecahkan hingga kini.Dua rumah itu menempel satu sama lain. Sebagai sumber air, keduanya berbagi satu sumur. Airnya bagus, tidak pernah habis atau menjadi dangkal, bahkan di musim kemarau yang keras. Masalahnya, sumur itu seperti mempunyai magnet. Menarik orang yang sedang tidak “lurus” untuk terjun ke dalamnya; bunuh diri.Sebenarnya, dahulu, dua rumah itu adalah satu bangunan. Namun, oleh pemiliknya yang tidak lagi mukim di Jogja, dibagi menjadi dua untuk dikontrakkan. Rumah sisi kiri ditempati oleh sebuah keluarga yang tertutup dan konon mengidap gangguan jiwa. Sementara itu, sisi kanan digunakan sebagai tempat jasa. Saya tidak boleh menyebutkan jenis usahanya karena akan dapat dengan mudah diidentifikasi oleh pembaca yang akrab dengan daerah di sekitar sebuah stadion.Mundur jauh ke belakang, sebelum rumah itu dibagi menjadi dua, ada sebuah keluarga yang menghuninya. Bukan, keluarga ini bukan pemilik sah. Saya dan keluarga tidak begitu tahu asal-usul keluarga tersebut. Satu hal yang pasti, keluarga itu sudah mukim di sana sejak zaman buyut masih ada.Keluarga tersebut dari satu keluarga inti berjumlah lima orang; orang tua dan tiga anak. Selain itu, ada sepupu mereka yang ikut mukim di sana. Mereka mempunyai kebiasaan untuk duduk meriung di sekitar sumur itu untuk mengobrol sampai melakukan kegiatan sehari-hari seperti memasak dan mencuci. Tetangga bisa melihat aktivitas mereka karena tembok belakang rumah pendek saja, tidak seperti sekarang yang sudah ditiunggikan.Kasus percobaan bunuh diri yang pertama terjadi tidak lama setelah si sepupu mulai ikut tinggal di sana. Sebuah kejadian yang menggegerkan satu kampung.Kasus bunuh diri pertamaSi sepupu ini bernama Kelik. Tentu saja bukan nama sebenarnya. Usianya baru awal 30 tahun kalau saya tidak salah mengingat. Sebagai pendatang, Kelik sangat mudah akrab dengan pemuda setempat. Dia selalu punya tabungan tema untuk membuka obrolan dengan orang yang baru ditemui. Dia cukup kuat minum alkohol. Sifat yang membuatnya langsung disukai para pemuda.Namun, kalau sudah mulai mabuk, Kelik suka meracau. Para pemuda zaman itu menganggapnya sebagai hal yang wajar. Orang mabuk memang suka menunjukkan perilaku yang terbilang ajaib. Anehnya, racauan Kelik ya itu-itu saja. Soal penunggu sumur, seorang perempuan yang masih remaja, dengan senyum menggoda. Si penunggu ini, kata Kelik, sering bilang kalau air di dalam sumur itu ajaib dan bisa menyembuhkan banyak penyakit dan kesusahan hidup.Yah, tidak ada yang menyangka kalau racauan itu sebetulnya penanda ketakutan Kelik. Lantaran dibalut dengan kondisi mabuk, tidak ada yang menganggapnya serius. Apalagi, sebelumnya, tidak pernah ada cerita seram dari rumah dan sumur tua di belakangnya. Semuanya baik-baik saja sampai Kelik melompat ke dalam sumur itu untuk bunuh diri.Percobaan bunuh diri Kelik ini sungguh dramatis. Kejadiannya di siang bolong dan banyak saksi.Tetangga samping dan belakang rumah bisa melihat kejadian horor itu. Kelik berlari dengan cepat, naik ke bibir sumur, dan melompat ke dalam. Konon, ada yang melihatnya menangis ketika melakukan percobaan bunuh diri itu. Saya sebut “percobaan” karena Kelik berhasil diselamatkan.Warga langsung menghambur ke sumur tua itu. Para pemuda mengikat dirinya menggunakan tali tampar yang panjang dan kuat. Mereka mengerek Kelik ke atas. Terlambat sedikit, Kelik pasti meninggal mengingat dia tidak bisa berenang dan bisa jadi mati tercekik oleh gas di dalam sumur. Mengerikan.Beberapa jam kemudian, di rumah sakit, Kelik akhirnya sadar. Perwakilan keluarga menunggu di dalam, sementara para pemuda berjaga di luar. Setelah bisa berkomunikasi, Kelik menceritakan detik-detik kejadian percobaan bunuh diri yang dia lakukan. Semua yang hadir mendengarkan dengan tegang.Siang itu, Kelik baru selesai makan lalu berbaring di ruang depan. Ketika berada dalam kondisi setengah sadar sebelum tertidur, kaki Kelik dipegang oleh anak perempuan yang katanya menunggu sumur tua itu.Seketika Kelik merasa sangat sedih dan ingin menemani si anak perempuan itu. Perasaan itu sangat kuat dan dia tidak sadar sudah berdiri di pintu belakang rumah. Dia bisa melihat si anak perempuan itu melompat ke dalam sumur. Niat awal Kelik adalah mencegah anak perempuan itu untuk “bunuh diri”. Namun, yang akhirnya dia sadari adalah dirinya ikut menceburkan diri ke sumur.Setelah sadar dan diizinkan pulang, Kelik lebih banyak di luar rumah. Seakan-akan dia takut untuk pulang. Bahkan pernah dia menginap di pos ronda selama beberapa hari. Di lain kesempatan, dia tidur di balai-balai di depan rumah tetangga. Kami tahu kelik ketakutan, tapi dia tidak bisa menceritakan ketakutan itu. Iya, dia merasa tidak bisa, bukannya tidak ingin.Kejadian bunuh diri keduaDua bulan kemudian, Kelik memutuskan untuk pergi. Kami dengar dia pergi ke Sumatera untuk bekerja di perkebunan sawit yang baru buka. Di satu sisi kami kehilangan sosok yang pintar mencari tema obrolan. Namun, setidaknya, kejadian horor percobaan bunuh diri tidak akan terjadi lagi. Setidaknya itulah prediksi kami. Kalau sudah begini, pembaca pasti tahu kalau prediksi kami salah.
Wanita Menakutkan di Lorong Asrama di Malam Hari
Pada pukul 23.50, aku menerima pesan singkat dari teman sekamarku, "Yetty, bisakah kamu segera datang ke kamar mandi untuk menjemputku? Ada seseorang yang berhenti di luar bilikku."Koridor di asrama sangat tidak aman akhir-akhir ini. Aku sedang berniat untuk mematikan ponsel dan berpura-pura tidur, tetapi tiba-tiba dia melakukan panggilan video ....1Aku teringat pada unggahan yang baru saja aku baca, "Asrama perempuan Gedung B, Lantai 3, setelah pukul 23.30 malam, akan ada seorang perempuan dengan wajah hancur yang membawa tali dan berjalan-jalan di lorong."Beberapa hari yang lalu, ada satu komentar yang mengatakan ingin bertemu dengan perempuan yang mengunggah hal itu. Pemilik lantai tersebut selalu melakukan pembaruan setiap hari. Dua hari yang lalu, dia mengatakan bahwa dia sepertinya melihat orang itu.Waktunya juga pukul 23.50. Sejak saat itu, lantai ini tidak pernah memperbarui informasi lagi.Aku hanya bisa berdoa, semoga unggahan ini hanyalah lelucon dari sekelompok orang yang bosan."Yetty! Tolong jemput aku sekarang juga. Aku sudah terlalu lama menunggu di sini. Orang itu terus berdiri di luar dan tidak bergerak. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku sungguh sangat ketakutan."Aku dengan berat hati memutuskan untuk berpura-pura sudah tidur dan menekan tombol matikan. Namun, pada detik berikutnya, Valen pun melakukan panggilan video.Jari-jariku tak sengaja menekannya.Tiba-tiba, hatiku menjadi sangat takut saat panggilan video terhubung.Dengan cahaya yang menyelinap masuk dari luar jendela kamar mandi, aku melihat Valen gemetar. Dia menggunakan jarinya untuk menutup mulutnya, memberi isyarat agar aku tidak bersuara. Kemudian, dia membalikkan lensa kamera ponselnya.Sebuah sepatu bola perempuan yang sangat kotor tampak di luar. Orang itu tidak jelas sedang menunggu apa. Dia hanya berdiri diam di luar.Beberapa helai rambut terjatuh. Segera, wajah tanpa fitur yang jelas pun muncul secara tiba-tiba di dalam lensa.Perempuan itu tengah melihat ke dalam bilik toilet dari arah bawah.Perempuan itu berwajah hancur. Aku yakin dia adalah perempuan berwajah hancurseperti yang disebutkan dalam unggahan itu!Perempuan berwajah hancuritu menampilkan senyuman yang menyeramkan.Aku dapat memahami bahwa dia menggunakan gerakan bibirnya untuk mengatakan kepadaku, "Aku telah datang mencarimu."Panggilan video langsung terputus.2Saat berikutnya, tiba-tiba, suara keras terdengar. Pintu asrama didorong keras oleh seseorang, ternyata orang itu sudah berdiri di luar pintu!Suara ini membuat aku ketakutan. Ketika aku gemetar sambil berusaha menelepon nomor darurat polisi, suara terbuka jendela dari balkon terdengar.Dengan mata membelalak, aku melihat perempuan itu menggunakan kedua tangannya untuk merayap masuk dari luar jendela.Di momen genting, yang aku lihat adalah bola matanya yang jseperti bola kamper yang berputar.3Pukul 23.40.Suara pintu tertutup membangunkanku.Leherku masih sangat sakit. Sensasi menggigit yang baru saja menyerangku masih terasa. Aku terpaku memandangi sosok yang akrab melintas."Valen!"Aku terperanjat, lalu segera mulai bernapas dengan cepat dan berat.Apakah yang baru saja terjadi hanyalah mimpi buruk?Pada 23.50, ketika aku sedang asyik menonton video, pesan Whatsapp yang muncul membuatku merasa tenggelam dalam keputusasaan."Yetty! Bisakah kamu segera datang ke kamar mandi untuk menjemputku? Ada seseorang yang berhenti di luar bilikku."Setiap kata itu terpampang di depan mataku dengan sangat jelas. Itu terasa sungguh nyata. Aku segera menelepon polisi untuk melaporkan situasi sekarang dan meminta mereka datang secepat mungkin. Lantaran gugup, aku melompat dari tempat tidur tanpa mengenakan sepatu.Benar, aku harus melarikan diri.Maaf, Valen. Kita sama-sama tidak mampu melawan perempuan itu. Aku sudah melakukan semua yang aku bisa, sekarang aku hanya ingin menyelamatkan nyawaku sendiri. Aku harap kamu bisa memahaminya.4Napasku terasa berat. Dengan gemetar, aku membuka pintu kamar dan memasuki lorong. Setelah setengah jalan, aku akan dapat melihat tangga. Itu berarti bahwa aku akan selamat.Aku berjalan dengan hati-hati di lantai karena takut mengganggu perempuan itu. Namun, sebelum aku berjalan cukup jauh, layar ponselku menyala.Ini adalah panggilan video dari Valen.Di seberang lorong, seseorang melompat keluar dari kegelapan. Kecepatannya beberapa kali lipat daripadaku. Aku bisa mendengar tawa aneh perempuan itu yang makin mendekat.Pada saat jari-jariku hampir menyentuh pegangan tangga, seseorang meraih rambutku dengan kuat.Dua jari langsung menusuk mataku.5Aku terbangun lagi pada pukul 22.00.Valen belum kembali ke asrama. Aku tidak tahu dia berada di mana.Pada saat ini, aku tiba-tiba menyadari bahwa aku sepertinya telah memasuki siklus yang berulang.Waktu selalu berjalan mundur. Setiap kali setelah Valen meninggal, orang berikutnya yang akan menjadi korban adalah aku. Namun, aku tidak bersalah. Siklus ini adalah kesempatan yang diberikan oleh takdir untuk melarikan diri.Aku langsung menelepon Valen.Sambil mengemas barang, aku menelepon dia. "Jadi, jangan salahkan aku tidak mengingatkanmu. Malam ini, pada pukul 23.50, jangan pergi ke kamar mandi. Aku tidak akan tinggal di asrama lagi, jaga dirimu sendiri."Setelah mengemas barang dengan cepat, aku menaiki taksi menuju jalan paling ramai di pusat kota dan memaksakan diri untuk menginap di hotel yang sangat mahal.Aku sudah memberi tahu resepsionis sebelumnya, bahwa aku berharap mereka bisa tepat waktu mengetuk pintu kamarku pukul 23.50 karena kemungkinan malam ini aku akan mengalami beberapa masalah.Setelah mematikan lampu, aku berbaring di atas tempat tidur dan baru sadar bahwa di dinding sebelah tempat tidur, tergantung sebuah lukisan minyak, yaitu siluet perempuan.Pukul 23.30, Valen bertanya kepadaku di mana aku berada. Aku menjawab jujur dan juga menanyakan apakah dia ingin datang bersama, tetapi dia tidak merespons.Pukul 23.40, aku melakukan panggilan video kepada Valen. "Untuk menghindari waktu yang kamu sebutkan, aku sudah pergi ke kamar mandi lebih awal pada pukul 23.30. Karena kamu membuatku ketakutan, aku lupa membawa ponselku. Ketika kembali, pintu asrama terbuka. Aku pikir ada pencuri masuk. Itu membuatku terkejut."Pukul 23.30 ....Pada waktu itu, Valen tidak membawa ponsel. Lalu, siapa yang mengirim pesan dan menanyakan di mana aku berada?6Di dinding sebelah tempat tidur, ada sebuah jendela.Saat ini, aku sedang menatap pemandangan malam di kota ini dengan ketakutan. Bayangan wanita yang muncul tadi telah menghilang.Hingga ....Terdengar sebuah suara.Di lorong yang gelap, perempuan itu berdiri di depan pintu. Dengan setengah wajahnya yang hancur, dia menampilkan senyuman menakutkan.Dia memegang seutas tali yang tebal dan menutup pintunya.....Pada saat aku menutup mata, aku bisa mendengar suara resepsionis di luar pintu.Sayangnya, semua itu sudah terlambat.
Bayangan di Lembah Kering
Alya berlari menembus semak berduri, napasnya terputus-putus, lututnya perih, dan udara panas gurun menghantam wajahnya seperti pecahan kaca. Suara tembakan terdengar lagi, memantul di antara tebing batu yang menjulang. Ia menoleh sekilas dan menemukan satu-satunya hal yang membuatnya tetap bergerak, Arga, tepat di belakangnya, wajah penuh debu, tapi matanya masih tajam mengawasi keadaan sekitar."Alya, kiri!" teriak Arga.Ia meloncat ke samping, dan peluru menghantam batu di depan tempat ia berdiri. Pecahan serpihan beterbangan. Tubuhnya goyah. Arga menangkap lengannya, menstabilkan langkahnya. Sentuhan itu cepat, hanya sepersekian detik, tapi cukup membuat jantung Alya berdebar lebih kencang dari ancaman kematian yang mengikuti.Mereka harus terus maju. Sudah tiga hari mereka terjebak di lembah kering ini, berusaha kabur dari kelompok pemburu bayaran yang sebelumnya menculik rombongan ekspedisi tempat mereka bekerja. Dari dua belas orang, hanya mereka berdua yang selamat. Selebihnya entah mati atau diangkut entah ke mana.Tiga orang lain yang kini bersama mereka hanyalah sisa-sisa kekuatan perjuangan, Reno, mantan tentara yang kini pincang setelah terkena ranjau buatan.Sera, mahasiswa magang yang mentalnya mulai retak setelah melihat kematian teman-temannya.Pak Darun, sopir tua yang lebih banyak berdoa daripada berbicara.Mereka bukan kelompok penyelamat yang ideal. Mereka hanyalah manusia-manusia yang belum sempat mati.Alya dan Arga kembali ke tempat persembunyian, celah sempit di antara bebatuan besar. Reno mengintip dari balik batu, wajahnya pucat."Mereka sudah makin dekat," katanya dengan suara pelan. "Aku bisa dengar suara ban mobil dari bawah lembah."Sera menutup telinganya. "Kenapa mereka terus kejar kita? Kita cuma peneliti. Kita bahkan ga ngerti apa yang mereka cari."Pak Darun menjawab lirih, "Karena mereka kira kalian tahu tempat penyimpanan artefak itu. Padahal kita bahkan belum lihat bentuknya."Alya duduk, menahan rasa sakit di kakinya. Debu kering menyatu dengan darah segar. Arga berlutut di depannya, memeriksa luka tanpa meminta izin. Tangan itu cekatan, tapi lembut. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, kini mereka tak menyembunyikan perhatian satu sama lain. Situasinya terlalu kacau untuk pura-pura dingin."Kamu harus berhenti nekat lari seperti itu," gumam Arga.Alya memutar bola mata. "Kamu yang lambat."Bibir Arga terangkat tipis. Sekilas, mereka terlihat seperti orang normal yang sedang bercanda ringan, bukan dua manusia yang dikejar kematian. Reno memperhatikan interaksi itu dengan tatapan half-annoyed seperti orang tua yang muak melihat dua remaja saling jatuh cinta di tengah krisis hidup dan mati.Menjelang malam, suhu turun tajam. Udara menggigit tulang. Mereka berlima berlindung dalam gelap, hanya diterangi cahaya rembulan yang jatuh samar ke lembah. Suara serangga malam bercampur dengan langkah-langkah samar musuh yang semakin mendekat.Alya memejamkan mata, mencoba menenangkan napas. Tapi pikiran tentang tiga hari terakhir terus menghantuinya, jeritan, darah, tubuh-tubuh yang tertinggal, dan rasa bersalah yang mencengkram.Arga duduk tak jauh darinya. Ia menyentuh bahunya, pelan, tidak memaksa. "Tidur sebentar. Aku jaga."Alya membuka mata. "Kalau aku tidur, kamu kapan istirahat?""Kalau kamu mati kecapekan, aku harus lari sendiri. Itu lebih melelahkan."Alya menatapnya, mencoba membaca apakah ini candaan atau kebenaran pahit. Arga hanya menatap balik dengan mata yang tak lelah, hanya tekad. "Kita keluar sama-sama," katanya pelan.Untuk pertama kalinya sejak kekacauan itu dimulai, Alya merasa dirinya masih manusia yang layak diselamatkan.Pagi berikutnya membawa ketegangan baru. Mereka mendengar suara mesin mobil mendekat. Lembah yang sempit memperkuat gema suara itu. Musuh makin dekat."Kita ga bisa diam di sini," kata Reno. "Mereka akan temukan kita.""Lari lagi?" Sera mulai panik. "Aku ga kuat.""Kita turun ke jurang itu," kata Arga sambil menunjuk celah sempit di dasar lembah. "Ada aliran air kecil di bawah. Kalau kita bisa ikuti itu, kita mungkin bisa keluar ke sisi timur.""Turunnya saja sudah bunuh diri," sahut Reno."Aku lebih pilih itu daripada ditembak di sini," timpal Arga.Mereka semua setuju. Pilihan buruk tetap lebih baik daripada tidak punya pilihan sama sekali.Turunan itu curam. Batuan licin. Alya hampir jatuh dua kali, tapi Arga selalu ada satu langkah di belakang, siap menangkapnya. Ketika mereka sampai di dasar, air sungai kecil menyambut, dingin dan jernih.Reno duduk terengah, wajah menahan sakit. Luka kakinya makin parah."Kita ga bisa bawa dia jauh," bisik Sera.Alya menatap Arga. Arga paham tanpa perlu dijelaskan. Ia mendekati Reno."Aku bisa jalan," kata Reno cepat, seolah membacanya. "Tapi kalau mereka sudah dekat, jangan pikirkan aku."Tidak ada yang menjawab.Mereka berjalan menyusuri sungai. Arus air kecil itu mengarah ke celah batu yang membentuk lorong sempit. Cahaya di ujungnya tampak seperti pintu keluar.Lalu terdengar teriakan dari belakang, "Mereka melihat kita!"Peluru memantul di dinding batu. Sera menjerit. Alya dan Arga menarik Reno, memaksanya berjalan lebih cepat. Pak Darun menangkupkan tangan, berdoa sambil berlari. Suara langkah musuh makin nyaring.Saat mereka hampir mencapai celah, Reno melepaskan pegangan."Sudah!" katanya. "Pergi. Sekarang!""Tidak," Alya menolak.Reno mendorong Arga. "Bawa dia. Kalau kalian berhenti, semua mati."Arga menarik Alya paksa. "Alya, jangan keras kepala."Reno berbalik, mengambil posisi bertahan di belakang batu, siap menghadapi musuh seorang diri. Tembakan pertama terdengar. Lalu kedua. Lalu hening.Alya ingin menoleh, tapi Arga menahan wajahnya agar tetap memandang ke depan. "Jangan lihat."Mereka masuk ke celah batu sempit dan merayap hingga akhirnya sinar matahari menyambut mereka di sisi timur lembah. Dari kejauhan terlihat jejak permukiman kecil."Kita selamat," gumam Pak Darun dengan suara gemetar.Alya jatuh terduduk, menangis diam-diam. Arga duduk di sampingnya, tidak menyentuhnya, hanya berada cukup dekat agar ia tahu bahwa ia tidak sendirian."Kita selamat," ulang Arga, kali ini lebih pelan. "Dan kita akan terus hidup."Untuk pertama kalinya dalam tiga hari, Alya percaya itu.
Rumah misterius
Di sebuah kota kecil bernama Rosadale, terdapat sebuah rumah tua yang sudah terbengkalai selama beberapa tahun. Rumah itu di tinggali oleh seorang wanita tua yang pendiam dan jarang berbicara dengan tetangga sekitarnya. Tidak ada yang tahu banyak tentang wanita itu kecuali bahwa dia telah kehilangan suaminya dalam kecelakaan mobil beberapa tahun yang lalu.Banyak yang mengatakan bahwa rumah itu terkutuk dan ada sesuatu yang sangat mengerikan terjadi di dalamnya. Tapi seperti halnya dengan sebagian besar cerita horor, tidak ada yang pernah benar-benar tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi.Hingga suatu malam sebuah kelompok remaja yang terdiri dari 4 orang, terdorong untuk mengeksplorasi rumah itu. Mereka ingin melihat sendiri apakah rumor rumor horor tentang rumah itu benar adanya atau tidak. Tanpa sepengetahuan orang tua mereka, mereka mencoba memanjat pagar dan mencoba membuka pintu rumah itu.Setelah beberapa saat merayap di pagar itu mereka akhirnya menemukan pintu belakang yang terbuka. Tidak ada yang berbicara saat mereka memasuki rumah itu, hanya suara langkah kaki mereka yang menciptakan suara seperti gemericik air hujan di lantai tua itu.Ketika mereka masuk ke dalam ruangan utama, mereka merasakan bahwa ada sesuatu yang ganjil di dalam rumah itu. Cukup lama mereka merasa kesepian dan kosong. Namun, semakin mereka melanjutkan pencarian mereka, semakin banyak pula yang mereka temukan. Mereka menemukan foto-foto tua, perabotan lama dan di dalam cupboards gelap, mereka menemukan kulit binatang dan tulangnya sekaligus. Hal itu membuat mereka merasa takut namun mereka tidak patah semangat untuk menggali lebih dalam lagi ke dalam rumah itu.Hingga pada saat mereka tiba di tangga yang menuju ke kamar atas mereka mendengar suara bisikan-bisikan misterius yang datang dari beberapa kamar, ketika tiba di kamar dengan pintu yang terkunci, mereka melihat kalau ada seorang wanita yang tidak di kenal terbaring di kasur itu.Tubuh si wanita itu di tutupi oleh selimut yang tidak meresap, di samping kasur itu juga terdapat sebuah kotak kayu besar yang misterius. Dengan penuh rasa ingin tahu mereka akhirnya mengambil kotak itu dan membukanya.Namun, apa yang mereka temukan mampu membuat nafas mereka sementara berhenti untuk sesaat. Di dalam kotak itu terdapat kepala manusia yang menatap lurus pada mereka dengan leher yang masih tercium darah baru. Pada saat itu juga sekelompok remaja tersebut menyadari bahwa mereka tidak sendirian di dalam rumah. Hingga pada akhirnya mereka lari berhamburan, mereka di kejar sampai ke dalam Lorong gelap dan terperangkap di dalam rumah itu. Yang mereka hadapi bukanlah wanita tua yang kesepian melainkan sesuatu yang kejam dan ganas, itu adalah setan dari dunia lain yang bersembunyi di balik kisah-kisah horor yang memanggil mereka untuk masuk ke dalam rumah ini.Remaja itu tidak pernah terlihat lagi setelah malam itu, ada yang mengatakan bahwa mereka terkutuk dan akan menghantui rumah itu selamanya sementara yang lain berkata bahwa mereka telah menjadi korban kekuatan jahat yang ada di dalam rumah yang terlantar itu. Siapa yang tahu tetapi suatu hal yang pasti rumah itu masih berdiri dan misterius sampai hari ini.
Kepulangan yang Gila
Kelakar tawa menggema di ruangan yang tak lebih dari 4 x 4 meter persegi itu. Salah seorang berseru, “Lekaslah pulang, Kinai,” tegas dan disusul pecah tawa pria-pria dewasa lainnya. Terus begitu hingga lelah memeluk jiwa mereka. Memaksa mereka untuk beristirahat.Pagi kali ini, ruangan yang pengap itu tampak lebih pengap dari biasanya.Dipenuhi sisa-sisa gelagak kebahagiaan,Dipenuhi sisa-sisa rasa kemanusiaan.Bima, satu dari 3 lelaki yang kemarin tertawa hingga rahang mereka tak lagi terasa menatap sudut ruangan yang semalam dibanjiri dengan rembesan merah dari tubuh yang kini tak ber-raga, mulai mengering, menyisakan bau-bau yang menambah sesak ruangan.“Kinai pulang,” Bisiknya. Lalu dengan lamat-lamat melihat sekeliling ruangan. Seakan memindai dan kelebatan memori kembali hadir di depannya. Menunduk gelisah saat matanya kembali menatap sudut ruangan itu. Tiba-tiba tertawa,“Aku memulangkannya,”“Berterimakasihlah kepadaku dan teman-temanku, Kinai”“Kau mendapatkan apa yang kau mau, setelah kami mendapatkan apa yang kami mau. Kita semua menang, bukan?”Dalam hati, Bima merutuk bukan main. Memaki dengan lelah. Bukan beginilah seharusnya hidup Kinai berakhir.“Bima!” Seru seorang teman yang baru saja selesai menenun mimpinya. “Bagaimana ini?!” Tanya nya.Lelaki yang ditanyai memandang sekali lagi tubuh Kinai, “Selesaikan. Pulangkan Kinai dengan cara yang benar!” Tuntasnya.Dengan dibebat rasa takut dan penyesalan yang tipis dan nyaris hampir tak terlihat, Bima menjejak keluar ruangan. Berhenti sepersekian detik, “Selagi kalian memulangkan Kinai, aku akan memulangkan kita,”“Apa maksudmu?!” Seru salah seorang teman Bima yang lain.“Berhenti disana, Bim! Aku tak mau!” Seru yang lain. Tapi Bima tetaplah Bima. Dia tahu semua orang menantikan kepulangan mereka. Akhir dari tujuan hidup mereka hari itu. Kemanapun tempat yang dituju, untuk pulang.