Monah ingat. Saat orang-orang yang menyayanginya menangis, Monah ingat, dia muncul di sampingnya. Sayapnya yang hitam sangatlah indah. Juga wajahnya benar-benar sempurna. Dan senyumnya—senyumnya sangat manis dan tulus... Meski itu gemetar.
Siang itu, dokter yang merawat Monah akhirnya menyatakan bahwa waktu Monah sudah semakin dekat. Alhasil, sebagian besar anggota keluarga Monah yang berkumpul di sana langsung menangis begitu mendengarnya. Bahkan, ayah Monah sampai mengamuk tak karuan dan berkata bahwa dia bersedia membayar lebih banyak asal Monah bisa disembuhkan.
Namun, kebenaran sudah berkata lain. Kanker yang menggerogoti tubuh Monah terus bertumbuh pada tingkat yang tak manusiawi. Tak ada apapun di bawah langit ini yang mampu memulihkan Monah. Hanya tinggal menunggu maut saja yang datang menjemputnya.
Waktu itu, ibunda Monah langsung mendekap Monah dan menangis. Begitu juga dengan saudara-saudari Monah yang lain yang masih kecil.
"Maafkan Ibu, Monah!" Bisik sang Ibu yang tak kuasa menahan air mata.
"Iya, Bu, nggak apa-apa, kok." Jawab Monah tulus.
"Maafkan Ayah, Nak! Ayah gagal! Ayah sudah gagal! Lagi! Lagi! Lagi!" Teriak ayahnya yang baru selesai mengamuk.
"Iya, Yah. Lagian, Ayah juga sudah berusaha keras, jadi, nggak apa-apa." Ujar Monah sambil mengedarkan pandangannya. Hampir semua yang ada di sana kini tengah menangis. "Haduh, gimana, sih? Padahal aku sudah bilang kalau aku nggak suka lihat orang menangis." Bisik Monah pelan. Senyuman kecut terbentuk di bibirnya.
Meski dengan semua kenyataan mengerikan yang menimpanya saat ini, gadis berparas cantik yang sudah tak memiliki rambut di kepalanya itu tetap tersenyum manis dan tak mengeluarkan air mata setetes pun.
Akan tetapi, di tengah-tengah momen yang seharusnya amat menyedihkan ini, ada satu hal yang sangat mengganggu Monah, yaitu keberadaan seorang pemuda yang sama sekali tak dikenalnya.
Entah sejak kapan pemuda tinggi jangkung dan berwajah tampan itu berada di sana, tepat di sebelah kiri ranjang Monah. Lelaki berpakaian keren serba hitam itu berdiri di depan jendela menghalangi pancaran cahaya mentari, dia juga membawa sebuah sabit panjang menyeramkan yang baru saja dia sandarkan ke meja. Akan tetapi, selain Monah, tampaknya tak ada seorang pun di ruangan itu yang bisa melihat orang itu.
"Hah..." Lelaki itu menghela nafas dalam. "Masa iya orang sepertiku harus mencabut nyawa perempuan seperti ini." Dia mengeluh.
Monah tak bisa menyembunyikan keterkejutannya mendengar kata-kata pemuda itu. Tubuhnya juga sempat tersentak sedikit karena kaget. Sangat menakutkan sekaligus sangat ajaib. Namun, dia menghiraukan keanehan itu untuk saat ini.
Menjelang petang, semua keluarga Monah memutuskan untuk pulang. Begitu juga dengan ibu dan ayah Monah yang telah dilahap oleh nestapa. Walau mereka sebenarnya sangat tidak ingin meninggalkan Monah, tapi, mereka berhasil melawan perasaan itu dan memilih untuk mengabulkan permintaan terakhir Monah.
"Kalau waktunya sudah dekat, aku berharap tak ada satupun dari kalian yang berada di sini saat itu terjadi. Itu saja permintaan terakhirku." Itulah yang dikatakan Monah pada seluruh sanak keluarganya beberapa minggu silam.
"Sepertinya mereka semua sudah pergi." Bisik Monah yang tengah melirik ke arah pintu. Tadinya dia sempat mendengar bisikkan seseorang di balik pintu itu. Mungkin ayah dan ibunya, yang pastinya tidak ingin meninggalkan Monah. Tapi, sekarang sudah senyap. Tak terdengar apa-apa lagi di situ.
"Nggak masuk akal banget... " Celetuk si pria tak terlihat yang sedang duduk sambil melihat-lihat isi buku gambar yang ada di atas meja. "Masa, sih, mereka pergi. Padahal jelas-jelas anaknya sudah mau mati begini."
Monah tersenyum kecil ketika mendengar ocehan pria itu.
"Tapi... terima kasih, Ayah, Ibu." Kata Monah. Tiba-tiba, kelopak matanya mulai menutup dengan perlahan, lalu ia mengambil nafas dalam, dan kemudian berkata, "baiklah, aku sudah siap."
"Hah?" Suara kecil itu tiba-tiba keluar dari mulut si lelaki yang sedari tadi bersandar di samping jendela. "Apa-apaan itu?" Dia terkejut mendengar perkataan yang keluar dari mulut Monah.
"Apanya yang apa-apaan? Kamu ini malaikat pencabut nyawa, kan?"
"Lho, serius kau bisa melihatku!?" Pekik pemuda itu tak percaya.
"Ya, jelas saja, bukan?" Ungkap Monah sambil tersenyum kecut. "Ah, sudahlah. Ngomong-ngomong, karena aku tadi bilang kalau aku sudah siap, nah, jadi, sekarang kau bisa mencabut nyawaku. Ayo, buruan." Monah melipat kedua tangannya di depan dada sembari menutup matanya lagi. "Nah, ayo, tunggu apa lagi?"
"Tapi... " Lelaki itu melihat arlojinya kemudian berkata dengan suara datar, "waktumu masih tersisa dua jam lagi, sih... " Jelas si malaikat maut.
"Eh... Oh... jadi begitu." Raut wajah Monah ikut berubah datar. Jawaban yang tak terduga itu sukses membuat situasinya menjadi terasa canggung. "Jadi... bagaimana sekarang?"
"Yah, menunggu." Kata pemuda itu sembari kembali bersandar pada dinding.
Hening sesaat, tapi waktu mata Monah melirik ke arah jendela dan melihat gordennya bergerak meliuk-liuk karena terkena hembusan angin, senyuman simpul tiba-tiba terbentuk lagi di bibirnya.
"Oke, deh." Monah bangkit dari ranjang dengan susah payah, lalu dia berjalan ke arah jendela tepat di samping pemuda itu sambil bersenandung.
Dari situ, Monah bisa merasakan hembusan angin yang sangat lembut dan menenangkan. Mungkin inilah yang disebut kedamaian. Ada miliaran orang yang rela melakukan segalanya demi merasakan ketenangan seperti ini, tapi sayangnya, dunia ini tidak bekerja dengan cara seperti itu.
Sejak pagi tadi, Monah bisa merasakan ada yang berbeda dengan dirinya. Dia memang menyadari perasaan aneh itu, tapi sekarang, dia tidak mau memedulikannya. Dia hanya ingin menikmati sisa waktunya yang tinggal sedikit.
Dari langit barat, sinar kuning keemasan yang indah mulai terlihat, pertanda senja sudah datang. Cahaya menyilaukan itu turun ke bumi, menyinari segalanya dan membuat pemandangan di dunia luar tampak semakin indah. Di mata Monah, senja merupakan suatu bentuk dari keajaiban itu sendiri.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau nggak suka melihat orang menangis?" Tanya malaikat itu tiba-tiba.
"Hmm?" Monah menoleh dan bertukar pandang dengan pemuda itu. Matanya yang berwarna merah bak darah membuat Monah terkagum-kagum dalam hati. "Wah..."
"Heh! Malah bengong. Jawab, dong." Lelaki itu menyentil pelan dahi Monah.
"Ah—kenapa aku nggak suka orang menangis? Ya, karena menurutku, air mata itu adalah bukti kalau orang-orang masih menderita." Jelas Monah.
"Hah?"
"Setiap kali aku lihat air mata, pasti aku langsung berpikir kalau Tuhan juga sebenarnya bisa salah." Ungkap Monah. Matanya menyipit sedih karena teringat akan musibah yang dialaminya beberapa tahun silam.
"Buset... perkataan yang berani..." Gumam si malaikat.
"Waktu itu sedang terjadi badai hebat, dan semua penumpang kapal sudah tertidur pulas, termasuk ayah, ibu dan adik-adikku. Tapi, ada seorang anak di sampingku. Kedua orang tuanya juga sudah tidur. Namun, dia terlihat sangat senang entah karena apa."
Sambil bercerita, Monah kembali menatap keluar jendela. Cahaya senja perlahan mulai padam dan digantikan oleh kegelapan. Embusan angin yang hangat dan nyaman berubah menjadi rasa dingin yang menusuk. Monah juga bisa mendengar suara adzan maghrib yang terdengar dari masjid di kejauhan.
"Waktu itu aku masih berusia delapan tahun," Monah memberitahu. "Sekitar jam dua subuh, gadis itu bangkit dari kursinya, lalu dia pergi ke geladak kapal dan mulai bermain hujan."
"Gila juga, mandi hujan jam segitu. Nggak dingin apa?" Tanya malaikat itu tak percaya.
"Ya, makanya aku nggak ikut-ikutan mandi." Jelas Monah sambil tersenyum masam. "Saat itu, anak itu sepertinya sangat bahagia. Walau langit menggelegar dan kapal terombang-ambing oleh lautan, dia tetap menari dan tertawa. Seakan-akan, hujan dan guntur itu juga tengah ikut menari bersamanya." Monah tiba-tiba berhenti berkata-kata. Tapi, tak sampai beberapa detik, dia mengambil nafas dalam dan kembali melanjutkan. "Namun, ada satu ombak besar yang menghantam kapal dengan keras, sementara saat itu, anak itu sedang berada di ujung dan tengah mengamati lautan di bawah kapal. Alhasil... karena guncangannya yang terlalu kuat, dia langsung terjatuh..."
Dari jendela, Monah mengamati angkasa yang sekarang sudah gelap gulita. Tapi, entah kenapa, pemandangan langit malamnya yang tak berbintang, malah mengingatkan Monah akan pemandangan mengerikan waktu itu.
"Eh... kau membiarkannya?" Tanya si malaikat yang tampak tercengang.
"Ah... aku menolongnya, kok. Aku masih sempat menangkapnya. Malahan menolongnya saat itu adalah usaha paling keras yang pernah kulakukan seumur hidupku. Tapi, saat itu ayahku tiba-tiba muncul di pintu dan berteriak. Aku kaget, dan langsung kehilangan keseimbangan... dan kami berdua pun jatuh... "
Monah berusaha untuk membayangkan ingatan yang amat sangat menyakitkan itu.
Waktu itu, rasanya Monah seakan seperti sedang mengambang di atas langit malam, hanya saja, dia tak bisa bernafas. Karenanya, Monah terus berenang ke atas untuk mencari udara. Tapi, saat jarak antara kepalanya dan permukaan tinggal beberapa jengkal lagi, Monah melihat sesuatu jauh di bawahnya.
Sesuatu itu berpendar, memancarkan cahaya putih yang temaram. Namun, tatkala Monah sadar, ternyata sesuatu itu adalah gadis yang tadi. Dia pingsan. Monah seketika menjadi panik, dan ia pun berusaha untuk menolong gadis itu. Entah kenapa Monah merasa seakan tak bisa membiarkan gadis itu pergi begitu saja. Apalagi tadi, Monah jelas-jelas melihat gadis itu tampak sangat bahagia hanya karena bermain hujan.
Namun, gadis itu terus tenggelam, ditarik ke dasar laut. Semakin jauh, dan jauh, sampai-sampai Monah sudah tak bisa menggapainya lagi. Meski begitu, Monah tetap berusaha untuk mencapainya. Dengan nafas yang sesak, dia terus menyelam menghampiri maut hanya untuk menolong anak itu.
"Hingga akhirnya... aku gagal... " Monah mengakhiri ceritanya. Titik-titik air matanya berjatuhan. "Ayahku muncul sebelum aku pingsan. Tapi, aku tak mengalihkan pandanganku dari anak itu."
Si malaikat tak bisa berkata-kata. Mungkin dia berpikir kalau kejadian yang menimpa Monah itu sangat mengerikan. Atau mungkin juga karena alasan lain. "Setidaknya kau sudah berusaha... jadi—"
"Waktu aku melihat semua orang yang mengenal anak itu menangis, aku langsung berpikir, bahwa kebahagiaan itu sebenarnya tidak nyata." Ungkap Monah. Dia terus menghapus air matanya yang terkutuk itu dan tersenyum tegar. "Selama air mata masih ada, maka kebahagiaan itu hanyalah sebuah cerita dongeng belaka."
"Hmm... jadi... kejadian itu, ya, yang memicu kankermu?"
"Yap." Jawab Monah santai. Raut wajahnya kembali seperti sedia kala. "Aku tidak tahu bagaimana itu terjadi, tapi, ya, kankerku muncul setelah kejadian itu."
Malaikat itu menundukkan kepalanya sedikit. Dia menggigit bibirnya dengan keras. Namun, Monah menyadarinya.
"Ngomong-ngomong, kamu ada makanan, nggak?" Celetuk pemuda itu tiba-tiba.
"Eh!? Serius? Malaikat Maut memangnya bias makan?" Tanya Monah keheranan.
Pemuda itu tidak kunjung menjawab, tapi, dari wajahnya, dia sepertinya memang sedang kelaparan.
"Di kulkas," Monah menunjuk ke arah kulkas di pojok, dan si malaikat langsung melesat ke sana tanpa ragu dan mengambil beberapa kantung keripik kentang, kemudian ia duduk di ranjang, di samping Monah, lalu mulai makan dengan lahap.
"Orang bodoh macam apa yang menaruh makanan-makanan tidak sehat ini di sini? Ah, sudahlah, aku makan saja semuanya."
"Dih... nih orang, urat malunya sudah putus, kayaknya..."
"Hey, daripada kamu nonton aku makan, mending kamu telepon kerabat-kerabatmu buat pamitan, mumpung masih ada waktu." Ujarnya seraya menjejalkan segenggam keripik kentang ke dalam mulutnya.
"Wah... ide yang bagus." Gumam Monah sambil memilah-milah. "Baiklah."
Mengikuti saran si malaikat pencabut nyawa itu, Monah langsung mengambil ponselnya lalu menelpon semua orang yang dia kenal. Awalnya dia menghubungi keluarganya. Dia meminta maaf pada mereka. Dari Ayahnya, ibunya, serta om, tante, dan saudara juga sepupu-sepupunya. Bahkan Monah juga sempat menasehati mereka untuk terus meningkatkan hal-hal baik yang ada pada diri mereka. Namun, sepertinya mereka tidak mampu mendengarkan ceramah Monah karena mereka menjadi panik begitu Monah mulai mengatakan hal-hal yang aneh. Apalagi ayah dan ibunya yang langsung histeris.
Tiap kali Monah mengucapkan selamat tinggal, dia langsung menutup telponnya, agar dia tidak perlu mendengar suara tangisan mereka.
Yang terakhir, Monah membuat postingan yang berisi permintaan maafnya pada teman-temannya di sosial media. Terkesan aneh memang, tapi tentu saja perlu, agar teman-temannya yang berada di dunia maya tahu bahwa dia sudah pergi.
"Hah... " Saat Monah mematikan ponselnya, untuk sesaat, dia merasa dunia ini menjadi sangat senyap.
"Sudah selesai?" Tanya si malaikat maut yang baru keluar dari kamar mandi.
"Yap."
"Keluarga dan teman-temanmu pasti sedang dalam perjalanan ke sini. Ya... tentu saja." Ujar malaikat itu sambil melirik arlojinya. "Waktunya tinggal beberapa menit lagi. Bersiaplah."
Monah mengangguk mantap. Dia kemudian berbaring di ranjang, lalu meletakkan kedua tangannya di atas dada, dan memosisikan tangan kanannya di atas tangan kiri selayaknya posisi orang meninggal pada umumnya.
"Oh, iya, aku mau mengaku sesuatu dulu." Kata si malaikat tampak ragu.
"Apa?"
"Sebenarnya aku sudah lama mengenalmu, lho. Dan bisa dibilang... akulah yang membuatmu jadi seperti sekarang ini." Dia menjelaskan. "Saat itu, aku benar-benar tidak menyangka, kalau kau akan mencoba menolongnya. Karena memang tidak tertulis seperti itu sejak awal. Jadi... "
"Jadi kau mau ikut-ikutan bilang kalau Tuhan juga bisa salah? Halah... lupakan saja, aku sendiri juga tidak percaya dengan itu, kok. Aku berpikir begitu karena emosi, doang."
"Dih..."
"Apaan? Sudahlah, mending kau selesaikan pekerjaanmu sekarang."
"Ya... baiklah. Dan sebagai permintaan maafku, aku akan memberikanmu kematian yang paling hampa."
"Kematian yang paling hampa? Apa pula itu?" Tanya Monah penasaran.
"Hmm... intinya, itu adalah kematian tanpa rasa sakit sama sekali. Biasanya aku hanya memberikan layanan ini bagi mereka yang benar-benar layak saja. Dan kau beruntung. Kau akan menjadi orang ke tujuh belas dalam sejarah, yang akan merasakan kematian ini." Malaikat itu tersenyum seraya memposisikan tangan kanannya di bawah leher Monah, dan tangan lainnya di bawah lutut.
"Tunggu! A-apa yang kau lakukan!" Warna merah timbul di wajah Monah. Pasalnya, adegan ini sama seperti adegan-adegan di film-film romansa yang sering ditontonnya.
"Saatnya membuka gerbang itu. Senja." Lalu dia perlahan mengangkat Monah ke atas dan pada saat itu pula seluruh dunia bergerak sangat cepat, sementara yang bergerak lambat hanyalah dirinya.
Monah melihat semuanya.
Matahari yang terbit dari ufuk timur mengusir kegelapan malam dalam sekejap. Beberapa detik kemudian, angkasa menjadi cerah dan semua keluarga serta teman-teman Monah datang untuk berkabung. Semua orang menangis, termasuk seluruh keluarganya.
Namun, Monah melihat satu pemandangan yang aneh. Senyum malaikat yang sedang mengangkatnya ke atas itu mulai bergetar. Monah tidak tahu apa penyebabnya, tapi waktu untuk Monah sudah pada batasnya.
Waktu terus bergerak dan akhirnya petang pun tiba.
"Selesai." Kata si malaikat yang sekarang terlihat sangat berbeda karena keberadaan sayap hitam yang sangat indah yang terbentang di punggungnya.
"Turunkan aku!" Pekik Monah jengkel sambil melompat turun. "Wah..." Wajah Monah memancarkan kekaguman yang teramat sangat sewaktu melihat tubuh aslinya terbaring di ranjang, dan di situ juga masih ada banyak orang yang berduka untuknya. Tapi, Monah lebih terkejut lagi saat menyadari bahwa tubuhnya saat ini menjadi transparan dan bercahaya, sama seperti gadis itu waktu itu. "Jadi... aku berubah jadi hantu?"
"Heh! Mulutmu." Celetuk si malaikat maut.
"Hahahaha—iya, iya. Maaf."
"Ya sudah, waktunya pergi. Yuk." Ajak si malaikat maut. Dia mengambil sabitnya yang disandarkan di meja, kemudian dia menarik tangan kanan Monah dan mengajaknya keluar menembus tembok.
Monah tidak menyangka akan melihat senja untuk kedua kalinya hanya dalam beberapa jam saja. Dia benar-benar sangat senang. Namun, saat dia menoleh ke belakang, dan melihat ke arah jendela kamar tempat dia dirawat selama ini, sungguh, rasanya menyakitkan. Hatinya terasa remuk saat ibu dan ayahnya muncul di jendela itu dan menatap keluar.
"Selamat tinggal... semuanya."