Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
830
Genre Romance
166
Genre Folklore
166
Genre Horror
166
Genre Fantasy
166
Genre Teen
166
Cerita rakyat Danau Toba, Sumatera Utara
Cerita rakyat Danau Toba merupakan salah satu cerita rakyat terpopuler untuk bahan dongeng dengan cerita pesan moral baik yang sangat cocok diceritakan turun temurun kepada keluarga, sanak saudara dan pastinya anak.Cerita ini mengisahkan tentang seorang petani bernama Toba yang memancing di sungai dan kemudian menemukan ikan mas besar sebesar paha manusia yang menggelepar – gelepar. Ikan mas tersebut dibawa pulang oleh Toba dan ketika hendak di masak, ikan mas tersebut meminta tolong agar dilepaskan.“Tolong aku, jangan kau bunuh aku. Aku masih ingin hidup. Jika kau mau melepaskan aku, aku bersedia untuk memenuhi semua keinginanmu”.Toba kaget melihat ikan tersebut bisa bicara dan ikan tersebut membuktikan keseriusannya. Setelah toba tak lagi memeganginya, ikan tersebut menjelma menjadi manusia cantik yang kemudian menghidangkan banyak makanan di rumah Toba.Sejak saat itu, keduanya berkenalan dan lama kelamaan Toba jatuh cinta hingga memberanikan diri melamar sang putri. Kehidupan mereka bahagia hingga dikaruniai seorang anak laki – laki yang diberi nama Samosir.Ketika anak itu lahir, putri ikan mas yang dinikahi Toba meminta Toba untuk berjanji, “Berjanjilah kamu jika suatu hari nanti anak kita membuat kesalahan dan kamu marah kepadanya, jangan sekali – kali kamu menyebutkan bahwa dia adalah anak ikan mas”.Toba berjanji akan menepati janjinya. Namun suatu hari ketika Samosir membuat kesalahan, Toba ynag tersulut amarah luar biasa mengabaikan janjinya. Ia mengatakan kepada Samosir, “Dasar anak ikan mas!”Seketika langit menjadi gelap dan kampung itu pun diterpa banjir bandang. Banjir bandang yang besar membentuk sebuah danau yang kita kenal sebagai Danau Toba dengan pulai di tengahnya yang bernama Samosir.PESAN MORALPesan moral dari cerita rakyat terpopuler untuk bahan dongeng dengan pesan moral di atas adalah :Berusahalah untuk menahan amarah dan mengatasinya karena amarah yang tidak terkendali dapat mengakibatkan akhir yang buruk. Demikian dengan janji.Jangan sekali – kali berbuat janji dan mengingkarinya karena janji yang tidak ditepati bukan hanya mengecewakan manusia, melainkan juga dapat menimbulkan sebab yang buruk. Jadi berjanjilah dan tepatilah janji tersebut.Selain Danau Toba, masih banyak cerita rakyat lain dari Sumatera Utara.
Cerita Rakyat Jakarta : Jagoan Betawi
Si Pitung adalah sosok pemuda teladan dari Rawa Belong. Shalat lima waktu tidak pernah ia tinggalkan. Belajar mengaji kepada ulama setempat, Haji Naipin, tidak putus-putusnya dijalankan. Pemuda Betawi dahulu biasanya memang taat dalam agama dan pintar bersilat. Hal itu juga yang dilakukan Si Pitung. Selesai belajar mengaji, ia berlatih silat. Tidak terasa waktu berjalan, Si Pitung menjelma menjadi sosok yang lengkap dalam ilmu agama dan ilmu beladiri, yaitu pencak silat. Ia adalah gambaran pemuda Betawi pada waktu itu.Pada saat yang sama, penjajah Belanda sedang giat-giatnya mengeruk kekayaan alam Hindia Belanda (nama Indonesia sebelum merdeka) yang berpusat di Batavia. Tenaga rakyat diperas dalam kekejaman kerja paksa. Tak terhitung lagi korban yang jatuh. Sebagian lagi hidup dalam penderitaan dan kelaparan. Menyaksikan kenyataan itu, timbul rasa iba di hati Si Pitung. Keberpihakan pada rakyatnya sendiri yang mengubah takdir Si Pitung.Bersama Rais dan Ji’i, ia merampok rumah tauke dan tuan tanah kaya. Hasil rampokannya kemudian dibagi-bagikan kepada rakyat miskin. Rupanya, kegiatan si Pitung telah meresahkan kumpeni.Kumpeni melakukan berbagai cara untuk menangkap si Pitung. Mula-mula, dibujuknya orang-orang agar memberi informasi keberadaan si Pitung dengan iming-iming hadiah yang cukup besar. Kalau usahanya gagal, tidak segan-segan kumpeni memaksanya dengan kekerasan.Akhirnya, kumpeni berhasil mendapat informasi tentang keluarga si Pitung. Kelebihannya, merupakan kelemahannya juga. Keluarga sebagai sumber motivasi Si Pitung justru menjadi titik lemahnya. Kumpeni segera menyandera kedua orang tuanya dan Haji Naipin. Dengan siksaan yang berat, akhirnya terungkaplah keberadaan Si Pitung dan rahasia kekebalan tubuhnya.Kemampuan silat dan tubuhnya yang kebal terhadap peluru, mempermudah setiap aksi perampokannya. Sudah banyak rumah tauke dan tuan tanah yang dirampoknya, tetapi ia tidak juga berhasil ditangkap. Lagipula, orang-orang tidak menceritakan keberadaan Si Pitung. Ia banyak berjasa kepada rakyat kecil.Si Pitung dan Kawan-Kawan di serang pasukan kompeni belandaSi Pitung dan Kawan-Kawan di serang pasukan kompeni belandaPada suatu hari, Si Pitung dan teman-temannya berhasil ditemukan. Si Pitung berusaha melakukan perlawanan. Namun, hari itu memang hari naas baginya. Rahasia kekebalan tubuhnya yang selama ini membuatnya tetap hidup sudah diketahui pihak kumpeni. Si Pitung, pahlawan rakyat kecil itu dilempari telur-telur busuk dan ditembak berkali-kali. Akhirnya, ia pun menemui ajalnya dan Tuhan sudah menentukan takdirnya.Pesan moral dari Cerita Rakyat Jakarta : Jagoan Betawi adalah setiap perjuangan dibutuhkan pengorbanan. Terkadang, kita terpaksa melakukan kesalahan demi menolong orang banyak yang membutuhkan. Segala usaha dengan niat baik. pasti akan mendapat pahala dari Yang Maha Kuasa.
Legenda Cerita si Pitung – Pendekar dari Betawi
Dahulu di Betawi, ada seorang pendekar bernama Pitung. Ia adalah anak dari Bang Piun dan Mpok Pinah.Ia sering dipanggil dengan sebutan Bang Pitung.Bang Pitung adalah pendekar yang baik hati, patuh kepada agama, dan selalu menolong sesama.cerita si pitungcerita si pitungBang Pitung pun memiliki kesaktian yang luar biasa. Ia tak mempan ditembus senjata.Tetangga-tetangga Bang Pitung hidup serba kekurangan. Bang Pitung pun merasa iba.Apalagi orang-orang yang kaya justru semakin kaya, tanpa memedulikan rakyat yang miskin.“Aku harus melakukan sesuatu untuk membantu masyarakat,” ucap Bang Pitung.Bang Pitung pun mengumpulkan pemuda-pemuda di kampungnya. Mereka merampok harta milik orang-orang kaya. Harta itu kemudian dibagikan kepada rakyat miskin.Meskipun Bang Pitung suka merampok, tapi ia tidak suka dengan perampok yang merampok untuk kepentingan pribadi. Ia justru selalu memberi pelajaran kepada mereka.Aksi Bang Pitung pun akhirnya terdengar oleh kompeni Belanda yang menguasai daerah itu.“Kita harus menghentikan Pitung, agar kompeni Belanda tidak resah dengan keberadaannya,” ucap kepala polisi kompeni Belanda.Berbagai upaya dilakukan. Namun, Bang Pitung selalu bisa lolos dari pasukan kompeni Belanda. Berkali-kali kompeni Belanda mencoba menembaknya, tapi Pitung tak terluka sama sekali. Kepala kompeni Belanda hampir putus asa.“Bagaimana cara menangkap Pitung? Apakah ia tidak memiliki kelemahan?” tanya kepala kompeni Belanda, merasa kesal.Akhirnya, ia menemui guru si Pitung, yaitu Haji Naipin. Karena merasa nyawanya terancam, Haji Naipin pun membocorkan kelemahan Si Pitung.“Akhirnya aku tahu kelemahanmu Pitung!” ucap kepala kompeni Belanda dengan geram.Setelah beberapa lama, kompeni Belanda mengetahui persembunyian si Pitung. Tanpa membuang waktu, mereka Iangsung menyergap si Pitung. Kompeni Belanda yang sudah mengetahui kelemahan Pitung pun dengan mudah melumpuhkan Pitung, yaitu dengan cara mengambil jimatnya saat dia mandi di sungai.Akhirnya Pitung meninggal karena luka tembak peluru emas. Sesudah Si Pitung meninggal, makamnya dijaga oleh tentara karena percaya bahwa Si Pitung akan bangkit dari kubur.
Cerita Legenda Situ Bagendit
Pada zaman dahulu kala, di sebelah utara kota Garut, terdapat sebuah desa yang penduduknya kebanyakan adalah petani. Karena tanah di desa itu sangat subur dan tidak pernah kekurangan air, maka sawah-sawah mereka selalu menghasilkan padi yang berlimpah ruah. Namun meski begitu, para penduduk di desa itu tetap miskin kekurangan. Hal tersebut disebabkan oleh ulah seorang tengkulak bernama Nyai Bagendit.Hari masih sedikit gelap dan embun masih bergayut di dedaunan, namun para penduduk sudah bergegas menuju sawah mereka. Hari ini adalah hari panen. Mereka akan menuai padi yang sudah menguning dan menjualnya kepada Nyai Bagendit.Nyai Bagendit adalah orang terkaya di desa itu. Rumahnya mewah, lumbung padinya sangat luas karena harus cukup menampung padi yang dibelinya dari seluruh petani di desa itu. Ya! Seluruh petani. Dan bukan dengan sukarela para petani itu menjual hasil panennya kepada Nyai Bagendit. Mereka terpaksa menjual semua hasil panennya dengan harga murah kalau tidak ingin cari perkara dengan centeng-centeng suruhan wanita itu. Lalu jika pasokan padi mereka habis, mereka harus membeli dari Nyai Bagendit dengan harga yang melambung tinggi.“Wah kapan ya nasib kita berubah?” ujar seorang petani kepada teman nya.”Tidak tahan saya hidup seperti ini. Kenapa yah, Tuhan tidak menghukum si lintah darat itu?”“Sssst, jangan keras-keras, nanti ada yang dengar!” sahut temannya. “Kita mah harus sabar! Nanti juga akan datang pembalasan yang setimpal bagi orang yang suka berbuat aniaya pada orang lain. Tuhan tidak pernah tidur!”Sementara itu Nyai Bagendit sedang memeriksa lumbung padinya.“Barja.” kata Nyai Bagendit pada centengnya.”Bagaimana? Apakah semua padi sudah dibeli?”“Beres Nyi.” jawab Barja. “Lumbung sudah penuh diisi padi, bahkan beberapa masih kita simpan di luar karena sudah tak muat.”“Ha ha ha ha…! Sebentar lagi mereka akan kehabisan beras dan akan membeli padiku. Aku akan semakin kaya!” Nyai Bagendit tertawa senang. “Awasi terus Para petani itu, jangan sampai mereka menjual hasil panennya ke tempat lain. Beri pelajaran bagi siapa saja yang membangkang!”Cerita Legenda Situ Bagendit Dongeng Sunda Jawa BaratCerita Legenda Situ Bagendit Dongeng Sunda Jawa BaratBenar saja, beberapa minggu kemudian para penduduk desa mulai kehabisan bahan makanan bahkan banyak yang sudah mulai menderita kelaparan. Sementara Nyai Bagendit selalu berpesta pora dengan makanan-makanan mewah di rumahnya.“Aduh Pak, persediaan beras kita sudah menipis. Sebentar lagi kita terpaksa harus membeli beras ke Nyai Bagendit.” keluh seorang penduduk desa pada suaminya. “Kata tetangga harganya sekarang lima kali lipat dibanding saat kita jual dulu. Bagaimana ini, Pak?”Pada suatu siang yang panas, dari ujung desa nampak seorang nenek yang berjalan terbungkuk-bungkuk. Dia melewati pemukiman penduduk dengan tatapan penuh iba.“Hmm, kasihan para penduduk ini. Mereka menderita hanya karena kelakuan seorang saja. Sepertinya hal ini harus segera diakhiri.” pikir si nenek. Dia berjalan niendekati seorang penduduk yang sedang menumbuk padi.“Permisi! Saya numpang tanya,” kata si nenek.“Ya, Nek ada apa ya?” jawab wanita yang sedang menumbuk padi tersebut“Dimanakah saya bisa menemukan orang yang paling kaya di desa ini?” Tanya si nenek.“Oh, maksud nenek rumah Nyai Bagendit?” kata wanita itu. “Sudah dekat, Nek. Nenek tinggal lurus saja sampai ketemu pertigaan, lalu belok kiri. Nanti akan terlihat rumah yang sangat besar. Itulah rumahnya. Memang nenek ada periu apa sama Nyai Bagendit?”“Saya mau minta sedekah,” kata si nenek.“Ah percuma saja nenek minta sama dia, tidak akan dia memberinya. Kalau nenek lapar, makanlah di rumah saya, tapi hanya seadanya.” kata wanita itu.“Tidak usah, terima kasih” jawab si nenek. “Saya hanya mau tahu reaksinya kalau ada pengemis yang minta sedekah. Oya, tolong beritahu penduduk desa lainnya agar siap-siap menqungsi. Karena sebentar lagi akan ada banjir besar.”“Nenek bercanda, ya?” kata wanita itu kaget.”Mana mungkin ada banjir di musim kemarau?”“Aku tidak bercanda,” kata si nenek.”Aku adalah orang yang akan memberi pelajaran pada Nyai Bagendit. Maka dari itu segera mengungsilah, bawalah barang berharga milik kalian,” kata si nenek. Setelah itu si nenek pergi meninggalkan wanita tadi yang masih berdiri mematung.Sementara itu Nyai Endit sedang menikmati hidangan yang berlimpah, demikian pula para centengnya. Si pengemis tiba di depan rumah Nyai Endit dan langsung dihadang oleh para centeng.“Hei pengemis tua! Cepat pergi dari sini! Jangan sampai teras rumah ini kotor terinjak kakimu!” bentak centeng.“Saya mau minta sedekah. Mungkin ada sisa makanan yang bisa saya makan. Sudah tiga hari saya tidak makan,” kata si nenek.“Apa peduliku,” bentak centeng. “Kalau mau makan ya beli, jangan minta! Sana, cepat pergi sebelum saya seret.”Tapi si nenek tidak bergeming di tempatnya. “Nyai Endit keluarlah! Aku mau minta sedekah. Nyai Bagendiiit …!” teriak si nenek.Centeng-centeng itu berusaha menyeret si nenek yang terus berteriak-teriak, tapi tidak berhasil.“Siapa sih yang berteriak-teriak di luar,” ujar Nyai Endit. “Mengganggu orang makan saja!”“Nei, siapa kamu nenek tua? Kenapa berteriak-teriak di depan rumah orang?” bentak Nyai Bagendit.“Saya hanya mau minta sedikit makanan karena sudah tiga hari saya tidak makan,”kata nenek.“Tidak ada makanan di sini! Cepat pergi, nanti rumahku kotor.”Namun, sang nenek bukannya pergi tapi justru menancapkan tongkatnya ke tanah lalu memandang Nyai Endit dengan penuh kemarahan.“Bagendit! Selama ini Tuhan memberimu rezeki berlimpah tapi kau tidak bersyukur. Kau kikir! Sementara penduduk desa kelaparan kau malah menghambur-hamburkan makanan” teriak si nenek berapi-api. “Aku datang kesini sebagai jawaban atas doa para penduduk yang sengsara karena ulahmu! Kini bersiaplah menerima hukumanmu.”“Ha ha ha .. Kau mau menghukumku? Tidak salah nih? Kamu tidak lihat centeng-centengku banyak! Sekali pukul saja, kau pasti mati,” kata Nyai Endit.“Tidak perlu repot-repot mengusirku,” kata nenek. “Aku akan pergi dari sini jika kau bisa mencabut tongkatku dari tanah.”“Dasar nenek gila. Apa susahnya mencabut tongkat. Tanpa tenaga pun aku bisa!” kata Nyai Endit sombong. Lalu hup! Nyai Endit mencoba mencabut tongkat itu dengan satu tangan. Ternyata tongkat itu tidak bergeming. Dia coba dengan dua tangan. Hup hup! Masih tidak bergeming juga.“Sialan!” kata Nyai Endit. “Centeng! Cabut tongkat itu! Awas kalau sampai tidak tercabut. Gaji kalian aku potong!”Centeng-centeng itu mencoba mencabut tongkat si nenek, namun meski sudah ditarik oleh tiga orang, tongkat itu tetap tak bergeming.“Ha ha ha. kalian tidak berhasil?” kata si nenek. “Ternyata tenaga kalian tidak seberapa. Lihat aku akan mencabut tongkat ini.”Brut! Dengan sekali hentakan, tongkat itu sudah terangkat dari tanah. Byuuuuurrr!!!! Tiba-tiba dan bekas tancapan tongkat si nenek menyembur air yang sangat deras.“Bagendit! Inilah hukuman untukmu! Air ini adalah air mata Para penduduk yang sengsara karenamu. Kau dan seluruh hartamu akan tenggelam oleh air ini.”Setelah berkata demikian si nenek tiba-tiba menghilang entah kemana. Tinggal Nyai Endit yang panik melihat air yang meluap dengan deras. Dia berusaha berlari menyelamatkan hartanya, namun air bah lebih cepat menenggelamkannya beserta hartanya.Kini, di desa itu terbentuk sebuah danau kecil yang dinamakan ‘Situ Bagendit’ Situ artinya danau dan Bagendit berasal dari nama Bagendit. Beberapa orang percaya bahwa kadang-kadang kita bisa melihat lintah sebesar kasur di dasar danau. Katanya itu adalah penjelmaan Nyai Endit yang tidak berhasil kabur dari jebakan air bah.Pesan moral dari Cerita Legenda Situ Bagendit adalah kita tidak boleh menjadi orang yang sombong, kikir, serta angkuh terhadap orang lain. Bila diberi nikmat harta yang banyak berbagilah dengan sesama.
Cerita Rakyat Jawa Barat (Sunda) : Dongeng Ciung Wanara
Pada zaman dahulu kala. Di sebuh daerah Jawa barat terdapat Kerajaan,yang bernama Kerajaan Galuh. Kerajaan Galuh di pimpin oleh seorang Raja yang bijaksana. Raja tersebut bernama Raden Barma Wijaya Kusuma. Sang Raja memiliki dua Permaisuri. Permaisuri pertama bernama Nyimas Dewi Naganingrum dan yang kedua Nyimas Dewi Pangrenyep. Dalam waktu bersamaan kedua Permaisuri tersebut dalam kedaan mengandung.Suatu hari, Permaisuri Nyimas Dewi Pangrenyep melahirkan terlebih dahulu. Ia melahirkan seorang Bayi Laki-laki yang sangat lucu dan tampan. Pangeran tersebut di beri nama Hariangbanga. Tidak lama kemudian Permaisuri Dewi Naganingrum pun akan segera melahirkan. Dewi Pangrenyep bergegas untuk membantunya. Akhirnya, Dewi Naganingrum melahirkan seorang Bayi Laki-laki yang tidak kalah lucu dan tampan dari kakaknya Hariangbanga.Di balik kesediaannya menolong persalinan Dewi Naganingrum. Ternyata Dewi Pangrenyep tidak menyukain Dewi Naganingrum menjadi pesaingnya. Karena ia ingin menguasai Kerajaan dan menjadikan Putranya sebagai Raja kelak. Ia pun merencanakan niat jahatnya yang sudah ia susun agar sesuai dengan harapannya.Tanpa sepengetahuan siapapun. Bayi Laki-laki yang baru saja di lahirkan Dewi Naganingrum di tukar dengan seekor anak Anjing. Bayi yang sebenarnya di masukkan ke dalam sebuah keranjang. Dewi Pangrenyep pun meletakkan sebutir telur ayam. Ia pun segera menghayutkan bayi tersebut ke sebuah sungai.Di Kerajaan terjadi sebuah kehebohan. Kabar yang sangat mengejutkan menggemparkan seluruh isi Istana dan rakyat. Mengetahui kenyataan ini menghancurkan harga dirinya sebagai Raja. Bagaimana tidak, Permaisuri yang selama ini ia cintai sudah melahirkan seekor anak Anjing.Dalam keadaan marah. Akhirnya, Raja segera memanggil Penasehat Raja yang bernama Ki Lengser. Namun, memanggil Ki Lengser bukan untuk meminta sebuah nasihat. Tapi, memerintahkan Ki Lengser untuk segera membunuh Dewi Naganingrum dan mayatnya di buang jauh-jauh. Raja memerintahkan Ki Lengser segera melakukan tugasnya.Dalam perjalanan, Ki Lengser berpikir untuk menyelamatkan Dewi Naganingrum tanpa sepengetahuan siapapun. Ki Lengser yakin kejadian yang menimpa Dewi Naganingrum adalah suatu kebohongan. Namun, ia tidak mempunyai bukti untuk membantu Dewi Naganingrum. Ki Lengser membawa Dewi Naganingrung masuk kedalam hutan belantara.Ki Lengser membuatkan sebuah gubug untuk tempat tinggal Dewi Naganingrum. Setelah gubug itu selesai di buatnya, dengan terpaksa Ki Lengser meninggalkan Naganingrum seorang diri. Sebelum ia pergi, ia pun berjanji akan mengunjunginya.Sementara, Naganingrum sangat berharap suatu hari nanti ia dapat bertemu dengan Putra kandungnya. Ia pun berharap dapat kembali ke Istana dan hidup bahagia bersama keluarganya. Ki Lengser pun segera kembali ke istana. Ia langsung mengahadap Raja dan melaporkan bahwa tugasnya untuk membunuh Dewi Naganingrum sudah di laksanakan dengan baik. Untuk membuktikan bahwa ia sudah melaksanakan tugasnya, ia membasahi senjatanya dengan darah binatang buruan yang ia temui di dalam hutan.Sementara di suatu tempat. Hiduplah sepasang suami istri yang sudah sangat tua. Namun, mereka tidak memiliki anak. Suatu hari, mereka berdua pergi ke sebuah sungai untuk menangkap Ikan. Namun, mereka di kejutkan dengan sebuah keranjang besar berisi seorang bayi Laki-laki yang sangat lucu dan tampan. Mereka sangat bahagia dan mereka berpikir bahwa inilah sebuah jawaban dari doanya.Sepasang suami istri sangat bersyukur. Satu butir Telur Ayam yang berada di samping Bayi Laki-laki tersebut. Di simpannya telur Ayam tersebut kepada seekor Naga yang bernama Nagawiru yang berada di Gunung Padang. Naga tersebut bukanlah Naga sembarangan. Namun, jelmaan seorang Dewa dan sudah menjadi tugasnya untuk mengerami satu butir Telur Ayam tersebut. Suatu saat nanti. Telur tersebut akan menetaskan seekor Ayam Jantan dan menjadi binatang kesayangan dari anak bayi yang di temukan sepasang suami istri tersebut.Waktu tanpa terasa terus berjalan. Bayi Laki-laki, sekarang tumbuh menjadi remaja yang sangat tampan, cerdas, gagah dan pemberani. Anak tersebut di beri nama Ciung Wanara. Aki dan Nini memberikan nama Ciung Wanara karena mereka melihat seekor Monyet yang aneh, Monyet tersebut bernama Wanara. Kemudian mereka pun melihat seekor Burung yang bernama Ciung. Akhirnya, keduanya sepakat. Nama dari ke dua binatang tersebut. Akhirnya, di jadikan sebagai nama anaknya.Ciung Wanara tumbuh menjadi seorang Pemuda yang sangat tampan. Suatu hari, ia ingin sekali pergi ke Galuh untuk mengembara. Awalnya, Aki dan Nini tidak menginjinkannya. Namun, karena anaknya terus memaksa. Sebelum ia berangkat ke Kerajaan Galuh, ia bertanya siapa Ayah dan Ibu kandungnya. Awalnya, Aki dan nini tidak mau menceritakan kebenarannya. Namun, Ciung Wanara terus bertanya. Aki menjelaskan bahwa Ayah kandungnya adalah seorang Raja dari Kerajaan Galuh. Dan Ibunya di asingkan di dalam hutan belantara. Mendengar penjelsan tersebut. Akhirnya, Ciung Wanara berangkat ke Kerajaan Galuh dengan membawa Ayam Jantan kesayangannya.Setibanya di kerajaan Galuh. Ia bertemu dengan dua orang Patih yang bernama Purawesi dan Puragading. Kedua Patih tersebut tertarik dengan Ciung Wanara, karena ia membawa seekor Ayam Jantan. Kedua Patih tersebut menghampiri dan mengajaknya untuk adu Ayam. Ciung Wanara menerima tantangan dari kedua Patih tersebut. Pertandingan sambung Ayam di lakukan di tengah alun-alun Kota Galuh. Akhirnya, nasib baik selalu berpihak kepada Ciung Wanara. Ayam Jantang kesayangannya menang dalam pertandingan.Kemenangan Ciung Wanara tersebut langsung tersebar ke Kerajaan. Kemenangan itu terdengar oleh Sag Raja, bahwa ada seorang Pemuda Tampan memiliki seekor Ayam Jantan yang sangat tangguh. Akhirnya, takdir mempertemukan Ayah dan anak yang sudah di pisahkan oleh perbuatan Dewi Pangrenyep.Ciung Wanara datang ke Istana untuk bertemu dengan Raja. Ia pun membuat kekacauan di depan Istana. Akhirnya, Baginda segera memerintahkan para pengawal agar Ciung Wanara menghadap. Setelah berhadapan dengan Sang Raja, Ciung Wanara pun menyembah.“Hai Anak Muda! Siapa namamu dan dari mana asalmu?”“Nama hamba Ciung Wanara, putra dari Aki dan Nini Balangantrang dari desa Geger Sunten,” jawab Ciung Wanara dengan lantang.“Apa maksud kedatanganmu kemari?”“Begini, Tuanku. Hamba mempunyai seekor Ayams yang aneh. Induknya mengandung selama setahun. Sarangnya sebuah kandaga. Lebih aneh lagi, sebelum menetas, telur ini pernah hanyut di sungai,” kata Ciung Wanara.Raja teringat pada Naganingrum yang mengandung selama setahun. Sedangkan Dewi Pangrenyep sudah mengira, bahwa yang sekarang berada di hadapannya adalah putra dari Naganingrum. Kedatangannya hendak membalas dendam.“Kau berniat untuk menyambung Ayam dengan milikku? Apa taruhannya?” tanya Raja Galuh.“Jika ayam hamba yang kalah, hamba bersedia menyerahkan nyawa hamba. Tapi sebaliknya, jika ayam baginda yang kalah, maka hamba mohon diberi separuh kerajaan Galih Pakuan,” kata Ciung Wanara.Karena raja Galih Pakuan merasa yakin, bahwa ayam jagonya akan menang, taruhan Ciung Wanara disetujui. Baginda segera membawa ayamnya ke halaman dan diikuti oleh Ciung Wanara.Pertandingan sabung Ayam pun berlangsung dengan seru. Awalnya, Ayam jantan milik Ciung Wanaralah yang menunjukkan kekalahan. Namun, tiba-tiba Ayam tersebut kembali segar dan kuat kembali. Akhirnya, dengan mudah Ayam milik sang Raja kalah terdesak. Ciung Wanara kembali memenangkan pertandingan sabung Ayam.Sesuai dengan perjanjian yang telah disetujui, Ciung Wanara mendapat negara sebelah Barat. Sedangkan sebelah Timur oleh baginda diserahkan kepada Hariangbanga. Masing-masing bergelar Prabu.Akhirnya, semua rahasia tentang Ciung Wanara terungkap dan segala kejahatan yang dilakukan Dewi Pangrenyep terbongkar dengan sendirinya. Ki Lengser pun menceritakan bahwa Ibu kandungnya masih hidup dan di asingkan di sebuah hutan. Ciung Wanara sangat bahagia dan segera menjemput ibunya, ia pun menjemput kedua angkatnya.Sementara itu Dewi Pangrenyep mulai hatinya ketar ketir setelah tahu kalau Ciung Wanara adalah anak bayi yang dibuangnya dulu. Hingga akhirnya kegelisahan dan ke khawatirannya itu pun segera terjawab dan terwujud. Prabu Ciung Wanara setelah tahu apa yang telah dilakukan oleh Dewi Pangrenyep terhadap ibunda dan dirinya sendiri, maka segera membentuk pasukan khusus untuk menangkap Dewi Pangrenyep. Tanpa menemui kesulitan yang berarti Dewi pangrenyep segera tertangkap dan di jebloskan kedalam penjara istana untuk membayar segala kejahatan dan kekejiannya.Sementara Raden Hariangbanga sangat kaget ketika mengetahui kalau ibundanya tercinta telah ditangkap oleh tentara prabu Ciung Wanara dan dijebloskan ke dalam penjara. Pertarungan antara dua orang adik kakak beda ibu itupun tak dapat terelakan lagi. Pertarungan sengit terus terjadi dan raden Hariangbanga harus berlaku satria dia kalah terdesak oleh adiknya Ciung Wanara.Setelah pertarungan itu kerajaan Galuh benar benar terbagi menjadi dua. Kerajaan Galuh terbagi dua karena dalam pertarungan tubuh Hariangbanga di lempar oleh Ciung Wanara hingga menyebrangi sungai Cipamali. Dari sejak itulah Kerajaan Galuh terbagi dua.Akhirnya, Ciung Wanara, Ibunya, dan orang tua angkatnya hidup berbahagia di dalam istananya yang kemudian bernama Pakuan Pajajaran.Pesan moral dari Cerita Rakyat Sunda : Dongeng Ciung Wanara adalah perbuatan buruk akan mendapatkan balasan dari keburukannya dimasa yang akan datang. Selalu berlaku baik akan membuatmu sukses dan bahagia.
Cerita Rakyat Tanah Sunda, Lutung Kasarung Dan Purbasari
Cerita rakyat yang paling terkenal di tanah Sunda adalah Lutung Kasarung dan Purbasari. Dongeng yang satu ini sangat melegenda, dan berkisahkan tentang perjalanan sanghyang Guruminda yang datang dari kayangan.irinya diturunkan ke bumi dan bertemu dengan sosok putri Purbasari yang cantik dan baik hati. Daripada penasaran, yuk simak kisahnya di sini!Purbasari Hendak Diangkat Sebagai RatuDahulu kala, hidupkah seroang puteri yang cantik dan baik hatu, bernama Purbasari. Dirinya adalah anak terakhir dari Prabu Tapa Agung yang merupakan penguasa di Kerajaan Pasir batang. Purbasari memiliki sifat yang lemah lembut dan suka menolong. Alasan itulah yang membuat sang putri sangat dicintai oleh rakyatnya.Suatu hari, Putri Purbasari hendak diangkat sebagai ratu. Akan tetapi, kakaknya yaitu purbararang marah berusaha mencelakai adiknya. Purbararang menghubungi tunangannya, yaitu Indrajaya untuk memberikan kutikan pada Purbasari. Si nenek sihir akhirnya membuat ramuan berupa zat berwarna hitam dan berpesan pada purbararang untuk menyiramkan ramuan itu di wajah purbasari.Purbasari Diasingkan dan Bertemu Lutung KasarungRencana jahat pun akhirnya dilaksanakan, ramuan tersebut membuat tubuh Purbasari dipenuhi dengan bercak hitam. Purbararang memerintahkan Uwak Batara yang merupakan penasehat kerajaan, untuk membawa Purbasari ke hutan. Saat purbasari diusir dari istananya, terjadi masalah pula di kayangan. Seorang pangeran bernama Guruminda menolak untuk menikah dengan bidadari.Pangeran tidak ingin menikah, jika kecantikan calon istrinya tidak setara dengan kecantikan sang ibu. Sunan Ambu pun mengatakan bahwa perempuan yang lebih cantik darinya hanyalah manusia. Oleh karena itu, Pangeran Guruminda bersedia untuk diturunkan ke bumi, dalam wujud kera. Suatu hari, lutung kasarung mendengar kejahatan Purbararang dan menyerang istana Pasir Batang.Purbararang dan pasukannya kuwalahan menghalau Lutung Kasarung. Hingga pada akhirnya, Purbararang meminta Uwak Batara untuk membuang lutung kasarung ke hutan, tempat purbasari diasingkan. Purbararang sengaja mengatakan hal tersebut, agar lutung kasarung menyerang Purbasari. Tidak disangka, keduanya malah berteman baik.Uwak Batara sebenarnya sudah merasa jika Lutung Kasarung bukanlah lutung biasa. Uwak Batara menitipkan pesan pada Lutung Kasarung untuk menjaga Purbasari. Suatu hari, Lutung kasarung meminta ibunya, yaitu Sunan Ambu Untuk membuat kolam penyembuhan untuk Purbasari. Tidak disangka, kulit purbasari pun bersih dan kecantikannya kembali seperti semua.Guruminda dan Purbasari Mengambil Tahta KerajaanKembalinya kecantikan purbasari menjadi gosip di tengah masyarakat. Purbararang pun mendengar cerita tersebut dan menjadi marah. Purbararang yang kesal menantang purbasari untuk menunjukkan tunangannya. Ternyata purbasari meminta Lutung Kasarung untuk menjadi calon suaminya. Purbararang pun tertawa karena Purbasari memiliki seekor lutung hitam.Tidak disangka, pangeran Guruminda kembali ke wujud semualany, semua orang terkesima, karena ketampanan dan kegagahan sang pangeran. Purbararang yang jahat pun mengakui kesalahannya dan meminta maaf pada Purbasari. Akhirnya, tahta kerajaan kembali ke tangan Purbasari dan seluruh rakyat hidup dengan bahagia.Pesan MoralDi dalam cerita tadi, dapat ditarik nasehat bahwa kita semua tidak boleh merasa iri dan berusaha mencelakai orang lain. Sifat tersebut hanya akan membawa pelakunya ke dalam kesengsaraan. Kita semua harus bisa mencontoh Purbasari yang sabar, pemaaf, dan penyayang. Sifat itulah yang dapat membuat kita disukai oleh semua orang.Demikianlah cerita singkat dengan judul Lutung Kasarung dan Purbasari. Cerita rakyat terkait dengan kisah hidup seorang puteri bisa menjadi pilihan dongen yang cocok untuk anak. Contoh dongeng lain yang tidak kalah menarik untuk ditelisik adalah Putri Rose dan Burung Emas. Kisahnya sangat ringan dan layak sebagai pengantar tidur.
Dongeng Rakyat Aceh Ahmad Rhang Manyang
Tersebutlah sebuah desa yang berada di sekitar Krueng (Sungai) Peusangan, desa yang menyimpan ribuan misteri dan cerita yang menjadi tauladan dalam hidup. Cerita yang akan terus dikenang oleh masyarakat disana dan diceritakan kepada masyarakat lainnya juga. Desa yang berjejer rumah – rumah gubuk di sepanjang jalan dalam desa ini terkenal dengan seorang pemuda yang tampan, bijak, pandai, rajin dan berbakti kepada orang tua.Amat (Ahmad) Rhang Manyang, itulah nama pemuda yang mulai menginjak usia remaja ini. Remaja yang biasa disapa Amad ini menyibukkan diri dalam kesehariannya sebagai buruh tani di desa. Hanya menamatkan pendidikan dasar di dayah desa seberang, dia menggali ilmu – ilmu yang terpendam di Iingkungannya, belajar pada alam dan bertanya pada Tuhan. Tak ada keputusasaan dalam menjalani hidup meski terkadang harus makan nasi 2 kali sehari, baginya itulah rezeki yang sudah ditentukan setelah berusaha dan berdoa.Waktu yang terus berputar telah membawa Amat sebagai pemuda yang di sanjung di desa. Pergaulan yang telah luas mengajari Amat untuk hidup Iebih mandiri lagi. Apalagi sekarang dia hanya tinggal di sebuah gubuk bambu dengan ibunya yang telah renta. Penghasilan dari buruh tani mulai terasa kurang dan ini harus diatasi oleh Amat.“Mak, bukan Amad tidak lagi bisa bersyukur atas rezeki yang telah diberikan Allah, tetapi alangkah baiknya jika Amad mencari kerja ke luar desa”, Kata Amad pada suatu sore pada Mamaknya sambil menikmati ubi rebus dengan duduk beralaskan tikar tua.“Tapi kita masih bisa mencari rezeki disini Nyak”, Jawab Mamak“Betul Mak, bukan pula aku bosan bekerja seperti ini di desa, tetapi bukankah berusaha itu wajib? Bukankah bekerja itu juga ibadah? Jadi apa salahnya jika Amad pergi merantau?”, Ahmad berbicara datar sambil menyandarkan kepalanya ke lutut Mamaknya yang melukiskan dekatnya dua insan ini dalam kemanjaan Ibu dan Anak.Sambil membelai lembut rambut ikal di kepala Amad dan memandang dalam – dalam ke anaknya, Mak Minah berujar “Haruskah Ananda merantau meninggalkan Emakmu disini sendiri, dalam kesepian dan dalam kepapaan?”.Amad tersentak dengan kata – kata yang keluar dari bibir perempuan yang sedang mengusap lengan legamnya itu.“Mak, bukan begitu maksud Amad, anak mana yang tega meninggalkan ibunya jika kepergiannya itu tidak mendesak dan untuk kepentingan Emaknya juga? Mak, Amad merantau untuk membahagiakan Emak, untuk hidup seperti hidup orang lain. Bahagia dunia akhirat”. seakan hendak bersimpuh dengan meneteskan airmata ketulusan Amad berujar dengan terbata-bata takut hati Emaknya sedih.Setelah mengobrol cukup lama, akhirnya Mak Minah tak bisa menahan lagi keinginannya anak satu – satunya dan penyangga hidupnya selama ini. Tempat dia bercerita dan menyunggingkan senyum.Hari terus berlalu hingga tibalah saatnya Amad berangkat dengan perlengkapan seadanya. Dia hendak merantau ke negeri seberang dan perjalanan akan dilalui dengan Kapal air dari Krueng Peusangan.“Nyak, rajinlah beribadah disana, rajinlah berdoa dan tegarlah dalam berusaha. Hidup di negeri orang harus membawa bekal ilmu dan akhlak asalmu. Janganlah mereka mengubahmu tapi tularkan kebaikan pada mereka”. ujar Mak Mina.“Mak, akan Amad ingat pesan Mak sebagai pendamping dalam bekerja. Amad hanya akan pergi beberapa tahun dan akan kembali untuk bersama Emak. Jaga diri Emak baik-baik”.Mereka saling melemparkan kata-kata perpisahan hingga suara sirine kapal mulai terdengar. Memegang tangan Mak Minah, memeluk dan mencium kening penuh rona tua dan akhirnya berlutut mencium kaki Emaknya, Ahmad pamitan dan berangkat merantau. Mak Minah masih berdiri di dermaga menatap hilangnya kapal yang ditelan berlikunya Krueng Peusangan. Airmata bercucuran karena inilah pertama mereka berpisah setelah hidup belasan tahun bersama-lama. Ketika hari beranjak senja, Mak Minah pun melangkahkan kaki-kaki gontainya menuju gubuk tua.Kapal terus berlayar menyusuri sungai yang jernih dengan lompatan ikan-ikan didalamnya. Amad terpesona dengan keindahan panorama sungai dan hutan disekelilingnya yang rimbun, hijau dan anggun. Kini kapal telah membelah laut menuju negeri seberang, negeri idaman Amad, negeri yang akan mewujudkan cita-citanya.Singkat cerita akhirnya Amad tiba dinegeri seberang dan bekerja pada seorang saudagar kaya. Dia diterima sebagai tukang pikul barang-barang di dermaga. Amad bekerja dengan tekun, berdoa dengan ikhlas dan mendoakan kedua orang tuanya.Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tak terasa Iebih sepuluh almanak Ahmad telah hidup di rantau orang. Negeri yang kini telah ditaklukan dengan ilmu dan nasehat yang pernah diajarkan Mak Minah. Ahmad telah menjadi orang terpandang disana, dan kini juga telah menjadi bangsawan setelah mempersunting anak saudagar tempatnya bekerja. Tuan Amad kini harus mengurus usaha mertuanya dan itu sangat menyita waktu. Tak ada lagi waktu beribadah dan tak dibutuhkan lagi berdoa. Semua terkikis tergores batu kemewahan dan kenikmatan dunia.“Kanda, Dinda rindu akan kampung halaman Kanda!” istri Amad berkata dengan kejujuran ketika mereka berjalan di taman yang mewah.“Tapi Kanda sibuk sayang, tak ada waktu untuk bisa meninggalkan ini semua” Amad berkilah“Bukankah Kanda pernah berjanji akan membawa Dinda berkunjung ke Negri Kanda dan bertemu lbunda disana? Bukankah janji harus ditepati?” Istri Amad mulai merayu dengan kata – kata manis sehingga Iuluhlah hati Amad.Dalam kesendirian Amad juga merindukan kampung halamannya, Krueng Peusangan, Emaknya, dan sahabat-sahabatnya.Setelah semua dipersiapkan, berangkatlah sebuah kapal mewah untuk mengarungi lautan menuju ke Tanah Rencong, tanah kelahiran Tuanku Ahmad Rahmanyang. Perlengkapan yang berkecukupan dan pengawal yang gagah berani turut menyertai pelayaran ini.“Kanda, inikah tanah yang pernah Kanda ceritakan? Inikah hutan dan sungai yang indah itu?” ujar Istri Amad dengan takjubnya.“Iya Dinda. Dan sebentar lagi kita akan sampai di Istana Kakanda.” Amad menceritakn kisah bahwa dia adalah anak saudagar dari bandar Peusangan.Setibanya di dermaga Krueng Peusangan semua kru dan pengawal turun dan melihat keindahan alam Peusangan.Mak Minah yang mendengar kepulangan Amad bergegas menuju dermaga, tak lupa juga dia membungkuskan makanan kesukaaan anaknya. Hatinya berbunga — bunga dan rasa sakit yang selama ini di deritanya seakan sembuh total.“Alhamdulilah Ya Allah, Engkau telah kabulkan doa hamba ini…!” bisik lirih hati Mak Minah sambil melangkah lamban ke dermaga.Amad sedang bercanda dengan sahabat — sahabat lamanya, dengan penduduk yang masih mengenalnya dan suara wibawanya ketika Mak Minah juga tiba disana.“Amad„ Amad„ Amad anakkur,” panggil Mak Minah sambil menyeruak dalam kerumanan manusia yang sedang meneriman bingkisan dari Amad.“Amad, lihatlah Emakmu ini Nyak. Amad…!!” Mak Minah terus berteriak tapi Amad seakan tak mendengar sehingga istrinya berbisik.“Kanda, ada ibu tua yang memanggil Kanda. Dia memanggil “anak” kepada Kanda, siapakah dia?” Bisik Istrinya“Kanda tak kenal Dinda, mungkin penduduk baru disini..!”, kata Amad dengan suara yang terdengar oleh Emaknya.“Amad, ini Emakmu Nyak!” kata Mak Minah lagi ketika mereka sudah berhadap hadapan.“Emak, aku tak punya Emak seperti kamu, Orang tuaku adalah saudagar bukan fakir sepertimu”, Amad berontak dalam dirinya dan demi menjaga wibawa dihadapan lstri dan pengawalnya dia rela tak mengakui Emaknya.“Amad, ini Emakmu, lupakah kamu kepada Emak?”, tanya Mak Minah sambil menangis.“Aku tak lupa, tapi karena kau bukan Emakku maka aku tak kenal. Pengawal, tangkap perempuan ini dan seret dia jauh dari hadapanku,” perintah Amad kepada pengawal.Lalu beberapa pengawal menyeret Mak Minah, dengan muka basah airmata Mak Minah berdiri, melemparkan tongkat dan berujar“Ya Allah, jika benar saudagar yang berdiri di depanku ini adalah Amad maka kutuklah dia bersama pengawal dan harta bendanya menjadi bukit …!”, doa Mak Minah terhenti ketika petir mulai menyambar. Ahmad tersentak tapi semua sudah terlambat, doa ibu renta begitu cepat dikabulkan terhadap anaknya yang durhaka tak mengakui Emaknya. Dalam sekajap Ahmad, Istrinya, Pengawalnya dan seluruh harta bendanya termasuk Kapalnya berubah dan menyatu menjadi sebuah Bukit.Sampai sekarang di desa tersebut masih terlihat sebuah Bukit berbentuk kapal yang dinamai “Glee Kapai” atau Bukit Kapal.Pesan Moral dari adalah Jangan pernah durhaka pada orangtuamu. Sebaiknya selalu cintaidan kasihi mereka hingga akhir hayatmu.
Legenda Rawa Pening Asal Semarang
Legenda Rawa Pening bermula dari kisah seorang manusia naga yang bernama Baru Klinting. Baru Klinting ini merupakan putera dari Nyai Selakanta.Nyai Selakanta merupakan putri kepala desa Ngasem yang kemudian menikah dengan seorang petapa sakti mandraguna bernama KI Hajar. Baik Nyai Selakanta dan Ki Hajar merupakan orang yang ramah karena itu mereka disukai tetangganya.cerita rakyat Rawa PeningHidup mereka juga cukup makmur. Hanya saja ada sesuatu yang kurang dari kehidupan Nyai Selakanta dan Ki Hajar yaitu mereka masih belum dikaruniai anak.Karena itu, untuk mewujudkan keinginan sang istri agar segera mendapat momongan, Ki Hajar bertapa. Ia bertapa di Gunung Telemoyo. Selama Ki Hajar bertapa, Nyai Selakanta menunggu kabar dari sang suami dengan sabar.Hanya saja beberapa bulan sudah berlalu namun sang suami tak kunjung pulang. Hingga suatu hari, Nyai Selakanta merasa mual dan muntah. Ia pun berpikir bahwa dirinya hamil dan ternyata benar. Nyai Selakanta memang hamil.Semakin hari, perutnya pun semakin membesar dan hingga suatu hari Nyai Selakanta pun melahirkan. Hanya saja, bayi yang dilahirkan bukan bayi sebagaimana mestinya karena Nyai Selakanta melahirkan seekor naga.Lama kelamaan, Baru Klinting yang semakin besar selalu mempertanyakan siapa ayahnya. Hingga kemudian Nyai Selakanta pun mengutus Baru Klinting menjemput ayahnya yang bertapa di Gunung Telemoyo. Ia pun memberikan pedang sakti milik ayahnya.“Anakku, mungkin ayahmu tidak mengenali siapa kamu. Jika kamu bertemu dengannya, berikan pedang ini kepadanya karena ini adalah pedang miliknya dan katakana bahwa aku mengutusmu menghadapnya”.Dengan bekal pedang tersebut, Baru Klinting pun berangkat ke Gunung Telemoyo menjemput sang ayah.cerita rakyat Rawa PeningDi sana ia bertemu ayahnya dan menjelaskan pesan yang disampaikan Nyai Selakanta, ibunya. Baru Klinting juga mengatakan maksud dan tujuannya menemui sang ayah. Ia ingin berubah menjadi manusia.Ki Hajar pun meminta Baru Klinting untuk bertapa di Bukit Tugur. Namun untuk pergi ke Bukit Tugur, Baru Klinting harus melewati sebuah desa yang bernama desa Pathok. Desa Pathok terkenal sebagai desa yang makmur, hanya saja penduduk desanya sangat egois dan angkuh.Suatu hari, penduduk desa Pathok berniat mengadakan pesat sedekah bumi. Pesta tersebut sangat ramai dan menampilkan berbagai pertunjukan seni serta tari. Aneka ragam jamuan lezat juga akan dihidangkan.Salah satu menu yang akan dihidangkan juga berkaitan dengan masakan dari hewan. Karena itu penduduk desa mulai berburu. Mereka pergi ke Bukit Tugur, tempat dimana Baru Klinting melakukan semedi.Hanya saja, di sana mereka tak kunjung menemukan binatang yang bisa diburu. Namun mereka melihat naga yang melilit – lilit di pohon Bukit Tugur. Warga pun memotongnya untuk dijadikan santapan.Ketika hari pesta tiba, ada seorang anak laki – laki penuh darah yang meminta bagian makanan ke warga namun diusir begitu saja. Ia pun meninggalkan desa. Anak laki – laki yang berdarah tersebut ternyata adalah jelmaan naga Baru Klinting yang telah berubah menjadi manusia.Di perjalanan, Baru Klinting yang sudah berubah menjadi manusia bertemu janda tua bernama Nyi Latung. Ia pun meminta tolong kepada Nyi Latung untuk memberi warga pelajaran. Nyi Latung setuju untuk membantu.Nyi Latung membekali Baru Klinting dengan sebatang lidi. Baru Klinting kembali ke pesta membawa sebatang lidi tersebut. Ia menancapkan lidi tersebut ke tanah dan membuat sayembara.Warga pun beramai – ramai mencabut lidi namun satu pun tak ada yang berhasil. Sementara Baru Klinting dengan kesaktiannya, bisa mencabut lidi yang ditancapkan tersebut dengan mudah. Begitu lidi berhasil dicabut, suara gemuruh pun terdengar.Cerita rakyat Rawa PeningDari bekas tercabutnya lidi, air keluar menjadi semakin besar, memporak porandakan desa dan menjadi sebuah rawa. Rawa itulah yang dikenal sebagai Rawa Pening.
Cerita Rakyat Si Pitung : Jagoan Dari Betawi
Hati si Pitung geram sekali. Sore ini ia kembali melihat kesewenang-wenangan para centeng Babah Liem. Babah Liem atau Liem Tjeng adalah tuan tanah di daerah tempat tinggal si Pitung. Babah Liem menjadi tuan tanah dengan memberikan sejumlah uang pada pemerintah Belanda, Selain itu, ia juga bersedia membayar pajak yang tinggi pada pemerintah Belanda. Itulah sebabnya, Babah Liem mempekerjakan centeng-centengnya untuk merampas harta rakyat dan menarik pajak yang jumlahnya mencekik Ieher.Si Pitung bertekad, ia harus melawan para centeng Babah Liem. Untuk itu ia berguru pada Haji Naipin, seorang ulama terhormat dan terkenal berilmu tinggi. Haji Naipin berkenan untuk mendidik si Pitung karena beliau tahu wataknya. Ya, si Pitung memang terkenal rajin dan taat beragama. Tutur katanya sopan dan ia selalu patuh pada kedua orangtuanya, Pak Piun dan Bu Pinah.Beberapa bulan kemudian, si Pitung telah menguasai segala ilmu yang diajarkan oleh Haji Naipin. Haji Naipin berpesan, “Pitung, aku yakin kau bukan orang yang sombong. Gunakan ilmumu untuk membela orang-orang yang tertindas. Jangan sekali-kali kau menggunakannya untuk menindas orang lain.” Si Pitung mencium tangan Haji Naipin lalu pamit. Ia akan berjuang melawan Babah Liem dan centeng-centengnya.“Lepaskan mereka!” teriak si Pitung ketika melihat centeng Babah Liem sedang memukuli seorang pria yang melawan mereka.Cerita Rakyat Si PitungCerita Rakyat Si Pitung“Hai Anak Muda, siapa kau berani menghentikan kami?” tanya salah satu centeng itu.“Kalian tak perlu tahu siapa aku, tapi aku tahu siapa kalian. Kalian adalah para pengecut yang bisanya hanya menindas orang yang lemah!” jawab si Pitung.Pemimpin centeng itu tersinggung mendengar perkataan si Pitung. Dia lalu memerintahkan anak buahnya untuk menyerang si Pitung. Namun semua centeng itu roboh terkena jurus-jurus si Pitung. Mereka bukanlah lawan yang seimbang baginya. Mereka Ian terbirit-birit, termasuk pemimpinnya.Sejak saat itu, si Pitung menjadi terkenal. Meskipun demikian ia tetaplah si Pitung yang rendah hati dan tidak sombong.Sejak kejadian dengan para centeng Babah Liem, si Pitung memutuskan untuk mengabdikan hidupnya bagi rakyat jelata. Ia tak tahan menyaksikan kemiskinan mereka, dan ia muak melihat kekayaan para tuan tanah yang berpihak pada Belanda.Suatu saat ia mengajak beberapa orang untuk bergabung dengannya. Mereka merampok rumah orang-orang kaya dan membagikan hasil rampokan tersebut pada rakyat jelata. Sedikit pun ia tak pernah menikmati hasil rampokan itu secara pribadi.Rakyat jelata memuji-muji kebaikan hati si Pitung. Sebaliknya, pemerintah Belanda dan para tuan tanah mulai geram.Legenda Cerita Rakyat Si Pitung dari BetawiLegenda Cerita Rakyat Si Pitung dari BetawiApalagi banyak perampok lain yang bertindak atas nama si Pitung, padahal mereka bukanlah anggota si Pitung. Pemerintah Belanda kemudian mengeluarkan perintah untuk menangkap si Pitung. Meskipun menjadi buronan, si Pitung tak gentar. Ia tetap merampok orang-orang kaya, dengan cara berpindah tempat agar tak mudah tertangkap.Kesal karena tak bisa menangkap si Pitung, pemerintah Belanda menggunakan cara yang licik. Mereka menangkap Pak Piun dan Haji Naipin. Salah satu pejabat pemerintah Belanda yang bernama Schout Heyne mengumumkan bahwa kedua orang tersebut akan dihukum mati jika si Pitung tak menyerah. Berita itu sampai juga ke telinga si Pitung. Ia tak ingin ayah dan gurunya mati sia-sia. Ia lalu mengirim pesan pada Schout Heyne. Si Pitung bersedia menyerahkan diri jika ayah dan gurunya dibebaskan. Schout Heyne menyetujui permintaan si Pitung. Pak Piun dibebaskan, tapi Haji Naipin tetap disandera sampai si Pitung menyerahkan diri. Akhirnya si Pitung muncul. “Lepaskan Haji Naipin, dan kau bebas menangkapku,” kata si Pitung. Schout Heyne menuruti permintaan tersebut. Haji Naipin pun dilepaskan.“Pitung, kau telah meresahkan banyak orang dengan kelakuanmu itu. Untuk itu, kau harus dihukum mati,” kata Schout Heyne.“Kau tidak keliru? Bukannya kau dan para tuan tanah itu yang meresahkan orang banyak? Aku tidak takut dengan ancamanmu,” jawab si Pitung.“Huh, sudah mau mati masih sombong juga. Pasukan, tembak dia!” perintah Schout Heyne pada pasukannya.Pak Piun dan Haji Naipin berteriak memprotes keputusan Schout Heyne. “Bukankah anakku sudah menyerahkan diri? Mengapa harus dihukum mati?” ratap Pak Piun. Namun Schout Heyne tak perduli, baginya si Pitung telah mengancam jabatannya.Suara rentetan peluru pun memecahkan kesunyian, tubuh si Pitung roboh bersimbah darah terkena peluru para prajurit Belanda. Pak Piun dan Haji Naipin sangat berduka. Mereka membawa pulang jenazah si Pitung kemudian menguburkannya. Berkat jasa-jasanga, bangak sekali orang yang mengiringi pemakamannga dan mendoakannga. Meskipun ia telah tiada, si Pitung tetap dikenang sebagai pahlawan bagi rakyat jelata.Pesan moral dari Cerita Rakyat Si Pitung Dari Betawi untukmu adalah Jadilah orang yang rendah hati dan berani membela kebenaran
Dongeng Pendek Terbaik : Asal Usul Negeri Jambi
Pada zaman dahulu, Negeri Jambi terdiri atas lima desa dan belum memiliki raja. Suatu hari, para sesepuh desa berkumpul di Desa Batin Duo Belas, terletak di kaki Bukit Siguntang, untuk bermusyawarah. Mereka akan menunjuk raja yang disegani dan memiliki kelebihan. Untuk itu, calon raja harus melewati empat ujian, yaitu dibakar, direndam air mendidih, dijadikan peluru meriam, serta digiling menggunakan kilang besi.Setelah dilakukan serangkaian ujian, tidak ada calon yang bisa melewati tantangan terakhir, yaitu digiling. Akhirnya, para sesepuh mencari calon raja dari negeri lain. Berangkatlah para sesepuh ke India. Mereka menemui seseorang yang terkenal memiliki kesaktian tinggi. Setelah bertemu, para sesepuh mengutarakan niatnya. Orang sakti itu pun sanggup mengikuti ujian.Keesokan harinya, orang sakti tersebut diuji. Ia dibakar, direndam, dan dijadikan peluru, namun tetap tidak apa-apa. Terakhir, orang itu menjalani ujian digiling. Dan yang terjadi, justru kilang besinya hancur. Para penduduk gembira. Akhirnya, mereka menemukan raja yang sesuai persyaratan.
Cerita Dongeng Anak Pendek : Asal Mula Dusun Senaning dan Dusun Selat
Pada zaman dahulu kala di daerah Jambi ada sebuah negeri yang diperintah oleh Sutan Mambang Matahari. Sutan mempunyai seorang anak bernama Tuan Muda Selat dan anak perempuan bernama Putri Cermin Cina. Tuan Muda Selat sangat tampan, namun ceroboh. Putri Cermin Cina sangat cantik dan penyayang.Suatu hari, datang seorang saudagar bernama Tuan Muda Senaning. Setelah bertemu Putri Cermin Cina, saudagar itu jatuh hati. Tuan Muda Senaning segera mengungkapkan isi hatinya. Gayung bersambut, sang Putri menerima ungkapan hatinya.Tuan Muda Senaning segera menghadap Sutan Mambang. Sutan Mambang Matahari menerima lamaran tersebut. Tapi, Sutan Mambang Matahari tidak bisa segera melangsungkan pernikahan mereka karena harus berlayar selama tiga bulan.Suatu hari, Tuan Muda Senaning dan Tuan Muda Selat asyik bermain gasing di halaman istana.Putri Cermin Cina melihat keasyikan tersebut. Kehadiran Putri Cermin Cina terlihat oleh kedua orang itu. Suatu ketika, gasing mereka beradu keras. Akibatnya, kedua gasing itu mengenai kening Putri Cermin Cina. Tak lama setelah itu, sang Putri meninggal dunia. Tuan Muda Senaning merasa bersalah atas kematian Putri Cermin. Ia pun jatuh sakit, tak lama kemudian ikut meninggal.Hati Tuan Muda Selat kacau balau. Ia segera memakamkan Putri Cermin Cina di tepi sungai, sedangkan Tuan Muda Senaning di seberang sungai. Sekarang, tempat itu dikenal dengan nama Dusun Senaning.Karena merasa bersalah, Tuan Muda Selat pergi meninggalkan negerinya. Ia pun tinggal di suatu tempat dan sekarang dikenal sebagai Kampung Selat.
Cerita Betawi : Legenda Si Jampang
Jampang adalah lelaki Betawi yang hidup pada masa Indonesia masih dijajah Belanda. Ia dikenal tinggi ilmu silatnya. Piawai pula memainkan golok untuk senjata. Sejak masih muda usianya, Si Jampang suka merampok. Hingga kemudian ia menikah, tetap juga kebiasaannya merampok itu dilakukannya. Bahkan ketika istrinya meninggal dunia dan anaknya telah beranjak remaja.Meski dikenal sebagai perampok, Si Jampang tidak ingin anaknya itu mengikuti jejaknya. Ia menghendaki anaknya menjadi ahli agama. Maka, hendak dimasukkannya anaknya itu ke pesantren. Anak Si Jampang bersedia masuk pesantren dengan syarat ayahnya itu menghentikan tindakan buruknya. “Masak anaknya mengaji di pesantren tapi babehnya kerjaannya merampok? Apa kata orang nanti, Be?”Si Jampang hanya tertawa mendengar ucapan anaknya. Pada suatu hari Si Jampang mengunjungi Sarba, sahabat Iamanya. Ia telah lama tidak berkunjung. Sama sekali tidak disangkanya jika sahabatnya itu telah meninggal dunia.Ia ditemui Mayangsari, istri mendiang Sarba. Mayangsari bercerita, ia dan suaminya itu dahulu berziarah ke Gunung Kepuh Batu. Mereka berdoa di tempat itu dan memohon agar dikaruniai anak. Sarba berjanji,jika doanya dikabulkan, ia akan menyumbang dua ekor kerbau. Doa mereka akhirnya dikabulkan Tuhan. Mayangsari hamil dan akhirnya melahirkan seorang anak lelaki yang mereka beri nama Abdih. Ketika Abdih beranjak remaja, Sarba meninggal dunia. “Kata orang, suami aye’ itu meninggal karena lupa pada janjinya yang akan menyumbang dua ekor kerbau.”Mendapati Mayangsari telah menjanda sementara dirinya juga telah menduda, Si Jampang lantas melamar Mayangsari. Namun, Mayangsari menolak dengan kasar pinangan Si Jampang. Si Jampang yang sakit hati lalu mencari dukun untuk mengguna-gunai Mayangsari. Dengan bantuan keponakannya yang bernama Sarpin, didapatkannya dukun itu. Pak Dul namanya, seorang dukun dari kampung Gabus. Si Jampang lantas mengguna-gunai Mayangsari dengan guna-guna dari Pak Dul.Mayangsari jadi gila setelah terkena guna-guna. Ia sering berbicara dan tertawa sendiri. Abdih yang sangat prihatin pun berusaha mencari cara untuk menyembuhkan kegilaan yang dialami ibunya. Abdih lantas mencari dukun. Kebetulan dukun yang ditemuinya adalah Pak Dul dari kampung Gabus hingga Pak Dul dapat dengan mudah melepaskan gunaguna yang mengena pada diri Mayangsari.Si Jampang lantas menemui Abdih dan menyatakan minatnya untuk memperistri ibu Abdih itu.“Aye tidak menolak pinangan Mang’ Jampang untuk ibu aye, tapi aye minta syarat, Mang,” jawab Abdih.“Syarat apa yang kamu minta?”“Aye minta sepasang kerbau untuk mas kawinnya, Mang,”Si Jampang menyanggupi, meski sepasang kerbau bukan perkara yang gampang untuk didapatkan Si Jampang. Si Jampang berusaha memikirkan cara untuk mendapatkan sepasang kerbau. Teringatlah ia pada Haji Saud yang tinggal di Tambuh. Haji Saud sangat kaya, namun sangat kikir. Si Jampang lantas menghubungi Sarpin dan mengajak keponakannya itu merampok rumah Haji Saud.Rupanya, rencana perampokan itu telah diketahui Haji Saud. Haji Saud telah menghubungi polisi. Para polisi segera bersiaga di sekitar rumah Haji Saud. Maka, ketika Si Jampang dan Sarpin yang mengenakan baju hitam-hitam itu datang hendak merampok, para polisi segera mengepungnya. Si Jampang ditangkap dan dipenjarakan. Ia kemudian dijatuhi hukuman mati.Kematian Si Jampang disambut gembira para tauke dan tuan tanah karena merasa terbebas dari keonaran yang dilakukan Si Jampang. Namun, kematian Si Jampang ditangisi rakyat miskin. Meski dikenal selaku perampok, namun Si Jampang banyak memberikan bantuannya kepada mereka. Kebanyakan Si Jampang membagi-bagikan hasil rampokannya itu kepada mereka yang membutuhkan. Bagi rakyat miskin, Si Jampang adalah sosok pahlawan.Pesan moral dari kumpulan cerita betawi : legenda si jampang adalah menegakkan kebenaran memang berat. Meski demikian hendaklah kita senantiasa menegakkan kebenaran karena kebenaran adalah sesuatu yang akan dikenang sepanjang zaman.
Cerita Dongeng Menjelang Tidur dari Jambi : Legenda Puti Kusumba
Alkisah pada masa lampau di Jambi, hiduplah sepasang suami istri yang belum dikaruniai anak.Perkawinan mereka yang telah berlangsung cukup lama belum juga mendapat tanda tanda akan hadirnya seorang anak. Meski demikian, pasangan suami istri itu tak putus asa. Mereka terus berupaya dan berdoa.Cerita Dongeng Menjelang Tidur dari Jambi Puti KusumbaCerita Dongeng Menjelang Tidur dari Jambi Puti KusumbaPada suatu malam, pasangan suami istri itu mengalami mimpi yang sama. Mereka bermimpi didatangi seorang kakek yang tak mereka kenal.“Bila kalian ingin memiliki anak, carilah rebung yang dililit ular sawah”, kata si kakek. “Masaklah rebung itu dan makanlah. Niscaya apa yang kalian dambakan akan segera terwujud”, tambahnya lagi. Setelah berkata demikian si kakek itupun pergi.Keesokan harinya pasangan suami istri itu saling menceritakan mimpinya masing masing. Mereka merasa aneh, mengapa bisa mengalami mimpi yang sama. Mereka pikir pastilah ini pertanda baik. Mereka memutuskan untuk mengikuti petunjuk si kakek.Ketika hari mulai terang, berangkatlah mereka menuju ke pinggir hutan yang banyak ditumbuhi pohon bambu. Rebung merupakan tunas bambu yang masih muda dan biasa dijadikan sayur sebagai pelengkap makan nasi.Begitu sampai, mereka segera mengamati satu persatu rebung yang ada sambil berjalan menunduk. Mereka terus mencari rebung yang dililit ular sawah.Tak berapa lama kemudian, pasangan suami istri itu menemukan seekor ular sawah yang sedang melilitikan tubuhnya pada serumpun rebung. Hati mereka melonjak kegirangan karena menemukan apa yang cari.“Sebaiknya kita bicara saja pada ular sawah ini apa tujuan kita kesini”, kata sang suami pada istrinya. Sang istri mengangguk setuju.Sang suami segera menceritakan mimpinya kepada ular sawah. Tak disangka, ular sawah itu ternyata bisa bicara layaknya seorang manusia.“Bila kau membutuhkan rebung itu, ambilah”, kata ular sawah. “Tapi aku ingin membuat perjanjian terlebih dulu denganmu”, tambah si ular sawah sambil mulai merenggangkan lilitannya pada rebung.“Perjanjian apa yang kau maksud ?”, tanya sang suami penasaran. Ular sawah itu mulai merayap mendekatinya.“Aku ingin kau berjanji untuk menyerahkan anakmu padaku jika ia perempuan. Jika anakmu laki laki maka kau berhak memilikinya”, kata ular sawah itu sambil mengangkat kepalanya menatap sang suami.Sepasang suami istri itu terkejut mendengar apa yang dikatakan ular sawah. Mereka tak menyangka ular sawah itu mengajukan syarat yang sungguh berat. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya sang suami menyetujui kesepakatan yang diajukan ular sawah.“Baiklah, kami akan menyerahkan anak kami padamu jika ia perempuan..”, kata sang suami pelan. “Kami akan menyerahkannya ketika ia berumur tujuh tahun”, tambahnya sambil menatap ular sawah.Meski terasa sangat berat, keinginan memiliki anak yang begitu kuat membuatnya memutuskan untuk setuju. Sang istripun tak punya pilihan. Ia sependapat dengan suaminya.Pulanglah sepasang suami istri itu membawa rebung seperti yang dimaksud si kakek. Begitu tiba di rumah sang istri langsung memasaknya dan menyantapnya bersama sang suami. Waktu terus berjalan, hari berlalu. Pada suatu pagi sang istri merasakan ada perubahan pada dirinya. Ia mulai mengandung.Tak terasa tibalah saatnya sang istri melahirkan jabang bayi. Kegembiraan mereka akan kehadiran anak yang ditunggu mendatangkan kebahagiaan dan kesedihan sekaligus.Mereka gembira karena harapan untuk memiliki seorang anak telah terwujud. Namun demikian pasangan suami istri itu juga merasakan kesedihan manakala mengetahui anak mereka perempuan. Mereka teringat akan kesepakatan yang telah dibuat dengan ular sawah tempo hari.Bayi perempuan itu diberi nama Puti Kusumba. Ia tumbuh menjadi seorang anak perempuan yang lucu dan menggemaskan. Ayah dan ibunya semakin resah karena kini Puti Kusumba telah berumur tujuh tahun. Tibalah saatnya anak itu diserahkan kepada ular sawah.Karena tak sanggup memenuhi janjinya, sepasang suami istri itu bermaksud mengingkarinya. Mereka mengurung Puti Kusumba di dalam rumah dan tak pernah ditinggalkan seorang diri. Mereka takut sekali jika ular sawah datang dan membawa pergi putri yang sangat mereka cintai.Pada suatu ketika, sang suami hendak pergi berlayar meninggalkan pulau tempat tinggal mereka. Sebelum berangkat sang suami berpesan pada istrinya agar tak membawa Puti Kusumba keluar rumah walau sekejap.“Jagalah Puti baik baik. Jangan sampai ular sawah itu punya kesempatan untuk mengambilnya”, kata sang suami dengan nada khawatir. Sang suami sebenarnya enggan meninggalkan istri dan anaknya sendirian, namun apa daya, ia harus mencari nafkah.Beberapa hari setelah kepergian suaminya, sang istri membawa Puti Kusumba mandi ke sungai. Sang istri lupa akan pesan suaminya. Ketika keduanya tengah asyik bermain air sungai, tiba tiba datang ular sawah dan mengangkat Puti Kusumba.“Tolong bu…. tolong…”, teriak Puti Kusumba panik. Sang ibu tak kalah paniknya. Ia segera menjerit jerit minta pertolongan. Namun sayang, tak ada seorangpun di dekat mereka. Ular sawah itu membawa Puti Kusumba pergi dengan cepatnya.Ular sawah membawa Puti Kusumba ke sebuah tebing yang menjorok ke laut. Puti Kusumba tak dapat berbuat apa apa. Gadis kecil itu hanya duduk menangis sambil menatap perahu perahu nelayan yang lalu lalang dibawah tebing. Ingin sekali ia berteriak minta tolong, namun bayangan dimakan ular sawah membuatnya mengurungkan niatnya. Ia hanya bisa berharap ayahnya lewat disitu dan menolongnya.Sehari hari Puti makan buah buahan yang dibawakan ular sawah untuknya. Suatu hari ular sawah datang menghampiri Puti Kusumba dan bertanya,“sebesar apakah hatimu gadis kecil ?”, tanyanya suatu kali. “Sebesar jeruk..”, jawab Puti Kusumba sambil menahan tangis.Beberapa hari kemudian ular sawah datang lagi dan bertanya padanya,“sebesar apa hatimu sekarang gadis kecil ?”tanyanya sambil membawakan Puti Kusumba buah buahan.“Sebesar mangga..”, jawab Puti Kusumba. Ia berharap ular sawah itu segera pergi meninggalkannya. Ia sungguh ketakutan berdekatan dengan ular itu.Setiap hari Puti Kusumba senantiasa memandang kebawah tebing. Ia berharap ayahnya lewat disitu. Suatu hari ketika tengah melamun, Puti Kusumba dikejutkan oleh suara ular sawah yang tiba tiba sudah berada dikampingnya.“Hai gadis kecil, sudah sebesar apa hatimu sekarang ?”, tanya ular sawah dengan suara keras. Puti Kusumba kembali menangis ketakutan.“Sebesar kelapa ”, jawabnya di tengah isak tangisnya.Ular sawah gembira sekali mendengar jawaban Puti Kusumba.“Hhhmmmm…sudah saatnya berpesta nanti malam..”, pikirnya senang. Ular sawah berniat mengundang kesepuluh ekor ular temannya untuk beramai ramai menyantap Puti Kusumba. Melihat ular sawah yang menyeringai ke arahnya, Puti Kusumba menangis semakin keras. Ia tahu kalau tak lama lagi dirinya akan disantap ular sawah.Hari mulai senja ketika Puti Kusumba melihat sebuah perahu yang berada tak jauh dari tebing. Ia mengamati sosok laki laki di atasnya dengan seksama. Ia merasa mengenali sosok yang tengah mendayung di atas perahu itu. Dugaannya benar. Ayahnya yang tengah melaju di atas perahu itu sebentar lagi lewat di dekatnya.Puti Kusumba berteriak sekeras kerasnya.“Ayah….ayah…tolong Puti…”, teriaknya berkali kali. Sang ayah terkejut mendengar suara anak perempuannya berteriak minta tolong. Setelah memperhatikan keadaan sekeliling, sang ayah akhirnya menemukan tempat anaknya berada. Ia melihat Puti Kusumba tengah melambai lambaikan tangannya dari atas tebing sambil berteriak teriak.Sang ayah terkesiap. Ia memastikan bahwa anaknya itu tengah disandera ular sawah. Tak mau membuang waktu, ia langsung mendayung ke bawah tebing hendak menjemput anaknya.“Melompatlah kau kesini, nak…”, teriak sang ayah. “Ayah akan menangkapmu..”, tambahnya dengan suara tergesa.Meski takut, Puti Kusumba menuruti perintah ayahnya. Ia segera melompat dari atas tebing yang rupanya tak terlalu tinggi itu. Sekejap kemudian ia merasakan tubuhnya telah sampai dalam gendongan ayahnya.Ular sawah yang baru datang bersama kesepuluh temannya sangat terkejut melihat Puti Kusumba tak ada di tempatnya. Setelah mencari cari, matanya menangkap sebuah perahu nelayan berisi seorang laki laki dan seorang anak kecil di kejauhan.“Aaaaargggg…..santapanku lepas…”, teriaknya marah. Ia tahu bahwa anak kecil dalam perahu itu adalah Puti Kusumba yang telah dibawa pergi ayahnya.Kesepuluh teman ular sawah marah besar. Mereka merasa ditipu. Bayangan lezatnya menyantap daging manusia membuat mereka semakin murka. Entah siapa yang memulai, kesepuluh ekor ular yang tengah kelaparan itu akhirnya menyerang si ular sawah. Mereka mengoyak tubuhnya dan menyantap dagingnya bersama sama.Kini Puti Kusumba telah kembali ke rumah dengan selamat. Sejak matinya si ular sawah, Puti Kusumba hidup tenang bersama ayah ibunya. Ketakutan akan kejaran si ular sawah telah sirna selamanya.
Legenda Jaka Tarub dan Nawang Wulan
Jaka Tarub adalah pemuda yang tampan. Dia sangat populer di desanya.Banyak gadis muda jatuh cinta padanya. Namun Jaka Tarub berpikir bahwa mereka tidak cukup cantik untuk menjadi istrinya.Itu sebabnya dia masih lajang.Dia ingin memiliki istri yang sangat cantik.Seperti biasa Jaka Tarub pergi ke hutan untuk mengumpulkan kayu. Tiba-tiba dia mendengar suara dari air terjun.Dia penasaran.Suara itu terdengar seperti banyak gadis sedang mandi di air terjun didalam hutan.Agak mengendap-endap, Jaka Tarub berjalan ke arah air terjun. Ketika dia tiba di sana, dia melihat tujuh gadis sangat cantik sedang mandi.Dia benar-benar terpesona dengan kecantikan mereka.Setelah mereka selesai mandi, gadis-gadis itu perlahan mengambil selendang mereka.Hebatnya setelah mereka mengenakan selendang, mereka terbang ke langit.“Mereka bukan manusia. Mereka Bidadari dari Kahyangan!” kata Jaka Tarub terkesima.Setelah itu Jaka Tarub pulang.Dia sangat gelisah.Dia terus memikirkan tujuh gadis cantik itu.Pada hari berikutnya, Jaka Tarub kemudian memutuskan untuk kembali ke air terjun.Ketika para Bidadari itu mandi, dia mencuri salah satu selendangnya.Legenda Jaka Tarub dan Nawang WulanLegenda Jaka Tarub dan Nawang WulanDan itu membuat satu peri tidak bisa terbang kembali ke langit.Dia menangis.Jaka Tarub kemudian mendekatinya. “Ada apa? Kenapa kamu menangis?”“Aku kehilangan selendangku. Aku tidak bisa kembali ke rumah. Semua saudariku telah meninggalkanku. Namaku Nawang Wulan. Aku akan memberimu apa pun jika kamu dapat menemukan syalku.” kata peri itu.“Aku akan membantumu. Tetapi jika kita tidak dapat menemukannya, kamu bisa tinggal di rumahku. Kamu bisa menjadi istriku,” kata Jaka Tarub.Kemudian Jaka Tarub berpura-pura mencari selendang. Dan tentu saja mereka tidak dapat menemukannya.Setelah itu mereka pergi ke rumah Jaka Tarub.Kemudian mereka menikah. Mereka punya bayi perempuan.Mereka memiliki kehidupan yang bahagia.Mereka selalu punya cukup nasi untuk dimakan.Mereka tidak harus bekerja keras seperti tetangga mereka yang lain.Itu karena Nawang Wulan menggunakan sihirnya untuk memasak.Suatu hari, Jaka Tarub bertanya kepada istrinya mengenai keanehan beras mereka yang tidak pernah habis.Nawang Wulan tidak memberitahunya rahasia itu dan memintanya untuk jangan pernah membuka tutup panci saat memasak.Dia mengatakan bahwa jika Jaka Tarub membuka tutupnya, mereka harus bekerja keras untuk mendapatkan banyak nasi untuk dimasak.Suatu hari, Jaka Tarub benar-benar ingin tahu. Dia kemudian membuka tutup panci memasak.Dia terjekut ketika melihat hanya ada beberapa butir beras untuk dimasak.Ketika Nawang Wulan sampai di rumah, dia tahu bahwa Jaka Tarub telah membuka tutupnya.Dia marah karena dia sudah kehilangan keajaiban dalam memasak.Sekarang dia harus mengambil nasi dalam porsi besar untuk dimasak.Perlahan-lahan cadangan beras mereka di tempat penyimpanan semakin berkurang.Dan ketika Nawang Wulan ingin mengambil beras terakhir, dia menemukan selendangnya.Jaka Tarub menyembunyikan selendangnya di tempat penyimpanan beras.Nawang Wulan sangat senang, sekaligus sedih. Dia kemudian berkata, “Aku akan pulang sekarang. Jaga putri kita. Ketika ada bulan purnama, bawa dia keluar dari rumah dan aku akan datang untuk menjemputnya.”Nawang Wulan kemudian terbang ke langit.Jaka Tarub sangat sedih.Dan untuk menepati janji, Jaka Tarub selalu pergi keluar rumah bersama putrinya saat bulan purnama. Namun Nawang Wulan tidak pernah kembali.Pernikahan Nawangsih, Putri dari Jaka Tarub dan Nawang WulanNawang Wulan yang marah karena mengetahui bahwa suaminya adalah pencuri selendang miliknya akhirnya meninggalkan Jaka Tarub.Walaupun Jaka Tarub memohon istrinya agar tidak pulang ke kahyangan. Namun tekad Nawang Wulan sudah bulat.Hanya saja, pada waktu-waktu tertentu ia rela datang ke marcapada untuk menyusui bayi Nawangsih.Setelah sekian lama Jaka Tarub kemudian menjadi pemuka desa bergelar Ki Ageng Tarub, dan bersahabat dengan Brawijaya raja Majapahit.Pada suatu hari Brawijaya mengirimkan keris pusaka Kyai Mahesa Nular supaya dirawat oleh Ki Ageng Tarub.Utusan Brawijaya yang menyampaikan keris tersebut bernama Ki Buyut Masahar dan Bondan Kejawan, anak angkatnya. Ki Ageng Tarub mengetahui kalau Bondan Kejawan sebenarnya putra kandung Brawijaya. Maka, pemuda itu pun diminta agar tinggal bersama di desa Tarub.Sejak saat itu Bondan Kejawan menjadi anak angkat Ki Ageng Tarub, dan diganti namanya menjadi Lembu Peteng. Ketika Nawangsih tumbuh dewasa, keduanya pun dinikahkan.Setelah Jaka Tarub meninggal dunia, Lembu Peteng alias Bondan Kejawan menggantikannya sebagai Ki Ageng Tarub yang baru. Nawangsih sendiri melahirkan seorang putra, yang setelah dewasa bernama Ki Getas Pandawa.Ki Ageng Getas Pandawa kemudian memiliki putra bergelar Ki Ageng Sela, yang merupakan kakek buyut Panembahan Senapati, pendiri Kesultanan Mataram.
Cerita Rakyat Betawi : Keberanian Murtado
Murtado tinggal di daerah Kemayoran. Parasnya cukup tampan, tapi yang terpenting adalah sikapnya yang santun dan berani membela orang yang lemah. Saat itu, keadaan di daerah Kemayoran kurang aman. Selain karena masih dijajah oleh Belanda, banyak pula gangguan dari jagoan-jagoan Kemayoran yang jahat. Mereka memeras rakyat kecil dan merampas hasil pertaniannya.Sejak kecil, Murtado dididik dengan baik oleh ayahnya. Tak hanya ilmu agama dan pelajaran sekolah, tapi juga ilmu bela diri. Meskipun menguasai ilmu bela diri dengan baik, Murtado tak pernah sekali pun menyalahgunakan kemampuannya itu.Semakin hari keadaan di daerah Kemagoran semakin tak aman. Penguasa Belanda semakin merajalela. Pemimpin daerah Kemagoran pun dijadikan kaki tangan mereka. Pemimpin yang disebut dengan Bek itu sebenarnya orang pribumi, namanya Bek Lihun.Ia dibantu oleh Mandor Bacon. Meskipun pribumi, mereka lebih membela kepentingan Belanda dari pada kepentingan penduduk Kemayoran.Murtado sebenarnya tak tahan melihat perilaku Bek Lihun dan Mandor Bacan yang semena-mena, namun ia berusaha menahan diri. Suatu hari, kemarahannya memuncak, karena melihat Mandor Bacan yang berani menggoda kekasih Murtado pada acara derapan padi. Saat itu, Mandor Bacon ditunjuk sebagai pengawas jalannya acara itu.“Hei Mandor Bacan, berani sekali kau mengganggu kekasihku,” teriaknya sambil menghadang Iangkah Mandor Bacan.Mandor Bacan menanggapinya dengan sinis, “Memangnya kenapa? Aku bebas mengukai wanita mana pun yang aku mau,” jawabnya.Kumpulan Cerita Rakyat Betawi Macan KemayoranKumpulan Cerita Rakyat Betawi Macan KemayoranMurtado segera mengeluarkan jurus-jurus bela dirinya. Mandor Bacan tak mau kalah, tapi Murtado dengan mudah mengalahkannya. Mereka bukanlah lawan yang seimbang. Tak terima dengan perlakuan Murtado, Mandor Bacan melaporkan kejadian itu pada Bek Lihun. Bek Lihun merasa tersinggung dengan tingkah laku Murtado, ia pun mencari cara untuk mencelakai Murtado. Berbagai cara telah dilakukan untuk menjebak dan mengalahkan Murtado, tapi semuanya gagal. Akhirnga Bek Lihun menyerah, ia pun mengakui kehebatan Murtado dan memilih untuk bersahabat dengannya.Sebagai seorang kesatria, Murtado menerima tawaran persahabatan dari Bek Lihun. Ia tak menyimpan dendam sedikit pun, bahkan bersedia membantu Bek Lihun memberantas kawanan perampok yang dipimpin oleh Warsa.“Murtado, Belanda sudah menegurku berkali-kali. Aku dianggap tak mampu menjaga keamanan daerah kita ini. Gara-gara Warsa, penduduk kampung kita semakin miskin dan tak mampu membayar pajak. Kau mau, kan membantuku?” pinta Bek Lihun.Murtado berpikir sejenak. Sebenarnya ia bimbang, membantu Bek Li hun berarti membantu Belanda juga.“Bek Lihun, camkan kata-kataku. Aku mau membantumu untuk meIawan Warsa, tapi bukan untuk kepentingan Belanda. Aku merasa wajib melindungi penduduk kampung dari kekejian Warsa dan anak buahnya,” kata Murtado.“Terima kasih, Murtado. Aku tahu, hatimu pasti tak tega melihat penderitaan teman-teman kita ini,” jawab Bek Lihun.Murtado mulai menyusun strategi. Bersama Saomin dan Sarpin, ia pergi ke markas Warsa dan anak buahnya. Biasanya, Warsa dan anak buahnya berkumpul di daerah Tambun dan Bekasi, tapi malam itu mereka tak ada di sana.Cerita Rakyat Betawi si Macan KemayoranCerita Rakyat Betawi si Macan KemayoranMurtado dan teman-temannya tak kehabisan akal, mereka bertanya pada setiap orang yang mereka jumpai. Akhirnya mereka mendapat informasi kalau Warsa dan anak buahnya sedang berada di daerah Karawang. Tanpa buang-buang waktu lagi, Murtado dan teman-temannya menyusul ke Karawang. Dan terjadilah pertempuran hebat.Warsa adalah Iawan yang tangguh, ilmu bela dirinya juga hebat. Tak heran jika orang-orang takut padanya.“Ha… ha… anak ingusan macam kau hendak melawanku? Rasakan jurusku ini!” kata Warsa sambil melayangkan tinju. Namun Murtado tak kalah hebat. Dikerahkannya semua ilmu bela diri yang ia kuasai. Saomin dan 5arpin juga bertarung melawan anak buah Warsa.Akhirnya kemenangan berpihak pada Murtado. Warsa tewas di tangannya, sementara anak buahnya menyerah kalah.“Ampuni kami Tuan, kami akan melakukan apa saja yang Tuan pinta, tapi jangan bunuh kami,” kata mereka mengiba-iba.“Tunjukkan di mana hasil rampokan itu kalian simpan, setelah itu kalian akan aku ampuni,” kata Murtado tegas.Murtado dan teman-temannya membawa pulang hasil rampokan Warsa ke Kemayoran. Mereka mengembalikannya pada pemiliknya masing-masing. Penduduk Kemayoran sangat gembira. Begitu juga dengan Bek Lihun, ia bahkan melaporkan keberhasilan Murtado pada Belanda.Penguasa Belanda kagum pada kegigihan dan keberanian Murtado. Atas usul Bek Lihun, penguasa Belanda menawarkan Murtado untuk menjadi pemimpin daerah Kemayoran menggantikan Bek Lihun.“Maaf Tuan, tapi saya lebih senang menjadi rakyat biasa. Biarkan saya berjuang di jalan saya sendiri,” tolak Murtado dengan halus.Ya, Murtado tak mau menjadi kaki tangan Belanda. Ia merasa Iebih baik hidup sebagai rakyat biasa dan membantu menjaga keamanan penduduk Kemayoran dengan caranya sendiri. Karena keberaniannya itu, penduduk Kemayoran dan penguasa Belanda menjulukinya “Macan Kemayoran”.Pesan moral dari Cerita Rakyat Betawi : Murtado Macan Kemayoran untukmu adalah semua orang pasti memiliki kemampuan dan bakat. Karena itu gunakanlah kemampuan dan bakatmu untuk membantu orang-orang di sekitarmu.
Cerita Rakyat Singkat : Bujang Katak
Alkisah, di daerah Bangka ada seorang perempuan tua yang sangat miskin. Ia mempunyai anak yang memiliki bentuk dan kulit seperti katak. Masyarakat sekitar memanggil anak tersebut Bujang Katak.Bujang Katak tumbuh menjadi pemuda yang rajin. Suatu hari, Bujang Katak mengutarakan keinginannya untuk menikahi putri raja kepada ibunya. Mereka pun berangkat ke kerajaan dan mengutarakan maksud kedatangannya.Sang Raja mempersilahkan ketujuh putrinya menentukan pilihannya. Semua putri Raja menolak, kecuali si Bungsu. Putri Bungsu bersedia menikah dengan Bujang Katak asal dibuatkan jembatan emas dari rumah Bujang Katak sampai istana.Bujang Katak segera bertapa. Pada malam ketujuh, keajaiban terjadi. Tubuh Bujang Katak memancarkan sinar berwarna kekuningan, kulit kataknya mengelupas. Ia menjadi pemuda yang tampan dan gagah. Bujang Katak membakar kulit kataknya. Kulit itu berubah menjadi tumpukan emas. Dengan emas itulah, ia membangun jembatan dalam waktu satu malam.Paginya, istana gempar dengan adanya jembatan emas. Sang Raja juga kaget melihat Bujang Katak yang sudah berubah. Ia pun dinikahkan dengan Putri Bungsu dan hidup di istana.
Cerita Rakyat Betawi Pendek : Putri Keong Mas
Pada zaman dahulu, hiduplah seorang janda dan anak laki-lakinya yang bernama Ceceng. Mereka tinggal di sebuah gubuk tua yang didirikan di atas tanah sewaan, dari seorang tuan tanah. Suatu hari, ibu Si Ceceng sakit. Semakin hari sakit ibu Si Ceceng bertambah parah. Akhirnya, ibu Si Ceceng mengembuskan napas terakhirnya. Kini, Si Ceceng tinggal sendirian.Keesokan harinya datanglah tuan tanah menagih uang sewa tanah. Si Ceceng memohon kepada tuan tanah untuk menangguhkan pembayarannya. Namun, tuan tanah sangat marah. Kemudian disuruhnya Si Ceceng mengerjakan sawahnya, sebagai ganti pembayaran sewa tanah. Permintaan tuan tanah disanggupinya sebagai pengganti utangnya.Pada suatu hari, ketika Si Ceceng sedang mencangkul di sawah. Ia melihat seekor keong emas. Ia mengambilnya dan membawanya pulang. Setibanya di rumah, keong itu diletakkan di dalam tempayan dan ditutupnya dengan rapi. Kemudian ia kembali lagi ke sawah, meneruskan pekerjaannya yang tertunda. Hingga sore hari, ia tetap berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.cerita rakyat betawi pendek : Putri Keong Mascerita rakyat betawi pendek : Putri Keong MasAlangkah terkejutnya Si Ceceng, ketika melihat rumahnya tampak rapi dan bersih. Tidak hanya itu, makanan dan minuman juga tersedia. Siapa gerangan yang telah memasak? Tanpa ragu, akhirnya Si Ceceng pun menghabiskan seluruh makanan dan minuman yang ada.Si Ceceng tidur lebih awal dari biasanya. Keesokannya, ia segera pergi ke sawah seperti biasanya. Ia pun kembali pulang di sore harinya. Rasa lelah segera musnah, makanan dan minuman kembali terhidang`, seperti hari kemarin. Ia pun tanpa ragu menyantapnya dengan lahap. Begitu seterusnya. Akhirnya, ia pun bertekad untuk menyelidikinya.Pada suatu hari, Si Ceceng melihat seorang gadis keluar dari tempayannya. Melihat hal itu, Si Ceceng segera mendekati si gadis tersebut. Si gadis sangat terkejut. Selanjutnya, gadis itu segera menceritakan riwayat hidupnya kepada Si Ceceng. Dia adalah seorang bidadari yang dikutuk menjadi seekor keong. Singkat cerita, mereka pun menikah dan hidup bahagia, sampai mendapatkan seorang putri yang bernama Sri Nawangsih.Kebahagiaan rumah tangga Si Ceceng tidak bertahan lama. Si istri dengan tak sengaja menemukan pakaian bidadarinya yang dulu hilang. Ia pun terbang ke kahyangan dan kembali ke tempat asalnya. Sudah menjadi takdir sang dewa, si Ceceng tak kuasa menahan istrinya lebih lama lagi di dunia. Semenjak kepergian istrinya, Si Ceceng hidup sendiri membesarkan seorang putri, buah hati yang ditinggalkan istri terkasih yang tak pernah kembali.Pesan moral dari cerita rakyat betawi pendek : Putri Keong Mas adalah dengan ketabahan dan ketulusan menerima takdir. membuat hidup menjadi tenang dan damai.
Kisah Rakyat Perjuangan Pangeran Sarif
Pangeran Sarif adalah salah seorang ulama di Betawi. Ia terpaksa menyingkir keluar dari Jayakarta setelah Jayakarta dikuasai Kompeni Belanda. Bersama para ulama dan kekuatan lain yang menentang Kompeni Belanda, Pangeran Sarif menyusun kekuatan secara sembunyi-sembunyi. Ia sangat membenci penjajahan manusia atas manusia lainnya seperti yang dilakukan Kompeni Belanda terhadap bangsanya. Pangeran Sarif yakin, suatu saat kekuatan Kompeni Belanda akan dapat diusir dari Jayakarta.Kumpulan Cerita Betawi Kisah Rakyat Perjuangan Pangeran SarifKumpulan Cerita Betawi Kisah Rakyat Perjuangan Pangeran SarifDalam pengungsiannya, Pangeran Sarif tetap aktif menyebarkan agama Islam. Ia memberikan pelajaran menulis huruf Arab dan membaca Al Qur’an. Dengan ketinggian ilmu agama yang dimilikinya, Pangeran Sarif juga menjelaskan makna dan tafsir ayat-ayat Al Qur’an tersebut. Penjelasannya disampaikannya dalam bahasa sederhana yang kerap diselingi dengan humor hingga dapat ditangkap dengan mudah oleh murid-muridnya. Kian bertambah hari kian banyak saja orang yang datang kepada Pangeran Sarif dan meminta menjadi muridnya.Pangeran Sarif kerap berkeliling dari daerah ke daerah lainnya untuk menyebarkan agama Islam dan juga menyusun kekuatan untuk menentang Kompeni Belanda. Pada suatu hari Pangeran Sarif menuju daerah Pasar Minggu. Ia hendak menuju desa Bendungan. Ketika sampai di pinggir kali Ciliwung, gerimis turun. Pangeran Sarif segera mengenakan kerudung di kepalanya untuk melindungi kepalanya dari air hujan. Mendadak Pangeran Sarif melihat sebuah perahu yang terlihat menuju arah kota.Sejenak berbincang-bincang, pemilik perahu menyatakan kepada Pangeran Sarif bahwa ia hendak menuju kota. Pangeran Sarif lalu meminta diri dan secepatnya menyelinap dijalan setapak di antara semak-semak. Pangeran Sarif perlu melakukan tindakan itu untuk menghilangkan jejak. Ia perlu berhati-hati, terutama kepada orang yang hendak menuju kota. Bisa jadi, orang itu akan melaporkan keberadaannya kepada Kompeni Belanda. Menurut kabar yang didengarnya, dirinya termasuk salah satu orang yang paling dicari oleh pernerintah Kompeni Belanda karena dianggap amat luas pengaruhnya untuk menentang pemerintah Kompeni Belanda.Seketika Pangeran Sarif menyelinap, si tukang perahu buru-buru mengarahkan perahunya untuk mengikuti Pangeran Sarif. Begitu pula ketika Pangeran Sarif berbelok arah dengan memasuki sebuah terowongan, si tukang perahu buru-buru pula mengikutinya. Terowongan itu tembus hingga ke sungai Sunter di dekat Pondok Gede. Hingga ke daerah itu si tukang perahu terus mengikuti.Si tukang perahu merasakan keanehan. Terowongan yang tadi dilewatinya terlihat sempit dan gelap. Hingga saat itu ia belum pernah melewatinya. Bahkan, ia belum pernah mendengar adanya terowongan itu. Ketika menyadari keanehan itu, ia pun bermaksud untuk kembali ke sungai Ciliwung dengan memasuki terowongan sempit lagi gelap itu. Benar-benar mengherankan, terowongan itu sudah tidak ada lagi!Si tukang perahu lantas menghampiri Pangeran Sarif. Katanya, “Ampunilah saya wahai Wan Haji. Sungguh, saya tidak bermaksud buruk dengan mengikuti Wan Haji.”“Jangan meminta ampun kepadaku,” jawab Pangeran Sarif “Mintalah ampun kepada Allah, karena hanya Allah yang pantas engkau mintai ampun.”Si tukang perahu lantas memohon ampun kepada Allah dengan cara mengikuti ucapan Pangeran Sarif. Katanya kemudian, “Saya ingin menjadi murid Wan Haji. Saya ingin mendapatkan ilmu dan pengetahuan agama Islam yang dapat saya terapkan dalam kehidupan saya:’Pangeran Sarif bersedia mengajarkan agama Islam kepada si tukang perahu. Sejak saat itu si tukang perahu menjadi murid sekaligus pengikut Pangeran Sarif yang sangat setia. Adapun terowongan gaib yang sempat dilewati si tukang perahu di kemudian hari disebut Lubang Buaya oleh penduduk yang mengetahui ceritanya.Pesan moral dari kumpulan cerita betawi : kisah rakyat perjuangan pangeran sarif adalah mendekat dan berbaktilah kepada Tuhan, niscaya Tuhan akan memberikan pertolongannya.
Cerita Rakyat Telaga Warna dari Jawa Barat
Alkisah berdiri suatu kerajaan bernama Kutatanggeuhan di Jawa Barat. Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang raja bernama Prabu Swarnalaya. Prabu Swarnalaya ini merupakan seorang raja yang memimpin kerajaan didampingi seorang ratu cantik bernama Ratu Purbamanah.Telaga WarnaSelama masa kepemimpinannya, Prabu Swarnalaya sangat dicintai rakyatnya. Daerah dibawah kepemimpinannya pun sangat makmur. Hanya saja, sebagaimana pepatah bahwa tak ada satu manusia pun yang sempurna, kehidupan Prabu Swarnalaya pun demikian.Ada satu perasaan terpendam yang dirasakan oleh Prabu Swarnalaya karena beliau tidak memiliki anak meski sudah lama menikah dengan sang istri. Setelah ditelusuri ternyata penyebabnya adalah karena sang prabu sendiri yang melanggar pantangan berburu rusa di Gunung Mas. Hal tersebut dikatakan oleh ahli nujum istana yang mendapat wangsit bahwa setiap rusa yang dibunuhnya menjadi simbol hilangnya keturunan dari Prabu Swarnalaya.Mendengar hal tersebut, perasaan sedih dan menyesal dirasakan oleh sang prabu. Sang prabu pun berusaha untuk memperbaiki apa yang sudah terjadi. Berangkatlah sang prabu untuk bertapa pada malam bulan pernama di sebuah goa kecil yang ada di Gunung Mas. Ia berangkat sendirian tanpa didampingi pengawal atau pun tanpa menggunakan atribut kerajaan.Telaga WarnaSelama prabu pergi, rasa cemas berkecamuk di hati sang ratu. Namun selama beberapa pekan bertapa, akhirnya penantian sang ratu berakhir. Sang prabu pun pulang. Ratu Purbamanah yang sangat khawatir dengan keadaan suaminya langsung menyambut kedatangan sang prabu. Ia menghidangkan berbagai macam makanan yang prabu suka.Beberapa bulan kemudian, Ratu Purbamanah mengandung. Prabu Swarnalaya sangat senang karena itu artinya pertapaannya membawa hasil. Sembilan bulan kemudian, Ratu Purbamanah melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik dan diberi nama Dewi Kuncung Biru.Karena sang puteri termasuk puteri yang sangat dinantikan, Prabu Swarnalaya dan Ratu Purbamanah cukup memanjakannya. Sang puteri pun tumbuh menjadi gadis cantik yang gemar bersolek, manja dan suka mengenakan pakaian mahal.cerita rakyat Telaga WarnaHingga suatu hari menjelang perayaan hari ulang tahunnya, Dewi Kuncung Biru meminta sang ayah menghiasi tiap helai rambutnya dengan emas dan permata agar dirinya terlihat semakin cantik. Mendengar permintaan sang puteri, tentu Prabu Swarnalaya dan sang istri Ratu Purbamanah sangat terkejut karena hal tersebut tidak masuk akal.Helaian rambut sang puteri sangat banyak, mana mungkin satu persatu akan dihias permata dan emas. Karena merasa keinginannya ditolak sang ayah, Dewi Kuncung Biru pun kesal dan marah. Kemarahan Dewi Kuncung Biru bahkan sampai terdengar keluar istana dan membuat rakyat sang prabu tergerak menyumbangkan harta mereka demi memberikan hadiah yang disukai dan diinginkan sang puteri raja.Merasa cinta rakyatnya sangat besar, Prabu Swarnalaya dan Ratu Purbamanah merasa sangat terharu. Hingga tiba di hari perayaan ulang tahun Dewi Kuncung Biru. Rakyat yang diundang ke istana menyambut perayaan dengan gembira. Kotak berisi perhiasan emas dan permata yang dihadiahkan pun diserahkan kepada Dewi Kuncung Biru sebagai hadiah.Rakyatpun senang dan sangat antusias agar Dewi Kuncung Biru membukanya. Hanya saja, ketika isinya dibuka ternyata Dewi Kuncung Biru kecewa karena perhiasan yang ia dapatkan sebagai hadiah tak seindah harapannya. Dengan sombongnya, Dewi Kuncung Biru melempar kotak berisi emas dan permata hadiah rakyat tersebut ke lantai hingga membuat isinya jatuh berserakan.Semua orang yang hadir di sana tentu tercengang termasuk Prabu Swarnalaya dan Ratu Purbamanah, orang tuanya sendiri. Dengan kesombongan Dewi Kuncung Biru, ternyata alam pun murka. Seketika gemuruh datang diikuti hujan dan badai.cerita rakyat Telaga WarnaTanah di sekitar istana pun terbelah disusul dengan air bah yang bervolume besar menenggelamkan istana megah tersebut bersama semua orang yang ada di istana ketika pesta berlangsung. Bersamaan dengan berhentinya hujan, kerajaan Kutanggeuhan menghilang dan di bekas menghilangnya kerajaan tersebut hadir telaga yang berisi ribuan ikan cantik dan beraneka warna. Telaga tersebut yang kini dikenal sebagai Telaga Warna.
Cerita Roro Jonggrang
Dahulu kala, di Desa Prambanan, ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Baka. la memiliki seorang putri yang sangat cantik bernama Roro Jonggrang.Suatu ketika, Prambanan dikalahkan oleh Kerajaan Pengging yang dipimpin oleh Bandung Bondowoso. Prabu Baka tewas di medan perang. Dia terbunuh oleh Bandung Bondowoso yang sangat sakti.Bandung Bondowoso kemudian menempati Istana Prambanan. Melihat putri dari Prabu Baka yang cantik jelita yaitu Roro Jonggrang, timbul keinginannya untuk memperistri Roro Jonggrang.Roro Jonggrang tahu bahwa Bandung Bondowoso adalah orang yang membunuh ayahnya. Karena itu, ia mencari akal untuk menolaknya. Lalu, ia mengajukan syarat dibuatkan 1.000 buah candi dan dua buah sumur yang dalam. Semuanya harus selesai dalam semalam.Bandung Bondowoso menyanggupi persyaratan Roro Jonggrang. Ia meminta pertolongan kepada ayahnya dan mengerahkan balatentara roh-roh halus untuk membantunya pada hari yang ditentukan. Pukul empat pagi, hanya tinggal lima buah candi yang belum selesai dan kedua sumur hampir selesai.Mengetahui 1.000 candi telah hampir selesai, Roro Jonggrang ketakutan.“Apa yang harus kulakukan untuk menghentikannya?” pikirnya cemas membayangkan ia harus menerima pinangan Bandung Bondowoso yang telah membunuh orangtuanya.Akhirnya, ia pergi membangunkan gadis-gadis di Desa Prambanan dan memerintahkan untuk menghidupkan obor-obor dan membakar jerami, memukulkan alu pada lesung, dan menaburkan bunga-bunga yang harum. Suasana saat itu menjadi terang dan riuh. Semburat merah memancar di langit dengan seketika.Ayam jantan pun berkokok bersahut-sahutan. Mendengar suara itu, para roh halus segera meninggalkan pekerjaan. Mereka menyangka hari telah pagi dan matahari akan segera terbit. Pada saat itu hanya tinggal satu sebuah candi yang belum dibuat.Bandung Bondowoso sangat terkejut dan marah menyadari usahanya telah gagal. Dalam amarahnya, Bandung Bondowoso mengutuk Roro Jonggrang menjadi sebuah arca untuk melengkapi sebuah buah candi yang belum selesai.Batu arca Roro Jonggrang diletakkan di dalam ruang candi yang besar. Hingga kini, candi tersebut disebut dengan Candi Roro Jonggrang. Sementara itu, candi-candi di sekitarnya disebut dengan Candi Sewu (Candi Seribu) meskipun jumlahnya belum mencapai 1.000.
Kabut Asimilasi
"Apalah arti dunia ini jika kau harus mati?". kaisar surgawi berkata dengan lemah, suaranya begitu sedih dan berat sedalam lautan.Di pelukannya, permaisuri surgawi terbaring kaku tak berdaya. Tubunya telah bersimbah darah seolah tercebur dalam kolam darah.Bekas luka tusukan dan goresan terdapat dimana mana."sungguh memalukan! Orang orang memanggil ku kaisar surgawi yang tak terkalahkan, namun aku tak bisa melindungi kekasihku? Apalah arti nya itu, apalah arti hidupku ini Jika kau harus pergi yuechan... "Air mata mengalir deras bagaikan air terjun, mata kaisar surgawi telah memerah dan bengkak karena menangis."yuechan... Andai saja aku tidak pergi, andai saja aku tidak egois dengan rahasia abbys. Andai saja aku tidak meninggalkan mu.. Yuechan... Ohh Yuechan...". Kaisar surgawi terus berandai-andai, tangis nya makin menjadi dan hujan mulai turun turut merasakan apa yang kasiar surgawi rasakan.Langit yang tadinya cerah dan biru mulai berubah menjadi ke abuabuan, awan yang tadinya putih suci berubah menjadi hitam pekat. Dunia berubah seakan akan dunia kehilangan warnanya.Kaisar surgawi memeluk erat jenazahnya, baru beberapa hari semenjak ia melihat kekasihnya itu tersenyum hangat bagaikan mentari pagi di musim semi.Ia menyesal."jika kau tidak ada, maka dunia sudah tak berarti lagi Yuechan. Tunggulah, akan kubawa dunia ke tempat kau berada."Perlahan tubuh kaisar surgawi bangkit, dengan yuechan di pelukannya ia mulai berjalan pelan.Namun, saat ia berjalan. Ruang ruang mulai retak dan sebuah kabut misterius berwarna warni muncul dari retakan itu.Itu adalah kabut asimilasi, apapun yang terkena kabut itu akan terasimilasi dan tak ada cara untuk menghentikannya.Dari tempat kaisar surgawi membawa Yuechan, mayat mayat pendekar yang tak terhitung jumlahnya bergeletakan. Ada yang masih utuh, kehilangan anggota badan atau tak tersisa menjadi seperti bubur nasi.Ia perlahan turun dari puncak bukit yang kini bersimbah darah sembari membawa Yuechan di pelukannya. Tatapannya gelap seperti jurang tak berujung."Kaisar surgawi! Segera hentikan perbuatan mu, dunia Chaotian akan hancur jika ini terus berlanjut!!".Daru kejauhan, beberapa pendekar tiba. mereka adalah petinggi dari aliansi pendekar dengan kekuatan yang tak kalah dari kaisar surgawi. Bersamaan dengan beberapa pendekar itu, ribuan orang dengan aura yang sangat kuat juga tiba."Saudaraku, tolong hentikan segera perbuatan mu itu. Miliyaran orang yang tak bersalah juga akan menghilang jika kabut asimilasi tak kau hentikan". Long Di Tian, seorang sesepuh sekaligus pendiri dari aliansi pendekar memohon. Di masa lalu, ia adalah teman seperjuangan kaisar surgawi dan telah berbagi hidup dan mati bersama."hmph! Bukanya kalian sangat ingin tau rahasia kabut asimilasi yang di teliti oleh Yuechan?? Ini! Ambillah, ku berikan kabut asimilasi kepada kalian agar kalian bisa meneliti nya sendiri!!!".Ledakan tak kasat mata pun terjadi setelah kaisar surgawi berkata. Retakan retakan dimensional mulai bermunculan dan kabut asimilasi menerobos keluar seperti air pada bendungan."kau gila!!". Li bai, sang grandmaster tertinggi jalur pedang berteriak."Maju!! Kaisar surgawi sudah menjadi gila!!". Qin Jiu Jin, saint dari sekte plum blossom mulai memimpin formasi untuk mencegah kabut asimilasi melebar.Serentak, rombongan orang yang bersama dengan petinggi aliansi pendekar bergandengan tangan untuk menghentikan penyebaran angin asimilasi dan melawan kaisar surgawi.Menghadapi para elit di seluruh benua, kaisar surgawi tak gentar. Dengan teknik rahasianya ia menerobos maju."teknik summoning : Ancestral Dragon God!".Seekor naga hitam muncul dari kekosongan. Naga itu begitu besar hingga rambut rambut nya saja seperti ribuan naga kecil yang meliuk liuk.Perang pun terus berlanjut hingga titik darah penghabisan. Dari 79 elit di benua Chaotian , hanya tersia 12 yang bertahan hidup. Long Di Tian salah satunya.Medan perang telah berubah menjadi lautan darah, mayat naga raksasa bagaikan tembok raksasa yang tak berujung. Sebuah pedang raksasa tertancap dan banyak sekali kekacauan elemen akibat kekuatan sihir.Kekacauan / chaos. Dunia sudah hancur akibat perang itu."Saudara ku, aku mohon sebagai seorang teman seperjuangan. Hentikanlah kabut asimilasi!!". Kondisinya sangat menggemaskan, rambutnya terbakar sebagian dan tubuhnya berlubang bagaikan donat.Kaisar surgawi tak menggubris ucapannya dan terus melancarkan serangannya."Teknik pamungkas : Kelahiran dunia baru!!!".Langit pun mendadak gelap dan angin berhembus kencang. Di angkasa meteor yang besar nya melebihi apapun di dunia itu mulai turun dan menghantam dunia.Dan BOOMMMDunia telah kiamat dan tersisa tanah tandus yang di penuhi oleh lahar yang mengalir dari dalam bumi.Kaisar surgawi yang masih memeluk kekasihnya Yuechan, melayang di udara melihat kehancuran dunia ini.Tak ada lagi yang tersisa, kabut asimilasi masih terus memgasimilasi dunia dan tak pernah berhenti hingga tak ada yang tersisa.Ia perlahan jatuh, dan menatap Yuechan.Menjelang ajalnya, kilas balik ingatan akan masa lalunya bersama Yuechan bergerak cepat bagaikan film yang di percepat.Kaisar surgawi mengingat kembali bagaimana kali pertama ia bertemu Yuechan di puncak gunung TaiTian. Bagaimana keseharian mereka saat masih menjadi orang asing.Tahun tahun berlalu dan saat itu adalah ketika kaisar surgawi jatuh dalam ambisinya, hanya kekuatan yang ia pedulikan. Saat itu Yuechan berkata, "pergilah sayangku, jika aku menjadi penghambat dalam tujuan mu maka tinggalkanlah aku.Aku tidak ingin menjadi rantai di kaki mu dan tidak ingin menjadi bayangan yang mengikat mu, pergilah menembus cakrawala sayang. jika kau tak pernah kembali, maka ingatlah... Cintaku akan selalu menyertai mu."Jutaan kenangan dari ribuan era terus berputar kaisar surgawi semakin jatuh dalam kesedihan dan penyesalan."Yuechan... Andai saja aku di beri pilihan untuk mengulang lagi, aku pasti akan tetap memilih mu!". Pada detik itu, kaisar surgawi tewas.Tubuhnya kemudian di lahap oleh kabut asimilasi.
Legenda Sepasang Pendekar Kemayoran
Alkisah pada masa penjajahan Belanda, di tanah Betawi hiduplah seorang kaya keturunan Tionghoa bernama Babah Yong. Pada suatu ketika, Babah Yong yang berdiam di daerah Kemayoran dirampok. Kejadian ini tentu saja mengagetkan warga Kemayoran. Sebagai orang yang dihormati, peristiwa nahas yang menimpa Babah Yong segera ditangani pihak keamanan.Lurah Kemayoran bersama orang Belanda penguasa daerah itu yang bernama Tuan Ruys, segera mendatangi Babah Yong di rumahnya.Tuan Ruys rupanya sudah memiliki tersangka di benaknya. Setelah mencermati jejak perampokan, ia berkata kepada sang Lurah.“Tangkap Asni..”, ujarnya yakin. “Saya yakin sekali kalau ini perbuatan Asni..”, tambahnya dengan logat Belanda yang kental.Walaupun tak yakin akan perkataan Tuan Ruys, sang Lurah tak dapat membantah. Ia hanya mengiyakan sambil menganggukan kepalanya.“Baik, Tuan Ruys”, ujarnya singkat.Asni adalah seorang pemuda yang terkenal gagah berani di Kemayoran. Sikapnya yang tegas seringkali dianggap sebagai pembangkangan oleh pihak Belanda.Ia sama sekali tak mau menunjukkan rasa hormat kepada orang orang Belanda yang berkeliaran di kampungnya. Itulah sebabnya mengapa Tuan Ruys sebagai penguasa Kemayoran senantiasa mencari cari alasan untuk menangkapnya.Pagi itu juga Asni yang sedang santai di rumahnya ditangkap.“Apa salah saya ?”, katanya sambil mencoba melawan. Asni terkejut sekali ia dituduh merampok rumah Babah Yong. “Semalam saya di rumah..”, serunya marah.“Banyak saksi yang melihat saya di rumah”, tambahnya dengan nada keras.Penjelasan Asni sia sia. Opas kemayoran yang mendapat perintah dari Tuan Ruys segera memborgol tangan Asni dan membawanya pergi.Di kantor Opas, Asni dihujani pertanyaan yang tak henti hentinya. Karena merasa dirinya sama sekali tak bersalah, Asni menjawab semua pertanyaan tanpa rasa takut sedikitpun.“Berkali kali saya bilang saya di rumah semalam..”, katanya sambil memukul meja. Wajah Asni merah padam menahan amarah. Tetangga Asni yang menyusul ke kantor Opas kemayoran juga berteriak teriak di luar.“Lepaskan Asni..!!, seru mereka. “Kita semua tahu persis dia ada di rumah semalam..”, tambah yang lain.Mereka tak rela warganya diperlakukan semena mena.Karena tak ada bukti, akhirnya Asni dilepaskan. Tuan Ruys yang merasa tak puas karena niatnya memenjarakan Asni gagal lagi, segera menghampiri Asni. “Kau boleh bebas sekarang, Asni..”, katanya sambil menatap Asni. “Tapi ingat, ada satu syarat yang harus kau penuhi..”, tambahnya lagi dengan suara berat. Meski tak menyukai Tuan Ruys, Asni mencoba menahan diri. “Syarat apa Tuan ?’, tanyanya ingin tahu. “Kau harus bisa menangkap perampok itu..”, kata Tuan Ruys. “Jika tidak, maka kau yang akan di penjara..”, tambahnya sambil menurunkan tongkat yang dikepit di ketiaknya. Meski tak setuju atas syarat itu, Asni mengiyakan saja. Ia juga ingin tahu siapa perampok yang berani mengusik ketenangan kampungnya. “Baik , Tuan Ruys”, ujarnya singkat sambil berlalu meninggalkan Tuan Ruys.Keesokan harinya Asni pergi ke Marunda, sebuah daerah yang terletak tak jauh dari Kemayoran. Niatnya ingin mencari tahu sekiranya perampok yang beraksi di rumah Babah Yong berasal dari situ. Ketika melewati perbatasan antara Kemayoran dan Marunda, Asni dihadang oleh beberapa orang penjaga kampung.“Hei anak muda, mau kemana kau ?”, tanya salah seorang penjaga mengagetkan Asni.“Maaf bang, saya mau lewat…”, jawab Asni sopan.Penjaga itu tersinggung pertanyaannya tak dijawab Asni. “saya tanya baik baik malah tidak dijawab”, katanya sambil berkacak pinggang.Asni akhirnya berhenti melangkah.“Saya mau ke Marunda, bang..”, jawab Asni singkat. Belum sempat Asni melangkah, salah seorang penjaga mendorong pundaknya agak keras sambil berkata.“Mau apa kau kemari haaa… ? mau cari gara gara..?”, ujarnya seolah menantang Asni.Semula Asni diam saja. Beberapa kali ia minta diijinkan lewat namun omongannya dianggap angin lalu. Para penjaga itu malah sibuk bertanya sambil bergantian mendorong Asni. Lama lama kesabaran Asni habis juga. Tak kala Asni terjatuh karena didorong terlalu keras, pemuda itu langsung berdiri dan balas mendorong.Akhirnya perkelahian tak terelakkan lagi. Lima orang penjaga kampung itu menyerang Asni membabi buta. Namun demikian Asni yang mahir silat dapat mengalahkan mereka dengan mudah.Lima orang penjaga kampung itupun lari tunggang langgang. Mereka segera menemui kang Bodong, seorang pendekar tersohor di Marunda. Kang Bodong yang merasa tersinggung karena warganya dikalahkan Asni, segera menemui Asni yang masih berada di sekitar pos jaga. Tanpa banyak tanya, kang Bodong langsung menyerang Asni.Asni hanya menangkis saja jika diserang kang Bodong. Akibatnya kang Bodong menyerang Asni terus terusan hingga ia merasa lelah. Usianya yang tak muda lagi membuat tenaganya gampang terkuras. Kang Bodongpun menyerah kalah.“Maksud saya kemari bukan mau mencari keributan”, kata Asni kepada kang Bodong. “Saya hanya mau mencari informasi soal perampok di rumah Babah Yong”, tambahnya lagi.Asni yakin kang Bodong tahu siapa Babah Yong. Babah Yong memang terkenal sampai ke daerah daerah lain diluar Kemayoran.Belum sempat kang Bodong menjawab, tiba tiba datang seorang gadis menyerang Asni. Sang gadis cukup lincah dengan gerakan gerakan silatnya yang menipu. Namun sayang, ketangkasan gadis itu masih terlalu mudah untuk dikalahkan Asni. Tak memakan waktu lama, Asni dapat melumpuhkan sang gadis.Gadis itu malu sekali takkala bajunya tersangkut di cabang sebuah pohon pada saat ia melompat hendak menyerang lagi. Dengan sigap, Asni menebas batang pohon itu dengan pedangnya hingga sang gadis terjatuh. Tubuhnya segera ditangkap Asni.Asni tersenyum menatap sang gadis yang kini berada dalam gendongannya.“Lumayan cantik juga..”, bisik Asni dalam hati.Sang Gadis yang masih marah karena kalah bertarung malah semakin tersinggung melihat senyuman Asni. Dengan nada tinggi ia berkata “Ada apa senyum senyum ? cepat lepaskan saya..”, ujarnya sambil meronta melepaskan diri dari gendongan Asni.“Mirah….Mirah….hahahahaha…. “, ujar kang Bodong sambil tertawa lepas. Rupanya gadis yang bernama Mirah itu adalah putrinya. “Kau berhak menikahi anak gadisku, Asni…”, kata kang Bodong sungguh sungguh sambil menatapnya.“Aku sudah berjanji akan menikahi Mirah dengan pendekar yang mampu mengalahkannya..”, katanya lagi.Asni terdiam sejenak. Ia tak menyangka tujuannya ke Marunda untuk mencari perampok malah membawanya menemukan jodoh. Asni melirik Mirah yang menunduk malu disamping ayahnya. Wajahnya yang cantik jadi terlihat tambah menarik.“Bagaimana ? setuju ?”, tanya kang Bodong mengagetkannya.“Kalau Mirah mau saya setuju saja..”, jawabnya sambil tersenyum lebar.Orang orang yang sedari tadi melihat pertarungan itu segera bersorak sorak. Mereka senang karena Mirah, pendekar dari Marunda menemukan jodoh seorang pendekar dari Kemayoran. Kang Bodong segera mengajak Asni ke rumahnya. Ia minta diceritakan apa maksud kedatangan Asni ke Marunda. Setelah mendengar cerita Asni, kang Bodong dan Mirah yakin kalau pelakunya adalah Tirta, seorang pemuda berandal di Marunda. Mereka tahu pasti kalau Tirta telah lama berniat merampok Babah Yong.Pesta pernikahan Asni dan Mirah berlangsung meriah. Banyak tamu berdatangan dari Marunda dan Kemayoran. Lurah Kemayoran, Tuan Ruys, dan Babah Yong termasuk tamu yang menghadiri pesta itu. Tak dinyana, Tirta si perampok juga datang.Ia datang bukan sebagai orang yang hendak memberi selamat kepada pengantin. Tirta datang untuk membunuh Asni. Ia sudah mendengar kabar kalau menantu kang Bodong itu berniat menyerahkannya pada opas Kemayoran.Untunglah kang Bodong yang melihat kehadiran Tirta sudah siap siaga atas kemungkinan buruk yang terjadi. Kang Bodong berhasil menahan tangan Tirta yang hendak mengambil pistol dan menembak Asni. Tarik menarikpun terjadi antara kang Bodong dan Tirta. Tanpa sengaja pistol itu meledak di kantong Tirta. Peluru yang keluar bersarang di perutnya.Suara tembakan mengagetkan seluruh undangan yang datang. Para wanita dan anak anak menjerit ketakutan. Beberapa orang yang berada disitu segera membawa Tirta yang bersimbah darah ke rumah sakit. Karena kehabisan darah, Tirta tak tertolong lagi. Ia meninggal di perjalanan.Seminggu setelah pesta pernikahannya, Asni membawa Mirah ke Kemayoran. Kini warga Kemayoran merasa jauh lebih aman setelah kematian Tirta. Lagipula Kemayoran kini mempunyai dua orang pendekar yang merupakan pasangan suami istri Asni dan Mirah.
Cerita Rakyat Pendek dari Banten : Legenda Asal Mula Cikaputrian
Pada jaman dahulu kala hiduplah seorang putri raja yang dikarunia wajah yang sangat menawan. Amat cantik jelita rupa wajahnya. Namun tidak seperti wajahnya yang cantik, tabiat perilaku sang putri sangat buruk dan tidak terpuji. Marasa dirinya merupakan putri Raja, sang Putri sangat manja. Segala keinginannya harus dituruti. Jika tidak dituruti ia akan merajuk dan marah-marah. Sang Putri juga dikenal sebagai orang yang sangat pemalas. Ia kerap menghabiskan waktunya untuk berhias dan kemudian mengagumi kecantikannya sendiri. Satu sifat buruk lain dari Sang Putri adalah kesombongannya. Sang Putri merasa dia adalah perempuan sempurna, selain putri seorang raja dia juga memiliki paras yang sangat cantik.Sang Raja pernah memberikan sebuah puri yang indah untuk putrinya itu setelah putrinya itu meminta dengan memaksa. Puri itu sangat indah, terletak di kaki gunung. Selain luas lagi megah bangunannya, puri itu juga dilengkapi dengan taman yang sangat asri. Berbagai tanaman bunga ditanam di taman yang indah itu. Serasa untuk melengkapi keindahannya, terdapat sebuah danau di dekat puri itu.Danau di dekat puri berair sangat jernih serasa dapat digunakan untuk berkaca. Jika sang Putri berada di purinya, sang Putri kerap mandir di danau itu. Sang Putri tidak memperbolehkan siapapun juga untuk mandiri di danau itu tanpa izin langsung darinya. Sang Putri akan meminta ayahandanya untuk menjatuhkan hukuman yang berat kepada siapapun yang mandi di danau itu tanpa izinnnya.Pada suatu hari sang Putri berada di Purinya seperti biasanya, sang Putri mandi di danau itu seorang diri. Dayang-dayangnya bahkan tidak diperbolehkan untuk mendekati danau tersebut. Sang Putri seperti ingin menguasai sepenuhnya danau itu sendirian. Dia enggan berbagi dengan siapapun juga.Ketika sang Putri tengah mandi, seorang perempuan tua berpakaian kumal lagi compang-camping datang ke danau itu. Entah darimana asal si perempuan tua karena mendadak dia muncul dekat danau. Sepertinay dia ingin mandi atau mencuci muka di danau itu.Sang Putri sangat terperanjat mendapati kehadiran si perempuan tua berpakaian compang-camping. Dia segera mendatangi dan bertolak pinggang di hadapan si perempuan tua. Katanya dengan wajah menyiratkan kemarahan dan jari telunjuk kanan teracung ke arah si perempuan tua.” Hei peempuan tua, siapa engkau?”Si perempuan tua terperanjat, Dia hanya terdiam dan menatap heran pada sang Putri.“Mau apa engaku ke danau ini? Mau mandi?”Si perempuan tua masih tetap terdiam. Dia seperti kebingungan dan keheranan mendengar bentakan sang Putri.“Hai perempuan tua! Tulikah engaku hingga tidak mendengar pertanyaanku?” kedua mata sang Putri melotot ke arah si perempuan tua.” Atau jangan-jangan engkau buta pula sehingga tidak tahu jika danau ini adalah milik prribadiku. Danau ini hanya khusus untukku, putri raja, bukan untuk perempuan tua dekil seperti engkau.”Si perempuan tua tetap terdiam. Bibirnya tampak gemetar seperti sedang menahan amarah.Mendapati si perempuan tua tetap terdiam dan juga tidak beranjak pergi, Sang Putri kembali menghardik dengan kasar.” Perempuan dekil, lekas engkau pergi menjauh dari danau ini! Pergi! Air danau yang jernih ini akan kotor terkena tubuhmu yang dekil dan bau!”“Betapa sombongnya engkau ini.” Akhirnya keluar juga ucapan dari si perempuan tua.“apa katamu.” Sang Putri langsung menyela.” Lancang sekali mulutmu! Apakah engkau tidak tau saat ini tengah berhadapan dengan siapa?”“Aku tahu. Aku tengah berhadapan dengan seorang Putri Raja.” Jawab si perempuan tua.” Namun apakah karena engkau Putri raja lantas engkau dapat bertindak semaumu terhadap orang lain?”“Apa pedulimu?” Sang Putri bertambah marah.” Aku Putri raja, aku bebas berbuat apapun yang aku suka, termasuk mengusirmu! Pergi engkau hai perempuan dekil buruk rupa.”“Engkau memang putri raja, namun tidak seharusnya seorang putri raja bebas mengumbar ucapan kesombongan! Meski putri raja engkau tetaplah seorang manusia adanya. Ucapan kasar lagi sombongmu itu tidak layak keluar dari mulut seorang manusia. Ucapanmu sungguh berbisa dan hanya ular hitam berbisa saja yang memiliki mulut seperti itu.”Seketika si perempuan tua selesai berucap, tiba-tiba terjadilah keajaiban. Langit mendadak berubah menjadi gelap. Mendung tebal bergulung-gulung , sangat menakutkan untuk dilihat. Tiba-tiba cahaya menyilaukan mata menerangi kegelapan disusul petir yang menggelegar menghantam tubuh sang Putri. Seketika tubuh sang Putri terpental dan berubah wujud menjadi seekor ular hitam berbisa!Sang Putri raja kena kutukan menjadi ular hitam berbisa karena kesombongannya.Ular hitam jelmaan Putri raja terlihat sangat sedih. Airmatanya bercucuran. Airmata penyesalan. Mulutnya terlihat bergerak-gerak dan suaranya mendesis seolah meminta maaf atas perlakuan buruknya kepada si perempuan tua. Namun, airmata penyesalan tinggallah air mata dan penyesalannya karena wujud sang Putri raja berubah menjadi ular.Dari langit tiba-tiba terdengar suara yang tertuju pada ular hitam berbisa jelmaan sang Putri raja.” Karena kesombonganmu, engkau memang tidak pantas menjadi manusia. Engkau hanya pantas menjadi ular berbisa untuk selama-lamanya!”Kutukan telah jatuh dan tetap untuk sang Putri raja.Meski menggunung penyesalannya, tetap sang Putri Raja berwujud ular hitam berbisa. Wujudnya tidak dapat kembali lagi seperti semula. Dengan air mata yang terus mengucur, ular hitam itu memasuki danau. Karena dia sangat malu dengan wujudnya saat ini, dia bersembunyi di dasar danau yang dapat digunakan sebagai tempat persembunyian baginya.Terkenanya sang Putri Raja oleh kutukan hingga berubah wujud menjadi ular hitam berbisa diketahui oleh pada penduduk sekitar danau. Mereka lantas menamakan danau itu dengan nama Cikaputrian yang artinya danau tempat sang Putri mandi.
Cerita Rakyat Banten : Pangeran Pandeglang dan Putri Cadasari
Pada suatu hari di Bukit Manggis terlihat seorang putri yang sangat cantik duduk terpaku. Tatapan matanya kosong, ia terlihat sedih. Melintaslah seorang laki-laki separuh baya dengan memilkul karung diatas pundaknya.Laki-laki itu terdiam sejenak ketika melihat sang Putri. Terlihat di wajah lelaki itu dia khawatir dengan kondisi sang putri, “Sampurasun…,” sapa laki-laki paruh baya itu, “Maaf apabila saya telah membuat Tuan Putri terkejut, ada apa gerangan yang membuat Tuan Putri terlihat bersedih hati?” Ucap Laki-laki itu sambil menundukkan kepalanya.“Rampes,” jawab sang putri. Sang Putri tidak segera menjawab. Dia memperhatikan penuh seksama lelaki yang berdiri di hadapannya. Putri merasa yakin, lelaki itu adalah lelaki baik. “Aku pikir tiada guna aku menceritakan masalah pribadiku kepada orang lain.” Jawab Sang Putri Cantik“Jika demikian, mohon maafkan aku yang telah ikut campur masalahTuan Putri,” ucap laki-laki itu. Dia kemudian bersiap berlalu.“Sebentar, tuan!” Sang Putri mencegah. Tiba-tiba Sang Putri sambil berurai air mata. “Siapakah nama anda Kisanak?”“Aku adalah orang yang membuat gelang. Pande gelang. Banyak orang memanggil nama saya dengan Ki Pande,” jawab lelaki paruh baya itu, “Lantas siapakah nama sang Putri?” tanya Ki Pande.“Namaku Putri Arum,” jawab sang Putri. Lalu ia mulai bercerita tentang dirinya yang saat ini sedang dilanda permasalahan. Dia dilamar oleh seorang pangeran tampan yang bernama Pangeran Cunihin. Walaupun parasnya elok rupawan, Pangeran Cunihin sangat bengis dan kejam. Semua orang takut kepada pangeran Cunihin karena memilki kesaktian yang sangat tinggi. Semua keinginan Pangeran Cunihin harus dipenuhi, jika tidak dipenuhi dia tidak segan-segan memberikan hukuman yang sangat berat.Contoh Dongeng Sunda Pendek Dari BantenContoh Dongeng Sunda Pendek Dari BantenPangeran Cunihin ingin menjadikannya sebagai istri. Namun sang Putri tentu tidak menginginkannya. “Aku mendapatkan petunjuk dari penasihat kerajaan, agar bertafakur di Bukit Manggis ini. Nanti akan ada orang yang mampu menolong permasalahanku. Saya sangat sedih karena sepertinya nasihat itu tidak membuahkan hasil. Tiga hari kedepan Pangeran Cunihin akan tiba dan memaksaku untuk menikah dengannya,” ucap sang Putri sedih.Ki Pande mendengarkan cerita Putri Arum dengan seksama, dia mengangguk-angguk tanda paham dengan keadaan yang melanda sang putri. “Putri, terima dulu permintaan Pangeran Cunihin itu namun dengan satu syarat Pangeran Cunihin harus melubangi batu keramat supaya bisa dilalui manusia. Kemudian batu tersebut harus diletakkan di pesisir pantai. Semuanya harus dikerjakan tidak Iebih dan tiga hari,” Ki Pande menjelaskan.“Bukankah syarat itu sangat mudah dilakukan oleh Pangeran Cunihin?” tanya sang Putri.“Tapi tidak semua orang mau melakukannya. Sebab dengan melubangi batu keramat, setengah dari kemampuan orang tersebut akan hilang.” Ki Pande menjawab ke khawatiran Sang PutriMendengar seluruh penjelasan Ki Pande, akhirnya Putri Arum menyetujui. Ki Pande kemudian mengajak Putri Arum ke tempat tinggalnya, sambil membawa karung yang berisi alat-alat membuat gelang. Perjalanan menuju tempat tinggal Ki Pande sangat melelahkan Putri Arum. Sudah hampir setengah hari perjalanan, rnereka belum juga sampai. Putri Arum pun jatuh pingsan di atas sebuah batu cadas.Ki Pande Membawa Putri Arum ke rumah salah seorang penduduk dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Salah seorang sesepuh kampung mengatakan bahwa Putri Arum bisa segera pulih jika minum air gunung yang memancar melalui batu cadas.Beberapa orang kampung bergegas mencari sumber mata air batu cadas. Dan keajaiban pun terjadi, Putri Arum kembali sehat setelah meminum air yang berasal dari batu cadas itu. Penduduk kampung lalu memanggil Putri Arum dengan sebutan baru yaitu Putri Cadasari.Sementara itu, Ki Pande tengah menyiapkan rencana baru. Dia membuat gelang yang sangat besar, yang bisa dilalui manusia. Gelang tersebut akan dipasang pada Iingkaran lubang batu keramat yang dibuat Pangeran Cunihin. Waktu yang ditentukan Pangeran Cunihin pun tiba. Dia datang menemui Putri Cadasari dan menagih jawaban. Putri Cadasari pun mengajukan syarat kepada Pangeran Cunihin. Pangeran Cunihin menyanggupinya.Pangeran Cunihin berhasil menemukan batu keramat yang disyaratkan. Batu keramat itu kemudian dibawanya ke sebuah pesisir yang sangat indah. Ki Pande dan Putri Cadasari diam-diam mengikuti dari kejauhan. Di tempat yang terlindung mereka bersembunyi, menyaksikan apa yang dilakukan Pangeran Cunihin. Sesaat kemudian batu keramat itu pun retak dan berjatuhan.Sungguh ajaib, sebuah lubang yang sangat besar tercipta di tengah bath keramat itu, “Nah…, aku berhasi! Tuan Putri akan segera menjadi permaisuriku!” seru Pangeran Cunihin segera berlari mencari Putri Cadasari.Kesempatan itu tak disia-siakan Ki Pande untuk memasang gelang besar pada batu keramat yang telah berlubang ltu. Namun rupanya Pangeran Cunihin telah datang bersama Putri Cadasari dan memergokinya.“Hei kau tua Bangka! Rupanya kau sedang mengagumi mahakaryaku. Bukankah aku pernah mengatakan kepadamu bahwa kau tidak pantas menjadi pemenang. Kau hanya pantas menjadi pecundang! Hahaha!” Pangeran Cunihin tertawa puas. “Lihatlah, sang Putri telah menjadi milikku. Kau tidak bisa lagi memilikinya!”Putri Cadasari terkejut mendengar omongan Pangeran Cunihin, seakan-akan telah mengenal Ki Pande. Belum selesai keheranan itu terjawab, Pangeran Cunihin telah menarik tangan Putri Cadasari untuk melihat batu keramat yang telah berlubang itu. Putri Cadasari berusaha bersikap tenang dan mencoba menunjukkan kegembiraan, walau di dalam hatinya dia merasa sangat takut impian buruknya menjadi pendamping Pangeran Cunihin akan menjadi kenyataan.“Apabila Putri tidak percaya dengan ucapanku, aku akan melangkah melewati batu keramat ini sebagai bukti,” ucap Pangeran Cunihin. Tidak berpikir panjang, Pangeran Cunihin lalu melangkah melewati lubang batu keramat yang telah dilobanginya. Namun tiba-tiba Pangeran Cunihin merasakan kesakitan amat sangat. Dia berteriak keras. Suaranya menggetarkan bumi. Kemudian semua kesaktiannya pun sirna. Dia terjatuh Iemah, tak mampu berdiri. Pelan-pelan, Pangeran Cunihin terlihat perubahan pada diri Pangeran Cunihin. Dia menjadi seorang tua renta yang lemah, seakan-akan sudah melewati lorong waktu.Sementara itu, Ki Pande pun berubah menjadi seorang pemuda tampan. Putri Cadasari terkejut melihat keanehan itu. Kemudian Ki Pande yang telah berubah menjadi pemuda tampan itu menceritakan.“Pangeran Cunihin lah yang telah membuat rupa saya seperti itu. Dahulu kami adalah dusa sahabat. Namun setelah memperoleh kesaktian, dia mencuri semua kesaktianku, kemudian menjadikan ku sebagai seorang yang tua renta. Namun ada satu yang dapat menyembuhkan keadaan itu, yaitu apabila Pangeran Cunihin melewati gelang buatan tanganku,” jelas Ki Pande.“Kini aku telah kembali menjadi diriku yang sebenarnya. lni semua adalah berkat bantuan dari Tuan Putri. Karena hal tersebut aku ucapkan terima kasih sebesar-besarnya,” ucap[ angeran Pande Gelang, sambil memegang tangan sang Putri Cadasari.“Seharusnya aku yang berterima kasih, Pangeran. Ternyata Petunjuk yang aku terima dari penasihat istana itu memang benar,” Kemudian, keduanya meninggalkan batu keramat berlubang itu.Bersama berjalannya waktu mereka pun menikah dan hidup bahagia. Wilayah dimana memperoleh batu keramat itu dikemudian hati dikenal dengan sebutan kampung Kramatwatu sedangkan batu besar berlubang di pesisir pantai kini menjadi objek wisata Pantai Karang Bolong.Tempat sang Putri melaksanakan wangsit di Bukit Manggis, kini orang mengenalnya dengan kampung Pasir Manggu. Sedangkan wilayah Putri disembuhkan dari sakitnya hingga saat ini dikenal dengan nama Cadasari di wilayah Pandeglang, tempat dimana Pangeran Pande Gelang membuat gelang.