Nabila cukup terkejut saat mendengar kalimat bijak yang keluar dari mulut Jo beberapa saat lalu. Yah, bukan apanya, hanya saja, setelah dua tahun belajar di kelas yang sama, mungkin tidak apa bila dikatakan kalau Jo adalah murid paling bodoh di kelas ini.
"Jangan pikir kau akan merasa hebat hanya karena kau tahu banyak hal. Mungkin kamu belum sadar, tapi kenyataan-kenyataan yang kau simpan sendirian itu, kelak akan menjadi kutukan buat kamu."
Itulah yang dikatakan Jo.
Seumur hidupnya, Nabila tidak pernah melihat Jo bicara dengan nada serius seperti itu. Bahkan, itu adalah kali pertama Nabila melihat Jo tidak tersenyum.
aneh sekaligus menyeramkan bisa dibilang.
"Itu mengejutkan, bukan?" Tanya seekor anjing berbulu putih dan bermata tiga yang sejak tadi berbaring santai di meja Nabila. "Entah kenapa aku merasa kalau dia bisa melihatku."
"Jangan berpikir yang aneh-aneh deh... " jawab Nabila sambil tersenyum kecut. "Maksudku, dia itu hanya Jo." Nabila mengingatkan sambil mengarahkan pandangannya ke arah Jo yang sedang bercerita seru dengan teman-teman sekelas yang lain.
"Ya, dan gadis kecil yang kita temui di Jepang itu hanya seorang gelandangan biasa juga kan?"
"Hah? kenapa singgung itu lagi sih?"
"Aku hanya ingin bilang, lebih baik kamu berhenti menilai segala sesuatu hanya dari sampulnya saja." Jelas anjing itu. "Kalau saja kamu saat itu nggak iseng buat melihat kenyataan gadis malang itu, semuanya pasti masih berjalan mulus sampai sekarang. Kau tahu, aku membutuhkan banyak kenyataan agar bisa kembali ke dunia asalku."
"Hah... iya, iya, Fenris yang serba tahu." Kata Nabila dengan malas sambil mencubit kedua pipi anjing mungil itu. "Tapi, kalau diingat-ingat, sepertinya sudah setahun ya, sejak kau datang ke rumahku dan meminta bantuanku."
"Yap, hari ini tepat satu tahun sejak kita pertama bertemu." Jawab Fenris tak acuh. "Ini adalah hari yang sama saat dimana aku menggunakan Mata Kebenaran-ku untuk memperlihatkan padamu masa lalu dan masa depan yang nggak pernah menjadi milikmu."
"Yah, nggak usah kamu bilang begitu juga aku ingat kok."
Ada suara dengungan yang tiba-tiba tertangkap oleh telinga Nabila dan Fenris. Keduanya lalu melirik ke jendela yang berada tepat di samping meja mereka, dan memandang sesuatu yang tengah melayang tinggi di angkasa.
Jauh di atas sana, Nabila melihat beberapa alat transportasi yang mengambang dengan kekuatan ajaib dan misterius. Itu jelas-jelas bukan pesawat, melainkan sebuah kapal. Namun, sampai sekarang, Nabila masih tidak tahu mengapa bisa kapal-kapal yang seharusnya berlayar di udara, kini mengambang di angkasa.
"Apa sih yang sebenarnya kau lihat waktu itu?" Tanya Fenris. "Kita sudah sepakat kan? Apapun yang kau lihat menggunakan mataku, kau juga harus memberitahukannya padaku. Tapi, kenapa kau masih nggak mau memberitahuku apa yang kamu lihat dari gadis malang itu?"
Sepoy angin yang masuk melalui celah jendela awalnya membawa rasa damai ke dalam diri Nabila, namun, setelah ia mendengar pertanyaan yang dilantunkan oleh Fenris, kengerian yang dilihatnya beberapa bulan lalu kembali merasuk ke dalam jiwanya, dan membuat hatinya merasa sangat sakit.
"Sepertinya apa yang dikatakan Jo tadi, itu ada benarnya." Gumam Nabila yang mengamati keindahan yang ada di angkasa, sambil menikmati segelas teh dingin. Entah kenapa sampai sekarang, Nabila tetap tidak mampu untuk menceritakan pada Fenris apa yang dilihatnya dari gadis kecil itu. Rasanya terlalu menyakitkan.
"Yah... Sesuatu yang benar memang belum tentu baik." Kata Fenris.
"Waktu itu... aku mendengar banyak teriakkan... tangisan... amarah... dan keputusasaan. Lalu... gadis malang itu terbang tinggi ke angkasa untuk menyelamatkan semuanya, tapi dia akhirnya jatuh dan sejak saat itu, hidupnya menjadi kematian. Sedangkan anak berambut emas itu... dia hanya bisa menangis meratapi kepergian semua yang berarti baginya. Seorang yang dianggapnya sebagai adik, kakak, om, tante, semuanya mati... Langitnya berwarna merah... Dan sosok bersayap putih yang ada di langit itu memasang senyuman di bibirnya."
Fenris yang juga masih mengamati angkasa dan menikmati hembusan angin lembut, hanya mampu diam membisu mendengar setiap bisikkan yang keluar dari mulut Nabila.
Yah, tak bisa dipungkiri, kalau kenyataan memang selalu mengerikan.