Gambar dalam Cerita
"Leen."
Panggilan Arnold membuatku yang sedang bercerita semangat, menjadi terbungkam. Aku pun sontak terbungkam dalam diam.
Kenapa? Apakah ceritaku membosankan ? Hanya itu yang kupikirkan, tetapi aku hanya diam.
Maksudku, aku baru bercerita tentang betapa kerennya Kak William kurang dari lima belas menit. Karena, ya, kalau sudah lima belas menit, sudah dipastikan kami sudah sampai di rumah kami dengan jalan kaki, karena begitulah jarak tempuh yang biasanya kami lewati.
Arnold menatapku selama beberapa saat, lalu menghela napas pendek. Dilepaskannya tas hitam yang merangkulnya, lalu membuka tas, sepertinya hendak menggambil sesuatu.
Di saat itulah, aku bisa melihat kucing-kucing mengeong manja ke arahnya, burung-burung pun berkicau memutari Arnold dari atas. Nah, ternyata bukan perasaanku saja saat merasa bahwa hewan-hewan itu memang mengikuti kami sedaritadi. Namun aku tidak terlalu terkejut, aku sudah terbiasa.
"Nih."
Apa yang Arnold perlihatkan padaku, membuat jantungku nyaris lepas dari rongganya.
As-Ta-Ga! ASTAGA!
Aku buru-buru merampas amplop merah muda yang Arnold pegang. "Kok? Kok bisa?!"
Mengapa bisa surat cinta yang kuberikan kepada Kak William minggu lalu ada di Arnold?! Astaga, astaga. Pantas saja sifat Kak William masih santuy dan B aja! Tunggu! Apa jangan-jangan Kak William membocorkan perihal surat itu kepada seisi tim basket?!
Apakah aku sedang dibully? Padahal aku sengaja tidak mengirimkan DM, Line, WA atau semua sosial media Kak William karena aku tahu bahwa Kak William tidak akan mungkin menanggapinya. Aku sering mengawasi Kak William dan sepertinya satu-satunya cara agar dia bisa menyadari keberadaanku adalah dengan melakukan sesuatu yang anti-mainstream!
Tapi ... Kak William kok tega? Padahal--
"Hush, hush, pikiran buruk Aileen, pergilah." Arnold mengucapkan kata-kata yang nyaris selalu sama, setiap aku sedang berpikiran negatif.
Arnold sahabatku sejak masa kami tak tahu malu sampai hari ini, tentu saja Arnold tahu sifatku yang satu itu. Suka su'udzon, singkatnya.
"Terus kenapa?" tanyaku histeris. "Kok bisa di Arnold?"
"Aileen yang taruh itu di lokerku."
Burung-burung yang sedang bertengger di pohon seperti tengah menari, dan kicauannya seperti sedang meledekku. Begonya aku!
Kabar baiknya, karena seperti yang kubilang tadi--aku dan Arnold sudah berteman baik sejak zaman baheula ketika kata 'malu' tidak ada di kamusku--aku agak lega sih, bisa salah di loker Arnold.
EH, ENGGAK DENG. TETAP AJA MALU! Puisi tjintahku yang agung dan seharusnya hanya dibaca Kak Will seorang telah kehilangan jati diri--
"Aileen harus senang karena salah taruh di lokerku," ucap Arnold sambil melanjutkan langkahnya.
"Iya, aku tahu, kok. Hehe, tapi Arnold baca semuanya?" tanyaku.
Arnold menatapku datar. "Enggak, soalnya Aileen alay."
"Ih! Apa sih! Enggak, tahu!" protesku sembari membuka amplop, mengambil isi di dalamnya dan mulai membaca, "Hai, cowok ganteng se-Garuda Putih~"
"Alay," balas Arnold yang bikin aku kesal setengah mati. Bayangkan saja! Dia mengatakan sepatah kalimat itu pakai nada pra-pantun kacau 'cakeeep', seolah-olah aku akan berpantun ria. Padahal kan aku sedang berpuisi!
Kuabaikan Arnold dan kembali membaca, "Aku suka cara kamu main basket dan fokus masukin bola ke dalam ring."
"Namanya nge- shoot ," timpal Arnold.
"Ih Arnot bacot. Kan biar panjang," gerutuku. Aku kembali melanjutkan ketika melihat Arnold sudah kicep. "Walau tidak terlalu mengenal kamu, aku tahu kamu baik dan perhatian."
"--Emot sok baik," potong Arnold.
"Ih! Ini tuh bukan emot sok baik, tapi emot senyuman lembut dan hangat!" ucapku sambil menunjuk emotikon (^^).
Aku kembali memeriksa suratku. Kali ini membacanya dalam hati, agar Arnold tidak lagi seperti komentator sepak bola yang terus-terusan berbacot ria.
"Eh ... tapi aku tidak menulis nama penerima surat ...."
"Ya, tapi kan Aileen tidak mungkin tidak terlalu mengenalku," balas Arnord.
"Heh, tapi kan aku juga tidak menulis nama pengirimnya?"
"Tulisan tangan Aileen kan Aileen sekali."
Kami kembali melanjutkan jalan kami. Entah mengapa rasanya Arnold bisa saja membahas soal surat cinta salah penerimaku, kalau saja aku kembali membahas tentang Kak William.
"Ngomong-ngomong, Leen." Arnold tiba-tiba membuka topik lagi saat kami sudah hampir sampai di rumah.
"Kenapa, Not?" tanyaku.
Arnold tampak ragu-ragu ketika hendak mengatakannya, "Um ... gimana, ya."
"Apanya yang gimana?" tanyaku lagi, kali ini agak lebih mendesakinya.
"Soal surat cinta Aileen buat Kak William."
Wadidaw sekali Arenot ini. Masiiih saja diingat, padahal topik pembicaraannya sudah ekspairit. Pembicaraan Arnold kadang memang seterlambat itu. Wajar saja dia tidak punya pacar sampai sekarang, walaupun dia Snow White (kalau aku bicara begitu, dia akan memintaku bercermin atas statusku).
"Suratnya--"
Tiba-tiba saja anjing-anjing tetangga menggonggong heboh, tapi sudah teruji di IPB dan ITB bahwa mereka menggonggong antusias, bukan untuk mengusir kami. Jelas saja, itu karena ada Arnold di sini. Semua hewan menyukainya, wajar saja dia mendapat julukan Snow White versi cowok kemarin.
"Para pemuja Dewa Snow White sudah menunggu," ejekku.
Arnold mengerutkan kening, seolah tidak suka aku mengalihkan pembicaraan tiba-tiba. Aku mengerucutkan bibir, padahal kan aku tidak sengaja.
"Iya, iya, aku dengar. Arnold jangan ngambek."
"Siapa yang ngambek?" balas Arnold lagi.
"Iya, ada apa dengan 'ngomong-ngomong soal surat cinta' alayku?" tanyaku, berusaha melucu agar setidaknya Arnold jangan ngambek lagi.
"Aileen move on lah. Kak William sudah punya gebetan, tahu." Arnold mengatakan demikian sambil menatapku perihatin.
"Hah?? What to the hell ?! SIAPA? KOK BISA?"
"Kak Stefany-lah! Siapa lagi? Aileen nggak lihat Kak William suka berduaan aja sama Kak Stefany?" tanya Arnold.
"Y-Ya, aku tahu, tapi bukannya mereka berdua hanya sekadar teman dekat? Seperti aku sama Arnold?" tanyaku, sebenarnya agak panik.
Apa jangan-jangan perkataan Arnold memang benar? Eh tapi benar juga sih, tapi Kak Stefany tidak memperlakukan Kak Will kayak pacar, kok. Tapi Kak William memang selalu mampirin Kak Stefany sih, tiap istirahat. Tapi ... emang benar sih mereka dekat. Tapi kok banyak banget tapinya?
"Bukannya perasaan Kak William sudah terang-terangan, ya?" tanya Arnold.
"Hah? Masakkk?"
"Hmm ... wajar saja sih Aileen tidak sadar," ungkap Arnold.
"Lho? Lho? Kok gitu?!"
Arnold menatapku amaaaaat datar, "Soalnya Aileen memang tidak pernah peka terhadap perasaan orang lain."
Bukannya mendapat pencerahan, aku makin cengo karena perkataannya.
Setelah mengatakan itu, Arnold melambaikan tangannya. "Oke, Leen. Aku masuk dulu. Nanti aku kabarin kalau mau ngerjain PR di rumah Aileen."
Tanpa menunggu jawabanku, Arnold masuk rumah, membuat kucing-kucing, anjing-anjing dan burung-burung di sekitaranku patah hati. Berbeda dengan mereka, aku malah makin berapi-api akibat kemisteriusan yang dikatakan Arnold.
"Eh ... EH, TUNGGU! Woy! Arnold ngomong apaan sih, nggak jelaaas!"
"Pikirin aja sendiri," balas Arnold dari balik pintu.
Dia pun tak susah payah membukakan pintu walaupun aku sudah mengomel-ngomel.