APPLE
Fantasy
05 Jan 2026

APPLE

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-05T235639.112.jfif

download - 2026-01-05T235639.112.jfif

05 Jan 2026, 16:56

download - 2026-01-05T235634.678.jfif

download - 2026-01-05T235634.678.jfif

05 Jan 2026, 16:56

Menyicip apel yang telah dipotong kecil sebelum memberikannya pada para bangsawan tentu saja adalah hal yang biasa kulakukan sebagai seorang pelayan, terlebih lagi setelah ramalan buruk itu muncul, bahwa di antara banyaknya apel yang terbentuk setiap waktu, ada satu buah apel yang mengandung racun.

Ramalan itu baru muncul beberapa waktu yang lalu, saat pihak kerajaan menghabisi penyihir terakhir yang ada karena merasa terancam dengan keberadaan mereka.

Aku tak bisa berbohong bahwa aku selalu mengambil keuntungan dari ramalan itu, pelayan seperti kami sangat jarang memakan buah yang segar.

Kami bahkan boleh memakan apel yang ada di dalam karung setelah mereka mengambil apel yang paling berkualitas.

Ramalan buruk datang tidak selalu membawa hal yang buruk, karena berkat ramalan itu, para manusia yang kelaparan di luar sana pun mendapatkan apel yang dibagi cuma-cuma.

"Hei, bagaimana bisa kau makan apel itu dengan tenangnya?" tanya temanku yang juga merupakan seorang pelayan dengan cemas, "Kau tidak takut akan memakan racun?"

"Satu dari sekian banyaknya orang, aku percaya bahwa bukan aku yang akan memakannya."

Temanku itu hanya mengendikan bahunya tanpa membalas perkataanku sedikitpun. Aku merasa dia iri padaku, karena ibunya tidak akan pernah mengizinkannya memakan apel dan yang dia lakukan hanyalah melihatku memakan buah itu setiap harinya.

Lihat saja tubuhnya yang kurus dan kulitnya yang kasar itu, terlihat jelas kalau dia kurang asupan gizi. Padahal, dia itu pelayan yang mengurus kebersihan kastil, bagaimana mungkin dia bisa melakukannya dengan tubuh kurus itu?

Pokoknya, aku masih percaya dengan kata-kata pelayan di dapur, bahwa bekerja sebagai pelayan dapur adalah pekerjaan yang paling menyenangkan di kerajaan ini.

*

Aku tetap tidak bisa terlelap meskipun sudah berulang kali mencari posisi nyaman, rasanya tubuhku begitu gelisah tanpa tahu dan mengerti apa yang terjadi. Punggungku terasa panas-dingin, kuabaikan itu karena itu bukanlah hal yang tidak wajar.

Keringat dingin mulai mengalir di pelipisku, jari-jariku terasa begitu gatal jika tidak digerakan, kakiku terasa lemas, dan rasanya nyeri di bagian jantungku tak terelakkan.

Kepalaku mulai pusing dan mataku mulai begitu berat. Penglihatanku berkunang-kunang, nafasku mulai tersenggal karena sesak, dan lidahku terlalu kelu untuk menjerit memohon pertolongan.

Akhirnya aku pasrah, mempercayakan apapun pyang akan terjadi kepada diriku terhadap kenyataan.

.

.

Namaku terpanggil berulang kali oleh beberapa orang yang berbeda. Suara pintu yang dibuka-tutup terdengar lebih keras dari biasanya.

Setelah memaksakan diri, akhirnya aku membuka mataku perlahan.

Orang-orang masih memanggilku dan terus lalu-lalang tanpa mempedulikanku yang duduk termenung di depan mereka.

Aku meratapi diriku sendiri.

Aku percaya bahwa aku telah memakan racun itu.

Karena jika tidak, tidak mungkin aku berubah menjadi makhluk kerdil dengan sayap transparan dibelakang punggungku.

Bagaimana bisa aku menjadi orang tersial itu ?

*

Berita tentang diriku yang telah menghilang berhari-hari, membuatku begitu marah. Dalam sosokku yang tak berdaya, aku bertanya-tanya mengapa tidak ada siapapun yang mencariku.

Mereka memang mencariku pagi itu, tapi hanya sebentar saja.

Aku sangat bingung, mengapa mereka malah mengadakan pesta yang megah nan mewah, entah menyambut siapa atau mengadakan acara apa.

Ayah dan ibuku bahkan tak mencariku, malahan mereka diberi banyak koin emas dan benda berharga lainnya oleh pihak kerajaan. Senyuman lebar mereka yang terlihat begitu senang mendapatkan benda-benda mewah itu membuatku tak mengerti.

Aku tidak mengerti.

Sampai akhirnya aku mendengar perbincangan mereka mengenai perihal itu...

Dan aku sadar ..., pesta itu, kesenangan itu, dan semua imbalan itu adalah bentuk suka cita yang mereka perlihatkan karena satu-satunya apel beracun itu, kini telah lenyap termakan olehku.

Tapi aku dikejutkan kembali dengan seringai Ayah yang mengerikan, lalu melambaikan tangan di depanku seolah dapat melihatku, aku menghilangkan keraguanku.

"Mereka itu bodoh ya?"

Aku memiringkan kepalaku bingung, namun aku masih melihat mata Ayah yang menatapku fokus.

"Tunggulah beberapa hari lagi, kau bisa berubah menjadi manusia lagi setelah kita pindah ke kerajaan lain."

Aku melongo. "Bagaimana dengan ramalannya?"

"Putri-ku yang lugu, haruskah aku menjawabmu?" Ibu mengelus kepalaku dengan telunjuknya. "Tentu saja apel itu masih ada, tunggu saja sampai ada manusia sial yang memakannya."

Ayah memberikan sebuah cairan kepada Ibu. "Berikan dia minum, agar dia tak mengingatnya lagi nanti," bisik Ayah yang terdengar amat jelas di pendengaranku.

"Minum ini, biar kau lebih cepat menjadi manusia."

Aku menelan saliva-ku tertahan, meski tahu bahwa cairan itu akan membuatku kehilangan ingatanku tentang ini, aku tetap saja meminumnya. Aku percaya pada Ayah dan Ibu.

Kegelapan menuntunku untuk kembali terlelap.

*

Menyicip pir yang telah dipotong kecil sebelum memberikannya pada para bangsawan tentu saja adalah hal yang biasa kulakukan sebagai seorang pelayan, terlebih lagi setelah ramalan buruk itu muncul, bahwa di antara banyaknya pir yang terbentuk setiap waktu, ada satu buah pir yang mengandung racun.

Ramalan itu baru muncul beberapa waktu yang lalu, saat pihak kerajaan menghabisi penyihir terakhir yang ada karena merasa terancam dengan keberadaan mereka.

Aku tak bisa berbohong bahwa aku selalu mengambil keuntungan dari ramalan itu, pelayan seperti kami sangat jarang memakan buah yang segar.

Kami bahkan boleh memakan pir yang ada di dalam karung setelah mereka mengambil pir yang paling berkualitas.

Ramalan buruk datang tidak selalu membawa hal yang buruk, karena berkat ramalan itu, para manusia yang kelaparan di luar sana pun mendapatkan pir yang dibagi cuma-cuma.

Kembali ke Beranda