[0.5] Beatitude
Fantasy
11 Jan 2026

[0.5] Beatitude

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-11T224125.890.jfif

download - 2026-01-11T224125.890.jfif

11 Jan 2026, 15:43

download - 2026-01-11T224122.131.jfif

download - 2026-01-11T224122.131.jfif

11 Jan 2026, 15:43

“Dia datang lagi, tuh.”

Ilyas yang biasanya pendiam, pekerja keras dan hampir tidak pernah mengeluh, menghela napas pelan. Entah sudah keberapa kalinya aku menangkap basah ekspresinya yang tidak wajar itu. Setelah kuingat-ingat, Ilyas hanya bisa mengeluarkan ekspresi semacam itu ketika ada di sekitar gadis itu.

“Sudah kularang, padahal,” gerutu Ilyas pelan.

“Teman kuliah?” tanya Bu Lia--pemilik toko roti tempat kami bekerja.

“Bukan teman, Bu,” balas Ilyas yang tampaknya menahan jengkel.

Aku selalu bisa mengingat kesan pertama dengan para langganan yang membeli roti kami. Gadis manis yang menunggu di depan gerai itu pertama kalinya datang beberapa bulan yang lalu, kira-kira di jam segini juga.

Awalnya, aku agak heran sih, mengapa ada anak gadis yang beli roti sendirian pada pukul 7 malam di tempat yang enggak terlalu strategis. Itu memang jam dimana roti kami sudah diskon 30% untuk mengurangi kemungkinan roti bersisa, karena kami akan membuat roti baru yang renyah pada keesokan paginya.

“Terus kalau bukan teman?” Aku iseng menjahilinya, tapi reaksi Ilyas tidak seperti yang kuharapkan.

“Penguntit,” balas Ilyas pendek, tanpa merasa bersalah.

“Cantik banget, padahal,” ucapku sembari memangku dagu.

Hidup serba pas-pasan sepertiku jelas tidak akan mengerti bagaimana rasanya merias dan menggunakan pakaian trendy sepertinya. Itu memang salah satu keinginanku sejak masa SMA, tapi sudah lama aku membuang jauh semua keinginanku.

Sekarang, bisa tinggal di atas atap tanpa kepanasan dan kehujanan saja sudah syukur. Untungnya, aku tidak perlu khawatir soal perut. Bu Lia cukup memperhatikan jam makan kami, terkadang kami diperbolehkan membawa pulang roti sisa.

“Jangan terlalu benci begitu, Yas, nanti kalau jodoh gimana?” canda Bu Lia.

Ilyas terdiam selama beberapa saat, sebelum akhirnya membalas, “Aku enggak benci dia, Bu, tapi dia bebalnya minta ampun,” keluhnya.

Wah, tiba-tiba enggak irit ngomong , pikirku. Namun aku tidak mengutarakannya, takut Ilyas membantah lagi.

“Kayaknya dia suka sama kamu, Yas.” Wira yang bertugas membuat roti ikut menyahut dari jendela kecil penghubung dapur dan gerai. Hanya kepalanya yang tampak, karena jendela itu biasanya adalah tempat untuk menghidangkan roti panggang yang harum.

Aku hanya mengangguk, setuju dengan pendapat Wira. Maksudku, itu sudah tampak jelas sekali, sih.

“Kayaknya gerimis.” Bu Lia mengintip jendela di dekat meja kasir. Sesekali, melirik ke arah Ilyas untuk melihat reaksi lelaki itu.

Memang, sih . Ilyas sangat mudah terbaca. Meskipun mulutnya jahat begitu, tapi ujung-ujungnya dia kembali menghela napas, lalu melepas apron dan bersiap-siap keluar untuk mengajak gadis itu masuk ke dalam gerai.

“Tinggal masuk aja, masak harus kuundang segala?” protes Ilyas, tapi tetap mengambil langkah lebar untuk mempercepat jangkauannya ke pintu.

“Kan kemarin kamu yang bilang ke dia; jangan datang terus,” balasku.

Ilyas tidak ambil pusing dengan komentarku. Lelaki itu berjalan keluar, tampak ragu-ragu menghampiri gadis itu, lalu akhirnya memanggilnya. Kami bertiga yang hanya bisa mengintip dari balik kaca, hanya bisa menyaksikan sambil menggeleng-geleng. Dasar anak muda.

Beberapa saat kemudian, mereka berdua berbalik menuju gerai. Gadis itu tampak tersenyum berseri-seri ketika Ilyas membukakan pintu untuknya.

“Selamat datang,” sapaku dan Bu Lia dengan kompak, sementara Wira pura-pura sibuk, padahal sudah tidak ada lagi tugas berat di dapur.

Gadis itu malah menengok ke arah Ilyas dengan antusias, membuat lelaki itu kembali memasang apron. “Selamat datang di Lia Bakery. Mau beli roti apa?”

“Hari ini Ilyas bikin roti?” tanya gadis itu.

Aku tiba-tiba teringat dengan kejadian tadi siang, ketika Ilyas menitipkan satu adonan yang dibentuknya ke dalam loyang kosong sebelum Wira memasukkannya ke dalam oven.

“Oh, tadi Ilyas--”

“Enggak ada. Tugasku kan bukan bikin roti,” potong Ilyas, sesuatu yang sebenarnya sangat baru.

“Yas, ini rotimu mau diapain?”

Wira bagaikan cupid mungil yang melintas, karena tiba-tiba mengeluarkan roti gagal buatan Ilyas dari jendela penghubung. Ajaibnya lagi, roti itu sudah dibungkus plastik bening, seolah siap untuk dipasarkan. Harus kuakui, bentuknya memang abstrak dan enggak terlalu pantas buat dijual.

“Mau aku makan pas pulang entar,” balas Ilyas lagi, lalu lelaki itu kembali mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu. “Kamu duduk aja, deh. Pesan susu coklat atau apa, gitu.”

“Ilyas, 5S, ingat,” tegur Bu Lia.

Ilyas bahkan melewatkan aturan pertama dalam 5S yang kami terapkan. Dia masih kesusahan tersenyum di depan pembeli kami, apalagi di depan gadis ini, yang jelas bakal terbang sampai langit ke tujuh jika beneran ada kejadian dimana Ilyas senyum kepadanya.

“Aku boleh beli?”

“Enggak.” Ilyas menjawab dengan sangat cepat. Hampir tidak ada jeda di antara percakapan mereka berdua.

“Kenapa?” tanya gadis itu dengan cemberut.

“Enggak lihat bentukannya kayak gitu?” Ilyas bertanya balik dengan heran.

“Gitu tuh gimana? Bentuknya lucu, kok.”

Ternyata memang benar, cinta itu buta. Buktinya, gadis ini mau-mau saja membeli roti absurd buatan Ilyas. Aku saja gagal paham dengan kue yang mau dibentuk di sana.

“Silakan, semua yang kami jual sudah dipajang di sini,” ucap Ilyas dengan sopan, sembari memperlihatkan etalase.

Gadis itu memilih berjalan ke arahku daripada meladeni ucapan Ilyas.

“Kak, mau beli roti buatan Ilyas, ya.”

Aku melirik Ilyas yang tampak menatapku horor. Kembali, aku mengalihkan pandanganku ke arah gadis yang menatap roti absurd itu dengan terkagum-kagum. Bingung melihat tingkah mereka, aku berakhir menoleh ke arah Bu Lia yang senyam-senyum di meja kasir.

“Bu, itu roti Ilyas mau kita jual berapa, Bu?”

“Harus nanya yang bikin, sih, Rhea,” jawab Bu Lia.

“Yas, mau dijual berapa?” tanyaku lagi.

Ilyas memelototiku, “Itu enggak ada di dalam menu.”

“Kalau aku beli semua roti di sini, apa bisa--”

“Ya ampun,” potong Ilyas dengan frustrasi. “Tolong ya, Cinta, setidaknya belinya setelah rotinya berbentuk.”

Aku cengo, Bu Lia juga cengo. Jangan tanya bagaimana ekspresi wajah Wira, soalnya aku hanya bisa mendengarkan suara loyang jatuh dari dapur.

Mendengar Ilyas yang pendiam ngomong kata ‘cinta’ entah mengapa bikin waktu serasa berhenti.

Seperti yang sudah kami duga, gadis itu juga berakhir bengong.

“Roti buatanmu bakal dijual?” tanya gadis itu setelah keheningan selama beberapa saat.

“Kalau Bu Lia ngizinin,” jawab Ilyas dengan tenang.

“Ibu izinkan, kok, kalau sudah berbentuk roti.” Bu Lia ikut merespons, meskipun beliau juga masih tidak percaya dengan adanya percakapan ini.

“Oh ….”

Entah mengapa, aku merasa gadis itu tidak seantusias yang kupikirkan.

“Jadi, mau pesan apa?” Ilyas bertanya lagi.

Akhirnya, gadis itu berakhir memesan susu coklat panas dan beberapa roti yang terpajang di etalase. Bersamaan dengan itu, hujan yang tadinya gerimis pun menjadi deras. Hanya gadis itu yang menjadi pelanggan kami malam itu.

Gadis itu datang di jam segini jelas bukan karena mengincar diskonan, sebab kami semua tahu persis bahwa gadis ini berasal dari keluarga yang berada.

Aku sudah pernah bilang bahwa aku mudah mengingat kesan pertama kepada pelanggan, kan? Gadis ini juga salah satu yang berkesan. Dia mengenali Ilyas, berusaha mengajaknya berbicara, lalu memilih memborong semua roti yang ada di etalase hanya agar Ilyas mau berbicara dengannya.

Yang jelas kuingat persis, dia menanyakan satu persatu nama roti yang jelas sudah bertulis di etalase di hadapan pelanggan. Waktu itu, Ilyas masih menjadi pegawai baru, tetapi untungnya dia sudah mengingat semua nama roti yang dijual.

Lalu, ketika hendak membayar, rupanya gadis itu membawa kartu debet, padahal toko roti ini hanya menerima pembayaran tunai. Itu membuat Ilyas kerepotan dan berakhir meminjamkan uang kepada gadis itu.

“Sudah makan belum?” tanya gadis itu ketika Ilyas mengantarkan piring-piring yang berisi roti.

“Sudah,” balasnya tanpa melabuhkan sedikitpun pandangannya ke arah gadis itu, hanya fokus menata piring di atas meja.

“Makan malam, lho.”

“Sudah.”

“Maksudku, makannya sama nasi--”

“Sudah, Cinta,” balas Ilyas yang terdengar agak kesal.

Gadis itu malah tertawa kecil, “Aku kaget, lho. Kukira kamu enggak ingat namaku.”

Kami bertiga--Aku, Bu Lia, dan Wira--langsung saling bersitatap dan mengangguk paham seolah kami saling bertelepati. Rupanya Ilyas bukan sedang menggombal, tapi nama gadis itu memang Cinta.

“Enggak perlu peduli soal makan malamku,” ucap Ilyas.

“Habisnya, kamu mungkin cuma makan roti ….”

“Aku enggak mau dengar itu dari orang yang sedang makan di sini jam segini.”

Cinta tersenyum cerah, “Kamu khawatir?”

Ilyas memutar bola matanya kesal, tidak meladeni ucapannya, “Selamat menikmati.”

“Tunggu, tunggu!” Cinta menahan kepergian Ilyas dengan menyesap cepat susu coklatnya, sambil menahan raut wajah karena tampaknya lidahnya kepanasan. “Ini kurang manis.”

Ilyas kembali memperlihatkan wajah datarnya, “Tiga sendok gula kurang?”

“Kamu senyum dikit dong, biar manis,” bujuk Cinta.

Ilyas menyadari bahwa kami sedang memperhatikannya. Dia memaksakan senyumnya sekilas, sebelum akhirnya melangkah pergi dari sana.

Cinta menikmati pesanannya dengan riang, sebelum akhirnya ponselnya berbunyi mengacaukan suara hujan di luar sana yang menenangkan. Gadis itu melihat ponselnya sekilas, lalu memutuskan untuk mematikan ponsel tanpa mengangkatnya.

“Siapa tuh?” Wira yang kepo di dapur, masih mencoba mengintip dari jendela.

Ilyas pura-pura tidak peduli, meskipun sesekali lelaki itu tampak menoleh risih ke arah Cinta yang menghabiskan waktunya di toko ini.

Setelah beberapa saat kemudian, ada sebuah mobil hitam terparkir di depan toko, tampaknya jemputan Cinta, karena teleponnya terus berdering tanpa henti setelahnya. Ilyas yang memayungi Cinta sampai ke mobilnya dan sempat berbicara dengan seseorang, tetapi Ilyas segera masuk kembali ke dalam toko roti setelahnya.

“Sebenarnya siapamu, sih, Yas?”

Wira akhirnya keluar dari dapur lantaran terlalu penasaran, tentu saja dengan dalih bahwa jam tutup toko ini akan segera tiba dan waktunya menghitung sisa roti hari ini untuk dibagi rata.

“Bukan siapa-siapa,” balas Ilyas acuh.

“Namanya Cinta ya? Imut banget, ya,” timpalku.

“Kenal darimana?” tanya Bu Lia dengan lembut.

Ilyas pun pada akhirnya menjawab, “Kami satu sekolah sejak SD.”

“Sejak?” tanyaku. “Sekarang?”

“Iya, masih diikutin sampai sekarang,” jawab Ilyas, lagi-lagi menghela napas.

Cinta tidak datang ke toko roti tiap hari, tetapi jika gadis itu sudah datang, Ilyas akan mulai menghela napas, tanpa henti. Seperti saat ini, contohnya.

“Kamu enggak mungkin enggak tahu kan, soal tujuannya?” tanya Wira.

“Tujuan apa?” tanya Ilyas.

“Tujuannya ngikutin kamu sejak SD,” sahut Wira.

Ilyas menghela napas, “Sudahlah, enggak perlu dibicarain.” Segera, Ilyas mengambil rotinya yang ada di depan jendela dapur. “Bu Lia, aku ngambil yang ini, ya.”

“Iya, Yas, ambil saja. Besok kamu belajar cara bentuk roti sama Wira, ya.”

Wira malah tampak dramatis, “Bu, ini kenapa Ilyas ngambil alih tugas? Wira-nya jangan dipecat, dong.”

“Eh? Enggak, kok. Biar nanti ada yang bisa dibeli Cinta, kalau nanti dia datang lagi.”

Mungkin hanya aku yang menyadari ini, sebab ketika Bu Lia dan Wira tertawa dengan percakapan yang baru saja mereka lakukan, untuk beberapa alasan, Ilyas hanya diam dan menatap roti absurd buatannya dengan agak serius.

Mungkin, Ilyas punya pemikiran sendiri tentang hal itu.

Kembali ke Beranda