Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

830

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

166

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
Rain, Ame - [雨, あめ]
Fantasy
12 Jan 2026

Rain, Ame - [雨, あめ]

Cerita ini dibuat untuk menyelesaikan misi duel tournament royale yang diadakan oleh NPC sebulan yang lalu dengan tema permen dan genre teen fiction . Namun aku merasa harus membagikan beberapa cerita tournament yang kutulis dalam 30 menit, dalam keadaan panik dan terburu-buru. Tentu, aku hanya akan mempublikasikan beberapa cerita yang menurutku berkesan.Jika kalian adalah orang-orang yang sudah pernah membaca semua bacotan randomku di Daydream , mungkin kalian bakalan merasa, "Eh? Kok kayaknya aku familiar sama judul ini?"Ya, ini cerita Ame & Sun . Aku hanya teringat dengan kisah ini ketika menyangkut permen dan teenfict, hahah. Sayangnya, aku tidak bisa menuliskan terlalu banyak, karena ini hanya dibatasi 500 kata (ini pun kutambah sedikit agar lebih mengesankan).Hmm, tapi bagaimana caranya aku menegaskan bahwa ini bukan romance ?Oh, dengan cara seperti ini.Genre: Slice of Life, School Life. Non-Fantasy (only in this case) .***雨, あめ***" Hello, Sun-San, my name is Ame !"Aku tersenyum di depannya, memperkenalkan diri.Namanya Sun, dia anak baru pindahan Amerika yang bergabung di kelas 6-2 hari ini karena ikut ayahnya di kota kecil ini untuk keperluan pekerjaan. Rambut pirangnya yang terpantul cahaya matahari dari jendela tampak bersinar dan mata birunya menatapku penasaran.Banyak teman sekelasku yang penasaran dengannya, tetapi mereka tidak berani mengajaknya berbicara. Soalnya, kami semua tidak ada yang fasih Bahasa Inggris."Ame ...," gumam Sun pelan, sebelum akhirnya tersenyum ramah. "Hai, Ame. Bahasa Jepang, okay ."...Kami berteman sejak hari itu. Teman-temanku perlahan juga mulai memberanikan diri untuk berbicara dengannya dan kami sering mengajaknya bermain dodgeball bersama. Sun cukup bersahabat, berteman dengan semua orang dan masih mencoba beradaptasi di Jepang.Kabarnya, Sun tidak akan lama di sini, karena ayahnya memang kerap berpindah-pindah tempat untuk bekerja, tetapi kuharap Sun punya banyak kenangan indah selama di sini!Jam olahraga cukup melelahkan sekaligus mengasikan. Kami baru saja selesai bermain dodgeball . Tim-ku kalah hari ini, tapi tidak apa-apa, masih ada minggu depan untuk menang.Kupandangi awan gelap yang berkumpul. Untungnya, ketakutan kami akan hujan deras tidak terjadi. Dodgeball lebih seru dimainkan di ruang terbuka, bukan di lapangan indoor tempat lapangan voli. Aku duduk di tangga, mengoroh saku dan mengeluarkan permen untuk memakannya.Ibuku menjatahku permen perhari karena katanya aku terlalu menggemari permen, padahal aku sudah kelas enam dan tahu cara membersihkan gigiku dengan benar."Ame!" Sun melangkah mendekatiku, lalu duduk di sampingku."Sun- San ! Bagus sekali permainanmu hari ini. Minggu depan tim-ku akan menang, lihat saja yaaa!"Sun hanya melihatku sambil tersenyum. Entahlah dia mengerti aku baru saja memujinya atau tidak."Ame," katanya lagi."Iya, kenapa, Sun- San ?"Sun menunjuk permenku. " Ame .""Oh, kau mau?" Aku menyodorkan permen, meskipun aku hanya punya satu.Sun menggeleng, aku memaksanya menerimanya dan menerimanya. Sun menunjuk permen dan ke arahku. "Ame."Ame punya dua arti yang berbeda; hujan dan permen. Tulisannya berbeda, tetapi pelafalannya hampir sama. Betul juga. Sun baru mempelajari Bahasa Jepang, dia tidak mengerti."Namaku bukan permen." Aku menunjuk permen sambil menggeleng-geleng. "Namaku hujan."Sun tampak kebingungan.Aku menunjuk langit, tapi itu tidak membantu.Aduh, apa Bahasa Inggris-nya hujan?" No sun , hujan, byur ."" No Sun ?" Sun menunjuk dirinya sendiri, membuatku panik." No, no, no ! Bukan begitu."Tolong, seseorang bantu aku, agar aku tidak kelihatan seperti sedang menindasnya!Untungnya, sebelum salah paham semakin panjang, ketakutan kami tadi akhirnya terjadi. Hujan turun dengan lebat dan kami berdua segera berlari ke bangunan terdekat untuk berteduh."Nah, ini dia! Arti namaku hujan. Ini!" ceritaku dengan semangat.Sun tampak mengangguk mengerti. " No sun, rain ?" tanyanya.Aku mengangguk sebagai balasan. Sun hanya tertawa."Sun- San ," panggilku. Dia menoleh."Ya, Ame-Ame ?" balasnya, tersenyum.Aku menaikkan sebelah alis. "Kenapa Ame-Ame?""Ame memanggilku Sun-Sun ."Kali ini aku yang tertawa."Kau tidak akan lama ya, di sini?"Sun tampak sedikit heran, tapi ia membalasku dengan tersenyum."Hm?""Kurasa aku akan terus mengingatmu setiap melihat matahari," ucapku sambil menghela napas. "Apa kau akan mengingatku setiap hujan turun?"Sun memperhatikanku agak lama, tersenyum tipis dan memiringkan kepala. "Apa?" tanyanya.Oh, tentu saja, Sun tidak akan mengerti.Aku tertawa kecil, tak menjawab pertanyaannya. "Ayo, kita kembali ke kelas.""Ame," panggilnya lagi.Kutolehkan kepalaku padanya. Dia melemparkan permen yang kuberikan kepadanya tadi dan tertawa ringan sambil berlari. "Ame makan Ame."Sepertinya itu ledekan, karena itu aku mengejarnya sampai ke kelas. "Sun- San !"*** 雨, あめ***fin—ish..Lagi dan lagi, aku harus ngingetin, jangan dikapalin. Kalian kan udah tau endingnya bejimana.

Floating Days
Fantasy
12 Jan 2026

Floating Days

Apa yang lebih menyebalkan daripada melihat jendela dan menemukan matahari bersinar cerah di luar dan kau yang harus terkurung di dalam rumahmu lagi?Kau mengembungkan pipi dengan cemberut.Padahal Ibu selalu bilang padamu kalau dia hanya akan melarang jika akan ada badai, tetapi saat ini cuacanya begitu cerah seperti itu. Teman-teman sepermainanmu pasti sedang bermain sepak bola, atau mungkin mereka sedang bermain kejar-kejaran. Kau jelas tidak bisa memainkannya seorang diri, di rumah mungil ini."Ah!"Kau menghentakkan kakimu, baru saja teringat dengan sesuatu. Bagaimana bisa kau melupakannya?! Kemarin mereka sudah berjanji untuk bermain petak umpet! Permainan yang tak mungkin kau lewatkan begitu saja."Ibu..." rengekmu sambil melangkah menuju halaman belakang.Di sana Ibumu sedang menyikat pakaian putih dengan sikat. Kau ingat pernah menanyakan mengapa tidak disatukan saja dengan cucian yang lain di mesin cuci, tapi Ibumu menjawab pakaian putih memanglah harus dicuci sendiri. Pakaian putih tidak boleh bermanja-manja, setidaknya itu yang kau pikirkan.Ibu berjanji akan masak makanan kesukaanmu kalau kau tetap di rumah dan tidak keluar. Awalnya kau pikir kau bisa melakukannya, tapi sepertinya, tidak."Kamu ini, sesekali temani Ibu bersih-bersih, kenapa?" tanya Ibumu terdengar protes. Kau bahkan yakin kalau saja Ibumu tak sedang menyikat kemeja putih itu, telingamu bisa-bisa menjadi korbannya. "Ibu kan capek, bersih-bersih sendirian."Kau cemberut. "Ibu kan juga tau kalau aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku masih kecil, umurku memang untuk main-main."Ibumu mendesah lelah, "ya sudahlah, sana, main. Jangan lama-lama," pesannya.Kau kegirangan sampai lupa bahwa halaman belakang rumahmu basah. Kalau saja Ibu tidak buru-buru menggerakan tangannya, kepalamu mungkin akan bocor. Sejak kau belum lahir, halaman belakang telah ditutupi oleh ubin dan semen. Sebenarnya tak pantas juga disebut halaman, apalagi ruangannya tertutup dan hanya ada saluran pembuangan air di sudut halaman. Praktis juga sebagai tempat menjemur pakaian dan mencuci alat-alat masak."Oh iya!" Ibumu teringat sesuatu. "Jangan bercerita yang aneh-aneh, cukup sama Ibu, ya."Kau mengerutkan kening. Ah, sungguh, Ibumu tak pernah mempercayaimu dan selalu, selalu, selalu, SELALU mengulang kata yang sama sebelum kau pergi bermain. Kau paham bahwa sebenarnya Ibumu tidak ingin kau dijauhi teman-teman barumu, apalagi kalian baru berteman kurang dari tiga bulan. Tentu saja kau tersinggung jika Ibumu sendiri tak mempercayaimu, kan?Begini, kau tentu saja ingat soal kejadian dua bulan yang lalu saat di lantai dua? Saat itu Ibumu memintamu memasukkan pakaian ke mesin cuci dan pergi berbelanja karena ada bahan makanan yang kurang. Ia berjanji akan segera pulang dan di saat itulah kau boleh keluar bermain.Ibumu sudah mengajarimu cara kerjanya, tapi saat kau tengah menunggunya pulang, mesin cuci rumahmu mati sendiri. Kaca pintu yang menghubungkan balkon untuk menjemur pakaian keluargamu tiba-tiba saja terbuka sendiri.Tubuhmu melayang bersama pakaian-pakaian yang baru saja keluar dari mesin cuci. Masih sedikit lembab, tapi kau lebih takjub dan penasaran kemana angin akan membawamu.Kau melayang bersama pakaian-pakaian, sepertinya kau terlihat seperti kumpulan burung dari bawah sana. Kau tertawa riang, itu sungguh mengasikkan.Lalu, kau mendarat bersama pakaian-pakaian itu, kebetulan pula kau bertemu dengan Ibumu.Ibumu menjewelmu dan terus berceramah soal tanggung jawab dan bagaimana kau melupakan pesannya untuk memisahkan pakaian putih dan berwarna. Pakaian putih sudah luntur menjadi warna merah pucat. Selanjutnya, Ibu marah karena kau meninggalkan rumah dan membawa semua pakaian jemurannya sampai di sana.Kau terus menerus membantah dan mencoba menjelaskan apa yang terjadi, tapi ia tidak mempercayaimu. Mungkin sejak itu, Ibumu terus-menerus menasehatimu untuk tidak bercerita apapun soal kejadian itu.Setelah selesai memainkan petak umpet, kau dan kawan-kawanmu akhirnya berkumpul di markas. Markas terletak di bawah perosotan yang tertutup. Kalian bisa di sana karena mereka berlomba-lomba bercerita cerita terseram yang pernah ada."Ibuku melarang ke sungai, katanya akan ada nenek-nenek yang sedang mencuci pakaiannya. Sebenarnya memang aneh kalau benar-benar ada yang mencuci pakaian di bawah jembatan itu, kan? Apalagi ini bukan di desa. Tapi kalau kalian menyadarinya, kalian akan sadar bahwa itu bukan selendang merah. Melainkan ... organ tubuh yang masih bersimbah darah."Kau menatapnya bosan. Selalu saja itu yang ia ceritakan setiap ritual permainan petak umpet selesai dan dia selalu menceritakan hal yang sama. Membosankan, tentu saja."Kemarin temanku membeli layang-layang. Kira-kira setelah sebulan, Ayahnya menemukan layang-layangnya yang sudah sobek dan ternyata itu berasal dari kulit manusia."Kau merinding, tapi bukan merinding karena takut. Melainkan karena tiba-tiba saja kau melihat sebuah layang-layang tanpa benang terlihat dari kejauhan. Mereka semua heboh dan berlomba-lomba mengejar layangan. Kau bersumpah dalam hati bahwa kau yang akan mendapatkannya hari ini.Tengah mengejar, tiba-tiba langkah mereka semua terhenti. Hanya kau yang masih berusaha mengejar. Kau berhenti melangkah dan membalikan kepalamu, bertanya."Kenapa?""Mungkin lebih baik kita kembali, layangannya masuk ke rumah kosong itu."Kau bertanya lagi, "bukankah bagus? Berarti kita bisa mengambilnya tanpa harus takut ada anjing penjaga yang galak."Tapi mereka tidak mendengarkan. Kau tersinggung, tapi akhirnya mengikuti mereka kembali ke markas. Mereka melanjutkan cerita seram itu lagi."Kau mungkin tidak tahu soal cerita rumah itu.""Apakah rumah itu angker?" tanyamu."Katanya ada penyihir di sana." Temanmu seolah mendapatkan ide. "Sekarang aku akan cerita tentang penyihir yang suka menculik anak-anak. Kata Ibuku, dia hanya akan menculik anak yang nakal dan suka berbohong! Dia suka makan anak-anak!"Kau ingat, kau pernah mendengar cerita ini dari Ibumu."Kalau aku ketemu dengan penyihirnya, akan kutendang kakinya keras-keras!"Kau merasakan hawa dingin di belakangmu. Tubuhmu bergetar dan kau mengintip arah di mana kau masuk di dalam perosotan itu. Kau melihat seseorang berpakaian hitam dengan latar langit senja. Mata kalian terkunci dan dia mengancungkan telunjuknya di depan bibir, memintamu diam."Ku-kurasa kalian harus diam, sebelum dia marah!" Kau berdiri dengan cepat, sampai-sampai kepalamu terbentur bagian atas perosotan. Kau meringis, sementara yang lainnya menertawakan kebodohanmu."Kau takut? Pulang sana! Kami tidak bermain dengan seorang penakut!"Kau keluar dari markas, berusaha menjauhi orang berpakaian hitam tadi. Dia mengikutimu, kau tahu dan makin mempercepat langkahmu. Namun, selalu ada rasa penasaran di hatimu; seberapa dekat orang itu denganmu. Jadi, kau berbalik untuk memeriksanya."Ibumu sudah menunggumu di rumah," ucapnya. "Sana, pulang."Kau menatapnya takut-takut. "Kau tidak akan menyakiti mereka?"Ia tersenyum, "Aku tidak akan menyakiti anak baik, jadi pulanglah. Ibumu sudah memasak makan malam."Kau sudah bermaksud pulang begitu mendengarkannya mengatakan soal makan malam. Menu hari ini adalah menu kesukaanmu. Kau tahu Ibumu tetap akan memasaknya meskipun kau tidak dapat menepati janjimu hari ini untuk tetap di rumah. Tapi akhirnya kau penasaran dan berbalik lagi."Jadi...," Kau menjeda selama beberapa saat, "kau suka makan anak-anak?"Orang itu tertawa renyah. "Bagaimana denganmu?"Lalu ia melangkah menuju tempat teman-temanmu tadi, meninggalkanmu yang masih menyimpan pertanyaan di kepalamu. Namun pada akhirnya kau memilih pulang untuk dapat menyantap makan malammu.Kau akan mencoba untuk meyakinkan mereka lagi besok, pikirmu.Namun besoknya, kau datang lagi ke markas, dan mereka semua tidak pernah datang lagi.***Oke, karena aku tidak pernah punya kesempatan untuk menjelaskannya di work NPC, jadi aku akan menggunakan kesempatan ini untuk menjelaskannya di sini.Fun Fact! Cerita ini ditulis dengan sangat buru-buru dan kelar dalam 30 menit untuk ide dan eksekusinya. Ni otak mau tewas ahahaha.Judul FLOATING DAYS di sini hanya direferensikan untuk scene saat 'Kamu' terbang bersama baju-bajunya yang keluar dari mesin cuci. Tapi karena aku menambahkan huruf S, itu artinya 'Kamu' bukan hanya akan melayang sekali, tapi mungkin akan berkali-kali.Ibu 'Kamu' tidak pernah bilang kepadanya bahwa mereka juga adalah penyihir. Well, sebenarnya aku sudah memberikan petunjuk selama di cerita, apakah kalian menangkapnya?Jadi pertama ibunya bilang untuk tidak menceritakan apapun. Awalnya mungkin pembaca mengira bahwa si 'Kamu' ini adalah indigo, tetapi begitu ada kejadian si 'Kamu' melayang bersama pakaian-pakaiannya, kalian mungkin mulai paham apa yang tidak boleh diceritakan oleh 'Kamu'.Nah, sebenarnya kekuatannya muncul karena dia ingin keluar rumah. Ibunya juga sebenarnya ingin 'Kamu' menemaninya bersih-bersih sesekali karena ingin menceritakan tentang identitas mereka, tapi karena 'Kamu' selalu ingin main dan bilang bahwa dia masih kecil, ibunya selalu menunda pembicaraan ini.Oh, soal pakaian putih yang luntur menjadi merah pekat, kalian mungkin paham bahwa si 'Kamu' tidak sengaja mencampur semua pakaian berwarna yang sudah dinodai darah dengan pakaian putih. Pakaian korban atau pakaian mereka? Gatau.Mereka baru pindah 3 bulan yang lalu dan akan pindah terus untuk mencari stok makanan. Nenek tua itu tahu bahwa 'kamu' juga penyihir.

Mungkin
Teen
11 Jan 2026

Mungkin

Di suatu pagi di sekolah, datanglah seorang pelajar bernama Rangga. Dia datang dengan senyumnya yang manis sembari bersalaman dengan para staff dan guru yang ia lewati.Rangga adalah seorang Ketua Osis baru di sekolahnya. Ia sangat di sukai oleh semua orang, dari para murid, guru, hingga staff-staff karena tutur katanya yang lembut tetapi tegas, ramah kepada semua orang, dan ia tidak mengenal _'Senioritas'_ . Semua orang mengenal Rangga karena sifat-sifat baiknya itu, orang-orang pun seakan-akan tidak mengetahui apa kelemahan atau kekurangan dari sosok Rangga ini.Tetapi, Rangga sebenarnya memiliki sebuah kelemahan, yaitu senyuman wanita idamannya. Wanita itu bernama Bella. Ia merupakan adik kelas Rangga, ia terkenal sangat cantik di angkatannya dan langsung menjadi primadona di sekolahnya, Rangga pun sudah memperhatikan Bella semenjak Bella mengikuti MOS di sekolahnya. Meskipun Rangga terkenal akan keramahannya terhadap semua orang ia tetap tidak sanggup untuk berbicara kepada Bella.Dan di suatu ketika, Bella digoda di Lorong ujung sekolah dekat gudang oleh seorang lelaki yang dimana lorong itu sangat sepi dan sunyi dan yang menggoda Bella adalah teman seangkatan dari Rangga yang bernama Jonathan, Jonathan terkenal playboy dan terkenal sangat bandel di sekolahnya. Dan sekarang Laki – laki itu sedang mencoba menggoda pujaan hati Rangga.“Ih apaansih kak! Jangan ganggu Bella deh,” ucap Bella dengan nada kesal.“Emangnya gue ngapain elu sih? Gue kan Cuma mau minta nomor WA lo doang! Gosah lebay deh lo!” balas Jonathan dengan berteriak.“Yakan aku gamau ngasih kak. Orang tua Bella bilang gaboleh ngasih nomor WA ke sembarang orang!Jadi lo bilang kakak kelas lo ini orang asing iya? Gitu maksud lo? HAH?!” teriak Jonathan sambil mendorong tubuh Bella dengan kasar kearah tembok.“Kak sakit kak ... emang bener ya kata temen Bella kalo kak Jonathan itu orangnya berandalan," sahut Bella dengan menahan sakit serta menahan tangisnya.“Lo kalo jadi adek kelas bisa sopan dikit gak sama kakak kelas? Hah?! Bangs*t lo!” Ia berteriak kearah Bella sembari mengarahkan tangannya kearah Bella, Dan Rangga pun dengan sigap menangkap tangan Jonathan.“Udah Jo udah, jangan main kasar gitu ke Bella," ucap Rangga sambil menekan tangan Jonathan dengan keras.“Ra ... Rangga? Lo ... lo ngapain kesini? Bukannya lo ada urusan di ruang Osis?” ucap Jonathan dengan gugup.“Iya emang gua ada urusan di ruang osis. Tapi ada yang mau gua ambil di gudang, nih kuncinya," ucap Rangga sambil menujukkan kunci ruang gudang kepada Jonathan."Nah sekarang kamu udah gaada urusan disini kan Bel? Mending kamu pergi dulu ya," ucap Rangga lagi kepada Bella.“Eh tunggu! Urusan gue sama Bella belum selesai Rang," timpal Jonathan yang sembari melepaskan cengkraman tangan Rangga.“Oh ya?” Lalu rangga menoleh kearah Bella. “Emang Bella masih punya urusan sama dia?” Sambil menujuk Jonathan.“Eng ... engga kak," jawab Bella dengan takut."LO BENER BENER BANGS--" Belum sempat Jonathan mengumpat Rangga langsung memasukkan kunci ruang gudang ke mulut Jonathan.“Mulut lo busuk banget Jo baunya, dikunyah dulu itu kuncinya. Oiya Bel, udah sana kamu pergi. Si Jonathan biar disini dulu sama aku ya hahaha," ucap Rangga sambil memegang kedua tangan Jonathan yang berusaha melarang Bella pergi.Bella pun pergi meninggalkan mereka berdua. Di perjalanan Bella berbicara dalam hati _"Sweet banget kak Rangga oh my god. Mungkin gak orang sesweet itu jadi pacar gue? aaaahh."Jonathan pun melepaskan diri dari Rangga. “Apaansih lo rang! Gajelas, hueekk." Sambil membuang kunci dari mulutnya."Lagian lo ngapain gangguin cewe kayak gitu? Gua kan udah bilang, kalo gua gaakan negur soal pakaian lo, asalkan lo gak gangguin cewek-cewek," ucap Rangga dengan santai sambil mengambil kunci yang Jonathan jatuhkan itu.“Yaudah lo pergi sana Jo, gua ada urusan di gudang, awas aja sampe keulang lagi. Gua laporin ke kepsek biar langsung di tegur lo."“Iya-iya gue cabut, tapi jangan di laporin yang barusan ke kepsek!” ucap Jonathan sembari melangkahkan kaki pergi.Lalu rangga pun sudah mengambil barang yang ia butuhkan dari gudang, di perjalanan ke ruang osis ia berbicara sendiri. "Ini obrolan pertama gua sama Bella, sayang banget obrolan pertama kita kayak gitu. Mungkin gak ya obrolan kita di lain hari bakalan beda? Hahaha”Keesokan harinya ketika jam istirahat berbunyi, tiba-tiba Bella datang kedepan kelas Rangga sambil membawa sebuah bingkisan di tangannya.“RANGGA, ada yang nyariin lo nih!” ucap salah satu temannya.“Ohh iyakah? Siapa?” ucap rangga sambil membereskan buku pelajaran yang ada di mejanya.“BELLA KAK," ucap Bella dengan berteriak.Rangga yang mendengar itu pun kaget bukan main. “Be ... Bella? IYA Sebentar!” ucap Rangga grogi.Lalu Rangga pun menemui Bella di depan kelasnya.“Iya Bel, ada apa nyari aku?”“Kak Rangga kita ngobrol di taman sekolah aja yuk ... mau gak? Aku sambil mau ngasih ini," ucap Bella malu-malu sembari menunjukkan bingkisan yang ia bawa itu.“Oh oke ayo," jawab tegas tetapi dalam hati ia sungguh grogi bukan main.Sesampainya di taman, rangga dan Bella pun duduk di kursi taman tersebut dan Rangga pun membuka obrolan.“Jadi ap...,”“Jadi gin...,"Mereka berdua pun berbicara secara bersamaan.“Ehm, kakak dulu deh.”“Oh ngga ngga, kamu aja dulu Bel."“Ngga mau, kakak duluan.”“lho kan kamu yang ngajak ketemuan disini," ucap Rangga pelan.“Yaudah kak Bella duluan, jadi gini. Bella mau berterima kasih banget sama bantuan kakak kemarin yang udah belain Bella waktu Bella diganggu sama kak Jonathan, jadi...,"“Jadi apa Bel?” tanya Rangga."Jadi Bella mau kasih hadiah ini buat kak Rangga," ucap Bella sambil memberikan bingkisan yang dia pegang sedari tadi.“Oh? Terima kasih Bella, aku buka ya?” Bella hanya mengangguk tanda setuju.Ketika dibuka, Rangga pun dibuat kaget dengan apa yang ada di dalem bingkisan itu, di dalam bingkisan itu ada sepotong kue berbentuk hati dan terdapat surat di samping kue tersebut yang bertuliskan_*Kak Rangga, maafin bella karena baru bilang suka ke kak Rangga sekarang. Bella sudah lama suka sama kak Rangga bahkan sebelum Kak Rangga jadi Ketua osis sekolah kita. Bella selalu memperhatikan Kak Rangga, dari sampai sekolah hingga pulang sekolah. Lalu, apakah mungkin Bella bisa menjadi seseorang yang spesial untuk Kak Rangga?*_Lalu dengan tegas Rangga menjawab “Itu sungguh mungkin Bella. Karena aku juga punya perasaan yang sama”[ E N D ]

Hurt
Teen
11 Jan 2026

Hurt

Sekitar tiga tahun yang lalu. Bertepatan dengan hari terakhir ujian nasional dilangsungkan. Syafira Putri Angelista sudah siap dengan pakaian putih birunya tidak lupa kerudung putih sebagai peutup auratnya. Dengan pikiran kalut jikalau nanti ia tidak bisa mengerjakan nya bagaimana? Namun dengan tekad yang kuat mengalahkan perasaan kalut yang hinggap di otak cantiknya. Dengan riangnya ia keluar dari kamarnya sambil menenteng tas dipundaknya dan memegang satu buku yang berada Didekapannya.Matanya tiba-tiba berbinar melihat makanan yang tersaji dengan rapih di meja makan, coba saja ia masih mempunyai waktu yang lebih dengan senang hati ia akan menghabiskan makanan itu. Rasanya waktu seakan tidak bisa memberikan ketenangan untuknya. Mengehela nafasnya sejenak. Kaki nya mulai melangkah mendekati ke dua orang tuanya."Pagi," sapanya."Too sayang," ucap serentak kedua orang tuanya."Aku langsung berangkat ya, Nanti sarapannya di sekolah aja bareng Tasya." Syafira mencoba menjelaskan, ia sebenenya merasa bersalah karena tidak menghargai Mamanya."Gapapa ko sayang." Rania, mamanya mengelus kepala Syafira."Yaudah aku berangkat," ucap nya sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya."Hati-hati nak semoga segala urusan mu Dimudahkan oleh Allah Swt." Riko, papanya mengecup kening Syafira dengan lembut."Amin, Assalamualaikum." Syafira Melangkahkan kaki nya keluar rumah."Waalaikumsalam," jawab kedua orang tuanya.Setibanya di kelas 9i suasana sudah sangat ramai untung saja ia tidak telat bisa celaka nantinya.Syafira menghampiri Tasya putri Salah satu sahabat yang sangat baik dan selalu ada untuk nya.Sambil menunggu Bel masuk mereka habisnya waktu nya untuk mengobrol seputar pelajaran.Perasaan penat, pusing bercampur menjadi satu ujian sudah berlangsung sejak 45 menit yang lalu masih ada waktu 15 menit untuk mereka mengerjakan nya.Ujian nasional telah selesai dilangsungkan semua nya segera berucap syukur ada senang nya karena mereka akan menempuh sekolah menengah atas namun ada sedih nya karena harus berpisah dengan teman-teman yang sudah bersama selama 3 tahun."Syafira semoga lo kedepan nya jadi lebih baik dan bisa langgeng sama si kapten basket," ucap Tasya."Amin lo juga ya, terimakasih Tasya udah jadi sahabat terbaik gue, btw si kapten basket itu Arsya Putra fernando, Tasya," ucap syafira gregetan selalu saja Tasya menyebut nya tanpa embel-embel Nama."Sabodolah yang penting eta weh.""Huft yaudah gue mau ke Arsya dulu ya." Tanpa menunggu jawaban sahabat nya ia melenggang pergi menuju kekasih nya.Mata nya menangkap sosok cowok yang sedang tertawa bebas bersama teman-teman nya. Syafira mulai Mendakati sang kekasih."Arsya," panggilnya.Semua teman-teman arsya pergi meninggalkan dua sejoli yang sedang dilanda kasmaran."Hai sini duduk." Arsya menepuk-nepuk kursi yang tepat disamping nya."Eh iya." Syafira pun duduk seraya menatap muka tampan yang status nya menjadi kekasih nya."Aku tau aku tampan tapi jangan diliatin mulu sayang." Arsya mengusap wajah Syafira yang membuat si empu merasa malu."Ihkk kamu mah," rajuk Syafira."Uluhh pacar aku lagi ngambek nih." Dengan gerakan cepat Arsya memeluk Syafira.Waktu singkat mereka habis kan untuk mengobrol bersama serasa dunia milik berdua yang lain cuman ngontrak."Gue yang duluan suka sama lo, kenapa harus sahabat gue yang dapetin sial!" ucap seseorang yang masih menatap dua sepasang kekasih yang nampak sangat bahagia.Sepulang sekolah Syafira menghabiskan waktu nya dikamar saja rasanya ia sangat lelah dan memutuskan untuk tidur.Dilain sisi dua sosok laki-laki dilanda kerisauan antara bingung mempertahankan atau mengikhlaskan."Lo tau kan gue duluan yang suka sama syafira,tapi kenapa dengan jahatnya lo ambil dia dari gue," ucap Alfian sandres." Iya gue tau tapi gue sangat cinta sama Syafira dan gak mungkin gue lepasin dia buat Sahabat gue, mengertilah Alfian."Dengan susah payah Arsya menjelaskan namun Alfian enggan mendengarkan apakah harus Arsya mengalah namun ia pasti yakin Syafira akan marah padanya."Gue gak perduli. Cih! ternyata lo sahabat yang suka nya nusuk dari belakang ya.""Stop Alfian gue buka orang kayak gitu.""Oke gue akan mengikhlaskan Syafira buat lo," lanjutnya.Malam telah tiba. Bulan menerangi langit menggantikan matahari untuk sejenak. Tidak lupa bintang yang bertaburan sebagai pelengkap. Syafira Putri Angelista kini tengah bersiap-bersiap menemui sosok yang sangat ia cintai setelah ayahnya. Tanpa berlama-lama lagi ia sudah siap, entah mengapa perasaan takut hinggap dihatinya. Pikiran kalut seakan-akan menerornya. Pasokan udara sekaan menipis dan hawa dingin menyelimuti raganya. Syafira menghela nafasnya saat matanya bertemu dengan sosok cowok bertubuh tinggi yang sedang membelakanginya."Arsya," panggil Syafira, merasa namanya terpanggil cowok itu memutar balik tubuhnya menghadap Syafira."Ada yang ingin ku sampaikan," ucap Arsya."Baiklah"."Syafira Putri Angelista maaf dengan ini Arsya Putra Fernando harus memutuskan hubungan kita secara sepihak".Bagai tersambar petir di siang bolong, Syafira nampak terkejut akan ucapan kekasihnya."Kenapa harus putus?" tanya Syafira dengan suara serak menahan tangis."Sahabatku mencintaimu, dan aku akan melepaskan mu untuk nya. Kumohon terimalah ia dan berikan hati mu untuk nya"."Kau egois Arsya apa kau pernah mementingkan perasaanku? Aku tau Alfian suka padaku, apa kau tega menumbalkan perasaan ku untuknya?""Sejauh apapun kau memaksaku, jika hatiku berpihak padamu, aku tidak bisa berbuat apa-apa.""Untuk apa kita putus, jika kita saling mencintai?"Syafira pergi dengan perasaan hancur berkeping-keping kisah cintanya harus kandas dengan cara seperti ini. Menangis dan berteriak sekencangnya adalah hal tak terduga yang berasal dari dirinya.Taman awal tempat kisah cinta berlabuh kini terasa menyeramkan untuk syafira awal kesedihan dah kepedihan bersatu dan menjadi tempat bersejarah saat mengenang dia.Mencintaimu adalah Anugerah terindahMemilikimu adalah bonus tuhan tersembunyi.Jika tidak bisa bersama,mengapa kamu menawarkan hati ini untuk orang lain.Perasaan bukan lah ajang bergengsi, jika mencintai mu aku bahagia mengapa kamu menawarkan hati yang baru untuk singgah. Cinta memang aneh datang dengan proses dan pergi begitu saja.[ E N D ]

Human Bones
Folklore
11 Jan 2026

Human Bones

Ada sebuah desa di Jepang yang populasinya sangat kecil. Banyak orang meninggalkan desa sehingga banyak rumah yang ditinggalkan. Suatu hari yang bersalju, seorang pelancong datang ke desa ini untuk mencari penginapan. Ia melihat sesuatu yang nampak seperti rumah kosong. Tapi saat ia masuk ke dalam, ia terkejut mendapati seorang wanita tua berdiri di sana.Wanita tua memberitahunya untuk naik ke lantai satu, sedangkan wanita tersebut mengikuti di belakangnya. Saat ia sampai di atas tangga dan menoleh ke belakang, wanita itu telah menghilang. Ia kembali menuruni tangga dan melihat wanita tua berdiri di tempat yang sama saat lelaki itu masuk, kecuali sekarang wanita tua tersebut memegang sabit yang tajam di tangannya.Si lelaki sangat ketakutan sehingga ia berlari ke pintu depan. Tapi saat ia mencoba menariknya agar membuka, ia mendapati pintunya terkunci. Ia menoleh dan mendapati wanita tua berdiri tepat di sebelahnya. Wanita tua itu menarik lengan si pelancong.Lelaki itu tidak memperhatikan betapa pucat si wanita tua dalam kegelapan. Tetapi sekarang saat wanita tua mendekat, si pelancong bisa melihat kulitnya yang tampak busuk. Ia terlihat seperti mayat.Wanita tua menekan lengan si pelancong dan mendesis, "Dengarkan aku! Di bawah rumah ini terbaring tiga belas mayat. Beri mereka kedamaian. Jika tidak, aku akan membunuhmu."Setelah ia mengucap kata-kata tersebut, si lelaki mulai merasa pusing. Ia terjatuh ke lantai.Saat ia bangun, ia tidak tahu berapa lama waktu sudah berlalu. Ia mulai meragukan dirinya sendiri. Mungkin, ia memimpikan hal-hal aneh. Ia baru saja akan pergi saat ia memperhatikan sebuah keset di tengah-tengah ruangan dimana wanita tua berdiri. Ada noda merah gelap di atasnya.Ia membalik keset tersebut dan mendapati benda itu menutupi lubang besar di papan lantai. Ia melongok ke dalam lubang dan melihat tulang-tulang manusia disusun secara rapi. Tulang empat belas mayat berbaring di sana."Mengapa ia bilang tiga belas?" pelancong tersebut berbisik pada dirinya sendiri. Mungkin tulang manusia yang keempat belas milik wanita tua.Si pelancong pergi keluar dan memberitahu beberapa penduduk desa tentang apa yang terjadi. Saat ia membawa mereka kembali ke rumah kosong, mereka melongok ke bawah ke dalam lubang dan melihat tulang manusia. Tapi sekarang, hanya ada tiga belas tulang manusia di bawah papan lantai. Tulang wanita tua sudah tidak ada.Setelah itu, penduduk desa menghancurkan rumah tua tersebut dan membangun sebuah kuil di sana. Di dalam kuil, mereka meletakkan keset bernoda darah supaya orang-orang bisa mendo'akan mereka yang sudah mati.Pelancong dan penduduk desa yang menemukan mayat tersebut, semuanya mati segera setelah kejadian ini.Cerita menakutkan ini kudapat dari salah satu guruku di sekolah. Guru yang bercerita padaku tentang cerita ini bilang bahwa beliau dari desa yang sama. Aku tidak ingat nama desanya karena aku sudah lama mendengar cerita ini. Maafkan aku.(Sumber: Scary For Kids)

The Manhole
Folklore
11 Jan 2026

The Manhole

Suatu pagi, seorang gadis kecil Jepang bernama Mai sedang berjalan ke sekolah. Di tengah jalan, ia melihat seorang gadis kecil lain sedang bermain di ujung jalan. Entah karena alasan apa, gadis itu melompat-lompat. Mai tahu bahwa gadis tersebut harus berangkat ke sekolah bersamanya karena mereka memakai seragam sekolah yang sama.Saat Mai datang mendekat, ia melihat gadis itu melompat-lompat di atas penutup lubang got. Mai bingung. Ia penasaran dengan apa yang gadis itu lakukan. Mengapa ia melompat-lompat di tempat yang sama seperti itu? Apa ia gila? Atau itu adalah sebuah permainan?Saat gadis itu melompat, Mai mendengarnya berkomat-kamit pada dirinya sendiri, "Tiga, tiga, tiga, tiga, tiga..."Ketika Mai lewat, ia menyadari siapa gadis tersebut. Ia adalah Haruka, seorang gadis pendiam yang aneh di kelasnya. Ia seringkali dijadikan sebagai target bully. Kadang gadis-gadis lain di kelas hanya mengabaikan Haruka. Di lain waktu, mereka akan memainkan kelakar kejam padanya. Guru-guru tahu ia dibully, tetapi mereka seolah-olah buta dan tidak terpengaruh.Mai menyadari sekolah akan mulai beberapa menit lagi. Ia segera pergi dengan terburu-buru, meninggalkan gadis aneh dengan permainan anehnya.Hari itu di kelas, Mai memperhatikan ada bangku yang kosong. Haruka tidak muncul di sekolah. Sepanjang hari, Mai penasaran apa yang terjadi dengan gadis itu.Saat bel pulang sekolah berbunyi, semua anak berlarian keluar kelas. Mai berjalan pulang ke rumah. Di tengah jalan, ia berpapasan dengan Haruka lagi. Gadis tersebut masih di tempat yang sama sejak pagi. Ia masih melompat-lompat.Mai berjalan ke arah Haruka. Ia berhenti tepat di depan gadis itu. Haruka masih melompat seolah-olah Mai tidak ada di sana.Haruka tersenyum lebar dan berkata, "Sembilan, sembilan, sembilan, sembilan, sembilan...""Apa yang kau lakukan?" tanya Mai.Haruka tidak menjawab pertanyaan Mai. Ia masih berkata, "Sembilan, sembilan, sembilan, sembilan, sembilan...""Aku bertanya padamu apa yang kau lakukan!" teriak Mai.Gadis itu hanya mengabaikan Mai dan masih melompat-lompat.Mai sebenarnya tidak membenci maupun menyukai Haruka. Ia ingat dulu memanggil gadis itu dengan beberapa nama kejam dan mengerjainya bersama dengan teman-teman sekelasnya."Kau pikir kau siapa?" Mai berteriak, "Jawab aku saat aku bicara padamu!"Sampai saat itu, Mai tak pernah membenci Haruka seperti yang dilakukan oleh anak-anak lainnya. Tetapi tatapan gadis itu yang senang sendiri dan mengabaikannya membuat Mai marah."Kau lebih baik memberitahuku apa yang kau lakukan atau kau akan menyesal," ancam Mai.Haruka hanya melompat dengan bahagia, seolah-olah ia tidak pernah mendengar ancaman Mai.Tiba-tiba, Mai kehilangan kesabaran. Ia mendorong Haruka sampai terjatuh."Giliranku!" kata Mai. Ia mengambil tempat gadis itu dan berdiri di atas penutup lubang got.Mai melompat-lompat ke udara. Pada saat yang tepat, Haruka menjangkau penutup lubang got dan membuangnya. Mai jatuh ke dalam lubang got.Gadis aneh itu menaruh kembali penutup lubang got ke tempatnya semula. Kemudian, dengan senyum lebar penuh kepuasan di wajahya, ia mulai melompat-lompat lagi.Saat ia melompat, ia berkata, "Sepuluh, sepuluh, sepuluh, sepuluh, sepuluh..."

The Phone Booth
Horror
11 Jan 2026

The Phone Booth

The Phone Booth atau Telepon Umum merupakan cerita hantu seram berasal dari Jepang yang menceritakan dua orang sahabat. Keduanya tertarik dengan urban legend yang ada.Ada dua orang pemuda bernama Kenzo dan Tatsuya. Mereka selalu berbagi certa seram.satu sama lain. Kapan pun mereka bertemu, mereka harus mempunyai satu cerita seram yang harus diceritakan.Suatu hari, saat Tatsuya sedang browsing di internet, ia menemukan sebuah website yang memiliki banyak legenda Jepang. Lalu, ia membaca sebuah cerita tentang jembatan gantung yang terletak dekat dengan rumahnya. Di website tersebut, terdapat banyak gambar jembatan tersebut dan sekitarnya. Saat ia membaca legenda itu, Tatsuya tahu bahwa Kenzo akan tertarik.Kemudian, saat ia bertemu Kenzo, ia menceritakan tentang legenda jembatan gantung. Jembatan gantung tersebut sudah tua usianya, biasanya digunakan untuk menyeberangi sebuah jurang. Dijelaskan dalam website bahwa jembatan itu terkenal karena banyak orang yang telah bunuh diri di sana. Setiap tahun, ada sekitar 20-30 orang yang melompat dari jembatan tersebut. Tak ada seorang pun yang dapat menjelaskan kenapa mereka bunuh diri. Mereka mengatakan bahwa tempat itu dihantui oleh arwah dari semua orang yang telah melakukan bunuh diri di sana.Saat Kenzo pulang, ia berencana untuk mengunjungi tempat itu. Dia sangat ingin melihat hantu. Pada saat malam tiba, ia berangkat ke pegunungan dimana jembatan itu berada. Diperlukan sekitar setengah jam untuk sampai di sana.Saat itu sudah hampir tengah malam. Dia tiba di jembatan dan tak ada seorang pun di sekitar situ. Sangat gelap dan hening. Suasananya begitu menyeramkan dan membuat tubuh belakang Kenzo merasa dingin."Wow, tempat ini menyeramkan," katanya bergumam sendiri sambil dengan hati-hati berjalan ke tepi jurang dan mengintip ke dalamnya.Dia mulai berpikir tentang semua orang-orang yang telah melompat ke dalam jurang itu. Pikiran itu membuat bulu kuduknya berdiri. Ini sangat menegangkan dan ia merasa harus memberi tahu Tatsuya tentang tempat ini. Dia mengeluarkan handphone-nya dan mulai memencet nomor. Tapi dia tersadar bahwa di sini adalah tempat yang tinggi dan jauh dari jangkauan sinyal.Dia melihat ke sekeliling dan mendapati telepon umum tak berada jauh darinya. Ia menuju telepon umum tesebut, memasukkan beberapa koin, dan memencet nomor Tatsuya."Hallo? Tatsuya! Tebak aku sedang berada dimana!" katanya. "Aku sedang berada di Jembatan yang kau ceritakan itu! Pemandangannya luar biasa! Kamu harus datang kesini suatu hari!""Yah, maunya sih begitu" balas Tatsuya. "Aku sudah melihatnya di foto-foto di web... Hei tunggu dulu.. Darimana kau meneleponku?"Kenzo terkekeh, "Oh, handphone-ku tak mendapatkan sinyal. Jadi aku meneleponmu dari telepon umum di sekitar sini."Tatsuya heran, "Telepon umum? Tak ada telepon umum di sana. Aku sudah melihatnya di foto.""Apa yang kau bicarakan?" kata Kenzo. "Aku berada di telepon umum tepat di depan pintu masuk ke jembatan. Tunggu, lebih baik aku pergi. Ada antrean orang di luar menunggu untuk menggunakan telepon. Aku akan meneleponmu ketika aku sampai di rumah."Begitu Kenzo berkata begitu, Tatsuya berteriak, "Tidak Kenzo! jangan keluar dari tempat itu! Aku tahu tempat itu! Aku akan segera ke sana dalam 30 menit. Apa pun yang kau lakukan, jangan bergerak! ""Ada apa sih?""Berjanjilah untuk tidak bergerak sedikit pun, oke? Aku akan datang!"Ketika temannya menutup telepon, Kenzo merasa gelombang rasa takut menyelimuti dirinya. Dia berdiri di bilik telepon dan gagang telepon terus menempel di telinganya. Ia menoleh melihat antrian orang yang berdiri di luar bilik telepon, diam-diam mengawasinya. Sorot mata mereka membuat Kenzo menggigil.Setengah jam kemudian, ketika Tatsuya tiba di jembatan gantung, dia menemukan temannya berdiri di bagian paling tepi jurang. Dia memegang ponselnya di telinganya. Tidak ada bilik telepon dan tidak ada antrian orang yang menunggu untuk menggunakan telepon.Jika Kenzo bergerak satu inci saja, ia akan jatuh dari tepi jurang dan jatuh ke dalamnya.***

Kaimuki House
Horror
11 Jan 2026

Kaimuki House

Rumah Kaimuki merupakan cerita hantu yang benar-benar terjadi tentang sebuah rumah berhantu di Honolulu, Hawai. Hantu yang katanya menghantui rumah ini biasa dipanggil "Kasha", sesosok setan pemakan manusia dari cerita rakyat Jepang.Ada sebuah rumah berhantu tak terlalu dikenal di Honolulu, Hawai. Sebutan rumah itu adalah "Rumah Kaimuki". Beberapa orang memanggilnya Rumah Berhantu Amatyville dari Hawai.Pada musim panas tahun 1942, rumah itu ditinggali oleh seorang wanita dan tiga anaknya. Suatu malam, polisi ditelepon agar segera ke rumahnya. Mereka mendapati si wanita yang histeris di halaman depan, teriaknya, "Ia mencoba membunuh anak-anakku!"Saat mereka memasuki rumah, petugas kepolisian terkejut melihat pemandangan yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan. Tiga anak dilemparkan ke segala arah oleh kekuatan tak terlihat di dalam ruangan. Petugas polisi melihat sampai lebih dari sejam. Mereka tidak bisa melakukan apa pun saat anak-anak itu dipukul dan dicekik oleh roh yang tak terlihat. Insiden itu nenjadi headline halaman depan koran lokal sampai beberapa hari.Bertahun-tahun kemudian, tiga orang gadis menyewa rumah tersebut. Suatu malam, mereka mulai nendengar suara aneh. Suara itu seperti seseorang berjalan berkeliling sampai berbicara. Salah satu dari gadis-gadis itu merasakan tangan tak terlihat menyentuh lengannya. Mereka menelepon polisi. Saat seorang petugas datang, ia mendapati tiga gadis sedang berdiri di luar rumah dengan tatapan penuh teror di wajah mereka. Gadis-gadis itu memutuskan untuk pergi dan tinggal dengan ibu salah satu dari mereka. Sedangkan petugas polisi memutuskan mengikuti mereka untuk memastikan tidak ada sesuatu yang terjadi.Namun demikian, petugas polisi melihat mobil gadis-gadis itu bergerak tak beraturan di parkiran. Gadis di depan kemudi sedang berjuang dengan sesuatu tak terlihat yang mencekik lehernya. Saat polisi melompat keluar dari mobilnya dan mencoba menyelamatkan gadis-gadis tersebut, ia merasa tangan kuat yang tak terlihat menangkap lengannya, lalu memutarnya. Tiba-tiba, pintu dari kendaraan terbuka dan gadis itu terlempar ke jalanan. Ia mencakari tenggorokannya seolah-olah seseorang sedang mencekiknya. Mereka tidak bisa melakukan apa pun untuk menghentikan serangan tersebut. Mereka terpaksa hanya bisa melihat gadis itu bertarung dengan kematian.Pada tahun 1977, sepasang suami istri orang Jepang pindah ke rumah berhantu di Kaimuki. Mereka tidak tahu apa pun tentang sejarah rumah tersebut. Pada malam pertama di tempat itu, si istri terbangun saat tengah malam karena kamar tidurnya menjadi sangat dingin. Ketika ia melihat sekeliling, ia dikejutkan oleh penampakan hantu berwarna putih yang melayang di tengah-tengah udara. Itu adalah sesosok wanita tanpa tangan maupun kaki. Saat si istri mencoba membangunkan suaminya, bayangan hantu itu menghilang.Hari berikutnya, pasangan suami istri itu diganggu oleh hantu sehingga mereka memanggil seorang pendeta. Ia menganjurkan mereka untuk memberikan persembahan berupa roti dan air untuk arwah tersebut setiap malam. Ia berkata hantu itu adalah Kasha, yakni iblis dari Jepang yang menyebabkan beberapa pembunuhan mengerikan di rumah tersebut sebelumnya. Setelah mengulangi upacara selama seminggu, pasangan itu tak pernah melihat arwah mengerikan di rumah lagi.Cerita di atas hanya sekelumit kecil dari kisah sesungguhnya. Konon katanya, suatu tempat akan berhantu jika pernah terjadi berbagai pembunuhan mengerikan di sana.Bertahun-tahun sebelumnya, seorang imigran Jepang tinggal di rumah itu dengan istri dan kedua anaknya. Entah kenapa, si suami membunuh istrinya, anak laki-lakinya, dan anak perempuannya. Ia memotong-motong tubuh mereka, kemudian menyembunyikannya di dalam rumah. Polisi menemukan mayat istri dan anak lelakinya dikubur di halaman, tetapi tubuh anak perempuannya tak pernah ditemukan. Mereka berkata bahwa mayat anak perempuan itu masih disembunyikan entah dimana di dalam rumah. Setelah itu, rumah tersebut ditinggalkan selama bertahun-tahun.Lalu, ada dua orang wanita yang tinggal di dalam rumah. Salah satu wanita tersebut jatuh cinta dengan seorang laki-laki. Terjadi cinta segitiga diantara mereka. Ada yang bilang bahwa laki-laki itu merasa sangat cemburu. Ia lalu membunuh kedua wanita tersebut, kemudian ia bunuh diri di dalam rumah. Tubuh ketiganya ditemukan di dalam rumah setelah lewat beberapa hari.Ada kepercayaan bahwa pembunuhan mengerikan ini menciptakan Kasha, yakni sejenis hantu Jepang yang muncul karena dendam atau rasa kemarahan yang luar biasa. Sekarang, para penduduk masih menceritakan kisah ini. Bahkan ada banyak buku dan artikel majalah yang menulis detail dari rumah berhantu Kaimuki.

[0.5] Beatitude
Fantasy
11 Jan 2026

[0.5] Beatitude

“Dia datang lagi, tuh.”Ilyas yang biasanya pendiam, pekerja keras dan hampir tidak pernah mengeluh, menghela napas pelan. Entah sudah keberapa kalinya aku menangkap basah ekspresinya yang tidak wajar itu. Setelah kuingat-ingat, Ilyas hanya bisa mengeluarkan ekspresi semacam itu ketika ada di sekitar gadis itu.“Sudah kularang, padahal,” gerutu Ilyas pelan.“Teman kuliah?” tanya Bu Lia--pemilik toko roti tempat kami bekerja.“Bukan teman, Bu,” balas Ilyas yang tampaknya menahan jengkel.Aku selalu bisa mengingat kesan pertama dengan para langganan yang membeli roti kami. Gadis manis yang menunggu di depan gerai itu pertama kalinya datang beberapa bulan yang lalu, kira-kira di jam segini juga.Awalnya, aku agak heran sih, mengapa ada anak gadis yang beli roti sendirian pada pukul 7 malam di tempat yang enggak terlalu strategis. Itu memang jam dimana roti kami sudah diskon 30% untuk mengurangi kemungkinan roti bersisa, karena kami akan membuat roti baru yang renyah pada keesokan paginya.“Terus kalau bukan teman?” Aku iseng menjahilinya, tapi reaksi Ilyas tidak seperti yang kuharapkan.“Penguntit,” balas Ilyas pendek, tanpa merasa bersalah.“Cantik banget, padahal,” ucapku sembari memangku dagu.Hidup serba pas-pasan sepertiku jelas tidak akan mengerti bagaimana rasanya merias dan menggunakan pakaian trendy sepertinya. Itu memang salah satu keinginanku sejak masa SMA, tapi sudah lama aku membuang jauh semua keinginanku.Sekarang, bisa tinggal di atas atap tanpa kepanasan dan kehujanan saja sudah syukur. Untungnya, aku tidak perlu khawatir soal perut. Bu Lia cukup memperhatikan jam makan kami, terkadang kami diperbolehkan membawa pulang roti sisa.“Jangan terlalu benci begitu, Yas, nanti kalau jodoh gimana?” canda Bu Lia.Ilyas terdiam selama beberapa saat, sebelum akhirnya membalas, “Aku enggak benci dia, Bu, tapi dia bebalnya minta ampun,” keluhnya.Wah, tiba-tiba enggak irit ngomong , pikirku. Namun aku tidak mengutarakannya, takut Ilyas membantah lagi.“Kayaknya dia suka sama kamu, Yas.” Wira yang bertugas membuat roti ikut menyahut dari jendela kecil penghubung dapur dan gerai. Hanya kepalanya yang tampak, karena jendela itu biasanya adalah tempat untuk menghidangkan roti panggang yang harum.Aku hanya mengangguk, setuju dengan pendapat Wira. Maksudku, itu sudah tampak jelas sekali, sih.“Kayaknya gerimis.” Bu Lia mengintip jendela di dekat meja kasir. Sesekali, melirik ke arah Ilyas untuk melihat reaksi lelaki itu.Memang, sih . Ilyas sangat mudah terbaca. Meskipun mulutnya jahat begitu, tapi ujung-ujungnya dia kembali menghela napas, lalu melepas apron dan bersiap-siap keluar untuk mengajak gadis itu masuk ke dalam gerai.“Tinggal masuk aja, masak harus kuundang segala?” protes Ilyas, tapi tetap mengambil langkah lebar untuk mempercepat jangkauannya ke pintu.“Kan kemarin kamu yang bilang ke dia; jangan datang terus,” balasku.Ilyas tidak ambil pusing dengan komentarku. Lelaki itu berjalan keluar, tampak ragu-ragu menghampiri gadis itu, lalu akhirnya memanggilnya. Kami bertiga yang hanya bisa mengintip dari balik kaca, hanya bisa menyaksikan sambil menggeleng-geleng. Dasar anak muda.Beberapa saat kemudian, mereka berdua berbalik menuju gerai. Gadis itu tampak tersenyum berseri-seri ketika Ilyas membukakan pintu untuknya.“Selamat datang,” sapaku dan Bu Lia dengan kompak, sementara Wira pura-pura sibuk, padahal sudah tidak ada lagi tugas berat di dapur.Gadis itu malah menengok ke arah Ilyas dengan antusias, membuat lelaki itu kembali memasang apron. “Selamat datang di Lia Bakery. Mau beli roti apa?”“Hari ini Ilyas bikin roti?” tanya gadis itu.Aku tiba-tiba teringat dengan kejadian tadi siang, ketika Ilyas menitipkan satu adonan yang dibentuknya ke dalam loyang kosong sebelum Wira memasukkannya ke dalam oven.“Oh, tadi Ilyas--”“Enggak ada. Tugasku kan bukan bikin roti,” potong Ilyas, sesuatu yang sebenarnya sangat baru.“Yas, ini rotimu mau diapain?”Wira bagaikan cupid mungil yang melintas, karena tiba-tiba mengeluarkan roti gagal buatan Ilyas dari jendela penghubung. Ajaibnya lagi, roti itu sudah dibungkus plastik bening, seolah siap untuk dipasarkan. Harus kuakui, bentuknya memang abstrak dan enggak terlalu pantas buat dijual.“Mau aku makan pas pulang entar,” balas Ilyas lagi, lalu lelaki itu kembali mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu. “Kamu duduk aja, deh. Pesan susu coklat atau apa, gitu.”“Ilyas, 5S, ingat,” tegur Bu Lia.Ilyas bahkan melewatkan aturan pertama dalam 5S yang kami terapkan. Dia masih kesusahan tersenyum di depan pembeli kami, apalagi di depan gadis ini, yang jelas bakal terbang sampai langit ke tujuh jika beneran ada kejadian dimana Ilyas senyum kepadanya.“Aku boleh beli?”“Enggak.” Ilyas menjawab dengan sangat cepat. Hampir tidak ada jeda di antara percakapan mereka berdua.“Kenapa?” tanya gadis itu dengan cemberut.“Enggak lihat bentukannya kayak gitu?” Ilyas bertanya balik dengan heran.“Gitu tuh gimana? Bentuknya lucu, kok.”Ternyata memang benar, cinta itu buta. Buktinya, gadis ini mau-mau saja membeli roti absurd buatan Ilyas. Aku saja gagal paham dengan kue yang mau dibentuk di sana.“Silakan, semua yang kami jual sudah dipajang di sini,” ucap Ilyas dengan sopan, sembari memperlihatkan etalase.Gadis itu memilih berjalan ke arahku daripada meladeni ucapan Ilyas.“Kak, mau beli roti buatan Ilyas, ya.”Aku melirik Ilyas yang tampak menatapku horor. Kembali, aku mengalihkan pandanganku ke arah gadis yang menatap roti absurd itu dengan terkagum-kagum. Bingung melihat tingkah mereka, aku berakhir menoleh ke arah Bu Lia yang senyam-senyum di meja kasir.“Bu, itu roti Ilyas mau kita jual berapa, Bu?”“Harus nanya yang bikin, sih, Rhea,” jawab Bu Lia.“Yas, mau dijual berapa?” tanyaku lagi.Ilyas memelototiku, “Itu enggak ada di dalam menu.”“Kalau aku beli semua roti di sini, apa bisa--”“Ya ampun,” potong Ilyas dengan frustrasi. “Tolong ya, Cinta, setidaknya belinya setelah rotinya berbentuk.”Aku cengo, Bu Lia juga cengo. Jangan tanya bagaimana ekspresi wajah Wira, soalnya aku hanya bisa mendengarkan suara loyang jatuh dari dapur.Mendengar Ilyas yang pendiam ngomong kata ‘cinta’ entah mengapa bikin waktu serasa berhenti.Seperti yang sudah kami duga, gadis itu juga berakhir bengong.“Roti buatanmu bakal dijual?” tanya gadis itu setelah keheningan selama beberapa saat.“Kalau Bu Lia ngizinin,” jawab Ilyas dengan tenang.“Ibu izinkan, kok, kalau sudah berbentuk roti.” Bu Lia ikut merespons, meskipun beliau juga masih tidak percaya dengan adanya percakapan ini.“Oh ….”Entah mengapa, aku merasa gadis itu tidak seantusias yang kupikirkan.“Jadi, mau pesan apa?” Ilyas bertanya lagi.Akhirnya, gadis itu berakhir memesan susu coklat panas dan beberapa roti yang terpajang di etalase. Bersamaan dengan itu, hujan yang tadinya gerimis pun menjadi deras. Hanya gadis itu yang menjadi pelanggan kami malam itu.Gadis itu datang di jam segini jelas bukan karena mengincar diskonan, sebab kami semua tahu persis bahwa gadis ini berasal dari keluarga yang berada.Aku sudah pernah bilang bahwa aku mudah mengingat kesan pertama kepada pelanggan, kan? Gadis ini juga salah satu yang berkesan. Dia mengenali Ilyas, berusaha mengajaknya berbicara, lalu memilih memborong semua roti yang ada di etalase hanya agar Ilyas mau berbicara dengannya.Yang jelas kuingat persis, dia menanyakan satu persatu nama roti yang jelas sudah bertulis di etalase di hadapan pelanggan. Waktu itu, Ilyas masih menjadi pegawai baru, tetapi untungnya dia sudah mengingat semua nama roti yang dijual.Lalu, ketika hendak membayar, rupanya gadis itu membawa kartu debet, padahal toko roti ini hanya menerima pembayaran tunai. Itu membuat Ilyas kerepotan dan berakhir meminjamkan uang kepada gadis itu.“Sudah makan belum?” tanya gadis itu ketika Ilyas mengantarkan piring-piring yang berisi roti.“Sudah,” balasnya tanpa melabuhkan sedikitpun pandangannya ke arah gadis itu, hanya fokus menata piring di atas meja.“Makan malam, lho.”“Sudah.”“Maksudku, makannya sama nasi--”“Sudah, Cinta,” balas Ilyas yang terdengar agak kesal.Gadis itu malah tertawa kecil, “Aku kaget, lho. Kukira kamu enggak ingat namaku.”Kami bertiga--Aku, Bu Lia, dan Wira--langsung saling bersitatap dan mengangguk paham seolah kami saling bertelepati. Rupanya Ilyas bukan sedang menggombal, tapi nama gadis itu memang Cinta.“Enggak perlu peduli soal makan malamku,” ucap Ilyas.“Habisnya, kamu mungkin cuma makan roti ….”“Aku enggak mau dengar itu dari orang yang sedang makan di sini jam segini.”Cinta tersenyum cerah, “Kamu khawatir?”Ilyas memutar bola matanya kesal, tidak meladeni ucapannya, “Selamat menikmati.”“Tunggu, tunggu!” Cinta menahan kepergian Ilyas dengan menyesap cepat susu coklatnya, sambil menahan raut wajah karena tampaknya lidahnya kepanasan. “Ini kurang manis.”Ilyas kembali memperlihatkan wajah datarnya, “Tiga sendok gula kurang?”“Kamu senyum dikit dong, biar manis,” bujuk Cinta.Ilyas menyadari bahwa kami sedang memperhatikannya. Dia memaksakan senyumnya sekilas, sebelum akhirnya melangkah pergi dari sana.Cinta menikmati pesanannya dengan riang, sebelum akhirnya ponselnya berbunyi mengacaukan suara hujan di luar sana yang menenangkan. Gadis itu melihat ponselnya sekilas, lalu memutuskan untuk mematikan ponsel tanpa mengangkatnya.“Siapa tuh?” Wira yang kepo di dapur, masih mencoba mengintip dari jendela.Ilyas pura-pura tidak peduli, meskipun sesekali lelaki itu tampak menoleh risih ke arah Cinta yang menghabiskan waktunya di toko ini.Setelah beberapa saat kemudian, ada sebuah mobil hitam terparkir di depan toko, tampaknya jemputan Cinta, karena teleponnya terus berdering tanpa henti setelahnya. Ilyas yang memayungi Cinta sampai ke mobilnya dan sempat berbicara dengan seseorang, tetapi Ilyas segera masuk kembali ke dalam toko roti setelahnya.“Sebenarnya siapamu, sih, Yas?”Wira akhirnya keluar dari dapur lantaran terlalu penasaran, tentu saja dengan dalih bahwa jam tutup toko ini akan segera tiba dan waktunya menghitung sisa roti hari ini untuk dibagi rata.“Bukan siapa-siapa,” balas Ilyas acuh.“Namanya Cinta ya? Imut banget, ya,” timpalku.“Kenal darimana?” tanya Bu Lia dengan lembut.Ilyas pun pada akhirnya menjawab, “Kami satu sekolah sejak SD.”“Sejak?” tanyaku. “Sekarang?”“Iya, masih diikutin sampai sekarang,” jawab Ilyas, lagi-lagi menghela napas.Cinta tidak datang ke toko roti tiap hari, tetapi jika gadis itu sudah datang, Ilyas akan mulai menghela napas, tanpa henti. Seperti saat ini, contohnya.“Kamu enggak mungkin enggak tahu kan, soal tujuannya?” tanya Wira.“Tujuan apa?” tanya Ilyas.“Tujuannya ngikutin kamu sejak SD,” sahut Wira.Ilyas menghela napas, “Sudahlah, enggak perlu dibicarain.” Segera, Ilyas mengambil rotinya yang ada di depan jendela dapur. “Bu Lia, aku ngambil yang ini, ya.”“Iya, Yas, ambil saja. Besok kamu belajar cara bentuk roti sama Wira, ya.”Wira malah tampak dramatis, “Bu, ini kenapa Ilyas ngambil alih tugas? Wira-nya jangan dipecat, dong.”“Eh? Enggak, kok. Biar nanti ada yang bisa dibeli Cinta, kalau nanti dia datang lagi.”Mungkin hanya aku yang menyadari ini, sebab ketika Bu Lia dan Wira tertawa dengan percakapan yang baru saja mereka lakukan, untuk beberapa alasan, Ilyas hanya diam dan menatap roti absurd buatannya dengan agak serius.Mungkin, Ilyas punya pemikiran sendiri tentang hal itu.

Wrong Confession!
Fantasy
11 Jan 2026

Wrong Confession!

"Leen."Panggilan Arnold membuatku yang sedang bercerita semangat, menjadi terbungkam. Aku pun sontak terbungkam dalam diam.Kenapa? Apakah ceritaku membosankan ? Hanya itu yang kupikirkan, tetapi aku hanya diam.Maksudku, aku baru bercerita tentang betapa kerennya Kak William kurang dari lima belas menit. Karena, ya, kalau sudah lima belas menit, sudah dipastikan kami sudah sampai di rumah kami dengan jalan kaki, karena begitulah jarak tempuh yang biasanya kami lewati.Arnold menatapku selama beberapa saat, lalu menghela napas pendek. Dilepaskannya tas hitam yang merangkulnya, lalu membuka tas, sepertinya hendak menggambil sesuatu.Di saat itulah, aku bisa melihat kucing-kucing mengeong manja ke arahnya, burung-burung pun berkicau memutari Arnold dari atas. Nah, ternyata bukan perasaanku saja saat merasa bahwa hewan-hewan itu memang mengikuti kami sedaritadi. Namun aku tidak terlalu terkejut, aku sudah terbiasa."Nih."Apa yang Arnold perlihatkan padaku, membuat jantungku nyaris lepas dari rongganya.As-Ta-Ga! ASTAGA!Aku buru-buru merampas amplop merah muda yang Arnold pegang. "Kok? Kok bisa?!"Mengapa bisa surat cinta yang kuberikan kepada Kak William minggu lalu ada di Arnold?! Astaga, astaga. Pantas saja sifat Kak William masih santuy dan B aja! Tunggu! Apa jangan-jangan Kak William membocorkan perihal surat itu kepada seisi tim basket?!Apakah aku sedang dibully? Padahal aku sengaja tidak mengirimkan DM, Line, WA atau semua sosial media Kak William karena aku tahu bahwa Kak William tidak akan mungkin menanggapinya. Aku sering mengawasi Kak William dan sepertinya satu-satunya cara agar dia bisa menyadari keberadaanku adalah dengan melakukan sesuatu yang anti-mainstream!Tapi ... Kak William kok tega? Padahal--"Hush, hush, pikiran buruk Aileen, pergilah." Arnold mengucapkan kata-kata yang nyaris selalu sama, setiap aku sedang berpikiran negatif.Arnold sahabatku sejak masa kami tak tahu malu sampai hari ini, tentu saja Arnold tahu sifatku yang satu itu. Suka su'udzon, singkatnya."Terus kenapa?" tanyaku histeris. "Kok bisa di Arnold?""Aileen yang taruh itu di lokerku."Burung-burung yang sedang bertengger di pohon seperti tengah menari, dan kicauannya seperti sedang meledekku. Begonya aku!Kabar baiknya, karena seperti yang kubilang tadi--aku dan Arnold sudah berteman baik sejak zaman baheula ketika kata 'malu' tidak ada di kamusku--aku agak lega sih, bisa salah di loker Arnold.EH, ENGGAK DENG. TETAP AJA MALU! Puisi tjintahku yang agung dan seharusnya hanya dibaca Kak Will seorang telah kehilangan jati diri--"Aileen harus senang karena salah taruh di lokerku," ucap Arnold sambil melanjutkan langkahnya."Iya, aku tahu, kok. Hehe, tapi Arnold baca semuanya?" tanyaku.Arnold menatapku datar. "Enggak, soalnya Aileen alay.""Ih! Apa sih! Enggak, tahu!" protesku sembari membuka amplop, mengambil isi di dalamnya dan mulai membaca, "Hai, cowok ganteng se-Garuda Putih~""Alay," balas Arnold yang bikin aku kesal setengah mati. Bayangkan saja! Dia mengatakan sepatah kalimat itu pakai nada pra-pantun kacau 'cakeeep', seolah-olah aku akan berpantun ria. Padahal kan aku sedang berpuisi!Kuabaikan Arnold dan kembali membaca, "Aku suka cara kamu main basket dan fokus masukin bola ke dalam ring.""Namanya nge- shoot ," timpal Arnold."Ih Arnot bacot. Kan biar panjang," gerutuku. Aku kembali melanjutkan ketika melihat Arnold sudah kicep. "Walau tidak terlalu mengenal kamu, aku tahu kamu baik dan perhatian.""--Emot sok baik," potong Arnold."Ih! Ini tuh bukan emot sok baik, tapi emot senyuman lembut dan hangat!" ucapku sambil menunjuk emotikon (^^).Aku kembali memeriksa suratku. Kali ini membacanya dalam hati, agar Arnold tidak lagi seperti komentator sepak bola yang terus-terusan berbacot ria."Eh ... tapi aku tidak menulis nama penerima surat ....""Ya, tapi kan Aileen tidak mungkin tidak terlalu mengenalku," balas Arnord."Heh, tapi kan aku juga tidak menulis nama pengirimnya?""Tulisan tangan Aileen kan Aileen sekali."Kami kembali melanjutkan jalan kami. Entah mengapa rasanya Arnold bisa saja membahas soal surat cinta salah penerimaku, kalau saja aku kembali membahas tentang Kak William."Ngomong-ngomong, Leen." Arnold tiba-tiba membuka topik lagi saat kami sudah hampir sampai di rumah."Kenapa, Not?" tanyaku.Arnold tampak ragu-ragu ketika hendak mengatakannya, "Um ... gimana, ya.""Apanya yang gimana?" tanyaku lagi, kali ini agak lebih mendesakinya."Soal surat cinta Aileen buat Kak William."Wadidaw sekali Arenot ini. Masiiih saja diingat, padahal topik pembicaraannya sudah ekspairit. Pembicaraan Arnold kadang memang seterlambat itu. Wajar saja dia tidak punya pacar sampai sekarang, walaupun dia Snow White (kalau aku bicara begitu, dia akan memintaku bercermin atas statusku)."Suratnya--"Tiba-tiba saja anjing-anjing tetangga menggonggong heboh, tapi sudah teruji di IPB dan ITB bahwa mereka menggonggong antusias, bukan untuk mengusir kami. Jelas saja, itu karena ada Arnold di sini. Semua hewan menyukainya, wajar saja dia mendapat julukan Snow White versi cowok kemarin."Para pemuja Dewa Snow White sudah menunggu," ejekku.Arnold mengerutkan kening, seolah tidak suka aku mengalihkan pembicaraan tiba-tiba. Aku mengerucutkan bibir, padahal kan aku tidak sengaja."Iya, iya, aku dengar. Arnold jangan ngambek.""Siapa yang ngambek?" balas Arnold lagi."Iya, ada apa dengan 'ngomong-ngomong soal surat cinta' alayku?" tanyaku, berusaha melucu agar setidaknya Arnold jangan ngambek lagi."Aileen move on lah. Kak William sudah punya gebetan, tahu." Arnold mengatakan demikian sambil menatapku perihatin."Hah?? What to the hell ?! SIAPA? KOK BISA?""Kak Stefany-lah! Siapa lagi? Aileen nggak lihat Kak William suka berduaan aja sama Kak Stefany?" tanya Arnold."Y-Ya, aku tahu, tapi bukannya mereka berdua hanya sekadar teman dekat? Seperti aku sama Arnold?" tanyaku, sebenarnya agak panik.Apa jangan-jangan perkataan Arnold memang benar? Eh tapi benar juga sih, tapi Kak Stefany tidak memperlakukan Kak Will kayak pacar, kok. Tapi Kak William memang selalu mampirin Kak Stefany sih, tiap istirahat. Tapi ... emang benar sih mereka dekat. Tapi kok banyak banget tapinya?"Bukannya perasaan Kak William sudah terang-terangan, ya?" tanya Arnold."Hah? Masakkk?""Hmm ... wajar saja sih Aileen tidak sadar," ungkap Arnold."Lho? Lho? Kok gitu?!"Arnold menatapku amaaaaat datar, "Soalnya Aileen memang tidak pernah peka terhadap perasaan orang lain."Bukannya mendapat pencerahan, aku makin cengo karena perkataannya.Setelah mengatakan itu, Arnold melambaikan tangannya. "Oke, Leen. Aku masuk dulu. Nanti aku kabarin kalau mau ngerjain PR di rumah Aileen."Tanpa menunggu jawabanku, Arnold masuk rumah, membuat kucing-kucing, anjing-anjing dan burung-burung di sekitaranku patah hati. Berbeda dengan mereka, aku malah makin berapi-api akibat kemisteriusan yang dikatakan Arnold."Eh ... EH, TUNGGU! Woy! Arnold ngomong apaan sih, nggak jelaaas!""Pikirin aja sendiri," balas Arnold dari balik pintu.Dia pun tak susah payah membukakan pintu walaupun aku sudah mengomel-ngomel.

Kisah Cinta Pertamaku
Teen
10 Jan 2026

Kisah Cinta Pertamaku

Perkenalkan terlebih dahulu nama saya Dwi Rahmawati, biasa dipanggil Dwi. Juli 2016, ya saat itu aku baru memasuki sekolah menengah kejuruan. Cukup senang menjadi siswi SMK. Sekolah yang sebagian orang menyatakan bahwa kita akan memulai cerita baru, awal yang indah dan mengukir cerita cerita yang akan dijalani bersama teman baru. Pada waktu itu usiaku masih 15 tahun. Kurasa aku belum siap untuk merasakan apa itu cinta.Seiring berjalannya waktu, ada seseorang yang hadir di hidupku. Awalnya aku sama sekali tak mengenalnya. Dia bernama Khasan Munawir, walau dia alumni smp yang sama sepertiku. Tapi aku mengenalnya saat sudah lulus. Menurutku dia orangnya kurus, agak tinggi, item tapi manis. Ya jujur aku suka orang yang item manis. Kita menjadi akrab karena sering chatingan via bbm. Namun kita tak bersekolah di tempat yang sama. Awalnya aku bingung dengan sikapnya yang perhatian padaku.Aku takut dia cuma ingin mempermainkanku seperti halnya orang bilang banyak cowok yang cuma bisanya mainin perasaan cewek. Ya kata kata itu membuatku takut untuk mengenalnya lebih jauh.Waktu kurasa sangat singkat, sekitar 1 bulan aku mengenalnya. Entah perasaan apa itu? apa mungkin itu cinta? aku terus bertanya-tanya.Tepat tanggal 26 Agustus 2016 dia menembakku, tapi sayangnya via bbm. waktu itu aku sangat bingung, harus menerima atau tidak. Ya mungkin karena aku takut pacaran. Tapi aku telah jatuh cinta padanya, jadi aku mencoba untuk menjalin hubungan dengannya. Ya, dia cinta pertamaku, dan aku cinta pertamanya juga.Berbulan-bulan sudah sejak hadirnya dia di hidupku, aku merasa bahagia, merasa ada yang beda dari hidupku. Hidupku jadi lebih berwarna. Waktu itu aku memiliki sosok penyemangat dalam hidupku. Walau kita jarang bertemu, tapi aku bahagia bisa memilikinya.Pada saat itu kita bertemu di smp untuk mengambil SKHUN. Aku bahagia bisa bertemu dengannya. Tapi entah kenapa aku merasa malu dengannya. Pada waktu bertemu dia memanggilku _'sayang'_ . Jantungku berdebar-debar. Tetapi aku hanya membalasnya dengan senyuman. Ya kita sering memanggil sayang tetapi tidak secara langsung, tapi hari itu dia memanggiku sayang. Namanya juga baru pacaran pertama kali jadi ya masih malu-malu. Kita berdua duduk di depan sekolah, ya hanya beberapa kali bercakap. Lebih seringnya tersenyum satu sama lain.Waktu terus berputar maju, hubunganku dengannya masih manis, dan kita juga sering bertemu. Rasanya pun tak canggung lagi. Ya walaupun banyak masalah datang, entah itu PHO dan yang lain. Tapi kita bisa menghadapinya.Menyedihkan pada waktu itu dia menghilang seminggu lebih, aku tak tau mengapa dia hilang. Padahal waktu itu aku sedang membutuhkannya untuk memberiku semangat, karena aku lagi UKK. Menghilangnya dia membuatku tak fokus belajar, pikiranku kacau karenanya. Dan pada saat aku ultah, dia pun msih menghilang. Padahal aku berharap dia ngucapin atau ngasih surprise. ehh ternyata nggak. Hatiku terus bertanya-tanya ke manakah dia? Mengapa dia menghindar dariku? Aku salah ap? Pikiranku dipenuhi dengan semua pertanyaan itu.Liburan semester 1 tiba, dan aku berharap banyak waktu untuk bisa bertemu dengannya. Tapi ternyata tidak. Saat itu dia akan pindah sekolah dan mondok di Banyuwangi. Saat kita bertemu, aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya padanya."Kamu sebenernya mau ke mana sih?, kok status facebook kamu gitu," tanyaku."Aku mau pindah yang, aku mau mondok," balasnya."Mondok di mana?""Di Banyuwangi."Aku tak bisa berkata-kata lagi. Hanya bisa diam. Dan pikiranku mulai kacau, _"mengapa dia harus pergi meninggalkan?"_ batinku.Aku menangis setiap harinya. ya kita bakal jarang ketemu atau bahkan tak bisa lagi ketemu.Disaat mendekat hari dia akan pergi. Aku memintanya bertemu, tapi dia selalu tak mau, alasannya karena sedang sibuk.Tapi sehari sebelum dia pergi, kita sempat bertemu. Dan mungkin untuk terakhir kalinya.Kita bertemu di stasiun, ya aku hanya diam dan merasa sebal dengannya. Aku tak berani berbicara, entah kenapa. Mungkin dia marah denganku, karena aku meminta untuk bertemu. Tak ada obrolan yang serius, padahal aku ingin bertemu untuk bicara soal dia pindah. Tapi aku tak berani.Ehh tiba-tiba ada polisi datangin kita."Dek, lagi ngapain di sini? Pacaran kok di sini. Sana pulang," kata polisi."Iya pak." Aku dan Khasan pun pulang.Menyebalkan sekali belum bicara apa-apa udah disuruh pulang aja. Untung saja hp dia ketinggal di aku, aku bingung harus mengembalikan atau membiarkan dia menemuiku. Akhirnya aku memutuskan untuk ke rumahnya. Tapi tidak sendiri, aku minta temenin temenku. Ya waktu itu aku belum tau tepat rumahnya, tapi aku tau daerah dan arahnya.Di rumah dia, aku disuruh masuk. Tapi aku tidak mau. Aku cuma di samping rumahnya. Ya itu menjadi terakhir kali kita bertemu. Sedih sih, tapi aku tak berani menunjukkan kesedihanku. Ya untuk kenangan aku memberinya jam tangan, couple sama aku. Berbicang-bicanglah aku dengannya."Sayang, i love you," ucap Khasan sambil menciup tanganku.Aku hanya diam dan tersenyum. Baru pertama dia bilang i love you secara langsung, dan mungkin juga yang terakhir kalinya. Dia juga berkata padaku, "sayang, jika kita memang berjodoh, pasti kita dipertemukan kembali.""Amin yang."Hari semakin sore dan aku memutuskan untuk pulang."Hati-hati di jalan yah sayang," kata Khasan."Iya," balasku.Hari itu takkan bisa kulupakan. Hari dimana kita bertemu untuk terakhir kalinya. Dan hari hari berikutnya kita berpisah. Bukan berpisah hubungan, tapi terpisah oleh jarak dan waktu. Membiasakan Hari-hariku tanpa adanya Khasan di sampingku. Menjalin kisah LDR, bagiku berat untuk kujalani. Tapi dengan komitmen dan saling setia, juga saling percaya satu sama lain mungkin kita bisa njalanin hubungan ini. Ya aku tak tau apa hubungan kita akan berjalan mulus atau tidak. Aku hanya bisa berdoa kelak kita berjodoh dan dipertemukan kembali.[ E N D ]

Kaimuki House
Folklore
10 Jan 2026

Kaimuki House

Rumah Kaimuki merupakan cerita hantu yang benar-benar terjadi tentang sebuah rumah berhantu di Honolulu, Hawai. Hantu yang katanya menghantui rumah ini biasa dipanggil "Kasha", sesosok setan pemakan manusia dari cerita rakyat Jepang.Ada sebuah rumah berhantu tak terlalu dikenal di Honolulu, Hawai. Sebutan rumah itu adalah "Rumah Kaimuki". Beberapa orang memanggilnya Rumah Berhantu Amatyville dari Hawai.Pada musim panas tahun 1942, rumah itu ditinggali oleh seorang wanita dan tiga anaknya. Suatu malam, polisi ditelepon agar segera ke rumahnya. Mereka mendapati si wanita yang histeris di halaman depan, teriaknya, "Ia mencoba membunuh anak-anakku!"Saat mereka memasuki rumah, petugas kepolisian terkejut melihat pemandangan yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan. Tiga anak dilemparkan ke segala arah oleh kekuatan tak terlihat di dalam ruangan. Petugas polisi melihat sampai lebih dari sejam. Mereka tidak bisa melakukan apa pun saat anak-anak itu dipukul dan dicekik oleh roh yang tak terlihat. Insiden itu nenjadi headline halaman depan koran lokal sampai beberapa hari.Bertahun-tahun kemudian, tiga orang gadis menyewa rumah tersebut. Suatu malam, mereka mulai nendengar suara aneh. Suara itu seperti seseorang berjalan berkeliling sampai berbicara. Salah satu dari gadis-gadis itu merasakan tangan tak terlihat menyentuh lengannya. Mereka menelepon polisi. Saat seorang petugas datang, ia mendapati tiga gadis sedang berdiri di luar rumah dengan tatapan penuh teror di wajah mereka. Gadis-gadis itu memutuskan untuk pergi dan tinggal dengan ibu salah satu dari mereka. Sedangkan petugas polisi memutuskan mengikuti mereka untuk memastikan tidak ada sesuatu yang terjadi.Namun demikian, petugas polisi melihat mobil gadis-gadis itu bergerak tak beraturan di parkiran. Gadis di depan kemudi sedang berjuang dengan sesuatu tak terlihat yang mencekik lehernya. Saat polisi melompat keluar dari mobilnya dan mencoba menyelamatkan gadis-gadis tersebut, ia merasa tangan kuat yang tak terlihat menangkap lengannya, lalu memutarnya. Tiba-tiba, pintu dari kendaraan terbuka dan gadis itu terlempar ke jalanan. Ia mencakari tenggorokannya seolah-olah seseorang sedang mencekiknya. Mereka tidak bisa melakukan apa pun untuk menghentikan serangan tersebut. Mereka terpaksa hanya bisa melihat gadis itu bertarung dengan kematian.Pada tahun 1977, sepasang suami istri orang Jepang pindah ke rumah berhantu di Kaimuki. Mereka tidak tahu apa pun tentang sejarah rumah tersebut. Pada malam pertama di tempat itu, si istri terbangun saat tengah malam karena kamar tidurnya menjadi sangat dingin. Ketika ia melihat sekeliling, ia dikejutkan oleh penampakan hantu berwarna putih yang melayang di tengah-tengah udara. Itu adalah sesosok wanita tanpa tangan maupun kaki. Saat si istri mencoba membangunkan suaminya, bayangan hantu itu menghilang.Hari berikutnya, pasangan suami istri itu diganggu oleh hantu sehingga mereka memanggil seorang pendeta. Ia menganjurkan mereka untuk memberikan persembahan berupa roti dan air untuk arwah tersebut setiap malam. Ia berkata hantu itu adalah Kasha, yakni iblis dari Jepang yang menyebabkan beberapa pembunuhan mengerikan di rumah tersebut sebelumnya. Setelah mengulangi upacara selama seminggu, pasangan itu tak pernah melihat arwah mengerikan di rumah lagi.Cerita di atas hanya sekelumit kecil dari kisah sesungguhnya. Konon katanya, suatu tempat akan berhantu jika pernah terjadi berbagai pembunuhan mengerikan di sana.Bertahun-tahun sebelumnya, seorang imigran Jepang tinggal di rumah itu dengan istri dan kedua anaknya. Entah kenapa, si suami membunuh istrinya, anak laki-lakinya, dan anak perempuannya. Ia memotong-motong tubuh mereka, kemudian menyembunyikannya di dalam rumah. Polisi menemukan mayat istri dan anak lelakinya dikubur di halaman, tetapi tubuh anak perempuannya tak pernah ditemukan. Mereka berkata bahwa mayat anak perempuan itu masih disembunyikan entah dimana di dalam rumah. Setelah itu, rumah tersebut ditinggalkan selama bertahun-tahun.Lalu, ada dua orang wanita yang tinggal di dalam rumah. Salah satu wanita tersebut jatuh cinta dengan seorang laki-laki. Terjadi cinta segitiga diantara mereka. Ada yang bilang bahwa laki-laki itu merasa sangat cemburu. Ia lalu membunuh kedua wanita tersebut, kemudian ia bunuh diri di dalam rumah. Tubuh ketiganya ditemukan di dalam rumah setelah lewat beberapa hari.Ada kepercayaan bahwa pembunuhan mengerikan ini menciptakan Kasha, yakni sejenis hantu Jepang yang muncul karena dendam atau rasa kemarahan yang luar biasa. Sekarang, para penduduk masih menceritakan kisah ini. Bahkan ada banyak buku dan artikel majalah yang menulis detail dari rumah berhantu Kaimuki.

105 Black Kimono
Folklore
10 Jan 2026

105 Black Kimono

Aku tinggal di Jepang. Teman-temanku telah menceritakan padaku tentang pengalaman mengerikan mereka mengenai hal-hal supranatural. Kurasa, kisah paling menyeramkan berasal dari temanku yang bisa melihat hantu saat ia remaja dulu.Suatu hari, ia ingin bertemu dengan seorang gadis teman sekolahnya. Nama gadis itu adalah Asako. Mereka berencana untuk bertemu di tempat terkenal di Tokyo. Namun demikian, saat hari itu tiba, temanku menunggu di sana selama berjam-jam tetapi gadis itu tidak pernah muncul. Temanku berpikir gadis tersebut pasti lupa tentang janji mereka, atau harinya salah. Kemudian, temanku pulang ke rumah.Malamnya, temanku menelepon si gadis. Gadis itu marah padanya karena tidak datang. Ternyata ia telah datang ke tempat pertemuan, tetapi mereka tidak bertemu satu sama lain. Walaupun itu aneh, Tokyo merupakan sebuah kota besar dan tempat pertemuan itu sangat ramai. Jadi, mereka tertawa, kemudian mereka membuat rencana untuk bertemu di stasiun kereta kecil di luar kota.Tetapi kali ini, saat temanku pergi untuk bertemu si gadis, ia berhenti menunggu setelah beberapa jam. Ia bahkan meminta pada petugas stasiun untuk membuat pengumuman, meminta Asako untuk datang menemuinya di pintu keluar. Tetapi Asako tak pernah muncul. Akhirnya, temanku menyerah dan pulang ke rumah.Ia menelepon Asako lagi malam itu. Asako bersikeras bahwa ia telah menunggu di pintu keluar seperti yang mereka rencanakan. Temanku juga memberitahunya bagaimana ia meminta pihak stasiun untuk membuat pengumuman. Asako berkata bahwa ia mendengar pengumuman tersebut saat ia berdiri di pintu keluar, tetapi tidak ada seorang pun di sekitarnya.Hal ini membuat mereka ketakutan, jadi temanku menyarankan ia dan pacarnya yang bernama Yukiko akan pergi ke apartemen Asako untuk bertemu dengannya malam itu. Asako setuju, kemudian temanku dan Yukiko pergi ke sana.Saat mereka sampai di sana, segalanya terlihat normal. Mereka menghabiskan waktu dengan minum, ngobrol, dan bersenang-senang. Mereka lupa waktu hingga mereka ketinggalan kereta terakhir untuk pulang ke rumah. Asako berkata bahwa mereka bisa tinggal malam itu. Ia menggelar tatami di samping tempat tidurnya untuk mereka tidur.Sekitar pukul tiga pagi, temanku tiba-tiba terbangun. Ia tidak bisa bergerak. Saat matanya terbuka, ia melihat Asako menindihnya. Gadis itu duduk di atas perutnya. Matanya hitam dan wajahnya pucat. Rambutnya yang panjang dan berwarna hitam menutupi wajahnya. Ia memakai sebuah kimono hitam. Ia juga memakai hiasan kepala yang aneh, terlihat seperti kandil bercabang tiga dengan lilin menyala.Saat Asako bergerak semakin dekat, rambutnya mulai tertiup angin kencang dan terbakar. Temanku bisa merasakan panas membakar dari kibasan rambut yang menjalar ke wajahnya. Tetapi, temanku masih tidak bisa bergerak sedikit pun. Ia mulai panik saat Asako mencapai lehernya. Temanku mencoba memanggil Yukiko, tetapi suaranya tidak keluar. Asako mulai mencekik lehernya, kemudian membisikkan sesuatu yang tidak ia pahami.Tiba-tiba, temanku bisa menjerit. Ia mendengar seseorang bergerak di atas tempat tidur. Temanku menoleh dan melihat Asako, terlihat mengantuk dan kebingungan. Temanku kembali melihat pada wanita yang menindihnya, tetapi wanita itu sudah menghilang. Pacarnya, Yukiko, sedang berbaring di lantai di dekat mereka.Temanku tidak memberitahu mereka apa yang terjadi agar mereka tidak ketakutan. Tetapi sekitar satu atau dua bulan kemudian, ia pergi ke teater tradisional dengan pacarnya. Salah satu karakter dalam teater itu adalah hantu wanita yang penuh dendam karena dikhianati saat masih hidup. Tujuan hantu itu adalah memburu reinkarnasi pria yang telah mengkhianatinya, kemudian membunuh lelaki tersebut. Hantu wanita itu pucat, berambut hitam panjang, dan memakai kimono hitam. Ia juga memiliki hiasan kepala kandil bercabang tiga. Rambutnya menyala oleh api dari lilin yang terbakar.Setelah itu, ia pergi ke paranormal dan bertanya tentang si hantu. Paranormal itu memberitahunya bahwa ia telah mengkhianati seorang wanita pada kehidupan sebelumnya. Kemudian, roh wanita tersebut bereinkarnasi menjadi Asako. Saat temanku mencoba bertemu dengan Asako, roh pelindungnya mencoba mencegah mereka bertemu satu sama lain untuk menjaganya tetap aman. Namun demikian, saat ia pergi menginap di apartemen Asako, ia menjebak dirinya sendiri dalam sebuah tempat dimana Asako bisa menangkapnya. Paranormal itu memberitahunya bahwa ia beruntung masih bisa hidup.

104 Try to Smile
Horror
10 Jan 2026

104 Try to Smile

Ini adalah sesuatu yang menimpaku. Aku masih bingung bagaimana menceritakannya dengan mudah.Aku tinggal di Jepang selama dua tahun. Aku tinggal di Pulau Kyushu, benar-benar sebuah pinggiran kota. Aku mengajar Bahasa Inggris di sana. Tempat tinggalku berada di sebuah komplek apartemen dengan sembilan guru Bahasa Inggris lain. Ada juga beberapa keluarga Jepang.Apartemen kami memiliki dua bagian dengan bentuknya yang seperti rumah-rumah perkotaan. Apartemenku merupakan bangunan yang paling baru. Sebelum ada aku, ada guru Bahasa Inggris lain yang tinggal di sana selama dua tahun. Tetapi sebelum ada dia, seperti yang diberitahukan padaku, apartemen itu kosong.Aku pindah ke sana pada awal Agustus saat musim panas dan lembab di Jepang. Saking lembabnya, kertas dinding di apartemenmu akan basah dan mulai melengkung. Satu-satunya pendingin udara di apartemen ada di lantai bawah dan kamar tidur di lantai atas. Saat itu benar-benar tak menyenangkan, sehingga aku harus tidur di bawah untuk menghindari panas dan berkeringat di dalam kamarku. Itulah bagaimana semuanya berawal.Suatu hari, aku pulang dari sekolah ketika menemukan pintu belakang terbuka lebar. Pintu itu merupakan pintu kaca yang bisa digeser. Aku yakin sebelum pergi ke sekolah, aku meninggalkannya terkunci. Aku juga mengunci pintu depan dengan rapat. Awalnya, kupikir mungkin seseorang telah masuk, tapi tidak ada sesuatu yang dicuri. Semuanya berada di tempatnya semula.Salah satu tetanggaku datang dan memeriksa seluruh ruangan bersamaku, tetapi kami tidak menemukan sesuatu yang aneh. Saat itu, aku berpikir hal tersebut bukan masalah besar. Mungkin hanya beberapa anak Jepang yang penasaran sehingga mereka masuk ke apartemen dan melihat-lihat rumah orang asing itu seperti apa.Malam itu, aku turun ke lantai bawah untuk berbaring tidur. Tiba-tiba, aku mendengar suara langkah kaki menaiki tangga. Awalnya, suara itu terdengar seperti seseorang melangkah bolak-balik diantara dua ruangan. Kemudian, tiba-tiba berhenti.Pada titik ini, aku yang sedang berbaring mulai gemetar dengan napas tertahan. Aku takut siapa pun yang telah memasuki kamarku dulu, saat ini bersembunyi di kolong di lantai atas. Setelah satu menit tanpa suara, aku mendengar sebuah bunyi keras yang tak masuk akal. Seperti sesuatu yang besar dan berat baru saja jatuh hingga membentur lantai di atasku.Aku lari keluar dari apartemen dan pergi ke rumah tetanggaku. Aku meyakinkan tetanggaku untuk kembali bersamaku guna memeriksa lantai atas. Tapi kami tidak menemukan apa pun. Ini berlanjut setiap malam.Suatu malam, aku sedang di bar dengan guru Bahasa Inggris yang lain. Ia telah tinggal di sini selama lima tahun. Aku mulai menceritakan padanya tentang hal-hal aneh yang terus terjadi setiap malam. Aku tidak bisa tidur karena hal itu." Well , ada alasannya," katanya. "Sebelum kau, ada guru lain yang tinggal di apartemen itu. Tetapi sebelum dia, apartemen itu kosong. Tidak ada seorang pun yang mau tinggal di sana karena seorang wanita menggantung dirinya sendiri di lantai atas setelah suaminya meninggalkannya. Orang-orang Jepang tak menyewakan apartemen itu karena mereka berpikir tempat tersebut telah dikutuk. Sehingga apartemen itu kosong sampai pendidik luar negeri memutuskan untuk menyewakannya pada guru asing.Pada saat itu, aku mengira ia hanya menceritakan hal-hal tersebut untuk mencoba menakutiku. Tetapi suatu hari, aku bertanya pada bosku tentang hal itu. Ia langsung berubah pucat dan berkata bahwa guru lain seharusnya tidak boleh menceritakan hal-hal seperti itu. Aku mencoba menekannya untuk memperoleh informasi lain, tetapi ia tidak mau membenarkan atau menyanggah.Suatu hari, saat aku sedang membersihkan apartemenku, aku memperhatikan sesuatu di bawah ambang jendela. Seseorang telah mengukir kata-kata "Cobalah untuk tersenyum" dalam Bahasa Jepang sekitar sepuluh kali. Saat aku melihatnya, aku berpikir darahku mengalir deras.Aku masih belum tahu apa sebenarnya yang terjadi di apartemen itu, tetapi setiap malam selama musim panas sampai aku mulai tidur di lantai atas lagi, suara itu kembali terdengar.

Kanbari-Nyudo
Horror
10 Jan 2026

Kanbari-Nyudo

Suatu malam, laki-laki botak pergi dari rumah ke rumah, mengintip jendela di kamar mandi dan melihat saat orang-orang duduk di toilet, mandi, atau melepas pakaian. Ia seorang lelaki tua, orang Jepang dengan wajah yang terlihat menakutkan, dan ia mencukur kepalanya. Laki-laki gundul itu akan mengintip melalui jendela dan meneteskan air liur di mulutnya saat sedang mengintaimu, berharap bisa menangkapmu dalam keadaan telanjang.Beberapa tahun yang lalu, ada seorang laki-laki tua yang terobsesi melihat gadis-gadis muda telanjang. Orang yang menyeramkan dan tidak bermoral ini mengintai jalanan di desanya pada malam hari, mengintip dari jendela-jendela, berharap bisa menangkap sekilas kulit telanjang.Saat keluarganya mengetahui kelakuan menjijikkan laki-laki tua itu, mereka merasa malu dan menolak untuk membantu pria itu. Sebagai hukuman, mereka mencukur kepalanya dan membuangnya dari desa.Pria gundul itu membangun sendiri sebuah gubuk di gunung dan hidup di sana sebagai pertapa. Ia melakukan usaha terbaiknya untuk berhenti memikirkan tentang gadis-gadis yang telanjang, tetapi itu tidak berguna. Dorongan jahat mengalahkannya dan ia tidak memiliki kekuatan untuk menolak. Akhirnya, ia terpaksa kembali pada kebiasaan anehnya. Suatu malam, ia bergerak pelan ke desa dan menculik seorang gadis muda. Ia membawa gadis itu ke gubuknya. Diikatnya gadis muda itu dan melakukan hal yang sangat buruk padanya.Suatu hari, saat lelaki gundul pergi, seorang pencuri memasuki gubuk yang tidak dijaga itu dan memutuskan untuk mencuri barang-barang berharga milik lelaki itu. Saat si pencuri masuk ke dalam, ia menemukan gadis muda yang diculik. Merasa kasihan pada gadis yang malang itu, ia melepaskan ikatannya. Baru saja ia akan membantu gadis itu melarikan diri, si pria botak kembali. Terjadilah pertarungan besar, tetapi pada akhirnya si pencuri berhasil membunuh pria botak dan membawanya kembali pada orang tuanya.Setelah itu, si pria botak menjadi hantu dan mulai muncul di luar rumah si gadis. Ia mengenakan kimono berwarna putih dan memandang dengan tajam melalui jendela pada malam hari, menakuti setiap orang di dalamnya. Orang tua gadis itu cemas jika hantu itu berusaha menculik anak mereka lagi, jadi mereka menyembunyikannya. Sejak saat itu, lelaki botak itu pergi dari rumah ke rumah, mengintip jendela toilet, kamar mandi, dan kamar tidur mencari dengan putus asa gadis muda itu.Mereka mengatakan jika kau menyanyikan "Kanbari Nyudo" di dalam kamar mandi, kepala botaknya kadang-kadang akan berguling di toilet. Jika kau menyanyi "Ganbari Nyudo, si gila" di dalam kamar mandi pada malam tahun baru, maka lelaki gundul itu tidak akan mengganggumu lagi.Pada salah satu cerita, seorang gadis muda sedang ke kamar mandi pada larut malam. Ia berdiri dan meraih kertas toilet saat ia mendengar suara tawa kecil di belakangnya. Ia berputar dan melihat sebuah wajah menekan permukaan kaca di jendela kamar mandinya. Ia bisa melihat wajah lelaki tua gundul yang sedang mengintipnya. Lelaki gundul itu tertawa dengan pelan pada dirinya sendiri. Sisi lain jendela itu tertutupi oleh air liur.Gadis muda itu sangat ketakutan dan berlari keluar dari kamar mandi dengan celananya melorot sampai pergelangan kaki sambil berteriak pada orang tuanya. Saat ia menceritakan pada ayahnya apa yang ia lihat, sang ayah berlari keluar dalam kemarahan untuk menghajar si lelaki tua menjijikkan. Namun demikian, saat ia berhasil mencapai gang kecil di belakang rumahnya, ia tidak menemukan apa pun.Kemudian, sang ayah melihat ke jendela kamar mandi. Ada batang besi yang melintang di jendela dan ada jarak 10 cm diantara besi dan kaca. Tidak ada jalan bagi siapa pun yang dapat menekan wajah mereka ke arah kaca. Rasa dingin mengalir di urat nadinya saat ia menyadari apa pun yang mengintip putrinya saat ia di toilet sudah pasti bukan manusia.Pada cerita yang lain, ada seorang gadis muda Jepang yang sangat malu karena tubuhnya. Suatu malam, ia sedang bermain bola voli dengan sekumpulan gadis lain. Setelah bermain, ia harus mandi, tetapi ia terlalu malu membiarkan orang lain melihatnya telanjang. Akhirnya, ia menunggu sampai semua gadis selesai mandi kemudian pergi mandi sendiri.Sendirian di dalam kamar mandi yang bercahaya suram, ia menjatuhkan handuknya dan menghidupnya shower. Tekanan air terlihat lemah karena keluar dari tetesan air yang pelan. Ia berusaha membasuh dirinya dengan aliran kecil air tersebut. Setengah bersih, ia mendengar suara tawa yang menyeramkan."Hehehe..."Suara itu seperti tawa kecil seorang laki-laki tua. Ia melihat sekeliling, tetapi ia tidak melihat siapa pun. Ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh, mencari asal suara aneh tersebut tetapi yang ia dengar hanya keheningan. Gadis itu melanjutkan mandi, sampai ia mendengar suara tawa lagi."Hehehe..."Kali ini, suara itu menjadi lebih keras."Hei orang aneh!" teriak gadis itu. "Jangan pikir aku tidak bisa mendengarmu!"Gadis itu merasa mudah diserang dengan berdiri telanjang di bawah pancuran, jadi ia memutuskan untuk cepat menyelesaikan mandinya. Baru saja ia akan pergi, ia mendengar suara tawa lagi."Hehehe..."Kali ini, suara itu sangat keras seperti berasal dari atas. Gadis itu mendongak ke atas pancuran dan melihat sesuatu yang membuat gadis itu menjerit kencang.Bukannya melihat pancuran air, ia malah melihat kepala seorang lelaki tua menjulur dari dinding. Lelaki tua itu menatap ke bawah, menyeringai dengan menakutkan dan meneteskan air liur padanya.

Selir CEO
Romance
10 Jan 2026

Selir CEO

"Mama dan papamu meninggal di tempat."Dunia Zahra hancur sejak masih berusia 5 tahun. Dua orang tercinta pergi untuk selamanya. Membuat gadis kecil itu harus hidup sebatang kara.Zahra adalah putri tunggal, seorang pengusaha bernama Wirahadi Gunawan. Dan belum lama ini, bisnisnya mengalami peningkatan pesat.Semua orang merasa janggal atas kejadian yang mer3nggut nyawa Wirahadi dan istrinya.Akhirnya kakak kandung Wirahadi menawarkan diri untuk mengasuh sang keponakan. Serta mengelola seluruh asset dan harta yang dimiliki oleh Wirahadi.Sebelum Zahra tumbuh dewasa dan mampu mengelola sendiri harta yang sudah mutlak menjadi hak miliknya.Sang paman yang baru saja mengalami kebangkrutan, kemudian ikut tinggal di rumah Zahra.Zahra kecil merasa tidak nyaman, melihat keluarga sang paman menguasai rumah megahnya. Namun, dia hanya bisa pasrah, karena hanya mereka lah yang mau mengurusi Zahra.Awalnya kehadiran keluarga sang paman, sedikit mengobati rasa rindu Zahra kepada mama dan papanya. Meskipun kakak sepupunya terlihat tidak suka kepada Zahra.Mulanya Zahra diperlakukan dengan baik seperti anak kandung sendiri. Hingga satu tahun lamanya.Ketika Zahra memasuki masa sekolah, mereka mulai memperlakukannya dengan tidak adil.Zahra disuruh pindah dari kamar kesayangannya. Tidak pernah dibelikan mainan seperti kakak sepupunya. Dipaksa hidup mandiri, dan harus menerima jika makanan paling enak di meja makan sudah dihabiskan oleh kakak sepupunya.Zahra dituntut harus selalu mengalah dengan kakak sepupunya.Mereka seakan tak peduli bahwa Zahra lah sang pemilik h*rta, yang mereka nikmati sekarang."Kamu sekarang tidur di sini, ya!" ucap paman Aji kepada Zahra.Zahra mengamati kamar berukuran kecil itu, yang biasanya digunakan sebagai kamar para pembantu."Kamarku kenapa?" tanyanya polos, dengan mata berkaca-kaca."Kamarmu sekarang ditempati kak Sari. Kak Sari pengen tidur di sana," ucap paman Aji.Padahal sejak kecil Zahra sudah sangat nyaman dengan kamar itu. Ada banyak boneka di atas ranjang, ukiran lemari pakaian yang indah, serta tembok yang dihiasi oleh gambar-gambar kartoon kesayangannya.Almarhum ayahnya juga memasang lampu kelap-kelip ketika malam, agar Zahra merasa senang.Terdapat banyak buku anak-anak, yang akan dibacakan sang ayah sebelum tidur dengan nyenyak.Begitu banyak kenangan indah yang pernah terjadi di kamar itu. Namun sekarang Zahra dipaksa pergi, karena harus mengalah dengan orang baru.Zahra kecil tidak bisa tidur di kamar barunya yang kotor dan bau. Dia hanya bisa menangis, karena menahan rindu.Rumah yang dulu terasa nyaman dan menyenangkan kini menjadi asing setelah ditinggali oleh para benalu.Gadis kecil itu terisak sambil memeluk baju almarhumah ibunya."Mama, besok Zahra minta digorengin ayam goreng boleh!" tanya Zahra di tengah keheningan. Berbicara kepada sepotong baju yang sedang dia peluk. Seolah itu adalah sosok sang ibu."Kok mama diam aja sih?" Zahra mencium kain lembut itu. Sekaligus mengelap wajahnya yang basah oleh air mata."Mama marah ya?" ceracau-nya lagi, dengan suara serak."Yaudah Zahra nggak minta aneh-aneh lagi deh. Zahra nggak bakalan nakal lagi, tapi ibu jangan pergi!"Gadis kecil itu malah semakin terisak karena begitu rindu dengan almarhumah ibunya."Zahra boleh nggak sih kangen sama ibu?"***Ketika makan bersama, Zahra hanya pasrah melihat ker4kusan mereka."Aku mau paha ayamnya, Ma!" seru kak Sari setelah duduk di kursi.Sang ibu langsung mengambilkan."Sama sayap!"Dengan tak tahu diri, gadis kecil itu minta dua potong. Sang ibu langsung menuruti.Sisa dua daging di atas piring, tentu saja untuk paman Aji dan istrinya.Sementara Zahra hanya terdiam manyun di tempatnya. Kehilangan selera makan."Daging ayamnya habis, kamu makan pakai sayur aja, ya!" ucap Tante Susi, menuangkan sup bayam ke piring Zahra.Mereka semua makan dengan lahap, kecuali Zahra yang mencebikkan bibir, menahan tangis.Padahal dia sangat ingin sekali makan ayam goreng.***Puncak k3k3jaman mereka terjadi ketika Zahra diajak ke suatu tempat yang sangat asing bagi anak itu."Mulai sekarang kamu tinggal di sini, ya?" ucap paman Aji sambil mendorong tubuh mungil Zahra ke depan. Ke arah anak-anak yang sedang bermain di sebuah gedung sederhana.Zahra tampak ketakutan."Nggak pa-pa sayang, di sini kamu banyak temennya," bisik tantenya.Zahra menggeleng takut."Tante sama paman nggak bisa jagain kamu tiap hari. Jadi lebih baik kamu dititipkan di sini aja, ya," ucap sang Tante."Nanti paman bakalan sering-sering ke sini, kok," sahut paman Aji.Zahra masih tetep menggeleng.Paman Aji menghela napas kasar, memberi kode kepada penjaga pantai asuhan untuk membawa Zahra.Zahra berontak, tapi tenaganya kalah kuat dengan ibu panti itu. Dia meronta sambil menangis terisak-isak.Namun, tangisan menyedihkan itu tak didengarkan oleh sang paman.Sang paman dan istrinya justru tersenyum puas, karena berhasil bebas menikmati h4rta adiknya tanpa perlu mengurusi keponakannya.Sementara itu, tak jauh dari mobil mereka. Seorang pria berjas rapi sedang mengamati di balik kaca mobilnya.Pria tampan itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia berjanji akan merebut kembali h4rta Zahra yang sudah dirampas oleh pamannya sendiri.Komentar kalian tentang bos Erwin wkwk...Malang sekali hidup Zahra. Setelah orang tuanya meninggal, sang paman tega membuangnya ke panti asuhan.Sejak kecil dia dipaksa asing dengan segala kemewahan yang ia miliki.Sang paman tega melakukan itu untuk menguasai seluruh h4rta yang dimiliki keluarga Zahra.Bocah malang itu harus disingkirkan dari kemewahan yang ia miliki. Meskipun sejatinya ia tidak butuh kemewahan, karena yang ia butuhkan hanyalah kasih sayang.Diusianya yang belum genap 6 tahun, Zahra harus beradaptasi tinggal di lingkungan baru, bersama anak-anak yang senasib dengan dirinya. Tidak punya ayah dan ibu.Satu minggu berada di sana, Zahra menghabiskan hari-harinya dengan tangisan. Minggu berikutnya dia mulai terbiasa. Mendengarkan celotehan bocah yang lebih kecil darinya, mengantri ketika mengambil makanan, berbagi mainan dengan teman-teman sebaya, dan tertawa senang jika ada donatur yang datang membawa banyak makanan dan mainan.Zahra mulai berpikir bahwa hidup di panti jauh lebih menyenangkan daripada harus hidup dengan keluarga sang paman yang sering bertindak kasar kepadanya.Gadis kecil itu sampai hafal dengan salah satu donatur yang sering datang berkunjung. Namanya Erwin Zamzami, biasa dipanggil Om Erwin oleh anak-anak.Pria tampan itu memperlakukan Zahra lebih spesial dari anak-anak yang lain. Erwin suka dengan iris mata Zahra yang berkilau seperti berlian. Dengan rambut halus yang sering dikuncir ekor kuda. Bibir mungilnya sering mengerucut ketika Erwin mulai menggodanya."Om gemes banget sama kamu. Rasanya pengen Om jadiin gantungan kunci deh," ledeknya sambil tertawa.Zahra mengerucutkan bibir, membuat Erwin mengacak-ngacak rambutnya gemas."Om Erwin nyebelin, deh!" sungutnya dengan suara cadel."Tapi om ganteng kan?" Erwin menaik-turunkan alisnya."Lebih gantengan Yongki," jawab Zahra polos."Siapa Yongki?""Kucingnya si Mira."Erwin menepuk jidat. Kemudian tertawa gemas."Kapan-kapan kalau Om datang ke sini lagi kamu mau dibawain apa?" tanya Erwin.Zahra menatap wajahnya dengan sorot sendu. Membuat Erwin menaikkan sebelah alis.Gadis itu malah menunduk, dengan wajah sedih."Hey Zahra, kamu mau minta apa?" tanya Erwin lembut, sambil memegang bahu rapuh itu."Zahra cuma minta dipeluk," lirih gadis itu dengan suarat berat."Yaudah sini Om, peluk."Zahra langsung menggelengkan kepalanya. "Bukan dipeluk sama Om.""Lalu?""Pengen dipeluk sama bapak sama ibu," ucap Zahra penuh harap, dengan bulir-bulir bening yang mulai menetes di pipinya.Erwin menelan ludahnya dengan susah payah. Karena keinginan itu tidak akan pernah bisa dikabulkan oleh siapapun, selain Tuhan.Pria itu memalingkan wajah, dengan rahang yang mengeras, menahan emosi. Karena mengingat dua sosok yang membuat Zahra menjadi yatim-piatu seperti ini.Siapa lagi kalau bukan Pak Aji, paman Zahra sendiri, yang tega merancang rencana untuk menyingkirkan ayah Zahra, yang merupakan senior Erwin di dunia bisnis.***Suatu ketika Zahra kembali dijemput oleh pamannya. Sang paman ingin mengajak dia datang ke sebuah pesta, karena yang hadir ke pesta itu kebanyakan adalah sahabat dekat almarhum ayah Zahra.Jadi pak Aji mau tak mau harus membawa Zahra ikut datang ke acara. Sebelum berangkat pak Aji sempat mencubit lengan Zahra sembari memberi ancaman."Awas nanti kalau kamu sampe bilang aneh-aneh kalau ditanya!"Istri pak Aji mengimbuhi. "Nanti bilang aja kalau kamu sangat bahagia tinggal dengan kami."Sesampainya di pesta yang meriah itu, semua atensi langsung beralih ke arah Zahra yang berada di gendongan paman Aji. Semuanya merasa iba dengan nasib bocah kecil itu yang ditinggal oleh kedua orang tuanya."Zahra cantik, gimana kabarnya?"Banyak yang berbondong-bondong menghampiri Zahra, ingin menghibur atau sekedar bertanya hal-hal kecil."Zahra udah waktunya sekolah ya, kamu sekolah di mana?""Kalau libur sekolah main ke rumah tante, dong!""Zahra sehat kan?""Kamu suka makanan apa Zahra, biar Om ambilin!"Zahra hanya tersenyum menanggapi rentetan pertanyaan mereka. Sementara sang paman langsung memberi jawaban yang membangun citra sebagai paman yang sangat menyayangi keponakannya."Zahra sangat bahagia tinggal bersama kami. Dia sekolah di tempat bagus, ingin apapun selalu kami belikan, dan yang paling terpenting dia tidak kehilangan kasih sayang," jelas Pak Aji.Orang-orang sebenarnya tidak seb*doh itu untuk langsung percaya kepada ucapannya. Wajah Zahra tidak terlihat cerah seperti anak orang kaya. Kulitnya dekil dan gelap, karena sering tersengat cahaya matahari saat bermain di panti.Sebagian menyarankan agar Zahra ikut dengan nenek atau kakeknya saja.Namun sayangnya Zahra sudah tidak punya nenek dan kakek. Saudara dari jalur bapak, hanya ada pak Aji, sementara saudara dari jalur ibu, tempat tinggalnya jauh di seberang pulau, dengan kondisi perekonomian yang terbilang m!skin.Diam-diam istri pak Aji mencubit lengan Zahra. Zahra hampir memekik, untung masih bisa ditahan karena tidak ingin dimarahi.Iris mata gadis kecil itu menyorot seorang pria berjas rapi yang mengawasi dari kejauhan. Seakan sedang meminta perlindungan.Sosok itu adalah Erwin Zamzami, dia sangat geram. Ingin membongkar kebvsukan paman Zahra.***Keesokan harinya ketika dipulangkan ke panti, tubuh mungil Zahra sudah dipenuhi dengan luka l3bam dan memar. Pengurus panti merasa prihatin dengan keadaan Zahra. Gadis kecil itu juga tidak mau berbicara apapun ketika ditanya. Membuat pengurus panti meminta untuk menghiburnya.Akhirnya berkat Erwin, senyuman yang sering terlukis indah di bibir Zahra kembali terbit. Ibu panti pun merasa lega."Terimakasih pak Erwin, sudah menganggap Zahra seperti anak sendiri."Erwin tersenyum tipis. "Saya tidak menganggap Zahra sebagai anak sendiri."Dahi Ibu panti mengerut bingung."Karena saya belum menikah." Erwin tertawa."Yaudah kalau begitu terimakasih karena sudah menganggap Zahra sebagai adik.""Saya lebih suka menganggap Zahra sebagai calon istri," jawab Erwin.Ibu panti hampir tersedak dengan ludahnya sendiri. "Edan!"Erwin terbahak. "Iya, sepertinya saya sudah mencintai Zahra sejak dia masih kecil.""Terlalu kecil.""Berarti tinggal menunggu dia tumbuh dewasa." Erwin pamit pergi sambil tertawa terbahak-bahak di depan ibu panti.***Sementara itu, paman Aji dan istrinya sedang merancang skenario p3mbvnuhan. Segalanya sudah di setting sedemikian rupa, agar mereka bisa melenyapkan satu-satunya orang yang memiliki hak atas harta yang mereka nikmati sekarang. Tanpa ada satu pun orang yang curiga.Pak Aji kemudian ke panti untuk menjemput Zahra, lalu berpamitan kepada pemilik panti. Memberikan ucapan terimakasih karena mau menjaga Zahra.Ibu panti melepas kepergian Zahra dengan perasaan khawatir.Karena memang Zahra tidak dibawa pulang, melainkan dipasrahkan oleh beberapa orang berwajah sangar."Selesaikan tugas kalian!" ucap paman Aji sebelum pergi meninggalkan Zahra yang menangis ketakutan di cengkraman para segerombolan preman.Zahra kalau pakai kerudung wkwk...***Zahra, pewaris tunggal almarhum Wirahadi harus menjadi korb4n keg4nasan sang paman yang ingin merebut harta warisannya.Gadis kecil tak berdosa itu dibawa ke suatu tempat misterius oleh segrombolan preman. Dan sang paman tertawa puas melihatnya."Siapa yang berani melakukan?" tanya salah satu preman, merasa tidak tega melihat bocah kecil yang terisak di depan mereka."Dia tampak cantik sekali." Nuraninya memberontak, ingin melepaskan anak malang itu."Miris sekali dunia ini. Rela menyingkirkan apapun hanya demi du1t!""Termasuk dirimu!" sahut temannya.Pria berambut gondrong itu tersenyum tipis. "Kita semua sama, hanya cara berdosa-nya saja yang berbeda."Semua orang terdiam."Kita cari cara lain untuk melenyapkannya," ucap salah seorang dari mereka melangkah meninggalkan Zahra yang terikat di atas meja.Sementara itu di tempat lain. Pak Aji sedang duduk di sebuah ruang rapat bersama beberapa pemimpin dari perusahaan ternama di Indonesia.Setiap pemimpin dikawal oleh satu orang pria kepercayaan mereka. Salah satunya adalah Erwin Zamzami yang terus melirik pak Aji dengan tatapan tajam di belakang bosnya.Pak Aji merasa terintimidasi dengan tatapan itu."Kenapa pengawal anda melirik saya seperti itu," protes pak Aji kepada Dendy Wijaya."Dia tidak yakin dengan kinerja anda!" ucap pak Dendy dengan wajah tenang."Apa haknya?" Pak Aji menaikkan sebelah alis."Sebelumnya dia adalah suksesor Wirahadi Gunawan dalam bidang marketing. Setelah itu saya merekrutnya. Bisa dibilang, dia adalah orang yang paling tahu luar dan dalam perusahaan yang anda kelola sekarang," jelas Pak Dendy lalu menyesap secangkir kopi di atas meja."Tidak usah khawatir, saya akan mengelolanya dengan baik," jawab Pak Aji."Seharusnya Zahra yang duduk di situ," seru Erwin dengan wajah dingin dan datar.Pak Aji tertawa. "Tentu saja, suatu saat nanti Zahra akan duduk di sini. Sekarang dia baru masuk sekolah dasar. Saya akan akan menjaga seluruh aset yang dimiliki adik saya untuk masa depan keponakan saya."Erwin menyeringai lebar, aura wajahnya menyorotkan kebencian. "Lalu kenapa anda berusaha menyingkirkan Zahra?"Semua orang di meja itu terbelalak lebar mendengar ucapan Erwin. Mereka yang merupakan sahabat dekat Wirahadi sekaligus klien dalam dunia bisnis mendadak merasa curiga dengan pak Aji."Apa maksudmu, Zahra sedang sekolah sekarang. Dia sangat bahagia, dan tidak kekurangan kasih sayang," jelas pak Aji gugup."Banyak orang yang bilang bahwa keluarga dari pihak ayah itu selalu ruwet. Saya lebih setuju jika Zahra ikut keluarga dari pihak ibunya saja," celetuk salah seorang yang sejak kemarin mengampanyekan hal itu."Keluarga dari pihak ibu Zahra sangat tidak memungkinkan untuk merawat Zahra, mereka tinggal jauh dari ibu kota."Suasana di tempat itu mendadak tegang."Sudah-sudah lebih baik kita segera memulai rapat. Saya tidak punya banyak waktu untuk berdebat," ucap pak Dendy yang memiliki mega bisnis paling besar di antara mereka. Dan tentu saja paling ditakuti.Erwin tersenyum tipis melihat tekanan yang dia berikan kepada pak Aji.***"Apa kita berikan r4cun saja?" saran salah satu preman."Kasihan ah, gue nggak tega.""Bakalan repot nanti kalau diberitakan dia t3w4s karena dir4cun, cepat atau lambat kita bakalan ikut ketangkap juga."Pria bertatto elang di lengan menyahut. "Pak Aji kabarnya sudah bekerja sama dengan polis1 yang akan jadi penyidik pada kasus ini, kita akan terselamatkan. Tak hanya itu, Pak Aji juga memb4yar beberapa wartawan untu membuat berita yang bisa menyelamatkan pelaku utama.""Lalu bagimana?""Ah sudah lah, lebih baik kita segera selesaikan sesuai arahan Pak Aji saja.""Serius?"Kemudian mereka dengan paksa, mengganti pakaian Zahra dengan baju sekolah, seolah-olah Zahra mengalami kecel4kaan setelah pulang sekolah. Jurnalis yang disuruh pak Aji pasti sudah bersiap mengembangkan berita.***"Kita harus berhati-hati, sepertinya Pak Aji bukan orang sembarangan," ucap seseorang di seberang sana."Ya," jawab Erwin datar sebelum memutus panggilan. Kemudian fokus mengemudikan mobil mengikuti pak Aji yang entah pergi kemana. Bersama keluarganya.Erwin menggertakkan gigi dengan tangan terkepal, setelah mobilnya berhenti di sebuah mall. Mengamati keluarga pak Aji yang turun dari sana.Tidak ada sosok Zahra di sana. Padahal kemarin bocah mungil itu sudah dijemput pulang. Lalu kemana dia sekarang?Firasat Erwin mendadak tidak enak.Pria itu mengempeskan mobil pak Aji dengan kesal. Lalu ikut membuntuti masuk ke dalam mall.Mereka beberbelanja banyak barang, tapi tidak memikirkan Zahra sama sekali. Erwin menyangkan seniornya yang meninggal di usia terbilang muda, sebelum membuat surat ahli waris. Ya, memamngnya maut bisa dipersiapkan?Erwin berusaha memanfaatkan momen dimana putrinya pamit buang air kecil. Diam-diam pria tampan itu melangkah mengikuti, kemudian ikut masuk ke dalam kamar mandi.Sari menjerit kaget, untung saja Erwin langsung membekap mulutnya. "Katakan padaku dimana Zahra sekarang?" bisiknya penuh penekanan.Sari menangis sambil menggeleng pelan. "Cepat katakan! Kalau kamu ingin sdelamat."Sari memundurkan langkah dengan tersengal-sengal. Setelah Erwin melepaskan cengkraman."Cepat katakan!" bentaknya pelan."A-aku tidak tahu!" jawab Sari ketakutan.Erwin melotot sambil mengeraskan rahang. "Apa dia ada di rumah!""I-iya!" jawab Sari."Jangan berbohong!""Tidak, Zahra memang baru pulang sekolah. Kami tidak sempat mengajaknya!"Erwin mendengkus kesal, kemudian mendorong tubuh Sari dengan kasar. Lalu pergi dari kamar mandi itu sebelum dia berteriak minta tolong.***Erwin langsung bergegas menuju ke rumah Zahra. Kemudian bertanya kepada satpam yang berjaga di rumah itu. Jawaban yang diberikan berbeda dengan keterangan Sari.Setelah Erwin mendesak, akhirnya satpam itu mengaku bahwa Zahra diserahkan kepada segerombolan preman oleh pak Aji.Erwin yang tersulut emosi, langsung menjadikan satpam itu sebagai pelampiasan.Arrghhh... Dia benar-benar tidak tahu harus kemana mencari preman-preman yang membawa Zahra.Ponselnya berdering, Erwin langsung buru-buru mengangkatnya. Ternyata dari pak Dendy."Erwin, saya menemukan berita seorang anak sekolah tak sengaja tertabr4k mobil. Anak itu mirip Zahra."Kedua tangan Erwin langsung melemas, hingga ponsel itu terjatuh dari genggaman.Pemakaman boc4h kec1l itu diiringi oleh isak tangis banyak orang. Erwin menjadi orang yang paling terpukul karena gagal menjaganya. Apalagi mereka tidak mengizinkan ia melihat wajah Zahra untuk yang terakhir kalinya.Dibalik kaca mata hitam, air matanya terus bercucuran membasahi wajah. Kedua tangan terkepal, ingin mengh4jar keluarga benalu yang pura-pura bersedih di depan pusara. Semua orang berbela sungkawa, dan pak Aji meminta maaf karena tidak bisa menjaga Zahra dengan baik.Gembar-gembor di media memberitakan bahwa Zahra sengaja bvnvh diri agar bisa menyusul kedua orang tuanya. Tentu saja Erwin tidak percaya, mana mungkin bocah sekecil Zahra berani melakukan itu. Dia yakin, pasti pak Aji adalah dalang dibalik musibah ini."Banyak kejanggalan yang terjadi. Seperti sebuah pembvnvhan yang terencana," bisik pak Dendy di sebelahnya.Erwin menghela napas kasar. Mendongak ke atas, menikmati semilir angin yang menyibak rambutnya. Dia sebenarnya hanya berusaha tegar.Teringat dengan celotehan renyah Zahra ketika berada di panti tempo lalu. "Om, gimana ya caranya biar Zahra bisa bermimpi ketemu sama mama dan papa?"Erwin hanya bisa terdiam."Andaikan dengan tidur bisa selalu bermimpi bertemu mereka, pasti Zahra pengen tidur terus, nggak usah bangun lagi," ucap Zahra sambil tersenyum getir.Dada Erwin terasa sesak saat membayangkannya. Pandangannya beralih ke arah pak Aji yang berusaha ditenangkan banyak orang. Seolah dia adalah orang yang paling terpukul atas kepergian Zahra, padahal sebaliknya.Karena merasa j1j1k melihatnya, akhirnya Erwin memutuskan pergi terlebih dahulu dari pemakaman.Selama 3 hari Erwin hanya melamun di depan jendela kamarnya. Tidak n4fsu makan, juga tidak berminat melakukan apa-apa. D3ndam dan rasa penyesalan masih menggrogoti hatinya.Seenaknya media menyebarkan berita yang tidak akurat tentang Zahra, dan pol1si pun sudah menetapkan seorang sopir sebagai pelaku. Sayangnya Erwin tidak punya wewenang untuk ikut campur dalam urusan itu. Mereka seperti sudah merekayasa semuanya.Refan sahabatnya datang untuk melihat keadaannya. "Sudahlah Win, ikhlaskan saja. Zahra sudah bahagia menyusul papa dan mamanya.""Ya," jawab Erwin dengan suara serak."Lalu, kenapa masih sedih?""Aku tidak bisa membiarkan kedzoliman menang begitu saja. Pak Aji harus diberi pelajaran," jawabnya dengan tangan terkepal."Ya, kita akan pikirkan itu. Sekarang kau harus makan!" ucap Refan. "Karena balas d3ndam juga butuh energi!"***Pak Aji tahu, satu-satunya orang yang paling berbahaya adalah Erwin. Dia sering ikut campur segala urusannya, karena sudah tahu bagaimana tabiat aslinya.Untuk itu pak Aji mulai berencana untuk melenyapkan Erwin, agar hidupnya menjadi tenang. Tidak ada lagi orang yang bisa mengganggunya."Bvnvh pria ini!" ucapnya kepada seseorang berhoodie hitam, sambil menyodorkan foto Erwin.Pria itu memegang amplop coklat yang diberikan pak Aji kemudian pamit pergi.Beberapa rencana dilakukan untuk menc3lakakan Erwin. Termasuk menyuruh seorang office boy untuk menuangkan r4cun ke dalam sacangkir kopi susu yang akan diberikan Erwin."Ini kopinya, Pak!" ucap office boy itu."Taruh situ saja," jawab Erwin masih fokus membaca berkas di atas meja.Pria yang mengantarkan kopi masih belum beranjak, menatap Erwin dengan sorot tajam."Kenapa?" tanya Erwin."Segera diminum, Pak. Keburu dingin.""Ya!"Pria itu pamit keluar.Erwin yang hendak mengambil secangkir kopi itu dengan pandangan yang masih fokus membaca tumpukan berkas, tanpa sadar menyenggolnya jatuh dari meja, hingga cangkir itu pecah berserakan.Prakk!!!Erwin memijat-mijat kening, kemudian memanggil office boy tadi lewat telepon untuk membersihkan lantainya yang kotor.Office boy itu terlihat kesal karena usahanya gagal.***"Kamu kenal orang ini?" tanya pak Dendy menunjukkan foto seorang pria di layar ponselnya.Erwin mengamatinya dengan seksama, dengan dahi yang mengerut. "Tidak, Pak."Dibalik meja kerjanya, Pak Dendy tersenyum tipis. "Namanya Rustam, anak pertama dari pak Aji, dia kuliah di luar kota.""Apakah dia baik? Atau malah lebih berbahaya?" tanya Erwin."Sepertinya jauh lebih berbahaya, karena dia menjalin hubungan dengan putriku, Viola.""Maksud bapak?""Mereka pacaran," jawab pak Dendy sambil menautkan jari jemarinya di atas meja. Kemudian teremenung dengan napas kasar."Saya sudah melarang Viola berhubungan dengan pria itu tapi Viola malah semakin nekad.""Lalu apa hubungannya dengan saya?" tanya Erwin bingung.***Mobil hitam melaju membelah jalan raya, tanpa sadar banyak bahaya yang sedang mengintainya dari kejauhan. Pak Aji sudah mengincarnya, dan tentu saja membuat status pria itu menjadi tidak aman.Tiba-tiba dari perempatan jalan mobil truck melaju kencang, hendak menyambar mobil Erwin dari arah kanan. Untung saja pria itu membanting setir ke arah kiri, sehingga mobilnya menabrak pohon di pinggir trotoar dan lolos dari pecahan kaca.Meskipun pelipisnya berd4rahmembentur sesuatu. Pria itu masih bisa keluar dari mobilnya yang berasap dengan napas tersengal-sengal. Namun, tepat di belakang, sebuah mobil Jeep melaju kencang, dengan sengaja ingin menyambar tvbuh lemah itu.Untung saja Tuhan masih berbaik hati melindunginya. Seorang bapak-bapak yang berada di trotoar berlari menarik tubuh Erwin agar terhindar dari sambaran mobil hitam itu.Erwin terhempas ke trotoar ketika ditarik oleh bapak itu. Tubuhnya sampai membeku beberapa detik karena selamat dari maut untuk kesekian kali. Andai saja bapak itu terlambat untuk menyelamatkannya pasti Erwin sudah pindah alam sekarang.Warga mulai berbondong-bondong datang, mengerumuni Erwin yang meringis kesakitan. Kemudian bergegas membawa Erwin ke rumah terdekat. Untuk memberi pertolongan pertama.Salah satu warga yang datang adalah preman yang membvunuh Zahra. Preman itu berbalik badan kemudian melangkah pergi sambil menelpon seseorang.Luka di sekujur tubuh Erwin sudah diobati. Tinggal menunggu Refan datang menjemputnya. Dua kali hampir tertabrak, dan untung saja masih selamat, tidak ada luka serius yang diderita.Warga yang datang memberondongi Erwin dengan banyak pertanyaan. Meskipun Erwin sedikit susah untuk memberi jawaban, karena kepalanya masih terasa pusing luar biasa.Erwin terkejut melihat segerombolan preman yang datang, kemudian meminta Erwin untuk ikut bersama mereka. Para warga tidak bisa membantu karena mereka membawa senj4ta t4j4m.Erwin ditarik dengan paksa masuk ke dalam mobil. Lalu, bergegas pergi sebelum para pol1si datang."Kalian mau membawa saya kemana?" ucap Ewrin yang duduk di tengah-tengah mereka dengan tvbuh lemah."Sudah diamlah!" bentak preman bertubuh besar di sebelahnya.Erwin dibawa ke suatu tempat yang asing di pinggiran kota. Mereka mendorong tvbuh lemah Erwin masuk ke dalam rumah usang yang terbengkalai. Halaman rumah itu dipenuhi dengan rumput liar dan pepohan yang rimbun.Erwin tidak menyangka jika rumah itu dijadikan markas oleh mereka,Pria itu terkejut bukan kepalang, setelah sampai ke dalam. Melihat Zahra duduk dengan santai di atas meja, sambil melahap lolipop di tangannya."Om Erwin!" ucap Zahra tak kalah kaget, melihat pria itu datang dibawa oleh para preman.Ewrin menelan ludah dengan susah payah. "Zahra, ternyata kamu masih hidup?"

Dicintai OM CEO
Romance
10 Jan 2026

Dicintai OM CEO

Di Asrama Aja - Kamar nomor 24PIYORIN's"Aku tahu asal muasal dari semua ini, dan bukankah itu artinya kita harus menjauhi Vampix?"Perkataan Kayaka membuatku mengerjapkan mata."Tunggu, itu ada hubungannya dengan manusia congkak, angkuh dan sok penguasa?" tanyaku, yang membuat Ryuko kini mengerutkan keningnya, bingung."Bukankah itu karena Vampix berteman dengan spesies kelelawar?" Ryuko mengoreksi jawabanku."Oh, seperti itu."Akan kuceritakan kejadian yang kami alami secara singkat. Mendekati akhir bulan Januari, tiba-tiba dunia gempar dengan keberadaan sebuah virus. Gemparnya ... hm, kira-kira sama seperti dulu ketika Jepang gempar dengan fenomena hilangnya manusia (ya, walau sekarang tidak ada yang mengingatnya sama sekali).Gempar, gempar sekali sampai akhirnya semua fasilitas umum ditutup. Kuakui, aku cukup kaget dengan ini. Sebab ketika fenomena menghilangnya manusia dulu, sekolah dan kantor bahkan tetap beroperasi. Setelah kupikir-pikir, situasi ini lebih dapat dikendalikan daripada fenomena aneh yang bisa saja melahap siapapun tanpa kenal bulu.Nah, haruskah kukatakan bahwa aku senang karena sekolahku libur? Ya, tentu saja aku senang, tapi masalahnya ..." Iya, tapi jangan bermimpi misi kita libur. Dunia sedang bersibuk dengan dunia mereka, kita harus sibuk dengan misi kita. Virus mungkin berbahaya, tapi perlu diingat kalau peri-peri mungil itu bisa lebih mengacaukan dunia."Kata-kata Vampix di pengumuman terakhir di siaran sekolah minggu lalu masih terngiang-ngiang di pikiranku. Dan sebenarnya sudah seminggu pula aku menghabiskan waktu di asrama, di dalam kamarku dan bertemu dengan beberapa orang sesekali, ketika pergi ke cafeteria.Semua jadwal dibuat ulang dan karena itu, tidak ada lagi orang yang boleh berlama-lama di sana. Begitu selesai makan, harus langsung naik karena orang-orang sudah menunggu jadwal mereka. Saat cafeteria kosong, mereka akan menyemprotkan antiseptik ke seluruh ruangan, seolah kami semua adalah virusnya.Malam hari, kami semua menyelinap keluar untuk menangkap para peri yang masih berkeliaran. DAN itupun kami diwajibkan memakai masker. Sebenarnya bisa saja aku mencari mantra pelindung yang membebaskanku dari segala jenis kuman, tapi katanya itu berisiko karena tidak semua kuman bersifat jahat--ini kata Kayaka.Belakangan, isu tentang kami yang akan dipulangkan ke rumah masing-masing, mulai menghilang. Sepertinya isu itu tidak benar, karena sampai detik ini belum ada pengumuman resmi dari pengurus sekolah. Ya, siapa lagi kalau bukan dua kakak beradik itu. Jangan-jangan mereka berdua tidak diperbolehkan keluar dari rumah mereka sendiri. Membayangkan kalau kami akan menjadi tumpukan manusia di asrama membuatku agak merinding."Aku bosan, mau ke kamar kakakku. Mau ikut?" tawar Kayaka padaku."Bukankah kita diminta untuk saling berjauhan dulu? Seperti yang kita lakukan sekarang?" tanya Ryuko.Oh ya, coba tebak apa yang sedang kami lakukan!Ya, benar, tiduran di kasur masing-masing."Rin bisa menggunakan kekuatannya untuk membuat kita memakai pakaian astronot, iya kan, Rin?"Ryuko menolehkan kepalanya ke arahku yang kebetulan tidur di tengah. Rasanya malu sekali setiap Kayaka membahas soal kostum astronot. Aku yang mengusulkannya awal-awal, tapi aku hanya bercanda. Aku tidak tahu bahwa Kayaka akan mengganggapnya seserius ini."Kalau Piyorin menggunakan kekuatannya dan membuat semua orang di sini memakai pakaian astronot, apa kita bisa beraktivitas seperti biasa, ya?" Ryuko bertanya sambil menatap langit-langit kamar.Kami bertiga menghela napas kami bersamaan."Pasti berat," keluhku sambil membayangkan."Hmm ..., membosankan, ya."Dan itulah yang kami lakukan, terus menerus. Sama saja. Tujuh hari berturut tanpa bisa berjalan sesuka hati. Entah mengapa aku jadi merindukan rasa lelah ketika berjalan jauh dari gedung cadangan ke asrama."Ayo, kita berkeliling!" Kayaka tiba-tiba mengusulkan sebuah ide."Dalam keadaan seperti ini sangat tidak memungkinkan," balasku malas."Tinggal pakai pakaian astronot--""Itu berat. Beraaat," balasku sambil merenggangkan tubuh."Kan tinggal teleport ," ucap Kayaka, berusaha meyakinkan."Memangnya kau ingin kemana, sih?" tanyaku.Ryuko tiba-tiba bersuara di sela perdebatan absrud kami. "Ah, kau rindu dengan kakakmu, ya?"Wajah Kayaka sontak berubah masam, "Ih! Tidak!""Oh~ Jadi begitu ya? Kulaporin ke Kayato ah, nanti," ucapku, ikut menggoda Kayaka. Ya, daripada bosan."Rin! Tidak seperti itu, kok!" balas Kayaka makin keras kepala."Masak sih? Memangnya kau tidak rindu main game lagi dengannya?" tanyaku."Daripada dengan Kak Kayato, lebih baik dengan Light," ucap Kayaka.Sontak, perkataannya membuat seisi kamar kami menjadi hening."Hah? Dengan Light? Kenapa?" Ryuko bertanya dengan agak antusias.Sedangkan aku, alih-alih mengganggu Kayaka lagi, aku malah merinding ngeri karena secara otomatis membayangkan petir yang menyambar keras dan halilintar di atas awan."Soalnya sudah bosan main game dengan Kak Kayato. Strateginya sama saja dari zaman dahulu kala. Sudah bisa ditebak, sangat membosankan," jelas Kayaka."Oh, kau membicarakan soal bermain game, rupanya." Mendadak antusiasme Ryuko memadam tanpa sebab."Kau bicara begitu, padahal walaupun sudah tahu taktik Kayato, kau tetap kalah setiap bermain dengannya," sahutku."Rin kan tidak pernah main game dengan Kak Kayato, mana ngertii." Kayaka berpendapat."Aku memang hanya suka melihat orang main game," timpalku pendek."Oh ya? Aku juga begitu." Ternyata Ryuko seperjuangan denganku."Hm, kalau aku, daripada menonton orang, lebih suka mengerjakannya langsung," sahut Kayaka."Ya, karena itulah dia tidak pernah betah di bioskop," sambungku."Hmm...."Kamar kembali hening. Ryuko akhirnya memutuskan untuk memainkan gadgetnya--pilihan paling baik yang sebenarnya hampir kami lupakan keberadaannya.Jangan lupakan bahwa kami sebagai manusia semi-penyihir mengemban tugas berat di pagi sampai sore hari untuk bersekolah dan malam hari sebagai pemburu peri. Tentu saja aku jadi jarang memainkan ponselku. Hanya saja, belakangan ini semenjak maraknya virus itu, aku dan ponselku seperti tak terpisahkan. Tampaknya yang lain juga signifikan terkena dampak yang serupa."Wah. Mai dan Nai sedang memasak bersama." Ryuko memperlihatkan hasil masakan mereka dari salah satu sosial media."Eh? Kalian berteman di sosial media?" tanyaku."Mai mencari akun Reina, lalu mengikuti yang diikuti Reina satu persatu," jelas Ryuko."Rin, kau juga di follow , tuh." Kayaka memperlihatkanku ponselnya. Entah kapan dia mulai membuka ponselnya."Hah? Aku tidak menyadarinya." Aku malah ikut-ikutan membuka sosial media untuk mengonfirmasi perkataan Kayaka.Sugihara Mayaka."Ohh! Dia pakai nama aslinya! Pantas saja aku tidak mengenalinya!""Memangnya kau berharap dia memakai nama penyihirnya untuk sosial media?" tanya Kayaka dengan tatapan datar."Rainna memakai nama penyihirnya, tuh," kataku."Itu karena Rainna tidak ingin kita semua kena masalah, kalau dia menggunakan akun selebritinya untuk mengikuti kita semua. Bisa-bisa, semua geger setiap hal yang berhubungan dengan sekolah Rainna," ucap Kayaka."Iya, Reina hanya tidak ingin kita kena masalah. Kalian masih ingat dengan nasib papparazi malang yang menyelinap masuk ke dalam Gakuen Sora?" Ryuko bertanya.Tentu saja aku masih ingat bagaimana nasibnya. Beragam, mulai dari ilusi memutar yang sama dengan kejadian yang kualami ketika menolak mendatangi Gakuen Sora, sampai akhirnya pingsan karena melihat pohon-pohon berlari mengejarnya dengan akar panjang mereka.Dia datang diwaktu yang sangat tidak tepat, pagi buta ketika Ryuko membangunkan bunga. Dan karena itu, Ryuko harus membangunkan Kayaka untuk membantunya menghilangkan ingatan papparazi itu. Waktu kejadian itu, aku masih tertidur pulas, tak tahu menahu apa yang terjadi di bawah sana."Hmm, kurasa keputusan Rainna membuat akun kedua sangat bijaksana," komentar Kayaka.Aku tidak pernah benar-benar melihat Kayaka berbicara dengan Rainna. Kayaka sebenarnya tidak akan masalah berteman dengan Rainna, begitupun sebaliknya. Tetapi dari yang kulihat selama ini, mereka hanya jarang mengobrol karena minimnya kesamaan mereka. Namun, tanpa kuketahui, rupanya Kayaka dan Rainna sudah saling mengenal."Ngomong-ngomong, Mai dan Nai sudah SMP 3. Itu artinya mereka akan ke sini tahun depan," ucap Ryuko."Hah? Mereka berdua masih SMP?!" tanyaku tidak percaya."Rin, ingat. Kau sendiri juga baru lulus SMP tahun lalu," peringat Kayaka."Bukan begitu! Maksudku, Nai sangat dewasa, tahu! Kukira dia lebih tua dariku atau paling tidak seumuranku," jelasku."Hm, aku pernah berbicara dengan Nai waktu di Blackmix, tapi tidak terlalu dekat dengannya. Ya, dia cukup dewasa, sih." Kayaka sependapat denganku."Wah! Mereka memakai seragam SMP favorit di Tokyo! Mereka pasti sangat pintar," kagum Ryuko."Ya, pernah favorit, sampai akhirnya Gakuen Sora muncul dari tanah dan merebut titel itu," balasku. Sampai hari ini, aku tidak pernah setuju dengan hal itu."Hmm ...."Hening kembali."Orang-orang jadi pemalas ya, karena kondisi ini," ucapku."Tidak juga, banyak kok, yang mencoba produktif dari rumah." Kayaka tiba-tiba menoleh tajam ke arahku, sekolah baru saja mengingat sesuatu. "Eh, Rin, ngomong-ngomong, kita jadi tidak berkeliling dengan pakaian astronot?""Hah? Kau masih ingin melakukannya?!" tanyaku tidak percaya.Ryuko hanya tertawa pelan mendengar percakapan kami.***#DiAsramaAja , karena Piya dkk tidak bisa pulang ke rumah masing-masing.Ini kira-kira 1300-an kata, untuk menutup kerinduan kalian terhadap Piya dkk.Semoga segera mereda dan membaik. Stay safe and please stay at home!

DiAsramaAja
Fantasy
10 Jan 2026

DiAsramaAja

Di Asrama Aja - Kamar nomor 24PIYORIN's"Aku tahu asal muasal dari semua ini, dan bukankah itu artinya kita harus menjauhi Vampix?"Perkataan Kayaka membuatku mengerjapkan mata."Tunggu, itu ada hubungannya dengan manusia congkak, angkuh dan sok penguasa?" tanyaku, yang membuat Ryuko kini mengerutkan keningnya, bingung."Bukankah itu karena Vampix berteman dengan spesies kelelawar?" Ryuko mengoreksi jawabanku."Oh, seperti itu."Akan kuceritakan kejadian yang kami alami secara singkat. Mendekati akhir bulan Januari, tiba-tiba dunia gempar dengan keberadaan sebuah virus. Gemparnya ... hm, kira-kira sama seperti dulu ketika Jepang gempar dengan fenomena hilangnya manusia (ya, walau sekarang tidak ada yang mengingatnya sama sekali).Gempar, gempar sekali sampai akhirnya semua fasilitas umum ditutup. Kuakui, aku cukup kaget dengan ini. Sebab ketika fenomena menghilangnya manusia dulu, sekolah dan kantor bahkan tetap beroperasi. Setelah kupikir-pikir, situasi ini lebih dapat dikendalikan daripada fenomena aneh yang bisa saja melahap siapapun tanpa kenal bulu.Nah, haruskah kukatakan bahwa aku senang karena sekolahku libur? Ya, tentu saja aku senang, tapi masalahnya ..." Iya, tapi jangan bermimpi misi kita libur. Dunia sedang bersibuk dengan dunia mereka, kita harus sibuk dengan misi kita. Virus mungkin berbahaya, tapi perlu diingat kalau peri-peri mungil itu bisa lebih mengacaukan dunia."Kata-kata Vampix di pengumuman terakhir di siaran sekolah minggu lalu masih terngiang-ngiang di pikiranku. Dan sebenarnya sudah seminggu pula aku menghabiskan waktu di asrama, di dalam kamarku dan bertemu dengan beberapa orang sesekali, ketika pergi ke cafeteria.Semua jadwal dibuat ulang dan karena itu, tidak ada lagi orang yang boleh berlama-lama di sana. Begitu selesai makan, harus langsung naik karena orang-orang sudah menunggu jadwal mereka. Saat cafeteria kosong, mereka akan menyemprotkan antiseptik ke seluruh ruangan, seolah kami semua adalah virusnya.Malam hari, kami semua menyelinap keluar untuk menangkap para peri yang masih berkeliaran. DAN itupun kami diwajibkan memakai masker. Sebenarnya bisa saja aku mencari mantra pelindung yang membebaskanku dari segala jenis kuman, tapi katanya itu berisiko karena tidak semua kuman bersifat jahat--ini kata Kayaka.Belakangan, isu tentang kami yang akan dipulangkan ke rumah masing-masing, mulai menghilang. Sepertinya isu itu tidak benar, karena sampai detik ini belum ada pengumuman resmi dari pengurus sekolah. Ya, siapa lagi kalau bukan dua kakak beradik itu. Jangan-jangan mereka berdua tidak diperbolehkan keluar dari rumah mereka sendiri. Membayangkan kalau kami akan menjadi tumpukan manusia di asrama membuatku agak merinding."Aku bosan, mau ke kamar kakakku. Mau ikut?" tawar Kayaka padaku."Bukankah kita diminta untuk saling berjauhan dulu? Seperti yang kita lakukan sekarang?" tanya Ryuko.Oh ya, coba tebak apa yang sedang kami lakukan!Ya, benar, tiduran di kasur masing-masing."Rin bisa menggunakan kekuatannya untuk membuat kita memakai pakaian astronot, iya kan, Rin?"Ryuko menolehkan kepalanya ke arahku yang kebetulan tidur di tengah. Rasanya malu sekali setiap Kayaka membahas soal kostum astronot. Aku yang mengusulkannya awal-awal, tapi aku hanya bercanda. Aku tidak tahu bahwa Kayaka akan mengganggapnya seserius ini."Kalau Piyorin menggunakan kekuatannya dan membuat semua orang di sini memakai pakaian astronot, apa kita bisa beraktivitas seperti biasa, ya?" Ryuko bertanya sambil menatap langit-langit kamar.Kami bertiga menghela napas kami bersamaan."Pasti berat," keluhku sambil membayangkan."Hmm ..., membosankan, ya."Dan itulah yang kami lakukan, terus menerus. Sama saja. Tujuh hari berturut tanpa bisa berjalan sesuka hati. Entah mengapa aku jadi merindukan rasa lelah ketika berjalan jauh dari gedung cadangan ke asrama."Ayo, kita berkeliling!" Kayaka tiba-tiba mengusulkan sebuah ide."Dalam keadaan seperti ini sangat tidak memungkinkan," balasku malas."Tinggal pakai pakaian astronot--""Itu berat. Beraaat," balasku sambil merenggangkan tubuh."Kan tinggal teleport ," ucap Kayaka, berusaha meyakinkan."Memangnya kau ingin kemana, sih?" tanyaku.Ryuko tiba-tiba bersuara di sela perdebatan absrud kami. "Ah, kau rindu dengan kakakmu, ya?"Wajah Kayaka sontak berubah masam, "Ih! Tidak!""Oh~ Jadi begitu ya? Kulaporin ke Kayato ah, nanti," ucapku, ikut menggoda Kayaka. Ya, daripada bosan."Rin! Tidak seperti itu, kok!" balas Kayaka makin keras kepala."Masak sih? Memangnya kau tidak rindu main game lagi dengannya?" tanyaku."Daripada dengan Kak Kayato, lebih baik dengan Light," ucap Kayaka.Sontak, perkataannya membuat seisi kamar kami menjadi hening."Hah? Dengan Light? Kenapa?" Ryuko bertanya dengan agak antusias.Sedangkan aku, alih-alih mengganggu Kayaka lagi, aku malah merinding ngeri karena secara otomatis membayangkan petir yang menyambar keras dan halilintar di atas awan."Soalnya sudah bosan main game dengan Kak Kayato. Strateginya sama saja dari zaman dahulu kala. Sudah bisa ditebak, sangat membosankan," jelas Kayaka."Oh, kau membicarakan soal bermain game, rupanya." Mendadak antusiasme Ryuko memadam tanpa sebab."Kau bicara begitu, padahal walaupun sudah tahu taktik Kayato, kau tetap kalah setiap bermain dengannya," sahutku."Rin kan tidak pernah main game dengan Kak Kayato, mana ngertii." Kayaka berpendapat."Aku memang hanya suka melihat orang main game," timpalku pendek."Oh ya? Aku juga begitu." Ternyata Ryuko seperjuangan denganku."Hm, kalau aku, daripada menonton orang, lebih suka mengerjakannya langsung," sahut Kayaka."Ya, karena itulah dia tidak pernah betah di bioskop," sambungku."Hmm...."Kamar kembali hening. Ryuko akhirnya memutuskan untuk memainkan gadgetnya--pilihan paling baik yang sebenarnya hampir kami lupakan keberadaannya.Jangan lupakan bahwa kami sebagai manusia semi-penyihir mengemban tugas berat di pagi sampai sore hari untuk bersekolah dan malam hari sebagai pemburu peri. Tentu saja aku jadi jarang memainkan ponselku. Hanya saja, belakangan ini semenjak maraknya virus itu, aku dan ponselku seperti tak terpisahkan. Tampaknya yang lain juga signifikan terkena dampak yang serupa."Wah. Mai dan Nai sedang memasak bersama." Ryuko memperlihatkan hasil masakan mereka dari salah satu sosial media."Eh? Kalian berteman di sosial media?" tanyaku."Mai mencari akun Reina, lalu mengikuti yang diikuti Reina satu persatu," jelas Ryuko."Rin, kau juga di follow , tuh." Kayaka memperlihatkanku ponselnya. Entah kapan dia mulai membuka ponselnya."Hah? Aku tidak menyadarinya." Aku malah ikut-ikutan membuka sosial media untuk mengonfirmasi perkataan Kayaka.Sugihara Mayaka."Ohh! Dia pakai nama aslinya! Pantas saja aku tidak mengenalinya!""Memangnya kau berharap dia memakai nama penyihirnya untuk sosial media?" tanya Kayaka dengan tatapan datar."Rainna memakai nama penyihirnya, tuh," kataku."Itu karena Rainna tidak ingin kita semua kena masalah, kalau dia menggunakan akun selebritinya untuk mengikuti kita semua. Bisa-bisa, semua geger setiap hal yang berhubungan dengan sekolah Rainna," ucap Kayaka."Iya, Reina hanya tidak ingin kita kena masalah. Kalian masih ingat dengan nasib papparazi malang yang menyelinap masuk ke dalam Gakuen Sora?" Ryuko bertanya.Tentu saja aku masih ingat bagaimana nasibnya. Beragam, mulai dari ilusi memutar yang sama dengan kejadian yang kualami ketika menolak mendatangi Gakuen Sora, sampai akhirnya pingsan karena melihat pohon-pohon berlari mengejarnya dengan akar panjang mereka.Dia datang diwaktu yang sangat tidak tepat, pagi buta ketika Ryuko membangunkan bunga. Dan karena itu, Ryuko harus membangunkan Kayaka untuk membantunya menghilangkan ingatan papparazi itu. Waktu kejadian itu, aku masih tertidur pulas, tak tahu menahu apa yang terjadi di bawah sana."Hmm, kurasa keputusan Rainna membuat akun kedua sangat bijaksana," komentar Kayaka.Aku tidak pernah benar-benar melihat Kayaka berbicara dengan Rainna. Kayaka sebenarnya tidak akan masalah berteman dengan Rainna, begitupun sebaliknya. Tetapi dari yang kulihat selama ini, mereka hanya jarang mengobrol karena minimnya kesamaan mereka. Namun, tanpa kuketahui, rupanya Kayaka dan Rainna sudah saling mengenal."Ngomong-ngomong, Mai dan Nai sudah SMP 3. Itu artinya mereka akan ke sini tahun depan," ucap Ryuko."Hah? Mereka berdua masih SMP?!" tanyaku tidak percaya."Rin, ingat. Kau sendiri juga baru lulus SMP tahun lalu," peringat Kayaka."Bukan begitu! Maksudku, Nai sangat dewasa, tahu! Kukira dia lebih tua dariku atau paling tidak seumuranku," jelasku."Hm, aku pernah berbicara dengan Nai waktu di Blackmix, tapi tidak terlalu dekat dengannya. Ya, dia cukup dewasa, sih." Kayaka sependapat denganku."Wah! Mereka memakai seragam SMP favorit di Tokyo! Mereka pasti sangat pintar," kagum Ryuko."Ya, pernah favorit, sampai akhirnya Gakuen Sora muncul dari tanah dan merebut titel itu," balasku. Sampai hari ini, aku tidak pernah setuju dengan hal itu."Hmm ...."Hening kembali."Orang-orang jadi pemalas ya, karena kondisi ini," ucapku."Tidak juga, banyak kok, yang mencoba produktif dari rumah." Kayaka tiba-tiba menoleh tajam ke arahku, sekolah baru saja mengingat sesuatu. "Eh, Rin, ngomong-ngomong, kita jadi tidak berkeliling dengan pakaian astronot?""Hah? Kau masih ingin melakukannya?!" tanyaku tidak percaya.Ryuko hanya tertawa pelan mendengar percakapan kami.***#DiAsramaAja , karena Piya dkk tidak bisa pulang ke rumah masing-masing.Ini kira-kira 1300-an kata, untuk menutup kerinduan kalian terhadap Piya dkk.Semoga segera mereda dan membaik. Stay safe and please stay at home!

150 Hari
Fantasy
10 Jan 2026

150 Hari

Hari ini bertepatan dengan 150 hari, sejak kejadian itu.Dan aku masih sama seperti yang sudah-sudah, mengurung diri di dalam kamar kosanku yang berukuran 2x3 meter.Sedikit pun, aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan melakukan hal seperti ini. Hanya berdiam diri di kamar kosan-ku, sesekali melihat isi ponselku tentang kabar yang sama, tapi yang paling kuingat adalah tiduran dan memandang langit-langit.Tidak melakukan apapun, hanya diam.Tidak lagi pergi ke kampus, tidak perlu lagi pusing memikirkan revisian skripsiku yang belum berakhir.Tidak lagi pergi ke tempat kerja part time -ku sebagai kasir di salah satu minimarket.Masih rebahan seperti yang telah kujelaskan tadi, selanjutnya yang kudapati adalah chat dari ibu kos di grup Whatsapp yang isinya seperti ini:Sdh wktunya b yr kosVia tf atau plsaHRS BYR / KLUAR!Aku mengerutkan keningku dalam-dalam. Dasar Ibu kos tidak tahu belas kasihan. Iblis! Tidak berperikemanusiaan!Nyatanya, aku yakin semua anggota yang ada di grup alias semua penghuni kosan juga sedang merutuk sang Ibu kos.Namun nyatanya pesan dari ibu kos hanya jadi pajangan belaka.Tidak ada yang merespons sekali pun aku melihat beberapa orang tampak sedang mengetik, lalu mengurung niat.Selanjutnya, chat dari Nia--tetangga kosan sekaligus teman kampus--pun datang.Ada pulsa ga?Kuputuskan untuk tidak menekan pesan itu agar tidak ada dua centang biru. Kuabaikan kenyataan bahwa Nia bisa melihat jam online-ku.Rasanya, aku semakin penutup saja ....Telepon dari Bapak mengejutkanku. Dengan buru-buru, kuangkat dan menyusun kata-kata untuk menjelaskan situasiku kepadanya."Halo. Siang, Bapak. Gimana keadaan di sana?" tanyaku." Ini HP Bapak udah sekarat betul. Batere-nya sudah mau habis. Kamu kapan pulang, Nak ?"Aku menelan ludahku tertahan, "Listriknya masih mati, Pak?" tanyaku yang sengaja mengalihkan topik.Walau Bapak sudah menjelaskan bahwa baterai ponselnya sudah nyaris mati, tapi aku tahu persis bahwa ponsel ayah yang jadul itu masih awet sampai dua atau tiga hari lagi. Tentu saja berbeda dengan ponsel pintarku." Iya, sejak sebulan yang lalu. Bensin motor Bapak juga sudah habis, jadi tidak bisa transfer uang dari ATM ." Bapak menjelaskan dengan pelan. " Kamu gimana di sana, Nak ?""Masih ada listrik, Pak. Soalnya kosan sini listriknya ngisi pakai token," jelasku, meski tahu Bapak mungkin tidak mengerti maksudnya. "Tapi, listrik hanya dinyalain setengah jam tiap hari. Buat nge-charge HP."Bapak kedengaran lega, " Kalau gitu, kamu masih bisa dihubungin kan ya? Kamu kan punya dua HP. Nanti kalau sudah ada listrik lagi, Bapak telepon ya .""Uh ... Ya," jawabku berusaha terdengar yakin." Kamu makannya masih teratur kan, ya ?" tanya Bapak."Masih, Pak. Makan dua kali sehari."" Jangan sampai sakit ...""Iya, Pak."" Kalau gitu Bapak tutup dulu teleponnya, ya. Bapak mau telepon adikmu juga .""Bapak!" panggilku, mencegah Bapak menutup telepon. "Jaga kesehatan."" Iya, kamu juga. Nanti Bapak telepon lagi .""Iya."Telepon Bapak ditutup. Aku masih berbaring menatap langit-langit.Hari ini bertepatan lima bulan sejak kejadian itu.Sejak penyebaran virus itu.Bermula di satu negara maju, virus itu menyebar dengan sangat cepat. Untuk sumber penyebab munculnya virus masih belum diidentifikasi. Aku masih terus mencari tahu.Selama dua bulan sejak virus itu muncul, penyebaran virus terjadi sangat cepat di wilayah sumber. Lalu, menjangkit orang-orang melarikan diri ke benua Asia Tenggara.Padahal sudah ada pengumuman bahaya soal virus ini. Bahkan orang-orang yang berasal dari negara tersebut dan juga turisnya, diperiksa rutin untuk mempelajari virus tersebut.Namun semuanya tetap menyebar cepat.Awalnya semuanya baik-baik saja, sampai virus itu mulai menyebar di pulau-pulau terluar di Indonesia, lalu menyebar cepat pula di pulau-pulau besar lainnya.Ada beberapa kebohongan yang tidak kuceritakan kepada Bapak.Bulan kemarin, aku menukar salah satu ponselku untuk stok beberapa bungkus mie instan.Tapi kini stok makananku benar-benar habis sejak tiga hari yang lalu.Untungnya toilet ada di dalam kamarku, jadi aku bisa meminum air keran untuk mencegah dehidrasi.Tidak ada satu pun dari orang-orang di kosan yang keluar masuk dengan bebas. Begitu pun orang-orang di luar sana.Terakhir, sebelum aku menutup jendelaku dengan lakban, aku bisa melihat betapa jalan besar menuju kampusku itu kosong melompong.Uang cicilan kuliahku sudah kupakai untuk melakukan transfer via internet banking untuk ibu kos bulan lalu. Aku mengatakan dia tidak berperikemanusiaan karena dia menaikkan tarif hampir 50%. Benar-benar iblis!Lalu kebohongan lainku ....Aku tidak menjelaskan apapun soal adikku.Tiga hari yang lalu, dia mengirim pulsa dan transfer yang agak janggal.Tapi saat menghubunginya, dia tidak pernah lagi mengangkat ponselnya.Aku ... Tidak ingin berprasangka buruk atas apa yang terjadi. Kuharap dia baik-baik saja.Lalu,Sebenarnya aku sangat ingin pulang ke kampung halamanku.Aku tidak mungkin mau bertahan di kosan harga bintang lima ini jika jarak kampung halamanku dan tempat ini tidak jauh.Aku jadi menyesal karena memutuskan merantau.Kini stok makanan habis, hanya sisa transferan dari adikku yang bahkan aku tidak tahu apakah boleh kugunakan atau tidak.Kembali kuratapi langit-langit kamarku.Entahlah, apakah aku masih akan hidup besok?***Entah kenapa, aku kepikiran terus.Jadi akhirnya jadilah cerpen ini, walau absurd setengah mati.

Hurt
Teen
10 Jan 2026

Hurt

Sekitar tiga tahun yang lalu. Bertepatan dengan hari terakhir ujian nasional dilangsungkan. Syafira Putri Angelista sudah siap dengan pakaian putih birunya tidak lupa kerudung putih sebagai peutup auratnya. Dengan pikiran kalut jikalau nanti ia tidak bisa mengerjakan nya bagaimana? Namun dengan tekad yang kuat mengalahkan perasaan kalut yang hinggap di otak cantiknya. Dengan riangnya ia keluar dari kamarnya sambil menenteng tas dipundaknya dan memegang satu buku yang berada Didekapannya.Matanya tiba-tiba berbinar melihat makanan yang tersaji dengan rapih di meja makan, coba saja ia masih mempunyai waktu yang lebih dengan senang hati ia akan menghabiskan makanan itu. Rasanya waktu seakan tidak bisa memberikan ketenangan untuknya. Mengehela nafasnya sejenak. Kaki nya mulai melangkah mendekati ke dua orang tuanya."Pagi," sapanya."Too sayang," ucap serentak kedua orang tuanya."Aku langsung berangkat ya, Nanti sarapannya di sekolah aja bareng Tasya." Syafira mencoba menjelaskan, ia sebenenya merasa bersalah karena tidak menghargai Mamanya."Gapapa ko sayang." Rania, mamanya mengelus kepala Syafira."Yaudah aku berangkat," ucap nya sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya."Hati-hati nak semoga segala urusan mu Dimudahkan oleh Allah Swt." Riko, papanya mengecup kening Syafira dengan lembut."Amin, Assalamualaikum." Syafira Melangkahkan kaki nya keluar rumah."Waalaikumsalam," jawab kedua orang tuanya.Setibanya di kelas 9i suasana sudah sangat ramai untung saja ia tidak telat bisa celaka nantinya.Syafira menghampiri Tasya putri Salah satu sahabat yang sangat baik dan selalu ada untuk nya.Sambil menunggu Bel masuk mereka habisnya waktu nya untuk mengobrol seputar pelajaran.Perasaan penat, pusing bercampur menjadi satu ujian sudah berlangsung sejak 45 menit yang lalu masih ada waktu 15 menit untuk mereka mengerjakan nya.Ujian nasional telah selesai dilangsungkan semua nya segera berucap syukur ada senang nya karena mereka akan menempuh sekolah menengah atas namun ada sedih nya karena harus berpisah dengan teman-teman yang sudah bersama selama 3 tahun."Syafira semoga lo kedepan nya jadi lebih baik dan bisa langgeng sama si kapten basket," ucap Tasya."Amin lo juga ya, terimakasih Tasya udah jadi sahabat terbaik gue, btw si kapten basket itu Arsya Putra fernando, Tasya," ucap syafira gregetan selalu saja Tasya menyebut nya tanpa embel-embel Nama."Sabodolah yang penting eta weh.""Huft yaudah gue mau ke Arsya dulu ya." Tanpa menunggu jawaban sahabat nya ia melenggang pergi menuju kekasih nya.Mata nya menangkap sosok cowok yang sedang tertawa bebas bersama teman-teman nya. Syafira mulai Mendakati sang kekasih."Arsya," panggilnya.Semua teman-teman arsya pergi meninggalkan dua sejoli yang sedang dilanda kasmaran."Hai sini duduk." Arsya menepuk-nepuk kursi yang tepat disamping nya."Eh iya." Syafira pun duduk seraya menatap muka tampan yang status nya menjadi kekasih nya."Aku tau aku tampan tapi jangan diliatin mulu sayang." Arsya mengusap wajah Syafira yang membuat si empu merasa malu."Ihkk kamu mah," rajuk Syafira."Uluhh pacar aku lagi ngambek nih." Dengan gerakan cepat Arsya memeluk Syafira.Waktu singkat mereka habis kan untuk mengobrol bersama serasa dunia milik berdua yang lain cuman ngontrak."Gue yang duluan suka sama lo, kenapa harus sahabat gue yang dapetin sial!" ucap seseorang yang masih menatap dua sepasang kekasih yang nampak sangat bahagia.Sepulang sekolah Syafira menghabiskan waktu nya dikamar saja rasanya ia sangat lelah dan memutuskan untuk tidur.Dilain sisi dua sosok laki-laki dilanda kerisauan antara bingung mempertahankan atau mengikhlaskan."Lo tau kan gue duluan yang suka sama syafira,tapi kenapa dengan jahatnya lo ambil dia dari gue," ucap Alfian sandres." Iya gue tau tapi gue sangat cinta sama Syafira dan gak mungkin gue lepasin dia buat Sahabat gue, mengertilah Alfian."Dengan susah payah Arsya menjelaskan namun Alfian enggan mendengarkan apakah harus Arsya mengalah namun ia pasti yakin Syafira akan marah padanya."Gue gak perduli. Cih! ternyata lo sahabat yang suka nya nusuk dari belakang ya.""Stop Alfian gue buka orang kayak gitu.""Oke gue akan mengikhlaskan Syafira buat lo," lanjutnya.Malam telah tiba. Bulan menerangi langit menggantikan matahari untuk sejenak. Tidak lupa bintang yang bertaburan sebagai pelengkap. Syafira Putri Angelista kini tengah bersiap-bersiap menemui sosok yang sangat ia cintai setelah ayahnya. Tanpa berlama-lama lagi ia sudah siap, entah mengapa perasaan takut hinggap dihatinya. Pikiran kalut seakan-akan menerornya. Pasokan udara sekaan menipis dan hawa dingin menyelimuti raganya. Syafira menghela nafasnya saat matanya bertemu dengan sosok cowok bertubuh tinggi yang sedang membelakanginya."Arsya," panggil Syafira, merasa namanya terpanggil cowok itu memutar balik tubuhnya menghadap Syafira."Ada yang ingin ku sampaikan," ucap Arsya."Baiklah"."Syafira Putri Angelista maaf dengan ini Arsya Putra Fernando harus memutuskan hubungan kita secara sepihak".Bagai tersambar petir di siang bolong, Syafira nampak terkejut akan ucapan kekasihnya."Kenapa harus putus?" tanya Syafira dengan suara serak menahan tangis."Sahabatku mencintaimu, dan aku akan melepaskan mu untuk nya. Kumohon terimalah ia dan berikan hati mu untuk nya"."Kau egois Arsya apa kau pernah mementingkan perasaanku? Aku tau Alfian suka padaku, apa kau tega menumbalkan perasaan ku untuknya?""Sejauh apapun kau memaksaku, jika hatiku berpihak padamu, aku tidak bisa berbuat apa-apa.""Untuk apa kita putus, jika kita saling mencintai?"Syafira pergi dengan perasaan hancur berkeping-keping kisah cintanya harus kandas dengan cara seperti ini. Menangis dan berteriak sekencangnya adalah hal tak terduga yang berasal dari dirinya.Taman awal tempat kisah cinta berlabuh kini terasa menyeramkan untuk syafira awal kesedihan dah kepedihan bersatu dan menjadi tempat bersejarah saat mengenang dia.Mencintaimu adalah Anugerah terindahMemilikimu adalah bonus tuhan tersembunyi.Jika tidak bisa bersama,mengapa kamu menawarkan hati ini untuk orang lain.Perasaan bukan lah ajang bergengsi, jika mencintai mu aku bahagia mengapa kamu menawarkan hati yang baru untuk singgah. Cinta memang aneh datang dengan proses dan pergi begitu saja.[ E N D ]

Wanita Simpanan CEO
Romance
09 Jan 2026

Wanita Simpanan CEO

Semua karyawan kantor berbaris dan menunduk kala sang CEO yang baru saja menggantikan sang Ayah yang pensiun dan mengemban tandu kepemimpinan, dia adalah Reymond Admaja seorang lelaki tampan dan angkuh yang baru saja lulus S2 dan langsung menggantikan ayahnya tuan Riyan Admaja.Sang CEO baru lewat namun semua karyawan tak ada yang bisa memperhatikan ketampanannya karena semua diharuskan menunduk dan sang pimpinan hanya lewat begitu saja tanpa membalas ataupun tersenyum sedikitpun dan hanya memberikan tatapan datar.Setelah sang CEO lewat semua karyawan kembali ketempat kerja dan melanjutkan aktifitas masing-masing termasuk Dina yang telah bekerja sebagai resepsionis selama 2 tahun.Hari-hari ia lalui seperti biasa namun yang membedakan hari ini dengan hari biasanya adalah ia memiliki pemimpin perusahaan baru namun itu tak membuat perbedaan baginya selama ia bisa bekerja dan menerima gajinya seperti biasa.Terlihat seorang pengantar makanan menitipkan pesanan untuk sang CEO di meja resepsionisnya, ia menerimanya dan sedari tadi menunggu OB yang lewat untuk memberikan makanan bagi CEO baru namun sekalinya lewat malah bilang jika tidak berani karena sedari pagi sang CEO marah-marah karena kondisi kantor yang katanya masih sangat kotor."Ini anterin dong pak masak saya sendiri yang anterin kan saya harus jaga". Dina menyodorkan makanan tersebut agar segera diantar namun sang OB malah terlihat ragu." Maaf ya mbak bukannya nggak mau tapi saya takut beneran soalnya itu bos killernya minta ampun, tadi pagi aja udah 3 temen saya yang di pecat gara-gara nggak bisa bersihin ruangannya padahal itu ruangan udah bersih banget". tuturnya dan melangkah mundur."sekali lagi maaf mbak".Dina menghembuskan nafas kasar seraya melihati makanan tersebut yang pastinya sudah dingin, " Udah Dina kamu aja yang anterin biar aku yang jaga".Dina melihat Ikha yang malah cengengesan, ini sama saja menyuruh Dina masuk ke dalam kandang macan."Yaudah deh aku anterin dulu ya". Karena tidak ada OB yang mau akhirnya ia memutuskan untuk mengantarkan makanan itu sendiri sebelumnya ia menitipkan pekerjaan ke temannya.Tentu saja ia memiliki ketakutan tapi CEO juga seorang manusia kan, jadi harusnya tak ada yang perlu di takuti paling nanti hukuman paling berat yang ia dapat adalah di pecat.Ia menaiki lift ke lantai tertinggi di perusahaan dan terlihat meja sekertaris yang kosong padahal ia ingin menitipkan saja ke sekertarisnya, dengan dengusan ia mengetok pintu sang CEO."Masuk" terdengar seseorang mempersilakan masuk dan saat memasuki ruangan itu untuk pertama kali dilihatnya ruangan yang amat luas dengan hanya 1 meja kerja dan sofa yang mungkin untuk menerima tamu."ada apa ?" tanyanya membuat kekaguman Dina terhadap ruangan terganggu. "ini makanan yang anda pesan pak" sambil meletakkan makanan dan hendak pergi namun suara dari belakang menghentikan langkahnya."Dari tadi saya menunggu makanan itu dan baru sekarang sampai apa kamu tidak tau jika saya sangat menghargai waktu ?!". sambil mengetik di komputer. " maaf pak tapi dari tadi tidak ada OB yang bisa dititipi dan lift penuh"."Berani kamu menjawab dan membuat alasan saya". sambil melihat Dina."maaf pak tapi saya hanya mengatakan yang sebenarnya". mendengar hal itu membuat pak Raymond menjadi naik pitam dan melihat tulisan di name tag yang tertera di blayzer bertuliskan "Resepsionis Dina Puspita" dengan segera Pak Reymond membentak Dina dan menyuruhnya keluar.Pak Reymond mengambil HP dari mejanya dan menghubungi sekertarisnya untuk meminta CV dari pihak HRD atas nama Dina Puspita bagian Resepsionis. Pak Reymond ingin menyelidiki Dina mengapa dia sangat berani menjawab semua perkataannya.Sang sekertaris memberikan informasi ke CEO dan langsung keluar ruangan karena ia tidak ingin menjadi pelampiasan bosnya yang sangat ketara sekali sedang marah. Dilihat dan diteliti setiap informasi dari Dina namun tanpa ia sangka ada satu hal yang membuatnya terkejut yaitu nama SMP dan tahun lulusnya yang ternyata sama persis dengan Dina.Ia mengingat ingat lagi dan terus menyebut nama Dina Puspita di dalam fikirannya dan teringat bahwa Dina Puspita adalah temannya 1 SMP di kelas 3.Saat Jam kantor sudah selesai Pak Raymond memerintahkan sekertarisnya agar Dina datang keruangannya. Dina yang mendengar itu mendengus kesal namun dalam hati ia berharap agar hanya dimarahi saja dan tidak dipecat. Dina tau jika pimpinannya tadi siang sangat marah juga kesal dengannya tapi tak menyangka jika ia akan dipanggil pada jam pulang.Dina sudah ada di depan pintu dan setelah masuk ruangan pak Reymond mempersilakan duduk di sofa ruangan begitu juga dengan pak Reymond yang duduk diseberang meja. Mereka berdua masih saling diam dan terlihat pak Reymond sedang menahan tawanya, namun akhirnya ia bersuara juga."apa kau tidak ingat aku ?" ucap pak Reymond sambil menahan tawa membuat Dina menyernyit bingung." siapa ?". Dina melihati pak Reymond dan mencoba berfikir memangnya ia pernah punya kenalan seorang bos sepertinya tidak." aku Rey yang satu sekolah denganmu saat SMP dan sekelas saat kelas 3". ucapnya dengan antusias."Oh aku ingat sekarang kau Rey yang waktu itu selalu saja membully dan merebut buku pr-ku lalu menconteknya kan ". Dina dengan lantang mengatakan itu padahal yang saat ini ada di hadapannya adalah bosnya sendiri yang bisa kapan saja memecatnya." ternyata kau masih ingat yang itu, apakah sekarang kau akan balas dendam melihat kau yang sekarang sangat berubah dan kau lebih percaya diri, ngomong-ngomong apa yang membuatmu berubah sampai seperti ini ?". Tak menyangka Dina yang terkenal kampungan dan pendiam saat sekolah kini malah berubah drastis."yah kau tau sendiri jika aku dulu pendiam dan sering ditindas maka dari itu aku berubah agar tidak ditindas lagi, apakah sangat terlihat perubahanku ?". Dina memang berusaha berubah lebih percaya diri karena ia sudah lelah di tindas dan di bully apalagi hidup mengajarkannya untuk lebih berani." yah kau lebih percaya diri dan juga lebih cantik ". ucapnya dengan nada lembut.Reymond dan Dina terus membicarakan mengenai masa lalu membuat mereka asyik dengan dunianya dan melupakan jika hari sudah gelap. Mereka menghentikan obrolannya dan pulang, Rey menawarkan untuk mengantarkan Dina, ia sempat ragu dengan tawaran itu tapi akhirnya ia terima juga karena hari yang sudah gelap dan tentu transportasi umum susah ia dapat.Hari ini Rey sangat jenuh lantaran di kantor ada saja perkejaan untuknya yang seakan menumpuk minta di kerjakan, bahkan sudah jam 8 malam baru ia selesai. Membuatnya kelaparan namun ia tak ingin makan di rumah yang ada nanti papanya menanyakan tentang pekerjaan lagi dan lagi makanya ia ingin makan di luar namun tak ingin pergi sendiri.namun mengajak siapa ?, ia bahkan tak punya teman yang benar-benar tulus kepadanya dan yang ada nanti saat makan malah membicarakan tentang pekerjaan lagi, ia jadi teringat akan seseorang.Rey mengambil hp dan menghubungi nomor orang tersebut dan tak lama tersambung.Rey. : Hallo apa kau sudah pulang ?Dina :Belum kenapa ?Rey : Mau makan bersama, aku yang traktirDina. : BaiklahRey.  :Tunggu ku di depan aku akan ambil mobil duluRey mematikan telfonnya dan segera ke parkiran untuk mengambil mobil. Dan di depan lobi terlihat Dina sudah menunggunya, ia menurunkan kaca mobil dan menghidupkan klakson untuk memanggil Dina.Dina melihat sekitar terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam milik bosnya itu, tak menyangka jika sang atasan akan mengajaknya makan, atau lebih tepatnya teman yang dulu suka membullynya."Apa kau yakin mengajakku makan ? jika karyawan yang lain tau memangnya kau tidak malu ?". Tanyanya ketika sudah di dalam mobil namun terlihat Rey malah tersenyum miring." Tidak apa-apa lagi pula yang lain sudah pulang, aku malah yang penasaran kenapa kau mau makan denganku ? kau tidak takut jadi bahan pembicaraan orang ?". Dina tersenyum tipis, tidak menyangka akan mendapat pertanyaan itu."Kita tidak bisa membungkam mulut orang kan, padahal kita tidak melakukan suatu kesalahan tapi orang tetap suka membicarakan urusan orang lain". di sela menyetirnya Rey melirik Dina yang tengah melihat jendela.Ia cukup kagum sekarang cara pemikiran Dina berbeda dengan terakhir mereka bertemu, Dina yang sekarang berani menjawab pertanyaannya bahkan tak takut padanya padahal ia sekarang adalah CEO.Setelah selesai makan Rey mengantarkan Dina pulang, karena hari juga sudah terlalu larut. Tak lupa ucapan terima kasih Dina berikan karena sudah mentraktir dan mengantarkannya pulang.*******Rey sesekali mengajak Dina untuk sekedar jalan berdua karena keduanya merasa nyaman hingga tak sadar ada sekedar perasaan yang lebih dari sekedar teman. Perasaan saling ingin melindungi, menyayangi dan sampai pada mencintai." Dina maukah kau jadi pacarku ?". Dina langsung menatap Rey dengan tatapan tak percaya jika ia baru saja di tembak."Apa kau tadi menyatakan perasaanmu ?". Terlihat Rey tersenyum dan tak hanya itu Rey bahkan menggenggam tangan Dina dan menciumnya." Kau mau apa tidak, kalau tidak kau ku pecat ". Dina menaikkan satu alisnya, tak menyangka jika pernyataan cinta Rey di selingi ancaman tapi itu tak membuatnya terkejut mengingat bagaimana dulu perlakuan Rey padanya." Kau sebenarnya suka padaku atau cuma mau aku jadi pacarmu ? yang benar saja jika aku menolak maka kau memecatku kalau begitu pecat saja aku".Terlihat raut wajah tak senang ketika Dina malah lebih memilih di pecat ketimbang menerima perasaanya, memangnya Rey kurang apa hingga Dina menolaknya."Kau wanita pertama yag menolakku apa kau tau itu ?". Dina mengangguk dan itu malah semakin membuat Rey tak faham juga kesal.Dina sudah mengira Rey tidak pernah di tolak wanita sebelumnya karena caranya menyatakan cinta saja ada ancamannya kalau di tolak, maka ia ingin sedikit bermain-main dengan Rey." Jika kau hanya ingin memilikiku dan ingin mendapatkanku karena ancaman maka aku tidak mau tapi jika kau benar-benar mencintaiku maka aku mau jadi pacarmu". Rey tertawa tak mengerti dengan jalan fikiran perempuan."Aku ingin memilikimu karena aku mencintaimu jadi aku anggap kita sekarang pacaran". Tak sempat Dina mengatakan apapun untuk membalas perkataan Rey tapi Rey malah terlebih dulu menciumnya hingga membuatnya terdiam sejenak dan menyentuh bibirnya yang di cium Rey." Kenapa diam begitu jangan bilang jika kau tidak pernah ciuman sebelumnya ?". Rey melihat bagaimana ekspresi Dina yang nampak menahan malu dan itu membuatnya tau jika memang Dina tak ada pengalaman dalam ciuman.Dalam hati ia jadi senang karena tak hanya mendapatkan Dina tapi juga kepolosannya, atau lebih tepatnya kepolosan Dina sedikit ternodai olehnya.*********Sesekali Rey menyuruh sekertarisnya untuk membelikannya sesuatu atau sengaja menyuruhnya keluar kantor hanya agar Dina bisa leluasa masuk ruangannya untuk ia melepas rindu begitu juga Dina yang kadang alasan ke teman kerjanya ingin ke toilet padahal ingin menemui Rey.Rey berfikir bagaimana ia agar lebih leluasa bertemu dengan Dina dan agar orang lain tak bisa mengganggu mereka. Terlintas difikiran Rey untuk membelikan sebuah apartemen untuk Dina agar Rey bisa bebas berkunjung dan melepas rindu padahal setiap hari dikantor mereka bertemu walau saat mereka berpapasan mereka akan pura-pura saling tidak kenal.Saat pulang Rey mengajak Dina kesuatu tempat yang sebelumnya Dina tidak tau dan tidak dikasih tau, hingga tibalah mereka disalah satu apartemen yang cukup mewah."Rey ini apartemen siapa ?". tanyanya saat sudah masuk ke apartemen yang mewah."bagaimana baguskan sayang, ini adalah tempat tinggalmu sekarang". Dina yang tengah mengagumi keindahan dan kemewahan apartemen itu jadi berbalik ke arah Rey dan melihat Rey dengan rasa tidak percaya."apa Rey ini terlalu berlebihan". Dina merasa apa yang di lakukan oleh Rey terlalu berlebihan mengingat mereka hanya pacaran dan belum menikah."tidak ada yang berlebihan untuk kekasihku, ini adalah untukmu sayang, dan agar aku bisa leluasa berkunjung". Tuturnya walau begitu Dina masih merasa tidak enak menerima pemberian Rey."tapi ini__""sudahlah terima ya, kalau kau tidak mau berarti kau tidak menghargaiku". Dina menyerah karena tak bisa lagi menolak apalagi Rey bukan lelaki yang akan menerima penolakan."baiklah terima kasih aku mencintaimu"."aku lebih mencintaimu sayang".Setiap hari Rey sudah tidak pernah lagi bertemu Dina diruangannya karena Dina takut akan ketahuan karyawan kantor yang lain dan sebagai gantinya mereka bertemu di apartemen yang dibelikan Rey dan Rey seringkali menginap disana pada akhir pekan, Dina menyetujui Rey menginap namun dia tidak membiarkan Rey satu ranjang dengannya.Rey setuju dan tidur dikamar yang lain karena apartemen itu mempunyai dua kamar. Sebenarnya Rey merutuki dirinya sendiri dengan membeli apartemen yang mempunyai dua kamar seharusnya ia membeli apartemen yang hanya mempunyai satu kamar saja, agar ia dan Dina bisa tidur satu ranjang.Rey membuka pintu kamarnya dan tetlihat Dina yang sedang memasak dengan dres rumahan yang panjanganya sedikit diatas lutut juga celemek yang terpasang ditubuhnya membuat Rey menelan ludah, padahal pakaian yang di kenakan Dina adalah pakaian santai namun terlihat amat seksi dan menggoda di mata Rey.Dina berbalik melihat Rey dan menyuruhnya agar sarapan bersama. Bukannya ikut sarapan Rey malah berbalik masuk kekamar dan menutup pintu karena merasa sesuatu di bawah sana sudah tegak. sementara Dina yang melihat reaksi Rey saat diajak sarapan bersama malah bingung dan memikirkan ucapannya yang dirasa tidak ada salah.Rey mengguyur seluruh tubuhnya dibawah shower yang mengalir deras, bersarap adik kecilnya segera tidur kembali karena jika tidak mungkin sekarang Rey akan menerkam Dina dan membuat Dina begitu benci kepadanya juga meminta putus.Setelah adik kecil Rey tidur kembali, ia langsung bergabung dengan Dina yang sudah ada di meja makan, juga mengatakan kepada Dina agar tidak memakai pakaian yang kekurangan bahan dirumah apalagi diluar.Dina merasa aneh dengan kata-kata Rey padahal ia tidak merasa menggunakan pakaian yang kekurangan bahan, namun ia menurut ucapan Rey karena tak mau membuat Rey marah padanya apalagi bertengkar.Hubungan mereka sudah berlangsung selama 5 bulan dan aktifitas mereka masih sama yaitu bekerja dikantor pura-pura tidak saling kenal, berjalan-jalan di akhir pekan ke tempat yang sekiranya jauh dan tak ada orang yang mengenali mereka, tapi bertemu dengan leluasa saat ada di apartemen dan mencurahkan segala rindu yang ada. Walaupun Dina juga iri kepada orang lain yang saling mencinntai dan mempublikasikan kepada orang-orang.Namun dengan segera ia buang jauh-jauh pemikiran itu karena ia tau kastanya dan kasta Rey yang teramat berbeda jauh bagaikan bumi dan langit, walau begitu pasti suatu hari ia dan Rey bisa bersama, sekarang saja ia sangat bersyukur dengan rasa cinta dan kasih sayang yang Rey berikan.Tak jarang Rey membelikan barang-barang mewah dan branded dengan stok terbatas. Sebenarnya Dina selalu berusaha menolak tapi Rey selalu bilang jika ia tak menghargai perasaan Rey kalau menolak pemberian Rey jadi mau tak mau Dina terima walau ia sering berbohong teman kerjannya.Seperti tadi pagi saat Dina memakai sepatu pemberian Rey dan berbohong kepada temannya saat bertanya dan menjawab jika sepatu yang ia pakai adalah sepatu kw super namun bergarga murah, dan temannya yang mendengarnya percaya begitu saja tapi ada juga yang menanyakan tempat Dina membeli sepatu itu sementara Dina tetap berbohong karena tempat Rey membelikannya sepatu saja ia tidak tau.Dina yang lebih dulu pulang karena jam kerjanya telah usai meninggalkan Rey dengan segudang pekerjaan yang membuat lelaki itu lembur, tak lupa Dina mengirim pesan pemberitahuan untuk pulang lebih dulu padahal Rey bilang kalau ia akan menginap di apartemen dan pulang bersama namun apa mau dikata kalau pekerjaannya harus lebih dahulu Rey selesaikan.Dina sudah berada di apartemen dan langsung memasak karena Rey yang sudah janji untuk menginap dan pastinya akan makan di apartemen, setelah lama didapur membuat badan Dina lengket bahkan aroma masakannya kini beralih ke tubuhnya.Aliran air shower mengguyur seluruh tubuhnya tak lupa ia menggunakan sabun aroma lavender dan jasmin yang membuat tubuhnya harum dan wangi. Dilain sisi Rey sudah masuk ke apartemen karena ia memegang kunci sendiri jadi tak butuh Dina untuk membukakan pintu.Rey masuk dan tak melihat Dina dimanapun membuat Rey mencari dan menghubungi nomor Dina. Suara nada dering HP Dina terdengar dan membuat Rey mengikuti sumber suara itu. Ternyata HP Dina terletak di atas meja kamar Dina namun yang punya masih belum ketemu.CeklekPintu kamar mandi terbuka membuat Rey melihat Dina yang baru saja selesai mandi dengan rambut basah tergerai kebawah juga handuk yang melilit tubuhnya dan mengekspos paha mulus Dina membuat Rey menelan ludahnya dan gairahnya bergejolak tak tertahan lagi bahkan adik kecilnya sudah berdiri tegap.Sementara Dina yang melihat Rey ada di kamarnya kaget juga merasa gugup dengan tatapan Rey yang melihat Dina dari ujung kaki ke ujung kepala seperti ingin menerkamnya membuat mereka berdua diam dan terasa sekali kecanggungan diantaranya. Dina memutuskan untuk berbalik dan masuk kedalam kamar mandi namun gerakannya terhenti kala kaki Rey lebih cepat menghampiri Dina dan mencegahnya masuk, mereka berdua bertatapan dan terlihat sekali gairah yang berkobar di mata Rey dan langsung mendekatkan bibirnya ke telinga Dina, "aku sudah tak tahan".Dina terkejut mendengar Rey namun sebelum ia bersuara Rey sudah terlebih dahulu mengecup dan melumat bibir Dina lama kelamaan ciuman Rey menjadi ciuman panas yang menuntut bahkan sekarang Rey memasukkan lidahnya dan menakan tengkuk Dina agar lebih dalam berciuman membuat Dina membetontak namun tenaga yang tak sebanding membuat gadis itu menyerah dan mengikuti ciuman Rey bahkan sekarang ia membalas ciumannya.Dirasa Dina sudah tak lagi melawan dan tangan Rey mengarahkan kedua tangan Dina agar melingkar di lehernya. Dina merasakan sesuatu seperti perasaan terhanyut bahkan ia tak sadar jika Rey sudah melepaskan handuk yang melilit ditubuhnya. Rey melepaskan ciuman mereka dan tersenyum lalu ia menggendong dan merebahkan tubuh Dina diatas kasur.Rey melepaskan jasnya juga dasi untuk mengikat tangan Dina. Rey mendekat dan menghirup aroma Dina yang sangat wangi sehabis mandi." emh kau sangat wangi". ucap Rey dikala mencicipi setiap jengkal tubul Dina."Rey aku mohon jangan". Dina merasa jika apa yang mereka berdua lakukan sudah melampaui batas, dan jika ia tak menghentikan Rey sekarang yang ada nanti ia yang menyesal." Rey aku mohon tidak Rey jangan". pinta Dina namun tak juga digubris, tapi Rey sudah terlanjur bergejolak hingga kini harus ia tuntaskan dari pada harus mencari wanita lain untuk menuntaskannya atau malah bermain solo di kamar mandi." Rey hentikan". Pinta Dina"hentikan ? tapi kau begitu menggemaskan sayang". Rey membuat Dina seolah semakin kehilangan kesadarannya dan memaksanya menerima apa yang Rey lakukan."tidak Rey"." jadi tetap tidak ?". Rey tak habis akal ia inhin Dina menjadi miliknya malam ini dan itu harus terjadi, ia tak ingin hanya mendapatkan cinta dari Dina tapi juga semuanya." baiklah". Dina sudah terlihat seperti cacing kepanasan yang menggeliat tak tertahan, semua yang Rey lakukan membuatnya menyerah dengan pertahanan yang selama ini ia lakukan untuk mempertahankan kesuciannya." as you wish honey"."Aaaaargh", tanpa sadar airmata Dina mengalir begitu saja kala pusaka Rey yang besar menembus memasuki tubuhnya membuat rasa sakit juga peris seperti luka yang disiram air jeruk nipis.Tak ada rasa bersalah di dalam diri Rey kala sudah berhasil menembus pertahanan Dina dan yang ada hanyalah rasa puas. Ia mencintai Dina dan ia rasa ia pantas mendapatkan semua yang Dina miliki termasuk mahkotanya Dina.Terlihat Dina sudah lebih dulu tertidur sebelum ia juga akhirnya tumbang di sebelah Dina, rasa puas membuatnya tersenyum senang dan memberikan ciuman di kening sebelum ikut terlelap.Matahari sudah terbit menyaksikan dua insan yang masih terpejam karena kelelahan setelah sama-sama menuntaskan gairah. Dina mengerjapkan mata beberapa kali dan melihat seorang lelaki tidur disampingnya.Lelaki itu begitu tampan bahkan Dina tak bisa menahan untuk tidak menyentuh wajah pria disampingnya. Terlihat pria itu memiliki alis yang tebal juga hidung mancung, setiap bagian dari wajah pria itu sudah Dina sentuh secara lembut agar tak membangunkannya.Dina berusaha untuk bangun namun sekujur tubuhnya terasa sangat sakit apalagi bagian bawahnya. Selimut yang melorot memperlihatkan tubuh polosnya mengingatkan tentang kejadian tadi malam dimana Rey sudah__."Aaaaaaaaaaaargh dasar kau kurang ajar dasar mesum kau teterlaluan Rey". teriak Dina seraya memukulkan bantal ke tubuh juga wajah Rey membuat Rey bangun kesakitan."Aduh aduh hey sayang kenapa kau memukulku". ucapnya Rey sambil berusaha duduk dan menangkis pukulan bantal Dina." kenapa ? harusnya aku yang tanya kenapa kau melakukannya padaku ?". ucapnya dengan marah sambil memukul Rey dengan tangannya."kau lupa kan kau yang memintanya sayang ". ucapnya seraya tersenyum menggoda Dina." itu karena karena argh pokonya kau menyebalkan aku membencimu ". ucap Dina malu saat mengingat kejadian semalam sambil melangkahkan kaki ke kamar mandi. Sedangkan Rey hanya tersenyum melihat Dina yang marah dan malu, iapun melanjutkan tidurnya karena masih lelah dan mengantuk.Dina memasak sarapan untuk mereka berdua dan sesekali gerakannya terhenti bahkan jalannya terlihat kesulitan. Rey duduk di meja makan setelah sebelumnya mandi dan melihat Dina yang jalannya kesusahan membuatnya penasaran." kakimu kenapa ?", tanya Rey saat Dina sudah ikut duduk di meja makan, pertanyaan Rey membuat Dina sebal dibuatnya."ini semua kan karena kau, karena it itu itu itumu ". Dina tergagap dan tak mampu melanjutkan kata-kata karena malu untuk menyebutkannya." karena ituku apa kamu sedang terkena penyakit gagap ya ?". ucap Rey bingung dengan perkataan Dina yang gagap dan tak jelas membuatnya menaikkan sebelah alisnya."karena itumu terlalu besar dan ganas, kau puas sekarang ?" jawab Dina dengan teriak dan marah karena Rey menyebutnya gagap.Rey yang sedang meminum air terkejut dan menyemburkan air di mulutnya seketika Rey tertawa keras tak tertahankan mendengar ucapan Dina yang amat lucu ditelinganya. Sementara Dina yang melihat Rey tertawa terlihat wajah kekesalannya bahkan kini tangannya bersidekap didada juga memalingkan wajahnya."kau tidak bisa jalan karena punyaku yang terlalu besar dan ganas kau bilang ?". Rey sambil berusaha menghentikan tawanya namun bukannya berhenti malah semakin keras membuat Dina beranjak dari duduknya dan meninggalkan Rey yang masih tertawa." Hei tunggu sayang". Rey berhenti tertawa dan dan beranjak mengikuti Dina yang merajuk meninggalkanya dimeja makan."Hei kau jangan marah oke, aku minta maaf lain kali aku akan melakukannya dengan lembut oke". bujuk Rey lembut setelah berhasil menyusul Dina." Tidak ada lain kali, Rey apa kau sadar kalau kita ini belum menikah, tidak sepantasnya kita melakukannya Rey". Jawab Dina yang khawatir."Kau tenang saja kita akan menikah aku berjanji sekarang kau jangan marah lagi oke". pinta Rey lembut dan Dina sudah tak marah lagi, mereka kembali ke meja makan dan melanjutkan aktifitas hari libur mereka.******Rey dan Dina kembali menjalani pekerjaannya dimana mereka akan berpura-pura tidak saling kenal dan tidak saling sapa. Dina sebagai Resepsionis dilantai paling bawah tidak pernah lagi naik kelantai tertinggi digedung untuk menemui Rey, tetapi jika Rey ada di lantai bawah mereka akan saling tersenyum memandang satu sama lain namun berusaha agar tak membuat curiga yang lain.Dengan keadaan yang saling mencintai secara sembunyi membuat Dina khawatir jika Rey tidak akan menikahinya dan mereka tidak akan bisa bersatu apalagi setelah Dina dan Rey melakukan hubungan suami istri yang harusnya dijalani ketika sudah ada ikatan resmi.Dina pulang dan terlebih dahulu mampir ke apotik untuk membeli pil kontrasepsi agar ia tidak mengandung anak Rey. Mempunyai anak dalam sebuah hubungan tanpa ikatan merupakan suatu kesalahan yang akan ditanggung oleh si anak.Dina sudah sampai di apartemen dan langsung meminum pil kontrasepsi setelah itu segera ia kedapur untuk memasak makanan karena lagi-lagi Rey aka menginap.Rey sudah pulang kerja dan terlihat wajah kusut juga lelah ia tampilkan. Rey mengecup kening Dina dan langsung kekamar Dina untuk mandi karena setelah kejadian mereka melakukan hubungan suami istri membuat Rey seolah melupakan batasan yang harus dijaga. Rey tidak lagi tidur diruangan terpisah dan akan tidur bersama Dina walaupun hanya sekedar berpelukan sambil tidur.Rey meletakkan tasnya di meja kamar Dina dan ia terkejut dengan apa yang ia temukan yaitu sebuah tablet obat yang ia fikir adalah tablet kontrasepsi. Segera Rey menuju dapur menghampiri Dina yang sedang memasak sambil memegang tablet tersebut."Dina apa ini ?". tanya Rey ketika sudah sampai di depan Dina seraya menunjukkan tablet obat di tangannya." oh Itu pil kontrasepsi", jawab Dina dengan polosnya."Pil kontrasepsi, apa kau tidak mau punya anak dariku ? apa kau sudah tidak mencintaiku Din ?". ucap Rey seraya menekankan kata kontrasepsi dengan marahnya." Rey apa kau sadar kita belum menikah bagaimana bisa seorang anak hadir diantara kita, itu hanya akan menjadi beban untuknya". jawab Dina tak kalah emosi dengan airmata sudah ada diujung mata."bukankah aku sudah bilang jika aku akan menikahimu Din, atau apa kau tidak mau mengandung anakku agar suatu saat nanti kau bisa mudah berpaling dariku dan pergi meninggalkanku ?". ucap Rey masih marah." ya tapi kapan Rey bahkan tiada satu orangpun yang tau jika kita sekarang pacaran, sadarkah kau Rey kau membuatku sakit dengan ucapanmu". Dina sudah berlinangan airmata, bagaimana bisa Rey berfikir jika ia akan meninggalkan Rey padahal Rey tau Dina sangat mencintainya.Rey pergi meninggalkan Dina yang berlinangan airmata dengan keadaan marah, bahkan ia membanting pintu apartemen sengan keras. ia marah sepanjang menyetir juga memukul kemudi sesekali saat membayangkan pertengkarannya dengan Dina.Rey pergi ke club malam dengan tujuan untuk menghilangkan semua beban fikirannya. Rey memesan minuman dan entah sudah berapa banyak gelas yang ia teguk membuatnya setengah sadar.Wanita yang bekerja di club mendekati Rey satu persatu namun di mata Rey ia melihat pada diri wanita yang menghampiri dan langsung memarahi mereka seperti memarahi Dina, ia melampiaskan kekesalannya ke wanita itu membuat yang ada disekitar tak berani mendekati Rey yang sedang mabuk.Sementara Dina menangis dan kakinya seperti tak sanggup lagi menumpu badannya hingga ia jatuh terduduk di apartemen, mungkin ini adalah pertengkaran terbesar selama menjalani hubungan dengan Rey, tapi yang tak habis fikir bagaimana Rey menuduhnya akan berpaling dan pergi meninggalkannya.Dina menangis sesenggukan sepanjang malam dan membuat matanya menjadi sembab. Dilihatnya hp tiada satupun panggilan atau pesan dari Rey membuat Dina khawatir dengan Rey juga hubungan mereka.Rey berangkat kekantor dengan marah apalagi tadi saat ia lewat meja Resepsionis tak terlihat Dina disana, ini sudah dua hari Dina tak berangkat kerja dan dilihat HP-nya tiada satupun panggilan dan juga pesan dari gadis itu. Rey mengangkat telepon menghubungi sekertarisnya."Bawakan aku laporan keuangan bulan ini, juga suruh tim marketing untuk merevisi ulang yang kemarin". Dia marah-marah kepada semua karyawan membuat semua yang ada menjadi takut akan kemarahan sang atasan, tak terkecuali para Resepsionis yang diminta lebih disiplin dengan kerjaannya.Para Resepsionis sangat ketakutan apalagi salah satu dari Resepsionis yaitu Dina teman mereka tidak berangkat, dalam hati semua karyawan kantor berdoa agar kemarahan sang CEO semoga cepat reda.Rey bekerja dengan marah dan sama sekali tak konsen, dilihatnya HP dan masih sama tak ada kabar dari Dina dan bahkan ia sudah menghubungi Dina sejak pagi namun tak dijawab, akhirnya Rey menghubungi orang IT kepercayaannya." Aku punya tugas untukmu, segera cari tau sekarang dimana lokasi seseorang lewat HP, akan kukirimkan nomornya ", Ucap Rey tanpa menunggu balasan dari orang yang ditelepon dan langsung menutup teleponnya juga mengirimkan nomor HP Dina." Hallo tuan sudah ketemu dia sekarang ada di panti asuhan kasih sayang ". Rey menerima kabar keberadaan Dina dan langsung menuju parkiran tanpa menghiraukan panggilan dari asistennya, dilajukannya mobil dengan kecepatan tinggi membelah jalanan sambil berfikir untuk apa Dina pergi ketempat itu.Sampailah Rey di panti asuhan itu, ia disambut pemandangan anak-anak yang berlarian, dan bermain kesana kemari. Diperhatikannya semua tempat namun yang dicari tak ada, tiba-tiba ia ditabrak oleh seorang anak laki-laki yang berlari, tubuh Rey yang tinggi dan besar sama sekali tak bergeser dari tempatnya sementara anak lelaki itu jatuh." maafkan aku tuan aku sama sekali tak sengaja, sekali lagi maaf". kata anak itu yang masih terduduk di tanah."jangan khawatir aku baik-baik saja, siapa namamu ?". Rey mengulurkan tangan hendak membantu anak itu untuk berdiri." namaku Deni" ucapnya saat sudah berdiri tegak."mengapa kau bisa ada ditempat ini Deni, apa kau tidak punya orang tua ?" tanya Rey melihat Deni yang terlihat seperti anak berumur 8 tahun tapi sangat kurus."kata tante aku sebenarnya masih punya ayah tapi ia tak mau menikahi ibuku juga tak mengakuiku, akhirnya ibukku bunuh diri karena melihat ayahku menikah dengan wanita lain, lalu aku diasuh tante tapi ia sekarang tante sudah meninggal karena sakit, jadi sekarang aku tinggal disini". ucap Deni dengan sedih." apa kau sudah pernah bertemu ayahmu ?". tanya Rey"sudah waktu itu ibu membawaku menemuinya saat aku berumur 6 tahun, ibu bilang jika aku anaknya tapi ayah tetap tidak menikahi ibuku dan bilang jika aku bukan anaknya". ucapnya sambil berusaha menahan air matanya." maaf aku tak bermangsud membuatmu sedih". Ucap Rey sambil mengelus kepala Deni."tidak apa-apa paman, aku permisi dulu". ucap Deni sambil sedikit membukukkan badannya." Hm". Jawab Rey sambil melihat Deni yang sudah pergi menjauh, tak disadari oleh Rey jika percakapannya dilihat oleh seorang wanita paruh baya dan wanita itu mendekat kearah Rey."halo tuan saya Yuli panggil saja bu Yuli saya adalah pengurus panti ini, dari tadi saya melihat anda sepertinya akrab dengan Deni, apakah anda ingin mengangkat Deni sebagai anak ?" tanyanya kepada Rey."aku tidak sedang ingin mengangkat anak, aku tadi berbicara dengan Deni karena penasaran bagaimana ia bisa disini". ucap Rey sambil melihat Deni yang bermain dengan temannya." Yah Deni dan lainnya kurang lebih sama, mereka disini karena terlahir diluar pernikahan sehingga para orang tua memberikan anaknya ke sini karena tidak bisa merawat anaknya dengan segala cacian dan makian orang". ucap bu Yuli."kalau tidak mau punya anak seharusnya jangan membuat anak, banyak dari para orang tua yang tak tau jika apa yang mereka lakukan akan berdampak pada anak yang tak tau apapun tapi menanggung kesalahan mereka". lanjutnya dengan menatap Rey.Rey seolah tercubit hatinya mendengar Deni juga bu Yuli yang seakan menyindirnya dan sekarang ia tau apa yang dimangsud Dina dan ia ingin sekali menemui Dina untuk meminta maaf." sebenarnya aku kesini sedang mencari kekasihku namanya Dina, aku mendengar kabar jika ia disini". ucap Rey pada bu Yuli."oh Dina adalah kekasihmu, ia adalah gadis baik yang kadang menyumbang dana juga tenaga ke panti ini, kami semua sangat senang dengan keberadaan Dina apalagi anak-anak, mari saya antar ke nak Dina". ucap bu Yuli sambil menunjukkan arah jalan.Rey melihat sepanjang jalan terdapat banyak sekali anak dan juga bayi yang masih belum bisa berjalan terlihat menggemaskan, langkah bu Yuli terhenti dan Rey melihat kearah depan ternyata ia sudah sampai di tempat Dina yang sedang mengajak bermain seorang bayi dan pemandangan itu terlihat begitu teduh di mata Rey sampai tak sadar jika bu Yuli sudah pergi." Anak kita pasti akan selucu itu nantinya". suara Rey yang keras menyadarkan Dina dan sepontan mencari keberadaan sumber suara."Rey kau disini ?" tanya Dina dengan sedikit takut, sungguh dalam hati Dina belum siap bertemu Rey mengingat kejadian kemarin."Aku minta maaf, aku mengerti sekarang apa yang kau mangsud dan tentu saja aku akan menikahimu baru kita punya anak". ucap Rey seraya berjalan mendekat kearah Dina.Dina meletakkan bayi yang ada digendonganya kedalam box bayi, lalu melihat Rey yang sudah ada di sebelahnya menatapnya dengan tatapan sendu." Apakah kau mau memafkanku ?". tanya Rey kala Dina menatapnya."tentu saja aku memafkanmu, berarti kita tidak akan melakukannya sebelum menikahkan ?" tanya Dina sambil terus menatap Rey."em kalau itu aku tidak bisa menjamin ataupun berjanji, apalagi jika adik kecilku ingin mengunjungi gua kesukaannya". ucap Rey sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal." hih kau dasar mesum". ucap Dina sambil memukuli dada Rey dan dengan cepat Rey menarik tangan Dina hingga kini Dina ada dipelukan Rey, kemudian Rey mencium bibir Dina dan disambut baik oleh gadis itu.Kala itu Dina dan Rey sudah berbaikan, mereka berdua bahkan menghabiskan sepanjang hari di panti asuhan dengan Rey bermain bola bersama para anak lelaki sedangkan Dina dengan beberapa bayi yang menggemaskan. Rey dan Dina pamit tapi sebelumnya Rey sudah mendonasikan dana yang cukup banyak untuk panti asuhan itu bahkan ia sudah menjadi donatur tetap..Hubungan Dina dan Rey sudah seperti biasa dan mereka juga menjalani rutinitas biasa dimana mereka bekerja di kantor tanpa memperlihatkan hubungan mereka dan bahkan tak saling sapa ataupun tersenyum.Dina dan temannya ikha sedang duduk di meja Resepsionis, dan seorang lelaki bernama Fajar sedang menuju ke arah mereka."Din ada fajar tuh". tunjuk ika dengan dagu membuat Dina menoleh kearah fajar." Hai Din sudah hampir jam istirahat nih kekantin yuk ?" tanya fajar kala sudah ada di depan Dina.Fajar adalah salah satu karyawan di bagian IT dan telah lama menyukai Dina, namun ia tak langsung mengungkapkan perasaannya, karena takut akan penolakan tapi ia selalu memperlihatkan jika memiliki ketertarikan khusus untuk Dina."Jar aku diajak nggak ?" tanya Ikha yang ikut nimbrung dengan omongan Fajar."kan Resepsionis kalau istirahat gantian jadi kamu ikut kapan-kapan aja ya ", ucap Fajar kepada ika." yah gitu si fajar mah". jawab ika dengan wajah sedih yang dibuat-buat."gimana Din mau kan ?" tanya fajar lagi."udah din mau aja pasti ntar dibayarin apalagi lo jomblo kan kali aja bentar lagi gak jadi jones" ucap Ika seraya menyenggol tangan Dina.Beberapa rombongan datang dari luar mereka adalah Reymond dan sekertarisnya juga beberapa orang yang tidak dikenal mungkin adalah clientnya. Reymond melihat Dina dan Fajar yang saling berhadapan dan cepat menunduk kala Reymond dan beberapa orang tersebut lewat. Tatapan mata Rey kepada Dina sangat amat mengerikan dan itu disadari oleh Dina."Gila tuh bos matanya kayak laser siap ditembakkan tau nggak" ucap ika kala Reymond sudah pergi menjauh."Gimana tadi Din mau kan makan sama aku jangan khawatir ntar aku yang bayar deh". ucap fajar yang ketiga kalinya menawari Dina." eh em iya boleh". ucap Dina yang membuat Fajar langsung tersenyum dan mereka ke kantin."jangan lupa bawain makanan buat gue". teriak Ika kala keduanya sudah agak jauh.Dina sebenarnya kurang nyaman jika makan dengan fajar apalagi berdua namun bagaimana lagi karena Dina tak punya alasan untuk menolak apalagi jika dia bilang kalau dia punya pacar dan itu adalah Rey si CEO tempat ia bekerja pasti tidak akan ada yang percaya.Fajar dan Dina sudah selesai makan dan mereka berdua kembali ke tempat kerja masing-masing, dan tak lupa Dina membungkuskan makanan untuk ikha dan membawanya ke meja Resepsionis." nih buat kamu" ucap Dina kala memberikan makanan ke ika."thank you, eh ini dibayarin fajar ?". tanya ika sambil menyomot ayam goreng yang dibawa Dina." nggak tadi aku bayar sendiri" ucap Dina sambil melihat temannya yang makan dengan belepotan."ih sayang banget kan lumayan di bayarin bisa hemat uang kan Din" ucapnya kala membersihkan makanannya yang tersisa di mulutnya dengan tisu."udah kamu makan aja, aku ke toilet dulu ya ". sambil melenggang pergiDina keluar dari toilet tapi tanpa ia tau seseorang telah menunggunya dan langsung menarik tangannya ke sebuah ruangan, itu adalah tempat meeting yang jarang terpakai di lantai satu, memang banyak tempat meeting di kantor tapi tempat meeting di lantai satu adalah yang paling jarang digunakan tapi selalu bersih karena sering dibersihkan oleh OB.Lelaki itu menarik tangan Dina dengan kasar dan langsung menutup juga mengunci tempat itu. Lelaki itu adalah Rey dengan wajah marahnya ia menatap Dina.Seketika Rey memojokkan Dina ke dinding dan mendaratkan ciuman kasar pada bibir Dina hingga membuat Dina terkejut. " emh" lenguhan Dina kala Rey menekan tengkuknya dan mencium dengan kasar. Dina mendorong Rey karena nafasnya yang hampir habis juga ciuman Rey yang membuat bibir dina memerah dan sedikit bengkak."Tuan Rey anda apa-apaan" ucap Dina yang malah membuat Rey semakin marah."Kita cuma berdua disini gak jadi gak usah main drama bos dan Karyawan". ucap Rey dengan tangan yang dilipat di dada." nanti kalau ada yang lihat gimana ?" tanyanya sambil melihat keatas."gak ada cctv jadi kamu tenang aja, aku cuma mau menghukum kamu karena udah berani bermesraan saat aku gak ada" ucapnya dingin dan datar."Aku cuma makan siang aja sama Fajar". ucap Dina." oh jadi namanya Fajar dari bagian mana dia biar aku pecat sekarang apa kamu gak peduli perasaan aku melihat pacar sendiri dekat dengan lelaki lain kamu harusnya bilang kalau kamu punya pacar". jawabnya tetap dingin."Rey kita pacaran tanpa ada satu orang yang tau dan sekarang kamu suruh aku bilang jika aku punya pacar dan itu kamu, tidak ada yang akan percaya". ucap Dina berusaha menjelaskan." aku gak peduli aku akan pecat si fajar itu karena udah berani godain pacar orang".ucap Rey ketus."kumohon Rey jangan pecat dia, dia gak tau apapun, kamu marah aja sama aku". ucap Dina memohon." jadi kamu memohon untuk dia, baik kalau gitu kamu gantikan dia menerima hukuman". ucap Rey yang melonggarkan dasinya dan membuat Dina bingung juga khawatir."Rey kamu mau ngapain". ucap Dina yang takut dengan Rey yang sekarang membuka ikat pinggangnya." tentu aja menghukum pacar aku yang bandel". ucap Rey yang mendekat ke arah Dina dan Dina memundurkan langkahnya kala Rey semakin dekat."nggak Rey, inget ini di kantor, rey kamu udah janji Rey". ucap Dina takut." Aku memang udah janji gak akan pacaran apalagi mencumbu kamu di kantor tapi ini sebagai hukuman karena kamu udah berani makan sama lelaki lain" ucapnya yang kemudian mengangkat tubuh Dina ke atas meja.Rey menciumi bibir Dina membuat gadis itu melenguh kala ciuman Rey turun ke leher Dina dan meninggalkan bekas disana, Dina berkali-kali menolak dan melawan tapi Rey lebih kuat"Aaaarhg" teriakan Dina kala merasakan sesuatu yang asing di bawah sana, beruntungnya ruang meeting itu kedap suara jadi tak terdengar sampai keluar. Desahan deni desahan keduanya keluar dengan Rey yang terus menjamah tubuh Dina.Dina yang sekarang sama sekali tak memperlihatkan senyum bahkan merutuki Rey dalam hati. Dina segera memakai bajunya juga merapikan rambutnya dan keluar dengan tergesa-gesa meninggalkan Rey dibelakang.Rey yang melihat tingkah Dina hanya tersenyum dan melangkah dengan santainya karena berhasil mendapat kepuasan, dan saat keluar dari ruang meeting dilihatnya OB dan memanggilnya."bersihkan ruangan ini" tunjuk Rey dengan dagunya seraya menampilkan kembali wajah datar juga juteknya yang berhasil membuat OB tersebut ketakutan dan cepat membersihkan ruangan itu karena terdapat sisa cinta mereka yang berceceran membuat OB tersebut bingung...Dina kembali ke meja Resepsionis dengan sedikit ngos-ngosan karena bergegas dan takut apa yang dilakukannya tadi diketahui orang lain, apalagi jika sampai ada yang tau kalau ia baru saja memuaskan nafsu sang pimpinan perusahaan, bisa-bisa ia menjadi gosip hangat di kantor.Dina melihat Ikha memperhatikannya dengan tatapan yang tidak bisa di tebak bahkan Dina sangat gugup di dekat Ikha."Ada apa kok lihat aku sampai segitunya ?" tanya Dina saat ia kembali duduk dikursinya."Kamu itu abis ngapain aja sih di toilet sampai sejam, goreng bakwan ?" tanyanya dengan muka datar."a aku aku tadi habis BAB". jawab Dina dengan gugup yang ketara."Kamu diare ?" tanya ikha."Iya bener diare, tadi soalnya aku makan sambel banyak banget". Jawab Dina yang beruntung karena ikha memberinya ide untuk menjawab." Oalah jawab diare aja sampai gugup gitu makanya jangan makan sambel banyak - banyak" ucap ika.Untung saja Ikha percaya dengan omongan Dina hingga gadis itu bisa menghembuskan nafas lega. Dan ia kembali kerja walaupun masih nyeri di bagian bawahnya juga agak lengket karena perbuatan Rey tadi, sungguh Dina amat kesal karena Rey melakukannya apalagi di kantor.*****Jam pulang telah tiba termasuk Rey yang tidak lembur dan meminta Dina untuk pulang bersamanya, Rey mengirim pesan ke Dina untuk masuk ke mobilnya di parkiran karena suasana parkiran sudah sepi hingga mereka bisa bebas berada di mobil yang sama.BRAAKDina membanting pintu ketika ia masuk kedalam mobil juga menampilkan wajah yang terlihat akan kemarannya dan itu tak terlepas dari penglihatan Rey namun, Rey hanya diam walau hatinya ingin tertawa karena tau sebab dari kemarahan Dina. Rey mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang dan mereka hanya diam sepanjang jalan.Sebenarnya Dina amat kesal kepada Rey namun lebih kesal lagi saat dia marah malah tidak ditanya apa sebabnya ataupun meminta maaf dan malah mendiamkannnya seperti ini, padahal kan ia sedang ngambek dan butuh dibujuk bukannya di diamkan. "Dasar tidak peka". Gumam Dina dalam hati.Rey sesekali mencuri pandang Dina yang tak berbicara dan memperlihatkan wajah ngambeknya, dalam hati Rey ingin tertawa terbahak-bahak karena wajah Dina saat ini amat menggemaskan bagi Rey, sebenarnya Rey ingin bicara kepada Dina namun karena biasanya kalau wanita sedang ngambek itu pasti inginnya dibujuk dan dituruti keinginanya.Namun Rey bukanlah tipe pria yang akan menuruti wanita hingga ia merendahkan dirinya, Rey adalah tipe yang akan mendiamkan wanita jika wanita itu mendiamkannya dan semakin lama wanita itu pasti akan kalah juga."Rey". Ucap Dina yang tak tahan dengan sikap Rey yang diam sedari tadi."Hem apa ?". Ucap Rey datar dan masih fokus menyetir."Kok dari tadi kamu diam saja gak minta maaf sama aku ?!". Dina kesal."Kenapa aku harus minta maaf sama kamu ?". Tanyanya masih dengan wajah datar, jika masih ada satu piala oskar maka Rey pantas mendapatkannya karena masih bisa menampilkan wajah datarnya padahal hatinya tertawa keras."Karena kamu memaksaku melakukan itu dikantor bahkan saat jam kerja, apa kamu gak ngerasa bersalah sama aku ?!". Ucapnya marah karena Rey masih menampilkan muka datarnya bahkan tak melihatnya kala ia bicara. Rey menghentikan mobilnya dan kini ia melihat Dina disampingnya."Dengar ya aku gak suka jika ada yang mendekati wanitaku dan aku lebih tidak suka lagi kalau kamu meminta maaf atas namanya, kalau sampai itu terjadi lagi maka fajar atau siapapun lelaki yang mendekati kamu akan menyaksikan siaran langsung betapa panasnya kita tadi di ruang meeting faham kamu !!". Ancam Rey sambil memegang kedua bahu Dina dan menampilkan wajahnya yang sangat serius dan juga mengerikan.Dina yang mendengar ancaman Rey seketika ngeri dan takut, sungguh sosok Rey kini membuat Dina seperti sedang bersama dengan orang lain karena bukan seperti Rey yang ia cintai. Rey melihat Dina yang takut dengan dirinya dan langsung memeluk tubuh Dina juga menghadiahkan kecupan di puncak kepala Dina."Jangat takut kepadaku, aku hanya tidak ingin kau di dambakan oleh lelaki lain, kau mengerti kan mangsudku ?". Tanya Rey yang memeluk dan juga mengelus punggung Dina dan dibalas anggukan oleh Dina."Sudahlah jangan takut, aku ingin kita makan diluar kau pasti sudah lelah jadi tidak perlu memasak hari ini". Rey mencium dahi Dina dan dibalas senyuman tipis oleh gadis itu.Rey mengarahkan mobilnya ke salah satu restoran yang ramai dan terkenal enak, mereka makan berdua dengan suasana hati Dina yang sudah membaik, bahkan mereka makan sambil berbincang hingga membuat keduanya terbawa suasana.Dari kejauhan Dina melihat Ikha dan temannya sedang menuju ke meja yang Dina duduki, segera Dina bersembunyi dibawah kolong meja dan itu membuat Rey bingung."Kenapa kau sembunyi ?". Tanya Rey saat Dina sudah berada dibawah meja."Sssstt diam temanku sedang menuju kesini, aku tau dia tadi melihatku". Ucap Dina dengan pelan.Tak lama Ikha juga temannya ada di hadapan Rey dengan bingungnya karena yang tadi ia lihat adalah Dina sementara yang duduk dimeja adalah bosnya."Loh pak Reymond, saya kira teman saya yang tadi duduk disini". Ucap Ika bingung.Dina dibawah meja meringis sakit pasalnya Ikha tak sengaja menginjak tangannya, bahkan Dina hanya bisa menutup mulutnya agar tak bersuara karena tangannya yang terinjak kini bahkan sudah memerah."Tidak dari tadi aku yang duduk disini". Ucap Rey dengan wajah datarnya." Bapak sendiri aja makan disini ?". Tanya Ikha lagi."Iya memangnya kenapa?". ucap Rey kini menampilkan wajah galak." Gak apa-apa pak cuma kok piringnya ada dua". ucap Ikha menunjuk piring yang tadinya milik Dina sehingga Dina yang mendengarnya dibawah meja hanya bisa tepuk jidat."Kalau piringnya ada dua kenapa lagipula saya sangat lapar ? masalah buat kamu ?". Tanyanya ketus."Gak pak gak apa-apa, kalau gitu saya permisi dulu". Ikha lekas pergi karena wajah Rey yang sangat tak bersahabat juga karena teman Ikha yang sedari tadi melihat keketusan Rey mengajak Ikha cepat pergi, bahkan saking kesalnya teman Ikha mendengar perkataan Rey kala gadis itu pergi."Gateng tapi kok galak". Kata teman ikha yang masih bisa didengar oleh Rey padahal jaraknya sudah agak jauh. Dina akhirnya bisa menarik tangannya ketika kaki Ikha sudah bergerak pergi dan mengelus tanganya yang memerah."Mereka sudah pergi, kau bisa keluar". Ucap Rey kepada Dina yang ada dibawah. Saat Dina sudah setengah berdiri Rey mengarahkan kepala Dina agar kembali masuk ke dalam meja."Eh kenapa ?". Tanya Dina kala Rey memegang kepalanya dan membuatnya kembali sembunyi."Ssst diam dulu". Rey cemas karena ada seorang laki-laki paruh baya yang mendekat ke arahnya dan itu tak baik apabila lelaki itu melihatnya bersama Dina."Rey dengan siapa kamu disini ?". Tanya tuan Riyan yang tak lain adalah papanya Rey. Dina yang mendengar suara tidak asing itu lalu tau apa maksud Rey menyuruhnya kembali sembunyi karena yang sedang berbicara dengan Rey adalah bosnya dulu sebelum Rey dan sekarang tuan Riyan malah duduk di kursi Dina."Aku.......sedang bersama client pa kita sedang membicarakan tender". Rey mencari alasan." Lalu dimana clientnya ?". Tanya tuan Riyan."Dia sedang ada di toilet pa, papa sendiri sama siapa disini ?". Tanya Rey mencoba mengalihkan perhatian."Papa sendiri, tadi mama kamu minta dibelikan makanan, karena papa sedang berada dekat sini jadi mampir untuk membelikan pesanan mama"." Oh gitu ". jawab Rey seolah mengerti padahal saat ini hatinya tak tenang memikirkan Dina yang berada di bawah meja." Oh ya kamu akhir-akhir ini jarang pulang sampai mama kamu pusing mikirin kamu, dan papa dengar kamu beli apartemen baru, benar ?". Tanya tuan Riyan."Iya pa......aku kepengin mandiri". Jawab Rey." clientnya dari tadi gak balik-balik coba kamu telepon ". Ucap tuan Riyan.Rey menuruti papanya dan pura-pura menelepon agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi papanya. Setelah selesai pura-pura menelfon Rey mengembalikan hpnya ke saku." Dia bilang kalau ada urusan mendesak jadi pulang lebih dulu dan lupa pamitan pa". Ucap Rey bohong."Oh gitu". Tak lama pelayan memberikan bungkusan kepada tuan Riyan."Pesanan papa sudah dapat, papa pulang dulu, oh ya walaupun kamu mau hidup mandiri setidaknya sesekali pulang kerumah biar mama nggak khawatir". Ucap tuan Riyan seraya berdiri dari tempat duduknya." Iya hati-hati pa". Ucap Rey.Rey menghembuskan nafas lega begitupun Dina, setelah tuan Riyan sudah pergi Rey menyuruh Dina untuk keluar dari persembunyian, dengan kaki yang sudah kesemutan dan juga tangannya yang merah ia keluar dari kolong meja, sementara Rey yang melihat Dina hanya bisa menyuruhnya untuk sabar.

Cinta Abadi CEO & MAFIA
Romance
09 Jan 2026

Cinta Abadi CEO & MAFIA

Di rumah mewah yang besar, terdapat 4 anggota keluarga bermarga 'Pratama'. Yah, rumah itu adalah rumah CEO terkenal, siapa lagi kalau bukan Adara, Rasya, dan Mami Papinya."ADARAA RASYAA, SINI SAYANG KITA MAKAN SIANGG, SEKALIAN ADA YANG MAU PAPI BICARAIN SAMA KALIAN" Teriak wanita itu, dia adalah Nadia, sang Mami Rasya dan Adara."IYA MAA, BENTAR LAGI RASYA TURUN, LAGI BANGUNIN SI ADARA NIHH" Balas Rasya sambil teriak juga di atas sana.(DIKAMAR ADARA)"Woi kebo, bangun egekk" Ucap Rasya pada Adara."Ishh bisa diem gak?!" Omel Adara dengan mata yang masih tertutup."Suruh mami makan siang adarott" Ejek Rasya."Duluan aja sih kakk ya Allah masi ngantuk ihhh!" Ucap Adara sedikit kesal."Heh kata Papi dia mau ngomong sesuatu ADARAA" Ujar Rasya sedikit menekan nama Adara."Aaaa yauda deh tar ade kesana" Ucap adara."Yaudah gue kedapur duluan ya dek" Balas Rasya dan Adara hanya mengangguki nya.(DIDAPUR)"Mana Adara nya sya?" Tanya Ryan, papi Adara dan Rasya."Bentar lagi katanya pi" Jawab Rasya.Dan terdengar dari atas ada suara seseorang yang menuruni anak tangga, siapa lagi kalau bukan Adara."Adara sini, papi mau bilang sesuatu sama kalian berdua" Ujar Ryan."Ada apa sih pi? Kayaknya serius bingitt" Tanya Adara sembari mengangkat satu alisnya."Udah nyimak aja sih dek" Sahut Rasya dan Adara malah memandang sinis kepada Rasya."Jadi gini, kita mau pindah sekarang, karena papi juga kerja nya pindah, yang itu mau di renovasi, dan papi udah beli kok rumah yang gak kalah besar dari ini, bahkan lebih nyaman" Jelas Ryan kepada mereka berdua."Jadi, kapan kita pindah?" Tanya Rasya."Sekarang, sore ini" Jawab Ryan Adara dan Rasya pun terkejut mendengar jawaban papi nya itu."What pi? Masa mendadak sihh, kan barang adara banyak pi" Ucap Adara dengan raut wajah kesal."Iya pi kenapa gak dari kemaren² aja, terus kalau kita pindah Rasya sama Adara juga pindah sekolah pi?" Tanya Rasya."Iyalah dar, sya, Maaf papi gak tau kalau kita mau pindah, jadi gimana kalau kalian pindah ke Mega Genius High School itu?" Jelas Ryan."Hmm oke deh pi" Jawab adara sambil ragu² tetapi rasya hanya berdehem."Yaudah makan dlu habisin, tar langsung beresin barang² kalian oke?" Sahut Nadia yang sedaritadi hanya menyimak perbincangan mereka.Adara dan Rasya pun mengangguk.Kini mereka telah menghabiskan makanan nya, lalu spt yang di katakan mami nya, mereka langsung pergi kekamar packing barang² mereka.(Skip aja yahh, author males ngetik wkwk😭🤣)Hari sudah sore, mereka pun menaiki mobil untuk pindah ke rumah baru mereka yang ada di Depok. Butuh 3 jam untuk sampai ke rumah baru itu.Para bodyguard dan pembantu² Family Pratama akan menyusul nanti malam, sebagian menyusul dari belakang mobil yang dinaiki Rasya Adara dan orang tua mereka.(SKIP RUMAH BARU)"Adeee bangun woii uda nyampe kebo" Ajak Rasya pada Adara yang daritadi ternyata tertidur karena kelelahan menyiapkan barang² nya."Eughh hoaam cepat banget dehh" Ucap Adara sambil menggesek² mata nya."Lu aja yang tidur, org 3 jam lebih, dasar kebo tadi siang aja udah tidur skrg tidur lagi" Ejek Rasya dan membuat Adara kesal."Ihhh kak Rasya, adek kan capek daritadi beresin barangg, huhh!!" Adara mendengus kesal."Lah gue aja yang beresin barang barang juga gak tidur tuh, wleee" Rasya mengejek Adara lagi sambil menjulurkan lidahnya, tetapi adara menghiraukannya sembari bertatap sinis.Sementara itu Ryan dan Nadia hanya terkekeh dan menggelengkan kepala mereka saat melihat sifat kedua anak nya itu."Udah, ayo turun" Ajak Ryan.Mereka semua terkejut melihat rumah baru mereka, bahkan lebih besar dari yang sebelumnya, rumah yang sebelumnya memang 3 tingkat, tetapi rumah barunya sekarang 4 tingkat, lega dan lebar! Wahh bagus sekali yah?!."WAHH OH MAY MAY INI LEBIH DARI RUMAH KITA YANG SEBELUMNYA PI!!" teriak adara takjub.Mereka semua terkekeh melihat tingkahgadis lucu itu."Haha iya dong, pasti kalian juga betah" Ujar Ryan."Pasti dong pii!" Jawab Adara dan Rasya bersamaan."Ihh kakak kenapa ikutin adekk!!" Ucap Adara sembari menirukan gaya anak kecil."Dihh adek kali yang ikutin kakak" Balas Rasya tak mau kalah.Nadia dan Ryan hanya tertawa melihat mereka."Udah udah ayo masuk, pasti gak sabar kan?" Tanya Nadia dan diangguki oleh mereka.Mereka pun masuk kedalam rumah yang super mewah itu.."Wahhh dari luar aja udah mewah banget, dalemnya lebih mewah!!, oh ya btw kamar adek yang mana?" Tanya Adara sembari tersenyum bahagia."Diatas sayang, sini Papi anter kalian ke kamar masing²" Ajak Ryan kepada mereka semua.Mereka semua naik ke lantai atas yang ke 3, mereka masuk ke kamar Adara terlebih dahulu yang bernuansa pink ungu dan biru pastel, karena adara menyukai warna pastel."Aaaa kamar adek aesthetic bingitzz" Ucap Adara dengan mata yang berbinar²."Iya dongg kan papi tau kesukaan kamu apa" Ujar Papi Adara yang bahagia karena melihat tingkah Adara yang lucu."Timaaci Papiii" Ucap Adara sembari menirukan gaya omongan anak kecil."Sama sama sayang" Jawab Ryan."Ayo pi rasya mau liat kamar Rasya, pasti lebih bagus kan daripada kamar adek" Ucap Rasya memancing emosi Adara."Ishhh kakak! Apa sih pasti bagusan kamar adek" Adara mendengus kesal dan Rasya dia hanya tertawa geli melihat Adara."Yaudah ayo kita ke kamar kakak" Ajak Nadia.Lalu mereka pun memasuki kamar Rasya yang aesthetic juga, bernuansa biru tua dan ada gambar Astronot beserta planet yang indah. Sungguh menakjubkan."Ihh kamarnya bocil hahaa" Ledek Adara kepada Rasya."Apaan sih bagusan kamar Kakak wlee'' balas Rasya sambil menjulurkan lidahnya seolah olah meledek adiknya.Adara yang melihat itu mendengus kesal karena kakaknya, mereka kadang akur kadang bertengkar, sungguh tidak bisa ditebak."Yasudah ayo kita makan malam terlebih dahulu, sudah disiapkan oleh bibi. Kalau soal barang² nanti sama Bi Siti dan Bi Inah yang bereskan" Ucap Ryan dan diangguki oleh mereka semua.(Oh yahh, bi Siti dan bi Inah itu adalah ART dirumah ini yahh hehe..)Back to story.(DI DAPUR RUMAH BARU MEREKA)"Kalian mau makan apa?" Tanya Nadia kepada Rasya dan Adara."Mamii aku mau ayam tapi gak mau makan sayur" Jawab Adara sembari memasang baby face (wajah bayi)."Adara gak boleh gitu sayang.. Kamu harus makan sayur, biar daya tahan tubuh kamu kuat sayang.." Bujuk Nadia agar Adara memakan sayur."Tau tuh letoy juga hahaa" Yah, dan lagi lagi Rasya mengejek Adara, sungguh tidak kelar² yahh..(Pasti kalian juga selalu bertengkar kan sama adik/kakak kalian? Hehe candaaa😁.)"Adara ayo dong, sudah berapa hari kamu tidak makan sayur, tar kamu kecapean, ayo makan sayur nya, nanti besok Papi beliin boneka Unicorn dehh..." Ryan membujuk lagi.."Hmmm kalau bukan demi boneka Adek gak bakal makan sayur" Adara dengan pasrah menjawabnya."Tapi adek mau nya boneka lotso aja pii, boneka Unicorn udah adaa" Lanjut Adara."Iya deh asal janji makan sayur sama buah nya" Ucap Ryan."Pi masa Adek doang Rasya juga mau lah pi" Ujar Rasya sambil pura pura merajuk."Iya dong, Papi juga bakal beliin kakak sepatu baru untuk sekolah baru besok" Sahut Ryan."Kakak ikut ikut adek mulu huhh" Ucap Adara dengan kesal."Serah kakak dong" Balas rasya sementara Adara hanya mendengus kesal."Udah dong habisin dulu makanannya, bilang apa dulu sama Papi???" Ucap Nadia."Makasih papi" Jawab Adara dan Rasya bersama.*skipp selesai makan*"Papii mami adek bobo dulu yahhh, good night semuaa" Ucap Adara sambil menggesek matanya karena mengantuk."Rasya juga yah mi, pi, good night" Ucap Rasya."Iya sayang, good night juga" Jawab Nadia dan Ryan bersamaan." Papii mami adek bobo dulu yahhh , good night semuaa " ucap Adara sambil menggesek kedua matanya karena mengantuk."Rasya juga yah mi, Pi, good night" ucap Rasya."Iya sayang, good night juga" ucap Nadya dan Ryan bersamaan.****Keesokan harinya...(DIKAMAR RASYA)"Syaa, ayo kita bangun, ini hari pertama kamu sekolah disini.. Yuk bangun kak.. " Ajak Nadia kepada Rasya yang masih tidur." Iya mami, rasya bangun " Ucap Rasya sambil menggesekkan mata nya." Nanti sehabis mandi kamu bangunin adek kamu dulu yahh.. Setelah itu makan, sarapan " Ucap Nadia." Oke mii rasya mandi dulub" Jawab Rasya sambil bangun dan mengambil handuknya.(DIKAMAR ADARA)"ADEKKKK BANGUN UDAH SIANGGG!!!.." Teriak Rasya yang mendekatkan mulutnya ke telinga Adara, tentu saja itu membuat dia kaget dan terbangun dari tidurnya. Sungguh menyebalkan sekali!!."KAKAKK ADE KAGETT TAU GAK SIHH?! KAKAK RESE!!!" Balas Adara sambil teriak juga kepada Rasya."Makanya lu jadi orang jangan kebo kebo amat" Ejek Rasya dengan wajah yang membuat Adara semakin kesal."Ihhh kakakk udah sana pergi!! Adek mau mandii" Ucap Adara "bagus deh yaudah kakak ke dapur duluan awas lo tidur lagi" Ujar Rasya dan diangguki oleh Adara yang semakin bete karena perkataannya.Rasya pun keluar pergi meninggalkan adara ke dapur."Huhh punya kakak rese nyebelin!!" Batin Adara.*****Skipp di dapur*"Adara ayo sini makan" Ajak Ryan."Iyah pii" Jawab Adara dengan wajah malas."Kamu kenapa? Kok kayak bete gitu?" Tanya Nadya karena dia memerhatikan wajah malas Adara."Itu mi kak rasya tadi pagi aku lagi mimpi indah eh pas indah indahnya kak rasya malah teriakin aku buat bangun, kan nyebelin mi, pi, aku ga suka kakak rasya!!" Jelas Adara sambil memasang muka kesalnya."Ya iyalah lu kan keboo" Ejek Rasya lagi dan lagi. Entah kapan mereka bisa akur, selalu saja bertengkar."Sudah² ayo kita makan dahulu, setelah itu Pak Riza akan antarkan kalian ke sekolah baru kalian" Ucap Ryan agar Rasya dan Adara berhenti bertengkar."Baik pii'' jawab adara dan rasya bersamaan.(Skipp selesai makan)" Ayo adara rasya kalian naik ke mobil " Ajak Ryan."Oke pi ,mi assalamu'alaikum" Ucap Adara dan Rasya kompak tersenyum ria sambil menyalami tangan kedua orang tuanya."Waalaikumsalam, hati hati dan semoga dapat banyak teman baru" Jawab Nadya dan Ryan sambil mengecup kening adara dan rasya setelah mereka bersalaman.****(SEKOLAH BARU 'MEGA GENIUS HS')Terimakasih pak riza" Ucap adara. "Makasih ya pak kita ke kelas dulu" Susul Rasya."Sama sama non, den, yasudah bapak pulang dulu ya, nanti bapak jemput lagi" Jawab pak Riza dan diangguki oleh Adara Rasya."Eh eh i-itu kan.. Emmhh.. I-itu Putra dan Putri CEO terkenal.. " Ucap salah satu murid seolah olah dia merasa kaget dan tidak percaya."Eh i-iya, a-apa mereka murid baru nya yah.." Ujar salah satu murid yang disebelahnya tadi.Adara dan Rasya itu tidak sombong walaupun mereka dinobatkan sebagai Putra Putri CEO terkaya, tercantik dan tertampan menurut fans fanatik mereka."Haloo" Sapa Adara dan Rasya tersenyum manis."Aaaa gila gue, disapa aja dag dig dug jantung" Ucap salah satu siswa yang ada disana."Anjirr ini sekolah nya para CEO dan Mafia ya?? Banyak banget anak CEO dan Mafia terkenal huaaa insecure sumpahh" Murid mengoceh tak percaya melihat ini semua.Adara dan Rasya sudah sampai diluar ruangan , dan mereka memperkenalkan diri dahulu.Rasya di kelas 12Dan Adara dikelas 11.(DIKELAS RASYA)" Anak anak , kelas ini kedatangan murid baru lohh.. Gak sabar kan???.. " Ucap guru yang bernama Pak Dion , yang mengajar dikelas Rasya." Siapa tuh?? "" Kayaknya gue ketinggalan berita deh mau ada murid baru "" Dia anak biasa atau anak dari kalangan orang kaya? Kan sekolah ini udah terkenal karena banyak org kaya , jadi kalau dia misk1n gak level sekolah disini "Yahh itulah rata rata ocehan para siswa." Ayo masuk dulu perkenalkan diri kamu " Ucap Pak Dion dan diangguki ramah oleh Rasya.Rasya pun masuk ke ruangan itu dan.. "WHATT?!" semua murid melongo melihat kedatangan murid baru itu." E-eh i-ini ga mimpi kan... " Tanya salah satu murid menepuk pelan pipinya."Halo semuanya, nama saya Rasya Galaxy Putra Pratama, pasti kalian sudah kenal kan, jadi salam kenal yahh.." Rasya memperkenalkan diri dengan senyum manis nya yang membuat semua siswa meleyott apa lagi yang perempuan." Aaaaa tolong guee selamatkan dari ombak manisnya...." Ucap seorang murid disana ."Haha pasti kalian kaget banget kan melihat kedatangan murid baru ini, ya pasti kaget lah kan dia Putra CEO terkenal didunia terlebihnya" Ucap pak Dion terkekeh karena melihat ekspresi kaget semua murid yang ada di ruangan itu." OMG helloo, ya pasti lah pak, banyak banget anak² CEO yang sekolah disinii mana di kenal internasional lagi " Oceh murid." Bisa dikatakan begitu , karena sekolah ini ke banyakan dari kalangan CEO dan Mafia " Jelas Pak Dion kepada Rasya dan dia hanya mengangguk mengerti." Mafia?? Ihh serem gitu yah.. " Batin Rasya dengan ekspresi bergidik ngeri."Oh iya, Rasya kamu duduk di sebelah murid perempuan itu yahh" Tunjuk Pak Dion mengarah ke bangku perempuan itu." Oke Pak " Ucap RasyaRasya kaget dengan murid perempuan yang ditunjuk oleh Pak Dion tadi, ternyata murid itu adalah Naura, yah Naura anak CEO terkenal juga.. Banyak berita tersebar di sosmed tentang Naura, dan Rasya ternyata menyukai Naura karena dia sering melihat fotonya yang tersebar di TV ataupun di sosmed." Watdepuk?? Naura? Crush guee? " Batin Rasya terkejut.Naura yang menyadari murid baru itu dia pun terkejut karena itu adalah Rasya.Sebenarnya Naura juga menyukai Rasya karena ketampanannya menyebar di berita² TV maupun sosmed, terlebihnya ia anak CEO terkenal, sama seperti Naura." Ra-rasya?? Jadi murid baru itu.. " Batin Naura dan menggantungkan kata katanya.(Waduhh mereka saling suka nihh, ayo jadian aja cepett wkwk🤣)" Ayo Rasya kesana, kamu kenapa bengong heii?? " Tanya Pak Dion." O-oke Pak, maaf Pak " Jawab rasya terbata-bata.Rasya akhirnya mendatangi Naura dan duduk disebelahnya walaupun jantungnya tidak bisa dikondisikan begitu juga Naura." Duhh Naura , pliss jangan sekarang saltingnya " Batin Naura." Syaa, lo bisa. Harus bisa kondisikan " Batin Rasya ." Halo rasya " Sapa murid yang ada disebelah Rasya dengan centilnya." Emhh Halo " Jawab rasya singkat." Ihhh kok rasya cuek bgt sihh!!.. Gue harus dapetin dia walaupun gue cuma orang biasa!! Dan Naura, keknya dia ke ganjenan deh ama si Rasya, jijik banget sihh " Batin murid yang di sebelah rasya yang tadi menyapa nya." Oke anak anak, ayo kita mulai pelajaran nya " Ucap Pak Dion."Baik Pak" Jawab semua murid diruang kelas rasya.(DIKELAS ADARA)"Anak anak, kita kedatangan murid baru nihh, ayo silahkan masuk " Ucap guru perempuan bernama Salma." Siapa dia? "" Cowok atau cewek orangnya? ""Kelas ini datang murid baru?? "Itulah rata rata ocehan murid yang ada dikelas Adara.Adara pun masuk seperti apa yang disuruh oleh miss Salma Tadi." HAAA??!!! " teriak para siswa di ruangan itu terkejut melihat kedatangan Adara." INI MIMPII KANN??!! " Teriak murid tak percaya.Sementara Adara dan Miss Salma hanya terkekeh melihat ekspresi mereka." Yasudah Adara, ayo perkenalkan dirimu " Ajak Miss Salma."Hai semuanya, nama aku Adara Angeline Aurelia Putri Pratama, pasti udah tau kan hhee, salken semuanya" Adara memperkenalkan dirinya dengan anggun." A-adaraa??!! " Batin seseorang tidak percaya.Dia adalah Gibran, anak dari seorang Mafia, dia hanya jahat kepada orang yang jahat ke orang yang dia sayang duluan. Dan ternyata Gibran menyukai Adara karena beritanya tersebar luas ke penjuru dunia." Yasudah adara, kamu boleh duduk di sebelah anak murid itu, dia Gibran " Ucap miss Salma." Baik miss " . Jawab Adara.Lalu Adara juga kaget melihat orang yang ditunjuk miss salma, ternyata dia adalah Gibran, seorang Mafia terkenal didunia, adara ternyata menyukai Gibran juga?? Dia selalu menyimpan foto²nya di galeri, begitu juga dengan Gibran." Gi-gibran?? " Batin adara terkejut.Adara pun duduk di bangku sebelah Gibran dan Gibran pun sontak kaget melihat Adara duduk disamping nya." Adara? Dia duduk di sebelah guaa?? Sungguh tidak bisa diprcaya. " Batin Gibran." Halo " Sapa Adara dengan suara lembutnya."E-eh h-halo.." Jawab Gibran dengan senyumnya." Eh eh eh si Gibran, dia deket sama si Adara, ihh gak bisa dibiarin " Gumam murid yang tak suka pemandangan itu." Nama lo Gibran kan? " Tanya Adara sembari tersenyum maniss." MasyaAllah, ciptaan mu Tuhan" Batin Gibran."Iya gue Gibran, dan.. Elo adara kan?? " Jawab Gibran sambil bertanya balik."Iya gue adara, kok tau? " tanyanya."Siapa sih yang gak tau adara, kan nyebar banget diberita" jawab Gibran."Hehe iya makasih, gue juga tau lo karena nyebar juga diberita " Adara.Gibran tersenyum manis dan mengangguk.Ini pertama kalinya Gibran dekat dengan seorang perempuan dan mengobrol setiap pelajaran. Murid murid pun merasa aneh pada Gibran." Ini pertama kali gue jatuh cinta, trnyata seindah ini ya jatuh cinta di pandangan langsung " Batin Gibran."Akhirnya ada crush gue di depan mata gue sendiri" Batin Adara(Waduh waduhh, Adara sma Gibran saling suka lagi nihh wkwkw🤣 ayo pepet aja sihh)****(Skipp istirahat)*KRINGGGG*Bel istirahat telah berbunyi dan semua murid pun keluar kelas.*sementara dikelas Adara"Dar, lo mau ke kantin gak?" Tanya Gibran" Mau kok, sebentar lagi" Jawab Adara"Oke" Ucap GibranKemudian..."Ayo gib, katanya mau ke kantin.." Ajak Adara"Eh ayok" Gibran menggandeng tangan Adara."Eh eh, gi-gibran?? " Adara terkejut"Shuttt, diem aja gpp sih""Oke oke"Dilorong sekolah banyak yang melihat Gibran dan Adara pegangan tangan, dan itu membuat semua murid kebingungan dengan Gibran. Lalu ada salah satu murid yang menyusul Gibran dan Adara."WOYY!!" teriak murid yang tidak suka melihat itu.Adara dan Gibran menoleh kebelakang karena terkejut mendengar itu." WOYY!!!" teriak murid yang tidak suka pemandangan itu.Adara dan Gibran pun menoleh ke belakang karena terkejut mendengar itu.****"HEH JULEHA APASIH MAU LO?!" Balas Gibran dengan teriakan juga.Ya, dia adalah Lea Keyla Askara, dia biasa dipanggil Lea. Dia Adik dari KimberlyAdara pun kaget melihat Gibran marah seperti itu."Gib, udah gib.." Lerai Adara."Orang kayak gini gabisa dibiarin ra, dia ganggu hidup gue terus""Apaan sih, kok kamu belain dia gitu sih sayang" Ucap Lea membuat Gibran semakin marah."Sayang sayang pala lo peyang!!" Ujar Gibran dengan nada yang agak dinaikkan.Adara pun terkekeh mendengar omongan Gibran tadi."Heh murid baru sok kaya, lo tuh gausah deketin Gibran deh dia itu udah berpemilik dan gue miliknya" Ucap Lea dengan tatapan sinis."DIA BUKAN SOK KAYA LEA, DIA EMG KAYA, HARUSNYA LO YANG JANGAN SOK KAYA!! DAN SATU LAGI, LO ITU BUKAN PACAR GUE DAN JANGAN NGAKU NGAKU PACAR GUE!!" teriak Gibran dan membuat Lea semakin marah kepada Adara."Ihhh Gibran!! Cuma gara² adara lo belain dia gitu?!" Ucap Lea."Emgnya kenapa? Masalah? Dia ini pacar gue dan lo gak berhak ngatur hubungan kita!" Gibran beralasan seperti itu membuat semua orang yang ada di dekatnya terkejut terlebihnya Adara dan Lea."Gib, tapi kan- " Belum selesai Adara bicara, tetapi Gibran langsung memotong perkataan dia."Shutt, ikutin gue aja" Bisik Gibran pada Adara dan diangguki oleh Adara."G-gibran.. Kamu pacaran sama Adara? Sejak kapan?? Ishh ini gak bisa dibiarin!!" Geram Lea."Apa lo cemburu?" Ucap Gibran."IHH DASAR CEWEK PEREBUT!!" Ujar Lea sembari ingin memukul Adara tapi dihentikan oleh Gibran."Gue pawangnya, dan kalau lo mau macam² sama Adara, gue pastiin hidup lo ga bakal tenang" Ucap Gibran dengan santainya.Semua Murid terkejut dengan Pandangan yang mereka lihat sekarang, Gibran mengaku bahwa dia pacar Adara, walaupun ada rasa tidak suka dan cemburu, tetapi mereka memilih diam karena takut jika Gibran marah."HEY, ADA APA INI?!" Teriak Rasya menghampiri Gibran Adara dan Lea."Kakakk" Ucap Adara sambil pergi menghampiri Rasya dan memeluknya."Kamu kenapa Ra?" Ucap Rasya dengan raut wajah khawatir."Apa lo itu Rasya, kakak nya Adara?" Tanya Gibran."Iya gue Rasya, kakak Adara" Jawab Rasya. "Apa lo Gibran?" Tanya rasya pada Gibran."Yes, gue Gibran dan ada yang mau gue omongin sama lo" Ucap Gibran dan Rasya dia hanya mengangkat satu alisnya yang artinya dia bertanya."Tadi tuh si Lea mau celakain Adara, langsung gue hindari deh, emang dasar tuh juleha kalsium" Gerutu Gibran menunjuk dan menatap sinis pada Lea."HEHH, LO APAIN ADEK GUE HAH??!!" geram Rasya kepada Lea."Udah kak udah" Lerai Adara memisahkan Kakaknya."Tapi ra, kamu itu adek nya kakak, jadi ini udah tanggung jawab kakak buat lindungin kamu" Jelas Rasya."Tapi kak-" Belum selesai Adara bicara, ada seseorang yang menghampiri keributan itu."HEHH, JANGAN MACAM² YA LO KE ADEK GUE" Ternyata orang yang menghampiri mereka adalah Lisa, kakak Lea."Kakakk, lihat deh mereka mau mukul aku" Ucap Lea berbohong.Yahh, siapa yang tidak greget dengan perilaku Lea? Sungguh menyebalkan!!."Maksud kalian semua apa hahh??!! " Geram Lisa."Itu tuh kak, yang namanya Adara sama Rasya, dia mau celakain aku terus si Adara mau ngambil Gibran dari akuu" Sekali lagi Lea berbohong."LEA, JAGA OMONGAN LO BANGSATT!! ADARA GAK SALAH APA APA!!" Gibran marah.Sementara Lea, dia hanya terkekeh jahat melihat Adara."GUE GAK PERCAYA, DAN LO ADARA HABIS LO DITANGAN GUE, DASAR ANAK CEO GATAU DIRI!" Balas Lisa sambil teriak juga."Kebalik, yang harusnya habis itu lo sama adek lo, bener gak sih guys?" Tanya Rasya santai kepada semua murid yang melihatnya."BENER BANGET TUHH" Ucap semua murid yang ada disitu, namun sebagian murid tidak menjawabnya."Ishh, gak bisa dibiarin!!""KEVIN, NOAHHH!!" Panggil Lisa, yah kevin dan noah adalah saudara mereka sama sama bersekongkol melakukan kejahatan."Kenapa lis?" Tanya mereka berdua menghampiri nya."Hajar mereka, karena mereka bertiga mau celakain kita berdua" Lisa beralasan."Kurang ajar lo ya!" Gerutu Kevin kesal."Apa lo mau berantem? Gass!" Ucap Gibran menerima tantangan mereka."Dek tunggu sini" Ucap Rasya pada Adara dan adara pun mengangguk.Perkelahian itu pun terjadiGibran melawan KevinDan Rasya melawan Noah.Melihat mereka babak belur, Adara langsung menghampiri mereka."KAK ASYA, GIBRAN, UDAH STOPP!!!" Lerai adara untuk menghentikan perkelahian mereka.Dan..BUGHHH!!!satu pukulan mengenai Adara karena Kevin tidak melihat Adara di depannya."Arrgghhh" Adara meringis kesakitan."ADARAAA!!!" Teriak Rasya dan Gibran dengan raut wajah khawatir.Tak lama itu, adara langsung pingsan dan jatuh ke pelukan Gibran."Ra, adara, adaraaa!!" Panggil Gibran sambil menepuk pelan pipinya."Adekk, kamu kenapa dekk" Ucap rasya dengan nafas terengah karena perkelahian tadi."Gib, ayo bawa Adara ke UKS" Ajak rasya.Dan Kevin Noah Lisa dan Lea hanya tertawa jahat melihat semua ini.Gibran pun menggendong Adara ke UKS dan Rasya masih didekat Kevin dan Noah."Urusan kita belum selesai, gue pastiin kalian semua gak akan selamat" Geram Rasya lalu menyusul Gibran dan Adara ke UKS."Serah deh" Noah."Haha palingan modus" Kevin terkekeh"Pokoknya aku harus dapatin Gibran!" Ucap Lea."Iya dek, gue tau gue bakal bantu lo deket sama gibran dan musnahin si Adara, tapi ada syaratnya.. Kalian juga harus bantu gue deket sama si rasya, dan musnahin si Naura centil itu" Lisa."Sipp, apasih yang nggak buat saudara kita" Ucap Kevin.Lisa Noah dan Lea terkekeh geli dan mereka semua kembali ke ruang kelas.(DI UKS)"Bu tolong Buu" Ucap Gibran."Iya ada apa?" Jawab Guru UKS."Ini ada yang pingsan" Rasya."Eh ayo ayo bawa ke brankar sini" Ajak guru UKS itu.Gibran pun menidurkan adara ke brankar."Apa kalian boleh keluar dulu?" Guru UKS."Oke bu, tapi pastiin Adara baik baik aja ya bu" Ucap Rasya dan diangguki oleh Guru UKS.Gibran dan Rasya menunggu diluar lalu mengobrol satu sama lain."Eh, apa lo mafia itu ya? " Tanya Rasya."Iya, dan lo anak CEO itu kan?" Gibran tanya balik ke rasya dan diangguki olehnya."Apa lo suka sama Adara? Gue liat, tadi pandangan lo ke Adara itu gak biasa, apa bener gib? " Tanya Rasya."Apa Lo gak akan marah?" Bukannya menjawab Gibran malah bertanya balik.Rasya terkekeh mendengar ucapan Gibran."Untuk apa gue marah? Yang ada gue itu dukung, Kalau itu kebahagiaan Adara ya gue setuju aja" jelas Rasya sambil menepuk pelan bahu Gibran."Thanks kak,sebenarnya gue ini fans fanatik Adara,karena beritanya tersebar luas" Gibran."Heh, lu tau gak sih kalau Adara juga fans fanatik lu , foto galeri dia hampir penuh karena foto lu" ucap Rasya sambil tertawa kecil."Bener kak?" Ucap Gibran sambil tersenyum bahagia."Iya lah,ngapain gue bohong , jadi Pepet aja Adara nya" usul Rasya."Secepetnya deh kak" Gibran"Oke gue tunggu yahh" Rasya."Tapi, apa Kaka tau kesukaan Adara apa saja?" Tanya Gibran."Hmm Adara tuh Suka es krim, cokelat, buah buahan yang manis apalagi durian dia suka, dan dia itu orangnya manja,sensitif , ngeselin tapi ngangenin , ramah dan penyayang orang nya" Jelas Rasya ."Oke kak thanks" ucap Gibran dan Rasya tersenyumKemudian tak lama seorang guru UKS tadi yang memeriksa Adara menemui Gibran dan Rasya."Bu, gimana Bu keadaan adik saya??" Tanya Rasya."Iyh Bu gimana keadaan Adara?" Tanya Gibran."Alhamdulillah dia baik baik saja, tetapi mohon dijaga dan suruh dia beristirahat sampai sembuh total" Usul guru UKS tsb."Baik dok kami akan jaga" ucap Rasya dan Gibran bersamaan.*KRINGGGG*Bel masuk telah berbunyi"Kak, ke kelas aja duluan, gue mau jaga Adara aja.. dan tolong bilang ke guru kelas kita apa yang terjadi sama Adara" Gibran."Oke gib tenang" RasyaRasya pun pergi ke kelas Adara dan Gibran terlebih dahulu dan menceritakan apa yang terjadi pada Adara , lalu pergi ke kelas nya.*Sementara di UKS*"Ra, bangun dong.."CUPPSatu kecup ciuman melayang di pipi kanan Adara, dan tak lama sehabis itu Adara pun langsung sadar."Eughh""Ra, akhirnya Lo sadar juga""G-gibran? Lo ngapain disini, dan.. gue juga kenapa bisa ada disini?""Tadi kan Lo dipukul sama Kevin""Oh iya,gue lupa serius""Yaudah, Lo istirahat dulu aja gih, kata guru UKS nya harus istirahat total""Ciee perhatian""Kan gue kasian sama Lo""Hmm iya dehh.. eh btw Lo kenapa jaga gue? Kan bisa kak asya , kenapa Lo gak masuk aja ke kelas?""Gue lebih milih jagain Lo Ra""Hmm terserah Lo aja sih ""Yaudah , Lo mau makan gak?""Boleh tuh , gue laper nih""Kebetulan tadi dikasih bubur sama gurunya , gue suapin yah""Jantung gue harus dikondisikan oke" Batin Adara"Yaudah terserah Lo aja gib"Gibran pun mengambil bubur nya dan menyuapi Adara dengan penuh kasih sayang."Nih aaa""Makaciii""Dar, gausah semanis itu bisa?" Batin Gibran.(Skipp udah pulang)*KRINGGGG*Bel pulang telah berbunyiRasya dan temannya Gibran Adara ikut menemui mereka di UKS. temannya adalah Naura, Violetta, Irsyad."Assalamualaikum" ucap Rasya dan segerombolan temannya mengucapkan salam."Waalaikumsalam" ucap Adara dan Gibran."Haii" Naura"Eh haii,ini temennya kakak yahh?" Adara"Iya dek, dia Naura" Rasya."Eh eh kak,ini Naura yang kakak crushin itu yahh di sosmed" Adara.Semua yang ada di UKS kaget mendengar omongan Adara"Adara" pekik Rasya"Hehe maaf kak keceplosan" Adara"Kebiasaan tau kamu tuh" Rasya"Yee sorry" Adara"Apa benar yang dikatakan Adara? Oh my my, gak nyangka Rasya crush gue suka sama gue juga" batin Naura.* Dertt .. dertt .. dertt ..*Suara Telpon ponsel berbunyi di iPhone Adara.Dan ternyata itu adalah papi nya, Ryan."Eh kakak papi nelpon" Adara"Duh gimana cerita ke papinya " Rasya"Tenang aja kak , aku bakal sembunyiin semuanya""Gak yakin sih Kalau kamu bakal jaga itu" Rasya"Ihhh kakak!!!" Adara"Iya ih maaf bercanda" RasyaSemua seisi ruangan tertawa melihat sikap Adara dan Rasya."Yaudah angkat Ra" Gibran"Oke" Adara"Eh dek di lord speaker yah kakak juga mau dengar" Rasya"Iya iya"Adara pun mengangkat telpon tersebut(PERBINCANGAN TELPON ADARA DAN PAPINYA)Assalamualaikum Pi, ada apa?Waalaikumsalam, kamu dimana sih sayang? Kata pak Riza dia daritadi nunggu kamu SM kakak di gerbang dan gak muncul², emangnya kemana?Eehh anu Pi, Adara main dulu sama kak asya ke rumah teman baru, boleh nggak Pi?Hmm iya deh boleh, tapi jangan lama-lama yah.. jangan sampai malamSiap pii, eh tolong telponin pak Riza dong Pi, pulang duluan aja gitu yah..Iya adee, papi juga mau telfon nihhEh eh papi dikantor kan? Adek nitip sesuatu dongg, pizza sama es cappucino mathca nya ya piiIya adee insyaAllah, yaudah yaa..Eh eh papi curang, masa kakak gak dibeliin(Ucap Rasya tiba tiba menimbrung)Haha iya kakak, pasti nya papi juga inget ke kakak dongg..Apaan sih kakak ikut aja gak modal(Adara)Dihh biarin Ade juga ngacaa!(Rasya)Hey hey kenapa pada ribut? Sudah, nanti papi belikan satu satu, yaudah papi matiin dulu ya bye Ade, kakak..Okee piii, babayyy(Adara)Bye pii(Rasya)*Tut Tut Tut..*Saluran telpon terputus.Semua di UKS ricuh mendengar perkataan Adara dan Rasya tadi , sungguh menggemaskan!!"Eh kita belum kenalan lohh" vio"Kita juga" Irsyad"Gausah kenalan kali , aku udah tau kalian siapa kan berita nya tersebar luas" Adara"Itu vio, dan itu Irsyad" lanjut Adara menunjuk vio dan Irsyad."Haha, iya dong kami juga selaku mendengar berita kalian berdua, Adara dan Rasya , kalian begitu terkenal" Violetta"Iya haha" Irsyad"Eh diliat liat kalian cocok banget sih" Adara"Pasti dong , mereka kan duo bucin" Naura"Hah? Jadi mereka berpacaran? Wahh, kenapa tidak beritahu publik?" Adara"Yahh begitulh, jika diberi tahu publik makin ricuh ocehan dari warganet" Violetta"Yah benar, kau benar sekali" Adara"Eh yasudah kita pergi dari UKS , ayo pulang" ajak Gibran"Eh iya lupa" ucap Adara."Eh nongkrong ke Caffe Yo, mau ga?" Tanya Mala."GASSS!!!" Teriak mereka semua kompak.Mereka pun pergi meninggalkan UKS dan memutuskan untuk bermain sebentar agar lebih mengenal , mereka memilih Caffe Star untuk bermain sebentar."Eh nongkrong ke Caffe Yo, mau ga?" Tanya Mala."GASSS!!!" Teriak mereka semua kompak.Mereka pun pergi meninggalkan UKS dan memutuskan untuk bermain sebentar agar lebih mengenal , mereka memilih Caffe Star untuk bermain sebentar.****(DI CAFFE STAR)"kalian mau mesen apa?" Rasya"Aku sih spaghetti carbonara aja, sama minumannya jus alpukat" Adara"Kita mah samain aja" ucap semua nya"Yaudah kalau gitu , mbak sini" panggi Rasya kepada pelayan Caffe"Ya , ada yang bisa saya bantu?" Pelayan"Emm ini mbak kita mau mesen spaghetti carbonara nya 6 dan jus alpukat nya juga 6" Rasya"Oke akan Kami siapkan segera" pelayan"Oke mbak" RasyaMereka semua mengobrol satu sama lain sambil menunggu pelayan membawakan pesanan mereka.Disitu Rasya hanya melamun dan memandang Naura dengan wajah polosnya.Mereka yang menyadari itu langsung berniat ingin mengejutkan Rasya"KAK ASYAA!" teriak Adara yang membuat Rasya kaget"Naura Naura" reflek Rasya berkata seperti itu karena dikagetkan oleh Adara, huhh sungguh jahil!Semua yang mendengar itu juga terkejut terlebih nya Naura sendiri.."Eh ra-rasya??" Naura"Ha e-enggak , cuma kaget doang keceplosan" Rasya"Keceplosan atau keceplosaaann" ejek Adara"Adek!!" Geram Rasya"Sorry kakak" Adara hanya memasang wajah polosnya"Gue salting parah cuyy" batin Naura"Aduduhh gimana nih , si Adara make kagetin segala , makin malu gue" batin Rasya" Kak ayoo" bisik Adara"Ha apaan sih dekk" jawab rasya sambil berbisik juga"Ungkapin aja kak" Adara"What? Kakak malu lah Ra mana banyakan gini" Rasya"CK, Cemen!" Adara"Berani ya sama kakak?" Rasya"Ngapain takut" Adara"Dih punya adek ngelunjak banget sih" Rasya"Biarin , adek gabakal ngelawan Kaka lagi kalau kakak udah tembak kak Naura"Adara"Huh reseee! , Iya nanti kakak ungkapin" Rasya"Wahh Beneran kan??" Adara"CK iya"Rasya"Okeyy dehhh" AdaraTak lama sehabis itu pelayan pun datang membawa 6 spaghetti carbonara dan 6 jus alpukat untuk mereka."Makasih yah mbak" ucap mereka semua serentak"Sama sama" jawab pelayan tersenyumMereka semua memakan makanan dan minuman yang mereka pesan.."Udah gede masih cemong aja makannya , kayak bayi aja" ucap Gibran sambil mengelap makanan yang berantakan dimulutnya.Blushhh..!!!Pipi Adara memerah karena perilaku Gibran tadi!Semua yang melihat kejadian itu pun baper! Sungguh lucuu!!!"AAA CIEE CIE GIBRAN OMG TUMBENAN SIKAP NYA GITU KE CEWEKK KIWW" heboh Violetta"Ekhemm adeekkk.." ledek Rasya"Ehh pipinya kayak kepiting rebus!!" Ejek Naura"Gausah salting kalii" Irsyad"Kalian apaan sih" Adara"Tau , gue cuma bersihin makanan yang ada di mulut Adara" Gibran"Gib , jangan gitu yah lain kali.. jantung gue mau copott!!.." batin Adara"Apa gue langsung tembak Adara aja yahh" batin Gibran sambil tersenyum"Gibb , udah kakak setuju kamu jadi adek ipar kakak" RasyaDan blushh..!!!Pipi Adara kembali memerah karena omongan Rasya tadi..Semua juga kaget dan baper mendengar perkataan Rasya"Kakak..!!" Omel Adara"Apasih dekk?" Rasya"Ishhh nyebelin tau gaa??!!" Adara"Nyebelin tapi bikin salting kaaann??" Ejek Rasya"Tau ahhh" AdaraNaura Violetta Irsyad mereka tertawa geli melihat tingkah adik kakak yang begitu menggemaskan"Yaudah abisin dulu aja makanan nya" ujar Rasya dan mereka semua mengangguk.*Skipp selesai makan*"Yaudah ayoo bayarr" Irsyad"Let's go!" Violetta"Kakak.." bujuk Adara dengan puppy eyes nya"Hmm.. gausah ngomong , kakak udah tau , kebiasaan tau ga" Rasya"Gapapa dong , kan aku adek nya kakak" Adara"Hmm iyaa" RasyaMereka semua pun sudah membayar makanan nya masing² lalu memutuskan untuk pulang kerumah nya...(DIRUMAH RASYA DAN ADARA)"Assalamualaikum mamiii papiiii" heboh Adara bersemangat sambil menyalami tangan orang tuanya"Assalamualaikum" singkat Rasya sambil menyalami tangan orang tuanya juga"Waalaikumsalam , eh anak anak papi sama mami udah pulang.." ucap Nadya dan Ryan bersamaan sambil mengecup kening mereka satu satu"Mana pii itunyaa??" Tanya Adara"Itunya apa adek?" Tanya balik Nadya"Itu lohh tadi adek nitip ayam geprek sama minumannya , masa gak dibeliin sihh?!!" Ucap Adara sambil mengerucutkan bibirnya"Iya dongg papi gak lupa , yakali papi lupa sama anak anak papii" ucap Ryan membujuk Adara karena mengambek"Wahhh mana mana??" Ujar Adara tak sabaran"Kakak bagii, kakak juga nitip kan" sahut Rasya"Iya bentar Napa sih" gerutu Adara"Tapi yang kakak simpen dulu aja kan kita baru makan tadi di Caffe" ucap Rasya"Ooh jadi kalian tadi pulangnya mampir ke Caffe dulu.." ujar Ryan"Gimana disekolah baru nya , banyak temen nggak?" Tanya NadyaRasya yang khawatir jika Adara bercerita jika tadi dia dicelakai oleh Kevin menatap Adara agar tidak memberi tau kejadian tadi pagi."Oke adek gabakal cerita" bisik Adara dan diangguki oleh Rasya"Emhh anu Pi, mi, yaa gitulah.. banyak kok yang temenan sama kita , baik baik lagi" ucap Adara"I-iya pii, banyak banget yah kan dek" sahut Rasya dan Adara pun mengangguk"Ya pasti banyak dongg, apalagi non Adara dan Aden Rasya ini kan putra putri CEO terkenal didunia , pasti banyak lah yang mau" sahut bi Ika yang tiba tiba datang memuji mereka"Hehe bibi bisa aja" ucap Adara"Alhamdulillah kalau banyak yang baik sama kalian.." ucap Nadya"Iya Alhamdulillah" ujar Ryan"Eh mami papi tau ga , si adek disekolah itu ada crush nya loh pii,mii" ejek Rasya"Waaahh.. siapa tuuhh?" Tanya Ryan"Cieee gadis mami udah gede" ucap Nadya"Dihh siapa bilang , asal mami papi tau aja yahh di sekolah itu juga ada crush nya Kakak loh" balas Adara"Hmm.. apa itu kalangan CEO juga?" Tanya Nadya"Iya dong mi , kan Adara pernah cerita kalau kak Rasya suka sama Naura putri om aldiano itu lohhh" ejek Adara"Apa sih dek , kamu juga suka Gibran kan?!" Balas Rasya sambil tersenyum sinis" Gibran mana? Atau dia anak mafia terkenal itu yah?" Tanya Ryan"Iya lah Pi , tapi papi mau tau gak kalau sikap Gibran ke Adara itu baik banget ga bohong , terus murid yang lain juga pada aneh liat sikap Gibran ke Adara kek cinta gituu.." ejek Rasya dengan tatapan mata sinis nya.Adara mendengus kesal mendengar kata Rasya tadi lalu dia menaiki anak tangga dan pergi ke kamar nya karena kesal."Lah lah, tu anak malah ngambek" ucap Rasya."Hahah udah biarin aja deh kak, kakak juga mandi dulu sana gih nanti malem turun makan" titah mami Nadya."Siap boss!!" Jawab Rasya berlagak seperti hormat pada mami nya.Nadya dan Ryan pun tertawa kecil melihat tingkah anak nya itu, gemas!!.Adara mendengus kesal mendengar kata Rasya tadi lalu dia menaiki anak tangga dan pergi ke kamar nya karena kesal."Lah lah, tu anak malah ngambek" ucap Rasya." Hahah udah biarin aja deh kak, kakak juga mandi dulu sana gih nanti malem turun makan" titah mami Nadya."Siap boss !!" Jawab Rasya berlagak seperti hormat pada mami nya.N adya dan Ryan pun tertawa kecil melihat tingkah anak nya itu, gemas!!.****Sementara di kamar Adara..Adara kelelahan dan berbaring di kasur luasnya itu, dia merasa tubuhnya lengket dan sedikit bau lalu memutuskan untuk membersihkan diri, mandi."Hufftt capek bangett" keluh Adara."Hmm mandi dulu deh bau gini" ucap Adara pada dirinya sendiri.Adara pun pergi ke kamar mandi membersihkan badannya yang sedikit bau dan lengket. Dan setelah 20 menit Adara telah selesai menjalankan ritual mandinya."Akhirnya wangi juga nih badan hihiii" ucap Adara memuji dirinya sendiri."Hmm kedapur ah laperrr, tapi males juga sihh ketemu kak Rasya" ucapnya lesu didalam hati."Udah deh gpp udah laper banget nihhh" lesu Adara.Adara pun menghampiri Rasya dan kedua orangtuanya di dapur, terlihat mereka sedang menyiapkan makan malam bersama 2 asisten rumah tangga nya itu.(DIDAPUR)"Haii mami, papi" sapa Adara pada kedua orangtuanya."Halo sayang" jawab Ryan."Eh inces nya mami udah Dateng, ayo kita makan yuk" ajak Nadya."Dih mami papi doang disapa, kakak enggak" ucap Rasya pura pura merajuk."Ngapain coba" jawab Adara malas."Nih Pi, mi, liat nih Adara udah mulai ngelunjak" adu Rasya sebal.Nadya dan Ryan hanya menggelengkan kepalanya terkekeh geli melihat tingkah laku itu."Makan dulu yuk, berantem nya belakangan" ujar Ryan."Gak deh, kakak males berdebat sama tuh bocill" ledek Rasya sambil menunjuk Adara."Aku emang bocil, bocilnya ayang ibannn wleee" balas Adara meledek Rasya sambil menjulurkan lidahnya."Dihh berobat lu, Gibran aja belum tentu suka sama lu udah manggil ayang aja" balas Rasya."Kata siapa huu" dan Adara tak mau kalah."CK CK CK, gadis kecil papi sudah dewasa, tetapi masih manja" decak Ryan sambil menggelengkan kepalanya tertawa kecil."Apaan udah dewasa tapi masih kecil gitu" ejek Rasya."Biarin aja sih" balas Adara."Heii sudah sudah, ini lho bi Siti dan bi Inah sudah siapkan makanan nya, ayo dimakan jangan bertengkar terus" titah Nadya."Iya mi" jawab Adara dan Rasya.Setelah beberapa menit mereka sudah menyelesaikan acara makan malam nya, kini sudah jam 8 malam, Adara pun meninggalkan dapur dan kembali ke kamarnya."SEMUANYAA, ADEK KE KAMAR DULU YAHHHH" teriak Adara dari atas."APAAN SIH GAK ADA YANG NANYA JUGA" Balas Rasya sambil teriak di bawah sembari memainkan iPad nya."BIARIN AJAAA" Jawab Adara di atas masih dengan nada teriaknya.Adara pun masuk ke kamar nya yang luas dan aesthetic itu, adem sekali."Hmm bosen dehh, ngapain yah" tanya Adara pada dirinya sendiri."Main handphone aja deh" ucapnya lagi.Adara pun mengambil iPhone nya di meja belajar nya itu, dia mengotak Atik ponselnya karena bosan ingin memainkan apa.(SEMENTARA DIRUMAH GIBRAN)"Huhh bosen bett, ngapain yah" ucap Gibran."Pengen chat Adara tapi gak tau nomornya, apa gue minta ke Rasya aja ya?" Tanya nya di dalam hati."Yaudah deh gue minta ke Rasya aja kan tadi udah tuker nomor sama dia" batinnya lagi.[ Chat on]Kakak IparAssalamualaikum kakWaalaikumsalam, kenapa gib ?Kak minta nomor Adara boleh gak?Ohh boleh dong, tapi buat apa?Ya gak apa apa, butkon aja boleh kan?Hmm butkon atau mau chatan sama diaa ?? Jujur aja Gibb wkwkHehe iya kak, gitu dehh .. yaudah mana nomornya?SEND CONTACT👤: Bocill Kesayangan🤓🤍Thanks banget kakSama sama Gibb..Yaudah assalamu'alaikum kakWaalaikumsalam//Read[ Chat off]" Akhirnya bisa chatan sama Adara" batin Gibran senang."Chat sekarang dehh" batin nya lagi.[CHAT ON]Daraa 💛💫PSalam dulu, aku bilang mami nihhHehee maaff , lucu banget sihhApaan sihAssalamualaikumNahh gitu dong, waalaikumsalamSiapa?SV Gibran yahOoh , okeyyyUdah disave belum?Iya udahDi save nya kek mana??Ya kek gitu..Aku mau tauu kamu SV aku apaApaan sih aku kamu aku kamuHmm yaudah maaf,boleh tau gak disave nya apaa'GIBRAN' gitu doangMmm bohonggIhh bener lohhYaudah dehh, bentar yahmau ke luar dulu sebentar ajaIya santai aja//Read[CHAT OFF](SEMENTARA DI KAMAR ADARA)Adara ternyata hanya diam saja karena menahan malu chatan dengan Gibran tadi.Sebenarnya dia menamakan kontak gibran ' Ibann🤍' , namun karena malu dia berbohong padanya."Aaaa salbrut guee" ucap Adara yang sedaritadi hanya diam saja kini melompat lompat diatas kasurnya karena salah tingkah.(DIRUANG TAMU ADARA)*Tok tok tok..."Hah? Siapa itu Pi jam 8 gini??" Tanya Rasya pada papinya.Yapp Rasya papi dan mami nya berkumpul diruang tamu, Rasya memainkan iPad nya, dan mami papinya menonton TV diruang tamu."Mana papi tau kak, yaudah bukain gih" titah Ryan."Oke Pi" jawab Rasya.Rasya pun menghampiri pintu depan dan membukanya, ternyata setelah dibuka pintunya ternyata..."GIBRAN?!" Teriak Rasya kaget.Yapp itu adalah Gibran, tadi dia meminta izin pada Adara untuk keluar sebentar bukan?? Ternyata dia malah pergi ke rumah Adara."Aduuuh kak jangan teriak teriak Napa" ucap Gibran."Abis nya Lo kenapa bisa disini? Dan mau ngapain??" Tanya Rasya pada Gibran."Hehee, gue mau minjem adek Lo, boleh gak kak?" Tanya balik Gibran sambil cengengesan."Malem² gini? Lo mau bawa Adara kemana? Mau ngapain Lo sama Adara?" Rasya bertanya lagi."Yahh kak gausah pikir negatif kali, gue juga mau ngajak ke taman doang main, pliss boleh yakk??" Tanya Gibran."Ya gue sih boleh² aja, tapi noh si mami Sama papi, dibolehin kagak" ucap Rasya."CK yaudah dehh" pasrah Gibran."Eh kak siapa??" Tanya Ryan penasaran."Ooh ini Pi Gibran, calon mantu papi haha" canda Rasya."Apaan sih" jawab Gibran malu."Waahh apa ini nak Gibran?? MaasyaAllah, ganteng sekali dia gak seperti kamu kak" puji Nadya pada Gibran dan mengejek Rasya di akhir katanya."Ishh mami apaan coba" geram Rasya tak terima."Bercanda kakak" bujuk Nadya."Ini nak Gibran? Sini masuk dulu" titah Ryan."Oke Tan, om" jawab Gibran dengan sopan.Gibran pun masuk rumah mewah itu dengan sopan nya dan menyalimi tangan kedua orang tua Adara."Kamu mau apa kesini malam²? Tanya Ryan dengan lembut."Paling mau ngajak Adara ngedate lah pii" bukan Gibran yang menjawab melainkan Rasya."Ssstt kak.. diam dulu" tegas Nadya dan Rasya hanya bisa menurutinya."Eeh begini om, Tan, gibran kesini mau ajak Adara keluar di taman, boleh gak om??" Tanya Gibran dengan wajah penasaran."Mmm gimana yahh.." ucap Ryan bingung.

Over Jou
Teen
09 Jan 2026

Over Jou

Saudara ya?Saat mendengar itu, aku langsung teringat kakakku. Dia benar benar orang yang kuat.Sejak kami masih kecil, dia terus melindungiku. Rela dipukul Ayah demi menutupi kesalahanku, rela dicaci Ibu agar cacian Ibu tidak ditujukan untukku.Tapi bukan berarti Ibu dan Ayah akan selalu memujiku. Kami sama sama tidak disukai mereka. Dan kami tidak tahu apa salah kami. Apakah karena kami terlahir ke dunia ini, atau karena kami hanya membebani mereka.Kakak memutuskan untuk membawaku pergi dari rumah, dengan harapan agar kami terlepas dari siksaan ayah dan ibu. Tapi tak ada bedanya walau kami keluar dari rumah.Ayah menyewa preman untuk membawa kami pulang, kami dihajar habis habisan dan diseret pulang. Lalu kami kabur lagi. Seperti itu terus berulang.Sampai kami berhasil keluar kota tanpa meninggalkan jejak untuk para preman itu.Kakak sangat memikirkanku. Di tengah malam saat kakak sudah tertidur lelap, aku menangis tanpa suara. Dia sangat menderita, dan itu hanya untuk melindungiku. Aku ingin membantunya, aku ingin meringankan bebannya. Tapi dia selalu menolak, dan akan memarahiku saat aku nekat menolongnya.Dia bahkan berhenti sekolah untuk terus membiayai sekolahku, bekerja dari pagi sampai malam setiap hari dengan gaji yang pas pasan.Aku pernah mendatangi kakak saat dia bekerja, dan pemandangan tak mengenakan yang terlihat olehku. Lagi lagi kakak mendapatkan cacian dari orang sekitarnya. Dari teman serekannya, managernya, bahkan pelanggannya.Dan bodohnya aku, aku hanya bisa terdiam dengan air mata yang mengalir, lalu lekas bersembunyi saat kakak hampir melihatku.Setiap makan malam aku bertanya padanya "apa kakak benar benar tidak mau aku membantumu?"Dan dia hanya tersenyum manis sambil mengusap kepalaku "kamu tidak perlu mengkhawatirkan kakak, semua ini tidak berat untuk kakak"Dia tertawa, membuatku juga menarik tawaku dengan hati yang sakit.Suatu hari saat kakak akan berangkat bekerja aku mengatakan suatu hal padanya "kakak, kamu tidak perlu menanggung beban yang berat sendirian. Aku ada disini, disisimu"Kakak tersenyum dan mengusap kepalaku. Tapi siapa yang sangka kalu itu adalah senyuman dan usapan terakhir darinya?Aku diberitahukan bahwa kakakku telah tewas terbunuh akibat peluru tanpa arah.Hahhhh... Mengesalkan!Bagaimana bisa selama 17 tahun aku hidup dan aku tidak pernah melihat kakakku menangis?Dua hari setelah kematian kakak, bos ditempat kerjanya menghampiriku dan memberikan sebuah amplop. Di dalam amplop itu terdapat sebuah surat dan uang. Kata bos, uang itu adalah tabungan kakakku yang dititipkan padanya.Bahkan dari suratnya, tidak ada satu katapun yang menjelaskan betapa kesusahannya dia. Dia hanya mengkhawatirkanku, dan berkata aku harus hidup lebih baik.Hei kak! Apa bahkan kau tidak bisa meluapkan kesedihanmu bahkan setelah kau tiada?!Aku meremas kesal surat itu. Kalimat terakhirnya mengatakan dengan jelas apa yang dia rasakan selama ini.'Yahh... Kamu tidak akan tau kapan kamu pergi ya hahaha.. Kakak tidak mau membuatmu sedih, semua cacian, pukulan, hinaan, ejekan, atau apapun itu tidak lebih berat daripada melihatmu merasa sedih, kamu harus bahagia, Shou'Waktu yang kuhabiskan diseluruh tengah malamku adalah bersedih kak. Apa kamu keberatan saat aku mengkhawatirkanmu? Sebegitu kamu tidak maunya melibatkanku dalam masalahmu?!Hufff ... Setelah 3 tahun kematian kakak, ayah menemukan keberadaanku. Dia marah, sangat sangat marah. Tapi juga tersirat kesedihan dalam matanya.Ternyata selama kami kabur dari rumah dan tak pernah kembali lagi, ibu mulai sakit sakitan. Ayah bilang, semua malam ibu dihabiskan untuk menangis dan meminta maaf pada aku dan kakak dengan menyebut nama kami.Aku tidak harus memberikan reaksi seperti apa, karena aku tidak merasa senang atau pun sedih dengan kabar itu.Saat ayah menyadari bahwa kakakku tidak terlihat, aku mengatakan dengan mata berkaca bahwa kakak sudah meninggal 3 tahun lalu.Ayah tidak bereaksi, duduknya yang awalnya tegap, mulai merosot lemah. Matanya menyiratkan penyesalan. Tapi kami tidak bisa berbuat apapun.Setelah 3 hari ayah menginap di rumahku, ia membujukku untuk pulang menemui ibu dengan lembut. Tapi yang terlintas dalam benakku adalah _'itu sudah terlambat kan?'_Aku menolaknya, dengan alasan aku bekerja. Dan berjanji akan menemui ibu kapan kapan. Tapi dalam hati pun aku ragu, apa aku sanggup pulang kerumah? Rumah dimana awal semua beban kakak tertimbun, rumah dari rasa sedih, kesal, marah, dan benci kakak yang tertimbun dengan dedaunan gugur.Aku ingin berkunjung sekali, tapi aku takut melihat bayanganku saat kecil yang tidak bisa apa apa dan hanya memberatkan kakak.Tapi bertahun tahun kemudian waktu berlalu, aku sudah bisa berdamai dengan masa lalu."Kak, lihatlah keponakanmu yang lucu ini, mereka hidup lebih bahagia daripada kita kak. Ayah dan ibu juga memperlakukan mereka dengan baik. Mereka kakek dan nenek yang baik. Apa kau bahagia melihat ini kak? Apa bebanmu mulai runtuh?Entah bagaimana, buku diari dan surat terakhir kakak benar benar terwujud. Kakak menaruh impian yang sangat besar kepadaku. Dia mengabaikan kebahagiaannya demi kesuksesanku, dia merawat mentalku dari cacian orang orang.Kak, kamu adalah seorang anak yang luar biasa. Kamu adalah pahlawan yang menyelamatkan hidupku walau masa remajamu terlewatkan.Aku harap dikehidupan berikutnya, kamu bisa hidup dengan penuh kebahagiaan tanpa ada rasa yang tertimbun lagi.Dari adikmu, Shou.[ E N D ]

Gara-gara Bikin KTP
Teen
09 Jan 2026

Gara-gara Bikin KTP

Selasa, 8 september 2020 tanggal dimana Lora dilahirkan, tepat 17 tahun usianya. _sweet seventeen_ usia yang menurutnya sangat penting. Usia spesial, usia dimana masuk dunia remaja.Tepat pukul 00.00 banyak sekali yang mengucapkan ucapan untuknya. Yang pertama orang tuannya. Mereka tidak pernah lupa hari istimewa anaknya ini. Papanya memberi kado sebuah gitar, papanya memang tau keinginan Lora. Lora memiliki hobbi berkebun, maka dari itu ibunya membelikannya kado tanaman sukulen 20 pot. Betapa bahagiannya dia.Kemudian ucapan dari Saudara-sepupunya, tak lupa sahabat terdekatnya, dari teman Paud, SD, SMP sampai SMA nya membanjiri kolom _chat whatsapp_ nya. Oh ya, mantan Lora. Jangan sampai tertinggal, dia pun ikut serta mengucapkan doa-doa yang siap diaminkan Lora.___Pukul 05.00 Lora bangun dari tidurnya, mengecek isi hp nya dari mulai _whatsapp, telegram sampai instagram_-nya banyak sekali yang mengucapkan doa. Lora membalas doa mereka dengan kalimat _'aamiin, terimakasih banyak'_ kalimat yang mewakili seluruh perasaannya saat ini. Harapannya semua doa-doa dari mereka terkabul, aamiin.Kemudian Lora bergegas mandi dan mengerjakan sholat, memanjatkan syukur atas apa yang telah Allah berikan selama 17 tahun ini. Tak lupa menyiapkan seragam sekolahnya karna hari ini jadwal kelas 11 Luring.Sampai disekolah, Lora langsung disambut oleh guru dan teman-temannya. Mereka semua mengucapkan Selamat Ulang Tahun saat bertemu di jalan menuju kelasnya.Namun Lora sedikit kecewa, karena ke-3 sahabatnya memang benar-benar lupa hari ulang tahunnya. Mereka benar-benar cuek. Padahal mereka tau semua orang yang bertemu Lora mengucapkan Selamat untuknya.Dikelas pun mereka acuh, bertanya ketika pelajaran berlangsung, namun tidak peka apa yang Lora mau dari mereka. Sedih? Sangat sedih, apa mereka yang disebut sahabat.___Pulang sekolah, Lora pulang dalam keadaan lesu karna hal yang menurutnya sepele tadi. Namun tidak di sangka, ternyata sahabatnya datang kerumah dan membawakan kue dan kado. Lora terharu, mereka menyembunyikan ini semua tadi disekolah. Salsa, Cici, Dini memang sahabat terbaik.___Memang hari ini hari bahagia Lora, namun tak berangsur lama, adik dari kakeknya meninggal dunia pada hari itu juga. Astaga, gimana jadi Lora? Dia baru saja merasakan bahagia tapi bahagiannya sementara. Kenapa Allah memberikan ujian seberat ini. Paginya dia bersenang-senang memang, namun sorenya? Oh astaga. Kenapa harus bareng sih?Malam hari dia langsung ke rumah kakek, melayat, membantu mempersiapkan segala keperluan, tak lupa mendoakannya. Memang itu yang bisa dilakukan Lora. Sedih? Memang. Namun Lora tidak mau berlarut dalam kesedihan itu. Cukup! Hari ini memang hari yang ... Ah ... gak tau gimana jelasinnya.___5 hari berlalu, tepat 17 tahun 5 hari umur Lora. Lora berencana akan membuat KTP masal bersama sepupunya. Mereka mempersiapkan dokumen-dokumen untuk dibawa ke Kantor Camat.Sesampainya di Kantor Camat, Lora segera berantri untuk mendapatkan giliran lebih awal, namun keduluan orang lain. Cowok seumuran Lora, tetapi Lora tidak mengenalnya."Ih apaan sih lo? Gua duluan tadi," kesal Lora."Siapa cepat dia dapat dong!" jawab cowok itu."Tapi gua duluan tadi yang maju, ih nyebelin banget sih lo. Tau ah sebel gua." Lora memutuskan keluar dari antrian dan duduk dikursi tunggu."Loh mbak kok duduk doang, ayo buruan antri, ntar kuotanya habis lo! Kurang 1 orang doang katanya si bapak botak itu," ucap Fingkan-adik sepupu Lora."Iya iya, kok lo udah selesai duluan sih. Jangan ninggalin gua lo ya!" ucap Lora."Tinggal nunggu panggilan buat foto KTP sih, masih rame tuh, mau benerin kerudung dulu di toilet, duluan ya." Fingkan meninggalkan Lora.Lora memutuskan untuk antri lagi, tepat dibelakang cowok tadi. Antrian cukup cepat, kini giliran cowok di depan Lora yang maju duluan."Devanio Adji Wiraganda" Cowok itu maju. Sekarang Lora tahu nama cowo nyebelin tadi. Lora memperhatikan punggung cowok itu, seraya menyumpah serapahnya."Kalo gua duluan tadi, ga mungkin gua yang terakhir," dumel Lora. Cowok itu telah selesai dan mundur dari barisan, namun tak sengaja menabrak pundak kiri Lora, alhasil berkas-berkas yang dibawa Lora bejatuhan."Ih kalo jalan tuh pake mata dong! Jatuh semua kan!" Marah Lora."Ya sorry dong, lu aja yang kurang minggir. Dan 1 lagi, jalan tuh pake Kaki, mata itu buat ngeliat," elak Devan."Eh adik-adik jangan berantem, ini tempat umum, jangan lupa jaga jarak," lerai petugas administrasi.Lora dan Devan balas dengan nyengir doang._'Emang gabisa sopan nih 2 bocah,'_ batin petugas tadi."Kurang minggir gimana? Jelas-jelas jalan tuh masih lebar tuh, kenapa mepet-mepet gua sih? Modus ya lo?" tuduh Lora."Enak aja klo ngomong, yaudahlah terserah lu, gua duluan, bay!" Devan pergi meninggalkan Lora."Dasar cowo nyebelin, gak ada akhlak!" teriak Lora membuat semua orang menatap Lora bingung."Emilda Putri Fafialora Modista" panggil petugas administrasi. Lora menyerahkan semua dokumennya."Oke lengkap, Silahkan tunggu panggilan buat foto ya," ucap petugas tadi, yang dibalas anggukan kepala Lora.Lora duduk dikursi tunggu, sesuai nomor antrain, dan tak lupa jaga jarak 1 kursi. Dan ya, dia bersebelahan dengan Devan.Devan melirik Lora, dia berkeinginan untuk berkenalan. Dengan berat hati dan tingkat ke kepoan Devan, akhirnya dia memutuskan untuk mengulurkan tangannya ke arah Lora."Gua Devan, sorry buat yang tadi," ucap Devan sedikit gengsi."Gua Lora! Ya. Sorry social distancing," jawab Lora tanpa membalas uluran tangan Devan. Devan menepuk jidatnya lupa kalau harus menjaga jarak."Lu bikin KTP juga disini?" tanya Devan."Enggak, antri sembako! " dusta Lora."Ya iyalah bikin KTP, jelas-jelas tadi antri di antrian administrasinya KTP," sinis Lora."Ya santuy aja dong jangan ngegas, cuma nanya doang, gua kira antri bpjs." Dibalas tawa Devan. Namun tak dibalas Lora.Akhirnya mereka pun selesai berfoto dan keluar dari kantor ini. Lora dan Fingkan berencana mampir di warung bakso untuk mengganjar perutnya. Tak disangka ternyata Devan juga mampir di warung itu juga."Loh lo kok disini juga, lo buntutin gua ya? Mau apa sih lo?" cerocos Lora."Dih, ga usah ge-er gua mau makan disini. Bakso ini kan favorit gua," jawab Devan membuat malu Lora.Mereka menikmati makanannya. Pandangan tak luput dari Lora yang makan dengan lahabnya, Devan pikir, Lora emang belum makan 1 tahun kayaknya. Wkwk.Lora sadar kalau Devan menatapnya pun, menegur Devan."Kenapa lo liatin gua? Suka?" tanya Lora dengan pede-nya."Idih jadi orang tuh jangan ke ge-eran deh, tuh cape nyepil di gigi lo!" Disambut dengan tawa Fingkan. Astaga, Lora jadi malu sendiri."Ih apaan sih? Udah diem lo!" tunjuk Lora ke arah Devan. Makanpun selesai. Lora dan Fingkan mampir di minimarker buat beli minyak goreng pesanan mama Fingkan. Dan lagi, Devan juga sama. Mereka bertemu lagi."Lo lagi Lo lagi, kenapa sih ketemu terus, lo ngikut mulu? Mau apa? Minta no wa?" Lora sebal, diikuti terus oleh Devan."Gua mau beli cemilan ga usah ge-er, boleh deh kalo dikasih!" ucap Devan sambil memberikan hpnya."Ya karna gua baik, oke gua kasih! Jangan disebarin, inget lo." Lora mengetikkan no wa nya di hp Devan."Tunggu chat dari gua," balas Devan.Mulai saat itu mereka dekat, malam hari selalu chatan, berangkat sekolah Lora selalu dijemput Devan karena mereka memang satu sekolah. Sering ngecafe berdua. Entah hubungan mereka itu sahabat atau lebih, yang jelas lebih dari teman, biar mereka berdua yang tahu.Pertemuan mereka memang menyebalkan menurut Lora, tapi siapa sangka mereka malah jadi dekat karena membuat KTP.[ E N D ]

Menampilkan 24 dari 830 cerita Halaman 6 dari 35
Menampilkan 24 cerita