Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

830

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

166

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
Boneka Jepang
Horror
22 Jan 2026

Boneka Jepang

Karena pekerjaanku, aku dipindahkan ke negara bagian lain. Perusahaanku telah membayar uang sewa dimana keluargaku akan tinggal untuk sementara waktu. Itu adalah sebuah rumah besar yang terletak di sisi gunung. Satu-satunya masalah ialah rumah tersebut cukup tua dan bobrok.Kami harus tinggal di sana kira-kira selama sebulan. Suatu saat, anak perempuanku menemukan sesuatu yang aneh di kebun. Itu adalah sebuah kotak kecil. Saat ia menunjukkannya padaku, aku merasakan perasaan yang tidak menyenangkan tentangnya. Aku memerlukan waktu yang lama untuk menyingkirkan benda itu dari anakku. Lalu aku memberitahunya bahwa aku akan membuang benda yang ia temukan.Kalau saja aku langsung membuang barang sial itu, hal ini tidak akan pernah terjadi. Karena beberapa alasan yang tidak bisa kujelaskan, aku memutuskan untuk membakar kotak tersebut.Beberapa hari kemudian, sesuatu yang membawa malapetaka terjadi. Salah satu temanku mengalami kecelakaan lalu lintas. Mobilnya tiba-tiba meledak hingga terbakar. Temanku yang malang terjebak dalam mobilnya yang telah hancur, lalu terbakar hidup-hidup. Ia meninggal sebelum pemadam kebakaran sampai di tempat kejadian.Tidak lama setelah itu, temanku yang lain mengalami kecelakaan tragis. Ia sedang membuat api unggun di luar rumahnya saat tanpa sengaja pakaiannya terbakar. Ia menderita luka bakar pada wajah dan lengan kanannya.Aku pergi mengunjungi temanku saat ia dirawat di rumah sakit. Ia memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi. Ia berkata bahwa beberapa hari sebelum kecelakaan itu terjadi, ia memimpikan hal aneh, yaitu tubuhnya terbakar.Walaupun aku tidak pernah percaya pada takhayul, aku merasa takut bahwa sesuatu terjadi karena kotak yang ditemukan oleh anakku.Aku segera pulang ke rumah, lalu aku pergi ke kebun untuk mencari lubang dimana aku membakar kotak itu. Aku menemukannya. Saat aku mengangkatnya, perasaan dingin yang mengerikan membalut seluruh tubuhku.Di dalam kotak yang telah gosong, ada tiga buah boneka. Boneka-boneka tradisional Jepang yang mengenakan kimono. Salah satunya terbakar sampai kering, boneka kedua hanya hangus pada satu sisinya, sedangkan boneka ketiga tidak tersentuh api sama sekali. Saat aku mengangkat boneka yang setengah terbakar, kimono yang dipakainya jatuh tercerai-berai.Saat itulah aku melihat punggung boneka. Aku menatapnya dengan penuh ketakutan. Nama temanku terukir di punggung boneka. Nama temanku yang lain, yang telah meninggal, terukir di punggug boneka yang seluruhnya terbakar. Sisa boneka yang tidak tersentuh api, ada namaku di punggungnya.Bulu kudukku berdiri. Aku penasaran siapa yang melakukan hal seperti itu. Siapa yang meninggalkan boneka-boneka di halaman rumahku? Aku tidak memiliki musuh. Tidak ada alasan bagi siapa pun untuk balas dendam padaku. Aku tidak mengerti.Aku lalu membawa istri dan anakku untuk segera pindah dari rumah tersebut. Kami tidak bisa membuang boneka-boneka itu begitu saja, jadi kami meninggalkan mereka di kuil Budha. Sampai sekarang, kata-kata biarawan yang menerima mereka masih terekam di benakku."Aku mencoba melakukan pembersihan pada boneka-boneka ini untuk menghilangkan kutukannya," katanya. "Tapi tidak mungkin untuk membersihkan mereka. Dendam yang melekat pada boneka-boneka ini bukan milik manusia."

Terpaksa menikahi Ceo Kejam
Romance
22 Jan 2026

Terpaksa menikahi Ceo Kejam

"Nona, tuan Muda ada di sini."Aku mengangguk ragu. Tuan yang mereka bicarakan, akankah dia seorang ceo kejam?Seorang lelaki duduk di kursi yang terbatas tirai tembus pandang. Bisa kulihat, lelaki itu begitu angkuh dan sombong."Nama?" tanyanya singkat."Zevanya Clarissa.""Tanda tangani surat kontraknya!"Lihat, sudah jelas bukan dia adalah seorang yang arogan dan sombong!Tanganku gemetaran saat memegang pulpen untuk menandatangani surat kontrak di depanku. Aku masih tidak menyangka apa yang menimpaku kali ini."Jika aku menandatangani surat kontrak ini. Hutang keluargaku akan lunas, bukan?" tanyaku padanya. Ini bukan hanya pertanyaan, tapi sebuah permintaan."Cih." Lelaki itu mendecih meremehkan."Setelah kamu tanda tangani, kamu harus setuju dalam tiga tahun lahirkan aku satu putra!"Aku melebarkan mata tak percaya. Enak saja. Itu bahkan tidak ada dalam perjanjian kita."Kamu--""Tidak tahu malu!"Lelaki itu berdiri setelah mendengar umpatanku tentangnya. Rupanya dia marah padaku."Zevanya Clarissa. Kamu tidak memiliki jalan keluar. Jika kamu menolak, keluargamu yang akan menanggungnya!"Sial. Rupanya lelaki itu memiliki kartu As ku. Argh … ingin sekali rasanya aku mencabik wajah monsternya itu.Lelaki itu bersmirk penuh kemenangan, "Kenapa? Apa tidak setuju?"Aku bingung. Bagaimana jika aku menolak permintaannya, apakah seperti apa yang dia katakan? Akankah keluarga yang terkena imbasnya?"Baiklah."Lelaki itu kembali bersmirk, "Bagus sekali!"Srak!Bruk!Tubuh Zevanya dilempar dengan kasar di kasur over size berwarna putih itu. Pelaku utamanya ada lelaki berwajah dingin yang sialnya hari ini telah resmi menjadi suaminya.Andrian menghampiri tubuh Zevanya yang ketakutan. Gadis itu memeluk tubuhnya sendiri dengan menangis dalam diam.Srak!Dalam sekali tarikan, tubuh Zeva kini berada di pangkuannya. Tentu mudah bagi Andrian karena Zevanya memiliki tubuh yang mungil.Andrian membelai wajah ketakutan Zevanya, "Cantik juga," gumamnya dengan menampilkan smirk andalannya.Jangan tanyakan bagaimana detak jantung gadis itu. Rasanya seperti akan melompat dari tempatnya. Darahnya pun berdesir mendengar pujian melayang dari bibir suaminya."Tetapi sayangnya kau hanyalah wanita yang kubayar!"Bak disambar petir, hati Zevanya seperti teriris belati. Suaminya tega menyebutnya sebagai wanita murahan."Ouh, bagus. Karena saat ini aku ingin dipuaskan!"Tubuh Zevanya dalam sekali hentakan telah kembali ke ranjang. Sedangkan Andrian mulai melepas kancing bajunya dan membuat gadis itu ketakutan."Kumohon, jangan," ucapnya lirih. Zevanya ingin melawan, tetapi dia terikat sumpah pada sang ayah. Dia tidak ingin ayahnya kecewa dan mengalami serangan jantung akibatnya."Wah-wah, apakah aku tidak salah dengar? Kau memohon? Padaku?" Pertanyaan itu terdengar sangat meremehkan Zevanya. Pertanyaan yang seharusnya dilontarkan kepada gadis murahan di luaran sana."Kali ini, lahirkan seorang putra untukku!" ucapnya penekan kalimat terakhir.Zevanya panas dingin. Ingin sekali dirinya berteriak namun ia tak kuasa.Gadis itu semakin beringsut takut saat tangan Andrian mulai nakal dan menjamah tubuhnya."Sekarang, ini adalah awal dari kisahmu. Selamat datang, Nona Zevanya!"Malam ini, Andrian berhasil merampas kesucian gadis yang tidak memiliki kekuatan untuk melawannya. Lelaki itu bahkan melakukannya secara kasar dan egois."Aku harap, calon putraku tumbuh dalam rahimmu."***Pukul 23.15 seorang gadis meringkuk memeluk tubuhnya sendiri. Kekacauan yang terjadi padanya benar-benar membuatnya ingin bunuh diri.Pernikahan macam apa ini? Kehidupan apa yang ia jalani? Kenapa semesta tidak membiarkannya bahagia walau hanya sesingkat senja."Kamu kejam. Lelaki berhati batu. Egois!"Sepanjang malam Zevanya mengumpati lelaki berhati dingin itu. Setelah mendapat apa yang ia mau, Andrian pergi meninggalkannya begitu saja bak wanita murahan yang ia sewa."A--ayah, kenapa harus lelaki itu?!""Dia itu iblis, Ayah!""Tuhan, kenapa kau tidak adil denganku!"Hanya suara tangisan yang dominan di kamar berlampu temaram ini. Tangisan pilu yang membuat siapapun ikut merasakan kesedihannya.Tangis Zevanya berhenti saat gadis itu menatap sebuah pisau buah yang tergeletak di nangkas. Ide gila memenuhi pikirannya."Pisau?" lirihnya masih menatap pisau itu tanpa berkedip.Keberanian telah membawa tangannya memegang pisau tersebut. Zevanya menatap kosong pergelangan tangannya.'Haruskah?' pikirnya.Saat pisau itu akan menggores lengannya, Zevanya tersentak melihat pisau itu tiba-tiba melayang dari genggamannya."Tidak semudah itu. Aku tidak akan membiarkanmu pergi semudah itu, sebelum kau menepati janjimu!"Dengan telaten, Andrian mengobati luka di lengan Zevanya. Gadis yang tadi berencana bunuh diri dengan menggores lengannya. Jika saja Andiran tidak datang lebih cepat, mungkin gadis itu tidak akan selamat."Kenapa?" Tiba-tiba pertanyaan itu terlontar dari bibir mungil Zevanya.Andrian sedikit terkejut, namun lelaki itu pandai mengatur air wajahnya sehingga kembali tenang seperti semula."Kenapa kamu menyelamatkanku?"Kini, Zevanya menatap wajah lelaki yang tengah sibuk melilitkan perban di tangannya."Apa itu penting?" Andrian menatap manik mata gadis di depannya dengan sangat tajam. Sedikit marah."Hahaha." Zevanya tertawa seperti orang gila."Aku tau, kamu hanya ingin seorang putra dariku, bukan?" tanya Zevanya. Matanya memandang kosong ke depan.Sekarang Andrian tau, gadis itu rupanya tengah berada di dalam alam sadarnya. Gadis itu terpengaruh alkohol, terbukti di meja Pantas saja, dia berani bertindak bodoh seperti tadi."Tidurlah," ucap Adrian dingin. Itu bukan sekedar ucapan, itu perintah."Pergilah!" bentak Zevanya mendorong tubuh besar Andrian."Cih, kau pikir aku perduli padamu?" decihnya. Lelaki itu berdiri dari sisi ranjang, kemudian berjalan pergi meninggalkan Zevanya yang mematung di tempatnya.Miris. Zevanya meratapi hidupnya sendiri. Betapa kejamnya dan kelamnya dunia ini untuknya. Pertama, dipaksa menikah untuk menggantikan posisi sang kakak dan berakhir menjadi istri Ceo kejam seperti Andrian."Kamu kuat, kamu pasti bisa. Semangat, Zevanya," lirih gadis itu berusaha membangkitkan semangat dalam dirinya.***Pagi hari, seorang gadis berjalan mengendap-endap keluar dari kamarnya. Kebetulan, jendela kamarnya tidak dikunci. Itu memberinya akses untuk melarikan diri.Zevanya celingak-celinguk untuk memastikan kondisinya aman. Senyum di bibirnya terbit saat melihat hanya dua orang yang menjaga kamar. Tidak seketat sebelumnya."Bagus, aman," ucapnya tersenyum bangga.Zevanya mengambil langkah seribu untuk berlari. Aksinya lolos dari kedua penjaga itu. Kini, dirinya sampai di pintu belakang yang hanya terlihat dari kamarnya saja. Pintu ini ia temukan saat tak sengaja menatap luar jendelanya.Ceklek!"S*al. Pake bunyi lagi!" umpat gadis itu saat mendengar bunyi nyaring yang ia buka."Aman nggak, nih?" Zevanya kembali celingak-celinguk melihat situasi kembali. Aman, dirinya bertepuk tangan riang."Berhenti di situ!"Tubuh Zevanya mematung. Suara itu sempat membuatnya terkejut. Namun, sedetik kemudian dia mengambil langkah seribu dan berlari sekencang mungkin."Nona! Berhenti atau tuan akan marah!"Sosok berbadan besar itu mengejar seorang gadis dengan rambut berkuncir kudanya. Gadis itu takut sekaligus panik sampai masuk ke dalam mobil orang asing."Tolong, biarkan aku bersembunyi di sini," ucap gadis itu gemetaran dengan menundukkan wajahnya takut."Turun. Ini bukan taksi!" ujar lelaki yang memiliki mobil tersebut.Para pria berbadan besar itu berhenti di depan mobil, menatap lurus ke arah jendela."Kumohon," rengek Zevanya tanpa melihat siapa yang berada di samping."Rupanya kau ingin melarikan diri?"Suara itu. Tunggu, Zevanya sangat kenal dengan suara itu. Itu suara ... lelaki berwajah kejam dan merupakan suaminya!'D*mn it! Aku dalam bencana!' batin Zevanya."Bagus, apa ini caramu membayar janjimu?""Rupanya kau ingin melarikan diri?"Suara itu. Tunggu, Zevanya sangat kenal dengan suara itu. Itu suara ... lelaki berwajah kejam dan merupakan suaminya!'D*mn it! Aku dalam bencana!' batin Zevanya."Bagus, apa ini caramu membayar hutangmu?"Tangan Zevanya ditarik secara kasar oleh Andrian. Lelaki itu membawa istrinya masuk ke dalam mansion mewahnya.Bruk!Andrian mendorong tubuh kuat Zevanya sampai membuatnya limbung dan jatuh di atas ranjang kamarnya. Dengan gerakan cepat, lelaki itu kini berada di atas tubuh Zevanya dan menindihnya."Ini hukumanmu karena berusaha kabur!"Tangannya bergerak melepas dasi di bajunya kemudian ia gunakan untuk mengikat kedua tangan Zevanya. Agar gadis itu tidak melakukan banyak gerakan saat ini Andrian menghukumnya nanti."A--apa yang akan kau lakukan?" gugup gadis itu saat tangan Andrian bergerak melepas kancing bajunya."Tentu saja menghukummu, apalagi?" jawab Andrian enteng.Keringat bercucuran dari kening Zevanya. Gadis itu bahkan susah payah menelan ludahnya.Andrian mulai bergerak menjamah tubuh istrinya. Setetes butiran liquid mengalir dari pipi Zevanya. Hatinya merasa dikoyak habis saat mendapat perlakuan egois suaminya."Hiks hiks ...." rintih gadis itu mulai terdengar di telinga Andrian.Apakah lelaki itu merasa bersalah? Tentu! Jauh dalam lubuk hatinya, Andrian merasa sangat bersalah telah memperlakukan kasar Zevanya. Wanita itu tidak seharusnya ia kasari. Terlebih, dia akan melahirkan penerusnya kelak.Tanpa secercah kata, Andrian melepas ikatan di tangan Zevanya. Lelaki itu berdiri dan berjalan keluar dari kamarnya. Pikirannya kacau. Hati dan batinnya saat ini tengah berperang.'Bodoh!' umpat Andrian dalam hatinya.Sedangkan Zevanya semakin terisak. Dirinya bahkan terlihat seperti jal*ng daripada seorang istri. Zevanya muak dengan tubuhnya, dia benci dirinya sendiri."Andai saja, kalian tidak memiliki hutang kepada lelaki kejam itu."***Jam menunjukan 23.00. Tetapi, Zevanya malah meringkuk di atas lantai, tanpa memperhatikan keadaan tubuhnya. Gadis itu memandang kosong ke depan. Pikirannya membawa dirinya menjelajah ke masa dulu."Yah, aku tidak ingin menikah!" ucap Zevanya lantang.Lelaki berumur paruh baya itu menggelengkan kepala tidak setuju."Zevanya, ini demi kebaikan keluarga kita. Jika kamu tidak menjadi istrinya, keluarga kita akan menjadi musuhnya.""Lagian, hutang keluarga kita sangat banyak dan bukankah bagus menjadi menantu Ramatha? Statusmu akan naik dan terkenal sebagai menantu mereka.""Tapi, Yah. Bukan Zevanya yang harusnya menikah, tetapi kak Venilla!" tolak gadis itu mentah-mentah.Nyatanya memang bukan dirinya yang menikah. Kakaknya lebih dahulu setuju untuk dijodohkan. Tetapi saat dekat dengan hari H, kakaknya itu tiba-tiba tidak setuju untuk menikah.Tangan Zevanya di genggam oleh sang ayah. Sosok yang menjadi penguat satu-satunya setelah sang bunda tiada dan meninggalkan."Ayah mohon, cuman kamu satu-satunya harapan Ayah.""Oke, Zeva setuju."Brak!Suara pintu yang didobrak keras membuat Bella tersadar dari lamunannya. Zevanya melihat ke sumber suara. Ternyata itu ulah dari suaminya."Zeva."Zevanya mengerutkan keningnya saat melihat lelaki berwajah dingin itu berjalan sempoyongan untuk menghampiri dirinya."Apa kau baik-baik saja?" khawatir Zevanya menghampiri Andrian"Antarkan aku ke kamar!" titah lelaki itu dengan nada tak terbantahkan.Zevanya langsung menutup hidungnya tatkala mencium bau alkohol keluar dari mulut suaminya.Setelah menghukumnya habis-habisan ternyata Andrian keluar untuk meminum alkohol dan membuatnya mabuk seperti sekarang.Plak!"Apa kau tuli?!"Perih, sakit, panas menjalar dari pipinya. Bekas tamparan tadi saja masih belum hilang dan sekarang dirinya mendapat tamparan kembali."B--baik, maaf," ucap Zevanya menyesal karena telah mengabaikan tugasnya."Tapi di mana kamarnya? Aku saja tidak mengetahui letak rumah ini."Zevanya dengan telaten memapah Andrian dari kamarnya hingga ke kamar sang pemilik istana. Kamar yang begitu besar juga luas dengan dipenuhi berbagai macam benda untuk berolahraga itu pasti kamar suaminya. Zevanya memapah dan masih tidak menyangka sekaligus terpesona, kamar suaminya ternyata serapih dan senyaman ini.'Mengagumkan,' batin Zevanya menatap sekitar.Dengan hati-hati, gadis itu membaringkan tubuh suaminya di ranjang berukuran size berwarna putih polos.Wajah yang terlelap itu terlihat damai bak malaikat. Hidung macung, mata sipit, alis tebal, rahang kokoh, bulu mata lentik. Semua itu bisa dilihat ketika Andrian terlalap dalam tidurnya.'Tidak. Bagaimanapun dia adalah iblis!' ucap Zevanya dalam hatinya.Pergerakan lelaki itu yang tiba-tiba membuat Zevanya terjatuh di atas dada bidang suaminya."Jika tidur begini, dia terlihat seperti malaikat," gumam Zevanya mengagumi wajah di depannya."Berhenti menatapku, jika kau sayang nyawamu!""Berhenti menatapku, jika kau sayang nyawamu!"Zevanya langsung berdiri dari posisinya setelah mendengar ancaman dari suaminya."Kau mau ke mana?" Suara berat Andrian berhasil membuat Zevanya terpaku ditempatnya.Wajahnya berubah pucat pasi saat Andrian terbangun dari ranjangnya dan berjalan menghampiri dengan sempoyongan."A--apa yang akan kau lakukan?" gugup Zevanya saat lelaki berwajah dingin itu semakin mendekati dirinya.Grep!Tanpa diduga Andrian ternyata malah memeluk erat tubuh istrinya. Sedangkan gadis itu, ia merasa posisinya dalam bahaya. Bagaimana tidak, jangankan dipeluk, ditatap oleh Andrian saja dia ingin pingsan.'Mati aku!' umpat Zevanya dalam hatinya."Jangan bergerak. Ini perintah!" tegas Andrian saat menyadari pergerakan gusar dari istri mungilnya."Ta--tapi--"Cup!Bibir Andrian mengecup bibir Zevanya dan membuatnya diam di tempat."Apa kau ingin mati?!"Glek!Lepas dari cengkraman Andrian memang sangat sulit. Bahkan sangat mustahil. Andrian adalah sosok lelaki yang begitu egois. Dia tidak pernah memikirkan perasaan orang lain. Lelaki tidak punya hati, sombong dan angkuh.setengah jam berdiri, membuat Zevanya merasa bosan sekaligus pegal. Akhirnya gadis itu memilih memapah tubuh besar Andrian dan membawanya ke ranjang milik lelaki itu."Astaga, aku merasa seperti habis memapah 10 lelaki. Dia itu sangat berat!" gerutu Zevanya setelah membenarkan posisi Andrian di ranjang.Zevanya tak henti-hentinya menatap kagum wajah tampan suaminya yang damai dalam tidurnya. Wajah lelaki itu bak malaikat saat tertidur. Begitu menawan. Sayangnya, semua itu berubah saat ia terbangun."Pria tidak punya hati!"Sudah cukup. Zevanya tidak sanggup lagi jika terus-terusan menatap wajah itu. Lelaki yang terkadang membawanya terbang ke awan-awan dan kadang pula menjatuhkan sejatuh-jatuhnya."Sadar Zeva!"Zevanya memilih melangkah keluar dari kamar Andrian. Tetapi, belum sempat dirinya menutup pintu kamar, gadis itu mendengar rintihan dari arah Andrian. Karena penasaran, akhirnya ia menghampiri lelaki yang gelisah dalam tidurnya."Emm … Andrian? Apa kau tidak apa-apa?" tanya Zevanya khawatir dan menggengam tangan suaminya tanpa sadar.Tiba-tiba Andrian menjadi tenang saat Zevanya menggengam tangannya. Tetapi, saat gadis itu ingin melepas genggamannya, Andrian kembali gelisah dalam tidurnya."Apa yang harus aku lakukan? Jika dia tau aku berada di kamarnya, habislah aku di tangannya!" gumam Zevanya menatap cemas Andrian yang tertidur pulas."Apa aku harus di sini sampai dia tidur dengan nyenyak?" pikirnya."Iya, aku harus menunggu sampai Andrian benar-benar tenang dalam tidurnya."Akhirnya Zevanya mengalah. Dia memilih menunggu Andrian agar lebih dulu nyaman dalam tidurnya. Walaupun suaminya itu kejam, tetapi sebagai istri mana tega dia meninggalkan Andrian dalam keadaan seperti ini?Tidak terasa rasa kantuk juga menyelimuti dirinya, Zevanya akhirnya ikut terlelap di samping Andrian tanpa melepas genggaman tangan mereka.Ke esokan harinya ...."Eugh," lenguh Zevanya saat sorot matahari berusaha menerobos penglihatannya.Zevanya memandang sekitar seraya mengucek-ngucek matanya khas bangun tidur. Matanya membola saat mengetahui dirinya berada."Mampus! Matilah aku! Bagaimana jika dia tau aku berada di kamarnya dari semalam?"Ke esokan harinya ...."Eugh," lenguh Zevanya saat sorot matahari berusaha menerobos penglihatannya.Zevanya memandang sekitar seraya mengucek-ngucek matanya khas bangun tidur. Matanya membola saat mengetahui dirinya berada."Mampus! Matilah aku! Bagaimana jika Andrian tau aku berada di kamarnya?"Tanpa Zevanya sadari, sebenarnya Andrian sudah terbangun sedari tadi dan mengetahui bahwa gadis itu semalam tidur bersamanya. Tetapi lelaki itu enggan membangunkan istrinya karena sepertinya dia terlihat sangat lelah.Andrian tersenyum tipis saat melirik Zevanya yang tengah berfikir sembari mengigit kuku jarinya. Dari gadis itu berjalan mondar-mandir ketakutan sampai saat Zevanya berbicara sendiri, semua itu tak luput dari pandangan lelaki berwajah dingin itu.'Manis,' ucapnya dalam hati."Mau kemana, hm?" Andrian menahan lengan Zevanya saat mengetahui gadis itu ingin pergi dari kamarnya.'Aduh, mampus kamu Zeva!' batin Zevanya merasa ketakutan dirinya baru saja tertangkap basah oleh suami kejamnya."A--aku emm …." ucap gugup Bella.Andrian berdiri dari baringnya dan berdiri di depan sang istri yang saat ini berdiri mematung di tempatnya. Smirk Andrian muncul saat melihat wajah istrinya berubah pucat pasi. Gadis itu berjalan mundur saat Andrian semakin mendekatinya. Sampai akhirnya, tubuh Zevanya membentur tembok di belakangnya.Hap!Andrian berhasil menggengam tangan Zevanya, dan saat lelaki itu semakin mendekatkan wajahnya, dengan si*alnya tiba-tiba pintu dibuka secara kasar dari luar dan membuat aksinya gagal.Brak!Melihat ada celah dirinya lolos, Zevanya langsung berlari keluar saat mendapatkan kesempatannya dan melepas cengkraman Andrian pada pergelangan tangannya. Di pintu dia berpas-pasan dengan ajudan yang menjadi kepercayaan Andrian'Si*lan!' umpat Andrian dalam hatinya. Siapa orang yang berani merusak momennya pagi ini? Kurang ajar sekali dia!"Kenapa?" tanya Andrian dingin dan menusuk."Ma--maaf mengganggu, Tuan. Di bawah ada ayah nona Zeva."

Rantai Kebaikan
Folklore
22 Jan 2026

Rantai Kebaikan

Suatu hari hiduplah seorang petani di sebuah desa yang jauh dari keramaian kota. Petani itu memiliki lahan pertanian luas dengan hasil yang melimpah ruah. Namanya Pak Karim, warga desa sering membantu merawat lahan pertaniannya dengan upah hasil panen. Pak Karim memang terkenal baik, wibawa dan bijaksana. Beliau tidak pernah meminta imbalan untuk warga yang menggarap panenannya. Beliau percaya, jika kita membantu sesama warga maka kelak kita juga akan dibantu oleh warga lain.Seperti contohnya saat ini, lahan yang digarap sebagian besar gagal karena diserang hama tanaman. Beliau begitu risau karenanya. Namun, tak pernah sedikit pun beliau menampakkan wajah sedih kepada warga yang setiap hari beliau temui.“Selamat pagi, Pak Karim,” ucap salah satu warga yang melintas.“Pagi juga, Pak,” jawab Pak Karim penuh senyum hangat.“Bagaimana, padinya?” Lalu warga tersebut mengajak ngobrol untuk sekadar basa-basi.“Yah begini, Pak. Lagi kurang beruntung. Haha,” jawab Pak Karim dengan tawa.“Butuh bantuan, kah? Sekalian balas budi kepada Bapak,” ujar warga tersebut. Pak Karim memang sangat disegani di desa tersebut. Tak heran, warga sering sekali menawarkan diri untuk membantu dengan alasan sebagai balas budi.“Ah, tidak usah. Cuma masalah kecil kok,” jawab Pak Karim. Sebenarnya posisinya saat ini memang sedang tidak menguntungkan dan membutuhkan pertolongan. Namun, beliau merasa bahwa tidak ingin merepotkan siapa-siapa lagi.“Baiklah, jika membutuhkan bantuan jangan segan-segan ya, Pak. Kami warga desa siap membantu kapan pun,” ucap warga tersebut. Ia lalu berpamitan kepada Pak Karim untuk melanjutkan perjalanan ke ladang dan dipersilakan dengan senyuman khas dari Pak Karim.Beberapa kali warga melintas dan menyapa Pak Karim. Beberapa kali juga mereka berusaha menawarkan bantuan. Namun, tidak ada satu pun tawaran yang beliau terima. Beliau sudah berkomitmen untuk tidak menyusahkan orang lain lagi dan berusaha untuk terus berguna untuk orang lain.Berhari-hari sudah Pak Karim lalui, berbagai cara sudah dilakukan untuk mengusir hama-hama yang menyerang tanaman padinya, tetapi tidak ada yang berhasil. Tanamannya semakin memburuk dan sudah dipastikan bahwa beliau akan gagal panen.Warga sekitar sebenarnya sudah mengetahui tentang masalah Pak Karim. Namun, mereka tidak ada yang berhasil membujuk beliau agar mau dibantu menyelesaikan. Hingga akhirnya salah satu warga berinisiatif untuk berkumpul dan membantu Pak Karim.“Teman-teman, seperti yang sudah kita ketahui, saat ini Pak Karim sedang mengalami kesusahan. Tanaman padinya rusak diserang hama tanaman. Saya mengumpulkan kalian ke sini untuk meminta bantuan agar bisa menyelesaikan masalah Pak Karim tanpa sepengetahuan beliau.” Pak Khairul memulai pembicaraan bersama para warga.“Lalu, apa yang harus kami lakukan?” tanya Pak Junaidi.“Malam nanti, kita akan ke rumahnya secara bersamaan untuk ngobrol dengan beliau. Kita bawa sedikit hasil panen kita dan menawarkan untuk mengganti tanaman padinya dengan tanaman lain,” jawab Pak Khairul.“Kalau beliau menolak? Kita semua tahu bahwa beliau tidak pernah mau untuk dibantu, meski sering sekali kita menawarkan bantuan,” sanggah warga yang lain.“Kita coba dulu bicarakan baik-baik dengan beliau. Jika kita bersama-sama pasti beliau akan menerima.” Pak Khairul pun menegaskan untuk dicoba terlebih dahulu. Mayoritas warga setuju dengan ide Pak Khairul. Bagaimanapun juga hampir semua warga pernah mendapat bantuan Pak Karim di masa-masa sulit mereka. Jadi, sedikit membantu beliau bukanlah sebuah beban bagi mereka.Malam pun tiba, para warga sudah berkumpul membawa hasil panen mereka masing-masing. Pak Khairul membawa ubi ungu, Pak Junaidi membawa jagung dan beberapa warga lain membawa sayur-mayur hasil panenan mereka. Mereka lalu bersama-sama pergi ke rumah Pak Karim.“Assalamualaikum, Pak Karim,” ucap Pak Khairul sambil mengetuk pintu.“Waalaikumsalam.” Pak Karim lalu membukakan pintu sembari mengucap salam. Beliau terkejut melihat banyak warga datang membawa hasil panen mereka.“Ada apa ini? Kok berbondong-bondong kemari? Silakan duduk,” lanjut beliau.Sebagian warga lalu duduk di kursi teras rumah Pak Karim, sebagian lagi berdiri di sebelahnya. Pak Khairul sebagai perwakilan warga langsung mengutarakan maksud dan tujuan mereka. Awalnya, Pak Karim bersikeras menolak bantuan warga. Namun, dengan sedikit desakan dari Pak Khairul dan warga yang hadir, akhirnya beliau menerima bantuan dari para warga.“Terima kasih kepada seluruh warga yang sudah berbaik hati membantu saya. Saya merasa sangat terhormat atas kebaikan kalian semua. Tanpa bantuan ini, entah apa yang akan terjadi pada ladang saya,” ucap Pak Karim kepada warga.“Sama-sama, Pak. Semua ini tidak ada apa-apanya dibandingkan kebaikan bapak selama ini,” ucap Pak Khairul.“Betul itu, betul.” Warga pun ikut membenarkan ucapan Pak Khairul.“Kalau boleh tahu, kenapa Anda sering sekali membantu kami dan menolak untuk kami bantu?” tanya Pak Efendi yang berada di hadapan Pak Karim.Pak Karim lalu tersenyum dan bercerita mengenai kisahnya di masa lalu. “Suatu hari, saya sedang kesusahan seperti saat ini, bahkan lebih parah. Saya pergi ke desa lain untuk mencari obat pengusir hama. Dengan sisa uang hasil panen sebelumnya, saya pergi berkeliling ke seluruh penjuru negeri, tetapi tidak ada satu pun obat yang mempan. Hingga suatu ketika, saat saya beristirahat di bawah pohon yang rindang, saya bertemu dengan seorang kakek yang sedang kehausan.Lantas saya memberinya minum dan mengobrol. Di sela obrolan tersebut beliau berpesan bahwa jangan sungkan untuk berbagi kepada sesama. Beliau juga berpesan agar tidak mengharapkan balasan tentang apa yang sudah saya perbuat. Sejak saat itu saya berjanji kepada diri sendiri agar terus memberi kepada sesama dan mengabaikan soal balasan yang sudah diberi.Jadi, setiap kali ada warga yang memberi bantuan, saya terus menolak meski mereka bilang itu bentuk balas budi. Alhamdulillah, setelah mendapat pencerahan dari kakek tersebut, tanaman saya kembali subur dan semakin berkembang sampai sekarang.”Warga yang mendengar cerita Pak Khairul pun terkesima mendengarnya. Mereka lalu sadar, bahwa setiap rejeki yang mereka dapatkan terdapat hak orang lain. Sejak saat itu, Pak Karim dan para warga memutuskan untuk saling membantu dalam mengelola pertanian mereka dan menyisihkan sebagian hasil panen mereka kepada warga yang kurang mampu. Mereka percaya, bahwa rantai kebaikan tidak akan putus dan terus berlanjut jika dilakukan secara tulus dan ikhlas.

Seekor Buaya Mencari Mangsa
Folklore
22 Jan 2026

Seekor Buaya Mencari Mangsa

Dahulu kala, di sebuah tepi danau, tinggalah lima buaya jantan. Mereka adalah Ersan, Calvin, Ekky, Rama dan Eko. Lima buaya jantan tersebut menjalani hari-harinya mencari mangsa di danau dengan menyantap ikan-ikan kecil dan besar.Keesokan harinya, Ekky mengajak keempat temannya untuk mencari mangsa dan makan di daratan. Namun, keempat temannya itu tidak menghiraukan perkataan Ekky.“Hai, teman-teman. Bagaimana kalo kita kali ini mencari makan di darat saja?”“Selagi di danau masih ada mangsa, mengapa tidak di danau saja?”ujar Eko.“Baiklah, jika kalian ingin mencari mangsa di danau, aku akan mencoba mencari mangsa di darat.”Pada akhirnya, Ekky pergi ke darat sendiri untuk mencari mangsa. Sampai di tengah-tengah perjalanan, Ekky menemukan seekor ular betina yang bernama Dila. Di mana ular betina itu menjadi salah satu santapan utama Ekky. Namun, tak disangka ular tersebut sangat cerdik, meskipun awalnya ular tersebut merasa tertipu oleh Ekky.“Hai, buaya. Kau ingin pergi ke mana?”“Aku ingin mencari mangsa yang akan aku jadikan makanan hari ini.”Tanpa berpikir panjang, sang buaya mengajak ular ke sebuah tempat di mana tempat yang didatanginya tampak indah. Sang ular tidak memiliki rasa curiga sedikitpun pada sang buaya.“Kau ingin mengajakku ke mana, buaya?”“Sudah, kau diam saja karena aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang sangat indah. Tentunya kau sangat menyukai itu.”“Ah, apakah benar kau ingin mengajakku ke sebuah tempat indah?”Sang ular pun mau mengikuti buaya.Setelah sampai di tempat tersebut, sang ular terkejut.“Tempatnya sungguh indah, tetapi mengapa banyak sekali buaya-buaya di tepi danau.”“Haha. Dasar ular bodoh! Masih saja kau mau ditipu olehku. Aku mengajakmu ke sini karena aku ingin memangsamu.”“Mengapa kau tega sekali hingga membohongi dan membodohiku. Apakah aku memiliki salah kepadamu, wahai buaya?”“Haha. Kau sama sekali tidak bersalah ular. Mungkin ini memang takdirmu untuk menjadi santapanku.”Pada akhirnya sang ular berpikir keras agar bisa terlepas dari seorang buaya yang sangat kelaparan.“Bagaimana ini? Aku harus cepat-cepat pergi dari tempat ini. Aku tidak ingin menjadi santapan-santapan buaya-buaya itu.”Tiba-tiba buaya tersebut mencengkeram ular. Ia berkata, “Hei, ular bersiaplah kau untuk menjadi santapanku.”Ular pun langsung menjawab perkataan buaya tersebut dan meminta waktu agar dia bertemu dengan orang tuanya. Ular itu berjanji ia akan kembali lagi ke tempat ini. Namun, buaya tidak percya pada perkataan sang ular.“Tunggu, sebelum kau menyantapku, aku memiliki permintaan pada kalian.”“Permintaan apa yang kau ingikan ular?”“Aku hanya ingin bertemu Ibuku dan Ayahku untuk terakhir kalinya sebelum kau menyantapku buaya.”Para buaya tertawa mendengar permintaan sang ular.“Apakah hanya itu yang kau inginkan ular?”“Iya. Aku hanya menginginkan itu.”Para buaya tersebut masih tidak percaya dengan perkataan sang ular.“Apakah kau akan kembali ke sini lagi untuk memenuhi persyaratan dariku, wahai ular?”“Iya, aku berjanji pada kalian akan secepatnya kembali ke sini.”Para buaya masih sangat ragu dengan ucapan dan janji sang ular kepada mereka. Sang ular memohon kepada para buaya agar mengizinkan ia pergi untuk bertemu dengan sang ibu dan ayah. Pada akhirnya, sang buaya mengizikan ular tersebut untuk pergi menemui keluarganya.“Baiklah, kami akan mengizinkanmu untuk bertemu keluargamu. Tapi kau harus berjanji kepada kami akan segera kembali secepat mungkin.”Ular pun merasa senang dan berterima kasih kepada buaya karena telah mengizinkannya.“Terima kasih, buaya karena telah memberikanku kesempatan untuk menemui keluargaku.”“Baiklah, pergi sana. Cepat sebelum kami berubah pikiran.”“Baiklah, aku akan pergi dan kembali lagi.”Pada saat sampai di tengah-tengah perjalanan, sang ular merasa lega dan menertawai para buaya yang telah ia bodohi itu.“Haha, dasar para buaya rakus! Mau saja aku tipu. Aku juga tidak akan ke sana lagi.”Ular bergegas pergi dari tempat itu secepatnya. Tak lama kemudian, para buaya risau mengapa ular tersebut tak kunjung kembali ke tempat ini.“Bagaimana ini? Mengapa ular itu tak kunjung kembali ke sini”“Iya, benar. Padahal perut kita sudah lapar sekali dan tak sabar ingin memangsanya.”“Kalian merasa tidak, sepertinya kita telah ditipu oleh ular itu,” ujar Calvin.“Itu tidak mungkin. Kita kan seekor buaya yang besar dan cerdik, tidak mungkin ditipu oleh seekor ular yang bodoh,” ucap Ekky.“Kalo memang kita tidak ditipu oleh ular itu, mengapa ia tidak kunjung datang?” tanya Eko.“Benar kata kalian, sepertinya kita sudah ditipu olehnya.”Pada akhirnya, para buaya gagal memangsa sang ular. Dan para buaya tak menyangka bahwa ular yang ia bodohi lebih cerdik darinya. Dengan kesal buaya tersebut pergi dan mencari makan di tempat lain.

Wanita Buruk Rupa
Folklore
21 Jan 2026

Wanita Buruk Rupa

Dahulu kala hiduplah sebuah keluarga yang sangat miskin. Mereka adalah sepasang suami istri. Pak Dino bekerja sebagai seorang petani di daerahnya. Pak Dino dan Bu Ina dikaruniai seorang putri yang memiliki wajah buruk rupa—bernama Azizza. Namun, dengan wajah Azizza yang buruk, Pak dino tidak menerima kenyataan tersebut.Pada akhirnya ketika Azizza berumur seminggu, Pak Dino ingin membuang Azizza tanpa diketahui oleh Bu Ina. Malam hari pun tiba. Ketika Bu Ina tertidur lelap, Pak Dino langsung membawa Azizza pergi dari rumahnya. Saat jam sudah menujukan pukul 22.00, Pak Dino meletakan Azizza di sebuah rumah yang sangat megah dan mewah.Rumah itu ditempati seorang janda bernama Lasmi yang tidak memiliki anak karena setahun silam, suaminya mengalami kecelakaan saat pulang kerja. Setelah Azizza diletakan di rumah mewah dan megah tersebut, Pak Dino mengetuk pintu rumah tersebut. Sebelum pintu terbuka, Pak Dino sudah meninggalkan tempat itu.Seorang asisten rumah tangga yang bernama Nani keluar dari dalam rumah. Dia terkejut melihat ada seseorang meletakan bayi di teras rumahnya. Nani pun teriak ketakutan memanggil majikannya.“Nyonya ... Nyonya .... Lihat, ada seseorang yang meletakan bayi di teras rumah.”“Astagfirullah. Siapa yang tega membuang dan meletakan bayi ini di depan rumah. Tega sekali dia.”“Saya tidak tahu, Nyonya karena pas saya keluar tadi, tidak ada siapa-siapa. Saya hanya menemukan surat dan kalung saja.”Nani pun memberikan surat dan kalung tersebut kepada Lasmi.Dear anakku.Maafkan kami sudah membuangmu dan menelantarkanmu , Nak. Semoga kamu mendapatkan kehidupan yang lebih layak lagi, Nak. Semoga orang tua barumu menyayangimu dengan sepenuh hati. Aku mohon, rawatlah anak ini yang sudah kuberi nama Azizza . Rawatlah dia dengan sepenuh hatimu dan jangan biarkan dia kesusahan. Terima kasih karena sudah ingin merawat dan membesarkan anakku.Salam.“Sudah mari kita bawa masuk. Bereskan tempat tidur untuk anak ini,” ujar Lasmi.“Baik, Nyonya.”👶👶👶Matahari mulai terlihat. Pukul 06.00 Bu Ina pun terbangun. Tanpa ia sadari bahwa anaknya sudah tidak di rumah. Ketika Bu Ina membuat sarapan dan ingin memberi ASI kepada Azizza, dia terkejut. Anaknya hilang dan tidak ada di tempat tidur. Bu Ina berteriak hingga Pak Dino terkejut dengan teriakannya.“Bapak, Pak ... Cepat, sini. Azizza hilang, Pak,” ucap Bu Ina dengan nada khawatir.“Sudah, kamu jangan khawatir dan kamu nggak perlu cari anak itu lagi karena dia sudah bersama orang tua barunya yang menjamin kehidupannya.”“Maksud Bapak apa?” tanya Bu Ina dengam nada kesal.“Iya, dia sudah aku letakkan di sebuah rumah seorang janda kaya yang pasti memiliki kemewahan dan menjamin semua kebutuhan anak kita. Satu hal yang kamu harus tahu, aku malu memiliki anak yang wajahnya sangat buruk.”Setelah Pak Dino menceritakan semua yang terjadi di malam itu, Bu Ina merasa terpukul. Ia langsung bergegas mencari Azizza. Namun, dia tidak menemukannya. Hingga beberapa tahun kemudian, Azizza yang memiliki wajah buruk sudah dewasa. Wajah buruk rupa berubah menjadi cantik karena orang tua angkatnya melakukan operasi plastik agar Azizza tak malu dengan wajah tersebut.Setelah Azizza melakukan operasi, dia tak menyangka dirinya akan memiliki wajah secantik dan seputih ini.“Astaga. Dok, apakah benar ini wajah saya?” tanya Azizza.“Iya, ini benar wajah baru yang kamu miliki.” Dokter itu tersenyum.Betapa bahagianya Azizza melihat wajahnya yang kini tampak cantik dari sebelumnya. Namun, setelah sampai di rumah, Azizza mencari sesuatu yang menurutnya tertinggal di kamar ibunya. Dia terus mencari barang itu sampai akhirnya yang tersisa hanya satu lemari saja yang belum dibuka.Azziza belum mengetahui siapa orang tua kandung yang sebenarnya. Sampai pada akhirnya, semua itu terbongkar karena Azizza menemukan sebuah surat dan kalung miliknya semasa dia masih bayi. Azizza pun bertanya pada ibunya.“Ibu, apakah benar aku bukan anakmu?”“Mengapa kamu bertanya seperti itu, Nak?”“Jawab jujur, Ibu. Aku menemukan sebuah surat dan kalung di lemarimu.”Lasmi terdiam dengan perkataan Azizza. Dia lalu menceritakan yang sebenarnya kepada Azizza mengenai dirinya.“Iya, Nak. Itu semua benar. Dulu ketika kamu masih bayi, kamu ditemukan di teras depan rumah. Di situ hanya ada sebuah surat dan kalung. Akan tetapi, Ibu tidak tahu siapa yang menelantarkanmu. Namun, sepertinya orang tuamu menelantarkanmu karena kondisi ekonomi mereka yang tidak mampu untuk kebutuhan sehari-hari. Malam itu, Ibu langsung membawamu masuk ke dalam rumah dan merawatmu seperti anak Ibu sendiri.”“Lalu bagaimana dengan orang tua kandungku sekarang, Bu? Di mana mereka tinggal? Aku ingin mencari mereka.”“Sampai saat ini, Ibu juga belum tahu di mana orang tua kandungmu.”Azizza merasa terpuruk mendengar Ibu angkatnya bercerita tentang waktu dia masih kecil dan ditelantarkan.👶👶👶Satu tahun telah dilewati Azizza. Akhirnya Azizza menemukan orang tua kandungnya. Dia menangis melihat kondisi orang tuanya. Kedua orang tua Azizza tak mengenalinya sama sekali karena dia telah melakukan operasi plastik.“Bapak, Ibu. Aku sangat merindukan kalian,” ucap Azizza sedih.“Maaf, Nak. Mungkin kamu salah orang. Kami memang memiliki putri, tetapi tidak secantik kamu, Nak,” ujar Pak Dino.“Ini aku, Pak, Bu. Anak yang kalian telantarkan di sebuah rumah mewah dan megah.”“Apa benar ini anakku? Jika benar, betapa cantiknya sekarang kamu, Nak,” sahut Bu Ina.Pak Dino dan Bu Ina terkejut melihat wajah Azizza yang begitu cantik. Sampai- sampai mereka tak mengenalinya.“Iya, Bu. Ini benar, aku anakmu.”Pak Dino langsung meminta maaf kepada Azizza karena telah ditelantarkan olehnya semasa kecil. Dia merasa bersalah terhadap Azizza. Pada akhirnya, Azizza membawa orang tuanya ke rumah Ibu angkatnya. Azizza mengajak otang tuanya tinggal bersama mereka.“Ibu, apakah orang tuaku boleh tinggal bersama kita?” tanya Azizza.“Iya, Nak. Tentu saja boleh,” jawab Bu Lasmi.“Terima kasih, Bu telah mengizinkan kami tinggal di sini. Kami sangat bersyukur bisa tinggal di tempat yang nyaman dan indah ini,” ucap Pak Dino.“Sama-sama, Pak.”Pada akhirnya, mereka hidup damai dan bahagia. Penuh keharmonisan di dalamnya.

Sang Pengembala Kambing dan Raja yang Sombong
Folklore
21 Jan 2026

Sang Pengembala Kambing dan Raja yang Sombong

Pada zaman dahulu, ada sebuah kerajaan yang cukup makmur dan memiliki hasil ladang yang begitu melimpah karena akan tanah di negeri ini yang begitu subur untuk lahan pertaniaan. Selain itu, karena keberadaan desa ini yang bertepatan di kaki gunung yang masih aktif. Namun, kerajaan ini dipimpin oleh Raja yang memiliki sifat yang sombong dan serakah. Sifat yang begitu tidak baik dicontoh.Sifat sang Raja sangat jauh berbalik dengan sifat sang istri yang begitu ramah, sopan dan murah hati kepada siapa pun. Apalagi kepada semua rakyatnya apabila ketika dekat sang ratu bawaan yang tenang karena sifatnya yang begitu lembut.Di tepi desa ada sebuah gubuk yang tak layak untuk dihuni keadaan yang begitu sudah sangat rapuh dimakan waktu. Gubuk itu yang dihuni oleh seorang wanita tua yang sudah sakit-sakitan dan memiliki seorang anak semata wayang yang memiliki tubuh kekar dan pemberani. Anaknya lah yang selalu membantu dalam segala hal urusan rumah tangga karena sang ibu yang tak bisa lagi untuk berkerja.Ia yang bernama Wawan. Wawan yang bekerja sebagai pengembala kambing milik tetangganya yang tak jauh dari rumah. Ia melakukan pekerjaan ini demi untuk melanjutkan hidupnya untuk sesuap nasi dan biaya obat sang ibu. Ia yang begitu rajin menggembala kambing milik tetangganya ke hutan untuk mencari rumput yang segar—memberi makan para kambing itu.Pemilik kambing itu begitu percaya kepada Wawan yang bertanggung jawab dalam mengurus para kambing. Walau ia tak pernah mengenyam pendidikan seperti teman seusia, tetapi ia diberikan akal yang cerdas dalam melakukan berbagai hal.Pada suatu hari, Raja yang sombong ini berkeliling desa sambil melihat keadaan desa ini. Ia yang menunggangi seekor kuda dan tak lupa dikawal oleh prajurit kerajaan yang begitu ramai untuk menjaga sang Raja. Para penduduk desa yang melihat kedatangan sang Raja, langsung menghormati kedatangan sang Raja. Jika tidak, ia akan marah kepada siapa yang tak menghormati kedatangannya.Di tengah perjalanan, mata sang Raja tertuju pada seorang anak pengembala kambing yang tak lain si Wawan. Ia sedang menggembala kambing milik tetangga yang duduk di bawah pohon rindang sambil memainkan suling kesayangan, pemberian dari sang ayah ketika masih hidup. Hanya itu peninggalan yang tersisa dari sang ayah. Sang Raja menghampiri sang pengembala itu. Ia langsung menyuruh prajurit untuk mengambil suling itu untuk dipatahkan sebagai hukuman atas apa yang dilakukan karena tak hormat atas kehadiran sang Raja.Sang Raja sedang menunggangi kuda yang terbahak-bahak atas apa yang hukuman yang ia berikan kepada sang pengembala itu. Sang Pengembala tak bisa berbuat apa. Walau ia memilik badan sangat kuat dan cukup menghajar prajurit dan sang Raja yang sombong itu, tetapi ia ingat akan pesan sang ibu untuk tidak melakukan hal-hal aneh kepada orang lain karena kita hanya orang kecil yang menumpang di desa ini.Ia sangat marah. Wajahnya langsung memerah atas apa yang dilakukan sang Raja kepada peninggalan sang ayahnya. Ia tak bisa menahan diri untuk tidak marah. Namun, tiba-tiba mulutnya mengeluarkan sumpah yang langsung dilontarkan."Saya sumpahkan desa ini akan menjadi desa mati yang tak akan bisa dihuni lagi karena keserakahan dan kesombongan sang Rajanya." Sumpah itu, ia lontarkan begitu saja dalam mulutnya.Namun, sang Raja hanya tertawa terbahak-bahak atas apa yang ia dengar. Dia berpikir itu lelucon yang dilontarkan anak muda itu. Ia dan para prajurit langsung meninggalkan si Pengembala dengan wajah memerah. Sang Penggembala langsung sadar atas apa yang ia ucapkan. Ia langsung bergegas pulang untuk menemui sang ibu dan menceritakan hal yang memalukan ia ucapkan tadi.Ia yang tiba-tiba begitu menyesal atas apa yang ia lontarkan kepada sang Raja.Ketika sampai di rumah, ia menceritakan semua yang ia lakukan ketika ia sedang menggembala di tepi desa tadi. Sang ibu mendengar dengan hati yang tenang dan mengajak sang anak semata wayang itu untuk meninggalkan desa. Takutnya apa yang diucapkan anak itu akan menjadi kenyataan. Walau ia juga memimpikan hal yang sama yang diucapkan anaknya itu.Keesokan paginya ia bergegas untuk meninggalkan desa ini. Ia takut akan terjadi seperti dalam mimpinya itu walau sang ibu tak pernah menceritakan atas perihal mimpinya. Dia takut sang anak akan menyesal atas apa yang ia ucapkan. Mereka sengaja berangkat pagi-pagi buta agar tak ada satu pun warga desa yang tahu atas kepergian mereka. Apalagi sepengetahuan sang Raja.Mereka pergi hanya berjalan kaki dan membawa beberapa perlengkapan pakaian. Tak lupa pula mereka membawa bekal yang mereka siapkan tadi malam untuk jaga-jaga ketika di tengah perjalanan.Beberapa bulan kemudian, setelah kepergian sang Pengembala dari desa—musim kemarau tiba. Entah kenapa musim kemarau kini begitu lama. Tidak sama dengan musim kemarau pada tahun-tahun sebelumnya. Sang Raja yang semakin panik, apalagi hasil persediaan hasil panen di gudang mulai menipis. Persediaan ini tak cukup untuk waktu yang lama. Raja harus mencari akal untuk mengakhiri musim kemarau yang tak kunjung usai.Ia menghimbau beberapa dukun terhebat di negeri ini untuk segera menurunkan hujan. Namun, para dukun hebat itu tetap gagal untuk menurunkan hujan. Sudah hampir setegah tahun kemarau yang tak kunjung usai, membuat persediaan makanan benar-benar sangat tipis. Hanya cukup untuk beberapa hari ke depan.Musim kemarau yang begitu panjang membuat semua tanah ladang begitu kering kerontang dan aliran sungai tak ada aliran air lagi di desa. Sumpah yang dilontarkan sang Pengembala itu benar-benar terjadi. Kini desa ini menjadi desa mati dan tak pernah ada penghuninya setelah kerajaan yang dipimpin oleh sang Raja sombong itu.

Malas to Panik
Teen
21 Jan 2026

Malas to Panik

Taufan lemas sekali hari ini. Matanya terasa berat, juga kakinya yang malas bergerak, membuatnya hanya bisa merebah dengan malas di atas sofa panjang di ruang tengah, ditemani televisi yang sudah menyala semenjak dia duduk di sana-menampilkan kartun kereta api yang bisa bicara.Lagipula, ia sedang puasa. Apalagi yang bisa ia lakukan selain bermalas-malasan sambil menunggu saudara-saudaranya pulang dari sekolah?Jangan salah paham. Dia sebenarnya baru saja pulang sekolah beberapa saat lalu, mendahului Halilintar dan Gempa yang masih berada di sekolah karena ekstrakurikuler mereka.Blaze dan Ice tidak tau ke mana. Tapi biasanya, kedua adiknya itu akan pergi bermain ke rumah teman mereka setelah pulang sekolah. Sedangkan Duri dan Solar baru saja pergi berbelanja bersama kedua orang tua mereka, mencari perbukaan-berburu takjil, tau lah.Taufan menghela napas panjang-entah untuk ke berapa kalinya-mengekspresikan betapa bosan dirinya yang hanya bermalas-malasan di sofa ruang tengah. Tangannya bergerak mengambil remot TV di atas meja, berniat mematikan TV dan pergi ke kamar untuk tidur.Setelah mematikan TV, kakinya melangkah malas menuju tangga untuk mencapai kamarnya yang berada di lantai dua. Mata Taufan terlalu berat sekarang, sampai pandangannya tidak fokus karena kantuk yang menyerang.Tubuhnya berjalan dengan sempoyongan, kadang tangannya terentang spontan untuk menjaga keseimbangan, berusaha agar tidak terjatuh sebelum sampai di kamar. Namun, sepertinya hari ini jadwalnya untuk mendapat kesialan.Kakinya menginjak genangan air yang berada di dekat tangga, membuat tubuhnya limbung dan langsung terjatuh dengan posisi miring di dekat tangga. Untungnya, Taufan berhasil memposisikan tubuhnya agar kepalanya tidak terbentur lantai. Jadi hanya bahu kanannya saja yang terasa sedikit nyeri karena menjadi tumpuan saat ia jatuh ke lantai."Aduh.." keluhnya malas. Tubuhnya terlalu malas untuk bergerak, jadi dengan kesadaran penuh, Taufan mencari posisi nyaman di lantai dan langsung memejamkan matanya dengan nyaman-Taufan tidur dalam keadaan tergeletak di depan tangga.▵▾▵▾▵▾▵Taufan mengernyitkan dahinya kala mendengar suara-suara yang tak asing memasuki indera pendengarannya. Matanya mengerjap pelan sebelum terbuka sepenuhnya."Kak Upan udah bangun!"Taufan mengernyitkan dahinya kembali setelah mendengar suara nyaring Duri di sebelahnya. Tangannya bergerak mengucek matanya kali ini, bersamaan dengan bibirnya yang menguap kecil, Taufan mengubah posisinya menjadi duduk.Setelah pandangannya kembali fokus, betapa terkejutnya dia melihat seluruh anggota keluarganya sedang mengerubunginya dengan tatapan khawatir-bahkan wajah datar Halilintar kini hilang, tergantikan dengan wajah paniknya yang terlihat begitu kentara."Kalian kenapa?" tanya Taufan. Matanya bergerak menghitung jumlah saudaranya."Ada yang sakit? Kepalanya masih pusing, gak? Mau langsung buka aja? Kakinya gak terkilir, kan? Atau ada lecet?" Pertanyaan beruntun dengan nada khawatir terdengar dari Halilintar. Tatapan saudara tertuanya itu tak beralih sedikitpun darinya sedari tadi.Taufan cengo, bingung dengan maksud pertanyaan beruntun dari Halilintar. Ayolah, dia baru saja bangun tidur. Kenapa langsung disuguhi dengan pertanyaan tidak jelas seperti ini?"Kepala Kakak kebentur kuat banget tadi? Mau di bawa ke rumah sakit aja?" Kali ini giliran Gempa yang bertanya. Wajahnya sama seperti Halilintar-penuh kekhawatiran yang begitu kentara."Kakak gak kena gegar otak, kan, gara-gara jatuh dari tangga tadi?"Taufan mengernyit. Apa maksud adik bungsunya ini? Jatuh dari tangga? Kapan dia jatuh dari tangga?"KAK UPAN, MAAFIN KAMI! KAMI LUPA BERSIHIN AIR YANG TUMPAH DI TANGGA!"Taufan reflek menutup telinganya kala teriakan Blaze dan Ice berbondong-bondong memukul gendang telinganya. Sementara keduanya langsung menangis tersedu-sedu sambil memegangi kedua tangannya di masing-masing sisi."Taufan, kamu jatuh dari tangga tadi," suara Ayahnya terdengar lebih bersahabat sekarang-tidak seberisik saudara-saudaranya yang grasak-grusuk menanyainya dari A sampai Z dengan volume tinggi.Taufan terdiam sejenak, lalu mendesis pelan saat mengingat apa yang dilakukannya beberapa saat-mungkin jam-lalu sebelum seluruh keluarganya kembali ke rumah.Ah, Taufan jadi bingung bagaimana cara mengakuinya. Ia kasihan pada Blaze dan Ice yang masih menangis di kiri dan kanannya, tapi ia juga tidak berani mengaku jika ia hanya tidur di tangga. Apalagi setelah melihat betapa khawatirnya seluruh keluarganya saat ini.Baru Taufan ingin membuka mulut, tiba-tiba suara bedug terdengar nyaring dari masjid setelah sholawat sebelum adzan maghrib berkumandang, menandakan bahwa waktunya berbuka telah tiba."Eh! Bunda belum nyiapin buka puasa!" seru Bunda dengan panik. Matanya lalu melirik ke arah Taufan, membuat Taufan menatapnya dengan bingung."Bunda tinggal dulu, ya? Kamu istirahat aja dulu kalau masih pusing, nanti biar Gempa atau Hali yang nganterin makanan buat kamu," ucap Bundanya sambil mengelus kepalanya, lalu berniat beranjak ke dapur."Udah enakan, Bun. Upan bantu aja buat nyiapin perbukaannya," putus Taufan akhirnya. Lalu beranjak mengikuti langkah Bundanya ke dapur, diikuti ayah dan keenam saudaranya di belakang.▵▾▵▾▵▾▵

Sahur Day 1
Teen
21 Jan 2026

Sahur Day 1

Langit masih gelap. Suhu pagi ini bahkan masih terlalu dingin untuk memulai aktivitas seperti biasa. Namun, hal ini sepertinya tidak mempengaruhi rumah beranggotakan sembilan orang ini."JANGAN LARI-LARIAN. INI MASIH SUBUH, BERISIK!!"Itu suara Hali. Manik merahnya melotot lebar pada Blaze, yang saat ini tengah diseretnya menuju ruang keluarga. Di tangan Blaze terdapat sebuah panci yang berisikan air dan seekor ikan cupang berwarna merah tengah berenang-renang di dalamnya, entah dari mana ia mendapatkan ikan itu."Buat wadah ikannya, Kak. Kasihan ikannya, masa tinggal di wastafel? Tadi aja hampir meregang nyawa dia gara-gara airnya dikuras sama Ice," ujar Blaze sambil memeluk erat panci berwarna merah di tangannya."Ya gak panci juga dong. Minimal tupperware, atau enggak ya pake akuarium bekas ikan peliharaan Solar di gudang itu. Mau kamu ikannya direbus sama Gempa?" tanya Halilintar. Sebelah tangannya kini bertumpu pada pinggang sembari menatap Blaze dengan pandangan malas.Kedua saudara yang identik dengan warna merah -meski berbeda tone-itu terus saja berdebat. Dari awal keduanya memasuki dapur, sampai makanan untuk sahur yang sedang dipanaskan oleh Gempa dan Bunda selesai ditata ke atas meja.Di sisi lain, Taufan dan Ice masih tenang tidur berpelukan di atas sofa ruang keluarga tanpa mempedulikan suara-suara berisik yang ada di sekitar mereka. Selimut tebal membungkus tubuh keduanya, menghalau udara dingin yang terasa menusuk kulit.Suhu udara menunjukkan angka 20°C sekarang. Wajar saja jika Taufan, sebagai makhluk yang sangat anti dengan dingin, memilih bergelung dalam selimut bersama Ice daripada merencanakan kejahilan-kejahilan kecil bersama Blaze dan Duri. Sementara Ice, dia memang penyuka tidur. Tidak heran jika dia tertidur bersama Taufan di sofa.Derap langkah kaki terdengar dari arah tangga, membuat Halilintar dan Blaze yang masih berdebat mengalihkan pandangan ke arah sana. Di sana, terlihat sang ayah turun sembari menggandeng tangan kedua adik bungsu mereka yang tampak masih mengantuk.Solar langsung melangkahkan kakinya menuju dapur-menghampiri Bunda dan Gempa-setelah sampai di lantai bawah. Sementara itu, Duri kini menyelusup masuk ke dalam selimut yang berisi Taufan dan Ice, berniat menyambung tidurnya kembali.Ayah menggelengkan kepalanya sembari tersenyum kecil, lalu beralih menatap Halilintar dan Blaze yang kini terdiam dalam keheningan-menatap sang ayah dengan pandangan kebingungan."Apa?" tanya Ayah. Dia juga ikut kebingungan melihat tatapan aneh kedua anaknya yang ditujukan padanya.Halilintar dan Blaze menggeleng bersamaan. Tampaknya ingatan mereka ter-reset tiba-tiba setelah melihat ayah dan kedua adik mereka turun dari atas.Tak lama setelahnya, teriakan kembali terdengar dari Halilintar kala Blaze melarikan diri membawa panci yang sedari tadi di peluknya menuju dapur.Dan cerita ini berakhir dengan seruan Bunda yang memanggil mereka ke dapur untuk melaksanakan sahur, kemudian benar-benar ditutup dengan Blaze yang merengek pada Gempa untuk menemaninya mengambil akuarium Solar yang sudah tidak dipakai di gudang.

Peri Pohon
Folklore
20 Jan 2026

Peri Pohon

Suara nyanyian kecil merambat dari cela sulur pohon dan dedaunan, semakin didekati semakin mengeras. Namun, terdengar lembut. Lantunan lagu itu berasal dari gadis cilik harum berambut pirang dan memiliki bibir seranum buah beri. Dia; Jini. Gadis kecil yang dikenal karena selalu memakai topi baret dengan motif buah stroberi kecil kesayangannya. Ia tampak lugu dan periang di usia yang baru menapaki umur enam tahun.Pagi hari yang cerah sama seperti kemarin di mana cahaya mentari masih menyelimuti bumi, Jini berjalan kecil sembari bersenandung keluar rumah menuju arah dekat hutan di mana biasanya ia memetik beberapa bunga dandelion untuk dibawa pulang. Suasana tampak seperti biasanya, sampai suatu cahaya kecil mengalihkan perhatian Jini."Bagaimana bisa kunang-kunang masih bisa hidup sekarang?" ucap dirinya lalu dengan naluri seorang anak kecil, ia berjalan ke arah celah pohon di mana dilihatnya cahaya kuning keemasan itu berpendar.Jini memekik kecil. "Seorang Peri?"Dengan cepat, ia mengambil cahaya itu yang ternyata saat didekati adalah seorang manusia kecil bersayap bening nan indah. Manusia kecil atau yang disebut Jini—Peri yang sedari awal terjebak di antara celah pohon maple memberontak ingin keluar, tetapi tidak bisa.Beruntung Jini melepaskan Peri itu dari jerat dan akhirnya sang Peri bisa terbang kembali walau agak melambat. Sebelum pergi, Peri kecil itu hinggap kembali di tangan mungil Jini."Terima kasih, Nona manis. Kau telah membebaskanku. Sebagai gantinya, aku akan membantumu," ucap Peri itu dengan suara kecil.Jini membalas dengan senyum riang. "Ah benarkah, Peri? Apa yang bisa kau?""Aku bisa menggandakan barang-barang yang kau mau hanya dengan menanamnya.""Wah benarkah?" Semangat Jini tidak bisa dibendung lagi. Terlihat dari gestur tubuhnya dan senyum lebar khas anak perempuan lugu."Tentu." Peri itu menyahut dan membalas senyum Jini. "Namun, aku hanya bisa melakukannya sekali dalam sehari dan sebagai gantinya kau harus memberikanku madu sejumlah satu tutup botol. Bagaimana?"Tidak perlu jeda untuk berpikir, Jini langsung membalasnya dengan semangat. "Aku mau, Peri!""Baiklah, Nona. Jika kau mau melakukannya, mulai besok panggil saja namaku dengan keras." Setelah itu, Peri melesat dengan cepat, memutar-mutari badan mungil Jini. Sebelum pergi, ia membisikan sesuatu ke telinga kecil sang anak buah beri."Namaku Namu."🍓🍓🍓Pagi berikutnya, Jini berdiri di samping kandang kelincinya—meneriaki nama 'Namu' dengan gembira. Kemudian seperti kilatan cahaya surga, Peri kecil itu kembali datang dengan senyum tulus mengembang."Apa yang ingin kau tanam hari ini, Nona?""Aku ingin stroberi!"Jini menyerahkan satu tutup botol madu untuk Namu bawa. Selanjutnya ia menanam satu buah stroberi itu di dalam tanah dengan cekatan, berkat dari seorang keturunan petani. Lalu Peri itu memutari lingkar tanah yang terbentuk, menjatuhkan berbagai kerlip cahaya perak menimpa tanah itu yang ajaibnya. Satu tanaman tumbuh dengan amat sangat cepat, seperti pohon kecil. Namun, ditumbuhi beberapa buah stroberi.Jini jelas merasa kaget dan heran di saat yang bersamaan. "Apakah ini sungguhan, Namu?""Tentu. Petiklah semua hasil yang telah kau tanam!" jawabnya sambil terduduk di salah satu daun di pohon ajaib itu. Jini dengan segera memetik semua stroberi yang ada tanpa terkecuali, sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa topinya terjatuh dan terinjak oleh dirinya sendiri saat memetik.Namu membuka suara. "Saranku segeralah petik semua hasil itu karena tepat saat benda terakhir dari setiap pohon telah kau petik, pohon itu akan kembali ke tanah.""Baiklah, Kapten!" pekik Jini riang sembari memakan stroberi yang telah dipetiknya.Setelah dirasa cukup dan pohon tadi sudah kembali ke tanah, Namu kembali melesat pergi ke angkasa setelah berucap 'selamat tinggal' pada Jini.🍓🍓🍓Hari demi hari berlalu. Rutinitas untuk memanggil Namu dan menanam segala kehendak dari Jini terjadi secara rutin setiap pagi pada pukul sembilan. Jini tidak menanam sesuatu yang membahayakan, hanya sekadar makanan kue kering, permen, gula, atau manik-manik yang ingin dia gandakan untuk hiasan ruang. Itu sudah berlangsung semenjak empat belas hari ke belakang. Peri itu pun masih senang dengan bayaran satu tutup botol madu dan senyum cerah dari Jini.Namun, hari ini nampaknya berbeda. Namu datang dengan pemandangan Jini yang membawa banyak sekali persediaan makanan dan hanya membawa setengah tutup botol madu. Jini bersikeras untuk membuat Namu menumbuhkan semuanya dengan rengekan dan pekikan keras khas anak kecil."Namu bantu aku menumbuhkan ini semua huaaa. Bantu aku Namuuu, cepat!"Tidak. Ini sudah melampaui batas. Seorang Peri dapat kehilangan nyawa mereka jika terlalu banyak mengeluarkan serbuk sari dari dirinya. Namu enggan memberitahu pasal kematian pada gadis cilik ini. Oleh karena itu, ia langsung pergi dari hadapan Jini tanpa berucap sepatah kata pun.Esoknya, Namu mendapat panggilan lagi dari Jini. Namun, karena masih mengira hal yang sama seperti kemarin akan terjadi maka ia mengabaikannya lagi. Tidak hanya hari itu, pada hari-hari berikutnya pun demikian. Lebih tepatnya, tidak ada panggilan lagi dari Jini. Sedangkan Namu juga sibuk mengumpulkan benih dan madu untuk persiapan musim dingin nanti.Namun, disela itu, Namu masih merasa iba dan mengingat bagaimana jasa dari Jini yang telah menyelamatkan hidupnya untuk bisa bernapas hingga kini. Ia berniat untuk menengok Jini barangkali sekali saja sebelum salju pertama turun di awal bulan Desember. Ia bergegas terbang melawan arus angin.Sayangnya saat sampai, hanya kekosongan yang didapatinya."Halo, Nona manis?"Namu memutuskan untuk terbang ke arah kamar Jini saat tidak mendapati jawaban apapun. Dan di sana, Namu mendapatkan semua jawabanya dari beberapa kertas yang berhamburan di lantai.Hari ini orang tuaku tidak pulang. Orang tuaku masih belum datang. Mama aku lapar. Namu marah kepadaku karena aku terlalu banyak meminta. Namu, aku mau memberimu sebotol madu hari ini, mengapa tidak mau datang? Makanan sudah habis. Aku lapar dan takut. Rasanya sakit, aku sudah tidak makan dari waktu itu. Bibi datang menjemputku hari ini. Akhirnya aku dapat makan lagi. Selamat tinggal rumah, semoga tidak banyak lumut menempel di kasurku saat aku kembali nanti.Sedih dan perasaan bersalah menghujani dan menghantam keras hati peri kecil itu. Ia terduduk lemas, juga mendapati bahwa memang benar ada sebotol madu bertuliskan catatan 'untuk Namu' di sana. Namu menangis untuk pertama kalinya setelah terlahir ke dunia.Maka untuk menebus kesalahannya, Namu merawat rumah itu dengan baik, juga menanami berbagai macam bunga dan stroberi sebagai penghias. Tentunya, ia akan menunggu nona manisnya itu untuk pulang.

Alkisah Putri Nara
Folklore
20 Jan 2026

Alkisah Putri Nara

Pada zaman dahulu hiduplah seorang puteri cantik di negeri antah berantah. Putri cantik ini bernama Putri Nara. Sang Putri hidup bahagia bersama keluarganya. Kini, Putri Nara menginjak usia tujuh belas tahun. Sang Ayahanda dan Ibunda sepakat menjodohkan putri bungsunya dengan Pangeran Chandra dari kerajaan tetangga.Semua pihak istana merasa gembira dengan kabar perjodohan sang putri bungsunya. Namun, tidak dengan sang Kakak—Putri Kinan. Putri Kinan merasa bahwa dirinya ini seperti anak tiri, tidak pernah sama selalu diperhatikan oleh kedua orang tuanya. Kecemburuannya semakin memuncak saat melihat kedekatan sang adik dengan Pangeran Chandra. Putri Kinan berusaha menggagalkan rencana perjodohan mereka.Pagi ini Putri menemui seorang nenek yang beraliran sesat untuk bisa mencelakai adik bungsunya. Sang nenek sihir hanya tertawa senang mendengar perkataan putri.“Haha. Aku ini seorang penyihir hebat, masalah hanya kecil bagiku.Tetapi apa imbalan yang aku dapatkan?”Putri Kinan tersenyum sinis dengan ucapan sang Nenek sihir. Ia pun berjanji apa pun yang sang Nenek minta, pasti dia kabulkan. Sang Nenek hanya memberikan sebotol ramuan untuk ditaburkan di makanan. Putri Kinan mulai melancarkan aksi dengan membawakan kue tart kesukaan Putri Nara.Tanpa merasa curiga, Putri Nara menerima pemberian Kakaknya.Setelah memakan kue tersebut, Putri Nara merasakan gatal di sekujur tubuhnya. Seluruh badannya mulai muncul benjolan-benjolan kecil kemerahan yang perlahan-lahan mengeluarkan bahu tidak sedap. Semua pihak istana mulai panik mendengar kabar sang putri bungsu, tak terkecuali sang Kakak. Sang Ayahanda berusaha mencari para Tabib terbaik di kerajaan ini. Namun, tidak satu pun yang mampu menyembuhkan penyakit sang putri.Di saat inilah Putri Kinan memanas-manaskan Ayahanda agar mengasingkan Putri Nara untuk beberapa bulan sampai penyakitnya sembuh. Awalnya sang Ayah tidak mau menerima usulan tersebut. Namun, Putri Kinan mengingatkan bagimana dengan perjanjiannya dengan Pangeran Chandra.Dengan berat hati, sang Ayah mengirimkan putri kesayangannya ke tengah hutan. Ibunda yang menyaksikan putri pergi, hanya mampu menangis. Kesedihan juga dirasakan seluruh pegawai istana. Dulu kerajaan Rania penuh dengan tawa ria sang putri. Kini justru hanya ada kesunyian.Sepanjang perjalanan, sang putri hanya mampu menangisi takdirnya. Kini, sang putri tinggal di hutan dengan kucing kesayangannya. Di sisi lain, Pangeran Chandra mendengar kabar bahwa Putri Nara diasingkan dan Putri Kinan yang akan menggantikan posisinya. Pangeran Chandra datang menghadap Raja Janakya, meminta penjelasan mengenai kabar yang beredar.Mendengar kabar kalau Putri Nara terkena penyakit yang tidak bisa di sembuhkan, Pangeran Chandra menolak untuk dijodohkan dengan Putri Kinan. Pangeran Chandra sudah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Putri Nara. Sang Pangeran bersikeras akan mencari Putri Nara.Putri Kinan mendengar semua pembicaraan Pangeran Chandra dan semakin membuatnya membenci Adiknya. Ia berjanji tidak akan membiarkan mereka hidup bahagia. Putri Kinan berusaha membujuk ayahnya agar Pangeran Chandra menikahinya. Putri Kinan berusaha mencari ide lain karena ayahnya tidak mampu menghentikan niat sang pangeran.Di sisi lain, Pangeran Chandra menuju ke hutan dengan para pasukannya untuk mencari keberadaan Putri Nara. Diam-diam Putri Kinan mengikuti sang pangeran dari belakang agar ia bisa mencari celah untuk merusak persedian stok makanan mereka. Namun, usaha tidak membuahkan hasil. Alhasil ia hampir jatuh ke perosok lubang karena lari dan hampir ketahuan.Dalam perjalanan pulang, selendangnya tertiup angin dan terbang jauh. Ia berusaha mengejarnya, tetapi gagal. Ia hampir ketemu dengan prajurit-prajurit yang sedang berpatroli. Hari demi hari demi berlalu sangat cepat. Perlahan-lahan Putri Nara mulai menerima takdirnya dengan ikhlas. Selama pengasingan, ia memilih untuk berkebun untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.Selama tiga hari pencarian, mereka belum menemukan jejak keberadan sang gadis pujaannya. Di tengah pencariannya, ia menemukan seekor kucing yang sangat ia kenal. Itu adalah milik sang putri. Saat sang putri menyadari kucingnya hilang, ia pun mencari ke seluruh sudut gubuknya. Namun, tidak ada.Tanpa basa-basi, ia keluar dari area gubuknya dan mulai menyusuri hutan. Ia menemukan beberapa pasukan prajurit. Sang putri langsung membalikkan badan dan ingin segera bergegas dari sana agar tidak ketahuan. Baru melangkah, ia mendengar suara kucing kesayangannya. Sontak ia membalikkan badan mencari sumber suara itu.Sang Pangeran langsung memeluk sang putri karena berhasil menemukan setelah beberapa hari pencariannya. Putri Nara berusaha melepas pelukan itu, tetapi dicegah oleh Sang Pangeran. Penyakit yang ada di tubuh sang putri berangsur-angsur pudar saat pelukan mereka semakin erat. Sang Pangeran sudah mengetahui jika penyakit ini adalah sebuah sihir yang sengaja ditujukan untuk sang putri.Sang putri menangis di pelukan sang pangeran. Pangeran Chandra mengutarakan niatnya dengan sungguh-sungguh agar Putri Nara mau menjadikannya sebagi pendamping hidupnya. Dengan perasaan iba karena ketulusan sang pangeran, akhirnya putri Nara menerima sebagai pendamping hidupnya.Merasa geram, mendengar apa yang dikatakan oleh mata-matanya—ia mengerahkan prajuritnya untuk menangkap sang penyihir dan menyeretnya ke aula kerajaan.Putri Nara sangat bahagia karena penyakitnya sudah sembuh. Akhirnya kebusukan sang Kakak terbongkar. Namun, Putri Kinan berusaha mengelak dan membantah tuduhan itu. Nenek sihir juga tidak tinggal diam, ia membuka kedok sang putri. Bukti terakhir yang, Putri Kinan tidak bisa bantah sama sekali. Selendangnya jatuh di hutan dan sang prajurit pangeran menemukan dan menjadikan sebagi bukti.

ORANG-ORANGAN MONOPOLI, DADU, DAN UANG DOLAR YANG MENEMANI LEGO
Fantasy
20 Jan 2026

ORANG-ORANGAN MONOPOLI, DADU, DAN UANG DOLAR YANG MENEMANI LEGO

"Sudah lama aku terbaring di kotak ini."Orang-orangan hijau terbangun dari tidurnya yang sudah sangat lama setelah merasakan kotak tempatnya tidur bergerak."Lego lebih suka ponsel pintarnya. Jangankan kita, mainan murahan yang menemani masa kecilnya ... lihat saja buku-buku mahal yang ada di rak itu juga tidak disentuhnya," kata si Merah galak."Tahu dari mana kamu soal itu?" tanya si Kuning."Aku tahu dari Dadu yang suka menggelinding tiap kali Lego memindahkan kita. Dia mudah mengintip!" tuding si Merah."Apa Lego akan memindahkan kita lagi?" tanya Dadu yang menggelinding ke salah satu sudut kotak, mengenai si Kuning yang kakinya tersangkut di celah kotak yang sudah bolong."Lihat hotel-hotel itu. Dulu mereka mahal sekali! Sekarang nasibnya sama dengan rumah-rumah dan kartu dana umum dan kesempatan. Tergeletak di dalam kotak, tidak tersentuh sama sekali." Kali ini si Hitam yang bersuara. Dia melihat sekeliling."Aku ... andai saja aku jadi dadu yang ada di meja bar permainan para mafia di TV. Orang-orang kaya dan perempuan-perempuan cantik di sana akan lebih baik daripada kotak ini," keluh Dadu. "Awas ... awas!!!" teriaknya pada si Kuning yang masih saja tertidur, hampir saja keluar dari kotak yang sudutnya sudah menipis, sedikit berlubang karena kaki runcing si kuning yang menyangkut."Tahu dari mana kamu kalau dadu bisa ada di meja mafia?" tanya si Kuning yang terbangun karena Dadu yang mengimpitnya."Aku mengintip Lego yang menonton film mafia waktu itu," Dadu menjawab. "Coba saja kamu lihat dari celah tempat kakimu tersangkut itu. Ah, Lego akan memindahkan kita ke mana lagi?!" teriak Dadu saat merasakan kotak tempat mereka tinggal kembali bergerak." Issshhhhh , rumah-rumah dan hotel itu berisik sekali!" seru si Biru yang paling pendiam. "Waaahhhhh! Awas ... awas! Dana umum dan kesempatan akan mengenai kalian," katanya melihat kartu berwarna hijau dan pink itu terlepas dari ikatannya."Uang-uang itu juga. Aku senang mereka semakin kelihatan sedikit, tapi tetap mereka yang paling banyak. Awas, Dadu!" teriak si Hijau.Tiba-tiba cahaya menyorot ke seisi kotak. Lego dewasa memperhatikan semua isi kotak dengan bahu menurun. Dia membenarkan posisi si Kuning, melepaskan kakinya yang tersangkut pada sudut kotak."Ah, terima kasih Lego!" seru si Kuning yang kini bergabung dengan si Merah, Hijau dan Biru."Berlebihan sekali, kau, Kuning!" kata si Hitam kesal karena tempatnya sempit dengan si Kuning di sebelahnya."Aku masih berharap kalau Lego bisa mendengarkan kita."Suara berat dari gambar uang-uangan Dolar menarik perhatian seluruh isi kotak."Konyol sekali, kau, Dolar!" tawa Dadu meledek. "Kau tahu, ada film anak-anak yang sering ditonton Lego. Di sana mainan seorang anak juga bercakap-cakap seperti kita.""Lalu?" tanya si Biru. "Apa hubungannya dengan kita?""Di sana mainan-mainan itu juga tidak bisa bicara dengan pemiliknya. Mereka berinteraksi satu sama lain. Menjadi saksi si pemilik yang tumbuh dewasa.""Seharusnya kalau Lego ingat kita, dia akan tersentuh dengan film itu. Mungkin dia akan merapikan kita, membiarkan kita berkumpul dengan mainan lain atau ...." Dolar menggantungkan ucapannya."Membuang kita. Aku mengerti itu." Si Biru tidak ambil pusing dengan perkataan Dolar. "Tapi buktinya, Lego tidak pernah membuang kita. Ke mana pun dia pergi, kita akan selalu dibawanya. Saat dia pindah rumah, tinggal di asrama, tinggal di kosan, sampai sekarang tinggal di apartemen. Sebatas itu. Sudah cukup. Tidak perlulah dia mendengarkan kita.""Tapi aku bosan hidup di kotak hanya dengan kalian," kata si Hitam. "Lego! Aku ingin keluar!""Hai, apa kalian yang jadi ide cerita Lego yang tidak punya lego dalam buku yang terpisah sendiri di sana?" tanya perempuan yang datang bersama Lego, mengabaikan sejenak benda pintar yang semula ditekuninya. "Hebat! Kamu masih punya monopoli. Aku ... waktu kecil aku membelinya setiap tahun untuk dimainkan di bulan puasa."Lego tertawa. "Hampir aja lupa, mau aku pindahin," kata Lego yang sedang menuangkan air. "Kotaknya udah rusak.""Ini monopoli edisi lama banget, Lego!" seru perempuan itu riang. "Aku dulu kalau main ini suka pakai orang yang warna biru."Si Biru tercengang begitu perempuan itu mengangkatnya, meletakkannya di telapak tangannya, menelitinya lebih dekat."Kalau aku malah enggak pernah pakai yang biru, Cita," kata Lego, menyerahkan air minum untuk temannya itu.Si Merah, Kuning, Hijau dan Hitam, semuanya bergantian melihat si Biru."Apa karena Biru itu melambangkan kesedihan?" tanya Cita, meletakkan si Biru lagi ke tempatnya. "Ah, berarti novel pertamamu itu kisahmu sendiri?""Novel apa? Apa Lego penulis?" Dadu berisik bertanya.Lego terangguk dengan senyum manisnya, kembali menekuni kotak usang yang hendak digantinya. Semua isi kotak itu meluncur ke atas meja, mendekat pada laptop yang terbuka."Sebenarnya dulu kalau pakai si Biru itu aku enggak pernah menang. Aku miskin," kekeh Lego. "Saat besar, baru aku tahu makna biru itu apa ... sampai aku jadikan tambahan buat pelengkap cerita di novelku. Biru enggak selalu berarti sedih, Cita ...."Si Biru yang ikut menyimak percakapan itu, tersenyum. Si Hitam, Merah, Kuning dan Hijau ikut melihatnya."Biru itu punya banyak makna. Menjadi simbol banyak macam perasaan. Mungkin karena Biru mewakili warna langit, laut."" Feeling the blue, out of the blue ," Cita menyebutkan dua kalimat terkenal. "Kita lihat langit di saat sedih, melamun, tapi langit cerah juga yang bikin kita senang dan tenang. Suara angin, suara air laut.""Atau karena kita senang yang bikin langit jadi terlihat indah karena kita butuh tenang yang bikin laut jadi menenangkan," lanjut Lego."Enggak tahu, ah! Capek ngomong sama penulis. Enggak ngerti," keluh Cita yang ditertawai Lego. "Tapi itu semua yang bikin kita lebih merasa. Jadi teman kita buat berpikir lebih dalam. Benar kan kalau dengan itu semua pikiran kita lebih mudah dirasa?""Sekarang aku yang enggak ngerti sama omongan kamu," ledek Lego."Hih!" Hampir saja Cita mengambil rumah-rumahan, melemparkannya pada Lego saking kesalnya. "Apa berarti kamu juga enggak punya mainan lain waktu kecil? Seperti dalam novel itu?" tanya Cita penasaran. Kembali dia mengambil si Hitam, Merah, Kuning, Hijau dan Biru, meletakkannya semua di telapak tangannya. "Kamu sungguh enggak punya Lego walaupun namamu Lego, tapi kamu punya monopoli ini yang sekarang mungkin udah beda edisi.""Iya, jangankan lego yang mahal. Monopoli itu pun aku beli pakai uang jajanku. Ibuku pernah bilang kalau dia enggak akan membelikan aku mainan, apa pun, karena aku akan lupa belajar. Aku jadi malas nantinya, tapi ...." Lego menaikkan bahunya, tidak melanjutkan ucapannya."Kenapa?""Dulu aku enggak cukup mampu buat beli lego," terang Lego, mengingat masa kecilnya. "Mungkin karena tahu lego itu mahal, aku jadi enggak punya keinginan buat beli."Cita yang mendengarnya ikut bersedih melihat Lego."Tapi monopoli yang bisa kamu beli itu yang bikin kamu banyak belajar sampai jadi juara di sekolah, jadi jenius sampai sekarang akhirnya jadi penulis sukses!" Cita menjabarkannya dengan bangga. "Kalau kamu suka lego, punya, mungkin kamu juga akan punya cerita dengan lego.""Mungkin." Lego terangguk-angguk. Dia langsung menuliskan apa kata Cita tadi. Siapa tahu bisa jadi ide untuk cerita berikutnya."Aku suka buku-buku, sampai sekarang aku koleksi. Kalau lagi beres-beres, selalu aku ingat waktu aku beli buku itu," cerita Cita, kembali ke masa kecilnya. "Kamu juga, kan, Lego?""Persis. Aku dan monopoli punya cerita panjang. Karena monopoli, aku jadi mau tahu negara-negara itu. Aku cari tahu soal Jepang, Spanyol, negara-negara di Komplek H, Pelabuhan dan Bandara. Semuanya! Itu karena monopoli," cerita Lego yang juga seperti kembali ke masa lalu."Dan cerita itu udah kamu tuliskan. Kenapa kamu menuliskannya, Lego?" tanya Cita, merapikan semua isi kotaknya; orang-orangan, rumah-rumahan, hotel, dadu, uang, dan semua kartunya. "Kamu juga merawat mereka dengan baik, masih menyimpannya.""Mereka itu temanku, Cita," kata Lego, memberikan kotak kayu yang tampak seperti peti harta karun. "Aku mau mereka terus menemaniku, jadi cerita sampai aku tua nanti."Orang-orangan, Dadu, dan Dolar tercenung mendengarnya."Apa semua penulis memang perasa seperti kamu, Lego?" tanya Cita, membuat Lego terbahak. "Aku jadi berpikiran kenapa orang-orang suka menulis. Waktu ke waktu otak kita akan terus diisi dengan ingatan yang baru. Menulis jadi salah satu cara buat kita ingat.""Menulis itu magis, Cita ... aku enggak pernah peduli orang bilang aku melankolis, sensitif atau seperti perempuan," terang Lego bangga."Aku baru tahu kalau cita-cita itu punya jenis kelamin," sindir Cita. "Jangan ambil hati omongan seperti itu!""Tolong susun semuanya di sini," kata Lego yang sudah selesai menyusun sebagian kartu dan uang dolar, tidak mau menanggapi apa kata Cita.Cita menurutinya. Orang-orangan yang tadi dimainkannya semua berpindah ke kotak kayu besar."Ah, tempat ini lebih nyaman!" seru Dadu yang menggelinding ke bagian sudut. "Kotak ini ada celahnya. Aku bisa dengan mudah mengintip Lego.""Untuk apa kamu mengintipnya? Tidak sopan!" kata Dolar. "Andai Lego membayangkan kalau kita hidup. Andai dia bisa mendengar kita juga. Mungkin dia akan membuang kita karena kita berisik sekali membicarakannya.""Tapi itu yang selalu kamu bayangkan," timpal si Hitam."Kamu, kok, bisa masih nyimpan ini?" tanya Cita masih heran di tengah-tengah kegiatannya merapikan isi kotak kayu yang sudah ditempati semua penduduk monopoli. "Selain kamu mau terus sama mereka, menjadikan mereka cerita di hari tua. Kenapa juga kamu menuliskannya jadi cerita?" tanya Cita, masih belum selesai dengan keingintahuannya."Aku mau mereka dapat aku kenang waktu aku pikun sekalipun," jelas Lego. "Aku baca mereka, aku jadi ingat mereka. Aku punya cerita panjang soal kenapa monopoli ini penting buat aku. Kalau aku ceritakan bisa jadi satu buku.""Dan kamu sudah menjadikannya sebuah cerita, menjualnya dalam bentuk buku.""Lebih dari cerita di buku. Aku mau orang-orang juga punya perasaan atas apa yang mereka punya, Cita. Berpikir sebelum membeli. Apa kegunaannya, apa bisa menjaganya?" Lego memulai khotbahnya. "Aku juga ingin orang tahu kalau apa-apa yang kita punya akan selalu punya cerita. Enggak peduli berapa harganya, gimana bentuknya. Yang penting gimana kita suka sama benda itu," jelas Lego dengan senyum. "Walaupun mereka hilang, rusak atau aku yang pikun, aku akan tetap punya cerita dengan mereka."" Ugh , Lego romantis sekali!" Dadu berseru, terkagum dengan Lego, terharu dengan ceritanya."Itu pesan yang aku dapat dari buku pertamamu itu, Lego," ungkap Cita. "Kamu berhasil!""Terima kasih Cita!" Lego senang mengetahuinya."Oh iya, si Putih enggak ada di sini." Cita menyusun uang-uangan yang berceceran.Ucapan Cita menarik perhatian semua penduduk monopoli yang tengah menikmati rumah baru mereka."Dia patah. Kalau kamu lihat di sana, aku menempelkannya di depan buku catatanku."Cita meraih buku catatan yang ditunjuk Lego. Si Merah dan kawan-kawannya, Dadu dan Uang Dolar bersorak begitu melihat si Putih masih ada."Putih, kukira kamu mati!" seru Dolar, tertawa membahana. "Atau menghilang.""Tidak. Aku hanya sulit bergerak saja, tidak bisa bertemu kalian juga.""Kasihan dia sendirian," kata Cita, mengusap si Putih."Hahaha benar juga," Lego berpikir sebentar, melihat buku catatannya. "Masukan saja ke kotak itu nanti.""Apa bukunya enggak akan kamu pakai lagi?" tanya Cita, menutup buku tersebut."Buku itu satu kesatuan dengan monopoli," ucap Lego mulai yang tidak Cita mengerti. "Seperti kata kamu tadi, kasihan si Putih sendirian."Cita menggeleng-gelengkan kepalanya. Meski aneh dengan jawaban Lego, dia memasukkan buku itu ke kotak.Semua penduduk monopoli menyambut hangat kembalinya si Putih dengan sorak-sorai."Putih ... Putih, kamu tahu apa yang ditulis Lego di sana?" tanya si Kuning penasaran."Ya, apa yang ditulisnya? Aku sering melihatnya menulis di sana!" seru Dadu si tukang intip."Menuliskan kita semua," kata si Putih. "Aku tidak peduli lagi soal kehancuranku yang ditempelkannya di sampul buku yang membuatku terimpit saat dia menulis, tapi karena itulah aku mendengar banyak cerita Lego.""Apa ceritanya? Apa Putih? Katakan pada kami!" si Hijau penasaran sekali."Ceritanya ....""Lego suka membacakan apa yang sudah ditulisnya. Aku pernah melihatnya," jawab Dadu."Iya, tapi apa yang dia katakan?" tanya si Hitam mulai kesal."Apa yang dituliskannya?" tanya si Biru yang juga tidak sabar.Kotak kayu yang mereka tempati kembali bergerak. Lego mengangkatnya."Akan dibawa ke mana lagi kita sekarang?" tanya si Dolar yang dari tadi diam.Orang-orangan, Dadu, dan Dolar yang berpencar, mengintip lewat celah kayu."Kamu yakin mau bawa mereka? Rak bukumu penuh sekali, Lego. Ada bukuku juga. Kamu juga sibuk. Aku pun sama. Kita tidak akan sempat merawat mereka," Cita mengingatkan."Apa dua puluh tahun mereka yang tetap ada tidak cukup jadi bukti kalau aku bisa menjaga mereka?" tanya Lego.Semua penduduk monopoli di dalam kotak terharu mendengarnya."Bukan cuma Lego yang semakin tua ...," kata si Merah bijaksana."Aku yang menguning," kata si Dolar. "Mereka yang menipis dan memudar," ia melihat semua kartu yang bertumpuk jadi satu; dana umum, kesempatan, kartu kepemilikan."Kita yang berdebu," si Putih melanjutkan."Waktu kecil mereka yang membawaku ke banyak tempat di dunia, Cita. Sekarang, aku yang akan bawa mereka ke mana-mana," tutup Lego.

MENGENAL SEBELUM MEMULAI
Fantasy
20 Jan 2026

MENGENAL SEBELUM MEMULAI

"Andai kata memang waktu adalah jawabannya, apa benar? Pada akhirnya, bahagia bisa ditemukan?"Pertanyaan itu kembali berputar di kepala seorang anak berkepribadian melankolis, dengan tubuh dibalut penuh kepingan es. Sebuah pertanyaan semu, yang sebab semakin sering munculnya, kini telah menjelma bagai teman sejatinya.Jika ada yang ingin tahu, mengapa sebuah pertanyaan bisa dijadikan seorang teman baginya, jawabannya adalah, karena dia tidak dikelilingi oleh siapa pun selain kesendirian. Harinya diselimuti kesepian.Namanya Shiver, pemilik jiwa yang sulit untuk berkembang karena sewaktu kecil, anak-anak di sekitarnya enggan membawanya jalan.Katanya, Shiver terlalu dingin, tidak menyenangkan, cenderung membosankan, kaku, sehingga tidak cocok dengan kelompok mereka. Melalui ucapan yang kian menyakiti hati tersebut, Shiver jadi paham kehadirannya tidak diterima.Oleh karena itu, ketika waktunya hadir di saat anak-anak berkumpul untuk bermain di tengah hamparan ilalang kuning, Shiver hanya memangku lututnya erat di bawah pohon rindang demi menutupi keberadaannya. Duduk, mengamati tiap gelak tawa yang terpancar di antara anak-anak yang sibuk bercengkerama bersama, namun ia tidak ikut meramaikannya.Demi sebuah alasan yang sesulit itu untuk ia petik, Shiver menyimpulkan jika ia bergabung, kebahagiaan yang terpancar di depannya akan serempak menghilang begitu saja. Presensinya seburuk itu dalam menghancurkan suasana. Anak-anak membenci dirinya. Wajar ia perlu menghilang.Satu-satunya hal yang biasa ia lakukan untuk menghibur diri ketika itu terjadi adalah, Shiver akan membayangkan sebuah skema dalam benak di mana dirinya turut berlari mengitari ilalang kuning dengan senyum terbaiknya. Membaringkan tubuh, sejajar lurus di atas rerumputan, sedang tangannya digerakkan melayang seakan ia tengah bermain kejar-kejaran.Nahas, ketika ia tersadar bahwa imaji hanyalah gambaran semu yang sulit menjadi nyata, Shiver biasanya akan segera pulang ke rumah dan menangis seharian. Iya, bayangannya tidaklah nyata. Begitu seterusnya, hari demi hari, hingga waktu memakan usianya tanpa memancarkan kebahagiaan.Lantaran kehidupan Shiver sangatlah muram, di suatu malam seorang nenek sihir datang mengunjungi kediamannya. Sesumbar dengan tongkat kayu yang ujungnya memercik cahaya gelap menakutkan, Nenek Sihir itu berkata, "Kau terlalu menyedihkan Shiver! Anak-anak seumurmu, seharusnya hidup bahagia dalam masanya. Jika kau tidak segera merasakan itu, maaf, maka setiap air mata yang menggenang jatuh dari pelupukmu, akan menjelma bagai es batu yang semakin lama ia beku, ia dapat membunuh jiwamu."Kala itu, Shiver tidak melawan. Ia secara sukarela menerima kutukan tersebut. Namun, selepas semua mantra habis diucapkan, Shiver mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat Nenek Sihir terdiam menimbang jawaban."Jika memang hidupku menyedihkan dan begitu berbeda dari yang lainnya, apa yang mungkin sebenarnya hilang dalam diriku ini?" kata Shiver berani mendongakkan kepalanya menghadap Nenek Sihir. Matanya yang kelam tidak menyorotkan sedikit pun ketakutan, Shiver hanya ingin mendengar sebuah alasan. "Apa waktu bisa menjadi jawabannya? Banyak orang bertaruh pada waktu untuk mengubah nasib buruk. Apa itu juga berlaku untukku?""Itu merupakan sesuatu yang perlu kau temukan sendiri, Shiver. Barangkali, waktu bisa jadi musuh terbesarmu. Ingat, kutukan ini mengikat jiwamu bersamanya." Melalui kalimat terakhir itu, bayangan Nenek Sihir pun hilang bagai debu yang begitu mudahnya diterpa udara malam.Hari itu, adalah hari pertama di mana air mata Shiver yang biasa datang menemani kesendirian, berubah selayaknya musuh yang tidak segan mengikis usianya.Bertahun-tahun pun cepat berlalu semenjak kejadian tersebut. Kabar Shiver masih tidak baik-baik saja. Tubuhnya semakin berat menopang padatan es akibat tumpahan air mata sementara ia belum bisa menemukan bahagianya.Selama itu pula, Shiver belum lagi keluar rumah. Ia takut, rasa sepi yang menyelimuti akibat sakitnya sebuah penolakan akan membuat air matanya turun deras memadati tubuh. Jadilah, untuk mengingat bentuk rupanya sebuah canda tawa yang begitu ia dambakan, Shiver mencurinya dengan cara mengintip ke luar jendela yang mengarah tepat ke hamparan ilalang kuning tempat anak-anak biasa berkumpul. Pecahan tangisnya tidak akan seburuk ketika ia melihatnya langsung dari jarak yang lebih dekat.Kutukan yang dimilikinya saat ini, mungkin hanya memberinya kesempatan satu kali seumur hidup untuk dipatahkan. Pilihannya hanya ada dua, Shiver bisa memperpanjang hidupnya dengan terus membekukan diri di dalam rumah sampai nanti waktunya tiba, atau Shiver bisa pergi mengangkat kakinya ke luar sana, dengan catatan, jiwanya menjadi taruhan atas rasa sakit dalam perjalanan mencari kebahagiaan.Demikian, tepat pada hari ini, Shiver memutuskan untuk mengambil risiko kesempatan satu kali seumur hidupnya.Shiver menarik napas panjang. Ia bergegas menarik daun pintu dengan jantung menggebu-gebu, siap kembali memasuki dunianya yang nyata. Hilir embusan angin yang menderu, menjadi sobat pertama yang menyambut kedatangannya. Kupu-kupu pun beterbangan, daun-daun jatuh bebas berkeliaran, Shiver rindu semua tentang dunia luar yang memberinya kehangatan.Tak lama kemudian, anomali sekejap berubah. Tiba-tiba, cerahnya cuaca yang dikibarkan mentari, mendadak dingin akibat kehadiran Shiver. Shiver memeluk dirinya dengan erat. Berharap apa? Alam pun menghindari sebuah kutukan. Namun, Shiver sudah terlanjur keluar, tidak mungkin ia kembali masuk ke dalam.Berbekal kutukan Nenek Sihir yang sangatlah ingin ia patahkan, Shiver tetap menapakkan kakinya maju menuju hamparan ilalang kuning. Ia tidak mau menerima nasib buruknya begitu saja. Shiver ingin mengakhirinya sekarang juga.Sesampainya di tempat tujuan tempat anak-anak biasa berkumpul, Shiver mendapati kolam kebahagiaannya terpancar dari sana. Mungkin, selama waktu telah berjalan, mereka telah berubah. Barangkali di masa kini, Shiver akan diterima."Hai, boleh aku ikut bergabung?" batin Shiver berucap. Belum benar-benar diucapkan, melainkan masih sebatas angan-angan di kepala.Meski begitu, keberadaan Shiver tetaplah kentara. Kumpulan pasang mata berbalik menghadap Shiver. Shiver terpaku. Ada rasa sakit yang ia tidak mengerti, hadirnya selalu muncul di dalam sana. Tatapan yang diterimanya saat ini, bukanlah tatapan yang menyenangkan. Shiver tahu apa yang akan terjadi selanjutnya."Jelek sekali? Siapa manusia es batu itu?""Aku tidak menyukainya.""Dia sangat berbeda dari kita semua.""Kutukan Nenek Sihir? Dia pasti melakukan sesuatu yang sangat buruk!""Menyusahkan! Lebih baik pergi saja!""Iya, pergi yang jauh sekalian!"Mendengar banyaknya untaian kata yang menyusun kalimat penuh lara, Shiver menggenggam kedua tangannya erat. Ia tidak membalas. Sebaliknya, ia menuruti permintaan mereka semua. Bedanya, kali ini ia tidak kembali ke rumah. Ia benar-benar pergi jauh sekali melewati perbatasan kampung halamannya."Aku tidak akan pernah bisa bahagia," ucap Shiver di sela-sela pelariannya. Kutukan tentu tidak mengingkari janji. Tubuhnya tidak mampu lagi menahan padatnya kepingan es yang meninggi. Air mata Shiver terus bercucuran, rasa sakit itu tidak bisa ia lupakan."Sampai di sini." Pada akhirnya, Shiver tidak bisa melanjutkan perjalanan. Ia menggigil berat. Terjatuh begitu saja di tengah hamparan salju entah sejauh mana ia telah berkelana.Di penghujung sisa-sisa waktu terakhirnya, Shiver mendongakkan kepala mengamati bola air berbentuk kapas yang melayang di udara. Shiver pikir, setidaknya jika ia menghilang hari ini, cukuplah keberadaannya ditemani kerumunan salju berwarna putih."Hei! Kau tidak apa-apa?"Shiver tersentak. Ada seseorang yang berusaha menopangnya dari belakang."Kau bisa mati jika menyerah di sini. Ayo, ikut aku!" ujarnya menggendong Shiver secara sukarela.Shiver terperanjat. "Kenapa kau menolongku?" Sedikit rona kehangatan muncul dari dasar hatinya."Kenapa? Bukankah sudah seharusnya sebagai sesama makhluk hidup, kita perlu saling menolong?" jawabnya terhadap Shiver. "Apa yang kau lakukan di tengah badai salju seperti ini?""Aku sedang mencari seorang teman," balas Shiver kepada sang penyelamat."Teman?""Iya, teman. Aku butuh teman untuk saling berbagi kisah mengenai kebahagiaan."Sang penyelamat termenung. Ia terus membawa Shiver menuju gubuk tempatnya tinggal. Sembari menyalakan api unggun dan memberi Shiver pakaian berjahit tebal, ia menyambung percakapan. "Aku bisa menjadi temanmu.""Hm ... tapi kita adalah dua orang asing yang tidak saling mengenal.""Kalau begitu, ayo, saling berkenalan." Sang penyelamat tersenyum."Kau tidak takut dengan penampilanku yang seperti ini?" Shiver memindai perawakannya yang tampak sangat kacau. "Di sisi lain, banyak yang bilang aku membosankan."Sang penyelamat duduk mendekati Shiver. "Aku tidak percaya kata orang-orang. Sebagian besar dari mereka, hanya terpaku pada apa yang terlihat di luar. Buta sebelum menilik ke arah dalam." Ia mengucapkan hal tersebut dengan lugas. "Aku ingin memastikan, bahwa aku bukanlah salah satu dari orang-orang itu. Oleh karenanya, mari kita berteman. Aku yakin, kau pun tidak seburuk apa yang dibicarakan orang-orang."Untuk pertama kalinya, Shiver menemukan sesosok manusia yang mau menerimanya begitu sempurna. Tak terasa, balok-balok es yang menutupi tubuhnya mulai mencair sebagaimana hatinya pun menghangat. Bukan dari panasnya api unggun, bukan juga dari pakaian berjahit tebal, melainkan berdasar atas kebaikan sang penyelamat."Baik, mari kita berteman." Shiver tersenyum ceria. "Akan kupastikan, aku tidak seburuk apa yang dibicarakan orang-orang."Hari itu, sebuah kutukan kejam yang diberikan Nenek Sihir pun terangkat dari kelamnya jiwa Shiver. Selama terjadinya, Shiver telah banyak menderita sebab orang-orang enggan mengenalnya sebelum memulai. Bahagianya bergantung pada penilaian massa. Namun, berkat keajaiban sang penyelamat, Shiver percaya, waktu akan terus memberikan kesempatan untuknya menemukan seseorang yang tepat.Shiver hanya perlu terus mencari. Pula memercayai, suatu saat nanti layaknya hari ini, akan ada masa di mana dunia kembali membagi hangatnya pertemanan yang turut menyertai.

Selebritis Internet
Horror
20 Jan 2026

Selebritis Internet

Seorang gadis berumur 19 tahun sedang kuliah di Jepang. Saat duduk di tahun kedua, ia memutuskan untuk mengembangkan kemampuan Bahasa Inggris. Jadi, ia pindah ke universitas di Amerika Serikat. Ia selalu menginginkan tinggal USA, tapi ia tidak mengantisipasi betapa sulitnya perubahan bagi dirinya.Mata kuliah yang ia pelajari mengharuskannya menyerahkan banyak laporan. Saat ia kuliah di Jepang, ia menulis semua tugasnya dengan Bahasa Jepang. Namun demikian, universitas di Amerika mengharuskan laporan-laporan itu ditulis dalam Bahasa Inggris. Hal ini menyebabkan masalah besar bagi gadis tersebut karena kemampuan Bahasa Inggris yang dimilikinya tidak terlalu baik. Ia mendapati dirinya harus menghabiskan banyak waktu untuk memeriksa ejaan dan tata bahasa sambil menulis laporan-laporannya.Masalah lainnya adalah ia tidak memiliki laptop sendiri. Untungnya perpustakaan kampus memiliki sebuah laboratorium komputer yang menyediakan kurang lebih 50 komputer. Laboratorium komputer tersebut dibuka selama 24 jam. Sayangnya, selalu saja ada antrian panjang dimana orang-orang menunggu untuk menggunakan komputer. Setiap pagi, ia harus menghadiri kuliah. Sementara setiap malam, ia harus mengantri untuk menggunakan sebuah komputer. Hal ini membuat si gadis menjadi kehilangan semangat. Setelah beberapa waktu, ia mulai lelah dengan kegiatan sehari-harinya yang membosankan.Pada suatu tengah malam, gadis itu sedang duduk membungkuk di depan sebuah komputer selama berjam-jam. Saat itu sudah hampir pukul dua pagi. Ia benar-benar kelelahan. Hal itu membuatnya kesulitan untuk membuat matanya tetap terbuka. Ia lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sambil menguap dan menggaruk tangannya. Mendadak, jarinya menyentuh sisi keyboard komputer.Ia baru saja akan mulai mengetik lagi saat tiba-tiba ia melihat ke bawah. Ia memperhatikan ada suatu guratan di meja di bawah keyboard. Guratan itu seperti sebuah alamat URL. Ia pikir, aneh kalau ada seseorang yang menghabiskan waktunya menggores sebuah alamat website di atas kayu. Tetapi karena gadis itu bosan, ia memutuskan untuk melihat website tersebut karena penasaran.Setelah mengetik alamat website di mesin pencari, ia menunggu beberapa detik sampai sebuah halaman muncul di layar komputer. Apa yang ia lihat membuatnya ketakutan.Ada sebuah gambar laki-laki yang berlumur darah sedang berbaring di lantai yang pencahayaannya suram. Gambar itu terlihat nyata, sehingga membuat perut gadis tersebut mual seperti akan muntah. Ia melihat lebih dekat untuk mendapati sebuah tulisan di bawah gambar.Bunyinya: "Laki-laki bodoh, berumur sekitar 30 tahun. Dibunuh olehku hari ini."Keringat dingin mengalir di belakang leher si gadis saat ia menatap pada gambar mengerikan di depannya.Gadis itu segera mematikan komputernya. Ia menyambar tas tangannya, lalu cepat-cepat keluar dari laboratorium komputer. Ia kembali ke kamar asramanya sendirian. Semalaman, ia hanya berguling-guling di atas tempat tidur. Foto mengerikan yang ia lihat tidak mau menjauh dari benaknya."Apakah itu nyata?" tanyanya pada dirinya sendiri. "Mungkin itu hanya bohongan. Orang-orang suka mengunggah gambar gila ke internet setiap waktu. Website sering penuh dengan hal-hal yang aneh dan mengganggu."Gadis itu mencoba untuk tidak memikirkan bahwa ia baru saja melihat website dari seorang pembunuh. Bagian terburuknya, pembunuh itu terlihat membanggakan tindakan kriminalnya.Pagi berikutnya setelah sarapan, keingintahuan gadis tersebut mengalahkannya. Ia membolos dari kelas pertamanya, lalu melangkah menuju laboratorium komputer. Saat ia menemukan sebuah komputer yang tidak digunakan, ia lalu duduk sambil mengetik URL. Mungkin yang ia lihat tadi malam hanya khayalannya saja.Saat website itu muncul, ia melihat gambarnya telah ganti. Bukannya melihat mayat dalam ruangan berpencahayaan suram, foto malah menunjukkan seorang wanita berambut pirang yang sedang berjalan menyusuri jalanan yang ramai. Gadis itu menghela napas lega. Gambar yang muncul tersebut pasti diambil dari jauh karena si wanita tidak sadar jika dirinya telah difoto.Tulisan di bawah gambar berbunyi: "Wanita bodoh, berumur sekitar 25 tahun."Malam itu, si gadis pulang kembali ke asramanya. Ia tidak berbicara pada siapa pun. Ia masih bingung. Ia tidak bisa berhenti memikirkan tentang website aneh tersebut. Segera setelah ia bangun keesokan harinya, ia cepat-cepat berpakaian untuk pergi lagi ke laboratorium komputer.Hampir tidak ada orang di sekitarnya. Ia duduk di depan sebuah komputer yang kosong lalu mengetik URL website. Ia ketakutan saat melihat gambarnya telah ganti lagi. Itu adalah ruangan berpenerangan redup yang sama, tapi kali ini seorang wanita berambut pirang yang berbaring di lantai. Darah muncrat dari hidung dan mulut wanita tersebut. Ada sebuah pisau besar yang menancap di dadanya.Di bawah foto ada kata-kata: "Wanita bodoh, berumur sekitar 25 tahun. Dibunuh olehku hari ini."Si gadis ketakutan. Ia segera menelepon polisi. Melalui telepon, ia kesulitan untuk menjelaskan situasinya. Bahasa Inggrisnya tidak terlalu bagus. Ia menghabiskan banyak waktu untuk mengulang apa yang ia katakan. Ia juga terlalu lama mencoba menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan apa yan telah ia temukan. Pada akhirnya, ia bahkan tidak yakin polisi mengerti apa yang ia coba katakan. Namun demikian, mereka mencatat namanya, alamatnya, nomor teleponnya, dan URL website yang ia temukan.Sesaat setelah menutup telepon, gadis itu gemetar. Ia tidak bisa menghilangkan gambar-gambar mengerikan itu dari kepalanya. Ia harus melihat yang lain. Malam itu, ia kembali ke laboratorium lagi. Dengan perasaan ketakutan dan penasaran yang bercampur aduk, ia memasukkan URL website.Saat komputer sedang memuat halaman website, ia menemukan bahwa gambar yang ada di sana beberapa jam lalu telah menghilang. Malahan, di sana ada gambar seorang gadis yang diambil dari belakang. Gadis itu memiliki rambut hitam pendek, memakai kaos berwarna hijau pupus, dan sedang duduk di depan sebuah komputer.Perut gadis itu terasa turun ke bawah. Ia mulai berkeringat dingin. Ia mengenali rambut milik gadis dalam foto. Ia juga mengenali kaos yang dipakai gadis tersebut. Ia sedang menatap gambar dirinya sendiri.Nama, alamat, dan nomor teleponnya ditulis di bawah gambar yang diikuti dengan sebuah kalimat:"Kau adalah selebritis internetku yang berikutnya..."Gadis Jepang itu berlari keluar dari laboratorium komputer. Ia langsung kembali ke kamarnya di asrama. Ia lalu mengepak barang-barangnya. Saat pagi hari, ia terbang pulang ke Jepang. Ia tidak pernah kembali lagi ke Amerika Serikat.

Gadis dalam Cermin
Horror
20 Jan 2026

Gadis dalam Cermin

Saat aku masih kecil, aku menghabiskan banyak waktuku sendirian. Orang tuaku tinggal di sebuah rumah tua di pinggir kota. Di sana tidak ada anak-anak lain yang sebaya denganku. Aku memiliki seorang adik laki-laki, tapi saat itu ia masih bayi, jadi aku tidak bisa bermain dengannya. Aku selalu kesepian.Rumah tua dimana kami tinggal memiliki banyak ruangan kecil. Di koridor, ada kamar dengan pintu geser dimana ayahku akan menyimpan barang-barangnya. Aku suka pergi ke sana dan bermain dengan peralatan-peralatan itu. Itu merupakan saat yang menyenangkan bagiku.Pada suatu hari, aku menemukan sebuah cermin tua dalam kamar tersebut. Bentuknya lonjong dengan bingkai yang diukir dari perunggu. Walaupun barang itu sudah cukup tua dan berdebu, kacanya sangat bersih hingga aku bisa melihat pantulan diriku sendiri dengan sempurna.Suatu kali saat aku sedang bermain di kamar penyimpanan, aku mendadak menatap cermin. Ada sesuatu yang membuatku terkejut. Dalam pantulan, aku melihat gadis asing berdiri di belakangku. Aku cepat-cepat menoleh ke sekitarku dengan ketakutan, tapi tidak ada siapa pun di sana. Saat aku melihat kembali pada cermin, aku kebingungan. Gadis kecil itu masih di sana.Aku kira karena aku masih anak-anak, aku jadi tidak takut padanya. Hal aneh yang kupikirkan adalah bahwa ia hanya muncul dalam cermin. Gadis kecil itu memiliki rambut hitam yang panjang dan kulit putih yang pucat. Melalui cermin, ia tertawa melihatku."Halo," katanya sambil tersenyum.Kami mulai berbicara satu sama lain. Gadis itu memberitahuku untuk memanggilnya Nana. Kami mengobrol sepanjang waktu. Orang tuaku pasti penasaran mengapa aku menghabiskan banyak waktu di ruang penyimpanan untuk bicara pada diriku sendiri, tapi mereka tidak pernah mengambil cermin itu dariku. Kelihatannya, Nana-chan tidak dapat dilihat oleh orang dewasa.Pada suatu hari saat aku sedang berbicara dengan Nana-chan, aku berkata, "Aku kesepian. Aku berharap memiliki beberapa teman yang bisa kuajak bermain.""Datang kemari dan bermainlah denganku," balas Nana-chan."Aku bisa pergi ke sana?" tanyaku. "Bagaimana caranya?"Wajah Nana berubah, lalu ia merendahkan nada suaranya,,"Aku tidak tahu," bisiknya. "Aku akan tanya..."Aku penasaran ia akan bertanya pada siapa, tapi yang bisa kudengar hanyalah keheningan. Entah mengapa aku merasa siapa pun dia, ia tidak ingin aku mendengarkan.Hari berikutnya saat aku berbicara pada Nana, ia berkata dengan senang, "Aku tahu bagaimana kau bisa datang ke sini sekarang. Ayo! Mari bermain!"Aku senang, tapi aku ingat bahwa orang tuaku selalu memperingatkanku bahwa aku harus memberitahu mereka sebelum aku pergi kemana pun."Oke, tapi aku akan bertanya pada ibuku," balasku.Wajah Nana mulai sedikit berubah lagi. Ia lalu berkata, "Jangan beritahu siapa pun tentang ini. Kita mungkin tidak bisa bertemu satu sama lain jika kau memberitahu seseorang."Aku tetap diam karena aku tidak ingin melanggar peraturan orang tuaku.Lalu Nana-chan berkata, "Jadi kau akan datang untuk bermain denganku besok, kan? Janji?""Ya," balasku dengan enggan. "Aku janji."Nana menyentuh permukaan cermin dengan jari kelingkingnya."Janji jari kelingking?" tanyanya sambil tersenyum.Aku menekan ujung jari kelingkingku pada cermin."Janji jari kelingking," kataku. Kupikir aku bisa merasakan perasaannya yang hangat melalui kaca.Malam itu, aku tidak bisa tidur nyenyak. Aku tidak memberitahu orang tuaku tentang Nana-chan, tapi saat aku berbaring di sana dalam kegelapan, pertanyaan-pertanyaan berputar di kepalaku.Bagaimana aku akan masuk ke dalam cermin? Tempat seperti apa di dalam di sana? Mengapa bukan Nana yang datang ke sini? Jika aku ke sana, bagaimana aku bisa kembali lagi ke sini?Saat aku merenungkan banyak hal, aku semakin gelisah. Aku mulai sedikit takut pada Nana-chan.Hari berikutnya, aku tidak pergi untuk bertemu Nana. Aku menghindarinya selama hari-hari berikutnya. Aku tidak mau dekat-dekat ke ruang penyimpanan selama seminggu. Sebenarnya, aku tidak pernah pergi ke dalam ruang penyimpanan lagi.Minggu dan bulan berlalu dengan cepat hingga aku tumbuh dewasa. Bulan dan tahun berlalu. Aku meninggalkan rumah untuk pergi sekolah di kota. Setelah aku lulus, aku mulai bekerja di kota terdekat. Aku tidak terlalu sering pulang ke rumah. Akhirnya, aku bertemu seorang gadis dan kami menikah. Sejak saat itu, aku melupakan semua hal tentang Nana.Sehabis kami menikah, istriku hamil. Ia pergi mengunjungi orang tuanya selama beberapa waktu. Aku sendirian di rumah, jadi aku kadang-kadang mengunjungi orang tuaku untuk makan malam. Mereka masih tinggal di rumah yang sama.Pada suatu malam, aku memutuskan untuk tidur di kamarku yang lama. Pada tengah malam, aku bangun karena ingin pergi ke toilet. Sementara aku mencuci tangan, aku mendadak menatap pada cermin. Pintu geser di tengah koridor terbuka. Itu adalah tempat penyimpanan dimana aku bermain waktu masih kecil. Kupikir pintu itu tertutup saat aku pergi ke toilet.Aku menoleh dan terkejut melihat pintunya tertutup. Namun demikian, saat aku melihat kembali ke dalam cermin, pintunya terbuka. Bulu kudukku merinding dan tanganku mulai gemetar. Kupikir aku melihat pintu itu kembali bergeser dalam kegelapan.Pada saat itu, aku ingat pada Nana-chan.Aku menjadi ketakutan, tapi sulit untuk mencegah mataku melihat ke dalam cermin. Pintu bergerak... dalam refleksi cermin.Asap putih muncul dalam kegelapan di belakang ruang penyimpanan. Aku melihat wajah yang kukenal. Wajah tersenyum milik Nana-chan. Kupikir aku pasti pingsan.Hal berikutnya yang kuingat adalah bangun di lantai. Saat itu sudah pagi. Orang tuaku masih tidur di kamar mereka."Itu pasti hanya mimpi," aku bicara pada diriku sendiri. "Hanya mimpi buruk."Aku tidak nyaman tinggal di rumah orang tuaku. Jadi setelah sarapan, aku pulang ke rumahku sendiri.Apartemenku memiliki tempat parkir bawah tanah yang luas, jadi aku memarkir mobilku di tempat parkirku sendiri. Aku baru saja akan keluar dari mobil, saat aku melihat pada kaca spion.Dalam cermin, ada wajah Nana.Aku menengok ke belakang dengan terkejut, tapi tidak ada seorang pun di kursi penumpang. Aku melihat kembali pada spion dan Nana-chan masih di sana. Aku menatapnya lewat balik bahuku. Mata kami bertemu.Ia terlihat benar-benar sama. Rambut hitam yang panjang dengan kulit putih yang pucat. Selama beberapa waktu, ia tidak berubah sama sekali. Aku gemetar, tidak bisa membuang tatapanku darinya. Akhirnya, Nana tertawa."Halo," katanya sambil tersenyum.Aku merasa aku akan muntah."Mengapa kau tidak kembali waktu itu?" tanyanya. "Selama ini, aku menunggumu."Aku diam. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak bisa menemukan kata-kata yang pas."Hei," katanya. "Datanglah kemari. Ayo bermain..."Dalam pantulan kaca, tangannya pelan-pelan teracung ke arahku."Ayo bermain di sini selamanya..." katanya."Ini tidak benar!" teriakku. Aku tidak bermaksud mengatakannya keras-keras. "Nana-chan, maafkan aku. Aku tidak bisa pergi ke sana. Aku tidak akan pergi!"Nana hanya diam. Tangannya berhenti di tengah udara.Aku menyentuh pintu mobilku dengan gemetar. Dengan seluruh kekuatan yang tersisa, aku berbicara dengan suara kecil seperti bocah."Aku punya istri sekarang... Kami akan segera memiliki anak... Jadi, aku tidak bisa pergi bersamamu."Aku akhirnya bisa mengeluarkan kata-kata dari kepalaku. Aku gemetar dan menggigil tak terkendali. Akhirnya, aku melihat ke cermin lagi.Nana-chan masih di sana."Aku mengerti," katanya. "Kau menjadi dewasa... Dan kau tidak ingin bermain denganku lagi."Suaranya terdengar sangat sedih dan kesepian."Aku tidak bisa..." kataku.Nana-chan tersenyum, lalu tertawa. Itu terlihat seperti sebuah senyuman tak berdosa. Pada saat itu, aku benar-benar berpikir Nana-chan akan memaafkanku karena melanggar janji kami."Nana-chan..." aku baru akan bicara, tapi ia memotong ucapanku."Jika kau tidak mau bermain denganku, aku hanya tinggal mencari orang lain," katanya. "Seseorang sepertimu."Dan setelah itu, ia menghilang. Sebelum aku bisa mengerti sepenuhnya apa yang ia katakan, ia telah pergi. Selamanya. Nana tak pernah muncul lagi di hadapanku.Malam itu, istriku menelepon untuk memberitahuku bahwa ia keguguran. Bayi kami meninggal. Kemudian, aku akhirnya mengerti maksud perkataan Nana-chan.Ia berkata, "Seseorang sepertimu."

Bapak-Bapak Gondrong
Teen
20 Jan 2026

Bapak-Bapak Gondrong

"JAUH-JAUH, ANJING!! LO UDAH DIKASIH KEKURANGAN, BUKANNYA SADAR, MALAH KURANG AJAR!!"Suara botol plastik dan kaleng bekas minuman terdengar memantul ke sana kemari waktu Taufan ngelempar kedua benda itu asal. Dadanya naik turun cepat, sementara kakinya berlari tunggang langgang menjauhi bapak-bapak berambut gondrong yang sekarang lagi ngejar dia sambil bawa boneka.' Gila! Kenapa gue bisa nyasar di sini, anjing!! ' batin Taufan nelangsa. Matanya meliar, lirik kanan kiri, nyari sesuatu yang seenggaknya bisa dia pakai buat ngehambat pergerakan bapak-bapak di belakangnya.Taufan terus memacu kakinya, berlari sekuat tenaga. Dia beneran cuman fokus nyari cara biar bisa keluar dari gang sempit ini secepatnya. Kepalanya noleh kiri kanan, berusaha nyari celah kecil yang harapannya cukup buat dia pake biar bisa kabur dari tempat mengerikan ini.Namun, sepertinya usaha yang dia lakuin cuman nambah kekecewaan. Karena yang muncul di depannya sekarang bukannya jalan buat kabur, malah dinding semen tinggi yang keliatannya mustahil buat dia panjat sendiri.'Mati gue..' Taufan natap nanar tembok itu. Tanpa aba-aba, otaknya mutar ulang kejadian beberapa saat sebelum dia berakhir di tempat ini.Beberapa saat sebelumnya..."Gue nunggu depan gerbang ya, Lin, Gem. Mau jajan batagor," kata Taufan sambil gendong tas birunya di sebelah bahu. Dia lalu jalan duluan ninggalin Halilintar dan Gempa yang masih ngobrol sama teman-teman OSIS mereka—entah ngomongin apa.Kakinya jalan santai sambil sesekali nendang kerikil yang ada di jalan. Pas dia sampai di luar gerbang—tepatnya di depan gerobak abang-abang batagor—dia liat ada beberapa anak kecil lari-larian sambil ketawa.Posisi Taufan agak jauh dari abang-abang batagornya. Dia agak ke tepi jalan, lagi bersihin bawah sepatunya yang penuh tanah—tapak sepatunya di gesekin ke sudut trotoar. Gak lama setelahnya, anak-anak yang lari-larian di depan Taufan tadi teriak ke arahnya."Bang! Lari! Orang gilanya suka cowok!" kata mereka sambil nunjuk ke belakang Taufan.Taufan yang denger itu langsung noleh ke arah yang di tunjuk anak-anak itu. Matanya ngebulat panik waktu liat bapak-bapak rambut gondrong lari cepat ke arah dia sambil nyengir lebar."ANJIRR! ORANG GILA!!!"Taufan langsung lari tunggang langgang waktu liat bapak-bapak itu makin dekat ke arah dia. Abang-abang batagor yang teriak manggilin dia udah gak dipeduliin lagi. Pokoknya dia cuman mau lari nyelamatin diri dari bapak-bapak yang masih ngejar dia—kali ini sambil ketawa.Dan berakhirlah dengan Taufan yang sekarang udah nyandarin badannya pasrah di tembok tinggi yang ada di gang gelap tadi. Dadanya masih naik turun cepat buat ngambil napas, sementara matanya natap bapak-bapak di depannya takut."Alin, Gemmy, tolongin guee..." Taufan nendang-nendang apa pun yang ada di dekat kakinya. Idungnya udah merah nahan nangis gara-gara takut sama bapak-bapak di depannya.Kaki yang tadi digunain Taufan buat nendang angin, sekarang udah ditekuk sambil di peluk erat. Mukanya udah di benamin ke lututnya yang dia peluk sekarang. Bisa dipastiin bentar lagi Taufan nangis.BUGH !"Kak Ufan! Gapapa, 'kan?"Taufan ngangkat kepalanya pelan waktu denger suara Gempa ada di dekat dia. Matanya udah merah berair, siap nangis kapan aja kalo gak cepat-cepat di peluk Gempa.Bapak-bapak gondrong yang tadi ngejar dia sekarang udah ilang entah ke mana. Takut, kayanya, dia abis kena tinju sama Halilintar.Akhirnya, kisah ini ditutup sama Halilintar dan Gempa yang ngegotong Taufan ke mobil gara-gara suhu tubuhnya tiba-tiba naik drastis. Mungkin efek takut sekaligus kecapekan.▵▾▵▾▵▾▵

Trio Bencana Alam
Teen
20 Jan 2026

Trio Bencana Alam

Bel istirahat telah berbunyi beberapa saat yang lalu, disusul dengan suara nyaring murid-murid kelaparan yang berlarian keluar kelas menuju kantin, tepat setelah guru yang mengajar mereka keluar dari kelas.Seperti biasanya, kantin terlihat ramai hari ini. Ditambah cuaca yang sedang panas-panasnya, membuat teriakan kesal bersahutan dari antrian di depan meja pemesanan.Namun, lain di meja pemesanan, lain juga suasana di beberapa meja murid yang sudah mendapatkan makanannya. Contohnya pada meja berisi tujuh murid yang saat ini sedang menikmati makanannya masing-masing dengan khidmat: Halilintar, Taufan, Gempa, Gopal, Yaya, Ying, dan Fang.Mereka menikmati makanan masing-masing dalam diam, kecuali Fang dan Gopal yang sedang sibuk dengan ponsel yang berada di tangan Fang, entah melakukan apa."Oi, lo bedua lagi ngapain, dah? Sibuk bener perasaan, ngalahin grasak-grusuknya murid di antrian malah," tanya Ying yang sudah jengah memperhatikan keduanya sedari tadi.Bagaimana tidak jengah? Fang dan Gopal kadang tertawa kerasa menatap ponsel itu, tapi di beberapa waktu lain malah sibuk berdebat sampai hampir membuat ponsel milik Fang terhempas ke lantai—untung Halilintar dengan refleks yang tinggi selalu berhasil menangkapnya sebelum menyentuh lantai."Ssttt!" Gopal menaruh jari telunjuknya di depan bibir, mengode Ying untuk diam.Decakan kesal keluar dari sela bibir Ying, disusul dengan kedua matanya yang berotasi malas. Ia lalu kembali menyantap makanan di depannya dengan tenang, sesekali mengajak bicara Yaya yang berada di sebelahnya."Baiklah, sebelumnya, selamat siang Tuan-Tuan dan Puan-Puan sekalian yang sudah bersedia menyempatkan diri untuk menonton live krusial dari kelas kami," suara Gopal yang terdengar dibuat-buat akhirnya mengudara, membuat beberapa murid di kantin melirik penasaran ke arah meja mereka.Entah sejak kapan, Gopal kini sudah berdiri membelakangi mereka sembari memegang botol minum milik Yaya. Di depannya, terdapat Fang yang sedang memegang kamera ponsel dan mengarahkan kameranya tepat di wajah Gopal."Pembahasan kita kali ini bukan hanya tentang anak dari kelas 11 RPL 2 saja, tapi akan ada gabungan dari anak kelas lain. Hari ini, Saya akan mewawancarai ketiga murid yang cukup populer di kelas 11 ini, yaitu Halilintar, Taufan, dan Gempa. Ya, ya, ya, benar sekali. Trio bencana alam."Gempa yang sedari tadi hanya memperhatikan tiba-tiba tersedak kuah baksonya kala mendengar namanya disebut oleh Gopal. Ia menepuk-nepuk dadanya pelan, lalu segera menerima uluran gelas berisi air putih dari Taufan."Woy, kalo mau ngewawancarain orang tuh kasih tau dulu, dong! Kesian ini adek gue keselek gara-gara kaget," seru Taufan pada Gopal. Tangannya sudah bersiap melempar jeruk sambal sebelum ditahan Halilintar.Gopal menoleh sekilas, lalu terkekeh. Tak lama setelahnya, Gopal mengode Fang untuk mendekatkan kameranya ke arah Halilintar yang kembali sibuk dengan makanannya sendiri."Baiklah, saat ini Saya sudah bersama dengan Bapak Halilintar—""Bapak gue lagi kerja, anjir. Ngapain lo bawa-bawa," potong Taufan, membuat Gopal berdecak kesal sementara Ying dan Yaya cekikikan."Hak bicara lo gue cabut! Diem lo!" hardik Gopal pada Taufan, membuat Taufan tertawa keras."Mohon maaf atas gangguan kecilnya, ya, Tuan-Tuan dan Puan-Puan. Oke, mari kita kembali lagi pada Kak Halilintar," Gopal menetralkan ekspresi wajahnya kembali, lalu menyuruh Fang untuk mengarahkan ponselnya ke arah Halilintar yang kini beralih meminum es tehnya."Kak Halilintar, kenapa kakak bisa terlahir sebagai anak kembar? Langsung tiga pula, tuh."Halilintar yang sedang mengelap tangannya dengan tisu setelah meminum es tehnya pun seketika terdiam. Manik merah delimanya menatap tajam Gopal yang kini tertawa canggung melihat tatapan itu."Pertanyaan bodoh macam apa itu?""Pfftt!" Taufan dan Gempa mengalihkan pandangannya dari Gopal, menahan tawa yang akan segera meluncur. Sementara itu, Yaya dan Ying tertawa kecil mendengarnya. Bahkan ponsel yang bertugas merekam mereka pun bergetar, menandakan jika Fang sedang berusaha menahan tawanya."Jawab spontan aja, jawab spontan. Request paling banyak dari penonton ini, Li!"Halilintar menghela napasnya, lalu beralih menatap kamera ponsel yang berada di depannya. "Biar gue gak tua sendirian." Halilintar benar-benar menjawab pertanyaan itu spontan, membuat getaran pada kamera semakin kuat karena Fang yang kesusahan menahan tawa."Lo aja kali yang tua, gue mah awet muda, coyy! Jeg menyala wii!" seru Taufan. Beberapa murid yang sebelumnya sudah menonton mereka dari awal pun kini ikut tertawa mendengar ucapan kedua anak kembar itu.Halilintar mendelik sinis, lalu mengibaskan tangannya ke depan kamera, mengusirnya.Gopal mengangguk, lalu beralih mendekati Taufan yang saat ini sedang berbicara dengan Gempa. "Baiklah, kita beralih ke Kak Taufan. Setiap anak kembar pasti punya sesuatu yang berbeda, bukan? Jadi, mari kita tanyakan bagaimana pendapat Kak Taufan.""Kak Taufan, menurut Kakak, kenapa kalian bisa terlahir sebagai anak kembar? Dan kenapa Kakak terlahir sebagai anak kembar kedua?""..." Taufan diam, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya menatap Gopal dan kamera secara bergantian."Kak Taufan?" panggil Gopal, namun Taufan tetap diam."Ngomong, anjir!" hardik Gopal lagi, hilang sudah kesabarannya menghadapi manusia pecinta biru di depannya ini.Taufan mengernyitkan dahinya, lalu mengambil ponsel dan mengetikkan beberapa kata di catatan. " Katanya hak bicara gua di cabut, " isi catatan itu, membuat Gopal mengusap wajahnya frustasi.Ia kemudian mengambil kertas dari dalam saku, lalu meminjam pulpen milik Yaya—menuliskan kalimat "Hak bicara" di kertas itu, kemudian memberikannya pada Taufan."Noh, hak bicara lo gue kembaliin," ucap Gopal. Tangannya mengulurkan gulungan kertas, yang langsung di sambut dengan tatapan berbinar dari Taufan."Kak Taufan terlalu menghayati peran," komentar Gempa. Kepalanya menggeleng maklum, lalu meminum es tehnya seraya memperhatikan kegiatan kakak kedua dan temannya itu."Oke, lanjut. Menurut Kakak, kenapa kalian bisa lahir sebagai anak kembar? Dan kenapa Kakak terlahir sebagai kembar yang kedua?" tanya Gopal kembali, ekspresinya sudah di netralkan kembali sekarang."Gatau. Tanya ke orang tua gue, lah," jawab Taufan santai, membuat Gopal geram. "Fan!"Taufan terkekeh sekilas, lalu menatap kamera; kali ini tatapannya lebih tenang. "Karna gue gak cocok jadi sulung, dan gak mau jadi bungsu," jawab Taufan, lalu menyuapkan satu sendok besar nasi goreng ke dalam mulutnya, agar tidak di tanya-tanya lagi oleh Gopal.Gopal mengangguk, kali ini kembali beralih pada kandidat terakhir; Gempa, bungsu si trio bencana alam."Nah, kita beralih ke Kak Gempa. Kak Gempa terkenal paling tenang di antara kedua kembarannya, pasti gak bakal bertele-tele ini jawabannya," senyum cerah terbit di wajah Gopal sekarang. Sepertinya ia juga lelah setelah berurusan dengan Halilintar dan Taufan."Kak Gempa, kenapa Kakak bisa terlahir kembar dan menjadi bungsu dari trio bencana alam?""Biar lo nanya," balas Gempa asal, kemudian menarik tangan kedua kakaknya dan berlari menuju keluar dari kantin. Halilintar menggelengkan kepalanya sembari tersenyum kecil, sementara Taufan tertawa nyaring sembari mengikuti langkah Gempa.Di sisi lain, Gopal menjatuhkan rahangnya, lalu duduk kembali pada kursi sembari menghela napas panjang. "Salah emang gue berharap lebih sama mereka. Sama aja semuanya, pantesan kembar," ucapnya nelangsa.Siaran live dari akun kelas siang itu berakhir dengan suara tawa yang menggema di seluruh penjuru kantin. Semua murid yang sedari tadi menonton kegiatan mereka tertawa keras melihat wajah pasrah Gopal yang kini memakan nasi gorengnya yang baru di sendok sedikit.▵▾▵▾▵▾▵

Beku
Romance
19 Jan 2026

Beku

Musim hujan selalu menjadi ujian tersendiri bagi Taufan. Meskipun hujan telah reda dari tadi pagi, hawa dingin masih melekat di udara, membuat Taufan mengeratkan jaket tebal yang dikenakannya saat udara dingin dari luar menyapa tubuhnya.Ia duduk di bangkunya, merapatkan diri ke dinding kelas sembari memeluk tubuhnya sendiri. Hawa dingin terasa semakin menusuk, membuat hidung dan pipinya memerah. Taufan menggenggam jaket tebalnya erat, berusaha menahan dirinya sendiri agar tidak semakin gemetar.Suara bising di sekitar tidak dipedulikan olehnya. Ia masih sibuk memejamkan mata dan mencoba menenangkan diri agar terbiasa dengan hawa dingin-meskipun ia yakin tidak akan berhasil tanpa penghangat tambahan. Saat tubuhnya terasa semakin gemetar kedinginan, tiba-tiba sebuah jaket tebal dengan aroma familiar tersampir di tubuhnya.Taufan membuka mata, melihat Halilintar dan Gempa yang menatapnya khawatir. "Dingin banget? Mau pulang aja?" tanya Halilintar. Tubuhnya kini duduk di bangku kosong setelah memberikan jaket miliknya pada Taufan."Muka Kakak udah pucet banget sekarang. Nanti biar aku aja yang bikinin surat izin ke guru piket," ujar Gempa. Tangannya mengulurkan hand warmer pada Taufan, yang disambut dengan gerakan patah-patah oleh sang kakak.Taufan mengucapkan terima kasih dengan suara gemetar pada kedua kembarannya, lalu menggenggam benda itu erat. Matanya terpejam lega saat merasakan kehangatan mulai menjalari kedua telapak tangannya, mengurangi sedikit hawa dingin yang dirasakannya sejak tadi.Halilintar dan Gempa menatap Taufan yang masih meremat hand warmer di tangannya. Raut khawatir masih tercetak jelas di wajah keduanya. Meskipun kembar, mereka bertiga memiliki metabolisme tubuh yang cukup berbeda, dan Taufan adalah yang memiliki metabolisme paling rendah di antara mereka.Tubuh Taufan juga lebih kecil dibandingkan kedua saudaranya. Kulitnya lebih sering terlihat putih pucat di saat kedua saudaranya memiliki skin tone yang sedikit lebih hangat-terlebih saat sedang kedinginan seperti sekarang."Pulang aja, sih, Fan. Kasihan gue liat lo gemeteran gitu. Mana muka lo kayak gradasi lagi, merah sama putih, udah mirip bendera Indo."Suara Fang terdengar dari arah depan, membuat Taufan menoleh ke sumber suara. Ia ingin menjawab ucapan Fang, namun kehangatan dari hand warmer itu tidak cukup untuk menetralkan pita suaranya yang ikut kedinginan-gemetar."Iya, anjir. Macam es batu. Jangan mentang-mentang lo abangnya Ice, lo jadi ikut-ikutan jadi es batu.""Logika lo gak nyambung, anjir."Ah, sepertinya Taufan harus membatalkan rasa kesalnya pada Fang. Daripada merasa kesal, sepertinya lebih baik jika ia mengucapkan terima kasih pada pemuda berkacamata itu-yang kini sudah mulai berdebat dengan Gopal."Pulang aja ya, Kak?" suara Gempa kembali terdengar. Taufan mengalihkan atensinya, menatap manik emas sang adik yang menatapnya khawatir.Ia terdiam, memikirkan haruskah ia menerima tawaran kedua kembarannya untuk pulang ke rumah, atau menetap di sekolah dengan tumpukan jaket dan beberapa gelas berisi teh hangat di atas meja.Setelah cukup lama menimbang-nimbang tawaran keduanya, Taufan menganggukkan kepalanya pelan, menyetujui usulan kedua kembarannya."Aku akan pergi meminta izin dulu. Sebentar, ya, kak." ucap Gempa, kemudian berlalu keluar kelas, meninggalkan Taufan bersama Halilintar, yang kini menggenggam sebelah tangannya-berusaha membantu sang adik menghangatkan tubuhnya.▵▾▵▾▵▾▵Dan di sinilah mereka, duduk berdempetan di dalam mobil yang dikendarai oleh sopir yang menjemput mereka. Tepat setelah Gempa kembali ke kelas Taufan sehabis meminta izin, Halilintar langsung menelpon sopir yang memang ditugaskan untuk menjemput mereka di sekolah-biasanya hanya bertugas menjemput ke empat adik mereka.Ah, ya. Mereka: Halilintar, Taufan, dan Gempa. Mereka berakhir meminta izin untuk pulang lebih awal dengan alasan ingin menemani Taufan di rumah karena kedua orang tua mereka sedang tidak ada di rumah. Guru pun langsung mengizinkan tanpa meminta penjelasan lebih jauh-terlampau hafal dengan kondisi Taufan yang memang paling mudah terdampak efek dari suhu dingin.Taufan sendiri kini telah memejamkan matanya sambil menyenderkan kepalanya pada bahu Hali. Tubuhnya sudah terbalut selimut yang memang tersedia di jok belakang mobil. Di samping kanannya, terdapat Gempa yang memeluk erat lengannya.Suasana hening menemani perjalanan mereka. Tidak ada satu pun yang berniat membuka suara. Halilintar menatap datar jalanan yang mereka lalui dalam diam, sementara sebelah tangannya menggenggam tangan Taufan dengan lembut.Taufan menghela napas pelan, merasakan sedikit kehangatan mulai menjalari tubuhnya. Ia tidak benar-benar tertidur, hanya memejamkan mata untuk menikmati kehangatan yang diberikan kedua kembarannya.Perlahan, ia membuka matanya dan menatap jendela yang kembali menampilkan rintik-rintik hujan. Hujan turun lagi seperti tadi pagi, membuat suhu yang memang sudah dingin terasa semakin membekukan. Namun, sekarang, Taufan tidak lagi takut akan suhu dingin. Karena kedua saudaranya ada di sisinya, dan akan selalu bersedia membagi kehangatan pada tubuhnya yang kedinginan.

Berbagi
Romance
19 Jan 2026

Berbagi

Saat sikembar tiga masih berusia 8 tahun, si sulung dan si bungsu selalu berhasil membuat rumah menjadi ribut setiap saat.Hali yang pemarah dan Gempa yang tidak suka berbagi—khususnya makanan. Perdebatan mereka akan selalu dimulai saat salah satu adik mereka meminta makanan yang Gempa miliki, dan berakhir dengan Gempa yang hampir menangis karena dimarahi oleh Halilintar karena tidak mau berbagi.Ayah dan Bunda selalu menjadi saksi dari keributan kecil yang diciptakan anak-anak mereka, namun mereka tidak akan turun tangan secara langsung. Karena ini bukan hanya tentang masalah makanan, tapi tentang bagaimana cara mereka menyelesaikan masalah dan bagaimana cara mereka untuk memahami satu sama lain.Kadang Bunda merasa tidak tega membiarkan bungsu dari kembar tiga-nya menangis karena di marahi oleh Kakaknya. Tapi saat Bunda berniat memberi pengertian, Ayah selalu menahannya dan menatapnya dengan tatapan teduh. "Biarkan mereka dulu, mereka harus belajar cara menyelesaikan masalah sendiri," jawab Ayah, dan Bunda hanya bisa menghela napas lalu kembali mengawasi perdebatan kecil kedua anaknya.Saat situasi kian memanas—suara Hali yang mulai meninggi, dan Gempa yang sudah menangis—biasanya Taufan akan selalu muncul sebagai penengah. Tubuh kecilnya akan berdiri ditengah-tengah kedua kembarannya, dengan sebelah tangannya yang dipeluk Gempa, dan manik biru safirnya yang menatap Hali dengan tatapan teduh."Alin, tolong kecilin sedikit suara kamu, ya? Kasihan Gemmy jadi nangis dengernya," kata Taufan kala itu sembari tangannya mengelus pucuk kepala Gempa yang kini menyembunyikan wajahnya di lengan Taufan.Halilintar mengernyit, lalu mendengus mendengar ucapan adik pertamanya itu. "Tapi dia gak mau berbagi sama Duri, Fan! Kamu gak kasihan juga liat Duri nangis sesegukan gitu?" balas Hali, manik merah delimanya menatap tajam Taufan yang masih berusaha menenangkan Gempa.Taufan diam, maniknya bergerak melirik Duri yang masih menangis di pelukan Bunda mereka, sementara sang Bunda yang berusaha menenangkan tangisan Duri kini menatapnya dengan senyum lembut. Ia bimbang, siapa yang harus dibelanya sekarang? Jika membela Gempa, maka Duri akan semakin menangis. Tapi jika dia membela Duri, Gempa akan merasa sedih karena tidak ada yang mendukungnya.Jemari kecilnya memilin ujung bajunya gugup, lalu melirik Ayahnya yang duduk di sebelah sang Bunda—meminta bantuan. Ayahnya memberi pengertian melalui tatapan mata, lalu berujar, "ingat seperti yang Ayah ajari, ikuti kata hatimu," tanpa suara.Taufan memejamkan matanya sejenak, lalu menarik napas dalam. "Ufan ngerti Alin cuma mau ngajarin Gemmy berbagi, tapi Alin harus tanyain pendapat Gemmy dulu, ya? Kalo Gemmy gak mau, gak boleh dipaksa. Alin mau, emangnya kalo dipaksa berbagi? Ufan sih enggak," ujar Taufan lembut, manik biru safirnya menatap manik merah delima Halilintar polos, sementara Hali terlihat memikirkan ucapan dari adiknya itu dengan seksama.Halilintar tertegun, kemudian terdiam memikirkan ucapan Taufan tadi. Sepertinya mulai merasa bersalah telah membuat Gempa menangis. Di sisi lain, Taufan kini mengalihkan tatapannya pada Gempa. Tangan kecilnya mengelus surai Gempa dengan lembut, sementara manik birunya menatap Gempa dengan tatapan teduh."Gemmy mau bikin kesepakatan sama Ufan nggak?" tanya Taufan, matanya masih senantiasa menatap Gempa yang perlahan mengangkat wajah sembabnya untuk menatap Taufan. Terlihat jelas rasa ketertarikan di kedua manik berwarna emas miliknya kala mendengar ucapan Kakaknya.Taufan tersenyum, "Ufan bakal ngasih semua permen Ufan buat Gemmy, tapi Gemmy harus berbagi sedikit makanan Gemmy buat Duri. Kalo Gemmy gak mau juga gapapa, tapi Ufan gak jadi juga ngasih Gemmy permennya, gimana?"Mata sembab Gempa terlihat begitu tertarik dengan penawaran Taufan, tapi di sisi lain dia juga masih merasa berat untuk berbagi makanan yang ia miliki. Manik emasnya menatap bergantian antara Taufan dan sebungkus snack jelly coklat dipelukannya, tampak begitu berat mengambil keputusan.Ayah dan Bunda yang duduk di sofa bersama Duri terlihat gemas melihat interaksi ketiganya—Halilintar yang diam memperhatikan kedua adiknya dengan mata berkedip polos, dan Taufan yang berdiri ditengah-tengah keduanya dengan lengannya yang masih dipeluk Gempa.Taufan dengan sabar menunggu jawaban Gempa, bibirnya tak pernah berhenti menyunggingkan senyum lembut pada Gempa yang masih berpikir."Gemmy mau. Tapi Kak Ufan kasihan kalo kasih semua permennya ke Gemmy, jadi kita berbagi aja, ya? Sama Kak Alin juga," jawaban polos Gempa sontak membuat Ayah dan Bunda yang sedari tadi mengawasi, memekik tertahan karena merasa gemas mendengar kalimatnya.Taufan mengulas senyumnya semakin lebar, lalu mengelus pucuk kepala Gempa dengan gemas, "Mm! Kita makan cemilannya sama-sama, oke? Gemmy hebat karna udah mau berbagi, Ufan bangga sama Gemmy!" seru Taufan antusias, kemudian memeluk Gempa dengan erat, yang dibalas dengan Gempa yang memeluknya tak kalah erat.Halilintar yang sedari tadi mengamati, kini berjalan mendekat dengan perlahan. Kedua tangannya memilin baju dengan gugup, juga kedua manik merah delimanya menatap Gempa bersalah, "Gemmy, maaf, kakak terlalu kasar ya tadi? Maafin Kakak, ya? Ufan juga, Kakak minta maaf."Taufan dan Gempa melepaskan pelukan sejenak, lalu saling menatap dan langsung menarik Halilintar ke dalam pelukan—mereka berpelukan bertiga sembari melompat-lompat kecil khas lompatan anak-anak.Dan, ya.. Begitulah akhir dari pertengkaran kecil mereka di hari itu. Gempa dan Hali terkadang masih sering bertengkar karena hal yang sama, namun, selama ada Taufan, semuanya akan baik-baik saja.

Pembunuhan Alice
Horror
19 Jan 2026

Pembunuhan Alice

Sampai hari ini, kasus pembunuhan Alice menyisakan misteri tak terpecahkan di Jepang. Antara tahun 1999 sampai 2005, terjadi lima pembunuhan berantai. Semua pembunuhan saling terhubung dengan kartu ancaman yang ditinggalkan oleh si pembunuh pada setiap tempat kejadian perkara.Korban pertama adalah Sasaki Megumi, seorang wanita berumur 29 tahun yang memiliki sebuah restoran. Orang-orang yang mengenalnya, menggambarkan dirinya sebagai wanita kuat yang gampang marah dan bermulut tajam saat menghadapi para pegawainya. Ia dikenal pandai memasak, karenanya ia mendedikasikan dirinya pada pekerjaannya.Pada suatu malam, Megumi menghadiri sebuah pesta di rumah temannya. Ia lalu memutuskan untuk pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Para pelayan mengatakan ia sedikit mabuk untuk mengemudi. Ia menolak saat beberapa orang menawarkan tumpangan padanya. Ia meninggalkan pesta pada pukul satu pagi. Saat itulah terakhir kalinya ia terlihat hidup.Pagi berikutnya, sepasang kekasih sedang berjalan-jalan ke hutan yang terletak sekitar satu mill dari rumah Megumi. Mereka melihat banyak darah di jalan setapak yang ditumbuhi rumput. Karena penasaran, mereka mengikuti jejak darah tersebut hingga menemukan tubuh Megumi. Ia telah tercabik-cabik dengan bagian tubuhnya tertancap di berbagai cabang pohon. Polisi menemukan kartu remi di dalam mulut Megumi. Itu adalah kartu Jack sekop dengan tulisan "Alice" di atasnya.Korban kedua adalah seorang laki-laki muda bernama Yamane Akio. Ia adalah seorang penyanyi band indie yang seringkali main di bar atau pesta. Teman-temannya menggambarkan ia sebagai laki-laki baik yang tidak pernah menaikkan suaranya saat berbicara dengan orang lain. Setelah kematiannya, band-nya tercerai-berai karena tidak tega mencari penyanyi yang baru.Akio diculik dari apartemennya pada bulan Februari 2001. Teman se-band-nya merupakan orang terakhir yang melihatnya masih hidup saat mereka sedang berlatih pada dini hari. Malamnya, kekasih Akio datang untuk mengunjunginya, tapi wanita itu terkejut menemukan rumah sudah kosong. Setelah beberapa hari, ia mengisi laporan orang hilang dan mulai mencari keberadaan kekasihnya tersebut.Saat mereka memeriksa jejak Akio dari kamera pengawas milik gedung apartemen, polisi terkejut saat melihat sesosok orang yang memakai tudung masuk ke apartemen melalui pintu samping. Beberapa menit kemudian, sosok itu membawa sebuah kantong sampah besar yang terlihat aneh. Penampakan ini tidak pernah dilaporkan karena wajah sosok tersebut tidak kelihatan.Seminggu kemudian di bar tempat band Akio sering tampil, pemilik bar sedang bersiap-siap membuka bar-nya saat ia melihat pemandangan yang mengerikan. Tubuh Akio tergeletak di meja. Tenggorokannya robek, juga ada bekas tembakan di kepalanya. Kartu King wajik ditemukan di dalam genggaman tangannya.Korban ketiga adalah seorang gadis remaja bernama Kai Sakura. Ia merupakan gadis manis yang disayangi oleh teman-teman sekelasnya dan kenalannya. Ia ingin pergi kuliah untuk belajar fashion design . Seminggu lagi ia akan lulus sekolah menengah atas.Saat ia hilang, keluarga Sakura menjadi panik. Mereka melakukan segala cara untuk menemukan gadis tersebut. Tubuhnya ditemukan dua hari kemudian, terkubur dalam sebuah kuburan yang dangkal. Pembunuh menandai kuburannya dengan kartu. Itu adalah kartu Queen keriting.Tubuh Sakura dimutilasi dengan kejam. Matanya dicungkil, mulutnya dipaksa membuka. Ia sepertinya dikuliti hidup-hidup. Ada juga sebuah mahkota yang diukir di kepalanya. Di tubuhnya, ada tulisan cakar ayam. Itu berisi banyak frase yang membingungkan seperti "kematian adalah mimpi yang berubah bentuk", "ia akan selamanya berkuasa", dan "siapa yang mati merupakan orang yang beruntung".Korban terakhir adalah kakak beradik, Hina dan adik lelakinya yang bernama Hayato. Mereka sangat dekat, sehingga jarang sekali bertengkar. Hina keras kepala, sedangkan Hayato sangat pandai.Pada tanggal 4 April 2005, dua anak tersebut ditemukan tewas di kamar tidur mereka dengan bekas tusukan di lengan. Jendela kamar tidur mereka terbuka. Oleh karena itu, polisi percaya jika si pembunuh mengendap-endap ke dalam ruangan tanpa membangunkan mereka. Pembunuh itu lalu menyuntik mereka dengan obat yang dosisnya mematikan, lalu melarikan diri dalam kegelapan malam. Setiap anak memegang kartu As cinta yang saat disatukan bersama-sama akan membentuk kata "Alice".Bukti yang ditemukan di tempat kejadian perkara hanyalah sebuah jejak kaki hitam di karpet. Putus asa karena kesedihan yang mendalam, ibu mereka bunuh diri satu tahun kemudian. Ayah mereka menjadi sakit jiwa hingga harus tinggal selama bertahun-tahun di rumah sakit jiwa.Beberapa saat setelah kematian anak-anak Oshiro, seorang gelandangan bernama Suzuki Yuuto ditangkap dengan tuduhan pembunuhan. Ia memiliki riwayat penyakit mental, sehingga ia mengaku tidak ingat dimana ia berada saat pembunuhan terjadi. Hal yang lebih mengerikan, ia memakai mantel milik Yamane Akio dan titik merah di mantel tersebut terbukti sebagai darah Akio. Saat polisi mengkonfrontirnya dengan bukti itu, Yuuto mulai meracau jika sesosok iblis hitam yang tidak memiliki wajah yang memberinya mantel tersebut.Akhirnya, polisi terpaksa membebaskan Yuuto saat banyak saksi memastikan bahwa ia sedang ada di rumah penampungan yang berada lima mill dari tempat kejadian perkara saat Sakura dibunuh. Polisi tidak pernah menemukan menemukan tersangka lain sehingga kasus tersebut tetap tak terpecahkan.

Tulisan di Dinding
Horror
19 Jan 2026

Tulisan di Dinding

Ketika aku masih remaja, ada sebuah reruntuhan gedung di ujung jalan. Semua anak di wilayah ini berusaha menghindari gedung tersebut karena rumornya bangunan itu berhantu. Dinding beton di loteng bangunan berlantai dua itu telah retak dan ambruk. Jendela-jendelanya telah pecah dan kacanya berserakan di lantai.Pada suatu malam, aku dan sahabatku mencoba menguji keberanian. Kami memutuskan untuk menjelajahi tempat tua yang berhantu tersebut.Kami memanjat melalui sebuah jendela yang terletak di belakang gedung. Tempat itu seluruhnya kotor, bahkan ada lapisan lumpur di lantai kayu. Saat kami menyapu debu, kami terkejut melihat seseorang telah menulis di dinding dekat langit-langit. Bunyinya: AKU MATI."Mungkin itu hanya remaja iseng yang mencoba untuk menakut-nakuti anak-anak," kataku."Ya, mungkin..." balas temanku dengan gugup.Kami menyusuri ruangan lain di lantai dasar. Di sebuah ruangan yang terlihat seperti dapur, kami menemukan tulisan lain di dinding. Bunyinya: AKU ADA DI KAMAR ATAS.Kami berjalan menaiki tangga yang berderit ke lantai dua. Aku mempimpin jalan, sementara temanku mengikuti tepat di belakangku. Aku tidak takut, tapi temanku mulai sedikit gugup.Saat kami sampai di bagian atas tangga, kami berbelok ke kiri dan berjalan dengan hati-hati menyusuri lorong yang sempit. Di ujung lorong, ada sebuah pintu yang tertutup dengan tulisan yang tidak menyenangkan di atasnya. Bunyinya: KAU AKAN MENEMUKANKU DI KAMAR INI.Sekarang, temanku gemetar ketakutan. Aku juga sedikit takut, tapi aku tidak mau menunjukkannya. Ia memberitahuku bahwa ia tidak mau pergi lebih jauh, tapi aku menolak. Aku memberitahunya bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan.Aku memutar kenop pintu sampai berdecit membuka. Kami melangkah masuk ke dalam ruangan yang kosong. Ada dua pintu yang tertutup di tiap sisinya. Ada lebih banyak tulisan menyeramkan yang tertulis di dinding. Bunyinya: KEPALAKU ADA DI KIRI DAN TUBUHKU ADA DI KANAN.Segera setelah temanku melihatnya, ia benar-benar kehilangan seluruh keberaniannya. Ia memekik dan berbalik untuk lari. Aku menangkap lengannya, tapi ia meronta dan melarikan diri melalui pintu yang terbuka. Aku mendengar suara langkah kakinya pelan-pelan menghilang sepanjang lorong.Aku tetap bertahan. Aku memutuskan untuk berani dan mengalahkan ketakutanku. Aku mengumpulkan seluruh keberanianku untuk membuka pintu di sisi kanan, lalu berjalan masuk. Aku melangkah ke sisi dinding ruangan dan di dinding terdapat tulisan kecil yang berbunyi: TUBUHKU ADA DI BAWAH.Aku menunduk ke bawah pada lantai. Aku berdiri di atas beberapa tulisan yang tercetak di papan lantai. Aku melangkah mundur dan melihat tulisan tersebut berbunyi: KEPALAKU DATANG DARI RUANGAN DI BELAKANGMU. BERPUTARLAH.Aku mendengar suara pintu di belakangku menderit membuka. Aku cepat-cepat menoleh. Ada sebuah bayangan yang bergerak di belakang pintu. Tiba-tiba, sesuatu menggelinding ke dalam ruangan dan menabrak dinding.Itu adalah kepala temanku yang sudah terpenggal. Matanya yang terbuka menatap padaku. Aku menjerit ketakutan dan melompat melalui jendela. Tubuhku terjatuh ke tanah dari lantai dua. Aku mendarat miring sehingga mematahkan lenganku. Aku berlari pulang dengan kesakitan, menangis dan meraung memanggil kedua orang tuaku.Polisi ditelepon, lalu mereka mulai melakukan pencarian di reruntuhan bangunan tua. Awalnya, mereka tidak bisa menemukan apa pun. Tidak ada tulisan di dinding. Mereka menyisir rumah itu dari atas ke bawah, tapi tetap tidak bisa menemukan jejak temanku.Kemudian, mereka membongkar papan lantai. Tubuh temanku terbaring di bawahnya. Mereka tidak pernah menemukan kepalanya.

ANA
Folklore
19 Jan 2026

ANA

Suatu awal musim semi, dari kuncup bunga tulip merah muda yang baru saja mekar, terlahir peri kecil tanpa sayap bernama Ana yang menimbulkan kekagetan bagi seluruh peri di Perilaria. Sudah bertahun-tahun lamanya, terakhir kali ada peri di Perilaria yang lahir tanpa sayap. Peri yang terlahir tanpa sayap sangatlah menyedihkan. Seperti terlahir tanpa tujuan hidup, karena tanpa sayap, peri tidak dapat menghasilkan serbuk peri dari kepakkan sayap mereka saat terbang. Dari serbuk peri itulah, para peri di Perilaria memiliki kemampuan untuk memekarkan bunga di musim semi, menurunkan hujan di musim panas, memunculkan pelangi setelah hujan di musim gugur, serta menghangatkan Perilaria di musim dingin.Ana yang baru saja membuka mata langsung kebingungan ketika mendapati dirinya dikelilingi oleh peri-peri yang menghujaninya dengan tatapan khawatir. Apa maksud dari tatapan itu? Apa yang terjadi dengan dirinya hingga mendapat tatapan itu?"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Ada apa?" tanya Ana sambil mendudukkan dirinya di dasar bunga. Ia balas menatap satu per satu peri yang mengelilinginya, meminta jawaban atas pertanyaannya."Kamu ...," peri dengan gaun kuning dari kelopak bunga mataharilah yang pertama buka suara, "tidak bersayap."Ana mengedipkan matanya berulang kali karena bingung. Ia tidak bersayap? Bagaimana bisa? Ana kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling, untuk mengamati raut wajah peri lainnya. Mereka semua tampak sama, yang membedakan mereka hanyalah warna pakaian mereka dan jenis bunga yang menjadi dasar pakaian mereka. Juga tentunya, mereka semua memiliki sayap di balik tubuh mereka. Hingga akhir dari pandangannya, Ana mendapati tatapan iba yang sama.Ana perlahan bangkit dari posisi duduknya dibantu oleh peri bergaun kuning bernama Sunny yang tadi menjawab pertanyaannya. Mereka berdua berjalan keluar dari kelopak bunga diikuti oleh peri-peri lainnya menuju genangan air yang ada di atas tanah. Ana berjalan mendekati genangan air itu. Dengan perlahan, Ana membalikkan sedikit badannya agar bisa melihat bayangan punggungnya sendiri. Di punggungnya itu, tidak ada sepasang sayap seperti Sunny ataupun peri lainnya."Apa yang terjadi?" tanya Ana yang langsung jatuh terduduk di atas tanah. Ia menatap bayangan dirinya sendiri dengan raut sedih yang tidak ditutup-tutupinya dari genangan air itu. "Bagaimana aku bisa lahir tanpa sayap?"Tidak ada satu pun jawaban dari peri Perilaria yang masih mengelilinginya. Mereka juga masih menatapnya dengan raut yang sama, yaitu kasihan.Ketika dirinya merasakan tepukan halus pada bahunya, air mata yang sudah ditahan oleh Ana langsung turun. Ia tidak pernah berharap terlahir berbeda dari peri lainnya. Ana ingin lahir sama seperti mereka. Ia ingin memiliki sepasang sayap yang dari setiap kepakkannya muncul serbuk peri keemasan."Apa yang akan terjadi padaku jika tidak memiliki sayap?" tanya Ana di sela-sela isakannya."Kamu tidak akan bisa seperti peri Perilaria lainnya." Kali ini peri bergaun biru bernama Sea yang juga masih menepuk halus bahunya yang menjawab pertanyaan Ana. "Kamu tidak akan bisa melakukan hal-hal yang hanya bisa dilakukan jika memiliki sayap. Bagi peri di Perilaria, sayap sangatlah penting. Setiap kepakkannya menghasilkan serbuk peri yang dapat memekarkan bunga, menurunkan hujan, memunculkan pelangi, dan menghangatkan Perilaria."Ana mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. Pandangan penuh iba masih ditujukan oleh peri Perilaria padanya. "Bolehkah kalian meninggalkanku sendirian? Aku butuh waktu sendiri," kata Ana lemah sambil menyeka air matanya.Para peri Perilaria terbang perlahan meninggalkan Ana dengan sayap yang menukik turun. Mereka turut sedih bersama Ana. Setelah mendapati semua peri pergi, Ana terisak dalam tangis yang tidak lagi ditahannya. Ia memeluk kedua lututnya erat. Kenapa ia bisa lahir tanpa sayap? Kenapa ia tidak terlahir normal seperti peri lainnya? Kenapa harus dirinya yang lahir seperti ini?"Ana."Tidak ada sedikit pun niat dari dalam diri Ana untuk mengangkat wajahnya ketika mendengar seseorang memanggil namanya dengan suara kecil nan merdu. Siapa yang memanggilnya? Bukankah mereka semua sudah pergi? "Pergi, aku sedang butuh waktu sendiri," usir Ana dengan suara lemah dan masih sesenggukan. Ia memeluk kedua lututnya lebih erat lagi. Wajahnya juga dibenamkan lebih dalam ke kedua lutut."Aku tahu kamu sangat sedih karena tidak memiliki sayap seperti peri Perilaria lainnya." Suara itu kembali terdengar, tapi kali ini lebih dekat. Bahkan, tiba-tiba ada sentuhan dari tangan dingin pada bahunya yang langsung membuat Ana berjengit kaget.Ana langsung mengangkat wajahnya dan mendapati seorang peri bergaun hitam berdiri di hadapannya. Namun, ada satu hal yang membuat Ana lebih kaget. Peri di hadapannya ini hanya memiliki satu sayap di sebelah kanan tubuhnya. "Apa yang terjadi padamu? Kenapa sayapmu hanya satu?" tanya Ana. Perlahan ia berdiri dan menyentuhkan tangannya pada sayap peri di hadapannya ini."Aku terlahir tanpa sayap sepertimu," katanya, "dan perkenalkan, namaku Viola. Maaf baru memperkenalkan diri. Namamu Ana, bukan? Aku sempat melihat namamu dari kelopak bunga tempatmu lahir tadi.""Kamu lahir tanpa sayap? Sepertiku?" tanya Ana bingung. Sekali lagi, Ana menatap sayap di balik tubuh Viola. "Tapi Viola, kamu punya satu sayap."Viola tertawa ringan sambil menyentuh lembut sayapnya. Ia menatap bayangan sayapnya dari genangan air di dekat mereka dengan tatapan penuh kekaguman. "Aku mendapatkan sayap ini dari peri di tengah hutan di sana," kata Viola sambil menunjuk jauh ke arah hutan belantara gelap yang sangat berbeda jauh dengan Perilaria. Hutan itu diliputi awan gelap dan petir terus menyambar tanpa henti. Hutan itu dipenuhi oleh akar-akar pohon tanpa daun hijau dan bunga sama sekali."Ada peri yang tinggal di tempat gelap dan mengerikan seperti itu?" Melihatnya dari jauh saja sudah membuat bulu kuduk Ana berdiri. Ia ketakutan.Viola menganggukkan kepalanya. "Hanya dia satu-satunya peri yang tidak menatap kita, peri Perilaria yang lahir tanpa sayap, dengan tatapan kasihan. Bagi peri Perilaria, lebih baik tidak pernah dilahirkan daripada terlahir tanpa sayap. Semua keindahan di Perilaria ada karena serbuk yang muncul dari sayap peri setiap terbang. Tanpa sayap, kita berdua, tidak ada gunanya."Ana kembali menundukkan kepalanya."Hanya dia yang bisa memberikan kita sayap yang kita perlukan." Viola kembali mengelus sayap kanannya dengan lembut. Raut bahagia kembali tampak dari wajahnya ketika tangannya menyentuh sayapnya itu.Melihat pemandangan di depannya itu membuat Ana membulatkan tekadnya. Ia ingin memiliki sayap! Ia ingin bisa memekarkan bunga, menurunkan hujan, memunculkan pelangi, serta menghangatkan Perilaria seperti peri-peri lainnya. "Tolong bawa aku ke sana," kata Ana dengan penuh keyakinan.Viola langsung tersenyum senang. "Baiklah! Kita ke sana sekarang juga. Kita tidak boleh menunda-nunda karena perjalanan ini akan memakan waktu yang cukup lama bagi kita, peri yang tidak memiliki sayap. Kita harus mengandalkan kaki kita yang jauh lebih lambat dibandingkan terbang dengan sayap."Viola berjalan di depan Ana dengan penuh semangat. "Aku sudah tidak sabar untuk segera memiliki sepasang sayap dan menjadi sempurna.""Aku juga," kata Ana dengan antusias yang sama setelah berhasil mengejar Viola yang sudah berjalan jauh di depannya.Bagaimana rasanya punya sayap? Ana benar-benar tidak sabar untuk merasakan kepakkan sepasang sayap pada punggungnya. Ia ingin segera bisa terbang mengelilingi Perilaria yang indah.Ana bersenandung senang dan berjalan dengan langkah ringan sambil sesekali melompat tanpa mengetahui apa yang akan dihadapinya sebentar lagi.***Ketika kakinya melangkah masuk ke dalam hutan belantara, tubuh Ana langsung merinding. Hutan ini sangatlah dingin dan gelap, berbeda jauh dibandingkan dengan Perilaria yang warna-warni oleh aneka tanaman bunga yang sedang mekar serta cahaya matahari keemasan yang setia menyinari seluruh Perilaria. Jika suara kicauan burung memenuhi Perilaria, maka hutan belantara ini penuh dengan suara guntur yang menyusul dari kilatan petir di atas mereka.Ana benar-benar takut, sehingga ia berjalan menempel di belakang Viola yang tampak biasa saja, bahkan Viola masih bisa bersenandung senang. Namun, Ana tidak memandang itu sebagai sesuatu yang aneh. Ia malah merasa wajar dengan tindakan Viola karena sebentar lagi Viola akan memiliki sepasang sayap yang utuh seperti peri Perilaria lainnya, begitu juga dengan dirinya.Mereka berdua berhenti di hadapan menara batu tinggi tanpa pintu. Hanya ada satu jendela persegi di puncak menara yang sangat terang sehingga terlihat jelas oleh mereka. Kilatan cahaya petir juga terus menghujani puncak dari menara itu. Ana mengamati semua itu dari balik tubuh Viola. "Viola, kita ada di mana?" tanya Ana."Ini tempat tinggal peri yang akan memberikan kita sayap, Ana," jelas Viola sambil menaiki anak tangga yang terbuat dari akar-akar pohon. Akhir dari tangga itu ada di jendela persegi di puncak menara yang mereka lihat tadi.Rasa gugup yang ia alami saat ini, Ana anggap sebagai rasa antusias karena sebentar lagi ia akan punya sayap seperti peri Perilaria lainnya. Ana menaiki tangga mengikuti Viola hingga masuk ke dalam menara yang setiap sisi dindingnya terdapat lemari yang penuh oleh botol kaca aneka bentuk yang dari kacanya dapat terlihat jelas terisi serbuk emas yang bersinar terang.Ana berjalan mengelilingi ruangan itu sambil mengamati satu per satu botol kaca yang terus memantulkan bayangan wajahnya. Hingga akhirnya, dirinya berhenti di depan satu-satunya botol kaca yang kosong.Dari botol kaca itu, Ana bisa melihat bayangan Viola berdiri di belakangnya dengan senyum lebar. Viola meraih botol kosong itu dan menatapnya dengan raut penuh kebahagiaan. "Aku bisa mendapatkan satu lagi sayapku, jika botol ini terisi penuh dengan serbuk peri Perilaria," jelas Viola tanpa diminta.Ana bingung. Apa maksud dari perkataan Viola? Serbuk peri Perilaria? Viola bisa mendapatkan sayapnya dari serbuk peri Perilaria? "Apa maksudmu?" tanya Ana, tapi tanpa di sadarinya, tubuhnya bergerak mundur dengan sendirinya seiring dengan langkah Viola yang semakin maju."Kamu lihat semua botol ini?" tanya Viola sambil melebarkan kedua tangannya ke udara. "Ini adalah serbuk peri Perilaria yang serakah. Mereka tidak pernah merasa puas, selalu menginginkan lebih. Padahal mereka sudah memiliki sayap dan serbuk peri yang selama ini kuinginkan."Tubuh Ana bergetar ketakutan ketika punggungnya menabrak dinding. Ia tidak bisa mundur lagi, sedangkan Viola terus maju dengan senyum yang tiba-tiba tampak menyeramkan."Keberuntungan sepertinya berpihak padaku, Ana, karena ketika peri-peri Perilaria sudah mulai curiga dengan hilangnya peri-peri mereka ... kamu lahir. Si peri tidak bersayap yang tidak diperlukan oleh Perilaria."Kalimat itu memukul Ana hingga tersadar. Ternyata dirinya ditipu oleh Viola yang menginginkan serbuk peri untuk mengisi kekosongan botol kaca terakhirnya. Namun, dirinya tidak bersayap, jadi bagaimana ia bisa mengisi botol kaca itu dengan serbuk peri yang tidak dimilikinya?"Tapi aku tidak memiliki sayap yang bisa menghasilkan serbuk peri yang kamu inginkan," kata Ana."Itulah kebodohanmu dan peri Perilaria lainnya, Ana." Viola tertawa keras sebelum melanjutkan kalimatnya, "Setiap peri Perilaria lahir dengan serbuk peri, termasuk dirimu, peri tanpa sayap.""Kalau begitu, kamu juga memiliki serbuk peri?"Viola menganggukkan kepalanya. "Tapi tentunya aku tidak bisa mengorbankan diriku sendiri untuk sayap yang sudah selama ini kuinginkan, bukan?"Viola membuka tutup botol itu dengan gerakan pelan, seakan berusaha menikmati ketakutan Ana yang ada di hadapannya saat ini. Namun, tanpa disadarinya, dari balik tubuhnya, Sunny dan Sea sedang memberi tanda kepada Ana untuk tidak berteriak dan tidak melihat ke arah mereka.Begitu Viola mengarahkan botol itu ke arah Ana, Sunny dan Sea mendorong Viola hingga tubuhnya jatuh menabrak lemari dinding penuh botol kaca. Seluruh botol kaca bergetar hebat di posisi mereka masing-masing. Viola menatap botol-botol kaca itu dengan cemas sehingga ia kembali berdiri dengan satu gerakan cepat. Ia meraih botol kaca kosong tadi dan berusaha membuka tutup botol yang sudah hampir terbuka itu sambil kembali mengarahkannya kepada Ana.Sunny dan Sea segera terbang mendekati Viola dan mendorongnya kembali menjauh hingga botol kaca itu lepas dari tangan Viola dengan tutup yang sudah terbuka. "Tidaaaaaaak!" Viola berteriak kencang dengan kelopak mata terbuka lebar.Tangannya di arahkan ke arah botol yang sudah terbuka dan masih berputar di atas lantai. Belum juga menyerah, Viola segera berdiri dan berlari mendekati botol itu. Sayangnya, terlambat. Botol itu berhenti menghadap ke arah Viola dan perlahan menyerap serbuk peri dari tubuh Viola.Sebelum serbuk perinya berhasil tersedot habis, Viola berusaha menarik Sunny dan Sea yang ada di dekatnya untuk menggantikan dirinya, tapi dirinya kembali jatuh dan malah mendorong lemari berisi botol kaca serbuk peri hingga jatuh. Semua botol kaca itu jatuh dan pecah tepat ketika semua serbuk peri sudah tersedot habis dari diri Viola masuk ke dalam botol kaca yang kosong dan tertutup dengan sendirinya.Serbuk peri memenuhi lantai ruangan. Tubuh Ana merosot turun dari dinding menara hingga terduduk di atas lantai diselimuti oleh serbuk peri yang bersinar terang. Ana menatap semua yang ada di hadapannya dengan pandangan kosong. Ini semua terjadi terlalu cepat sehingga belum berhasil dicernanya dengan sempurna."Viola bilang jika ini semua adalah serbuk peri Perilaria," kata Ana dengan pandangan kosong mengarah ke jendela persegi menara ini. Ia menatap jauh ke arah hutan yang gelap. "Apa kalian tahu ini semua?" tanya Ana lagi.Sunny dan Sea menganggukkan kepala mereka. "Kami sudah mulai curiga ketika perlahan, tapi pasti. Satu per satu peri Perilaria menghilang entah ke mana dan anehnya, peri-peri yang hilang memiliki satu hal yang sama. Mereka adalah peri yang hidup penuh dengan ambisi ingin memiliki serbuk peri yang lebih banyak saat mengepakkan sayap," jelas Sunny."Kami memberanikan diri untuk mencarimu di sini ketika tidak berhasil menemukanmu di mana-mana, dan ternyata benar, kamu dibawa oleh Viola." Kali ini Sea yang angkat bicara.Ana menangkup serbuk peri dengan kedua telapak tangannya. "Viola menipuku? Kenapa dia berbuat jahat?""Viola lahir tanpa sayap, sama sepertimu. Dia percaya jika dirinya bisa memiliki sayap seperti peri Perilaria lainnya jika dirinya mandi serbuk peri dari seluruh jenis peri bunga di Perilaria. Sehingga dia mulai mengumpulkan serbuk peri dari setiap kepakkan sayap kami ketika kami berusaha memekarkan bunga, menurunkan hujan, memunculkan pelangi, dan menghangatkan Perilaria. Tindakannya itu membuat sepanjang tahun di Perilaria menjadi kacau, tidak ada satu pun bunga yang berhasil mekar, hujan tidak turun membasahi Perilaria, tidak pernah ada pelangi yang muncul setelah hujan, dan kedinginan panjang melanda sepanjang musim dingin di Perilaria dan Viola dengan bangganya muncul memamerkan sayap yang berhasil didapatkannya dari mengacaukan Perilaria. Tindakan egoisnya itu membuat Viola diusir dari Perilaria. Sejak saat itu, satu per satu peri mulai hilang dan tidak pernah kembali," jelas Sunny, mengingat kembali masa kelam yang sudah dilalui Perilaria karena keegoisan Viola.Sea memeluk dirinya sendiri sambil berkata, "Kami begitu kaget melihatmu lahir tanpa sayap dari bunga yang terakhir mekar. Kami takut kamu akan sama seperti Viola sehingga kami tidak berani langsung menceritakan tentang Viola padamu. Kami takut kamu akan melakukan hal yang sama seperti Viola pada Perilaria."Sunny mengambil botol terakhir yang terisi dengan serbuk peri Viola. "Kami akan menyiramkannya padamu. Kami tidak ingin pengorbanan peri-peri lain yang serbuk perinya diambil oleh Viola berujung sia-sia."Sunny dan Sea membuka botol kaca terakhir itu bersama-sama dan menyiramkan serbuk peri di dalamnya pada Ana dari atas kepala. Ketika serbuk peri terakhir jatuh menyentuh tubuh Ana, mendadak tubuh Ana terangkat dan bersinar terang seperti serbuk peri yang biasa muncul dari kepakkan sayap peri Perilaria. Tubuh Ana berputar dengan sendirinya di tengah-tengah ruangan. Perlahan sepasang sayap muncul dan mengepak dengan indahnya di hadapan mereka.***Sejak saat itu, Ana terus mengingat perkataan Viola mengenai setiap peri Perilaria lahir dengan serbuk peri pada diri mereka, meskipun tidak bersayap. Perkataan Viola itu membuat Ana melatih dirinya untuk menghasilkan serbuk peri dari bagian-bagian tubuh yang diinginkannya sehingga saat ini peri Perilaria bisa menghasilkan serbuk peri bukan hanya dari kepakkan sayap mereka lagi. Mereka bisa menghasilkan serbuk peri dari telapak tangan bahkan telapak kaki mereka.Hal itu membuat peri Perilaria tidak pernah sedih atau pun takut lagi ketika mendapati peri Perilaria lahir tanpa sayap. Mereka malah dengan senang hati mengajarkan peri tanpa sayap untuk menghasilkan serbuk peri dari setiap sentuhan tangan dan kaki mereka. Meskipun peri tanpa sayap tidak dapat terbang tinggi, tapi mereka memiliki peranan yang sama pentingnya dengan peri bersayap lainnya seperti menyuburkan tanah ketika musim semi, mengumpulkan air ke dalam tanah untuk cadangan musim panas, menguningkan daun-daun di musim gugur, dan ikut menghangatkan seluruh Perilaria di musim dingin hingga ke dalam tanah-tanahnya.

ADA DINOSAURUS DI BELAKANG RUMAHKU
Folklore
19 Jan 2026

ADA DINOSAURUS DI BELAKANG RUMAHKU

Sejak aku menonton tayangan dokumenter beberapa bulan yang lalu, aku tidak bisa melihat ayam seperti dulu lagi. Tidak peduli betapa sukanya aku dengan rendang ayam buatan Oma atau ayam goreng cepat saji di mal yang renyah dan berminyak itu. Tetap saja aku sudah pantang memakannya.Ahli paleontologi yang mengenakan baju safari di video itu bilang kalau ayam yang biasa kami makan itu adalah evolusi dari dinosaurus. Yang menakjubkan lagi, ayam ternyata adalah kerabat dekat dari Tyrannosaurus Rex . Walau itu fakta yang membuatku kagum, aku sedikit kasihan pada T-Rex. Katanya kondisi bumi yang ekstrem dan tidak sehat telah memaksa tubuh mereka mengecil melalui proses evolusi jutaan tahun. T-Rex yang gagah perkasa kini menjadi unggas lezat yang dimangsa manusia setiap saat.Sekarang aku kerap menolak kalau ditawari ayam goreng—demi menghormati leluhur mereka yang seram sekaligus menakjubkan.Aku terobsesi pada T-Rex sejak seseorang menghadiahiku boneka karet berbentuk reptil kuno itu di ulang tahunku yang kedua. Padahal warnanya sedikit luntur dan lampu yang menyala—jika aku mengguncangnya—sudah rusak di hari ketiga aku memainkannya. Kebanyakan anak akan berpendapat kalau itu bukan hadiah ulang tahun yang terbaik. Namun, itulah yang mengubah hidupku.Sejak saat itu kamarku mulai berubah. Awalnya Ayah memasang wallpaper bergambar bintang dan planet. Dia berharap aku menjadi seorang astronaut. Kebetulan dia adalah astronom yang bekerja sebagai dosen. Namun sayangnya, itu tidak akan terjadi. Bukannya aku tidak menganggap profesi astronaut itu keren, tapi aku punya cita-cita lain yang sudah bertahan selama tujuh tahun.Aku mau menjadi ahli paleontologi.Kini kamarku bernuansa era Cretaceous akhir. Bukan Jurassic. Walaupun Tyrannosaurus Rex menjadi terkenal sejak menjadi antagonis utama di film Jurassic Park—dia sebenarnya berasal dari era Cretaceous . Itu sekitar 30 juta tahun sebelum tumbukan asteroid yang memusnahkan dinosaurus. Aku kerap memamerkan pengetahuanku ini pada sepupuku atau Oma dan siapa pun yang bersedia mendengarnya. Tidak banyak yang tahu fakta itu. Yah, walaupun tidak banyak yang peduli juga.Meskipun T-Rex tidak lahir pada era Jurassic—aku tetap menempel poster film Jurassic Park karya Stephen Spielberg. Aku juga punya koleksi figur dinosaurus yang lumayan banyak. Aku tidak mau bilang kalau aku pasti akan melengkapinya karena ada lebih dari 700 spesies dinosaurus. Kebanyakan toko hanya menjual jenis yang populer seperti Brachiosaurus, Pteranodon, atau Ankylosaurus .Aku tidak perlu menyebut T-Rex karena semua anak mengenalnya. Siapa yang tidak akan kagum mengetahui reptil raksasa berahang besar dengan gigi menyeramkan itu pernah hidup di bumi? Walau mulai ada yang bilang kalau Spinosaurus lebih menakutkan, T-Rex tetap yang paling keren buatku."Jadi, kamu mau menjadi seperti Indiana Jones atau Lara Croft?" salah seorang pamanku yang masih lajang berkomentar. Pertanyaan itu selalu saja diulangnya setiap tahun ketika berkumpul di hari raya lebaran. Seakan-akan aku tidak punya minat lain selain dinosaurus. Oke, dia tidak sepenuhnya salah, tapi aku juga suka main game konsol, walaupun salah satu judul game -nya 'Jurassic World'.Pertanyaannya salah. Lara Croft yang populer dari game Tomb Raider itu wanita, sementara aku sudah disunat dua tahun lalu. Selain itu Lara Croft dan Indiana Jones itu juga berprofesi sebagai arkeolog."Beda, Om! Mereka itu arkeolog, kerjanya meneliti piramida atau Candi Borobudur. Kalau aku ingin menjadi paleontolog yang kerjanya meneliti hewan-hewan purbakala!" sergahku. Aku tidak tahu kenapa aku harus menjelaskannya. Dia mungkin akan bertanya itu lagi tahun depan."Alah, sama saja. Yang kerjanya gali-gali tulang itu, kan?" katanya sambil menyeringai kemudian dia berlalu pergi tidak peduli sambil membawa sepiring ketupat dan opor ayam.Kenapa dia harus basa-basi kalau hanya ingin membuatku kesal, sih?Aku pun melirik meja makan. Masakan lebaran di rumah Oma cukup umum. Ada ketupat, sambal goreng ati kentang, dan opor ayam. Aku menyiduk sayur labu siam serta beberapa sendok sambal goreng ati kentang lantas memakannya lahap.Aku baru puasa makan ayam sekitar satu bulan dan lama-lama aku merasa itu keputusan konyol. Aku bukan vegetarian. Sayangnya, aku sudah terlanjur pengumuman ke keluargaku. Akan memalukan kalau aku menyerah dan kembali makan ayam secepat itu.Aku, Ibu, dan Ayah tinggal bersama Oma di daerah kampung. Namun, Ayah lebih sering menginap di rumah dinas dekat tempat kerjanya. Aku anak tunggal dan ibuku juga bidan yang sibuk di puskesmas. Jadi, aku lebih sering tinggal berdua dengan Oma."Rafa, tolong lepas si Jalu biar makan di luar, Nak," Oma menyuruhku.Aku mengangguk dan dengan patuh mencuci piringku sebelum memakai sandal dan pergi ke halaman belakang. Rumah Oma luas. Lebih tepatnya, kebunnya. Kalau bangunan rumahnya sih tidak terlalu besar. Dia membangun kandang ayam di dekat pohon bambu.Si Jalu adalah nama ayam betina. Aku tahu nama Jalu seharusnya tidak cocok dengannya, tapi Oma memeliharanya sejak dia menetas dari telur. Ekspresinya tajam dan galak. Dia rajin bertelur karena itu Oma tidak mau menyembelihnya. Lagi pula, rasa ayam petelur tidak terlalu enak.Aku membuka pintu kandang, beberapa ekor ayam berhamburan keluar dan sibuk berkotek sambil mematuki tanah, lalu seperti biasa aku merogoh ke dalam kandang dan melihat si Jalu yang diam saja. Dia tidak mau keluar kandang. Apa dia sakit?Sepertinya tidak. Dia sedang mengerami telurnya. Itu aneh karena dia biasanya tidak peduli pada telurnya. Kucoba menyingkirkan badannya karena ingin melihat lebih jelas. Tampaknya dia bertelur beberapa butir. Aku akan membiarkannya. Mungkin besok bisa kuambil telurnya.Aku pun kembali ke rumah Oma untuk makan ketupat opor untuk kedua kalinya.***Aku selalu berpikir kalau aku sedikit kurang beruntung karena lahir di Indonesia. Bukannya mau mengeluh. Negeri ini jelas kaya akan budaya dan keindahan. Hanya saja tidak pernah ada dinosaurus yang ditemukan di Indonesia.Mungkin tidak akan pernah karena dinosaurus sudah punah enam puluh lima juta tahun yang lalu. Sementara kepulauan Indonesia baru terbentuk setelahnya.Jika aku menjadi ahli paleontologi, mungkin aku akan lebih sering bertemu fosil manusia purba di Sangiran atau fosil mamalia serupa gajah seperti stegodon. Apakah aku harus menyerah? Karena kalau ingin menemukan fosil dinosaurus, aku harus bekerja di benua lain seperti Amerika. Ayah bilang di sana sulit masuk jurusan paleontologi, apalagi untuk warga negara asing.Aku pernah mengeluhkan ini pada ibu guru, dia malah bilang kalau terlalu dini bagi anak umur sembilan tahun sepertiku untuk memikirkan jurusan kuliah. Paman dan bibi lebih tidak suportif lagi. Mereka bilang jangan sampai salah pilih jurusan seperti Ayah yang seorang astronom. Sudah mana kuliahnya sulit, cari kerjanya susah.Apa iya bercita-cita menjadi ahli dinosaurus itu aneh? Kurasa itu cita-cita yang lebih masuk akal daripada celetukan temanku yang ingin jadi astronaut atau presiden. Maksudku, berapa persen orang di dunia yang punya kesempatan itu?"Tidur, Rafa! Sudah malam!" Oma berseru. Dia pasti melihat lampu kamarku menyala. Aku pun sadar sudah terlalu lama melamun. Ibu tiba-tiba harus ke kampung sebelah karena ada yang melahirkan lebih cepat. Ayah sudah mendengkur di kamar sebelah. Aku pun mematikan lampu dan meringkuk ke balik selimutku.Bzzz ... bzzz ... bzzz ....Oma suka keheningan ketika waktu tidur. Dia terbiasa tertib karena buyutku seorang tentara. Karena itu, suara sekecil apa pun terdengar. Entah obrolan remeh para laki-laki di pos ronda atau teriakan tukang sate.Bzzz ... bzzz ... bzzz ....Namun, masa mereka tidak dengar, sih? Seperti ada sekawanan lebah yang bersiap menyerang membawa ribuan bala tentaranya. Oma biasanya mengomel keluar kalau para hansip dan pria yang kebagian jadwal siskamling terlalu berisik.Bzzz ... bzzz ... bzzz ....Serius? Masa mereka tidak ada yang dengar, sih?Aku beringsut malas dari kasur dan membuka jendela. Sesuatu yang luar biasa terang menerpa mataku yang sudah beradaptasi dengan kegelapan. Ibaratnya seperti ketika tengah malam seseorang menelepon dan mata terpaksa harus menyipit karena cahaya ponsel yang terlalu silau.Aku takut dan segera menutup jendela keras, lalu kutarik kembali selimutku dan tidur dalam posisi meringkuk.Itu bukan apa-apa. Aku hanya salah lihat.Aku setengah mati berusaha mengabaikannya sampai terlelap.***Aku pasti kebanyakan main game . Kurasa aku akan mencoba menjadi anak baik dan tidak lagi diam-diam main ponsel di luar aturan rumah Oma. Mereka bilang terlalu sering pegang ponsel bisa membuat otakmu mengecil. Aku tahu orang tuaku mungkin hanya menggertak, tapi itu bisa saja benar.Waktu subuh, tugasku adalah ke kandang ayam untuk mengambil telur dan melepaskan lagi ayam-ayam itu di kebun Oma.Cahaya yang kulihat semalam tadi. Mungkin hanya khayalanku atau kilatan petir. Sayangnya, rasa percaya diriku punah ketika melihat kandang ayam Oma.Ada bau gosong!Apakah kilat kemarin malam membakar kandangnya? Walau ada sedikit noda arang, sepertinya kandang kayu itu tidak terbakar.Aku pun memberanikan diri membuka pintunya.Ayam-ayam itu masih hidup dan melihatku dengan tatapan seperti menuduh. Ya, hari ini aku agak kesiangan. Kaki mereka mungkin sudah pegal dan ingin segera berlarian di tanah.Jalu, sudah tidak mengeram.Tunggu, ada yang aneh.Salah satu telurnya jadi besar. Seperti telur burung unta. Bukan! Lebih besar lagi dan coraknya juga tidak pernah aku lihat. Ukuran telur itu mungkin sudah melebihi Jalu. Pantas saja dia tidak mau mengeram lagi.Masalahnya Itu jelas bukan telur ayam!Aku mengamatinya selama beberapa menit sebelum sebuah retakan muncul di cangkangnya. Aku melihat cakar. Mirip ayam. Lalu beberapa helai bulu. Ya, itu mungkin memang ayam yang terlalu besar. Cangkangnya akhirnya terbuka dan aku melihat jelas matanya yang besar menatapku.Tidak ada paruh.Itu bayi T-Rex. Tanpa sadar aku tersenyum, padahal jelas semua ini aneh dan menakutkan.***Sudah dua minggu berlalu. Bayi T-Rex itu kini serupa dengan buaya kecil. Dengan dua kaki depan yang mungil dan kaki belakang yang sudah bisa melangkah kokoh. Dia kini melahap seekor ikan lele dengan gigi tajamnya sambil menatapku menggunakan matanya yang besar.T-Rex kecil terlihat sama imutnya dengan anak kucing. Aku yakin ini T-Rex, bukan kadal. Ini sangat keren! Aku adalah satu-satunya anak yang punya peliharaan T-Rex di kampung ini. Salah. Maksudku di dunia!Namun, aku harus menjaganya agar tidak ditemukan Oma atau Ayah. Mereka tidak akan tertipu kalau aku bilang Joey adalah kadal, apalagi buaya. Mereka sangat tahu bentuk T-Rex. Lagi pula, kalau Joey benar adalah buaya, mereka juga akan panik. Joey akan dijemput oleh polisi dan mereka mungkin akan membawanya ke kebun binatang untuk diteliti.Oh iya, aku memberi nama dinosaurusku Joey.Tubuhnya membesar dengan cepat. Aku harus memisahkannya di kandang lain karena khawatir dia bisa memangsa ayam milik Oma. Itu terdengar wajar, tapi bagiku itu perbuatan kanibal. Ayam dan T-Rex itu bersaudara."Aku bawa ini untuk Joey." Itu adalah Mika, sepupuku. Libur lebaran berbarengan dengan libur semester. Jadi, dia akan lama di kampung. Dia seumuran denganku dan selalu memakai rok. Aku tidak punya pilihan. Seseorang harus membantuku mengurus Joey.T-Rex adalah pemakan daging. Aku tidak punya cukup uang jajan untuk membeli ikan lele. Jadi, aku mengajak Mika untuk bergabung dalam rahasia kecilku. Dia bukan penggemar berat dinosaurus sepertiku, tapi melihat T-Rex hidup tetap luar biasa baginya. Dia bersedia menghabiskan angpau lebarannya untuk membeli makanan Joey asalkan bisa ikut dalam proyek ini.Aku dan Mika tiap sore berkunjung ke kandang sambil membawa makanan dan buku catatan. Aku dan dia berpura-pura menjadi peneliti dan mengamati perilaku T-Rex. Aku bilang ini proyek pemerintah. Mika senang merasa menjadi orang penting. Dia selalu menjadi ketua kelas dan membantu para guru.Aku melihat dia membawa semangkuk jangkrik dan menyodorkannya pada Joey."Beli di mana?""Ini makanan burung, tadi aku beli di pasar.""Joey bukan burung!" protesku."Katanya dia bersaudara dengan ayam." Mika tidak mau kalah.Aku melihat Joey menggigit salah satu jangkriknya dan tampak mengunyahnya, tapi dia lalu membuang apa pun yang tersisa dari jangkrik itu ke tanah."Dia tidak suka." Aku menggeleng. Tanganku mencatat di jurnal. Aku membeli sebuah buku khusus untuk mencatat keseharian Joey."Dia hanya suka lele dan aneka ikan. Harganya tidak murah. Apa kau bisa mengajarinya makan singkong saja?" Mika memberi usul."Dia itu karnivora.""Suruh dia bersuara lagi." Mika mengeluarkan ponselnya. Ya, kami punya banyak rekaman Joey. Aku merekamnya sejak dia masih baru menetas, tapi kami belum membaginya pada siapa pun. Kami terlalu takut Joey akan diambil orang jahat."Dia tidak menggeram seperti serigala atau mengaum seperti singa. Dia membuka mulutnya hanya kalau dia makan dan perlu menggigit," aku memberi tahu.Ya, satu hal yang kalian mungkin tidak tahu. Suara T-Rex tidak terlalu menakutkan. Dia tidak sering membuka rahangnya dan bersuara kecil seperti anak burung ketika baru menetas. Ketika dewasa dia hanya akan sedikit menggeram dan mendesis. Kalau kalian penasaran kalian bisa membuka ponsel kalian dan mencari tahu suara buaya di internet.Karena dia pendiam, Oma dan keluargaku lainnya tidak pernah bertemu Joey."Kau harus memikirkan rumah baru untuknya. Dia semakin besar," Mika mengingatkan.Besok dia harus pulang ke Jakarta. Dia tidak bisa lagi membantuku memberi makan Joey. Apakah aku harus memberitahu Pak RT soal ini? Oma mungkin akan panik dan meminta hansip membuang Joey ke kebun binatang.Memikirkannya saja aku sudah sedih."Kita cari orang tuanya, biar dia yang merawatnya," kata Mika lagi seakan bisa meraba keresahanku."Orang tuanya?""Yang menempatkan telur Joey di kandang ayam Oma. Kau bilang satu malam sebelumnya ada cahaya terang di kebun Oma. Mungkin dia orang tuanya," kata Mika lagi.***Aku tidak pernah benar-benar berpikir kalau Joey punya orang tua. Kukira Jalu adalah ibunya. Yah, walau setelah kupikirkan itu tidak mungkin. Telur Joey mungkin lebih besar dari tubuhnya. Seseorang pasti menaruh telur itu di kandang, tapi siapa?Karena itulah aku di sini sekarang. Jam sebelas malam. Di kebun Oma dekat kandang ayam. Tubuhku kedinginan dan dikerubuti nyamuk. Oma dan Ibu pasti akan berteriak dan membangunkan tetangga kalau tahu malam-malam aku main ke kebun. Semoga mereka tidak tahu aku menyelinap keluar.Aku berharap bisa melihat lagi cahaya itu. Aku tahu kalau seseorang beberapa kali berkunjung dan memberi makan Joey. Bukan aku atau Mika.Mataku hampir terpejam sempurna karena bosan menunggu. Sebenarnya kebun belakang rumah Oma tidak terlalu sepi. Ada pos ronda di dekat sana dan sekarang ada yang sedang main gitar menyanyikan lagu-lagu yang tidak kukenal.Cahaya itu terlihat lagi. Sangat terang dan menyilaukan. Itu membuatku terjaga sepenuhnya. Aku heran bagaimana mungkin para pemuda yang duduk-duduk di pos ronda tidak menyadarinya?"Halo."Aku sangat terkejut dan melempar tubuhku sendiri mundur.Seseorang menyapaku. Dia hadir dari cahaya terang yang kulihat tadi. Matanya biru dengan rambut perak. Dia tersenyum padaku memperlihatkan giginya. Dia seperti anak SMP yang memakai baju menyelam."Terima kasih sudah menjaga makhluk ini untukku, seharusnya dia tidak lahir di sini," katanya lagi dengan logat yang aneh."Siapa kamu?""Namaku Zorro, seorang astronaut.""Astronaut?""Bukan astronaut bumi, aku dari planet yang jauh dari sini," katanya lagi.Aku memiringkan kepalaku berusaha mengerti."Makhluk ini jatuh dari lab kami ke rumahmu. Kami tidak bisa menjemputnya kembali sampai dia benar-benar siap," katanya lagi."Dia adalah Tyrannosaurus Rex dan namanya Joey. Apa maksudmu kalau dia akan dijemput sampai dia benar-benar siap? Kapan itu terjadi?""Manusia, siapa namamu?""Aku Rafa, kelas tiga SD dan bercita-cita menjadi ahli paleontologi! Joey adalah dinosaurusku," kataku lantang."Rafa, Joey tidak seharusnya ada di bumi. Mereka sudah punah.""Tapi dia ada di sini dan hidup. Lihat, dia bermain dan mengejar ayam milik Oma." Aku menunjuk ke arah Joey yang sudah lepas dari kandangnya dan mengejar ayam yang ketakutan."Dia tidak bermain, dia ingin berburu. Ini bukan habitatnya. Telurnya tanpa sengaja terjatuh di rumahmu dan kami menunggu dia cukup kuat untuk kami bawa ke penangkarannya," kata Zorro memberitahu."Dia akan semakin besar. Ikan lele tidak lagi cukup untuk perutnya. Dia bisa memakan sapi atau kuda bahkan dirimu ketika usianya belum genap dua tahun," katanya lagi.Aku tahu fakta itu. Aku pun sudah menyiapkan diriku untuk berpisah. Ini dua minggu paling luar biasa dalam hidupku. Aku ingin terus bermain bersamanya dan pernah membayangkan suatu hari menunggangi punggungnya. Namun, aku tahu kalau Joey butuh tempat lebih aman."Bisakah aku mengantarnya? Aku sudah membesarkannya selama dua minggu dan kurasa aku berhak memastikannya aman dan baik-baik saja," aku memohon.Zorro terlihat berpikir dan dia tampak berkomunikasi dengan seseorang menggunakan ponsel yang tidak mirip ponsel."Baiklah, tapi apa kamu pernah naik pesawat?" katanya lagi."Pesawat? Pernah waktu tahun kemarin kami berlibur ke Bali," kataku percaya diri.***Rasanya tidak sama dengan naik pesawat komersial. Aku merasa sedang menaiki lift. Zorro bahkan tidak membiarkanku duduk. Dia berdiri di sebelahku dengan pakaiannya yang seperti baju selam berwarna gelap, sementara aku dengan setelan baju bola dan sarung di leherku.Zorro mungkin bisa disebut alien dan aku sedang menaiki pesawat UFO-nya sambil menggendong bayi T-Rex di tanganku.Aku bersemangat sekali. Katanya Zorro akan mengantarku ke labnya. Apakah itu artinya aku bisa bertemu hal lain yang lebih keren dari semua ini?"Jadi, apa pekerjaanmu? Kau bilang kau astronaut?" aku basa-basi bertanya."Ya, aku ke sini untuk belajar tentang bumi termasuk semua makhluk hidup yang pernah tinggal di bumi," kata Zorro."Seperti dinosaurus?""Ya, mereka makhluk yang menakjubkan. Ratusan juta tahun yang lalu, oksigen sangat melimpah di bumi. Itu membuat banyak hewannya berfisik raksasa seperti dinosaurus. Bumi sudah berumur empat milyar tahun lebih dan banyak sekali makhluk yang pernah menghuninya, tapi aku sangat tertarik dengan reptil ini," kata Zorro lagi."Aku paham! Mereka memang sangat keren!" Sepertinya aku dan Zorro punya kemiripan. Kami berdua sama-sama suka dengan dinosaurus.Aku melihat kalau pintu pesawat itu telah membuka. Namun, tidak melihat laboratorium seperti di rumah sakit. Ini seperti sebuah kebun binatang tanpa teralis yang mengurung para hewannya. Mataku berbinar. Rasa kantukku hilang. Tempat ini berada di sebuah lembah dan sangat terang. Lengkap dengan perbukitan yang sejuk dan air terjun yang jernih."Apakah kita berada di planet lain?" aku dengan lugu bertanya."Apa? Tidak. Kami menciptakan tempat rahasia ini di bumi. Tidak ada manusia lain yang tahu selain kamu." Zorro tersenyum.Aku mendengar Joey bersuara. Dia ingin menapak ke tanah. Ketika aku turun dari pesawat Zorro, aku pun disambut oleh lusinan Stegosaurus yang memiliki sirip layar di sepanjang tubuhnya. Ini sangat keren! Mereka sudah berukuran dewasa dan persis seperti yang kubayangkan."Joey adalah dinosaurus karnivora pertama yang kami bangkitkan kembali. Kita membuat telurnya di tempat terpisah. Sambaran petir mengenai lab kami dan memaksa kami untuk segera menurunkannya ke bumi," Zorro menerangkan.Aku tidak hentinya merasa takjub atas pengalaman ini. Dari sekian banyaknya rumah yang bisa disinggahi oleh telur Joey, kenapa rumahku yang terpilih? Bukankah ini terlalu kebetulan? Karena aku juga seorang penggila dinosaurus.Zorro menerangkan padaku kalau lembah ini terputus aksesnya dari manusia. Suatu saat nanti mereka akan membawa hewan-hewan eksotis dari planet bumi untuk dikumpulkan di planet lain yang mereka pilih.Zorro bilang, bangsa mereka sudah menjelajah ribuan tata surya, tapi tidak banyak planet yang seindah dan semenakjubkan bumi. Dia bilang planet seperti bumi sangat langka di alam semesta dan berpesan untuk terus menjaganya karena untuk saat ini bumi adalah rumah kami satu-satunya.Aku pun merasa kagum mendengar itu karena alam semesta memiliki jutaan galaksi dan triliunan bintang. Ada ratusan triliun planet dan banyak dari mereka memiliki oksigen seperti bumi. Zorro bilang suatu hari nanti bangsa manusia juga bisa menjelajah angkasa.Aku jadi memahami kenapa Ayah yang astronom selalu meneropong ke langit dengan mata berbinar. Dia merindukan sesuatu di angkasa dan yakin kalau manusia tidak sendirian. Seandainya Ayah yang mengalami ini semua dia pasti sangat senang.Zorro mengajakku berinteraksi dengan para dinosaurus bahkan mengizinkanku menunggangi Brachiosaurus yang sangat tinggi! Lalu aku merasa lelah dan baru sadar kalau aku belum tidur. Aku sudah terlalu lama berjaga dan mataku memaksa untuk terpejam.Aku menguap dan Zorro memintaku kembali ke pesawatnya.Aku pun terbangun di ranjangku sedikit lebih siang. Aku hampir melewatkan salat subuh dan bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudu.Setelahnya aku berkunjung ke kandang Joey dan mengetahui kalau dia sudah tidak ada. Entah di mana lembah itu berada, tapi aku mungkin akan mencarinya.Aku melihat Mika datang menghampiriku sambil membawa beberapa ekor ikan. Siang ini dia seharusnya sudah berangkat ke Jakarta."Mana Joey?" tanyanya.Aku tersenyum. Semua yang kualami itu bukan mimpi. Joey benar pernah menjadi dinosaurus peliharaanku."Dia sudah berada di tempat yang aman bersama Zorro," kataku.Aku pun dengan semangat menceritakan semua pengalamanku. Foto-foto dan video Joey akan kami simpan sampai kami perlu menceritakannya. Mungkin nanti, ketika kami bukan anak-anak lagi dan orang dewasa mau mendengarkan kami."Kamu sudah bertemu dinosaurus, apa setelah ini kamu tetap mau menjadi seorang ahli paleontologi?" tanya Mika."Tentu saja!" jawabku tegas."Tapi menjadi astronom juga tidak buruk. Mungkin aku akan menemukan planet di mana Zorro tinggal," kataku lagi.Sungguh alam semesta ini sangat luas dan ilmu pengetahuan tidak bertepi. aku meyakini kalau di salah satu sudut bumi para dinosaurus masih hidup dipelihara alien cerdas dari tata surya lain. Namun, aku tidak akan pernah menemukan mereka lagi kalau aku tidak cukup belajar. Zorro mengajariku kalau manusia bisa melakukan apa pun termasuk membangkitkan kembali dinosaurus dengan terus belajar dan mengembangkan ilmu.

PENYIHIR, SANG PUTRI, DAN SI TANGAN MERAH
Folklore
19 Jan 2026

PENYIHIR, SANG PUTRI, DAN SI TANGAN MERAH

Negeri Whitehaven gempar oleh kabar hilangnya putri kerajaan.Sudah bertahun-tahun lamanya sejak pengumuman ditempel di alun-alun seluruh kota, yang mengungkapkan bahwa Putri Whitehaven telah diculik penyihir di puncak Gunung Merah di hari ulang tahunnya yang ketujuh belas. Raja menawarkan imbalan sepuluh ribu keping emas kepada siapa saja yang mampu membunuh sang Penyihir. Beberapa rakyat mencoba, mulai dari penjagal bertubuh besar hingga gelandangan kurus yang kelaparan. Namun, tidak ada satu pun yang berhasil mendaki lebih dari setengah jalan menuju puncak.Desas-desus menyebar cepat bagai kobaran api. Penduduk tidak hentinya memperbincangkan ini di bar, pasar, bahkan di acara minum teh para bangsawan. Konon katanya, Gunung Merah memiliki mata yang tersembunyi di tanah sehingga setiap langkahmu diawasi dan selalu ada sulur yang siap mengikat pergelangan kakimu. Pria-pria bertubuh besar tidak mampu menghindari serangan bebatuan longsor dan yang lainnya terjebak dalam kubangan lumpur hisap. Gosip lain mengatakan seorang pemuda berhasil mencapai pondok Penyihir, tapi kemudian terlempar kembali ke depan pintu rumahnya sendiri dalam keadaan tidak waras.Jervin sudah mengumpulkan beberapa aturan penting. Pertama, jangan menatap mata sang Penyihir. Kedua, jangan mendengar bisikan sang Penyihir. Ketiga, miliki sihir untuk mengimbangi kekuatan sang Penyihir."Taruhan lima keping emas kalau kau tidak akan berhasil," cemooh salah satu pengunjung bar."Hanya lima? Aku berani bertaruh sepuluh bahwa Jervin si Penjelajahlah yang akan membawa sang Putri pulang," kata pemilik bar. Dia memandang Jervin untuk memberi dukungan. "Aku percaya padamu, Jervin. Kau legendaris di kampung halamanku."Tentu saja, Jervin bukan anak kemarin sore. Dia pernah mendaki gunung tertinggi, mengarungi samudra terluas, dan menjelajahi hutan terkejam sekalipun. Orang-orang menyebutnya Jervin si Penjelajah, Jervin Penakluk Troll , dan masih banyak lagi.Maka, pagi-pagi sekali Jervin sudah bersiap-siap. Setelah menyimpan kertas pengumuman yang disobek ke sakunya, dia mengencangkan sabuk, menarik sarung tangan tebal, dan memasang sepatu bots. Selama perjalanan itu dia bersenandung, membayangkan sepuluh ribu keping emas yang membanjiri rumah kayunya. Kira-kira apa yang akan dia lakukan dengan harta sebanyak itu? Mungkin membeli rumah baru yang lebih besar dan dia masih akan memiliki sisa setengahnya lagi.Dengan cekatan dia menghindari kubangan lumpur hisap dan hujan batu. Beberapa sulur nakal berlomba untuk menjerat kakinya, tapi dengan mudah ditepis Jervin dengan tongkat perjalanannya. Di lembah, dia berpapasan dengan kakek tua yang menghalangi jalannya."Pulanglah, Anak Muda," kata Kakek itu dengan suara serak. "Aku tahu apa yang ingin kau cari. Percayalah, aku sudah banyak melihat korban jiwa yang berjatuhan. Orang-orang pulang hanya dengan sebelah kaki, kehilangan mata, atau menjadi sinting."Jervin tersenyum percaya diri, sama sekali tidak gentar. "Aku Jervin si Penjelajah, jika aku pulang dengan sebelah kaki, maka itu adalah kaki si Penyihir jahat, Pak Tua."Si Kakek mengikuti Jervin yang terus melangkah. Menyeimbangkan langkah lebar Jervin, orang tua itu harus berlari kecil-kecil hingga napasnya pendek. "Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi, Dasar Pembangkang. Di tengah jalan menuju puncak ada troll yang mengintai!"Ancaman si Kakek menggelitik Jervin. "Pak Tua, tidak ada troll yang belum pernah kutaklukkan selama ini. Tunjukkan sarangnya dan biarkan aku yang menemuinya."Si Kakek menyetujui, biarpun dia heran bagaimana caranya Jervin yang memiliki tubuh kecil mampu mengalahkan troll yang ukurannya lima kali lipat lebih besar. Bersama Jervin, mereka berjalan bersama menuju lokasi kediaman troll . Matahari sudah hampir terbenam saat mereka tiba di depan sebuah goa yang lebar. Si Kakek cepat-cepat bersembunyi di balik semak, sedangkan Jervin berdiri dengan tegap dan mengangkat tongkatnya sambil berseru lantang."Wahai, Makhluk Besar, keluarlah!"Tanah yang mereka pijaki mulai bergetar, diikuti suara gemuruh dan geraman dari dalam goa. Hentakan keras langkah troll membuat si Kakek terlompat-lompat dari persembunyiannya, tapi kedua kaki Jervin masih berdiri kokoh. Di depan Jervin, menjulang sekitar tiga meter tingginya, berdirilah sesosok troll laki-laki. Kulitnya keabuan, dan dia tidak mengenakan apa pun selain kain tebal kasar yang menutupi bawah tubuhnya. Wajah si troll tampak tidak ramah, jelas tidak senang ada yang menginterupsi waktu tidurnya."Katakan apa yang kau inginkan, Kurcaci. Jika alasanmu tidak memuaskan, kau akan kumakan," geram Troll.Jervin meletakkan tongkat ke atas tanah, kemudian melepas kedua sarung tangan. "Aku mendengar bahwa ada troll yang suka mengganggu pendaki di gunung ini dan aku, Jervin si Penjelajah, ingin bertemu dengan makhluk nakal itu."Troll terkekeh dan bau napasnya yang amis tercium sampai ke hidung Kakek. "Ada penyusup masuk ke wilayahku. Tentu saja dia harus bayar, jika ingin lewat!"Setelah mengetuk dagu beberapa saat, Jervin mengangguk-angguk. "Aku setuju dengan pendapatmu, Tuan Troll. Karena itu, aku akan menawarkan kesepakatan denganmu. Jika bayaranku memuaskan, kau akan membiarkanku naik dan menghalau musuhku yang lewat.""Boleh saja," kata Troll senang, "jika tidak kau akan jadi cemilan makan malamku."Jervin mengambil selembaran seukuran telapak tangan dari balik jubahnya, lalu menyerahkannya ke hadapan troll itu."Daun? Kau pikir aku ini kambing?!" teriak Troll marah."Ini bukan daun biasa," ujar Jervin kalem. "Jika kau melempar daun ini, targetmu akan terperangkap dan tidak bisa bergerak lagi. Bukankah ini adalah alat bagus untuk menangkap buruanmu?""Coba buktikan!" tuntut Troll.Dengan gerakan cepat, Jervin melempar daun itu ke udara. Beberapa detik kemudian, sebuah gumpalan besar jatuh di hadapan mereka. Jervin memungut bungkusan daun yang melebar tersebut, lalu mengeluarkan seekor burung di dalamnya.Troll bertepuk tangan dengan senang. "Tentu tidak cukup satu saja. Aku butuh makan yang banyak.""Daun ini bisa digunakan berkali-kali dan tidak akan rusak," jelas Jervin.Setelah menerima hadiah Jervin, Troll membiarkannya pergi. Si Kakek mengikuti Jervin dari belakang dan berbisik tidak percaya, "Aku baru kali ini melihat troll melepas buruannya begitu saja.""Pelajaran pertama, troll mudah diajak negosiasi," kata Jervin. Kedua sarung tangannya digantung di leher. Dia menoleh ke belakang, lalu melanjutkan dengan waswas, "Pelajaran kedua, troll sering kali tidak menepati janji."Si Kakek ikut menoleh, lalu berseru kaget ketika sebuah lembaran daun hijau menerjang mereka dari belakang, semakin lama semakin melebar. Jervin mengarahkan tongkatnya dengan siaga, mengibas ke arah daun itu dengan keras sehingga targetnya meleset ke batu besar di samping mereka. Dari kejauhan, suara gedebum terdengar. Troll itu sedang berlari ke arah mereka."Tidak!" decak Troll jengkel saat melihat Jervin membebaskan batu dari bungkusan daun.Troll memutar arah, sekarang berlari menjauhi Jervin. Jervin mengejar, kemudian melempar daun padanya. Sedetik kemudian makhluk besar itu tumbang dengan daun yang membungkus seluruh tubuhnya."Lepaskan aku!" teriak Troll dengan suara yang kurang jelas. Gumpalan daun raksasa itu meronta-ronta di atas tanah."Aku akan melepaskanmu setelah membawa Tuan Putri dan mendapat uangnya, Troll Licik. Setelah itu kita akan membahas ini," kata Jervin, kemudian meninggalkan Troll yang masih meraung-raung."Tunggu, Anak Muda," panggil si Kakek. "Aku ingin berterima kasih karena telah menyelamatkanku. Biarkan aku membalasnya dengan mengantarmu sampai ke tujuan."Jervin mengamati si Kakek sejenak. Walau berusia tua, tapi si Kakek memiliki tubuh bugar dan kelihatannya kedua kakinya cukup kuat untuk mendaki dan menuruni gunung. Mengikutsertakan si Kakek bukan hal yang buruk."Baiklah," kata Jervin.Langit sudah semakin gelap saat mereka melihat setitik cahaya yang berasal dari puncak. Jalanan yang ditempuh semakin curam, dan Jervin menyadari bahwa si Kakek mulai menyusahkannya karena nyaris tergelincir beberapa kali, tapi mereka sudah hampir tiba di tujuan dan mustahil rasanya menyuruh si Kakek pulang sendiri tanpa bantuan Jervin, sehingga mau tidak mau dia bersabar menuntun orang tua itu, sampai akhirnya berhasil menginjak puncak.Keadaan puncak Gunung Merah sesuai dengan namanya. Tanah dan bebatuan di bawah pijakan Jervin mengkilap merah di bawah sinar bulan. Semakin dekat dia dengan pondok, semakin ringan langkah Jervin. Si Kakek mengikutinya, menyusup lewat sela-sela pagar yang rusak, lalu mengintai pelan-pelan ke sekitar luar pondok.Sekilas, bangunan itu terlihat seperti tempat tinggal nyaman yang biasa dengan perapian hangat dan aroma coklat lezat yang menyelimuti ruangan. Jervin sudah dua kali mengelilingi pondok dan belum menemukan sang Putri yang dikurung atau jejak penyihir sekalipun. Padahal dia sudah bersiaga, menyipitkan mata setiap bunyi kresekan atau gerakan mendadak di sekitarnya. Insting berburunya membuat Jervin merasakan bunyi ayunan di atas kepalanya, dia mengangkat tongkat untuk menahan kayu tumpul yang hampir saja menghantam ubun-ubunnya.Si Kakek menyerang Jervin!"Aku tidak bisa membiarkanmu bertemu Tuan Putri," kata si Kakek.Tidak berniat basa-basi, si Kakek mengayunkan kayu lagi, lebih agresif dan tanpa ampun. Setiap serangannya berhasil ditangkis Jervin.Energi orang tua itu tidak bisa diremehkan. Si Kakek belum juga menyerah, walaupun kekuatan tongkat Jervin membuatnya terjatuh beberapa kali. Dengan sisa-sisa usahanya, si Kakek menerjang Jervin hingga tongkat talinya terlempar jauh.Jervin tidak punya pilihan lain. Digenggamnya batang kayu si Kakek dengan tangan kosong, lalu sedetik kemudian kayu itu berubah menjadi pasir debu. Sambil bangkit, Jervin menepuk kedua telapak tangannya kemudian mengarahkannya ke depan sebagai pertahanan diri."Kau, si Tangan Merah!" seru si Kakek terkejut ketika melihat telapak tangan Jervin."Benar. Aku Jervin si Tangan Merah. Keturunan penyihir," balas Jervin dengan seringaian. Hampir tidak ada yang mengetahui identitas Jervin yang sebenarnya. Jervin selalu menyembunyikannya dengan baik karena jarang ada penduduk yang bersikap ramah pada penyihir.Tiba-tiba, sebuah sentakan keras menghantam sisi tubuh Jervin hingga pemuda itu terbanting ke tanah. Dia berbalik, mencari sumber serangan, tapi tidak menemukan apa pun. Ketika Jervin berputar lagi, dia menemukan sosok baru di samping si Kakek, mengenakan gaun sederhana dan sekepala lebih tinggi dari mereka."Sedang apa kau di pekaranganku?" geram sosok itu. Jervin mengenali jenisnya sebagai Penyihir Kutukan—penyihir yang hobi mengutuk. Kulitnya berwarna merah dan bersisik di beberapa tempat, terutama di area mata sehingga dia terlihat seperti memiliki wajah ular. Si Penyihir memelototi Jervin, tapi Jervin tidak akan terpengaruh sihirnya.Karena Jervin adalah keturunan makhluk yang sama dengannya."Dia si Tangan Merah, Putri Elena," jelas si Kakek pada si Penyihir."Kau orangnya." Si Penyihir tertegun. Dia melangkah mendekat, sehingga Jervin mengangkat kedua tangannya lebih tinggi lagi untuk melindungi wajahnya."Ya, aku adalah orang yang akan membunuhmu dan menyelamatkan Tuan Putri," kata Jervin mantap."Akulah si Tuan Putri! Elena Whitehaven dan ini Gallus, pengawal pribadiku." Dia menunjuk si Kakek.Tanpa mengendurkan pertahanannya, Jervin menelengkan kepala. Dia menatap wajah gadis—jika bisa disebut gadis—di depannya, mengingat-ingat kembali sosok Tuan Putri yang selama ini digambarkan seratus delapan puluh derajat berbeda dengannya."Kau berbohong. Aku tahu kau adalah Penyihir Kutukan," kata Jervin."Aku adalah putri yang dikutuk," jawab si Penyihir, yang katanya adalah Tuan Putri. Dia menunjuk wajahnya sendiri. "Penyihir yang mengutukku berbentuk persis seperti ini. Dia mengatakan kalau si Tangan Merah akan menyelamatkanku."Jervin hampir tidak percaya. Ternyata selama ini penyihir yang didesas-desuskan adalah Tuan Putri itu sendiri!Putri Elena mengangkat kedua tangannya sehingga telapak tangan mereka berhadapan. "Kemarilah, selamatkan diriku."Jervin mundur selangkah. "Dari mana aku bisa tahu bahwa kau adalah Tuan Putri asli atau penyihir yang berpura-pura? Kenapa tidak ada yang tahu bahwa Tuan Putri dikutuk?""Raja Whitehaven punya rahasia gelap yang disimpan baik-baik di dalam dinding istana," kata Gallus. "Demi memperoleh seorang anak, sang Raja meminta bantuan penyihir, dengan perjanjian bahwa ketika Putri Elena menginjak umur tujuh belas, Raja harus mengadakan pesta dan mengundang penyihir.""Sang Raja mengadakan pesta besar, tapi dia mengingkari janjinya karena tidak ingin ada penyihir buruk rupa yang menginjak istananya. Namun, dia tidak sadar bahwa dia sedang berhadapan dengan Penyihir Kutukan. Si Penyihir pun murka dan mengutuk Putri Elena sehingga memiliki rupa sepertinya. ""Raja pun tidak memiliki pilihan lain. Karena takut putrinya dikucilkan rakyat, dia membangun pondok di puncak gunung terpencil dan membiarkan Putri Elena tinggal sendiri selama bertahun-tahun lamanya. Penyihir yang mengutuk Putri Elena pun merasa kasihan, lalu dia memberi Putri Elena kekuatan penyihir juga dan berpesan kalau Putri Elena akan terbebas dari kutukannya jika mendapat uluran tangan dari si Tangan Merah.""Aku mengajukan diri menjadi pengawal pribadi Putri Elena, menjaganya dari gangguan makhluk buas dan berbagai macam manusia yang ingin menyakitinya. Itulah kenapa aku mengundang troll untuk mendiami gunung ini dan berharap dia menakutimu. Jika aku tahu kau adalah si Tangan Merah, tentu dengan cepat aku langsung membawamu ke sini.""Aneh sekali. Raja mengumumkan sayembara untuk membunuh penyihir di puncak gunung," kata Jervin."Itu adalah aku!" seru Putri Elena. "Tidak mungkin Ayah ingin membunuhku."Mendadak Jervin mulai merasa segalanya masuk akal. Sang Raja memang berniat melenyapkan putrinya yang dikutuk. Karena itulah dalam pengumuman, sang Raja hanya memberi perintah untuk membunuh sang Penyihir. Tidak ada petunjuk untuk membawa Tuan Putri pulang ke istana. Untuk membuktikannya, Jervin mengeluarkan pengumuman dari sakunya dan menyerahkan ke Putri Elena. Jervin memang menginginkan sepuluh ribu keping emas itu, tapi jika itu artinya harus membunuh sang Putri yang tidak bersalah, dia tidak bisa melakukannya.Setelah membaca pengumuman itu bersama Gallus, Putri Elena mundur dengan ketakutan. Kertas di tangannya terbakar oleh api merah."Tuan Putri," panggil Gallus. Dia bergerak untuk menyentuh Putri Elena, lalu segera menarik tangannya lagi saat merasakan energi yang amat panas dari kulitnya."Tidak!" jerit Putri Elena. Kedua matanya berkobar oleh api amarah, setiap tetesan air matanya yang jatuh berubah menjadi jarum besi yang tajam.Raungan panjang yang keluar dari mulut Putri Elena membuat berdiri bulu kuduk Gallus, bahkan juga Jervin. Rerumputan di bawah kakinya bergetar dan Jervin merasa seolah Gunung Merah akan terbelah dua.Sang Putri patah hati. Bersama tangisannya, dia menerobos gulita dan menuruni Gunung Merah. Gallus memanggil, mencoba menahan Putri Elena, tapi kekuatannya tidak cukup. Putri Elena mengutuk Gallus menjadi kelinci gunung.Jervin tahu betapa bahayanya kekuatan penyihir yang sedang marah. Maka dia mengikuti Putri Elena dari belakang, mengamati bagaimana Putri Elena menghanguskan pohon dan tanah yang dilewatinya. Bersama dengan itu, matahari bangkit dari tidurnya, turut memercikkan kobaran semangat ke setiap hentakan langkah Putri Elena.Di tengah perjalanan, Jervin kembali bertemu dengan troll yang masih terbungkus daun sebelumnya. Troll yang merasakan kehadirannya pun mulai meronta-ronta."Oh, Jervin si Penjelajah, tolong lepaskan aku, aku telah bersalah," pintanya."Aku akan melepaskanmu jika kau berjanji satu hal lagi," kata Jervin. "Bantu aku hentikan penyihir yang akan menyerang kerajaan.""Aku berjanji," kata Troll tanpa basa-basi."Jika kau berbuat curang lagi, aku akan mengutukmu." Jervin membebaskan Troll, lalu dengan segera daun ajaib itu kembali ke ukuran semula. Troll yang sudah bisa melihat jelas tangan Jervin langsung sadar kalau dia adalah keturunan penyihir.Tanpa membuang waktu lagi, mereka segera menuruni gunung, mengikuti jejak hangus dari Putri Elena. Troll mengangkat tubuh Jervin dan meletakkannya di bahu, sehingga dia bisa menyusul dengan langkah yang lebar.Seperti yang dicemaskan Jervin, mulai terjadi kekacauan di Kerajaan Whitehaven. Putri Elena menyerang serampangan, sementara rakyat berteriak ketakutan dan berhamburan keluar dari rumah mereka."Penyihir!" teriak salah satu orang. "Ada penyihir!"Putri Elena mengutuk orang itu menjadi tikus. Tidak hanya itu, dia melontarkan kutukan pada siapa saja yang menghalanginya. Ada yang berubah menjadi kurcaci, pohon, bahkan sofa. Jervin melompat dari bahu Troll, sebisa mungkin menghentikan sihir sang Putri. Sedangkan Troll membantu penduduk untuk mengungsi."Lari! Ada troll !" teriak seorang anak laki-laki yang baru saja dipindahkan Troll ke tempat aman. "Whitehaven diserang!"" Cih , tidak tahu terima kasih," kata Troll kesal.Putri Elena sudah tiba di depan istana. Betapa terkejutnya dia saat mendapati para prajurit menghadang dan ada ratusan tombak dan mulut meriam mengancamnya. Jervin hendak mengejar sang Putri, tapi prajurit lain menahannya."Aku adalah Putri Elena Whitehaven!" teriaknya.Para prajurit saling memandang. Orang-orang di sekitar yang mendengar mulai berbisik-bisik. "Tidak mungkin, Putri Whitehaven tidak seburuk itu.""Itu penyihirnya! Penyihir yang telah menculik putriku!" seru sang Raja. Suaranya membahana saat dia berjalan bersama puluhan pengawal yang berjaga ketat, lalu berhenti sambil menunjuk Putri Elena di depan. Semua rakyat yang menyaksikan memberi jarak, menonton dalam ketegangan."Itu tidak benar!" bantah Putri Elena. "Aku adalah putri yang dikutuk, lalu Ayah sengaja membiarkan orang-orang membunuhku!"Wajah sang Raja menjadi merah padam. "Bohong! Dasar penyihir licik! Kau telah membunuh Putri Elena dan kini mengaku-ngaku sebagai putriku. Aku tidak sudi! Tangkap dia!""Dia benar-benar adalah Tuan Putri," kata Jervin, memandang ke semua orang di sana. "Aku berhasil mencapai puncak gunung dan tidak ada siapa pun selain dia. Tuan Putri kita telah dikutuk menjadi penyihir.""Itu Jervin si Penjelajah!" seru pria pemilik bar yang pernah mendukungnya."Tidak, dia penyihir. Lihat tangannya.""Jervin adalah penyihir!""Tangkap si Penyihir!""Bakar dia!"Pekikan keras terdengar saat prajurit mulai melancarkan serangan. Putri Elena menyihir satu per satu tombak menjadi abu, lalu Troll turut membantu dengan menginjak meriam sampai penyet. Penduduk berlomba-lomba membuat obor dan melemparkannya ke arah Putri Elena, tapi dengan cekatan Jervin menghalaunya dengan tali.Pertarungan berlangsung sengit. Besi bertemu api. Tongkat dan pedang beradu. Sepuluh manusia mengelilingi Troll. Selang beberapa saat kemudian, tidak banyak prajurit yang tersisa lagi untuk bertarung. Mereka semua jatuh dan kalah. Troll kehabisan meriam untuk dihancurkan.Sang Raja mulai ketakutan. Dia menaiki kereta, bersiap kabur ke balik dinding istana, tapi Troll mengangkat kereta itu tinggi-tinggi."Turunkan aku, Dasar Raksasa Jelek!" perintah sang Raja.Troll menggeram, tidak terima dikatai jelek. Maka dia melempar kereta itu ke tanah, dan jeritan keras sang Raja mengakhiri pertempuran hingga terdengar dentuman yang keras."Ayah!" teriak Putri Elena. Dia berlari menghampiri sang Raja, lalu menyingkirkan reruntuhan kereta yang menimpanya tanpa kesulitan. Tetesan air mata merah pun jatuh, mengenai tubuh sang Raja yang tergeletak tidak bergerak di pangkuannya.Seluruh kerajaan menjadi hening. Rakyat menunduk dalam kebisuan, tidak ada yang berteriak atau berprasangka pada sang Penyihir lagi. Tangisan pilu dari sang Penyihir yang menyayat hati cukup untuk membuktikan bahwa dia adalah Putri Elena yang sebenarnya. Matahari pun bersembunyi di balik awan gelap, tidak tega menyaksikannya.Di tengah-tengah mereka, muncullah seorang penyihir dari pusaran udara kecil. Semua orang memandangnya heran karena penyihir itu memiliki bentuk fisik yang sama persis seperti Putri Elena sekarang. Ketika Putri Elena berdiri untuk menghadapi si Penyihir baru, mereka tampak seperti bercermin."Emosimu yang terlalu kuat telah memanggilku," kata Penyihir itu."Tolong selamatkan ayahku, Edena," pinta Putri Elena.Edena, si kembaran Putri Elena menggeleng prihatin. "Hanya kau yang bisa menyelamatkannya, tapi dengan begitu, kau akan menjadi Penyihir Kutukan selamanya dan tidak ada cara untuk kembali menjadi manusia.""Dengan segala hormat, Tuan Putri. Raja telah membuatmu dikutuk dan berencana membunuhmu. Dia tidak pantas mendapatkan pengorbananmu," kata Jervin."Ah, si Tangan Merah sudah tiba," kata Edena saat melihat Jervin, kemudian kembali menoleh pada sang Putri. "Kau memiliki pilihan lain, Sayang. Si Tangan Merah bisa mengembalikanmu ke manusia, tapi dengan begitu ayahmu tidak akan hidup lagi."Putri Elena termenung. Menjadi manusia lagi adalah keinginannya selama bertahun-tahun. Jervin memang benar, ayahnya membuatnya menjadi seperti ini, bahkan berpikir untuk menghabisi nyawanya. Menolong ayahnya berarti merelakan impian terbesarnya. Membiarkan ayahnya mati membusuk adalah cara balas dendam terbaik."Aku ...." Suara Putri Elena melemah. Semua orang penasaran, kira-kira apa yang akan dia pilih?"Aku bersedia menjadi Penyihir Kutukan," lanjut Putri Elena.Benar. Putri Elena punya sejuta alasan untuk mengabaikan ayahnya, tapi dia punya pilihan. Menjadi manusia yang menjalani hari dengan rasa dendam, atau tetap hidup sebagai penyihir menyeramkan demi menyelamatkan kehidupan lainnya. Sang Raja memang menginginkan dia mati, tapi bukan berarti Putri Elena juga harus berpikiran serupa.Edena tersenyum. Penyihir itu meminta Putri Elena mencabut sisik terbesar di wajahnya sendiri, kemudian menempelkan ke dahi sang Raja. Putri Elena menurutinya. Hal itu ternyata menguras energi Putri Elena, sehingga tubuhnya terjatuh lemas ke atas tanah, di samping sang Raja yang mulai sadar dan terbatuk.Sang Raja yang mengetahui dirinya diselamatkan Putri Elena pun mulai menangis. Dia merasa bersalah dan malu saat memeluk sang Putri yang lemah. "Oh, uhuk ... uhuk ! Elena, putriku, maafkan Ayah."Pemandangan itu membuat Jervin terpana. Dia tidak menyangka kalau Putri Elena akan menyelamatkan ayahnya, orang yang hampir saja membuat Jervin berniat membunuhnya demi kepingan emas. Jervin melangkah mendekati Putri Elena, lalu menatap wajah tulus nan cantik di balik sisik dan kulit merahnya. Kini dia paham jika Putri Elena tidak membutuhkan fisik manusianya.Jauh di dalam sana, Putri Elena tetaplah seorang putri.Jervin mengulurkan tangannya, yang segera disambut Putri Elena dengan sisa tenaganya. Keajaiban pun terjadi. Cahaya merah yang terang bersinar dari kedua telapak tangan mereka yang menyatu, hingga orang-orang harus melindungi mata dari silaunya. Sekarang, sosok besar yang bersalaman dengan Jervin sudah menyusut menjadi gadis muda dengan gaun lusuh kebesaran. Kulitnya berubah layaknya manusia normal, kecuali pada seluruh telapak tangannya yang berwarna merah.Putri Elena mengamati tubuhnya yang kembali seperti semula, tidak percaya apa yang terjadi. "Katanya aku akan menjadi Penyihir Kutukan selamanya?""Ya, persis seperti si Tangan Merah," kata Edena kalem.Begitulah, setelah Edena menghilang, Putri Elena bersama Jervin membereskan sisa kekacauan yang tercipta. Mereka mengembalikan orang-orang yang dikutuk sebelumnya ke bentuk semula, lalu memperbaiki bangunan yang rusak bersama Troll. Negeri Whitehaven sejak saat itu mulai hidup berdampingan dengan penyihir.Sementara Troll? Dia tetap di goa, mendapat mainan daun barunya, dan berjanji tidak akan makan manusia lagi, terutama sejak Putri Elena dan Jervin memerintah kerajaan.

SHATTVA DAN SHANTI
Folklore
19 Jan 2026

SHATTVA DAN SHANTI

Nun jauh di utara, terdapat sebuah kota kecil yang ditinggalkan tepat di kaki gunung. Sebagian besar bangunan kota itu masih kokoh dan beberapa sudah rusak termakan lumut. Ada kisah mistis menyelimuti kota itu, yang membuat orang-orang tidak berani mendekat ke sana. Penduduk sekitar menyebutnya kota hantu. Ada juga yang mengatakan kota itu dikutuk oleh Dewa. Akan tetapi, ketika ada seseorang yang memiliki nyali untuk memasukinya, semua yang sudah dikatakan penduduk sekitar ternyata keliru.Di perbatasan, terdapat gapura tua berdiri di jalan setapak. Hanya saja, itu bukanlah gapura biasa. Ada benteng sihir tidak kasatmata yang mengelilingi seluruh penjuru kota, menyembunyikan keramaian kota yang tidak bisa dilihat manusia luar. Kota itu bernama Magi. Kota Magi seperti kota-kota lain pada umumnya. Ada bangunan, kendaraan yang berhilir mudik di jalanan, lampu-lampu, dan penduduk. Namun, satu hal yang membedakan kota Magi dengan kota di dunia luar. Sihir.Hampir seluruh penduduk kota Magi memiliki sihirnya masing-masing. Seluruh keseharian mereka tidak lepas dari mantra dan pengendalian. Memasak dengan sihir, mencuci pakaian dengan sihir, dan bahkan kendaraan penduduk kota Magi berupa sapu dan karpet terbang. Meskipun penduduk kota Magi juga manusia, mereka berbeda dengan manusia dari dunia luar. Mereka menganggap sihir adalah segalanya. Siapa pun yang tidak bisa menggunakan sihir akan dianggap lemah dan harus pergi dari kota ini." Yajuh! " seru seorang gadis dalam keheningan kamarnya. "Tidak bisa. Kalau begitu, agni! Kenapa tidak muncul api? Hm ... mungkin api bukan sihir khususku. Baiklah, aku akan coba ... nirada! Mungkin bukan air. Darani! Tidak berhasil. Oh, oh, coba kalau ... bayu! Ah, kenapa aku tidak bisa menggunakan sihir?""Apa yang kamu lakukan di larut malam begini, Sara?"Suara lembut penuh keibuan itu menyentakkan gadis bernama Sara. Kedua mata Sara membulat sempurna begitu melihat ibunya berdiri di ambang pintu dan memperhatikannya sejak tadi dengan seulas senyum terpahat halus di wajahnya. "Ibu? Sejak kapan Ibu di sini?"Ibu mengetukkan jari telunjuknya di dagu tanpa melunturkan senyuman. "Sejak anak kesayangan Ibu mengucapkan mantra pertamanya."Wajah Sara berubah takut. Ibunya pasti sudah berada di sana sejak tadi, mengamatinya berlatih mantra. Habislah Sara. Ibu pasti marah setelah ini. "Maafkan aku, Bu. Seharusnya aku sudah tidur sejak tadi. Ibu pasti marah, kan, karena Sara tidak menuruti perkataan Ibu."Alih-alih memarahi anak semata wayangnya, Ibu Sara berjalan ke arah kasur dan duduk di samping Sara. Tangannya mengusap lembut puncak kepala Sara. "Tentu tidak, Sayang. Ibu tidak pernah marah pada Sara karena belum tidur. Ibu hanya bertanya, apa yang sedang Sara lakukan? Kenapa berlatih mantra di larut malam?"Sara bergeming. Dia seperti setengah enggan mengatakan alasannya."Sara, sayangku, kalau ada sesuatu yang ingin Sara ceritakan, ceritakan saja. Cerita apa pun akan Ibu dengarkan."Sara mengambil napas dalam-dalam sebelum bercerita. "Apa Ibu pernah merasa gagal?""Kenapa Sara bertanya begitu?" tanya Ibu kebingungan."Karena Sara satu-satunya orang yang tidak bisa menggunakan sihir," jawab Sara. "Sejak umur tujuh tahun hingga sekarang, sebelas tahun, Sara satu-satunya orang di kelas yang tidak bisa menggunakan sihir. Semua orang, bahkan guru-guru, selalu mengatakan, kalau Sara masih belum bisa menggunakan sihir sampai berumur enam belas, Sara harus pergi ke dunia luar dan tidak boleh kembali lagi. Sara gagal."Air mata sudah tidak bisa lagi terbendung di pelupuk mata Sara, kemudian membanjiri pipinya dalam sekian detik. Isak tangis merebak di antara kesunyian malam itu. Mendengar anak gadisnya menangis, Ibu mendekapnya penuh kasih sayang. "Tidak, Sara. Itulah yang Ibu suka darimu. Kau selalu berusaha semampumu meskipun kau tahu itu sulit. Ibu yakin, suatu saat nanti kau bisa menggunakan sihir. Hanya mungkin, kau butuh waktu lebih lama daripada yang lain. Sara harus tahu. Apa pun yang terjadi nanti, Ibu akan selalu mendukungmu. Jangan sedih lagi, ya?"Mendengar Ibu mengatakan itu, Sara lantas membalas dekapan ibunya. "Terima kasih, Ibu. Sekarang Sara sudah merasa lebih baik.""Ibu senang mendengarnya. Sekarang, Sara harus tidur karena besok Sara harus sekolah," ucap Ibu sembari merapikan tempat tidur buah hati tercintanya."Apa Ibu pernah tidak bisa menggunakan sihir?" tanya Sara penasaran."Tentu saja, Sayang. Semua orang pernah tidak bisa menggunakan sihir," jawab Ibu."Menurut Ibu, apa yang membuat seseorang tidak bisa menggunakan sihir?" Sara bertanya lagi.Dengan senyuman melengkung indah di wajahnya, Ibu menjawab, "Sara, untuk bisa menggunakan sihir, seseorang harus bisa melepaskan ketakutannya. Jangan biarkan ketakutan menguasaimu atau kau akan kehilangan kendali.""Tapi Sara sudah cukup berani. Kenapa Sara tetap tidak bisa menggunakan sihir?""Selain berani, seorang penyihir yang tangguh harus terus berusaha dan berlatih. Seperti yang sedang Sara lakukan sekarang karena tanpa itu, Sara tidak akan bisa menjadi penyihir tangguh.""Seperti Ayah?" Mata Sara berbinar.Ibu mengangguk mantap. "Seperti Ayah."Sara tersenyum lebar. "Kalau begitu, Sara akan terus berlatih supaya bisa seperti Ayah. Jadi, Sara bisa membuat Ayah bangga setelah pulang dari tugas di perbatasan nanti."Mendengar anaknya kembali ceria, Ibu mengelus puncak kepala Sara dengan lembut tanpa melepaskan senyuman paling tulusnya. "Sara memang anak kebanggaan Ayah dan Ibu. Selalu.""Ibu," panggil Sara tiba-tiba."Hm?""Sara mau ditemani Ibu sampai Sara tidur.""Tentu saja, Sayang."***Sekolah Sara benar-benar ramai. Tentu saja karena ini sudah memasuki jam istirahat. Hampir semua orang tidak berada di kelas. Beberapa murid berkejaran dengan sapu terbang di lapangan. Ada yang sedang berlatih sihir dengan guru mereka di pinggir lapangan. Ada juga yang memilih untuk menikmati suasana sambil memakan bekal, seperti yang tengah Sara lakukan sekarang. Sara lebih senang mengamati daripada ikut bermain bersama teman-temannya. Itu karena memang tidak ada yang mau bermain dengannya. Pikiran mereka persis seperti yang dipikirkan sebagian besar penduduk kota Magi, yang menganggap sihir adalah segalanya."Masih berharap bisa menggunakan sihir, Sara?" tanya seseorang dengan nada mengejek.Sara menengok ke asal suara dan mendapati tiga orang gadis seusianya berdiri menantang. Sara tahu siapa yang melemparkan pertanyaan tadi. Siapa lagi kalau bukan Nirbita, anak perempuan paling angkuh yang pernah Sara kenal di kota Magi. Setiap hari Nirbita selalu mengejek Sara karena tidak bisa menggunakan sihir. Bahkan terkadang dia menggunakan sihirnya untuk mengganggu Sara. Keluarga Nirbita terkenal dengan sihir agni. Seluruh anggota keluarga Nirbita sangat menguasai sihir agni. Di kota Magi, sihir agni hanya bisa dikendalikan orang-orang tertentu. Hal itu membuat sihir agni termasuk sihir istimewa."Tidak punya kegiatan lain, Nirbita?" tanya Sara tidak berminat. Menurut Sara, meladeni Nirbita adalah salah satu hal yang paling sia-sia."Oh, tentu saja aku punya kegiatan lain," balas Nirbita dengan nada angkuhnya. "Aku dan teman-temanku akan berlatih sihir di lapangan. Bagaimana dengan latihanmu, Sara? Sudah bisa menggunakan satu mantra atau justru masih gagal seperti biasanya?""Latihanku sangat baik dan terima kasih sudah mengingatkan. Aku harus latihan juga setelah ini," jawab Sara penuh percaya diri."Selamat mempersiapkan kepergianmu ke dunia luar, Sara. Aku dan teman-temanku sangat tidak sabar menantikan saat itu." Nirbita menarik langkah ke arah lapangan diikuti dua temannya.Ketika Nirbita dan dua temannya sudah berada di lapangan, Sara membuka buku yang sedari tadi dipangkunya. Itu buku tentang sihir, buku yang selalu Sara baca di waktu luang. Sara ingat dulu Ibu pernah berkata bahwa Sara harus tahu dasar-dasar pengendalian sihir, selain berlatih memperagakannya. Jadi, Sara pikir tidak ada salahnya kalau dia membaca dulu sebelum bisa menggunakan sihir. Kalau Sara nantinya bisa menggunakan sihir—semoga saja—setidaknya dia sudah bisa mengendalikannya.Jemari Sara membolak-balikkan lembar demi lembar di buku itu. Tidak terasa bahwa selama ini dia sudah membaca hampir sebagian buku setebal kamus itu. Sampailah Sara pada halaman berjudul "Efek Sihir Tanpa Pengendalian". Mata Sara mengikuti kata demi kata di setiap lembar buku itu, menandaskan rasa penasaran yang tidak terbendung dalam otaknya. Di situ tertulis bahwa siapa pun yang menggunakan sihir tanpa pengendalian, maka dia akan membangkitkan Sattva. Dahi Sara tertekuk. Apa dan siapa itu Sattva? begitu pikir Sara bertanya-tanya. Sara membuka lembar baru. Pupilnya membulat sempurna ketika Sara membaca setiap kata dalam lembar itu."Kekacauan?" tanya Sara. "Apa hubungannya dengan pengendalian?"Sara membaca lagi lembar itu.Dalam sihir, kita mengenal beragam mantra, yang juga memiliki beragam fungsi. Namun, sejatinya, terdapat dua sihir di dunia ini: Shanti dan Sattva. Shanti adalah sihir yang membawa kedamaian, sedangkan Sattva membawa kekacauan. Meskipun begitu, kita tidak dapat menghilangkan salah satu dari kedua sihir itu. Di dunia ini, sihir tidak hanya membutuhkan shanti, tetapi juga Sattva. Mereka saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan. Mereka adalah sihir dari setiap mantra yang diucapkan dan untuk mengucapkan mantra, maka dibutuhkan pengendalian. Siapa pun yang menggunakan sihir tanpa pengendalian dan menghancurkan Tula, maka dia akan membangkitkan Sattva. Sattva akan membawa petaka, mengacaukan keseimbangan dunia sihir, lalu merenggut shanti dari dunia ini. Hanya penyihir yang memiliki pengendalian yang bisa mengembalikan semua."Wow," ucap Sara setelah membaca halaman itu, "ternyata sihir itu tidak sesederhana yang aku tahu. Kupikir sihir hanya sebatas mengucapkan mantra dan tada ! Keajaiban muncul, tapi rupanya sihir juga butuh pengendalian."Sara menatap ke arah menara di seberang sekolah. Itulah Tula. Sebuah menara biasa yang di puncaknya terdapat sepasang layangan berwarna hitam dan putih yang terus berputar bak roda. Ibu pernah mendongengkan Sara tentang Sattva dan Shanti sebelum tidur. Penduduk Magi mengibaratkan kedua layangan itu sebagai Sattva dan Shanti—sihir yang sesungguhnya.Pandangan Sara kembali mengarah ke lapangan. Semua temannya masih melakukan hal yang sama seperti sebelum dia membaca buku. Namun, hanya satu orang yang menarik perhatian Sara. Nirbita. Mulut gadis itu berkomat-kamit mengucapkan mantra sebelum telunjuk Nirbita mengarah ke cakrawala dan menyambarkan petir."Mantra braja," kata Sara lirih."Kenapa Sara?" tanya Nirbita yang ternyata mengetahui Sara memperhatikannya. "Kau terkejut melihatku bisa menggunakan mantra braja?""Bagaimana kau bisa menggunakan sihir tingkat tinggi?" tanya Sara penasaran.Nirbita tertawa meledek. "Aku tidak sepertimu, Sara. Tidak hanya membaca buku kuno, tapi aku juga mempraktikkannya. Omong-omong, aku bisa membantumu belajar menggunakan sihir. Braja! "Petir menyambar dengan ganas setelah Nirbita mengucapkan mantra braja, tetapi untungnya Sara bisa menghindari petir itu. Baru saja Sara bisa mengembuskan napas lega, petir yang kedua datang lagi. Kali ini lebih ganas daripada serangan sebelumnya."Nirbita, hentikan!" teriak Sara sebelum dia menghindar lagi dari serangan petir Nirbita."Kenapa Sara? Latihan kita baru saja dimulai. Braja! " seru Nirbita lantang dan terus menyerang Sara dengan sihir petirnya.Akan tetapi, ketika Nirbita mengucapkan mantra braja yang terakhir, sihir petirnya menyambar menara Tula dan mengenai layangan putih di puncak menara. Langit mendadak berubah gelap. Mendung dan gemuruh guntur menghantui kota Magi. Shanti telah hancur, menandakan pertanda buruk akan segera datang—Sattva."Oh, tidak," ucap Nirbita.Sattva muncul dari bawah tanah seperti monster yang siap memorakporandakan dunia. Jeritannya menakutkan dan tampangnya persis seperti yang ada di menara Tula. Sattva memelesat ke jantung kota dan menghancurkan semua yang dilewatinya. Sihir-sihir para penjaga berkilat di cakrawala, berusaha mengenai Sattva. Akan tetapi, mantra itu tidak cukup kuat untuk menghentikannya. Alih-alih melemahkan Sattva, justru mantra itu membuatnya makin kuat. Sattva melancarkan serangan balik dengan lebih agresif, menghancurkan gedung-gedung, dan melukai orang-orang di sekitar.Kehadiran Sattva mencuri perhatian kepala sekolah Sara, Profesor Adhigana, yang terkenal akan kehebatannya dalam sihir. Guru-guru berdiskusi, membicarakan langkah yang tepat untuk mengatasi situasi ini."Bawa semua murid ke tempat yang aman. Jangan ada satu pun yang tertinggal," titah Profesor Adhigana. "Profesor Bhadrika dan Profesor Harsa, bantu saya untuk melindungi sekolah dan mengadang Sattva."Guru-guru mulai menggiring semua murid untuk masuk ke gedung sekolah. Tubuh Sara berkali-kali terdorong, tetapi tidak membuat pandangan Sara teralih. Yang dikatakan buku itu sudah terjadi. Siapa pun yang menggunakan sihir tanpa pengendalian dan menghancurkan Tula, maka dia akan membangkitkan Sattva . Sattva sudah di sini dan Shanti sudah direnggutnya. Hanya ada kegelapan di sekeliling kota Magi. Sara berpikir lagi, mengingat-ingat apa yang ditulis dalam buku itu. Hanya penyihir yang memiliki pengendalian yang bisa mengembalikan semua . Profesor Adhigana adalah penyihir terkuat di kota Magi. Dia terkenal sebagai penyihir tangguh dan memiliki pengendalian yang kuat. Bahkan dia salah satu orang yang bisa menggunakan sihir agni. Mungkin saja, Profesor Adhigana yang dimaksud buku itu , begitu pikir Sara.Dari jendela gedung sekolah, Sara melihat Profesor Adhigana, Profesor Bhadrika, dan Profesor Harsa sedang mengucapkan mantra pelindung. Sihir-sihir menyatu dan mulai membentuk kubah pelindung yang membentengi sekolah. Jauh di luar sana, jeritan Sattva terdengar melengking menakutkan. Benar saja, Sattva muncul dari balik gedung tingkat dan meluncur ke arah sekolah. Tubuhnya bersinar seolah menandakan bahwa serangan berikutnya akan segera datang. Namun, sebelum itu terjadi, Profesor Adhigana sudah melontarkan mantra sihirnya. " Parusa! "Serangan itu berhasil mengenai Sattva. Alih-alih mengalahkannya, justru Sattva masih bisa bangkit dan mengempaskan ketiga profesor itu sekaligus sebelum mereka membalas kembali serangan Sattva. Para murid menjerit melihat pertarungan itu, tetapi itu tidak membuat Sara tinggal diam. Dia harus mencari cara untuk mengalahkan Sattva. Sara kembali membuka buku itu dengan tergesa-gesa, berharap dia bisa segera menemukan jawabannya.Perhatian Sara terpaku pada salah satu halaman di buku itu, sebuah tulisan yang bisa menyelamatkan kota Magi.Hanya penyihir yang memiliki pengendalian yang bisa mengembalikan semua dengan mantra brahma ."Mantra itu terlalu tinggi tingkatannya. Tidak ada seorang pun yang bisa melakukannya, termasuk para profesor. Hanya orang yang memiliki pengendalian sangat kuat yang bisa," kata Sara panik. Dia mencoba untuk tenang dan tetap berpikir meskipun situasi tidak memungkinkan. Namun, dia teringat perkataan ibunya." Sara, untuk bisa menggunakan sihir, seseorang harus bisa melepaskan ketakutannya. Jangan biarkan ketakutan menguasaimu atau kau akan kehilangan kendali ."Mungkinkah? batin Sara.Tanpa perlu pikir panjang lagi, gadis kecil itu berlari keluar kelas menuju lorong hingga membawanya ke lapangan. Sara sudah berada di luar, menghirup udara yang lengang tanpa disesaki banyak orang, dan menyaksikan langsung Sattva yang kini berada di hadapannya. Sara mengedarkan pandang dan menemukan batu yang berada beberapa langkah di depannya. Dengan penuh keberanian, Sara mengambil batu itu, kemudian melemparkannya ke arah Sattva sebelum ia berhasil menyerang kembali para profesor. Sattva menjerit kesakitan ketika batu itu menghantam tubuhnya. Ia menemukan Sara yang sudah siap untuk melawannya detik ini juga." Sattva, kemari dan lawan aku! " seru Sara lantang.Sattva meluncur ke arah Sara begitu gadis itu berseru melawannya. Orang-orang di sekitar menyuruhnya untuk lari, tetapi Sara tetap berada di sana. Gadis itu tetap berdiri dan membiarkan Sattva mendekatinya. Dia menghirup napas dalam-dalam, melepaskan semua ketakutannya. Ketika Sattva sudah siap melancarkan serangan, Sara mengacungkan jari ke arahnya. " Brahma! "Kilat menyambar mengenai Sattva dengan cepat, membuat tubuhnya hancur berkeping-keping. Sattva telah kalah dan kegelapan yang menyelimuti kota Magi perlahan hilang digantikan cahaya mentari. Seluruh penduduk bersorak gembira. Semua orang keluar dari persembunyian mereka, mendatangi Sara, dan mengangkatnya layaknya pemenang.

Menampilkan 24 dari 830 cerita Halaman 2 dari 35
Menampilkan 24 cerita