Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
1144
Genre Romance
230
Genre Folklore
228
Genre Horror
228
Genre Fantasy
230
Genre Teen
228
Cerita Dongeng Anak Pendek : Asal Mula Dusun Senaning dan Dusun Selat
Pada zaman dahulu kala di daerah Jambi ada sebuah negeri yang diperintah oleh Sutan Mambang Matahari. Sutan mempunyai seorang anak bernama Tuan Muda Selat dan anak perempuan bernama Putri Cermin Cina. Tuan Muda Selat sangat tampan, namun ceroboh. Putri Cermin Cina sangat cantik dan penyayang.Suatu hari, datang seorang saudagar bernama Tuan Muda Senaning. Setelah bertemu Putri Cermin Cina, saudagar itu jatuh hati. Tuan Muda Senaning segera mengungkapkan isi hatinya. Gayung bersambut, sang Putri menerima ungkapan hatinya.Tuan Muda Senaning segera menghadap Sutan Mambang. Sutan Mambang Matahari menerima lamaran tersebut. Tapi, Sutan Mambang Matahari tidak bisa segera melangsungkan pernikahan mereka karena harus berlayar selama tiga bulan.Suatu hari, Tuan Muda Senaning dan Tuan Muda Selat asyik bermain gasing di halaman istana.Putri Cermin Cina melihat keasyikan tersebut. Kehadiran Putri Cermin Cina terlihat oleh kedua orang itu. Suatu ketika, gasing mereka beradu keras. Akibatnya, kedua gasing itu mengenai kening Putri Cermin Cina. Tak lama setelah itu, sang Putri meninggal dunia. Tuan Muda Senaning merasa bersalah atas kematian Putri Cermin. Ia pun jatuh sakit, tak lama kemudian ikut meninggal.Hati Tuan Muda Selat kacau balau. Ia segera memakamkan Putri Cermin Cina di tepi sungai, sedangkan Tuan Muda Senaning di seberang sungai. Sekarang, tempat itu dikenal dengan nama Dusun Senaning.Karena merasa bersalah, Tuan Muda Selat pergi meninggalkan negerinya. Ia pun tinggal di suatu tempat dan sekarang dikenal sebagai Kampung Selat.
Cerita Betawi : Legenda Si Jampang
Jampang adalah lelaki Betawi yang hidup pada masa Indonesia masih dijajah Belanda. Ia dikenal tinggi ilmu silatnya. Piawai pula memainkan golok untuk senjata. Sejak masih muda usianya, Si Jampang suka merampok. Hingga kemudian ia menikah, tetap juga kebiasaannya merampok itu dilakukannya. Bahkan ketika istrinya meninggal dunia dan anaknya telah beranjak remaja.Meski dikenal sebagai perampok, Si Jampang tidak ingin anaknya itu mengikuti jejaknya. Ia menghendaki anaknya menjadi ahli agama. Maka, hendak dimasukkannya anaknya itu ke pesantren. Anak Si Jampang bersedia masuk pesantren dengan syarat ayahnya itu menghentikan tindakan buruknya. “Masak anaknya mengaji di pesantren tapi babehnya kerjaannya merampok? Apa kata orang nanti, Be?”Si Jampang hanya tertawa mendengar ucapan anaknya. Pada suatu hari Si Jampang mengunjungi Sarba, sahabat Iamanya. Ia telah lama tidak berkunjung. Sama sekali tidak disangkanya jika sahabatnya itu telah meninggal dunia.Ia ditemui Mayangsari, istri mendiang Sarba. Mayangsari bercerita, ia dan suaminya itu dahulu berziarah ke Gunung Kepuh Batu. Mereka berdoa di tempat itu dan memohon agar dikaruniai anak. Sarba berjanji,jika doanya dikabulkan, ia akan menyumbang dua ekor kerbau. Doa mereka akhirnya dikabulkan Tuhan. Mayangsari hamil dan akhirnya melahirkan seorang anak lelaki yang mereka beri nama Abdih. Ketika Abdih beranjak remaja, Sarba meninggal dunia. “Kata orang, suami aye’ itu meninggal karena lupa pada janjinya yang akan menyumbang dua ekor kerbau.”Mendapati Mayangsari telah menjanda sementara dirinya juga telah menduda, Si Jampang lantas melamar Mayangsari. Namun, Mayangsari menolak dengan kasar pinangan Si Jampang. Si Jampang yang sakit hati lalu mencari dukun untuk mengguna-gunai Mayangsari. Dengan bantuan keponakannya yang bernama Sarpin, didapatkannya dukun itu. Pak Dul namanya, seorang dukun dari kampung Gabus. Si Jampang lantas mengguna-gunai Mayangsari dengan guna-guna dari Pak Dul.Mayangsari jadi gila setelah terkena guna-guna. Ia sering berbicara dan tertawa sendiri. Abdih yang sangat prihatin pun berusaha mencari cara untuk menyembuhkan kegilaan yang dialami ibunya. Abdih lantas mencari dukun. Kebetulan dukun yang ditemuinya adalah Pak Dul dari kampung Gabus hingga Pak Dul dapat dengan mudah melepaskan gunaguna yang mengena pada diri Mayangsari.Si Jampang lantas menemui Abdih dan menyatakan minatnya untuk memperistri ibu Abdih itu.“Aye tidak menolak pinangan Mang’ Jampang untuk ibu aye, tapi aye minta syarat, Mang,” jawab Abdih.“Syarat apa yang kamu minta?”“Aye minta sepasang kerbau untuk mas kawinnya, Mang,”Si Jampang menyanggupi, meski sepasang kerbau bukan perkara yang gampang untuk didapatkan Si Jampang. Si Jampang berusaha memikirkan cara untuk mendapatkan sepasang kerbau. Teringatlah ia pada Haji Saud yang tinggal di Tambuh. Haji Saud sangat kaya, namun sangat kikir. Si Jampang lantas menghubungi Sarpin dan mengajak keponakannya itu merampok rumah Haji Saud.Rupanya, rencana perampokan itu telah diketahui Haji Saud. Haji Saud telah menghubungi polisi. Para polisi segera bersiaga di sekitar rumah Haji Saud. Maka, ketika Si Jampang dan Sarpin yang mengenakan baju hitam-hitam itu datang hendak merampok, para polisi segera mengepungnya. Si Jampang ditangkap dan dipenjarakan. Ia kemudian dijatuhi hukuman mati.Kematian Si Jampang disambut gembira para tauke dan tuan tanah karena merasa terbebas dari keonaran yang dilakukan Si Jampang. Namun, kematian Si Jampang ditangisi rakyat miskin. Meski dikenal selaku perampok, namun Si Jampang banyak memberikan bantuannya kepada mereka. Kebanyakan Si Jampang membagi-bagikan hasil rampokannya itu kepada mereka yang membutuhkan. Bagi rakyat miskin, Si Jampang adalah sosok pahlawan.Pesan moral dari kumpulan cerita betawi : legenda si jampang adalah menegakkan kebenaran memang berat. Meski demikian hendaklah kita senantiasa menegakkan kebenaran karena kebenaran adalah sesuatu yang akan dikenang sepanjang zaman.
Cerita Dongeng Menjelang Tidur dari Jambi : Legenda Puti Kusumba
Alkisah pada masa lampau di Jambi, hiduplah sepasang suami istri yang belum dikaruniai anak.Perkawinan mereka yang telah berlangsung cukup lama belum juga mendapat tanda tanda akan hadirnya seorang anak. Meski demikian, pasangan suami istri itu tak putus asa. Mereka terus berupaya dan berdoa.Cerita Dongeng Menjelang Tidur dari Jambi Puti KusumbaCerita Dongeng Menjelang Tidur dari Jambi Puti KusumbaPada suatu malam, pasangan suami istri itu mengalami mimpi yang sama. Mereka bermimpi didatangi seorang kakek yang tak mereka kenal.“Bila kalian ingin memiliki anak, carilah rebung yang dililit ular sawah”, kata si kakek. “Masaklah rebung itu dan makanlah. Niscaya apa yang kalian dambakan akan segera terwujud”, tambahnya lagi. Setelah berkata demikian si kakek itupun pergi.Keesokan harinya pasangan suami istri itu saling menceritakan mimpinya masing masing. Mereka merasa aneh, mengapa bisa mengalami mimpi yang sama. Mereka pikir pastilah ini pertanda baik. Mereka memutuskan untuk mengikuti petunjuk si kakek.Ketika hari mulai terang, berangkatlah mereka menuju ke pinggir hutan yang banyak ditumbuhi pohon bambu. Rebung merupakan tunas bambu yang masih muda dan biasa dijadikan sayur sebagai pelengkap makan nasi.Begitu sampai, mereka segera mengamati satu persatu rebung yang ada sambil berjalan menunduk. Mereka terus mencari rebung yang dililit ular sawah.Tak berapa lama kemudian, pasangan suami istri itu menemukan seekor ular sawah yang sedang melilitikan tubuhnya pada serumpun rebung. Hati mereka melonjak kegirangan karena menemukan apa yang cari.“Sebaiknya kita bicara saja pada ular sawah ini apa tujuan kita kesini”, kata sang suami pada istrinya. Sang istri mengangguk setuju.Sang suami segera menceritakan mimpinya kepada ular sawah. Tak disangka, ular sawah itu ternyata bisa bicara layaknya seorang manusia.“Bila kau membutuhkan rebung itu, ambilah”, kata ular sawah. “Tapi aku ingin membuat perjanjian terlebih dulu denganmu”, tambah si ular sawah sambil mulai merenggangkan lilitannya pada rebung.“Perjanjian apa yang kau maksud ?”, tanya sang suami penasaran. Ular sawah itu mulai merayap mendekatinya.“Aku ingin kau berjanji untuk menyerahkan anakmu padaku jika ia perempuan. Jika anakmu laki laki maka kau berhak memilikinya”, kata ular sawah itu sambil mengangkat kepalanya menatap sang suami.Sepasang suami istri itu terkejut mendengar apa yang dikatakan ular sawah. Mereka tak menyangka ular sawah itu mengajukan syarat yang sungguh berat. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya sang suami menyetujui kesepakatan yang diajukan ular sawah.“Baiklah, kami akan menyerahkan anak kami padamu jika ia perempuan..”, kata sang suami pelan. “Kami akan menyerahkannya ketika ia berumur tujuh tahun”, tambahnya sambil menatap ular sawah.Meski terasa sangat berat, keinginan memiliki anak yang begitu kuat membuatnya memutuskan untuk setuju. Sang istripun tak punya pilihan. Ia sependapat dengan suaminya.Pulanglah sepasang suami istri itu membawa rebung seperti yang dimaksud si kakek. Begitu tiba di rumah sang istri langsung memasaknya dan menyantapnya bersama sang suami. Waktu terus berjalan, hari berlalu. Pada suatu pagi sang istri merasakan ada perubahan pada dirinya. Ia mulai mengandung.Tak terasa tibalah saatnya sang istri melahirkan jabang bayi. Kegembiraan mereka akan kehadiran anak yang ditunggu mendatangkan kebahagiaan dan kesedihan sekaligus.Mereka gembira karena harapan untuk memiliki seorang anak telah terwujud. Namun demikian pasangan suami istri itu juga merasakan kesedihan manakala mengetahui anak mereka perempuan. Mereka teringat akan kesepakatan yang telah dibuat dengan ular sawah tempo hari.Bayi perempuan itu diberi nama Puti Kusumba. Ia tumbuh menjadi seorang anak perempuan yang lucu dan menggemaskan. Ayah dan ibunya semakin resah karena kini Puti Kusumba telah berumur tujuh tahun. Tibalah saatnya anak itu diserahkan kepada ular sawah.Karena tak sanggup memenuhi janjinya, sepasang suami istri itu bermaksud mengingkarinya. Mereka mengurung Puti Kusumba di dalam rumah dan tak pernah ditinggalkan seorang diri. Mereka takut sekali jika ular sawah datang dan membawa pergi putri yang sangat mereka cintai.Pada suatu ketika, sang suami hendak pergi berlayar meninggalkan pulau tempat tinggal mereka. Sebelum berangkat sang suami berpesan pada istrinya agar tak membawa Puti Kusumba keluar rumah walau sekejap.“Jagalah Puti baik baik. Jangan sampai ular sawah itu punya kesempatan untuk mengambilnya”, kata sang suami dengan nada khawatir. Sang suami sebenarnya enggan meninggalkan istri dan anaknya sendirian, namun apa daya, ia harus mencari nafkah.Beberapa hari setelah kepergian suaminya, sang istri membawa Puti Kusumba mandi ke sungai. Sang istri lupa akan pesan suaminya. Ketika keduanya tengah asyik bermain air sungai, tiba tiba datang ular sawah dan mengangkat Puti Kusumba.“Tolong bu…. tolong…”, teriak Puti Kusumba panik. Sang ibu tak kalah paniknya. Ia segera menjerit jerit minta pertolongan. Namun sayang, tak ada seorangpun di dekat mereka. Ular sawah itu membawa Puti Kusumba pergi dengan cepatnya.Ular sawah membawa Puti Kusumba ke sebuah tebing yang menjorok ke laut. Puti Kusumba tak dapat berbuat apa apa. Gadis kecil itu hanya duduk menangis sambil menatap perahu perahu nelayan yang lalu lalang dibawah tebing. Ingin sekali ia berteriak minta tolong, namun bayangan dimakan ular sawah membuatnya mengurungkan niatnya. Ia hanya bisa berharap ayahnya lewat disitu dan menolongnya.Sehari hari Puti makan buah buahan yang dibawakan ular sawah untuknya. Suatu hari ular sawah datang menghampiri Puti Kusumba dan bertanya,“sebesar apakah hatimu gadis kecil ?”, tanyanya suatu kali. “Sebesar jeruk..”, jawab Puti Kusumba sambil menahan tangis.Beberapa hari kemudian ular sawah datang lagi dan bertanya padanya,“sebesar apa hatimu sekarang gadis kecil ?”tanyanya sambil membawakan Puti Kusumba buah buahan.“Sebesar mangga..”, jawab Puti Kusumba. Ia berharap ular sawah itu segera pergi meninggalkannya. Ia sungguh ketakutan berdekatan dengan ular itu.Setiap hari Puti Kusumba senantiasa memandang kebawah tebing. Ia berharap ayahnya lewat disitu. Suatu hari ketika tengah melamun, Puti Kusumba dikejutkan oleh suara ular sawah yang tiba tiba sudah berada dikampingnya.“Hai gadis kecil, sudah sebesar apa hatimu sekarang ?”, tanya ular sawah dengan suara keras. Puti Kusumba kembali menangis ketakutan.“Sebesar kelapa ”, jawabnya di tengah isak tangisnya.Ular sawah gembira sekali mendengar jawaban Puti Kusumba.“Hhhmmmm…sudah saatnya berpesta nanti malam..”, pikirnya senang. Ular sawah berniat mengundang kesepuluh ekor ular temannya untuk beramai ramai menyantap Puti Kusumba. Melihat ular sawah yang menyeringai ke arahnya, Puti Kusumba menangis semakin keras. Ia tahu kalau tak lama lagi dirinya akan disantap ular sawah.Hari mulai senja ketika Puti Kusumba melihat sebuah perahu yang berada tak jauh dari tebing. Ia mengamati sosok laki laki di atasnya dengan seksama. Ia merasa mengenali sosok yang tengah mendayung di atas perahu itu. Dugaannya benar. Ayahnya yang tengah melaju di atas perahu itu sebentar lagi lewat di dekatnya.Puti Kusumba berteriak sekeras kerasnya.“Ayah….ayah…tolong Puti…”, teriaknya berkali kali. Sang ayah terkejut mendengar suara anak perempuannya berteriak minta tolong. Setelah memperhatikan keadaan sekeliling, sang ayah akhirnya menemukan tempat anaknya berada. Ia melihat Puti Kusumba tengah melambai lambaikan tangannya dari atas tebing sambil berteriak teriak.Sang ayah terkesiap. Ia memastikan bahwa anaknya itu tengah disandera ular sawah. Tak mau membuang waktu, ia langsung mendayung ke bawah tebing hendak menjemput anaknya.“Melompatlah kau kesini, nak…”, teriak sang ayah. “Ayah akan menangkapmu..”, tambahnya dengan suara tergesa.Meski takut, Puti Kusumba menuruti perintah ayahnya. Ia segera melompat dari atas tebing yang rupanya tak terlalu tinggi itu. Sekejap kemudian ia merasakan tubuhnya telah sampai dalam gendongan ayahnya.Ular sawah yang baru datang bersama kesepuluh temannya sangat terkejut melihat Puti Kusumba tak ada di tempatnya. Setelah mencari cari, matanya menangkap sebuah perahu nelayan berisi seorang laki laki dan seorang anak kecil di kejauhan.“Aaaaargggg…..santapanku lepas…”, teriaknya marah. Ia tahu bahwa anak kecil dalam perahu itu adalah Puti Kusumba yang telah dibawa pergi ayahnya.Kesepuluh teman ular sawah marah besar. Mereka merasa ditipu. Bayangan lezatnya menyantap daging manusia membuat mereka semakin murka. Entah siapa yang memulai, kesepuluh ekor ular yang tengah kelaparan itu akhirnya menyerang si ular sawah. Mereka mengoyak tubuhnya dan menyantap dagingnya bersama sama.Kini Puti Kusumba telah kembali ke rumah dengan selamat. Sejak matinya si ular sawah, Puti Kusumba hidup tenang bersama ayah ibunya. Ketakutan akan kejaran si ular sawah telah sirna selamanya.
Legenda Jaka Tarub dan Nawang Wulan
Jaka Tarub adalah pemuda yang tampan. Dia sangat populer di desanya.Banyak gadis muda jatuh cinta padanya. Namun Jaka Tarub berpikir bahwa mereka tidak cukup cantik untuk menjadi istrinya.Itu sebabnya dia masih lajang.Dia ingin memiliki istri yang sangat cantik.Seperti biasa Jaka Tarub pergi ke hutan untuk mengumpulkan kayu. Tiba-tiba dia mendengar suara dari air terjun.Dia penasaran.Suara itu terdengar seperti banyak gadis sedang mandi di air terjun didalam hutan.Agak mengendap-endap, Jaka Tarub berjalan ke arah air terjun. Ketika dia tiba di sana, dia melihat tujuh gadis sangat cantik sedang mandi.Dia benar-benar terpesona dengan kecantikan mereka.Setelah mereka selesai mandi, gadis-gadis itu perlahan mengambil selendang mereka.Hebatnya setelah mereka mengenakan selendang, mereka terbang ke langit.“Mereka bukan manusia. Mereka Bidadari dari Kahyangan!” kata Jaka Tarub terkesima.Setelah itu Jaka Tarub pulang.Dia sangat gelisah.Dia terus memikirkan tujuh gadis cantik itu.Pada hari berikutnya, Jaka Tarub kemudian memutuskan untuk kembali ke air terjun.Ketika para Bidadari itu mandi, dia mencuri salah satu selendangnya.Legenda Jaka Tarub dan Nawang WulanLegenda Jaka Tarub dan Nawang WulanDan itu membuat satu peri tidak bisa terbang kembali ke langit.Dia menangis.Jaka Tarub kemudian mendekatinya. “Ada apa? Kenapa kamu menangis?”“Aku kehilangan selendangku. Aku tidak bisa kembali ke rumah. Semua saudariku telah meninggalkanku. Namaku Nawang Wulan. Aku akan memberimu apa pun jika kamu dapat menemukan syalku.” kata peri itu.“Aku akan membantumu. Tetapi jika kita tidak dapat menemukannya, kamu bisa tinggal di rumahku. Kamu bisa menjadi istriku,” kata Jaka Tarub.Kemudian Jaka Tarub berpura-pura mencari selendang. Dan tentu saja mereka tidak dapat menemukannya.Setelah itu mereka pergi ke rumah Jaka Tarub.Kemudian mereka menikah. Mereka punya bayi perempuan.Mereka memiliki kehidupan yang bahagia.Mereka selalu punya cukup nasi untuk dimakan.Mereka tidak harus bekerja keras seperti tetangga mereka yang lain.Itu karena Nawang Wulan menggunakan sihirnya untuk memasak.Suatu hari, Jaka Tarub bertanya kepada istrinya mengenai keanehan beras mereka yang tidak pernah habis.Nawang Wulan tidak memberitahunya rahasia itu dan memintanya untuk jangan pernah membuka tutup panci saat memasak.Dia mengatakan bahwa jika Jaka Tarub membuka tutupnya, mereka harus bekerja keras untuk mendapatkan banyak nasi untuk dimasak.Suatu hari, Jaka Tarub benar-benar ingin tahu. Dia kemudian membuka tutup panci memasak.Dia terjekut ketika melihat hanya ada beberapa butir beras untuk dimasak.Ketika Nawang Wulan sampai di rumah, dia tahu bahwa Jaka Tarub telah membuka tutupnya.Dia marah karena dia sudah kehilangan keajaiban dalam memasak.Sekarang dia harus mengambil nasi dalam porsi besar untuk dimasak.Perlahan-lahan cadangan beras mereka di tempat penyimpanan semakin berkurang.Dan ketika Nawang Wulan ingin mengambil beras terakhir, dia menemukan selendangnya.Jaka Tarub menyembunyikan selendangnya di tempat penyimpanan beras.Nawang Wulan sangat senang, sekaligus sedih. Dia kemudian berkata, “Aku akan pulang sekarang. Jaga putri kita. Ketika ada bulan purnama, bawa dia keluar dari rumah dan aku akan datang untuk menjemputnya.”Nawang Wulan kemudian terbang ke langit.Jaka Tarub sangat sedih.Dan untuk menepati janji, Jaka Tarub selalu pergi keluar rumah bersama putrinya saat bulan purnama. Namun Nawang Wulan tidak pernah kembali.Pernikahan Nawangsih, Putri dari Jaka Tarub dan Nawang WulanNawang Wulan yang marah karena mengetahui bahwa suaminya adalah pencuri selendang miliknya akhirnya meninggalkan Jaka Tarub.Walaupun Jaka Tarub memohon istrinya agar tidak pulang ke kahyangan. Namun tekad Nawang Wulan sudah bulat.Hanya saja, pada waktu-waktu tertentu ia rela datang ke marcapada untuk menyusui bayi Nawangsih.Setelah sekian lama Jaka Tarub kemudian menjadi pemuka desa bergelar Ki Ageng Tarub, dan bersahabat dengan Brawijaya raja Majapahit.Pada suatu hari Brawijaya mengirimkan keris pusaka Kyai Mahesa Nular supaya dirawat oleh Ki Ageng Tarub.Utusan Brawijaya yang menyampaikan keris tersebut bernama Ki Buyut Masahar dan Bondan Kejawan, anak angkatnya. Ki Ageng Tarub mengetahui kalau Bondan Kejawan sebenarnya putra kandung Brawijaya. Maka, pemuda itu pun diminta agar tinggal bersama di desa Tarub.Sejak saat itu Bondan Kejawan menjadi anak angkat Ki Ageng Tarub, dan diganti namanya menjadi Lembu Peteng. Ketika Nawangsih tumbuh dewasa, keduanya pun dinikahkan.Setelah Jaka Tarub meninggal dunia, Lembu Peteng alias Bondan Kejawan menggantikannya sebagai Ki Ageng Tarub yang baru. Nawangsih sendiri melahirkan seorang putra, yang setelah dewasa bernama Ki Getas Pandawa.Ki Ageng Getas Pandawa kemudian memiliki putra bergelar Ki Ageng Sela, yang merupakan kakek buyut Panembahan Senapati, pendiri Kesultanan Mataram.
Cerita Rakyat Betawi : Keberanian Murtado
Murtado tinggal di daerah Kemayoran. Parasnya cukup tampan, tapi yang terpenting adalah sikapnya yang santun dan berani membela orang yang lemah. Saat itu, keadaan di daerah Kemayoran kurang aman. Selain karena masih dijajah oleh Belanda, banyak pula gangguan dari jagoan-jagoan Kemayoran yang jahat. Mereka memeras rakyat kecil dan merampas hasil pertaniannya.Sejak kecil, Murtado dididik dengan baik oleh ayahnya. Tak hanya ilmu agama dan pelajaran sekolah, tapi juga ilmu bela diri. Meskipun menguasai ilmu bela diri dengan baik, Murtado tak pernah sekali pun menyalahgunakan kemampuannya itu.Semakin hari keadaan di daerah Kemagoran semakin tak aman. Penguasa Belanda semakin merajalela. Pemimpin daerah Kemagoran pun dijadikan kaki tangan mereka. Pemimpin yang disebut dengan Bek itu sebenarnya orang pribumi, namanya Bek Lihun.Ia dibantu oleh Mandor Bacon. Meskipun pribumi, mereka lebih membela kepentingan Belanda dari pada kepentingan penduduk Kemayoran.Murtado sebenarnya tak tahan melihat perilaku Bek Lihun dan Mandor Bacan yang semena-mena, namun ia berusaha menahan diri. Suatu hari, kemarahannya memuncak, karena melihat Mandor Bacan yang berani menggoda kekasih Murtado pada acara derapan padi. Saat itu, Mandor Bacon ditunjuk sebagai pengawas jalannya acara itu.“Hei Mandor Bacan, berani sekali kau mengganggu kekasihku,” teriaknya sambil menghadang Iangkah Mandor Bacan.Mandor Bacan menanggapinya dengan sinis, “Memangnya kenapa? Aku bebas mengukai wanita mana pun yang aku mau,” jawabnya.Kumpulan Cerita Rakyat Betawi Macan KemayoranKumpulan Cerita Rakyat Betawi Macan KemayoranMurtado segera mengeluarkan jurus-jurus bela dirinya. Mandor Bacan tak mau kalah, tapi Murtado dengan mudah mengalahkannya. Mereka bukanlah lawan yang seimbang. Tak terima dengan perlakuan Murtado, Mandor Bacan melaporkan kejadian itu pada Bek Lihun. Bek Lihun merasa tersinggung dengan tingkah laku Murtado, ia pun mencari cara untuk mencelakai Murtado. Berbagai cara telah dilakukan untuk menjebak dan mengalahkan Murtado, tapi semuanya gagal. Akhirnga Bek Lihun menyerah, ia pun mengakui kehebatan Murtado dan memilih untuk bersahabat dengannya.Sebagai seorang kesatria, Murtado menerima tawaran persahabatan dari Bek Lihun. Ia tak menyimpan dendam sedikit pun, bahkan bersedia membantu Bek Lihun memberantas kawanan perampok yang dipimpin oleh Warsa.“Murtado, Belanda sudah menegurku berkali-kali. Aku dianggap tak mampu menjaga keamanan daerah kita ini. Gara-gara Warsa, penduduk kampung kita semakin miskin dan tak mampu membayar pajak. Kau mau, kan membantuku?” pinta Bek Lihun.Murtado berpikir sejenak. Sebenarnya ia bimbang, membantu Bek Li hun berarti membantu Belanda juga.“Bek Lihun, camkan kata-kataku. Aku mau membantumu untuk meIawan Warsa, tapi bukan untuk kepentingan Belanda. Aku merasa wajib melindungi penduduk kampung dari kekejian Warsa dan anak buahnya,” kata Murtado.“Terima kasih, Murtado. Aku tahu, hatimu pasti tak tega melihat penderitaan teman-teman kita ini,” jawab Bek Lihun.Murtado mulai menyusun strategi. Bersama Saomin dan Sarpin, ia pergi ke markas Warsa dan anak buahnya. Biasanya, Warsa dan anak buahnya berkumpul di daerah Tambun dan Bekasi, tapi malam itu mereka tak ada di sana.Cerita Rakyat Betawi si Macan KemayoranCerita Rakyat Betawi si Macan KemayoranMurtado dan teman-temannya tak kehabisan akal, mereka bertanya pada setiap orang yang mereka jumpai. Akhirnya mereka mendapat informasi kalau Warsa dan anak buahnya sedang berada di daerah Karawang. Tanpa buang-buang waktu lagi, Murtado dan teman-temannya menyusul ke Karawang. Dan terjadilah pertempuran hebat.Warsa adalah Iawan yang tangguh, ilmu bela dirinya juga hebat. Tak heran jika orang-orang takut padanya.“Ha… ha… anak ingusan macam kau hendak melawanku? Rasakan jurusku ini!” kata Warsa sambil melayangkan tinju. Namun Murtado tak kalah hebat. Dikerahkannya semua ilmu bela diri yang ia kuasai. Saomin dan 5arpin juga bertarung melawan anak buah Warsa.Akhirnya kemenangan berpihak pada Murtado. Warsa tewas di tangannya, sementara anak buahnya menyerah kalah.“Ampuni kami Tuan, kami akan melakukan apa saja yang Tuan pinta, tapi jangan bunuh kami,” kata mereka mengiba-iba.“Tunjukkan di mana hasil rampokan itu kalian simpan, setelah itu kalian akan aku ampuni,” kata Murtado tegas.Murtado dan teman-temannya membawa pulang hasil rampokan Warsa ke Kemayoran. Mereka mengembalikannya pada pemiliknya masing-masing. Penduduk Kemayoran sangat gembira. Begitu juga dengan Bek Lihun, ia bahkan melaporkan keberhasilan Murtado pada Belanda.Penguasa Belanda kagum pada kegigihan dan keberanian Murtado. Atas usul Bek Lihun, penguasa Belanda menawarkan Murtado untuk menjadi pemimpin daerah Kemayoran menggantikan Bek Lihun.“Maaf Tuan, tapi saya lebih senang menjadi rakyat biasa. Biarkan saya berjuang di jalan saya sendiri,” tolak Murtado dengan halus.Ya, Murtado tak mau menjadi kaki tangan Belanda. Ia merasa Iebih baik hidup sebagai rakyat biasa dan membantu menjaga keamanan penduduk Kemayoran dengan caranya sendiri. Karena keberaniannya itu, penduduk Kemayoran dan penguasa Belanda menjulukinya “Macan Kemayoran”.Pesan moral dari Cerita Rakyat Betawi : Murtado Macan Kemayoran untukmu adalah semua orang pasti memiliki kemampuan dan bakat. Karena itu gunakanlah kemampuan dan bakatmu untuk membantu orang-orang di sekitarmu.
Cerita Rakyat Singkat : Bujang Katak
Alkisah, di daerah Bangka ada seorang perempuan tua yang sangat miskin. Ia mempunyai anak yang memiliki bentuk dan kulit seperti katak. Masyarakat sekitar memanggil anak tersebut Bujang Katak.Bujang Katak tumbuh menjadi pemuda yang rajin. Suatu hari, Bujang Katak mengutarakan keinginannya untuk menikahi putri raja kepada ibunya. Mereka pun berangkat ke kerajaan dan mengutarakan maksud kedatangannya.Sang Raja mempersilahkan ketujuh putrinya menentukan pilihannya. Semua putri Raja menolak, kecuali si Bungsu. Putri Bungsu bersedia menikah dengan Bujang Katak asal dibuatkan jembatan emas dari rumah Bujang Katak sampai istana.Bujang Katak segera bertapa. Pada malam ketujuh, keajaiban terjadi. Tubuh Bujang Katak memancarkan sinar berwarna kekuningan, kulit kataknya mengelupas. Ia menjadi pemuda yang tampan dan gagah. Bujang Katak membakar kulit kataknya. Kulit itu berubah menjadi tumpukan emas. Dengan emas itulah, ia membangun jembatan dalam waktu satu malam.Paginya, istana gempar dengan adanya jembatan emas. Sang Raja juga kaget melihat Bujang Katak yang sudah berubah. Ia pun dinikahkan dengan Putri Bungsu dan hidup di istana.
Cerita Rakyat Betawi Pendek : Putri Keong Mas
Pada zaman dahulu, hiduplah seorang janda dan anak laki-lakinya yang bernama Ceceng. Mereka tinggal di sebuah gubuk tua yang didirikan di atas tanah sewaan, dari seorang tuan tanah. Suatu hari, ibu Si Ceceng sakit. Semakin hari sakit ibu Si Ceceng bertambah parah. Akhirnya, ibu Si Ceceng mengembuskan napas terakhirnya. Kini, Si Ceceng tinggal sendirian.Keesokan harinya datanglah tuan tanah menagih uang sewa tanah. Si Ceceng memohon kepada tuan tanah untuk menangguhkan pembayarannya. Namun, tuan tanah sangat marah. Kemudian disuruhnya Si Ceceng mengerjakan sawahnya, sebagai ganti pembayaran sewa tanah. Permintaan tuan tanah disanggupinya sebagai pengganti utangnya.Pada suatu hari, ketika Si Ceceng sedang mencangkul di sawah. Ia melihat seekor keong emas. Ia mengambilnya dan membawanya pulang. Setibanya di rumah, keong itu diletakkan di dalam tempayan dan ditutupnya dengan rapi. Kemudian ia kembali lagi ke sawah, meneruskan pekerjaannya yang tertunda. Hingga sore hari, ia tetap berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.cerita rakyat betawi pendek : Putri Keong Mascerita rakyat betawi pendek : Putri Keong MasAlangkah terkejutnya Si Ceceng, ketika melihat rumahnya tampak rapi dan bersih. Tidak hanya itu, makanan dan minuman juga tersedia. Siapa gerangan yang telah memasak? Tanpa ragu, akhirnya Si Ceceng pun menghabiskan seluruh makanan dan minuman yang ada.Si Ceceng tidur lebih awal dari biasanya. Keesokannya, ia segera pergi ke sawah seperti biasanya. Ia pun kembali pulang di sore harinya. Rasa lelah segera musnah, makanan dan minuman kembali terhidang`, seperti hari kemarin. Ia pun tanpa ragu menyantapnya dengan lahap. Begitu seterusnya. Akhirnya, ia pun bertekad untuk menyelidikinya.Pada suatu hari, Si Ceceng melihat seorang gadis keluar dari tempayannya. Melihat hal itu, Si Ceceng segera mendekati si gadis tersebut. Si gadis sangat terkejut. Selanjutnya, gadis itu segera menceritakan riwayat hidupnya kepada Si Ceceng. Dia adalah seorang bidadari yang dikutuk menjadi seekor keong. Singkat cerita, mereka pun menikah dan hidup bahagia, sampai mendapatkan seorang putri yang bernama Sri Nawangsih.Kebahagiaan rumah tangga Si Ceceng tidak bertahan lama. Si istri dengan tak sengaja menemukan pakaian bidadarinya yang dulu hilang. Ia pun terbang ke kahyangan dan kembali ke tempat asalnya. Sudah menjadi takdir sang dewa, si Ceceng tak kuasa menahan istrinya lebih lama lagi di dunia. Semenjak kepergian istrinya, Si Ceceng hidup sendiri membesarkan seorang putri, buah hati yang ditinggalkan istri terkasih yang tak pernah kembali.Pesan moral dari cerita rakyat betawi pendek : Putri Keong Mas adalah dengan ketabahan dan ketulusan menerima takdir. membuat hidup menjadi tenang dan damai.
Kisah Rakyat Perjuangan Pangeran Sarif
Pangeran Sarif adalah salah seorang ulama di Betawi. Ia terpaksa menyingkir keluar dari Jayakarta setelah Jayakarta dikuasai Kompeni Belanda. Bersama para ulama dan kekuatan lain yang menentang Kompeni Belanda, Pangeran Sarif menyusun kekuatan secara sembunyi-sembunyi. Ia sangat membenci penjajahan manusia atas manusia lainnya seperti yang dilakukan Kompeni Belanda terhadap bangsanya. Pangeran Sarif yakin, suatu saat kekuatan Kompeni Belanda akan dapat diusir dari Jayakarta.Kumpulan Cerita Betawi Kisah Rakyat Perjuangan Pangeran SarifKumpulan Cerita Betawi Kisah Rakyat Perjuangan Pangeran SarifDalam pengungsiannya, Pangeran Sarif tetap aktif menyebarkan agama Islam. Ia memberikan pelajaran menulis huruf Arab dan membaca Al Qur’an. Dengan ketinggian ilmu agama yang dimilikinya, Pangeran Sarif juga menjelaskan makna dan tafsir ayat-ayat Al Qur’an tersebut. Penjelasannya disampaikannya dalam bahasa sederhana yang kerap diselingi dengan humor hingga dapat ditangkap dengan mudah oleh murid-muridnya. Kian bertambah hari kian banyak saja orang yang datang kepada Pangeran Sarif dan meminta menjadi muridnya.Pangeran Sarif kerap berkeliling dari daerah ke daerah lainnya untuk menyebarkan agama Islam dan juga menyusun kekuatan untuk menentang Kompeni Belanda. Pada suatu hari Pangeran Sarif menuju daerah Pasar Minggu. Ia hendak menuju desa Bendungan. Ketika sampai di pinggir kali Ciliwung, gerimis turun. Pangeran Sarif segera mengenakan kerudung di kepalanya untuk melindungi kepalanya dari air hujan. Mendadak Pangeran Sarif melihat sebuah perahu yang terlihat menuju arah kota.Sejenak berbincang-bincang, pemilik perahu menyatakan kepada Pangeran Sarif bahwa ia hendak menuju kota. Pangeran Sarif lalu meminta diri dan secepatnya menyelinap dijalan setapak di antara semak-semak. Pangeran Sarif perlu melakukan tindakan itu untuk menghilangkan jejak. Ia perlu berhati-hati, terutama kepada orang yang hendak menuju kota. Bisa jadi, orang itu akan melaporkan keberadaannya kepada Kompeni Belanda. Menurut kabar yang didengarnya, dirinya termasuk salah satu orang yang paling dicari oleh pernerintah Kompeni Belanda karena dianggap amat luas pengaruhnya untuk menentang pemerintah Kompeni Belanda.Seketika Pangeran Sarif menyelinap, si tukang perahu buru-buru mengarahkan perahunya untuk mengikuti Pangeran Sarif. Begitu pula ketika Pangeran Sarif berbelok arah dengan memasuki sebuah terowongan, si tukang perahu buru-buru pula mengikutinya. Terowongan itu tembus hingga ke sungai Sunter di dekat Pondok Gede. Hingga ke daerah itu si tukang perahu terus mengikuti.Si tukang perahu merasakan keanehan. Terowongan yang tadi dilewatinya terlihat sempit dan gelap. Hingga saat itu ia belum pernah melewatinya. Bahkan, ia belum pernah mendengar adanya terowongan itu. Ketika menyadari keanehan itu, ia pun bermaksud untuk kembali ke sungai Ciliwung dengan memasuki terowongan sempit lagi gelap itu. Benar-benar mengherankan, terowongan itu sudah tidak ada lagi!Si tukang perahu lantas menghampiri Pangeran Sarif. Katanya, “Ampunilah saya wahai Wan Haji. Sungguh, saya tidak bermaksud buruk dengan mengikuti Wan Haji.”“Jangan meminta ampun kepadaku,” jawab Pangeran Sarif “Mintalah ampun kepada Allah, karena hanya Allah yang pantas engkau mintai ampun.”Si tukang perahu lantas memohon ampun kepada Allah dengan cara mengikuti ucapan Pangeran Sarif. Katanya kemudian, “Saya ingin menjadi murid Wan Haji. Saya ingin mendapatkan ilmu dan pengetahuan agama Islam yang dapat saya terapkan dalam kehidupan saya:’Pangeran Sarif bersedia mengajarkan agama Islam kepada si tukang perahu. Sejak saat itu si tukang perahu menjadi murid sekaligus pengikut Pangeran Sarif yang sangat setia. Adapun terowongan gaib yang sempat dilewati si tukang perahu di kemudian hari disebut Lubang Buaya oleh penduduk yang mengetahui ceritanya.Pesan moral dari kumpulan cerita betawi : kisah rakyat perjuangan pangeran sarif adalah mendekat dan berbaktilah kepada Tuhan, niscaya Tuhan akan memberikan pertolongannya.
Cerita Rakyat Telaga Warna dari Jawa Barat
Alkisah berdiri suatu kerajaan bernama Kutatanggeuhan di Jawa Barat. Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang raja bernama Prabu Swarnalaya. Prabu Swarnalaya ini merupakan seorang raja yang memimpin kerajaan didampingi seorang ratu cantik bernama Ratu Purbamanah.Telaga WarnaSelama masa kepemimpinannya, Prabu Swarnalaya sangat dicintai rakyatnya. Daerah dibawah kepemimpinannya pun sangat makmur. Hanya saja, sebagaimana pepatah bahwa tak ada satu manusia pun yang sempurna, kehidupan Prabu Swarnalaya pun demikian.Ada satu perasaan terpendam yang dirasakan oleh Prabu Swarnalaya karena beliau tidak memiliki anak meski sudah lama menikah dengan sang istri. Setelah ditelusuri ternyata penyebabnya adalah karena sang prabu sendiri yang melanggar pantangan berburu rusa di Gunung Mas. Hal tersebut dikatakan oleh ahli nujum istana yang mendapat wangsit bahwa setiap rusa yang dibunuhnya menjadi simbol hilangnya keturunan dari Prabu Swarnalaya.Mendengar hal tersebut, perasaan sedih dan menyesal dirasakan oleh sang prabu. Sang prabu pun berusaha untuk memperbaiki apa yang sudah terjadi. Berangkatlah sang prabu untuk bertapa pada malam bulan pernama di sebuah goa kecil yang ada di Gunung Mas. Ia berangkat sendirian tanpa didampingi pengawal atau pun tanpa menggunakan atribut kerajaan.Telaga WarnaSelama prabu pergi, rasa cemas berkecamuk di hati sang ratu. Namun selama beberapa pekan bertapa, akhirnya penantian sang ratu berakhir. Sang prabu pun pulang. Ratu Purbamanah yang sangat khawatir dengan keadaan suaminya langsung menyambut kedatangan sang prabu. Ia menghidangkan berbagai macam makanan yang prabu suka.Beberapa bulan kemudian, Ratu Purbamanah mengandung. Prabu Swarnalaya sangat senang karena itu artinya pertapaannya membawa hasil. Sembilan bulan kemudian, Ratu Purbamanah melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik dan diberi nama Dewi Kuncung Biru.Karena sang puteri termasuk puteri yang sangat dinantikan, Prabu Swarnalaya dan Ratu Purbamanah cukup memanjakannya. Sang puteri pun tumbuh menjadi gadis cantik yang gemar bersolek, manja dan suka mengenakan pakaian mahal.cerita rakyat Telaga WarnaHingga suatu hari menjelang perayaan hari ulang tahunnya, Dewi Kuncung Biru meminta sang ayah menghiasi tiap helai rambutnya dengan emas dan permata agar dirinya terlihat semakin cantik. Mendengar permintaan sang puteri, tentu Prabu Swarnalaya dan sang istri Ratu Purbamanah sangat terkejut karena hal tersebut tidak masuk akal.Helaian rambut sang puteri sangat banyak, mana mungkin satu persatu akan dihias permata dan emas. Karena merasa keinginannya ditolak sang ayah, Dewi Kuncung Biru pun kesal dan marah. Kemarahan Dewi Kuncung Biru bahkan sampai terdengar keluar istana dan membuat rakyat sang prabu tergerak menyumbangkan harta mereka demi memberikan hadiah yang disukai dan diinginkan sang puteri raja.Merasa cinta rakyatnya sangat besar, Prabu Swarnalaya dan Ratu Purbamanah merasa sangat terharu. Hingga tiba di hari perayaan ulang tahun Dewi Kuncung Biru. Rakyat yang diundang ke istana menyambut perayaan dengan gembira. Kotak berisi perhiasan emas dan permata yang dihadiahkan pun diserahkan kepada Dewi Kuncung Biru sebagai hadiah.Rakyatpun senang dan sangat antusias agar Dewi Kuncung Biru membukanya. Hanya saja, ketika isinya dibuka ternyata Dewi Kuncung Biru kecewa karena perhiasan yang ia dapatkan sebagai hadiah tak seindah harapannya. Dengan sombongnya, Dewi Kuncung Biru melempar kotak berisi emas dan permata hadiah rakyat tersebut ke lantai hingga membuat isinya jatuh berserakan.Semua orang yang hadir di sana tentu tercengang termasuk Prabu Swarnalaya dan Ratu Purbamanah, orang tuanya sendiri. Dengan kesombongan Dewi Kuncung Biru, ternyata alam pun murka. Seketika gemuruh datang diikuti hujan dan badai.cerita rakyat Telaga WarnaTanah di sekitar istana pun terbelah disusul dengan air bah yang bervolume besar menenggelamkan istana megah tersebut bersama semua orang yang ada di istana ketika pesta berlangsung. Bersamaan dengan berhentinya hujan, kerajaan Kutanggeuhan menghilang dan di bekas menghilangnya kerajaan tersebut hadir telaga yang berisi ribuan ikan cantik dan beraneka warna. Telaga tersebut yang kini dikenal sebagai Telaga Warna.
Cerita Roro Jonggrang
Dahulu kala, di Desa Prambanan, ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Baka. la memiliki seorang putri yang sangat cantik bernama Roro Jonggrang.Suatu ketika, Prambanan dikalahkan oleh Kerajaan Pengging yang dipimpin oleh Bandung Bondowoso. Prabu Baka tewas di medan perang. Dia terbunuh oleh Bandung Bondowoso yang sangat sakti.Bandung Bondowoso kemudian menempati Istana Prambanan. Melihat putri dari Prabu Baka yang cantik jelita yaitu Roro Jonggrang, timbul keinginannya untuk memperistri Roro Jonggrang.Roro Jonggrang tahu bahwa Bandung Bondowoso adalah orang yang membunuh ayahnya. Karena itu, ia mencari akal untuk menolaknya. Lalu, ia mengajukan syarat dibuatkan 1.000 buah candi dan dua buah sumur yang dalam. Semuanya harus selesai dalam semalam.Bandung Bondowoso menyanggupi persyaratan Roro Jonggrang. Ia meminta pertolongan kepada ayahnya dan mengerahkan balatentara roh-roh halus untuk membantunya pada hari yang ditentukan. Pukul empat pagi, hanya tinggal lima buah candi yang belum selesai dan kedua sumur hampir selesai.Mengetahui 1.000 candi telah hampir selesai, Roro Jonggrang ketakutan.“Apa yang harus kulakukan untuk menghentikannya?” pikirnya cemas membayangkan ia harus menerima pinangan Bandung Bondowoso yang telah membunuh orangtuanya.Akhirnya, ia pergi membangunkan gadis-gadis di Desa Prambanan dan memerintahkan untuk menghidupkan obor-obor dan membakar jerami, memukulkan alu pada lesung, dan menaburkan bunga-bunga yang harum. Suasana saat itu menjadi terang dan riuh. Semburat merah memancar di langit dengan seketika.Ayam jantan pun berkokok bersahut-sahutan. Mendengar suara itu, para roh halus segera meninggalkan pekerjaan. Mereka menyangka hari telah pagi dan matahari akan segera terbit. Pada saat itu hanya tinggal satu sebuah candi yang belum dibuat.Bandung Bondowoso sangat terkejut dan marah menyadari usahanya telah gagal. Dalam amarahnya, Bandung Bondowoso mengutuk Roro Jonggrang menjadi sebuah arca untuk melengkapi sebuah buah candi yang belum selesai.Batu arca Roro Jonggrang diletakkan di dalam ruang candi yang besar. Hingga kini, candi tersebut disebut dengan Candi Roro Jonggrang. Sementara itu, candi-candi di sekitarnya disebut dengan Candi Sewu (Candi Seribu) meskipun jumlahnya belum mencapai 1.000.
Kabut Asimilasi
"Apalah arti dunia ini jika kau harus mati?". kaisar surgawi berkata dengan lemah, suaranya begitu sedih dan berat sedalam lautan.Di pelukannya, permaisuri surgawi terbaring kaku tak berdaya. Tubunya telah bersimbah darah seolah tercebur dalam kolam darah.Bekas luka tusukan dan goresan terdapat dimana mana."sungguh memalukan! Orang orang memanggil ku kaisar surgawi yang tak terkalahkan, namun aku tak bisa melindungi kekasihku? Apalah arti nya itu, apalah arti hidupku ini Jika kau harus pergi yuechan... "Air mata mengalir deras bagaikan air terjun, mata kaisar surgawi telah memerah dan bengkak karena menangis."yuechan... Andai saja aku tidak pergi, andai saja aku tidak egois dengan rahasia abbys. Andai saja aku tidak meninggalkan mu.. Yuechan... Ohh Yuechan...". Kaisar surgawi terus berandai-andai, tangis nya makin menjadi dan hujan mulai turun turut merasakan apa yang kasiar surgawi rasakan.Langit yang tadinya cerah dan biru mulai berubah menjadi ke abuabuan, awan yang tadinya putih suci berubah menjadi hitam pekat. Dunia berubah seakan akan dunia kehilangan warnanya.Kaisar surgawi memeluk erat jenazahnya, baru beberapa hari semenjak ia melihat kekasihnya itu tersenyum hangat bagaikan mentari pagi di musim semi.Ia menyesal."jika kau tidak ada, maka dunia sudah tak berarti lagi Yuechan. Tunggulah, akan kubawa dunia ke tempat kau berada."Perlahan tubuh kaisar surgawi bangkit, dengan yuechan di pelukannya ia mulai berjalan pelan.Namun, saat ia berjalan. Ruang ruang mulai retak dan sebuah kabut misterius berwarna warni muncul dari retakan itu.Itu adalah kabut asimilasi, apapun yang terkena kabut itu akan terasimilasi dan tak ada cara untuk menghentikannya.Dari tempat kaisar surgawi membawa Yuechan, mayat mayat pendekar yang tak terhitung jumlahnya bergeletakan. Ada yang masih utuh, kehilangan anggota badan atau tak tersisa menjadi seperti bubur nasi.Ia perlahan turun dari puncak bukit yang kini bersimbah darah sembari membawa Yuechan di pelukannya. Tatapannya gelap seperti jurang tak berujung."Kaisar surgawi! Segera hentikan perbuatan mu, dunia Chaotian akan hancur jika ini terus berlanjut!!".Daru kejauhan, beberapa pendekar tiba. mereka adalah petinggi dari aliansi pendekar dengan kekuatan yang tak kalah dari kaisar surgawi. Bersamaan dengan beberapa pendekar itu, ribuan orang dengan aura yang sangat kuat juga tiba."Saudaraku, tolong hentikan segera perbuatan mu itu. Miliyaran orang yang tak bersalah juga akan menghilang jika kabut asimilasi tak kau hentikan". Long Di Tian, seorang sesepuh sekaligus pendiri dari aliansi pendekar memohon. Di masa lalu, ia adalah teman seperjuangan kaisar surgawi dan telah berbagi hidup dan mati bersama."hmph! Bukanya kalian sangat ingin tau rahasia kabut asimilasi yang di teliti oleh Yuechan?? Ini! Ambillah, ku berikan kabut asimilasi kepada kalian agar kalian bisa meneliti nya sendiri!!!".Ledakan tak kasat mata pun terjadi setelah kaisar surgawi berkata. Retakan retakan dimensional mulai bermunculan dan kabut asimilasi menerobos keluar seperti air pada bendungan."kau gila!!". Li bai, sang grandmaster tertinggi jalur pedang berteriak."Maju!! Kaisar surgawi sudah menjadi gila!!". Qin Jiu Jin, saint dari sekte plum blossom mulai memimpin formasi untuk mencegah kabut asimilasi melebar.Serentak, rombongan orang yang bersama dengan petinggi aliansi pendekar bergandengan tangan untuk menghentikan penyebaran angin asimilasi dan melawan kaisar surgawi.Menghadapi para elit di seluruh benua, kaisar surgawi tak gentar. Dengan teknik rahasianya ia menerobos maju."teknik summoning : Ancestral Dragon God!".Seekor naga hitam muncul dari kekosongan. Naga itu begitu besar hingga rambut rambut nya saja seperti ribuan naga kecil yang meliuk liuk.Perang pun terus berlanjut hingga titik darah penghabisan. Dari 79 elit di benua Chaotian , hanya tersia 12 yang bertahan hidup. Long Di Tian salah satunya.Medan perang telah berubah menjadi lautan darah, mayat naga raksasa bagaikan tembok raksasa yang tak berujung. Sebuah pedang raksasa tertancap dan banyak sekali kekacauan elemen akibat kekuatan sihir.Kekacauan / chaos. Dunia sudah hancur akibat perang itu."Saudara ku, aku mohon sebagai seorang teman seperjuangan. Hentikanlah kabut asimilasi!!". Kondisinya sangat menggemaskan, rambutnya terbakar sebagian dan tubuhnya berlubang bagaikan donat.Kaisar surgawi tak menggubris ucapannya dan terus melancarkan serangannya."Teknik pamungkas : Kelahiran dunia baru!!!".Langit pun mendadak gelap dan angin berhembus kencang. Di angkasa meteor yang besar nya melebihi apapun di dunia itu mulai turun dan menghantam dunia.Dan BOOMMMDunia telah kiamat dan tersisa tanah tandus yang di penuhi oleh lahar yang mengalir dari dalam bumi.Kaisar surgawi yang masih memeluk kekasihnya Yuechan, melayang di udara melihat kehancuran dunia ini.Tak ada lagi yang tersisa, kabut asimilasi masih terus memgasimilasi dunia dan tak pernah berhenti hingga tak ada yang tersisa.Ia perlahan jatuh, dan menatap Yuechan.Menjelang ajalnya, kilas balik ingatan akan masa lalunya bersama Yuechan bergerak cepat bagaikan film yang di percepat.Kaisar surgawi mengingat kembali bagaimana kali pertama ia bertemu Yuechan di puncak gunung TaiTian. Bagaimana keseharian mereka saat masih menjadi orang asing.Tahun tahun berlalu dan saat itu adalah ketika kaisar surgawi jatuh dalam ambisinya, hanya kekuatan yang ia pedulikan. Saat itu Yuechan berkata, "pergilah sayangku, jika aku menjadi penghambat dalam tujuan mu maka tinggalkanlah aku.Aku tidak ingin menjadi rantai di kaki mu dan tidak ingin menjadi bayangan yang mengikat mu, pergilah menembus cakrawala sayang. jika kau tak pernah kembali, maka ingatlah... Cintaku akan selalu menyertai mu."Jutaan kenangan dari ribuan era terus berputar kaisar surgawi semakin jatuh dalam kesedihan dan penyesalan."Yuechan... Andai saja aku di beri pilihan untuk mengulang lagi, aku pasti akan tetap memilih mu!". Pada detik itu, kaisar surgawi tewas.Tubuhnya kemudian di lahap oleh kabut asimilasi.
Legenda Sepasang Pendekar Kemayoran
Alkisah pada masa penjajahan Belanda, di tanah Betawi hiduplah seorang kaya keturunan Tionghoa bernama Babah Yong. Pada suatu ketika, Babah Yong yang berdiam di daerah Kemayoran dirampok. Kejadian ini tentu saja mengagetkan warga Kemayoran. Sebagai orang yang dihormati, peristiwa nahas yang menimpa Babah Yong segera ditangani pihak keamanan.Lurah Kemayoran bersama orang Belanda penguasa daerah itu yang bernama Tuan Ruys, segera mendatangi Babah Yong di rumahnya.Tuan Ruys rupanya sudah memiliki tersangka di benaknya. Setelah mencermati jejak perampokan, ia berkata kepada sang Lurah.“Tangkap Asni..”, ujarnya yakin. “Saya yakin sekali kalau ini perbuatan Asni..”, tambahnya dengan logat Belanda yang kental.Walaupun tak yakin akan perkataan Tuan Ruys, sang Lurah tak dapat membantah. Ia hanya mengiyakan sambil menganggukan kepalanya.“Baik, Tuan Ruys”, ujarnya singkat.Asni adalah seorang pemuda yang terkenal gagah berani di Kemayoran. Sikapnya yang tegas seringkali dianggap sebagai pembangkangan oleh pihak Belanda.Ia sama sekali tak mau menunjukkan rasa hormat kepada orang orang Belanda yang berkeliaran di kampungnya. Itulah sebabnya mengapa Tuan Ruys sebagai penguasa Kemayoran senantiasa mencari cari alasan untuk menangkapnya.Pagi itu juga Asni yang sedang santai di rumahnya ditangkap.“Apa salah saya ?”, katanya sambil mencoba melawan. Asni terkejut sekali ia dituduh merampok rumah Babah Yong. “Semalam saya di rumah..”, serunya marah.“Banyak saksi yang melihat saya di rumah”, tambahnya dengan nada keras.Penjelasan Asni sia sia. Opas kemayoran yang mendapat perintah dari Tuan Ruys segera memborgol tangan Asni dan membawanya pergi.Di kantor Opas, Asni dihujani pertanyaan yang tak henti hentinya. Karena merasa dirinya sama sekali tak bersalah, Asni menjawab semua pertanyaan tanpa rasa takut sedikitpun.“Berkali kali saya bilang saya di rumah semalam..”, katanya sambil memukul meja. Wajah Asni merah padam menahan amarah. Tetangga Asni yang menyusul ke kantor Opas kemayoran juga berteriak teriak di luar.“Lepaskan Asni..!!, seru mereka. “Kita semua tahu persis dia ada di rumah semalam..”, tambah yang lain.Mereka tak rela warganya diperlakukan semena mena.Karena tak ada bukti, akhirnya Asni dilepaskan. Tuan Ruys yang merasa tak puas karena niatnya memenjarakan Asni gagal lagi, segera menghampiri Asni. “Kau boleh bebas sekarang, Asni..”, katanya sambil menatap Asni. “Tapi ingat, ada satu syarat yang harus kau penuhi..”, tambahnya lagi dengan suara berat. Meski tak menyukai Tuan Ruys, Asni mencoba menahan diri. “Syarat apa Tuan ?’, tanyanya ingin tahu. “Kau harus bisa menangkap perampok itu..”, kata Tuan Ruys. “Jika tidak, maka kau yang akan di penjara..”, tambahnya sambil menurunkan tongkat yang dikepit di ketiaknya. Meski tak setuju atas syarat itu, Asni mengiyakan saja. Ia juga ingin tahu siapa perampok yang berani mengusik ketenangan kampungnya. “Baik , Tuan Ruys”, ujarnya singkat sambil berlalu meninggalkan Tuan Ruys.Keesokan harinya Asni pergi ke Marunda, sebuah daerah yang terletak tak jauh dari Kemayoran. Niatnya ingin mencari tahu sekiranya perampok yang beraksi di rumah Babah Yong berasal dari situ. Ketika melewati perbatasan antara Kemayoran dan Marunda, Asni dihadang oleh beberapa orang penjaga kampung.“Hei anak muda, mau kemana kau ?”, tanya salah seorang penjaga mengagetkan Asni.“Maaf bang, saya mau lewat…”, jawab Asni sopan.Penjaga itu tersinggung pertanyaannya tak dijawab Asni. “saya tanya baik baik malah tidak dijawab”, katanya sambil berkacak pinggang.Asni akhirnya berhenti melangkah.“Saya mau ke Marunda, bang..”, jawab Asni singkat. Belum sempat Asni melangkah, salah seorang penjaga mendorong pundaknya agak keras sambil berkata.“Mau apa kau kemari haaa… ? mau cari gara gara..?”, ujarnya seolah menantang Asni.Semula Asni diam saja. Beberapa kali ia minta diijinkan lewat namun omongannya dianggap angin lalu. Para penjaga itu malah sibuk bertanya sambil bergantian mendorong Asni. Lama lama kesabaran Asni habis juga. Tak kala Asni terjatuh karena didorong terlalu keras, pemuda itu langsung berdiri dan balas mendorong.Akhirnya perkelahian tak terelakkan lagi. Lima orang penjaga kampung itu menyerang Asni membabi buta. Namun demikian Asni yang mahir silat dapat mengalahkan mereka dengan mudah.Lima orang penjaga kampung itupun lari tunggang langgang. Mereka segera menemui kang Bodong, seorang pendekar tersohor di Marunda. Kang Bodong yang merasa tersinggung karena warganya dikalahkan Asni, segera menemui Asni yang masih berada di sekitar pos jaga. Tanpa banyak tanya, kang Bodong langsung menyerang Asni.Asni hanya menangkis saja jika diserang kang Bodong. Akibatnya kang Bodong menyerang Asni terus terusan hingga ia merasa lelah. Usianya yang tak muda lagi membuat tenaganya gampang terkuras. Kang Bodongpun menyerah kalah.“Maksud saya kemari bukan mau mencari keributan”, kata Asni kepada kang Bodong. “Saya hanya mau mencari informasi soal perampok di rumah Babah Yong”, tambahnya lagi.Asni yakin kang Bodong tahu siapa Babah Yong. Babah Yong memang terkenal sampai ke daerah daerah lain diluar Kemayoran.Belum sempat kang Bodong menjawab, tiba tiba datang seorang gadis menyerang Asni. Sang gadis cukup lincah dengan gerakan gerakan silatnya yang menipu. Namun sayang, ketangkasan gadis itu masih terlalu mudah untuk dikalahkan Asni. Tak memakan waktu lama, Asni dapat melumpuhkan sang gadis.Gadis itu malu sekali takkala bajunya tersangkut di cabang sebuah pohon pada saat ia melompat hendak menyerang lagi. Dengan sigap, Asni menebas batang pohon itu dengan pedangnya hingga sang gadis terjatuh. Tubuhnya segera ditangkap Asni.Asni tersenyum menatap sang gadis yang kini berada dalam gendongannya.“Lumayan cantik juga..”, bisik Asni dalam hati.Sang Gadis yang masih marah karena kalah bertarung malah semakin tersinggung melihat senyuman Asni. Dengan nada tinggi ia berkata “Ada apa senyum senyum ? cepat lepaskan saya..”, ujarnya sambil meronta melepaskan diri dari gendongan Asni.“Mirah….Mirah….hahahahaha…. “, ujar kang Bodong sambil tertawa lepas. Rupanya gadis yang bernama Mirah itu adalah putrinya. “Kau berhak menikahi anak gadisku, Asni…”, kata kang Bodong sungguh sungguh sambil menatapnya.“Aku sudah berjanji akan menikahi Mirah dengan pendekar yang mampu mengalahkannya..”, katanya lagi.Asni terdiam sejenak. Ia tak menyangka tujuannya ke Marunda untuk mencari perampok malah membawanya menemukan jodoh. Asni melirik Mirah yang menunduk malu disamping ayahnya. Wajahnya yang cantik jadi terlihat tambah menarik.“Bagaimana ? setuju ?”, tanya kang Bodong mengagetkannya.“Kalau Mirah mau saya setuju saja..”, jawabnya sambil tersenyum lebar.Orang orang yang sedari tadi melihat pertarungan itu segera bersorak sorak. Mereka senang karena Mirah, pendekar dari Marunda menemukan jodoh seorang pendekar dari Kemayoran. Kang Bodong segera mengajak Asni ke rumahnya. Ia minta diceritakan apa maksud kedatangan Asni ke Marunda. Setelah mendengar cerita Asni, kang Bodong dan Mirah yakin kalau pelakunya adalah Tirta, seorang pemuda berandal di Marunda. Mereka tahu pasti kalau Tirta telah lama berniat merampok Babah Yong.Pesta pernikahan Asni dan Mirah berlangsung meriah. Banyak tamu berdatangan dari Marunda dan Kemayoran. Lurah Kemayoran, Tuan Ruys, dan Babah Yong termasuk tamu yang menghadiri pesta itu. Tak dinyana, Tirta si perampok juga datang.Ia datang bukan sebagai orang yang hendak memberi selamat kepada pengantin. Tirta datang untuk membunuh Asni. Ia sudah mendengar kabar kalau menantu kang Bodong itu berniat menyerahkannya pada opas Kemayoran.Untunglah kang Bodong yang melihat kehadiran Tirta sudah siap siaga atas kemungkinan buruk yang terjadi. Kang Bodong berhasil menahan tangan Tirta yang hendak mengambil pistol dan menembak Asni. Tarik menarikpun terjadi antara kang Bodong dan Tirta. Tanpa sengaja pistol itu meledak di kantong Tirta. Peluru yang keluar bersarang di perutnya.Suara tembakan mengagetkan seluruh undangan yang datang. Para wanita dan anak anak menjerit ketakutan. Beberapa orang yang berada disitu segera membawa Tirta yang bersimbah darah ke rumah sakit. Karena kehabisan darah, Tirta tak tertolong lagi. Ia meninggal di perjalanan.Seminggu setelah pesta pernikahannya, Asni membawa Mirah ke Kemayoran. Kini warga Kemayoran merasa jauh lebih aman setelah kematian Tirta. Lagipula Kemayoran kini mempunyai dua orang pendekar yang merupakan pasangan suami istri Asni dan Mirah.
Cerita Rakyat Pendek dari Banten : Legenda Asal Mula Cikaputrian
Pada jaman dahulu kala hiduplah seorang putri raja yang dikarunia wajah yang sangat menawan. Amat cantik jelita rupa wajahnya. Namun tidak seperti wajahnya yang cantik, tabiat perilaku sang putri sangat buruk dan tidak terpuji. Marasa dirinya merupakan putri Raja, sang Putri sangat manja. Segala keinginannya harus dituruti. Jika tidak dituruti ia akan merajuk dan marah-marah. Sang Putri juga dikenal sebagai orang yang sangat pemalas. Ia kerap menghabiskan waktunya untuk berhias dan kemudian mengagumi kecantikannya sendiri. Satu sifat buruk lain dari Sang Putri adalah kesombongannya. Sang Putri merasa dia adalah perempuan sempurna, selain putri seorang raja dia juga memiliki paras yang sangat cantik.Sang Raja pernah memberikan sebuah puri yang indah untuk putrinya itu setelah putrinya itu meminta dengan memaksa. Puri itu sangat indah, terletak di kaki gunung. Selain luas lagi megah bangunannya, puri itu juga dilengkapi dengan taman yang sangat asri. Berbagai tanaman bunga ditanam di taman yang indah itu. Serasa untuk melengkapi keindahannya, terdapat sebuah danau di dekat puri itu.Danau di dekat puri berair sangat jernih serasa dapat digunakan untuk berkaca. Jika sang Putri berada di purinya, sang Putri kerap mandir di danau itu. Sang Putri tidak memperbolehkan siapapun juga untuk mandiri di danau itu tanpa izin langsung darinya. Sang Putri akan meminta ayahandanya untuk menjatuhkan hukuman yang berat kepada siapapun yang mandi di danau itu tanpa izinnnya.Pada suatu hari sang Putri berada di Purinya seperti biasanya, sang Putri mandi di danau itu seorang diri. Dayang-dayangnya bahkan tidak diperbolehkan untuk mendekati danau tersebut. Sang Putri seperti ingin menguasai sepenuhnya danau itu sendirian. Dia enggan berbagi dengan siapapun juga.Ketika sang Putri tengah mandi, seorang perempuan tua berpakaian kumal lagi compang-camping datang ke danau itu. Entah darimana asal si perempuan tua karena mendadak dia muncul dekat danau. Sepertinay dia ingin mandi atau mencuci muka di danau itu.Sang Putri sangat terperanjat mendapati kehadiran si perempuan tua berpakaian compang-camping. Dia segera mendatangi dan bertolak pinggang di hadapan si perempuan tua. Katanya dengan wajah menyiratkan kemarahan dan jari telunjuk kanan teracung ke arah si perempuan tua.” Hei peempuan tua, siapa engkau?”Si perempuan tua terperanjat, Dia hanya terdiam dan menatap heran pada sang Putri.“Mau apa engaku ke danau ini? Mau mandi?”Si perempuan tua masih tetap terdiam. Dia seperti kebingungan dan keheranan mendengar bentakan sang Putri.“Hai perempuan tua! Tulikah engaku hingga tidak mendengar pertanyaanku?” kedua mata sang Putri melotot ke arah si perempuan tua.” Atau jangan-jangan engkau buta pula sehingga tidak tahu jika danau ini adalah milik prribadiku. Danau ini hanya khusus untukku, putri raja, bukan untuk perempuan tua dekil seperti engkau.”Si perempuan tua tetap terdiam. Bibirnya tampak gemetar seperti sedang menahan amarah.Mendapati si perempuan tua tetap terdiam dan juga tidak beranjak pergi, Sang Putri kembali menghardik dengan kasar.” Perempuan dekil, lekas engkau pergi menjauh dari danau ini! Pergi! Air danau yang jernih ini akan kotor terkena tubuhmu yang dekil dan bau!”“Betapa sombongnya engkau ini.” Akhirnya keluar juga ucapan dari si perempuan tua.“apa katamu.” Sang Putri langsung menyela.” Lancang sekali mulutmu! Apakah engkau tidak tau saat ini tengah berhadapan dengan siapa?”“Aku tahu. Aku tengah berhadapan dengan seorang Putri Raja.” Jawab si perempuan tua.” Namun apakah karena engkau Putri raja lantas engkau dapat bertindak semaumu terhadap orang lain?”“Apa pedulimu?” Sang Putri bertambah marah.” Aku Putri raja, aku bebas berbuat apapun yang aku suka, termasuk mengusirmu! Pergi engkau hai perempuan dekil buruk rupa.”“Engkau memang putri raja, namun tidak seharusnya seorang putri raja bebas mengumbar ucapan kesombongan! Meski putri raja engkau tetaplah seorang manusia adanya. Ucapan kasar lagi sombongmu itu tidak layak keluar dari mulut seorang manusia. Ucapanmu sungguh berbisa dan hanya ular hitam berbisa saja yang memiliki mulut seperti itu.”Seketika si perempuan tua selesai berucap, tiba-tiba terjadilah keajaiban. Langit mendadak berubah menjadi gelap. Mendung tebal bergulung-gulung , sangat menakutkan untuk dilihat. Tiba-tiba cahaya menyilaukan mata menerangi kegelapan disusul petir yang menggelegar menghantam tubuh sang Putri. Seketika tubuh sang Putri terpental dan berubah wujud menjadi seekor ular hitam berbisa!Sang Putri raja kena kutukan menjadi ular hitam berbisa karena kesombongannya.Ular hitam jelmaan Putri raja terlihat sangat sedih. Airmatanya bercucuran. Airmata penyesalan. Mulutnya terlihat bergerak-gerak dan suaranya mendesis seolah meminta maaf atas perlakuan buruknya kepada si perempuan tua. Namun, airmata penyesalan tinggallah air mata dan penyesalannya karena wujud sang Putri raja berubah menjadi ular.Dari langit tiba-tiba terdengar suara yang tertuju pada ular hitam berbisa jelmaan sang Putri raja.” Karena kesombonganmu, engkau memang tidak pantas menjadi manusia. Engkau hanya pantas menjadi ular berbisa untuk selama-lamanya!”Kutukan telah jatuh dan tetap untuk sang Putri raja.Meski menggunung penyesalannya, tetap sang Putri Raja berwujud ular hitam berbisa. Wujudnya tidak dapat kembali lagi seperti semula. Dengan air mata yang terus mengucur, ular hitam itu memasuki danau. Karena dia sangat malu dengan wujudnya saat ini, dia bersembunyi di dasar danau yang dapat digunakan sebagai tempat persembunyian baginya.Terkenanya sang Putri Raja oleh kutukan hingga berubah wujud menjadi ular hitam berbisa diketahui oleh pada penduduk sekitar danau. Mereka lantas menamakan danau itu dengan nama Cikaputrian yang artinya danau tempat sang Putri mandi.
Cerita Rakyat Banten : Pangeran Pandeglang dan Putri Cadasari
Pada suatu hari di Bukit Manggis terlihat seorang putri yang sangat cantik duduk terpaku. Tatapan matanya kosong, ia terlihat sedih. Melintaslah seorang laki-laki separuh baya dengan memilkul karung diatas pundaknya.Laki-laki itu terdiam sejenak ketika melihat sang Putri. Terlihat di wajah lelaki itu dia khawatir dengan kondisi sang putri, “Sampurasun…,” sapa laki-laki paruh baya itu, “Maaf apabila saya telah membuat Tuan Putri terkejut, ada apa gerangan yang membuat Tuan Putri terlihat bersedih hati?” Ucap Laki-laki itu sambil menundukkan kepalanya.“Rampes,” jawab sang putri. Sang Putri tidak segera menjawab. Dia memperhatikan penuh seksama lelaki yang berdiri di hadapannya. Putri merasa yakin, lelaki itu adalah lelaki baik. “Aku pikir tiada guna aku menceritakan masalah pribadiku kepada orang lain.” Jawab Sang Putri Cantik“Jika demikian, mohon maafkan aku yang telah ikut campur masalahTuan Putri,” ucap laki-laki itu. Dia kemudian bersiap berlalu.“Sebentar, tuan!” Sang Putri mencegah. Tiba-tiba Sang Putri sambil berurai air mata. “Siapakah nama anda Kisanak?”“Aku adalah orang yang membuat gelang. Pande gelang. Banyak orang memanggil nama saya dengan Ki Pande,” jawab lelaki paruh baya itu, “Lantas siapakah nama sang Putri?” tanya Ki Pande.“Namaku Putri Arum,” jawab sang Putri. Lalu ia mulai bercerita tentang dirinya yang saat ini sedang dilanda permasalahan. Dia dilamar oleh seorang pangeran tampan yang bernama Pangeran Cunihin. Walaupun parasnya elok rupawan, Pangeran Cunihin sangat bengis dan kejam. Semua orang takut kepada pangeran Cunihin karena memilki kesaktian yang sangat tinggi. Semua keinginan Pangeran Cunihin harus dipenuhi, jika tidak dipenuhi dia tidak segan-segan memberikan hukuman yang sangat berat.Contoh Dongeng Sunda Pendek Dari BantenContoh Dongeng Sunda Pendek Dari BantenPangeran Cunihin ingin menjadikannya sebagai istri. Namun sang Putri tentu tidak menginginkannya. “Aku mendapatkan petunjuk dari penasihat kerajaan, agar bertafakur di Bukit Manggis ini. Nanti akan ada orang yang mampu menolong permasalahanku. Saya sangat sedih karena sepertinya nasihat itu tidak membuahkan hasil. Tiga hari kedepan Pangeran Cunihin akan tiba dan memaksaku untuk menikah dengannya,” ucap sang Putri sedih.Ki Pande mendengarkan cerita Putri Arum dengan seksama, dia mengangguk-angguk tanda paham dengan keadaan yang melanda sang putri. “Putri, terima dulu permintaan Pangeran Cunihin itu namun dengan satu syarat Pangeran Cunihin harus melubangi batu keramat supaya bisa dilalui manusia. Kemudian batu tersebut harus diletakkan di pesisir pantai. Semuanya harus dikerjakan tidak Iebih dan tiga hari,” Ki Pande menjelaskan.“Bukankah syarat itu sangat mudah dilakukan oleh Pangeran Cunihin?” tanya sang Putri.“Tapi tidak semua orang mau melakukannya. Sebab dengan melubangi batu keramat, setengah dari kemampuan orang tersebut akan hilang.” Ki Pande menjawab ke khawatiran Sang PutriMendengar seluruh penjelasan Ki Pande, akhirnya Putri Arum menyetujui. Ki Pande kemudian mengajak Putri Arum ke tempat tinggalnya, sambil membawa karung yang berisi alat-alat membuat gelang. Perjalanan menuju tempat tinggal Ki Pande sangat melelahkan Putri Arum. Sudah hampir setengah hari perjalanan, rnereka belum juga sampai. Putri Arum pun jatuh pingsan di atas sebuah batu cadas.Ki Pande Membawa Putri Arum ke rumah salah seorang penduduk dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Salah seorang sesepuh kampung mengatakan bahwa Putri Arum bisa segera pulih jika minum air gunung yang memancar melalui batu cadas.Beberapa orang kampung bergegas mencari sumber mata air batu cadas. Dan keajaiban pun terjadi, Putri Arum kembali sehat setelah meminum air yang berasal dari batu cadas itu. Penduduk kampung lalu memanggil Putri Arum dengan sebutan baru yaitu Putri Cadasari.Sementara itu, Ki Pande tengah menyiapkan rencana baru. Dia membuat gelang yang sangat besar, yang bisa dilalui manusia. Gelang tersebut akan dipasang pada Iingkaran lubang batu keramat yang dibuat Pangeran Cunihin. Waktu yang ditentukan Pangeran Cunihin pun tiba. Dia datang menemui Putri Cadasari dan menagih jawaban. Putri Cadasari pun mengajukan syarat kepada Pangeran Cunihin. Pangeran Cunihin menyanggupinya.Pangeran Cunihin berhasil menemukan batu keramat yang disyaratkan. Batu keramat itu kemudian dibawanya ke sebuah pesisir yang sangat indah. Ki Pande dan Putri Cadasari diam-diam mengikuti dari kejauhan. Di tempat yang terlindung mereka bersembunyi, menyaksikan apa yang dilakukan Pangeran Cunihin. Sesaat kemudian batu keramat itu pun retak dan berjatuhan.Sungguh ajaib, sebuah lubang yang sangat besar tercipta di tengah bath keramat itu, “Nah…, aku berhasi! Tuan Putri akan segera menjadi permaisuriku!” seru Pangeran Cunihin segera berlari mencari Putri Cadasari.Kesempatan itu tak disia-siakan Ki Pande untuk memasang gelang besar pada batu keramat yang telah berlubang ltu. Namun rupanya Pangeran Cunihin telah datang bersama Putri Cadasari dan memergokinya.“Hei kau tua Bangka! Rupanya kau sedang mengagumi mahakaryaku. Bukankah aku pernah mengatakan kepadamu bahwa kau tidak pantas menjadi pemenang. Kau hanya pantas menjadi pecundang! Hahaha!” Pangeran Cunihin tertawa puas. “Lihatlah, sang Putri telah menjadi milikku. Kau tidak bisa lagi memilikinya!”Putri Cadasari terkejut mendengar omongan Pangeran Cunihin, seakan-akan telah mengenal Ki Pande. Belum selesai keheranan itu terjawab, Pangeran Cunihin telah menarik tangan Putri Cadasari untuk melihat batu keramat yang telah berlubang itu. Putri Cadasari berusaha bersikap tenang dan mencoba menunjukkan kegembiraan, walau di dalam hatinya dia merasa sangat takut impian buruknya menjadi pendamping Pangeran Cunihin akan menjadi kenyataan.“Apabila Putri tidak percaya dengan ucapanku, aku akan melangkah melewati batu keramat ini sebagai bukti,” ucap Pangeran Cunihin. Tidak berpikir panjang, Pangeran Cunihin lalu melangkah melewati lubang batu keramat yang telah dilobanginya. Namun tiba-tiba Pangeran Cunihin merasakan kesakitan amat sangat. Dia berteriak keras. Suaranya menggetarkan bumi. Kemudian semua kesaktiannya pun sirna. Dia terjatuh Iemah, tak mampu berdiri. Pelan-pelan, Pangeran Cunihin terlihat perubahan pada diri Pangeran Cunihin. Dia menjadi seorang tua renta yang lemah, seakan-akan sudah melewati lorong waktu.Sementara itu, Ki Pande pun berubah menjadi seorang pemuda tampan. Putri Cadasari terkejut melihat keanehan itu. Kemudian Ki Pande yang telah berubah menjadi pemuda tampan itu menceritakan.“Pangeran Cunihin lah yang telah membuat rupa saya seperti itu. Dahulu kami adalah dusa sahabat. Namun setelah memperoleh kesaktian, dia mencuri semua kesaktianku, kemudian menjadikan ku sebagai seorang yang tua renta. Namun ada satu yang dapat menyembuhkan keadaan itu, yaitu apabila Pangeran Cunihin melewati gelang buatan tanganku,” jelas Ki Pande.“Kini aku telah kembali menjadi diriku yang sebenarnya. lni semua adalah berkat bantuan dari Tuan Putri. Karena hal tersebut aku ucapkan terima kasih sebesar-besarnya,” ucap[ angeran Pande Gelang, sambil memegang tangan sang Putri Cadasari.“Seharusnya aku yang berterima kasih, Pangeran. Ternyata Petunjuk yang aku terima dari penasihat istana itu memang benar,” Kemudian, keduanya meninggalkan batu keramat berlubang itu.Bersama berjalannya waktu mereka pun menikah dan hidup bahagia. Wilayah dimana memperoleh batu keramat itu dikemudian hati dikenal dengan sebutan kampung Kramatwatu sedangkan batu besar berlubang di pesisir pantai kini menjadi objek wisata Pantai Karang Bolong.Tempat sang Putri melaksanakan wangsit di Bukit Manggis, kini orang mengenalnya dengan kampung Pasir Manggu. Sedangkan wilayah Putri disembuhkan dari sakitnya hingga saat ini dikenal dengan nama Cadasari di wilayah Pandeglang, tempat dimana Pangeran Pande Gelang membuat gelang.
Cerita Rakyat Dari Banten : Kisah Asal Muasal Gunung Pinang
Pada zaman dahulu kala, di sebuah pesisir pantai kota Banten. Hiduplah seorang janda dengan anak laki-lakinya. Anak laki-laki itu bernama Dampu Awang. Kehidupan mereka sangat miskin dan serba kekurangan.Namun, meskipun kehidupan mereka sangat miskin Dampu Awang memiliki cita-cita yang sangat tinggi. Ia ingin sekali menjadi seorang saudagar kaya raya. Tetapi, cita-cita tersebut sangat sulit untuk di raihnya. Jangankan untuk menjadi saudagar kaya raya. Pekerjaan yang tetap saja ia tidak punya.Suatu hari, ada sebuah kapal layar berlabuh milik seorang saudagar kaya yang bernama Teuku Abu Matsyah. Saudagar kaya itu akn berdagang di Banten. Melihat kapal saudagar kaya itu, timbul sebuah keinginan untuk bekerja di sana sebagai awak kapal. Ia segera kembali ke rumah dan mengutarakan keinginannya kepada sang ibu.‘’ Ibu, di pelabuhan ada kapal seorang saudagar yang sangat kaya sedang berdagang di sini. Aku ingin sekali bekerja di kapalnya. Jika aku beruntung, siapa tahu aku bisa menjadi saudagar kaya sepertinya. Bu, bolehkah aku ikut berlayar dengannya? Tanya Dampu Awang.Namun, ibunya langsung melarang.‘’ Tidak anakku! Kau tidak boleh ikut berlayar bersama sudagar kaya itu.’’ Jawab sang ibu tegas.‘’ Mengapa bu? Dengan cara aku bekerja di kapal tersebut. aku dapat membantu ibu untuk memenuhi kebuhuhan kita. Apalagi jika suatu saat nanti aku bisa menjadi saudagar kaya. Kehidupan kita akan berubah.’’ Kata Dampu Awang.‘’ Tidak Nak! Ibu sangat takut. Jika kau sudah menjadi kaya nanti. Kau pasti akan lupa dengan ibumu yang miskin ini.’’ Kata ibunya sedih.Namun, Dampu Awang terus saja merengek agar diijinkan untuk pergi berlayar. Akhirnya, dengan berat hati sang ibu pun mengalah. Sang ibu mengizinkan Dampu Awang untuk ikut berlayar bersama saudagar itu. Tetapi, sang ibu meminta Dampu Awang untuk berjanji agar ia selalu memberikan kabar. Sebelum berangkat, sang ibu menitipkan Burung kesayangan milik ayahnya.‘’ jagalah Burung itu baik-baik Nak, dan jangan lupa untuk memberikan kabar.’’ Kata ibuya.‘’ Baik bu, aku tidak akan melupakan pesan ibu.’’ Kata Dampu Awang.Sang ibu pun menangis dan memeluk anaknya dengan sangat erat. Dampu Awang pun langsung naik kapal dan siap untuk berlayar ke malaka.Selama di kapal, Dampu Awang dikenal sebagai pekerja yang sangat rajin. Ia selalu menjalankan perintah majikannya dengan baik. Saudagar Teuku Abu Matsyah sangat senang melihat semangat Dampu Awang. Jabatannya terus naik dan selalu memuaskan.Suatu hari, saudagar kaya itu memanggil Dampu Awang‘’ Ampun Tuanku! Ada keperluan apa tuan memanggil saya?’’ kata Dampu Awang.‘’ Begini Dampu Awang. Aku melihat pekerjaan mu ini sangat baik. Selama kau bekerja di sini, kau selalu menunjukkan rasa hormatmu. Aku sangat ingin menjodohkanmu dengan putriku. Siti Nurhasanah. Bagaimana? Apakah kau mau menikah dengannya?’’ ujar Teuku Abu Matsyah.Dampu Awang sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan majikannya tersebut. ia pun sangat senang.‘’ Tentu saja saya bersedia Tuan.’’ Jawab Dampu Awang.万丹的民俗Cerita Rakyat dari BantenAkhirnya, pernikahan pun dilaksanakan dengan sangat meriah. Setelah menjadi menantu saudagar kaya. Ia di percaya untuk menyimpan seluruh harta mertuanya tersebut. Setelah mereka menikah, Teuku Abu Matsyah jatuh sakit dan meninggal dunia. Dampu Awanglah yang menggatikan posisi ayah mertuanya tersebut.Setelah menjadi saudagar kaya. Ia melupakan ibunya. Ia tidak pernah lagi memberikan kabar dan terlena dengan kemewahan. Suatu hari, Dampu Awang dan istrinya berlayar ke wilayah pantai Banten. Tibalah mereka di daerah tempat tinggal Dampu Awang.Seluruh pernduduk sangat terpukau melihat kemewahan kapal Dampu Awang. Para penduduk beramai-ramai datang ke pelabuhan untuk melihat kapal layar yang sangat mewah tersebut. kabar tentang berlabuhnya kapal layar yang mewah itu terdengar oleh sang ibu Dampu Awang. Ia sangat yakin saudagar kaya itu adalah anak laki-lakinya. Ia pun langsung bergegas datang ke pelabuhan untuk bertemu dengan Dampu Awang.Setibanya di pelabuhan, ibu Dampu Awang melihat anaknya berdiri di pinggir kapal dan mengenakan pakaian yang sangat mewah. Selain itu, sang ibu pun melihat ada seorang wanita yang sangat cantik berdiri di sampingnya. Sang ibu sangat senang karena anaknya, sekarang sudah memiliki seorang istri. Ia langsung berlari ke arah kapal mendekati anaknya tersebut. Ia berlari dengan cepat dan berteriak memanggil nama anaknya.‘’ Dampu Awang anakku, kau sudah kembali Nak, ibu sangat merindukanmu.’’ Kata sang ibu menangis bahagia.Dampu Awang sangat terkejut melihat seorang perempuan tua yang pakaiannya compang-camping dan sangat dekil sekali. Ia sangat mengenal wajah perempuan yang memanggil-manggil namanya tersebut. Ia tahu bahwa perempuan itu adalah ibunya. Namun, ia sangat malu mengakui perempuan yang seperti pengemis itu ibunya.‘’ Kang, apakah perempuan tua itu adalah ibumu? Mengapa selama ini kau tidak pernah menceritakan jika masih mempunyai seorang ibu?” Tanya istrinya heran.‘’ Bukan sayang! Perempuan tua itu bukan ibuku. Ibuku sudah lama meninggal. Ia hanya seorang perempuan yang gila. Sudah abaikan saja perkataannya itu. Sungguh tidak penting!’’ kata Dampu Awang.Sang ibu terus-menerus memanggil namanya.‘’ Hei, perempuan tua! Diamlah! Kau bukan ibuku. Aku sudah tidak memiliki ibu. Ibuku sudah lama meninggal!’’ kata Dampu Awang sangat kesal.Sang ibu sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan anak laki-lakinya itu. Kini ketakutannya menjadi kenyataan. Hatinya bagaikan teriris-iris. Kini, anak kandungnya sendiri tidak mengakuinya sebagai ibunya. Air matanya pun membasahi pipinya. Tanpa sadar ia berdoa.‘’ Ya Tuhan, apakah aku salah? Jika dia bukan anakku Dampu Awang, biarkanlah dia pergi. Tetapi, jika dia anakku. Tolong berikanlah hukuman yang setimpal kepadanya!’’ doa sang ibu.Tidak lama kemudian, bumi seketika bergetar. Langit bergemuruh. Petir pun menyambar sangat dasyat. Langitpun berubah menjadi sangat gelap. Tiba-tiba, terjadilah badai. Kapal layar Dampu Awang yang sagat mewah itu terombang-ambing di lautan. Seluruh isinya porak-polanda. Dampu Awang dan istrinya sangat panik dan bingungTiba-tiba, Burung peliharaan Dampu Awang berbicara.‘’ Dampu Awang! Akuilah perempuan itu sebagai ibumu. Cepatlah akui dia!’’ kata sang Burung.‘’ Tidak, ibuku sudah lama mati.’’ Teriak Dampu Awang.Seketika, kapal layar Dampu Awang tiba-tiba terangkat ke udara dan terlempar ke sebelah selatan dan seluruh isinya. Kapal itu tertelungkup dan membentuk sebuah gunung. Dampu Awang dan istrinya tidak dapat menyelamatkan diri. Setelah itu lautan kembali seperti semula dan seolah tidak terjadi apa-apa.Gunung tersebut di kenal dengan nama Gunung Pinang. Dan hingga kini, gunung tersebut masih ada dan letaknya di antara kota Serang dan Cilegon.
Ringkasan Cerita Rakyat Nusantara : Masjid Sumpah Terate Udik
Syandan di sebuah desa, ada sebuah mushola yang menjadi pusat kehidupan sosial. Selain menjadi tempat ibadah, mushola tersebut sering dipakai untuk bermusyawarah dan menyelesaikan masalah-masalah yang menyangkut kehidupan sehari-hari. Pengurus mushola ini bernama ustad Wahid.Pada suatu hari, terjadi perselisihan antara Pak Tio dan Pak Sidik tentang tanah. Ustad Wahid akhirnya memutuskan bahwa perkara ini akan diselesaikan di mushola. Masing-masing pihak diminta menyiapkan seorang saksi yang akan disumpah dengan memakai sehelai selendang di hadapan kitab suci al-Qur’an.“Demi Allah, tanah itu milik Pak Sidik. Saya melihat Ki Ahmad memberikan wasiatnya kepada Pak Sidik!” ucap Rahmat, saksi dari pihak Pak Sidik.“Benarkah?” tanya ustad Wahid.“Semua itu dusta, Ustad. Kami, saksi Pak Tio, membawa surat wasiat Ki Ahmad. Seseorang menemukannya di bawah kasur Ki Ahmad!” jelas Randik sembari menunjukkan surat wasiat tersebut.Akhirnya, ustad Wahid dan pengurus mesjid memenangkan Pak Tio. Pada malam harinya terdengar berita bahwa Randik jatuh sakit dan beberapa hari kemudian ia meninggal dunia. Pak Tio merasa bersalah, karena ia menyuruh Randik bersumpah palsu di mushola. Selain itu, ia juga mengaku bahwa dirinya pula yang membuat surat wasiat palsu.“Aneh, rumah Pak Tio tiba-tiba terbakar. Pak Tio tidak dapat diselamatkan. Akhirnya, sisa-sisa kekayaan Ki Ahmaddiwakafkan ke mushola. Semenjak peristiwa itu, tak pernah lagi terdengar perselisihan perkara tanah. Namun beberapa waktu kemudian dikabarkan bahwa seseorang mencuri barang-barang berharga di rumah Fatimah. Ustad Wahid berjanji akan mencari pencurinya.Keesokan harinya, ustad Wahid diundang Pak Fikar ke rumahnya, Ustad Wahid dan warga disuguhi makanan dan minuman yang lezat. Aneh, Pak Umar, hanya diam saja. Setelah acara selesai, ustad Wahid bertanya kepada Pak Umar,“Ada masalah apa, Pak Umar, dari tadi diam saja?” tanya ustad Wahid.“Begini, ustad, saya melihat emas kepunyaan istri saya dipakai oleh istri Pak Fikar. Ia juga mengenakan cincin batu peninggalan bapak saya,” jelas Pak Umar.“Jangan berprasangka buruk dulu, mungkin bentuknya sama!” ustad Wahid mengelak.Pak Umar dan beberapa temannya mendatangi rumah Pak Fikar. Mereka bercakap-cakap dengan Pak Fikar, sedangkan Pak Umar mengintip dari balik dinding tembikar.“Pak Fikar, cincin Anda sungguh indah. Dapat dari mana?”“Cincin ini pemberian kakak saya,” jawab Pak Fikar. Setelah mendapatkan keterangan, mereka kembali ke rumah masing-masing. Untuk menyelesaikan masalah itu, ustad Wahid meminta Pak Fikar bersumpah di mushola.“Saya bersumpah, demi Allah, tidak pernah mencuri di rumah Pak Umar!” sumpah Pak Fikar. Beberapa hari setelahnya, Pak Fikar sakit. Akhirnya, Pak Fikar pun meninggal dunia. Oleh karena itu, setiap ada permasalahan, warga.Ringkasan Cerita Rakyat Nusantara dari BantenRingkasan Cerita Rakyat Nusantara dari Bantenmenyelesaikannya di mushola tersebut. Sejak saat itu, warga desa menganggap bahwa mushola itu adalah tempat yang harus dijaga dan dilestarikan.Akhirnya, mushola itu diperbesar dan berubah menjadi masjid dengan nama Masjid Terate Udik, sesuai dengan nama kampungnya. Masjid Terate Udik dipercaya dapat memberi bukti tentang perbuatan salah dan benar seseorang. Tetapi, hanya orang-orang tertentu saja yang berani bersumpah di dalamnya.
Dongeng Legenda Rakyat : Asal Muasal Telaga Warna
Suatu hari, seorang permaisuri mengandung dan melahirkan seorang bayi perempuan. Seiring waktu, sang Putri tumbuh menjadi seorang gadis cantik, Ia sangat dimanja dan semua keinginannya dituruti.Sebentar lagi, sang Putri akan berusia tujuh belas tahun. Seluruh rakyat kerajaan pun berlomba mengumpulkan hadiah. Hadiah itu dikumpulkan jadi satu dan diberikan kepada sang Raja. Hadiah yang berupa emas dan permata diolah menjadi kalung indah.Tepat pada hari ulang tahun sang Putri, sang Raja menyerahkan kalung tersebut. Namun diluar dugaan, sang Putri tidak menyukai kalung tersebut. Sang Putri hanya melirik kalung itu sekilas. Melihat hal tersebut, sang Raja membujuk sang Putri agar mau mengenakan kalung tersebut.Dongeng Telaga Warna Dari BantenDongeng Telaga Warna Dari Banten“Tidak mau,” jawab sang Putri.Mendengar jawaban tersebut, sang Permaisuri mengambil kalung tersebut lalu memakaikan di leher sang Putri. Namun sebelum terpasang, sang Putri menepis tangan sang Permaisuri hingga kalung itu jatuh. Kalung itu putus dan permatanya berserakan. Sang Putri segera bergegas masuk ke kamarnya.Melihat hal tersebut, sang Raja, sang Permasuri, beserta tamu yang lain sangat sedih. Mereka menangis. Kabar kejadian itu tersebar hingga luar, sampai seluruh rakyat mengetahui. Mereka pun mulai menangis. Mereka tak pernah mengira sang Putri akan bertindak seperti itu.Tiba-tiba, di tempat kalung jatuh muncul mata air. Mata air itu makin membesar, hingga seluruh kerajaan tergenang. Hingga akhirnya, terbentuklah sebuah danau yang luas. Hingga sekarang, penduduk menamai danau tersebut Telaga Warna.
Cerita Rakyat Bangka Belitung : Jembatan Emas untuk Putri
Bujang Katak, begitulah ia biasa dipanggil, karena ia memang menyerupai katak. Kulitnya licin dan berwarna kehijauan, Iehernya pun pendek seperti katak. Bujang Katak adalah anak tunggal wanita tua yang miskin. Dulu, wanita itu rajin berdoa agar Tuhan mengaruniakan seorang anak padanya. Tanpa sengaja, ia berkata bahwa meskipun anak yang diberikan menyerupai katak, ia akan tetap mencintainya. Rupanya Tuhan mengabulkan doanya, dan lahirlah si Bujang Katak.Bujang Katak rajin membantu ibunya di ladang. Para penduduk desa pun menyukai Bujang Katak karena sikapnya yang ramah dan suka membantu. Akhir-akhir ini, Bujang Katak tampak murung. Ia sering duduk melamun. Ibunya yang heran melihat perubahan sikapnya pun bertanya, “Apa yang kau pikirkan, Nak? Seharian kau hanya duduk melamun.”Bujang Katak menghela napas, “Aku sekarang sudah dewasa Bu, sudah saatnya aku menikah.”Ibunya tersenyum, “Ah, rupanya kau sedang jatuh cinta. Katakan pada Ibu siapa wanita itu dan Ibu akan segera melamarnya.”“Putri Raja, Bu. Aku dengar Raja memiliki tujuh putri yang cantik-cantik. Maukah Ibu melamar salah satu dari mereka untukku?”Ibunya sangat terkejut, “Mana mungkin seorang putri raja sudi menikah dengan anakku,” pikirnya dalam hati. Namun karena sangat menyayangi anaknya, ibu itu pun mengiyakan.Esok harinya, si Ibu berangkat ke istana. Tak lupa ia membawa sedikit buah tangan untuk Raja. Sesampainya di istana, Raja segera menanyakan maksud kedatangannya.“Ampun Baginda. Maafkan hamba jika lancang. Maksud kedatangan hamba adalah untuk melamar salah satu putri Baginda untuk putra hamba,” kata Ibu dengan sedikit cemas.Raja mengernyit. Dipandangnya ibu itu dari atas sampai ke bawah.“Wanita miskin ini rupanya salah tujuan. Mana mau putri-putriku bersuamikan orang miskin?” pikirnya dalam hati. Meski berpikir demikian, karena sang Raja merupakan Raja yang bijaksana, Raja tak mau mengecilkan hati ibu Bujang Katak. Beliau lalu memanggil ketujuh putrinya untuk menemui ibu tersebut.“Putri-putriku, apakah ada dari kalian yang bersedia menikah dengan putra wanita tua ini?” tanya Raja. Serempak putri-putri itu tertawa mengejek. “Hai wanita tua, anakmu mimpi di siang bolong, ya?”Mereka lalu masuk kembali ke istana dan tak menghiraukan ibu Bujang Katak. Hanya putri bungsu raja yang tetap tinggal. Ia menghampiri ibu Bujang Katak dan berkata, “Pulanglah. Katakan pada putramu untuk datang sendiri melamarku.”“Bungsu, apakah kau benar-benar ingin menikah dengan Bujang Katak? Ia hanya pemuda miskin dan rupanya seperti katak,” kata Raja panik. Lebih dari itu Putri bungsu merupakan putri yang paling cantik dan putri yang paling baik hati diantara ketujuh putrinya. Sang Rajapun sebenarnya paling sayang dengan Putri Bungsu karena selain cerdas, putri bungsu juga anak yang bijaksana.“Jika Ayahanda mengizinkan, aku bersedia menikah dengan Bujang Katak. Aku mendengar bahwa Bujang Katak adalah pria yang baik. Bukankah aku harus mencari suami yang baik?” jawab Putri Bungsu. Raja tak bisa menjawab. Ibu Bujang Katak pun segera pulang untuk memberitahu kabar gembira ini pada Bujang Katak.Keesokan harinya, Bujang Katak pergi ke istana. “Hai Bujang Katak, kau boleh memperistri putri bungsuku, tapi ada syaratnya,” kata Raja saat Bujang Katak menghadap. Sang Raja sengaja akan memberi suatu syarat yang sangat sulit sehingga tidak mungkin dapat terwujud. Hal ini sebenarnya untuk menolak lamaran Bujang Katak secara halus.“Apa pun syaratnya, hamba akan berusaha memenuhinya,” jawab Bujang Katak mantap.“Aku ingin kau membangun jembatan emas di atas sungai yang menghubungkan istana ini dengan desamu. Suatu saat jika aku ingin mengunjungi putriku di desamu, aku tak perlu menyeberang sungai dengan perahu. Cukup dengan melewati jembatan emas itu. Apakah kau mampu memenuhinya?” tanya Raja.“Siap Baginda. Hamba akan segera membangun jembatan itu,” kata Bujang Katak dengan nada yakin dan mantap.“Ingat Bujang Katak! Jembatan itu harus siap dalam waktu satu minggu, Kalau tidak, jangan harap kau bisa menikahi putriku!” kata Raja menambahkan syarat yand diajukan pada Bujang Katak.Bujang Katak kembali ke rumahnya. Ia menceritakan permintaan Raja kepada ibunga. “Tapi anakku… kita ini hanya orang miskin. Mana mampu kita membeli emas untuk membangun jembatan itu?” Ucap Ibu Bujang Katak memelas.“Bu, dengan pertolongan Tuhan, apa pun bisa kita lakukan. Aku akan memohon pada Tuhan untuk memberi jalan kepadaku,” sahut Bujang Katak mantap. Malam itu, Bujang Katak terus berdoa dan berdoa. Ia yakin Tuhan akan menolongnya.Pagi-pagi, seperti biasa Bujang Katak bangun dan bersiap pergi ke ladang. Ketika ia mandi, keajaiban pun terjadi. Kulitnya yang tebal dan licin terkelupas. Tiap kali ia mengguyurkan air ke tubuhnya, kulitnya rontok. Perlahan-lahan, seluruh kulit tubuhnya terkelupas. Bujang Katak heran. Ia menatap onggokan kulitnya yang terkelupas. Ia segera masuk rumah untuk bercermin. Alangkah kagetnya ia, di hadapannya tampak sosok pemuda tampan dengan kulit kecokelatan! Bukan lagi pemuda yang menyerupai katak. Tak percaya, Bujang Katak terus meraba wajahnya. “Ibu… Ibu… cepat kemari… lihatlah diriku, Bu!” teriak Bujang Katak. Ibunya tergopoh-gopoh menghampiringa. “Ya Tuhan, sungguh besar cintaMu pada anakku ini,” seru Ibu sambil memeluk Bujang Katak.Bujang Katak kembali ke sumur untuk meneruskan mandinya. Sekali lagi, keajaiban terjadi. Onggokan kulit yang tebal itu telah berubah menjadi emas! Bujang Katak berteriak-teriak kegirangan, “Terima kasih Tuhan, terima kasih… Kau sudah memberikan jalan keluar untukku.”Bujang Katak menunjukkan emas itu pada ibunya. “Bu, sekarang aku sudah bisa membangun jembatan emas. Doakan aku, agar bisa menyeIesaikannya tepat waktu. Bujang Katak mulai bekerja, siang dan malam tiada henti.Hari yang ditentukan telah tiba. Bujang Katak dan ibunya menghadap Raja. Saat itu, Raja dan para putrinya sedang berkumpul. Mereka semua heran melihat sosok pemuda yang datang menghadap Raja.“Hai wanita tua, mana putramu yang seperti katak itu? Siapa pemuda ini?” tanya Sang Raja kebingungan.“Ampun Baginda, pemuda ini adalah Bujang Katak. Tuhan telah mengubah wujudnya menjadi pemuda yang tampan,” jawab ibu Bujang Katak. Mareka saling berpandangan. Putri Bungsu pun tersenyum bahagia.“Hei anak muda, meskipun kau sudah menjadi pemuda yang tampan, kau tetap harus memenuhi syaratku. Apakah jembatan emas itu sudah jadi?” tanya Sang Raja.“Tentu saja Baginda. Mari hamba antar Baginda untuk melihatnya,” jawab Bujang Katak.Pada pagi hari, jembatan emas itu sungguh indah. Warna keemasan memantul dari setiap bagian jembatan. Raja senang melihat tekad dan usaha Bujang Katak untuk menikahi putri bungsunga. “Rupanya pilihan Putri Bungsu memang tepat. Pemuda ini mau bekerja keras demi mencapai cita-citanya,” pikir Raja. “Baiklah Bujang Katak. Mari kita kembali ke istana dan membicarakan pesta pernikahanmu dengan Putri Bungsu,” ajak Raja. Bujang Katak pun mengangguk setuju. Ia mengulurkan tangannya pada Putri Bungsu. Dengan malu-malu, Putri Bungsu mengambut uluran tangan calon suaminya.
Cerita Rakyat dari Bangka Belitung : Si Penyumpit dan Babi Hutan
Si Penyumpit adalah seorang pemuda yang pandai menyumpit hewan buruan. Selain kemampuannya dalam menyumpit, dia juga pandai meramu obat-obatan. Penduduk desa sangat menyukai si Penyumpit. Hanya satu orang yang tidak suka padanya, yaitu Pak Raje, Kepala Desa yang kikir. Almarhum ayah si Penyumpit pernah berutang pada Pak Raje dan ia selalu menuntut si Penyumpit untuk melunasi utang ayahnya.Suatu hari, Pak Raje menemui Si Penyumpit. “Hai Penyumpit, untuk melunasi utang ayahmu, kau harus menjaga sawahku dari serbuan babi hutan. Sumpitlah mereka supaya tidak kembali lagi. Tapi ingat, jika kau lengah dan babi hutan itu merusak padiku lagi, kau harus membayar ganti rugi padaku,” kata Pak Raje. Tak bisa menolak, Penyumpitpun menyetujuinya.Malam itu, ia memulai tugasnya dengan waspada.”Aha, itu mereka,” bisiknya dalam hati, matanya memandang tajam ke arah sawah milik Pak Raje. Segerombolan babi hutan menuju ke sawah Pak Raje. Si Penyumpit mengeluarkan alat sumpitnya, dan huuppp… melayanglah anak sumpitnya ke gerombolan babi hutan itu. “Ngoiikkk…” seekor babi hutan terkena sumpitannya. “Ngoikkk…ngoik… ngoik…” babi hutan itu berteriak-teriak seolah memberi peringatan pada teman-temannya. Mereka semua Iari menyelamatkan diri.Si Penyumpit keluar dari persembunyiannya. Ia hendak melihat babi hutan yang disumpitnya, tapi babi hutan itu sudah pergi. “Aneh, seharusnya ia mati terkena sumpitanku.” Penasaran, si Penyumpit mengikuti jejak darah yang tercecer di tanah. Jejak itu berhenti di sebuah rumah kecil di hutan. Dari jendela, terlihat beberapa wanita cantik. “Di mana babi hutan itu?” bisiknya. Salah satu dari wanita cantik itu terluka perutnya. Si Penyumpit pun mempertajam penglihatannya. “Hei, bukankah itu mata sumpitku?” Ia heran, tadi ia menyumpit babi hutan, tapi mengapa wanita itu terluka? Tak mau berlama-lama, si Penyumpit mengetuk pintu.“Siapa kau mengapa datang tengah malam begini?” tanya wanita yang membuka pintu.“Namaku si Penyumpit. Tadi aku menyumpit seekor babi hutan. Tapi aneh, babi hutan itu hilang. Setelah aku ikuti jejak darahnya, ternyata berhenti di rumah ini.”“Oh, jadi kau yang menyumpit adik kami? Lihat, sekarang ia kesakitan. Kami tak tahu bagaimana caranya melepas mata sumpit itu,” kata wanita itu marah. Si Penyumpit bingung. “Apakah kalian ini gerombolan babi hutan tadi?” tanyanya.“Ya, kami memang siluman babi hutan. Kami menjadi babi hutan untuk mencari makan di malam hari,” jawab wanita itu.Sekarang barulah si Penyumpit mengerti. “Oh, maafkan aku. Aku tak sengaja melukai adikmu. Tapi jangan khawatir, aku akan melepaskan anak sumpit itu dan mengobati lukanya,” katanya. Wanita itu setuju.Si Penyumpit meminta beberapa helai daun keremunting yang ditumbuk. Ia akan membalutkannya ke luka tersebut. Berhasil… anak sumpit itu berhasil ditarik. Luka di perut itu kemudian dibalut dengan tumbukan daun keremunting. Darah pun berhenti bercucuran.Wanita itu lega. Ia berterima kasih pada si Penyumpit. “Meskipun kau telah menyumpit adikku, aku tetap berterima kasih padamu. Sebagai hadiah, terimalah ini,” kata wanita itu sambil mengeluarkan empat bungkusan kecil.Si Penyumpit menolak, “Sudah seharusnya aku mengobati adikmu. Tak perlu memberiku hadiah.”“Terimalah. Bungkusan ini berisi kunyit, buah nyatoh, daun simpur, dan buah jering. Anggaplah ini sebagai tanda persahabatan dari kami,” kata wanita itu memaksa. Akhirnya, si Penyumpit mengalah. Ia menerima keempat bungkusan itu.Hari sudah menjelang pagi ketika si Penyumpit sampai di rumah. Dengan hati-hati, ia membuka bungkusan tadi. Terngata isinya perhiasan emas, intan, dan berlian! Si Penyumpit gembira sekali, “Terima kasih babi hutan. Dengan begini aku mampu melunasi utang ayahku pada Pak Raje.” Gumamnya dalam hati.Si Penyumpit menjual semua perhiasan itu dan menemui Pak Raje. “Darimana kau dapat uang sebanyak ini? Jangan-jangan kau merampok?” tanya Pak Raje curiga.Si Penyumpit lalu menceritakan pengalamannya pada Pak Raje. “Jadi, sekarang utang ayahku sudah lunas, ya Pak,” kata si Penyumpit. Pak Raje hanya mengangguk. Dalam hati, ia punya rencana. Ia akan meniru pengalaman si Penyumpit. “He… he… siapa tahu babi hutan itu juga memberiku perhiasan,” tawanya dalam hati.Malam harinya, Pak Raje sudah siap dengan alat sumpitnya. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya babi-babi hutan itu datang. Persis seperti pengalaman si Penyumpit sebelumnya, ia menyumpit babi-babi hutan itu. Pak Raje juga mengikuti jejak ceceran darah babi hutan yang terluka. Ia pura-pura hendak menolong wanita siluman babi hutan itu.Pak Raje tak tahu, seharusnya ia mempersiapkan ramuan obat untuk mencegah darah bercucuran dari luka. Ketika Pak Raje mencabut anak sumpitnya, wanita itu berteriak kesakitan. Darah segar mengucur deras dari lukanya. Darah itu tak mau berhenti, sehingga mereka semua panik. Wanita-wanita itu marah. Mereka berubah menjadi babi hutan dan menyerang Pak Raje.Pak Raje kembali ke rumahnya dengan tubuh penuh luka. Putrinya sangat terkejut melihat keadaan agahnya. Ia lalu segera menemui si Penyumpit untuk meminta tolong.“Apa yang terjadi? Mengapa ayahniu terluka parah.” tanya si Penyumpit.“Aku tak tahu. Semalam Ayah bilang la mau menjaga sawah untuk menangkal babi hutan. Mungkin Ayah diserang babi hutan?” jawab putri Pak Raje, Mendengar hal itu, mengertilah si Penyumpit apa yang sebenarnya telah terjadi pada Pak Roje. Sebenarnya ia hendak menertawakan kebodohan Pak Raje, noman dia tidak tega melihat putri Pak Raje yang terus menangis.Si Penyumpit kemudian meramu obat dan mengoleskannya ke seluruh tubuh Pak Raje. Perlahan, Pak Raje mulai menggerakkan tangannya dan membuka matanya. Melihat si Penyumpit yang sedang mengobati dirinya, dia menjadi malu. “Ayah, syukurlah Ayah sudah sadar,” kata putrinya.Perlahan, Pak Raje bangun dan duduk di pembaringannya.“Maafkan aku atas sikapku selama ini. Kau memang pemuda yang baik, sedikit pun kau tidak mendendam padaku,” katanya. “Untuk membalas budi, aku akan menikahkanmu dengan putriku. Apakah engkau bersedia?” tanya Pak Roje lagi.Putri Pa k Roje tersipu malu. Si Penyumpit memandanginya. Memang sebenarnya sudah lama Si Penyumpit menyukai putri Pak Raje yang cantik dan baik hati. Tapi ia tak pernah berani mengatakannya. “Tentu aku mau Pak Raje,” jawab Si Penyumpit gembira.“Jika begitu, aya kita sebarkan berita baik ini pada penduduk desa,” kata Pak Raje dengan bersemangat.Pesta pemikahan antara si Penyumpit dan putri Pak Raje dilaksanakan dengan merioh. Semua penduduk desa diundang. Karena sudah berusia lanjut. Pak Raje meminta si Penyumpit untuk menggantikannya sebagai kepala desa. Dan si Penyumpit berhasil memimpin desa itu dengan arif dan bijaksana sehingga masyarakat hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan
Legenda Sepasang Batu di Tepi Danau Laut Tawar
Pada jaman dahulu kala di negeri Aceh, hiduplah seorang gadis berwajah cantik. Si gadis amat menyayangi dan mencintai keluarganya. Begirupun dengan keluarganya, sangay menyayangi dan mencintai si gadis.Kecantikan gadis tersebut terdengar sampai ke negeri seberang lautan. Seorang pemuda tampan yang berasal dari keluarga terhormat datang ke desa dimana sigadis tinggal. Si pemuda mengajukan pinangannya untuk memperistri si gadis. Si gadis tidak semerta-merta menerima pinangan itu, ia harus berembuk dahulu dengan keluarganya.“Tampaknya, ia pemuda yang baik dan bertanggung jawab.Sikapnya santun dan bersahaja. Pantas kiranya ia menjadi suamimu.” Kata ayah si Gadis.Si Gadis akhirnya menerima pinangan si pemuda setelah keluarganya memberi restu padanya.Pesta pernikahanpun lantas dilangsungkan. Amat meriah pesta itu. Segenap keluarga, kerabat, dan tetangga datang dengan wajah suka cita untuk menjadi saksi pernikahan si Gadis. Setelah beberapa hari tinggal di desa tempat si Gadis berada, si pemuda pun mengajak si Gadis yang telah menjadi istrinya itu untuk kembali ke kampung halamannya di seberang lautan.Meski telah menjadi istri si pemuda, hati si Gadis sesungguhnya amat berat meninggalkan keluarga dan juga desa tempat tinggaknya itu. Namun dia harus mengikuti ajakan suaminya sebagai tanda kesetiaan dan baktinya pada suaminya.Sebelum berangkat ayah si Gadis berpesan,” Wahai anakku, tinggallah engkau baik-baik di negeri suamimu. Ingatlah pesanku, selama engkau dalam perjalanan, jangan sekali-kali engkau menoleh kebelakang! Jangan sekali-kali! Jika engkau melakukannya, niscaya engkau akan menjadi batu!”“Baiklan ayah,” Ujar si Gadis menyanggupi.Si gadis dan suaminya pun pergi meninggalkan desa itu untuk memulai perjalanan jauh menuju negeri seberang lautan. Dari desa tempat tinggalnya, si Gadis harus menembus kepekatan hutan belantara, mendaki bukit dan menyebrangi danaulaut tawar. Selama dalam perjalanannya si Gadis tetap teguh memegang pesabn ayahhandanya. Sama sekali dia tidak berani menoleh wajahnya kearah belakang. Hingga tibalah keduannya di danau laut tawar. Dengan menaiki sebuah sampan, Si gadis dan suamninya menyebrangi danau di laut tawar.Beberapa saat sampan itu mengarungi danau Laut Tawar, Si Gadis didera penasaran yang sangat. Ia mendengar sayup-sayup suara Ibunda tercintanya. Suara ibunda tercinta yang memanggil-manggil namanya. Batin dan perasaan sigadis terpecah, antara tetap menjaga pesan ayahnya untuk tidak menoleh dan menoleh untuk memenuhi panggilan ibundanya. Beberapa saat kejadian itu terus berlangsung, sehingga akhirnya si Gadis lebih memilih menoleh untuk memenuhi panggilan dari Ibunya.Petakapun terjadi. Sesaat setelah si Gadis menolehkan wajahnya kebelakang, seketika itupula tubuh si gadis berubah menjadi batu.Tidak terkira kesedihan suami si gadis ketika mendapati tubuh istrinya telah berubah menjadi batu. Karena rasa cinta dan sayangnya, suami si gadis berkehendak dapat bersama-sama dengan istrinya. Ia lantas memohon agar dirinya juga dapat berubah menjadi batu. Permohonanpun dikabulkan. Selesai memohon, tubuh si pemuda yang berasal dari negeri seberang itupun berubah pula menjadi batu.Sepasang batu itu tetap berada di pinggir danau air tawar. Keduanya berdekatan sama seperti kuatnya cinta kasih mereka sebagai suami istri.
Cerita Rakyat Melayu : Kisah Si Alamsyah
Tersebutlah sebuah kerajaan di tanah Alas , pada zaman dahulu. Sang Raja memerintah dengan sifat adil dan bijaksana. Rakyat pun hidup dalam kedamaian , keamanan,serta kesejahteraan. Dang raja mempunyai seorang penasihat. Tande Wakil. Namanya . Apapun juga yang disebutkan Tande Wakil Sang Raja akan menurutinya.Dalam kehidupannya, Sang Raja belum juga dikaruniai seorang anak pun meski telah lama berumah tangga. Kenyataan itu membuatnya kerap bersedih hati. Begitu pula dengan Sang Permaisuri. Keduanya tak putus putus nya berdoa dan memohon agar dikaruniai anak. Hingga suatu hari Sang raja bermimpi. Dalam impiannya itu seorang kakek datang kepadanya dan memberitahunya, hendaklah Sang Permaisuri meminum ramuan yang dibuat oleh seorang tabib yang tinggal di sebuah hutan di ujung wilayah kerajaan.Keesokan paginya Sang Raja lantas memerintahkan para prajurit untuk mencari keberadaan si tabib dan mengajak nya untuk datang ke istana kerajaan. Tak berapa lama kemudian tabib yang dimaksud telah datang ke istana kerajaan. Si tabib segera membuatkan ramuan setelah Sang Raja memintanya. Benar pesan si kakek dalam impian Sang Raja , tak berapa lama setelag meminum ramuan buatan si tabib, Permaisuri pun mengandung. Sembilan bulan kemudian Permaisuri melahirkan seorang bayi laki- laki . Sang Raja member nama Alamsyah untuk anak lelakinya itu.Begitu gembiranya hati Sang Raja dan Permaisuri setelah dikaruniai seorang anak. Namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama . Belum juga genap sebulan usia Alamsyah , Tande Wakil menghadap Sang Raja dan menjelaskan perihal impiannya. Kata Tande Wakil,’’Hamba bermimpi, bahwa kelahiran putra Paduka itu adalah petaka sekaligus bencana besar bagi segenap rakyat! Putra Paduka itu hendaklah dibuang ke hutan agar bencana itu tidak mewujud dalam kenyataan.’’‘’Apakah tidak ada cara lain selain membuang putraku itu ke hutan agar bencana itu tidak mewujud? ‘’tanya Sang Raja.‘’Ampun yang mulia,’’ kata tande wakil .‘’Menurut impian hamba , satu- satunya cara untuk mencegah datangnya bencana dan petaka yang akan melanda negeri kita ini hanyalah dengan membuang putra paduka ke hutan.’’Sang raja pun menurut. Betapa pun ia sangat mencintai anak lelakinya itu, namun jika kehadirannya akan membawa petaka dan bencana bagi segenap rakyat yang dipimpinnya, ia pun berketetapan hati untuk membuang Alamsyah ke hutanh.Alamsyah yang masih bayi itu lantas dibuang ke hutan . Seekor kera sakti merawat Alamsyah. Dalam asuhan si kera sakti , Alamsyah pun tumbuh besar. Beberapa tahun kemudian Alamsyah telah berubah menjadi seorang pemuda. Wajahnya sangat tampan.Tubuhnya kuat dan kekar. Si kera sakti mengajarinya sopan santun dan tata krama hingga Alamsyah tumbuh menjadi pemuda yang baik hati dan mengenal sopan santun.Pada suatu hari Alamsyah keluar hutan. Di pinggir hutan ia berjumpa dengan seorang kakek. Setelah saling bertegur sapa, sang kakek akhirnya mengetahui siapa sesungguhnya Alamsyah. Si kakek lantas mengajak Alamsyah untuk kembali ke istana kerajaan.‘’Ayahanda Paduka telah wafat,’’kata si kakek dalam perjalanannya menuju kerajaan.’’ Kini yang memerintah kerajaan adalah Paman Paduka. Sangat jauh pemerintahannya dibandingkan Ayahanda Paduka. Paman Paduka itu memerintah dengannn sangat kejam dan sewenang –wenang. Sangat mudah dia menjatuhi hukuman, bahkan terhadap orang yang sesungguhnya tidak bersalah. Beberapa dijatuhi hukuman mati karena berani menentang kehendak Raja. Rakyat hidup dalam kecemasan dan ketakutan. Raja sama sekali tidak memperhatikan kesejahteraan rakyat dan kejahatanpun tumbuh subur layaknya jamur di musim penghujan.Alamsyah sangat sedih mendengar cerita si kakek.” Lantas bagaimana nasib ibu?” Tanyanya.“Ibu paduka masih hidup dan tinggal di sebuah gubug di luar istana. Setiap hari ibu paduka dipaksa untuk bekerja keras layaknya seorang pembantu. Seringkali ibu paduka tidak diberi makan karena dianggap pekerjaannya tidak bagus. Bahkan, makanan untuknya pun kadang makanan yang sudah basi.”Alamsyah kian merasa sedih. Dia berniat kuat menemui pamannya dan meminta pamannya tidak sewenang-wenang dalam memerintah dan tidak berlaku aniaya terhadapo ibunya.Alamsyahpun tiba di istana kerajaan. Pamannya sangat tidak suka mendapati kedatangannya. Dia khawatir, Alamsyah akan meminta tahta yang menjadi haknya. Raja lantas memperlakukan Alamsyah dengan buruk. Alamsyah dipaksa untuk bekerja keras, melebihi kerja yang dilakukan pembantu. Jika Alamsyah tidak bekerja, dia tidak akan diberi makan. Alamsyah juga dilarang bertemu ibunya. Para perajurit diberi kewenangan oleh raja untuk memukul Alamsyah, jika Alamsyah dianggap tidak baik dalam bekerja. Alamsyah terpaksa menerima perlakuan buruk terhadapnya itu, karena tidak memiliki kemampuan untuk melawan.Sang Raja telah berulangkali berusaha untuk mencelakai Alamsyah. Secara diam-diam dia memerintahkan orang-orang kepercayaanya untuk membunuh Alamsyah. Namun, usahanya selalu mengalami kegagalan.Suatu hari sang Raja memerintahkan seorang kepercayaanya yang bernama Penghulu Mude untuk membunuh Alamsyah. Penghulu Mude lantas mengajak Alamsyah untuk membeli kerbau. Ditengah perjalanan, Alamsyah didorongnya hingga jatuh ke jurang. Penghulu mude kemudian kembali ke istana untuk menghadap sang raja. Dia melaporkan bahwa Alamsyah telah mati jatuh ke Jurang.Alamsyah terjatuh ke jurang yang dalam. Namun, dia selamat karena ditolong oleh jin baik yang bernama Siah Ketambe. Alamsyah sama sekali tidak terluka dan bahkan sedikitpun kulitnya tidak lecet.Siah Ketambe menjelaskan, bahwa jatuhnya Alamsyah ke jurang itu karena siasat pamannya.” Pamanmu menghendaki engkau mati, sehingga dia menyuruh Penghulu Made mendorongmu ke jurang ini.”Alamsyah sependapat dengan penjelasan Siah Ketambe. Berulang-ulang dia telah merasakan berbagai usaha pamannya untuk mencelakakan dirinya.Siah Ketambe mengharapkan agar Alamsyah memiliki ilmu beladiri yang cukup untuk bisa menjaga diri serta menolong orang-orang yang membutuhkan. Akhirnya Alamsyah belajar ilmu beladiri dan kesaktiaan dari Siah Ketambe. Karena Alamsyah orang yang cerdas dan tekun, dalam waktu singkat dia telah menguasai ilmu beladiri dan berbagai kesaktian yang diajarkan oleh Siah Ketembe.Siah Ketambe memberikan pesan kepada Alamsyah.” Gunakan ilmu dan kesaktianmu itu baik-baik. Sebisa mungkin hindarkanlah perkelahian. Namun, jika engkau dalam keadaan terdesak atau mendapati dirimu dalam keadaan bahaya, barulah engkau boleh menggunakan ilmumu itu untuk membela diri.”Setelah merasa ilmu beladiri dan kesaktian Alamsyah sudah cukup, Siah Ketambe mengijinkan Alamsyah untuk kembali ke kerajaan. Kedatangan Alamsyah sangat mengejutkan Raja dan Penghulu Mude. Setibanya di istana Alamsyah langsung diserang oleh Penghulu Mude dibantu oleh para perajurit. Namun karena kesaktian Alamsyah sangat tinggi, dengan mudah Alamsyah dapat mengalahkan mereka semua.Sang Raja begitu terperanjat mendapati kemampuan keponakannya itu begitu luar biasa. Dia pun merasa tidak akan mampu menghadapi Alamsyah, terlebih lagi para perajurit dan pejabat kerajaan yang sebelumnya menjadi kaki tanggany, sekarang berbalik menduku Alamsyah, karena mengetahui bahwa Alamsyahlah yang berhak menjadi Raja.Sang Raja akhirnya menemui Alamsyah.” Alamsyah keponakanku. Maafkan pamanmu yang telah khilaf ini. Ampuni aku. Dengan ini kuserahkan kembali tahta yang memang seharusnya engkau duduki. Sekali lagi, maafkan pamanmu dan jangan engkau sakiti pamanmu yang tleh renta ini.”Alamsyah memaafkan kesalahan pamannya. Dia juga memaafkan kesalahan Penghulu Mude dan seluruh perajurit yang pernah menyakitinya selama mereka berjanji tidak akan mengulangi kesalahan mereka.Setelah penyerahan kekuasaan itu, Alamsyah dinobatkan menjadi raja baru. Alamsyah segera menjemput ibunya dan mendudukannya disampinya dengan penuh penghormatan. Seluruh rakyat sangat bergembira dengan penobatan Alamsyah sebagai Raja, apalagi Alamsyah memerintah dengan adil dan bijaksana. Alamsyah menegakan hukum dengan adil sehingga tingkat kejahatan menurun drastis. Rakyat hidup makmur dan sejahtera
Cerita Rakyat Nanggroe Aceh Darussalam : Mentiko Betuah
Pada zaman dahulu di negeri Simeulue, hiduplah seorang raja. Ia memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Rohib. Namun, mereka terlalu memanjakannya, sehingga Rohib tumbuh menjadi anak yang manja. Setelah remaja, raja mengirimnya untuk belajar di kota. Tetapi sifat manjanya terbawa ke tempatnya belajar. Suatu hari, Rohib pulang sebelum masa belajar berakhir. Tentu saja, ayahnya sangat marah.“Hai, Rohib! Mana hasilnya kamu belajar di sana? Sungguh anak tak tahu diuntung! Pengawal, gantung anak ini sampai mati!” perintah Sang Raja.“Jangan, Kanda! Bagaimana kalau kita suruh ia keluar dari istana saja? Tetapi dengan memberinya uang sebagai modal untuk berdagang,” usul Sang Permaisuri.“Hmm, baiklah, Dinda.” jawab Sang Raja.“Bagaimana pendapatmu,Anakku?” tanya Permaisuri kepada Rohib.”Baiklah! Terima kasih, Bunda.” jawab Rohib.Rohib pun berpamitan kepada orang tuanya. Ia pergi dari satu kampung ke kampung lainnya. Di perjalanan, ia bertemu anak-anak yang sedang menembak burung dengan ketapel.“Wahai, saudaraku! Kalian jangan menganiaya burung itu!” tegur Si Rohib. “Hei, kamu siapa? Berani-beraninya melarang kami,” hardik seorang anak. “Jika kalian berhenti menembaki burung itu, aku akan memberi kalian uang,” tawar Rohib.Tawaran Rohib pun diterima anak-anak. Rohib melanjutkan perjalanan dan ia selalu memberi uang kepada orang-orang yang menganiaya binatang. Tanpa disadari, uang untuk modalnya sudah habis. Karena perjalanan sangat melelahkan, Rohib lantas beristirahat di bawah pohon. Tiba-tiba seekor ular besar mendekatinya. Rohib sangat ketakutan.“Jangan takut, anak muda! Aku adalah Raja Ular di hutan ini,” kata Ular itu. “Kamu sendiri siapa? Kenapa kamu bersedih?” tanya Ular itu.“Namaku Rohib,” jawab Rohib. Lalu ia menceritakan semua pengalamannya. “Kamu adalah anak yang baik. Kamu pantas mendapatkan hadiah dariku,” tambah ular itu sambil mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.“Benda apa itu?” tanya Si Rohib. “Ini namanya Mentiko Betuah. Apa pun yang kau minta, pasti akan dikabulkan,” jelas Ular itu, lalu pergi meninggalkan Si Rohib.“Wah, benda ini bisa menolongku dari kemurkaan ayah,” gumam Rohib. Rohib pun kembali ke istana. Sebelumnya, ia memohon kepada Mentiko Betuah agar memberinya uang banyak. Tiba di istana, ayahnya senang karena Rohib membawa uang yang banyak.Singkat cerita, Rohib membawa Mentiko Betuah kepada tukang emas untuk dijadikan cincin. Namun, tukang emas itu justru membawa kabur benda tersebut. Rohib pun meminta bantuan kepada sahabatnya, yaitu tikus, kucing, dan anjing. Anjing berhasil menemukan jejak Si Tukang Emas. Ketika Si Tukang Emas tengah tertidur, Si Kucing memasukkan ekornya ke lubang hidungnya. Akibatnya tukang emas bersin, sehingga Mentiko Betuah terlempar dari mulutnya. Tikus segera mengambil benda itu. Namun, tikus menipu kedua temannya bahwa Mentiko Betuah terjatuh ke dalam sungai. Kedua temannya pun panik dan segera mencarinya ke dasar sungai, sedangkan Si Tikus segera memberikan Mentiko Betuah kepada Rohib.Ketika Si Kucing dan Si Anjing menghadap Rohib, mereka sangat terkejut bahwa Mentiko Betuah itu sudah kembali ke tangan Rohib. Rupanya perilaku licik tikus segera tercium oleh kucing dan anjing. Keduanya marah besar terhadap perbuatan curang tikus. Sejak itulah anjing dan kucing membenci tikus sampai saat ini.
Legenda Putri Hijau
Ketika sedang beristirahat, tiba-tiba Sultan Mughayat Syah melihat cahaya hijau dari arah timur. Sang Sultan segera menanyakan kepada penasihatnya mengenai cahaya itu. Sang penasihat pun tidak mengetahui perihal cahaya itu. Maka, diutuslah seorang prajurit kepercayaannya untuk menyelidiki cahaya itu. Ternyata, cahaya itu berasal dari tubuh Putri Hijau di Deli Tua.Setibanya di perbatasan kerajaan, sang Sultan mengirim utusan untuk meminang sang Putri. Akan tetapi, sang Putri menolak lamaran tersebut. Mengetahui lamarannya ditolak, sang Sultan menjadi marah.Tak lama kemudian, pecah peperangan. Karena wilayah Deli Tua dikelilingi oleh bambu berduri, prajurit Aceh menembakkan banyak uang di sekitar bambu. Melihat banyak uang, rakyat Deli Tua memotongi dan menebangi rumpun bambu berduri itu untuk mengambil uang. Akibatnya, pertahanan Deli Tua hancur.Melihat keadaan, penguasa Deli Tua mengira jika mereka akan kalah. Ia pun berpesan kepada Putri Hijau bila sang Putri kelak ditawan, sebaiknya memohon agar dapat dimasukkan ke dalam keranda kaca. Sebelum tiba di Aceh, tubuhnya tidak boleh disentuh oleh Sultan Aceh. Setibanya, ia harus memohon agar rakyat Aceh membawa persembahan masing-masing sebutir telur ayam dan segenggam beras putih. Semua persembahan itu harus dibuang ke laut. Pada saat itu, Putri Hijau harus keluar dari keranda kacanya lalu memanggil nama Mambang Jazid. Setelah itu, sang Penguasa Deli Tua menghilang.Setelah itu, sang Putri Hijau ditawan. Ia pun meminta syarat seperti yang dipesankan sang Penguasa Deli Tua. Sang Sultan mengabulkan permintaan itu. Di Aceh, kapal sang Sultan berlabuh di Tanjung Jambu Air. Sultan memerintahkan rakyatnya agar mengadakan upacara persembahan kepada Putri Hijau.Seusai upacara, Putri Hijau keluar dari keranda kacanya. Sesuai pesan, Putri Hijau menyebutkan nama Mambang Jazid. Tiba-tiba, turun angin ribut dan hujan lebat. Halilintar dan gulungan ombak besar menyusul.Tiba-tiba, muncul seekor naga raksasa dari dalam ombak dan langsung menuju kapal Sultan Aceh. Dihantamnya kapal itu hingga terbelah dua. Dalam keadaan itu, Putri Hijau kembali ke keranda kacanya sehingga ia dapat terapung di atas laut.Sang Naga segera menghampiri keranda itu lalu dibawa ke Selat Malaka. Gerakan itu amat cepat, sehingga Sultan Aceh tidak dapat berbuat apa-apa. Ia pun menyadari kesalahannya. Ia tidak bisa memaksa orang lain jika orang itu memang tidak mau.Pesan moral dari Dongeng cerita aceh jaman dulu : Legenda Putri Hijau adalah jangan memaksakan kehendak kita kepada orang lain.
Cerita Dongeng Aceh : Kisah Banta Barensyah
Pada jaman dahulu kala, di sebuah dusun terpencil di daerah Nanggro Aceh Darussalam, hiduplah seorang janda bersama seorang anak laki-lakinya yang bernama Banta Berensyah. Banta Berensyah seorang anak yang rajin dan mahir bermain suling. Kedua ibu dan anak itu tinggal di sebuah gubuk bambu yang beratapkan ilalang dan beralaskan dedaunan kering dengan kondisi hampir roboh.Kala hujan turun, air dengan leluasa masuk ke dalamnya. Bangunan gubuk itu benar-benar tidak layak huni lagi. Namun apa hendak dibuat, jangankan biaya untuk memperbaiki gubuk itu, untuk makan sehari-hari pun mereka kesulitan.Untuk bertahan hidup, ibu dan anak itu menampi sekam di sebuah kincir padi milik saudaranya yang bernama Jakub. Jakub adalah saudagar kaya di dusun itu. Namun, ia terkenal sangat kikir, loba, dan tamak. Segala perbuatannya selalu diperhitungkan untuk mendapatkan keuntungan sendiri. Terkadang ia hanya mengupahi ibu Banta Berensyah dengan segenggam atau dua genggam beras. Beras itu hanya cukup dimakan sehari oleh janda itu bersama anaknya.Pada suatu hari, janda itu berangkat sendirian ke tempat kincir padi tanpa ditemani Banta Berensyah, karena sedang sakit. Betapa kecewanya ia saat tiba di tempat itu. Tak seorang pun yang menumbuk padi. Dengan begitu, tentu ia tidak dapat menampi sekam dan memperoleh upah beras. Dengan perasaan kecewa dan sedih, perempuan paruh baya itu kembali ke gubuknya. Setibanya di gubuk, ia langsung menghampiri anak semata wayangnya yang sedang terbaring lemas. Wajah anak itu tampak pucat dan tubuhnya menggigil, karena sejak pagi perutnya belum terisi sedikit pun makanan.“Ibu…! Banta lapar,” rengek Banta Berensyah.Janda itu hanya terdiam sambil menatap lembut anaknya. Sebenarnya, hati kecilnya teriris-iris mendengar rengekan putranya itu. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena tidak ada sama sekali makanan yang tersisa. Hanya ada segelas air putih yang berada di samping anaknya. Dengan perlahan, ia meraih gelas itu dan mengulurkannya ke mulut Banta Berensyah. Seteguk demi seteguk Banta Berensyah meminum air dari gelas itu sebagai pengganti makanan untuk menghilangkan rasa laparnya. Setelah meminum air itu, Banta merasa tubuhnya sedikit mendapat tambahan tenaga. Dengan penuh kasih sayang, ia menatap wajah ibunya. Lalu, perlahan-lahan ia bangkit dari tidurnya seraya mengusap air mata bening yang keluar dari kelopak mata ibunya.“Kenapa ibu menangis?” tanya Banta dengan suara pelan.Mulut perempuan paruh baya itu belum bisa berucap apa-apa. Dengan mata berkaca-kaca, ia hanya menghela nafas panjang. Banta pun menatap lebih dalam ke arah mata ibunya. Sebenarnya, ia mengerti alasan kenapa ibunya menangis.“Bu! Banta tahu mengapa Ibu meneteskan air mata. Ibu menangis karena sedih tidak memperoleh upah hari ini,” ungkap Banta.“Sudahlah, Bu! Banta tahu, Ibu sudah berusaha keras mencari nafkah agar kita bisa makan. Barangkali nasib baik belum berpihak kepada kita,” bujuknya.Mendengar ucapan Banta Berensyah, perempuan paruh baya itu tersentak. Ia tidak pernah mengira sebelumnya jika anak semata wayangnya, yang selama ini dianggapnya masih kecil itu, ternyata pikirannya sudah cukup dewasa. Dengan perasaan bahagia, ia merangkul tubuh putranya sambil meneteskan air mata. Perasaan bahagia itu seolah-olah telah menghapus segala kepedihan dan kelelahan batin yang selama ini membebani hidupnya.“Banta, Anakku! Ibu bangga sekali mempunyai anak sepertimu. Ibu sangat sayang kepadamu, Anakku,” ucap Ibu Banta dengan perasaan haru.Kasih sayang dan perhatian ibunya itu benar-benar memberi semangat baru kepada Banta Berensyah. Tubuhnya yang lemas, tiba-tiba kembali bertenaga. Ia kemudian menatap wajah ibunya yang tampak pucat. Ia sadar bahwa saat ini ibunya pasti sedang lapar. Oleh karena itu, ia meminta izin kepada ibunya hendak pergi ke rumah pamannya, Jakub, untuk meminta beras. Namun, ibunya mencegahnya, karena ia telah memahami perangai saudaranya yang kikir itu.“Jangan, Anakku! Bukankah kamu tahu sendiri kalau pamanmu itu sangat perhitungan. Ia tentu tidak akan memberimu beras sebelum kamu bekerja,” ujar Ibu Banta.“Banta mengerti, Bu! Tapi, apa salahnya jika kita mencobanya dulu. Barangkali paman akan merasa iba melihat keadaan kita,” kata Banta Berensyah.Berkali-kali ibunya mencegahnya, namun Banta Berensyah tetap bersikeras ingin pergi ke rumah pamannya. Akhirnya, perempuan yang telah melahirkannya itu pun memberi izin. Maka berangkatlah Banta Berensyah ke rumah pamannya. Saat ia masuk ke pekarangan rumah, tiba-tiba terdengar suara keras membentaknya. Suara itu tak lain adalah suara pamannya.“Hai, anak orang miskin! Jangan mengemis di sini!” hardik saudagar kaya itu.“Paman, kasihanilah kami! Berikanlah kami segenggam beras, kami lapar!” iba Banta Berensyah.“Ah, persetan dengan keadaanmu itu. Kalian lapar atau mati sekalian pun, aku tidak perduli!” saudagar itu kembali menghardiknya dengan kata-kata yang lebih kasar lagi.Betapa kecewa dan sakitnya hati Banta Berensyah. Bukannya beras yang diperoleh dari pamannya, melainkan cacian dan makian. Ia pun pulang ke rumahnya dengan perasaan sedih dan kesal. Tak terasa, air matanya menetes membasahi kedua pipinya.Dalam perjalanan pulang, Banta Berensyah mendengar kabar dari seorang warga bahwa raja di sebuah negeri yang letaknya tidak berapa jauh dari dusunnya akan mengadakan sayembara. Raja negeri itu mempunyai seorang putri yang cantik jelita nan rupawan. Ia bagaikan bidadari yang menghimpun semua pesona lahir dan batin. Kulitnya sangat halus, putih, dan bersih. Saking putihnya, kulit putri itu seolah-olah tembus pandang. Jika ia menelan makanan, seolah-olah makanan itu tampak lewat ditenggorokannya. Itulah sebabnya ia diberi nama Putri Terus Mata. Setiap pemuda yang melihat kecantikannya pasti akan tergelitik hasratnya untuk mempersuntingnya. Sudah banyak pangeran yang datang meminangnya, namun belum satu pun pinangan yang diterima. Putri Terus Mata akan menerima lamaran bagi siapa saja yang sanggup mencarikannya pakaian yang terbuat dari emas dan suasa.Mendengar kabar itu, Banta Berensyah timbul keinginannya untuk mengandu untung. Ia berharap dengan menikah dengan sang Putri, hidupnya akan menjadi lebih baik. Siapa tahu ia bernasib baik, pikirnya. Ia pun bergegas pulang ke gubuknya untuk menemui ibunya. Setibanya di gubuk, ia langsung duduk di dekat ibunya. Sambil mendekatkan wajahnya yang sedikit pucat karena lapar, Banta Berensyah menyampaikan perihal hasratnya mengikuti sayembara tersebut kepada ibunya. Ia berusaha membujuk ibunya agar keinginannya dikabulkan.“Bu! Banta sangat sayang dan ingin terus hidup di samping ibu. Ibu telah berusaha memberikan yang terbaik untuk Banta. Kini Banta hampir beranjak dewasa. Saatnya Banta harus bekerja keras memberikan yang terbaik untuk Ibu. Jika Ibu merestui niat tulus ini, izinkanlah Banta merantau untuk mengubah nasib hidup kita!” pinta Banta Berensyah.Perempuan paruh baya itu tak mampu lagi menyembunyikan kekagumannya kepada anak semata wayangnya itu. Ia pun memeluk erat Banta dengan penuh kasih sayang.“Banta, Anakku! Kamu adalah anak yang berbakti kepada orangtua. Jika itu sudah menjadi tekadmu, Ibu mengizinkanmu walaupun dengan berat hati harus berpisah denganmu,” kata perempuan paruh baya itu.“Tapi, bagaimana kamu bisa merantau ke negeri lain, Anakku? Apa bekalmu di perjalanan nanti? Jangankan untuk ongkos kapal dan bekal, untuk makan sehari-hari pun kita tidak punya,” tambahnya.“Ibu tidak perlu memikirkan masalah itu. Cukup doa dan restu Ibu menyertai Banta,” kata Banta Berensyah.Setelah mendapat restu dari ibunya, Banta Berensyah pun pergi ke sebuah tempat yang sepi untuk memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Setelah semalam suntuk berdoa dengan penuh khusyuk, akhirnya ia pun mendapat petunjuk agar membawa sehelai daun talas dan suling miliknya ke perantauan. Daun talas itu akan ia gunakan untuk mengarungi laut luas menuju ke tempat yang akan ditujunya. Sedangkan suling itu akan ia gunakan untuk menghibur para tukang tenun untuk membayar biaya kain emas dan suasa yang dia perlukan.Keesokan harinya, usai berpamitan kepada ibunya, Banta Berensyah pun pergi ke rumah pamannya, Jakub. Ia bermaksud meminta tumpangan di kapal pamannya yang akan berlayar ke negeri lain. Setibanya di sana, ia kembali dibentak oleh pamannya.“Ada apa lagi kamu kemari, hai anak malas!” seru sang Paman.“Paman! Bolehkah Ananda ikut berlayar sampai ke tengah laut?” pinta Banta Berensyah.Jakub tersentak mendengar permintaan aneh dari Banta Berensyah. Ia berpikir bahwa kemanakannya itu akan bunuh diri di tengah laut. Dengan senang hati, ia pun mengizinkannya. Ia merasa hidupnya akan aman jika anak itu telah mati, karena tidak akan lagi datang meminta-minta kepadanya. Akhirnya, Banta Berensyah pun ikut berlayar bersama pamannya. Begitu kapal yang mereka tumpangi tiba di tengah-tengah samudra, Banta meminta kepada pamannya agar menurunkannya dari kapal.“Paman! Perjalanan Nanda bersama Paman cukup sampai di sini. Tolong turunkan Nanda dari kapal ini!” pinta Banta Betensyah.Saudagar kaya itu pun segera memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan Banta ke laut. Namun sebelum diturunkan, Banta mengeluarkan lipatan daun talas yang diselempitkan di balik pakaiannya. Kemudian ia membuka lipatan daun talas itu seraya duduk bersila di atasnya. Melihat kelakuan Banta itu, Jakub menertawainya.“Ha… ha… ha…! Dasar anak bodoh!” hardik saudagar kaya itu.“Pengawal! Turunkan anak ini dari kapal! Biarkan saja dia mati dimakan ikan besar!” serunya.Namun, betapa terkejutnya saudagar kaya itu dan para anak buahnya setelah menurunkan Banta Berensyah ke laut. Ternyata, sehelai daun talas itu mampu menahan tubuh Banta Berensyah di atas air. Dengan bantuan angin, daun talas itu membawa Banta menuju ke arah barat, sedangkan pamannya berlayar menuju ke arah utara.Setelah berhari-hari terombang-ambing di atas daun talas dihempas gelombang samudra, Banta Berensyah tiba di sebuah pulau. Saat pertama kali menginjakkan kaki di pulau itu, ia terkagum-kagum menyaksikan pemandangan yang sangat indah dan memesona. Hampir di setiap halaman rumah penduduk terbentang kain tenunan dengan berbagai motif dan warna sedang dijemur. Rupanya, hampir seluruh penduduk di pulau itu adalah tukang tenun.Banta pun mampir ke salah satu rumah penduduk untuk menanyakan kain emas dan suasa yang sedang dicarinya. Namun, penghuni rumah itu tidak memiliki jenis kain tersebut. Ia pun pindah ke rumah tukang tenun di sebelahnya, dan ternyata si pemilik rumah itu juga tidak memilikinya. Berhari-hari ia berkeliling kampung dan memasuki rumah penduduk satu persatu, namun kain yang dicarinya belum juga ia temukan. Tinggal satu rumah lagi yang belum ia masuki, yaitu rumah kepala kampung yang juga tukang tenun.“Tok… Tok… Tok.. ! Permisi, Tuan!” seru Banta Berensyah setelah mengetuk pintu rumah kepala kampung itu.Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki paruh baya membuka pintu dan mempersilahkannya masuk ke dalam rumah.“Ada yang bisa kubantu, Anak Muda?” tanya kampung itu bertanya.Setelah memperkenalkan diri dan menceritakan asal-usulnya, Banta pun menyampaikan maksud kedatangannya.“Maaf, Tuan! Kedatangan saya kemari ingin mencari kain tenun yang terbuat dari emas dan suasa. Jika Tuan memilikinya, bolehkah saya membelinya?” pinta Banta Berensyah.Kepala kampung itu tersentak kaget mendengar permintaan Banta, apalagi setelah melihat penampilan Banta yang sangat sederhana itu.“Hai, Banta! Dengan apa kamu bisa membayar kain emas dan suasa itu? Apakah kamu mempunyai uang yang cukup untuk membayarnya?”“Maaf, Tuan! Saya memang tidak mampu membayarnya dengan uang. Tapi, jika Tuan berkenan, bolehkah saya membayarnya dengan lagu?” pinta Banta Berensyah seraya mengeluarkan sulingnya.Melihat keteguhan hati Banta Berensyah hendak memiliki kain tenun tersebut, kepala kampung itu kembali bertanya kepadanya.“Banta! Kalau boleh saya tahu, kenapa kamu sangat menginginkan kain itu?”Banta pun menceritakan alasannya sehingga ia harus berjuang untuk mendapatkan kain tersebut. Karena iba mendengar cerita Banta, akhirnya kepala kampung itu memenuhi permintaannya. Dengan keahliannya, Banta pun memainkan sulingnya dengan lagu-lagu yang merdu. Kepala kampung itu benar-benar terbuai menikmati senandung lagu yang dibawakan Banta. Setelah puas menikmatinya, ia pun memberikan kain emas dan suasa miliknya kepada Banta.“Kamu sangat mahir bermain suling, Banta! Kamu pantas mendapatkan kain emas dan suasa ini,” ujar kepala kampung itu.“Terima kasih, Tuan! Banta sangat berhutang budi kepada Tuan. Banta akan selalu mengingat semua kebaikan hati Tuan,” kata Banta.Setelah mendapatkan kain emas dan suasa tersebut, Banta pun meninggalkan pulau itu. Ia berlayar mengarungi lautan luas menuju ke kampung halamannya dengan menggunakan daun talas saktinya. Hati anak muda itu sangat gembira. Ia tidak sabar lagi ingin menyampaikan berita gembira itu kepada ibunya dan segera mempersembahkan kain emas dan suasa itu kepada Putri Terus Mata.Namun, nasib malang menimpa Banta. Ketika sampai di tengah laut, ia bertemu dan ikut dengan kapal Jakub yang baru saja pulang berlayar dari negeri lain. Saat ia berada di atas kapal itu, kain emas dan suasa yang diperolehnya dengan susah payah dirampas oleh Jakub. Setelah kainnya dirampas, ia dibuang ke laut. Dengan perasaan bangga, Jakub membawa pulang kain tersebut untuk mempersunting Putri Terus Mata.Sementara itu, Banta yang hanyut terbawa arus gelombang laut terdampar di sebuah pantai dan ditemukan oleh sepasang suami-istri yang sedang mencari kerang. Sepasang suami-istri itu pun membawanya pulang dan mengangkatnya sebagai anak. Setelah beberapa lama tinggal bersama kedua orang tua angkatnya tersebut, Banta pun memohon diri untuk kembali ke kampung halamannya menemui ibunya dengan menggunakan daun talas saktinya. Setiba di gubuknya, ia pun disambut oleh ibunya dengan perasaan suka-cita. Kemudian, Banta pun menceritakan semua kejadian yang telah dialaminya.“Maafkan Banta, Bu! Sebenarnya Banta telah berhasil mendapatkan kain emas dan suasa itu, tetapi Paman Jakub merampasnya,” Banta bercerita kepada ibunya dengan perasaan kecewa.“Sudahlah, Anakku! Ibu mengerti perasaanmu. Barangkali belum nasibmu mempersunting putri raja,” ujar Ibunya.“Tapi, Bu! Banta harus mendapatkan kembali kain emas dan suasa itu dari Paman. Kain itu milik Banta,” kata Banta dengan tekad keras.“Semuanya sudah terlambat, Anakku!” sahut ibunya.“Apa maksud Ibu berkata begitu?” tanya Banta penasaran.“Ketahuilah, Anakku! Pamanmu memang sungguh beruntung. Saat ini, pesta perkawinannya dengan putri raja sedang dilangsungkan di istana,” ungkap ibunya.Tanpa berpikir panjang, Banta segera berpamitan kepada ibunya lalu bergegas menuju ke tempat pesta itu dilaksanakan. Namun, setibanya di kerumunan pesta yang berlangsung meriah itu, Banta tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai bukti untuk menunjukkan kepada raja dan sang Putri bahwa kain emas dan suasa yang dipersembahkan Jakub itu adalah miliknya. Sejenak, ia menengadahkan kedua tangannya berdoa meminta pertolongan kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Begitu ia selesai berdoa, tiba-tiba datanglah seekor burung elang terbang berputar-putar di atas keramaian pesta sambil berbunyi.“Klik.. klik… klik… kain emas dan suasa itu milik Banta Berensyah…!!! Klik… klik.. klik… kain emas dan suasa itu milik Banta Berensyah…!!!” demikian bunyi elang itu berulang-ulang.Mendengar bunyi elang itu, seisi istana menjadi gempar. Suasana pesta yang meriah itu seketika menjadi hening. Bunyi elang itu pun semakin jelas terdengar. Akhirnya, Raja dan Putri Terus Mata menyadari bahwa Jakub adalah orang serakah yang telah merampas milik orang lain. Sementara itu Jakub yang sedang di pelaminan mulai gelisah dan wajahnya pucat. Karena tidak tahan lagi menahan rasa malu dan takut mendapat hukuman dari Raja, Jakub melarikan diri melalui jendela. Namun, saat akan meloncat, kakinya tersandung di jendela sehingga ia pun jatuh tersungkur ke tanah hingga tewas seketika.Setelah peristiwa itu, Banta Berensyah pun dinikahkan dengan Putri Terus Mata. Pesta pernikahan mereka dilangsungkan selama tujuh hari tujuh malam dengan sangat meriah. Tidak berapa lama setelah mereka menikah, Raja yang merasa dirinya sudah tua menyerahkan jabatannya kepada Banta Berensyah. Banta Berensyah pun mengajak ibunya untuk tinggal bersamanya di istana. Akhirnya, mereka pun hidup berbahagia bersama seluruh keluarga istana.