Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
1144
Genre Romance
230
Genre Folklore
228
Genre Horror
228
Genre Fantasy
230
Genre Teen
228
Cerita Rakyat Rawa Pening
Dahulu kala terdapat sebuah desa bernama desa Ngasem. Desa ini terletak di sebuah lembah antara Gunung Merbabu dengan Telomoyo. Di sana bermukim sepasang suami istri bernama Ki Hajar dan Nyai Selakanta.cerita rakyat Rawa PeningPasangan suami istri ini dikenal sebagai pribadi yang suka menolong dan murah hati. Oleh sebab itu mereka sangat dihormati masyarakat sekitar. Hanya saja hidup mereka belum lengkap karena mereka masih tak kunjung dikaruniai anak.Sampai suatu hari, Nyai Selakanta terlihat duduk termenung di depan rumahnya seorang diri. Melihat hal tersebut, Ki Hajar kemudian menghampiri istrinya tersebut dan mengambil tempat duduk di samping sang istri.Saat itu, Nyai Selakanta lantas menyampaikan keinginannya kepada sang suami. Ia sangat ingin memiliki anak. Ia sampai meneteskan air mata ketika menyampaikan keinginannya tersebut kepada sang suami.Ki Hajar yang mendengar keluhan istrinya itu kemudian meminta izin kepada sang istri untuk bertapa. Barangkali dari bertapa, dirinya akan mendapat wangsit. Keesokan harinya, Ki Hajar berangkat ke lereng Gunung Telemoyo untuk mulai pertapaannya.Selama bertapa, Nyai Selakanta menunggu sang suami dengan sabar. Hanya saja, bulan demi bulan sudah terlewati dan sang suami tak kunjung pulang. Hingga suatu hari, Nyai Selakanta merasa mual dan muntah.Ia berpikir bahwa dirinya sedang hamil dan ternyata apa yang dipikirannya tersebut benar. Semakin hari perutnya semakin membesar hingga tiba waktunya ia melahirkan. Hanya saja ketika melahirkan, Nyai Selakanta sangat terkejut karena yang dilahirkan adalah seekor naga.Anak itu kemudian dinamai Baru Klinthing yang diambil dari nama tombak milik suaminya. Nama Baru berasal dari bra yang artinya keturunan Brahmana. Brahmana ini merupakan seorang resi yang kedudukannya lebih tinggi dari pendeta. Sementara nama Klinthing berarti lonceng.Meski berwujud seekor naga, namun Baru Klinthing juga dapat berbicara selayaknya manusia. Namun di sisi lain Nyai Selakanta juga merasa malu karena melahirkan seekor naga. Akhirnya ia berniat membawa Baru Klinthing ke Bukit Tugur yang jauh dari pemukiman warga.Namun sebelum rencananya tersebut dilakukan, Nyai Selakanta harus merawat Baru Klinthing sampai agak besar dulu agar perjalanan jauh bisa ditempuh. Tiba suatu hari ketika Baru Klinthing sudah menginjak masa remaja. Ia bertanya tentang sang ayah.Nyai Selakanta kaget namun ia juga berpikir sang anak perlu tahu perihal sang ayah. Ia kemudian menyuruh Baru Klinthing menyusul sang ayah yang sedang bertapa di lereng Gunung Telemoyo. Nyai Selakanta juga meminta agar Baru Klinthing ke sana sembari membawa pusaka tombak bernama Baru Klinthing milik ayahnya.拉哇槟宁民间传说Baru Klinthing pun berangkat ke lereng Gunung Telemoyo membawa pusaka tersebut. Di sana ia melihat seorang laki – laki bersemedi. Baru Klinthing langsung bersujud di hadapan sang ayah. Awalnya Ki Hajar tak percaya dia adalah anaknya namun melihat tombak pusaka yang dibawa Baru Klinthing akhirnya Ki Hajar pun percaya bahwa naga tersebut adalah anaknya.Namun Ki Hajar juga butuh bukti dan memberikan Baru Klinthing tugas. Ki Hajar berkata, “Baik, aku percaya jika kamu anakku. Namun tombak pusaka yang kamu bawa belum cukup sebagai bukti bagiku. Kalau kamu memang benar anakku, coba kamu lingkari Gunung Telemoyo ini!”Baru Klinthing pun melakukan tugas ayahnya dengan menggunakan kesaktian yang dimiliki. Akhirnya Ki Hajar pun percaya dan mengakui sang anak. Ia kemudian memerintahkan sang anak bertapa di Bukit Tugur agar tubuhnya berubah menjadi manusia sepenuhnya.Di sisi lain, ada sebuah desa bernama Pathok. Desa Pathok sangat Makmur hanya saja penduduk desanya sangat angkuh. Suatu hari, penduduk desa yang angkuh itu bermaksud mengadakan pesta sedekah bumi setelah panen.Pesta tersebut juga menampilkan berbagai pertunjukan seni dan tari. Beragam jamuan lezat pun rencananya akan dihidangkan. Untuk mempersiapkan pesta, warga pun beramai – ramai berburu binatang di Bukit Tugur.Hanya saja tak ada satu binatang pun tertangkap. Namun ketika hendak kembali ke desa, mereka melihat seekor naga bertapa. Nah, Naga yang bertapa tersebut adalah Baru Klinthing. Warga desa pun beramai – ramai menangkap dan memotong daging naga tersebut.Daging naga pun dimasak untuk dijadikan hidangan pesta. Ketika pesta dimulai dengan aneka hidangan yang dibuat termasuk daging naga, ada seorang anak laki – laki dengan tubuh penuh darah dan berbau amis mendekat.Nah, anak laki – laki tersebut merupakan jelmaan Baru Klinthing yang wujud naganya sudah dipotong – potong oleh warga. Baru Klinthing dalam wujud anak laki – laki penuh darah meminta bagian makanan kepada warga namun diusir begitu saja.Dia pun meninggalkan desa. Kemudian di tengah perjalanan, ia bertemu janda tua bernama Nyi Latung. Nyi Latung yang baik hati pun mengajak Baru Klinthing datang ke rumahnya dan memakan makanan di rumahnya saja.Di tengah perbincangan, Baru Klinthing meminta Nyi Latung membantunya memberi pelajaran bagi warga. Nyi Latung diminta jika mendengar suara gemuruh agar menyiapkan alat menumbuk padi dari kayu.Setelah makan di rumah Nyi Latung, Baru Klinthing kembali ke pesta warga membawa sebatang lidi. Tiba di tengah keramaian, ia menancapkan lidi ke tanah. Ia meminta warga mencabut lidi yang ditancapkan itu.Beramai – ramai warga mencabut lidi namun tak ada satu orang pun yang berhasil. Sementara dengan kesaktian yang dimiliki, Baru Klinthing bisa mencabut lidi itu dengan mudah. Begitu lidi tercabut, suara gemuruh terdengar.拉哇槟宁民间传说Dari bekas lidi yang tertancap itu, air pun keluar hingga semakin lama terjadi banjir besar dan penduduk langsung menyelamatkan diri. Hanya saja air dengan cepat memporak porandakan desa hingga membuat semua warga tenggelam dan desa tersebut berubah menjadi sebuah rawa yang sekarang dikenal sebagai Rawa Pening.
Nyi Rengganis dan Taman Banjarsari
Cerita ini berkisah tentang kehidupan Putri Rengganis yang hidup di tempat pertapaan bersama dengan ayahnya. Mereka hidup di Tanah Parahyangan.Putri Rengganis merupakan gadis cantik dengan kemampuan terbang. Suatu hari, Putri Rengganis terbang dan memetik bunga di Taman Banjarsari, milik Raden Iman Suwangsa. Raden Iman Suwangsa ini merupakan calon pewaris tahta adipati.Merasa bunganya dicuri oleh Putri Rengganis, ia merasa kesal. Raden Iman Suwangsa pun memantrai taman bunganya agar bunganya tidak mudah diambil oleh orang lain. Setelah mengamati beberapa waktu, Raden Iman Suwangsa memerintahkan prajurit dan patihnya menangkap orang yang mencuri bunganya.Sayembara pun dilakukan. Siapa yang berhasil memberikan informasi tentang pencuri bunganya akan mendapatkan hadiah. Naasnya, Putri Rengganis tidak tahu kalau dirinya sedang diincar. Sahabat Putri Rengganis, Si Belang pun buka mulut hingga akhirnya Putri Rengganis tertangkap basah.Putri Rengganis menangis dan air matanya kemudian berubah menjadi air bah yang tinggi. Air mata tersebut mulai membuat genangan di sekitar tubuhnya sendiri hingga terbentuklah air bah yang tinggi. Raden Iman Suwangsa pun merasa heran dengan kejadian tersebut dan menyesal karena sudah menangkap Putri Rengganis.
Cerita Rakyat Roro Jonggrang
Cerita rakyat Roro Jonggrang bermula ketika sang ayah bernama Raja Prambanan gugur dari perang melawan Kerajaan Pengging yang dipimpin Bandung Bondowoso. Karena kekalahan Raja Prambanan tersebut, Bandung Bondowoso secara otomatis menguasai Kerajaan Prambanan.cerita rakyat Roro JonggrangDi saat yang bersamaan, Bandung Bondowoso juga tertarik dengan Roro Jonggrang yang cantik dan ingin menjadikannya sebagai permaisuri. Namun Roro Jonggrang menolak lamaran Bandung Bondowoso terlebih Roro Jonggrang masih sakit hati karena sang ayah tercinta meninggal akibat serangan Bandung BondowosoBandung Bondowoso yang merasa dirinya adalah penguasa sangat marah dengan penolakan Roro Jonggrang hingga membuatnya mengurung Roro Jonggrang bersama dayang – dayang dan Bi Sumi, seseorang yang sangat dipercaya Roro Jonggrang.Atas penolakan yang diterima, Bandung Bondowoso masih tidak menyerah. Ia selalu mendesak Roro Jonggrang untuk segera menerima lamarannya. Suatu hari, Roro Jonggrang yang sudah lelah didesak terus menerus pun mengiyakan permintaan Bandung Bondowoso dengan syarat.cerita rakyat Roro Jonggrang“Aku bersedia menjadi permaisurimu dengan syarat kau harus memenuhi semua permintaanku. Namun jika kau tak bisa memenuhi permintaanku, kau harus membiarkanku pergi dari sini. Bagaimana? Apakah kau setuju?” minta Roro Jonggrang menanggapi lamaran Bandung Bondowoso.Bandung Bondowoso pun sangat senang dengan apa yang dikatakan Roro Jonggrang. Ia pun menjawab, “Apapun yang kau minta aku akan bersedia menurutinya. Lalu kau meminta apa sebagai syarat dariku?”“Buatkan aku seribu candi dalam satu malam, semuanya harus selesai sebelum matahari terbit dan kau bisa menikahiku”, ucap Roro Jonggrang.Bandung Bondowoso sempat heran dengan permintaan Roro Jonggrang, namun kemudian ia menyetujuinya.Ia pun beranjak dan langsung menyusun siasat. Ia meminta bantuan pada pasukan jin untuk bisa membangun seribu candi dalam semalam. Benar saja, dalam waktu singkat, candi pun mulai tampak. Melihat semua itu, Roro Jonggrang sempat gelisah.Roro Jonggrang pun mengatakan kegelisahannya kepada Bi Sumi.cerita rakyat Roro Jonggrang“Bi Sumi, lihatlah candi itu. Kita harus melakukan sesuatu”Bi Sumi pun tampak panik dan segera mencari ide. Tak lama, Bi Sumi mengungkapkan idenya kepada Roro Jonggrang.“Tuan Ratu, hamba punya ide. Ayo ikuti hamba”, ujar Bi Sumi.Roro Jonggrang dan Bi Sumi pun menyelinap keluar kamar dan menuju kamar dayang – dayang yang terletak tak jauh dari kamar mereka. Bi Sumi memerintahkan para dayang dan pengawal istana untuk mengumpulkan Jerami.Roro Jonggrang pun bertanya, “Untuk apa Jerami yang dikumpulkan itu Bi Sumi?”Bi Sumi kemudian memberitahu rencananya kepada Roro Jonggrang dengan berbisik – bisik.“Tuan Ratu, kita akan membakar Jerami ini sehingga langit terkesan merah sebagai pertanda matahari sudah terbit”Setelah jeraminya terkumpul, Bi Sumi membakarnya. Dia juga memerintahkan para dayang menumbuk lesung. Suara lesung yang bertalu – talu ditambah dengan semburan api yang berwarna kemerahan di langit membuat suasananya sangat mirip dengan pagi hari. Ayam jantan pun tertipu dan berkokok keras memecah suasana yang hening di malam itu.Mendengar suara ayam jantan, Bandung Bondowoso dan para jin terkejut, Mereka juga melihat langit cukup terang sebagai pertanda pagi telah tiba.cerita rakyat Candi Prambanan“Kami harus pergi. Ayo kita pergi!” teriak para jin mengajak teman – teman lainnya.Bandung Bondowoso pun tak berkutik dan membiarkan para jin pergi. Lalu ia memandang candi buatan para jin dan yakin jumlahnya sudah seribu sesuai permintaan Roro Jonggrang.Bandung Bondowoso pun menemui Roro Jonggrang dan melaporkan bahwa candinya sudah dibangun dan ia yakin berjumlah seribu. Roro Jonggrang pun menghitungnya.“997, 998, 999, dan… jumlahnya kurang satu!” kata Roro Jonggrang kepada Bandung Bondowoso.Bandung Bondowoso juga kemudian menghitungnya dan memang benar kalau candinya 999. Bandung Bondowoso pun sangat kecewa dan marah. Ia tak menyangka bahwa dirinya gagal memenuhi persyaratan Roro Jonggrang.Tak terima dengan kekalahan, Bandung Bondowoso pun berkata, “Aku tak pernah kalah. Apa pun yang aku inginkan selalu bisa ku dapatkan. Kalau jumlahnya memang kurang satu, kau saja yang melengkapi candi itu agar berjumlah 1000”.Dengan kesaktiannya, Roro Jonggrang pun dikutuk menjadi patung batu oleh Bandung Bondowoso.Nah itulah cerita dibalik Candi Prambanan dan sampai sekarang candi – candi tersebut masih berdiri sangat megah di wilayah Prambanan dan menjadi sebuah tempat wisata yang banyak dikunjungi.
Cerita Malin Kundang
Awal mula cerita Malin Kundang di Wilayah SumateraHiduplah satu keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatera, Ibu Rubayah dan anak semata wayang, Malin Kundang.Pada suatu hari, di pesisir pantai wilayah Sumatera, hiduplah mereka berdua di tepi pantai. Suami Ibu Rubayah sudah lama meninggalkan keluarganya dan tak pernah kembali sejak saat itu.Malin Kundang tumbuh menjadi anak yang cerdas dan pemberani, meski sedikit nakal. Keluarga tersebut hidup serba pas-pasan sehingga sang ibu harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya dan anaknya.Malin Kundang memutuskan merantau mencari nafkahKetika beranjak dewasa, Malin berpikir untuk pergi merantau ke negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali pulang ke kampung halaman, ia akan menjadi seorang yang kaya raya.Niatannya untuk pergi mencari nafkah terwujud setelah menerima ajakan seorang nakhoda kapal dagang, yang dulunya hidup miskin kini sudah menjadi seorang yang kaya raya.Ibu Malin selalu berdoa agar anaknya sehat, sukses, dan cepat kembaliMulanya sang ibu kurang setuju dengan niatan Malin Kundang. Namun akibat terus didesak, akhirnya beliau menyetujui kepergian anaknya.“Anakku, jika engkau berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan, jangan lupa dengan ibumu dan kampung halamanmu ini, Nak,” pesan Ibu Rubayah pada anaknya, Malin Kundang.Beberapa hari kemudian, Malin Kundang pergi meninggalkan sang ibu dan kampung halamannya. Setiap harinya, tak henti-hentinya sang ibu selalu mendoakan kesuksesan dan keselamatan Malin Kundang selama di perantauan. Ia pun selalu berharap agar anaknya cepat kembali.Bertahun-tahun merantau, Malin tidak pernah mengabarkan keadaannya ke IbunyaSelama berada di dalam kapal, Malin Kundang banyak belajar ilmu mengenai pelayaran. Ilmu tersebut lantas ia terapkan sesampainya di negeri seberang. Bertahun-bertahun ia bekerja dengan keras hingga kini menjadi orang kaya yang memiliki banyak kapal dagang.Meski begitu, ternyata tak pernah sekalipun Malin Kundang mengirimkan surat atau bertukar kabar dengan ibunya. Seolah Malin Kundang telah melupakan keberadaan ibunya di kampung.Malin Kundang telah sukses dan menikah dengan putri bangsawanTak lama kemudian, Malin Kundang mempersunting salah seorang putri bangsawan. Berita mengenai Malin Kundang yang telah kaya raya dan menikah, sampai ke telinga sang ibu. Beliau merasa bersyukur dan sangat gembira bahwa anaknya telah berhasil di perantauan dan kini hidup Makmur.Sejak saat itu, ibu Malin Kundang selalu menunggu setiap harinya di dermaga. Ia menantikan anaknya yang mungkin akan pulang ke kampung halamannya.Malin dan istrinya kembali ke kampung halamanHingga pada suatu hari, Malin Kundang dan istrinya melakukan pelayaran menuju kampung halamannya. Penduduk desa kemudian menyambut kedatangan kapal besar tersebut. Sang Ibu yang saat itu memang berada di dermaga melihat ada sepasang suami istri yang tengah berdiri di atas geladak kapal yang besar.Ibu Rubayah yakin bahwa mereka adalah anaknya yang sudah lama pergi merantau beserta sang istri.Tak lama, ketika kapal tersebut berhenti, Malin Kundang pun turun. Ia langsung disambut oleh ibunya yang sudah lama menantinya pulang.Malin Kundang dipeluk Ibunya, tapi Malin mendorongnya hingga terjatuh“Malin Kundang, anakku! Mengapa kau pergi begitu lama tanpa pernah mengirimkan kabar?” tanya sang ibu sambil memeluk Malin Kundang.Namun yang terjadi berikutnya, Malin Kundang malah melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh.“Wanita tidak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku,” kata Malin Kundang kepada ibunya. Malin Kundang ternyata pura-pura tidak mengenali ibunya, ia malu karena ibunya sudah tua dengan memakai pakaian yang compang-camping.“Wanita itu ibumu?” tanya istri Malin Kundang.“Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan hartaku,” sahut Malin Kundang kepada istrinya.Ibu Malin Kundang sangat sedih dan berdoa kepada AllahSang ibu yang mendengar perkataan tersebut dan diperlakukan semena-mena oleh anak kandungnya sendiri, lantas merasa sedih sekaligus marah.Ia tidak menduga bahwa anak semata wayang yang sangat ia sayangi kini berubah menjadi anak durhaka yang tidak mengenali ibunya sendiri. Tak lama kapal Malin Kundang kemudian perlahan menjauhi tepi pantai.Karena kesedihan dan kemarahannya yang memuncak, ibu Malin Kundang kemudian menengadahkan kedua tangannya sambil berdoa, “Ya Allah Yang Maha Kuasa, kalau ia bukan anakku, aku akan memaafkan perbuatannya tadi. Tapi jika ia memang benar anakku, Malin Kundang, aku mohon keadilan-Mu.”Kapal milik Malin terkena petir dan karam di lautanSeketika, tak lama setelah sang ibu berdoa kepada Allah, langit pun menjadi gelap. Angin tiba-tiba berhembus kencang dan terjadilah hujan badai. Kapal milik Malin Kundang yang sudah berlabuh langsung terkena petir besar, dan kemudian pecah dihantam gelombang besar. Bangkai kapal kemudian terempas ombak yang bergulung-gulung hingga ke tepi pantai.Tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan berubah menjadi batuBersamaan dengan datangnya badai, tubuh Malin Kundang perlahan-lahan menjadi kaku dan lama kelamaan berubah menjadi sebuah batu.Saat matahari pagi mulai memancarkan sinarnya, hujan badai telah reda. Di kaki bukti, tampaklah kepingan kapal yang telah menjadi batu.Tak jauh dari sana, tampak sebuah batu yang menyerupai sosok manusia. Konon katanya, itulah tubuh Malin Kundang, si anak durhaka yang terkena kutukan akibat tak mau mengenali ibu kandungnya sendiri.Sementara itu, di sela-sela batu berenanglah ikan-ikan teri, blanak, dan tenggiri. Kabarnya ikan-ikan tersebut berasal dari serpihan tubuh sang istri yang terus mencari Malin Kundang.Malin Kundang is a Padang folktale about retribution on an ungrateful son. Located on Air Manis Beach.Patung Malin Kundang yang sebenarnya/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Rahthino GiovanniRingkasan dongeng Malin Kundang singkatBegitulah dongeng terkenal Malin Kundang yang menceritakan mengenai Ibu Rubayah dan anaknya. Malin Kundang yang semula harus hidup miskin bersama sang ibu, akhirnya memutuskan pergi merantau ke negeri seberang dengan harapan dapat menjadi orang kaya.Bertahun-tahun merantau dan tanpa pernah memberikan kabar kepada sang ibu, Malin Kundang pergi mengunjungi kampung halamannya bersama sang istri yang merupakan anak bangsawan.Namun, Malin Kundang sama sekali tak mau mengenali ibunya karena terlihat tua, lusuh, dan berpakaian compang-camping. Ia sangat malu kepada istrinya untuk mengakui wanita tersebut adalah ibu kandungnya. Maka kemudian, akibat rasa sedih dan marah, ibu Malin Kundang berdoa kepada Allah, tak lama Malin Kundang dikutuk menjadi sebuah batu. Kapalnya pecah diterjang ombak.
Cerita Rakyat Timun Mas
Dongeng kisah tentang seorang gadis bernama Timun Mas ini berasal dari daerah Jawa. Singkatnya, kisah ini menceritakan tentang seorang anak perempuan yang memiliki hati yang sangat baik, wajah cantik, serta pemberani. Timun Mas dan ibunya bersama-sama melawan raksasa jahat yang ingin memakan Timun Mas.Kisah ini sudah diceritakan berulang kali dan merupakan salah satu kisah legenda asal Indonesia yang sangat populer. Yuk, ceritakan kembali kisah ini pada si kecil agar mereka tahu betapa uniknya dongeng-dongeng asal Indonesia!Selamat membaca!Pada suatu hari, di sebuah desa di daerah Jawa Tengah, ada seorang janda paruh baya yang tinggal sendirian. Wanita tua ini bernama Mbok Srini, suaminya sudah meninggal sejak lama dan ia tidak memiliki anak. Mbok Srini menghabiskan hari-harinya seorang diri dan setiap harinya ia merasa bosan serta jenuh karena ia tidak memiliki seseorang untuk menemaninya.Mbok Srini sejak dulu sangat ingin punya anak. Namun, impiannya yang satu ini memang tidak pernah bisa terwujud. Ditambah lagi, sekarang ia tidak memiliki seorang suami, kemungkinan ia memiliki anak pun tentu saja menjadi hilang. Mbok Srini hanya bisa menunggu keajaiban menghampirinya agar ia bisa memiliki anak. Mbok Srini selalu berdoa pada Tuhan tiap pagi, siang, dan malam hari agar Tuhan bisa melihatnya dan mengkaruniakan Mbok Srini seorang anak.Lalu, pada suatu malam, Mbok Srini memimpikan seorang raksasa yang menyuruhnya pergi mengambil sebuah bungkusan di bawah pohon besar di hutan tempat biasanya ia mencari kayu bakar. Saat ia terbangun di pagi hari, tentu saja Mbok Srini merasa kebingungan dengan arti mimpi itu. Dengan berbagai keraguan dan rasa penasaran di benaknya, Mbok Srini tetap berjalan ke hutan dan mengikuti perasaannya. Saat ia tiba di hutan ia mencari bungkusan yang berada di bawah pohon besar—seperti yang ada di mimpinya semalam.Sebenarnya, Mbok Srini berharap bungkusan yang hendak ia temukan ini berisi bayi, tapi yang justru ia temukan hanyalah sebutir biji timun. Hatinya pun kecewa dan merasa sedih. Tiba-tiba, ada seorang raksasa yang menghampirinya sambil tertawa terbahak-bahak. “Apa maksudmu memberikanku sebutir biji timun?” Tanya Mbok Srini seraya berteriak tapi tetap menahan emosinya. Saat Mbok Srini memperhatikan raksasa itu, ternyata raksasa itulah yang semalam menghampirinya.Mbok Srini pun merasa ketakutan, ia merasa raksasa itu akan memakannya. Mbok Srini pun memohon agar raksasa itu merasa iba dan membiarkannya tetap hidup. “Tenang, jangan takut. Aku tidak akan memakanmu, wanita tua!” Ucap raksasa itu. Ternyata, raksasa ini meminta Mbok Srini menanam biji timun yang ia berikan. Katanya, ia akan dihadiahkan seorang anak perempuan jika ia menanamnya. Namun, saat anak itu sudah dewasa, Mbok Srini harus memberikan anak itu kembali pada raksasa karena ia akan memakannya. Karena Mbok Srini sangat menginginkan seorang anak, ia menyetujui perjanjian itu.Saat kembali ke rumah, Mbok Srini menanam biji timun itu ke ladang rumahnya. Mbok Srini merawat biji timun itu dengan sangat baik tiap harinya. Dua bulan kemudian, tanaman itu pun mulai berubah, dan tanaman timun itu hanya berbuah satu. Semakin hari, buah timun spesial ini menjadi semakin besar, lebih besar dari buah timun pada umumnya. Warnanya pun menunjukkan warna kuning keemasan, terlihat cantik.Saat buah timun itu sudah sangat besar, Mbok Srini memetiknya dan saat terbelah, ada seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Mbok Srini sangat bahagia mendengar suara tangisan bayi itu. Ia pun memberikan nama Timun Mas. Mbok Srini merasa sangat senang sehingga ia lupa bahwa ia pernah membuat janji pada raksasa ia akan memberikan bayi ini padanya suatu hari nanti. Mbok Srini membesarkan Timun Mas dengan kasih sayang dan kesabaran. Timun Mas tumbuh menjadi seorag perempuan yang cantik, baik, serta sangat cerdas.Pada suatu malam, Mbok Srini kembali bermimpi didatangi raksasa yang memberikan pesan bahwa dalam waktu seminggu, ia akan menjemput Timun Mas. Sejak saat itu, Mbok Srini sering termenung sedih sendirian. Ia terus memikirkan bahwa ia akan berpisah dengan anaknya yang sangat ia sayangi. Terkadang, air mata jatuh ke pipinya tanpa ia sadari. Ternyata, Timun Mas sering memperhatikan ibunya yang sedih ini, lalu ia pun bertanya pada Mbok Srini, “Ibu, kenapa akhir-akhir ini Ibu sering sekali menangis?” Awalnya, Mbok Srini tidak ingin bercerita pada anaknya, tapi karena Timun Mas mendesaknya dan terus bertanya, Mbok Srini pun menceritakan kisah asli kelahiran Timun Mas. Mbok Srini juga menceritakan bagian bahwa ia harus mengembalikan Timun Mas ke seorang raksasa dan beberapa malam sebelumnya raksasa itu menghampiri ia kembali ke dalam mimpi.Timun Mas pun merasa sedih dan ia tidak ingin Mbok Srini mengembalikannya ke sang raksasa. Akhirnya mereka berdua berpikir dan mencari cara agar Timun Mas bisa bebas dari sang raksasa. Di hari Timun Mas harus dikembalikan, tiba-tiba Mbok Srini terpikir sebuah cara. Mbok Srini meminta Timun Mas berpura-pura sakit agar sang raksasa tidak ingin memakannya. Beruntung, car aini cukup berhasil untuk mengulur waktu, sang raksasa akan datang kembali saat Timun Mas sudah sembuh.Sebelum rakasasa itu datang kembali, Mbok Srini memikirkan bagaimana cara agar anaknya bisa terbebaskan. Paginya, Mbok Srini bertemu seorang pertama di gunung, ia adalah teman suaminya yang sudah meninggal. Sesampainya di sana, Mbok Srini langsung menceritakan soal kondisinya dan ia ingin mengusir raksasa itu. Sang pertapa itu memberikan Mbok Srini empat bungkusan kecil. Katanya, bungkusan-bungkusan ini berisi biji timun, jarum, garam, dan terasi. Sang pertapa menyuruhnya memberikan empat bungkusan ini pada anaknya dan jika sang raksasa mengejarnya, sebarkan isi bungkusan-bungkusan ini.Setelah itu, Mbok Srini pun pulang dengan perasaan sedikit lega, setidaknya ia sekarang sudah memiliki rencana. Beberapa hari kemudian, raksasa ini datang kembali untuk menjemput Timun Mas. Mbok Srini dan Timun Mas pun berdiri berdampingan tanpa rasa takut. Timun Mas tiba-tiba berlari sekencang-kencangnya dan raksasa itu mengejarnya. Setelah berlari cukup jauh Timun Mas menaburkan biji yang diberikan ibunya. Sungguh ajaib, hutan di sekelilingnya tiba-tiba berubah menjadi ladang timun. Dalam sekejap, batang timun tersebut menjalar dan melilit seluruh tubuh raksasa itu. Namun, raksasa itu mampu melepaskan diri dan kembali mengejar Timun Mas.Timun Emas pun segera melemparkan bungkusan yang berisi jarum. Dalam sekejap, jarum-jarum berubah menjadi banyak pohon bambu yang tinggi dan runcing. Namun, raksasa itu mampu melewatinya dan terus mengejar Timun Mas, walau berdarah-darah karena tertusuk bambu tersebut.Melihat usahanya belum berhasil, Timun Mas membuka bungkusan ketiga yang berisi garam lalu menebarkannya. Seketika itu pula, hutan yang telah dilewatinya tiba-tiba berubah menjadi lautan luas dan dalam, namun raksasa itu tetap berhasil melaluinya dengan mudah. Timun Emas pun cemas, karena senjatanya hanya tersisa satu. Jika senjata tersebut tidak berhasil melumpuhkan raksasa itu, maka raksasa itu akan berhasil menangkap dan memakannya.Dengan harapan untuk selamat yang sangat besar, Timun Mas pun melemparkan bungkusan terakhir yang berisi terasi. Seketika tempat jatuhnya terasi itu tiba-tiba berubah menjadi lautan lumpur yang mendidih. Raksasa itu pun terkalahkan karena tercebur ke dalam lautan lumpur dan ia tewas dengan sangat cepat.Melihat itu, Timun Mas langsung berlari menuju ke rumahnya untuk bertemu dengan ibunya. Melihat anaknya selamat, Mbok Srini pun langsung berucap syukur kepada Tuhan dan sejak itu, Mbok Srini dan Timun Mas hidup berbahagia.
Cerita rakyat Sangkuriang, Jawa Barat
Cerita rakyat ini berasal dari Jawa Barat dan mengisahkan tentang seorang anak yang suka atau cinta terhadap ibu kandungnya sendiri. Seperti apa kisahnya?Legenda SangkuriangHidup seorang wanita cantik jelita bernama Dayang Sumbi. Ia menikah dengan anjing yang sebenarnya merupakan jelmaan raja. Anjing tersebut diberi nama Tumang.Mereka memiliki seorang anak yang diberi nama Sangkuriang. Sangkuriang sangat tidak suka dengan Tumang. Namun Dayang Sumbi selalu menyuruh Tumang ikut kemanapun Sangkuriang pergi, termasuk ketika Sangkuriang pergi ke hutan.Karena memang Sangkuriang merasa tidak suka dengan Tumang, ketika ada kesempatan ia malah membunuh Tumang. Sangkuriang yang pulang kerumah dengan berlumuran darah tentu ditanya Dayang Sumbi apa yang terjadi.Ketika Sangkuriang sudah menjelaskan semua yang terjadi, Dayang Sumbi tentu sangat marah. Dayang Sumbi menggetok kepala Sangkuriang dengan entong nasi dan mengusir Sangkuriang. Sangkuriang pun pergi. Namun sebenarnya jauh di lubuk hati Dayang Sumbi, ia sangat menyesal dengan apa yang terjadi saat ini apalagi sampai membuatnya mengusir sang putra.Waktu pun berlalu. Bertahun – tahun kemudian, Sangkuriang pergi kembali ke desa. Sangkuriang berharap bisa bertemu sang ibu. Namun di desa, ia malah bertemu seorang wanita cantik yang parasnya mirip ibunya namun ia berpikir bahwa itu bukan ibunya karena menurut perkiraan Sangkuriang harusnya sekarang ibunya sudah tua.Terus menerus bertemu, Sangkuriang menyukai Dayang Sumbi. Ia pun melamar Dayang Sumbi. Namun ketika Sangkuriang melamar Dayang Sumbi, saat itu juga ia sadar bahwa pria yang ada di hadapannya itu adalah sang putra. Ia menyadari karena saat itu pria di hadapannya tersebut melepas ikat kepalanya dan di sana tampak jelas ada bekas getokan entong yang dulu pernah ia lakukan.Dayang Sumbi pun berusaha mencari alasan dan cara agar Sangkuriang mengurungkan niat menikahinya. Dayang Sumbi pun mengajukan sebuah syarat.Sangkuriang harus mampu membuat bendungan dan sekaligus perahunya dalam satu malam. Sangkuriang yang sakti dan memang mencintai Dayang Sumbi menyanggupi permintaan tersebut.Hari dimana Sangkuriang harus memenuhi syarat yang diajukan Dayang Sumbi tiba. Ia melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Ketika pekerjaan itu hampir selesai, Dayang Sumbi memerintahkan pasukannya menggelar kain sutera berwarna merah di sebelah timur kota.Hal tersebut membuat Sangkuriang mengira hari sudah pagi. Namun karena hal tersebut, Sangkuriang mengira bahwa ia sudah gagal memenuhi syarat Dayang Sumbi. Ia pun menendang perahu dengan kekuatannya dan perahu tersebut terbalik hingga kemudian membentuk sebuah gunung besar yang terkenal dengan nama Tangkuban Perahu.Ada sumber yang mengatakan perahu terbalik tersebut menjadi gunung karena kekuatan Sangkuriang dibantu para jin. Namun ada sumber lain yang mengatakan perahu terbalik tersebut menjadi gunung karena peristiwa endapan. Perahu yang terbalik tersebut dibiarkan lama dan akhirnya dipenuhi tanah, pasir, lumpur dan juga lumut hingga membentuk gunung besar beberapa ratus tahun setelahnya.Dari cerita di atas kita belajar bahwa tidak ada seorang ibu yang menginginkan hal buruk terjadi pada anaknya. Seorang ibu pasti berusaha mendidik anaknya dengan baik. Seorang anak juga harus memperlakukan orang tuanya dengan baik.Kisah cinta ibu dan anak merupakan cinta yang di dalamnya ada tali kasih untuk saling menyayangi bukan untuk saling memiliki.
Dongeng Nusantara Pendek : Legenda Putri Pinang Gading
Alkisah pada masa silam di daerah Membalong, Bangka Belitung, hiduplah sepasang suami istri yang sudah cukup berumur. Walaupun telah lama menikah, pasangan suami istri itu belum dikaruniai keturunan.Sehari hari mereka bekerja bersama mencari ikan sambil menanam padi di sawah mereka yang tak seberapa besar.Meski kehidupan mereka tergolong miskin, suami istri itu hidup bahagia.Pada suatu ketika, sang suami pamit hendak melihat sero ikannya yang dipasang di pinggir laut.Alat penangkap ikan berupa bilik bilik dengan lubang kecil sebagai pintu masuk itu biasa dipanen ketika air laut tengah surut.Dengan membawa keranjang, sang suami berangkat pagi itu.Ketika hendak mendekati seronya, sang suami merasa kakinya menyentuh sesuatu.“Apa ini?”, kata sang suami sambil menunduk memperhatikan sebuah benda yang berada dekat kakinya.“Ah, ternyata sebilah bambu..”, gumamnya sambil mengambil bambu yang tak seberapa besar itu. Sang suami mengamati bambu itu sebentar sebelum melemparkannya ke laut.Sang suami sungguh gembira melihat seronya yang dipenuhi ikan. Ia segera memindahkan ikan ikan itu ke dalam keranjang yang dibawanya. Ketika tengah asyik bekerja, sang suami kembali merasa kakinya menyentuh sesuatu. Ia menunduk untuk melihat benda apakah gerangan itu.“sebilah bambu lagi ?’, gumamnya pelan. “Banyak sekali bambu di sekitar sini..”, pikirnya heran.Sang suami mengambil bambu itu, mengamatinya sebentar dan melemparkannya ke tengah laut.Usai sudah pekerjaan sang suami. Semua ikan dari seronya telah dipindahkan ke dalam keranjang. Ketika hendak beranjak pulang, lagi lagi sang suami merasa kakinya menyentuh sesuatu. Sungguh heran, dilihatnya sebilah bambu berada dekat kakinya. Sang suami segera mengangkat bambu itu dan mengamatinya.“Aneh sekali…”, gumamnya heran. “Ini kan bambu yang tadi kulempar kelaut..”, pikirnya sambil membolak balik bambu itu. “Bagaimana ia kembali kesini sementara laut sedang surut ?”, sang suami tak habis pikir akan bambu yang beberapa kali menyentuh kakinya itu.Ia memutuskan untuk kembali melempar bambu itu ke tengah laut.Namun demikian bambu itu seakan mengikuti sang suami. Entah darimana datangnya, tiba tiba kaki sang suami kembali menyentuh bambu itu.“Sungguh aneh..”, pikirnya sambil meraih bambu itu. “Mengapa bambu ini seakan mengikutiku ?”, sang suami merasa sangat heran.“Jangan jangan ini bambu ajaib. Sebaiknya kubawa pulang saja”, ujarnya pelan sambil mengikat bambu itu diatas keranjang ikannya.Saat tiba di rumah, sang suami lupa menceritakan perihal bambu itu kepada istrinya. Iapun tak melepaskan bambu itu dari keranjang ikannya. Sang suami bahkan tak tahu kalau istrinya menggunakan bambu itu sebagai penahan padi yang tengah dijemur agar tak diterbangkan angin.Beberapa hari kemudian, ketika tengah duduk bersantai menikmati matahari pagi, pasangan suami istri itu dikejutkan oleh sebuah suara ledakan. Mereka segera bangkit berdiri dan mencari asal suara. Ketika sampai di samping rumah, pasangan suami istri itu terkejut melihat seorang bayi perempuan diatas tumpukan padi.Didekatnya terlihat sebilah bambu yang dibawa pulang sang suami tempo hari terbelah dua.“Lihat Pak….”, teriak sang istri sambil berlari menghampiri bayi perempuan itu. “Bambu itu memberi kita seorang bayi rupanya..”, katanya lagi sambil meraih bayi itu.Sang suami teringat akan bambu ajaib yang ditemukannya dipinggir laut. “Rupanya benar bambu itu adalah bambu ajaib..”, pikir sang suami senang.Ia sangat gembira Tuhan mengaruniakan mereka seorang anak dengan perantaraan bambu itu.Sang istri menimang nimang bayi perempuan yang berparas cantik itu dalam gendongannya. Mereka membawa bayi itu ke dalam rumah. Hari terus berlalu. Sepasang suami istri itu merawat bayi mereka dengan baik dan memberinya nama Putri Pinang Gading. Keduanya sangat mencintai bayi itu.Tak terasa Putri Pinang Gading telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang cantik jelita. Ia memiliki kesukaan yang jarang dimiliki anak perempuan. Kesukaannya memanah sedari kecil membuat Putri Pinang Gading menjadi seorang pemanah ulung. Keahliannya itu digunakannya untuk berburu. Ayahnya dengan setia selalu menemaninya ketika putri semata wayangnya itu hendak pergi berburu ke hutan.Pada suatu hari terdengar berita bahwa kampung tetangga mereka mendapat serangan seekor burung buas yang bertubuh besar. Bukan hanya hewan ternak yang dimangsanya, burung itu bahkan telah memangsa seorang penduduk. Akibatnya tak ada warga yang berani keluar rumah. Putri Pinang Gading sangat prihatin mendengar berita itu. Ia berniat menggunakan keahliannya memanah untuk menolong.“Ayah, aku ingin sekali menolong kampung tetangga kita..”, ujar Putri Pinang Gading ketika tengah menyantap makan malamnya. Sang ayah terkejut. Begitu pula dengan ibunya. Bukan mereka tak menghargai niat baik putri mereka, namun bahaya yang mengancam membuat pasangan suami istri itu takut kehilangan Putri Pinang Gading.“Sebaiknya kau berpikir lagi putriku…”, ujar sang ayah berusaha membujuk. “Ayah dengar burung itu besar dan ganas. Ayah takut kau dimangsanya nak..”, tambahnya lagi.“Iya putriku, benar apa yang dikatakan ayahmu..”, kata sang ibu dengan suara menahan tangis. “Kami takut terjadi sesuatu padamu nak..”.Putri Pinang Gading tetap pada pendiriannya. Ia yakin mampu menolong kampung tetangganya itu. Orang tuanyapun akhirnya menyerah. Meski dengan berat hati, sepasang suami istri itu mengijinkan Putri Pinang Gading berangkat ke kampung tetangga esok pagi.Malam itu juga Putri Pinang Gading menyiapkan busur dan anak anak panah yang telah dilumuri racun. Sang ayah ikut membantu putrinya. Mereka menyiapkan semuanya dengan hati hati. Setelah persiapannya dirasa cukup, Putri Pinang Gading segera tidur agar dapat berangkat pagi pagi sekali.Setelah menempuh perjalanan setengah hari, Putri Pinang Gading tiba di kampung tetangga. Suasana kampung itu sungguh sepi karena tak ada seorangpun yang berani keluar rumah.“Jika begini terus, lama lama penduduk kampung ini akan kelaparan”, pikirnya sambil mengamati keadaan sekeliling. “Darimana mereka mendapat bahan makanan jika keluar rumah saja tak berani ??”, gumamnya sedih.Putri Pinang Gading berjalan perlahan lahan menyusuri kampung dengan waspada. Ia memilih berjalan di bawah pepohonan agar kehadirannya tak diketahui Gerude, nama burung besar itu. Setelah berjalan beberapa lama, Putri Pinang Gading memilih menunggu Gerude di bawah pohon besar dipinggir danau. Dugaannya tepat. Tak berapa lama kemudian ia melihat burung ganas itu terbang menukik dan mendaratkan tubuhnya di pinggir danau.Gerude yang tengah asyik minum air danau tak menyadari kalau dirinya sedang diamati. Putri Pinang Gading melihat burung itu dengan seksama dari balik pohon besar di dekatnya. Dengan sangat perlahan, Putri Pinang Gading menurunkan busurnya dan menyiapkan sebuah anak panah beracun. Ketika dirasa saatnya telah tiba, ia segera melepas anak panah yang melesat kencang dan kemudian menancap di dada Gerude. Burung itu terkejut sekali. Ia mengepakkan sayapnya dan terbang dengan mengeluarkan suara yang memekakkan telinga.Racun yang dioleskan Putri Pinang Gading pada anak panahnya bereaksi dengan cepat. Burung ganas itu berteriak kesakitan sambil terbang berputar putar di udara. Tak memakan waktu lama, Putri Pinang Gading melihat Gerude jatuh terhempas di tanah lapang di pinggir danau. Ia mati seketika. Warga yang terkejut mendengar suara Gerude yang keras berhamburan keluar rumah. Mereka ingin tahu apa yang tengah terjadi pada burung itu.Alangkah senangnya warga yang menyaksikan burung ganas yang meresahkan kampung itu telah mati. Kabar matinya Gerude segera tersiar ke seluruh kampung. Penduduk ramai berdatangan mengerumuni mayatnya. Mereka sangat berterimakasih pada Putri Pinang Gading yang telah menolong mereka. Putri Pinang Gadingpun tak kalah gembira. Ia bahagia bisa membunuh burung ganas itu. Dengan demikian penduduk bisa hidup kembali dengan tenang.Alkisah tanah lapang tempat jatuhnya Gerude kemudian berubah manjadi tujuh buah anak sungai. Adapun anak panah yang mengenai dada burung itu berubah menjadi rumpun bambu yang beracun. Oleh masyarakat setempat, pohon bambu itu diberi nama bulo berantu yang berarti bambu beracun. Bambu itu dapat meracuni siapa saja yang bagian tubuhnya tersayat olehnya.
Cerita Rakyat Putri Niwerigading dari Aceh
Cerita rakyat Putri Niwerigading yang sangat terkenal di Aceh merupakan suatu cerita turun temurun yang mengisahkan tentang kehidupan seorang anak bernama Amat Mude yang lahir ketika sang ayah meninggal.Ia kemudian diperlakukan buruk oleh pakciknya sebagai raja yang berkuasa saat itu. Amat Mude pun tumbuh dengan perlakuan buruk tersebut namun ia menjadi orang yang tetap berbuat baik dan sabar dengan kehidupannya .Lalu apa yang terjadi dengan Amat Mude dan siapa Putri Niwerigading? Yuk simak kisah selengkapnya berikut ini!Di negeri Alas yang termasuk wilayah Nangroe Aceh Darussalam, dahulu hidup seorang raja bijaksana yang sangat dicintai rakyatnya. Ia memerintah dengan adil dan bijaksana.Namun sayangnya, kehidupan raja tidak berjalan mulus karena ia tidak kunjung dikaruniai seorang putera. Meski begitu, raja tidak putus asa. Ia masih tetap berdoa sambil berpuasa hingga suatu hari, permaisuri mengandung.Setelah sembilan bulan kemudian, permaisuri pun melahirkan seorang putera yang diberi nama Amat Mude. Hanya saja belum genap umur setahun, sang raja meninggal dunia. Karena Amat Mude yang bakal meneruskan tahta sang ayah masih bayi, adik raja yang akhirnya meneruskan tahta sang raja untuk sementara.Adik raja tersebut bernama Raja Muda. Hanya saja setelah diangkat menjadi raja, Raja Muda bertindak semena – mena bahkan terhadap Amat Mude dan ibunya. Mereka diasingkan. Hal tersebut dilakukan Raja Muda lantaran ia berambisi menjadi raja selamanya tanpa digeser oleh Amat Mude kelak ketika Amat Mude dewasa.Meski mendapat perlakuan seperti itu, ibu Amat Mude berusaha tegar dan sabar. Ia membesarkan Amat Mude dengan penuh kasih sayang dan perhatian hingga Amat Mude pun tumbuh menjadi pria yang cerdas dan tampan.Amat Mude suka memancing ikan di sungai. Suatu hari, Amat Mude dan ibunya pergi ke sebuah desa di pinggir hutan untuk menjual ikan hasil tangkapannya. Tak disangka, ia bertemu saudagar kaya. Saudagar tersebut ternyata masih mengenali ibu Amat Mude.Ia pun bertanya, “Mengapa Tuan Putri dan Putra Mahkota berada di tempat ini?”Akhirnya ibu Amat Mude yang dulunya merupakan seorang permaisuri raja ini menceritakan semua kisahnya. Mendengar hal tersebut, sang saudagar kaya mengajak mereka ke rumahnya dan saudagar tersebut pun membeli semua ikan yang dijual oleh Amat Mude dan ibunya.Sesampainya di rumah saudagar, saudagar tersebut menyuruh istrinya memasak ikan. Namun ketika ikan sedang dimasak, ia kaget karena ketika ikan dipotong di bagian perut dari sana muncul telur ikan berupa emas dalam jumlah banyak.Istri saudagar pun menjual emas tersebut ke pasar dan mendapatkan uang dalam jumlah banyak yang kemudian uangnya digunakan membangun rumah untuk Amat Mude dan ibunya. Akhirnya Amat Mude dan ibunya pun memiliki rumah yang layak dan hidup berkecukupan.Cerita tentang Amat Mude dan ibunya yang sekarang sudah mapan dan kaya sampai juga di telinga Raja Muda. Suatu hari, Raja Muda memanggil Amat Mude ke istana. Ia memerintahkan Amat Mude untuk memetik kelapa gading dimana kelapa gading tersebut akan digunakan mengobati penyakit istri Raja Muda.Hanya saja kelapa gading tersebut harus diambil di sebuah pulau yang dihuni banyak binatang buas. Jika tidak berhasil, Amat Mude akan mati. Itulah yang juga diucapkan oleh Raja Muda kepada Amat Mude. Namun karena niat hatinya untuk membantu, Amat Mude pun tak gentar.Setibanya di pantai, Amat Mude duduk termenung. Tiba – tiba muncul seekor ikan besar dihadapannya yang mengaku bernama Si Lenggang Raye. Ikan tersebut didampingi raja buaya dan seekor naga besar.Ternyata ikan tersebut berniat membantu. Berkat bantuan mereka, Amat Mude pun menemukan pohon kelapa gading yang akan dipakai mengobati istri Raja Muda. Ia pun memanjat pohon tersebut. Namun tiba – tiba terdengar seorang perempuan berkata “Siapa pun yang berhasil memetik buah kelapa gading itu, dia akan menjadi suamiku”.Amat Mude terkaget. Ia pun bertanya, “Siapakah Engkau?”“Aku Puteri Niwerigading” ungkapnya.Amat Mude pun cepat – cepat memetik kelapa gading. Setelah turun dari atas, ia pun bertatap muka dengan Puteri Niwerigading dan sangat takjub dengan kecantikannya. Amat Mude pun pulang dan mengajak sang puteri pulang untuk mempersuntingnya.Setelah menikah, Amat Mude beserta sang istri dan ibunya berangkat ke istana untuk memberikan buah kelapa gading kepada sang paman, Raja Muda. Raja Muda sangat heran dengan kedatangan Amat Mude dengan selamat. Akhirnya Raja Muda pun meminta maaf dan sekaligus berterima kasih karena Amat Mude masih mau membantunya.Raja Muda yang sadar dengan kesalahannya pun, berusaha menebus kesalahan dan dosanya dengan menobatkan Amat Mude sebagai Raja Negeri Alas, pengganti dirinya.
Dongeng Sunda : Kisah Pangeran Pande Gelang
Pada zaman dahulu, di sebuah Kerajaan hiduplah seorang Putri Raja yang bernama Arum. Ia memilki paras yang sangat cantik jelita. Banyak Pangeran yang datang untuk menjadikannya Permaisuri. Dari sekian banyak Pangeran, tersebutlah dua orang Pangeran teman perseguruan menginginkan Putri Arum sebagai istrinya. Kedua Pangeran tersebut bernama, Pangeran Sae Bagus Lana dan Pangeran Cunihin. Keduanya memiliki kesaktian yang sama-sama tinggi. Namun, sifat mereka sangat berbeda. Pangeran Sae Bagus Lana memiliki sifat yang sangat baik hati. Sedangkan Pangeran Cunihin sifatnya sangat tercela. Mengetahui perwatakan kedua Pangeran tersebut. Putri Arum memilih Pangeran Sae Bagus Lana.Menerima kenyataan bahwa bukan dirinya yang di pilih Putri Arum, Pangeran Cunihin sangat marah. Karena rasa marah dan malu, ia pun menyusun rencana untuk mengambil kesaktian Pangeran Sae Bagus Lana dan untuk merebut Putri Arum. Suatu hari, ia pun berhasil melaksanakan niat jahatnya. Dengan kesaktian, ia merubah Pangeran Pande Gelang menjadi seorang Kakek Tua yang sangat hitam dan jelek.Pangeran Sae Bagus Lana pun terkejut karena ia berubah menjadi seorang Kakek Tua. Ia pun akhirnya pergi menemui Gurunya untuk meminta petunjuk. Gurunya pun memberikan saran Pangeran Sae Bagus membuat sebuah gelang besar yang bisa di lewati oleh manusia. Jika Pangeran Cunihin dapat melewati Gelang tersebut. Maka, kesaktiannya akan hilang. Dan kesaktian Pangeran Sae Bagus Lana akan kembali dan berubah menjadi Pangeran tampan.Setelah mendengar nasihat dari Sang Guru. Ia pun segera pergi ke sebuah kampung untuk menjadi pembuat gelang. Sejak saat itu lah Pangeran Sae Bagus Lana di sebut dengan Ki Pande Gelang.Pada suatu hari di Bukit Manggis terlihat seorang putri yang sangat cantik duduk terpaku. Tatapan matanya kosong, ia terlihat sedih. Melihat gadis cantik tersebut tidak asing baginya. Ia adalah Putri Arum yang sedang bersedih karena tidak mau menikah dengan Pangeran Cunihin yang terkenal kejam dan jahat. Ki Pande sangat senang melihat kekasihnya. Namun, ia tidak dapat mengatakan yang sebenarnya siapa dirinya.‘’ Tuan Putri?’’ sapa Ki PandeSang Putri tidak menjawab. Dia sangat larut dalam kesedihannya, sehingga tak menyadari kehadiran Kakek itu. Ki Pande pun mengulang apaannya.‘’ Tuan Putri?’’Contoh Dongeng Sunda Kisah Pangeran Pande GelangContoh Dongeng Sunda Kisah Pangeran Pande GelangSang Putri tidak segera menjawab. Ia hanya menoleh memperhatikan dengan penuh seksama lelaki yang berdiri di hadapannya. Kulitnya yang hitam legam. Namun Putri merasa yakin, lelaki itu adalah lelaki baik.‘’ Saya perhatikan dari tadi. Tuan Putri terlihat sangat sedih. Ada apa ?’’ Tanya Ki Pande‘’ Saya memang sedang bersedih. Namun, tidak ada gunanya saya menceritakan masalah ini kepada orang lain.’’ Jawab Putri Arum.‘’ Baiklah Tuan Putri maafkan saya. Saya telah mengganggu dan ikut campur dalam masalahmu!’’ ujar Lelaki tersebut, ia pun bersiap untuk pergi. Namun, tiba-tia Putri Arum mencegahnya.‘’ Tunggu Tuan. Siapa nama mu Tuan?’’ Tanya Lelaki itu.‘’ Aku adalah orang yang membuat gelang. Banyak orang memanggil saya dengan nama Ki Pande. Lalu, Tuan Putri siapa namanu?’’ Tanya Ki Pande.“Namaku Putri Arum,” jawab sang Putri.Kemudian Ia menceritakan keadaan dirinya yang saat ini sedang mengalami masalah.‘’ Saat ini aku sedang bersedih. Sebentar lagi, aku akan di nikahkan dengan seorang Pangeran yang tidak aku cintai. Ia adalah seorang pangeran tampan yang bernama Pangeran Cunihin. Walaupun parasnya tampan rupawan, Pangeran Cunihin sangat bengis dan kejam. Semua orang takut kepada pangeran Cunihin karena memilki kesaktian yang sangat tinggi. Semua keinginan Pangeran Cunihin harus dipenuhi, jika tidak dipenuhi dia tidak segan-segan memberikan hukuman yang sangat berat.’’ Ujar Putri Arum menangis.‘’ Lalu apa yang sedang Tuan Putri lakukan dibukit ini?’’ Tanya Ki Pande.“Saat aku sedang meminta petunjuk dari yang maha kuasa, aku diberi petunjuk agar menenangkan diri di Bukit Manggis. Kelak akan datang seorang pangeran sakti yang dapat menolongku. Tapi, hingga kini pangeran itu tidak kunjung datang. Sebentar lagi, Pangeran Cunihin pasti akan datang ke istana untuk menikahiku.” Jawab Putri Arum mengusap air matanya.Ki Pande mendengarkan cerita Putri Arum dengan seksama, dia mengangguk-angguk tanda paham dengan keadaan yang melanda sang putri.‘’ Sebelumnya maafkan hamba jika terlalu lancang. Namun, bolehkah hamba memberikan saran untuk masalah yang sedang Tuan Putri hadapi?’’ ujar Ki Pande‘’ Silahkan Ki Pande.’’ Jawab Putri Arum penuh harap.‘’ Terima kasih Putri. Menurut hamba. Sebaiknya terima lamaran tersebut.’’ Ujar Ki Pande.‘’ Apa kau sudah gila Ki Pande? Aku harus menerima lamaran dari Pangeran Cunihin? Lelaki yang sangat aku benci! Tidak Ki Pande! Aku tidak mau dipersunting olehnya. Aku tidak mau menjadi istri seorang Pangeran yang jahat.’’ Ujar Putri Arum marah.Ki Pande sangat terkejut melihat kekasihnya marah, tapi dia berusaha tetap tenang‘’ Tenanglah Putri. Saran saya, Tuan Putri terima lamaran itu. Namun, ajukan sebuah persyaratan. Syaratnya adalah Pangeran Cunihin harus melubangi batu keramat supaya bisa dilalui manusia. Katakan saja kepadanya kalau batu keramat itu akan kalian gunakan untuk berbulan madu. Batu itu harus diselesaikan dalam waktu tiga hari dan diletakkan di pesisir pantai.” ujar Ki Pande menjelaskan.“Bukankah syarat itu sangat mudah dilakukan oleh Pangeran Cunihin?” tanya sang Putri.“Tapi tidak semua orang mau melakukannya. Sebab dengan melubangi batu keramat, setengah dari kemampuan orang tersebut akan hilang. Setelah kesaktian Pangeran Cunihin hilang, hamba yang akan melanjutkan rencana ini ” Ki Pande menjawab ke khawatiran Sang PutriMendengar penjelasan dari Ki Pande. Putrid Arum pun akhirnya menyetujui saran yang diberikan tersebut. Ki Pande mengajak Putri Arum ke tempat tinggalnya. Tempat tinggal Ki Pande sangat jauh. Butuh waktu yang cukup lama untuk sampai ke sana. Putri Arum yang tidak biasa berjalan jauh, tampak sangat kelelahan, sudah hampir setengah hari. Mereka belum juga sampai. Tepat ketika sampai di desa tempat tinggal Ki Pande, Putri Arum jatuh pingsan di atas sebuah batu cadas.Para penduduk membantu Ki Pande menolong Putri Arum. Ki Pande Membawa Putri Arum ke rumah salah seorang penduduk dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Salah seorang sesepuh kampung mengatakan bahwa Putri Arum bisa segera pulih jika minum air gunung yang memancar melalui batu cadas.Beberapa penduduk langsung mencari sumber air itu. Sesaat, Keajaiban pun terjadi. Setelah meminum air yang berasal dari batu cadas, Putri Arum langsung sadarkan diri. Setelah kejadian itu, ia dikenal sebagai Putri Cadasari.Ki Pande pun mulai sibuk membuat sebuah gelang yang sangat besar digunakan untuk menghancurkan kesaktian Pangeran Cunihin. Gelang tersebut akan di buat sebesar batu keramat. Jika Pangeran Cunihin sampai melewatina. Maka, seluruh kesaktianya akan hilang dalam sekejap.Karena kesaktian Pangeran Cunihin, ia dapat mengetahui bahwa Putri Arum berada di rumah Ki Pande. Pangeran Cunihin pun segera menemui Putri Arum untuk di jadikan sebagai istrinya.Akhirnya, yang di tunggu-tunggu telah tiba. Putri Cadasari atau Putri Arum mengajukan persyaratannya kepada Pangeran Cunihin. Dengan kesombongannya Pengeran menyanggupi persyaratan tersebut. Dengan kesaktiannya, belum tiga hari. Pangeran Cunihin dapat menyelesaikan batu keramat tersebut. Putrid Cadasari pun mulai gelisah. Pengeran Cunihin dengan sangat mudah menyelesaikannya. Akhirnya, Ki Pande menyuruh Putri Cadasari untuk mengajukan persyaratan kedua. Yaitu Pangeran Cunihin harus melewati lubang batu keramat tersebut. Sementara Ki Pande sudah meletakkan gelang sakti buatannya pada lubang batu tersebut.Dengan sangat angkuh, ia pun melakukan syarat ke dua yang diajukan Putri Cadasari. Dalam sekejap, setelah melewati lubang batu tersebut. Pangeran Cunihin kehilangan kesaktiannya dan berubah menjadi seorang lelaki tua. Dan ki Pande pun berubah menjadi wujud aslinya. Melihat kejadian tersebut membuat Putri Cadasari sangat kebingungan.Akhirnya, Ki Pande pun menjelaskan kejahatan Pangeran Cunihin dan ia berubah menjadi lelaki tua yang berkulit legam. Putri Cadasari sangat berterima kasih karena telah menyelamatkannya dari Pangeran Cunihin. Mereka pun akhirnya menikah dan hidup sangat bahagia.Tempat Pangeran Cunihin menemukan batu keramat itu kini bernama Kramatwatu. Dan batu keramat yang telah berlubang itu dinamakan Karang Bolong.Tempat mengambil batu keramat tersebut kemudian dikenal dengan Kampung Kramatwu, dan batu besar berlubang di pesisir pantai kini dikenal dengan nama Karang Bolong. Sedangkan Tempat sang Putri melaksanakan wangsit di Bukit Manggis, kini orang mengenalnya dengan kampung Pasir Manggu. Sementara tempat Putri disembuhkan dari sakitnya sampai kini bernama Cadasari di daerah Pandeglang, tempat Pangeran Pande Gelang membuat gelang.’
Dongeng Cerita Rakyat dari Bangka Belitung
Diceritakan, hiduplah seorang perempuan tua. Ia tinggal bersama anak tunggalnya, Dempu Awang, di sebuah dusun terpencil, di Mentok. Kehidupan mereka serba kekurangan. Hal inilah yang mendorong Dempu Awang untuk mencari pekerjaan di negeri orang.Dengan berbekal doa restu dari ibunya, Dempu Awang pun berangkat menuju kota pelabuhan. Sepuluh tahun telah berlalu, kini Dempu Awang telah menjadi orang kaya dan beristri cantik. Pada suatu hari, ia berniat menjenguk ibunya dengan membawa serta istrinya. Berangkatlah mereka berlayar dengan sebuah kapal besar yang megah dan indah, menuju Mentok.Singkat cerita, Dempu Awang dapat bertemu dengan ibunya. Namun, ketika melihat ibunya dengan pakaian compang-camping, tiba-tiba ia berubah pikiran dan bertanya dalam hatinya, benarkah itu ibunya. Dempu Awang tak juga menegurnya, maka berkatalah perempuan tua itu, “Dempu Awang, lupakah kau akan ibumu? Mendekatlah, ibu ingin lihat tanda di keningmu, goresan akibat kau terjatuh waktu kecil.”Sambil berkata demikian, ibunya berusaha menyentuh Dempu Awang yang tak bergerak sedikitpun. Dempu Awang dengan cepat menepis tangan gemetar ibunya. Lalu, Dempu Awang mendorong perempuan itu hingga terjatuh.Melihat hal itu, istrinya segera, bersujud di kaki suaminya dan memohon untuk mengakui wanita tua itu sebagai ibunya.Istrinya berkata, “Suamiku, janganlah kau turutkan nafsumu. Bukankah jauh jauh kita ke mari untuk menjenguknya? Aku mohon!” ratap istri Dempu Awang.“Ia bukan ibu kandungku. Ia telah mengaku-ngaku sebagai ibu kandungku, karena harta yang dia inginkan,” jawab Dempu Awang. Mendengar semua itu, hati ibu Dempu Awang sangat terluka. Ia pun berdiri dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa dengan suara yang terbata-bata, “Ya Tuhan, Engkau Maha Kuasa atas segalanya, ampuni hamba yang hina ini. Hukumlah anak yang telah melupakan ibunya sendiri.” Dalam jerit tangisnya, terucaplah kata-kata kutukan terhadap anaknya yang durhaka.Ketika ibunya masih berdoa, Dempu Awang segera bertolak dari pelabuhan. Tidak lama kemudian, tiba-tiba terjadi hujan badai, sehingga menghancurkan kapal mewah milik Dempu Awang. Keesokan harinya, penduduk setempat menemukan bongkahan batu yang sosoknya mirip manusia dan sebuah kapal. Itulah tubuh dan kapal Dempu Awang yang telah berubah wujud menjadi batu. Sementara itu, istrinya dipercaya telah berubah menjadi seekor kera putih.Pesan moral dari Dongeng Cerita Rakyat dari Bangka Belitung adalah Hendaknya kita selalu menghormati ibu dan menerimanya dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Sikap sombong, lupa diri dan malu mengakui ibu kandung sendiri akan membawa bencana.
Dongeng Dari Jawa Barat : Kisah Ki Rangga Gading
Pada Zaman dahulu, disaat kota Tasik masih berupa “dayeuh” (kota) Sukapura, hidpulah seorang bernama Ki Rangga Gading. Dia dikenal sebagai orang yang sangat sakti. Namun sayang kesaktiannya itu dipergunakan untuk merampok dan mencuri. Ki Rangga Gading tidak pernah tertangkap, karena ia bisa merubah tubuhnya menjadi binatang, pohon, batu, atau air.Pada suatu hari, Ki Rangga Gading mencuri kerbau sebanyak lima ekor. Pencurian itu sengaja dilakukannya pada siang hari untuk pamer kesaktian. Warga sekampung pun beramai-ramai memburunya. Karena ketinggian ilmu Ki Rangga Gading, ia mengubah kaki-kaki kerbau menjadi terbalik, sehingga jejak telapak kaki kerbau berlawanan arah. Warga yang mengikuti jejak itu tertipu. Mereka semakin menjauh dari kerbau-kerbau itu.Warga memutuskan mengejar ke pasar. Sebab Ki Rangga Gading pasti akan menjual kerbau itu ke pasar. Tetapi dasar Ki Rangga Gading, ia mengubah tanduk kerbau yang tadinya melengkung ke atas menjadi ke bawah. Kulit kerbaunya yang tadinya hitam diubah menjadi putih. Maka, selamatlah ia dari kejaran massa dan polisi negara yang akan menangkapnya.Tersiar kabar, di Karangmunggal terdapat tanah keramat. Tanah itu mengandung emas. Lahan itu dijaga oleh polisi negara dan para tua-tua kampung agar tidak diganggu. Mendengar kabar itu, Ki Rangga Gading jadi tergiur ingin memilikinya. Ia segera naik ke atas pohon kelapa. Setelah sampai di atas, dibacoknya pelepah kelapa yang diinjaknya. Dengan ilmunya, pelepah itu terbang melayang menuju Karangmunggal.Sampai di Karangmunggal, Ki Rangga Gading mengubah dirinya menjadi seekor kucing agar tidak diketahui oleh polisi negara dan tua-tua kampung. Tentu saja para penjaga tertipu. Kucing jelmaan Ki Rangga Gading itu tenang-tenang saja mengeruki tanah yang mengandung emas itu. Kemudian dimasukkan ke dalam karung yang dibawanya. Setelah karungnya terisi penuh, Ki Rangga Gading segera terbang menggunakan pelepah yang tadi ditungganginya menuju ke kampung tempat persembunyiannya.Sebelum tiba di kampungnya, ia turun ingin berjalan kaki. Di tempat yang sepi, ia istirahat sambil membuka hasil curiannya. Lalu ia mengambil segenggam dan ditaburkan supaya tempat itu menjadi keramat. Sampai saat ini tempat itu dikenal dengan nama Salawu, berasal dari kata sarawu (segenggam).Kemudian Ki Rangga Gading melanjutkan perjalanan. Saat merasa lelah, ia beristirahat. Karung yang berisi tanah emas digantungkan pada dahan pohon. Sampai sekarang tempat itu terkenal dengan nama Kampung Karanggantungan terletak di Kecamatan Salawu. Nama itu berasal dari kata tanah Karangmunggal digantungkan.Ki Rangga Gading melanjutkan perjalanan lagi. Setelah lama berjalan, ia mulai banyak berkeringat. Ia berhenti untuk mandi dulu di suatu mata air. Karung yang dibawanya digantungkan lagi. Tapi karung itu berayun-ayun terus (guntal-gantel) tak mau diam. Sampai sekarang kampung itu dikenal dengan nama Kampung Guntal Gantel.Ketika Ki Rangga Gading sedang asyik mandi, tiba-tiba di hadapannya telah berdiri seorang tua. Wajahnya bercahaya dan menggunakan sorban serta jubah putih, ia seorang ulama yang tinggi ilmunya. Sambil tersenyum orang tua itu berkata, “Sedang apa Rangga Gading, tiduran di atas tanah sambil telanjang, seperti anak kecil saja?”Dongeng Dari Jawa Barat Legenda Ki Rangga GadingKi Rangga Gading terkejut, Ia sangat malu dan mendadak badannya merasa lemas tak berdaya. Ia memelas, “Duh Eyang ampun, tolonglah saya Eyang, saya lemas, tidak tahan Eyang, saya tobat, saya ingin jadi murid Eyang.” Sejak saat itu Ki Rangga Gading menjadi santri di Pesantren Guntal Gantel.Pada suatu ketika, Pesantren Guntal-Gantel tertimbun tanah longsor akibat gempa bumi. Waktu itu, ulama dan santri-santrinya sedang tilem (tidur). Konon, mereka menjadi kodok. Sebab itu tempat tersebut sangat angker, dan dinamakan “Bangkongrarang” berasal dari kata tanah yang dibawa dari karang dan loba bangkong (banyak katak).Sampai saat ini “Bangkongrarang” dan “Guntal Gantel” masih ada, tetapi hanya berupa tumpukan pasir di tengah sawah yang luas. Barang siapa berani masuk dan menginjak lahan itu akan merasakan akibatnya. Bila ada burung terbang melintasi lahan itu, ia akan jatuh dan mati seketika. Bila bulan puasa tiba, di tengah malam saatnya sahur, sering terdengar sayup-sayup dari tempat itu bunyi beduk. Jangan heran sebab itu adalah suara beduk santri-santri dari Pesantren Guntal-Gantel yang tilem dan dipimpin oleh Ki Rangga Gading.Pesan moral dari Dongeng Dari Jawa Barat : Legenda Ki Rangga Gading adalah gunakan ilmu mu untuk hal yang bermanfaat, maka akan banyak orang yang menghargaimu dan membuatmu menjadi orang yang bahagia.
Bayangan di Lembah Kering
Alya berlari menembus semak berduri, napasnya terputus-putus, lututnya perih, dan udara panas gurun menghantam wajahnya seperti pecahan kaca. Suara tembakan terdengar lagi, memantul di antara tebing batu yang menjulang. Ia menoleh sekilas dan menemukan satu-satunya hal yang membuatnya tetap bergerak, Arga, tepat di belakangnya, wajah penuh debu, tapi matanya masih tajam mengawasi keadaan sekitar."Alya, kiri!" teriak Arga.Ia meloncat ke samping, dan peluru menghantam batu di depan tempat ia berdiri. Pecahan serpihan beterbangan. Tubuhnya goyah. Arga menangkap lengannya, menstabilkan langkahnya. Sentuhan itu cepat, hanya sepersekian detik, tapi cukup membuat jantung Alya berdebar lebih kencang dari ancaman kematian yang mengikuti.Mereka harus terus maju. Sudah tiga hari mereka terjebak di lembah kering ini, berusaha kabur dari kelompok pemburu bayaran yang sebelumnya menculik rombongan ekspedisi tempat mereka bekerja. Dari dua belas orang, hanya mereka berdua yang selamat. Selebihnya entah mati atau diangkut entah ke mana.Tiga orang lain yang kini bersama mereka hanyalah sisa-sisa kekuatan perjuangan, Reno, mantan tentara yang kini pincang setelah terkena ranjau buatan.Sera, mahasiswa magang yang mentalnya mulai retak setelah melihat kematian teman-temannya.Pak Darun, sopir tua yang lebih banyak berdoa daripada berbicara.Mereka bukan kelompok penyelamat yang ideal. Mereka hanyalah manusia-manusia yang belum sempat mati.Alya dan Arga kembali ke tempat persembunyian, celah sempit di antara bebatuan besar. Reno mengintip dari balik batu, wajahnya pucat."Mereka sudah makin dekat," katanya dengan suara pelan. "Aku bisa dengar suara ban mobil dari bawah lembah."Sera menutup telinganya. "Kenapa mereka terus kejar kita? Kita cuma peneliti. Kita bahkan ga ngerti apa yang mereka cari."Pak Darun menjawab lirih, "Karena mereka kira kalian tahu tempat penyimpanan artefak itu. Padahal kita bahkan belum lihat bentuknya."Alya duduk, menahan rasa sakit di kakinya. Debu kering menyatu dengan darah segar. Arga berlutut di depannya, memeriksa luka tanpa meminta izin. Tangan itu cekatan, tapi lembut. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, kini mereka tak menyembunyikan perhatian satu sama lain. Situasinya terlalu kacau untuk pura-pura dingin."Kamu harus berhenti nekat lari seperti itu," gumam Arga.Alya memutar bola mata. "Kamu yang lambat."Bibir Arga terangkat tipis. Sekilas, mereka terlihat seperti orang normal yang sedang bercanda ringan, bukan dua manusia yang dikejar kematian. Reno memperhatikan interaksi itu dengan tatapan half-annoyed seperti orang tua yang muak melihat dua remaja saling jatuh cinta di tengah krisis hidup dan mati.Menjelang malam, suhu turun tajam. Udara menggigit tulang. Mereka berlima berlindung dalam gelap, hanya diterangi cahaya rembulan yang jatuh samar ke lembah. Suara serangga malam bercampur dengan langkah-langkah samar musuh yang semakin mendekat.Alya memejamkan mata, mencoba menenangkan napas. Tapi pikiran tentang tiga hari terakhir terus menghantuinya, jeritan, darah, tubuh-tubuh yang tertinggal, dan rasa bersalah yang mencengkram.Arga duduk tak jauh darinya. Ia menyentuh bahunya, pelan, tidak memaksa. "Tidur sebentar. Aku jaga."Alya membuka mata. "Kalau aku tidur, kamu kapan istirahat?""Kalau kamu mati kecapekan, aku harus lari sendiri. Itu lebih melelahkan."Alya menatapnya, mencoba membaca apakah ini candaan atau kebenaran pahit. Arga hanya menatap balik dengan mata yang tak lelah, hanya tekad. "Kita keluar sama-sama," katanya pelan.Untuk pertama kalinya sejak kekacauan itu dimulai, Alya merasa dirinya masih manusia yang layak diselamatkan.Pagi berikutnya membawa ketegangan baru. Mereka mendengar suara mesin mobil mendekat. Lembah yang sempit memperkuat gema suara itu. Musuh makin dekat."Kita ga bisa diam di sini," kata Reno. "Mereka akan temukan kita.""Lari lagi?" Sera mulai panik. "Aku ga kuat.""Kita turun ke jurang itu," kata Arga sambil menunjuk celah sempit di dasar lembah. "Ada aliran air kecil di bawah. Kalau kita bisa ikuti itu, kita mungkin bisa keluar ke sisi timur.""Turunnya saja sudah bunuh diri," sahut Reno."Aku lebih pilih itu daripada ditembak di sini," timpal Arga.Mereka semua setuju. Pilihan buruk tetap lebih baik daripada tidak punya pilihan sama sekali.Turunan itu curam. Batuan licin. Alya hampir jatuh dua kali, tapi Arga selalu ada satu langkah di belakang, siap menangkapnya. Ketika mereka sampai di dasar, air sungai kecil menyambut, dingin dan jernih.Reno duduk terengah, wajah menahan sakit. Luka kakinya makin parah."Kita ga bisa bawa dia jauh," bisik Sera.Alya menatap Arga. Arga paham tanpa perlu dijelaskan. Ia mendekati Reno."Aku bisa jalan," kata Reno cepat, seolah membacanya. "Tapi kalau mereka sudah dekat, jangan pikirkan aku."Tidak ada yang menjawab.Mereka berjalan menyusuri sungai. Arus air kecil itu mengarah ke celah batu yang membentuk lorong sempit. Cahaya di ujungnya tampak seperti pintu keluar.Lalu terdengar teriakan dari belakang, "Mereka melihat kita!"Peluru memantul di dinding batu. Sera menjerit. Alya dan Arga menarik Reno, memaksanya berjalan lebih cepat. Pak Darun menangkupkan tangan, berdoa sambil berlari. Suara langkah musuh makin nyaring.Saat mereka hampir mencapai celah, Reno melepaskan pegangan."Sudah!" katanya. "Pergi. Sekarang!""Tidak," Alya menolak.Reno mendorong Arga. "Bawa dia. Kalau kalian berhenti, semua mati."Arga menarik Alya paksa. "Alya, jangan keras kepala."Reno berbalik, mengambil posisi bertahan di belakang batu, siap menghadapi musuh seorang diri. Tembakan pertama terdengar. Lalu kedua. Lalu hening.Alya ingin menoleh, tapi Arga menahan wajahnya agar tetap memandang ke depan. "Jangan lihat."Mereka masuk ke celah batu sempit dan merayap hingga akhirnya sinar matahari menyambut mereka di sisi timur lembah. Dari kejauhan terlihat jejak permukiman kecil."Kita selamat," gumam Pak Darun dengan suara gemetar.Alya jatuh terduduk, menangis diam-diam. Arga duduk di sampingnya, tidak menyentuhnya, hanya berada cukup dekat agar ia tahu bahwa ia tidak sendirian."Kita selamat," ulang Arga, kali ini lebih pelan. "Dan kita akan terus hidup."Untuk pertama kalinya dalam tiga hari, Alya percaya itu.