Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

830

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

166

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
Cerita Rakyat Dari Banten : Kisah Asal Muasal Gunung Pinang
Folklore
25 Nov 2025

Cerita Rakyat Dari Banten : Kisah Asal Muasal Gunung Pinang

Pada zaman dahulu kala, di sebuah pesisir pantai kota Banten. Hiduplah seorang janda dengan anak laki-lakinya. Anak laki-laki itu bernama Dampu Awang. Kehidupan mereka sangat miskin dan serba kekurangan.Namun, meskipun kehidupan mereka sangat miskin Dampu Awang memiliki cita-cita yang sangat tinggi. Ia ingin sekali menjadi seorang saudagar kaya raya. Tetapi, cita-cita tersebut sangat sulit untuk di raihnya. Jangankan untuk menjadi saudagar kaya raya. Pekerjaan yang tetap saja ia tidak punya.Suatu hari, ada sebuah kapal layar berlabuh milik seorang saudagar kaya yang bernama Teuku Abu Matsyah. Saudagar kaya itu akn berdagang di Banten. Melihat kapal saudagar kaya itu, timbul sebuah keinginan untuk bekerja di sana sebagai awak kapal. Ia segera kembali ke rumah dan mengutarakan keinginannya kepada sang ibu.‘’ Ibu, di pelabuhan ada kapal seorang saudagar yang sangat kaya sedang berdagang di sini. Aku ingin sekali bekerja di kapalnya. Jika aku beruntung, siapa tahu aku bisa menjadi saudagar kaya sepertinya. Bu, bolehkah aku ikut berlayar dengannya? Tanya Dampu Awang.Namun, ibunya langsung melarang.‘’ Tidak anakku! Kau tidak boleh ikut berlayar bersama sudagar kaya itu.’’ Jawab sang ibu tegas.‘’ Mengapa bu? Dengan cara aku bekerja di kapal tersebut. aku dapat membantu ibu untuk memenuhi kebuhuhan kita. Apalagi jika suatu saat nanti aku bisa menjadi saudagar kaya. Kehidupan kita akan berubah.’’ Kata Dampu Awang.‘’ Tidak Nak! Ibu sangat takut. Jika kau sudah menjadi kaya nanti. Kau pasti akan lupa dengan ibumu yang miskin ini.’’ Kata ibunya sedih.Namun, Dampu Awang terus saja merengek agar diijinkan untuk pergi berlayar. Akhirnya, dengan berat hati sang ibu pun mengalah. Sang ibu mengizinkan Dampu Awang untuk ikut berlayar bersama saudagar itu. Tetapi, sang ibu meminta Dampu Awang untuk berjanji agar ia selalu memberikan kabar. Sebelum berangkat, sang ibu menitipkan Burung kesayangan milik ayahnya.‘’ jagalah Burung itu baik-baik Nak, dan jangan lupa untuk memberikan kabar.’’ Kata ibuya.‘’ Baik bu, aku tidak akan melupakan pesan ibu.’’ Kata Dampu Awang.Sang ibu pun menangis dan memeluk anaknya dengan sangat erat. Dampu Awang pun langsung naik kapal dan siap untuk berlayar ke malaka.Selama di kapal, Dampu Awang dikenal sebagai pekerja yang sangat rajin. Ia selalu menjalankan perintah majikannya dengan baik. Saudagar Teuku Abu Matsyah sangat senang melihat semangat Dampu Awang. Jabatannya terus naik dan selalu memuaskan.Suatu hari, saudagar kaya itu memanggil Dampu Awang‘’ Ampun Tuanku! Ada keperluan apa tuan memanggil saya?’’ kata Dampu Awang.‘’ Begini Dampu Awang. Aku melihat pekerjaan mu ini sangat baik. Selama kau bekerja di sini, kau selalu menunjukkan rasa hormatmu. Aku sangat ingin menjodohkanmu dengan putriku. Siti Nurhasanah. Bagaimana? Apakah kau mau menikah dengannya?’’ ujar Teuku Abu Matsyah.Dampu Awang sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan majikannya tersebut. ia pun sangat senang.‘’ Tentu saja saya bersedia Tuan.’’ Jawab Dampu Awang.万丹的民俗Cerita Rakyat dari BantenAkhirnya, pernikahan pun dilaksanakan dengan sangat meriah. Setelah menjadi menantu saudagar kaya. Ia di percaya untuk menyimpan seluruh harta mertuanya tersebut. Setelah mereka menikah, Teuku Abu Matsyah jatuh sakit dan meninggal dunia. Dampu Awanglah yang menggatikan posisi ayah mertuanya tersebut.Setelah menjadi saudagar kaya. Ia melupakan ibunya. Ia tidak pernah lagi memberikan kabar dan terlena dengan kemewahan. Suatu hari, Dampu Awang dan istrinya berlayar ke wilayah pantai Banten. Tibalah mereka di daerah tempat tinggal Dampu Awang.Seluruh pernduduk sangat terpukau melihat kemewahan kapal Dampu Awang. Para penduduk beramai-ramai datang ke pelabuhan untuk melihat kapal layar yang sangat mewah tersebut. kabar tentang berlabuhnya kapal layar yang mewah itu terdengar oleh sang ibu Dampu Awang. Ia sangat yakin saudagar kaya itu adalah anak laki-lakinya. Ia pun langsung bergegas datang ke pelabuhan untuk bertemu dengan Dampu Awang.Setibanya di pelabuhan, ibu Dampu Awang melihat anaknya berdiri di pinggir kapal dan mengenakan pakaian yang sangat mewah. Selain itu, sang ibu pun melihat ada seorang wanita yang sangat cantik berdiri di sampingnya. Sang ibu sangat senang karena anaknya, sekarang sudah memiliki seorang istri. Ia langsung berlari ke arah kapal mendekati anaknya tersebut. Ia berlari dengan cepat dan berteriak memanggil nama anaknya.‘’ Dampu Awang anakku, kau sudah kembali Nak, ibu sangat merindukanmu.’’ Kata sang ibu menangis bahagia.Dampu Awang sangat terkejut melihat seorang perempuan tua yang pakaiannya compang-camping dan sangat dekil sekali. Ia sangat mengenal wajah perempuan yang memanggil-manggil namanya tersebut. Ia tahu bahwa perempuan itu adalah ibunya. Namun, ia sangat malu mengakui perempuan yang seperti pengemis itu ibunya.‘’ Kang, apakah perempuan tua itu adalah ibumu? Mengapa selama ini kau tidak pernah menceritakan jika masih mempunyai seorang ibu?” Tanya istrinya heran.‘’ Bukan sayang! Perempuan tua itu bukan ibuku. Ibuku sudah lama meninggal. Ia hanya seorang perempuan yang gila. Sudah abaikan saja perkataannya itu. Sungguh tidak penting!’’ kata Dampu Awang.Sang ibu terus-menerus memanggil namanya.‘’ Hei, perempuan tua! Diamlah! Kau bukan ibuku. Aku sudah tidak memiliki ibu. Ibuku sudah lama meninggal!’’ kata Dampu Awang sangat kesal.Sang ibu sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan anak laki-lakinya itu. Kini ketakutannya menjadi kenyataan. Hatinya bagaikan teriris-iris. Kini, anak kandungnya sendiri tidak mengakuinya sebagai ibunya. Air matanya pun membasahi pipinya. Tanpa sadar ia berdoa.‘’ Ya Tuhan, apakah aku salah? Jika dia bukan anakku Dampu Awang, biarkanlah dia pergi. Tetapi, jika dia anakku. Tolong berikanlah hukuman yang setimpal kepadanya!’’ doa sang ibu.Tidak lama kemudian, bumi seketika bergetar. Langit bergemuruh. Petir pun menyambar sangat dasyat. Langitpun berubah menjadi sangat gelap. Tiba-tiba, terjadilah badai. Kapal layar Dampu Awang yang sagat mewah itu terombang-ambing di lautan. Seluruh isinya porak-polanda. Dampu Awang dan istrinya sangat panik dan bingungTiba-tiba, Burung peliharaan Dampu Awang berbicara.‘’ Dampu Awang! Akuilah perempuan itu sebagai ibumu. Cepatlah akui dia!’’ kata sang Burung.‘’ Tidak, ibuku sudah lama mati.’’ Teriak Dampu Awang.Seketika, kapal layar Dampu Awang tiba-tiba terangkat ke udara dan terlempar ke sebelah selatan dan seluruh isinya. Kapal itu tertelungkup dan membentuk sebuah gunung. Dampu Awang dan istrinya tidak dapat menyelamatkan diri. Setelah itu lautan kembali seperti semula dan seolah tidak terjadi apa-apa.Gunung tersebut di kenal dengan nama Gunung Pinang. Dan hingga kini, gunung tersebut masih ada dan letaknya di antara kota Serang dan Cilegon.

Ringkasan Cerita Rakyat Nusantara : Masjid Sumpah Terate Udik
Folklore
25 Nov 2025

Ringkasan Cerita Rakyat Nusantara : Masjid Sumpah Terate Udik

Syandan di sebuah desa, ada sebuah mushola yang menjadi pusat kehidupan sosial. Selain menjadi tempat ibadah, mushola tersebut sering dipakai untuk bermusyawarah dan menyelesaikan masalah-masalah yang menyangkut kehidupan sehari-hari. Pengurus mushola ini bernama ustad Wahid.Pada suatu hari, terjadi perselisihan antara Pak Tio dan Pak Sidik tentang tanah. Ustad Wahid akhirnya memutuskan bahwa perkara ini akan diselesaikan di mushola. Masing-masing pihak diminta menyiapkan seorang saksi yang akan disumpah dengan memakai sehelai selendang di hadapan kitab suci al-Qur’an.“Demi Allah, tanah itu milik Pak Sidik. Saya melihat Ki Ahmad memberikan wasiatnya kepada Pak Sidik!” ucap Rahmat, saksi dari pihak Pak Sidik.“Benarkah?” tanya ustad Wahid.“Semua itu dusta, Ustad. Kami, saksi Pak Tio, membawa surat wasiat Ki Ahmad. Seseorang menemukannya di bawah kasur Ki Ahmad!” jelas Randik sembari menunjukkan surat wasiat tersebut.Akhirnya, ustad Wahid dan pengurus mesjid memenangkan Pak Tio. Pada malam harinya terdengar berita bahwa Randik jatuh sakit dan beberapa hari kemudian ia meninggal dunia. Pak Tio merasa bersalah, karena ia menyuruh Randik bersumpah palsu di mushola. Selain itu, ia juga mengaku bahwa dirinya pula yang membuat surat wasiat palsu.“Aneh, rumah Pak Tio tiba-tiba terbakar. Pak Tio tidak dapat diselamatkan. Akhirnya, sisa-sisa kekayaan Ki Ahmaddiwakafkan ke mushola. Semenjak peristiwa itu, tak pernah lagi terdengar perselisihan perkara tanah. Namun beberapa waktu kemudian dikabarkan bahwa seseorang mencuri barang-barang berharga di rumah Fatimah. Ustad Wahid berjanji akan mencari pencurinya.Keesokan harinya, ustad Wahid diundang Pak Fikar ke rumahnya, Ustad Wahid dan warga disuguhi makanan dan minuman yang lezat. Aneh, Pak Umar, hanya diam saja. Setelah acara selesai, ustad Wahid bertanya kepada Pak Umar,“Ada masalah apa, Pak Umar, dari tadi diam saja?” tanya ustad Wahid.“Begini, ustad, saya melihat emas kepunyaan istri saya dipakai oleh istri Pak Fikar. Ia juga mengenakan cincin batu peninggalan bapak saya,” jelas Pak Umar.“Jangan berprasangka buruk dulu, mungkin bentuknya sama!” ustad Wahid mengelak.Pak Umar dan beberapa temannya mendatangi rumah Pak Fikar. Mereka bercakap-cakap dengan Pak Fikar, sedangkan Pak Umar mengintip dari balik dinding tembikar.“Pak Fikar, cincin Anda sungguh indah. Dapat dari mana?”“Cincin ini pemberian kakak saya,” jawab Pak Fikar. Setelah mendapatkan keterangan, mereka kembali ke rumah masing-masing. Untuk menyelesaikan masalah itu, ustad Wahid meminta Pak Fikar bersumpah di mushola.“Saya bersumpah, demi Allah, tidak pernah mencuri di rumah Pak Umar!” sumpah Pak Fikar. Beberapa hari setelahnya, Pak Fikar sakit. Akhirnya, Pak Fikar pun meninggal dunia. Oleh karena itu, setiap ada permasalahan, warga.Ringkasan Cerita Rakyat Nusantara dari BantenRingkasan Cerita Rakyat Nusantara dari Bantenmenyelesaikannya di mushola tersebut. Sejak saat itu, warga desa menganggap bahwa mushola itu adalah tempat yang harus dijaga dan dilestarikan.Akhirnya, mushola itu diperbesar dan berubah menjadi masjid dengan nama Masjid Terate Udik, sesuai dengan nama kampungnya. Masjid Terate Udik dipercaya dapat memberi bukti tentang perbuatan salah dan benar seseorang. Tetapi, hanya orang-orang tertentu saja yang berani bersumpah di dalamnya.

Dongeng Legenda Rakyat : Asal Muasal Telaga Warna
Folklore
25 Nov 2025

Dongeng Legenda Rakyat : Asal Muasal Telaga Warna

Suatu hari, seorang permaisuri mengandung dan melahirkan seorang bayi perempuan. Seiring waktu, sang Putri tumbuh menjadi seorang gadis cantik, Ia sangat dimanja dan semua keinginannya dituruti.Sebentar lagi, sang Putri akan berusia tujuh belas tahun. Seluruh rakyat kerajaan pun berlomba mengumpulkan hadiah. Hadiah itu dikumpulkan jadi satu dan diberikan kepada sang Raja. Hadiah yang berupa emas dan permata diolah menjadi kalung indah.Tepat pada hari ulang tahun sang Putri, sang Raja menyerahkan kalung tersebut. Namun diluar dugaan, sang Putri tidak menyukai kalung tersebut. Sang Putri hanya melirik kalung itu sekilas. Melihat hal tersebut, sang Raja membujuk sang Putri agar mau mengenakan kalung tersebut.Dongeng Telaga Warna Dari BantenDongeng Telaga Warna Dari Banten“Tidak mau,” jawab sang Putri.Mendengar jawaban tersebut, sang Permaisuri mengambil kalung tersebut lalu memakaikan di leher sang Putri. Namun sebelum terpasang, sang Putri menepis tangan sang Permaisuri hingga kalung itu jatuh. Kalung itu putus dan permatanya berserakan. Sang Putri segera bergegas masuk ke kamarnya.Melihat hal tersebut, sang Raja, sang Permasuri, beserta tamu yang lain sangat sedih. Mereka menangis. Kabar kejadian itu tersebar hingga luar, sampai seluruh rakyat mengetahui. Mereka pun mulai menangis. Mereka tak pernah mengira sang Putri akan bertindak seperti itu.Tiba-tiba, di tempat kalung jatuh muncul mata air. Mata air itu makin membesar, hingga seluruh kerajaan tergenang. Hingga akhirnya, terbentuklah sebuah danau yang luas. Hingga sekarang, penduduk menamai danau tersebut Telaga Warna.

Cerita Rakyat Bangka Belitung : Jembatan Emas untuk Putri
Folklore
25 Nov 2025

Cerita Rakyat Bangka Belitung : Jembatan Emas untuk Putri

Bujang Katak, begitulah ia biasa dipanggil, karena ia memang menyerupai katak. Kulitnya licin dan berwarna kehijauan, Iehernya pun pendek seperti katak. Bujang Katak adalah anak tunggal wanita tua yang miskin. Dulu, wanita itu rajin berdoa agar Tuhan mengaruniakan seorang anak padanya. Tanpa sengaja, ia berkata bahwa meskipun anak yang diberikan menyerupai katak, ia akan tetap mencintainya. Rupanya Tuhan mengabulkan doanya, dan lahirlah si Bujang Katak.Bujang Katak rajin membantu ibunya di ladang. Para penduduk desa pun menyukai Bujang Katak karena sikapnya yang ramah dan suka membantu. Akhir-akhir ini, Bujang Katak tampak murung. Ia sering duduk melamun. Ibunya yang heran melihat perubahan sikapnya pun bertanya, “Apa yang kau pikirkan, Nak? Seharian kau hanya duduk melamun.”Bujang Katak menghela napas, “Aku sekarang sudah dewasa Bu, sudah saatnya aku menikah.”Ibunya tersenyum, “Ah, rupanya kau sedang jatuh cinta. Katakan pada Ibu siapa wanita itu dan Ibu akan segera melamarnya.”“Putri Raja, Bu. Aku dengar Raja memiliki tujuh putri yang cantik-cantik. Maukah Ibu melamar salah satu dari mereka untukku?”Ibunya sangat terkejut, “Mana mungkin seorang putri raja sudi menikah dengan anakku,” pikirnya dalam hati. Namun karena sangat menyayangi anaknya, ibu itu pun mengiyakan.Esok harinya, si Ibu berangkat ke istana. Tak lupa ia membawa sedikit buah tangan untuk Raja. Sesampainya di istana, Raja segera menanyakan maksud kedatangannya.“Ampun Baginda. Maafkan hamba jika lancang. Maksud kedatangan hamba adalah untuk melamar salah satu putri Baginda untuk putra hamba,” kata Ibu dengan sedikit cemas.Raja mengernyit. Dipandangnya ibu itu dari atas sampai ke bawah.“Wanita miskin ini rupanya salah tujuan. Mana mau putri-putriku bersuamikan orang miskin?” pikirnya dalam hati. Meski berpikir demikian, karena sang Raja merupakan Raja yang bijaksana, Raja tak mau mengecilkan hati ibu Bujang Katak. Beliau lalu memanggil ketujuh putrinya untuk menemui ibu tersebut.“Putri-putriku, apakah ada dari kalian yang bersedia menikah dengan putra wanita tua ini?” tanya Raja. Serempak putri-putri itu tertawa mengejek. “Hai wanita tua, anakmu mimpi di siang bolong, ya?”Mereka lalu masuk kembali ke istana dan tak menghiraukan ibu Bujang Katak. Hanya putri bungsu raja yang tetap tinggal. Ia menghampiri ibu Bujang Katak dan berkata, “Pulanglah. Katakan pada putramu untuk datang sendiri melamarku.”“Bungsu, apakah kau benar-benar ingin menikah dengan Bujang Katak? Ia hanya pemuda miskin dan rupanya seperti katak,” kata Raja panik. Lebih dari itu Putri bungsu merupakan putri yang paling cantik dan putri yang paling baik hati diantara ketujuh putrinya. Sang Rajapun sebenarnya paling sayang dengan Putri Bungsu karena selain cerdas, putri bungsu juga anak yang bijaksana.“Jika Ayahanda mengizinkan, aku bersedia menikah dengan Bujang Katak. Aku mendengar bahwa Bujang Katak adalah pria yang baik. Bukankah aku harus mencari suami yang baik?” jawab Putri Bungsu. Raja tak bisa menjawab. Ibu Bujang Katak pun segera pulang untuk memberitahu kabar gembira ini pada Bujang Katak.Keesokan harinya, Bujang Katak pergi ke istana. “Hai Bujang Katak, kau boleh memperistri putri bungsuku, tapi ada syaratnya,” kata Raja saat Bujang Katak menghadap. Sang Raja sengaja akan memberi suatu syarat yang sangat sulit sehingga tidak mungkin dapat terwujud. Hal ini sebenarnya untuk menolak lamaran Bujang Katak secara halus.“Apa pun syaratnya, hamba akan berusaha memenuhinya,” jawab Bujang Katak mantap.“Aku ingin kau membangun jembatan emas di atas sungai yang menghubungkan istana ini dengan desamu. Suatu saat jika aku ingin mengunjungi putriku di desamu, aku tak perlu menyeberang sungai dengan perahu. Cukup dengan melewati jembatan emas itu. Apakah kau mampu memenuhinya?” tanya Raja.“Siap Baginda. Hamba akan segera membangun jembatan itu,” kata Bujang Katak dengan nada yakin dan mantap.“Ingat Bujang Katak! Jembatan itu harus siap dalam waktu satu minggu, Kalau tidak, jangan harap kau bisa menikahi putriku!” kata Raja menambahkan syarat yand diajukan pada Bujang Katak.Bujang Katak kembali ke rumahnya. Ia menceritakan permintaan Raja kepada ibunga. “Tapi anakku… kita ini hanya orang miskin. Mana mampu kita membeli emas untuk membangun jembatan itu?” Ucap Ibu Bujang Katak memelas.“Bu, dengan pertolongan Tuhan, apa pun bisa kita lakukan. Aku akan memohon pada Tuhan untuk memberi jalan kepadaku,” sahut Bujang Katak mantap. Malam itu, Bujang Katak terus berdoa dan berdoa. Ia yakin Tuhan akan menolongnya.Pagi-pagi, seperti biasa Bujang Katak bangun dan bersiap pergi ke ladang. Ketika ia mandi, keajaiban pun terjadi. Kulitnya yang tebal dan licin terkelupas. Tiap kali ia mengguyurkan air ke tubuhnya, kulitnya rontok. Perlahan-lahan, seluruh kulit tubuhnya terkelupas. Bujang Katak heran. Ia menatap onggokan kulitnya yang terkelupas. Ia segera masuk rumah untuk bercermin. Alangkah kagetnya ia, di hadapannya tampak sosok pemuda tampan dengan kulit kecokelatan! Bukan lagi pemuda yang menyerupai katak. Tak percaya, Bujang Katak terus meraba wajahnya. “Ibu… Ibu… cepat kemari… lihatlah diriku, Bu!” teriak Bujang Katak. Ibunya tergopoh-gopoh menghampiringa. “Ya Tuhan, sungguh besar cintaMu pada anakku ini,” seru Ibu sambil memeluk Bujang Katak.Bujang Katak kembali ke sumur untuk meneruskan mandinya. Sekali lagi, keajaiban terjadi. Onggokan kulit yang tebal itu telah berubah menjadi emas! Bujang Katak berteriak-teriak kegirangan, “Terima kasih Tuhan, terima kasih… Kau sudah memberikan jalan keluar untukku.”Bujang Katak menunjukkan emas itu pada ibunya. “Bu, sekarang aku sudah bisa membangun jembatan emas. Doakan aku, agar bisa menyeIesaikannya tepat waktu. Bujang Katak mulai bekerja, siang dan malam tiada henti.Hari yang ditentukan telah tiba. Bujang Katak dan ibunya menghadap Raja. Saat itu, Raja dan para putrinya sedang berkumpul. Mereka semua heran melihat sosok pemuda yang datang menghadap Raja.“Hai wanita tua, mana putramu yang seperti katak itu? Siapa pemuda ini?” tanya Sang Raja kebingungan.“Ampun Baginda, pemuda ini adalah Bujang Katak. Tuhan telah mengubah wujudnya menjadi pemuda yang tampan,” jawab ibu Bujang Katak. Mareka saling berpandangan. Putri Bungsu pun tersenyum bahagia.“Hei anak muda, meskipun kau sudah menjadi pemuda yang tampan, kau tetap harus memenuhi syaratku. Apakah jembatan emas itu sudah jadi?” tanya Sang Raja.“Tentu saja Baginda. Mari hamba antar Baginda untuk melihatnya,” jawab Bujang Katak.Pada pagi hari, jembatan emas itu sungguh indah. Warna keemasan memantul dari setiap bagian jembatan. Raja senang melihat tekad dan usaha Bujang Katak untuk menikahi putri bungsunga. “Rupanya pilihan Putri Bungsu memang tepat. Pemuda ini mau bekerja keras demi mencapai cita-citanya,” pikir Raja. “Baiklah Bujang Katak. Mari kita kembali ke istana dan membicarakan pesta pernikahanmu dengan Putri Bungsu,” ajak Raja. Bujang Katak pun mengangguk setuju. Ia mengulurkan tangannya pada Putri Bungsu. Dengan malu-malu, Putri Bungsu mengambut uluran tangan calon suaminya.

Cerita Rakyat dari Bangka Belitung : Si Penyumpit dan Babi Hutan
Folklore
25 Nov 2025

Cerita Rakyat dari Bangka Belitung : Si Penyumpit dan Babi Hutan

Si Penyumpit adalah seorang pemuda yang pandai menyumpit hewan buruan. Selain kemampuannya dalam menyumpit, dia juga pandai meramu obat-obatan. Penduduk desa sangat menyukai si Penyumpit. Hanya satu orang yang tidak suka padanya, yaitu Pak Raje, Kepala Desa yang kikir. Almarhum ayah si Penyumpit pernah berutang pada Pak Raje dan ia selalu menuntut si Penyumpit untuk melunasi utang ayahnya.Suatu hari, Pak Raje menemui Si Penyumpit. “Hai Penyumpit, untuk melunasi utang ayahmu, kau harus menjaga sawahku dari serbuan babi hutan. Sumpitlah mereka supaya tidak kembali lagi. Tapi ingat, jika kau lengah dan babi hutan itu merusak padiku lagi, kau harus membayar ganti rugi padaku,” kata Pak Raje. Tak bisa menolak, Penyumpitpun menyetujuinya.Malam itu, ia memulai tugasnya dengan waspada.”Aha, itu mereka,” bisiknya dalam hati, matanya memandang tajam ke arah sawah milik Pak Raje. Segerombolan babi hutan menuju ke sawah Pak Raje. Si Penyumpit mengeluarkan alat sumpitnya, dan huuppp… melayanglah anak sumpitnya ke gerombolan babi hutan itu. “Ngoiikkk…” seekor babi hutan terkena sumpitannya. “Ngoikkk…ngoik… ngoik…” babi hutan itu berteriak-teriak seolah memberi peringatan pada teman-temannya. Mereka semua Iari menyelamatkan diri.Si Penyumpit keluar dari persembunyiannya. Ia hendak melihat babi hutan yang disumpitnya, tapi babi hutan itu sudah pergi. “Aneh, seharusnya ia mati terkena sumpitanku.” Penasaran, si Penyumpit mengikuti jejak darah yang tercecer di tanah. Jejak itu berhenti di sebuah rumah kecil di hutan. Dari jendela, terlihat beberapa wanita cantik. “Di mana babi hutan itu?” bisiknya. Salah satu dari wanita cantik itu terluka perutnya. Si Penyumpit pun mempertajam penglihatannya. “Hei, bukankah itu mata sumpitku?” Ia heran, tadi ia menyumpit babi hutan, tapi mengapa wanita itu terluka? Tak mau berlama-lama, si Penyumpit mengetuk pintu.“Siapa kau mengapa datang tengah malam begini?” tanya wanita yang membuka pintu.“Namaku si Penyumpit. Tadi aku menyumpit seekor babi hutan. Tapi aneh, babi hutan itu hilang. Setelah aku ikuti jejak darahnya, ternyata berhenti di rumah ini.”“Oh, jadi kau yang menyumpit adik kami? Lihat, sekarang ia kesakitan. Kami tak tahu bagaimana caranya melepas mata sumpit itu,” kata wanita itu marah. Si Penyumpit bingung. “Apakah kalian ini gerombolan babi hutan tadi?” tanyanya.“Ya, kami memang siluman babi hutan. Kami menjadi babi hutan untuk mencari makan di malam hari,” jawab wanita itu.Sekarang barulah si Penyumpit mengerti. “Oh, maafkan aku. Aku tak sengaja melukai adikmu. Tapi jangan khawatir, aku akan melepaskan anak sumpit itu dan mengobati lukanya,” katanya. Wanita itu setuju.Si Penyumpit meminta beberapa helai daun keremunting yang ditumbuk. Ia akan membalutkannya ke luka tersebut. Berhasil… anak sumpit itu berhasil ditarik. Luka di perut itu kemudian dibalut dengan tumbukan daun keremunting. Darah pun berhenti bercucuran.Wanita itu lega. Ia berterima kasih pada si Penyumpit. “Meskipun kau telah menyumpit adikku, aku tetap berterima kasih padamu. Sebagai hadiah, terimalah ini,” kata wanita itu sambil mengeluarkan empat bungkusan kecil.Si Penyumpit menolak, “Sudah seharusnya aku mengobati adikmu. Tak perlu memberiku hadiah.”“Terimalah. Bungkusan ini berisi kunyit, buah nyatoh, daun simpur, dan buah jering. Anggaplah ini sebagai tanda persahabatan dari kami,” kata wanita itu memaksa. Akhirnya, si Penyumpit mengalah. Ia menerima keempat bungkusan itu.Hari sudah menjelang pagi ketika si Penyumpit sampai di rumah. Dengan hati-hati, ia membuka bungkusan tadi. Terngata isinya perhiasan emas, intan, dan berlian! Si Penyumpit gembira sekali, “Terima kasih babi hutan. Dengan begini aku mampu melunasi utang ayahku pada Pak Raje.” Gumamnya dalam hati.Si Penyumpit menjual semua perhiasan itu dan menemui Pak Raje. “Darimana kau dapat uang sebanyak ini? Jangan-jangan kau merampok?” tanya Pak Raje curiga.Si Penyumpit lalu menceritakan pengalamannya pada Pak Raje. “Jadi, sekarang utang ayahku sudah lunas, ya Pak,” kata si Penyumpit. Pak Raje hanya mengangguk. Dalam hati, ia punya rencana. Ia akan meniru pengalaman si Penyumpit. “He… he… siapa tahu babi hutan itu juga memberiku perhiasan,” tawanya dalam hati.Malam harinya, Pak Raje sudah siap dengan alat sumpitnya. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya babi-babi hutan itu datang. Persis seperti pengalaman si Penyumpit sebelumnya, ia menyumpit babi-babi hutan itu. Pak Raje juga mengikuti jejak ceceran darah babi hutan yang terluka. Ia pura-pura hendak menolong wanita siluman babi hutan itu.Pak Raje tak tahu, seharusnya ia mempersiapkan ramuan obat untuk mencegah darah bercucuran dari luka. Ketika Pak Raje mencabut anak sumpitnya, wanita itu berteriak kesakitan. Darah segar mengucur deras dari lukanya. Darah itu tak mau berhenti, sehingga mereka semua panik. Wanita-wanita itu marah. Mereka berubah menjadi babi hutan dan menyerang Pak Raje.Pak Raje kembali ke rumahnya dengan tubuh penuh luka. Putrinya sangat terkejut melihat keadaan agahnya. Ia lalu segera menemui si Penyumpit untuk meminta tolong.“Apa yang terjadi? Mengapa ayahniu terluka parah.” tanya si Penyumpit.“Aku tak tahu. Semalam Ayah bilang la mau menjaga sawah untuk menangkal babi hutan. Mungkin Ayah diserang babi hutan?” jawab putri Pak Raje, Mendengar hal itu, mengertilah si Penyumpit apa yang sebenarnya telah terjadi pada Pak Roje. Sebenarnya ia hendak menertawakan kebodohan Pak Raje, noman dia tidak tega melihat putri Pak Raje yang terus menangis.Si Penyumpit kemudian meramu obat dan mengoleskannya ke seluruh tubuh Pak Raje. Perlahan, Pak Raje mulai menggerakkan tangannya dan membuka matanya. Melihat si Penyumpit yang sedang mengobati dirinya, dia menjadi malu. “Ayah, syukurlah Ayah sudah sadar,” kata putrinya.Perlahan, Pak Raje bangun dan duduk di pembaringannya.“Maafkan aku atas sikapku selama ini. Kau memang pemuda yang baik, sedikit pun kau tidak mendendam padaku,” katanya. “Untuk membalas budi, aku akan menikahkanmu dengan putriku. Apakah engkau bersedia?” tanya Pak Roje lagi.Putri Pa k Roje tersipu malu. Si Penyumpit memandanginya. Memang sebenarnya sudah lama Si Penyumpit menyukai putri Pak Raje yang cantik dan baik hati. Tapi ia tak pernah berani mengatakannya. “Tentu aku mau Pak Raje,” jawab Si Penyumpit gembira.“Jika begitu, aya kita sebarkan berita baik ini pada penduduk desa,” kata Pak Raje dengan bersemangat.Pesta pemikahan antara si Penyumpit dan putri Pak Raje dilaksanakan dengan merioh. Semua penduduk desa diundang. Karena sudah berusia lanjut. Pak Raje meminta si Penyumpit untuk menggantikannya sebagai kepala desa. Dan si Penyumpit berhasil memimpin desa itu dengan arif dan bijaksana sehingga masyarakat hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan

Legenda Sepasang Batu di Tepi Danau Laut Tawar
Folklore
25 Nov 2025

Legenda Sepasang Batu di Tepi Danau Laut Tawar

Pada jaman dahulu kala di negeri Aceh, hiduplah seorang gadis berwajah cantik. Si gadis amat menyayangi dan mencintai keluarganya. Begirupun dengan keluarganya, sangay menyayangi dan mencintai si gadis.Kecantikan gadis tersebut terdengar sampai ke negeri seberang lautan. Seorang pemuda tampan yang berasal dari keluarga terhormat datang ke desa dimana sigadis tinggal. Si pemuda mengajukan pinangannya untuk memperistri si gadis. Si gadis tidak semerta-merta menerima pinangan itu, ia harus berembuk dahulu dengan keluarganya.“Tampaknya, ia pemuda yang baik dan bertanggung jawab.Sikapnya santun dan bersahaja. Pantas kiranya ia menjadi suamimu.” Kata ayah si Gadis.Si Gadis akhirnya menerima pinangan si pemuda setelah keluarganya memberi restu padanya.Pesta pernikahanpun lantas dilangsungkan. Amat meriah pesta itu. Segenap keluarga, kerabat, dan tetangga datang dengan wajah suka cita untuk menjadi saksi pernikahan si Gadis. Setelah beberapa hari tinggal di desa tempat si Gadis berada, si pemuda pun mengajak si Gadis yang telah menjadi istrinya itu untuk kembali ke kampung halamannya di seberang lautan.Meski telah menjadi istri si pemuda, hati si Gadis sesungguhnya amat berat meninggalkan keluarga dan juga desa tempat tinggaknya itu. Namun dia harus mengikuti ajakan suaminya sebagai tanda kesetiaan dan baktinya pada suaminya.Sebelum berangkat ayah si Gadis berpesan,” Wahai anakku, tinggallah engkau baik-baik di negeri suamimu. Ingatlah pesanku, selama engkau dalam perjalanan, jangan sekali-kali engkau menoleh kebelakang! Jangan sekali-kali! Jika engkau melakukannya, niscaya engkau akan menjadi batu!”“Baiklan ayah,” Ujar si Gadis menyanggupi.Si gadis dan suaminya pun pergi meninggalkan desa itu untuk memulai perjalanan jauh menuju negeri seberang lautan. Dari desa tempat tinggalnya, si Gadis harus menembus kepekatan hutan belantara, mendaki bukit dan menyebrangi danaulaut tawar. Selama dalam perjalanannya si Gadis tetap teguh memegang pesabn ayahhandanya. Sama sekali dia tidak berani menoleh wajahnya kearah belakang. Hingga tibalah keduannya di danau laut tawar. Dengan menaiki sebuah sampan, Si gadis dan suamninya menyebrangi danau di laut tawar.Beberapa saat sampan itu mengarungi danau Laut Tawar, Si Gadis didera penasaran yang sangat. Ia mendengar sayup-sayup suara Ibunda tercintanya. Suara ibunda tercinta yang memanggil-manggil namanya. Batin dan perasaan sigadis terpecah, antara tetap menjaga pesan ayahnya untuk tidak menoleh dan menoleh untuk memenuhi panggilan ibundanya. Beberapa saat kejadian itu terus berlangsung, sehingga akhirnya si Gadis lebih memilih menoleh untuk memenuhi panggilan dari Ibunya.Petakapun terjadi. Sesaat setelah si Gadis menolehkan wajahnya kebelakang, seketika itupula tubuh si gadis berubah menjadi batu.Tidak terkira kesedihan suami si gadis ketika mendapati tubuh istrinya telah berubah menjadi batu. Karena rasa cinta dan sayangnya, suami si gadis berkehendak dapat bersama-sama dengan istrinya. Ia lantas memohon agar dirinya juga dapat berubah menjadi batu. Permohonanpun dikabulkan. Selesai memohon, tubuh si pemuda yang berasal dari negeri seberang itupun berubah pula menjadi batu.Sepasang batu itu tetap berada di pinggir danau air tawar. Keduanya berdekatan sama seperti kuatnya cinta kasih mereka sebagai suami istri.

Cerita Rakyat Melayu : Kisah Si Alamsyah
Folklore
25 Nov 2025

Cerita Rakyat Melayu : Kisah Si Alamsyah

Tersebutlah sebuah kerajaan di tanah Alas , pada zaman dahulu. Sang Raja memerintah dengan sifat adil dan bijaksana. Rakyat pun hidup dalam kedamaian , keamanan,serta kesejahteraan. Dang raja mempunyai seorang penasihat. Tande Wakil. Namanya . Apapun juga yang disebutkan Tande Wakil Sang Raja akan menurutinya.Dalam kehidupannya, Sang Raja belum juga dikaruniai seorang anak pun meski telah lama berumah tangga. Kenyataan itu membuatnya kerap bersedih hati. Begitu pula dengan Sang Permaisuri. Keduanya tak putus putus nya berdoa dan memohon agar dikaruniai anak. Hingga suatu hari Sang raja bermimpi. Dalam impiannya itu seorang kakek datang kepadanya dan memberitahunya, hendaklah Sang Permaisuri meminum ramuan yang dibuat oleh seorang tabib yang tinggal di sebuah hutan di ujung wilayah kerajaan.Keesokan paginya Sang Raja lantas memerintahkan para prajurit untuk mencari keberadaan si tabib dan mengajak nya untuk datang ke istana kerajaan. Tak berapa lama kemudian tabib yang dimaksud telah datang ke istana kerajaan. Si tabib segera membuatkan ramuan setelah Sang Raja memintanya. Benar pesan si kakek dalam impian Sang Raja , tak berapa lama setelag meminum ramuan buatan si tabib, Permaisuri pun mengandung. Sembilan bulan kemudian Permaisuri melahirkan seorang bayi laki- laki . Sang Raja member nama Alamsyah untuk anak lelakinya itu.Begitu gembiranya hati Sang Raja dan Permaisuri setelah dikaruniai seorang anak. Namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama . Belum juga genap sebulan usia Alamsyah , Tande Wakil menghadap Sang Raja dan menjelaskan perihal impiannya. Kata Tande Wakil,’’Hamba bermimpi, bahwa kelahiran putra Paduka itu adalah petaka sekaligus bencana besar bagi segenap rakyat! Putra Paduka itu hendaklah dibuang ke hutan agar bencana itu tidak mewujud dalam kenyataan.’’‘’Apakah tidak ada cara lain selain membuang putraku itu ke hutan agar bencana itu tidak mewujud? ‘’tanya Sang Raja.‘’Ampun yang mulia,’’ kata tande wakil .‘’Menurut impian hamba , satu- satunya cara untuk mencegah datangnya bencana dan petaka yang akan melanda negeri kita ini hanyalah dengan membuang putra paduka ke hutan.’’Sang raja pun menurut. Betapa pun ia sangat mencintai anak lelakinya itu, namun jika kehadirannya akan membawa petaka dan bencana bagi segenap rakyat yang dipimpinnya, ia pun berketetapan hati untuk membuang Alamsyah ke hutanh.Alamsyah yang masih bayi itu lantas dibuang ke hutan . Seekor kera sakti merawat Alamsyah. Dalam asuhan si kera sakti , Alamsyah pun tumbuh besar. Beberapa tahun kemudian Alamsyah telah berubah menjadi seorang pemuda. Wajahnya sangat tampan.Tubuhnya kuat dan kekar. Si kera sakti mengajarinya sopan santun dan tata krama hingga Alamsyah tumbuh menjadi pemuda yang baik hati dan mengenal sopan santun.Pada suatu hari Alamsyah keluar hutan. Di pinggir hutan ia berjumpa dengan seorang kakek. Setelah saling bertegur sapa, sang kakek akhirnya mengetahui siapa sesungguhnya Alamsyah. Si kakek lantas mengajak Alamsyah untuk kembali ke istana kerajaan.‘’Ayahanda Paduka telah wafat,’’kata si kakek dalam perjalanannya menuju kerajaan.’’ Kini yang memerintah kerajaan adalah Paman Paduka. Sangat jauh pemerintahannya dibandingkan Ayahanda Paduka. Paman Paduka itu memerintah dengannn sangat kejam dan sewenang –wenang. Sangat mudah dia menjatuhi hukuman, bahkan terhadap orang yang sesungguhnya tidak bersalah. Beberapa dijatuhi hukuman mati karena berani menentang kehendak Raja. Rakyat hidup dalam kecemasan dan ketakutan. Raja sama sekali tidak memperhatikan kesejahteraan rakyat dan kejahatanpun tumbuh subur layaknya jamur di musim penghujan.Alamsyah sangat sedih mendengar cerita si kakek.” Lantas bagaimana nasib ibu?” Tanyanya.“Ibu paduka masih hidup dan tinggal di sebuah gubug di luar istana. Setiap hari ibu paduka dipaksa untuk bekerja keras layaknya seorang pembantu. Seringkali ibu paduka tidak diberi makan karena dianggap pekerjaannya tidak bagus. Bahkan, makanan untuknya pun kadang makanan yang sudah basi.”Alamsyah kian merasa sedih. Dia berniat kuat menemui pamannya dan meminta pamannya tidak sewenang-wenang dalam memerintah dan tidak berlaku aniaya terhadapo ibunya.Alamsyahpun tiba di istana kerajaan. Pamannya sangat tidak suka mendapati kedatangannya. Dia khawatir, Alamsyah akan meminta tahta yang menjadi haknya. Raja lantas memperlakukan Alamsyah dengan buruk. Alamsyah dipaksa untuk bekerja keras, melebihi kerja yang dilakukan pembantu. Jika Alamsyah tidak bekerja, dia tidak akan diberi makan. Alamsyah juga dilarang bertemu ibunya. Para perajurit diberi kewenangan oleh raja untuk memukul Alamsyah, jika Alamsyah dianggap tidak baik dalam bekerja. Alamsyah terpaksa menerima perlakuan buruk terhadapnya itu, karena tidak memiliki kemampuan untuk melawan.Sang Raja telah berulangkali berusaha untuk mencelakai Alamsyah. Secara diam-diam dia memerintahkan orang-orang kepercayaanya untuk membunuh Alamsyah. Namun, usahanya selalu mengalami kegagalan.Suatu hari sang Raja memerintahkan seorang kepercayaanya yang bernama Penghulu Mude untuk membunuh Alamsyah. Penghulu Mude lantas mengajak Alamsyah untuk membeli kerbau. Ditengah perjalanan, Alamsyah didorongnya hingga jatuh ke jurang. Penghulu mude kemudian kembali ke istana untuk menghadap sang raja. Dia melaporkan bahwa Alamsyah telah mati jatuh ke Jurang.Alamsyah terjatuh ke jurang yang dalam. Namun, dia selamat karena ditolong oleh jin baik yang bernama Siah Ketambe. Alamsyah sama sekali tidak terluka dan bahkan sedikitpun kulitnya tidak lecet.Siah Ketambe menjelaskan, bahwa jatuhnya Alamsyah ke jurang itu karena siasat pamannya.” Pamanmu menghendaki engkau mati, sehingga dia menyuruh Penghulu Made mendorongmu ke jurang ini.”Alamsyah sependapat dengan penjelasan Siah Ketambe. Berulang-ulang dia telah merasakan berbagai usaha pamannya untuk mencelakakan dirinya.Siah Ketambe mengharapkan agar Alamsyah memiliki ilmu beladiri yang cukup untuk bisa menjaga diri serta menolong orang-orang yang membutuhkan. Akhirnya Alamsyah belajar ilmu beladiri dan kesaktiaan dari Siah Ketambe. Karena Alamsyah orang yang cerdas dan tekun, dalam waktu singkat dia telah menguasai ilmu beladiri dan berbagai kesaktian yang diajarkan oleh Siah Ketembe.Siah Ketambe memberikan pesan kepada Alamsyah.” Gunakan ilmu dan kesaktianmu itu baik-baik. Sebisa mungkin hindarkanlah perkelahian. Namun, jika engkau dalam keadaan terdesak atau mendapati dirimu dalam keadaan bahaya, barulah engkau boleh menggunakan ilmumu itu untuk membela diri.”Setelah merasa ilmu beladiri dan kesaktian Alamsyah sudah cukup, Siah Ketambe mengijinkan Alamsyah untuk kembali ke kerajaan. Kedatangan Alamsyah sangat mengejutkan Raja dan Penghulu Mude. Setibanya di istana Alamsyah langsung diserang oleh Penghulu Mude dibantu oleh para perajurit. Namun karena kesaktian Alamsyah sangat tinggi, dengan mudah Alamsyah dapat mengalahkan mereka semua.Sang Raja begitu terperanjat mendapati kemampuan keponakannya itu begitu luar biasa. Dia pun merasa tidak akan mampu menghadapi Alamsyah, terlebih lagi para perajurit dan pejabat kerajaan yang sebelumnya menjadi kaki tanggany, sekarang berbalik menduku Alamsyah, karena mengetahui bahwa Alamsyahlah yang berhak menjadi Raja.Sang Raja akhirnya menemui Alamsyah.” Alamsyah keponakanku. Maafkan pamanmu yang telah khilaf ini. Ampuni aku. Dengan ini kuserahkan kembali tahta yang memang seharusnya engkau duduki. Sekali lagi, maafkan pamanmu dan jangan engkau sakiti pamanmu yang tleh renta ini.”Alamsyah memaafkan kesalahan pamannya. Dia juga memaafkan kesalahan Penghulu Mude dan seluruh perajurit yang pernah menyakitinya selama mereka berjanji tidak akan mengulangi kesalahan mereka.Setelah penyerahan kekuasaan itu, Alamsyah dinobatkan menjadi raja baru. Alamsyah segera menjemput ibunya dan mendudukannya disampinya dengan penuh penghormatan. Seluruh rakyat sangat bergembira dengan penobatan Alamsyah sebagai Raja, apalagi Alamsyah memerintah dengan adil dan bijaksana. Alamsyah menegakan hukum dengan adil sehingga tingkat kejahatan menurun drastis. Rakyat hidup makmur dan sejahtera

Cerita Rakyat Nanggroe Aceh Darussalam : Mentiko Betuah
Folklore
25 Nov 2025

Cerita Rakyat Nanggroe Aceh Darussalam : Mentiko Betuah

Pada zaman dahulu di negeri Simeulue, hiduplah seorang raja. Ia memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Rohib. Namun, mereka terlalu memanjakannya, sehingga Rohib tumbuh menjadi anak yang manja. Setelah remaja, raja mengirimnya untuk belajar di kota. Tetapi sifat manjanya terbawa ke tempatnya belajar. Suatu hari, Rohib pulang sebelum masa belajar berakhir. Tentu saja, ayahnya sangat marah.“Hai, Rohib! Mana hasilnya kamu belajar di sana? Sungguh anak tak tahu diuntung! Pengawal, gantung anak ini sampai mati!” perintah Sang Raja.“Jangan, Kanda! Bagaimana kalau kita suruh ia keluar dari istana saja? Tetapi dengan memberinya uang sebagai modal untuk berdagang,” usul Sang Permaisuri.“Hmm, baiklah, Dinda.” jawab Sang Raja.“Bagaimana pendapatmu,Anakku?” tanya Permaisuri kepada Rohib.”Baiklah! Terima kasih, Bunda.” jawab Rohib.Rohib pun berpamitan kepada orang tuanya. Ia pergi dari satu kampung ke kampung lainnya. Di perjalanan, ia bertemu anak-anak yang sedang menembak burung dengan ketapel.“Wahai, saudaraku! Kalian jangan menganiaya burung itu!” tegur Si Rohib. “Hei, kamu siapa? Berani-beraninya melarang kami,” hardik seorang anak. “Jika kalian berhenti menembaki burung itu, aku akan memberi kalian uang,” tawar Rohib.Tawaran Rohib pun diterima anak-anak. Rohib melanjutkan perjalanan dan ia selalu memberi uang kepada orang-orang yang menganiaya binatang. Tanpa disadari, uang untuk modalnya sudah habis. Karena perjalanan sangat melelahkan, Rohib lantas beristirahat di bawah pohon. Tiba-tiba seekor ular besar mendekatinya. Rohib sangat ketakutan.“Jangan takut, anak muda! Aku adalah Raja Ular di hutan ini,” kata Ular itu. “Kamu sendiri siapa? Kenapa kamu bersedih?” tanya Ular itu.“Namaku Rohib,” jawab Rohib. Lalu ia menceritakan semua pengalamannya. “Kamu adalah anak yang baik. Kamu pantas mendapatkan hadiah dariku,” tambah ular itu sambil mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.“Benda apa itu?” tanya Si Rohib. “Ini namanya Mentiko Betuah. Apa pun yang kau minta, pasti akan dikabulkan,” jelas Ular itu, lalu pergi meninggalkan Si Rohib.“Wah, benda ini bisa menolongku dari kemurkaan ayah,” gumam Rohib. Rohib pun kembali ke istana. Sebelumnya, ia memohon kepada Mentiko Betuah agar memberinya uang banyak. Tiba di istana, ayahnya senang karena Rohib membawa uang yang banyak.Singkat cerita, Rohib membawa Mentiko Betuah kepada tukang emas untuk dijadikan cincin. Namun, tukang emas itu justru membawa kabur benda tersebut. Rohib pun meminta bantuan kepada sahabatnya, yaitu tikus, kucing, dan anjing. Anjing berhasil menemukan jejak Si Tukang Emas. Ketika Si Tukang Emas tengah tertidur, Si Kucing memasukkan ekornya ke lubang hidungnya. Akibatnya tukang emas bersin, sehingga Mentiko Betuah terlempar dari mulutnya. Tikus segera mengambil benda itu. Namun, tikus menipu kedua temannya bahwa Mentiko Betuah terjatuh ke dalam sungai. Kedua temannya pun panik dan segera mencarinya ke dasar sungai, sedangkan Si Tikus segera memberikan Mentiko Betuah kepada Rohib.Ketika Si Kucing dan Si Anjing menghadap Rohib, mereka sangat terkejut bahwa Mentiko Betuah itu sudah kembali ke tangan Rohib. Rupanya perilaku licik tikus segera tercium oleh kucing dan anjing. Keduanya marah besar terhadap perbuatan curang tikus. Sejak itulah anjing dan kucing membenci tikus sampai saat ini.

Legenda Putri Hijau
Folklore
25 Nov 2025

Legenda Putri Hijau

Ketika sedang beristirahat, tiba-tiba Sultan Mughayat Syah melihat cahaya hijau dari arah timur. Sang Sultan segera menanyakan kepada penasihatnya mengenai cahaya itu. Sang penasihat pun tidak mengetahui perihal cahaya itu. Maka, diutuslah seorang prajurit kepercayaannya untuk menyelidiki cahaya itu. Ternyata, cahaya itu berasal dari tubuh Putri Hijau di Deli Tua.Setibanya di perbatasan kerajaan, sang Sultan mengirim utusan untuk meminang sang Putri. Akan tetapi, sang Putri menolak lamaran tersebut. Mengetahui lamarannya ditolak, sang Sultan menjadi marah.Tak lama kemudian, pecah peperangan. Karena wilayah Deli Tua dikelilingi oleh bambu berduri, prajurit Aceh menembakkan banyak uang di sekitar bambu. Melihat banyak uang, rakyat Deli Tua memotongi dan menebangi rumpun bambu berduri itu untuk mengambil uang. Akibatnya, pertahanan Deli Tua hancur.Melihat keadaan, penguasa Deli Tua mengira jika mereka akan kalah. Ia pun berpesan kepada Putri Hijau bila sang Putri kelak ditawan, sebaiknya memohon agar dapat dimasukkan ke dalam keranda kaca. Sebelum tiba di Aceh, tubuhnya tidak boleh disentuh oleh Sultan Aceh. Setibanya, ia harus memohon agar rakyat Aceh membawa persembahan masing-masing sebutir telur ayam dan segenggam beras putih. Semua persembahan itu harus dibuang ke laut. Pada saat itu, Putri Hijau harus keluar dari keranda kacanya lalu memanggil nama Mambang Jazid. Setelah itu, sang Penguasa Deli Tua menghilang.Setelah itu, sang Putri Hijau ditawan. Ia pun meminta syarat seperti yang dipesankan sang Penguasa Deli Tua. Sang Sultan mengabulkan permintaan itu. Di Aceh, kapal sang Sultan berlabuh di Tanjung Jambu Air. Sultan memerintahkan rakyatnya agar mengadakan upacara persembahan kepada Putri Hijau.Seusai upacara, Putri Hijau keluar dari keranda kacanya. Sesuai pesan, Putri Hijau menyebutkan nama Mambang Jazid. Tiba-tiba, turun angin ribut dan hujan lebat. Halilintar dan gulungan ombak besar menyusul.Tiba-tiba, muncul seekor naga raksasa dari dalam ombak dan langsung menuju kapal Sultan Aceh. Dihantamnya kapal itu hingga terbelah dua. Dalam keadaan itu, Putri Hijau kembali ke keranda kacanya sehingga ia dapat terapung di atas laut.Sang Naga segera menghampiri keranda itu lalu dibawa ke Selat Malaka. Gerakan itu amat cepat, sehingga Sultan Aceh tidak dapat berbuat apa-apa. Ia pun menyadari kesalahannya. Ia tidak bisa memaksa orang lain jika orang itu memang tidak mau.Pesan moral dari Dongeng cerita aceh jaman dulu : Legenda Putri Hijau adalah jangan memaksakan kehendak kita kepada orang lain.

Cerita Dongeng Aceh : Kisah Banta Barensyah
Folklore
25 Nov 2025

Cerita Dongeng Aceh : Kisah Banta Barensyah

Pada jaman dahulu kala, di sebuah dusun terpencil di daerah Nanggro Aceh Darussalam, hiduplah seorang janda bersama seorang anak laki-lakinya yang bernama Banta Berensyah. Banta Berensyah seorang anak yang rajin dan mahir bermain suling. Kedua ibu dan anak itu tinggal di sebuah gubuk bambu yang beratapkan ilalang dan beralaskan dedaunan kering dengan kondisi hampir roboh.Kala hujan turun, air dengan leluasa masuk ke dalamnya. Bangunan gubuk itu benar-benar tidak layak huni lagi. Namun apa hendak dibuat, jangankan biaya untuk memperbaiki gubuk itu, untuk makan sehari-hari pun mereka kesulitan.Untuk bertahan hidup, ibu dan anak itu menampi sekam di sebuah kincir padi milik saudaranya yang bernama Jakub. Jakub adalah saudagar kaya di dusun itu. Namun, ia terkenal sangat kikir, loba, dan tamak. Segala perbuatannya selalu diperhitungkan untuk mendapatkan keuntungan sendiri. Terkadang ia hanya mengupahi ibu Banta Berensyah dengan segenggam atau dua genggam beras. Beras itu hanya cukup dimakan sehari oleh janda itu bersama anaknya.Pada suatu hari, janda itu berangkat sendirian ke tempat kincir padi tanpa ditemani Banta Berensyah, karena sedang sakit. Betapa kecewanya ia saat tiba di tempat itu. Tak seorang pun yang menumbuk padi. Dengan begitu, tentu ia tidak dapat menampi sekam dan memperoleh upah beras. Dengan perasaan kecewa dan sedih, perempuan paruh baya itu kembali ke gubuknya. Setibanya di gubuk, ia langsung menghampiri anak semata wayangnya yang sedang terbaring lemas. Wajah anak itu tampak pucat dan tubuhnya menggigil, karena sejak pagi perutnya belum terisi sedikit pun makanan.“Ibu…! Banta lapar,” rengek Banta Berensyah.Janda itu hanya terdiam sambil menatap lembut anaknya. Sebenarnya, hati kecilnya teriris-iris mendengar rengekan putranya itu. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena tidak ada sama sekali makanan yang tersisa. Hanya ada segelas air putih yang berada di samping anaknya. Dengan perlahan, ia meraih gelas itu dan mengulurkannya ke mulut Banta Berensyah. Seteguk demi seteguk Banta Berensyah meminum air dari gelas itu sebagai pengganti makanan untuk menghilangkan rasa laparnya. Setelah meminum air itu, Banta merasa tubuhnya sedikit mendapat tambahan tenaga. Dengan penuh kasih sayang, ia menatap wajah ibunya. Lalu, perlahan-lahan ia bangkit dari tidurnya seraya mengusap air mata bening yang keluar dari kelopak mata ibunya.“Kenapa ibu menangis?” tanya Banta dengan suara pelan.Mulut perempuan paruh baya itu belum bisa berucap apa-apa. Dengan mata berkaca-kaca, ia hanya menghela nafas panjang. Banta pun menatap lebih dalam ke arah mata ibunya. Sebenarnya, ia mengerti alasan kenapa ibunya menangis.“Bu! Banta tahu mengapa Ibu meneteskan air mata. Ibu menangis karena sedih tidak memperoleh upah hari ini,” ungkap Banta.“Sudahlah, Bu! Banta tahu, Ibu sudah berusaha keras mencari nafkah agar kita bisa makan. Barangkali nasib baik belum berpihak kepada kita,” bujuknya.Mendengar ucapan Banta Berensyah, perempuan paruh baya itu tersentak. Ia tidak pernah mengira sebelumnya jika anak semata wayangnya, yang selama ini dianggapnya masih kecil itu, ternyata pikirannya sudah cukup dewasa. Dengan perasaan bahagia, ia merangkul tubuh putranya sambil meneteskan air mata. Perasaan bahagia itu seolah-olah telah menghapus segala kepedihan dan kelelahan batin yang selama ini membebani hidupnya.“Banta, Anakku! Ibu bangga sekali mempunyai anak sepertimu. Ibu sangat sayang kepadamu, Anakku,” ucap Ibu Banta dengan perasaan haru.Kasih sayang dan perhatian ibunya itu benar-benar memberi semangat baru kepada Banta Berensyah. Tubuhnya yang lemas, tiba-tiba kembali bertenaga. Ia kemudian menatap wajah ibunya yang tampak pucat. Ia sadar bahwa saat ini ibunya pasti sedang lapar. Oleh karena itu, ia meminta izin kepada ibunya hendak pergi ke rumah pamannya, Jakub, untuk meminta beras. Namun, ibunya mencegahnya, karena ia telah memahami perangai saudaranya yang kikir itu.“Jangan, Anakku! Bukankah kamu tahu sendiri kalau pamanmu itu sangat perhitungan. Ia tentu tidak akan memberimu beras sebelum kamu bekerja,” ujar Ibu Banta.“Banta mengerti, Bu! Tapi, apa salahnya jika kita mencobanya dulu. Barangkali paman akan merasa iba melihat keadaan kita,” kata Banta Berensyah.Berkali-kali ibunya mencegahnya, namun Banta Berensyah tetap bersikeras ingin pergi ke rumah pamannya. Akhirnya, perempuan yang telah melahirkannya itu pun memberi izin. Maka berangkatlah Banta Berensyah ke rumah pamannya. Saat ia masuk ke pekarangan rumah, tiba-tiba terdengar suara keras membentaknya. Suara itu tak lain adalah suara pamannya.“Hai, anak orang miskin! Jangan mengemis di sini!” hardik saudagar kaya itu.“Paman, kasihanilah kami! Berikanlah kami segenggam beras, kami lapar!” iba Banta Berensyah.“Ah, persetan dengan keadaanmu itu. Kalian lapar atau mati sekalian pun, aku tidak perduli!” saudagar itu kembali menghardiknya dengan kata-kata yang lebih kasar lagi.Betapa kecewa dan sakitnya hati Banta Berensyah. Bukannya beras yang diperoleh dari pamannya, melainkan cacian dan makian. Ia pun pulang ke rumahnya dengan perasaan sedih dan kesal. Tak terasa, air matanya menetes membasahi kedua pipinya.Dalam perjalanan pulang, Banta Berensyah mendengar kabar dari seorang warga bahwa raja di sebuah negeri yang letaknya tidak berapa jauh dari dusunnya akan mengadakan sayembara. Raja negeri itu mempunyai seorang putri yang cantik jelita nan rupawan. Ia bagaikan bidadari yang menghimpun semua pesona lahir dan batin. Kulitnya sangat halus, putih, dan bersih. Saking putihnya, kulit putri itu seolah-olah tembus pandang. Jika ia menelan makanan, seolah-olah makanan itu tampak lewat ditenggorokannya. Itulah sebabnya ia diberi nama Putri Terus Mata. Setiap pemuda yang melihat kecantikannya pasti akan tergelitik hasratnya untuk mempersuntingnya. Sudah banyak pangeran yang datang meminangnya, namun belum satu pun pinangan yang diterima. Putri Terus Mata akan menerima lamaran bagi siapa saja yang sanggup mencarikannya pakaian yang terbuat dari emas dan suasa.Mendengar kabar itu, Banta Berensyah timbul keinginannya untuk mengandu untung. Ia berharap dengan menikah dengan sang Putri, hidupnya akan menjadi lebih baik. Siapa tahu ia bernasib baik, pikirnya. Ia pun bergegas pulang ke gubuknya untuk menemui ibunya. Setibanya di gubuk, ia langsung duduk di dekat ibunya. Sambil mendekatkan wajahnya yang sedikit pucat karena lapar, Banta Berensyah menyampaikan perihal hasratnya mengikuti sayembara tersebut kepada ibunya. Ia berusaha membujuk ibunya agar keinginannya dikabulkan.“Bu! Banta sangat sayang dan ingin terus hidup di samping ibu. Ibu telah berusaha memberikan yang terbaik untuk Banta. Kini Banta hampir beranjak dewasa. Saatnya Banta harus bekerja keras memberikan yang terbaik untuk Ibu. Jika Ibu merestui niat tulus ini, izinkanlah Banta merantau untuk mengubah nasib hidup kita!” pinta Banta Berensyah.Perempuan paruh baya itu tak mampu lagi menyembunyikan kekagumannya kepada anak semata wayangnya itu. Ia pun memeluk erat Banta dengan penuh kasih sayang.“Banta, Anakku! Kamu adalah anak yang berbakti kepada orangtua. Jika itu sudah menjadi tekadmu, Ibu mengizinkanmu walaupun dengan berat hati harus berpisah denganmu,” kata perempuan paruh baya itu.“Tapi, bagaimana kamu bisa merantau ke negeri lain, Anakku? Apa bekalmu di perjalanan nanti? Jangankan untuk ongkos kapal dan bekal, untuk makan sehari-hari pun kita tidak punya,” tambahnya.“Ibu tidak perlu memikirkan masalah itu. Cukup doa dan restu Ibu menyertai Banta,” kata Banta Berensyah.Setelah mendapat restu dari ibunya, Banta Berensyah pun pergi ke sebuah tempat yang sepi untuk memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Setelah semalam suntuk berdoa dengan penuh khusyuk, akhirnya ia pun mendapat petunjuk agar membawa sehelai daun talas dan suling miliknya ke perantauan. Daun talas itu akan ia gunakan untuk mengarungi laut luas menuju ke tempat yang akan ditujunya. Sedangkan suling itu akan ia gunakan untuk menghibur para tukang tenun untuk membayar biaya kain emas dan suasa yang dia perlukan.Keesokan harinya, usai berpamitan kepada ibunya, Banta Berensyah pun pergi ke rumah pamannya, Jakub. Ia bermaksud meminta tumpangan di kapal pamannya yang akan berlayar ke negeri lain. Setibanya di sana, ia kembali dibentak oleh pamannya.“Ada apa lagi kamu kemari, hai anak malas!” seru sang Paman.“Paman! Bolehkah Ananda ikut berlayar sampai ke tengah laut?” pinta Banta Berensyah.Jakub tersentak mendengar permintaan aneh dari Banta Berensyah. Ia berpikir bahwa kemanakannya itu akan bunuh diri di tengah laut. Dengan senang hati, ia pun mengizinkannya. Ia merasa hidupnya akan aman jika anak itu telah mati, karena tidak akan lagi datang meminta-minta kepadanya. Akhirnya, Banta Berensyah pun ikut berlayar bersama pamannya. Begitu kapal yang mereka tumpangi tiba di tengah-tengah samudra, Banta meminta kepada pamannya agar menurunkannya dari kapal.“Paman! Perjalanan Nanda bersama Paman cukup sampai di sini. Tolong turunkan Nanda dari kapal ini!” pinta Banta Betensyah.Saudagar kaya itu pun segera memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan Banta ke laut. Namun sebelum diturunkan, Banta mengeluarkan lipatan daun talas yang diselempitkan di balik pakaiannya. Kemudian ia membuka lipatan daun talas itu seraya duduk bersila di atasnya. Melihat kelakuan Banta itu, Jakub menertawainya.“Ha… ha… ha…! Dasar anak bodoh!” hardik saudagar kaya itu.“Pengawal! Turunkan anak ini dari kapal! Biarkan saja dia mati dimakan ikan besar!” serunya.Namun, betapa terkejutnya saudagar kaya itu dan para anak buahnya setelah menurunkan Banta Berensyah ke laut. Ternyata, sehelai daun talas itu mampu menahan tubuh Banta Berensyah di atas air. Dengan bantuan angin, daun talas itu membawa Banta menuju ke arah barat, sedangkan pamannya berlayar menuju ke arah utara.Setelah berhari-hari terombang-ambing di atas daun talas dihempas gelombang samudra, Banta Berensyah tiba di sebuah pulau. Saat pertama kali menginjakkan kaki di pulau itu, ia terkagum-kagum menyaksikan pemandangan yang sangat indah dan memesona. Hampir di setiap halaman rumah penduduk terbentang kain tenunan dengan berbagai motif dan warna sedang dijemur. Rupanya, hampir seluruh penduduk di pulau itu adalah tukang tenun.Banta pun mampir ke salah satu rumah penduduk untuk menanyakan kain emas dan suasa yang sedang dicarinya. Namun, penghuni rumah itu tidak memiliki jenis kain tersebut. Ia pun pindah ke rumah tukang tenun di sebelahnya, dan ternyata si pemilik rumah itu juga tidak memilikinya. Berhari-hari ia berkeliling kampung dan memasuki rumah penduduk satu persatu, namun kain yang dicarinya belum juga ia temukan. Tinggal satu rumah lagi yang belum ia masuki, yaitu rumah kepala kampung yang juga tukang tenun.“Tok… Tok… Tok.. ! Permisi, Tuan!” seru Banta Berensyah setelah mengetuk pintu rumah kepala kampung itu.Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki paruh baya membuka pintu dan mempersilahkannya masuk ke dalam rumah.“Ada yang bisa kubantu, Anak Muda?” tanya kampung itu bertanya.Setelah memperkenalkan diri dan menceritakan asal-usulnya, Banta pun menyampaikan maksud kedatangannya.“Maaf, Tuan! Kedatangan saya kemari ingin mencari kain tenun yang terbuat dari emas dan suasa. Jika Tuan memilikinya, bolehkah saya membelinya?” pinta Banta Berensyah.Kepala kampung itu tersentak kaget mendengar permintaan Banta, apalagi setelah melihat penampilan Banta yang sangat sederhana itu.“Hai, Banta! Dengan apa kamu bisa membayar kain emas dan suasa itu? Apakah kamu mempunyai uang yang cukup untuk membayarnya?”“Maaf, Tuan! Saya memang tidak mampu membayarnya dengan uang. Tapi, jika Tuan berkenan, bolehkah saya membayarnya dengan lagu?” pinta Banta Berensyah seraya mengeluarkan sulingnya.Melihat keteguhan hati Banta Berensyah hendak memiliki kain tenun tersebut, kepala kampung itu kembali bertanya kepadanya.“Banta! Kalau boleh saya tahu, kenapa kamu sangat menginginkan kain itu?”Banta pun menceritakan alasannya sehingga ia harus berjuang untuk mendapatkan kain tersebut. Karena iba mendengar cerita Banta, akhirnya kepala kampung itu memenuhi permintaannya. Dengan keahliannya, Banta pun memainkan sulingnya dengan lagu-lagu yang merdu. Kepala kampung itu benar-benar terbuai menikmati senandung lagu yang dibawakan Banta. Setelah puas menikmatinya, ia pun memberikan kain emas dan suasa miliknya kepada Banta.“Kamu sangat mahir bermain suling, Banta! Kamu pantas mendapatkan kain emas dan suasa ini,” ujar kepala kampung itu.“Terima kasih, Tuan! Banta sangat berhutang budi kepada Tuan. Banta akan selalu mengingat semua kebaikan hati Tuan,” kata Banta.Setelah mendapatkan kain emas dan suasa tersebut, Banta pun meninggalkan pulau itu. Ia berlayar mengarungi lautan luas menuju ke kampung halamannya dengan menggunakan daun talas saktinya. Hati anak muda itu sangat gembira. Ia tidak sabar lagi ingin menyampaikan berita gembira itu kepada ibunya dan segera mempersembahkan kain emas dan suasa itu kepada Putri Terus Mata.Namun, nasib malang menimpa Banta. Ketika sampai di tengah laut, ia bertemu dan ikut dengan kapal Jakub yang baru saja pulang berlayar dari negeri lain. Saat ia berada di atas kapal itu, kain emas dan suasa yang diperolehnya dengan susah payah dirampas oleh Jakub. Setelah kainnya dirampas, ia dibuang ke laut. Dengan perasaan bangga, Jakub membawa pulang kain tersebut untuk mempersunting Putri Terus Mata.Sementara itu, Banta yang hanyut terbawa arus gelombang laut terdampar di sebuah pantai dan ditemukan oleh sepasang suami-istri yang sedang mencari kerang. Sepasang suami-istri itu pun membawanya pulang dan mengangkatnya sebagai anak. Setelah beberapa lama tinggal bersama kedua orang tua angkatnya tersebut, Banta pun memohon diri untuk kembali ke kampung halamannya menemui ibunya dengan menggunakan daun talas saktinya. Setiba di gubuknya, ia pun disambut oleh ibunya dengan perasaan suka-cita. Kemudian, Banta pun menceritakan semua kejadian yang telah dialaminya.“Maafkan Banta, Bu! Sebenarnya Banta telah berhasil mendapatkan kain emas dan suasa itu, tetapi Paman Jakub merampasnya,” Banta bercerita kepada ibunya dengan perasaan kecewa.“Sudahlah, Anakku! Ibu mengerti perasaanmu. Barangkali belum nasibmu mempersunting putri raja,” ujar Ibunya.“Tapi, Bu! Banta harus mendapatkan kembali kain emas dan suasa itu dari Paman. Kain itu milik Banta,” kata Banta dengan tekad keras.“Semuanya sudah terlambat, Anakku!” sahut ibunya.“Apa maksud Ibu berkata begitu?” tanya Banta penasaran.“Ketahuilah, Anakku! Pamanmu memang sungguh beruntung. Saat ini, pesta perkawinannya dengan putri raja sedang dilangsungkan di istana,” ungkap ibunya.Tanpa berpikir panjang, Banta segera berpamitan kepada ibunya lalu bergegas menuju ke tempat pesta itu dilaksanakan. Namun, setibanya di kerumunan pesta yang berlangsung meriah itu, Banta tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai bukti untuk menunjukkan kepada raja dan sang Putri bahwa kain emas dan suasa yang dipersembahkan Jakub itu adalah miliknya. Sejenak, ia menengadahkan kedua tangannya berdoa meminta pertolongan kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Begitu ia selesai berdoa, tiba-tiba datanglah seekor burung elang terbang berputar-putar di atas keramaian pesta sambil berbunyi.“Klik.. klik… klik… kain emas dan suasa itu milik Banta Berensyah…!!! Klik… klik.. klik… kain emas dan suasa itu milik Banta Berensyah…!!!” demikian bunyi elang itu berulang-ulang.Mendengar bunyi elang itu, seisi istana menjadi gempar. Suasana pesta yang meriah itu seketika menjadi hening. Bunyi elang itu pun semakin jelas terdengar. Akhirnya, Raja dan Putri Terus Mata menyadari bahwa Jakub adalah orang serakah yang telah merampas milik orang lain. Sementara itu Jakub yang sedang di pelaminan mulai gelisah dan wajahnya pucat. Karena tidak tahan lagi menahan rasa malu dan takut mendapat hukuman dari Raja, Jakub melarikan diri melalui jendela. Namun, saat akan meloncat, kakinya tersandung di jendela sehingga ia pun jatuh tersungkur ke tanah hingga tewas seketika.Setelah peristiwa itu, Banta Berensyah pun dinikahkan dengan Putri Terus Mata. Pesta pernikahan mereka dilangsungkan selama tujuh hari tujuh malam dengan sangat meriah. Tidak berapa lama setelah mereka menikah, Raja yang merasa dirinya sudah tua menyerahkan jabatannya kepada Banta Berensyah. Banta Berensyah pun mengajak ibunya untuk tinggal bersamanya di istana. Akhirnya, mereka pun hidup berbahagia bersama seluruh keluarga istana.

Cerita Rakyat Rawa Pening
Folklore
25 Nov 2025

Cerita Rakyat Rawa Pening

Dahulu kala terdapat sebuah desa bernama desa Ngasem. Desa ini terletak di sebuah lembah antara Gunung Merbabu dengan Telomoyo. Di sana bermukim sepasang suami istri bernama Ki Hajar dan Nyai Selakanta.cerita rakyat Rawa PeningPasangan suami istri ini dikenal sebagai pribadi yang suka menolong dan murah hati. Oleh sebab itu mereka sangat dihormati masyarakat sekitar. Hanya saja hidup mereka belum lengkap karena mereka masih tak kunjung dikaruniai anak.Sampai suatu hari, Nyai Selakanta terlihat duduk termenung di depan rumahnya seorang diri. Melihat hal tersebut, Ki Hajar kemudian menghampiri istrinya tersebut dan mengambil tempat duduk di samping sang istri.Saat itu, Nyai Selakanta lantas menyampaikan keinginannya kepada sang suami. Ia sangat ingin memiliki anak. Ia sampai meneteskan air mata ketika menyampaikan keinginannya tersebut kepada sang suami.Ki Hajar yang mendengar keluhan istrinya itu kemudian meminta izin kepada sang istri untuk bertapa. Barangkali dari bertapa, dirinya akan mendapat wangsit. Keesokan harinya, Ki Hajar berangkat ke lereng Gunung Telemoyo untuk mulai pertapaannya.Selama bertapa, Nyai Selakanta menunggu sang suami dengan sabar. Hanya saja, bulan demi bulan sudah terlewati dan sang suami tak kunjung pulang. Hingga suatu hari, Nyai Selakanta merasa mual dan muntah.Ia berpikir bahwa dirinya sedang hamil dan ternyata apa yang dipikirannya tersebut benar. Semakin hari perutnya semakin membesar hingga tiba waktunya ia melahirkan. Hanya saja ketika melahirkan, Nyai Selakanta sangat terkejut karena yang dilahirkan adalah seekor naga.Anak itu kemudian dinamai Baru Klinthing yang diambil dari nama tombak milik suaminya. Nama Baru berasal dari bra yang artinya keturunan Brahmana. Brahmana ini merupakan seorang resi yang kedudukannya lebih tinggi dari pendeta. Sementara nama Klinthing berarti lonceng.Meski berwujud seekor naga, namun Baru Klinthing juga dapat berbicara selayaknya manusia. Namun di sisi lain Nyai Selakanta juga merasa malu karena melahirkan seekor naga. Akhirnya ia berniat membawa Baru Klinthing ke Bukit Tugur yang jauh dari pemukiman warga.Namun sebelum rencananya tersebut dilakukan, Nyai Selakanta harus merawat Baru Klinthing sampai agak besar dulu agar perjalanan jauh bisa ditempuh. Tiba suatu hari ketika Baru Klinthing sudah menginjak masa remaja. Ia bertanya tentang sang ayah.Nyai Selakanta kaget namun ia juga berpikir sang anak perlu tahu perihal sang ayah. Ia kemudian menyuruh Baru Klinthing menyusul sang ayah yang sedang bertapa di lereng Gunung Telemoyo. Nyai Selakanta juga meminta agar Baru Klinthing ke sana sembari membawa pusaka tombak bernama Baru Klinthing milik ayahnya.拉哇槟宁民间传说Baru Klinthing pun berangkat ke lereng Gunung Telemoyo membawa pusaka tersebut. Di sana ia melihat seorang laki – laki bersemedi. Baru Klinthing langsung bersujud di hadapan sang ayah. Awalnya Ki Hajar tak percaya dia adalah anaknya namun melihat tombak pusaka yang dibawa Baru Klinthing akhirnya Ki Hajar pun percaya bahwa naga tersebut adalah anaknya.Namun Ki Hajar juga butuh bukti dan memberikan Baru Klinthing tugas. Ki Hajar berkata, “Baik, aku percaya jika kamu anakku. Namun tombak pusaka yang kamu bawa belum cukup sebagai bukti bagiku. Kalau kamu memang benar anakku, coba kamu lingkari Gunung Telemoyo ini!”Baru Klinthing pun melakukan tugas ayahnya dengan menggunakan kesaktian yang dimiliki. Akhirnya Ki Hajar pun percaya dan mengakui sang anak. Ia kemudian memerintahkan sang anak bertapa di Bukit Tugur agar tubuhnya berubah menjadi manusia sepenuhnya.Di sisi lain, ada sebuah desa bernama Pathok. Desa Pathok sangat Makmur hanya saja penduduk desanya sangat angkuh. Suatu hari, penduduk desa yang angkuh itu bermaksud mengadakan pesta sedekah bumi setelah panen.Pesta tersebut juga menampilkan berbagai pertunjukan seni dan tari. Beragam jamuan lezat pun rencananya akan dihidangkan. Untuk mempersiapkan pesta, warga pun beramai – ramai berburu binatang di Bukit Tugur.Hanya saja tak ada satu binatang pun tertangkap. Namun ketika hendak kembali ke desa, mereka melihat seekor naga bertapa. Nah, Naga yang bertapa tersebut adalah Baru Klinthing. Warga desa pun beramai – ramai menangkap dan memotong daging naga tersebut.Daging naga pun dimasak untuk dijadikan hidangan pesta. Ketika pesta dimulai dengan aneka hidangan yang dibuat termasuk daging naga, ada seorang anak laki – laki dengan tubuh penuh darah dan berbau amis mendekat.Nah, anak laki – laki tersebut merupakan jelmaan Baru Klinthing yang wujud naganya sudah dipotong – potong oleh warga. Baru Klinthing dalam wujud anak laki – laki penuh darah meminta bagian makanan kepada warga namun diusir begitu saja.Dia pun meninggalkan desa. Kemudian di tengah perjalanan, ia bertemu janda tua bernama Nyi Latung. Nyi Latung yang baik hati pun mengajak Baru Klinthing datang ke rumahnya dan memakan makanan di rumahnya saja.Di tengah perbincangan, Baru Klinthing meminta Nyi Latung membantunya memberi pelajaran bagi warga. Nyi Latung diminta jika mendengar suara gemuruh agar menyiapkan alat menumbuk padi dari kayu.Setelah makan di rumah Nyi Latung, Baru Klinthing kembali ke pesta warga membawa sebatang lidi. Tiba di tengah keramaian, ia menancapkan lidi ke tanah. Ia meminta warga mencabut lidi yang ditancapkan itu.Beramai – ramai warga mencabut lidi namun tak ada satu orang pun yang berhasil. Sementara dengan kesaktian yang dimiliki, Baru Klinthing bisa mencabut lidi itu dengan mudah. Begitu lidi tercabut, suara gemuruh terdengar.拉哇槟宁民间传说Dari bekas lidi yang tertancap itu, air pun keluar hingga semakin lama terjadi banjir besar dan penduduk langsung menyelamatkan diri. Hanya saja air dengan cepat memporak porandakan desa hingga membuat semua warga tenggelam dan desa tersebut berubah menjadi sebuah rawa yang sekarang dikenal sebagai Rawa Pening.

Nyi Rengganis dan Taman Banjarsari
Folklore
25 Nov 2025

Nyi Rengganis dan Taman Banjarsari

Cerita ini berkisah tentang kehidupan Putri Rengganis yang hidup di tempat pertapaan bersama dengan ayahnya. Mereka hidup di Tanah Parahyangan.Putri Rengganis merupakan gadis cantik dengan kemampuan terbang. Suatu hari, Putri Rengganis terbang dan memetik bunga di Taman Banjarsari, milik Raden Iman Suwangsa. Raden Iman Suwangsa ini merupakan calon pewaris tahta adipati.Merasa bunganya dicuri oleh Putri Rengganis, ia merasa kesal. Raden Iman Suwangsa pun memantrai taman bunganya agar bunganya tidak mudah diambil oleh orang lain. Setelah mengamati beberapa waktu, Raden Iman Suwangsa memerintahkan prajurit dan patihnya menangkap orang yang mencuri bunganya.Sayembara pun dilakukan. Siapa yang berhasil memberikan informasi tentang pencuri bunganya akan mendapatkan hadiah. Naasnya, Putri Rengganis tidak tahu kalau dirinya sedang diincar. Sahabat Putri Rengganis, Si Belang pun buka mulut hingga akhirnya Putri Rengganis tertangkap basah.Putri Rengganis menangis dan air matanya kemudian berubah menjadi air bah yang tinggi. Air mata tersebut mulai membuat genangan di sekitar tubuhnya sendiri hingga terbentuklah air bah yang tinggi. Raden Iman Suwangsa pun merasa heran dengan kejadian tersebut dan menyesal karena sudah menangkap Putri Rengganis.

Cerita Rakyat Roro Jonggrang
Folklore
25 Nov 2025

Cerita Rakyat Roro Jonggrang

Cerita rakyat Roro Jonggrang bermula ketika sang ayah bernama Raja Prambanan gugur dari perang melawan Kerajaan Pengging yang dipimpin Bandung Bondowoso. Karena kekalahan Raja Prambanan tersebut, Bandung Bondowoso secara otomatis menguasai Kerajaan Prambanan.cerita rakyat Roro JonggrangDi saat yang bersamaan, Bandung Bondowoso juga tertarik dengan Roro Jonggrang yang cantik dan ingin menjadikannya sebagai permaisuri. Namun Roro Jonggrang menolak lamaran Bandung Bondowoso terlebih Roro Jonggrang masih sakit hati karena sang ayah tercinta meninggal akibat serangan Bandung BondowosoBandung Bondowoso yang merasa dirinya adalah penguasa sangat marah dengan penolakan Roro Jonggrang hingga membuatnya mengurung Roro Jonggrang bersama dayang – dayang dan Bi Sumi, seseorang yang sangat dipercaya Roro Jonggrang.Atas penolakan yang diterima, Bandung Bondowoso masih tidak menyerah. Ia selalu mendesak Roro Jonggrang untuk segera menerima lamarannya. Suatu hari, Roro Jonggrang yang sudah lelah didesak terus menerus pun mengiyakan permintaan Bandung Bondowoso dengan syarat.cerita rakyat Roro Jonggrang“Aku bersedia menjadi permaisurimu dengan syarat kau harus memenuhi semua permintaanku. Namun jika kau tak bisa memenuhi permintaanku, kau harus membiarkanku pergi dari sini. Bagaimana? Apakah kau setuju?” minta Roro Jonggrang menanggapi lamaran Bandung Bondowoso.Bandung Bondowoso pun sangat senang dengan apa yang dikatakan Roro Jonggrang. Ia pun menjawab, “Apapun yang kau minta aku akan bersedia menurutinya. Lalu kau meminta apa sebagai syarat dariku?”“Buatkan aku seribu candi dalam satu malam, semuanya harus selesai sebelum matahari terbit dan kau bisa menikahiku”, ucap Roro Jonggrang.Bandung Bondowoso sempat heran dengan permintaan Roro Jonggrang, namun kemudian ia menyetujuinya.Ia pun beranjak dan langsung menyusun siasat. Ia meminta bantuan pada pasukan jin untuk bisa membangun seribu candi dalam semalam. Benar saja, dalam waktu singkat, candi pun mulai tampak. Melihat semua itu, Roro Jonggrang sempat gelisah.Roro Jonggrang pun mengatakan kegelisahannya kepada Bi Sumi.cerita rakyat Roro Jonggrang“Bi Sumi, lihatlah candi itu. Kita harus melakukan sesuatu”Bi Sumi pun tampak panik dan segera mencari ide. Tak lama, Bi Sumi mengungkapkan idenya kepada Roro Jonggrang.“Tuan Ratu, hamba punya ide. Ayo ikuti hamba”, ujar Bi Sumi.Roro Jonggrang dan Bi Sumi pun menyelinap keluar kamar dan menuju kamar dayang – dayang yang terletak tak jauh dari kamar mereka. Bi Sumi memerintahkan para dayang dan pengawal istana untuk mengumpulkan Jerami.Roro Jonggrang pun bertanya, “Untuk apa Jerami yang dikumpulkan itu Bi Sumi?”Bi Sumi kemudian memberitahu rencananya kepada Roro Jonggrang dengan berbisik – bisik.“Tuan Ratu, kita akan membakar Jerami ini sehingga langit terkesan merah sebagai pertanda matahari sudah terbit”Setelah jeraminya terkumpul, Bi Sumi membakarnya. Dia juga memerintahkan para dayang menumbuk lesung. Suara lesung yang bertalu – talu ditambah dengan semburan api yang berwarna kemerahan di langit membuat suasananya sangat mirip dengan pagi hari. Ayam jantan pun tertipu dan berkokok keras memecah suasana yang hening di malam itu.Mendengar suara ayam jantan, Bandung Bondowoso dan para jin terkejut, Mereka juga melihat langit cukup terang sebagai pertanda pagi telah tiba.cerita rakyat Candi Prambanan“Kami harus pergi. Ayo kita pergi!” teriak para jin mengajak teman – teman lainnya.Bandung Bondowoso pun tak berkutik dan membiarkan para jin pergi. Lalu ia memandang candi buatan para jin dan yakin jumlahnya sudah seribu sesuai permintaan Roro Jonggrang.Bandung Bondowoso pun menemui Roro Jonggrang dan melaporkan bahwa candinya sudah dibangun dan ia yakin berjumlah seribu. Roro Jonggrang pun menghitungnya.“997, 998, 999, dan… jumlahnya kurang satu!” kata Roro Jonggrang kepada Bandung Bondowoso.Bandung Bondowoso juga kemudian menghitungnya dan memang benar kalau candinya 999. Bandung Bondowoso pun sangat kecewa dan marah. Ia tak menyangka bahwa dirinya gagal memenuhi persyaratan Roro Jonggrang.Tak terima dengan kekalahan, Bandung Bondowoso pun berkata, “Aku tak pernah kalah. Apa pun yang aku inginkan selalu bisa ku dapatkan. Kalau jumlahnya memang kurang satu, kau saja yang melengkapi candi itu agar berjumlah 1000”.Dengan kesaktiannya, Roro Jonggrang pun dikutuk menjadi patung batu oleh Bandung Bondowoso.Nah itulah cerita dibalik Candi Prambanan dan sampai sekarang candi – candi tersebut masih berdiri sangat megah di wilayah Prambanan dan menjadi sebuah tempat wisata yang banyak dikunjungi.

Cerita Malin Kundang
Folklore
25 Nov 2025

Cerita Malin Kundang

Awal mula cerita Malin Kundang di Wilayah SumateraHiduplah satu keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatera, Ibu Rubayah dan anak semata wayang, Malin Kundang.Pada suatu hari, di pesisir pantai wilayah Sumatera, hiduplah mereka berdua di tepi pantai. Suami Ibu Rubayah sudah lama meninggalkan keluarganya dan tak pernah kembali sejak saat itu.Malin Kundang tumbuh menjadi anak yang cerdas dan pemberani, meski sedikit nakal. Keluarga tersebut hidup serba pas-pasan sehingga sang ibu harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya dan anaknya.Malin Kundang memutuskan merantau mencari nafkahKetika beranjak dewasa, Malin berpikir untuk pergi merantau ke negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali pulang ke kampung halaman, ia akan menjadi seorang yang kaya raya.Niatannya untuk pergi mencari nafkah terwujud setelah menerima ajakan seorang nakhoda kapal dagang, yang dulunya hidup miskin kini sudah menjadi seorang yang kaya raya.Ibu Malin selalu berdoa agar anaknya sehat, sukses, dan cepat kembaliMulanya sang ibu kurang setuju dengan niatan Malin Kundang. Namun akibat terus didesak, akhirnya beliau menyetujui kepergian anaknya.“Anakku, jika engkau berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan, jangan lupa dengan ibumu dan kampung halamanmu ini, Nak,” pesan Ibu Rubayah pada anaknya, Malin Kundang.Beberapa hari kemudian, Malin Kundang pergi meninggalkan sang ibu dan kampung halamannya. Setiap harinya, tak henti-hentinya sang ibu selalu mendoakan kesuksesan dan keselamatan Malin Kundang selama di perantauan. Ia pun selalu berharap agar anaknya cepat kembali.Bertahun-tahun merantau, Malin tidak pernah mengabarkan keadaannya ke IbunyaSelama berada di dalam kapal, Malin Kundang banyak belajar ilmu mengenai pelayaran. Ilmu tersebut lantas ia terapkan sesampainya di negeri seberang. Bertahun-bertahun ia bekerja dengan keras hingga kini menjadi orang kaya yang memiliki banyak kapal dagang.Meski begitu, ternyata tak pernah sekalipun Malin Kundang mengirimkan surat atau bertukar kabar dengan ibunya. Seolah Malin Kundang telah melupakan keberadaan ibunya di kampung.Malin Kundang telah sukses dan menikah dengan putri bangsawanTak lama kemudian, Malin Kundang mempersunting salah seorang putri bangsawan. Berita mengenai Malin Kundang yang telah kaya raya dan menikah, sampai ke telinga sang ibu. Beliau merasa bersyukur dan sangat gembira bahwa anaknya telah berhasil di perantauan dan kini hidup Makmur.Sejak saat itu, ibu Malin Kundang selalu menunggu setiap harinya di dermaga. Ia menantikan anaknya yang mungkin akan pulang ke kampung halamannya.Malin dan istrinya kembali ke kampung halamanHingga pada suatu hari, Malin Kundang dan istrinya melakukan pelayaran menuju kampung halamannya. Penduduk desa kemudian menyambut kedatangan kapal besar tersebut. Sang Ibu yang saat itu memang berada di dermaga melihat ada sepasang suami istri yang tengah berdiri di atas geladak kapal yang besar.Ibu Rubayah yakin bahwa mereka adalah anaknya yang sudah lama pergi merantau beserta sang istri.Tak lama, ketika kapal tersebut berhenti, Malin Kundang pun turun. Ia langsung disambut oleh ibunya yang sudah lama menantinya pulang.Malin Kundang dipeluk Ibunya, tapi Malin mendorongnya hingga terjatuh“Malin Kundang, anakku! Mengapa kau pergi begitu lama tanpa pernah mengirimkan kabar?” tanya sang ibu sambil memeluk Malin Kundang.Namun yang terjadi berikutnya, Malin Kundang malah melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh.“Wanita tidak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku,” kata Malin Kundang kepada ibunya. Malin Kundang ternyata pura-pura tidak mengenali ibunya, ia malu karena ibunya sudah tua dengan memakai pakaian yang compang-camping.“Wanita itu ibumu?” tanya istri Malin Kundang.“Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan hartaku,” sahut Malin Kundang kepada istrinya.Ibu Malin Kundang sangat sedih dan berdoa kepada AllahSang ibu yang mendengar perkataan tersebut dan diperlakukan semena-mena oleh anak kandungnya sendiri, lantas merasa sedih sekaligus marah.Ia tidak menduga bahwa anak semata wayang yang sangat ia sayangi kini berubah menjadi anak durhaka yang tidak mengenali ibunya sendiri. Tak lama kapal Malin Kundang kemudian perlahan menjauhi tepi pantai.Karena kesedihan dan kemarahannya yang memuncak, ibu Malin Kundang kemudian menengadahkan kedua tangannya sambil berdoa, “Ya Allah Yang Maha Kuasa, kalau ia bukan anakku, aku akan memaafkan perbuatannya tadi. Tapi jika ia memang benar anakku, Malin Kundang, aku mohon keadilan-Mu.”Kapal milik Malin terkena petir dan karam di lautanSeketika, tak lama setelah sang ibu berdoa kepada Allah, langit pun menjadi gelap. Angin tiba-tiba berhembus kencang dan terjadilah hujan badai. Kapal milik Malin Kundang yang sudah berlabuh langsung terkena petir besar, dan kemudian pecah dihantam gelombang besar. Bangkai kapal kemudian terempas ombak yang bergulung-gulung hingga ke tepi pantai.Tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan berubah menjadi batuBersamaan dengan datangnya badai, tubuh Malin Kundang perlahan-lahan menjadi kaku dan lama kelamaan berubah menjadi sebuah batu.Saat matahari pagi mulai memancarkan sinarnya, hujan badai telah reda. Di kaki bukti, tampaklah kepingan kapal yang telah menjadi batu.Tak jauh dari sana, tampak sebuah batu yang menyerupai sosok manusia. Konon katanya, itulah tubuh Malin Kundang, si anak durhaka yang terkena kutukan akibat tak mau mengenali ibu kandungnya sendiri.Sementara itu, di sela-sela batu berenanglah ikan-ikan teri, blanak, dan tenggiri. Kabarnya ikan-ikan tersebut berasal dari serpihan tubuh sang istri yang terus mencari Malin Kundang.Malin Kundang is a Padang folktale about retribution on an ungrateful son. Located on Air Manis Beach.Patung Malin Kundang yang sebenarnya/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Rahthino GiovanniRingkasan dongeng Malin Kundang singkatBegitulah dongeng terkenal Malin Kundang yang menceritakan mengenai Ibu Rubayah dan anaknya. Malin Kundang yang semula harus hidup miskin bersama sang ibu, akhirnya memutuskan pergi merantau ke negeri seberang dengan harapan dapat menjadi orang kaya.Bertahun-tahun merantau dan tanpa pernah memberikan kabar kepada sang ibu, Malin Kundang pergi mengunjungi kampung halamannya bersama sang istri yang merupakan anak bangsawan.Namun, Malin Kundang sama sekali tak mau mengenali ibunya karena terlihat tua, lusuh, dan berpakaian compang-camping. Ia sangat malu kepada istrinya untuk mengakui wanita tersebut adalah ibu kandungnya. Maka kemudian, akibat rasa sedih dan marah, ibu Malin Kundang berdoa kepada Allah, tak lama Malin Kundang dikutuk menjadi sebuah batu. Kapalnya pecah diterjang ombak.

Cerita Rakyat Timun Mas
Folklore
25 Nov 2025

Cerita Rakyat Timun Mas

Dongeng kisah tentang seorang gadis bernama Timun Mas ini berasal dari daerah Jawa. Singkatnya, kisah ini menceritakan tentang seorang anak perempuan yang memiliki hati yang sangat baik, wajah cantik, serta pemberani. Timun Mas dan ibunya bersama-sama melawan raksasa jahat yang ingin memakan Timun Mas.Kisah ini sudah diceritakan berulang kali dan merupakan salah satu kisah legenda asal Indonesia yang sangat populer. Yuk, ceritakan kembali kisah ini pada si kecil agar mereka tahu betapa uniknya dongeng-dongeng asal Indonesia!Selamat membaca!Pada suatu hari, di sebuah desa di daerah Jawa Tengah, ada seorang janda paruh baya yang tinggal sendirian. Wanita tua ini bernama Mbok Srini, suaminya sudah meninggal sejak lama dan ia tidak memiliki anak. Mbok Srini menghabiskan hari-harinya seorang diri dan setiap harinya ia merasa bosan serta jenuh karena ia tidak memiliki seseorang untuk menemaninya.Mbok Srini sejak dulu sangat ingin punya anak. Namun, impiannya yang satu ini memang tidak pernah bisa terwujud. Ditambah lagi, sekarang ia tidak memiliki seorang suami, kemungkinan ia memiliki anak pun tentu saja menjadi hilang. Mbok Srini hanya bisa menunggu keajaiban menghampirinya agar ia bisa memiliki anak. Mbok Srini selalu berdoa pada Tuhan tiap pagi, siang, dan malam hari agar Tuhan bisa melihatnya dan mengkaruniakan Mbok Srini seorang anak.Lalu, pada suatu malam, Mbok Srini memimpikan seorang raksasa yang menyuruhnya pergi mengambil sebuah bungkusan di bawah pohon besar di hutan tempat biasanya ia mencari kayu bakar. Saat ia terbangun di pagi hari, tentu saja Mbok Srini merasa kebingungan dengan arti mimpi itu. Dengan berbagai keraguan dan rasa penasaran di benaknya, Mbok Srini tetap berjalan ke hutan dan mengikuti perasaannya. Saat ia tiba di hutan ia mencari bungkusan yang berada di bawah pohon besar—seperti yang ada di mimpinya semalam.Sebenarnya, Mbok Srini berharap bungkusan yang hendak ia temukan ini berisi bayi, tapi yang justru ia temukan hanyalah sebutir biji timun. Hatinya pun kecewa dan merasa sedih. Tiba-tiba, ada seorang raksasa yang menghampirinya sambil tertawa terbahak-bahak. “Apa maksudmu memberikanku sebutir biji timun?” Tanya Mbok Srini seraya berteriak tapi tetap menahan emosinya. Saat Mbok Srini memperhatikan raksasa itu, ternyata raksasa itulah yang semalam menghampirinya.Mbok Srini pun merasa ketakutan, ia merasa raksasa itu akan memakannya. Mbok Srini pun memohon agar raksasa itu merasa iba dan membiarkannya tetap hidup. “Tenang, jangan takut. Aku tidak akan memakanmu, wanita tua!” Ucap raksasa itu. Ternyata, raksasa ini meminta Mbok Srini menanam biji timun yang ia berikan. Katanya, ia akan dihadiahkan seorang anak perempuan jika ia menanamnya. Namun, saat anak itu sudah dewasa, Mbok Srini harus memberikan anak itu kembali pada raksasa karena ia akan memakannya. Karena Mbok Srini sangat menginginkan seorang anak, ia menyetujui perjanjian itu.Saat kembali ke rumah, Mbok Srini menanam biji timun itu ke ladang rumahnya. Mbok Srini merawat biji timun itu dengan sangat baik tiap harinya. Dua bulan kemudian, tanaman itu pun mulai berubah, dan tanaman timun itu hanya berbuah satu. Semakin hari, buah timun spesial ini menjadi semakin besar, lebih besar dari buah timun pada umumnya. Warnanya pun menunjukkan warna kuning keemasan, terlihat cantik.Saat buah timun itu sudah sangat besar, Mbok Srini memetiknya dan saat terbelah, ada seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Mbok Srini sangat bahagia mendengar suara tangisan bayi itu. Ia pun memberikan nama Timun Mas. Mbok Srini merasa sangat senang sehingga ia lupa bahwa ia pernah membuat janji pada raksasa ia akan memberikan bayi ini padanya suatu hari nanti. Mbok Srini membesarkan Timun Mas dengan kasih sayang dan kesabaran. Timun Mas tumbuh menjadi seorag perempuan yang cantik, baik, serta sangat cerdas.Pada suatu malam, Mbok Srini kembali bermimpi didatangi raksasa yang memberikan pesan bahwa dalam waktu seminggu, ia akan menjemput Timun Mas. Sejak saat itu, Mbok Srini sering termenung sedih sendirian. Ia terus memikirkan bahwa ia akan berpisah dengan anaknya yang sangat ia sayangi. Terkadang, air mata jatuh ke pipinya tanpa ia sadari. Ternyata, Timun Mas sering memperhatikan ibunya yang sedih ini, lalu ia pun bertanya pada Mbok Srini, “Ibu, kenapa akhir-akhir ini Ibu sering sekali menangis?” Awalnya, Mbok Srini tidak ingin bercerita pada anaknya, tapi karena Timun Mas mendesaknya dan terus bertanya, Mbok Srini pun menceritakan kisah asli kelahiran Timun Mas. Mbok Srini juga menceritakan bagian bahwa ia harus mengembalikan Timun Mas ke seorang raksasa dan beberapa malam sebelumnya raksasa itu menghampiri ia kembali ke dalam mimpi.Timun Mas pun merasa sedih dan ia tidak ingin Mbok Srini mengembalikannya ke sang raksasa. Akhirnya mereka berdua berpikir dan mencari cara agar Timun Mas bisa bebas dari sang raksasa. Di hari Timun Mas harus dikembalikan, tiba-tiba Mbok Srini terpikir sebuah cara. Mbok Srini meminta Timun Mas berpura-pura sakit agar sang raksasa tidak ingin memakannya. Beruntung, car aini cukup berhasil untuk mengulur waktu, sang raksasa akan datang kembali saat Timun Mas sudah sembuh.Sebelum rakasasa itu datang kembali, Mbok Srini memikirkan bagaimana cara agar anaknya bisa terbebaskan. Paginya, Mbok Srini bertemu seorang pertama di gunung, ia adalah teman suaminya yang sudah meninggal. Sesampainya di sana, Mbok Srini langsung menceritakan soal kondisinya dan ia ingin mengusir raksasa itu. Sang pertapa itu memberikan Mbok Srini empat bungkusan kecil. Katanya, bungkusan-bungkusan ini berisi biji timun, jarum, garam, dan terasi. Sang pertapa menyuruhnya memberikan empat bungkusan ini pada anaknya dan jika sang raksasa mengejarnya, sebarkan isi bungkusan-bungkusan ini.Setelah itu, Mbok Srini pun pulang dengan perasaan sedikit lega, setidaknya ia sekarang sudah memiliki rencana. Beberapa hari kemudian, raksasa ini datang kembali untuk menjemput Timun Mas. Mbok Srini dan Timun Mas pun berdiri berdampingan tanpa rasa takut. Timun Mas tiba-tiba berlari sekencang-kencangnya dan raksasa itu mengejarnya. Setelah berlari cukup jauh Timun Mas menaburkan biji yang diberikan ibunya. Sungguh ajaib, hutan di sekelilingnya tiba-tiba berubah menjadi ladang timun. Dalam sekejap, batang timun tersebut menjalar dan melilit seluruh tubuh raksasa itu. Namun, raksasa itu mampu melepaskan diri dan kembali mengejar Timun Mas.Timun Emas pun segera melemparkan bungkusan yang berisi jarum. Dalam sekejap, jarum-jarum berubah menjadi banyak pohon bambu yang tinggi dan runcing. Namun, raksasa itu mampu melewatinya dan terus mengejar Timun Mas, walau berdarah-darah karena tertusuk bambu tersebut.Melihat usahanya belum berhasil, Timun Mas membuka bungkusan ketiga yang berisi garam lalu menebarkannya. Seketika itu pula, hutan yang telah dilewatinya tiba-tiba berubah menjadi lautan luas dan dalam, namun raksasa itu tetap berhasil melaluinya dengan mudah. Timun Emas pun cemas, karena senjatanya hanya tersisa satu. Jika senjata tersebut tidak berhasil melumpuhkan raksasa itu, maka raksasa itu akan berhasil menangkap dan memakannya.Dengan harapan untuk selamat yang sangat besar, Timun Mas pun melemparkan bungkusan terakhir yang berisi terasi. Seketika tempat jatuhnya terasi itu tiba-tiba berubah menjadi lautan lumpur yang mendidih. Raksasa itu pun terkalahkan karena tercebur ke dalam lautan lumpur dan ia tewas dengan sangat cepat.Melihat itu, Timun Mas langsung berlari menuju ke rumahnya untuk bertemu dengan ibunya. Melihat anaknya selamat, Mbok Srini pun langsung berucap syukur kepada Tuhan dan sejak itu, Mbok Srini dan Timun Mas hidup berbahagia.

Cerita rakyat Sangkuriang, Jawa Barat
Folklore
25 Nov 2025

Cerita rakyat Sangkuriang, Jawa Barat

Cerita rakyat ini berasal dari Jawa Barat dan mengisahkan tentang seorang anak yang suka atau cinta terhadap ibu kandungnya sendiri. Seperti apa kisahnya?Legenda SangkuriangHidup seorang wanita cantik jelita bernama Dayang Sumbi. Ia menikah dengan anjing yang sebenarnya merupakan jelmaan raja. Anjing tersebut diberi nama Tumang.Mereka memiliki seorang anak yang diberi nama Sangkuriang. Sangkuriang sangat tidak suka dengan Tumang. Namun Dayang Sumbi selalu menyuruh Tumang ikut kemanapun Sangkuriang pergi, termasuk ketika Sangkuriang pergi ke hutan.Karena memang Sangkuriang merasa tidak suka dengan Tumang, ketika ada kesempatan ia malah membunuh Tumang. Sangkuriang yang pulang kerumah dengan berlumuran darah tentu ditanya Dayang Sumbi apa yang terjadi.Ketika Sangkuriang sudah menjelaskan semua yang terjadi, Dayang Sumbi tentu sangat marah. Dayang Sumbi menggetok kepala Sangkuriang dengan entong nasi dan mengusir Sangkuriang. Sangkuriang pun pergi. Namun sebenarnya jauh di lubuk hati Dayang Sumbi, ia sangat menyesal dengan apa yang terjadi saat ini apalagi sampai membuatnya mengusir sang putra.Waktu pun berlalu. Bertahun – tahun kemudian, Sangkuriang pergi kembali ke desa. Sangkuriang berharap bisa bertemu sang ibu. Namun di desa, ia malah bertemu seorang wanita cantik yang parasnya mirip ibunya namun ia berpikir bahwa itu bukan ibunya karena menurut perkiraan Sangkuriang harusnya sekarang ibunya sudah tua.Terus menerus bertemu, Sangkuriang menyukai Dayang Sumbi. Ia pun melamar Dayang Sumbi. Namun ketika Sangkuriang melamar Dayang Sumbi, saat itu juga ia sadar bahwa pria yang ada di hadapannya itu adalah sang putra. Ia menyadari karena saat itu pria di hadapannya tersebut melepas ikat kepalanya dan di sana tampak jelas ada bekas getokan entong yang dulu pernah ia lakukan.Dayang Sumbi pun berusaha mencari alasan dan cara agar Sangkuriang mengurungkan niat menikahinya. Dayang Sumbi pun mengajukan sebuah syarat.Sangkuriang harus mampu membuat bendungan dan sekaligus perahunya dalam satu malam. Sangkuriang yang sakti dan memang mencintai Dayang Sumbi menyanggupi permintaan tersebut.Hari dimana Sangkuriang harus memenuhi syarat yang diajukan Dayang Sumbi tiba. Ia melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Ketika pekerjaan itu hampir selesai, Dayang Sumbi memerintahkan pasukannya menggelar kain sutera berwarna merah di sebelah timur kota.Hal tersebut membuat Sangkuriang mengira hari sudah pagi. Namun karena hal tersebut, Sangkuriang mengira bahwa ia sudah gagal memenuhi syarat Dayang Sumbi. Ia pun menendang perahu dengan kekuatannya dan perahu tersebut terbalik hingga kemudian membentuk sebuah gunung besar yang terkenal dengan nama Tangkuban Perahu.Ada sumber yang mengatakan perahu terbalik tersebut menjadi gunung karena kekuatan Sangkuriang dibantu para jin. Namun ada sumber lain yang mengatakan perahu terbalik tersebut menjadi gunung karena peristiwa endapan. Perahu yang terbalik tersebut dibiarkan lama dan akhirnya dipenuhi tanah, pasir, lumpur dan juga lumut hingga membentuk gunung besar beberapa ratus tahun setelahnya.Dari cerita di atas kita belajar bahwa tidak ada seorang ibu yang menginginkan hal buruk terjadi pada anaknya. Seorang ibu pasti berusaha mendidik anaknya dengan baik. Seorang anak juga harus memperlakukan orang tuanya dengan baik.Kisah cinta ibu dan anak merupakan cinta yang di dalamnya ada tali kasih untuk saling menyayangi bukan untuk saling memiliki.

Dongeng Nusantara Pendek : Legenda Putri Pinang Gading
Folklore
21 Nov 2025

Dongeng Nusantara Pendek : Legenda Putri Pinang Gading

Alkisah pada masa silam di daerah Membalong, Bangka Belitung, hiduplah sepasang suami istri yang sudah cukup berumur. Walaupun telah lama menikah, pasangan suami istri itu belum dikaruniai keturunan.Sehari hari mereka bekerja bersama mencari ikan sambil menanam padi di sawah mereka yang tak seberapa besar.Meski kehidupan mereka tergolong miskin, suami istri itu hidup bahagia.Pada suatu ketika, sang suami pamit hendak melihat sero ikannya yang dipasang di pinggir laut.Alat penangkap ikan berupa bilik bilik dengan lubang kecil sebagai pintu masuk itu biasa dipanen ketika air laut tengah surut.Dengan membawa keranjang, sang suami berangkat pagi itu.Ketika hendak mendekati seronya, sang suami merasa kakinya menyentuh sesuatu.“Apa ini?”, kata sang suami sambil menunduk memperhatikan sebuah benda yang berada dekat kakinya.“Ah, ternyata sebilah bambu..”, gumamnya sambil mengambil bambu yang tak seberapa besar itu. Sang suami mengamati bambu itu sebentar sebelum melemparkannya ke laut.Sang suami sungguh gembira melihat seronya yang dipenuhi ikan. Ia segera memindahkan ikan ikan itu ke dalam keranjang yang dibawanya. Ketika tengah asyik bekerja, sang suami kembali merasa kakinya menyentuh sesuatu. Ia menunduk untuk melihat benda apakah gerangan itu.“sebilah bambu lagi ?’, gumamnya pelan. “Banyak sekali bambu di sekitar sini..”, pikirnya heran.Sang suami mengambil bambu itu, mengamatinya sebentar dan melemparkannya ke tengah laut.Usai sudah pekerjaan sang suami. Semua ikan dari seronya telah dipindahkan ke dalam keranjang. Ketika hendak beranjak pulang, lagi lagi sang suami merasa kakinya menyentuh sesuatu. Sungguh heran, dilihatnya sebilah bambu berada dekat kakinya. Sang suami segera mengangkat bambu itu dan mengamatinya.“Aneh sekali…”, gumamnya heran. “Ini kan bambu yang tadi kulempar kelaut..”, pikirnya sambil membolak balik bambu itu. “Bagaimana ia kembali kesini sementara laut sedang surut ?”, sang suami tak habis pikir akan bambu yang beberapa kali menyentuh kakinya itu.Ia memutuskan untuk kembali melempar bambu itu ke tengah laut.Namun demikian bambu itu seakan mengikuti sang suami. Entah darimana datangnya, tiba tiba kaki sang suami kembali menyentuh bambu itu.“Sungguh aneh..”, pikirnya sambil meraih bambu itu. “Mengapa bambu ini seakan mengikutiku ?”, sang suami merasa sangat heran.“Jangan jangan ini bambu ajaib. Sebaiknya kubawa pulang saja”, ujarnya pelan sambil mengikat bambu itu diatas keranjang ikannya.Saat tiba di rumah, sang suami lupa menceritakan perihal bambu itu kepada istrinya. Iapun tak melepaskan bambu itu dari keranjang ikannya. Sang suami bahkan tak tahu kalau istrinya menggunakan bambu itu sebagai penahan padi yang tengah dijemur agar tak diterbangkan angin.Beberapa hari kemudian, ketika tengah duduk bersantai menikmati matahari pagi, pasangan suami istri itu dikejutkan oleh sebuah suara ledakan. Mereka segera bangkit berdiri dan mencari asal suara. Ketika sampai di samping rumah, pasangan suami istri itu terkejut melihat seorang bayi perempuan diatas tumpukan padi.Didekatnya terlihat sebilah bambu yang dibawa pulang sang suami tempo hari terbelah dua.“Lihat Pak….”, teriak sang istri sambil berlari menghampiri bayi perempuan itu. “Bambu itu memberi kita seorang bayi rupanya..”, katanya lagi sambil meraih bayi itu.Sang suami teringat akan bambu ajaib yang ditemukannya dipinggir laut. “Rupanya benar bambu itu adalah bambu ajaib..”, pikir sang suami senang.Ia sangat gembira Tuhan mengaruniakan mereka seorang anak dengan perantaraan bambu itu.Sang istri menimang nimang bayi perempuan yang berparas cantik itu dalam gendongannya. Mereka membawa bayi itu ke dalam rumah. Hari terus berlalu. Sepasang suami istri itu merawat bayi mereka dengan baik dan memberinya nama Putri Pinang Gading. Keduanya sangat mencintai bayi itu.Tak terasa Putri Pinang Gading telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang cantik jelita. Ia memiliki kesukaan yang jarang dimiliki anak perempuan. Kesukaannya memanah sedari kecil membuat Putri Pinang Gading menjadi seorang pemanah ulung. Keahliannya itu digunakannya untuk berburu. Ayahnya dengan setia selalu menemaninya ketika putri semata wayangnya itu hendak pergi berburu ke hutan.Pada suatu hari terdengar berita bahwa kampung tetangga mereka mendapat serangan seekor burung buas yang bertubuh besar. Bukan hanya hewan ternak yang dimangsanya, burung itu bahkan telah memangsa seorang penduduk. Akibatnya tak ada warga yang berani keluar rumah. Putri Pinang Gading sangat prihatin mendengar berita itu. Ia berniat menggunakan keahliannya memanah untuk menolong.“Ayah, aku ingin sekali menolong kampung tetangga kita..”, ujar Putri Pinang Gading ketika tengah menyantap makan malamnya. Sang ayah terkejut. Begitu pula dengan ibunya. Bukan mereka tak menghargai niat baik putri mereka, namun bahaya yang mengancam membuat pasangan suami istri itu takut kehilangan Putri Pinang Gading.“Sebaiknya kau berpikir lagi putriku…”, ujar sang ayah berusaha membujuk. “Ayah dengar burung itu besar dan ganas. Ayah takut kau dimangsanya nak..”, tambahnya lagi.“Iya putriku, benar apa yang dikatakan ayahmu..”, kata sang ibu dengan suara menahan tangis. “Kami takut terjadi sesuatu padamu nak..”.Putri Pinang Gading tetap pada pendiriannya. Ia yakin mampu menolong kampung tetangganya itu. Orang tuanyapun akhirnya menyerah. Meski dengan berat hati, sepasang suami istri itu mengijinkan Putri Pinang Gading berangkat ke kampung tetangga esok pagi.Malam itu juga Putri Pinang Gading menyiapkan busur dan anak anak panah yang telah dilumuri racun. Sang ayah ikut membantu putrinya. Mereka menyiapkan semuanya dengan hati hati. Setelah persiapannya dirasa cukup, Putri Pinang Gading segera tidur agar dapat berangkat pagi pagi sekali.Setelah menempuh perjalanan setengah hari, Putri Pinang Gading tiba di kampung tetangga. Suasana kampung itu sungguh sepi karena tak ada seorangpun yang berani keluar rumah.“Jika begini terus, lama lama penduduk kampung ini akan kelaparan”, pikirnya sambil mengamati keadaan sekeliling. “Darimana mereka mendapat bahan makanan jika keluar rumah saja tak berani ??”, gumamnya sedih.Putri Pinang Gading berjalan perlahan lahan menyusuri kampung dengan waspada. Ia memilih berjalan di bawah pepohonan agar kehadirannya tak diketahui Gerude, nama burung besar itu. Setelah berjalan beberapa lama, Putri Pinang Gading memilih menunggu Gerude di bawah pohon besar dipinggir danau. Dugaannya tepat. Tak berapa lama kemudian ia melihat burung ganas itu terbang menukik dan mendaratkan tubuhnya di pinggir danau.Gerude yang tengah asyik minum air danau tak menyadari kalau dirinya sedang diamati. Putri Pinang Gading melihat burung itu dengan seksama dari balik pohon besar di dekatnya. Dengan sangat perlahan, Putri Pinang Gading menurunkan busurnya dan menyiapkan sebuah anak panah beracun. Ketika dirasa saatnya telah tiba, ia segera melepas anak panah yang melesat kencang dan kemudian menancap di dada Gerude. Burung itu terkejut sekali. Ia mengepakkan sayapnya dan terbang dengan mengeluarkan suara yang memekakkan telinga.Racun yang dioleskan Putri Pinang Gading pada anak panahnya bereaksi dengan cepat. Burung ganas itu berteriak kesakitan sambil terbang berputar putar di udara. Tak memakan waktu lama, Putri Pinang Gading melihat Gerude jatuh terhempas di tanah lapang di pinggir danau. Ia mati seketika. Warga yang terkejut mendengar suara Gerude yang keras berhamburan keluar rumah. Mereka ingin tahu apa yang tengah terjadi pada burung itu.Alangkah senangnya warga yang menyaksikan burung ganas yang meresahkan kampung itu telah mati. Kabar matinya Gerude segera tersiar ke seluruh kampung. Penduduk ramai berdatangan mengerumuni mayatnya. Mereka sangat berterimakasih pada Putri Pinang Gading yang telah menolong mereka. Putri Pinang Gadingpun tak kalah gembira. Ia bahagia bisa membunuh burung ganas itu. Dengan demikian penduduk bisa hidup kembali dengan tenang.Alkisah tanah lapang tempat jatuhnya Gerude kemudian berubah manjadi tujuh buah anak sungai. Adapun anak panah yang mengenai dada burung itu berubah menjadi rumpun bambu yang beracun. Oleh masyarakat setempat, pohon bambu itu diberi nama bulo berantu yang berarti bambu beracun. Bambu itu dapat meracuni siapa saja yang bagian tubuhnya tersayat olehnya.

Cerita Rakyat Putri Niwerigading dari Aceh
Folklore
21 Nov 2025

Cerita Rakyat Putri Niwerigading dari Aceh

Cerita rakyat Putri Niwerigading yang sangat terkenal di Aceh merupakan suatu cerita turun temurun yang mengisahkan tentang kehidupan seorang anak bernama Amat Mude yang lahir ketika sang ayah meninggal.Ia kemudian diperlakukan buruk oleh pakciknya sebagai raja yang berkuasa saat itu. Amat Mude pun tumbuh dengan perlakuan buruk tersebut namun ia menjadi orang yang tetap berbuat baik dan sabar dengan kehidupannya .Lalu apa yang terjadi dengan Amat Mude dan siapa Putri Niwerigading? Yuk simak kisah selengkapnya berikut ini!Di negeri Alas yang termasuk wilayah Nangroe Aceh Darussalam, dahulu hidup seorang raja bijaksana yang sangat dicintai rakyatnya. Ia memerintah dengan adil dan bijaksana.Namun sayangnya, kehidupan raja tidak berjalan mulus karena ia tidak kunjung dikaruniai seorang putera. Meski begitu, raja tidak putus asa. Ia masih tetap berdoa sambil berpuasa hingga suatu hari, permaisuri mengandung.Setelah sembilan bulan kemudian, permaisuri pun melahirkan seorang putera yang diberi nama Amat Mude. Hanya saja belum genap umur setahun, sang raja meninggal dunia. Karena Amat Mude yang bakal meneruskan tahta sang ayah masih bayi, adik raja yang akhirnya meneruskan tahta sang raja untuk sementara.Adik raja tersebut bernama Raja Muda. Hanya saja setelah diangkat menjadi raja, Raja Muda bertindak semena – mena bahkan terhadap Amat Mude dan ibunya. Mereka diasingkan. Hal tersebut dilakukan Raja Muda lantaran ia berambisi menjadi raja selamanya tanpa digeser oleh Amat Mude kelak ketika Amat Mude dewasa.Meski mendapat perlakuan seperti itu, ibu Amat Mude berusaha tegar dan sabar. Ia membesarkan Amat Mude dengan penuh kasih sayang dan perhatian hingga Amat Mude pun tumbuh menjadi pria yang cerdas dan tampan.Amat Mude suka memancing ikan di sungai. Suatu hari, Amat Mude dan ibunya pergi ke sebuah desa di pinggir hutan untuk menjual ikan hasil tangkapannya. Tak disangka, ia bertemu saudagar kaya. Saudagar tersebut ternyata masih mengenali ibu Amat Mude.Ia pun bertanya, “Mengapa Tuan Putri dan Putra Mahkota berada di tempat ini?”Akhirnya ibu Amat Mude yang dulunya merupakan seorang permaisuri raja ini menceritakan semua kisahnya. Mendengar hal tersebut, sang saudagar kaya mengajak mereka ke rumahnya dan saudagar tersebut pun membeli semua ikan yang dijual oleh Amat Mude dan ibunya.Sesampainya di rumah saudagar, saudagar tersebut menyuruh istrinya memasak ikan. Namun ketika ikan sedang dimasak, ia kaget karena ketika ikan dipotong di bagian perut dari sana muncul telur ikan berupa emas dalam jumlah banyak.Istri saudagar pun menjual emas tersebut ke pasar dan mendapatkan uang dalam jumlah banyak yang kemudian uangnya digunakan membangun rumah untuk Amat Mude dan ibunya. Akhirnya Amat Mude dan ibunya pun memiliki rumah yang layak dan hidup berkecukupan.Cerita tentang Amat Mude dan ibunya yang sekarang sudah mapan dan kaya sampai juga di telinga Raja Muda. Suatu hari, Raja Muda memanggil Amat Mude ke istana. Ia memerintahkan Amat Mude untuk memetik kelapa gading dimana kelapa gading tersebut akan digunakan mengobati penyakit istri Raja Muda.Hanya saja kelapa gading tersebut harus diambil di sebuah pulau yang dihuni banyak binatang buas. Jika tidak berhasil, Amat Mude akan mati. Itulah yang juga diucapkan oleh Raja Muda kepada Amat Mude. Namun karena niat hatinya untuk membantu, Amat Mude pun tak gentar.Setibanya di pantai, Amat Mude duduk termenung. Tiba – tiba muncul seekor ikan besar dihadapannya yang mengaku bernama Si Lenggang Raye. Ikan tersebut didampingi raja buaya dan seekor naga besar.Ternyata ikan tersebut berniat membantu. Berkat bantuan mereka, Amat Mude pun menemukan pohon kelapa gading yang akan dipakai mengobati istri Raja Muda. Ia pun memanjat pohon tersebut. Namun tiba – tiba terdengar seorang perempuan berkata “Siapa pun yang berhasil memetik buah kelapa gading itu, dia akan menjadi suamiku”.Amat Mude terkaget. Ia pun bertanya, “Siapakah Engkau?”“Aku Puteri Niwerigading” ungkapnya.Amat Mude pun cepat – cepat memetik kelapa gading. Setelah turun dari atas, ia pun bertatap muka dengan Puteri Niwerigading dan sangat takjub dengan kecantikannya. Amat Mude pun pulang dan mengajak sang puteri pulang untuk mempersuntingnya.Setelah menikah, Amat Mude beserta sang istri dan ibunya berangkat ke istana untuk memberikan buah kelapa gading kepada sang paman, Raja Muda. Raja Muda sangat heran dengan kedatangan Amat Mude dengan selamat. Akhirnya Raja Muda pun meminta maaf dan sekaligus berterima kasih karena Amat Mude masih mau membantunya.Raja Muda yang sadar dengan kesalahannya pun, berusaha menebus kesalahan dan dosanya dengan menobatkan Amat Mude sebagai Raja Negeri Alas, pengganti dirinya.

 Dongeng Sunda : Kisah Pangeran Pande Gelang
Folklore
21 Nov 2025

Dongeng Sunda : Kisah Pangeran Pande Gelang

Pada zaman dahulu, di sebuah Kerajaan hiduplah seorang Putri Raja yang bernama Arum. Ia memilki paras yang sangat cantik jelita. Banyak Pangeran yang datang untuk menjadikannya Permaisuri. Dari sekian banyak Pangeran, tersebutlah dua orang Pangeran teman perseguruan menginginkan Putri Arum sebagai istrinya. Kedua Pangeran tersebut bernama, Pangeran Sae Bagus Lana dan Pangeran Cunihin. Keduanya memiliki kesaktian yang sama-sama tinggi. Namun, sifat mereka sangat berbeda. Pangeran Sae Bagus Lana memiliki sifat yang sangat baik hati. Sedangkan Pangeran Cunihin sifatnya sangat tercela. Mengetahui perwatakan kedua Pangeran tersebut. Putri Arum memilih Pangeran Sae Bagus Lana.Menerima kenyataan bahwa bukan dirinya yang di pilih Putri Arum, Pangeran Cunihin sangat marah. Karena rasa marah dan malu, ia pun menyusun rencana untuk mengambil kesaktian Pangeran Sae Bagus Lana dan untuk merebut Putri Arum. Suatu hari, ia pun berhasil melaksanakan niat jahatnya. Dengan kesaktian, ia merubah Pangeran Pande Gelang menjadi seorang Kakek Tua yang sangat hitam dan jelek.Pangeran Sae Bagus Lana pun terkejut karena ia berubah menjadi seorang Kakek Tua. Ia pun akhirnya pergi menemui Gurunya untuk meminta petunjuk. Gurunya pun memberikan saran Pangeran Sae Bagus membuat sebuah gelang besar yang bisa di lewati oleh manusia. Jika Pangeran Cunihin dapat melewati Gelang tersebut. Maka, kesaktiannya akan hilang. Dan kesaktian Pangeran Sae Bagus Lana akan kembali dan berubah menjadi Pangeran tampan.Setelah mendengar nasihat dari Sang Guru. Ia pun segera pergi ke sebuah kampung untuk menjadi pembuat gelang. Sejak saat itu lah Pangeran Sae Bagus Lana di sebut dengan Ki Pande Gelang.Pada suatu hari di Bukit Manggis terlihat seorang putri yang sangat cantik duduk terpaku. Tatapan matanya kosong, ia terlihat sedih. Melihat gadis cantik tersebut tidak asing baginya. Ia adalah Putri Arum yang sedang bersedih karena tidak mau menikah dengan Pangeran Cunihin yang terkenal kejam dan jahat. Ki Pande sangat senang melihat kekasihnya. Namun, ia tidak dapat mengatakan yang sebenarnya siapa dirinya.‘’ Tuan Putri?’’ sapa Ki PandeSang Putri tidak menjawab. Dia sangat larut dalam kesedihannya, sehingga tak menyadari kehadiran Kakek itu. Ki Pande pun mengulang apaannya.‘’ Tuan Putri?’’Contoh Dongeng Sunda Kisah Pangeran Pande GelangContoh Dongeng Sunda Kisah Pangeran Pande GelangSang Putri tidak segera menjawab. Ia hanya menoleh memperhatikan dengan penuh seksama lelaki yang berdiri di hadapannya. Kulitnya yang hitam legam. Namun Putri merasa yakin, lelaki itu adalah lelaki baik.‘’ Saya perhatikan dari tadi. Tuan Putri terlihat sangat sedih. Ada apa ?’’ Tanya Ki Pande‘’ Saya memang sedang bersedih. Namun, tidak ada gunanya saya menceritakan masalah ini kepada orang lain.’’ Jawab Putri Arum.‘’ Baiklah Tuan Putri maafkan saya. Saya telah mengganggu dan ikut campur dalam masalahmu!’’ ujar Lelaki tersebut, ia pun bersiap untuk pergi. Namun, tiba-tia Putri Arum mencegahnya.‘’ Tunggu Tuan. Siapa nama mu Tuan?’’ Tanya Lelaki itu.‘’ Aku adalah orang yang membuat gelang. Banyak orang memanggil saya dengan nama Ki Pande. Lalu, Tuan Putri siapa namanu?’’ Tanya Ki Pande.“Namaku Putri Arum,” jawab sang Putri.Kemudian Ia menceritakan keadaan dirinya yang saat ini sedang mengalami masalah.‘’ Saat ini aku sedang bersedih. Sebentar lagi, aku akan di nikahkan dengan seorang Pangeran yang tidak aku cintai. Ia adalah seorang pangeran tampan yang bernama Pangeran Cunihin. Walaupun parasnya tampan rupawan, Pangeran Cunihin sangat bengis dan kejam. Semua orang takut kepada pangeran Cunihin karena memilki kesaktian yang sangat tinggi. Semua keinginan Pangeran Cunihin harus dipenuhi, jika tidak dipenuhi dia tidak segan-segan memberikan hukuman yang sangat berat.’’ Ujar Putri Arum menangis.‘’ Lalu apa yang sedang Tuan Putri lakukan dibukit ini?’’ Tanya Ki Pande.“Saat aku sedang meminta petunjuk dari yang maha kuasa, aku diberi petunjuk agar menenangkan diri di Bukit Manggis. Kelak akan datang seorang pangeran sakti yang dapat menolongku. Tapi, hingga kini pangeran itu tidak kunjung datang. Sebentar lagi, Pangeran Cunihin pasti akan datang ke istana untuk menikahiku.” Jawab Putri Arum mengusap air matanya.Ki Pande mendengarkan cerita Putri Arum dengan seksama, dia mengangguk-angguk tanda paham dengan keadaan yang melanda sang putri.‘’ Sebelumnya maafkan hamba jika terlalu lancang. Namun, bolehkah hamba memberikan saran untuk masalah yang sedang Tuan Putri hadapi?’’ ujar Ki Pande‘’ Silahkan Ki Pande.’’ Jawab Putri Arum penuh harap.‘’ Terima kasih Putri. Menurut hamba. Sebaiknya terima lamaran tersebut.’’ Ujar Ki Pande.‘’ Apa kau sudah gila Ki Pande? Aku harus menerima lamaran dari Pangeran Cunihin? Lelaki yang sangat aku benci! Tidak Ki Pande! Aku tidak mau dipersunting olehnya. Aku tidak mau menjadi istri seorang Pangeran yang jahat.’’ Ujar Putri Arum marah.Ki Pande sangat terkejut melihat kekasihnya marah, tapi dia berusaha tetap tenang‘’ Tenanglah Putri. Saran saya, Tuan Putri terima lamaran itu. Namun, ajukan sebuah persyaratan. Syaratnya adalah Pangeran Cunihin harus melubangi batu keramat supaya bisa dilalui manusia. Katakan saja kepadanya kalau batu keramat itu akan kalian gunakan untuk berbulan madu. Batu itu harus diselesaikan dalam waktu tiga hari dan diletakkan di pesisir pantai.” ujar Ki Pande menjelaskan.“Bukankah syarat itu sangat mudah dilakukan oleh Pangeran Cunihin?” tanya sang Putri.“Tapi tidak semua orang mau melakukannya. Sebab dengan melubangi batu keramat, setengah dari kemampuan orang tersebut akan hilang. Setelah kesaktian Pangeran Cunihin hilang, hamba yang akan melanjutkan rencana ini ” Ki Pande menjawab ke khawatiran Sang PutriMendengar penjelasan dari Ki Pande. Putrid Arum pun akhirnya menyetujui saran yang diberikan tersebut. Ki Pande mengajak Putri Arum ke tempat tinggalnya. Tempat tinggal Ki Pande sangat jauh. Butuh waktu yang cukup lama untuk sampai ke sana. Putri Arum yang tidak biasa berjalan jauh, tampak sangat kelelahan, sudah hampir setengah hari. Mereka belum juga sampai. Tepat ketika sampai di desa tempat tinggal Ki Pande, Putri Arum jatuh pingsan di atas sebuah batu cadas.Para penduduk membantu Ki Pande menolong Putri Arum. Ki Pande Membawa Putri Arum ke rumah salah seorang penduduk dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Salah seorang sesepuh kampung mengatakan bahwa Putri Arum bisa segera pulih jika minum air gunung yang memancar melalui batu cadas.Beberapa penduduk langsung mencari sumber air itu. Sesaat, Keajaiban pun terjadi. Setelah meminum air yang berasal dari batu cadas, Putri Arum langsung sadarkan diri. Setelah kejadian itu, ia dikenal sebagai Putri Cadasari.Ki Pande pun mulai sibuk membuat sebuah gelang yang sangat besar digunakan untuk menghancurkan kesaktian Pangeran Cunihin. Gelang tersebut akan di buat sebesar batu keramat. Jika Pangeran Cunihin sampai melewatina. Maka, seluruh kesaktianya akan hilang dalam sekejap.Karena kesaktian Pangeran Cunihin, ia dapat mengetahui bahwa Putri Arum berada di rumah Ki Pande. Pangeran Cunihin pun segera menemui Putri Arum untuk di jadikan sebagai istrinya.Akhirnya, yang di tunggu-tunggu telah tiba. Putri Cadasari atau Putri Arum mengajukan persyaratannya kepada Pangeran Cunihin. Dengan kesombongannya Pengeran menyanggupi persyaratan tersebut. Dengan kesaktiannya, belum tiga hari. Pangeran Cunihin dapat menyelesaikan batu keramat tersebut. Putrid Cadasari pun mulai gelisah. Pengeran Cunihin dengan sangat mudah menyelesaikannya. Akhirnya, Ki Pande menyuruh Putri Cadasari untuk mengajukan persyaratan kedua. Yaitu Pangeran Cunihin harus melewati lubang batu keramat tersebut. Sementara Ki Pande sudah meletakkan gelang sakti buatannya pada lubang batu tersebut.Dengan sangat angkuh, ia pun melakukan syarat ke dua yang diajukan Putri Cadasari. Dalam sekejap, setelah melewati lubang batu tersebut. Pangeran Cunihin kehilangan kesaktiannya dan berubah menjadi seorang lelaki tua. Dan ki Pande pun berubah menjadi wujud aslinya. Melihat kejadian tersebut membuat Putri Cadasari sangat kebingungan.Akhirnya, Ki Pande pun menjelaskan kejahatan Pangeran Cunihin dan ia berubah menjadi lelaki tua yang berkulit legam. Putri Cadasari sangat berterima kasih karena telah menyelamatkannya dari Pangeran Cunihin. Mereka pun akhirnya menikah dan hidup sangat bahagia.Tempat Pangeran Cunihin menemukan batu keramat itu kini bernama Kramatwatu. Dan batu keramat yang telah berlubang itu dinamakan Karang Bolong.Tempat mengambil batu keramat tersebut kemudian dikenal dengan Kampung Kramatwu, dan batu besar berlubang di pesisir pantai kini dikenal dengan nama Karang Bolong. Sedangkan Tempat sang Putri melaksanakan wangsit di Bukit Manggis, kini orang mengenalnya dengan kampung Pasir Manggu. Sementara tempat Putri disembuhkan dari sakitnya sampai kini bernama Cadasari di daerah Pandeglang, tempat Pangeran Pande Gelang membuat gelang.’

Dongeng Cerita Rakyat dari Bangka Belitung
Folklore
21 Nov 2025

Dongeng Cerita Rakyat dari Bangka Belitung

Diceritakan, hiduplah seorang perempuan tua. Ia tinggal bersama anak tunggalnya, Dempu Awang, di sebuah dusun terpencil, di Mentok. Kehidupan mereka serba kekurangan. Hal inilah yang mendorong Dempu Awang untuk mencari pekerjaan di negeri orang.Dengan berbekal doa restu dari ibunya, Dempu Awang pun berangkat menuju kota pelabuhan. Sepuluh tahun telah berlalu, kini Dempu Awang telah menjadi orang kaya dan beristri cantik. Pada suatu hari, ia berniat menjenguk ibunya dengan membawa serta istrinya. Berangkatlah mereka berlayar dengan sebuah kapal besar yang megah dan indah, menuju Mentok.Singkat cerita, Dempu Awang dapat bertemu dengan ibunya. Namun, ketika melihat ibunya dengan pakaian compang-camping, tiba-tiba ia berubah pikiran dan bertanya dalam hatinya, benarkah itu ibunya. Dempu Awang tak juga menegurnya, maka berkatalah perempuan tua itu, “Dempu Awang, lupakah kau akan ibumu? Mendekatlah, ibu ingin lihat tanda di keningmu, goresan akibat kau terjatuh waktu kecil.”Sambil berkata demikian, ibunya berusaha menyentuh Dempu Awang yang tak bergerak sedikitpun. Dempu Awang dengan cepat menepis tangan gemetar ibunya. Lalu, Dempu Awang mendorong perempuan itu hingga terjatuh.Melihat hal itu, istrinya segera, bersujud di kaki suaminya dan memohon untuk mengakui wanita tua itu sebagai ibunya.Istrinya berkata, “Suamiku, janganlah kau turutkan nafsumu. Bukankah jauh jauh kita ke mari untuk menjenguknya? Aku mohon!” ratap istri Dempu Awang.“Ia bukan ibu kandungku. Ia telah mengaku-ngaku sebagai ibu kandungku, karena harta yang dia inginkan,” jawab Dempu Awang. Mendengar semua itu, hati ibu Dempu Awang sangat terluka. Ia pun berdiri dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa dengan suara yang terbata-bata, “Ya Tuhan, Engkau Maha Kuasa atas segalanya, ampuni hamba yang hina ini. Hukumlah anak yang telah melupakan ibunya sendiri.” Dalam jerit tangisnya, terucaplah kata-kata kutukan terhadap anaknya yang durhaka.Ketika ibunya masih berdoa, Dempu Awang segera bertolak dari pelabuhan. Tidak lama kemudian, tiba-tiba terjadi hujan badai, sehingga menghancurkan kapal mewah milik Dempu Awang. Keesokan harinya, penduduk setempat menemukan bongkahan batu yang sosoknya mirip manusia dan sebuah kapal. Itulah tubuh dan kapal Dempu Awang yang telah berubah wujud menjadi batu. Sementara itu, istrinya dipercaya telah berubah menjadi seekor kera putih.Pesan moral dari Dongeng Cerita Rakyat dari Bangka Belitung adalah Hendaknya kita selalu menghormati ibu dan menerimanya dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Sikap sombong, lupa diri dan malu mengakui ibu kandung sendiri akan membawa bencana.

Dongeng Dari Jawa Barat : Kisah Ki Rangga Gading
Folklore
21 Nov 2025

Dongeng Dari Jawa Barat : Kisah Ki Rangga Gading

Pada Zaman dahulu, disaat kota Tasik masih berupa “dayeuh” (kota) Sukapura, hidpulah seorang bernama Ki Rangga Gading. Dia dikenal sebagai orang yang sangat sakti. Namun sayang kesaktiannya itu dipergunakan untuk merampok dan mencuri. Ki Rangga Gading tidak pernah tertangkap, karena ia bisa merubah tubuhnya menjadi binatang, pohon, batu, atau air.Pada suatu hari, Ki Rangga Gading mencuri kerbau sebanyak lima ekor. Pencurian itu sengaja dilakukannya pada siang hari untuk pamer kesaktian. Warga sekampung pun beramai-ramai memburunya. Karena ketinggian ilmu Ki Rangga Gading, ia mengubah kaki-kaki kerbau menjadi terbalik, sehingga jejak telapak kaki kerbau berlawanan arah. Warga yang mengikuti jejak itu tertipu. Mereka semakin menjauh dari kerbau-kerbau itu.Warga memutuskan mengejar ke pasar. Sebab Ki Rangga Gading pasti akan menjual kerbau itu ke pasar. Tetapi dasar Ki Rangga Gading, ia mengubah tanduk kerbau yang tadinya melengkung ke atas menjadi ke bawah. Kulit kerbaunya yang tadinya hitam diubah menjadi putih. Maka, selamatlah ia dari kejaran massa dan polisi negara yang akan menangkapnya.Tersiar kabar, di Karangmunggal terdapat tanah keramat. Tanah itu mengandung emas. Lahan itu dijaga oleh polisi negara dan para tua-tua kampung agar tidak diganggu. Mendengar kabar itu, Ki Rangga Gading jadi tergiur ingin memilikinya. Ia segera naik ke atas pohon kelapa. Setelah sampai di atas, dibacoknya pelepah kelapa yang diinjaknya. Dengan ilmunya, pelepah itu terbang melayang menuju Karangmunggal.Sampai di Karangmunggal, Ki Rangga Gading mengubah dirinya menjadi seekor kucing agar tidak diketahui oleh polisi negara dan tua-tua kampung. Tentu saja para penjaga tertipu. Kucing jelmaan Ki Rangga Gading itu tenang-tenang saja mengeruki tanah yang mengandung emas itu. Kemudian dimasukkan ke dalam karung yang dibawanya. Setelah karungnya terisi penuh, Ki Rangga Gading segera terbang menggunakan pelepah yang tadi ditungganginya menuju ke kampung tempat persembunyiannya.Sebelum tiba di kampungnya, ia turun ingin berjalan kaki. Di tempat yang sepi, ia istirahat sambil membuka hasil curiannya. Lalu ia mengambil segenggam dan ditaburkan supaya tempat itu menjadi keramat. Sampai saat ini tempat itu dikenal dengan nama Salawu, berasal dari kata sarawu (segenggam).Kemudian Ki Rangga Gading melanjutkan perjalanan. Saat merasa lelah, ia beristirahat. Karung yang berisi tanah emas digantungkan pada dahan pohon. Sampai sekarang tempat itu terkenal dengan nama Kampung Karanggantungan terletak di Kecamatan Salawu. Nama itu berasal dari kata tanah Karangmunggal digantungkan.Ki Rangga Gading melanjutkan perjalanan lagi. Setelah lama berjalan, ia mulai banyak berkeringat. Ia berhenti untuk mandi dulu di suatu mata air. Karung yang dibawanya digantungkan lagi. Tapi karung itu berayun-ayun terus (guntal-gantel) tak mau diam. Sampai sekarang kampung itu dikenal dengan nama Kampung Guntal Gantel.Ketika Ki Rangga Gading sedang asyik mandi, tiba-tiba di hadapannya telah berdiri seorang tua. Wajahnya bercahaya dan menggunakan sorban serta jubah putih, ia seorang ulama yang tinggi ilmunya. Sambil tersenyum orang tua itu berkata, “Sedang apa Rangga Gading, tiduran di atas tanah sambil telanjang, seperti anak kecil saja?”Dongeng Dari Jawa Barat Legenda Ki Rangga GadingKi Rangga Gading terkejut, Ia sangat malu dan mendadak badannya merasa lemas tak berdaya. Ia memelas, “Duh Eyang ampun, tolonglah saya Eyang, saya lemas, tidak tahan Eyang, saya tobat, saya ingin jadi murid Eyang.” Sejak saat itu Ki Rangga Gading menjadi santri di Pesantren Guntal Gantel.Pada suatu ketika, Pesantren Guntal-Gantel tertimbun tanah longsor akibat gempa bumi. Waktu itu, ulama dan santri-santrinya sedang tilem (tidur). Konon, mereka menjadi kodok. Sebab itu tempat tersebut sangat angker, dan dinamakan “Bangkongrarang” berasal dari kata tanah yang dibawa dari karang dan loba bangkong (banyak katak).Sampai saat ini “Bangkongrarang” dan “Guntal Gantel” masih ada, tetapi hanya berupa tumpukan pasir di tengah sawah yang luas. Barang siapa berani masuk dan menginjak lahan itu akan merasakan akibatnya. Bila ada burung terbang melintasi lahan itu, ia akan jatuh dan mati seketika. Bila bulan puasa tiba, di tengah malam saatnya sahur, sering terdengar sayup-sayup dari tempat itu bunyi beduk. Jangan heran sebab itu adalah suara beduk santri-santri dari Pesantren Guntal-Gantel yang tilem dan dipimpin oleh Ki Rangga Gading.Pesan moral dari Dongeng Dari Jawa Barat : Legenda Ki Rangga Gading adalah gunakan ilmu mu untuk hal yang bermanfaat, maka akan banyak orang yang menghargaimu dan membuatmu menjadi orang yang bahagia.

Bayangan di Lembah Kering
Folklore
21 Nov 2025

Bayangan di Lembah Kering

Alya berlari menembus semak berduri, napasnya terputus-putus, lututnya perih, dan udara panas gurun menghantam wajahnya seperti pecahan kaca. Suara tembakan terdengar lagi, memantul di antara tebing batu yang menjulang. Ia menoleh sekilas dan menemukan satu-satunya hal yang membuatnya tetap bergerak, Arga, tepat di belakangnya, wajah penuh debu, tapi matanya masih tajam mengawasi keadaan sekitar."Alya, kiri!" teriak Arga.Ia meloncat ke samping, dan peluru menghantam batu di depan tempat ia berdiri. Pecahan serpihan beterbangan. Tubuhnya goyah. Arga menangkap lengannya, menstabilkan langkahnya. Sentuhan itu cepat, hanya sepersekian detik, tapi cukup membuat jantung Alya berdebar lebih kencang dari ancaman kematian yang mengikuti.Mereka harus terus maju. Sudah tiga hari mereka terjebak di lembah kering ini, berusaha kabur dari kelompok pemburu bayaran yang sebelumnya menculik rombongan ekspedisi tempat mereka bekerja. Dari dua belas orang, hanya mereka berdua yang selamat. Selebihnya entah mati atau diangkut entah ke mana.Tiga orang lain yang kini bersama mereka hanyalah sisa-sisa kekuatan perjuangan, Reno, mantan tentara yang kini pincang setelah terkena ranjau buatan.Sera, mahasiswa magang yang mentalnya mulai retak setelah melihat kematian teman-temannya.Pak Darun, sopir tua yang lebih banyak berdoa daripada berbicara.Mereka bukan kelompok penyelamat yang ideal. Mereka hanyalah manusia-manusia yang belum sempat mati.Alya dan Arga kembali ke tempat persembunyian, celah sempit di antara bebatuan besar. Reno mengintip dari balik batu, wajahnya pucat."Mereka sudah makin dekat," katanya dengan suara pelan. "Aku bisa dengar suara ban mobil dari bawah lembah."Sera menutup telinganya. "Kenapa mereka terus kejar kita? Kita cuma peneliti. Kita bahkan ga ngerti apa yang mereka cari."Pak Darun menjawab lirih, "Karena mereka kira kalian tahu tempat penyimpanan artefak itu. Padahal kita bahkan belum lihat bentuknya."Alya duduk, menahan rasa sakit di kakinya. Debu kering menyatu dengan darah segar. Arga berlutut di depannya, memeriksa luka tanpa meminta izin. Tangan itu cekatan, tapi lembut. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, kini mereka tak menyembunyikan perhatian satu sama lain. Situasinya terlalu kacau untuk pura-pura dingin."Kamu harus berhenti nekat lari seperti itu," gumam Arga.Alya memutar bola mata. "Kamu yang lambat."Bibir Arga terangkat tipis. Sekilas, mereka terlihat seperti orang normal yang sedang bercanda ringan, bukan dua manusia yang dikejar kematian. Reno memperhatikan interaksi itu dengan tatapan half-annoyed seperti orang tua yang muak melihat dua remaja saling jatuh cinta di tengah krisis hidup dan mati.Menjelang malam, suhu turun tajam. Udara menggigit tulang. Mereka berlima berlindung dalam gelap, hanya diterangi cahaya rembulan yang jatuh samar ke lembah. Suara serangga malam bercampur dengan langkah-langkah samar musuh yang semakin mendekat.Alya memejamkan mata, mencoba menenangkan napas. Tapi pikiran tentang tiga hari terakhir terus menghantuinya, jeritan, darah, tubuh-tubuh yang tertinggal, dan rasa bersalah yang mencengkram.Arga duduk tak jauh darinya. Ia menyentuh bahunya, pelan, tidak memaksa. "Tidur sebentar. Aku jaga."Alya membuka mata. "Kalau aku tidur, kamu kapan istirahat?""Kalau kamu mati kecapekan, aku harus lari sendiri. Itu lebih melelahkan."Alya menatapnya, mencoba membaca apakah ini candaan atau kebenaran pahit. Arga hanya menatap balik dengan mata yang tak lelah, hanya tekad. "Kita keluar sama-sama," katanya pelan.Untuk pertama kalinya sejak kekacauan itu dimulai, Alya merasa dirinya masih manusia yang layak diselamatkan.Pagi berikutnya membawa ketegangan baru. Mereka mendengar suara mesin mobil mendekat. Lembah yang sempit memperkuat gema suara itu. Musuh makin dekat."Kita ga bisa diam di sini," kata Reno. "Mereka akan temukan kita.""Lari lagi?" Sera mulai panik. "Aku ga kuat.""Kita turun ke jurang itu," kata Arga sambil menunjuk celah sempit di dasar lembah. "Ada aliran air kecil di bawah. Kalau kita bisa ikuti itu, kita mungkin bisa keluar ke sisi timur.""Turunnya saja sudah bunuh diri," sahut Reno."Aku lebih pilih itu daripada ditembak di sini," timpal Arga.Mereka semua setuju. Pilihan buruk tetap lebih baik daripada tidak punya pilihan sama sekali.Turunan itu curam. Batuan licin. Alya hampir jatuh dua kali, tapi Arga selalu ada satu langkah di belakang, siap menangkapnya. Ketika mereka sampai di dasar, air sungai kecil menyambut, dingin dan jernih.Reno duduk terengah, wajah menahan sakit. Luka kakinya makin parah."Kita ga bisa bawa dia jauh," bisik Sera.Alya menatap Arga. Arga paham tanpa perlu dijelaskan. Ia mendekati Reno."Aku bisa jalan," kata Reno cepat, seolah membacanya. "Tapi kalau mereka sudah dekat, jangan pikirkan aku."Tidak ada yang menjawab.Mereka berjalan menyusuri sungai. Arus air kecil itu mengarah ke celah batu yang membentuk lorong sempit. Cahaya di ujungnya tampak seperti pintu keluar.Lalu terdengar teriakan dari belakang, "Mereka melihat kita!"Peluru memantul di dinding batu. Sera menjerit. Alya dan Arga menarik Reno, memaksanya berjalan lebih cepat. Pak Darun menangkupkan tangan, berdoa sambil berlari. Suara langkah musuh makin nyaring.Saat mereka hampir mencapai celah, Reno melepaskan pegangan."Sudah!" katanya. "Pergi. Sekarang!""Tidak," Alya menolak.Reno mendorong Arga. "Bawa dia. Kalau kalian berhenti, semua mati."Arga menarik Alya paksa. "Alya, jangan keras kepala."Reno berbalik, mengambil posisi bertahan di belakang batu, siap menghadapi musuh seorang diri. Tembakan pertama terdengar. Lalu kedua. Lalu hening.Alya ingin menoleh, tapi Arga menahan wajahnya agar tetap memandang ke depan. "Jangan lihat."Mereka masuk ke celah batu sempit dan merayap hingga akhirnya sinar matahari menyambut mereka di sisi timur lembah. Dari kejauhan terlihat jejak permukiman kecil."Kita selamat," gumam Pak Darun dengan suara gemetar.Alya jatuh terduduk, menangis diam-diam. Arga duduk di sampingnya, tidak menyentuhnya, hanya berada cukup dekat agar ia tahu bahwa ia tidak sendirian."Kita selamat," ulang Arga, kali ini lebih pelan. "Dan kita akan terus hidup."Untuk pertama kalinya dalam tiga hari, Alya percaya itu.

Menampilkan 22 dari 166 cerita Halaman 7 dari 7
Menampilkan 22 cerita