Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

1144

Genre Romance

230

Genre Folklore

228

Genre Horror

228

Genre Fantasy

230

Genre Teen

228

Reset
Putih Salju dan 7 Kurcaci
Folklore
17 Dec 2025

Putih Salju dan 7 Kurcaci

Pada Zaman dahulu kala , ada seorang putri cantik bernama Putri Salju . Dia baik dan lembut serta bersahabat dengan semua hewan .Suatu hari, Putri Salju bertemu dengan seorang pangeran yang menawan. Saat mereka sedang menyanyikan sebuah lagu cinta, ibu tiri Salju Putih yang jahat, sang Ratu, mengawasi mereka . Ratu sangat cemburu dengan kecantikan putri salju .Sehingga dia Sang Ratu memerintahkan pemburu Huntsman untuk membunuh sang putri . Tapi si pemburu Huntsman tidak mau menyakiti Putri Salju. Dia menyuruh sang putri pergi jauh sehingga Ratu tidak akan pernah menemukannya .Putri Salju pergi jauh ke dalam hutan. Dia tersesat dan ketakutan hingga dia menemukan sebuah pondok . Sang putri mengetuk, tapi tidak ada orang di pondok itu . Perlahan dia melangkah masuk .Pondok itu berantakan! Dengan bantuan teman-teman hutannya, Putri Salju membersihkan setiap sudut didalam pondok itu"Mungkin siapa pun yang tinggal di sini akan membiarkan aku tinggal," kata Putri Salju . Di lantai atas, Putri Salju menemukan tujuh tempat tidur kecil. Dia berpikir itu milik anak-anak . Lelah setelah membersihkan seluruh rumah, Putri Salju menguap dan tertidur lelap di ranjang .Sementara itu di sisi hutan yang lain, tujuh Kurcaci berjalan menuju pondok mereka dengan penuh semangat . Setelah bekerja di tambang permata seharian hal yang paling mereka inginkan saat ini adalah beristirahat di pondok mereka yang hangat.Saat Putri Salju terbangun, dia terpesona oleh Tujuh Kurcaci: Dopey, Sneezy, Happy, Grumpy, Doc, Bashful, dan Sleepy . Para kurcaci ingin melindungi putri cantik itu dari ratu yang jahat, jadi mereka mengundang Putri Salju untuk tinggal bersama mereka disana . Untuk merayakannya, mereka bernyanyi dan berdansa semalaman .Di istana, Ratu mengetahui bahwa Putri Salju masih hidup . Dia sangat Marah, dia membuat ramuan ajaib untuk mengubah penampilannya. Rencananya adalah untuk menipu sang putri.Setelah para kurcaci berangkat kerja hari berikutnya, sang Ratu menyamar sebagai wanita pedagang kelontong tua, menawari Putri Salju sebuah apel merah yang indah . Putri Salju mengigit apel itu dan tertidur lelap. Ratu telah meracuninya!Ketika Para Kurcaci pulang, mereka mengejar Ratu ke puncak sebuah gunung yang penuh badai. Tiba-tiba, petir menyambar gunung, membuat sang ratu terjatuh ke dalam jurang dan tidak pernah terlihat lagi.Semetara itu Putri Salju masih terlelap. Tujuh Kurcaci terus menjaganya siang dan malamAkhirnya Pangeran Tampan Putri Salju tiba. Dia telah mencari-cari putri salju ke seluruh penjuru kerajaan . Pangeran membangunkan Putri Salju dengan ciuman cinta sejati. Mantra jahat itu musnah, Putri Salju dan Pangeran kembali ke kerajaan dan hidup bahagia selamanya.

Surat Terakhir yang Menggoreskan Kebahagiaan
Folklore
12 Dec 2025

Surat Terakhir yang Menggoreskan Kebahagiaan

"Anggrietta, Aku tidak akan menggunakan sihirku padamu lagi.""Lho! Tapi kenapa, Zelos?""Ingat kembali kenapa engkau mulai berdansa."Ucapan yang dilontarkan Zelos saat latihan kemarin masih menghantui benaknya. Hal itu dilontarkan Zelos saat mereka sedang berselisih. Anggrietta tidak pernah bermaksud untuk melukai perasaan Zelos saat itu, hanya saja Anggrietta tidak bisa menahan emosinya."Kamu egois sekali, Anggrietta," ia menegur dirinya sendiri, "Padahal, Zelos adalah sosok yang membantumu sampai sejauh ini? Namun apa maksud dari ucapannya kemarin? Bukankah sudah jelas kalau aku berdansa agar memiliki uang untuk biaya perawatan ibuku di rumah sakit? Argh!"Seketika Anggrietta menepuk kedua belah pipinya. Kemudian memutuskan untuk tidak memikirkan hal itu saat ini."Fokus, Anggrietta! Fokus!"Dengan musik yang tengah berputar, ia kembali berdiri.Anggrietta pun mengatur nafasnya kembali. Perlahan mata birunya ia tutup. Kemudian kedua tangannya ia angkat dan meletakkannya di udara. Tangan kirinya sedikit ia lekukkan seolah sedang memeluk seseorang dan tangan kanannya ia julurkan panjang menggantung di udara. Terlihat begitu kokoh seolah kedua tangannya sedang bertumpu pada sesuatu. Kemudian tubuhnya ia lekukkan dan agak condong ke kiri. Posisi itu membuatnya terlihat sangat rapuh namun amat menawan.Anggrietta pun mulai melangkahkan kaki kanannya. Kaki kirinya pun langsung mengikuti seolah tak ingin ketinggalan dalam irama dansa. Langkah-langkah itu beriringan dengan gerakan tubuhnya dan melahirkan sebuah keharmonisan. Memberikan kesan keanggunan dan keindahan yang luar biasa.Setelah selesai dengan latihannya, Anggrietta pun segera pergi dari ruang latihan menuju kamarnya. Ia harus bersiap-siap untuk menghadapi kontes dansa siang ini. Akan tetapi, di atas meja riasnya, Ia melihat secarik kertas yang terlipat rapi. Ia membukanya. Sebuah tulisan tangan dari orang yang sangat ia kenal.Aku akan menunjukkan sesuatu saat kontes akan dimulai. -ZelosSaat itu Anggrietta masih beranggapan bahwa semuanya akan sama seperti biasanya. Namun hingga kontes akan dimulai, Zelos tidak muncul. Dan itu benar-benar membuatnya gusar. Ia terus melihat ke arah belakang dan berharap Zelos akan datang dan memberikannya mantra sihir agar dia bisa berdansa dengan maksimal seperti biasanya.Sayangnya... Zelos tetap tidak muncul, bahkan setelah nomor pesertanya disebutkan oleh moderator. Sesaat ia melangkahkan kakinya menuju panggung, tepuk tangan penonton terdengar riuh. Dan sorakan-sorakan itu menggetarkan ruangan. Mata Anggrietta terbelalak saat menyaksikannya.Jemari Anggrietta gemetaran. Bahkan yang menjadi pasangannya juga ikut khawatir."Mbak Anggrietta baik-baik saja?" bisik lelaki yang menjadi pasangannya."Eh! Iya. Aku baik-baik saja, Om Gilbert. Maaf membuat Anda khawatir.""Pacar Mbak tidak hadir seperti biasanya. Kalian lagi berantem?""Bukan, Om Gilbert! Dia bukan pacar saya! Dan kami tidak sedang berantem!"Reaksi Anggrietta mengundang tawa Gilbert. Sejak menjadi partner dansa, Gilbert memang terkadang suka usil. Namun dibalik keusilannya itu, Gilbert selalu memikirkan Anggrietta."Apa demam panggungmu sudah hilang, Mbak Anggrietta?""Sudah lebih baik. Terima kasih, Om Gilbert." ucapnya sambil tersenyum.Walau Anggrietta sudah merasa baikan dari demam panggungnya, itu bukan yang jadi inti dari permasalahan kali ini. Kali ini ia mau tidak mau harus berdansa sendiri tanpa sihir dari Zelos. Hal itu membuatnya benar-benar takut. Ia takut akan kehilangan segalanya saat gerakannya menjadi kacau balau dan mengecewakan penonton dan juri. Saat ini Anggrietta tidak tahu harus berbuat apa.Sihir yang digunakan oleh Zelos kepadanya membuat dirinya mampu menari dengan sangat baik. Seolah tubuhnya digerakkan oleh sesuatu dan pikirannya hanya tinggal mengikuti saja.Saat ini Anggrietta sendirian. Ia tidak akan bisa menari seperti yang sebelumnya. Mengingat kontes dansa ini tidaklah sebentar, Ia hanya bisa berharap kalau Zelos akan datang disela-sela pertandingan.Setelah semua peserta masuk ke panggung, hiruk-pikuk penonton pun mulai reda. Suasana mulai hening dan para peserta sedang mengatur posisi masing-masing.Gaun berkilau yang ia kenakan sangat cocok dengan kulitnya yang putih bersih. Ditambah rambut hitam yang ia sanggul rapi membuatnya terlihat sangat cantik dan mempesona. Anggrietta Sang Primadona. Begitulah para fans menyebutnya.Musik pun telah diputar, dan kontes dansa pun dimulai. Semua peserta memulai dance routine mereka masing-masing.Begitu juga dengan Anggrietta, walau tanpa sihir, ia harus tetap berdansa. Di dalam kepalanya terus mengingat-ingat gerakan mereka dan berusaha sekuat mungkin untuk tetap konsentrasi agar dansa mereka sinergi dan penyatuannya sempurna. Gilbert menyadari keanehan itu dari raut wajahnya yang terlalu tegang. Walau Anggrietta menyembunyikannya dengan senyuman.Mereka terus berdansa dan berdansa. Menyelesaikan Waltz disusul dengan Quick-Step di babak selanjutnya. Dan kembali ke Waltz di ronde terakhir. Stamina para pedansa pasti terkuras. Namun tidak satu pun dari mereka berhenti menggerakkan tubuhnya. Terus dan terus bergerak, hingga panggung itu terlihat seperti bingkai dengan bunga-bunga yang bermekaran di tengahnya.Lalu, seiring dengan berjalannya waktu, kontes dansa pun berakhir. Para pedansa dengan keringat bercucuran itu kemudian berbondong-bondong keluar dari panggung.Gilbert yang sedari tadi merasakan keanehan itu hendak menyampaikan sesuatu pada Anggrietta."Maaf, Gilbert," ucap Anggrietta, "Maafkan atas penampilanku yang tidak bagus hari ini."Gilbert tidak bisa berkata apa pun.Anggrietta dengan langkah yang cepat berjalan menuju koridor. Di saat ia hendak masuk ke ruang ganti, Zelos terlihat di sana. Disampingnya terdapat seorang wanita tua yang duduk di kursi roda. Wanita tua itu sambil tersenyum lebar dan berkata kepada Anggrietta,"Gerakanmu benar-benar indah, Anggrietta. Ibu... sangat bahagia." air matanya pun meleleh.Tangis Anggrietta meledak. Ia langsung berlari seperti anak kecil sambil menangis histeris. Tangannya meraih tubuh sang ibu dan memeluknya erat. Sang Ibu hanya bisa mengelus kepala anak perempuannya dengan lembut. Dan setelah tangisan anaknya mulai reda, sang ibu pun menyeka air matanya."Sudah... sudah... nanti kecantikanmu akan hilang jika menangis terus." ujar Ibu."Maafkan Anggrietta, Bu. Hari ini... Anggrietta tidak berdansa dengan baik." ucapnya terbata-bata diselingi isakan tangis."Yang menilai bagus atau tidaknya sebuah dansa bukanlah pedansa itu sendiri, tapi dewan juri," sela Zelos, "Kontes belum selesai sampai mereka mengumumkan siapa pemenangnya. Sekarang kembalilah dan temui Gilbert. Apapun hasilnya, hadapi dengan dada yang membusung."Ucapan Zelos bagaikan cahaya yang memberikan harapan di dalam hati Anggrietta. Namun ia tidak ingin berpisah dengan ibu nya saat ini."Pergilah Anakku. Ibu baik-baik saja."Namun, perkataan sang ibu membulatkan tekad anak perempuannya itu. Anggrietta kembali menemui Gilbert sambil menanti pengumuman pemenangnya.Tak lama kemudian, Moderator pun mulai mengumumkan pemenang kontes dansa yang digelar saat ini. Pengumuman pemenang di mulai dari peringkat terakhir. Nomor peserta terus disebut satu persatu. Namun nomor urut mereka belum juga disebutkan. Anggrietta hanya bisa pasrah mengingat penampilannya yang tidak seperti biasanya."Untuk peringkat kedua, Beri sorak gembira kepada Nomor urut sepuluh, Erix Reyes dan Armita!" lanjutnya, "Dan untuk peringkat pertama, Berikan selamat kepada nomor urut delapan, Gilbert dan Anggrietta!""Tunggu... Kita... menang?" ucap Anggrietta tidak percaya, "Bagaimana mungkin?"Gilbert langsung mencubit pipi gadis yang menjadi pasangannya."Apa yang kamu bicarakan, Mbak Anggrietta? Hari ini adalah penampilan terbaikmu. Saya bahkan sampai terkagum-kagum melihat betapa sempurnanya gerakanmu hari ini."Anggrietta yang tidak menyangka hal ini, jatuh dalam kebahagiaan yang tidak bisa ia bayangkan. Air matanya deras mengalir. Padahal bukan sekali saja ia memenangkan kejuaraan dansa. Entah mengapa kejuaraan kali ini sangat memberikan kesan yang luar biasa bagi dirinya."Mbak Anggrietta." Gilbert pun mengulurkan tangannya kepada Anggrietta bak pangeran yang menyambut putri kerajaan. "Ini adalah hasil yang sesuai dengan firasat saya hari ini."Mereka pun bergandengan tangan berjalan menuju barisan para pemenang. Sorak sorai penonton menjadi liar setelah primadona mereka berhasil memenangkan kejuaraan. Ucapan-ucapan selamat terus bertebaran tanpa henti kepada para pemenang khususnya kepada peringkat pertama.Dan kejuaraan kali ini pun berakhir.Setelah selesai dengan urusan kejuaraan itu, Gilbert pergi karena ada suatu urusan. Sementara Anggrietta kembali menemui ibunya. Setibanya di sana, ia tidak melihat Zelos."Ibu..." Anggrietta memeluk ibunya sebentar, "Di mana lelaki yang bersamamu tadi?""Ini..." Sang Ibu menyerahkan sebuah karangan bunga dengan sepucuk surat berada di atasnya.Setelah menerima karangan bunga itu, Anggrietta langsung membuka amplop dan membaca suratnya.Untukmu, Anggrietta,Selamat atas kemenanganmu hari ini.Aku tidak pernah menyangka kalau gadis super introvert dan sangat pemalu dahulu, kini menjadi gadis yang bersinar sangat terang di panggung dansa. Bahkan telah menjadi pedansa yang terkenal di kotanya sendiri. Sifatnya yang kikuk dan kaku kini sangat luwes dan anggun. Kini, tidak akan ada lelaki yang bisa menertawakannya lagi. Padahal aku sangat merindukan momen-momen saat dirinya dijahili oleh lelaki sebayanya. Hehehe.Tapi, bersamaan dengan surat ini aku ingin menyampaikan dua hal kepadamu.Pertama, aku ingin meminta maaf. Sihir yang aku gunakan padamu bukanlah sebuah sihir yang bisa membuatmu berdansa lebih baik atau semacamnya. Itu hanya sebuah sihir yang menimbulkan percikan cahaya yang silau. Tidak lebih. Maaf karena selama ini aku memanfaatkanmu untuk kesenanganku pribadi. Membuatmu membelikan burger setiap hari untukku atau membawaku ke tempat karaoke yang sangat berisik itu.Awalnya aku hanya ingin memanfaatkanmu saja. Tidak lebih. Karena keberadaanmu sebagai manusia sangat singkat dan rapuh. Sehingga bagi Selestial seperti diriku, hal itu tidak memberikan keuntungan apa-apa. Namun itu adalah diriku yang dulu. Setelah bersamamu selama ini, (walau aku menipumu sampai saat ini) aku merasakan dedikasi dan semangat yang menjalar sampai ke dalam ragaku. Dan yang membuatku sampai seperti ini adalah sebuah perkataanmu saat itu. Apakah kamu ingat? Di malam yang penuh dengan salju, kamu dengan polosnya berkata saat itu tentang alasanmu berdansa."Aku akan berdansa sepenuh hati! Dan dengan dansa, aku berharap Ibuku akan sembuh secepatnya!"Saat itu aku membalas ucapanmu dengan asal."Memangnya ada apa dengan dansa?"Dengan senyuman yang sangat lebar itu, kau dengan sangat percaya diri menjawabnya."Karena dansa adalah caraku berdoa kepada para dewa agar mereka mengabulkan permintaanku."Ucapanmu saat itu benar-benar membuatku terdiam. Aku bahkan tidak bisa tertawa. Lalu dengan buruknya aku malah membodohimu dengan mengeluarkan sebuah sihir yang tidak diperlukan olehmu. Jadi, sebagai ganti rugi atas kebohonganku, Aku menggunakan kekuatanku untuk membangunkan Ibumu yang sedang koma. Semoga ini bisa membuatmu memaafkanku.Dan karangan bunga itu adalah hal kedua yang ingin aku utarakan.Aku akan pulang ke duniaku. Soalnya, semakin lama aku bersamamu, ternyata malah membuatku semakin sulit untuk berpisah denganmu. Entah sejak kapan hati ini mulai bersemi benih-benih cinta. Namun aku ini bukan manusia, aku ini Makhluk yang sejajar dengan bintang-bintang di langit, sementara engkau adalah manusia yang fana. Kita ditakdirkan untuk berpisah. Maka dari itu, lupakanlah aku dan tetaplah berdansa. Tapi, kamu tenang saja, aku pasti akan selalu menyaksikan dansamu yang mempesona itu.Zelos. -Seorang Anak BintangUntuk kesekian kalinya, air mata Anggrietta menetes lagi. Ia berusaha menahan isakan tangisnya saat selesai membaca surat itu. Ia menggenggam erat pakaiannya dan tertunduk. Sang Ibu pun mengelus lembut kepala anaknya."Lelaki itu tadi mengatakan kalau dia akan berada di tempat kalian pertama kali bertemu untuk beberapa waktu.""Eh...? Benarkah Ibu?"Sang Ibu tersenyum bahagia."Temuilah lelaki yang sangat engkau cintai itu, Anggrietta."Anggrietta menyeka air matanya. Lalu mencium kening ibunya."Anggrietta pergi dulu, Bu. Ibu jangan kemana-mana, ya." Ia pamit dan bergegas ke tempat itu. Anggrietta pun pergi meninggalkan ibunya.Dari balik lorong, Gilbert muncul."Mari saya antar ke ruang ganti Anggrietta,." Kata Gilbert."Terima kasih banyak, Nak Gilbert." Jawab Ibu Anggrietta sambil tersenyum simpul.Mentari pun terbenam dan rembulan mulai naik menggantikannya. Bintang-bintang juga ikut bertebaran di angkasa. Bersatu padu dalam harmoni dan gemerlap bagai debu berlian.Di bawah langit itu, tepat di tengah taman yang ada di kota, sesosok lelaki yang berambut keperakkan berbaring di tanah. Kemudian sesosok cahaya datang menghampirinya."Tuan Zelos, Bagaimana perjalananmu di dunia manusia?"Zelos menghempaskan nafas panjang. Sebuah senyuman tertoreh di wajahnya."Menyenangkan. Benar-benar menyenangkan." jawabnya. "Ini kunjunganku yang ke delapan di dunia ini, tapi, ya... dunia manusia benar-benar menarik." Zelos tersenyum kecil."Kalau begitu, sudah saatnya Tuan untuk kembali.""Belum," sela Zelos, "Apa kau tidak mendengar langkahnya?""Langkah?"Perhatian mereka berdua teralihkan oleh gemerlap cahaya yang bergerak dari kejauhan. Perlahan demi perlahan, langkah itu mulai terdengar jelas bagi telinga manusia. Hingga, perlahan-lahan tampaklah sosok manusia yang sedang berlari tersebut. Dia Anggrietta. Wanita yang memenangkan kontes dansa hari ini. Dengan perintah dari Zelos, sosok cahaya itu menghilang tanpa jejak."Zelos! Zelos! Zelos!" Teriakkan Anggrietta menggema.Bahkan bagi entitas yang setara dengan para dewa sekalipun, saat namanya dipanggil seperti itu, mau tidak mau ia harus memperhatikan dengan seksama siapa yang menyebut namanya tersebut."Anggrietta..." ujar Zelos.Anggrietta masih terengah-engah saat tiba di hadapannya. Wanita itu bahkan tidak sempat mengganti pakaiannya. Dan itu membuat Zelos terkagum dengan semangat yang dimilikinya."Zelos... kamu melupakan satu hal lagi di dalam suratmu."Zelos menggaruk-garuk kepalanya. Kemudian tertawa kecil."Memangnya apa? Perasaan aku sudah menulis semua yang harus kukatakan, deh.""Ingat nggak? waktu dulu, saat pertama kali kamu menepuk punggungku... kamu berkata, 'aku akan berdansa denganmu jika kau telah menjadi pedansa yang bermekaran'." Anggrietta mengulurkan tangannya, "Aku bukan lagi gadis kikuk dan kaku seperti robot. Jadi... Mau nggak kamu berdansa denganku sekarang?"Hati Zelos berdesir keras. Seolah Anggrietta bisa melihat sesuatu dari dirinya dan memancing hasrat di dalamnya."Mungkin kah hal itu dilakukan oleh wanita seperti dirinya?"Zelos sempat membatu. Namun melihat ini adalah kesempatan pertama dan terakhir yang ia miliki, ia tidak punya alasan untuk menolaknya."Dengan senang hati, Anggrietta."Zelos pun menjetikkan jarinya, dan seketika sebuah musik yang entah dari mana terdengar oleh mereka.Anggrietta tersenyum. Ia langsung merapatkan tubuhnya ke Zelos. Tangan kirinya ia letakkan di bahu sang lelaki. Dan tangan kanannya menggenggam erat jemari di tangan kiri nya. Mereka pun saling bertatapan."Baiklah, mari kita mulai, dansa pertama dan terakhir kita, Anggrietta." Zelos memulai langkahnya.Mereka pun mulai berdansa.Ini pertama kalinya mereka berdansa bersama namun gerakannya begitu harmonis. Seolah-olah tubuh mereka telah menyatu.Alunan musik yang terus berputar membuat keduanya larut dalam dansa. Wajah mereka sangat cerah. Senyuman di wajah keduanya tidak bisa diredupkan oleh gelapnya malam. Langit, rembulan dan gemintang menjadi saksi atas indahnya dansa yang mereka tampilkan."Anggrietta... Aku akan menggunakan sihir istimewa kali ini." bisiknya sambil terus berdansa.Zelos membacakan sebuah mantra sihir. Seiring mereka berdansa, posisi mereka terus naik ke angkasa. Seolah udara menjadi padat saat kaki mereka menyentuhnya. Tak hanya itu, Setiap langkah mereka akan mengeluarkan percikan cahaya yang gemerlapan. Dansa mereka bak cahaya yang sangat terang benderang menghiasi kesunyian malam. Percikan cahaya itu menyebar dan terus menyebar menjadi bintang-bintang kecil yang ikut memeriahkan suasana.Itu benar-benar momen yang luar biasa bagi Anggrietta. Sebuah pemandangan indah yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Itu adalah dansa terhebat yang pernah ia lakukan.Walau mereka terus menikmati setiap detik kebersamaan mereka malam itu, waktu tetap tidak bisa dihentikan."Anggrietta... waktuku telah tiba." Zelos tiba-tiba menghentikan tariannya.Anggrietta terdiam. Lagi, ia mencoba menegarkan dirinya."Jangan pernah melupakan ucapanmu sendiri, Zelos," matanya mulai berkaca-kaca, "Aku... akan terus berdansa. Maka... Kamu juga, jangan pernah melepaskan pandanganmu dariku."Spontan, Zelos mengecup kening wanita itu. Lalu memeluknya sangat erat."Aku janji. Aku akan tetap melihat dansamu sampai engkau tidak sanggup lagi untuk berdiri."Perlahan mereka mulai turun dari angkasa dan musik pun berhenti. Kaki mereka pun sudah menginjak tanah kembali. Seluruh gemerlapan malam itu mulai menghilang.Zelos melepaskan pelukannya dan menatap lekat-lekat mata Anggrietta. Melepaskan senyuman lebar dan air mata yang mengalir begitu saja."Selamat tinggal, Anggrietta."Anggrietta mencoba menahan gejolak yang berusaha meledak dari dalam dirinya. Dengan bibir yang gemetaran, ia berusaha untuk tersenyum manis."Sampai jumpa lagi, Zelos. Terima kasih... untuk segalanya."Tubuh Zelos perlahan demi perlahan menjadi bulir-bulir cahaya dan lenyap begitu saja. Saat semua itu telah berakhir, Anggrietta tak sanggup lagi menahannya. Tangisannya sangat keras sampai-sampai ia tidak bisa mendengarnya.Malam itu adalah malam terakhirnya bersama lelaki yang ia cintai. Dan di malam itu dia sadar bahwa dansanya tidak hanya untuk membuat ibunya tersenyum bahagia. Tetapi juga untuk dirinya sendiri.Perasaan yang ia terima di malam itu menjadi sebuah semangat baru dalam hidupnya. Bersama cinta yang tidak akan terbalaskan lagi.

Paus Yang Menari Di Angkasa
Folklore
12 Dec 2025

Paus Yang Menari Di Angkasa

Selama ini, ikan paus itu adalah satu-satunya makhluk bernyawa yang terhipnotis akan musik indah dari permainan piano gadis berambut putih itu. Paus yang mengambang di angkasa itu terus menari-nari dengan gerakan yang gemulai, sementara gadis itu serta pianonya berada tak jauh dari paus yang tubuhnya sama besarnya layaknya bintang itu.Sungguh, itu pemandangan paling indah yang pernah Veli lihat seumur hidupnya.Paus yang berenang-renang di angkasa, merupakan salah satu dari sekian banyak rahasia paling megah yang disembunyikan oleh dunia ini. Tapi, kenapa semua ini dirahasiakan? Apa sebabnya? Padahal itu hanyalah seekor paus aneh dan seorang gadis.Kenapa?Sebagai seseorang yang menggenggam dunia ini, Veli hanya memiliki satu tugas untuk dilaksanakan, yaitu membantu semua orang untuk menyelesaikan kisah hidup mereka.Kali ini, benang merah kembali melibatkan Veli ke dalam sebuah kisah yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya. Kini takdir membawanya ke tempat ini—ke atas langit biru yang begitu luas dan tak berujung, untuk menemui gadis berambut putih itu, juga si paus putih itu.Inilah yang menjadi tugas kedua Veli sebagai Pemilik Dunia yang baru.Kemanapun kedua mata Veli memandang, yang terlihat hanyalah warna oranye dari langit senja, juga awan-awan yang membentuk gulungan ombak, serta planet Mars yang tampak sangat dekat dan amat besar di angkasa sana.Tapi, yang paling membuat Veli heran adalah tempatnya berdiri saat ini yang ternyata adalah air—atau mungkin lantai yang terbuat dari kaca—yang karena sangking beningnya, langit yang ada di atas sana bahkan berhasil dipantulkannya dengan sangat sempurna.Dengan pandangan yang masih tertuju pada paus itu, Veli berjalan perlahan mendekati gadis yang tengah bermain piano itu. Jujur saja, dia sendiri masih merasa agak takut dengan makhluk dewata yang ukurannya bukan main itu. Apalagi Veli juga pernah mendengar rumor-rumor aneh tentang paus itu."Apa yang kau inginkan, wahai sang Pemilik Dunia?" Tanya gadis itu dengan suara yang lembut nan sendu, tapi anehnya berhasil membuat Veli tersentak kaget.Padahal, Veli yakin betul kalau gadis itu tak pernah menoleh ke arah lain, apalagi matanya juga tertutupi oleh kain hitam yang melingkar di kepalanya. Dan tentu saja, seluruh perhatiannya pasti tengah disita oleh suara merdu dari pianonya."Tak ada gunanya mengendap-endap. Aku bahkan bisa mendengar suara anak-anak yang tengah bermain di taman di kota asalmu, Jogjakarta. Jadi, katakan apa yang kau inginkan dariku, Velicia." Ujar gadis itu lagi.Veli langsung memasang senyum kecil sewaktu mendengar apa yang baru saja dikatakan gadis itu. "Eh? Kupikir kau tidak menyadari keberadaanku, Fennah," katanya sembari melangkah ke samping gadis itu—Fennah. "Jadi cerita itu memang benar, ya? Kalau kamu bisa mendengar semua suara yang ada di seluruh alam semesta.""Tentu," jawab Fennah singkat. Jari-jarinya terus bergerak lincah dan gemulai di atas tuts pianonya. Berpindah-pindah dari kunci nada satu ke yang lain untuk membuat melodi merdu yang menenangkan jiwa dan raga."Wah, kau ternyata memang pandai bermain piano rupanya." Mata Veli dibuat berbinar-binar karena kagum dengan cara Fennah memainkan pianonya."Hey, jangan sentuh pianoku." Cegat Fennah yang entah bagaimana bisa tahu kalau Veli barusan berniat menekan tuts pianonya."Aku tahu kau datang ke sini untuk membantuku menyelesaikan kisahku.""Oh? Dari mana kau tahu tentang tugasku?" Tanya Veli penasaran sambil beralih memandang paus itu."Aku mengenal baik Pemilik Dunia sebelum dirimu. Juga yang sebelumnya lagi. Dan yang sebelumnya lagi. Bahkan Pemilik Dunia yang paling pertama," jelas Fennah. "Bisa dibilang, aku mengenal kalian semua." Fennah memutar kepalanya, dan menoleh pada Veli. Tapi sepertinya, dia tetap tidak bisa melihat wujud Veli.Mata Veli langsung melebar kala mendengar pernyataan Fennah. Dia agak terkejut. "Tunggu-tunggu. Kalau kau memang mengenal semua Pemilik Dunia yang sebelumnya, juga yang sebelumnya, bagaimana bisa kamu masih berada di sini? Harusnya kau sudah mati."Fennah tiba-tiba memasang senyum kecil yang aneh. "Jawabannya sudah jelas, bukan? Mereka semua gagal melakukannya.""Hmm... gagal, ya?" gumam Veli pelan sembari mendongak menatap angkasa. Benaknya berkecamuk bak badai. "Apa, ya, yang terjadi jika aku gagal sekali saja dalam tugas ini?""Sepertinya tidak apa-apa, kok. Buktinya, pendahulumu saja bisa menyelesaikan jatah mereka walaupun mereka tidak bisa membantuku," jelas Fennah. "Jadi, bagaimana? Apa kau masih tetap ingin mencoba membantuku?""Hmm... Apa kau tahu? Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku merasakan keraguan seperti ini," ujar Veli masih sambil menatap angkasa senja, yang tak lama lagi akan dikuasai oleh kegelapan malam. "Tapi, ya... aku akan tetap mencobanya, kok. Apalagi, ini baru tugas keduaku. Coba pikirkan, jika aku menyerah sekali saja tanpa mencoba terlebih dahulu, bagaimana bisa aku menyelesaikan miliaran kisah rumit yang lain? Lagipula, aku tidak pernah menyerah seumur hidupku. Dan sebisa mungkin, aku tetap tidak akan pernah menyerah sekalipun sampai tugasku selesai."Fennah tertawa pelan mendengar jawaban Veli. "Kau memang benar," katanya. "Sekali saja kau mengetahui rasa dari menyerah itu sendiri, maka suatu hari nanti, kau pasti akan melakukannya lagi... Lagi... Lagi... dan lagi. Hingga kau mulai berpikir, bahwa berserah itu merupakan sesuatu yang sangat nikmat untuk dilakukan."Mata Veli membulat mendengar penjelasan Fennah yang agak terkesan aneh itu."Oh... begitu, ya?" Bahkan, Veli sempat berpikir kalau kata menyerah yang dimaksud Fennah itu adalah nama dari satu jenis makanan. Tapi, untung saja suara piano Fennah berhasil menyadarkan Veli dari lamunannya. Veli menunduk menatap jari-jari Fennah. "Hmm ... bisa nggak kamu berhenti bermain piano sedetik saja?"Fennah memasang senyum anehnya lagi, lalu angkat bicara, "maksudmu ... kamu ingin agar aku menghancurkan bumi menjadi debu, gitu?""Hah?! Maksudmu?" Pekik Veli kaget."Sedetik saja pianoku berhenti mengalun, maka paus keparat itu akan bangun dari tidur abadinya, dan berenang ke dunia dunia manusia untuk menghancurkan segalanya."Awalnya Veli tidak paham dengan maksud Fennah yang mengatakan hal mengerikan seperti itu. Tapi, setelah mencari dalam memorinya selama beberapa saat, Veli akhirnya paham. "Jadi ... paus itu adalah Pembawa Kiamat yang ke sembilan, ya?""Yap! Selamat! anda telah memenangkan hadiah yang berupa kenyataan! Hahahaha—" Fennah terkekeh-kekeh dan sukses membuat Veli kesal."Huh!""Eh—ngomong-ngomong, Vel, sebentar lagi malam, tuh. Kamu nggak pulang?""Oh, iya, Fen! malam ini aku menginap di sini saja, boleh, kan?" Tanya Veli sambil membuka tas sampirnya yang mungil, lalu mengambil dua buah kain tebal berwarna krem berukuran jumbo dari dalam tas itu. "Oke. Satu untuk alas, dan satunya kujadikan selimut.""Ya. Suka-sukamu saja." Ujar Fennah tak acuh.Segera setelah mendapatkan izin dari tuan rumah, Veli langsung mengatur tempat tidurnya tepat di samping Fennah. "Yap, tempat tidur sudah siap, jadi sekarang tinggal makanannya."Veli kembali membuka tas mungilnya, kemudian mengeluarkan sebuah keranjang yang berisikan bahan-bahan makanan, juga sebuah kotak berukuran besar yang di dalamnya tersimpan tungku dan sekantong batu bara. Veli menata dapur kecil-kecilannya tak jauh dari sana, dan bersiap untuk memasak makan malam.Detik demi detik, langit perlahan-lahan berubah menjadi gelap, dan udaranya juga semakin bertambah dingin. Mentari kini terlelap, dan bulan pun datang membawa cahaya baru untuk menerangi dunia. Langit yang tadi selayaknya kanvas polos, sekarang telah dipenuhi titik-titik berpendar yang berwarna-warni.Beberapa batang lilin tiba-tiba muncul entah dari mana dan melayang-layang di sekitar Fennah dan Veli. Di lantai tempat mereka berpijak juga mulai memancarkan garis-garis cahaya aneh yang bergerak-gerak dan meliuk-liuk layaknya aurora yang seharusnya menyala di langit.Mata Veli terpaku pada suatu pemandangan yang ada di langit timur sana. Itu tampak seperti sebuah batang pohon raksasa yang memancarkan cahaya putih temaram, dan menjulang tinggi ke angkasa seakan tak ada akhirnya."Sepertinya pohon itu memang tidak ada ujungnya, deh." gumam Veli tanpa sadar sembari mengaduk sup yang tengah dimasaknya di dalam panci, lalu menyicipinya sedikit. "Oke, sepertinya sudah matang." Setelahnya, Veli kemudian menjentikkan jarinya, dan api yang ada di dalam tungku itu pun padam seketika."Wah! Kau pandai masak juga, ternyata!" Puji Fennah yang terkagum-kagum setelah menyicipi sup buatan Veli untuk yang pertama kalinya. "Serius! Masakanmu enak banget, lho, Vel! Daging sapinya benar-benar lembut gini!"Veli hanya bisa ternganga melihat reaksi Fennah. Gadis itu menggunakan tangan kanannya untuk menyendok sup dan melahapnya dengan kecepatan super. Sedangkan jari-jari tangan kirinya masih terus bergelut dengan pianonya dan menciptakan musik yang sendu."A-ah—ya, makasih...""Wah! Syukurlah! Padahal aku tidak ingat kapan terakhir kali aku makan! Tapi aku bersyukur banget! Masih bisa membedakan mana yang enak dan nggak!"Setelah mereka berdua selesai makan, Veli langsung memasukkan semua barang-barangnya yang sudah tak terpakai lagi kembali ke dalam tas mungilnya. Hanya dengan satu jentikan jarinya saja, semua peralatan masaknya tiba-tiba mulai melayang-layang, dan meluncur dengan sendirinya ke dalam tasnya.Veli kembali ke tempat tidurnya yang terletak di samping Fennah, dan duduk bersila disitu, lalu membungkus tubuhnya dengan selimut."Orang-orang di daratan sering menyinggung tentang keindahan yang hanya ada tempat ini," Veli angkat bicara sambil menengadahkan kepalanya ke atas menatap langit. "Seyilva, atau begitulah nama yang tertera di peta. Sarang para Ubur-ubur Angkasa, makhluk hidup nan indah yang lahir dari segala macam warna yang ada di semesta ini. Keindahan yang bahkan melebihi Tujuh Bulan Naros.""Oh, jadi itu sebenarnya alasanmu menginap di sini?" Terka Fennah."Ya... begitulah." Jawab Veli ragu-ragu. "Tapi, aku sebenarnya punya tujuan lain juga, sih. Kalau bisa, aku ingin mengambil beberapa ubur-ubur itu untuk diekstrak menjadi suatu bentuk keajaiban yang mungkin akan berguna untuk tugasku nanti.""Oh? Ambillah. Ubur-ubur itu nggak ada hubungannya denganku, kok."Veli melirik ke arah Fennah dengan tatapan yang kosong dan terkesan sedih.Entah kenapa ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam diri Veli. Perasaan yang meledak-ledak dan membuat dia serasa sedang terjun bebas ke dalam jurang tanpa dasar. Suatu perasaan dingin dan menyesakkan yang terasa amat tidak nyaman."Kamu kenapa?" Tanya Fennah."Eh? Kenapa, apanya?""Nggak usah mengelak. Aku bisa mendengar tarikkan nafasmu yang berat itu, kok." Jelas Fennah. "Kalau ada apa-apa, cerita saja sekarang. Mumpung senggang, kan?"Veli mengambil nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. "Begini... sejak semua perjalanan mengerikan itu berakhir, entah kenapa dadaku selalu saja terasa sesak tiap kali melihat suatu pemandangan yang indah seperti ini.""Hah? Kok bisa?""Yah... aku juga bingung, sih." Jawab Veli takut-takut. Ia menyipitkan matanya, sedih. "Aku hanya masih heran... Kenapa semua perjalananku dulu selalu saja berakhir dalam kekacauan dan perang yang tak ada habisnya... Padahal, ada begitu banyak orang yang menitipkan harapannya pada kami dalam petualangan itu."Rahang Veli terkatup rapat."Kenapa kegelapan yang pekat itu selalu saja datang walaupun di atas sana jelas-jelas ada suatu cahaya terang benderang yang tengah menyinari dunia ini? Kenapa semua masalah itu tak ada habisnya? Kenapa—""Dan kenapa kamu baru mengeluh sekarang?" Tukas Fennah tajam."Hah...?" Veli mengalihkan pandang pada Fennah."Lihat aku," Fennah menjelaskan. "Saat aku mendengar suara yang muncul di kepalaku berabad-abad lalu, aku langsung yakin kalau suara itu akan menolongku dan membebaskanku dari segala penderitaan itu. Namun, kenyataan malah berkata lain."Permainan piano Fennah yang tadinya lembut dan menenangkan, kini terdengar berbeda. Seakan-akan dia sedang mencurahkan seluruh kemarahannya dari masa lampau ke dalam nada-nada yang sedang dia ciptakan saat ini juga."Waktu itu... aku merasakan dengan jelas ada yang menggendongku dan membawaku terbang ke langit. Dan setelah orang itu mendudukkanku di atas kursi ini, dia pun memintaku agar aku memainkan piano ini sampai selama-lamanya...""Dan?! Apa jawabanmu?!" Pekik Veli penasaran."Ya... Aku hanya bisa tersenyum saja dan melakukan apa yang dia katakan. Dan sejak saat itu, aku terus memainkan piano ini sampai saat ini.""Hah...?" Itu kenyataan pahit yang amat menyakitkan menurut Veli. Sangat jelas malah. Tapi, kenapa gadis ini malah menerima permintaan itu mentah-mentah, meski pun saat itu dia tidak mengetahui apapun. "Jadi... kau langsung menerimanya begitu saja?""Hooh," jawab Fennah kalem. "Aku juga selalu merasa kalau Tuhan menciptakan aku agar aku bisa menunaikan tugas ini. Dan kalau dugaanku memang benar, itu artinya aku telah menjalani hidupku seperti yang seharusnya. Toh, begini malah lebih baik, kan?""Hidup seperti yang seharusnya?" Suara Veli membawa keraguan yang kental."Yap, aku hanya perlu hidup dan melakukan segala kebaikan yang bisa kulakukan."Pada titik ini, Veli akhirnya mulai paham dengan apa yang sebenarnya dimaksud Fennah. Selama ini, Veli hidup dengan menggantungkan mimpi dan angan-angan sebagai tujuannya. Kenyataannya, semua orang memang begitu—semua orang membutuhkan suatu piala penghargaan—tujuan—yang harus mereka capai di ujung jalan mereka, dan mereka pastinya akan melakukan apa saja demi mendapatkannya.Namun, apa yang terjadi setelah orang-orang menggenggam piala itu? Tentu saja mereka tidak akan puas dan berusaha mencari piala penghargaan yang baru lagi, lalu meletakkannya di ujung jalan itu, kemudian berusaha untuk menggapainya lagi.Siklus ini akan terus berulang dan tak akan ada akhirnya. Entah ini bisa disebut keuntungan atau kutukan, tapi selama orang-orang tetap berpikir bahwa itu perlu untuk kelangsungan hidup, maka mereka akan terus melakukannya dan tak peduli dengan segala persyaratan yang harus dipenuhi.Termasuk melakukan kejahatan demi mencapai tujuan-tujuan itu."Ya, kalau dipikir-pikir... kita semua memang seperti itu, bukan? Kita memang mendambakan penghargaan yang layak." Veli berbicara pada dirinya sendiri. "Tapi itu berarti kita tidak perlu tujuan untuk hidup, dong?" tanyanya pada Fennah.Fennah mendesah. "Bukan berarti kau tidak memerlukan tujuan. Apa serunya, coba, hidup kalau tidak ada tantangan sama sekali." Jelas Fennah. Permainan pianonya juga sudah kembali seperti semula—lembut dan menenangkan hati. "Nah, begini. Misalnya di depanmu ada sebuah pedang yang sudah kau cari-cari selama ini, tapi pada saat itu juga, di belakangmu ada seorang anak kecil yang tengah dikepung oleh sekelompok bandit. Jadi, coba beritahu aku, ke arah mana kedua kaki dan tanganmu akan bergerak lebih dulu?"Veli tampak bingung. Bukan karena sulitnya menemukan jawaban untuk pertanyaan itu, melainkan karena keganjilan dari pertanyaan itu sendiri. "Eh... tentu saja aku akan menolong anak-anak itu lebih dulu. Aku bukan penjahat, lho.""Hmm... tak kusangka pemikiranmu sedangkal itu. Gimana kalau begini, pertama kau mengambil pedang itu dulu, terus kamu tolong, deh, anak-anak itu. Haduh... Vel, bisa-bisanya pikiranmu nggak sampai ke situ, padahal kamu ini sang Pemilik Dunia, lho. Tapi tenang saja, lagi pula itu hanya contoh."Veli menggembungkan pipinya, kesal. "Harusnya kau bilang kalau bisa begitu—""Jika tujuanmu adalah pedang itu, maka ambilah. Nggak ada yang akan menyalahkanmu, kok. Tapi, setelah kau berhasil mendapatkan apa yang kau inginkan, selanjutnya, adalah melakukan apa yang seharusnya kau lakukan. Selamatkanlah anak-anak itu. Dengan adanya sebilah pedang di tanganmu, pasti melakukannya tidak akan jadi masalah, bukan?"Semua pembahasan ini menciptakan badai dahsyat di dalam benak Veli. Pelipisnya berdenyut nyeri karena penjelasan yang rumit dan kompleks itu. Otaknya terus menerus mengolah semua informasi itu, hingga akhirnya Veli sampai pada satu kesimpulan yang membuat bibirnya membentuk senyuman kecil tanpa arti."Intinya, yang perlu kita lakukan sekarang, adalah hidup. Kita harus hidup dan terus melangkah. Lakukan semua kebaikan yang bisa kau lakukan, jangan sekali-kali mencoba berpaling dari pekerjaan yang mampu kau selesaikan. Asal itu baik, maka perbuatlah.""Hmm... sepertinya aku mulai paham dengan cara berpikirmu." Ujar Veli."Ya, baguslah kalau kamu paham. Apalagi bagi makhluk-makhluk abadi seperti kita, sebenarnya sangat tidak baik jika kita memiliki suatu keinginan dan impian. Mengingat kita tidak memiliki batas hidup sama sekali.""Yap, kau memang benar." Veli menjatuhkan tubuhnya ke belakang, dan menutup matanya rapat-rapat untuk merenungkan semua kebenaran yang baru didengarnya itu. Dia terlihat seakan sedang tertidur pulas, tapi, jika kala itu Veli memang sedang tertidur, maka akan ada air liur yang mengalir keluar dari belahan bibirnya layaknya sungai. "Aku kadang lupa, kalau aku ini Selestial.""Dih... masa kamu yang baru jadi Selestial selama empat puluh lima tahun saja sudah pikun begitu. Padahal aku yang sudah hidup ratusan abad saja tak pernah lupa, tuh."Meskipun Veli tenggelam dalam lamunannya, dia masih mendengar suara Fennah dan memutuskan untuk meresponnya. "Kamu, sih, enak, Fen. Masalah yang kau miliki hanya paus itu saja, sementara aku masih punya banyak masalah, walau aku jelas-jelas sudah menjadi Pemilik Dunia.""Hahahaha—Tapi, ngomong-ngomong, bisa nggak kamu buka matamu sekarang?" Pinta Fennah tiba-tiba."Hmm? Kenapa memangnya?""Buka saja, kalau nggak, nanti menyesal, lho."Veli dengan ragu mengikuti permintaan Fennah. Kelopak matanya perlahan-lahan membuka, dan seketika, mata Veli langsung terbuka sangat lebar ketika mendapati suatu pemandangan yang sangat indah yang ternyata sedang berlangsung tepat di depan matanya."Wah..." Mata Veli berbinar-binar. Sudah hampir semenit berlalu, namun dia bahkan belum berkedip sekalipun karena terpaku akan pemandangan yang benar-benar mengagumkan itu.Apa yang ada di atas langit sana bukanlah bintang-bintang, itu semua adalah lautan ubur-ubur yang menyala-nyala dan memancarkan beragam cahaya yang teramat sangat indah. Segala macam warna yang pernah dilihat Veli, maupun yang belum pernah dia lihat—semuanya ada pada makhluk-makhluk gaib yang kini mengambang di atas mereka itu."Apa-apaan... ini bukannya terlalu... megah, ya?" Veli perlahan-lahan bangkit."Hahahaha—semua orang juga selalu berkata seperti itu, tapi sayang, aku nggak bisa melihatnya." Ujar Fennah yang terdengar senang."Eh..." Veli hanya mampu memasang senyuman kecut untuk menanggapi Fennah."Biasa aja, kali. Toh, aku juga sudah merasakan kebahagiaanku sendiri." Jelas Fennah kalem. "Nah, buruan tangkap mereka biar semuanya selesai lebih cepat.""Baiklah..." bisik Veli lirih seraya melompat sangat tinggi ke langit bagai roket, dan pada saat itu pula, tiba-tiba saja ada debu-debu cahaya emas yang berkumpul di samping kanannya dan membentuk sebuah gelembung raksasa.Dengan cekatan, Veli berhasil menangkap lima ekor ubur-ubur menggunakan gelembung itu. Setelah itu dia langsung mendarat kembali di samping Fennah."Hmm... ini terlalu cepat, kan?" Gumam Veli yang tengah menilik ubur-ubur di dalam gelembung itu. "Jadi... apa yang harus kulakukan sekarang?" Bisiknya sangat pelan."Jangan sampai gundah, Vel. Lebih baik kita selesaikan semuanya sekarang, oke?"Veli tersentak mendengar Fennah. Tubuhnya terasa lemas dalam sekejap. Sorot matanya tampak sangat kosong, dan dia mulai menggigit bibirnya sendiri dengan sangat keras, sampai-sampai ada darah yang mengalir dari sela-sela bibirnya.Veli mematung persis seperti sebuah patung."Hah..." Fennah menghela nafas dalam sembari menurunkan kedua tangannya dengan perlahan dari atas tuts, lalu ia bangkit berdiri seolah-olah tidak ada masalah yang akan terjadi.Tiba-tiba, terdengar suara auman yang amat membahana dari si paus. Saat ini paus itu telah terbangun dari tidur abadinya, dan kini ia bersiap untuk meluluhlantakan dunia manusia dengan amukannya yang tanpa ampun—atau begitulah yang seharusnya terjadi.Namun, Veli buru-buru menjentikkan jarinya sebelum semua itu terjadi, dan pada saat itu pula, sebuah pedang emas yang ukurannya lebih besar lagi dari pada paus itu—lebih besar dibandingkan sebuah bintang—tiba-tiba muncul di angkasa sana, di antara ubur-ubur, lalu jatuh layaknya kilat menembus tubuh paus itu, hingga membuat paus itu menjerit tak karuan dengan suara yang memekakkan telinga."A-apa yang kau lakukan, Fen!" Teriak Veli yang teramat sangat panik."Lebih cepat, lebih baik, bukan?" Jawab Fennah enteng."Ta-tapi, jangan tiba-tiba begitu, dong!" Veli kembali menoleh pada si paus yang masih mengerang kesakitan.Tampaknya, paus itu tengah berusaha melepas pedang Veli dengan menghantamkan tubuhnya berkali-kali ke daratan kaca ini. Tapi, bukannya pedang itu yang lepas, malahan lubang besar tercipta di daratan kaca tepat di mana ia menghantamkan tubuhnya tadi, karena bobot tubuhnya yang terlalu besar. Alhasil, paus itu kini terjun bebas ke daratan."Tiap kali ada Raja Cahaya baru yang ingin membantuku, aku selalu berkata "tidak" begitu mereka menginjakkan kaki di atas daratan ini." Fennah menjelaskan. "Dan setelah mendengar jawaban itu, mereka langsung meninggalkanku tanpa menawariku kesempatan yang kedua."Fennah memasukkan tangannya ke dalam gelembung yang berisi ubur-ubur itu, lalu perlahan-lahan, kelima ubur-ubur itu mulai larut menjadi gelombang cahaya dan menyatu membentuk sebuah bola kecil berwarna-warni berukuran seperti sebuah kelereng."Semuanya pergi begitu saja, dan tak ada satupun dari mereka yang mau memberiku kesempatan kedua. Tapi, ya, mereka mungkin sadar, kalau aku saat itu memang belum siap." Fennah menarik keluar kelereng itu dari dalam gelembung, dan memberikannya pada Veli. "Namun, untungnya kau berbeda, Vel. Aku sangat senang sewaktu kau memutuskan untuk tidak menyerah, dan ingin mencoba untuk membantuku.""Hmm... Aku tidak merasa kalau kau menolakku, kok, Fen." Jawab Veli heran sambil menatap lekat-lekat pada kelereng cantik itu yang telah berubah menjadi sebuah senjata api—pistol. "Tapi, kalau kau memang memilih untuk mengambil kesempatan ini, itu berarti kau sudah siap, ya?" Tanya Veli ragu."Ya, begitulah. Waktu aku sadar kalau aku sudah hidup sangat lama, di saat itu juga aku sadar, bahwa bagi makhluk tanpa waktu seperti kita ini, hidup dan mati bukanlah takdir terakhir yang menunggu kita di ujung jalan itu, melainkan keduanya itu hanya sekadar pilihan semata yang sama-sama tak ada artinya."Pandangan Veli beralih pada angkasa yang masih dipenuhi ubur-ubur ajaib itu."Hah... pantas saja, kau terlihat tenang-tenang saja dari tadi. Ternyata kau sudah tau tentang segalanya." Veli mengambil nafas dalam, dan membulatkan tekadnya. "Nah, kalau begitu, aku tidak akan ragu lagi. Jadi, kali ini, tolong biarkan aku yang menyelesaikan kisahmu, Fennah Leivth.""Yap, silahkan saja, Velicia Irene Meliona. Tolong akhirilah kisahku." Pinta Fennah tulus sambil menyunggingkan senyum simpul penuh arti.Meski Fennah tak dapat melihat Veli, tapi dia masih mampu membayangkannya dan merasakannya. Dalam wujud gadis kecil yang lugu dan polos, Veli berdiri di hadapan Fennah, dengan pistol yang dia arahkan tepat ke dahi Fennah."Jadi... bagaimana?" Tanya Veli."Bagianku sudah selesai. Suamiku juga telah mengetahui tentang ini. Jadi sekarang, selesaikan bagianmu, Vel.""Baiklah kalau begitu. Selamat tinggal, Fennah.""Ya... Selamat tinggal... Veli." Air mata mulai mengalir keluar melalui sela-sela kain penutup mata Fennah. Meskipun begitu, gadis itu tetap saja memasang senyumnya yang manis.Dor!Diiringi dengan suara tembakkan yang menggelegar itu, Fennah akhirnya berhasil meninggalkan kehidupannya, menuju ketenangan yang hampa dan abadi, yaitu kematian."Ya, pada akhirnya... kita semua, memang harus siap, bukan? Dia terpilih karena hanya dialah yang sanggup melakukannya... dan begitu juga denganku. Ya... setidaknya aku mulai paham mengapa Engkau memilihku untuk memiliki dunia ini..."

Senyuman sang Malaikat Maut
Folklore
12 Dec 2025

Senyuman sang Malaikat Maut

Monah ingat. Saat orang-orang yang menyayanginya menangis, Monah ingat, dia muncul di sampingnya. Sayapnya yang hitam sangatlah indah. Juga wajahnya benar-benar sempurna. Dan senyumnya—senyumnya sangat manis dan tulus... Meski itu gemetar.Siang itu, dokter yang merawat Monah akhirnya menyatakan bahwa waktu Monah sudah semakin dekat. Alhasil, sebagian besar anggota keluarga Monah yang berkumpul di sana langsung menangis begitu mendengarnya. Bahkan, ayah Monah sampai mengamuk tak karuan dan berkata bahwa dia bersedia membayar lebih banyak asal Monah bisa disembuhkan.Namun, kebenaran sudah berkata lain. Kanker yang menggerogoti tubuh Monah terus bertumbuh pada tingkat yang tak manusiawi. Tak ada apapun di bawah langit ini yang mampu memulihkan Monah. Hanya tinggal menunggu maut saja yang datang menjemputnya.Waktu itu, ibunda Monah langsung mendekap Monah dan menangis. Begitu juga dengan saudara-saudari Monah yang lain yang masih kecil."Maafkan Ibu, Monah!" Bisik sang Ibu yang tak kuasa menahan air mata."Iya, Bu, nggak apa-apa, kok." Jawab Monah tulus."Maafkan Ayah, Nak! Ayah gagal! Ayah sudah gagal! Lagi! Lagi! Lagi!" Teriak ayahnya yang baru selesai mengamuk."Iya, Yah. Lagian, Ayah juga sudah berusaha keras, jadi, nggak apa-apa." Ujar Monah sambil mengedarkan pandangannya. Hampir semua yang ada di sana kini tengah menangis. "Haduh, gimana, sih? Padahal aku sudah bilang kalau aku nggak suka lihat orang menangis." Bisik Monah pelan. Senyuman kecut terbentuk di bibirnya.Meski dengan semua kenyataan mengerikan yang menimpanya saat ini, gadis berparas cantik yang sudah tak memiliki rambut di kepalanya itu tetap tersenyum manis dan tak mengeluarkan air mata setetes pun.Akan tetapi, di tengah-tengah momen yang seharusnya amat menyedihkan ini, ada satu hal yang sangat mengganggu Monah, yaitu keberadaan seorang pemuda yang sama sekali tak dikenalnya.Entah sejak kapan pemuda tinggi jangkung dan berwajah tampan itu berada di sana, tepat di sebelah kiri ranjang Monah. Lelaki berpakaian keren serba hitam itu berdiri di depan jendela menghalangi pancaran cahaya mentari, dia juga membawa sebuah sabit panjang menyeramkan yang baru saja dia sandarkan ke meja. Akan tetapi, selain Monah, tampaknya tak ada seorang pun di ruangan itu yang bisa melihat orang itu."Hah..." Lelaki itu menghela nafas dalam. "Masa iya orang sepertiku harus mencabut nyawa perempuan seperti ini." Dia mengeluh.Monah tak bisa menyembunyikan keterkejutannya mendengar kata-kata pemuda itu. Tubuhnya juga sempat tersentak sedikit karena kaget. Sangat menakutkan sekaligus sangat ajaib. Namun, dia menghiraukan keanehan itu untuk saat ini.Menjelang petang, semua keluarga Monah memutuskan untuk pulang. Begitu juga dengan ibu dan ayah Monah yang telah dilahap oleh nestapa. Walau mereka sebenarnya sangat tidak ingin meninggalkan Monah, tapi, mereka berhasil melawan perasaan itu dan memilih untuk mengabulkan permintaan terakhir Monah."Kalau waktunya sudah dekat, aku berharap tak ada satupun dari kalian yang berada di sini saat itu terjadi. Itu saja permintaan terakhirku." Itulah yang dikatakan Monah pada seluruh sanak keluarganya beberapa minggu silam."Sepertinya mereka semua sudah pergi." Bisik Monah yang tengah melirik ke arah pintu. Tadinya dia sempat mendengar bisikkan seseorang di balik pintu itu. Mungkin ayah dan ibunya, yang pastinya tidak ingin meninggalkan Monah. Tapi, sekarang sudah senyap. Tak terdengar apa-apa lagi di situ."Nggak masuk akal banget... " Celetuk si pria tak terlihat yang sedang duduk sambil melihat-lihat isi buku gambar yang ada di atas meja. "Masa, sih, mereka pergi. Padahal jelas-jelas anaknya sudah mau mati begini."Monah tersenyum kecil ketika mendengar ocehan pria itu."Tapi... terima kasih, Ayah, Ibu." Kata Monah. Tiba-tiba, kelopak matanya mulai menutup dengan perlahan, lalu ia mengambil nafas dalam, dan kemudian berkata, "baiklah, aku sudah siap.""Hah?" Suara kecil itu tiba-tiba keluar dari mulut si lelaki yang sedari tadi bersandar di samping jendela. "Apa-apaan itu?" Dia terkejut mendengar perkataan yang keluar dari mulut Monah."Apanya yang apa-apaan? Kamu ini malaikat pencabut nyawa, kan?""Lho, serius kau bisa melihatku!?" Pekik pemuda itu tak percaya."Ya, jelas saja, bukan?" Ungkap Monah sambil tersenyum kecut. "Ah, sudahlah. Ngomong-ngomong, karena aku tadi bilang kalau aku sudah siap, nah, jadi, sekarang kau bisa mencabut nyawaku. Ayo, buruan." Monah melipat kedua tangannya di depan dada sembari menutup matanya lagi. "Nah, ayo, tunggu apa lagi?""Tapi... " Lelaki itu melihat arlojinya kemudian berkata dengan suara datar, "waktumu masih tersisa dua jam lagi, sih... " Jelas si malaikat maut."Eh... Oh... jadi begitu." Raut wajah Monah ikut berubah datar. Jawaban yang tak terduga itu sukses membuat situasinya menjadi terasa canggung. "Jadi... bagaimana sekarang?""Yah, menunggu." Kata pemuda itu sembari kembali bersandar pada dinding.Hening sesaat, tapi waktu mata Monah melirik ke arah jendela dan melihat gordennya bergerak meliuk-liuk karena terkena hembusan angin, senyuman simpul tiba-tiba terbentuk lagi di bibirnya."Oke, deh." Monah bangkit dari ranjang dengan susah payah, lalu dia berjalan ke arah jendela tepat di samping pemuda itu sambil bersenandung.Dari situ, Monah bisa merasakan hembusan angin yang sangat lembut dan menenangkan. Mungkin inilah yang disebut kedamaian. Ada miliaran orang yang rela melakukan segalanya demi merasakan ketenangan seperti ini, tapi sayangnya, dunia ini tidak bekerja dengan cara seperti itu.Sejak pagi tadi, Monah bisa merasakan ada yang berbeda dengan dirinya. Dia memang menyadari perasaan aneh itu, tapi sekarang, dia tidak mau memedulikannya. Dia hanya ingin menikmati sisa waktunya yang tinggal sedikit.Dari langit barat, sinar kuning keemasan yang indah mulai terlihat, pertanda senja sudah datang. Cahaya menyilaukan itu turun ke bumi, menyinari segalanya dan membuat pemandangan di dunia luar tampak semakin indah. Di mata Monah, senja merupakan suatu bentuk dari keajaiban itu sendiri."Ngomong-ngomong, kenapa kau nggak suka melihat orang menangis?" Tanya malaikat itu tiba-tiba."Hmm?" Monah menoleh dan bertukar pandang dengan pemuda itu. Matanya yang berwarna merah bak darah membuat Monah terkagum-kagum dalam hati. "Wah...""Heh! Malah bengong. Jawab, dong." Lelaki itu menyentil pelan dahi Monah."Ah—kenapa aku nggak suka orang menangis? Ya, karena menurutku, air mata itu adalah bukti kalau orang-orang masih menderita." Jelas Monah."Hah?""Setiap kali aku lihat air mata, pasti aku langsung berpikir kalau Tuhan juga sebenarnya bisa salah." Ungkap Monah. Matanya menyipit sedih karena teringat akan musibah yang dialaminya beberapa tahun silam."Buset... perkataan yang berani..." Gumam si malaikat."Waktu itu sedang terjadi badai hebat, dan semua penumpang kapal sudah tertidur pulas, termasuk ayah, ibu dan adik-adikku. Tapi, ada seorang anak di sampingku. Kedua orang tuanya juga sudah tidur. Namun, dia terlihat sangat senang entah karena apa."Sambil bercerita, Monah kembali menatap keluar jendela. Cahaya senja perlahan mulai padam dan digantikan oleh kegelapan. Embusan angin yang hangat dan nyaman berubah menjadi rasa dingin yang menusuk. Monah juga bisa mendengar suara adzan maghrib yang terdengar dari masjid di kejauhan."Waktu itu aku masih berusia delapan tahun," Monah memberitahu. "Sekitar jam dua subuh, gadis itu bangkit dari kursinya, lalu dia pergi ke geladak kapal dan mulai bermain hujan.""Gila juga, mandi hujan jam segitu. Nggak dingin apa?" Tanya malaikat itu tak percaya."Ya, makanya aku nggak ikut-ikutan mandi." Jelas Monah sambil tersenyum masam. "Saat itu, anak itu sepertinya sangat bahagia. Walau langit menggelegar dan kapal terombang-ambing oleh lautan, dia tetap menari dan tertawa. Seakan-akan, hujan dan guntur itu juga tengah ikut menari bersamanya." Monah tiba-tiba berhenti berkata-kata. Tapi, tak sampai beberapa detik, dia mengambil nafas dalam dan kembali melanjutkan. "Namun, ada satu ombak besar yang menghantam kapal dengan keras, sementara saat itu, anak itu sedang berada di ujung dan tengah mengamati lautan di bawah kapal. Alhasil... karena guncangannya yang terlalu kuat, dia langsung terjatuh..."Dari jendela, Monah mengamati angkasa yang sekarang sudah gelap gulita. Tapi, entah kenapa, pemandangan langit malamnya yang tak berbintang, malah mengingatkan Monah akan pemandangan mengerikan waktu itu."Eh... kau membiarkannya?" Tanya si malaikat yang tampak tercengang."Ah... aku menolongnya, kok. Aku masih sempat menangkapnya. Malahan menolongnya saat itu adalah usaha paling keras yang pernah kulakukan seumur hidupku. Tapi, saat itu ayahku tiba-tiba muncul di pintu dan berteriak. Aku kaget, dan langsung kehilangan keseimbangan... dan kami berdua pun jatuh... "Monah berusaha untuk membayangkan ingatan yang amat sangat menyakitkan itu.Waktu itu, rasanya Monah seakan seperti sedang mengambang di atas langit malam, hanya saja, dia tak bisa bernafas. Karenanya, Monah terus berenang ke atas untuk mencari udara. Tapi, saat jarak antara kepalanya dan permukaan tinggal beberapa jengkal lagi, Monah melihat sesuatu jauh di bawahnya.Sesuatu itu berpendar, memancarkan cahaya putih yang temaram. Namun, tatkala Monah sadar, ternyata sesuatu itu adalah gadis yang tadi. Dia pingsan. Monah seketika menjadi panik, dan ia pun berusaha untuk menolong gadis itu. Entah kenapa Monah merasa seakan tak bisa membiarkan gadis itu pergi begitu saja. Apalagi tadi, Monah jelas-jelas melihat gadis itu tampak sangat bahagia hanya karena bermain hujan.Namun, gadis itu terus tenggelam, ditarik ke dasar laut. Semakin jauh, dan jauh, sampai-sampai Monah sudah tak bisa menggapainya lagi. Meski begitu, Monah tetap berusaha untuk mencapainya. Dengan nafas yang sesak, dia terus menyelam menghampiri maut hanya untuk menolong anak itu."Hingga akhirnya... aku gagal... " Monah mengakhiri ceritanya. Titik-titik air matanya berjatuhan. "Ayahku muncul sebelum aku pingsan. Tapi, aku tak mengalihkan pandanganku dari anak itu."Si malaikat tak bisa berkata-kata. Mungkin dia berpikir kalau kejadian yang menimpa Monah itu sangat mengerikan. Atau mungkin juga karena alasan lain. "Setidaknya kau sudah berusaha... jadi—""Waktu aku melihat semua orang yang mengenal anak itu menangis, aku langsung berpikir, bahwa kebahagiaan itu sebenarnya tidak nyata." Ungkap Monah. Dia terus menghapus air matanya yang terkutuk itu dan tersenyum tegar. "Selama air mata masih ada, maka kebahagiaan itu hanyalah sebuah cerita dongeng belaka.""Hmm... jadi... kejadian itu, ya, yang memicu kankermu?""Yap." Jawab Monah santai. Raut wajahnya kembali seperti sedia kala. "Aku tidak tahu bagaimana itu terjadi, tapi, ya, kankerku muncul setelah kejadian itu."Malaikat itu menundukkan kepalanya sedikit. Dia menggigit bibirnya dengan keras. Namun, Monah menyadarinya."Ngomong-ngomong, kamu ada makanan, nggak?" Celetuk pemuda itu tiba-tiba."Eh!? Serius? Malaikat Maut memangnya bias makan?" Tanya Monah keheranan.Pemuda itu tidak kunjung menjawab, tapi, dari wajahnya, dia sepertinya memang sedang kelaparan."Di kulkas," Monah menunjuk ke arah kulkas di pojok, dan si malaikat langsung melesat ke sana tanpa ragu dan mengambil beberapa kantung keripik kentang, kemudian ia duduk di ranjang, di samping Monah, lalu mulai makan dengan lahap."Orang bodoh macam apa yang menaruh makanan-makanan tidak sehat ini di sini? Ah, sudahlah, aku makan saja semuanya.""Dih... nih orang, urat malunya sudah putus, kayaknya...""Hey, daripada kamu nonton aku makan, mending kamu telepon kerabat-kerabatmu buat pamitan, mumpung masih ada waktu." Ujarnya seraya menjejalkan segenggam keripik kentang ke dalam mulutnya."Wah... ide yang bagus." Gumam Monah sambil memilah-milah. "Baiklah."Mengikuti saran si malaikat pencabut nyawa itu, Monah langsung mengambil ponselnya lalu menelpon semua orang yang dia kenal. Awalnya dia menghubungi keluarganya. Dia meminta maaf pada mereka. Dari Ayahnya, ibunya, serta om, tante, dan saudara juga sepupu-sepupunya. Bahkan Monah juga sempat menasehati mereka untuk terus meningkatkan hal-hal baik yang ada pada diri mereka. Namun, sepertinya mereka tidak mampu mendengarkan ceramah Monah karena mereka menjadi panik begitu Monah mulai mengatakan hal-hal yang aneh. Apalagi ayah dan ibunya yang langsung histeris.Tiap kali Monah mengucapkan selamat tinggal, dia langsung menutup telponnya, agar dia tidak perlu mendengar suara tangisan mereka.Yang terakhir, Monah membuat postingan yang berisi permintaan maafnya pada teman-temannya di sosial media. Terkesan aneh memang, tapi tentu saja perlu, agar teman-temannya yang berada di dunia maya tahu bahwa dia sudah pergi."Hah... " Saat Monah mematikan ponselnya, untuk sesaat, dia merasa dunia ini menjadi sangat senyap."Sudah selesai?" Tanya si malaikat maut yang baru keluar dari kamar mandi."Yap.""Keluarga dan teman-temanmu pasti sedang dalam perjalanan ke sini. Ya... tentu saja." Ujar malaikat itu sambil melirik arlojinya. "Waktunya tinggal beberapa menit lagi. Bersiaplah."Monah mengangguk mantap. Dia kemudian berbaring di ranjang, lalu meletakkan kedua tangannya di atas dada, dan memosisikan tangan kanannya di atas tangan kiri selayaknya posisi orang meninggal pada umumnya."Oh, iya, aku mau mengaku sesuatu dulu." Kata si malaikat tampak ragu."Apa?""Sebenarnya aku sudah lama mengenalmu, lho. Dan bisa dibilang... akulah yang membuatmu jadi seperti sekarang ini." Dia menjelaskan. "Saat itu, aku benar-benar tidak menyangka, kalau kau akan mencoba menolongnya. Karena memang tidak tertulis seperti itu sejak awal. Jadi... ""Jadi kau mau ikut-ikutan bilang kalau Tuhan juga bisa salah? Halah... lupakan saja, aku sendiri juga tidak percaya dengan itu, kok. Aku berpikir begitu karena emosi, doang.""Dih...""Apaan? Sudahlah, mending kau selesaikan pekerjaanmu sekarang.""Ya... baiklah. Dan sebagai permintaan maafku, aku akan memberikanmu kematian yang paling hampa.""Kematian yang paling hampa? Apa pula itu?" Tanya Monah penasaran."Hmm... intinya, itu adalah kematian tanpa rasa sakit sama sekali. Biasanya aku hanya memberikan layanan ini bagi mereka yang benar-benar layak saja. Dan kau beruntung. Kau akan menjadi orang ke tujuh belas dalam sejarah, yang akan merasakan kematian ini." Malaikat itu tersenyum seraya memposisikan tangan kanannya di bawah leher Monah, dan tangan lainnya di bawah lutut."Tunggu! A-apa yang kau lakukan!" Warna merah timbul di wajah Monah. Pasalnya, adegan ini sama seperti adegan-adegan di film-film romansa yang sering ditontonnya."Saatnya membuka gerbang itu. Senja." Lalu dia perlahan mengangkat Monah ke atas dan pada saat itu pula seluruh dunia bergerak sangat cepat, sementara yang bergerak lambat hanyalah dirinya.Monah melihat semuanya.Matahari yang terbit dari ufuk timur mengusir kegelapan malam dalam sekejap. Beberapa detik kemudian, angkasa menjadi cerah dan semua keluarga serta teman-teman Monah datang untuk berkabung. Semua orang menangis, termasuk seluruh keluarganya.Namun, Monah melihat satu pemandangan yang aneh. Senyum malaikat yang sedang mengangkatnya ke atas itu mulai bergetar. Monah tidak tahu apa penyebabnya, tapi waktu untuk Monah sudah pada batasnya.Waktu terus bergerak dan akhirnya petang pun tiba."Selesai." Kata si malaikat yang sekarang terlihat sangat berbeda karena keberadaan sayap hitam yang sangat indah yang terbentang di punggungnya."Turunkan aku!" Pekik Monah jengkel sambil melompat turun. "Wah..." Wajah Monah memancarkan kekaguman yang teramat sangat sewaktu melihat tubuh aslinya terbaring di ranjang, dan di situ juga masih ada banyak orang yang berduka untuknya. Tapi, Monah lebih terkejut lagi saat menyadari bahwa tubuhnya saat ini menjadi transparan dan bercahaya, sama seperti gadis itu waktu itu. "Jadi... aku berubah jadi hantu?""Heh! Mulutmu." Celetuk si malaikat maut."Hahahaha—iya, iya. Maaf.""Ya sudah, waktunya pergi. Yuk." Ajak si malaikat maut. Dia mengambil sabitnya yang disandarkan di meja, kemudian dia menarik tangan kanan Monah dan mengajaknya keluar menembus tembok.Monah tidak menyangka akan melihat senja untuk kedua kalinya hanya dalam beberapa jam saja. Dia benar-benar sangat senang. Namun, saat dia menoleh ke belakang, dan melihat ke arah jendela kamar tempat dia dirawat selama ini, sungguh, rasanya menyakitkan. Hatinya terasa remuk saat ibu dan ayahnya muncul di jendela itu dan menatap keluar."Selamat tinggal... semuanya."

Janji Empat Naga Berwarna
Folklore
12 Dec 2025

Janji Empat Naga Berwarna

Hari ini adalah hari yang sangat penting bagi Abel, karena siang nanti dia akan pergi berkunjung ke tempat tinggal gurunya yang berada di puncak Himalaya. Ini merupakan kabar yang sangat menyenangkan, mengingat dia hanya bisa bertemu dengan gurunya setiap pertengahan bulan januari saja. Tapi, hari ini, di bulan november yang sangat dingin ini, gurunya tiba-tiba memanggil Abel juga ketiga saudaranya, untuk membicarakan tentang suatu hal.Akan tetapi, ada satu bunga tidur yang datang dalam tidurnya semalam. Abel bermimpi tentang kenangan buruk yang seharusnya sudah ia lupakan. Setelah puluhan tahun, mimpi buruk itu kembali menghampiri Abel dan berhasil membuatnya merasa sangat gelisah sampai ke ubun-ubun.Dalam mimpinya, Abel melihat nyala api.Api itu membakar seluruh kota, dan mengubah para penduduknya menjadi abu dalam sekejap mata. Jeritan terdengar dimana-mana. Teriakan pria, wanita, juga tangisan anak-anak memenuhi pendengarannya. Dan yang berdiri di tengah-tengah lautan api itu adalah seekor binatang buas raksasa bersisik merah, dengan sayap berapi yang terbentang lebar di punggungnya."Jadi kenapa?" Tanya seorang gadis kecil berambut biru—Fira—yang sedang duduk di meja kasir sambil menonton televisi yang tergantung di langit-langit."Memangnya penting?" Tanya seorang gadis lainnya—Nita—yang berpakaian ketat serba hitam yang tengah mengatur bola-bola kaca aneh di atas rak."Itu cuma mimpi, kan? Nggak penting, ah." Ungkap gadis lainnya—Bella—yang duduk di samping gadis kecil berambut biru. Gadis berkacamata itu sedang menatap malas pada bola kaca di tangannya."Hey... Kalian nggak asik, ah." Ujar Abel tampak kecewa. Anak lelaki berambut merah gondrong dan bermata kuning keemasan itu menghela nafas dalam, dan hanya bisa pasrah dengan sikap teman-temannya yang tidak seperti yang diharapkan."Lagian, kita semua tahu, kok, kalau naga bersisik merah yang ada di dalam mimpimu itu, adalah kau. Jadi, nggak usah diceritain lagi, deh." Ujar Bella."Tapi... aku serius, lho." Kata Abel. Wajahnya kini terlihat tegang. "Aku sudah cukup lama nggak memimpikan itu. Jadi, kupikir itu semacam pertanda."Teman-temannya yang lain langsung melirik Abel dengan tatapan penasaran. Itu mungkin karena Abel jarang terlihat serius seperti ini. Mengingat dia orangnya selalu tersenyum dan senang bercanda."Hey, hey, serius, itu cuma mimpi, lho." Nita berusaha untuk menenangkan Abel."Kan, empat tahun lalu kamu juga sempat memimpikan tentang kejadian itu, tapi, lihat, nggak terjadi apa-apa, kan, waktu itu." Ujar Fira sambil menyandarkan wajahnya di kedua telapak tangan."Nita dan Fira benar." Kata Bella yang kini tidak terlihat malas lagi. Dia menghela nafas dalam. "Lagi pula, sekarang kamu juga sudah bisa sedikit bersenang-senang, bukan? Kamu nggak perlu lagi berpindah-pindah tempat setiap tahun. Mungkin, ada baiknya jika kau menganggap kejadian di masa lalu itu sebagai mimpi saja mulai sekarang." Gadis itu menjelaskan. "Bukannya kami memintamu untuk melupakan kejadian itu, tapi, situasimu akan jadi lebih baik kalau kamu nggak mengungkit-ungkit soal kejadian itu lagi.""Tapi, tetap saja perasaanku nggak enak..." bisik Abel."Ya, kita semua yang ada di sini tahu, kok, bagaimana rasanya hidup bukan sebagai manusia biasa." Kata Bella yang kembali menatap lamat-lamat pada bola kacanya. "Maksudku... nggak semua orang bisa mendapatkan kesempatan untuk menjalani semuanya dari awal lagi.""Toh, sudah lima tahun kau tinggal di toko ini, dan nggak ada masalah, kan?" kata Nita. "Lagi pula, kami bertiga juga datang menemanimu setiap musim dingin.""Ya... kalian benar juga, sih... cuma...."Meski begitu, perasaan gelisah itu masih menggumpal di dalam diri Abel."Ya sudah, ah. Mendingan aku cari udara segar di luar." Abel akhirnya mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan berjalan-jalan keluar ke luar toko.Sesampainya di luar, Abel langsung disuguhkan dengan pemandangan hujan kepingan-kepingan putih salju yang tak terhitung jumlahnya yang berhamburan dari angkasa. Udaranya juga terasa dingin, sejuk, sekaligus menusuk. Namun, walau Abel tidak bisa merasakan panas ataupun dingin, tapi anehnya, dia selalu merasa lebih nyaman dengan cuaca yang dingin seperti ini."Hah... Sepertinya memang benar kalau tahun ini bakal jadi lebih dingin daripada tahun kemarin." Keluh Abel yang tersenyum kecut. "Aku jadi kangen sama Indonesia."Abel lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Sejauh mata hanya salju saja yang bisa dilihatnya. Tak ada satupun pejalan kaki yang terlihat. Jalan raya di depannya bahkan kosong melompong bagai kuburan. Tapi, saat dia menoleh ke belakang dan memandang toko miliknya, Abel jadi merasa rindu dengan masa lalunya."Toko Sihir Astaroth. Menawarkan barang dan jasa." Abel membaca hiasan tulisan berkelap-kelip yang menempel di dinding kaca di bagian depan. "Syukurlah, sudah lima tahun sejak aku membuka toko ini, dan sampai sekarang nggak ada keluhan apapun." Nafasnya mengepul di udara.Rasanya, dunia ini terasa sangat tenang. Padahal, sejak kejadian beribu-ribu tahun lalu, Abel sama sekali tidak menyangka kalau dia bisa merasakan ketenangan seperti ini lagi. Orang seperti dirinya, yang pernah melenyapkan jutaan manusia dalam satu malam, ternyata malah diberikan kesempatan kedua oleh sang Pencipta.Sampai sekarang, Abel masih tidak tahu alasan mengapa Tuhan memberikan hadiah megah semacam ini kepada Abel."Ya... Tuhan memang bertindak dengan cara yang terlalu aneh, bahkan bagi seorang Crystalian sepertiku... seekor Naga... " Gumam Abel sambil memasang senyuman kecil. "Mereka benar. Aku nggak akan membiarkan mimpi itu membuat usahaku lima tahun ini menjadi sia-sia.""Permisi, Nak." Sapa seorang pria yang tiba-tiba muncul di depan Abel tanpa dia sadari."Eh? Ada apa, Om?" Tanya Abel sedikit terkejut."Kalau Om boleh tahu, apa sebenarnya barang yang dijual di dalam toko itu?" Tanya si pria sambil menunjuk ke arah toko Abel."Oh, toko ini menjual alat-alat yang berhubungan dengan dunia magis, Om. Seperti bola peramal, kartu tarot, jimat, dan benda-benda aneh lainnya." Jawab Abel sambil memandang heran pria itu. "Dan kebetulan saya pemilik toko ini, Om.""Kamu pemilik toko ini?" Tanya si pria tampak terkejut. "Wah... hebat juga. Padahal kamu masih sangat muda.""Eh... Kalau boleh tahu, Om ini asalnya dari mana, ya? Kok, bahasa indonesia om fasih banget?""Ya, karena saya memang warga negara Indonesia, Nak." Jawab pria misterius itu sambil tersenyum kecil. Lalu, pria itu kembali melihat toko Abel dengan tatapan kagum. "Bagaimana dengan keaslian barang-barang yang kamu jual di toko ini?""Seratus persen asli, sih, Om. Tapi, kami selalu memberikan syarat khusus kepada para pelanggan yang ingin membeli barang-barang kami atau menyewa jasa kami, agar lebih aman."Bohong kalau Abel tidak curiga dengan pria ini. Abel sama sekali tidak bisa merasakan apa-apa dari pria itu. Benar-benar tidak ada apa-apa. Tidak ada aura, karisma atau semacamnya. Tapi, Abel tahu kalau orang ini hanya manusia biasa. Hanya saja, memang ada sesuatu yang aneh dari orang ini. Dan itu membuat Abel menjadi awas."Om boleh tidak menyewa jasamu saja?""Ah, ya, tentu saja, Om." Jawab Abel spontan sambil tersenyum lebar. Rasa curiganya tadi telah sirnah, karena sekarang ini adalah urusan bisnis. "Tapi, jasa seperti apa yang ingin om pakai?""Begini." Ujar pria itu seraya melepas sarung tangannya. "Tolong baca garis tangan Om, dan beritahu Om tentang jati diri Om yang sebenarnya. Jujur saja, terkadang Om sendiri bahkan tidak mengenal siapa diri Om yang sebenarnya.""Ya, Om tenang saja. Manusia memang sering begitu, kok." Abel kemudian dengan perlahan menggapai tangan kanan pria itu, lalu meraba-raba bagian telapaknya. Dan tiba-tiba saja, kedua mata Abel mulai berpendar memancarkan cahaya merah temaram, saat ia memandang lekat-lekat telapak tangan pria itu."Wah, matamu menyala. Apa itu semacam trik?" Tanya si pria."Nggak Om." Kata Abel yang masih fokus menelisik telapak tangan si pria. "Mataku memang bisa jadi seperti ini kalau aku menggunakan kekuatanku." Ujar Abel hampir berbisik.Akhirnya, setelah Abel selesai membaca sifat dan karakter pria itu melalui media telapak tangan, Abel pun menutup matanya sejenak dan saat ia membuka kelopaknya kembali, sinar di matanya sudah padam begitu saja.Abel mendapati kenyataan yang cukup menyeramkan dari pria itu. Tapi, seharusnya itu bukan ancaman bagi orang seperti Abel."Eh... Mungkin ini agak mengejutkan, tapi sifat om sendiri... bisa dibilang cukup buruk." Jelas Abel ragu-ragu."Heh... kamu memang benar." Katanya, "Ayo, lanjutkan saja, kamu tidak perlu takut.""Om orangnya pemarah, agak anti sosial juga. Senang memukul... selalu bisa memulai konflik, atau memperbesar masalah tepatnya. Dan tidak cocok menjadi kepala keluarga karena sifat Om yang ingin selalu berada di atas dan memerintah. Juga, om tidak suka ada yang menentang keputusan Om. Terus, Om juga tidak suka minum kopi, dan suka pilih-pilih makanan. Lalu... " Abel berusaha mengingat-ingat apa yang tadi dibacanya. "Dan Om... berduka.""Hebat, hebat. Sungguh berbakat kamu, Nak. Seumur-umur aku tidak pernah melihat orang yang bisa membaca garis tangan dengan sangat mudah seperti dirimu." Kata si pria yang terdengar kagum. "Semua yang kau katakan itu benar sekali, Nak. Ya, walau ada beberapa yang kurang, tapi semua yang kamu bilang tadi itu seratus persen benar."Meski jati dirinya yang bisa dibilang buruk sudah diketahui oleh Abel, tapi pria itu terlihat sangat kalem. Atau mungkin, memang seperti itulah ciri-ciri orang dewasa."Hehehe... makasih, Om." Kata Abel yang masih tersenyum lebar. "Tarifnya lima dolar, Om, untuk pembacaan tadi. Silahkan menuju ke meja kasir untuk membayar jasa yang telah Om pakai."Pria itu tertawa dengan suara yang agak keras. "Baiklah, baiklah."Setelah mereka berdua masuk ke dalam toko, Fira langsung menyambut pria itu dengan riang. Sementara Bella yang berada di sebelah Fira masih memandangi bola kacanya, dan Nita masih menyusun barang-barang jualan di rak."Selamat datang di Toko Sihir Astaroth!" Seru Fira. "Kami menjual—""Om ini sudah menyewa jasa membaca telapak tangan waktu di luar tadi, sekarang tinggal di bayar saja." Potong Abel."Oh, baiklah. Berarti semuanya lima dolar, Om.""Wah, tempat yang nyaman." Kata pria itu sambil memandang berkeliling. "Dan... sudah kuduga, kalau kalian semua yang ada di sini... adalah Rakyat Dunia Lain. Para Crystalian... ""Eh... " Suara kecil itu bukan hanya keluar dari mulut Abel saja, tapi juga dari mulut Fira, Nita dan Bella.Suasana di dalam toko menjadi tegang seketika."Siapa kau... ?" Tanya Abel dengan nada dingin.Mereka semua sekarang memandang pria misterius itu dengan tatapan yang tajam.Pria itu mulai berjalan melihat-lihat barang-barang yang ada di sana. "Apa kalian pernah mendengar NOX?""NOX... itu bukannya organisasi yang memburu para Crystalian?" Tanya Nita.Pria itu lalu berhenti melangkah, dan memandang Abel sambil tersenyum tipis. "Ya, dan kebetulan aku adalah pendiri NOX."Perkataan si pria langsung membuat Nita, Fira, dan Bella tersentak kaget. Tapi, tidak dengan Abel. Bibir anak itu malah membentuk senyuman simpul."Kalian tahu? Aku membangun organisasi itu setelah anakku meninggal dua belas tahun lalu." Pria itu menjelaskan. "Aku ingat betul, malam itu, ada sesosok makhluk raksasa bertubuh hitam pekat yang terlihat di langit. Aku dan istriku sempat mengira kalau itu hanya imajinasi kami saja, tapi ternyata semua orang yang ada di perumahan kami juga bisa melihat makhluk mengerikan itu. Namun, setelah beberapa menit, tiba-tiba makhluk itu jatuh ke daratan lalu... meledak seperti bom.""Tunggu... aku pernah mendengar cerita itu. Kalau nggak salah, tragedi itu terjadi di Medan." Kata Nita."Benar sekali." Ungkap pria itu. "Ratusan orang di perumahan kami meninggal malam itu juga, termasuk anakku. Sementara aku dan istriku adalah satu-satunya korban yang selamat.""Tapi... Makhluk hitam yang Om lihat dilangit itu adalah Dosa... " Jelas Fira yang tampak takut sambil menoleh memandang Bella dengan tatapan cemas. "Dan... tidak mungkin Dosa bisa menyebabkan hal seperti itu. Mereka bahkan tidak memiliki fisik.""Hmm... sudah kuduga kalau kalian juga berpikir begitu. Tapi... sayangnya, kami sendiri yang mengalaminya." Katanya santai. "Oh, dan sayangnya lagi... tempat ini sudah dikepung oleh pasukanku.""Hah!? Yang benar!?" Pekik Fira panik."Ya, dia tidak bohong." Bisik Bella."Nah, kalau begitu, ada bagusnya jika kalian menyerahkan diri sekarang, karena kami memiliki alat yang mampu menetralkan kekuatan aneh kalian.""Kalau boleh tahu, apa saja, sih, yang Om ketahui soal kami? Rakyat Dunia Lain—Crystalian?" Tanya Abel yang juga tampak santai."Ya, intinya kalian semua itu adalah sampah yang seharusnya tidak ada di dunia ini." Jelas pria itu. "Tapi, aku juga sebenarnya tahu cara membedakan mana yang lemah dan mana yang kuat. Dan kamu, Nak," dia menunjuk Abel. "Kau sepertinya kuat... sangat kuat. Baru pertama kali aku melihat yang sepertimu. Itulah sebabnya aku mengambil langkah aman untuk menangkap kalian.""Ya, Om memang benar. Aku sangat kuat, lho. Tapi, kalau soal pengalaman, mungkin Nita adalah yang paling hebat di sini. Soalnya dia sudah berperang dua kali." Abel menunjuk ke arah Nita yang masih berada di depan rak. "Namun, ada satu hal penting yang harus Om ketahui tentang kami. Di antara seluruh Crystalian, ada satu kaum yang bisa dibilang terlalu kuat karena tidak memiliki batasan apapun. Dan, karenanya, kaum itu dianggap sebagai entitas yang sama dengan sang Pencipta. Mereka disebut Selestial, atau anak-anak bintang. Dan... sayangnya, aku adalah Selestial, Om.""Hoh, begitu, ya? Tanpa batas katamu?" Pria itu tiba-tiba melihat arlojinya. "Aku ada acara makan malam hari ini, jadi cepat putuskan apa pilihan kalian.""Oh, iya, terima kasih karena sudah memberikan kami waktu untuk melarikan diri." Ujar Nita sambil nyengir lebar."Tunggu, Apa!?" Pria itu terkejut setengah mati kala mendengarnya."Lubuntur Defuid... " Setelah Nita membisikkan kalimat itu, tiba-tiba saja terdengar suara guntur menggelegar serta kilat hijau yang turun dari langit-langit, dan langsung menyambar Bella, Fira, juga Nita, dan membuat ketiga gadis itu lenyap entah kemana, meninggalkan Abel sendirian di sana."TIDAK! TIDAK! TIDAK!" Pria itu mengamuk karena telah kehilangan tiga mangsa yang berharga. Dan Abel yakin, pria ini menganggap Nita sebagai target yang paling berharga karena pengalamannya itu. Dia kini terlihat sangat marah. "Bocah keparat...!"Tiba-tiba, ada suatu cahaya merah yang terpancar dari balik mantel pria itu, lalu, tak lama kemudian, pakaiannya perlahan-lahan mulai bertukar menjadi sebuah baju baja atau mungkin perlengkapan robot atau semacamnya, hingga menutupi seluruh tubuh pria itu dan membungkusnya.Dalam balutan zirahnya, sekarang pria itu terlihat dua kali lebih besar dan kekar dibanding sebelumnya. Cahaya-cahaya merah juga terpancar dari sekujur tubuhnya. Mungkin itu semacam urat atau aliran energi yang memberikan tenaga pada zirahnya. Namun, secara keseluruhan, wujud dari zirah itu persis menyerupai iblis. Ada dua tanduk yang mencuat di atas kepala, dan pada bagian wajahnya juga ada empat itik kecil yang mengeluarkan cahaya semerah darah, sehingga membuat penampilannya menjadi amat mengerikan."Kau akan membayar semuanya bocah sialan!" Ujar pria itu. Suaranya juga telah berubah jadi lebih dalam, keras, dan menggema."Hmm? Tidak, bukan aku yang akan membayarnya. Tapi Om." Abel melangkah maju dengan pelan, namun anehnya, kakinya ternyata sama sekali tidak menyentuh tanah, dia berjalan di udara. Tangannya dalam sekejap mata menggapai leher pria itu dan mencengkeramnya keras-keras hingga menembus permukaan zirahnya. "Om lah yang harus membayar semuanya. Karena Om sudah mengancam aku dan teman-temanku, dan Om juga belum membayar jasa yang Om pakai tadi.""Ugh! Apa-apaan! Cepat Lepaskan!"Dengan gerakan yang ringan, Abel melempar pria itu ke atas bagaikan melempar sebutir kelereng hingga menembus langit-langit. Pria itu terus terlontar jauh—sangat-sangat jauh—tinggi ke angkasa hingga tak terlihat lagi.Abel kemudian ikut melompat melewati lubang di langit-langit tokonya. Akan tetapi, begitu Abel terlihat di tempat terbuka, pada saat itu pula, para prajurit yang tadinya sudah mengepung toko langsung menyerbu Abel dengan tembakkan senapan mesin. Tapi sayangnya peluru mereka sama sekali tidak bisa mengenai Abel karena dia terbang dengan kecepatan tinggi.Nyala api membara muncul membungkus tubuh Abel. Api itu semakin besar dan besar, membuat Abel terlihat seperti matahari yang melaju ke atas. Namun, setelah beberapa detik, bola api raksasa itu akhirnya mulai padam, lalu seekor naga raksasa bersisik merah dan bersayap api muncul dari baliknya menggantikan keberadaan Abel. Itulah wujud Abel yang sebenarnya. sang Naga Merah, salah satu dari Empat Naga Berwarna."TIDAK MUNGKIN!" Pria itu menjerit ketakutan. "SEEKOR NAGA!?""Dengan ini, aku anggap semuanya sudah lunas!" Teriak Abel dengan suara yang amat keras dan menggelegar. Abel yang berada dalam wujud naganya membuka rahangnya lebar-lebar, dan bersiap menelan bulat-bulat pria itu."TIDAK! TUNGGU! TOLONG AMPUNI AKU!"Namun, ketika jarak gigi-gigi Abel dengan tubuh pria itu tinggal beberapa jengkal saja, tiba-tiba saja ada satu suara yang berbisik di dalam benak Abel. Suara itu berhasil membuat rahang Abel menutup rapat, dan membuat hatinya merasa sangat tenang.Abel mematung di angkasa. Dia benar-benar menghiraukan si pria yang kini sudah berada jauh di bawahnya. Padahal dia tadi sempat emosi karena tingkah pria itu."Abel?" Tanya suara tak bertuan itu. Suara seorang sendu dan menenangkan. Suara seorang wanita, tentu saja."Guru... ""Abel, kamu di mana? Semuanya sudah ada di sini, lho.""Baik... aku akan kesana sekarang, Guru." Abel mengibaskan sayapnya dengan sangat kuat hingga membuat angin di sekitarnya mengamuk, kemudian ia terbang dengan kecepatan tinggi menuju ke arah barat, menembus hujan salju.Ia terus terbang dengan sangat cepat, dan setelah beberapa waktu berlalu, Abel akhirnya berhasil keluar dari langit yang bersalju, dan terbang di bawah langit yang memancarkan cahaya mentari keemasan nan hangat.Namun, perjalanan Abel belum usai. Dia tetap mengepakkan sayapnya dan terus melaju dengan kecepatan kilat, sampai dia tiba lagi di langit bersalju yang berbeda.Meski dia hampir tak bisa melihat apa-apa dari atas sana, tapi Abel tetap tahu dimana gurunya berada. Dia bisa menciumnya, dan juga merasakannya. Dia tidak perlu mata untuk menemukan seorang yang berharga baginya.Sebelum turun dari langit, Abel memutuskan untuk berubah kembali menjadi wujud kanak-kanaknya. Kulit serta sisiknya yang lebih keras dibanding baja mulai berubah menjadi api, dan sedikit demi sedikit, sosok naga itu pun lenyap dan digantikan oleh siluet seorang anak berambut merah dengan wajah yang tampak dingin.Abel mendarat di suatu tempat yang merupakan puncak paling tinggi di pegunungan Himalaya. Di sana Abel disambut oleh tiga orang anak lainnya yang wajahnya begitu mirip dengan Abel.Ada anak lelaki berambut hijau pendek cepak, serta anak lelaki berambut biru gelap yang tersisir rapi, dan seorang anak gadis yang tampangnya paling aneh di antara mereka berempat. Rambut gadis itu memiliki dua warna yang berbeda; yaitu warna hitam di rambut bagian kanan, dan warna putih di bagian kiri. Kedua warna itu benar-benar terbelah tepat di bagian tengah rambutnya. Bahkan, dia juga memiliki dua bola mata yang berbeda, senada dengan warna rambutnya.Namun, Abel menghiraukan ketiga saudaranya, lalu berjalan melewati mereka dan menghampiri sebuah bunga yang tumbuh di tengah puncak itu.Bagi Abel, bunga itu adalah bunga paling indah yang ada di dunia ini. Kelopaknya sendiri berupa permata yang berpendar dengan warna biru temaram, dan mahkotanya pun juga adalah permata yang memancarkan warna biru cerah dan terang. Jika dilihat lebih dekat, Abel seakan bisa bola-bola cahaya yang menari-nari di dalam mahkotanya.Itulah Guru Abel.Abel jatuh di atas kedua lututnya saat ia sampai di hadapan bunga itu. Kepalanya tertunduk sangat dalam."Maaf aku terlambat... Guru... " Bisik Abel."Aku melihat apa yang kamu lakukan, Abel." Ujar suara wanita itu. "Tapi, syukurlah aku juga tepat waktu, jadi kau sama sekali belum melanggar janji kita. Hanya hampir, kok.""Ya... terima kasih karena telah mencegahku, Guru." Kata Abel sambil mengangkat kepalanya kembali dan tersenyum kecil."Namun, hari ini aku ingin bertanya pada kalian semua."Ketiga saudara Abel yang lain juga langsung menaruh perhatian mereka secara penuh kepada bunga itu."Apa kalian merasakan perasaan yang tidak mengenakkan itu?"Abel terkejut mendengar pertanyaan itu."Ya, kami merasakannya, Guru." Kata si gadis lucu bertampang setengah-setengah."Kukira hanya aku saja yang merasakannya... " Bisik si Anak berambut biru."Apa yang sebenarnya terjadi, Guru?" Tanya si Anak berambut hijau.Abel terperangah. Padahal, dia sendiri sudah setuju untuk menganggap perasaan yang tidak mengenakkan itu sebagai angin lewat saja. Tapi, ternyata perasaan itu bukanlah sesuatu yang harus dihiraukan. Apalagi, kini gurunya sendiri juga sudah menyinggung tentang itu."Mimpi itu bahkan datang lagi tadi malam... " Bisik Abel takut-takut.Tatapan semua orang sekarang tertuju pada Abel. Terlihat jelas dari raut wajah mereka, kalau mereka juga telah mendapatkan mimpi buruk yang sama."Manusia sudah berubah. Dunia sudah berubah." Guru menjelaskan. "Sesuatu yang besar akan datang tak lama lagi. Bencana, malapetaka, peperangan, dan... janji yang akan teringkari."Keempat anak itu langsung tersentak kaget saat mendengar bagian yang terakhir."Beribu-ribu tahun lalu, kalian mengamuk dan hampir menenggelamkan seluruh Benua Eropa setelah melihatku dibakar hidup-hidup oleh penduduk desa yang sebenarnya tidak tahu apa-apa."Abel dan ketiga saudaranya langsung menundukkan kepala saat gurunya mulai bercerita tentang masa lalu mereka yang amat mengerikan."Tapi untung saja sang Pemilik Dunia yang baru datang dari masa depan, dan dengan kekuatannya, dia menghidupkanku kembali menjadi seperti sekarang ini." Guru melanjutkan. "Aku memang bahagia. Tapi, sayangnya bara amarahku timbul saat aku tahu bahwa kalian sudah memusnahkan jutaan manusia, anak-anak, wanita, dan bahkan pria yang tak berdosa. Dan sejak saat itu, kalian berempat berjanji tidak akan pernah menyakiti manusia lagi. Akan tetapi... mulai hari ini... Kalian mungkin akan, dan pasti mengingkari janji itu."Keempat anak itu berniat untuk menyela sang Guru. "Tapi, Guru! Kami tidak mungkin mengingkari janji—""Pasti, kalian akan mengingkari janji itu." Jelas sang Guru, ada nada final dalam suaranya. "Hanya tinggal menunggu waktu saja.""Tidak mungkin! Kami tidak bisa melakukannya!" Teriak si anak biru."Janji itu adalah tali penyambung kehidupan Guru!" Saudara perempuan Abel mulai menangis."Jika kami melakukannya... maka Guru akan pergi... Untuk selama-lamanya... " Gumam Abel. "Aku tak bisa... aku belum siap."Ketiga saudara Abel yang lain kini ikut berlutut di samping Abel. Mereka berusaha berada sedekat mungkin dengan bunga itu. Wajah mereka penuh nestapa. Kekecewaan mulai melahap nurani. Rasa takut yang amat besar telah melahap mereka."Kalian sudah siap." Jelas sang Guru. "Tapi, pastikan kali ini kalian tidak akan membuat kesalahan lagi.""Tapi—""Kalian harus berjanji untuk tidak melanggar peraturan apapun. Meskipun nanti aku mati, aku berharap kalian tidak akan pernah melanggar janji itu.""Tidak! Guru tidak boleh mati!" Mereka memekik bersamaan."Inilah takdir... "Walau badai salju tengah mengamuk, keempat anak itu tetap tak beranjak dari sisi bunga itu, seakan mereka berusaha untuk menjaga agar bunga itu tidak terbang tertiup angin. Kenyataannya, penderitaan mereka lebih menyakitkan dibandingkan rasa sakit apapun yang ada di dunia ini. Namun, mereka tetap disana. Hingga akhirnya takdir terpaksa menyeret mereka ke dalam malapetaka yang lebih gelap dibandingkan kegelapan itu sendiri.

Pembunuh yang Mendambakan Kehidupan
Folklore
12 Dec 2025

Pembunuh yang Mendambakan Kehidupan

Kebenaran pahit adalah monster yang nyata di dunia ini.Zeal hidup hanya untuk satu hal, yaitu; uang. Dia membutuhkan banyak uang untuk menghidupi ketiga adiknya. Meskipun ia harus terjun ke dalam jurang yang amat gelap dan penuh dengan kedengkian, dia tidak peduli, asalkan dia tetap mendapatkan uang.Segala cara dihalalkannya demi mendapatkan uang, termasuk mencuri, bahkan menjual barang-barang terlarang. Dan dari segala jenis pekerjaan jahat yang ada di dunia ini, yang paling banyak menghasilkan uang ialah dengan menjadi pembunuh bayaran. Dan, ya, Zeal adalah pembunuh yang andal. Walaupun itu adalah dosa besar, dia tidak peduli, asalkan ketiga adiknya bisa hidup berkecukupan.Di Indonesia sendiri, membunuh merupakan suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Kebetulan juga pihak keamanan negara pun belum memiliki teknologi yang cukup dalam memecahkan kasus pembunuhan yang rumit dan tidak wajar.Zeal memiliki banyak hal yang dapat digunakannyadalam menjalankan pekerjaannya. Segala kebiasaan yang telah ditingkatkan melalui latihan jangka panjang, seperti berjalan, meraba, bernafas, melihat, bahkan mendengar—semua hal-hal biasa itu baginya adalah senjata yang mematikan.Langkahnya seringan angin. Nafasnya setenang lembah kelam. Sentuhannya sehalus sutra. Tatapannya bahkan mampu menembus dan membaca isi hati orang lain. Juga telinganya yang tajam, mengubahnya menjadi predator yang berbahaya.Tak bisa dipungkiri lagi, bahwa dia memang pembunuh profesional.Namun, saat ini dirinya sama sekali tidak dapat berkutik. Walaupun dengan segala kemampuan yang ia miliki, percuma saja, karena sekarang dia benar-benar sudah terpojok. Bahkan tak ada celah kecil dimana pun.Nafas remaja kurus berpakaian serba hitam dan ketat itu terengah hebat. Rambut gondrongnya terlihat basah karena bermandikan keringat. Sementara matanya yang hitam bak kegelapan malam, masih terpaku pada satu titik jauh di depannya. Jantungnya berdegup kencang, dan matanya membuka sangat lebar tiap kali mendengar suara-suara dari balik pintu di ujung lorong itu.Zeal tak dapat pergi kemanapun lagi sekarang. Polisi sudah menjebaknya agar masuk ke dalam rumah yang terisolasi ini. Benar-benar hari yang buruk. Dia tak pernah menyangka akan mengalami hal seperti ini."Menyerahlah!" sahut suara dari balik pintu itu. "Rumah itu tak lebih dari kandang khusus untukmu yang telah kami persiapkan dari jauh hari untuk menangkapmu!"Zeal menyeringai tipis sambil menyeka keringat di dahi. "Sialan. Kesabaran mereka pasti sudah habis. Sampai-sampai membuat jebakan seperti ini buatku." Ya, tentu saja begitu, apalagi Zeal adalah satu-satunya pembunuh di indonesia yang sudah membunuh seratus tiga puluh orang.Tangan kanannya menggapai sesuatu di belakang pinggangnya; sebuah sarung untuk senjata tajam berukuran kecil. Tapi sayangnya, tak ada apapun di situ. "Hah... benar-benar hari yang penuh kesialan." Gumamnya lagi. "Bisa-bisanya pisau itu jatuh!" Dia masih tak menyangka, karena telah menjatuhkan belatinya—satu-satunya senjata yang ia miliki.Tidak ada penyesalan. Zeal terus mengulang kalimat itu dalam benaknya. Tapi, disaat itu juga, ia tengah memikirkan ketiga adiknya di gubuk yang mungkin sedang menunggunya pulang saat ini.Zeal menyipitkan mata. Dia berusaha untuk santai dan tidak terlalu tegang. Namun, bibirnya yang membentuk senyuman tetap tak berhenti bergetar, karena mungkin saja hari ini, dia tidak akan pulang ke rumah, dan tidak akan menemani ketiga adiknya untuk menyikat gigi lagi."SUDAHLAH! LANGSUNG SAJA TEROBOS MASUK!" Seru suara dari luar.Seketika, karena panik, Zeal memasang kuda-kuda saat mendengar sahutan itu. Dia bersiap-siap untuk menerjang ke arah pintu, dan berharap menemukan kesempatan untuk melarikan diri dari serbuan peluru.Akan tetapi, suatu hal yang amat mengejutkan terjadi. Pintu itu didobrak dengan cara yang tidak biasa. Entah apa yang membuat pintu itu sampai tiba-tiba terhempas ke arah Zeal begitu saja dengan sangat cepat. Tapi, untung refleks Zeal yang luar biasa, mampu membuat dirinya menghindari terjangan pintu itu dengan mudah—dia langsung membungkuk."Apa-apaan!" Walau begitu, dia tentu saja terkejut. Pintu itu terhempas seolah-olah baru saja diserang oleh sesuatu yang sangat besar seperti tank.Namun, Zeal baru saja membuat kesalahan yang amat besar. Dia melewatkan kesempatan untuk melarikan diri, karena terlalu terpaku pada kejadian barusan. Tapi, saat Zeal bangkit, dia kembali dikejutkan oleh pemandangan aneh.Ada seorang gadis yang berdiri di ujung sana. Rambut peraknya yang panjang dan lebat, ditambah oleh matanya yang sebiru langit cerah, juga pedang raksasa yang ditancapkannya di lantai, membuat gadis yang mengenakan semacam gaun pengantin putih itu, terlihat amat mengerikan. Wajahnya yang kosong bahkan berhasil membuat Zeal keringat dingin."Ke mana semua polisinya..." gumam Zeal sambil menilik gadis itu. Benar-benar pemandangan yang tidak masuk di akal sebenarnya. Gadis itu tampak normal dan sepertinya dia masih berusia delapan belasan, tapi anehnya, dia datang ke sini sambil mengenakan gaun pengantin, juga membawa pedang besar yang gila. "Apa dia baru saja kabur dari pernikahannya?""Zeal Longres, pelaku dari pembunuhan berantai di kota seluruh Indonesia." Ujar gadis itu tiba-tiba. Suaranya datar dipadu wajahnya yang kosong terkesan membuatnya terdengar makin aneh."Eh? K-kau siapa?" tanya Zeal ragu-ragu. Pasalnya, gadis ini benar-benar aneh. Zeal sering bermain game, jadi dia tahu bagaimana sosok karakter-karakter fiksi berkekuatan tak masuk akal dalam dunia game. Dan gadis ini benar-benar terlihat seperti karakter fiksi. "Walaupun kau gadis, aku tidak akan segan-segan." Kata Zeal dingin seraya menelan ludah.Gadis itu mencabut pedangnya dari lantai, seolah itu bukan apa-apa. Padahal tangannya sendiri sangatlah kurus dibanding bilah pedang yang diangkatnya. "Jumlah korban, seratus tiga puluh jiwa. Dan hukuman yang dijatuhkan dari pemerintah adalah, hukuman mati." Jelasnya sambil mengacungkan pedangnya ke arah Zeal."Aku tidak tahu siapa kau, dan aku tidak tahu apa yang kau lakukan di sini, tapi, maafkan aku, karena aku tidak bisa membiarkan satupun saksi untuk hidup." Gumam Zeal sambil memikirkan suatu cara untuk membunuh gadis luar biasa aneh ini. "Ya, cara satu-satunya adalah dengan memutar lehernya." Bisiknya.Zeal memantapkan pijakannya, kemudian dengan satu tarikan nafas, dia dengan sangat cepat melesat lurus menuju ke arah si gadis.Gadis itu tiba-tiba mengangkat pedangnya ke atas dan bersiap menebas ke depan.Zeal menyeringai. Walau gadis itu kelihatan menakutkan, tapi Zeal yakin, dia pasti hanya seorang amatir. Memangnya orang gila macam apa yang datang ke tempat seperti ini mengenakan gaun pengantin?Zeal terus membatin seolah-olah dia telah memenangkan pertarungan ini. Zeal bisa saja menyerangnya dari depan, tapi pedang itu benar-benar berhasil membuatku merinding. "Baiklah kalau begitu!"Di mata Zeal, waktu seakan-akan berjalan sangat lambat, seiring dengan degup jantungnya yang semakin cepat.Saat Zeal sudah berada cukup dekat dengan gadis itu, dia menambah kecepatan langkahnya, kemudian melompat dan menapak di dinding di samping kanannya dengan kedua kakinya. Gerakannya benar-benar lihai dan seringan angin. Dia kemudian segera melompat ke belakang si gadis. Tapi anehnya, gadis itu masih berdiri diam seperti tadi.Dan akhirnya, tiba saatnya untuk memelintir leher si gadis.Kedua tangan Zeal segera menggapai kepala gadis aneh itu dari belakang. Namun, semuanya terasa sangat ganjil. Bahkan, tak sekalipun gadis ini menoleh ke arah Zeal yang sudah jelas-jelas berada di belakangnya.Zeal yakin ini bukan jebakan. Dan aura menakutkan yang dipancarkan gadis itu juga bukanlah tipuan semata. Entah dia bodoh atau memang ini juga bagian dari rencananya, tapi walau begitu, Zeal tidak akan membuang kesempatan sekecil apapun."Hah..."Suara helaan nafas yang tenang dan sendu dari gadis itu, tanpa alasan membawa perasaan yang amat mengerikan ke dalam diri Zeal. Seolah-olah ada angin badai yang hebat menghantam Zeal dan menghancurkannya menjadi kepingan-kepingan kecil. Mata Zeal seketika terbelalak lebar, dan instingnya mengisyaratkan dirinya untuk segera berlari sejauh-jauhnya dari sana.Namun, semuanya sudah terlambat. Gadis itu tetap melancarkan tebasannya ke depan, dan—Boom! Disertai kilatan putih yang menyilaukan, terjadilah ledakan yang amat dahsyat hingga memporak-porandakan segalanya.Zeal terhempas jauh ke belakang—ke luar rumah—sampai-sampai dia menabrak sebuah pohon. Rasanya benar-benar sangat menyakitkan, apalagi di bagian punggungnya. Walau akhirnya dia sudah keluar dari rumah itu, tapi perasaan yang sangat tidak enak ini masih saja ada di dalam dirinya. Bahkan perasaan itu membuat Zeal seakan tak dapat mengendalikan raganya lagi."Kenapa... tubuhku tak bisa bergerak..." Zeal sekarang terbaring tak berdaya di tanah berlumpur. "Oh, ayolah!" Dia terus berusaha memaksa tubuhnya untuk bergerak, tapi bahkan satu jarinya pun sama sekali tak merespon perintahnya. "Sialan! Apa yang sebenarnya baru saja terjadi!? Aku yakin tidak menyentuh apapun!"Zeal melirik ke segala arah, dan anehnya, sepasukan polisi yang tadinya berkumpul di sini ternyata sudah hilang begitu saja. Zeal kemudian beralih pandang ke arah rumah itu, yang telah hancur lebur menyisakan puing-puing di segala penjuru.Apa yang terjadi barusan pada umumnya memang sudah tak bisa lagi diterima oleh akal manusia. Sebuah ledakan dahsyat terjadi karena entah apa, dan itu bersamaan dengan saat si gadis mengayunkan pedangnya.Tidak masuk akal! Pekik Zeal dalam hati.Tiba-tiba, gadis berpakaian pengantin tadi mendarat di depan Zeal dengan pedang raksasa yang masih digenggamnya.Zeal benar-benar telah kehabisan akal. Dia menutup mata dan membayangkan maut yang mungkin akan menjemputnya sebentar lagi. Walau air matanya ingin menyembur keluar, tapi Zeal tetap menahannya, dan terus menjerit dalam hatinya. Tak ada penyesalan! Tak ada penyesalan! Tak ada penyesalan!"Apa yang kau rasakan, saat membunuh seseorang?" Tanya gadis itu.Zeal benar-benar terkejut saat mendengar pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut gadis ini. Pertanyaan yang terdengar sangat aneh di telinga Zeal. Apa yang dia rasakan saat membunuh? Ya, tentu saja kadang Zeal merasa jijik dan ngeri, juga berdosa, tentu saja."Padahal... kau ini masih muda, dan jalanmu masih sangat panjang. Tapi, kenapa kau memilih jalan seperti ini?" Gadis itu mengangkat pedangnya sekali lagi, dan tampaknya dia bersiap untuk memenggal kepala Zeal."Jika dengan cara ini, aku dan ketiga adikku bisa bertahan hidup di dunia yang rusak ini, sepertinya tak apa... " Bisik Zeal."Dosa adalah dosa... Jadi, sampai jumpa."Zeal merasa agak tenang sekarang. Ketakutannya akan kematian seolah hilang begitu saja, saat mendengar pertanyaan dari gadis ini. Ya, walau Zeal tahu bahwa ajalnya sudah berada di depan matanya, tapi jauh di lubuk hati kecilnya, dia sebenarnya sangat takut meninggalkan ketiga adiknya."Berhenti Sella!" Sahut seseorang dari belakang Zeal.Zeal seketika tersadar dari lamunannya. Tetapi dia tetap saja tak dapat menggerakkan tubuhnya."Tolong lepaskan kekanganmu darinya, Sella." Perintah suara itu—suara yang terdengar tua dan rapuh—yang jelas-jelas adalah suara seorang pria tua.Zeal mendengar suara kesempatan di situ."Baik, Tuan." Jawab gadis itu sambil menancapkan pedangnya ke tanah, dan pada saat itu pula, Zeal mendapatkan kembali tubuhnya.Zeal langsung bangkit, dan berniat menyandera seorang yang memberi perintah kepada gadis mengerikan ini. Tapi, belum saja Zeal berdiri tegak, satu tendangan didaratkan tepat ke wajah Zeal, dan langsung membuatnya terdorong mundur. Tapi untung saja, gadis mengerikan itu menahan Zeal."Ugh! S-sakit banget!" pekik Zeal sambil meraba wajahnya yang memerah. Darah mengucur keluar dari hidungnya yang dibuat patah. "A-apa yang kau lakukan!?" Hardik Zeal pada seorang pemuda tinggi jangkung, berambut pirang kuning gondrong dan bersetelan jas serba hitam layaknya pelayan, yang berdiri di samping kakek tua itu."Tentu saja, aku hanya melindungi Tuanku." Jelas pemuda itu sambil menyunggingkan senyuman kecil. Tapi tiba-tiba, entah kenapa senyum di bibir pemuda itu lenyap, dan matanya yang memancarkan hawa membunuh, menatap tajam pada Zeal, hingga membuatnya bergidik ngeri. "Kau harusnya bersyukur, karena bisa melihat wujud asli Tuanku." Katanya dengan nada sedingin es.Zeal melepaskan diri dari si gadis seraya menyeka keringat dinginnya. "S-siapa sebenarnya kalian!? A-apa mau kalian!?" tanya Zeal kesal. "Dan apa yang telah kalian lakukan pada semua polisi-polisi tadi!?""Aku memerintahkan mereka semua untuk kembali ke markas." jawab kakek itu. Dari tampangnya, dia terlihat seperti orang yang baik hati. Suaranya juga lembut, dan wajahnya pun terlihat tulus. "Karena aku yakin, tak ada satupun dari mereka yang dapat menyentuhmu.""Eh?" Zeal lumayan terkejut mendengar kakek itu. Padahal, dia sama sekali tidak terlihat seperti seorang polisi berpangkat tinggi. Apalagi dia dapat memerintahkan seluruh armada untuk kembali ke markas begitu saja, sementara target yang mereka cari-cari selama ini padahal sudah ada di depan mata. Entah sebesar apa pengaruh yang dia miliki pada pihak kepolisian. Atau mungkin, di negeri ini."Sebelumnya, perkenalkan, nama saya adalah Relanar Allefren. Kau boleh memanggilku Relan. Dan, saya adalah seorang pedagang." Kakek Relan melanjutkan. "Gadis dibelakangmu namanya Sella, dia adalah salah satu dari sekian banyak Pengawalku. Dan begitu juga dengan Nak Tom yang ada di samping saya ini." Si kakek merangkul pemuda itu—Tom—dengan akrabnya."Hah? Apa-apaan ini!? Untuk apa seorang pedagang membutuhkan pengawal!? Dan lagi pula, pengawal macam apa kedua orang ini!? Mereka bahkan bukan manusia!" pekik Zeal yang makin jengkel.Si kakek tertawa pelan sebelum angkat bicara. "Ya, mereka manusia kok, tapi... mereka memiliki kekuatan tambahan yang aku berikan."Zeal berusaha mencerna tiap kalimat yang keluar dari bibir kakek itu. "Kekuatan? apa sebenarnya maksud kakek?""Dengan kekuatan itu, kau setidaknya bisa membuat dunia ini menjadi tempat yang sedikit lebih baik. Kekuatan yang mampu mengubah kenyataan.""Apa... maksudnya...?" Kebingungan Zeal sudah sampai di puncaknya."Begini saja. Datanglah ke alamat ini." Kakek itu menyodorkan secarik kertas pada Zeal. Dia bahkan berjalan ke arah Zeal tanpa ragu. "Aku ingin kamu menjadi Pengawalku, Nak Zeal. Kemampuanmu pasti akan sangat berguna untuk membantu pekerjaanku yang menyusahkan ini.""Hah!? Menjadi pengawal—""Gaji per-harinya sepuluh kali sampai seratus kali lipat dibanding bayaran untuk membunuh satu orang." Kenyataan itu sukses membuat Zeal terdiam seribu bahasa. "Dan tentang masalah catatan kriminalmu yang hebat ini, kau bisa menyerahkannya padaku."Tiba-tiba saja, dering ponsel Tom berbunyi, sehingga membuat Zeal tersentak kaget."Yang lainnya sedang dalam perjalanan pulang, Tuan." Ujar Tom setelah membaca pesan masuk itu."Oh, baiklah." Kakek itu kemudian berbalik dan berjalan pergi, diikuti Tom juga Sella di belakangnya. Tetapi, mereka sempat berhenti sebelum benar-benar lenyap termakan kegelapan hutan. "Aku yakin, kau membutuhkan uang, nak Zeal. Agar ketiga adikmu bisa bertahan hidup." Jelasnya, hingga akhirnya, ketiga orang itu benar-benar lenyap tak terlihat ditelan kegelapan."Hah?" mata Zeal membuka amat lebar mendengar ucapan kakek barusan. Zeal sangat terkejut karena kakek itu tahu tentang keberadaan adik-adik Zeal. Zeal menggosok bibirnya dan meludahkan darah yang sedari tadi menggumpal dalam mulutnya karena tendangan telak Tom.Zeal memandang kertas itu lamat-lamat.Sejujurnya, dia sangat tertarik dengan kekuatan yang dimaksud oleh Kakek Relan. Kekuatan yang mampu mengubah dunia. Zeal mulai berpikir, jika saja dia memiliki kekuatan semacam itu, mungkin dia tidak perlu lagi membunuh orang demi mendapatkan uang.Namun, kedua orang itu—Sella dan juga Tom, adalah bukti nyata bahwa perkataan Kakek tadi itu adalah benar. Kekuatan mereka yang luar biasa, yang tak bisa dibandingkan dengan kekuatan manusia normal pada umumnya, adalah bukti yang terlalu nyata untuk dilewatkan."Baiklah kalau begitu... Aku akan melakukannya." Kata Zeal penuh tekad. "Demi ketiga adikku."Akhirnya, kehidupan baru Zeal pun dimulai. Akan tetapi, dia sama sekali tidak sadar, bahwa takdir yang menunggunya di depan mata, adalah sesuatu yang lebih mengerikan dibandingkan maut itu sendiri.

Asal Mula Kota Singapura
Folklore
09 Dec 2025

Asal Mula Kota Singapura

Dahulu ada seorang raja bernama Nila Utama. Raja Nila Utama memiliki kegemaran berburu binatang. Ia juga sangat menyukai daerah dengan pemandangan alam indah. Raja Nila Utama mendengar keindahan alam di pulau Tanjung Bentam. Raja kemudian memutuskan untuk berburu di pulau Tanjung Bentam.Panglima kerajaan bercerita kepada raja, bahwa ada seekor rusa sangat besar di pulau Tanjung Bentam. “Sampai saat ini belum ada yang berhasil menangkap rusa besar itu, Raja.” kata panglima kerajaan.“Baiklah, besok kita berangkat berburu rusa di pulau Tanjung Bentam. Siapkan perbekalan dan para pengawal.” kata Raja.Keesokan harinya, Raja Nila Utama pergi ke pulau Tanjung Bentam menaiki kapal besar. Setibanya di pulau, Raja segera pergi menuju hutan untuk berburu. Saat di hutan, rombongan raja melihat seekor rusa sangat besar berlari. Raja Nila Utama beserta rombongan segera mengejar rusa tersebut. Namun sayang, rusa belari sangat cepat, kemudian menghilang ke dalam hutan.Raja kemudian memutuskan untuk beristirahat sejenak di atas bukit. Dari atas bukit tersebut, Raja Nila Utama melihat ada sebuah pulau sangat indah di seberang pulau Tanjung Bentam. Raja kemudian memutuskan untuk berlayar ke pulau tersebut.Setibanya di pulau indah, Raja berjalan-jalan mengitari pulau. Hingga mata Raja tertuju pada seekor hewan gagah. Raja Nila Utama belum pernah dilihatnya.“Binatang apakah itu?” tanya raja pada para pengawalnya.“Itu adalah singa, Yang Mulia. Ia memang terlihat cantik, namun ia adalah binatang buas. Raja harus berhati-hati jangan sampai mendekatinya.” jawab Panglima kerajaan.Raja Nila Utama merasa senang dengan keindahan pulau tersebut. Ia memutuskan untuk tinggal di pulau tersebut. “Aku ingin tinggal di pulau indah ini. Kalian bangunlah sebuah kota di pulau ini untuk kita tinggali. Karena ada binatang singa, Aku akan menamakan kota ini dengan nama Singa Pura.” kata raja , Pura berarti kota. Jadi Singapura memiliki arti kota singa.

Asal Usul Burung Cendrawasih
Folklore
09 Dec 2025

Asal Usul Burung Cendrawasih

Di daerah Fak-fak, tepatnya di daerah pegunungan Bumberi, hiduplah seorang perempuan tua bersama seekor anjing betina. Perempuan tua bersama anjing betina itu mendapatkan makanan dari hutan berupa buah-buahan dan kuskus. Hutan adalah ibu mereka yang menyediakan makanan untuk hidup. Mereka berdua hidup bebas dan bahagia di alam.Suatu ketika, seperti biasanya mereka berdua ke hutan untuk mencari makan. Perjalanan yang cukup memakan waktu lama telah mereka tempuh, namun mereka belum juga mendapatkan makanan. Anjing itu merasa lelah karena kehabisan tenaga. Pada keadaan yang demikian tibalah mereka berdua pada suatu tempat yang ditumbuhi pohon pandan yang penuh dengan buah.Perempuan tua itu serta merta memungut buah itu dan menyuguhkannya kepada anjing betina yang sedang kelaparan. Dengan senang hati, anjing betina itu melahap suguhan segar itu. Anjing betina itu merasa segar dan kenyang.Namun, anjing itu mulai merasakan hal-hal aneh diperutnya. Perut anjing itu mulai membesar. Perempuan tua itu mulai memeriksanya dan merasa yakin bahwa sahabatnya (anjing betina) itu bunting. Tidak lama kemudian lahirlah seekor anak anjing. Melihat keanehan itu, si Perempuan tua segera memungut buah pandan untuk dimakannya, lalu ia pun mengalami hal yang sama dengan yang dialami oleh sahabatnya.Perempuan tua itu melahirkan seorang anak laki-laki. Keduanya lalu memelihara anak mereka masing-masing dengan penuh kasih sayang. Anak laki-laki tersebut diberinya nama KweiyaSetelah Kweiya menjadi besar dan dewasa, ia mulai membuka hutan dan membuat kebun untuk menanam aneka bahan makanan dan sayuran. Alat yang dipakai untuk menebang pohon hanyalah sebuah pahat (bentuk kapak batu), karenanya Kweiya hanya dapat menebang satu pohon setiap harinya. Ibunya ikut membantu dengan membakar daun-daun dari pohon yang telah rebah untuk membersihkan tempat itu sehingga asap tebal mengepul ke langit. Keduanya tidak menyadari bahwa mereka telah menarik perhatian orang dengan adanya kepulan asap itu.Konon ada seorang Pria Tua yang sedang mengail di tengah laut terpaku melihat suatu tiang asap yang mengepul tinggi ke langit seolah-olah menghubungi hutan belantara dengan langit. Ia tertegun memikirkan bagaimana dan siapakah gerangan pembuat asap misterius itu. Rasa penasaran mendorongnya untuk pergi mencari tempat di mana asap itu terjadi. Lalu ia pun segera menyiapkan diri dengan bekal secukupnya dan dengan bersenjatakan sebuah kapak besi, ia pun segera berangkat bersama seekor kuskus yang dipeliharanya sejak lama. Perjalanannya ternyata cukup memakan waktu. Setelah seminggu berjalan kaki akhirnya ia mencapai tempat di mana asap itu terjadi.Setibanya di tempat itu, ternyata yang ditemui adalah seorang pria tampan yang sedang membanting tulang menebang pohon di bawah terik panas matahari dengan menggunakan sebuah kapak batu berbentuk pahat. Melihat itu, ia menghampiri lalu memberi salam : “weing weinggiha pohi” (artinya, “selamat siang”), sambil memberikan kapak besi kepada Kweiya untuk menebang pohon-pohon di hutan rimba itu. Sejak itu pohon-pohon pun berjatuhan bertubi-tubi. Ibu Kweiya yang beristirahat di pondoknya menjadi heran. Ia menanyakan hal itu kepada Kweiya, dengan alat apa ia menebang pohon itu sehingga dapat rebah dengan begitu cepat.Kweiya nampaknya ingin merahasiakan tamu baru yang datang itu. Kemudian ia menjawab bahwa kebetulan pada hari itu satu tangannya terlalu ringan untuk dapat menebang begitu banyak pohon dalam waktu yang sangat singkat. Ibunya yang belum sempat lihat pria itu percaya bahwa apa yang diceritakan oleh anaknya Kweiya memang benar.Karena Kweiya minta disiapkan makanan, ibunya segera menyiapkan makanan sebanyak mungkin. Setelah makanan siap dipanggilnya Kweiya untuk pulang makan. Kweiya bermaksud mengajak pria tadi untuk ikut makan ke rumah mereka dengan maksud memperkenalkannya kepada ibunya sehingga dapat diterima sebagai teman hidupnya.Dalam perjalanan menuju rumah, Kweiya memotong sejumlah tebu yang lengkap dengan daunnya untuk membungkus pria tua itu. Lalu setibanya di dekat rumah, Kweiya meletakkan “bungkusan tebu” itu di luar rumah. Di dalam rumah, Kweiya pura-pura merasa haus dan memohon kepada ibunya untuk mengambilkan sebatang tebu untuk dimakannya sebagai penawar dahaga. Ibunya memenuhi permintaan anaknya lalu keluar hendak mengambil sebatang tebu. Tetapi ketika ibunya membuka bungkusan tebu tadi, terkejutlah ia karena melihat seorang pria yang berada di dalam bungkusan itu. Sera merta ibunya menjerit ketakutan, tetapi Kweiya berusaha menenangkannya sambil menjelaskan bahwa dialah yang mengakali ibunya dengan cara itu. Ia berharap agar ibunya mau menerima pria tersebut sebagai teman hidupnya, karena pria itu telah berbuat baik terhadap mereka. Ia telah memberikan sebuah kapak yang sangat berguna dalam hidup mereka nanti. Sang ibu serta merta menerima usul anak tersebut, dan sejak itu mereka bertiga tinggal bersama-sama.Setelah beberapa waktu, lahirlah beberapa anak di tengah-tengah keluarga kecil tadi, dan kedua orang tua itu menganggap Kweiya sebagai anak sulung mereka. Sedang anak-anak yang lahir kemudian dianggap sebagai adik-adik kandung dari Kweiya. Namun dalam perkembangan selanjutnya, hubungan persaudaraan di antara mereka semakin memburuk karena adik-adik tiri Kweiya merasa iri terhadap Kweiya.Pada suatu hari, sewaktu orang tua mereka sedang mencari ikan, kedua adiknya bersepakat untuk mengeroyok Kweiya serta mengiris tubuhnya hingga luka-luka. Karena merasa kesal atas tindakan kedua adiknya itu, Kweiya menyembunyikan diri disalah satu sudut rumah sambil memintal tali dari kulit pohon “Pogak Ngggein” (genemo) sebanyak mungkin. Sewaktu kedua orang tua mereka pulang, mereka bertanya dimana Kweiya berada, tetapi kedua adik tirinya tidak berani menceritakan di mana Kweiya. Lalu adik bungsu mereka, yaitu seorang anak perempuan yang sempat menyaksikan peristiwa perkelahian itu menceritakannya kepada kedua orang tua mereka. Mendengar certa itu. Si ibu tua merasa iba terhadap anak kandungnya. Ia berusaha memanggil-manggil Kweiya agar datang. Tetapi yang datang bukannya Kweiya melainkan suara yang berbunyi : “Eek..ek,ek,ek,ek!” sambil menyahut, Kweiya menyisipkan benang pintalannya pada kakinya lalu meloncat-loncat di atas bubungan rumah dan seterusnya berpindah ke atas salah satu dahan pohon di dekat rumah mereka.Ibunya yang melihat keadaan itu lalu menangis tersedu- sedu sambil bertanya-tanya apakah ada bagian untuknya. Kweiya yang telah berubah diri menjadi burung ajaib itu menyahut bahwa, bagian untuk ibunya ada dan disisipkan pada koba-koba (payung tikar) yang terletak di sudut rumah. Ibu tua itu lalu segera mencari koba-koba kemudian benang pintalannya itu disisipkan pada ketiaknya lalu menyusul anaknya Kweiya ke atas dahan sebuah pohon yang tinggi di hutan rumah mereka. Keduanya bertengkar di atas pohon sambil berkicau dengan suara : wong,wong,wong,wong,ko,ko,ko,wo-wik!!Sejak saat itulah burung cendrawasih muncul di permukaan bumi. Terdapat perbedaan antara burung cendrawasih jantan dan betina, burung cendrawasih yang buluhnya panjang disebut “siangga” sedangkan burung cendrawasih betina disebut “hanggam tombor” yang berarti perempuan atau betina. Keduanya berasal dari bahasa Iha di daerah Onin, Fak-fak.Adik-adik Kweiya yang menyaksikan peristiwa ajaib itu merasa menyesal lalu saling menuduh siapa yang salah sehingga ditinggalkan oleh ibu dan kakak mereka. Akhirnya mereka saling melempari satu sama lain dengan abu tungku perapian sehingga wajah mereka ada yang menjadi kelabu hitam, ada yang abu-abu dan ada juga yang merah-merah, lalu mereka pun berubah menjadi burung-burung. Mereka terbang meninggalkan rumah mereka menuju ke hutan rimba dengan warnanya masing-masing. Sejak itu hutan dipenuhi oleh aneka burung yang umumnya kurang menarik dibandingkan dengan cendrawasih.Ayah mereka memanggil Kweiya dan istrinya dan menyuruh mengganti warna bulu, namun mereka tidak mau. Ayah mereka khawatir bulu yang indah itu justru mendatangkan malapetaka bagi mereka. Ia berpikir suatu ketika orang akan memburu mereka, termasuk ketiga anaknya yang lain. Ayah merasa kecewa karena mereka tidak mengindahkan permintaan mereka untuk berubah bulu. Kini ayahnya kesepian dan sedih, ia melipat kedua kaki lalu menceburkan dirinya ke dalam laut dan menjadi penguasa laut “Katdundur”.

Alladin
Folklore
09 Dec 2025

Alladin

Dahulu kala, di kota Persia, seorang Ibu tinggal dengan anak laki-lakinya yang bernama Aladin. Suatu hari datanglah seorang laki-laki mendekati Aladin yang sedang bermain. Kemudian laki-laki itu mengakui Aladin sebagai keponakannya. Laki-laki itu mengajak Aladin pergi ke luar kota dengan seizin ibu Aladin untuk membantunya. Jalan yang ditempuh sangat jauh. Aladin mengeluh kecapaian kepada pamannya tetapi ia malah dibentak dan disuruh untuk mencari kayu bakar, kalau tidak mau Aladin akan dibunuhnya. Aladin akhirnya sadar bahwa laki-laki itu bukan pamannya melainkan seorang penyihir. Laki-laki penyihir itu kemudian menyalakan api dengan kayu bakar dan mulai mengucapkan mantera. "Kraak..." tiba-tiba tanah menjadi berlubang seperti gua.Dalam lubang gua itu terdapat tangga sampai ke dasarnya. "Ayo turun! Ambilkan aku lampu antik di dasar gua itu", seru si penyihir. "Tidak, aku takut turun ke sana", jawab Aladin. Penyihir itu kemudian mengeluarkan sebuah cincin dan memberikannya kepada Aladin. "Ini adalah cincin ajaib, cincin ini akan melindungimu", kata si penyihir. Akhirnya Aladin menuruni tangga itu dengan perasaan takut. Setelah sampai di dasar ia menemukan pohon-pohon berbuah permata. Setelah buah permata dan lampu yang ada di situ dibawanya, ia segera menaiki tangga kembali. Tetapi, pintu lubang sudah tertutup sebagian. "Cepat berikan lampunya !", seru penyihir. "Tidak ! Lampu ini akan kuberikan setelah aku keluar", jawab Aladin. Setelah berdebat, si penyihir menjadi tidak sabar dan akhirnya "Brak!" pintu lubang ditutup oleh si penyihir lalu meninggalkan Aladin terkurung di dalam lubang bawah tanah. Aladin menjadi sedih, dan duduk termenung. "Aku lapar, Aku ingin bertemu ibu, Tuhan, tolonglah aku !", ucap Aladin.Aladin merapatkan kedua tangannya dan mengusap jari-jarinya. Tiba-tiba, sekelilingnya menjadi merah dan asap membumbung. Bersamaan dengan itu muncul seorang raksasa. Aladin sangat ketakutan. "Maafkan saya, karena telah mengagetkan Tuan", saya adalah peri cincin kata raksasa itu. "Oh, kalau begitu bawalah aku pulang kerumah." "Baik Tuan, naiklah kepunggungku, kita akan segera pergi dari sini", ujar peri cincin. Dalam waktu singkat, Aladin sudah sampai di depan rumahnya. "Kalau tuan memerlukan saya panggillah dengan menggosok cincin Tuan."Aladin menceritakan semua hal yang di alaminya kepada ibunya. "Mengapa penyihir itu menginginkan lampu kotor ini ya ?", kata Ibu sambil menggosok membersihkan lampu itu. "Syut !" Tiba-tiba asap membumbung dan muncul seorang raksasa peri lampu. "Sebutkanlah perintah Nyonya", kata si peri lampu. Aladin yang sudah pernah mengalami hal seperti ini memberi perintah,"kami lapar, tolong siapkan makanan untuk kami". Dalam waktu singkat peri Lampu membawa makanan yang lezat-lezat kemudian menyuguhkannya. "Jika ada yang diinginkan lagi, panggil saja saya dengan menggosok lampu itu", kata si peri lampu.Demikian hari, bulan, tahunpun berganti, Aladin hidup bahagia dengan ibunya. Aladin sekarang sudah menjadi seorang pemuda. Suatu hari lewat seorang Putri Raja di depan rumahnya. Ia sangat terpesona dan merasa jatuh cinta kepada Putri Cantik itu. Aladin lalu menceritakan keinginannya kepada ibunya untuk memperistri putri raja. "Tenang Aladin, Ibu akan mengusahakannya". Ibu pergi ke istana raja dengan membawa permata-permata kepunyaan Aladin. "Baginda, ini adalah hadiah untuk Baginda dari anak laki-lakiku." Raja amat senang. "Wah..., anakmu pasti seorang pangeran yang tampan, besok aku akan datang ke Istana kalian dengan membawa serta putriku".Setelah tiba di rumah Ibu segera menggosok lampu dan meminta peri lampu untuk membawakan sebuah istana. Aladin dan ibunya menunggu di atas bukit. Tak lama kemudian peri lampu datang dengan Istana megah di punggungnya. "Tuan, ini Istananya". Esok hari sang Raja dan putrinya datang berkunjung ke Istana Aladin yang sangat megah. "Maukah engkau menjadikan anakku sebagai istrimu ?", Tanya sang Raja. Aladin sangat gembira mendengarnya. Lalu mereka berdua melaksanakan pesta pernikahan.Nun jauh disana, si penyihir ternyata melihat semua kejadian itu melalui bola kristalnya. Ia lalu pergi ke tempat Aladin dan pura-pura menjadi seorang penjual lampu di depan Istana Aladin. Ia berteriak-teriak, "tukarkan lampu lama anda dengan lampu baru !". Sang permaisuri yang melihat lampu ajaib Aladin yang usang segera keluar dan menukarkannya dengan lampu baru. Segera si penyihir menggosok lampu itu dan memerintahkan peri lampu memboyong istana beserta isinya dan istri Aladin ke rumahnya.Ketika Aladin pulang dari berkeliling, ia sangat terkejut. Lalu memanggil peri cincin dan bertanya kepadanya apa yang telah terjadi. "Kalau begitu tolong kembalikan lagi semuanya kepadaku", seru Aladin. "Maaf Tuan, tenaga saya tidaklah sebesar peri lampu," ujar peri cincin. "Baik kalau begitu aku yang akan mengambilnya. Tolong Antarkan kau kesana", seru Aladin. Sesampainya di Istana, Aladin menyelinap masuk mencari kamar tempat sang Putri dikurung. "Penyihir itu sedang tidur karena kebanyakan minum bir", ujar sang Putri. "Baik, jangan kuatir aku akan mengambil kembali lampu ajaib itu, kita nanti akan menang", jawab Aladin.Aladin mengendap mendekati penyihir yang sedang tidur. Ternyata lampu ajaib menyembul dari kantungnya. Aladin kemudian mengambilnya dan segera menggosoknya. "Singkirkan penjahat ini", seru Aladin kepada peri lampu. Penyihir terbangun, lalu menyerang Aladin. Tetapi peri lampu langsung membanting penyihir itu hingga tewas. "Terima kasih peri lampu, bawalah kami dan Istana ini kembali ke Persia". Sesampainya di Persia Aladin hidup bahagia. Ia mempergunakan sihir dari peri lampu untuk membantu orang-orang miskin dan kesusahan.

Putri Pandan berduri
Folklore
09 Dec 2025

Putri Pandan berduri

Alkisah pada jaman dulu di Pulau Bintan, Kepulauan Riau, hiduplah orang orang Suku Laut yang dipimpin oleh Batin Lagoi. Pemimpin Suku Laut ini merupakan seorang yang santun dan memimpin dengan adil. Tutur katanya yang lemah lembut terhadap siapa saja membuat masyarakat Suku Laut sangat mencintai pemimpin mereka itu.Guna mengetahui keadaan rakyatnya, Batin Lagoi senantiasa berkeliling. Pada suatu hari, Batin Lagoi berjalan menyusuri pantai yang disekitarnya penuh ditumbuhi semak pandan. Sayup sayup telinga Batin Lagoi menangkap suara tangisan bayi.“Anak siapa itu yang menangis di tempat seperti ini ?” pikirnya heran sambil memandang sekeliling. Karena ia tak melihat seorangpun, Batin Lagoi meneruskan langkahnya.Baru beberapa langkah, Batin Lagoi kembali mendengar suara tangisan bayi yang kini semakin jelas. Batin Lagoi kembali memandang sekeliling, namun ia tak jua melihat seorangpun disana. Karena penasaran, Batin Lagoi mengikuti asal suara tangisan yang membawanya ke semak semak pandan. Batin Lagoi menginjak semak semak itu dengan hati hati. Suara tangisan bayi terdengar semakin keras. Batin Lagoi tercengang melihat seorang bayi perempuan yang diletakkan di atas dedaunan yang kini berada di depannya.Rasa heran kembali menyergap Batin Lagoi. ‘Siapa gerangan yang meletakkan bayinya disini ?’, gumamnya pelan. Batin Lagoi terdiam sejenak. Setelah memastikan tak ada orang di sekitar situ, Batin Lagoi memutuskan untuk membawa pulang bayi perempuan yang cantik itu. Sang bayipun berhenti menangis ketika Batin Lagoi menggendongnya.Batin Lagoi merawat bayi perempuan itu dengan penuh kasih sayang bak anaknya sendiri. Terkadang ia merasa bayi itu memang diberikan Tuhan untuknya. Bayi perempuan yang diberinya nama Putri Pandan Berduri itu sungguh membawa kebahagiaan bagi Batin Lagoi yang selama ini hidup sendiri.Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Putri Pandan Berduri telah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita. Bukan hanya parasnya yang menawan, Putri Pandan Berduri juga memiliki sikap yang sangat anggun dan santun layaknya seorang putri. Tutur katanya yang lembut membuat masyarakat Suku Laut mencintainya.Banyak pemuda yang terpikat akan kecantikan Putri Pandan Berduri. Meski demikian tak seorangpun berani meminangnya. Batin Lagoi memang berharap agar putrinya itu berjodoh dengan anak seorang raja atau pemimpin suatu daerah.Tersebutlah seorang pemimpin di Pulau Galang yang memiliki dua orang putera bernama Julela dan Jenang Perkasa. Sedari kecil kakak beradik itu hidup rukun. Kerukunan itu sirna ketika sang ayah mengatakan bahwa sebagai anak tertua, Julela akan menggantikan dirinya sebagai pemimpin di Pulau Galang kelak. Sejak itu, Julela berubah perangai menjadi angkuh. Ia bahkan mengancam Jenang Perkasa agar selalu mengikuti setiap perkataannya sebagai calon pemimpin.Jenang Perkasa sungguh kecewa akan sikap kakaknya. Akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan Pulau Galang. Berhari hari ia berlayar tanpa mengetahui arah tujuan hingga tiba di Pulau Bintan. Jenang Perkasa tak pernah mengaku sebagai anak pemimpin Pulau Galang. Sehari hari ia bekerja sebagai pedagang seperti orang kebanyakan.Sebagai seorang pendatang, Jenang Perkasa cepat menyesuaikan diri. Sikapnya yang sopan dan gaya bahasanya yang halus membuat kagum setiap orang. Mereka tak habis pikir bagaimana seorang pemuda biasa memiliki sifat seperti itu. Akibatnya Jenang Perkasa menjadi bahan pembicaraan di seluruh pulau.Cerita tentang Jenang Perkasa sampai juga di telinga Batin Lagoi. Ia sangat penasaran untuk mengenal pemuda itu secara langsung. Agar tak mencolok, Batin Lagoi menyelenggarakan acara makan malam dengan mengundang seluruh tokoh terkemuka di Pulau Bintan. Ia juga mengundang Jenang Perkasa dalam acara itu.Jenang Perkasa yang sebenarnya heran mengapa dirinya diundang Batin Lagoi, datang memenuhi undangan. Sejak kedatangannya, Batin Lagoi senantiasa memperhatikan gerak gerik Jenang Perkasa. Caranya bersikap, berbicara, bahkan sampai caranya bersantap diamati Batin Lagoi diam diam. Tak dapat dimungkiri, Batin Lagoi sangat terkesan terhadap Jenang Perkasa. Terbersit dihatinya untuk menjodohkan Jenang Perkasa dengan Putri Pandan Berduri. Batin Lagoi sepertinya lupa akan keinginannya untuk menikahkan putrinya dengan seorang pangeran atau calon pemimpin.Tak mau membuang kesempatan, Batin Lagoi segera menghampiri Jenang Perkasa.‘Wahai anak muda, sudah lama aku mendengar kehalusan budi pekertimu..’, katanya membuka percakapan. Jenang Perkasa hanya tersenyum sopan mendengar kata kata pemimpin Pulau Bintan itu.“Malam ini aku telah membuktikkannya sendiri’, lanjut Batin Lagoi sambil menatap Jenang Perkasa yang menunduk malu mendengar pujian Batin Lagoi.“Aku pikir, alangkah senangnya hatiku jika kau bersedia kunikahkan dengan putriku..’.Jenang Perkasa sungguh terkejut mendengar tawaran Batin Lagoi. Ia mengusap usap lengannya untuk memastikan dirinya tak sedang bermimpi. Ia sama sekali tak menyangka ayah seorang perempuan cantik bernama Putri Pandan Berduri meminta kesediaan dirinya untuk dijadikan menantu. Jenang Perkasa tentu saja tak mau membuang kesempatan emas itu. Ia segera mengangguk setuju sambil tersenyum memandang Batin Lagoi.Beberapa hari kemudian Batin Lagoi menikahkan Putri Pandan Berduri dengan Jenang Perkasa. Pesta besar digelar untuk merayakan pernikahan putri semata wayangnya itu. Seluruh warga Pulau Bintan diundang untuk hadir. Para undangan merasa senang melihat Putri Pandan Berduri bersanding dengan Jenang Perkasa yang terlihat sangat serasi.Putri Pandan Berduri hidup bahagia dengan Jenang Perkasa. Apalagi tak lama kemudian, Batin Lagoi yang merasa sudah tua mengangkat menantunya itu untuk menggantikan dirinya menjadi pemimpin di Pulau Bintan. Jenang Perkasa yang memang anak seorang pemimpin itu rupanya mewarisi bakat kepemimpinan ayahnya. Ia mampu menjadi pemimpin yang disegani sekaligus dicintai rakyatnya. Ia juga menolak untuk kembali ketika warga Pulau Galang yang mendengar cerita tentang dirinya memintanya untuk menggantikan kakaknya.Pernikahan Putri Pandan Berduri dengan Jenang Perkasa dikaruniai tiga orang anak yang diberi nama dengan adat kesukuan. Batin Mantang menjadi kepala suku di utara Pulau Bintan, Batin Mapoi menjadi kepala suku di barat Pulau Bintan, dan Kelong menjadi kepala suku di timur Pulau Bintan. Adapun adat suku asal mereka yaitu Suku Laut tetap menjadi pedoman bagi mereka. Hingga kini Putri Pandan Berduri dan Jenang Perkasa yang telah lama tiada masih tetap dikenang oleh Suku Laut di perairan Pulau Bintan.

Mentiko Betuah
Folklore
07 Dec 2025

Mentiko Betuah

Dahulu kala, ada sebuah kerajaan yang makmur dan sejahtera di negeri Semeulue yang dipimpin oleh seorang Raja yang kaya raya dan baik hati. Namun Raja dan permaisurinya itu selalu merasa hampa dalam hidupnya, karena mereka belum mempunyai anak.Suatu hari, Raja itu pun pergi bersama permaisurinya ke hulu sungai yang tempatnya sangat jauh untuk berlimau atau mandi keramas dan bernazar agar dikaruniai seorang anak yang akan menjadi penerus kerajaannya kelak.Untuk menuju ke hulu sungai itu, mereka harus melewati hutan belantara, menyeberangi sungai-sungai, mendaki gunung, menghadapi binatang buas dan berbagai rintangan lainnya. Sesampainya di sana mereka segera berlimau dan bernazar lalu berdoa tanpa lelah, agar mereka dikaruniai seorang anak.Waktu terus berlalu, akhirnya doa-doa mereka terkabul, sang permaisuri mengandung dan sembilan bulan kemudian melahirkan seorang anak laki-laki tampan dan diberi nama Rohib. Raja mengadakan pesta yang amat meriah untuk merayakan kelahiran anaknya itu.Rohib tumbuh menjadi anak yang sangat manja, karena Ayah dan Bundanya terlalu memanjakannya sejak kecil hingga dewasa. Rohib kemudian dikirim ke kota untuk belajar di sebuah perguruan, Raja dan permaisuri berharap anaknya mampu menyelesaikan pelajarannya dengan cepat."Anakku, belajarlah dengan tekun, jadilah penerusku yang bijaksana," pesan Raja sebelum Rohib berangkat ke kota.Namun sudah beberapa tahun Rohib belajar di kota, ia belum mampu juga untuk menyelesaikan sekolahnya. Sang Raja sangat marah dan kecewa melihatnya."Rohib! Kau ini anak seorang raja, kau terlalu hidup enak dan manja di istana sehingga sekolahmu tak juga selesai!" seru Raja merasa kesal. "Anak macam apa kau ini?! Tak pernah mau mendengar nasihat orang tua, kau harus ku hukum!"Rohib menunduk, ia tak berani menatap Ayahnya yang sedang marah, sedangkan sang permaisuri menatap Rohib penuh iba."Kau! Aku usir dari istana ini! pergi!!" teriak Raja marah.Sang permaisuri terkejut mendengar ucapan Raja, ia segera memohon, "Kanda, tolong jangan usir anak kita, dia anak kita satu-satunya. Dinda mohon...." ucap permaisuri sambil menangis."Tapi Dinda, Kanda sudah sangat benci melihat wajah anak ini!" Raja tetap bersikeras. Namun sang permaisuri tak kehabisan akal, ia terus mencari cara agar bisa menolong anaknya yang terancam terusir dari istana."Baiklah, Kanda boleh mengusir anak kita asal dengan syarat. Kakanda harus bersedia memberinya uang sebagai bekal dan modal untuknya berdagang," usul permaisuri.Sang Raja terlihat berpikir, lalu ia berkata, "Baiklah aku bersedia memberikannya uang asalkan Rohib tidak boleh menghabiskan uang itu kecuali untuk berdagang! Apakah kau sanggup Rohib?" tanya sang Raja sambil menatap tajam anaknya.Rohib mengangguk cepat, "Aku sanggup, aku berjanji tidak akan melanggar perintah Ayahanda lagi," jawab Rohib yakin.Setelah itu berangkatlah Rohib ke kampung-kampung untuk memulai dagangnya, namun di perjalanan ia melihat sekelompok anak kampung sedang menyiksa dan menembaki burung dengan ketapel."Hei kalian! Mengapa kalian menganiaya burung itu? Burung-burung itu juga makhluk Tuhan!" Rohib berkata lantang.Anak-anak kampung itu menatap tajam, "Siapa kau?! Berani sekali rnelarang kami!" bantah mereka."Berhentilah menembaki burung itu, maka aku akan memberi kalian uang, “ kata Rohib yang langsung disetujui oleh anak-anak kampung itu, lalu Rohib memberikan uang kepada mereka dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju kampung yang lain.Rohib kembali menemukan orang-orang kampung sedang memukuli seekor ular, ia kemudian memberikan uang kepada orang-orang kampung itu dengan syarat mereka harus berhenti menganiaya ular.Selama dalam perjalanannya, ia selalu memberi uang kepada orang-orang yang menganiaya binatang, sehingga tanpa disadarinya uang yang seharusnya dijadikan modal berdagang itu habis. Rohib mulai gelisah, ia sangat takut Ayahnya akan sangat marah dan menghukumnya.Rohib menangis karena takut hukuman Ayahnya, namun tiba-tiba seekor ular besar mendekatinya, "Jangan takut, aku adalah Raja Ular di hutan ini. Mengapa kamu terlihat bersedih?" tanya ular itu ramah.Lalu Rohib menceritakan semua kejadian yang telah dialaminya."Kamu adalah anak yang baik, karena kamu telah melindungi hewan- hewan di hutan ini dari orang-orang kampung yang menganiayanya, aku akan memberimu hadiah," ucap ular itu setelah mendengarkan cerita Rohib. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari mulutnya."Benda apa ini?" tanya Rohib sambil mengamati benda di depannya."lni adalah benda ajaib, namanya Mentiko Betuah. Apapun yang kamu minta, pasti akan dikabulkan," jelas ular itu sambil berlalu pergi.Berbekal Mentiko Betuah itu, Rohib kembali ke istana menghadap Ayahnya. Namun, sebelum sampai di istana, ia memohon kepada Mentiko Betuah agar memberinya uang yang banyak untuk menggantikan modalnya. Ketika ia sampai ke istana, Ayahnya sangat senang dan menyambutnya yang telah membawa uang banyak dari hasil dagangannya. Rohib terbebas dari hukuman, itu semua berkat Mentiko Betuah.Kemudian ia berpikir bagaimana cara untuk menyimpan Mentiko Betuahnya itu agar tidak hilang. Rohib ingin menempa atau mengubahnya menjadi sebuah cincin. Lalu dibawanya Mentiko Betuah itu kepada seorang tukang emas. Namun ternyata tukang emas itu menipunya dengan membawa lari benda itu.Rohib segera meminta bantuan para hewan, "Bantulah aku menemukan tukang emas yang telah mencuri Mentiko Betuah yang sudah menjadi cincin itu, duhai sahabat-sahabatku," pintanya.Kemudian tikus, kucing dan anjing pun bersedia menolongnya. Anjing dengan penciumannya yang tajam berhasil menemukan jejak si tukang emas yang telah melarikan diri ke seberang sungai. Giliran kucing dan tikus mengambil cincin itu yang disimpan di dalam mulut tukang emas. Maka di tengah malam, tikus memasukkan ekornya ke dalam lubang hidung si Tukang Emas yang sedang tertidur. Lalu si Tukang Emas itu bersin, hingga Mentiko Betuah terlempar keluar dari mulutnya.Tikus segera mengambil benda itu. Namun, ketika Mentiko Betuah itu akan diserahkan kembali kepada Rohib, tikus menipu kucing dan anjing, ia mengatakan bahwa Mentiko Betuah terjatuh ke dalam sungai, ia lalu meminta kucing dan anjing untuk mencarinya ke sungai, padahal sebenarnya benda itu ada di dalam mulutnya. Saat kedua temannya mencari benda itu ke dasar sungai, Tikus segera menghadap kepada Rohib."Terima kasih sahabatku tikus, kau telah berhasil menemukan Mentiko Betuah ini, kau memang pahlawanku!" kata Rohib setelah menerima cincin dari tikus.Sementara itu, kucing dan anjing kemudian mengetahui bahwa Mentiko Betuah milik Rohib telah ditemukan dan dibawa oleh tikus, maka yakinlah kucing dan anjing bahwa tikus telah berbuat curang. Akhirnya sampai saat ini menurut masyarakat setempat berawal dari kisah inilah asal mula mengapa tikus amat dibenci oleh kuncing dan anjing.

Halibu , Si Pemburu yang baik
Folklore
07 Dec 2025

Halibu , Si Pemburu yang baik

Pada jaman dahulu, di dataran padang rumput Mongolia, hiduplah seorang pemburu yang baik hati yang bernama Hailibu. Tiap selesai berburu, dia akan selalu membagikan daging-daging tersebut untuk penduduk desa yang lain dan dia hanya menyisakan sedikit bagian untuk dirinya sendiri. Perhatiannya un-tuk orang lain membuat dia begitu dihargai di desa itu.Suatu hari, saat sedang berburu di dalam hutan, Hailibu mendengar suara tangisan dari langit. Sambil menatap ke atas, dia melihat seekor makhluk kecil yang ditangkap oleh seekor burung Hering yang amat besar. Dengan cepat, dia mengarahkan busur panahnya ke arah predator tersebut. Karena terkena bidikan panah tersebut, si burung raksasa melepaskan mangsanya.Hailibu menatap ke arah makhluk aneh tersebut yang memiliki tubuh menyerupai seekor ular. Dan berkata,"Makhluk yang menyedihkan (kasihan), cepat pulanglah." Makhluk itu menjawab, "Wahai pemburu yang baik, saya sangat berterima kasih karena anda telah menyelamatkan nyawaku. Sebenarnya, saya adalah putri raja Naga, dan saya yakin ayahku akan memberikan anda hadiah sebagai ucapan terima kasih. Beliau mempunyai banyak harta benda yang dapat anda miliki. Tetapi jika tiada satu pun harta benda yang berkenan bagimu, anda dapat meminta batu ajaib yang beliau simpan di dalam mulutnya. Siapapun yang memiliki batu ajaib itu, dia akan memahami semua bahasa hewan."Hailibu si pemburu tidak tertarik dengan segala harta benda, tetapi kemampuan untuk dapat memahami berbagai macam bahasa hewan membuatnya sangat tertarik. Kemudian, dia bertanya kepada si Putri Naga, "Apakah itu benar-benar batu ajaib?" Si putri menjawab, "Benar. Tetapi apapun yang anda dengar dari hewan-hewan tersebut, anda harus menyimpannya untuk diri anda sendiri. Jika anda memberitahukan kepada orang lain, maka anda akan berubah menjadi batu."Lalu, si Putri Naga itu membawa Hailibu ke pinggir laut. Saat mereka mendekati laut, tiba-tiba air terbelah dengan cepat, sehingga Hailibu dapat berjalan seperti saat berada di jalan yang amat lebar. Tak lama kemudian, tampaklah sebuah istana yang berkilau, di mana tempat tinggal si raja Naga.Raja Naga amat bahagia saat mendengar Hailibu telah menyelamatkan putrinya, dan dia kemudian menawarkan segala harta benda yang Hailibu inginkan dari istananya. Setelah terdiam beberapa saat, Hailibu menjawab, "Jika Baginda ingin memberi saya sesuatu sebagai hadiah, bolehkah saya meminta batu ajaib yang ada di mulut Baginda raja?"Raja Naga menurunkan kepalanya, berpikir sejenak. Kemudian, dia mengeluarkan batu tersebut dari mulutnya dan memberikannya kepada Hailibu.Saat akan berpisah, si Putri Naga mengulangi kembali pesannya untuk Hailibu, "Pemburu yang baik, hendaklah anda ingat untuk tidak memberitahukan kepada siapapun tentang apapun yang dikatakan oleh para hewan, jika tidak, anda akan langsung berubah menjadi batu."Setelah memiliki batu ajaib di mulutnya, Hailibu semakin menikmati perburuannya di hutan. Dia mengerti semua bahasa hewan, dan dia juga dapat mengetahui hewan apa saja yang dapat ia buru, beserta lokasi di mana hewan tersebut berada. Dengan kemampuan ini, dia menghasilkan lebih banyak lagi daging hewan buruannya dan ia dapat membagikannya kepada para penduduk desa.Beberapa tahun kemudian....Pada suatu hari, saat sedang berada di gunung, Hailibu mendengar sekumpulan burung sedang bercakap-cakap tentang sesuatu hal yang amat penting. Dia mencoba untuk mendengarkannya dengan seksama. Sang pemimpin berkata, "Kita harus cepat-cepat pindah ke daerah lain. Malam ini, gunung akan meletus dan banjir akan menggenangi seluruh daerah ini. Banyak manusia yang akan mati"Hailibu amat kaget mendengar hal ini. Dengan tergesesa-gesa, dia lari pulang ke rumahnya, dan menyebarkan berita ini kepada penduduk desa. "Kita harus pergi dari daerah ini secepatnya, Kita tidak dapat tetap tinggal di sini lagi.!" Tentunya, penduduk desa bingung dan kaget,"Tidak ada yang salah selama kita tinggal di sini,lalu kenapa kita harus pindah?". Hailibu tetap berkeras untuk menyampaikan berita ini, tapi tidak ada seorangpun yang percaya. Dengan menangis, Hailibu menjelaskan, "Tolong dengarkan saya, saya dapat bersumpah bahwa apa yang saya katakan itu benar. Percayalah saya, kita harus pergi sekarang sebelum semuanya terlambat"Seorang tetua mencoba untuk menenangkan Hailibu, "Engkau adalah pemuda yang baik dan selama ini engkau tidak pernah berdusta. Kami sudah menetap di sini dalam kurun waktu yang lama, tapi sekarang engkau meminta kami untuk pindah. Untuk pindah dari tempat ini bukanlah perkara mudah, karena itu engkau harus memberitahukan kepada kami apa alasanmu,anak muda?"Hailibu merasa putus asa dan tidak menemukan cara lain untuk menyelamatkan penduduk desa. Lalu, dia mencoba menenangkan diri sejenak. Dengan kesungguhan hati, dia berkata kepada penduduk desa. "Malam ini, gunung akan meletus dan sebuah banjir besar akan melanda tempat ini. Kalian dapat lihat sendiri, burungburung telah terbang meninggalkan daerah ini." Kemudian Hailibu menjelaskan perihal bagaimana dia mendapatkan batu ajaib, yang membuatnya mengerti semua bahasa hewan, tapi seharusnya dia harus menyimpannya itu sebagai rahasia, jika tidak, dia akan berubah menjadi batu.Saat Hailibu bercerita, bagian bawah tubuhnya, mulai dari telapak kaki perlahan-lahan berubah menjadi batu. Setelah dia menyelesaikan seluruh cerita, dia berubah menjadi batu seutuhnya.Para penduduk desa amat kaget dan merasa amat kehilangan. Mereka menangis, mencurahkan kesedihan mereka yang sedalam-dalamnya, mereka menyesal mengapa tidak mempercayai Hailibu dari awal. Akhir-nya, dengan membawa barang-barang penting mereka dan persediaan makanan, semua penduduk desa (termasuk para tetua dan anak-anak), mereka berjalan dan meninggalkan daerah itu. Mereka terus berjalan hingga malam hari, tiba-tiba awan tebal menyelimuti langit dan angin telah bersiap untuk menderu. Tak lama, turunlah hujan yang amat sangat deras. Dari arah desa, mereka mendengar suara gemuruh dari letusan gunung......Sudah beberapa generasi telah berlalu, namun para nenek moyang dari desa tersebut tetap dapat mengingat Hailibu, si pemburu yang baik hati. Mereka juga tetap berusaha untuk mencari batu Hailibu.

Monyet dan Buaya
Folklore
07 Dec 2025

Monyet dan Buaya

Dahulu kala hiduplah seekor monyet di sebatang pohon jamblang di tepi sungai. Ia bahagia walaupun tinggal sendiri . Pohon itu mempunyai banyak buah yang manis dan memberinya tempat berteduh pada saat hari panas atau hujan.Pada suatu hari seekor buaya naik ke tepian sungai dan beristirahat di bawah pohon. Sang monyet yang ramah menyapanya, "Halo.""Halo," jawab buaya. "Apakah kau tahu dimana aku dapat menemukan makanan? Tampaknya sudah tidak ada ikan lagi di sungai ini.""Aku tidak tahu dimana ada ikan Namun aku mempunyai banyak buah jamblang yang masak di pohon ini. Ini, cobalah!" kata monyet sambil memetik beberapa buah jamblang dan melemparkannya kepada buaya.Buaya memakan semua buah yang diberikan monyet.Iasuka rasanya yang manis. Ia minta monyet memetik buah jamblang lagi untuknya.Sejak saat itu buaya datang setiap hari. Mereka pun menjadi sahabat. Mereka mengobrol sambil makan buah jamblang.Pada suatu hari buaya bercerita tentang isteri dan keluarganya."Mengapa baru sekarang kau bilang bahwa kau punya isteri? Bawalah jamblang ini untuk isterimu."Isteri buaya menyukai buah jamblang. Ia belum pernah makan sesuatu yang begitu manis. Ia berpikir betapa manisnya daging monyet yang sepanjang hidupnya makan buah jamblang setiap hari. Air liurnya menetes."Suamiku," kata isteri buaya, "ajaklah monyet kemari untuk makan malam. Lalu kita makan dia. Pasti dagungnya lezat dan manis."Buaya terperanjat. Bagaimana ia dapat memakan sahabatnya? Ia menjelaskan kepada isterinya, "Monyet satu-satunya temanku, " katanya. Sang buaya tetap menolak membawa monyet kepada isterinya. Sementara isterinya pun tetap membujuknya.Ketika buaya tetap tidak mau menuruti keinginannya, isteri buaya pura-pura sakit keras. "Suamiku," katanya, "Hanya jantung monyet yang dapat menyembuhkanku. Kalau kau mencintaiku, kau ajak monyet temanmu kemari. Setelah makan jantungnya aku pasti segera sembuh."Buaya kebingungan, di satu sisi monyet adalah sahabatnya yang baik hati. Namun di sisi lain, bila isterinya tidak memakan jantung monyet, mungkin ia akan meninggal.Akhirnya, ia memutuskan untuk membawa monyet kepada isterinya untuk dijadikan obat."Teman," kata buaya kepada monyet. "Isteriku sangat berterima kasih dengan buah jamblang yang kaukirimkan tiap hari. Sekarang ia ingin mengundangmu makan malam.Ikutlah denganku ke rumah kami."Monyet sangat gembira dengan undangan itu namun ia berkata bahwa ia tak mungkin ikut karena ia tak dapat berenang. "Aku akan menggendongmu di atas punggungku. Kau tak usah khawatir," kata buaya.Monyet pun melompat ke punggung buaya dan berangkatlah mereka.Ketika mereka sudah cukup jauh dari pohon jamblang, buaya berkata,"Isteriku sakit parah, hanya jantung monyet yang dapat menyembuhkannya."Monyet ketakutan. Ia berpikir keras, bagaimana ia dapat menyelamatkan diri. "Buaya temanku, kasihan isterimu. Namun kau tak perlu cemas. Aku senang bisa menolong isterimu dengan jantungku. Masalahnya, aku tadi meninggalkan jantungku di atas dahan pohon jamblang. Ayo kita kembali dan mengambilnya."Buaya percaya kepada monyet. Ia berbalik dan berenang kembali ke pohon jamblang. Monyet segera melompat turun dari punggung buaya dan segera naik ke dahan pohon."Temanku yang bodoh. Tidak tahukah kau, bahwa kita selalu membawa-bawa jantung kita? Aku tak akan mempercayaimu lagi. Pergilah dan jangan pernah kembali ke sini lagi."Monyet pun membalikkan badannya, tak mau lagi melihat sang buaya.Buaya sangat menyesal. Ia kehilangan satu-satunya sahabatnya. Ia juga tak akan dapat makan buah jamblang yang manis itu lagi.Monyet lolos dari bahaya karena berpikir dengan cepat dan cerdik. Ia menyadari bahwa monyet dan buaya tidak mungkin berteman. Buaya lebih suka makan monyet daripada berteman dengannya.

Putri Tikus
Folklore
07 Dec 2025

Putri Tikus

Raja Jingga sangat gembira karena Ratu Kuning melahirkan seorang bayi perempuan. Bayi itu adalah putri ketiga mereka. Ratu memakaikan baju berwarna merah yang dirajutnya sendiri. Ratu lalu menamakannya Putri Merah.Raja Jingga mengadakan pesta besar untuk merayakan kelahiran puteri ketiganya itu. Ratu memakaikan baju warna merah yang baru untuk Putri Merah. Tamu-tamu undangan pesta semua datang membawa hadiah. Semua bergembira. Kecuali, Penyihir Hitam dan adik perempuannya yang tidak diundang oleh Raja.Adik perempuan Penyihir Hitam dijuluki si Pucat. Wajahnya tirus dan pucat. Hampir seumur hidupnya ia tidak pernah tertawa.Penyihir Hitam marah karena ia dan adiknya merasa dilupakan. Ia lalu menyihir Puteri Merah menjadi seekor tikus.“Puteri Merah akan menjadi manusia lagi jika adikku, Si Pucat, bisa tertawa,” kata Penyijir Hitam.Raja Jingga dan Ratu Kuning sangat sedih dan panik. Mereka mengumpulkan semua badut dan pelawak di negeri itu. Mereka disuruh melucu di depan si Pucat. Namun sayangnya, adik Penyihir Hitam itu tetap tidak bisa tertawa. Bahkan tersenyum pun tidak.Raja Jingga tidak punya cara lain untuk melindungi putri bungsunya. Ia lalu memerintahkan para prajurid untuk menangkap semua kucing di kerajaan itu. Lalu melepaskan kucing-kucing itu ke wilayah lain di luar kerajaan. Raja Jingga khawatir jika Putri Merah diserang oleh kucing.Tahun demi tahun berlalu. Putri Merah tumbuh dewasa tetapi dalam wujud tikus.Pada suatu hari, Raja Jingga mengadakan pesta ulang tahun Ratu Kuning. Kedua kakak Putri Merah memakai gaun mereka yang terindah ke pesta itu. Pangeran Aldo dari kerajaan tetangga, juga datang ke pesta itu.Putri Merah biasanya tidak mau datang ke pesta. Namun hari itu, ia ingin melihat Pangeran Aldo yang terkenal tampan dan gagah. Maka ia pun memakai gaun merahnya dan naik ke punggung seekor ayam jantan sahabatnya. Putri Merah mengikat sehelai pita merah di leher ayam itu sebagai tali kekang. Ia lalu pergi ke pesta ulang tahun ibunya.Kali ini, Raja Jingga tidak lupa mengundang Penyihir Hitam dan adiknya, si Pucat. Ketika akan mengambil makanan pesta, si Pucat melihat Putri Merah masuk ke ruangan pesta. Si Pucat terdiam sejenak. Tiba-tiba ia merasa geli. Betapa lucunya melihat seekor tikus bergaun putri menunggangi ayam jantan, dengan tali kekang dari pita.“Ha ha ha…”Si Pucat tertawa terbahak-bahak. Wajahnya yang pucat berubah kemerahan cerah. Ia tertawa sampai tak bisa berhenti. Ia terus tertawa sampai terguling-guling di lantai.Di saat yang sama, wujud Putri Merah pun kembali seperti semula. Ia ternyata telah tumbuh menjadi putri yang sangat cantik jelita. Betapa bahagianya Raja Jingga, Ratu Kuning, dan kedua kakak Putri Merah. Putri Merah pun sangat bahagia, karena ia bisa berkenalan dengan Pangeran Aldo.

Legenda Buah Semangka
Folklore
07 Dec 2025

Legenda Buah Semangka

Beberapa abad yang lalu, Vietnam dipimpin oleh Raja Hung Vuong Ketiga. Ia adalah raja yang sangat disegani rakyatnya. Ia juga sangat terkenal akan kebaikan dan kemurahan hatinya. Raja dan Permaisuri hanya mempunyai seorang anak perempuan. Maka mereka mengangkat anak laki-laki untuk menjadi pemimpin Kerajaan. Anak laki-laki itu diberi nama An Tiem.Raja dan Permaisuri merawat An Tiem seperti merawat anak kandung mereka sendiri. An Tiem pun tumbuh menjadi anak yang sangat pintar dan berbudi pekerti baik. Semakin dewasa ia tumbuh menjadi anak muda yang bijaksana.Ketika An Tiem dan Putri Raja telah dewasa dan saling mencintai, Sang Raja menikahkan keduanya. Pesta pernikahan mereka berlangsung sangat meriah. Semua rakyat ikut menyaksikan pernikahan calon pemimpin mereka dengan gembira.Setelah menikah An Tiem dan Sang Putri memiliki dua anak. Sebagai penerus tahta kerajaan An Tiem dididik sangat keras oleh Sang Raja. Namun Sang Raja tidak lupa untuk menasihati keduanya agar kelak selalu memerhatikan kehidupan rakyatnya. An Tiem pun mengikuti nasihat dan perintah Sang Raja. Ia juga mengikuti setiap kegiatan Sang Raja supaya ia siap menggantikannya saat turun tahta kelak.Semakin lama An Tiem berubah menjadi calon pengganti Raja yang sangat berwibawa. Semua rakyat dan para penghuni Istana semakin memuji dan mengagumi An Tiem. Mereka berharap An Tiem akan menjadi pemimpin yang tidak kalah baiknya dengan Sang Raja.An Tiem terus melatih diri dengan serius. Ia tidak ingin mengecewakan harapan rakyat dan penghuni Istana. Dia telah bertekad untuk menjadi calon raja yang bisa melindungi rakyatnya. Ketekunan An Tiem dalam belajar dan melatih diri membuat Raja semakin menyayanginya. Akan tetapi tidak semua penghuni Istana menyukai An Tiem. Beberapa prajurit merasa tidak senang dengan perhatian dan kasih sayang Raja kepada An Tiem, anak angkatnya.Suatu pagi An Tiem telah siap mengikuti Sang Raja pergi ke beberapa desa untuk melihat keadaan rakyatnya. Mereka segera memulai perjalanan dengan dikawal oleh beberapa prajurit. Sementara itu beberapa prajurit yang tidak menyukai An Tiem sedang berkumpul di istana, membuat rencana untuk menyingkirkan An Tiem. Mereka iri karena An Tiem, yang hanya seorang anak angkat, mendapat perhatian yang lebih dari Raja.Akhirnya para prajurit yang iri sepakat untuk mengarang cerita bohong tentang An Tiem. Secara diam-diam beberapa prajurit yang iri tersebut menghadap Raja yang baru kembali ke Istana pada sore harinya. Mereka mengatakan beberapa kebohongan tentang An Tiem. Lalu untuk lebih meyakinkan Sang Raja, mereka berkata bahwa An Tiem telah memerintahkan prajurit di Istana untuk melakukan pengkhianatan dan merebut kekuasaan Sang Raja.“Wahai, Raja, An Tiem hanyalah seorang anak angkat. Dia tidak mungkin memikirkan masa depan Kerajaan ini,” kata seorang prajurit berapi-api.Sang Raja termenung dalam hati dan mulai memikirkan kebenaran perkataan prajurit-prajuritnya.“Benar Raja! An Tiem hanya ingin menjadi raja dan hanya memikirkan kehidupannya sendiri. Ia bahkan telah menghasut dan menjelek-jelekkan Raja di hadapan Tuan Putri,” seorang prajurit ikut menimpali agar Raja semakin yakin dengan perkataan mereka.Para prajurit itu tidak menyerah. Setiap hari mereka selalu mengatakan cerita kebohongan tentang An Tiem kepada Raja. Raja pun mulai terhasut dengan perkataan para prajurit itu. Ia lalu memutuskan untuk mengusir An Tiem dan keluarganya dari Istana. An Tiem, istri, dan anaknya pun dibawa ke sebuah pulau yang sangat terpencil di seberang lautan tanpa bekal apa pun.Meski diusir dari Istana dan harus hidup di tempat yang tak berpenghuni, An Tiem tidak berkecil hati dan mengeluh sedikit pun. Ia memutuskan untuk hidup mandiri bersama anak dan istrinya. Ia bertekad mengubah tempat tinggalnya yang baru menjadi lebih baik untuk hidup keluarganya.Setelah mempunyai tempat tinggal sementara, di antara pepohonan yang sangat lebat, An Tiem mulai melihat-lihat tempat di sekitarnya. Saat berkeliling An Tiem menemukan sebuah ladang yang sangat luas. Ketika ia sedang menyusuri ladang itu, An Tiem melihat segerombolan burung yang mengelilingi sebuah tanaman. Dia melihat burung-burung itu memakan biji-biji kecil yang sangat banyak.An Tiem termangu sejenak dan terus memerhatikan burung-burung yang sedang makan. Setelah gerombolan burung itu terbang, An Tiem mendekati tanaman berbiji itu. Ia melihat sebuah tanaman menjalar dengan buah bulat berwarna hijau. Sebagian buah itu telah terkoyak hingga An Tiem bisa melihat bagian dalamnya yang berwarna merah dan berbiji banyak. An Tiem pun memutuskan untuk membawa biji-biji tersebut pulang dan menanamnya di ladang.Beberapa hari kemudian An Tiem menaburi ladangnya dengan biji tanaman berbuah bulat. Setiap hari ia merawat ladangnya dengan sangat tekun. Bulan demi bulan berlalu, ladang An Tiem kini dipenuhi tanaman berbuah bulat berkat ketekunan dan kegigihannya dalam merawat tanaman itu. An Tiem lalu memetik satu buah dan membelahnya. Di dalamnya terlihat warna merah yang berair dan berbiji banyak. Karena merasa penasaran, An Tiem pun memakan buah itu. Rasanya sangat enak, manis, dan menyegarkan. An Tiem kemudian memetik beberapa buah untuk anak istrinya di rumah.Di tengah kegembiraannya memanen dan menikmati buah itu, diam-diam An Tiem sangat merindukan keluarganya di Istana. Setiap hari ia merenung di pinggir laut. Ia ingin sekali bertemu dengan Sang Raja dan orang-orang di Istana. Ketika sedang merenung, ia mendapatkan sebuah ide. Ia mengambil beberapa buah di ladangnya dan membawanya ke laut. An Tiem kemudian menulis namanya di buah-buah itu dan menghanyutkannya. An Tiem berharap suatu saat buah itu akan sampai kepada Sang Raja dan menyampaikan rasa rindunya.An Tiem melakukan hal itu berulang-ulang. Hampir setiap hari ia menghanyutkan buah, yang bertuliskan namanya, di laut. Dan, usahanya tidak sia-sia. Beberapa nelayan yang sedang melaut menemukan buah yang bertuliskan namanya. Buah itu pun menjadi perbincangan di antara para nelayan. Mereka mencoba mencari tahu asal mula buah bernama. Akhirnya mereka menemukan pulau tempat An Tiem dan keluarganya tinggal.Setelah itu banyak nelayan yang memutuskan untuk tinggal di pulau itu. Semakin lama pulau itu menjadi ramai dan tidak sepi seperti dahulu. An Tiem sangat gembira. Ia dan orang-orang yang ikut tinggal di pulau itu bertekad untuk membangun pulau tempat tinggal mereka menjadi lebih baik. Orang-orang yang melihat kebijaksanaan An Tiem pun memintanya untuk menjadi pemimpin mereka. An Tiem membangun pulau itu dengan kesungguhan hati karena tidak ingin mengecewakan orang-orang yang telah percaya kepadanya. Pulau itu pun semakin terkenal dan didatangi oleh banyak orang.Kabar tentang An Tiem yang membangun dan memimpin pulau itu segera menyebar ke seluruh negeri. Sang Raja pun mendengar kabar itu. Ia sangat ingin membuktikan apakah orang yang dimaksud adalah anak angkatnya, yang pernah dia usir dari Istana.Raja kemudian berlayar menuju pulau tempat tinggal An Tiem. Ketika Sang Raja dan anak buahnya sampai di pulau tersebut, mereka sangat terkejut. Sang Raja melihat sebuah pulau yang sangat berbeda dari yang ia lihat dahulu. Sang Raja merasa sangat menyesal telah mengusir An Tiem karena hasutan anak buahnya. Ia pun bergegas menemui An Tiem dan keluarganya.Saat bertemu dengan An Tiem dan keluarganya, Sang Raja meminta maaf kepada mereka. Ia lalu meminta An Tiem untuk kembali ke Istana. An Tiem dan keluarganya sangat gembira karena mereka bisa berjumpa dan berkumpul kembali dengan Sang Raja. Mereka pun kembali ke Istana dan membawa banyak buah yang telah ditanam oleh An Tiem.Beberapa tahun kemudian An Tiem menjadi raja menggantikan Sang Raja Hung Vuong Ketiga yang telah wafat. Meskipun telah menjadi raja, An Tiem tak pernah lupa mengunjungi orang-orang di pulau. Setiap kali An Tiem kembali dari pulau, ia selalu membawa buah bulat berbiji, yang kini lebih dikenal dengan nama buah semangka. Dari cerita itu, orang Vietnam menganggap buah ini sebagai buah keberuntungan, yang telah mempertemukan kembali sebuah keluarga yang terpisah. Oleh karena itu, sampai saat ini, orang Vietnam sering membawa buah semangka saat berkunjung ke rumah kerabat atau keluarga.

12 Perempuan
Folklore
07 Dec 2025

12 Perempuan

Alkisah ada seorang keluarga yang kaya raya, mereka mencoba memiliki keturunan seorang anak laki-laki. Namun setiap mereka mencoba punya anak, sang ibu selalu melahirkan anak perempuan. Sang ibu mengatakan untuk selalu berusaha melahirkan anak laki-laki, namun ternyata hingga 12 kali mengandung istri tersebut tetap melahirkan anak perempuan. Pada saat itu kondisi keluarga itu juga semakin hari mengalami kebangkrutan walaupun ia mencoba membuat bisnis baru, keluarga ini tetap semakin miskin.Keadaan tersebut menurut sang ayah menyusahkan hidup mereka karena harus memberi banyak makanan kepada 12 anaknya, ibu, dan ayah sendiri. Akhirnya sang ayah ini ingin membuang semua anaknya di hutan. namun ide jahatnya ini diketahui oleh anaknya yang paling kecil, Phao. setelah dibawa ke hutan ayah ini pergi dan tidak kembali. semua saudara Phao begitu panik, namun akhirnya bisa kembali pulang ke rumah karena Phao membuat penunjuk arah pulang. setelah pulang ke rumah tentu ayah ini terkejut 12 anaknya bisa kembali. Tak kehabisan akal, ayah ini membawanya pergi ke hutan dan kali ini 12 anaknya tidak bisa kembali. 12 saudara ini semakin tersesat di hutan hingga akhirnya menemukan sebuah danau. semua saudara ini menangkap ikan dan mencoblos kedua mata ikan tersebut dengan ranting tajam, sedangkan Phao hanya menusuk satu mata ikan tersebutAkhirnya 12 saudara tiba di kerajaan yaksha, di mana raksasa wanita bernama Santhumala melihat gadis-gadis kelelahan dan kurus beristirahat di bawah pohon dan memutuskan untukmengadopsi mereka. wanita raksasa mengubah diri menjadi manusia, seorang wanita cantik dan membawa dua belas saudara ke rumahnya. Selama bertahun-tahun dia memperlakukan mereka sebagai anak sendiri dan di bawah asuhannya dua belas gadis tumbuh menjadi wanita muda yang cantik.Suatu hari, Santhumala sedang berburu jauh, dua belas saudara bertemu dengan seorang tua yang mengatakan kepada mereka bahwa Santhumala bukanlahmanusia, melainkan seorang raksasa yang suka makan wanita muda seperti mereka. Sehingga 12 saudara tersebutmelarikan diri dari kerajaan raksasa dan berjalan selama berhari-hari sampai mereka tiba ke sungai di mana mereka mandi. Raja lokal melihat dua belas wanita bermain air dan jatuh cintadengan mereka. Jadi dia membawa mereka ke istananya dan menikah dengan dua belas bersaudara.Ketika Santhumala kembali dan melihat anak asuhnya telah pergi, ia begitu marah. Santhumala mencari mereka hingga ke kerajaan lokal. Santhumala menjelma menjadi wanita yang lebih cantik dari 12 saudara tersebut. sang raja terpikat dan akhirnya menikahi Santhumala dan menjadikannya seorang ratu. Balas dendam tak sampai disitu, Santhumala berpura-pura sakit karena perlakuan 12 saudara dan cara menyembuhkannya adalah sari-sari dari mata 12 saudara tersebut.Akhirnya sang raja mematuhi permintaan Santhumala dan mencabut 12 mata saudara tersebut, kecuali Phao hanya tercabut 1 mata. 12 saudara dibuang ke gua dan dibiarkan kelaparan. Pada saat itu juga, 12 saudara tersebut sedang hamil namun nasib naas semua anak mereka meninggal saat melahirkan. untuk bertahan hidup, bayi yang meninggal dijadikan santapan untuk saudara tersebut. Namun Phao, melahirkan bayi yang sehat dan hidup. Phao mengatakan bahwa bayi nya telah meninggal namun ia merawatnya dengan baik dengan anaknya laki-laki bernama, Pra Rothasen (Prarot).Prarot tumbuh menjadi pria dewasa dan hidup menyambung ayam. Ia mendapatkan uang dan membelikan makanan bagi ibu dan bibi-bibinya.Ketika raja mendengar tentang Prarot, dia mengundangnya ke istana di mana ia bermain dadu dengan raja menampilkan keahlian.Santhumala mengetahui bahwa 12 saudara masih hidup dan dia marah. Sekali lagi Santhumala pura-pura sakit dan mengatakan kepada raja bahwa hanya buah tertentu yang tumbuh di kerajaannya bisa menyembuhkannya. Dia juga mengatakan kepada raja bahwa hanya Prarot akan mampu untuk mengambilnya. Jadi dia menulis surat berikut kepada anak angkatnya, Mery, dalam bahasa raksasa: "Jika pemuda ini tiba ke kerajaan kami di pagi hari, makan dia di pagi hari, tetapi jika ia tiba di malam hari, makan dia di malam hari."Saat perjalanan, Prarot bertemu dengan seorang pertapa yang memberikan kuda dan ramah tamah. Prarot pun selama perjalanan tertidur dan tidak sadar bahwa surat yang tertera pun berganti dari kata "memakan" menjadi "menikahi".Saat tiba di kerajaan raksasa Prarot langsung pergi ke Mery dan menunjukkan surat itu padanya. Meriterkejut dan senang saat melihat pemuda yang tampan dan Mery jatuh cintadengan Prarot, Mereka akhirnya merayakan pernikahannya dengan seperti yang diarahkan.Meri adalah seorang wanita yang baik hati dan Phra Rothasen tinggal bersamanya sangat bahagia, tapi ia ingat ibunya yang buta dan bibi yang masih tinggal di gua yang gelap. Berada di istana raksasa, Meri telah memberitahu Prarot tentang obat-obatan sihir tertentu disimpan di ruang terkunci termasuk mata milik ibu Prarot dan bibinya.Kemudian Prarot berencana untuk membuat Meri tertidur dengan minum anggur dan mengambil mata untuk ibu dan bibinya.Setelah Meri sedang tidur, Prarot mencuri banyak obat-obatan dan mata dari ruang terkunci. Meri bangun dan mencari suaminya tapi dia melihat Prarot menunggang kuda terbangnya. Mery tiba-tiba berubah menjadi raksasa dan mengikuti Prarot sambil menangis dan memanggilnya dengan suara nyaring.Untuk menghentikannya, Prarot melemparkan sebuah tongkat yang mengubah jarak antara mereka menjadi danau dan gunung. Melihat suaminya melarikan diri dari Mery dia meratap putus asa, meminta Prarot untuk berhenti. Prarot tergerak oleh jeritan sedih dan menjawab bahwa dia akan kembali setelah ia menyelesaikan misi yang mendesak. Kemudian Prarot terbang dan meninggalkan Mery dengan patah hati menangis pahit di tepi danau.Prarot kembali ke kotanya dan membunuh Santhumala dengan sihir. Prarot kemudian pergi ke gua yang gelap dalam dan menyembuhkan mata ibunyadan bibi dengan sihir khusus. ibu danbibinya meninggalkan gua mereka dalam dan kembali dengan raja. 12 saudara mengundang Prarot untuk tinggal di istana lagi tapi Prarot mengatakan bahwa Prarot harus kembali dengan Meri yang menunggunya.Tapi sementara itu Mery telah meninggal. Selama menunggu lama Mery telah menumpahkan begitu banyak air matabahwa sampai menjadi buta. Sebelum Mery meninggal, dia bersumpah akan mengikuti Prarot di setiap reinkarnasi masa depan. Kemudian dia meninggaldengan neneknya menangis di sisinya dan dikelilingi oleh pelayannya.Ketika Prarot tiba di kerajaan raksasa ia menyadari itu sudah terlambat. Prarot mendengar tentang sumpahnya danmembawa tubuh istrinya. Prarot akhirnya meninggal sambil membawa istrinya dalam pelukan. Akhirnya, roh mereka terbang bersama-sama untukreinkarnasi berikutnya di mana mereka akan bergabung lagi.

Gajah Putih Thailand
Folklore
07 Dec 2025

Gajah Putih Thailand

Ratusan tahun ke belakang di negeri Thailand yang terkenal sebagai negeri Gajah Putih ini, sebelumnya wilayah ini tidak mempunyai binatang yang namanya Gajah. Di hutan-hutan negeri tersebut tidak ada hewan tersebut. Gajah pada zaman itu di Thailand hanya sebuah binatang yang di anggap sebuah legenda dongeng saja.Sampai akhirnya sang Maharaja negeri itu mengutus abdi kepercayaannya untuk pergi ke negeri lain, hanya untuk membeli binatang atau hewan yang namanya Gajah ini, agar seluruh rakyat dan para pembesar negeri ini tahu bahwa Gajah itu memang ada. Bukan hanya sekedar kabar isapan jempol saja."Belikanlah aku sejodoh atau sepasang Gajah dan bawalah binatang dari negeri nun jauh disana, ke negeri kita tercinta ini." Titah sang Maharaja Thailand.Maka berangkatlah utusan sang Maharaja itu ke negeri seberang, memikul tugas yang diperintahkan kerajaan zaman itu. [Dari sinilah ternyata cikal bakalnya Thailand menjadi negara yang terkenal dengan sebutan: negara Gajah Putih].Demikianlah perjalanan untuk membeli sepasang Gajah itu di mulai, dengan melepas sauh berlayarlah kapal laut itu menuju negeri di seberang sana.Berhari-hari berlalu apa yang di tunggu-tunggu Maharaja dan seluruh rakyat negeri Thailand itu datang juga.Sepasang atau sejodoh Gajah yang gemuk dan sehat telah datang di negeri ini, Thailand. Namun kedatangan Sang Gajah terjadi pada malam hari atau sudah larut malam, gajah-gajah itu tidak langsung di pamerkan kepada seluruh rakyat."Besok hari baru kalian bawa sepasang gajah itu untuk dipertontonkan kepada seluruh khalayak negeri." Perintah sang Maharaja."Tetapi aku ingin seluruh abdi negeri para pembesar negeri ini duluan yang melihat malam ini juga, biar seluruh rakyat negeri ini tahu bahwa kita semua adalah orang yang berpengetahuan lebih banyak dari seluruh khalayak ramai." Inilah titah atau perintah sang Maharaja, ditujukan untuk para menteri dan pembesar negeri untuk lebih dulu melihat binatang ini.Berkumpullah para pembesar serta para menteri atas perintah sang Maharaja. Karena situasi malam yang begitu gelap-gulita maka para pembesar itu memerintahkan untuk dibuatkan obor-obor atau pelita untuk penerangan kala melihat sang Gajah itu.Tetapi perintah itu di tolak oleh pawang Gajah dengan alasan yang mereka kemukan, bahwa Gajah akan mengamuk bila di kagetkan oleh cahaya yang tiba-tiba terang. Gajah adalah binatang raksasa yang begitu besar tenaganya, bila mengamuk pasti akan menghancurkan kandangnya. Itulah alasan sang pawang itu ketika didesak untuk dinyalakan pelita dilokasi kandang Gajah tersebut.Sampailah seluruh pembesar kerajaan itu di tempat kandang Gajah yang di buat begitu kokoh dengan balok-balaok besar yang kuat untuk menjaga Gajah tersebut lepas dari kandangannya. Namun keadaan yang begitu gelap itulah yang akhirnya semua pejabat itu hanya dapat memegang bagian-bagian tubuh saja, mereka semua tidak bisa melihat Gajah tersebut.Pejabat kerajaan yang dari bagian negeri sebelah utara yang pertama memegang bagian dari kaki paha Gajah tersebut, "Tidak salah lagi apa yang di katakan orang selama ini, memang benar Gajah itu besar sampai tanganku saja tidak sanggup memeluknya" pikir pejabat itu dalam hatinya.Pejabat kerajaan yang dari bagian negeri sebelah selatan maju dan memasukan tanganya kedalam kandang Gajah tersebut untuk memegangnya, "Ternyata kabar tersebut bohong adanya, Gajah hanyalah binatang yang kecil namun sekeras tulang." Karena pejabat iut memegang gading Gajah tersebut, sehingga hatinya berpikir binatang Gajah tidak besar hanya keras saja.Maka majulah pejabat dari bagian negeri barat, dan mengikuti langkah pejabat yang lain. "Wah besar sekali ini binatang Gajah, sampai tanganku ini tidak bisa menemukan ujung binatang ini." Teriakan pejabat ini, dan ternyata sang pejabat memegang perut dari Gajah itu.Terakhir giliran pejabat dari timur, melangkah sang pejabat ini terus meraba-rabanya. Ternyata dia hanya bisa meraba bagian dari ekor binatang itu, "Wah semua rekan pejabatku tidak ada yang benar kalau bicara" gerutunya dalam hati, Gajah tidak besar juga tidak pula keras.Setelah semua pejabat itu mendapat gilirannya, maka pulang para pembesar. Sesampainya dirumah masing-masing, mereka telah di tunggu oleh khalayak yang tidak sabar ingin mengetahui tentang bagaimana kabarnya bitanang tersebut dari pejabat tersebut.Semua masyarakat sudah tidak sabar ingin mengetahuai bagaimana bentuk dan rupanya dari Gajah yang menjadi idaman negeri Thailand kala zaman tersebut berlangsung. Maka berpidatolah sang pembesar para menteri dan pejabat kerajaan itu di daerah jabatan masing-masing. Mereka berpidato dengan kenyakinan dari apa yang mereka pikirkan tentang Gajah yang hanya dirabanya saja, bukan melihat atau mengenal sebelumnya binatang tersebut.Semua pejabat dengan pengetahuan yang sedikit itu akhiranya menimbulkan salah paham antar rakyat. Rakyat yang berada dari belahan utara menceritakan Gajah yang menurut pejabatnya demikian. Sementara rakyat dari belahan negeri selatan mencerita Gajah menurut pejabatnya bukan begitu. Juga dari barat dan timur juga berbeda, tidak ada kesamaan dari seluruh pejabat yang memberi tahu rakyatnya tantang sang Gajah. Maka timbullah bentrokan antar rakyat seluruh negeri membela keterangan yang telah disampaikan pembesar dari daerah masing-masing.Maharajapun akhirnya turun tangan untuk menyesaikan masalah yang sedang berlangsung malam itu. Disuruhnya seluruh Khalayak ramai rakyat negeri Thailand untuk berkumpul keesokan harinya di depam pendopo istana alun-alun kerajaan negeri.Tak hanya itu sang Maharajapun memerintahkan seluruh pembesar, pejabat dan abdi kerajaan untuk mempersiapkan acara besok harinya.Pagi-pagi buta sekali berbondong-bondong seluruh rakyat negeri kerajaan saat itu menuju pendopo istana untuk menyaksikan sepasang Gajah yang di beli dari negeri seberang lautan nun jauh disana. Berkumandanglah perintah sang Maharaja untuk membuka kandang Gajah. Semua khalayak rakyat negeri dapat melihat sang Gajah binatang yang sangat besar dan gagah tersebut dengan mata kepala sendiri, bukan kabar dari sang pembesar daerahnya yang bohong itu. Yang semalam mereka bela keterangan mengenai Gajah tersebut, Semua rakyat sangat kecewa terhadap pembesar-pembesar itu.Dan akhirnya Maharajapun memecat seluruh pejabat yang sok pintar, yang pengetahuannya sedikit tetapi mengaku pintar dari pada yang lain."Mulai saat ini rawatlah sepasang Gajah ini. Kembang biakkan menjadi banyak dan terus banyak, memenuhi seluruh negeri ini". Titah sang Maharaja kepada seluruh khalayak rakyat kerajaan saat itu.Dan Maharaja pun berpesan supaya menjaga kedamaian antar sesama rakyat Thailand, jangan terjadi keributan antar saudara senegeri gara-gara berita dari pejabat yang tidak bertanggung jawab.Semenjak dari saat itu negeri Thailand menjadi negeri kerajaan yang damai aman sentosa tak terdengar lagi keributan antar daerah satu negeri. Serta pada akhiranya kita mengenal Thailand sekarang dengan sebutan negeri Gajah Putih.

Kampung Talawid dan Mahuneni Siau Barat Selatan
Folklore
07 Dec 2025

Kampung Talawid dan Mahuneni Siau Barat Selatan

Pada zaman dahulu Kampung Talawid konon ceritanya orang Talawid berasal dari Eneraha yang sekarang Lindongan 4 Kampung Mahuneni. Pada zaman itu ada seorang Belanda yang hidup bersama dengan mereka, suatu waktu datang musim kemarau yang panjang dan penduduk sulit mendapatkan air. Kemudian muncul seorang yang biasa pekerjaannya sebagai pemburu mengatakan bahwa ia bertemu dengan mata air yang ada di Bulude. Secara serentak masyarakat langsung datang ke tempat yang ada mata air itu.Dalam perjalanan yang panjang, mereka melalui lereng-lereng gunung yang terkadang naik atau turun serta di samping kiri-kanan jurang dan tebing yang silih berganti. Seorang yang berasal dari Negara Belanda ikut bersama-sama mereka. Karena begitu jauh perjalanan menuju ke mata air itu, seorang Belanda yang bersama-sama dengan penduduk kampung itu berkata : " Tala - Awi " yang berarti: Tidak Bisa Naik .Suatu hari mereka sepakat pindah tempat untuk mendekati mata air itu, sebagian tinggal di bawah gunung itu dan sebagian naik ke Bulude, untuk dengan air.Ketika mereka telah menatap dan tinggal di Bulude ada seorang yang melihat suatu dataran pantai yang indah, maka ia langsung menelusurinya, dan karena terlihat baik untuk tinggal disitu ia pun menatap di pantai itu.Penduduk yang ada di Bulude itupun melihat itupun melihat dan mendengar bahwa ada pantai yang panjang dan lebar, maka dengan secara berangsur mereka pun turun di pantai karena begitu panjang dan lebar pantai itu maka mereka menyebut: Mahuene; yang berarti banyak pasir.Mereka hidup dan membentuk masyarakat kecil dengan peradaban mereka, karena susah dan derita yang pernah dialami maka teringat peristiwa yang sangat sulit kala itu. Mereka satu sama lain selalu menyebut Tala Awi suatu pertanda bahwa tidak bisa naik lagi.Dalam perkembangannya kemudian mereka membentuk adat istiadat dan menyebut tempat mereka Tala Awi .Adapun terjadi nama lain atau sebutan lain Kampung Talaawi saat itu adalah karena dikenal dengan pantainya yang lebar dan panjang sehingga tercapai kata: Mahuene (banyak pasir).Pada suatu ketika Kampung ini ditimpa penyakit (Demam Berdarah) karena banyaknya Nyamuk yang muncul dan tersebar di seluruh penjuru Kampung, masyarakat saat itu menyebut " Matenni " ( Mahuneni ). Sebutan itu masyarakat dan sampai sekarang orang tetap menyebut kampung ini Mahuneni atau Matenni.Sehingga pada satu sisi harus diakui Talaawi yang menjadi Talawid menurut Sejarah dan Matenni yang menjadi Mahuneni adalah bagian dari sebutan pemahaman orang tua dulu.Kemudian oleh Pemerintah Sangihe dalam rangka persiapan Otonomisasi Daerah menuju Kabupaten "Sitaro" Kampung Talawid dimekarkan menjadi dua :1.Kampung Talawid2.Kampung Mahuneni Tahun 2006

Daratan Kenangan
Folklore Wattpad
03 Dec 2025

Daratan Kenangan

Dia mengangkat beban seluruh dunia ini seorang diri. Memang ia awalnya terlihat mampu, tapi pada akhirnya, semua orang tahu, bahwa dia pasti akan menyerah. Namun, bukan berarti ia akan kehilangan keyakinannya.Di bawah langit malam, gadis kecil berpakaian lecek itu melangkah dengan ragu menyusuri daratan rumput itu. Di sekitarnya, ada banyak pepohonan yang tampak amat indah dan istimewa. Pasalnya, semua pohon yang tumbuh di sana, memiliki daun yang menyala terang, yang memancarkan warna merah muda yang sangat serasi dengan kegelapan malam kala itu. Umat manusia menyebut tempat ini sebagai Daratan Kenangan.Rasanya... dunia ini... sudah tidak memiliki harapan lagi...Berbagai pemikiran yang tidak menyenangkan mulai merasuk ke dalam gadis itu. Pandangannya yang kosong menatap lurus ke depan, seakan-akan dia sama sekali tidak peduli lagi dengan nasib dunia ini.Namun, selain si gadis, rerumputan, kegelapan, dan pepohonan bersinar itu, di sana juga ada ribuan manusia lainnya, yang berpakaian kotor dan tidak terurus sama seperti gadis itu, yang sedari tadi sudah menunggu kedatangannya.Semua orang memberikan jalan agar gadis mungil itu bisa lewat.Gadis itu terus berjalan, sementara orang-orang di sekitarnya malah menatap dirinya dengan tatapan sedih, heran, dan takut.Selang beberapa waktu kemudian, gadis itu pun berhenti melangkah. Di depannya kini ada suatu danau yang cukup lebar, yang hanya berjarak satu jengkal saja dari kaki telanjangnya yang penuh luka.Tuhan... mengapa dunia ini sangat senyap?Gadis kecil itu mengambil nafas dalam, lalu dengan perlahan dan pasti, dia mulai melangkahkan kakinya ke dalam air yang terasa amat dingin itu, dan berjalan menuju ke tengah-tengah danau. Semakin dalam dan semakin dalam, sampai-sampai setengah dari tubuhnya sudah tenggelam, dan hanya bagian perut ke atas saja yang terlihat darinya.Tuhan... mungkinkah ini adalah bayaran atas dosa-dosaku di masa lalu?Air di danau itu sangat tenang dan tidak beriak sama sekali, seakan-akan, danau itu terlihat seperti membeku, sama seperti gadis itu yang kini hanya berdiri diam di tengah danau.Sekarang suasananya menjadi lebih hening—sangat hening.Ada banyak orang yang melihat ke arah gadis itu dengan tatapan yang menyiratkan rasa putus asa yang sangat dalam. Sampai-sampai kau merasa seolah bisa melihat jurang tanpa dasar di dalam pandangan mereka. Sebagian orang di sana juga ada yang mulai menangis terisak, dan sebagian lagi gemetar hebat dan berkeringat dingin.Tuhan... Tolong dengarlah suaraku...Namun, tiba-tiba ada satu suara yang memecah keheningan malam.Jauh di kiri gadis itu, ada seorang wanita yang baru turun ke air dan tengah berjalan ke arahnya. Wanita itu juga menggendong bayinya bersamanya. Meski begitu, wanita itu adalah satu dari sekian banyak orang yang tidak terlihat takut, sedih, ataupun putus asa. Dia hanya tersenyum kecil sambil memastikan bayinya tetap tertidur dalam dekapannya. Sementara jauh di belakang wanita itu, tampak pula seorang pria yang bertekuk lutut dan menangis layaknya seorang balita. Seolah-olah dia akan kehilangan wanita itu.Dalam perjalanannya, wanita itu berbisik pada bayinya; "Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah pada Ibu." Suaranya yang pelan sungguh menenangkan.Puluhan langkah telah berlalu, dan wanita itu akhirnya sampai di hadapan si gadis di tengah-tengah danau. Wanita itu tiba-tiba mengulurkan tangannya yang lemah kepada si gadis, tapi, gadis kecil itu malah menggigit bibirnya sendiri dengan sangat keras, dan tubuhnya juga ikut gemetar."Jangan takut, Nak Riveria..." Kata wanita itu sambil tersenyum simpul.Dia tahu, bahwa wanita yang berdiri di depannya itu sebenarnya sudah sangat siap. Tapi, kenyataannya, satu-satunya orang yang belum siap di sini, kemungkinan adalah dirinya sendiri—Riveria Agnisia.Walau begitu, pada akhirnya, gadis kecil itu—Riveria—mau tak mau harus menerima uluran tangan wanita itu, lalu kemudian wanita itu dengan perlahan membungkukkan tubuhnya sampai dia benar-benar tenggelam ke dalam air.Jemari Riveria bergetar hebat, sampai-sampai dia kesulitan untuk melepaskan tangan wanita itu. Tapi, sungguh, hati kecil Riveria terus berteriak dan memberitahunya untuk tidak melepaskan tangannya.Seketika, tubuh Riveria menjadi lemas bukan main entah karena apa.Namun, saat tangan mereka telah bercerai, sesuatu yang gaib kembali terjadi.Ada banyak titik-titik cahaya hijau terang yang mulai timbul dari tempat si wanita tadi tenggelam. Cahaya itu sejatinya terlihat sangat ajaib, tapi sayangnya, apa yang terpancar dari mata Riveria yang kala itu bergetar hebat bukanlah rasa kagum, melainkan rasa takut yang tiada tara.Lambat laun, cahaya itu perlahan-lahan terangkat dari air dan naik ke udara, hingga lenyap begitu saja dari pandangan—dari dunia ini. Semua orang yang ada di sana hanya bisa terdiam melihat pemandangan itu. Dan dunia ini sekarang telah menjadi lebih senyap dari sebelumnya.Riveria lalu menatap telapak tangannya dengan pandangan hampa. Suatu memori terlintas di dalam benaknya. Tapi, ingatan itu bukanlah miliknya, kenangan itu adalah milik wanita yang telah pergi sebelumnya.Walau hanya sekilas, Riveria bisa melihat hampir semua kenangan itu dengan amat jelas. Namun, berdasarkan semua ingatan itu, Riveria hanya mampu menangkap dua ingatan saja yang memberikan kebahagiaan pada wanita itu, yaitu saat wanita itu menikah dengan pria yang tengah menangis di sana, dan yang kedua adalah waktu dia melahirkan anaknya. Sementara sisanya, adalah ingatan-ingatan yang pahit dan mengerikan."Bagaikan ribuan bintang di langit, tapi hanya dua bintang saja yang bersinar...."Detik demi detik berlalu, dan kesenyapan itu tiba-tiba lenyap diiringi derap langkah kaki ratusan orang yang memutuskan untuk turun ke air dan menggapai Riveria di tengah danau.Mereka adalah orang-orang yang telah siap untuk pergi meninggalkan kehidupan, sama seperti wanita tadi. Tapi bukan berarti mereka pergi ke surga atau pula ke neraka, karena saat ini, semua manusia tahu, bahwa gerbang di kedua tempat itu telah tertutup rapat.Saat ini, semua manusia sudah menjadi makhluk yang abadi, dan tak akan bisa mati. Walau begitu, bukan berarti Tuhan benar-benar meninggalkan manusia.Seribu tahun lalu, suara Tuhan yang menggelegar di langit menyatakan bahwa Ia akan menurunkan Sepuluh Keajaiban Terakhir untuk umat manusia. Dan salah satu dari keajaiban itu, adalah Riveria, dia diberikan kemampuan untuk mengirim manusia ke dalam kematian yang hampa—dia diberikan hak untuk mengantarkan manusia ke dalam peristirahatan yang terakhir dari yang terakhir.Kedengarannya tidak masuk akal, bukan? Namun sayangnya, sudah jelas kalau seribu tahun lalu, Tuhan sendirilah yang memberitahukan kebenaran itu pada manusia. jadi, semua orang hanya bisa menerima kenyataan ini dengan lapang dada.Akan tetapi, jika masih ada orang yang mencoba untuk menyangkal kenyataan itu, mereka bisa bertanya pada Riveria secara langsung, mengingat dia adalah salah satu dari segelintir makhluk yang telah hidup sejak seribu tahun lalu—sejak dunia ini masih dikuasai oleh manusia.Suara percikkan air, tangisan, teriakkan, dan keputusasaan terdengar makin membahana memenuhi tempat itu, seolah-olah ada upacara pemakaman massal yang tengah diadakan di Daratan Kenangan ini.Lalu, saat pagi telah datang, Riveria pun pulang ke rumahnya untuk beristirahat.Riveria berdiri sendirian di atas tumpukkan bebatuan yang menjulang tinggi bak bukit. Rambut pendeknya yang terurai ke leher memancarkan warna merah mengkilap layaknya api membara. Tatapan matanya yang sebiru langit tengah memandang kosong pada cakrawala yang terbentang di depannya. Kenyataannya, di dunia yang sudah hampir mati ini, hanya gadis mungil itu sajalah yang bisa menyelamatkan orang-orang.Hanya dia.Seorang gadis kecil nan rapuh yang dianggap terkutuk oleh manusia lainnya."Harus seberapa keras aku berteriak agar Engkau bisa mendengar suaraku... Tuhan."Riveria bertanya pada hati kecilnya. Entah kenapa kala itu Riveria seakan ingin menangis. Dia merasa bahwa dunia ini sudah bertindak terlalu berlebihan. Tapi, air matanya telah lama kering, menyisahkan tatapannya yang tanpa arti."Kenapa aku nggak memiliki perasaan lagi?" Tangan kiri Riveria bergerak meraba dada kirinya. "Kumohon... Tuhan, dengarlah suaraku untuk kali ini saja." Suara Riveria terdengar layu dan malas.Matahari sebentar lagi akan menampakkan dirinya, menandakan bahwa dunia ini masih bertahan dan memilih untuk terus melangkah, dan juga memutuskan untuk terus menyiksa umat manusia.Riveria tetap berdiri di puncak bukit batu itu, menunggu datangnya sinar mentari.Suara angin yang berhembus melalui jendela dan pintu gedung-gedung yang telah lama hancur dan tertutupi oleh debu yang amat tebal, seakan membawa suara jeritan ke telinga Riveria. Kendaraan, jalan raya, lampu lalu lintas, serta segala yang telah dibangun manusia di kota ini—semuanya telah lama mati.Dunia ini berhasil bertahan melalui suatu malapetaka—kiamat.Saat ini, hanya alam yang berkuasa atas bumi. Dan manusia? Manusia hidup dengan mengikuti aturan yang telah dibuat oleh alam. Tak ada lagi hukum manusia.Di manakah sebenarnya engkau, Tuhan?Akhirnya mata Riveria bisa menangkap sinar keemasan yang bersinar dari ufuk timur. Cahayanya begitu terang dan hangat, menembus pakaian kotor Riveria, dan seolah-olah cahaya itu tengah memeluk dirinya. Tubuh Riveria yang tadinya sangat kaku karena terkena angin malam, sekarang sudah terasa jauh lebih baik.Waktu itu, meski hanya sesaat, Riveria bisa merasakan sesuatu yang disebut dengan kedamaian. Untuk sesaat—hanya sesaat saja—Riveria bisa melihat sesuatu yang disebut sebagai... Harapan.Sungguh pemandangan yang amat megah, sekaligus perasaan yang luar biasa. Akan tetapi, terbitnya matahari adalah penanda waktu bagi Riveria untuk tidur.Namun, karena sinar mentari itu juga, Riveria jadi teringat kembali dengan kejadian kemarin malam. Semua kenangan-kenangan yang diterimanya dari orang-orang yang telah pergi, sekarang telah lenyap dari kepalanya. Ia sudah tak merasa pusing lagi. Tapi, bukan berarti ia bisa melupakan kengerian yang dirasakannya saat berdiri di danau itu."Aku lelah banget... Hoam ..." Mulut Riveria membuka lebar, ia menguap karena saking mengantuknya. Kemudian setelah melemaskan tubuhnya sedikit, Riveria pun mulai berbaring, dan dia pun terlelap begitu saja.Hanya di puncak bukit batu itu sajalah, Riveria bisa tertidur pulas untuk melepas penat setelah semalaman menunaikan kewajibannya. Meski tak ada bantal yang empuk, atau alas yang lembut, bagi Riveria, tumpukkan bebatuan yang menjulang tinggi ini, adalah tempat yang bisa disebutnya sebagai rumah.Jika memang Engkau sudah meninggalkan kami... akan lebih baik jika kami juga Kau musnahkan sekalian, agar kami tidak perlu lagi merasakan semua rasa sakit ini...

Sahabat Sang Merapi
Folklore
03 Dec 2025

Sahabat Sang Merapi

Satriya terbangun saat mencium bau hangus tajam yang menusuk hidungnya. Seluruh hutan terbakar habis, dan entah kenapa Satriya sendiri tidak sadar sudah tertidur berapa lama. Hanya pohon beringin tempatnya bernaung saja yang masih kokoh, hijau dan rimbun.Satriya lalu memutuskan untuk memanjat pohon itu sampai di puncak rantingnya.Dari kejauhan, Satriya bisa melihat asap yang membumbung tinggi dari Gunung Merapi, serta lelehan lahar berwarna merah pijar yang masih mengalir di ceruk lekukan gunung."Apa... yang sebenarnya terjadi?" Tanya anak berkulit kecoklatan itu bertanya pada dirinya sendiri. Rambut gondrongnya yang hitam legam ditiup oleh angin yang terasa panas.Satriya berusaha mengumpulkan kepingan memori, juga alasan kenapa dia bisa terbangun di tempat ini.Namun, tiba-tiba Dada Satriya mulai terasa sesak, abu yang berterbangan dari tanah masuk ke paru-parunya. Satriya menutup hidung dengan baju. Tanpa alas kaki, dia berniat menapak tumpukan abu yang masih panas mengepul.Di pikirannya hanya ada satu yang terpikirkan: keluar dari sini untuk mencari pertolongan.Akan tetapi, saat kakinya menapak, ternyata ada angin yang menahannya, dedaunan dari pohon beringin itu rontok dan berterbangan membentuk suatu wujud. Wanita dari dedaunan."Satriya, apa kamu baik baik saja?""Eh... siapa kamu? Apa yang sebenarnya terjadi?""Hah... Mau bagaimana lagi... " Sosok itu mengambil nafas dalam. Entah dia punya hidung atau tidak. "Aku Centini. Aku ini adalah orang tua spiritual yang sudah merawatmu dari bayi. Sayangnya aku tidak bisa menjelaskan semua yang terjadi, kamu sudah lihat sendiri bencana alam ini, ini semua memang proses untuk membersihkan apa yang jahat dan menggantikannya dengan hal baru.""Orang tua spiritual?" Satriya termangut-mangut, "berarti kamu ini ibuku, dong?""Ya, aku memang ibumu." Satriya seakan bisa melihat senyuman yang terbentuk di wajah sosok itu."Tapi, dimana orang tuaku yang asli? Dan kenapa aku bisa disini? Dan... kepalaku terasa sakit banget.""Kurang asem... " Bisik Centini yang terdengar agak jengkel. "Mantra itu benar-benar sirna di saat yang tidak tepat, dan malah membuat ingatanmu jadi berantakan.""Mantra? apa maksud Ibu?" Tanya Satriya keheranan."Sudah terlambat untuk menjelaskan semuanya sekarang. Yang penting saat ini kamu harus pergi dari sini secepat mungkin.""Hah? Tapi bagaimana caranya? Aku saja nggak tahu lagi berada di mana."Centini bersiul dengan keras, memanggil seekor naga putih yang muncul dari entah mana. Naga itu melesat ke angkasa, membumbung di atas awan. Naga yang sisiknya terdapat bulu-bulu lembut itu lantas melingkari badan Satriya dan membuatnya merasa nyaman."Nagapathi, bisakah kamu membawa Satriya ke tempat yang aman?" pinta Centini.Naga itu mematuhi perintah Centini, dan dibawanya Satriya langsung ke tengkuk lehernya dengan kibasan ekornya."Terima kasih, dan sampai jumpa lagi... ibu." Satriya melambaikan tangan."Ya, sampai jumpa... putraku."Centini tersenyum, lalu dirinya berubah menjadi sekumpulan daun yang hangus terbakar. Pohon beringin yang tadi kokoh berubah menjadi abu.Nagapathi membawa Satriya ke atas langit, menembus awan kelabu. Satriya bisa merasakan angin yang berhembus kencang. Dia berpegangan pada bulu di leher Nagapathi agar tidak tertiup. Awan di bawah mulai jarang terlihat, ada beberapa pemukiman warga yang hancur, ada juga yang terkubur abu."Merapi sepertinya murka pada manusia, ya. Sebenarnya apa salah mereka sampai hal ini terjadi?" Satriya bergumam.Lalu setelah pemukiman warga, terlihat juga beberapa tenda yang jaraknya tidak terlalu jauh. Rupanya disana berkumpul orang-orang yang masih berusaha untuk mengambil harta benda yang tersisa. Entah bagaimana bisa, mata Satriya bisa melihat mereka semua dengan sangat jelas.Satriya menarik bulu Nagapathi.Ingin sekali Satriya membantu manusia-manusia itu, karena mungkin saja mereka bisa memberitahu Satriya tentang mencari jati dirinya. Namun Nagapathi nampaknya menolak, dia hanya terbang lurus entah kemana.Lalu, cukup jauh di sana, ada juga pepohonan yang masih berdiri kokoh, meskipun daunnya kering. Lalu ada sekawanan orang yang mengendarai sepeda motor dan mobil. Mereka tampak terburu-buru, takut gunung itu akan meletus lagi. Satriya teringat kalau lahar masih saja meleleh dari kawahnya.Nagapathi mulai terbang rendah, dia mencari sebuah tempat untuk mendarat. Dia memilih sebuah rumah kosong di pinggir hutan bambu. Dengan lihai dia mengalihkan perhatian menggunakan hembusan awan dari hidungnya, lalu menyelimuti seluruh badannya.Satriya turun di rumah itu, lalu Nagapathi menghilang begitu saja tanpa jejak."Lho... aku, kan, belum mengucapkan terima kasih... " Kata Satriya kecewa sambil berusaha mencari keberadaan Nagapathi di sekitarnya. Tapi, anehnya naga itu sama sekali tidak terlihat dimanapun.Satriya melangkah menuju ke rumah itu, lalu membuka pintunya yang sudah lapuk, atap rumah itu sudah ambles sebagian, bahkan ada yang jebol. Daun-daun berserakan dalam rumah. Ada dua ruang tidur serta satu tempat tidur bambu yang masih utuh, juga dapur yang dipenuhi kendhil berserakan, serta kamar mandi yang masih menggunakan air dari sumur.Entah kenapa, kepingan memori Satriya terbuka disini. Satriya mengambil salah satu kendhil dan mengamati isinya yang ternyata adalah makanan.Tiba-tiba, Satriya teringat dengan sosok seorang gadis kecil yang dulu pernah menjadi teman mainnya. Tapi dia tidak bisa mengingat namanya. Hanya wajahnya yang cantik serta rambutnya yang kuning panjang saja yang masih terbayang jelas dalam benaknya."Sebenarnya siapa aku ini sebelumnya?"Satriya duduk di kasur bambu, berharap ada sekelebat memori yang terbuka lagi. Namun, setelah beberapa saat, tidak ada yang terjadi, hingga akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari rumah itu.Melihat arah matahari yang agak condong ke barat, Satriya menyadari kalau dia harus mencari tempat perlindungan yang lebih layak. Dia berusaha mengingat-ingat ke arah mana kerumunan orang tadi.Menyusuri hutan bambu, mencari jalan setapak, melewati sungai kecil, dan ia akhirnya berhasil keluar dari hutan dan tengah menuju ke suatu daerah pemukiman. Disana ada beberapa tenda yang berdiri di lapangan desa. Beberapa perawat memasang posko darurat, lantas dia mendatangi mereka.Mereka tertegun melihat keadaan Satriya. Dia langsung dirawat oleh mereka, diberi obat-obatan, luka-lukanya juga dibersihkan dan dibalut dengan perban. Dia lalu digiring ke salah satu tenda yang penuh dengan orang-orang yang tengah tertidur dan beristirahat.Akan tetapi, orang-orang di sana menatap Satriya dengan tatapan aneh. Mereka melihat Satriya seolah-olah dia itu bukan manusia. Namun, Satriya menghiraukan mereka dan memilih untuk tidur di tempat yang tidak terlalu sesak, yang hanya beralaskan tikar.Satriya bertanya-tanya dalam hati, apakah dia bisa bertemu lagi dengan Centini dan Nagapathi suatu saat nanti? Rasanya terlalu menyakitkan jika Satriya harus berpisah dengan orang yang merawatnya selama ini tanpa membawa kenangan apa-apa. Rasanya sangat hambar dan kosong.Sekitar pukul sembilan malam, Satriya dibangunkan oleh seorang anak kecil yang terus menusuk-nusuk pipi Satriya dengan jemarinya."Hey, dia sudah bangun!" Anak lelaki itu memberitahu seseorang begitu Satriya membuka matanya lebar-lebar. Satriya memandang berkeliling kala itu, dan mendapati tenda yang sudah hampir kosong melompong dan hanya diterangi oleh lampu yang juga tidak terlalu terang.Setelah teman perempuannya datang, anak yang membangunkan Satriya langsung melontarkan pertanyaan yang terdengar sedikit menyebalkan, sampai membuat wajah Satriya berubah masam."Nama Kakak siapa? Dan kenapa mata Kakak berwarna kuning? Kakak dari mana? Kayaknya Kakak nggak berasal dari sini, deh.""Eh... Aku Satriya... " Satriya menjawab, tapi entah kenapa rasanya hanya itu saja yang mampu dia katakan."Oh, Kak Satriya, ya." Tanggap anak lelaki itu seraya menarik tangan Satriya dan mengajaknya keluar dari tenda. "Ayo, Kak, mereka sedang membagikan makanan sekarang. Kalau nggak cepat-cepat, nanti makanannya bisa habis!"Anak itu berjalan dengan cepat di atas kaki mungilnya, sementara si anak perempuan itu mengikuti mereka berdua dari belakang. Jika dilihat dari tinggi badan mereka, kedua anak ini mungkin masih berusia enam atau tujuh tahun.Kegelapan malam, juga suara teriakkan yang lantang dan gagah, serta suara-suara dari mesin yang entah apa langsung menyambut mereka saat tiba di luar, dan tampak pula orang-orang yang sedang mengantri di depan sebuah mobil truk yang membagikan bungkusan berisi makanan.Jujur, Satriyas sebenarnya sangat senang karena bisa berada ditengah-tengah keramaian seperti ini. Meski ingatannya tentang hari-hari sebelumnya masih buram, Satriya yakin kalau hanya Centini dan Nagapathi saja yang menemaninya sejak dia lahir. Hanya mereka berdua yang tahu tentang keberadaan Satriya.Akan tetapi, Satriya merasa seakan tidak mampu memasang senyuman di bibirnya setelah dia melihat wajah orang-orang yang ada di sana. Nestapa, rasa takut, kekecewaan, dan keputusasaan menghiasi wajah seluruh warga pengungsi.Malam sudah semakin larut ketika Satriya dan kedua anak itu berhasil mendapatkan makanan. Satriya membuka bungkusan itu dan memandang nasi dan juga sayur tumis serta tempe tahu goreng yang ada di dalamnya."Ngomong-ngomong siapa nama kalian?" Tanya Satriya yang masih menatap makanannya dengan tatapan kosong."Ah, aku Jaka, Kak, dan ini Kiki." Jawab anak lelaki yang bernama Jaka itu. "Kami kembar lho.""Yah, terlihat jelas, kok." Jawab Satriya sambil tersenyum masam, sementara matanya tengah mengamati luka-luka yang ada di sekujur tubuh kedua anak itu.Kedua anak itu makan dengan lahap. Dan yang paling mengejutkan lagi, mereka berdua tetap tidak berhenti tersenyum sejak tadi. Setelah mengantri cukup lama, Satriya memang menyadari bahwa hampir semua anak-anak yang ada di sini masih tidak kehilangan senyum mereka.Saat Satriya mengarahkan pandangannya ke arah Kiki, mata Satriya tanpa sengaja menangkap pemandangan lain yang berada tak jauh di belakang gadis kecil itu; yaitu setangkai bunga dengan kelopak berwarna putih yang tumbuh subur sendirian di antara rerumputan, di tengah-tengah lautan manusia."Oh iya, kalau dipikir-pikir, kok, kalian nggak makan bersama dengan ayah dan ibu kalian?" Tanya Satriya yang juga mulai melahap makanannya.Setelah mendengar pertanyaan itu, senyum Jaka dan Kiki seketika raib begitu saja dan mereka lalu diam bagaikan patung. Namun, tak sampai hitungan detik, tiba-tiba senyum mereka kembali terbentuk di bibir, dan malahan sekarang senyum mereka lebih lebar dibanding sebelumnya."Ibu kami meninggal waktu kami masih kecil, Kak. Dan ayah jatuh ke dalam tanah saat Merapi meletus tadi pagi." Jelas Jaka."Jatuh ke dalam tanah?""Iya, Kak! Waktu itu, tanah di bawah kami tiba-tiba terbelah dan terbuka seperti mulut yang mau makan, Kak!" Ujar Kiki heboh."Dan kami bertiga hampir jatuh tadi, tapi untungnya ayah mendorong kami dan dia juga sempat berteriak menyuruh kami pergi jauh-jauh dari sana." Jaka mengakhiri ceritanya dan kembali makan."Saat kami sampai di sini dan menceritakannya pada polisi-polisi itu, mereka malahan menyuruh kami masuk ke tenda dan beristirahat." Tambah Kiki. "Oh! Tadi Kakak ingat, kan? Dengan polisi perempuan yang memeluk kita waktu kita mau masuk ke tenda?""Ah, aku ingat, kok." Kata Jaka. "Mbak polisi itu tadi menangis, nggak tau kenapa."Polwan yang mereka bahas pasti menangis karena mendengar cerita Jaka dan Kiki, pikir Satriya. Sungguh kenyataan yang mengenaskan. Mata Satriya sampai terbelalak lebar karena saking terkejutnya. Tapi, fakta bahwa kedua anak ini masih bisa tertawa riang seakan tidak terjadi apa-apa, malah membuat Satriya jadi tambah bingung."Tolong... "Suatu suara tiba-tiba terdengar dalam benak Satriya. Gambaran anak gadis berambut pirang yang ada dalam ingatannya pun ikut muncul bersamaan dengan datangnya bisikan yang lembut itu. Suara lemah seorang gadis kecil yang menggema dalam diri Satriya."BERHENTI!" Teriak Satriya membahana hingga membuat dunia di sekitarnya menjadi hening seketika. Semua mata yang kebingungan kini tertuju padanya.Satriya bangkit berdiri dengan perlahan, lalu dia mulai melangkah melewati Kiki dan Jaka. Dia terus melangkah, di tengah-tengah kesunyian itu, sampai akhirnya dia berhenti di hadapan seorang tentara, yang sebelah kakinya masih dalam posisi terangkat."Kenapa Paman ingin menginjak bunga ini?" Tanya Satriya dengan nada mengancam.Pria berseragam loreng dan berwajah garang itu tentu saja terkejut dengan tindakkan Satriya. "Apa katamu—""Kutanya sekali lagi." Suara Satriya terdengar semakin tajam. "Kenapa Paman ingin menginjak bunga ini? Kupikir suaraku sangat jelas."Pria itu tampak sangat marah sekarang. Dia kemudian menurunkan kakinya ke tanah, tapi jarak sepatunya dan bunga itu sangat dekat."Apa kau tidak pernah diajari sopan santun, bocah tengik!" Pria itu langsung melayangkan tinjunya tepat ke arah wajah Satriya, namun, tiba-tiba saja daratan mulai berguncang hebat sebelum tangan pria itu menyentuh kulit wajah Satriya. Jeritan ketakutan seketika terdengar dari segala penjuru, dan semua orang langsung terjatuh di atas pantat mereka pada saat itu juga."Cih... gara-gara orang-orang seperti pamanlah, sang Gunung jadi murka!"Gempa itu bahkan berhenti sedetik kemudian. Dan satu-satunya manusia yang masih berdiri di sana hanyalah Satriya seorang. Dia masih berdiri kokoh dan menatap geram pada tentara itu."Ugh!" Satriya jatuh berlutut. Kepalanya tiba-tiba terasa sangat nyeri bukan kepalang. Rasanya seperti kepala Satriya baru saja dilempar batu berkali-kali. Dia mencengkram kepalanya dengan keras. "Sakit banget! Ada apa ini! Argh!""Kak Satriya! Kakak kenapa!?" Jaka dan Kiki langsung menghampiri Satriya yang masih meringkuk di tanah."Anak ini...! Gempa tadi terjadi gara-gara anak ini!" Teriak si tentara yang kini sudah kembali bangkit berdiri. Dia terlalu panik hingga membuat pikirannya menjadi tak jernih. "Semua pasukan! Tangkap anak ini!""Hah!? Itu nggak mungkin!" Jaka berusaha melindungi Satriya."Iya... mungkin saja itu benar... " Bisik seorang warga."Gempa yang tadi itu bukan gempa yang seperti biasanya... ""Anak itu pasti menggunakan ilmu hitam... "Semua warga pengungsi serta pasukan-pasukan keamanan yang ada di sana ternyata menelan bulat-bulat kebohongan pria itu. Mereka menaruh keyakinan pada hal yang jelas-jelas tidak masuk akal dan terlalu jauh dari nalar manusia.Para polisi dan tentara langsung mengambil langkah seribu untuk mengepung Satriya, Jaka dan Kiki. Mereka mengarahkan senjata mereka ke arah ketiga anak itu tanpa ragu."Hey! Kalian nggak boleh melukai Kak Satriya!" Teriak Kiki ketakutan. Air matanya mengalir deras di pipinya."Menyingkir dari situ! Atau kalian juga akan kami tembak!" Raung seorang polisi."Cepat laporkan semuanya pada Komandan!""Aku sudah menduganya! sejak awal aku memang sudah curiga pada anak itu! Dia bahkan memiliki mata kuning yang kelihatan bersinar!""Yang benar!?""Segera laporkan!"Rasa nyeri yang dirasakan Satriya tiba-tiba lenyap begitu saja. Matanya yang kuning kini berpendar dan terpaku pada bunga putih yang berada tepat di bawahnya. Tapi, di saat itu pula, ada satu kepingan ingatan yang muncul dalam pandangan Satriya.Di dalam kenangan itu, Satriya melihat sosok Centini yang tengah melangkah ke arahnya bersama dengan seorang gadis kecil berambut pirang, panjang dan amat lebat, sampai-sampai Satriya bisa merasakan kelembutannya hanya dengan melihatnya."Satriya, kemarilah. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu, nih." Panggil Centini. "Satriya, perkenalkan, anak ini adalah Merapi. Dia adalah jiwa dari gunung ini.""Hay, Satriya! Salam kenal, ya! Seperti kata Mbak Centini, namaku Merapi. Tapi kamu boleh memanggilku Mera, kok." Ujar anak yang periang itu. "Oh iya! Kamu mau nggak jadi temanku?" Gadis itu tersenyum lebar sambil mengulurkan tangannya ke arah Satriya."Ya, tentu saja." Tangan Satriya perlahan menyambut uluran tangan gadis itu.Saat jemari Satriya bertaut dengan jari Mera, sesuatu yang aneh tiba-tiba terjadi, dan bayang-bayang masa lalu itu pun akhirnya pudar. Satriya ditarik kembali ke kenyataan masa kini. Namun, anehnya Satriya bisa mendengar satu suara yang berasal dari bunga mungil itu."Panggil namaku jika kamu membutuhkanku, Satriya... "Suara itu, perkataan itu, seketika melenyapkan semua perasaan benci yang ada di dalam diri Satriya. Kebenciannya pada manusia telah hilang begitu saja. Satriya tidak tahu apakah perasaan bencinya terhadap manusia hanya hilang untuk sementara atau selamanya, tapi yang pasti, tubuh, pikiran, dan hatinya saat ini sudah terasa lebih baik dari sebelumnya.Satria membulatkan tekadnya, kemudian dia berbisik pelan. "Baiklah... Jawablah panggilanku, Merapi.""TEMBAK!""TIDAK!"Sekonyong-konyong, timbul hembusan, atau mungkin ledakan angin yang amat kencang, sampai menghempaskan banyak orang ke belakang, termasuk para pasukan itu. Angin kencang itu berasal dari arah Satriya, seakan-akan dialah yang membuat hal itu terjadi.Satriya bangkit berdiri.Tanah di bawah Satriya tiba-tiba berguncang, dan tak lama kemudian tanah itu mulai terangkat ke atas membawa serta merta Satriya, Jaka, dan Kiki di atasnya. Tanah itu terus naik sangat tinggi ke langit, hingga terlihat seperti sebuah pilar atau batang pohon yang teramat sangat panjang.Orang-orang yang ada di sana terperangah melihat pemandangan itu. Kejadian yang terlalu mustahil untuk terjadi dan tak dapat dicerna oleh akal orang biasa. Dari pada disebut malapetaka, pemandangan itu malah lebih terlihat seperti suatu keajaiban.Setelah beberapa saat, pilar tanah itu akhirnya berhenti naik. Mungkin tingginya kira-kira dua ratus meter di atas permukaan tanah."A-apa yang terjadi, Kak!?" Jerit Jaka yang tampak sangat panik, sementara wajah Kiki dibanjiri oleh air mata. Kedua anak itu memeluk erat pinggang Satriya, karena tanah tempat mereka berpijak tidak bisa dibilang lebar."Kak! A-aku takut!" Cicit Kiki."Kalian tenang saja, aku akan melindungi kalian, kok." Kata Satriya."Halo, Satriya."Seorang gadis berambut pirang keemasan tiba-tiba muncul di depan Satriya. Dia melayang di udara. Senyuman terbentuk di bibir menghiasi wajahnya yang cantik jelita.Satriya melirik ke arah Jaka dan Kiki. Mata mereka tertutup rapat karena saking takutnya, sampai-sampai mereka tidak menyadari kedatangan gadis itu."Mera... " Wajah Satriya menjadi tenang. Dia benar-benar merasa sangat bahagia karena bisa bertemu dengan sahabatnya lagi setelah sekian lama. Dan, Satriya juga baru sadar kalau ingatannya ternyata telah kembali seperti semula. "Bagaimana kabarmu, Mera—"Padahal Satriya berniat berbincang-bincang sebentar dengan Mera, tapi gadis itu langsung memotong perkataan Satriya."Aku senang karena kamu membutuhkanku, Satriya. Dan aku juga senang karena kamu telah memanggilku. Sudah lama banget, yah? Tapi... untuk saat ini, akan lebih baik kalau kita menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu, oke?""Ya... Aku paham..." Wajah Satriya berubah murung. "Aku juga baru kehilangan ingatanku tadi pagi, cuma sekarang ingatanku sudah kembali lagi. Tapi... rasanya... sangat lama... seolah-olah ingatanku memang sudah hilang selama bertahun-tahun... dan—""Setelah ini selesai, aku janji, aku tidak akan meninggalkanmu lagi seperti dulu." Kata Mera penuh tekad. "Hidupmu baru dimulai hari ini, Satriya. Kau masih ingat, kan? janji yang kita buat hari itu?"Satriya menganggukan kepala pada pertanyaan Mera. "Kita akan mencari tempat baru untuk hidup bersama-sama seperti orang biasa. Aku, kamu, Centini, dan Nagapathi. Kita berempat... dan juga mereka yang membutuhkan kehidupan.""Nah, karena waktumu sudah diulang kembali hari ini, jadi, ayo kita laksanakan rencana itu sesegera mungkin!"Satriya tersenyum lega. "Baiklah kalau begitu. Ayo kita selesaikan dengan cepat."Mera turun dari udara dan berpijak di tanah tempat Satriya berada.Satriya menghentakan kakinya dengan pelan, dan pada saat itu pula pilar tanah itu langsung bergerak turun mengantarkan mereka kembali ke tempat semula. Orang-orang semakin terkejut karena mereka mendapati keberadaan Mera yang berdiri di samping Satriya."TEMBAK! TEMBAK! TEMBAK!" Teriakan barbar itu terdengar lagi, dan rentetan hujan peluru dalam sekejap menyerbu dari segala arah.Namun, Mera mengangkat tangannya ke depan, dan tanah di sekitar mereka terangkat ke atas dan menangkis peluru-peluru itu."Sungguh manusia yang tak tahu diuntung." Mera mengibaskan tangannya, dan bersamaan dengan itu, dari dalam tanah muncul tanaman-tanaman sulur yang terlihat hidup. Sulur-sulur itu menyerang para tentara dan polisi yang menembak tadi. Satu per satu mereka dihempaskan dengan sekali pukulan, hingga pingsan."Sudah lebih ratusan tahun aku terus bertahan menghadapi siksaan kalian para manusia. Kalian membakarku, menebangku, dan menghancurkanku. Ya, aku memang hanya sebuah gunung. Tapi, kalian kadang terlalu bodoh untuk menyadari bahwa orang paling sabar sekalipun memiliki amarah dalam diri mereka. Dan seperti kata pepatah, malapetaka adalah nama lain dari murka orang yang sabar. Oh, maaf, maksudku gunung yang sabar." Mera tersenyum kecil.Orang-orang di sekitar mereka diam bagai patung setelah melihat apa yang bisa dilakukan oleh gadis yang berdiri di samping Satriya. Mata mereka semakin terbuka lebar, dan beberapa bahkan jatuh berlutut.Untuk sesaat suasana menjadi senyap setelahnya, namun keheningan dengan cepat dipecah oleh suara yang berasal dari angkasa. Jauh di langit, terlihat ada banyak helikopter yang sedang menuju ke tempat mereka."Hmm... sepertinya kau agak keterlaluan, Mera." Kata Satriya yang tersenyum pahit."Yah aku juga terpaksa." Jawab Mera seraya berbalik menatap para warga di sekitar. "Tapi sepertinya berita tentang hal-hal aneh yang terjadi di sini sudah sampai di telinga Pak Presiden, jadi situasinya mungkin bakal agak lebih panas sekarang.""Hmm... Yah baiklah." Satriya masih mengamati keberadaan helikopter yang semakin dekat. "Tapi, tolong jangan bunuh mereka, Mera.""Kamu tenang saja. Sudah terlalu banyak nyawa manusia yang melayang hari ini, dan semua itu karena ulahku. Lagi pula, aku juga nggak mau berurusan dengan Dewan." Jelas Mera. "Setelah tertidur selama sepuluh abad, aku akhirnya terbangun karena merasakan kedatanganmu. Namun, setelah kita bertemu, aku malah tertidur lagi karena ikatan itu. Benar-benar membosankan."Satriya bertanya dalam benaknya, bagaimana rasanya tidur selama itu?Mera menarik nafas dalam-dalam lalu dia pun menjelaskan banyak hal pada orang-orang. Mulai dari penjelasan mengenai dirinya sendiri yang merupakan jiwa dari Gunung Merapi, dan juga tentang bencana hari ini yang terjadi karena murkanya pada manusia.Banyak yang memasang wajah bingung saat mendengar penjelasan Mera, tapi tampaknya mereka berusaha untuk menerima kenyataan itu setelah semua yang terjadi di beberapa menit terakhir. Kekuatan-kekuatan aneh yang ditunjukkan Satriya dan Mera rupanya sudah lebih dari cukup untuk dijadikan sebagai bukti.Kemudian, Mera memerintahkan pada semua orang untuk pergi sejauh mungkin dari daerah Gunung Merapi. Dia bahkan terang-terangan menyatakan kepada mereka kalau sebentar lagi akan terjadi perang di sini.Namun, tanpa keraguan sedikitpun, orang-orang langsung segera bersiap-siap untuk meninggalkan gunung ini. Para polisi dan tentara yang cukup waras juga membantu melancarkan proses evakuasi itu dan memastikan tak ada satupun orang yang tertinggal, termasuk orang-orang yang dibuat pingsan oleh Mera."Untuk saat ini, lebih baik jika kalian mengikuti mereka." Pinta Satriya pada Jaka dan Kiki."Tapi, Kak, kami sudah tidak punya siapa-siapa lagi... " Bisik Jaka sedih."Kami nggak punya keluarga di kota." Tambah Kiki.Satriya bersyukur bisa bertemu dengan kedua anak ini. Meski baru beberapa jam saja, tapi Satriya merasa bahwa dia bisa menganggap kedua anak ini lebih dari hanya sekedar kenalan."Dengarkan aku kalian berdua." Satriya berusaha meyakinkan mereka. "Besok pagi aku berencana pergi bersama Ibuku dan juga Mera untuk memulai kehidupan yang baru, dan aku juga berniat untuk mengajak kalian berdua bersamaku."Mata Jaka dan Kiki terbuka lebar mendengarnya."Jadi? Nanti kalian mau ikut denganku, kan?"Jaka dan Kiki bertukar pandang, lalu berkata dengan mantap, "Kami mau, Kak!"Mobil-mobil truk itu perlahan melaju pergi meninggalkan Satriya dan Mera sendirian di tengah lapangan. Namun, Satriya masih bisa melihat dengan jelas sosok Jaka dan Kiki yang berdiri sambil melambaikan tangan."Jadi, kau berniat menjalin ikatan dengan kedua anak itu?" Tanya Mera yang tersenyum simpul."Yah... besok mereka berdua resmi menjadi keluargaku," Satriya menoleh menatap Mera. "Dan juga keluargamu tentu saja.""Baguslah kalau begitu. Lebih banyak orang artinya lebih seru, bukan? Jadi petualangan kita juga nggak akan membosankan." Mera dan Satriya bersama-sama mengalihkan pandangan ke arah kumpulan helikopter yang kini telah berada di atas mereka. "Petualangan untuk menemukan kehidupan yang lebih baik.""Yah, kehidupan yang lebih baik." Bisik Satriya. Mata kuningnya menyala terang."Baiklah. Aku menjawab panggilanmu, Satriya." Tiba-tiba saja, seluruh tubuh Mera memancarkan cahaya yang amat terang benderang hingga berhasil mengusir kegelapan malam.Sosok itu memiliki tubuh yang sangat besar hingga menjulang tinggi ke angkasa. Sosok raksasa yang bangkit dan lahir dari tanah itu bahkan menyerang kendaraan-kendaraan yang melayang di udara dengan membabi buta. Yah, pada dasarnya, raksasa itu baru mulai mengamuk setelah dihujani bom oleh helikopter-helikopter milik pasukan militer itu.Semua penumpang di truk tak mampu berkata-kata saat melihat pemandangan yang ajaib sekaligus amat mengerikan itu. Mata semua orang terbuka lebar. Namun, untung saja mereka sekarang sudah berada cukup dari daerah Gunung Merapi, jadi seharusnya tak ada apapun yang perlu dikhawatirkan lagi untuk saat ini.Tapi anehnya, di antara semua penumpang itu, hanya Jaka dan Kiki saja yang tidak terlihat risau atau tegang. Mereka berdua tersenyum, dan tampak cahaya harapan dalam pandangan mata mereka.Ingatan tentang saat-saat dimana Satriya mengajak mereka untuk hidup bersama masih berputar dalam benak mereka berdua. Setelah sekian lama, mimpi mereka untuk bebas akhirnya terwujud.Kenyataannya, Jaka dan Kiki benar-benar sangat membenci ayahnya, karena setelah ibu mereka meninggal, ayah mereka menjadi agak sinting dan selalu menyiksa mereka serta menyalahkan mereka berdua atas tragedi yang menimpa ibu mereka."Tapi, Kak, kok rasanya aku kayak sudah nggak membenci Ayah lagi, ya?" Kiki tiba-tiba angkat bicara.Perkataan sang Adik malah membuat Jaka teringat kembali dengan saat-saat dimana Ayahnya mendorong mereka berdua waktu tanah terbuka dan hampir menelan mereka. Jaka ingat betul wajah marah ayahnya saat menyuruh mereka lari. Tapi, meski begitu, Jaka juga tidak bisa menyangkal, kalau bukan karena ayahnya mereka berdua pasti sudah tidak akan hidup lagi sampai detik ini."Yah, aku nggak terlalu mengerti, sih. Tapi... aku juga sudah nggak membenci Ayah lagi, kok." Jaka tersenyum lebar. "Entah kenapa aku merasa sangat bahagia sekarang. Kita hidup..."

Naga Erau dan Putri Karang Melenu
Folklore Wattpad
02 Dec 2025

Naga Erau dan Putri Karang Melenu

Pada zaman dahulu kala di kampung Melanti, Hulu Dusun, berdiamlah sepasang suami istri yakni Petinggi Hulu Dusun dan istrinya yang bernama Babu Jaruma. Usia mereka sudah cukup lanjut dan mereka belum juga mendapatkan keturunan. Mereka selalu memohon kepada Dewata agar dikaruniai seorang anak sebagai penerus keturunannya.Suatu hari, keadaan alam menjadi sangat buruk. Hujan turun dengan sangat lebat selama tujuh hari tujuh malam. Petir menyambar silih berganti diiringi gemuruh guntur dan tiupan angin yang cukup kencang. Tak seorang pun penduduk Hulu Dusun yang berani keluar rumah, termasuk Petinggi Hulu Dusun dan istrinya.Pada hari yang ketujuh, persediaan kayu bakar untuk keperluan memasak keluarga ini sudah habis. Untuk keluar rumah mereka tak berani karena cuaca yang sangat buruk. Akhirnya Petinggi memutuskan untuk mengambil salah satu kasau atap rumahnya untuk dijadikan kayu bakar.Ketika Petinggi Hulu Dusun membelah kayu kasau, alangkah terkejutnya ia ketika melihat seekor ulat kecil sedang melingkar dan memandang kearahnya dengan matanya yang halus, seakan-akan minta dikasihani dan dipelihara. Pada saat ulat itu diambil Petinggi, keajaiban alam pun terjadi. Hujan yang tadinya lebat disertai guntur dan petir selama tujuh hari tujuh malam, seketika itu juga menjadi reda. Hari kembali cerah seperti sedia kala, dan sang surya pun telah menampakkan dirinya dibalik iringan awan putih. Seluruh penduduk Hulu Dusun bersyukur dan gembira atas perubahan cuaca ini.Ulat kecil tadi dipelihara dengan baik oleh keluarga Petinggi Hulu Dusun. Babu Jaruma sangat rajin merawat dan memberikan makanan berupa daun-daun segar kepada ulat itu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, ulat itu membesar dengan cepat dan ternyata ia adalah seekor naga.Suatu malam, Petinggi Hulu Dusun bermimpi bertemu seorang putri yang cantik jelita yang merupakan penjelmaan dari naga tersebut. “Ayah dan bunda tak usah takut dengan ananda.” kata sang putri, “Meskipun ananda sudah besar dan menakutkan orang di desa ini, izinkanlah ananda untuk pergi. Dan buatkanlah sebuah tangga agar dapat meluncur ke bawah.”Pagi harinya, Petinggi Hulu Dusun menceritakan mimpinya kepada sang istri. Mereka berdua lalu membuatkan sebuah tangga yang terbuat dari bambu. Ketika naga itu bergerak hendak turun, ia berkata dan suaranya persis seperti suara putri yang didengar dalam mimpi Petinggi semalam.“Bilamana ananda telah turun ke tanah, maka hendaknya ayah dan bunda mengikuti kemana saja ananda merayap. Disamping itu ananda minta agar ayahanda membakar wijen hitam serta taburi tubuh ananda dengan beras kuning. Jika ananda merayap sampai ke sungai dan telah masuk kedalam air, maka iringilah buih yang muncul di permukaan sungai.”Sang naga pun merayap menuruni tangga itu sampai ke tanah dan selanjutnya menuju ke sungai dengan diiringi oleh Petinggi dan isterinya. Setelah sampai di sungai, berenanglah sang naga berturut-turut 7 kali ke hulu dan 7 kali ke hilir dan kemudian berenang ke Tepian Batu. Di Tepian Batu, sang naga berenang ke kiri 3 kali dan ke kanan 3 kali dan akhirnya ia menyelam.Di saat sang naga menyelam, timbullah angin topan yang dahsyat, air bergelombang, hujan, guntur dan petir bersahut-sahutan. Perahu yang ditumpangi petinggi pun didayung ke tepian. Kemudian seketika keadaan menjadi tenang kembali, matahari muncul kembali dengan disertai hujan rintik-rintik. Petinggi dan isterinya menjadi heran. Mereka mengamati permukaan sungai Mahakam, mencari-cari dimana sang naga berada.Tiba-tiba mereka melihat permukaan sungai Mahakam dipenuhi dengan buih. Pelangi menumpukkan warna-warninya ke tempat buih yang meninggi di permukaan air tersebut. Babu Jaruma melihat seperti ada kumala yang bercahaya berkilau-kilauan. Mereka pun mendekati gelembung buih yang bercahaya tadi, dan alangkah terkejutnya mereka ketika melihat di gelembung buih itu terdapat seorang bayi perempuan sedang terbaring didalam sebuah gong. Gong itu kemudian meninggi dan tampaklah naga yang menghilang tadi sedang menjunjung gong tersebut. Semakin gong dan naga tadi meninggi naik ke atas permukaan air, nampaklah oleh mereka binatang aneh sedang menjunjung sang naga dan gong tersebut. Petinggi dan istrinya ketakutan melihat kemunculan binatang aneh yang tak lain adalah Lembu Swana, dengan segera petinggi mendayung perahunya ke tepian batu.Tak lama kemudian, perlahan-lahan Lembu Swana dan sang naga tenggelam ke dalam sungai, hingga akhirnya yang tertinggal hanyalah gong yang berisi bayi dari khayangan itu. Gong dan bayi itu segera diambil oleh Babu Jaruma dan dibawanya pulang. Petinggi dan istrinya sangat bahagia mendapat karunia berupa seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Bayi itu lalu dipelihara mereka, dan sesuai dengan mimpi yang ditujukan kepada mereka maka bayi itu diberi nama Puteri Karang Melenu. Bayi perempuan inilah kelak akan menjadi istri raja Kutai Kartanegara yang pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti.Demikianlah mitologi Kutai mengenai asal mula Naga Erau yang menghantarkan Putri Junjung Buih atau Putri Karang Melenu, ibu suri dari raja-raja Kutai Kartanegara.

Kisah Putri Mawar Dan Burung Emas
Folklore Wattpad
02 Dec 2025

Kisah Putri Mawar Dan Burung Emas

Zaman dahulu kala, di negeri yang amat jauh hiduplah seorang putri cantik yang bernama Putri Mawar. Ia dipanggil begitu karena memiliki rambut panjang berwarna merah yang menyerupai bunga mawar.Setiap malam, ia selalu berdiri di depan balkon istana dan menepuk tangannya. Kemudian, datanglah burung kecil berwarna emas dan hinggap di bahunya. Setiap si burung datang, secara ajaib rambut Putri Mawar mengeluarkan cahaya kemerahan yang amat indah.Burung emas lalu bersenandung nada-nada indah, Putri Mawar mengikutinya dan bernyanyi bersama. Nyanyian mereka, membuat satu kerjaan tidur lelap, nyenyak, dan bermimpi indah. Mereka lakukan hal itu setiap malam.Nyanyian sang putri yang memberi mimpi indah membuat penyihir jahat iri hati. Ia kemudian memberikan sang putri mantra kutukan, “Bim salabim abrakadabra…. hilanglah warna sang mawar!” mantra itu membuat rambut merah sang putri berubah menjadi hitam kelam.Saat malam berikutnya, putri dan burung emas kembali bernyanyi. Namun kali ini, satu kerajaan mengalami mimpi buruk yang amat seram. Sang putri amat bersedih, “Wahai burung emas, katakanlah, apa yang harus kulakukan agar rakyatku kembali bermimpi indah?” ujarnya.Burung emas menjawab, “Putri, rendam rambutmu dalam air mawar.”Putri Mawar menuruti perkataan burung emas. Ajaib, rambutnya kembali berubah menjadi warna merah! Rakyatpun bisa kembali bermimpi indah.Hal ini membuat penyihir semakin marah. Ia kembali memantrai sang putri namun kali ini, ia sekaligus melenyapkan seluruh kelopak mawar yang ada di penjuru negeri.Putri Mawar kembali kebingungan. Ia tidak bisa lagi berendam di air mawar seperti saran burung emas. Ia kemudian berjalan menuju balkon istana dan menangis.Tanpa ia duga, seorang pangeran tampan datang membawa kotak berisi rambut merah. Tanpa sengaja, kotak tersebut terkena tetesan air mata putri yang jatuh. Ajaibnya, air mata sang putri merubah isi kotak tersebut menjadi kelopak mawar yang amat indah.Putri Mawar segera merendam rambutnya dengan air mawar dan ia bisa kembali memberikan mimpi indah bagi seluruh kerjaan.Putri Mawar kemudian menikah dan hidup bahagia selama-lamanya dengan sang pangeran. Sementara si penyihir jahat, akibat tidak bisa menahan amarahnya, ia musnah dan hancur berkeping-keping.

Pohon Kecil Yang Kesepian
Folklore Wattpad
01 Dec 2025

Pohon Kecil Yang Kesepian

Seekor burung gereja menemukan pohon yang sarat dengan buah-buahan mungil berwarna merah hati. Beberapa buah yang matang jatuh dan pecah di bebatuan dekat akar pohon itu. Tampaklah daging buah yang berair dan berbau harum. Burung itu mematuk buah yang sudah ranum. Ia teringat telur-telurnya yang baru menetas tadi malam. Tentulah anak-anaknya sangat kelaparan. Burung itu membawa beberapa buah yang matang sebagai makan siang bagi anak-anaknya.Tidak mudah bagi seekor burung untuk terbang dan membawa buah-buahan di mulutnya. Maka jatuhlah sebutir buah dari mulutnya dan jatuh di permukaan tanah yang lembab di tepi jalan. Buah itu pecah dan bijji-bijinya yang berwarna kuning keemasan sehalus pasir berserakkan di atas tanah. Tanah hitam yang subur dengan senang hati menerima biji-biji itu. Biji-biji itu mendapatkan air dan makanan dari dalam tanah. Namun, hanya sebutir biji yang berhasil tumbuh menjadi tanaman kecil. Mula-mula ia tampak seperti tumbuhan liar yang lemah. Lama kelamaan ia tumbuh tegak, batangnya berkayu dan daun-daunnya yang kasar tumbuh satu per satu.Pohon kecil itu tak punya kawan. Siang dan malam, ia tumbuh sendirian. Ia hanya bisa melihat anak-anak bermain layang-layang di lapangan. Ia ingin punya teman seperti pepohonan lainnya. Dari jauh dilihatnya sekumpulan bamboo yang berkumpul, tumbuh bersama-sama, berbisik dan bercerita seiring angin yang berhembus. Kawanan pohon pisang dengan tunas-tunas kecilnya tampak gembira, bercanda tawa. Ia ingin seperti mereka.Siang itu seekor burung hinggap di batangnya yang rapuh. “Burung yang cantik, maukah kau menjadi kawanku? Kau bisa membuat sarangmu di dahanku sehingga kita dapat bercakap-cakap setiap hari?” sapanya lembut. “Tidak, dahanmu terlalu kecil dan rapuh. Kau tak akan kuat menopang sarangku,’ katanya sambil beranjak pergi. Pohon itu sedih sekali mendengarnya.Pada suatu malam yang dingin, ia melihat sebuah bayangan berkelebat di sekitar tubuhnya. Ia agak gemetar entah karena takut atau kedinginan. Ternyata bayangan itu adalah seekor kelelawar. Ia memberanikan diri menyapanya, “Tuan kelelawar yang baik, maukah kau menjadi temanku? Kau bisa tidur di dahanku di siang hari dan memakan daun-daunku di malam hari.” “Tidak,” jawab kelelawar. “Dedaunan bukanlah makananku. Aku makan buah-buahan yang manis dan berair,”katanya dengan tegas.Ketika embun sejuk mulai menguap terkena sinar matahari, seekor kucing mengeong lembut di dekat akar pohon kecil itu. Pohon kecil ingin sekali berteman dengan kucing berbulu halus itu. “Kucing kecil yang lucu, maukah kau berteman denganku? Kau bisa tidur di bawah naunganku waktu matahari tepat berada di atas kepalamu,” ajaknya.”Maaf, pohon kecil, daun-daunmu tidak akan mampu memberi keteduhan. Mereka tidak cukup rapat untuk memayungiku,” jawabnya dengan sopan. Pohon kecil itu tertunduk lesu.Pohon kecil itu tidak putus asa. Ia malah berusaha untuk tumbuh lebih kuat, besar dan berbuah banyak. Dihirupnya udara sebanyak-banyaknya, dihisapnya air dengan akar-akarnya dan dibiarkannya matahari menyinari dedaunanya. Akhirnya ia tumbuh besar dan tinggi. Di suatu pagi yang cerah muncullah bunga-bunga cantik berkelopak halus berwarna putih di sela-sela daun-daunnya. Pohon kecil girang bukan kepalang. Datanglah kumbang dan kupu-kupu menyapanya. Kaki-kaki kumbang dan kupu-kupu yang mungil membawa serbuk sari berwarna kekuningan ke kepala putik. Ketika angin bertiup kencang, serbuk sari melayang-layang di udara membawa bau harum mengundang makin banyak serangga datang.Serbuk sari membuahi kepala putik. Dalam beberapa hari, bunga-bunga putih berubah menjadi buah muda berwarna hijau. Semakin lama buah hijau membesar dan berubah warna dari hijau menjadi kekuningan, merah muda dan akhirnya menjadi merah hati. Pohon yang dulu kecil telah berubah menjadi besar dengan cabang-cabang yang kuat dan lebar. Daun-daunnya berjajar rapat, memberi keteduhan bagi siapa saja yang bernaung di bawahnya.Ketika ia sedang tertidur lelap, ia merasakan ada cakar-cakar kecil mencengkeram rantingnya . ternyata Tuan kelelawar sedang memakan buah-buah merah hatinya. “Ehm, selamat malam, Tuan Kelelawar,”katanya pelan-pelan. “Uh, oh, selamat malam, eh, nyam..nyamm!” jawab Tuan Kelelawar dengan mulut penuh. ”Bolehkah aku menumpang tidur di cabangmu malam ini? Buah-buahmu sangat lezat. Aku tidak bisa berhenti memakannya,” lanjutnya. “Oh, tentu saja Tuan Kelelawar. Aku bahkan berterimakasih kau mau menemaniku sepanjang malam.” Tuan Kelelawar terus mengunjunginya sepanjang tahun karena pohon itu tidak pernah berhenti berbuah.Burung-burung mulai datang membawa ranting-ranting, jerami kering dan membangun sarang yang nyaman di dahannya. Dahan pohon itu berkembang menjadi dahan yang kokoh untuk menopang sarang-sarang burung. “Pohon yang kuat, bolehkah aku membangun sarang di dahanmu? Sebentar lagi waktunya bertelur. Aku harus menyiapkan tempat yang hangat untuk telur-telurku,” kata seekor burung gereja . “Tentu, saja kau boleh tinggal di sini, bahkan kau pun boleh memakan buah-buahku kalau kau mau,” jawab pohon itu.Di siang hari yang terik, datanglah binatang-binatang lainnya. Seekor kucing, seekor kadal berekor panjang dan barisan semut-semut kecil berwarna hitam beristirahat di bawah keteduhan daun-daunnya yang rimbun. Bahkan anak-anak kecil yang sudah lelah bermain mulai berteduh dan berusaha meraih buah-buahnya yang manis menyegarkan. Tidak ada yang lebih membuat pohon itu bahagia selain mendapatkan banyak teman dan menolong mereka. Malam ini ia tidur dengan nyenyak dan bahagia.

Si Lancang
Folklore Wattpad
01 Dec 2025

Si Lancang

Konon, jauh sebelum waktu mengenal namamu, hiduplah seorang perempuan renta di sebuah gubuk yang hampir menyerah pada usianya. Ia hanya ditemani seorang anak laki-laki—satu-satunya cahaya yang pernah dimilikinya. Anak itu, Lancang, tumbuh dengan tangan yang tak pernah berhenti bekerja, namun hatinya selalu ingin terbang lebih jauh dari tanah kelahirannya.Pada suatu hari, keinginan itu pecah menjadi kata. Ia meminta izin untuk pergi, meninggalkan pelukan ibunya, mengejar dunia yang lebih luas. Sang ibu, meski hatinya remuk, hanya mampu melepas dengan doa—bahwa anaknya takkan melupakan akar yang membesarkannya.Lancang pun pergi. Hari berganti tahun, dan tahun berubah menjadi gemintang yang berulang. Di negeri jauh, ia menjadi orang besar—hartanya bertumpuk, kapalnya pulang-pergi membawa kekayaan, dan perempuan-perempuan cantik memanggilnya suami.Namun di kampungnya, sang ibu tetap hidup sederhana, menua dalam sepi, menggantungkan harapan pada kepulangan yang tak pernah pasti.Suatu ketika, kapal megah itu kembali. Orang-orang berkumpul, memandangi lengkung emas yang menghiasinya. Kabar itu sampai pada si ibu—bahwa anaknya telah pulang. Dengan tenaga yang tersisa, ia berjalan, langkahnya goyah tapi hatinya penuh rindu.Namun setibanya di pelabuhan, ia hanya disambut tatapan asing. Lancang berdiri di atas geladak, dikelilingi istri-istrinya, wajahnya dingin seperti tak pernah mengenal perempuan yang melahirkannya.“Dia bukan ibuku,” katanya. Dan seketika dunia sang ibu runtuh tanpa suara.Perempuan renta itu pulang dengan hati yang patah, hanya ditemani hujan yang seperti ikut bersedih. Di rumahnya, ia meraih lesung pusaka—benda tua yang hanya disentuh saat doa tak lagi mampu menahan luka. Dengan air mata yang tak bisa ia sembunyikan, ia memohon agar Tuhan menunjukkan kebenaran kepada anak yang ia besarkan dengan kasih paling dalam.Saat doa itu terucap, angin mendadak berubah arah. Badai lahir dari langit yang kelam, menyambar kapal megah itu. Suara petir menggulung namanya, dan kapal Lancang hancur diterjang gelombang Sungai Kampar. Jeritan penyesalan terdengar samar di antara debur air.Setelah badai reda, hanya sisa-sisa kapal yang terdampar di berbagai penjuru: kain sutra yang menjadi lipatan tanah, gong yang berubah menjadi batu legenda, dan danau yang menjadi penanda kisah itu.Sejak hari itu, orang-orang Kampar percaya bahwa luapan sungai bukan sekadar karena hujan, tetapi karena jejak kesedihan Lancang yang tak pernah tuntas—penyesalan seorang anak yang terlambat mengenali cintanya sendiri.

Menampilkan 24 dari 228 cerita Halaman 7 dari 10
Menampilkan 24 cerita