Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

1144

Genre Romance

230

Genre Folklore

228

Genre Horror

228

Genre Fantasy

230

Genre Teen

228

Reset
Sempurna
Romance
24 Nov 2025

Sempurna

Malam ini, angin terasa menusuk di permukaan kulit. Namun seorang gadis menggosok kedua telapak tangannya agar terasa hangat. Ternyata gadis itu dibantu oleh kekasihnya agar semakin merasa hangat.“Dingin banget ya?” ucap Ayden. “Bangett, tapi ada kamu, nggak jadi dingin,” Sahara terkekeh. “Peluk aja aku, biar kamu semakin merasa hangat,” dengan senang hati, Sahara memeluk kekasihnya dengan erat. “Walau tanpa kamu peluk, aku udah ngerasa hangat, dari hati menjalar ke seluruh tubuh,” sekali lagi, Sahara berucap.Begitu bersyukur Sahara mempunyai kekasih seperti Ayden. Hubungan mereka setenang air. Sesekali pernah memanas seperti api namun kembali lagi setenang air. Mengalahkan ego masing masing agar tidak menyakiti satu sama lain.“Aku bersyukur punya kamu, Sahara,” Ayden semakin mengeratkan pelukannya pada Sahara. “Aku juga, enggak pernah terpikir buat ninggalin kamu, Ayden,” Sahara memejamkan mata, menikmati pelukan Ayden yang semakin erat. “Aku bisa gila kalau kamu ninggalin aku, kamu adalah duniaku, bulanku, matahariku,” ucap Ayden begitu tulus.“Bisa kamu jelaskan, apa yang kamu ucapin?” ucap Sahara. “Kamu duniaku, seluruh hidupku aku serahin ke kamu, Sahara. Ketika duniaku merasa sedih, aku juga bakal merasa sedih dan ketika duniaku merasa senang, aku juga bakal ngerasa senang,” ucap Ayden. “Dan kamu adalah bulanku, yang menerangiku disetiap kegelapan yang mendatang. Ketika bayangan pun pergi meninggalkanku, kamu tetap ada disampingku memberi penerangan disetiap langkah”. “Dan kamu juga matahariku, yang selalu memberi kehangatan lembut disetiap pagi yang dingin. Ada yang bilang kehangatan matahari memancarkan kesetiaan, semua itu ada pada diri kamu, Sahara,”.“I love you in every universe, Sahara,” kata kata yang diucapkan Ayden selalu membuat Sahara terpukau.Rasa cintanya pada Ayden tidak pernah berkurang, selalu bertambah dan terus bertambah. Begitupun Ayden yang selalu mencintai Sahara sampai kapanpun. Kisah cinta yang begitu sempurna.Mereka menikmati segala suasana yang mereka rasakan. Melihat bulan yang menjadi tokoh utama di cerita langit yang gelap dan dibantu oleh miliaran bintang. Membuat langit menjadi indah untuk dipandang, sempurna.“Kamu tau, Ayden,” Sahara tiba tiba bertanya. “Apa?” jawab Ayden. “Ibaratnya aku ini Api dan kamu adalah Air,” Sahara menatap Ayden. “Api selalu takluk dengan Air,”. “Api selalu luluh dengan Air,”. “Dan Api selalu tenang ketika bersama dengan Air,”. “Hanya Air yang mampu membuat Api tenang dari segala emosi yang muncul, itulah sebabnya mengapa Air ditakdirkan untuk memadamkan Api,” ucap Sahara.“Aku semakin jatuh sama kamu, Sahara,” mata Ayden menjadi teduh. “Izinin aku untuk menjadi teman hidup kamu dan izinin aku untuk menjadi Air abadi untuk Api,” Ayden berkata dengan bersungguh sungguh.“So, will you be my wife?” Sahara terkejut, tidak menyangka jika Ayden akan melamarnya.“Aku…,” Sahara berkata dengan ragu. “Mantepin hati kamu dulu, aku enggak mau kamu nyesel dalam menjalani hubungan kita nantinya” ucap Ayden. “Aku mau, aku enggak akan nyesel,” pernyataan Sahara membuat Ayden merasa bahagia.Bulan semakin memancarkan sinarnya dan semakin berbentuk sempurna untuk dipandang. Mungkin bulan turut merasakan bahagia atas kedua insan itu.Ayden mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berisi cincin. Berwarna silver yang dihiasi oleh berlian, membuat cincin itu terlihat elegan.“Kamu udah nyiapin ini?” Sahara merasa terkejut sekali lagi. “Udah lama dan aku nunggu waktu buat ngelamar kamu, aku takut kalau jawaban kamu enggak sesuai ekspektasi aku,” ucap Ayden.Ayden mengambil tangan Sahara dan memasangkan cincin itu dijari manis Sahara. Tangan Sahara terlihat semakin cantik akan cincin itu.“I love you, Ayden,” ucap Sahara begitu tulus. “I love you more, my moon, sun and world,” jawab Ayden.

Ketika Hujan Menimbulkan Cinta
Romance
24 Nov 2025

Ketika Hujan Menimbulkan Cinta

Waktu itu menunjukkan sebentar lagi sudah mulai menjelang magrib. Tetapi aku dan Iqbal tetap saja duduk santai di taman kota. Setelah berbincang lama sambil menikmati suasana taman yang indah, petang pun tiba.Masjid-masjid di sekitar taman satu persatu mulai mengumandangkan adzan. Aku dan Iqbal bergegas menuju masjid dan segera mengambil wudhu. Hingga akhirnya saat selesai sholat, tiba-tiba hujan yang deras mengguyur kota. Aku dan Iqbal duduk di depan masjid menunggu hujan reda.Setelah lama menunggu, hujan pun sedikit reda. Hingga akhirnya aku dan Iqbal menuju tempat parkir untuk mengambil sepedah yang tadi dititipkan. Ketika berjalan menuju parkiran aku dan Iqbal masih berbincang sambil tertawa.Tidak lama kemudian hujan tiba-tiba mengguyur kota lagi. Karena hampir sampai di tempat parkir, akhirnya kita berdua memutuskan untuk lanjut berjalan menuju tempat parkir itu. Hujan itu membuat badanku terasa sedikit dingin dan menggigil.“kamu kenapa?” tanya Iqbal sedikit panik karena wajahku pucat. “badanku sedikit kedinginan” jawabku sedikit menggigil. Iqbal dengan cepat kilat melepas jaket dan dipakaikan ke tubuhku.Dan akhirnya tibalah kami di tempat parkir. Aku duduk di bangku pojok parkiran tersebut, Iqbal yang mengambil jaket kering di jok kendaraannya, dan langsung diberikan kepadaku untuk menggantikan jaket yang habis terkena hujan. Sembari mengibas-ngibaskan jaket yang habis kehujanan, Iqbal menyusul duduk di bangku depanku sambil menatapku.“Apakah kamu masih kedinginan?” tanya Iqbal sambil memakaikan jaket yang kering karena belum kupakai. “sudah sidikit mendingan daripada tadi” jawabku sambil malu karena lagi-lagi Iqbal memakaikan jaket untukku.Kami sedikit berbincang sambil menunggu hujan reda. Setelah hujan reda kita berdua langsung menuju masjid karena waktu menunjukkan sholat isya. Kami berdua mengambil wudhu dan segera sholat karena sudah sedikit terlambat. Setelah selesai sholat kita berdua mengambil sepeda dan akan segera pulang.Pelan-pelan sambil menikmati jalan kota yang habis diguyur hujan, kita berdua berbincang-bincang dengan lucunya. Waktu di sepanjang jalan aku masih sedikit merasakan kedinginan. “Tiba-tiba tangan Iqbal memegang tanganku” kagetku tapi aku diam saja karena disitu aku merasa diberi sedikit kehangatan.Karena masih ada waktu kita berdua memutuskan pergi ke cafe untuk rileks dan meminum kopi. Sesampainya di cafe, kita berdua turun dari sepeda.Kita masuk ke cafe dan lanjut memesan kopi. Selanjutnya kita berdua menikmati kopi yang telah dibuat. Setelah lama rileks di cafe, tidak terasa waktu sudah larut malam. Kita berdua memutuskan untuk pulang. Di perjalanan lagi-lagi Iqbal memegang tanganku. Aku hanya bisa tersenyum malu.Sesampainya aku di rumah, Iqbal berpamitan kepada ibuku untuk segera pulang karena sudah malam. Aku segera masuk ke kamar mandi untuk mengganti baju yang basah tadi. Sehabis itu aku pun segera masuk ke kamar untuk tidur. Sebelum tidur aku tiba-tiba memikirkan hal yang terjadi tadi sore. “apa sih yang sedang kupikirkan ini” ucapku sambil tersenyum. Aku pun segera tidur.Seminggu kemudian, hari yang ditunggu pun tiba. Waktu menunjukkan telah pagi dan aku pun bangun kerena alarm sudah berbunyi. Aku bergegas menuju kamar mandi.“mau kemana pagi-pagi gini?” kata ibuku sambil heran karena aku tergesa-gesa. “mau pergi keluar sama temanku yang kemarin hehe” jawabku.Aku bersiap-siap dan tinggal memakai kerudung. Tiba-tiba terdengar sepeda motor dia. Aku semakin tergesa-gesa. Akhirnya aku pun selesai dan segera keluar kamar. Ternyata Iqbal sudah di ruang tamu bersama ibuku. Iqbal pun berpamitan akan mengajakku keluar. Aku dan Iqbal akhirnya keluar. Iqbal membawaku ke suatu tempat yang aku pun tidak tahu itu dimana.Sesampainya di parkir tempat itu, mataku tiba-tiba ditutup dengan tangannya. Aku hanya kaget dan malu hampir tidak mau. Aku dibawa masuk ke tempat tersebut dan didudukkan di kursi dengan keadaan mata masih ditutup. Aku masih kebingungan kenapa mataku harus ditutup seperti ini.Akhirnya mataku dibuka pelan-pelan dan aku dikejutkan dengan sekitarku yang banyak sekali bunga berwarna pink. Tiba-tiba Iqbal berdiri di depanku membawa setangkai bunga pink itu.“ini maksudnya apa?” kataku semakin terheran-heran. Akhirnya Iqbal berbicara mengungkapkan semuanya. “sebenarnya aku sudah menyukaimu sejak awal aku bertemu denganmu” kata Iqbal sedikit malu. Aku pun menjawab “apa yang kamu suka dari aku?”. “Karena kamu baik, itu yang aku suka darimu” jawab Iqbal sekali lagi. “lantas apa maksud dari semua ini?” tanyaku. “Aku ingin kamu menjadi kekasihku” kata Iqbal dengan wajah merah. Aku pun menjawab “iya aku mau”.Setelah lama melanjutkan perbincangan di tempat itu, akhirnya Iqbal mengajakku pulang. Di jalan Iqbal berkata “minggu depan aku datang ke rumahmu untuk melamar dirimu”. “Sebenarnya aku tadi sudah merencanakan ini semua sama ibumu. Ibu bicara kepadaku kalau kamu sering bicara tentang diriku, karena itu aku memberanikan diri untuk mengungkapkan itu semua kepadamu” ucap Iqbal lagi. Aku hanya bisa tersenyum malu.Setelah sampai di rumahku kita bertiga berbicara tentang acara minggu depan. Aku hanya bisa iya-iya saja karena aku sudah siap menunggu acara itu. Setelah itu Iqbal pamit pulang karena ingin membicarakan semua ini dengan keluarganya.Beberapa jam kemudian Iqbal mengirim pesan melalui whatsapp. “Aku tadi sudah membicarakannya dengan keluargaku, dan mereka setuju”. Isi pesan itu. Aku pun merasa senang dan bahagia.Beberapa hari sebelum hari H aku dan Iqbal pergi mencari baju couple untuk seluruh keluarga. Tak terasa kurang satu hari lagi, besok sudah hari H. Aku tidak bisa tidur karena tidak sabar untuk besok. Aku hanya bisa menghubungi Iqbal melalui whatsapp saja.Akhirnya hari yang ditunggu pun tiba. Aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ternyata di rumah sudah banyak tetangga-tetangga yang membantu menyiapkan makanan untuk acara tersebut. Selesai mandi aku langsung melanjutkan untuk make-up. Tak terasa waktu sudah kurang setengah jam lagi.Setelah menunggu, akhirnya Iqbal beserta keluarga dan beberapa orang pun datang. Acara dimulai dan berlangsung dengan lancar. Aku merasa mendapat suatu kebahagiaan tambahan. Akhirnya setelah acara itu, hubungan kita berdua semakin bahagia. Semoga hubungan kami munuju ke jenjang yang lebih serius aminn…Ingat SIAPAPUN bisa menjadi APAPUN Kalau memang itu TAKDIR

Patung Kayu Ukiran Bersama
Romance
24 Nov 2025

Patung Kayu Ukiran Bersama

6 bulan lalu dia pergi, meninggalkan patung kayu ini yang dulu sering kita ukir bersama. Hingga ahirnya ada yang mengadopsimu, agar menjadi anak angkatnya.Aku Diana, dan orang yang sedang aku pikirkan adalah roby, dia teman aku dari kecil, aku dan dia sama sama dibuang oleh orangtua kita, aku anak panti asuhan, berumur 22 tahun, yang sedang ingin-inginnya merasakan apa itu cinta. “aku akan selalu ngabarin kamu, tenang saja!” janjimu yang kamu ucapkan 6 bulan lalu sebelum orang itu mengadopsi kamu masih menggema di pikiranku.Aku menunggu, tak ada kabar darimu. hingga suatu saat aku beranikan diri, menemui orangtua angkatmu. “Misi…” sapaku di depan pintu rumah ortu angkat kamu. “iya bentat!!!” terdengar suara seorang laki laki. Setelah keluar, ternyata itu roby. otomatis aku langsung memeluknya. “hey hey, apa apaan ini” bentak roby sambil melepaskan pelukku. “Roby kenapa kamu begitu? ini aku bawa patung kayu yang sering kita ukir bersama dulu!” ucapku. “apa ini, lebay amat sih” bentak roby sambil melemparkan patung itu lalu belah. Kemudian dia masuk lagi ke rumah dengan perasaan kesal. Diana hanya bisa menangis sambil berjalan pulang.Satu minggu setelah kejadian itu, Diana mendapatkan kontak roby dari teman roby, diana berusaha mengajak roby ketemuan, tapi selalu ditolak. hingga paksaan demi paksaan keluar dari mulut Diana, dengan setengah hati roby mengiyakan kemauan Diana.Malam tiba, waktu ketemuan Roby dan Diana. “roby, maaf membuatmu menunggu, macet soalnya” ucapku. “alasan” gerutu Roby. “kamu ke mana saja, janjimu gak ditepati, aku menunggu kamu” rengek Diana “kamu gak usah tau” ucap Roby “Rob aku sayang sama kamu!” ungkap Diana “terus?” tanya roby “kamu tau! kamu punya penyakit ginjal!?” ucap Diana “itu dulu, sekarang sudah sembuh!” jawab roby “iya, aku tau, itu ginjal aku yang satunya, karena aku donor ginjalku padamu!” ucap Diana, sambil pikirannya berkunang kunang lalu pingsan. “Diana…!” teriak RobyLalu roby menelepon ibu panti asuhan, dan mereka mengantar Diana ke Rumah Sakit terdekat. di perjalanan ibu panti asuhan menceritakan semuanya termasuk ginjalnya Diana yang didonorkan ke Roby. Roby menyesal, dia tidak mengetahui semua ini, hingga ahirnya nyawa Diana tidak tertolong di perjalanan.

Rasa Yang Hadir Pada Pertemuan Pertama
Romance
24 Nov 2025

Rasa Yang Hadir Pada Pertemuan Pertama

Patrycia adalah gadis cantik yang sangat baik hati. Dia adalah seorang mahasiswa yang kuliah di kampus Unika Santu Paulus Ruteng. Gadis yang berumur berkisaran 19 tahun itu tampaknya memiliki keunikan tersendiri yang dapat merasa candu bagi yang menatapnya. Hal itu yang membuat aku merasa penasaran untuk bertemu dengannya. Walaupun aku sadar bahwa tidak mungkin dia bisa menerima saya, akan tetapi rasa penasaranku dengannya tidak bisa dihalangi.Rasa penasaranku sudah menjadi-jadi, ketika aku pertama kali melihatnya pada saat kegiatan di Golo Lusang. Kala itu, Patrycia datang dengan sepeda motor dengan menggunakan helm berwarna putih. Aku pun memandangnya dengan penuh penasaran, tanpa berkedip selama beberapa menit. Dalam hati berkata “ah… ternyata Patrycia sangat cantik”.Setelah dia turun dari sepeda motornya, dia berjalan menuju gerombolan anggota kegiatan. Aku memandang wajahnya nan cantik itu. Dan begitupun sebaliknya, dia pun menatap dan melempar senyuman yang manis dari bibirnya. Aku merasa sedikit malu dan grogi untuk menegurnya, sehingga kami berdua hanya bisa beradu pandang.Selang beberapa menit kemudian, aku pun menegurnya “halo Patrycia”, sambil berjabat tangan dengannya. Lalu, ia menjawab “Iya halo kaka”.Setelah berjabat tangan, aku pun kembali ke tempat panita untuk mempersiapkan agenda kegiatan. Seluruh peserta yang hadir dalam kegiatan itu berkumpul untuk mempersiapkan, karena waktu kegiatannya akan segera dimulai. Peserta tampaknya sangat antusias dalam mengikuti kegiatan tersebut, termasuk Patrycia. Selama menjalani kegiatan, pusat perhatian saya selalu tertuju pada Patrycia. Hal ini yang membuat saya selalu gagal fokus dengan jalannya kegiatan. Kehadiran patrycia membawa perubahan baru bagi saya. Rasa penasaran akan gadis yang berparas cantik itu belum hilang dan selalu bertanya dalam hati, “kapan aku menjemputnya”?Tak puas dengan itu, saya coba mendekati temanya yang bernama Lani. “Patrycia itu, kamu punya teman?” “Iya kaka, dia saya punya teman, memangnya kenapa kaka?” Tanya Lani kepadaku. Lalu saya jawab, “tidak apa-apa adek, hanya sekedar tanya”.Sekitar 3 jam lamanya kami melaksanakan kegiatan tersebut, ketua panitia pelaksana kegiatan mengumumkan kepada peserta bahwa kegiatan tersebut telah selesai.Semua peserta bubar dari barisan dan mempersiapkan perlengkapan untuk dibawa pulang. Lagi-lagi aku melihat Patrycia yang keluar dari barisannya. Aku pun tersenyum melihat sosok gadis yang berwajah dingin itu, tampaknya dia sangat rajin dan semangat.Setelah perlengkapan mereka dibereskan, tibalah saatnya kami pulang. Semua peserta berhamburan masuk kedalam bemo yang telah disiapkan. Sementara itu, Patrycia masih duduk disalah satu kayu yang rindang sembari memegang helmnya dengan ekspresi yang penuh kebingungan. Melihat itu, aku coba memberanikan diri untuk mendekatinya.“Halo… Patrycia, kamu lagi buat apa?” Kok, kelihatannya seperti orang yang dalam keadaan kebingungan? Mendengar itu, Patrycia kaget dan berkata “tidak kakak, saya lagi menunggu teman yang antar saya tadi”. “Hm… kamu tidak usah pusing, biar aku saja yang mengantarkanmu pulang”. Kata saya. “Apa tidak merepotkan ya kak?” Kembali dia bertanya kepadaku. “Tidak apa- pa, kebetulan aku pulang sendiri”.Patrycia pun memutuskan untuk pulang bersamaku. Aku sangat senang dan bahagia, gadis yang aku kagumi ini bisa pulang bersamaku. Untuk diketahui, gadis yang aku kagumi ini belum berstatus berpacaran, karena masih sedang “PDKT”.

Amanda
Romance
24 Nov 2025

Amanda

Keadaan masih belum berubah, meski delapan tahun sudah berlalu. Kau masih bertahan diam, menolak bicara dengan siapapun. Sebagian dari dirimu telah membatu, aku tahu itu, tapi aku merasa perlu membawamu keluar dari rasa bersalah yang kau pendam dalam-dalam. Rasa bersalah yang bertahun-tahun memenjarakanmu dalam ruang yang sama sekali tidak aku pahami.Sabtu sore, sebagaiamana telah menjadi kebiasaanmu, aku kembali mengantarmu ke pemakaman yang terletak di tepi sebuah danau. Dan seperti yang sudah aku duga, kau datang untuk sekedar menatap kosong sebuah makam, berdiri mematung, dan sesekali mendongak ke langit. Di belakangmu aku hanya bisa menerka-nerka, barangkali kau sedang bercerita, tentang hari-hari berat yang harus kau tempuh dalam delapan tahun terakhir. Atau mungkin kau sedang menyampaikan bahwa selama delapan tahun berlalu, kau tidak pernah benar-benar sendirian. Sebab ada seorang lelaki yang keras kepala menemanimu, memperlakukanmu dengan sebaik-baiknya. Ah tidak, tidak mungkin. Aku terlalu jauh menerawang. Atau lebih tepatnya: menghayal, sorry.Aku melirik arloji di pergelangan tangan kiri. Dari sana aku kemudian menyimpulkan, sekira lima belas menit lagi azan magrib akan berkumandang. Itulah saat dimana kau akan memutuskan untuk beranjak dari tempatmu berdiri, pulang.Belum juga lima menit berjalan, rintik hujan turun perlahan. Beruntung aku sudah mempersiapkan kemungkinan tersebut. Maka kudekati kau yang masih bergeming, lantas kukembangkan payung persis di atas kepalamu. “Kali ini kau tidak harus menunggu magrib. Mari pulang. Percaya padaku, dia juga pasti akan mengerti.” Meski aku tahu kau tak akan menjawabnya, tapi toh kalimat itu keluar juga. Iya, bagiku sudah tidak penting lagi kau bakal menjawabnya atau tidak. Sebab urusanku denganmu, sudah bukan lagi perihal kata-kata.Kau berbalik tanpa merasa perlu melihatku—melintas begitu saja—seolah aku tidak sedang berada di sana. Tidak mengapa, aku toh sudah delapan tahun hanya menjadi bayanganmu, ada tapi tidak terlihat dalam pandangan matamu.Setiba di rumahmu, aku menitip pesan kepada adikmu, Ara, untuk mempersipakan makan malam. Sementara aku harus bergegas ke salah satu coffee shop di tengah kota. Ada janji yang harus kupenuhi. “Hujan lebat begini Kak, apa nggak sebaiknya Kakak nunggu reda.”, tawar Ara kepadaku. Aku tersenyum, lalu mengacak-acak rambutnya. “Aku sudah ditunggu Ra. Nggak enak kalau membuat temen-temen nunggu lebih lama lagi”, jawabku sekenanya. “Kalau begitu kakak pakai mobil rumah saja”, dia kembali memberi tawaran. Setelah kutimbang, ah rasanya tidak perlu juga. Mobil rumah hanya khusus untuk mengantarmu dan Ara. Untuk urusanku pribadi, ya tetap harus menggunakan milikku sendiri.“Ra, nggak apa-apa, aku pakai motor saja”, aku mencoba meyakinkan Ara. “Tapi kak”, tanggapannya memprotes keputusanku. Kudekati dia dan kuyakinkan sekali lagi, “Udah, amaaannn”. Ara pun luluh. Setelah mengenakan mantel dan menstarter motor bututku, aku perlahan menancap gas sambil melambai ke arah Ara. Setelahnya motor kupacu menyibak kerumunan hujan.—Setelah mempersiapkan makan malam, Ara kemudian mengantar satu nampan berisi nasi goreng dan segelas susu hangat untuk kakaknya. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Ara langsung masuk ke kamar kakaknya yang jendelanya berhadapan dengan taman belakang. Dan di hadapan jendela itulah sang kakak menghabiskan hari demi hari tanpa bicara. “Kak Gigih baru saja pergi, kak. Katanya sih ada urusan kerjaan”, meski kalimat itu hanya akan memenuhi kebebelan, namun Ara merasa hal tersebut tetap perlu disampaikan.Tanpa banyak bicara lagi, Ara beranjak meninggalkan kamar sang kakak. Namun tiba-tiba saja dia berhenti di muka pintu. Dia berbalik dan menatap nanar kondisi kakaknya. Sudah sekian psikiater, namun semuanya tidak ada yang berhasil mengembalikan kehidupan sang kakak. Sang kakak sudah lama hilang dari dunianya. Dunia yang berisi romantisme dan keceriaan.Di kepala Ara kini berpilin peristiwa demi peristiwa di masa lalu. Delapan tahun lalu, kecelakaan maut terjadi di ruas jalan tol yang melibatkan antara sebuah mobil pribadi dengan truk pengangkut muatan. Pengemudi truk mengalami cidera di bagian kepala dan lengan kanan, sementara dua penumpang mobil pribadi dalam keadaan kritis.Segera setelah dilarikan ke rumah sakit, tim dokter mewartakan bahwa korban lelaki berikut janin dalam kandungan korban perempuan tidak bisa diselamatkan. Korban perempuan yang baru siuman dua hari berselang menangis histeris menerima kenyataan yang harus ia terima. Hari-hari selanjutnya, si korban perempuan berubah menjadi pribadi yang pendiam, gampang depresi, dan sangat sensitif. Dalam suatu kesempatan bahkan ia pernah hampir melakukan percobaan bunuh diri. Pasalnya dia merasa sangat bersalah atas tragedi yang merenggut suami dan bakal anaknya itu. Sebab seandainya dia tidak memaksakan diri untuk ke suatu tempat, tregadi itu tidak semestinya terjadi.Untunglah ada Gigih, seorang laki-laki yang berkat kehadirannya, perempuan itu perlahan-lahan mulai bangkit dari keterpurukannya. Ya meski tak pernah bicara kepada siapapun, paling tidak dia sudah mau melakukan beberapa aktivitas semisal rutinitas ke makam setiap Sabtu sore. Paling tidak dia tidak terlalu mengurung diri, dan yang paling penting tidak lagi melakukan percobaan bunuh diri.Siapakah Gigih? Sesuai namanya, dia adalah sosok laki-laki yang gigih dalam segala hal, termasuk dalam menghadapi perempuan yang tidak lain adalah kakak Ara tersebut. Gigih sebenarnya sudah menaruh rasa pada kakak Ara sudah sejak masa kuliah, namun dia tidak pernah berani mengatakannya sampai kemudian kakak Ara dinikahi oleh lelaki lain.Gigihlah yang kemudian menemani Ara dan kakaknya selama delapan tahun terakhir.Suara siaran televisi kemudian membuyarkan Ara dari lamunan. Laporan dari salah satu kanal berita menyebutkan telah terjadi kecalakan di jalan X, jalan menuju kota. Segera Ara mengambil telepon genggamnya, mengurutkan abjad, dan kemudian menyentuh salah satu kontak yang bertuliskan “Kak Gigih”. Hanya terdengar bunyi “nut.. nut.. nut..” sedari tadi, nomor Gigih sedang tidak bisa dihubungi. Ara semakin panik, pikirannya semakin tak karuan, hatinya kian gusar.Dalam ketidakpastian itu, Ara melihat kakaknya berdiri di muka pintu kamarnya dengan menggunakan sweater. “Kita ke lokasi, cari Gigih.” Begitu kalimat pendek yang entah bagaimana bisa keluar dari mulut kakaknya. Ara terkejut, antara bahagia dan bingung. Bahagia karena kakaknya sudah mau berbicara lagi, bingung karena sisi lain Gigih masih belum jelas keadaannya.Keduanya bergegas menaiki mobil dan mobilpun dipegang kendali oleh Ara menyibak hujan yang masih tak kunjung reda.—Amanda, aku juga tidak tahu bakal berapa lama bertahan menunggu kau keluar dari penjara yang kau ciptakan sendiri untuk pikiranmu. Tapi betapapun, aku tidak bisa berhenti begitu saja menunggumu, sebab aku percaya, tidak ada yang sia-sia dari sebuah penantian. Iya, aku terlalu keras kepala untuk terus mencintaimu.Di tengah hujan yang luar biasa lebat, seorang perempuan dari seberang jalan berlari menghampiriku yang duduk di sebuah tempat tambal ban, menunggu roda motoku ditambal karena bocor di tengah perjalanan. Samar-samar tak kukenali perempuan itu, tapi semakin dekat dia berlari menuju arahku. Semula kupikir dia sama halnya denganku, ingin memastikan bahwa ban mobilnya bisa ditambal. Tapi entah bagaimana, tiba-tiba saja perempuan itu menyongsongku, memelukku dengan tangis sesenggukan.“Maafin aku”. Dari suaranya sepertinya aku kenal. Perlahan kukendurkan pelukannya, dan benar saja, perempuan itu adalah Amanda.“Kak Gigih nggak kenapa-kenapa kan?”, seorang perempuan di belakangnya turut bersuara. “Ara?”.“Ada berita kecelakaan motor di jalan X, ku pikir Kak Gigih”. Mendengar itu tawaku meledak begitu saja. “Iya Ra, aku kecelakaan. Nih liat, ban motor kakak bocor. Kakak telat kumpul juga akhirnya..”. Kali ini kualihkan pandangan ke Amanda, matanya yang redup hari ini kembali menyala. Aku mengusap air hujan yang membasahi wajahnya dengan kedua telapak tanganku. Dia kemudian menggenggam tanganku sambil berkata lirih, “Kamu nggak boleh kenapa-kenapa. Kamu masih harus menemaniku tiap Sabtu sore”.

Cinta 130 Km
Romance
24 Nov 2025

Cinta 130 Km

“pagi sayangku,” sapa Adit pacarku di seberang telpon. “ih.. kamu mah pagi-pagi udah telepon aja, ada apa si?” cicitku baru bangun tidur dan masih memeluk guling. “wih si cantik baru bangun,” gombalan maut pacarku mulai keluar. “ih.. kamu mah pagi-pagi udah bikin orang salting,” sahutku dengan pipi memerah dan menahan senyum malu. “hahaha lucunya pacarku.. oh ya, hari ini kamu sibuk ngga?” tanya Adit. “engga terlalu si, mau ketemu?” tanyaku. “iya dongg, udah lama ngga ketemu kita.” Jawab Adit pacarku. “ih.. mager banget aku,” sahutku dengan nada malas. “kebiasaan pacarku mulai nih, ayolaaa sayang.. dikurangi rasa malasnyaa! Nanti kubelikan es cream yang banyak deh.” Bujuk Adit kepadaku. “ih serius? Oke deh, ketemu di Malioboro ya! See you sayangku, dadahh..” sahutku dengan nada yang sangat senang sekali, hehe. “giliran dibelikan es cream aja langsung mau, dasar malasan. Oke deh, see you sayangku..” ucap Adit dengan nada kesal dan senang sembari menutup telpon.Percakapan kita berakhir, aku segera bebersih dan mempersiapkan diri. Menunggu Adit pacarku datang, ia ke Malioboro naik kereta api, karena ngga ada macetnya jadi mungkin sampai ditujuan dengan cepat.Aku dan Adit sudah berpacaran sejak SMP hingga saat ini, kita menjalani kuliah dengan kota yang berbeda. Dia di kota Semarang dan aku di kota Yogyakarta. Sebulan sekali kita menghabiskan waktu bersama, kalau kata Adit mengobati rasa rindu, hahaha. Jika libur kuliah kadang kita pulang ke Mojokerto bersama, menemui orangtuaku dan orangtua Adit pacarku. Orangtua kitapun sudah saling mengenal akrab, jadi tak heran jika kita juga sangat akrab.Setelah semua pekerjaan selesai dan akupun sudah siap segera menuju Malioboro, Adit juga baru saja menelepon katanya dia sudah sampai di sana. Jarak kost anku ke Malioboro hanya 5 meter saja dan membutuhkan waktu 5 menit.Sesampainya di sana.. “DOR!! Hai sayangku,” kejutan disembari dengan sapaan yang membuat Adit terkaget. “astaghfirullahaladzim, kaget aku,” ucap Adit sambil mengelus dada karena terkejut. “HAHAHAHAHA,” aku tertawa puas.“oh ya, ini es creammu, kubelikan banyak biar kamu gemuk haha..” kata Adit yang sengaja meledekku sambil menyodorkan es cream dan mengelus kepalaku. “wih… makasi ya sayang, hehe.” Ucapku sangat senang. “jadi.. mau kemana kita hari ini?” tanya Adit dengan raut wajah yang sangat senang. “jalan-jalan aja dulu keliling Malioboro, sama cari makan di lesehan pinggir jalan.” Sahutku sambil memakan es cream. “okedeh, ayoo!” ajak Adit pacarku sambil menggandeng tanganku.Kita berdua berjalan bersama mengelilingi Malioboro sambil bercerita tentang pengalaman sehari-hari dan bersendau gurau bersama, makan di lesehan pinggir jalan, jajan di angkringan sambil menikmati senja, dan berfoto-foto. Momen itu seperti memecahkan celengan rindu yang sudah kita tabung sekian lamanya.Tak terasa malam sudah tiba, rasanya waktu begitu cepat. Kini saatnya Adit pacarku kembali ke kota Semarang dan kita kembali menabung rasa rindu.Sudah dua minggu Adit tidak menghubungiku, biasanya tiap malam ia selalu minta telepon. Awalnya aku kira ia sibuk dengan kuliahnya, jadi aku biarkan saja. Kini kucoba menghubungi orang tuanya, katanya mereka juga berusaha menghubunginya tetapi nihil. Aku mencoba menenangkan diri dan tidak panik. Aku mencari kesibukan dengan mengerjakan tugas kuliahku.Kini 1 bulan telah berlalu, setelah pekerjaan kampus kelar dan saatnya berlibur. Berlibur adalah momen yang di tunggu-tunggu mahasiswa untuk pulang ke kampung atau ke kota menemui orangtuanya. Itu sangat berbeda denganku saat ini, aku yang disemuliti kesedihan dan panik akan menghilangnya kabar pacarku membuatku tidak bersemangat lagi. Akhirnya aku menelpon orangtuaku guna mengabari aku akan pulang ke kampung besok, tetapi aku kecewa karena aku sendirian tidak dengan Adit pacarku.Aku berangkat menuju kota Mojokerto naik kereta api, di sepanjang perjalanan aku hanya merenung dan memikirkan kabar dari Adit pacarku. Setelah sampai di stasiun kota Mojokerto aku menelepon ayahku agar dijemput. Tak lama kemudian datang sebuah mobil yang dikendarai oleh ayahku dan dua penumpang yaitu adikku, seketika itu aku menyembunyikan raut wajah sedihku dengan senyuman yang manis.“kak, ayo cepat naik mobil! Di rumah ada orang yang nunggu kakak.” Ucap adekku mengajakku pulang. “siapa dek?” tanyaku. “nanti juga kakak tau sendiri,” ucap adekku yang semakin membuatku penasaran.Sesampainya di rumah, hendak masuk ke dalam aku terkejut. Selama ini orang yang kutunggu kabarnya pun berada di ruang tamu rumah dengan kedua orangtuanya dan sedang berhadapan dengan Ayah dan Bundaku. “ADITT??” “RICHAA??” Aku langsung menghampirinya dan dia langsung memelukku, dia adalah Adit pacarku. Aku menangis sendu dalam pelukannya.“ada apa kamu kesini? Kenapa ngga bilang?” tanyaku kepada Adit sambil sesegukan yang masih berada di pelukannya. “Adit telah menceritakan semuanya kepada kami tentangmu, Nak. Dari kepribadianmu, akhlakmu, dan cara berpikirmu sehingga kau patut dipinang. Sekarang dia ingin meminta restu dari kami dan orangtuamu untuk melamarmu.” Jawab seorang laki-laki paruh baya, yaitu Ayahnya Adit.Entah aku harus sedih ataupun senang, aku langsung ke pelukan Bunda. “loh kenapa nangis, Cha? Bukannya harus senang yaa..” kata Bunda membujukku. Seketika tangisanku berhenti dan aku duduk di sebelah Bunda. Dan pada akhirnya keluargaku dan keluarga Adit merestui kami berdua. Menentukan hari yang tepat untuk pemasangan cincin pengikatan.“meskipun kamu sudah ada calonnya, kamu jangan lupa akan kuliahmu ya, Nak. Habis ini lulus to?” kata bundanya Adit menasehatiku. “iya, bunda. Siapp, hehe..” ucapku dengan tersenyum.

Diam Diam Menatapmu di Sisi Tirai Jendela Kantin Kampus
Romance
24 Nov 2025

Diam Diam Menatapmu di Sisi Tirai Jendela Kantin Kampus

Pagi yang begitu cerah dan mentari terlihat begitu indah. Ketika tatapan mataku tertuju pada tirai jendela kantin Kampus Unika Santu Paulus Ruteng. Rupanya tirai jendela kantin kampus itu tak lagi mampu menyembunyikan terangnya sinar surya, hingga terlihat dan tampak jelas wajah yang ada di sisi ruangan itu. Dibalik tirai jendela bermotif merah marun itu, paras seorang puan cantik seperti bule yang berkulit putih, isung lempe nau (hidung pesek, kelihatnya elok), tinggi badannya persis seperti saya. Dari kejauhan kami dua saling melempar senyum yang manis, seolah-olah kode sudah mulai bekerja.Sekarang dibenakku selalu bertanya, kapan aku menjemputmu? Berharap suatu saat nanti, kami berdua menemukan waktu untuk saling sapa dan ngobrol, pasti aku merasa bangga, senang dan bahagia. Mengaguminya adalah sesuatu yang sangat berarti bagiku, entah mengapa rasa ini muncul dengan tiba-tiba. Tapi tak mengapa, karena tidak ada yang mengajarkan rasa suka, tumbuh tanpa sepengetahuan diri.Kantin Kampus merupakan tempat pertama kali aku menemukan sosok puan cantik serupa bule itu. Setelah saya mencari tahu tentang keberadaannya, ternyata dia anak keperawatan. Ehhh… salah, maksudnya dia Prodi Bahasa Inggris (PBI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UNIKA Santu Paulus Ruteng. Anehnya, setiap kali aku mengunjungi tempat itu, dia juga pasti ada disitu. Saya berpikir dalam hati, mungkin ini yang dikatakan tak ada yang dapat menghalangi kemana jalannya hati, karena hati tahu dimana pemiliknya yang sesungguhnya.Diketahui, kantin kampus menyediakan berbagai jenis jual-jualan, seperti gorengan, kopi, teh, mie, dan sebagainya. Kantin ini, tak salahnya selalu mempertemukan mahasiswa dari berbagai jurusan yang ada di Kampus UNIKA Santu Paulus Ruteng. Jangan heran, kalau ada mahasiswa menemukan rasa yang sama di tempat ini.Lalu, bagaiaman dengan puan yang serupa bule tadi. Jujur, saya sangat mengaguminya. Mencintainya dalam diam, memberi asa setiap rasa. Salahkah aku mencintaimu dalam diam? Kurasa tidak, waktu selalu memperindahkan setiap rencana dan niat baik kita. Berharap selain aku dan Tuhan, kamu juga harus tahu bahwa aku sedang menunggumu.Sampai dengan saat ini, namanya saja saya belum tahu, apalagi akun media sosialnya, seperti facebook dan instagram. Kalau nomor Whatsappnya, mohon maaf saya belum memberanikan diri untuk memualinya… hehehe.Oh… iya. Saya juga pernah melihatnya di Aula Gedung Utama Kampus Lantai 5. Persis waktu itu, kami sama-sama mengikuti seminar karir yang diadakan oleh Kampus UNIKA Santu Paulus Ruteng. Kebetulan waktu itu, salah satu pemateri dari media Tabeite.Com yang membawakan materi terkait dengan literasi di era digital. Disela-sela itu, saya membagikan pengalaman saya kepada pemateri, “bahwa saya selama ini pegiat literasi menulis dan membaca di media Savirari.Com seperti puisi, cerpen, opini, esai dan tulisan-tulisan sederhana semampu kita. Media ini merupakan sebuah portal menulis yang dikelola oleh praktis pendidikan dan mahasiswa di Kabupaten Manggarai. Bukan hanya di media Savirari.Com saja yang saya tulis selama ini, tetapi ada berbagai banyak media yang saya tidak bisa sebut satu-persatu”. Ungkapku kepada forum.Berharap waktu itu, puan berwajah dingin dari Prodi Bahasa Inggris, mendengarkan dan menatap saya pada saat itu, agar nantinya kalau ketemu bisa saling sapa dan akrab seperti teman. Dan waktu itu aku berharap juga, dia bisa mengirimkan tulisannya di media yang aku kerja sekarang, yaitu Savirari.Com. Andai dia mengirikan tulisan di mediaku, tentu saja saya senang. Mungkin itu kesempatan emas buat saya untuk bisa memulai komunikasi bersamanya. Mohon maaf, anganku terlalu berlebihan, semoga menjadi kenyataan… ohok.. ohok.Ceritanya sampai disini, entah saja bagaimana endingnya nanti. Saya tetap kasih tahu kalian, walaupun aku menunggu waktu tentang jawaban yang pasti, entah saling menjaga hati ataupun aku iklas untuk tetap sendiri.

Sakit Hati Di Selingkuhi Pacar, Akhirnya Ku Tidur Dengan Adik Sahabat !
Romance
24 Nov 2025

Sakit Hati Di Selingkuhi Pacar, Akhirnya Ku Tidur Dengan Adik Sahabat !

Chelsea yang diselingkuhi pacarnya galau dan mabuk-mabukkan, besoknya dia mendadak bangun dari kasur, melihat ke sekitar yang cukup asing baginya, dia menyadari dia sedang di hotel!Dengan pelan dia menolah ke sampingnya, seketika nafasnya berhenti, dia telah meniduri adik sahabatnya sendiri !1"Chelsea, buka pintunya cepat !" Sunna menendang pintu dan meneriak keras buat Chelsea merinding.Kalau tetap biarkan dia menendang pintu mungkin dia akan dilapor tetangganya ke polisi, dari pada dinasehati polisi Chelsea akhirnya memilih buka pintu.Awalnya Chelsea hanya membuka celah kecil, Sunna cukup cepat bereaksi dan langsung masuk."Bagus ya kamu, sebagai dokter muda profesional sudah berbuat tapi tidak mau tanggung jawab ya !"Chelsea tidak berdaya dan memejamkan matanya, dugaanya benar, Sunna datang utnuk menanyainya masalah malam itu, tapi masalah itu terjadi dengan sangat mendadak, dia sendiri juga belum pulih dari keterkejutan.Sunna baring di sofa, menyilangkan kaki, dengan ekspresi seperti sedang menonton pertunjukkan seru "Jadi, bagaimana rencanamu? Ini semua sudah terjadi.""Aku......"Chelsea memikirkan tiga kali sebelum berkata sambil melirik Sunna berkali-kali baru berani berbicara,"Hmm, ini sudah abad 21, semua ini hanyalah ketidaksengajaan, gimana kalau...... ""Bagus ya kamu, sudah berbuat tapi tidak mau tanggung jawab ya ! Kamu hanya mau nikmatnya saja......"Chelsea menutup mulutnya, jika membiarkannya terus berbicara entah apa saja yang akan dikatakannya, bagaimanapun juga Sunna adalah dokter paling berani dirumah sakit mereka !"Aku bukan tidak mau tanggung jawab, hanya saja semua masalah ini terlalu mendadak dan juga ini hal yang normal bukan?......""Jangan banyak bacot !" Sunna mengeluarkan dokumen "Cepat keluarkan KTP dan KK kamu nikah sana!""Sama siapa ?""Siapa lagi ? Kamu tidur sama siapa ya nikah sama dia sana."Sunna tertawa jahat "Akhirnya nikah juga si kaku itu."2Chelsea akhir-akhir ini sedang dalam masalah besar, karena lelaki brengsek dan dua botol minuman.Awalnya Chelsea adalah dokter wanita ahli beda ortopedi, dia tidak pernah mengalami masalah dalam pekerjaan, di rumah sakit Chelsea memiliki reputasi yang cukup baik, masa depannya bisa bilang sangat cerah.Ditambah lagi pacarnya adalah wakil manager dari sebauh perusahaan publik, orang luar memandang Chelsea sebagai wanita wanita abad baru yang memiliki karier dan hubungan cinta yang sukses.Semua baik-baik saja hingga Chelsea melihat mobil yang familiar itu, di sisi penumpang yang sering dia duduki muncul sebuah lipstik yang asing, Chelsea dengan tenang melihat pacarnya Carlos, setelah itu mengantongi lipstik itu.Chelsea yang sejak kecil lebih cerdas dibanding orang sekitarnya, tentu dia tidak akan dengan bodoh menangis dan langsung menanyakan masalah ini pada pacarnya, jangan lupa dia adalah dokter cantik yang sangat hebat mengontrol emosional.Dengan tenang Chelsea diam-diam mengumpulkan buksti dan Chelsea menyaksikan dengan mata sendiri, pacarnya ciuman dengan selingkuhan itu, Chelsea merasa inilah saatnya dan segera maju melemparkan lipstik itu ke muka lelaki brengsek.Wanita cantik itu kaget dan teriak keras, segera berlindung dibelakang lelaki brengsek itu, Chelsea tertawa dingin "Saya awal mengira anda adalah wanita cantik yang lemah lembut ternyata paru-paru anda sangat sehat sampai bisa teriak sekeras dan selama ini, harusnya tadi saya melemparkan lipstik itu ke muka anda, namanya juga membalikkan barang ke pemiliknya."Chelsea pergi tanpa ada penyesalan, walaupun lelaki itu adalah pria berkualitas yang sudah dia jalani hubungan selama setahun, bagi Chelsea dia tidak pernah bisa menrolerir perselingkuhan.Chelsea mengambil cuti untuk istirahat sejenak, dia memasuki sebuah bar di dekat rumah untuk mabuk-mabukan.Di zaman sekarang ini sudah sangat umum jika bertemu dengan lelaki brengsek, Chelsea membujuk diri ini semua akan berlewat.Chelsea tidak terlalu sedih, dia hanya merasa kesal dirinya di selingkuhi ! Setelah minum dua gelas, Chelsea semakin merasa jengkel, karena setengah bulan yang lalu dia baru saja memberikan jam cukup mahal kepada lelaki brengsek itu.Chelsea mengeluarkan handphone telepon ke Sunna, Chelsea terus curhat masalah lelaki brengsek itu, orang yang angkap telepon menanyakan alamay, setelah itu berkata "Tunggu disana, aku pergi jemput."Chelsea bukan peminum yang baik, setelah dua botol dia habisi, matanya mulai melayang.Dalam keadaan linglung, dia melihat seorang pria muncul di hadapannya, tampangnya tampan, postur tubuhnya bagus, nampak umurnya tidak terlalu tua.Huh, hanya lelaki saja, asal dia mau lelaki mana yang tidak bisa dia dapatkan.Setelah muncul pemikiran ini, Chelsea segera mempraktekkannya, dia mengambil segelas minuman dan mulai menggoda pria didepannya "Hei cowok ganteng, mau lewati malam ini denganku ?""......"3Chelsea mengerutkan keningnya saat sinar matahari pertama menyinarinya, dia perlahan membua mata.Konsekuensi mabuk dirasakan Chelsea sekarang, kepalanya sakit, bahunya sakit, pingganya sakit dan......

Bintang Kejora
Romance
23 Nov 2025

Bintang Kejora

Sore hari itu terasa sangat hampa bagi seorang perempuan bernama Kejora Anastasya. Sore itu ia baru saja ditinggalkan sang pujaan hati selama lamanya, semua yang telah melayat satu persatu sudah pulang ke rumah masing masing, yang tersisa disana hanyalah Kejora dan sahabatnya, Lyora.“Kejora, ayo dong pulang, mau sampai kapan lo disini Jora, bentar lagi mau hujan nih, udah hampir 2 jam lo disini, ga keram tuh kaki jongkok mulu, udah gerimis kayak gini masih gak mau pulang?” Kata Lyora sambil memayungi sahabat nya itu. “Pulang duluan aja ly, gua masih mau disini” Kata Kejora sambil menatap Lyora dengan mata sendu nya itu. “Lo mah kayak gitu, aduh yaudah deh, gua tunggu aja tuh di dalam mobil ya, nanti biar gua aja yang setir mobilnya ya Ra, inget kalau udah mau Maghrib udahan ya, besok besok lagi kesini, gua tau berat Ra ngelepasin langit, nih payung, gerimis tuh, bisa sakit” Kata Lyora sambil memberi sebuah payung dan lanjut berjalan kearah mobil.Langit Ajendra—adalah kekasih dari Kejora Anastasya yang mengidap penyakit kanker hati stadium akhir, Perawatan dapat membantu, namun penyakit ini tidak dapat disembuhkan. Hal ini membuat Langit harus menjalani kemoterapinya, kemoterapi itu sudah ia lakukan sejak 3 tahun yang lalu, namun karena merasa kemoterapinya itu tidak membuat perubahan bagi dirinya, ia mengakhiri kemoterapinya semenjak 2 bulan yang lalu tanpa sepengetahuan dari siapapun karena ia tau tidak ada yang akan menyetujui perbuatannya itu. Setelah ia tiada, dokter yang menangani Langit pun akhirnya memberi tau kepada keluarganya dan Kejora.Kejora bangkit dari duduknya sambil memegang payung dan dengan berat hati ia berjalan kearah mobil, ia menutup payungnya dan langsung mengetuk jendela mobil itu. tuk.. tuk.. tuk“AAAAAAAAA SETANNNNNNNNN” Jerit Lyora yang terkejut. “Ini gua, gak usah lebay, cepetan buka pintunya” Kata Kejora. “Sumpah ngagetin aja lo Ra, untung sahabat lo ini ga kena serangan jantung” Kata Lyora sambil membuka pintu itu.Kejora tak membalas dan langsung masuk kedalam mobil, Lyora pun langsung menjalankan mobil itu. malam ini Lyora memutuskan untuk menginap di rumah Kejora, karena ia berjaga jaga agar Kejora tidak melakukan perbuatan yang tidak baik walaupun ia tau Kejora tidak sebodoh itu sampai harus melakukan sesuatu seperti mengakhiri hidupnya.Sebulan pun berlalu, Kejora sudah terlihat lebih baik, mungkin ia belum bisa ikhlas sepenuhnya tetapi senyum Kejora sudah muncul, walaupun hanya karena Lyora yang dengan cerobohnya tersandung dan menumpahkan jus buah naga ke dosennya itu, setelah itu Kejora hanya tersenyum tipis. Saat ini mereka sedang menyantap makan siangnya di kantin.“Ly, nanti sore temenin gua yuk ke pantai, kangen pantai, kangen Langit” Kata Kejora. “Yahhh Ra maaf gua ga bisa, hari ini tuh gua mau jalan sama pacar gua, besok aja mau ga?” Kata Lyora. “Ohh yaudah Ly ga usah, gua sendiri aja gapapa, gua bisa sendiri kok santai” Kata Kejora sambil tersenyum. “Beneran gapapa Ra?” Tanya Lyora. “Gapapa Ly, sahabat lo ini kan udah gede” Kata Kejora. “Yaudah hati hati lo nanti” Kata Lyora. “Siap boss” Kata Kejora.Sore hari pun tiba, saat ini Kejora sudah berada di pantai, saat ia sedang ingin keluar dari mobil, ia melihat sosok laki laki yang tak asing baginya. Perlahan ia berjalan mendekati laki laki itu.“Langit?” Kata Kejora dengan sangat pelan. “Eh saya bukan Langit” Kata laki laki itu yang sedikit terkejut. “Oh maaf mas, mas nya mirip banget sama almarhum pacar saya, mulai dari postur tubuh, wajah dan suara” Kata Kejora yang sedikit tak enak hati. “Saya turut berdukacita ya mba, ah iya nama saya Bintang” Kata laki laki itu. “Saya Kejora, jangan pake mba, kalau mau juga pake lo gua gapapa hehe, jangan terlalu formal” Kata Kejora. “Eh hahaha oke deh Kejora” Kata Bintang sambil tersenyumSore itu mereka habiskan untuk berbincang-bincang dan bertukar nomor ditemani dengan indahnya matahari terbenam yang artinya ini sudah mulai sore.“Gua pulang dulu ya, kapan kapan ketemu lagi okey Bintang” Kata Kejora sambil melambaikan tangan kearah Bintang dan langsung masuk kedalam mobil.Sampainya di rumah ia langsung mengabari Lyora dan memberi tahu kabar bahwa ia bertemu dengan seseorang yang sangat mirip dengan almarhum kekasihnya itu, Lyora bingung harus percaya atau tidak karena ia tahu sahabatnya itu belum bisa ikhlas sepenuhnya, akhirnya Kejora pun mengirimkan foto yang sempat ia ambil diam diam tanpa sepengetahuan Bintang, akhirnya Lyora pun percaya.Selama sebulan ini Kejora selalu ke pantai sebagai tempat janjian untuk Kejora dan Bintang saling bertemu, setelah beberapa Minggu ia tidak bertemu Bintang akibat dirinya sedang disibukan dengan tugas kuliahnya itu, akhirnya Kejora mengajak Bintang untuk bertemu di pantai itu, Bintang tak pernah membalas pesannya, hanya dibaca saja, hal ini sudah biasa, walaupun awalnya Kejora mengira ia seperti selalu mengganggu Bintang, tetapi saat mereka bertemu Bintang memberi alasan mengapa ia tidak memberi balasan pesan Kejora, Bintang akan membahas semua pesan yang Kejora beri ketika mereka saling bertemu. Seperti biasa mereka bercanda bersama menghabiskan waktu di pantai itu ditemani dengan matahari terbenam yang sangat indah.“Bintang, bagaimana kalau gua bilang gua jatuh cinta sama lo?” Tanya Kejora. “Kejora, lo jatuh cinta sama gua karena gua mirip almarhum pacar lo kan?” Kata Bintang “Engga Bintang, gua jatuh cinta bukan karena lo mirip Langit” Kata Kejora.Bintang hanya tersenyum kikuk kearah Kejora, setelah berbicara seperti itu Kejora memutuskan untuk pamit pulang ke rumahnya. Sampai di rumah Kejora menelepon sahabatnya itu.“Ly, gua jatuh cinta sama Bintang” Kata Kejora. “Ra, kayaknya kita perlu ngomong besok deh, penting, demi lo” Kata Lyora dan langsung mematikan sambungan sepihak.Sesuai seperti yang Lyora bilang di teleponnya semalam, ia ingin berbicara sesuatu yang bisa dibilang sangat penting, Lyora, Kejora, dan kekasih Lyora—Tio, mereka sudah ada di kantin untuk membicarakan hal ini.“Ayang, kayaknya kamu harus kasih tau sekarang deh” Kata Tio. “Iya ay” Kata Kejora. “Ini mau ngomong atau ngebucin? cepetan, udah sore nih, gua mau ketemu Bintang lagi di pantai” Kata Kejora.“Ra, sadar, semua tentang Bintang itu hanya imajinasi lo Ra” Kata Lyora yang nampak mengkhawatirkan sahabatnya itu. “Maksudnya gimana Ly, bercanda mulu lo, semua kenyataan kok” Kata Kejora yang sedang kebingungan. “Ga Kejora, Bintang itu imajinasi lo yang masih ga bisa ikhlas sama kepergian Langit, foto yang lo kirim itu, gua sama Tio cuma liat ada pantai, sedangkan sosok Bintang yang lo maksud ga ada, gua awalnya mau nyadarin lo saat itu juga, tapi kata Tio jangan dulu, cuma sekarang gua harus kasih tau Ra, ikhlas emang susah, tapi jangan tenggelam sampai sampai imajinasi yang menguasai lo sekarang” Kata Lyora. “Apaan sih Ly, ga mungkin lah, ngaco lo, udah ah gua mau ketemu Bintang aja, lo semua ga jelas banget” Kata Kejora yang langsung lari meninggalkan mereka berdua.Melihat Lyora yang ingin mengejar Kejora, Tio dengan sigap menarik tangan Lyora. “Kasih dia waktu Ly, emang susah buat dia terima kalau mencakup hal seperti ini” Kata Tio.Lyora menurut dan langsung kembali duduk di sebelah Tio dengan raut wajah khawatir. Disisi lain Kejora menjalankan mobilnya ke pantai untuk bertemu Bintang, ia memikirkan apa yang barusan Lyora bicarakan, saat ia sudah sampai di pantai itu, Kejora langsung turun dan berjalan menuju kearah Bintang, Bintang memunggungi Kejora, jarak mereka sekitar 1 meter atau 100 cm. Bintang berbicara tanpa menghadap kearah Kejora.“Ra, udah tau ya? yang Lyora bilang bener kok, harus belajar ikhlas, biar imajinasi lo ga menguasai, gua ga bisa juga lama lama di imajinasi lo, setelah lo tau gua ini cuma imajinasi lo, gua harus pergi, semua tentang gua bakal lo lupain seiring berjalannya waktu” Kata Bintang. “Bintang..” lirih KejoraBintang berjalan pelan dan memeluk Kejora sampai sosok Bintang benar benar menghilang.Benar, semua ini hanya imajinasi Kejora, Bintang memang sebenarnya tidak ada, Kejora begitu merindukan sang kekasih sampai ia tidak sadar sedang membangkitkan imajinasinya, kontak chat Bintang pun hanya terlihat seperti nomor yang sudah lama tidak aktif, foto yang Kejora ambil diam diam itu masih terlihat wajah Bintang walaupun hanya kejora yang bisa melihat.Setelah seminggu berlalu Kejora pun memutuskan untuk ke tempat peristirahatan terakhir sang kekasih, jujur saja ia sangat merindukan Langit, saat sampai disana ia berbincang-bincang dengan Langit, ia tahu Langit bisa mendengarkannya.Tamat.

Hadiah Indah Untuk Rere
Romance
23 Nov 2025

Hadiah Indah Untuk Rere

Malam ini, angin berhembus cukup kencang membuat pohon pohon bergoyang, menerbangkan jauh dedaunan yang jatuh menerpa tanah, membuat siapapun takkan mau keluar di malam yang begitu dingin ini. Dinginnya angin malam menembus kulit hingga tulang“Ayah, kok malam malam begini ada yang nangis sih?” Suara ibu rere memecah keheningan malam, membangunkan ayahnya rere. Karena rasa khawatirnya, mereka menghampiri pintu kamar rere, terdengar jelas suara langkah mereka hingga rere tersadar dan buru buru menghentikan tangisnya, lalu ia pura pura tertidur.Tok… tok… tok… “Rere, sayang buka pintunya” ujar ibu rere Lama tak mendapat jawaban dari rere, mereka pun membuka pintu kamar rere, dilihatnya oleh mereka rere sedang terlelap (padahal pura pura) “Lho bu, rere tidur kok, siapa yang nangis? Ah halusinasi ibu aja mungkin” ujar ayah. “Gak mungkin lah ayah, apa jangan jangan yang nangis tadi itu suara hantu?” Ujar ibu ketakutan “Hush ibu, ayo kita balik ke kamar aja, jangan ribut di sini, kasian rere” ajak ayah sambil berlalu dan menutup pintu kamar rere.Karena mereka sudah pergi, rere menyingkapkan selimut tebalnya itu, ia duduk di ranjangnya dengan melihat beberapa foto. Raganya berada di situ tapi entah mengapa pikirannya melayang jauh menembus angkasa, dibawa terbang oleh rasa sakit yang dihadapinya. Tidak terasa, air mata menetes dengan mudahnya, dia sudah sangat tidak kuat menahan rasa sakit ini. “Rendra, lu bener bener tega sama gua! Salah gua apa?” Ujar rere sambil menyobekkan beberapa lembar foto yang ada di tangannya.Segera ia membawa ponselnya, mencoba menghubungi sahabatnya, Rasti dengan aplikasi sosial medianya. “Damn Rastiii please dong bales” ujarnya geram. Kesal tidak mendapat jawaban dari Rasti, rere pun meneleponnya ‘Tengah malam buta’ “Hallo rereee ada apaaaa?” Seketika hati rere tenang mendengar suara sahabatnya ini. “Rasti, hiks… hiks” rere terisak lagi. “Loh loh loh re? Rere? Lo kenapaaa? Please jangan bikin gua menderita karena khawatir sama elu dong re” “Gu..gua.. p..putus..s..sama. Ren..dra” ujar rere dengan suara yang putus putus karena terisak. “Oh ya?” Tanya Rasti dengan nada datar, tidak seperti biasanya. “Gua nelpon malem malem dan lo cuma bales ‘oh ya’ aja? Tega lu” “Ehm g..gimana ya re.. mungkin ajaa… emmm..emmm mungkin aja itu udah takdir tuhan” jawab Rasti dengan terbata bata. “Seberat inikah takdir gua?” Tanya rere putus asa. “Re, udah dulu ya udah malem niih tidur gih biar mata lo nggak sembab, semangat laaah besok hari minggu” rasti menyemangati rere. Rere merasa sangat sangat baik saat ia sudah mencurahkan semua pada sahabatnya, rasti. Akhirnya dengan makin dinginnya udara di luar rere pun terlelap.Hari kemarin berlalu begitu saja, menyisakan kenangan buruk yang tak bisa dilupakan. Hari ini, subuh subuh begini rere sudah bangun, setelah melaksanakan shalat subuh, rere diam di jendela kamarnya yang menghadap ke jalanan kompleks, tiba tiba terlihat oleh rere, rendra sedang berjalan, mungkin ia habis melaksanakan sholat subuh. Tak terduga, rendra melihat ke arah rere “Oh my god, harus gimana ini? Senyum? Ah ntar dikira gua cewek apaan lagi, cuek? Ntar disangka sok jual mahal, oh tuhaaan bantu akuu” gumam rere. Rendra melambaikan tangan ke arah rere, mengisyaratkan pada rere agar turun ke bawah dan menemuinya. Entah iblis apa yang merasuki rere, tiba tiba ia menuruti mau rendra, ia pun mengajak rendra untuk ngobrol di gazebo rumah rere.“Re?” Tanya rendra pelan, memecah keheningan dan rasa canggung yang ada. “Ya” balas rere singkat. Ia tak mau memperpanjang urusannya lagi dengan rendra. “Aku tau aku salah, aku.. aku gak tau.. rasa gila ini muncul begitu saja re” ujar rendra putus asa. “Maksudnya apa?” “Aku mutusin kamu bukan karena sosial media kamu yang difollow lebih dari 3000 orang, tapi karena aku… aku udah nggak cinta lagi sama kamu re” Deg. Sulit dan sangat sakit memang. “Itu karena aku, aku mencintai orang lain, dan orang itu sahabat kamu sendiri re, rasti. Maafkan aku..” Ya tuhan, hantaman apa yang mengenai jantung dan ulu hati rere? Semua ini sulit dicerna oleh akal sehat, orang yang ia cintai dengan sangat malah mencintai sahabatmu sendiri. “Bagus deh, kamu udah berhasil nyari yang lebih dari aku, langgeng ya” ujar rere sambil tersenyum getir “Aku masuk ya, dingin mau tidur lagi, aku cape” ujar rere sambil berlalu “Ya tuhan apa ini semua? Ini sangat menyakitkan bagiku, ini.. sulit sekali” rere terisak kembaliSegera ia membawa ponselnya dan menghubungi rasti “Pantes kemarin kamu slow respon pas aku curhat tentang rendra, pantes kamu nggak kayak biasanya, ternyata, kamu … busuk ras, makasih semuanya terutama lukanya” “Re? Apa? Enggak kok enggak?” “Enggak apa? Enggak ngaku?”Selang sepuluh menit status rasti berubah menjadi ‘Rendra Akbar?’ “Ya tuhaaan cobaan apalagi ini” rere memukul kaca kamarnya hingga pecah, darah mengalir dari tangannya. Perih? Ya tapi tak seperih luka yang mereka buat untuk rere.Hari ke hari, rere mulai bisa melupakan rendra dan rasti walau hanya 2 % dari 100 %. Tapi tak apa, itu awal yang bagus. Hari itu, rere hendak membeli es krim yang terkenal di daerahnya, di daerah taman cinta. Mungkin jomblo seperti rere salah memasuki taman, di taman cinta orang orang berpacaran sana sini, tapi masih batas wajar. “Sial, salah masuk taman, harusnya ke taman jomblo nih gua” gumam rere sambil menyantap es krimnya. Tiba tiba rere melihat rasti dengan rendra di sana. “Rere?” Tanya rasti Rere mencoba menghindar dari mereka, bukan menghindar dari permasalahan, tapi menghindar dari rasa sakit.“Re, maafin gue, ini soal hati ini soal rasa” ujar rasti “Selow udah gua maafin kok, btw gua harus pergi” Rere berlari meninggalkan mereka hingga ia bertabrakan dengan seseorang, rere terjatuh dan es krimnya mengenai baju pria itu, aduuuh kejadian yang, argh you know laah. Saat rere memberanikan menatap pria tersebut, rere seperti sedang mengingat ngingat sesuatu, ia seperti tak asing dengan pria yang sedang tersenyum simpul ke arahnya itu. “Rere kan?” Tanya pria tersebut “I..iya” jawab rere “Anaknya tante yeni sama ayah yadi kan?” Pia tersebut kembali bertanya. Rere hanya mengangguk bingung, sebuah titik terang akhirnya menerangi suramnya otak rere. “Mungkin dia? Azka? Tapi gak mungkin lah dia kan di solo” gumamnya dalam hati “Hello, ngelamun bu? Lupa lagi sama temen lo yang ganteng ini? Yang sering maen soap bubbles sama lo, yang sering maen bubble gum” “Ya tuhan, az… azka?” Tanya rere Dia hanya tertawa sambil membantu rere berdiri. “Azka kan? Azka aditia pratama?” “Iyaa rere adilla” “Bukan…nya dii… s..solo ya” “Udah pindah, kita tetanggaan reee” “Serius? Kapan pindah dan di mana?” “Kemarin, di ujung komplek. Lo gak tau?” Rere hanya menggeleng senang, sahabatnya akhirnya kembali, teman masa kecil yang dipisahkan oleh jarak.Hari ke hari mereka semakin dekat, azka menghapus perlahan luka luka yang tertanam di dalam diri rere, mengubah rere ke rere yang dulu. Hingga suatu hari saat azka sedang berada di gazebo rumah rere, datang rasti dan rendra, rere uanh semula tertawa mendadak bermuram durja kembali. Azka menoleh ke arah di mana rasti dan rendra berada. Azka mengepal tangannya, rahangnya mengeras, sadar akan azka, rere buru buru menahan azka, memandang lembut pria tampan itu dan berkata “everything will be oke”Rasti dan rendra menghampiri mereka “Re, sorry gua emang sahabat yang gak tau diuntung.. so..ry” rasti terisak. Ia hendak sujud di kaki rere tapi dengan sigap rere memeluk rasti erat. “Gua udah maafin kalian kok” Ada pancaran rasa bangga yang terpatri di hati azka, rere yang ia kenal memang sudah banyak berubah, ia semakin memantapkan pilihan hatinya pada gadis cantik ini. Mereka tersenyum, senang memang bisa berbaikan dengan sahabat sendiri. “Ciyeee yang punya pacar baruu” goda rasti. “Paan sih ras, sahabatan kok, ya kan ka?” Ujar rere “Tapi gua gak mau cuma jadi sahabat elu re” ujar azka “So? Jadi sodara? Atau abang?” “Gua mau jadi someone yang spesial di hati elu. Jadi orang yang selalu elu sayang, selalu lo fikirin. Gua sayang elu re, gua tau ini kecepetan tapi please jangan pernah lo nyama nyamain gua sama cowok lain, gua beda re, gua bener bener sayang sama lo, dan gua janji gak kan pernah bikin lo sedih apalagi sampe bikin air mata lo keluar buat yang kesekian kalinya.” “Ka? Lo nggak lagi becanda kan?” “Gua serius rereee” “ya udah terima aja ree dibuang sayang” goda rasti. “Iya” “Apa re? Gua gak denger?” Tanya azka “Iya azka aditia pratama, gua mau jadi pacar elu” “Oh baby.. i think i wanna marry you” goda azka. “Sekolah dulu yang bener bego” ujar rere. Mereka tertawa, rere sudah sangat memaafkan rasti dan rendra.“Rendra?” Tanya rere “Ya?” “Gua gak mau kita jadi musuh, ya walau jujur gua sakit karena kalian, tapi gua pengen terus sahabatan sama kalian” Rendra tersenyum simpul Rere pun kembali pada azka, kembali duduk berdua, azka berkata dengan tiba tiba “Menjadikan sahabat jadi pacar itu adalah ketulusaan, tapi menjadikan mantan jadi sahabat itu kedewasaan. Belum tentu lho orang di luar sama kayak kamu re, aku sayang kamu, sangat” “Aku juga sayang kamu ka, lebih dari sangat”

Malam Minggu Yang Menyakitkan
Romance
23 Nov 2025

Malam Minggu Yang Menyakitkan

Tepat pada malam minggu dengan gemerciknya suara hujan Ulo dan Mabi seperti biasa selalu sms-an. Ditengah kedamaian tersebut, Ulo ingin membicarakan sesuatu dan disitu pun perasaan mabi sudah tidak enak.“Mabi aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, tetapi aku ingin berbicara secara langsung.” ajak Ulo. “Ingin membicarakan apa? Bicarakan saja sekarang.” jawab Mabi. Tetapi Ulo hanya ingin berbicara secara langsung dan permasalahannya Mabi besok akan ada acara bersama teman-temannya. Dan akhirnya Mabi pun menolak secara perlahan. “Mau membicarakan apa?” dengan perasaan sedikit kesal. Ucap Mabi. “Tapi aku ingin membicarakannya secara langsung.” dengan keras kepalanya dia membalas seperti itu. Jawab Ulo. Dan Mabi pun setelah melihat pesan tersebut, dia berfikir hingga lama membalasnya.Ulo pun beberapa menit kemudian mengirim pesan dan membuat Mabi terkejut dengan pesan tersebut. Isi pesannya yaitu “Sudah ya Mabi, kau lupakan aku saja mulai sekarang dan aku pun akan melupakanmu. Karena percuma saja kita mempunyai perasaan spesial tetapi tidak dapat bersatu. Mulai sekarang lupakan aku ya, walaupun itu sakit dan susah tetapi kita harus melupakannya.” Itulah pesan yang dikirim Ulo. Mereka berdua pun mulai saling adu mulut karena keputusan tersebut. Dan Mabi pun mulai berfikir “Mengapa di saat malam yang sedamai ini hal seperti ini bisa terjadi.” dengan banyak pertanyaan yang bermunculan. Dan Mabi pun mulai berfikir bahwa Ulo mempunyai teman dekat cewek namanya Ica. Mereka selalu sms-an seperti kami. Kelihatannya sih Ica dan Ulo di pesannya terlihat romantis, saling perhatian antara keduanya, dan disitu pun Mabi mulai merasakan kembali rasanya sakit hati.Akhinya pun Mabi mengirim pesan kepada Ica, walaupun perasaannya sedang tidak enak, dia tetap mengirim pesan dengan cara baik-baik kepada Ica.“Assalamualaikum.” ucap Mabi. “Waalaikum salam, iya apa?” balas Ica. “Tidak, tidak apa-apa.” jawab Mabi.Beberapa menit kemudian hp Mabi pun berdering terdapat pesan masuk. “Iya Ulo kamu mau nonton?” pesan Ica.Melihat pesan baru itu Mabi semakin sakit dan mungkin Ica salah kirim seharusnya dikirim ke Ulo ini malah ke Mabi. Disitu pun Mabi tidak membalasnya dan Ulo pun tidak mengirim pesan lagi kepada Mabi. Mungkin dia sedang bersama Ica, Mabi pun dengan perasaan yang sakit dan lelah dengan semuanya dia pun tertidur dengan selalu memikirkan Ulo.Keesokan harinya Mabi dan Ulo untuk sementara tidak tidak saling mengabari dan Mabi merasakan kembali rasanya kesepian.

Malaikat di Tengah Hutan
Romance
23 Nov 2025

Malaikat di Tengah Hutan

Lima hari perjuangan mengahadapi soal ujian yang mengerikan sudah berlalu. Aku tidak perlu takut kepalaku menguap lagi karena terlalu fokus memikirkan soal. Aku duduk di atas kursi plastik warna putih. Kursi sejuta umat yang dapat kau kenali dengan mudah hanya dengan melihatnya. Akun permainan berlevel tinggi terpampang di layar komputer kesayangan. Sejumlah cemilan ringan tergeletak di samping keyboard warna-warni edisi terbaru. Event spesial akhir pekan yang kutunggu-tunggu telah dimulai. Aku dapat menyelesaikannya dengan mudah jika aku bermain beberapa jam. Seharusnya itulah rencana hari ini.Tapi, kenapa aku berada di tempat entah berantah ini? Pemandangan penuh dengan warna hijau terasa asing di depan mata. Pohon-pohon besar menjulang tinggi di sisi kiri dan kanan. Rindangnya pepohonan menyembunyikan langit dari pandangan. Sinar matahari yang seharusnya sedang terik-teriknya tidak mampu menembus kanopi hutan. Aku yang terbiasa berdiam diri di dalam ruangan kini berada di tengah hutan.Lama aku berjalan menyusuri jalan setapak ini. Jalur yang hanya terbuat dari tanah, becek karena air, sisa hujan semalam. Beberapa kubangan air berwarna coklat terlihat sepanjang jalan. Aku melangkah, berhati-hati, menjaga langkah agar tidak terjatuh. Aku tidak mau kamera yang kubawa di dalam tas selempang rusak. “Kenapa tadi malam harus hujan, sih?”Seorang gadis yang dari tadi ikut berjalan di belakangku mengungkapkan kekesalannya. Gaun pendek ala gadis perkotaan yang dipakainya terlihat mencolok di tengah lebatnya hutan. Kulit kaki serta tangannya terbuka, tak terlindungi dari ancaman serangga yang bisa saja menyerang. Salah satu tangannya menenteng dua buah sepatu hak tinggi kotor. Tangannya yang lain sibuk memegangi bajuku, takut terjatuh. Nama gadis itu adalah Melisa. Kami bersekolah di tempat yang sama. Aku tidak bisa mengatakan kalau kami berdua dekat. Hubungan kami hanya sebatas kakak dan adik kelas.Lalu, kenapa kami berduaan di dalam hutan? Jawabannya simpel: aku terpaksa. Semenjak kemarin pagi, Melisa terus memohon padaku menemaninya berfoto untuk perlombaan, katanya. Melisa yang aku kenal memang seperti ini. Dia selalu memintaku melakukan hal yang ia katakan, bahkan semenjak pertama kali kami mengenal. Mulai dari menemaninya belajar soal ujian di perpustakaan, sampai harus mendengarkan curhatannya semalaman. Aku yang tak terbiasa berargumen tidak dapat menolak permintaannya. Begitulah hari ini, sekali lagi, aku menjadi budak pesuruh yang menuruti semua kemauan Melisa.“Sudah kubilang, jalannya akan seperti ini kalau habis hujan.” ucapku mencoba menenangkannya. “Mau pulang saja?” aku berhenti sejenak dan mengalihkan pandanganku kepada Melisa. “Enggak mau. Kita harus melakukannya hari ini” jawabnya menolak.Melisa mendorong tubuhku sedikit ke depan, memaksaku terus berjalan. Deras aliran air terdengar lemah dari kejauhan. Mungkin Melisa tidak mau kembali karena kita sudah dekat? Tempat yang kami tuju, menurut informasi Melisa, adalah sungai kecil yang berada di tengah hutan. Air sungai itu bening. Bebatuan besar menghiasi di sepanjang tepiannya. Belum banyak orang yang mengetahui keberadaan sungai itu karena letaknya yang tersembunyi dan sedikit jauh dari pemukiman.Kami kembali melanjutkan perjalanan. Suara aliran sungai semakin terdengar keras di telinga. Tidak lama kemudian terlihat tempat yang kami tuju. Sungai kecil dengan bebatuan berwarna abu-abu kehitaman di pinggiran, sesuai perkataan Melisa. Air sungai itu berkilauan, memantulkan cahaya surya. Langit biru dengan sedikit awan di atas sungai tak tertutupi kanopi hutan. Latar rindang hijaunya hutan menambah keeksotisan tempat ini. Kicauan burung hutan bercampur gemercik air yang terus terdengar dari aliran sungai, menciptakan kesunyian yang menenangkan.Kami terdiam di tepi sungai. Kupejamkan mataku menikmati suasana yang jarang kurasakan ini. Mengikuti permintaan Melisa untuk datang kesini sepertinya bukanlah hal yang buruk. Suasana asri alam yang belum terjamah manusia memberikan ketenangan. Kedamaian seolah merasuk ke dalam jiwa.“Kak, cepetan foto” Saat aku kembali membuka mata, Melisa sudah berada di atas salah satu batu besar, menyuruhku untuk memotretnya. Melisa duduk di atas batuan besar itu dan mulai berpose menyilangkan kaki. Aku ambil kamera dari dalam tas, bersiap memfoto. Senyum manis terlihat dari balik kamera.Klik Figur gadis kota duduk di atas batu pinggir sungai tersimpan dalam kameraku. Melisa kembali berdiri, membersihkan bagian belakang pakaiannya dan menuju ke arahku. Kuperlihatkan hasil tangkapan gambar kepadanya.. “Jelek. Ulang lagi.” Aku menghela napas. Jika Melisa ingin aku memfotonya, aku tahu bahwa aku harus melakukannya berulang kali.Kami mengulangi hal yang sama, tentunya dengan sedikit variasi. Mulai dari berdiri di atas bebatuan sungai sampai berpindah tempat ke tengah sungai yang ternyata tidak terlalu dalam. Semua untuk mendapat hasil foto yang bagus.“Mel, berhenti sebentar. Istirahat” ucapku Aku duduk di salah satu batu besar. Aku memilih tempat yang teduh tertutupi pohon agar tidak kepanansan. Kutaruh kamera di sampingku dan mengajak Melisa ikut beristirahat. Meskipun Melisa awalnya menolak, setelah melihat aku yang kelelahan, ia memilih untuk ikut beristirahat. Dia duduk di sampingku, di atas batu yang sama denganku.“Jadi gimana? Tempatnya bagus, kan?” tanya Melisa antusias. “Iya. Bagus” jawabku singkat. Wajah Melisa terlihat cemberut mendengar jawabanku. Aku berpura-pura tidak tahu. Aku mengalihkan pandanganku ke sungai. Arus sungai mengalir tenang, tidak terlalu deras walau semalam hujan. Ikan-ikan kecil sesekali terlihat bersembunyi di sela-sela bebatuan. Terkadang daun yang jatuh dari pohon, hanyut terbawa arus sungai. Melihat hal biasa seperti itu entah kenapa memberikan ketenangan tersendiri.Kembali aku memikirkan hubunganku dengan Melisa. Kenapa dia selalu datang padaku dengan dengan berbagai keinginnnya? Kenapa ia tidak meminta teman sekelas atau orang lain? Kebanyakan permintaannya mengharuskan bersama dengannya sendirian. Bagimana ia terus meladeni sikapku yang kata orang dingin dengan selalu memasang senyum hangat. Seolah Melisa mencoba menarik perhatianku untuk terus tertuju padanya.“Kak” Suara kecil Melisa memanggil, memecah aku yang terfokus dalam pikiran. Kepalaku spontan menengok ke arah suara itu berasal. Klik Suara jebretan kamera terdengar. Kamera yang tadinya keletakkan di sampingku kini berada di tangan Melisa. Kamera itu menutupi sebagian wajah Melisa, kulihat sebelah matanya menutup dan yang lain berada dibalik kamera. Melisa memfotoku diam-diam.“Ah, kok eggak senyum sih, kak? Enggak jadi bagus hasilnya, deh.” gerutu Melisa. Merasa tidak puas dengan hasil foto yang baru ia ambil, Melisa mengalihkan perhatiannya ke kamera. Ia melihat satu-persatu gambar dirinya yang telah kuambil sebelumnya. Sesekali ia mengomel jika melihat gambar yang tidak bagus. Kemudian, ia langsung tersenyum saat melihat foto dirinya yang bagus, memujinya berlebihan.Aku melihat semua itu dari samping. Sebuah perasaan memaksaku untuk terus memandangi hal yang ia lakukan. Mengamati bagaimana dengan mudah wajah itu berganti-ganti ekspresi. Caranya menyikapi sesuatu secara berlebihan, penuh dengan jiwa, tidak pernah membuatku jenuh.“Kenapa, kak?” Alis Melisa naik seraya pertanyaan itu keluar dari bibirnya. Terlalu lama aku memandangnya mungkin membuatnya merasa aneh. Tetapi, pandanganku menolak untuk beralih. “Enggak apa-apa” jawabku.Tanpa kusadari kedua ujung bibirku naik ke atas, menciptakan lengkungan senyum sederhana. Entah Melisa memang suka memanfaatkan orang lain untuk kepentingannya sendiri, atau ia memang menginginkanku untuk memperhatikannya. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran Melisa. Hal yang kutahu dengan pasti adalah keseharianku yang membosankan terasa menjadi lebih berwarna setiap kali aku bersamanya. Ocehan gundah, gerutu yang menyebalkan, senyuman manis, hal yang menurutku asing untuk kurasakan ada pada dirinya. Dia seolah membuatku tidak sabar dengan hal asing apa yang ia perlihatkan lagi padaku. Semua itu membuatku tertarik.“Kamu cuma kelihatan cantik”Di dalam kedamaian hutan, di pinggir aliran sungai yang menghanyutkan, di atas batu besar nan kokoh, sosok malaikat yang tanpa sadar membuatku terpikat memiringkan kepalanya kebingungan.

Cinta Dalam Diam
Romance
23 Nov 2025

Cinta Dalam Diam

Hai, namaku Azhar. Aku adalah mahasiswa ngetop di Fakultas Ekonomi, alasan ngetopku bukan karena wajahku yang tampan tapi karena IP ku yang selalu 4,0 di setiap semesternya. Bagaimana tidak 4,0 semua mata kuliah yang disampaikan dosenku bisa kuserap dengan mudahnya. Semua mata kuliah Ekonomi kukuasai dengan baik, bahkan tak jarang banyak temanku yang bertanya padaku. Tapi, dari sekian banyak yang kutahu hanya satu yang tidak kumengerti yaitu Riana.Riana adalah temanku kuliah sekelas. Jika kau mendengar namanya pasti kau akan mengira kalau dia adalah cewek yang ekstra feminin tapi kenyataannya jauh dari kata feminin alias tomboy abis. Setiap hari ia selalu membuat mataku malas dengan penampilan tomboynya. Semua teman perempuanku berpakaian selayaknya gadis pada umumnya namun tidak dengan Riana. Setiap hari ia memakai jilbab pendek instan, kaos oblong, celana jeans dan sepatu cats. Daann tidak pernah memakai make up sedikitpun di wajahnya. Rasa benciku padanya semakin memuncak saat papa membicarakan pernikahanku dengan Riana.“Tidak Pa. aku belum siap berumah tangga. Aku masih ingin kuliah pa, lagian sekarang aku masih semester 6” protesku “Iya, papa tahu tapi kalau kau menikah, kau kan bisa menunda punya anak dulu jadi no problem, kan” ucap Papa bersikeras “Aku belum bekerja Pa, mau aku hidupi dengan apa nanti dia? Lagian papa ini kenapa sih kok tiba-tiba mau menikahkanku dengan gadis yang tidak kukenal” “Zhar, papa ini sudah terikat janji dengan om Gito untuk menjodohkan anak kami jika lahir berlawanan jenis. Papa harap kau mengerti” “Siapa dia? Papa punya fotonya?” “Sebentar, fotonya ada di HP papa” ucap Papa sambil mengusap HPnya“Ini dia Zhar. Kau suka kan?” ucap papa sambil menyodorkan HPnya padaku “Riana?!” ucapku “Kau mengenalnya?” Tanya Papa dengan muka berbinar “Cewek ekstra tomboy yang membuat mataku malas melihatnya setiap saat. Nggak ada yang lain yang lebih jelek lagi pa?” “Hush! Ngomong apa kamu ini?” “Nggak Pa, sampai kapanpun Azhar nggak mau menikahinya” ucapku sambil berlalu meninggalkan papa dan tiba-tiba … bruk “Papa! Tolong-tolong papaku pingsan!”Cepat-cepat pak Darso, pak Ucin dan mbok Darmi membantuku menggotong papa ke kamar. Kemudian aku segera menghubungi dokter pribadi kami. Beberapa menit kemudian dokterpun datang. “Pak Handi hanya kelelahan saja Mas. Jangan khawatir. Saya bikinkan resep dulu ya nanti ditebus di apotek biasanya” “Baik dok”“Zhar.. Azhar” “Papa.. papa sudah sadar?” “Sudah, tapi masih sedikit pusing” ucap Papa dengan wajah pucatnya “Syukurlah pak kalau bapak sudah siuman. Bapak hanya kelelahan saja, tidak apa-apa kok pak” “Terimakasih dok” “Kalau begitu saya pamit dulu ya. Mari..” “Mari Dok”Setelah mengantar Dokter sampai ke pintu depan, aku kembali ke kamar Papa. Kulihat papaku sedang memikirkan sesuatu. Apakah sikapku tadi terlalu berlebihan padanya? “Pa, Azhar minta maaf kalau tadi Azhar sudah berlebihan ke Papa” “Tidak Zhar, papalah yang harusnya memikirkan perasaanmu. Kau sangat jijik pada Riana mana mungkin kau mau menikah dengannya” ucap Papa “Tapi pa, Azhar mau melihat papa sehat sudahlah pa biarlah Azhar menikah dengan Riana” “Kau yakin anakku?” “Yang penting papa sehat” ucapkuHari pernikahanku dengan Riana telah tiba tapi aku masih tetap saja illfeel melihat si gadis tomboy itu. Entahlah apa yang akan terjadi pada rumah tanggaku selanjutnya, karena aku berpikir pernikahanku bukanlah sebuah rumah tangga tapi sebuah kompromi kesehatan Papa. Rencanaku nanti malam aku akan tidur di sofa saja. Maafkan Azhar Pa..“Mas, aku perhatikan dari tadi pagi kau cemberut terus? Kenapa mas?” “Nggak papa” jawabku cetus “Ya udah kalau gitu aku tidur dulu mas. Selamat malam” “Malam”Keesokan paginya aku bangun tidur, kulihat tak ada Riana di kamar tapi ada selimut yang menyelimutiku, entah siapa yang melakukannya. Akupun bangun dan melipat selimut itu kemudian ke kamar mandi. Setelah bersih-bersih badan kulihat Riana di dapur sedang memasak. “Mas, sarapan dulu. Aku sudah buatin sarapan buat kamu Mas” ucap Riana ramah “Iya” jawabku singkat dan aku langsung sarapan“Oh iya Ri, setelah ini aku mau ke kampus” “Loh Mas bukannya sekarang nggak ada kuliah kan?” “Bukan urusan kuliah tapi yang lainnya” “Iya Mas”Jujur, setelah aku menikah dengan Riana aku merasa menjadi manusia pembohong besar. Bagaimana tidak aku telah membohongi Papa, diriku sendiri dan Nabila. Nabila adalah wanita terindahku. Di mataku, hanya Nabilalah yang pantas menjadi pendampingku bukan Riana si gadis tomboy.Sudah 3 bulan aku menikah dengan Riana dan tinggal satu atap bersamanya. Papaku menghadiahkan sebuah rumah kecil padaku sebagai hadiah pernikahanku. Bagiku, 3 bulan adalah waktu yang sangat panjang dan menyiksa. Aku sudah berusaha sekuat tenaga menahan diriku tapi aku tak bisa, hatiku tetap tidak bisa menerima Riana, hingga suatu ketika..Malam itu aku sedang duduk di ruang tamu sambil memandangi foto Nabila, tak terasa air mataku jatuh terurai dan entah sejak kapan Riana ada di belakangku.“Foto siapa itu Mas?” “Ri, ini foto Nabila” “Siapa dia Mas? Mengapa kau memandanginya sampai berlinang air mata?” Tanya Riana penasaran “Dia kekasihku. Ri, maafkan aku. Aku tidak pernah bisa mencintaimu karena hatiku telah dimilikinya” “Aku tahu mas. Sejak hari pertama kita menikah kau selalu cemberut bahkan aku juga tahu kalau kau sangat illfeel padaku. Kenapa kau tidak bilang sejak awal mas?” “Aku hanya mengkhawatirkan kesehatan Papa Ri tapi setelah 3 bulan aku tidak bisa” “Aku tahu kenapa kau tak bisa, pasti karena mbak Nabila sangat cantik dan kalau aku perhatikan dia gadis yang cerdas” “Kau benar Ri. Dia pernah membuat sebuah essay yang ternyata essaynya itu sekelas mahasiswa S2 padahal waktu itu ia masih kelas 2 SMA” “Wau pintarnya! Sekarang dia dimana mas?” “Dia menjadi mahasiswi fakultas kedokteran di Bandung”Riana terdiam, ia menatapku sambil berusaha tersenyum tenang kemudian ia duduk di sampingku. “Mas, sekarang apa rencanamu?” “Aku ingin kita bercerai Ri” “Apakah kau sudah memikirkannya masak-masak?” “Sudah Ri. Bagaimana menurutmu?” “Aku terserah padamu mas. Apapun keputusanmu aku ikut” “Aku sudah mantap Ri, aku ingin kita bercerai” “Baik mas aku akan beres-beres barangku dulu”—“Kau akan menceraikan Riana?” “Iya Pa aku sudah tidak bisa membohongi diriku lagi. Maafkan aku” “Lalu bagaimana dengan Riana? Apakah ia setuju?” “Dia menyerahkan semuanya padaku Pa. Apapun keputusanku dia ikut” “Baiklah nak, jika beberapa bulan yang lalu kau telah berkorban untuk Papa sekarang giliran Papa yang harus berkorban untukmu”Sertifikat duda sudah ada di tanganku, kini aku sudah terbebas dari belenggu menjadi suami Riana dan sudah tiba saatnya bagiku meyakinkan Nabila. Sore itu, masih libur semester aku mengajak Nabila bertemu di sebuah Café favorit kita.“Sayang, aku sudah bercerai dari Riana” “Mana buktinya?” “Lihatlah. Ini sertifikatnya” “Kau sangat membenci Riana?” “Iya sangat. Dia tak seperti yang aku inginkan, hanya kaulah yang aku inginkan sayang. I Love You” “Sayang, I love you to” ucap Nabila sambil menggenggam tangankuHari itu kurasakan kembali kebahagiaan yang telah lama hilang dalam hidupku, Nabilaku nafasku. Sebentar lagi aku sudah semester 7 lalu semester 8 dan wisuda kemudian aku akan berkerja supaya bisa dengan segera melamar Nabila. Semangatku kuliah sangat menggebu-nggebu bahkan akupun mulai mencari lowongan kerja khusus S1 Ekonomi.Semangatku membuahkan hasil juga, tepat semester 7 lebih 3 bulan skripsiku sudah selesai dan akupun juga sudah mendapat panggilan kerja di sebuah perusahaan ternama. Oh iya, seusai bercerai denganku Riana tetaplah Riana gadis tomboy dengan sejuta tawa. Ia masih saja bercanda dengan kawan-kawannya seputar film komedi. Riana.. Riana kau tetap saja tak bisa berubah.Hari itu kudapati Riana tengah bercanda seputar film komedi dengan kawannya di koridor kampus. Aku perhatikan ada yang lain dengan pakaiannya, sepertinya pakaian itu adalah seragam karyawan love café.“Apa kabar Ri?” “Oh.. Mas. Kabarku baik? Mas gimana kabarnya?” “Baik. Kau sekarang sudah kerja Ri?” “Iya Mas di Love Café, lumayan mas bisa buat bayar kuliah dikit-dikit” “Sejak kapan Ri” “Sejak bercerai denganmu. Daripada diem nggak ada kesibukan mending aku kerja” “Ooo” “Kamu gimana Mas? Nglamar kerja dimana?” “Aku udah dapat panggilan kerja di perusahaan ternama di Bandung Ri” “Wahh jauh banget mas tapi Mas jadi dekat dengan mbak Nabila dong” “Iya rencananya aku mau menikahinya 2-3 bulan lagi. Do’ain ya Ri” “Iya Mas semoga lancar” ucap Riana sambil tersenyum manisHari ini adalah hari wisudaku, hari dimana aku mendapat gelar Sarjana dan bukan hanya itu, di hari itu juga aku mendapatkan sebuah pelajaran besar yang telah meruntuhkan keangkuhanku. Pagi itu wisudaku dilaksanakan di sebuah gedung kebanggaan kampus. Aku duduk di salah satu kursi yang telah disiapkan dan tanpa kusadari wisudawati sebelahku adalah Riana.“Riana” “Hei Mas. Kamu datang ke sini sama siapa?” “Sama Papa dan Istriku, Ri” “Istri? Mbak Nabila sudah menjadi istrimu mas?” “Iya. Kami menikah sudah sebulan yang lalu” “Alhamdulillah. Selamat ya Mas. Semoga awet sampai surga” “Amin. Makasih do’anya” “Sama-sama Mas”Para perwakilan kampus satu persatu memberikan sambutannya pada wisudawan dan wisudawati, ya kurang lebih mereka menghabiskan waktu 2 jam. Kulihat Riana sudah tidak betah ingin ke kamar mandi. “Mas, aku ke kamar mandi sebentar ya” ucap Riana berlalu begitu saja meninggalkanku. Lama sekali ia belum kembali ke kursi wisudawati, aku takut dia tertinggal prosesi pemberian ucapan selamat dari Rektor, tanpa pikir panjang kutelfon dia ternyata HPnya tertinggal di kursi. Kuambil HP itu dan… “Ri, tadi HPmu tertinggal” ucapku sambil menyodorkan HP Riana. “Makasih ya mas” ucap Riana gugup“Kenapa kau sembunyikan perasaanmu dariku Ri? Kenapa kau tak pernah bilang kalau kau sayang padaku?” “Mas, kau bicara apa? Aku tak mengerti” “Ri, kalau kau tidak menyayangiku kenapa kau menyimpan kontakku dengan nama yank? Dan kau juga memakai fotoku sebagai foto desktop hp” ucapku menatap Riana lekat-lekat tapi Riana masih gugup dan bingung.“Mas, sejak dulu aku memang sayang sama kamu. Cita-citaku adalah hidup bersamamu tapi setelah menjadi istrimu aku mengerti kalau di hatimu hanya ada mbak Nabila. Jadi, aku harus melepasmu” “Apakah hatimu tak sakit melihatku dengan Nabila?” “Kalau sakit, iya memang sakit mas tapi rasa sakit itu hanya di awal saja, seiring berjalannya waktu rasa sakit itu akan berubah menjadi bahagia karena aku telah melihatmu bahagia dengan pilihanmu”“Bagaimana bisa kau melakukan itu untukku?” tanyaku berlinang air mata “Mas, jika kita mencintai seseorang kita tidak boleh egois karena keegoisan kita akan menyakiti hati orang yang kita cintai dan aku tidak ingin menyakitimu terlalu lama” “Kenapa ini harus terjadi sekarang, Ri? Kenapa ini harus terjadi saat aku sudah menikah dengan Nabila? Seandainya kuketahui sebelum kumenikahi Nabila pasti aku akan memilihmu, Ri” ucapku menahan sesaknya isak “Sudahlah mas, anggap saja yang tadi itu adalah angin lalu yang penting sekarang adalah rumah tanggamu dengan mbak Nabila. Tugasmu adalah menjaganya supaya tetap kuat, cukuplah denganku yang retak jangan dengan mbak Nabila” ucap Riana sambil tersenyum menahan tangis “Iya Ri akan kujaga rumah tanggaku. Maafkan aku, Ri” “Iya Mas, aku sudah memaafkanmu sejak dulu”Kupandangi wajah tenang Riana, sosok wanita yang pernah hadir di hidupku walau hanya sekejap tapi ia telah mengajarkan satu hal yang berarti padaku. Jika ingin bahagia dalam bercinta, maka buanglah keegoisan. Maafkan aku Riana..

Gadis Tribute Hall
Romance
23 Nov 2025

Gadis Tribute Hall

Semakin ku membuka mata, rasa sakit itu semakin menjadi-jadi. Kakiku seperti akan meledak. Ku merasa berjam-jam lamanya aku tidak sadarkan diri dalam posisi berdiri dengan tali tambang yang melilitku dan tiang besi yang tegak berdiri menyangga tubuhku. Tali itu membuat kemeja kotak-kotak dan jeans panjang yang kukenakan hampir tak terlihat. Aku seperti mumi yang menyedihkan. Dadaku mulai sesak. Anggota tubuhku sama sekali tak bisa digerakkan. Hanya kepala yang dapat kugerakkan dengan sempurna ke atas, ke bawah, ke samping kanan atau ke samping kiri. Beruntung, seluruh alat indraku masih bisa berfungsi dengan cukup baik. Tak jarang ku mendengar suara samar-samar jangkrik dan burung hantu dari luar.“Baiklah, sekarang bau badanku seperti bau badanmu, tiang bodoh!”, gumamku. Aku seperti membodoh-bodohkan diriku sendiri. Aku sedikit melirik lampu corong redup yang digantungkan tepat sejengkal di atasku. Sangat dekat. Aku sama sekali tidak merasakan panasnya lampu yang memancar. Entahlah, mungkin saja panasnya lampu dan dinginnya malam itu membuat suhu di sekitarku menjadi netral. Ruangan itu sangat gelap. Sinar lampu itu hanya mampu menyinari tubuh dan tiang di belakangku. Hal itu membuat siapapun atau apapun dapat melihatku dari kejauhan. Aku hanya dapat melihat dengan jarak pandang sekitar 5 meter saja. Selebihnya, gelap.“Hei apa-apaan ini! Sam, Nick? Ayolah, aku tak sedang ulang tahun,” suaraku menggema ke seluruh penjuru ruangan. Kurasa ruangan ini semacam aula atau sejenisnya. Yang pasti ruangan ini cukup luas. Tak biasanya teman-temanku mengerjaiku sekejam ini. Yah, memang mereka kadang melampaui batas. “Istirahatku sudah selesai, kawan. Keluarlah dan lepaskan aku. Aku susah bernapas,” kataku sambil menggerak-gerakkan tubuhku dengan percuma. Selang hitungan detik setelah itu, aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahku. Semakin lama, suara itu semakin jelas, lalu berhenti. Kurasa seseorang sedang mengawasiku. “Hei, siapa saja yang datang tolong aku. Keluarlah! Aku tak bisa – Arrrgggghhhh,” Tiba-tiba ada seseorang berlari dan menyundul perutku dari depan. Ku menutup mata menahan rasa sakit di perutku. Belum sampat ku melihat pelakunya, dia menamparku bertubi-tubi. Disela-sela tamparannya ia mengayunkan kepalan tangannya tepat ke wajahku. Akibatnya, kepalaku menghantam keras tiang yang sedari tadi masih setia di belakangku. Ku merasakan darah segar mengalir lewat kedua lubang hidungku. Tak hanya kaki, sekarang kepalaku pun ikut meledak sebentar lagi. Ku berusaha membuka mataku untuk kesekian kalinya. Seorang gadis sedang berdiri tepat di depanku. Gadis itu mengenakan jaket berwarna merah dan celana training berwarna hitam. Dia menyeringai ke arahku.“Kau… bukan temanku,” kataku sambil berharap dapat menunjuk wanita itu dengan jari tengah yang kupunya. “Joey, Apa kau ingat sesuatu, Joey?” kali ini namaku disebutnya lebih dari sekali. Gadis itu berputar-putar mengelilingiku dan tiang bodoh yang masih menemaniku. Melihatnya berputar-putar membuatku aku teringat kejadian yang menimpaku sebelumnya.Lewat tengah malam, aku memperoleh pesan singkat dari nomor Rossy. Dia meminta tolong padaku untuk menjemputnya di Jalan Wrightstone karena ia baru saja mengalami kecelakaan. Tanpa berpikir panjang, aku menyalakan mesin mobil dan pergi untuk menjemputnya. Namun, tak ada seorangpun di Wrightstone. Saat ku keluar dari mobil, ada sesuatu yang menancap di bahuku. Hanya itu yang kuingat sebelum aku bertemu gadis sialan di tempat ini.“Mana temanku, Nona?” seketika kuteringat Rossy. “Teman? Bukankah aku temanmu?” gadis itu tertawa terbahak-bahak. “Gampang juga membuatmu menyalakan mesin mobil dan menemuiku,” kata gadis itu sambil memainkan rambut hitamnya. Untuk kesekian kalinya aku ditipu oleh seorang gadis. Entahlah, yang ini sedikit berbeda. “Apa Rossy pacarmu?” wajahnya mendadak serius. “Apa yang kau lakukan padanya?” “Tenang Bung. Kau ingin tau apa yang sedang dilakukan Rossy-mu itu? Mungkin dia sedang memimpikan dirimu sekarang,” kalimatnya membuatku sedikit lega. “Nomor itu…” aku mulai teringat sesuatu. Handphone Rossy hilang beberapa hari yang lalu. “Aku yang mencurinya. Kenapa? Kau ingin memukulku sekarang?” katanya. “Aku tak akan berani memukul seorang gadis. Walaupun gadis itu sesialan dirimu,” kataku.Seketika raut wajah gadis itu berubah. Aku mendengar kalimat yang lirih keluar dari mulutnya “Joey, aku cemburu,” “Apa maksudmu?” “Apa kau tak ingat padaku? Ingatanmu payah. Selain tampan, kau juga bodoh, Joey,” tanyanya yang kemudian memujiku lalu menghinaku. Aku hanya menggeleng pelan. Benar saya, pukulannya tadi membuat otak kiriku berantakan. Sebuah nama tempat disebutkannya, “Tribute Hall,” “Emma,” sontak aku menyebut sebuah nama saat ku mendengar Tribute Hall. Namanya Emma, gadis sialan ini bernama Emma. Dia hanya tersenyum.Aku dan Rossy bertemu Emma seminggu yang lalu di Tribute Hall, aula beladiri yang ada di kota Redburn. Rossy memperkenalkanku pada Emma. Kesan pertama aku tak merasakan keanehan. Dan sekarang, apa yang dia lakukan? Cemburu? Padaku?“Apa kau ingin bernostalgia denganku malam ini, Joey?” “Aku sedang tak ingin. Bicara saja. Apa urusanmu?” “Apa kau menjalin kasih dengan Rossy?” untuk kedua kalinya dia menanyakan hal yang sama dengan susunan kalimat yang sedikit berbeda. “Ya. Dia kekasihku. Ada masalah?” “Kau membuat diriku membenci dirinya. Terlebih dengan dirimu,” suaranya sedikit bergetar. “Aku tak mengerti,” kataku sambi mengernyitkan dahi. “Tempo hari, aku mengajak Rossy makan malam. Aku menungguinya di restoran hampir semalaman. Disaat yang bersamaan, aku melihatmu menggandeng tangan seorang gadis. Gadis itu adalah Rossy. Sejak dia mengenalmu, dia menjauhiku,” gadis itu menangis. Ruangan itu seketika hening. “Aku masih tak mengerti,” kataku. Emma mendekatiku. Sangat dekat. Suara nafasnya terdengar jelas di telingaku. Lalu dia membisikkan sesuatu padaku, “Kau merebutnya dariku, Joey. Aku mencintainya” kalimat terakhirnya membuat mataku terbelalak. Seluruh tubuhku bergetar. “Emma, kau…,“ “Rossy milikku!,” Tiba-tiba Emma menancapkan sebuah jarum suntik di bahuku.

Bintang, Bulan dan Langit Malam
Romance
23 Nov 2025

Bintang, Bulan dan Langit Malam

“Biarkan aku jadi yang terhebat, jadilah kamu kekasih yang kuat …” Pandanganku terpaku ke arah panggung. Tepat pada seorang cowok yang sedang bernyanyi. Suaranya begitu merdu, raut wajah yang menghayati setiap lirik pada lagu, dan petikan gitarnya, membuatku terhipnotis pada pesonanya. Entah sudah berapa menit yang kuhabiskan tanpa berkedip saat menatapnya.Dia serupa bulan, bersinar di antara ribuan bintang. Dan aku bersyukur, berada di tempat yang dekat dengannya. Kembali, kuingat kerasnya perjuangan untuk membuatnya menyadari kehadiranku.“Ini,” ucapku seraya meletakkan buku paket pada mejanya. Dia lalu mengambil buku itu tanpa bertanya, membuatku menghembuskan napas, kesal. “Kamu kerjain nomor 1 sampai 10 dan aku akan melanjutkan nomor 11 sampai 20, praktekan dulu setiap petunjuknya dan jawab sesuai dengan hasilnya. Aku nggak mau terima jawaban yang hanya sekadar ditebak saja,” jelasku panjang dan lebar. Dia mengangguk tanpa menoleh padaku. Yaa, sepertinya handphone yang berada dalam genggamannya begitu penting daripada kerja kelompok. Aku beranjak menjauh dari bangkunya, sambil mendengus keras sebab tingkahnya yang cuek.“Ini,” ucapku sambil memberikan sebatang pensil padanya. Saat itu sedang berlangsung pelajaran biologi, dan tugas kami menggambar organ-organ pencernaan tubuh pada manusia. Tugas yang begitu rumit karena aku tak terlalu pandai menggambar. Namun disaat rumit seperti itu, aku masih sempat memperhatikan sekilas raut gelisah pada wajahnya. Sungguh miris, sebab setelah aku melakukan hal yang menurutku tepat, yang dibalas hanya anggukan dan menerima pensil yang kuberikan. Tanpa kata-kata lebay yang biasa diucapkan oleh teman-temanku saat aku memberikan sedikit bantuan. Bukan bermaksud mengharapkan ucapan lebay atau kata terima kasih, tapi respon mengangguk, menerima pemberianku, lalu segera terjun pada kesibukan yang ditugaskan guru sungguh membuat kesan seakan aku adalah tempat pensil. Sudah semestinya dia mendapatkan pensil dariku.“Aku manusia yang membutuhkanmu, membutuhkanmu. Hatiku memainkan pandang hanya padamu, pada hatimu …”Sungguh, tak masalah jika aku hanya menjadi sebuah sandaran di saat kau butuh beristirahat sejenak dari kepenatan hidupmu. Sungguh, aku tak apa-apa. Asal kau tetap di sisiku.“Terima kasih Mrs. Ini,” ucapnya sambil terkekeh. Saat itu adalah kali pertama dia menyapaku, dari sekian banyak cara yang telah kucoba, untuk membuat dia memandangku. Mrs. Ini. Aku tersenyum mendengar julukannya padaku. Kuharap langkahku untuk menepati satu bagian dari hatinya, akan mulai berjalan lancar.“Jangan lelah, menghadapiku. Biarkan aku jadi yang terhebat, jadilah kamu kekasih yang kuat. Genggam tanganku, bernyanyi bersama. Karena kamu kekasih terhebat …”Bulan hanya bersinar untuk langit malam. Dan bintang ada hanya untuk memperindah langit malam dan menemani bulan di sepanjang ia bersinar.Ia tersenyum setelah menyanyikan lirik terakhir. Dan aku hanya mampu terpaku pada senyumnya. Yaa, hanya itu yang dapat kulakukan, karena senyumannya dan setiap lirik yang ia nyanyikan bukan untukku. “Love you …” Kulirik gadis yang membalas senyumannya seraya mengguman sebuah kalimat pamungkas. Kalimat pamungkas yang membuatku tak berdaya, hingga melipat harapan yang telah kurajut hari demi hari. Harapan yang belum sempat kutunjukan padanya.“Mita! Yuk kita ke belakang panggung,” ajak cewek tersebut, menggenggam tanganku, lalu menariknya agar aku mengikuti langkahnya. “Jadilah sahabat yang kuat, Mit,” gumanku dalam hati.Bintang ada hanya untuk menjadi teman bagi bulan. Seharusnya kusadari makna di balik pengandaiannya, ketika dia menggambarkan aku serupa bintang. Karena bulan hanya bersinar untuk langit malam, sahabatku. Yaa, seharusnya aku menyadari alasan ia memandangku, karena langit malam, Vinny, adalah sahabatku. Dan sudah sepantasnya aku berada di antara mereka. Bulan dan langit malam.“Mita. Brian memintaku mengirimkan foto. Dan aku mengirimkan foto kita berdua. Tidak apa-apa kan? Yaa, supaya ia juga mengetahui wajah sahabatku yang cantik ini.” Ucapan Vinny berulang kali berputar-putar dalam benakku. Kalimat yang ia ucapkan sehari sebelum rembulanku pertama kali memandangku. Menyadari kehadiranku.

Tidak Ada Lagi Ruang Hati
Romance
23 Nov 2025

Tidak Ada Lagi Ruang Hati

Pada senja yang sedang rintik-rintik dengan begitu cantik, gadis pemilik senyum manis itu berjalan sendirian dengan berlindung pada payungnya, sebagai tameng dirinya agar terhindar dari setetes air hujan yang sedang berkunjung pada tanah kota kembang.Ia berjalan dengan hati-hati dan sepasang netra yang fokus pada jalanan becek yang sedang ia lewati. Namun, ternyata semakin ia jauh melangkah, tetesan air yang awalnya sedikit berubah menjadi guyuran deras, dan gemuruh pun ikut mengiringi hujan kala itu. Lantas, dengan alasan ia tak ingin bajunya basah dan juga sekotak pizza untuk pelanggannya tidak kebasahan, gadis itu pun berhenti untuk berteduh pada sebuah ruko yang sedang tutup. Beruntung di tempat itu ada kursi untuk duduk, sehingga ia tidak lelah untuk terus berdiri sambil menunggu guyuran hujan ini mereda.Atmosfer dingin pun mulai terasa, ia menangkup kedua tangannya dan meniup dengan nafas yang keluar dari mulut untuk menghangatkan tangannya yang hampir membeku. Mungkin saja sekotak pizza itu sudah dingin jika dibiarkan saja terlalu lama dan itu akan merusak cita rasanya.“semoga saja hujannya tidak lama. Aku akan merasa bersalah jika pizza ini sudah tidak enak ketika diberikan pada pelanggan,” gerutu gadis itu. Ia tidak ingin menyalahkan hujan, ia hanya menyalahkan dirinya sendiri. Jika saja ia tidak nekat karena antusias menghantarkan makanan, tidak mungkin ia akan merasa bersalah seperti ini.Sepuluh menit sudah hujan tak kunjung berhenti. Mungkin ia fikir akan kembali untuk menukarkan pizzanya dengan yang lebih baik setelah hujan reda. Namun, suara langkah kaki yang cepat terdengar di telinganya, pun dengan bayangan yang ia lihat di balik derasnya hujan. Sampai akhirnya, sosok itu menampakan wujud sepenuhnya dengan keadaan seluruh badannya basah kuyup.Pria itu berhenti untuk berteduh di ruko itu. Kekesalan jelas terpatri di wajah lelaki yang tiba-tiba saja muncul itu. Namun, gadis itu merasa tidak asing dengan wajah lelaki yang baru pertama ia temui, sekarang. “sial! Kalau saja hujan ini tidak turun, mungkin badan saya tidak basah kuyup seperti sekarang,” ucap laki-laki itu dengan raut wajah kesalnya.Gadis itu pun memandang dengan lekat, lelaki itu juga tak sengaja melirik ke arah gadis yang sedang berteduh bersama dengannya, dan di situ pada akhirnya pandangan mereka bertemu.Hening, hanya terdengar suara hujan dan juga angin yang berhembus. Mereka kalut dalam perasaan mereka masing-masing, dan seseorang yang asing itu, ternyata dulunya pernah berjalan seiring.“sudah lama tidak berjumpa,” setelah keheningan berlalu, akhirnya salah satu dari mereka membuka bicara. Gadis itu tersenyum, meski senyumnya terlihat pilu. Lelaki itu melangkah, dan berjalan mendekat. Bagaimana pertemuan antara dua insan yang sudah berpisah sejak lama ini terjadi? Tidak ada yang tau, dan inilah yang disebut takdir.Debar jantung mulai terasa saat usapan tangan itu dengan lembut membelai pipinya. Namun, ini semua salah, dan gadis itu dengan perlahan menepis tangan lelaki itu. Ia tidak mau mengingat, bagaimana setiap belaian tangan itu begitu menyakitkan. Apa lagi disaat perpisahan.“maaf, maafkan saya.” lirih pria itu begitu tulus. Begitu pula dengan tatapannya. Gadis itu menggeleng pelan, “aku sudah memaafkan semuanya sejak dulu. Tapi bagiku, itu semua masih bukan salahmu,” balas gadis itu dengan mengukir senyumannya. “kamu tidak salah. Saya hanya belum dewasa saat itu, memutuskan hubungan tanpa tau bagaimana kedepannya,” ucapan dan penyesalan menyatu jadi satu dalam diri lelaki itu. “aku ataupun kamu yang bersalah di masa lalu, tetap saja takdir yang menginginkan kita untuk berpisah,” jelas gadis itu, dengan alasan tidak mau lagi untuk saling menganggap keduanya menjadi pusat permasalahan dari perpisahan di masa lalu itu.“tapi kali ini takdir mempertemukan kita, apa takdir juga menginginkan kita untuk kembali bersama?” pertanyaan yang terucapkan berharap ada keajaiban. “sepertinya, tidak. Di pertemukan belum tentu untuk kembali disatukan. Bisa jadi ini hanyalah jalan untuk mengobati rindu yang selalu terabaikan,” jelas gadis itu, ia merasa bodoh dengan dirinya sendiri yang terkadang, mengeluh, dan ingin bertemu.Lelaki itu terdiam, merasakan afeksi yang menjalar pada hati. Apakah dikarenakan sebuah tumpukan rindu yang sudah menggunung, sehingga tidak bisa ditampung dan berakhirlah dengan pertemuan yang akhirnya berujung.“begitu ya? Benar-benar tidak ada kesempatan sekali lagi?” tanya pria itu, yang sudah tidak kuat lagi merasakan kekosongan di hati. Debaran jantung lebih terasa, takut, takut rasanya jika tidak bisa kembali bersama. “tidak tau, dan itu belum pasti. Tapi, aku rasa kamu masih belum sepenuhnya suka dengan hujan,” kata gadis itu di iringin dengan kekehan. “na, saya minta maaf. Tapi apakah saya harus suka hujan dahulu, lalu menyukai kamu?” Gadis itu menggeleng, “tidak, bukan itu maksudku. Lupakan saja,”“jadi, kita tidak bisa kembali?” kata lelaki itu. Gadis itu pun mengukir senyum, “aku bahagia lihat kamu seperti ini. Tapi kalau aku ingat masa lalu, kadang sedih aja ingat tentang masa lalu kita yang membodohkan dan terlalu saling menyalahkan,” “na..” “udah, Havis. Ga ada yang perlu diperbaiki lagi. Aku bahagia bisa ketemu sama kamu di sini dan… Aku juga bahagia kamu sudah bisa sukses seperti ini,”Lelaki bernama Havis itu nampak tertegun dengan ucapan gadis itu. Senja perlahan mulai tergantikan dengan pergantian malam. Pertemuan ini, apakah mengobati kerinduan atau justru menambah rasa kesakitan?“tidak apa-apa jika kamu tidak mau kembali. Tapi saya harap kamu tidak akan melupakan saya,” harap lelaki itu, yang terdengar membodohkan. Gadis itu memegang pundak havis, seraya berucap, “tidak, havis. Terus terang saja, jika aku terus-terusan menyimpan barang di tempat yang aman, maka ia akan utuh dan tidak bisa hilang. Begitu pula kamu, jika kamu masih terus di dalam pikiran atau bahkan masih tersimpan rapi pada ruang hati, mana bisa rasa cinta itu akan menghilang tanpa membekas?” jelas gadis itu. Lagi-lagi, lelaki bernama Havis merasakan sebuah sayatan dalam hatinya.Hubungan mereka berdua itu kandas karena beberapa alasan. Pertama masalah mereka, gadis itu tidak bisa mencintai Havis sepenuhnya, sedangkan Havis, tidak bisa mengontrol rasa cemburunya. Mereka itu tak searah, tidak ada gunanya lagi untuk mempertahankan suatu hubungan. Jadi mereka rasa, tidak ada salahnya untuk mengambil jalan perpisahan.“maaf, havis. Sepertinya aku harus pergi,” tutur gadis itu, saat ia menengok hujan sudah mereda. “na..” “lebih baik kamu pulang saja. Baju kamu sudah basah kuyup, nanti sakit. Minum obat ya? Habis itu..” “istirahat,” lanjut havis menyambung ucapan dari gadis itu. “bahkan saya masih ingat kata-kata kamu dulu waktu saya sakit saat kehujanan.” ungkap havis, sedangkan gadis itu hanya diam membeku. “Nadisa, saya masih ingat semua tentang kamu. Dan saya masih cinta sama kamu,”Dia, seharusnya tidak mengungkapkan perihal cinta itu lagi. Gadis itu, Nadisa, dia merasakan tetesan air mata jatuh di pipinya. Lantas, ia membalikan badan, dan melangkah pergi meninggalakan havis di sana sendirian.Havis terdiam membisu di sana. Ia merasakan penyesalan yang luar biasa, seseorang yang sudah lama ia nanti pertemuannya, ternyata tidak bisa lagi mencintainya. Pupus, dan tidak lagi ada harapan. Semuanya menghilang, bersama senja kala itu.Perpisahan yang tidak bisa dipaksakan untuk kembali, sebaiknya ikhlaskan saja. Lebih baik melupakan masa lalu itu, dan berkelana jauh, lalu mencari manusia-manusia baru.

Hidden Love
Romance
23 Nov 2025

Hidden Love

Hari yang membuatku sangat senang, seperti seseorang yang baru bertemu dengan kekasihnya karena telah lama dipisahkan oleh jarak. Berbeda dengan diriku, aku yang sudah berumur 21 tahun tapi sama sekali belum punya kekasih. Namaku Nuveena, sudah begitu lama aku tidak pernah merasa tertarik dengan orang lain, yang mungkin lebih dikenal dengan mati rasa. Namun, kini aku bertemu dengan seseorang yang tidak terlalu kukenal yang membuat jantungku tiba-tiba berdegup kencang, dan sepertinya meronta-ronta kegirangan. Akan kuceritakan siapa seseorang itu dan mengapa dia bisa membuatku seperti orang yang sedang jatuh cinta.Sebenarnya, aku tidak tahu siapa namanya, berapa umurnya, dan dimana dia tinggal, yang pasti aku yakin bahwa dia seseorang yang umurnya tidak jauh beda denganku dan aku yakin dia masih seorang lajang. Yang hanya kutahu tentangnya adalah dia seseorang yang satu gereja denganku. Dan dia adalah seorang pelayan musik di gereja.Suatu hari di hari minggu, aku pergi ke gereja untuk beribadah, aku duduk si sebuah kursi yang tepatnya di baris ke tiga dari depan. Namun, tiba-tiba mataku tertuju pada seseorang yang tubuhnya dibaluti dengan kemeja warna biru, dia berada di depan dan sedang memainkan musik yang mengiringi lagu-lagu yang dibawakan pada saat ibadah. Entah apa yang kurasakan aku begitu memperhatikannya dan sepertinya aku merasa bahwa ada sesuatu yang berbeda dari caraku memperhatikannya. Aku begitu fokus memperhatikannya sehingga wajahnya begitu cepat tersimpan dalam ingatanku bahkan itu adalah kali pertama aku melihatnya.Warna favoritku adalah biru, dan seseorang yang wajahnya pelan-pelan mulai tersimpan di dalam memori ingatanku itu juga memakai kemeja warna biru. Apa jangan-jangan aku dan dia adalah sesama pencinta warna biru atau apa jangan-jangan aku adalah jodohnya hehehe… Selain aku suka warna biru, aku juga suka dirinya yang membaluti tubuhnya dengan warna kesukaanku itu dan sepertinya aku menyukai semua dari dirinya. Apakah ini yang dikatakan cinta pandangan pertama?. padahal sebelumnya aku tidak pernah yakin dengan kata cinta pandangan pertama, selama ini aku menganggap bahwa orang yang jatuh cinta pandangan pertama itu adalah orang yang jatuh cinta karena fisiknya yaitu kecantikan atau ketampanan seseorang. Namun, semenjak ini terjadi padaku, aku merasa bahwa aku tidak hanya tertarik karena ketampanannya tapi ada sesuatu yang membuat diriku tidak pernah berhenti untuk terus memperhatikannya. Entah itu rasa suka, atau kagum aku juga bingung dengan diriku sendiri.Aku yang mengira bahwa aku akan melihat dirinya hanya di gereja saja, namun, tiba-tiba aku dikejutkan oleh dirinya yang tanpa sengaja aku berpapasan di jalan dengannya. Aku berpapasan dengannya saling berlawanan arah. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang seperti baru saja melihat sebuah tragedi yang terjadi di depan mata. Aku tidak menyangka aku akan bertemu dan berpapasan dengannya di waktu yang tidak pernah aku duga. Kejadian ini tepat di hari sabtu, dan seperti biasanya ternyata setiap hari sabtu ada pertemuan antara pelayan-pelayan di gereja untuk mempersiapkan acara ibadah di hari minggunya. Kulihat dia begitu terburu-buru berjalan, sepertinya dia sedang mengejar waktu agar tidak terlambat tiba di gereja.Kejadian itu membuatku terkejut, namun aku juga senang karena ternyata aku bisa melihat dan bertemu dirinya lagi. Sebelum dia berpapasan denganku yang pasti dia akan lewat dari arah depan ke belakangku, kupastikan lagi dari jauh bahwa dia adalah orang yang kulihat sebelumnya di gereja, dan ternyata benar bahwa dialah orangnya. Aku sudah begitu ingat dengan wajahnya dan sepertinya dirinya pun tidak asing lagi bagiku.Di suatu hari minggu berikutnya setelah begitu lama aku tidak pernah lagi melihatnya, bahkan di gereja pun yang dimana aku sangat yakin bahwa akan melihatnya lagi namun ternyata tidak. Sepertinya dia sedang bertukar posisi dengan orang lain untuk memainkan musik yang mengiringi lagu-lagu yang dibawakan pada saat ibadah. Sehingga saat itu aku tidak melihat dirinya yang selalu aku rindukan setiap hari dan sangat ingin aku melihat dirinya lagi. Namun, hal yang terjadi malah sebaliknya, aku tidak menemukan dirinya sama sekali.Hari demi hari kujalani keseharianku seperti biasanya, yang disibukkan oleh tugas-tugas kuliah yang harus diselesaikan sebelum deadline. Dan jika tidak ada lagi yang harus kukerjakan maka aku akan menikmati waktu luangku yaitu melanjutkan menulis cerita-ceritaku, dan selain itu aku juga akan menikmati waktu luangku yaitu merebahkan diri di tempat tidur yang merupakan salah satu hobby yang kumiliki.Sudah cukup lama aku tidak pernah lagi melihat lelaki si kemeja biru itu, dikarenakan aku sedang menjalankan salah satu kewajiban dari kampus yaitu seluruh mahasiswa seangkatanku sedang melaksanakan Praktek Kerja Lapangan yang disebut sebagai PKL. Sehingga selama kegiatan ini, aku harus pindah ke lokasi yang dekat dari lokasi PKL yang juga cukup jauh dari tempat tinggalku yaitu gang teratai. Gang teratai adalah lokasi tempat tinggalku dimana di lokasi inilah aku bertemu dengan si lelaki kemeja biru itu.Namun, suatu hari di hari sabtu aku kembali ke tempat tinggalku di gang teratai, tempat dimana aku pertama kali bertemu dengan si lelaki kemeja biru itu. Aku kembali bukan karena supaya aku bertemu dengannya, aku bahkan tidak berpikir agar aku bisa melihat dirinya lagi. Tapi aku kembali karena ada sesuatu hal penting yang membuatku harus kembali ke gang teratai, sekalian aku ingin ke gereja untuk beribadah karena sudah cukup lama aku tidak pernah lagi beribadah ke gereja. Karena sebagai makhluk kita memiliki kewajiban kepada sang pencipta kita, maka dari itu kita harus meluangkan waktu kepada sang pencipta, agar hubungan kita denganNya selalu baik.Hari minggu pun tiba, dan aku bersiap-siap untuk pergi ke gereja sebelum pukul 10.00 pagi. Jarak gereja dari rumahku hanya sekitar 500 m, sehingga dengan jalan kaki saja aku bisa cepat sampai tanpa harus memerlukan waktu yang lama untuk tiba di gereja. Aku berjalan ke gereja dengan seorang temanku namanya Indira, dan kami pun hampir tiba di gereja. Aku dan temanku berjalan sambil melangkahkan kaki pelan-pelan dengan tidak terburu-buru karena sebelum berangkat kami sudah mengira waktu yang dibutuhkan selama di perjalanan apalagi jarak gereja dari rumahku tidak begitu jauh.Tiba-tiba di jalan sebelum sampai di gereja namun sudah mendekati lokasi gereja aku bertemu lagi dengan seseorang yang membuat jantungku tiba-tiba berdegup kencang, yaitu lelaki si kemeja biru. aku sebut aja dia lelaki si kemeja biru karena aku tidak tau siapa namanya walaupun bukan berarti dia selalu memakai baju warna biru, tetapi karena aku melihatnya pertama kali memakai kemeja warna biru. Lagi-lagi kami berpapasan, ini kali kedua aku berpapasan dengannya. Aku terus berjalan, namun aku tidak bisa melayangkan pandanganku darinya, anehnya mataku lagi-lagi fokus memperhatikannya. Entah kenapa sepertinya mataku selalu terarah kepadanya begitu juga saat kami berpapasan. Namun, ada yang lebih aneh lagi yaitu dia tersenyum dan arah matanya tertuju kepadaku. Sepertinya dia tersenyum kepadaku, tapi aku ragu jika senyumannya itu bukan untukku.Aku melirik temanku Indira yang berjalan disampingku itu, namun tiba-tiba ia bertanya kepadaku. “Veen dia siapa?, kenapa dia senyum samamu?” “oh dia itu, pelayan musik di gereja ini.” Aku menjawab pertanyaan temanku itu, walaupun sebenarnya aku masih bertanya-tanya dalam hati kenapa si lelaki itu tersenyum kepadaku, padahal aku yakin bahwa dia tidak mengenalku, tapi mengapa dia tersenyum kepadaku, apa karena aku selalu memandangnya selama kami berpapasan. Sungguh isi kepalaku semuanya tentang dia, perasaanku begitu campur aduk antara perasaan senang, terkejut, dan bingung. Senyumannya juga sepertinya langsung tersimpan di dalam memori ingatanku, dia tersenyum lebar dan manis, senyumannya juga terlihat begitu tulus dan ramah, dan matanya juga ikut tersenyum, matanya bersinar cerah dan dia memiliki mata yang indah. Sepertinya aku suka semuanya tentang dirinya, tak ada satu hal pun yang kurang darinya dari cara pandangku, aku begitu tertarik dari semua tentang dirinya.Hanya dengan memandangnya saja aku begitu tertarik dengannya, dia melemparkan senyuman yang tanpa dia ketahui siapa orang yang dia senyumi itu, tanpa ada sepatah kata yang keluar dari mulut namun hati mampu mencurahkan rasa walaupun rasa itu hanya mampu untuk dipendam. Padahal belum ada perkenalan, namun sudah muncul rasa, bagaimana jika sudah saling kenal apakah rasa itu masih tetap ada atau malah akan hilang pelan-pelan. Tapi untuk saat ini aku lebih memilih untuk tidak begitu mengenalinya. Saat ini aku hanya lebih memilih menyimpan rasa itu sendirian asalkan aku bisa melihat dan memandang dirinya lagi, walau hanya memandangnya dari jauh.

Windi Doyan Ciarvi
Romance
23 Nov 2025

Windi Doyan Ciarvi

Malam minggu yang sangat membagongkan. Diam di rumah sambil berhayal kapan jadi miliarder. Hidup kalau sedih ditangisi, kalau bahagia dinikmati. Rasa syukur yang membuat hidup ini masih tetap berjalan. Bayangkan kalau gue milih buat gantung diri? Mungkin gue gak bakal cerita hari ini ke lo.Ahhh… Malam minggu kemana nih enaknya? PING!!! Eh, tumben si Rendi chat gue. “Dimana lu woy jones?!” “Apa lu?”Rendi anak yang memang agak belagu tapi dia jenis temen yang cukup setia yang pernah gue temui di muka bumi ini. Nggak tahu kenapa manusia yang satu ini gak pernah pergi dari hidup gue. Padahal udah eneg banget liat mukanya.Kita berteman lama sejak gue dan dia ketemu dibangku SMP. Awalnya gue kira nih anak jaim, aslinya bocor halus! Tapi gue langsung ngerasa klop dengan dia saat itu. Sampai akhirnya kebablasan deh sampai sekarang berteman baik.“Ngapain lu di rumah? Betah banget! Keluar yuk…” ajak Rendi. Aku padamu Rendi… Nggak tahu kenapa Rendi itu selalu hadir disaat yang tepat. Contohnya disaat gue gabut begini. “Yauda ayuk, mau kemane nih kita bosquee?” “Cafe biasalah mau kemana lagi coba?”Kebiasaan kami adalah nongkrong berdua di cafe sambil nyebat. Malam minggu ditemani segelas americano tanpa gula. Karna manisnya udah pindah ke muka gue. Hehehe…“Bree… Teringatnya Windi gimana? Perasaan lu punya pacar kok berasa kaya jones gitu?” Tanya Rendi. Pertanyaan tersulit yang berhasil mengalahkan ujian fisika dulu. Maklum gue dulu sering remedial kalau fisika apalagi kimia. Ampun dah…“Pertanyaannya sederhana sih memang bree tapi sulit buat dijawab..” “Yah, gua heran aja gitu Windi pacar lu tapi kalian jarang banget jalan kencan gitu berdua. Kalian udah putus emangnya?” “Belum kok breee… Masih jalan, semalam masih telponan tapi ya gitu deh cuma sekedar doang.” Kalau kalian nggak tahu “Bree” itu apaan, itu sejenis panggilan yang sama kaya kita bilang “Bro” atau “Sob” gitu.Aslinya gue punya pacar, namanya Windi. Cewek yang gak bisa dibilang sederhana karna memang gayanya spektakuler mengalahkan bentukan lucinta luna. Tapi pacar gue ini cewek tulen lho ya. Hahahaha…Gue kenal Windi dari teman gue yang lain. Baru pacaran udah jalan 6 bulan. Tapi ya gitu deh, chatingan seadanya aja. Terus telponan juga harus dia duluan yang mulai. Awalnya sih gue gak merasa risih dengan itu. Tapi semenjak Rendi nanya kenapa sih harus dia duluan yang call, emang salah kalau gue yang call dia duluan? Alasannya takut mengganggu pas dia kerja. Gue jadi curiga kenapa cewek ini rada aneh beda sama cewek yang pernah gue temui.Kalau inget yang dulu, Windi duluan lah yang coba deketin gue saat itu. Berawal dari dia yang terpuruk saat itu dan kebetulan gue hadir dalam hidup dia. Saat dia sakit gue yang mengurus dirinya. Bayangin gue menempuh jarak 40 km pulang-pergi setiap kali dia call gue nyuruh main ke kos nya.Usaha, waktu, dan bensin gue pertaruhkan. Apalagi harga BBM udah naik lagi. Terkesan jadi cowok pelit tapi jelas ini uang bukan daun, berharga banget mending buat isi perut. Beserta abang penjual martabak langganan gue yang juga udah tanda banget setiap gue pesan martabak coklat keju pasti mau dikasih ke cewek gue. Hampir semua cowok pernah diposisi berjuang kaya gini. Bedanya, ada yang usahanya dihargai dan ada yang malah disia-siakan cewek.Cup.. cup.. Jangan sedih.Hingga akhirnya perjuangan gue berbuah manis. Pandangan dia terhadap cowok yang dulunya negatif merasa semua cowok itu bajingan seperti bokapnya yang dulunya tukang selingkuh kini perlahan berubah semenjak Windi kenal gue. Ciee elahhh… Slebeww ~Masa sulit yang nggak pernah gue lupakan disaat dia waktu itu butuh duit buat bayar kos tapi duitnya jatuh di jalan, gue bela-belain minjam ke nyokap gue dengan alasan mau beli buku. Sejak kapan gue suka baca buku? Begonya kita itu disitu. Bucin ke cewek tapi giliran nyokap ngomel satu album chrisye, kita gak pernah mau dengar. Heran ya liat diri sendiri kadang hehe…Nemenin dia berproses mulai dari nganterin lamaran, nemenin dia panggilan interview kerja sampai akhirnya diterima kerja. Seneng banget gue saat itu karna dulu gue nemenin dia bersama motor butut gue ini, astuti. Kalau dia kecapekan biasanya dia suka gak sadar meluk terus ketiduran di bahu gue. Mengalahkan keromantisan dilan milea pokoknya.Namun bulan-bulan berikutnya, perlahan semuanya berubah. Hingga satu kali Rendi datang ke gue saat itu. Tiba-tiba aja Rendi pengen ngomong serius sama gue saat itu. Biasanya anak ini suka bercanda tapi kali itu rasanya seperti disambar petir di siang bolong.“Bree… Dimana? Ada yang pengen gua omongin nih sama lo!”Gue parkir astuti kesayangan gue. “Mbak, americano satu ya. Nggak pakai gula soalnya saya udah manis,” canda gue ke mbak pelayan cafe.Hingga akhirnya obrolan serius itu pun dimulai… “Lu mau ngomong apaan? Penting banget emangnya?” tanya gue sambil kebingungan. “Terakhir kali kapan lu jalan sama Windi?” tanya Rendi dengan raut wajah serius. “Sebulan lalu…” “What?! Parah berarti bener…” “Napa sih lo? Ada apaan sih?” tanya gue penasaran. Dan Rendi mulai menjelaskan panjang kali lebar kaya rumus balok.“Mbak… Minta gulanya dong ya. Boleh?” Permintaan gue kepada mbak pelayan café. Americano ini harus manis. Harus manis! Mabok gula nggak peduli gue malam itu. Gue lemes banget malam itu. Selama di perjalanan di atas motor astuti gue, pikiran liar mulai menjalar kemana-mana. Untuk kesekian kalinya, cinta tidak pernah berpihak atau mungkin tidak akan pernah berpihak ke gue. Cinta berpihak pada mereka yang memiliki segudang harta.Location unknown lagu dari honne mengiringi air mata gue yang mulai menetes tanpa gue sadari. Cowok juga boleh nangis kan? Memang tidak senyaman kursi empuk mobil miliknya. Namun bisa membawamu kemana saja dengan hati yang tulus.Wanita yang memang bukan tipe sederhana mungkin lebih pantas duduk disamping bukan dibelakang. Setir bulatnya mengalahkan stang motor astuti gue. Rendi bilang dia melihat wanita yang selama ini gue perjuangkan ternyata sering diantar jemput bahkan udah pacaran dengan pria lain. Berduaan di restauran bintang lima membuatnya tersenyum daripada angkringan yang hanya membuat dirinya mengeluarkan kata-kata kutukan.Menghela nafas… Dan malam itu juga satu pesan singkat dari Windi. “Kita putus aja ya. Aku udah nggak ada rasa lagi. Percuma kalau kita terusin.”Tertegun… Gue lemah seketika. Malam itu asam lambung gue kambuh. Buyar… Datang memberi luka, pergi meninggalkan trauma.Rendi sulit menghubungi gue. Hingga akhirnya dia datang ke rumah gue. Merasa penasaran dengan keadaan gue, dia mendobrak pintu kamar gue. Sialnya, baut pintu itu pada lepas semua. Udah jatuh tertimpa tangga pula. Diputus cinta, malah harus ngeluarin duit buat perbaiki pintu kamar yang rusak ulah Rendi.Tapi Rendi memang manusia yang selalu hadir disaat yang tepat. Manusia yang sengaja dikirim Tuhan untuk gue. Bayangin kalau gue nggak punya sahabat kaya Rendi, mungkin malam itu gue bakal berakhir bersama baygon yang ada disamping tempat tidur gue.Hingga pada akhirnya, Tuhan tidak akan membiarkanmu sendirian. God always has a way to help you.Hal indah butuh waktu untuk datang…

Terlanjur Mencintai Kekasihmu
Romance
22 Nov 2025

Terlanjur Mencintai Kekasihmu

Tok… Tok… Tok… Terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah. Aku bertanya-tanya dalam hati. Siapa yang bertamu pagi-pagi buta seperti ini? Dengan mata sembab karena masih mengantuk, kugerakan kaki ini menuju sumber suara yang mengganggu pagiku hari ini.Oh iya… Sebelumnya perkenalkan, namaku Tania. Aku adalah mahasiswi semester satu di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Keluargaku tinggal di kota hujan, Bogor. Karena aku mendapat beasiswa di kampus ini, aku harus tinggal sendiri di Jakarta. Menyewa satu kamar kos untuk tempat berlindungku. Ayah dan Ibu tidak bisa ikut pindah kesini, karena Ayah masih harus bertugas di Bogor sebagai anggota TNI.Dengan lesu aku membuka pintu. Mencari tahu siapa yang datang. Membuyarkan mimpi indahku dalam tidur tadi. Kotak warna putih terlihat jelas, dibawa oleh seorang laki-laki yang tak kukenal. Aku sengaja diam karena masih mengantuk. Menunggu laki-laki tersebut berbicara.“Maaf mengganggu pagi-pagi. Ini ada paket nyasar ke tempat kos pria. Kata ibu kos, ini tertera namamu,” laki-laki tersebut memulai percakapan.Aku mengambil paket tersebut. Kubaca setiap tulisan di paket tersebut satu persatu. Benar saja, lagi-lagi Ayah salah menulis nomor kamarnya. Dasar Ayah, gerutuku dalam hati. Langsung saja aku tersenyum kepada laki-laki tersebut, seraya mengucapkan terima kasih.“Aku Indra,” tiba-tiba Ia mengulurkan tangan. “Tania. Terima kasih ya. Ayahku memang suka salah menulis nomor kamar hehe,” jawabku sambil menjabat tangannya. “Enggak apa-apa. Lain kali bisa ketemu lagi kan?” tanya Indra. Aku hanya membalas pertanyaannya dengan senyuman. Sambil menutup pintu ketika si pengantar paket sudah tidak terlihat lagi. Hari-hari pun berlalu, aku menjalani aktifitas seperti biasanya. Hanya kini, ada yang menemani.Ya. Sudah satu minggu Ia menemaniku kemana pun aku pergi. Si Pengantar Paket, Indra. Sejak pertemuan itu, Ia jadi lebih sering menemuiku. Dari alasan minta ditemani kesana kemari, makan bersama. Dan, tak terasa aku menikmatinya, mulai merasa nyaman dengannya.Aku jatuh hati padanya. Ia begitu baik, perhatian denganku, dan mewarnai hari-hariku. Entah dengannya, aku tidak tahu apakah Ia mempunyai perasaan yang sama denganku atau tidak. Yang kutahu, setiap sorot matanya, memandangku dengan kasih sayang.Hari ini adalah hari ulang tahunku, aku mengajak Indra untuk makan siang di restoran favoritku. Aku sudah berdandan dengan sangat cantik. Aku ingin tampil sempurna di matanya. Walaupun entah kapan, keinginanku untuk menjadi kekasihnya akan terwujud. Karena aku malu untuk mengutarakan perasaanku duluan kepadanya. Namun biarlah seperti ini dahulu, aku sudah cukup bahagia ada dia di sisiku.Waktu tepat menunjukkan pukul dua belas siang. Yang ditunggu-tunggu pun datang. Indraku, yang bertubuh tinggi, berwajah tampan, bibirnya yang mungil, dan tubuh yang wangi, sempurna. Semakin hari, di mataku Ia semakin tampan.“Selamat ulang tahun Tania,” Ia memberiku setangkai mawar putih. “Terima kasih Indra,” mataku berbinar-binar.Kami pun makan siang bersama. Diselingi candaan seperti biasa, yang menghiasi hari-hari kami berdua. Dan yang tak disangka pun terjadi, Indra menyuapi makanan ke mulutku. Aku membuka mulutku dengan malu-malu. Entah mengapa rasanya makanan tersebut seratus kali lebih nikmat hehe.Makan siang berjalan dengan lancar. Kami pun pulang bersama ke kos. Di sepanjang perjalanan kami banyak bercerita tentang apapun. Sesekali Indra memuji penampilanku yang katanya cantik hehe. Aku tersipu malu. Sambil berdoa dalam hati, agar Tuhan menyatukan kami berdua. Pria yang sudah mengambil hatiku dan tak mau mengembalikannya.Setelah makan siang kami berdua, semakin hari hatiku dipenuhi oleh dirinya. Dadaku sesak dan bergemuruh setiap kali ingat senyum-senyumnya. Hingga suatu hari, terpikir olehku untuk memberinya sebuah hadiah untuk dikenang selama kami bersama.Aku mencetak sebuah foto kami berdua yang ada dalam kameraku. Kubingkai dengan rapi dan kubungkus dalam kotak hadiah yang terlihat manis. Aku berjalan dengan riang menuju kos Indra. Sengaja tak kuberi tahu jika aku akan datang berkunjung. Biar menjadi kejutan pikirku dalam hati, sambil sesekali bibirku tersenyum riang.Sesampainya di kos Indra, aku langsung mengetuk pintu. Sambil merapikan rambut, aku mengumpulkan kepercayaan diri yang saat itu tengah goyah karena bercampur malu. Namun apa yang kulihat saat ini, seketika menyurutkan seluruh gairah yang membuncah dalam diri.Seorang wanita yang tak asing bagiku, muncul dari dalam kos Indra. Dia adalah Acha, teman satu kelasku di kampus. Aku dan dia bertatapan cukup lama. Seolah kami bingung harus melakukan apa. Secepatnya aku tersadar, aku tersenyum tipis padanya dan berlalu pergi tanpa mengucapkan satu kata pun.“Tadi ada yang cari kamu,” kata Acha pada Indra. “Siapa?” jawab Indra sambil menikmati makanan yang ada di depannya. “Tania,” balas Acha singkat. “Kamu kenal?” Indra mulai antusias. “Ya. Dia teman satu kelasku di kampus. Kamu sama dia ada apa? Kok dia bisa tau kos-an kamu?” Acha mulai interogasi. “Oh. Enggak ada apa-apa kok. Aku sama dia cuma satu wilayah kos saja,” Indra menanggapi dengan santai.Setelah Acha dan Indra meluruskan kesalahpahaman yang terjadi, Acha pun pamit untuk pulang. Namun ternyata, Ia menghampiri Tania yang sedang melamun di kamar kos-nya. Acha mengetuk pintu dengan sopan. Memanggil-manggil nama Tania agar segera keluar.Tania pun terlonjak kaget. Mengenal suara yang datang, segera Ia berlari membuka pintu. Ia sangat terkejut melihat Acha yang berdiri di pintu kos-nya. Walaupun Acha tersenyum padanya, tapi firasatnya kurang baik saat ini. Benar saja, Acha langsung bicara maksud tujuannya datang menemui Tania.“Dia kekasihku,” ucap Acha dengan nada serius. “Maaf aku enggak tau. Aku dan Indra cuma teman biasa kok,” kata Tania terkejut.Setelah mengatakan jika Indra adalah kekasihnya, Acha berlalu pergi. Hubungan kami sebelumnya baik-baik saja. Selalu bertegur sapa saat bertemu di kampus. Tapi kini berbeda, Acha seolah membangun tembok yang tinggi untukku. Mungkin saja Ia sadar jika aku mencintai kekasihnya. Walaupun saat bertemu dengannya terakhir kali, aku berbohong karena mengaku tidak mencintai Indra. Maaf Acha, sejujurnya aku terlanjur mencintai kekasihmu.Aku berjalan seorang diri di sekitar halaman kos. Di sini cukup luas dan asri. Banyak pohon-pohon yang rindang, dan bangku taman untuk sekedar duduk melepas lelah setelah seharian beraktifitas. Pikiran Tania berkecamuk karena kejadian kemarin terus mengganggu.Kini, Ia harus menerima kenyataan jika Ia dan Indra tidak bisa bersatu. Indra yang sudah dimiliki Acha. Namun biarlah begini, pikirnya dalam hati. Mencintai seseorang tidak harus memilikinya. Cukup melihatnya bahagia. Bisa terus berhubungan baik dengannya.Walaupun kini harus ada jarak yang sedikit memisahkan kita. Tak bisa seperti dulu lagi. Disaat aku tau kau masih sendiri. Aku sudah terlanjur mencintaimu. Hingga rasanya terlalu sulit jika harus tak mengenalmu lagi. Biarlah seperti ini. Dirimu yang tak akan tahu dalamnya perasaanku untukmu.

Cinta Bertepuk Sebelah Tangan
Romance
22 Nov 2025

Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

“Wah, sungguh cantik orang itu” ucap brian saat melihat gadis itu.Hari ini Brian bertemu dengan gadis yang sangat cantik, gadis bernama Livia yang membuat brian terpana. Jam sudah menunjukkan pukul 07.00, semua murid bergegas masuk kelas termasuk Brian dan Livia. Itu hari pertama mereka masuk ke sekolah barunya.“HAH!!!, kok ada dia disini” Kaget Brian ucap dalam hati Ternyata mereka sekelas.Saat pulang sekolah Brian memberanikan diri untuk berkenalan dengan Livia. “Halo, boleh kenalan?” Ucap Brian “Boleh, namaku Livia” Saut dia “Namaku Brian, salam kenal ya” “Iya, salam kenal” Setelah itu mereka basa-basi sedikit sebelum mereka pulang ke rumah.Hari pun berganti, saat itu sedang ada pemilihan ketua kelas, Brian mencalonkan diri, dan dengan mendapatkan suara hampir dari setengah kelas Brian pun menjadi ketua kelas. Jam sudah menunjukkan pukul 13.40, sudah saatnya pulang sekolah. Brian bertemu dengan Livia “Halo Liv, boleh minta nomor HandPhonemu?” Tanya Brian “Boleh, ini ya 08**********” “Terimakasih Liv”Sebulan pun berlalu, mereka semakin dekat. Saat istirahat, Brian bertemu Livia dan bergegas menghampiri ia. “Liv, pulang sekolah nanti pulang bareng yuk?” Ajak Brian “ayoo aja, tapi nanti aku pulang sekolah ada latihan untuk upacara, jadi nanti kamu nungguin dulu yaaa” Jawab Livia “siappp” Jawab BrianAkhirnya bel pulang sekolah pun berbunyi, Brian langsung meletakan tasnya di ruang tunggu dan ia bermain bola bersama teman temennya sembari menunggu Livia selesai latihan. Kemudian Livia selesai latihan, ia pun menghampiri Brian. “Heyy, jadi ga nih? aku udah selesai latihan” Ucap Livia “Jadi dongg” Jawab BrianMereka pun berjalan ke arah parkiran sekolah, dan pergi ke arah rumah Livia. Saat di jalan tiba-tiba Brian menyatakan perasaannya saat itu. “Liv, aku suka sama kamu” Ucap Brian saat angin sepoy memainkan anak rambutnya “Hah, kenapa aku ga kedengeran” Jawab Livia “Lupakan aja deh” Jawab Brian dengan rasa malu. Brian sudah lega, karena perasaan yang dipendam selama ini sudah diungkapkan.Brian sudah selesai mengantar Livia ke rumahnya, Brian juga sudah di rumah. Namun Brian masih kepikiran saat ia menyatakan perasaannya kepada Livia siang hari tadi. “Kok tadi aku ngomong kayak gitu ya” Ucap Brian sambil tersipu malu.Hari pun berganti, mereka bertemu lagi di sekolah. Brian masih merasa malu karena kejadian kemaren, jadi ia tidak mengajak Livia mengobrol hari ini.Jam menununjukkan waktu istirahat. KRINGGGGGG Suara bel berbunyi. Semua murid keluar untuk makan, bermain, dan melakukan aktivitas lain. Tiba-tiba Livia menghampiri Brian. “BRIANNNN!!!” Seru Livia “kenapa?” Tanya Brian kebingungan “Aku mau ngomong sebentar boleh?” “Boleh”Mereka pun mencari tempat yang tidak ramai, dan Livia mulai berkata “Sebenernya kemaren aku dengar perkataanmu, aku juga suka sama kamu Brian” Ucap LiviaBrian terdiam sesaat, selama ini gadis yang disukainya ternyata juga menyukainya. “Hah, serius?” “Iya, aku serius” Jawab LiviaBrian dan Livia mulai berpacaran. Pada hari esok Brian memberi tahu teman-temannya, dia sudah berpacaran dengan gadis yang dia incar selama ini “Guys, kemaren aku udah jadian sama Livia”Ucap Brian “Wedehhh selamat ya”Jawab teman-temannya Brian.Beberapa hari kemudian, Brian mengajak Livia nonton film bareng. “Liv, mau nonton ga?” Tanya Brian “Bolehh” Jawab Livia. Lalu mereka pergi nonton.Saat mereka sampai di bioskop, Livia melihat sosok cowok yang tampan, sosok ini memikat hati Livia. Saat itu Livia bilang ke Brian bahwa ia ingin pergi ke toilet, tetapi Livia malah menghampiri cowok itu dan mengajaknya berkenalan.Tiga bulan sudah berlalu, Brian dan Livia masih berpacaran tetapi Livia juga menjalin hubungan dengan cowok yang ia temui di bioskop. Pada hari itu, saat pulang sekolah Livia menghampiri Brian “Brian, hari ini aku ga pulang bareng kamu dulu ya, gapapa kan?” Ucap Livia “Iya gapapa, emang kamu pulang bareng siapa?” Jawab Brian “Oh…, aku pulang sama temenku” Jawab Livia dengan cemas “Ohh, okayy”.Brian mulai curiga, sudah beberapa hari Livia selalu menolak ajakannya. Brian mulai overthinking karena sikap Livia yang seperti tidak peduli padanya. Brian bertanya kepada teman dekat Livia “Eh, Livia kenapa ya? kok belakangan ini dia seperti menjauh gitu dari aku.” Tanya Brian “Brian, Livia lagi deket sama cowo lain, dia katanya bosen sama kamu” Jawab temannya Livia. Brian sedih dengan perkataan dari teman Livia yang menyatakan bahwa Livia dekat dengan cowok lain.Beberapa hari telah berlalu, hubungan mereka berdua semakin renggang. Saat bel pulang sekolah Brian pergi mencari Livia “Ketemu juga akhirnya, OIII LIVIAAAA” Teriak Brian dari ujung lapangan. Brian menghampiri Livia, tetapi Livia menghiraukan kedatangan Brian. Brian bertanya kepada Livia. “Liv, kamu lagi deket sama cowo lain?” Tanya Brian. “Engga” Jawab Livia . “Jujur Livvv” Tanya Brian dengan raut muka bersedih. “IYA AKU DEKET SAMA COWO LAIN, KENAPA? AKU UDAH BOSEN SAMA KAMU, AKU MAU KITA PUTUS AJA!” Jawab Livia dengan tidak santai. Livia pun langsung pergi dari tempat itu, dan Brian perlahan meneteskan air mata dan mukanya memerah. Brian bersedia, gadis yang selama ini dia inginkan meninggalkannya begitu saja.Empat bulan berlalu, Livia sudah berpisah dengan cowok itu, dan ia memiliki keinginan untuk menjalin hubungan dengan Brian lagi. Brian sedang bersantai di rumahnya, dia melamun dan ia tertidur. Brian mimpi saat ia pertama kali ia bertemu Livia dan melakukan segala cara untuk berkenalan dengan dia. Tiba-tiba Brian terbangun dan terdengar suara ketukan pintutuk.. tuk… tuk… Brian bergegas membuka pintu. “Haiii” Suara lemah lembut seperti suara Livia dengan muka tersenyum. “Livia??” Jawab Brian dengan rasa terkejut dan terheran-heran.Tamat.

Cinta Dalam Diam
Romance
22 Nov 2025

Cinta Dalam Diam

Perkenalkan nama gue Nurjanah, gue adalah anak kedua dari tiga bersaudara. gue ingin menceritakan kisah cinta gue yang mungkin selama ini gue tak bisa mengungkapkan langsung dengan seseorang laki laki yang gue cinta. Dan seseorang itu adalah teman gue waktu gue sekolah SMP, gue sih gak tau kenapa gue bisa tiba-tiba suka sama dia tetapi perasaan ini terus menerus ada di dalam hati gue dan pikiran gue hanya dia dan di dalam mimpi gue selalu ada wajahnya.Waktu gue kelas 3 SMP gue bertemu dengan dia. Waktu pertama kali sih gue gak suka tapi mulai hari demi hari tiba-tiba muncul entah ada rasa yang aneh, setiap kali gue selalu ingin bersamanya dan kadang gue selalu mencari perhatian dan rasanya gue tuh ingin sekali berbicara dengannya saja. entah mengapa baru kali ini gue merasakan perasaan seperti ini.Hari demi hari aku selalu memandanginya dari kejauhan, karena gue dan dia sekelas jadi gue selalu bisa bertemu dengannya. Di suatu waktu ada mata pelajaran IPS tiba-tiba guruku memberikan pelajaran yang dimana harus berkelompok dan menyuruh untuk menghitung dari tempat duduk yang pertama paling pojok barisan laki-laki angka 1 sampai 10 dan dan mengulanginya sampai terakhir, dan kebetulan gue dan dia satu kelompok, di saat itu perasaaan gue bahagia sekali dan tak menyangka gue dan dia satu kelompok. dan akhirnya gue dan teman-teman yang lain duduk bersama yang telah ditentukan oleh guru tadi dan gue duduk saling berhadapan dengan dia. jujur gue sangat grogi dan rasanya tidak bisa gue ungkapin.Hari demi hari, bulan demi bulan, Pun telah kita lewati sampai pada waktunya perpisahan pun tiba. Dan waktu itu aku berpikir mungkin kita gak akan bisa bertemu lagi, tetapi takdir yang bisa mempertemukan kita kembali. gue melanjutkan sekolah SMK, dan ternyata dia pun melanjutkan ke sekolahan yang sama dengan gue yaitu sekolah SMK, tak kusangka aku bisa bersama satu sekolahan dengannya lagi.Waktu itu aku bertemu dengannya sedang menghadiri tes masuk ke smk. dan dia mengambil jurusan otomotif atau TKR. Sedangkan aku administrasi perkantoran atau AP. karena kita beda jurusan terpaksa gue sama dia gak sekelas karena kita beda jurusan, tetapi gue seneng walaupun kita beda jurusan. Gue masih bisa memandangnya dan bertemu dengannya.Waktu itu gue belum punya FB atau pun Wa dan di kelas satu SMK gue pertama kali dibikinin sama teman sebangku gue FB dan di waktu itu gue melihat ada FB nya dia yang bernama Wahyudin, dan gue sih malu untuk meminta pertemanan padanya. tetapi gue akhirnya pun minta pertemanan dengan dia. tetapi gue karena malu gue akhirnya batal untuk minta pertemanan ke dia, tetapi tak disangka dia pun meminta pertemanan ke gue dan gue bahagia akihrnya gue konfirmasi deh FB nya.Hari demi hari ketika aku sedang solat dan selesai membaca Alquran gue liat FB. dan di beranda gue liat status dia, ternyata dia udah punya seorang kekasih, dan disaat itulah gue blokir FB dia dan sungguh waktu itu gue ngerasain sakitnya bila cinta tapi tak bisa memiliki.Akhirnya gue coba ikhlasin dan mencoba untuk melupakannya dan semakin gue berusaha melupakannya semakin gue selalu keinget tentangnya. Dan sejak saat itu gue simpan perasaan gue ke dia karena gue tak ingin merusak hubungan orang. karena gue tau bagaimana sakit cewek yang direbut kekasihnya oleh cewek lain.Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun aku naik kelas dua dan gue saat itu hanya bisa memandanginya saja dan saat itu gue mencari cari FB dia tapi dia mempunyai FB yang baru dan akhirnya aku hanya bisa melihat fotonya dan selalu melihatnya dari kejauhan dan sampai aku naik ke kelas 3 SMK dimana waktu yang lama gue habiskan menimba ilmu dan bercanda tawa serta dimana aku akan berpisah dengannya dan teman temanku, di waktu itu ulangan UAS kelas gue kebetulan duduknya disatukan dengan kelas dia TKR 1 dan Ap 1. gue sih pengen sekali duduk bersama dengan dia tapi ternyata kenyataan berkata lain, aku duduk dengan teman yang sejak madrasah aku bersamanya, untung saja aku duduk dengan sahabatku namanya Dimas dan gue dengan Wahyudin beda kelasnya karena kita absennya jauh. tetapi gue seneng bisa melihat dia dari Deket walau gak sebangku.Setiap kali gue mau masuk ke kelas gue bertemu dengan dia sedang duduk di depan kelas dengan temannya. dan setelah selesai UAS dan ujian pun sudah dilakukan semua dan akhirnya tiba Dimana waktu yang sangat membuat aku sedih dan tak mungkin lagi aku bisa melihatnya lagi pun telah usai. dan setalah semuanya berpisah gue masih menyimpan perasaan ini sampai gue kerja dan sampai sekarang, walau gue dengan dia tak saling bertemu namun cinta gue ini tulus dan takkan ada seseorang yang sepertimu. Bagiku dia adalah seseorang yang sangat sederhana dia tidak putih tetapi hitam manis, dia baik dan berbeda dengan yang lain. Dia adalah seseorang yang pendiam, seseorang yang menurut gue spesial di hati gue.Mungkin perasaan ini hanya bisa kusimpan, aku iklaskan engkau dengan yang lain asalkan engkau bahagia. mungkin kalau kita dipertemukan kembali oleh Allah mungkin kita akan bertemu, bagiku engkau cinta pertamaku, mungkin aku hanya bisa mencintaimu dalam diamku. mungkin engkau tak tahu perasaan yang aku selama ini rasakan.

Sebuah Kenangan
Romance
22 Nov 2025

Sebuah Kenangan

6 tahun lalu, aku mengenal sosok tak berkesudahan yang memberi rasa nyaman dalam balutan kasih. Senyumnya menawan, juga kehadirannya memberikan secercah asa di relung hatiku. Tatapan sayu bola matanya turut menggetarkan denyut jantungku.Sembari menyeruput kopi panas, mari kuceritakan memori abu-abu bersamanya yang tiba-tiba mengusik ingatan.Kota Garam, Maret 2015 “Selamat pagi, Paramita Yoo. Selamat datang di keindahan dunia fatamorgana dengan ilusi lensa berdiafragma 16.” Dia menyapaku riang di lorong sekolah pagi ini, memamerkan deretan gigi putihnya yang berbaris rapi juga eyes smile menggemaskan di paras rupawan idaman ribuan kaum hawa. Aku memalingkan wajah ke kiri, “Selamat pagi kembali,” balasku singkat namun tetap mengalun ramah di sepasang telinga miliknya.Tolong maafkan egoku yang tak ingin mengalah untuk berargumen.Sosok lelaki tampan ini kembali mengulas senyuman menawan, membuat cekungan kecil pada kedua pipi tirusnya tak sengaja terlihat. Manis. Aku memuja pahatan sempurna wajahnya dengan jujur dari dalam hati. Tak ingin menciptakan sedikit pun kebohongan karena lelaki ini sungguh menakjubkan sepasang mata yang memandang.“Mita sudah sarapan?” Aku mengangguk pelan, “Sudah, sarapan nasi goreng dengan segelas susu coklat hangat pada pukul 6 lebih 15 menit lalu, bersama ayah dan bunda di meja makan keluarga.” Nahas sekali ketika menyadari polusi suaraku membuat bibir tipisnya mengerucut kesal. “Ah sayang sekali, padahal Diwan mau ngajak Mita sarapan bareng, ditemani beningnya embun pagi yang masih menempel di rerumputan lapangan sekolah,” rajuknya manja membuat rona pipiku tak mampu menyembunyikan semu merah yang terus meminta untuk dipamerkan.“Mau aku temenin?” “Mita mau?” Diwan menjawab cepat sejalan dengan matanya yang berpijar indah kala mendengar tawaranku, membuat tawa geliku dipaksa untuk keluar.Ya Tuhan, mengapa remaja 17 tahun ini begitu menggemaskan di pantulan retina mataku? Mengapa aku sangat terlambat menyadari kepolosan sikap yang ia perlihatkan?“Tentu,” sambutku sembari tersenyum. “Beneran?” Aku kembali menganggukkan kepala, “Apa aku pernah bohong?”Kedua matanya terlihat menimbang-nimbang jawaban sebelum diungkakan, juga pergerakan jari telunjuknya yang mengetuk pelan dagu simetris kepunyaannya.“Nggak, sih. Tapi siapa tau kan kalau tiba-tiba Mita menciptakan karakter baru, seperti cerita khayalan di negeri dongeng? Jadi bukan kesalahan dong kalau Diwan curiga. Lagian ya, curiga itu termasuk naluri yang pasti dialamin semua orang, loh.” Aku mencebikkan bibir membuat decakan kesal lolos dengan mudahnya dari mulut mungilku. “Suka sekali sih bikin karangan bebas pelajaran Bahasa Indonesia.” Dia tertawa begitu renyah, sebelum kembali mengulang pertanyaan serupa. “Kamu beneran mau nemenin aku sarapan?” “Iya,” singkatku.Aku teramat malas untuk mengulang pernyataan serupa, terlebih megenai perkara yang sangat tidak penting seperti ini. Cukup tau saja, aku bukan termasuk golongan remaja yang suka menyia-nyiakan kumpulan detik dalam putaran jarum 24 per tujuh.Waktu adalah uang, dan setiap detik adalah tajamnya pedang. Disanggah oleh jutaan orang pun, analogi tersebut selamanya akan tetap seperti itu.“Serius, kan? Seperti bentuk nyata dari paham empirisme, kan?” Aku menghela napas, “Iya, Diwan Dirgantara, anak semata wayang dari pasangan tuan dan nyonya Dirgantara. Pewaris tunggal Dirgantara Maskapai yang harta kekayaannya tidak habis tujuh turunan, meskipun anak cucunya hanya menghabiskan hari dengan sebatang rokok dan secangkir kopi hitam tanpa gula.” Diwan terbahak dengan mengimbangi intonasinya setinggi frekuensi ultrasonik yang hanya dapat didengar oleh lumba-lumba. Akan tetapi, gelakan tawa Pangeran justru mampu membuat pipiku kembali bersemu merah merona.Aku selalu suka dan sangat terbiasa untuk tersipu malu saat menjadi alasan dibalik senyum dan tawa memikatnya. Ah, memalukan sekali setiap menyadarinya.“Kamu beneran udah sarapan? Nggak lagi bohong, kan?” Diwan kembali bersuara saat derap langkah kaki kami telah memasuki ruangan kantin berukuran 8×24 meter persegi. Entahlah, aku tidak tahu pasti mengenai Pangeran yang terus menerus mengulang pertanyaan serupa. Apakah Pangeran sedang berada di fase kehabisan topik pembicaraan, ataukah hanya sekadar berusaha mencairkan bongkahan kecil es batu? Lupakan saja, aku malas menduga-duga hal abstrak ini. Tidak berguna sama sekali.“Kan tadi sudah tanya, ngapain diulang? Buang-buang kalori tau.”Dia menghentikan langkahnya secara tiba-tiba tepat sebelum mengambil duduk di salah satu bangku. Tindakannya sontak saja membuat pergelangan tanganku sedikit tersentak karena tautan tangan kami yang masih membentuk simpul.“Sunahnya harus dilakukan tiga kali dalam bertindak. Apa perlu aku tanya lagi biar sekalian nabung pahala? Kalau dipikir-pikir, puncak gunung dosaku semakin meninggi setiap harinya jadi perlu dikikis sedikit demi sedikit dengan tabungan pahala.” Dia terdiam sejenak kemudian bersiap untuk kembali membuka mulutnya lebar-lebar. Mulut harimaunya bahkan telah membentuk huruf kapital O secara sempurna.“Kamu ngomong sekali lagi, kita putus.” Aku menudingkan jari telunjuk tepat di depan mata beningnya. Membuat keterkejutan terukir jelas di pahatan paras elok milik Pangeran. Juga, mata sipitnya yang seketika membelalak sungguh membuat hasrat gelakan tawaku ingin keluar.Satu detik. Dua detik. Tiga detik telah berlalu.Lelaki berpostur tegap ini membatu dengan ekspresi tercengang yang menjadi ciri khas kerupawanannya. Tak lupa, ia membiarkan begitu saja kepulan asap nasi goreng yang menguar bebas di antara kami. Menjadikan harum kencur dan bumbu-bumbu dapur lainnya menerobos secara semena-mena pada sepasang lubang hidungku.“Tapi Ta, kita kan nggak pernah pacaran. Kamu lupa, ya?”Sekakmat. Dia bertanya dengan kalimat retorik super bodoh yang membuat indra pendengaranku terasa panas. Tampilan mimik wajahnya kala mengeluarkan polusi udara juga memperlihatkan keluguan yang teramat menjengkelkan. Sungguh, hatiku seperti tercabik-cabik kuku tajam nan kotor binatang buas saat kalimat tak berdosa keluar dengan mudahnya dari bibir ranum Pangeran.“Aku ingat kok dan tahu betul kalau hubungan kita cuma sekadar temen, nggak lebih dari itu.” Tak dapat berbohong, jantungku berdenyut pilu ketika ungkapan itu keluar dari rongga tenggorokanku.“Terus ngapain kamu ngancam aku kayak tadi?” Diwan benar-benar berekspresi datar saat menanyakan perihal pahit itu padaku. Memunculkan hasratku untuk mengumpati wajah rupawannya dengan mengabsen sekumpulan nama-nama hewan di kebun binatang nasional milik negara.“Aku nggak sengaja tanya, ya. Kamu tau kan kalau aku tipikal orang yang mudah refleks?” Sejenak, aku menghela napas dalam-dalam. Menyadari betapa bodohnya diriku yang masih saja bertahan pada kubangan lumpur hubungan abu-abu poros pertama kehidupan remaja.Benar, aku dan Diwan memang bukan sepasang kekasih yang tengah dimabuk gelora api cinta. Aku dan Pangeran juga tidak terikat dalam status pacaran ala anak remaja pada umumnya. Hubungan aku dengannya sekadar teman biasa, tidak lebih dan tidak kurang. Pas sesuai takaran timbangan asam manis kehidupan.“Refleksmu membuatku berpikir tentang hal-hal aneh, Ta.”Aku terdiam mendengar pernyataan Diwan, takut salah dalam menafsirkan maksud dari ucapannya. Dan aku tidak ingin jatuh terlalu dalam pada lubang ilusi maha karyaku sendiri.“Bercanda, Ta. Kamu marah sama aku?” Seolah tak berdosa, Pangeran tersenyum kecil kala selesai mengucapkan kumpulan kata dari mulut berbisanya.Biarlah, terserah dia saja. Diwan Dirgantara selalu menjadi pihak yang benar saat menghadapi situasi apapun. Tetapi tunggu, perlukah pertanyaan semacam tadi untuk ditanyakan padaku? Apa dia tidak merasa keliru dalam memilih objek sasaran bertanya? Ralat. Mungkin akan terdengar lebih masuk akal jika keretorikan tersebut diubah redaksinya menjadi, pantaskah aku marah untuk ketidakjelasan hubungan yang membelenggu ini? Jauh lebih sederhana dan tentunya begitu menyakitkan.Dan kau tahu? Aku merasa jawaban yang paling tepat hanya berupa, “Aku tidak marah, sama sekali tidak. Aku kan nggak bisa marah sama kamu.”Dasar penipu ulung, penipu tingkat dewa tertinggi dalam jajaran alam semesta. Mudah sekali diriku untuk melakukan satu kebohongan layaknya kejadian beberapa detik lalu. Atau mungkin aku telah terbiasa melupakan sayatan hati setiap kali menutup kebohongan yang sama?Diwan kembali mengeluarkan desahan yang terdengar lelah. Berat napasnya seakan mewakili suara hati yang tengah mengutarakan kesetaraan hak untuk direalisasikan oleh si empunya raga.“Kamu tahu kalau aku–” “Iya, aku tahu kok. Kamu nggak perlu risau.” Bak besaran angka kecepatan cahaya yang aku temui beberapa hari lalu dalam pelajaran ilmu alam, aku memotong kalimatnya secepat kilat seraya tersenyum kecil pada lelaki bertubuh tegap ini.“Ta,” panggilnya pelan.Jujur saja, aku dibuat bingung untuk mengklasifikasikan suara beratnya ke dalam kalimat sapaan ataukah kalimat pertanyaan. Terlalu membingungkan untuk aku yang masih awam terhadap dunia komunikasi.Alisku terangkat sebelah, “Kenapa?” “Maaf.” Nada suaranya terdengar pasrah. Sinar cerah matanya juga turut meredup, seperti ikut serta menyelaraskan perasaan terdalam dari jeritan hati kecil bagian organ tubuhnya.“Untuk?” “Perlukah aku memperjelasnya?” Suaranya terdengar melemah selaras dengan denyut nyeri di hati ketika melihat penampakan mengenaskan yang tertangkap oleh bola mataku.“Kamu nggak salah. Nggak ada yang perlu dimaafin ataupun meminta maaf.” Remaja tampan ini menggelengkan kepalanya, “Nggak, Ta. Aku tetap aja perlu minta maaf sama kamu.” Dia selalu keukeuh di setiap mengatakan sesuatu, menolak dengan sangat keras untuk membiarkanku menyanggah kalimat-kalimatnya. Mungkin jika dia menjabat sebagai kepala negara, ia akan memimpin dengan gaya kepemimpinan otoriter yang mengerikan.“Diwan, kamu nggak salah. Jadi orang jangan bandel, deh.” Tingkatan oktaf suaraku menurun beberapa angka dari semula. Terdengar lemah dan putus asa untuk kembali menyadarkan nalar positifnya. “Itu hukum alam dan kamu harus rela menerimanya.” Aku tetap berusaha untuk menyanggah pemikiran-pemikiran negatif yang terus mengerumuni otaknya. “Jangan menganalogikan semuanya dengan hukum alam, Ta, seakan-akan aku tidak cukup berusaha dalam merubah kuasa Sang Pencipta.”Aku tertohok dengan penuturan yang diungkapkannya. Pola pikir Diwan sungguh tidak mampu untuk kutebak. Dia mampu bertingkah dewasa dan kekanakan dalam satu waktu yang sama.“Diwan!” Nada suaraku meninggi, kesal dengan kilah yang terus ia gunakan untuk menutup alibi kenyataannya.“Tapi, Ta.” “Apa? Jangan mempersulit keadaan, aku nggak suka.” Kedua alisnya menukik tajam, namun tidak terlihat ada kesinambungan dengan tatapan mata beningnya. Pijarnya semakin meredup, juga helaan napasnya semakin membuatku merasa kasihan.“Masalahnya, hatiku selalu bilang kalau aku suka kamu. Jadi, aku harus apa?”

Pura Pura
Romance
22 Nov 2025

Pura Pura

“Aku tahu kamu hanya pura-pura mencintaiku,” ucap Lana penuh dengan nada sedih, ia menatap pria di hadapannya, sedu. “Dan bodohnya aku baru sadar.”Alvan Aliandi, temannya sekaligus kekasih pertamanya mematung. Geraknya beku, lidahnya kelu. Rahasia yang ditutupi, telah diketahui. Kebohongan sudah terkalahkan oleh kejujuran. Alvan mencekal lengan Lana, tapi langsung ditepis oleh sang empu.“Beri waktu aku menjelaskan,” ucap Alvan memandang Lana lekat, meminta pendapat persetujuan.Lana memalingkan muka. “Semuanya sudah cukup jelas.” Ia berbalik badan, mengayunkan kaki menjauh, meninggalkan Alvan sendirian.Kata siapa, berteman dengan laki-laki itu tak akan mungkin bisa membuat cinta. Kata siapa berteman dengan laki-laki tak bakal bikin baper. Kata siapa?Lana memeluk kucingnya erat, seraya berkata curhat tentang lika-liku persahabatan dan percintaannya harus rusak karena cintanya. Ia tahu Simeng tak bakal merespon memberi nasehat, ia tahu Simeng hanya binatang berbulu. Namun, yang terpenting ia hanya butuh sesuatu menjadi pendengar yang baik, tanpa memotong ucapannya.“Kenapa lukanya segurih ini kalau memperdalam, Meng. Enak banget emang, ya Meng kalau sakit hati.”Ponsel berdering sedari tadi, mati lalu berbunyi kembali. Namun, tak ada niat si pemiliknya untuk mengangkat panggilan.Lana meletakkan Simeng yang sudah tertidur di atas kasur. Mungkin menurut hewan berekor itu curhatan sakit hatinya seperti dongeng pengantar tidur. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh muka.Berteman selama sepuluh tahun lamanya, ternyata keakraban bisa menumbuhkan benih-benih rasa di hatinya. Kehangatan bisa menghasilkan rasa nyaman. Tanpa rasa malu, ia sebagai wanita mengatakan perasaannya duluan. Ia tidak takut dengan penolakan, itu bisa menjadikannya sadar. Ia hanya takut ketika ia memendam rasa lebih lama, cinta itu semakin memperbesar.Namun, siapa sangka Alvan juga berkata memiliki rasa yang sama. Hingga akhirnya pacaran adalah pilihan mereka.“Aku sudah tahu semuanya. Kamu menerima cintaku hanya kamu tak mau aku menangis mendengar penolakan, kamu tak mau aku tersakiti karena cinta bertepuk sebelah tangan.” “Padahal aku lebih memilih merasakan itu, kalau kamu jujur. Kebohonganmu justru membuatku terluka lebih parah dari yang kuduga, pura-pura cinta nyatanya hanya menganggap teman saja. Itu lebih sakit, Van!”

Pelarungan Abu Sore Itu
Romance
22 Nov 2025

Pelarungan Abu Sore Itu

Membersamaiku, engkau termenung. Seolah engkaulah abu itu. Sorot mata itu sudah melayu. Kerlap yang biasa terpancar dari matamu pun sudah sirna. Sampai aku tidak sanggup berucap apapun, kelu, sungguh. Andai saja engkau tahu, akulah abu itu.—Di tepi pantai malam itu, aku melihatmu memandangi perapian dengan tatapan kosong. Kupikir, engkau sedang membakar ikan yang kau tangkap sore tadi, tepat ketika kita juga berpapasan dan melempar senyum di antara nyiur yang melambai lembut. Kerlap di matamu yang diukir oleh berkas cahaya matahari yang mulai lingsir, ah aku sungguh jatuh cinta pada itu. Entahlah, meskipun kita pernah saling bertemu di pagi hari, siang bolong, kerlap matamu di sore hari jauh lebih menawan dan membuat hatiku terperangah sepanjang perjalanan menuju desa sebelah. Kita ini disatukan oleh lautan ini. Satu lautan untuk ikan yang berbeda-beda. Jikapun kita berlayar di waktu yang sama, kita tak akan pernah menangkap ikan yang sama. Akan berbeda jika kita berlayar pada satu perahu yang sama, jemari kita pada jaring yang sama, ikan yang kita tangkap pun niscaya sama. Tapi, tak pernah itu terjadi.“Sedang membakar apa?” Dia hanya menggelengkan kepala. Aku duduk, mengalasi diriku dengan sandal jepitku yang kumal dan diselimuti pasir-pasir pantai yang baru saja bermandikan ombak kecil di perjalanan aku mendekatimu. Aku melihat ke matamu, kerlap itu tidak ada. Kita berdiam selama dua puluh menit. Aku membisu melihatmu yang begitu membatu. Hanya melukiskan coretan antah berantah di atas pasir yang di atasnya, beberapa cangkang bertebaran, ada juga bebatuan putih, dari mana ini? Lupakan.“Tadi ikan yang kutangkap, lumayan, laku terjual.” Ujarku berniat menyambung percakapan yang terkapar lesu seusai terhuyung oleh sunyi di sorot matamu. “Baguslah.” “Ikanmu?” “Aku tidak menangkap sedikitpun.” Aku mengernyitkan kening. Jadi untuk itukah engkau bergeming? “Aku mulai berpikir untuk tidak melaut lagi.” Aku tercengang. Seketika sebatang kayu kecil ini berhenti menari. Padahal, aku tengah menuliskan namamu, di sini. “Loh, kenapa?!” Engkau tersenyum kecil. “Aku harus pergi mengembara ke daratan.” “Daratan? Daratan mana?” “Boulevard.” “Jauh sekali. Mau apa di sana?” “Aku tidak bisa hidup seperti ini terus. Bisa-bisa aku mati terhunus. Mengandalkan ikan-ikan bau.”Sejak kapan kau menjadi begini? Aku masih tidak mengerti. Padahal, tahun ke tahun engkau hidup pun berkat ikan-ikan yang datang ke jaringmu, yang kau layarkan dengan sukacita dan pengharapan. Mungkin, itulah sebab ikan-ikan di sore tadi menjauhinya. Bahkan ikan-ikan pun punya firasat ia tidak lagi berarti bagi dia yang terkatung-katung dan menunggu di atas tarian laut.“Cukup tadi, itu terakhir.” Imbuhmu. Engkau berdiri dan berjalan pergi, langkahmu itu seperti ditahan sesuatu, mungkin rindu yang engkau sembunyikan dariku?Hari masih pukul 2, aku sudah memasang badan menuju ke lautan dengan peralatan layaknya pahlawan lautan tenteng sepanjang jalan, oh bukan, sepanjang lautan. Bukan pahlawan lautan juga, melainkan hanya nelayan jadi-jadian sebagai penopang atap kehidupan yang mulai rapuh dilahap rayap. Ah, aku rindu pada atap-atap milik rumah-rumah berpilar. Apalagi jika aku melalui rumah Derana, keluarga yang dikenal sebagai keluarga saudagar di desa sebelah. Rumahnya berpilar, atapnya kinclong bahkan dari radius jauh sekalipun sudah menyilaukan mataku. Tapi, itu dulu. Sekarang rumah itu hampir seperti rumah hantu. Ditinggalkan tak bertuan selama bertahun-tahun. Konon, perselingkuhan menjadi penyebab pecahnya rumah tangga di bawah atap kinclong rumah berpilar itu. Sehingga, terpecah-pecahlah mereka antah berantah. Gelimang harta hanya terpaku menatap deraian deras airmata pilu anggota keluarga itu. Tidak ada yang meninggal, hanya saja, katanya, rumah itu seperti neraka dalam ingatan, yang membuatnya kemudian harus ditinggalkan. Jika sepedaku mengayuh melalui rumah itu, selalu terbesit rindu bilakah rumah itu dihibahkan untukku? Niscaya kuubah ia menjadi surga. Oh, iya, apa kabar Derana ya? Lupakan.Di perjalanan menuju lautan, aku mencium aroma yang tak seharusnya ada di dekat lautan. Aroma-aroma minyak wangi saudagar, mungkin? Seperti iklan di televisi, mungkin? Aku mencoba berjalan mendekati asal aroma itu. Ternyata, itu kau! Aku nyaris tidak dapat mengenalimu karena postur tubuhmu yang tegap, baju yang rapih, bersih, wangi. Rambutmu bahkan klimis, malam tak sanggup melalukan kilau rambutmu. Tetapi, sorot matamu?“Hai pejuang lautan jantan!” Sapanya sambil tertawa lepas. Sungguh berbeda raut wajahmu itu. Seringaimu begitu lebar, tidak seperti hari kemarin aku berjumpa denganmu. “Mau ke mana?” “Persiapan ke Boulevard lah.” “Loh, hari ini?” “Iya.” “Kenapa kau tidak bilang padaku supaya aku masakkan makanan untukmu sebagai perpisahan?” “Jangan bilang menunya ikan.” Aku terdiam, sekaligus tercengang, mengapa engkau berbeda? “Aku mulai bosan, sungguh, aku bosan. Ikannya kamu makan sendiri saja. Kamu belum sarapan, ‘kan?” Terus aku kejar sorot matamu. Mengapa engkau berbeda? Di mana kerlap itu kau sembunyikan?“Oh iya, nanti sore, temani aku ya.” “Ke mana?” Engkau merangkulku mendekati bibir pantai. “Telah lama kita saling mengenal. Eh, kamu lagi buru-buru kah?” Aku menggelengkan kepala. Tunggu, aku sungguh hampir dibuat jatuh ke pundakmu, karena aroma itu demikian menyengat merasuk ke dalam kalbu. Inikah aroma Boulevard? Aroma saudagar? Aroma Derana? “Kalau begitu nanti sore kita adakan perpisahan ya? Ya, anggap saja sebagai tugu peringatan kita pernah bersama mengarungi lautan. Tapi, kita belum pernah ya di atas perahu yang sama?” Aku ingin menangis, sungguh pedih setiap ujar yang keluar dari mulutnya. Ayolah mentari! Lekaslah terbit! Jangan bersembunyi terus! Aku rasanya ingin mati! Mengapa engkau harus pergi?“Kalau begitu mengapa tidak kita kali ini di atas perahu yang sama?” Sahutku memberanikan diri. Kau menatapku mataku dengan lembut, lalu tersenyum. “Bagaimana ya? Sebentar lagi aku harus pergi, dan memang harus pagi-pagi. Sebab, banyak hal yang harus kuurus sebelum malam ini aku sungguh-sungguh meninggalkan ini, dan dirimu.” “Sebentar saja, ayo! Sampai pukul 03:00 lah.” “Ah, nanti aku harus ganti baju lagi.” “Tidak, aku pastikan tubuhmu tidak terjamah air ini. Aku janji.” Lalu, engkau mengangguk setelah beberapa detik berlalu dalam ragumu, tepat ketika engkau memegang dagu sambil memandangi laut. “Ya sudah deh, sebentar saja ya.” Aku mengangguk.Akhirnya, kita berada di atas perahu yang sama. Tidak banyak bicara, terdiam dan terdiam. Engkau menepi menjauh dari aku yang terus sibuk dengan jaringku. Aku menunggu engkau berucap sesuatu, seperti… “Aku mencintaimu” mungkin? Lupakan. Sesekali aku melirik ke arahmu, engkau tidak membalas tatapku, hanya terpaku pada langit, sesekali laut, begitu terus.“Kenapa tidak kau ceritakan padaku tentang Boulevard itu?” Ujarku. “Kalau aku ceritakan, nanti kau menjadi sedih. Sebab, kau tak lagi punya teman melaut.” “Setidaknya dengan menceritakan padaku, aku bisa mencari penggantimu.” Kelakarku. Padahal, aku tidak punya seorang pun yang kupandang mampu menggantikanmu. Tak terbayang, hanya engkau, dan engkau.“Kubiarkan hatimu terkatung-katung mencariku.” “Tidakkah hatimu merasa bersalah meninggalkanku?” “Hmm… Bersalah untuk apa? Pernahkah aku berhutang sesuatu padamu?” “Halah… Kalau aku ingatkan lagi, nanti kamu meringis!” “Apa sih? Hutang apa?” “Sesuap nasi yang kusuapkan ke mulutmu. Bibirmu pucat kala itu. Hanya aku yang di sampingmu. Hayo!” Engkau tertawa. “Jadi? Aku harus membalas serupa?” Aku terdiam, hanya tersipu malu. Kusembunyikan sipu maluku di permukaan laut, biarkan ia terkatung-katung menjauh seperti dirimu.“Jawab dong!” Tandasmu. “Jawab apa?” “Yang tadi. Harus ngga?” “Ya, terserah.” “Kau ini! Perhitungan sekali ya.” “Bukan perhitungan, hanya tertancap dalam ingatan.” Tandasku balik.Aku berhasil menepikanmu dalam keadaan tidak amis sedikitpun, air tidak mencolek sedikitpun dirimu, sesuai janjiku. “Makasih ya untuk waktunya.” Ujarku menepuk pundakmu. Engkau mengangguk. Lalu, pergi menjauh, menjauh, dan mulai meluruh bayangmu. Bilakah hatimu berkata sesuatu?Sore itu, kita bertemu, sesuai janji kita dini hari itu. Tapi, kulihat engkau membawa botol berisi apa itu? “Maaf membuatmu menunggu.” “Tak masalah, tunggu, itu apa?” “Botol abu.” “Abu apa?” “Abu semalam.” “Kamu bakar apa?” “Hmm… Sebut saja kenangan lah ya.” Lagi-lagi kau gurat kebingungan di dahiku.“Peganglah. Aku mau engkau yang melarungkan.” Aku semakin tak mengerti arti semua ini, bahkan arti dirimu menjelang kepergianmu. Dan abu ini? Abu apa? Abu siapa? Kenangan tentang apa?“Satu hal lagi yang aku mau kau genggam.” “Apa? Abu lagi?” “Bukan. Melainkan… Aku.” “Maksudnya?” Ia tersenyum. “Renungkan saja saat aku pergi ya. Nah, cepat matahari sudah mau terbenam. Larungkan!”Membersamaiku, engkau termenung. Seolah engkaulah abu itu. Sorot mata itu sudah melayu. Kerlap yang biasa terpancar dari matamu pun sudah sirna. Sampai aku tidak sanggup berucap apapun, kelu, sungguh. Andai saja engkau tahu, akulah abu itu.Abu itu kularungkan, kau sambut itu dengan senyuman tipis. Ada yang turut terbenam, turut melarung di dalam matamu? Apakah itu aku?“Sudah ya perpisahannya.” “Tunggu, apa maksudmu tadi?” “Maksud apa?” “Kau minta aku menggenggammu?” “Iya, genggam aku dan larungkan bersama abu tadi. Tadi kamu larungkan juga, ‘kan?” Aku mengunci mulutku. Aku menyembunyikan kamu di dalam saku celanaku.

Menampilkan 24 dari 230 cerita Halaman 9 dari 10
Menampilkan 24 cerita