Tikus Desa dan Tikus Kota
Folklore
10 Feb 2026

Tikus Desa dan Tikus Kota

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-02-10T215908.538.jfif

download - 2026-02-10T215908.538.jfif

10 Feb 2026, 14:59

download - 2026-02-10T215907.028.jfif

download - 2026-02-10T215907.028.jfif

10 Feb 2026, 14:59

SUATU HARI, Tikus Kota mengunjungi kerabatnya yang tinggal di desa. Ia datang dengan gaya angkuh, membawa kisah-kisah tentang gemerlap kota yang penuh cahaya, makanan lezat, dan kehidupan yang katanya jauh lebih “berkelas”. Tikus Desa menyambutnya dengan ramah dan penuh kehangatan, sebagaimana kebiasaan hidup di desa.

Untuk makan siang, Tikus Desa menyajikan batang-batang gandum segar, umbi-umbian hasil kebunnya sendiri, serta buah ek yang dikumpulkannya sejak pagi. Minumannya hanya air dingin dari mata air. Tikus Kota makan dengan enggan, mencicipi sedikit ini dan sedikit itu, jelas terlihat bahwa ia menyantap hidangan sederhana itu hanya demi menghormati tuan rumah, bukan karena menikmatinya.

“Di kota,” kata Tikus Kota sambil menyeka kumisnya, “kami makan keju lembut, kue manis, dan sisa jamuan para bangsawan. Hidup kami penuh kesenangan.”

Tikus Desa hanya tersenyum dan mendengarkan dengan sabar.

Setelah makan, mereka berbincang lama. Tikus Kota terus membual tentang pesta-pesta, rumah megah, dan meja makan yang selalu penuh. Tikus Desa mendengarkan dengan mata berbinar, membayangkan kehidupan yang belum pernah ia lihat. Malam pun tiba, dan mereka tidur di sarang hangat dekat pagar tanaman. Angin berhembus pelan, malam sunyi, dan tidur mereka nyenyak tanpa gangguan.

Dalam tidurnya, Tikus Desa bermimpi. Ia bermimpi hidup di kota, mengenakan mantel halus, menikmati makanan lezat, dan berjalan di antara kemewahan. Maka ketika pagi tiba dan Tikus Kota mengajaknya ikut ke kota, Tikus Desa menyetujuinya dengan penuh semangat.

Perjalanan mereka berakhir di sebuah rumah megah. Saat memasuki ruang makan, mata Tikus Desa membelalak. Di atas meja terdapat sisa-sisa perjamuan mewah: manisan berkilau, agar-agar lembut, kue berlapis krim, dan berbagai keju harum yang belum pernah ia cium aromanya seumur hidup.

Dengan hati berdebar, Tikus Desa hendak mencicipi sepotong kue kecil.

Namun sebelum gigitan pertama terjadi—

MEONG!

Seekor kucing mengeong keras sambil menggaruk pintu. Seketika itu juga, kedua tikus lari terbirit-birit menuju lubang persembunyian. Mereka berdiam di sana lama sekali, tubuh gemetar, napas tertahan, tak berani bergerak sedikit pun.

Saat keadaan terasa agak tenang dan mereka mencoba keluar, pintu tiba-tiba terbuka. Masuklah para pelayan untuk membersihkan meja, diikuti oleh anjing penjaga rumah yang besar dan galak. Tikus Desa nyaris pingsan karena ketakutan.

“Apa setiap hari kau hidup seperti ini?” bisiknya dengan suara gemetar.

“Ya,” jawab Tikus Kota pelan. “Beginilah harga dari kemewahan.”

Tanpa berkata panjang lagi, Tikus Desa kembali ke sarang Tikus Kota hanya untuk mengambil tas kain kecil dan payungnya.

“Barangkali kau memiliki kemewahan dan kelezatan yang tak aku miliki,” katanya sambil bergegas pergi, “tetapi aku lebih memilih gandum sederhana dan hidup tenang di desa, daripada makanan lezat yang harus dibayar dengan rasa takut setiap saat.”

Ia pun kembali ke desanya—ke sarang kecil yang hangat, malam yang sunyi, dan hidup yang sederhana namun damai.

Kembali ke Beranda