Gambar dalam Cerita
Pada suatu hari yang cerah, seorang nelayan sederhana pergi melaut seperti biasa. Sejak pagi buta ia telah bersiap, membawa jala dan bekal seadanya. Laut tampak tenang, langit biru terbentang luas, dan angin berembus lembut. Nelayan itu merasa hari ini akan menjadi hari yang baik untuk mencari ikan.
Namun, belum lagi perahunya sampai di tengah laut, suasana tiba-tiba berubah. Angin besar berembus kencang tanpa peringatan. Awan gelap mulai berkumpul, dan ombak tinggi datang berdeburan menghantam perahu kecilnya.
Nelayan itu segera sadar bahwa laut sedang murka. Ia tahu, jika tanda-tanda seperti itu muncul, ia harus segera kembali ke daratan. Dengan sekuat tenaga, ia mendayung perahunya menuju pantai. Sayangnya, sekeras apa pun ia mendayung, perahunya hanya bergerak sedikit karena tertahan oleh ombak yang sangat kuat.
Di tengah kepanikan itu, tiba-tiba nelayan melihat sesuatu yang membuat tubuhnya gemetaran. Dari dalam air laut yang bergelora, muncul sesosok laki-laki berambut dan berjenggot abu-abu. Makhluk itu berdiri di atas ombak, seolah menungganginya seperti manusia menunggang kuda.
Nelayan itu langsung berlutut di dalam perahu dan berdoa dengan penuh ketakutan. Ia tahu betul makhluk apa yang ada di hadapannya. Itu adalah duyung laki-laki. Dalam kepercayaan para nelayan, melihat duyung laki-laki adalah pertanda bahwa badai besar akan segera datang.
Namun, ketika nelayan itu memperhatikan lebih saksama, ia melihat sesuatu yang aneh. Duyung itu tidak tampak mengancam. Justru tubuhnya terlihat menggigil, wajahnya pucat, dan gerakannya gemetar menahan dingin.
Tiba-tiba, duyung laki-laki itu berteriak dengan suara parau,
“Dingin sekali! Aku sangat kedinginan! Salah satu kaus kakiku hilang!”
Nelayan itu tertegun. Ketakutannya berubah menjadi kebingungan. Tak pernah terlintas di benaknya bahwa makhluk laut yang menakutkan itu bisa mengeluh seperti manusia biasa.
Tanpa banyak berpikir, nelayan itu duduk, membuka sepatunya, lalu melepas salah satu kaus kakinya. Dengan niat tulus untuk menolong, ia melemparkan kaus kaki itu ke arah duyung.
Duyung laki-laki itu menangkap kaus kaki tersebut, lalu menatap nelayan dengan mata penuh rasa terima kasih. Sesaat kemudian, ia menghilang ke dalam laut, lenyap bersama ombak yang bergulung.
Ajaibnya, angin mulai mereda. Ombak pun perlahan mengecil. Nelayan itu kembali mendayung dan akhirnya berhasil sampai ke pantai dengan selamat.
Hari-hari pun berlalu. Selama seminggu penuh, nelayan itu selalu mendapatkan hasil tangkapan yang melimpah. Jalanya tak pernah kosong, dan ikan-ikan besar seolah datang sendiri ke perahunya. Nelayan itu merasa sangat bersyukur, meski ia tak sepenuhnya mengerti apa yang telah terjadi.
Suatu hari, saat ia sedang asyik menarik jala yang penuh ikan, ia melihat sesuatu muncul dari permukaan air. Rambut abu-abu yang dikenalnya kembali terlihat.
Itu adalah duyung laki-laki yang pernah ia tolong.
Dengan suara lantang, duyung itu berseru,
“Dengar, dengar, nelayan yang melemparkan kaus kaki! Pulanglah! Mendayunglah untuk pulang sekarang juga! Badai besar telah dekat!”
Tanpa ragu, nelayan itu segera mengemasi peralatannya dan mendayung secepat mungkin menuju pantai. Tak lama setelah ia sampai di daratan, badai besar benar-benar terjadi. Angin mengamuk, ombak menghantam pantai dengan ganas, dan hujan turun deras.
Nelayan itu menatap laut dari kejauhan dengan hati penuh rasa syukur. Ia sadar bahwa duyung laki-laki itu telah membalas kebaikannya. Berkat sikap baik hati dan keikhlasannya, nyawanya telah diselamatkan dari bahaya.
Sejak saat itu, nelayan tersebut percaya bahwa kebaikan sekecil apa pun akan selalu kembali kepada orang yang melakukannya, bahkan dari makhluk yang paling tak terduga.