Sumur Naga
Fantasy
09 Feb 2026

Sumur Naga

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-02-09T225631.763.jfif

download - 2026-02-09T225631.763.jfif

09 Feb 2026, 15:57

download - 2026-02-09T225604.545.jfif

download - 2026-02-09T225604.545.jfif

09 Feb 2026, 15:57

Sembilan bersaudara diperintahkan oleh Raja untuk pergi memerangi bangsa Frank, yang kini dikenal sebagai wilayah Jerman. Perintah itu tidak bisa ditolak. Dengan perlengkapan perang seadanya, mereka bersiap meninggalkan rumah.

Sebelum berangkat, anak tertua mendekati ibunya dan berkata dengan penuh hormat,

“Beri kami restumu, Ibu.”

Ibu itu menatap satu per satu wajah putra-putranya. Dengan suara bergetar ia berkata,

“Aku berikan restu untuk kalian berdelapan. Namun, untuk anak bungsuku tersayang, John… aku hanya bisa memberikan kuda terbaikku dan ucapan selamat tinggal.”

Ibu itu tertunduk sedih. Dalam hatinya, ia seakan merasakan firasat buruk yang akan menimpa John. Meski demikian, ia tahu takdir tak bisa dicegah. Ia mencium kening kesembilan anaknya satu per satu, lalu mengantar mereka sampai ke ujung jalan desa sambil menahan air mata.

Hari demi hari berlalu. Empat puluh hari sudah mereka berjalan melewati hutan, padang tandus, dan jalan berbatu. Persediaan air mereka pun habis. Tenggorokan terasa kering, tenaga mulai melemah.

Tiba-tiba, di kejauhan mereka melihat sebuah sumur tua. Dengan penuh harap, mereka berlari mendekatinya. Awalnya kegembiraan memenuhi hati mereka, tetapi kegembiraan itu sirna saat mereka menyadari bahwa ember sumur telah jatuh ke dasar.

Setelah berdiskusi, mereka sepakat menurunkan John ke dalam sumur. Tubuhnya paling ringan dan ia masih cukup kuat. Mereka mengikatkan tali ke pinggang John dan menurunkannya perlahan-lahan ke dalam kegelapan sumur.

Tak lama kemudian, terdengar teriakan dari bawah,

“Tarik! Tarik! Tidak ada air di sini! Hanya ada hantu yang sangat menakutkan!”

“Kami sedang menarikmu, John! Tapi kau terasa sangat berat!” teriak delapan kakaknya.

“Gunakan kudaku, si Hitam!” teriak John putus asa.

Mendengar suara itu, si Hitam meringkik keras dan bergerak liar seolah merasakan bahaya besar. Delapan kakak John segera mengikatkan tali ke pelana kuda itu. Bersama-sama, mereka menarik dengan sekuat tenaga.

Perlahan, tangan John mulai terlihat di bibir sumur. Disusul pedangnya. Namun ketika seluruh tubuh John muncul ke permukaan, delapan kakaknya terperanjat ketakutan.

Seekor Naga Hitam besar melilit tubuh John dengan sisiknya yang gelap dan matanya menyala merah. Delapan kakak John langsung menyerang naga itu dengan pedang mereka. Namun, sebuah tebasan meleset dan justru mengenai tali penarik hingga putus.

Dalam sekejap, John dan Naga Hitam terjatuh kembali ke dalam sumur yang gelap.

“Tinggalkan aku! Pulanglah kalian!” teriak John dari dasar sumur.

“Kami tidak bisa meninggalkanmu!” jawab kakak-kakaknya dengan suara putus asa.

Namun suara John kembali terdengar, lebih tenang namun penuh kepasrahan.

“Pergilah… dan katakan pada Ibu bahwa aku telah menikah. Katakan padanya bahwa batu nisan adalah mertuaku, dan bumi yang gelap ini adalah istriku.”

Suara itu perlahan menghilang, tenggelam bersama keheningan sumur. Delapan kakak John menangis dan berlutut di tepi sumur. Mereka tahu adik bungsu mereka telah menerima takdirnya dengan keberanian.

Dengan hati berat, mereka kembali pulang. Saat tiba di rumah, ibu mereka langsung tahu bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi. Dengan suara gemetar, anak tertua menyampaikan pesan terakhir John.

Mendengar itu, ibu mereka menangis, namun ia juga merasa bangga. John telah berkorban demi saudara-saudaranya, tanpa rasa takut, tanpa penyesalan.

Sejak saat itu, kisah John si anak bungsu yang berani diceritakan turun-temurun. Ia dikenang sebagai lambang pengorbanan, keberanian, dan cinta kepada keluarga, bahkan hingga nyawanya sendiri.

Kembali ke Beranda