Gambar dalam Cerita
Pada suatu hari yang cerah di sebuah desa kecil di Skotlandia, hiduplah seorang ibu muda yang dikenal baik hati dan penuh kasih sayang. Ia tinggal berdua dengan anaknya yang masih kecil. Sudah beberapa hari anaknya jatuh sakit, tubuhnya lemah dan sulit bangun dari tempat tidur. Sang ibu sangat khawatir dan bertekad mencari tanaman obat agar anaknya bisa segera sembuh.
Pagi itu, setelah menyiapkan sedikit bekal, ibu muda itu berjalan menuju sebuah padang rumput yang luas di dekat hutan. Rumput hijau terbentang sejauh mata memandang, dipenuhi bunga-bunga liar yang bergoyang tertiup angin. Dengan teliti, ia menyibak-nyibakkan rumput, mencari tanaman obat yang biasa digunakan oleh orang-orang desa.
Tiba-tiba, di tengah kesibukannya, ia mendengar bunyi gemerisik dari balik semak-semak. Suaranya pelan, seolah berasal dari makhluk yang sedang kesakitan. Dengan rasa penasaran dan sedikit khawatir, ibu muda itu mendekati sumber suara tersebut.
Di sana, ia menemukan seekor angsa putih terbaring lemah di tanah. Bulu-bulunya tampak kusam, matanya mengedip perlahan, dan paruhnya sesekali terbuka seperti sedang berusaha bernapas. Salah satu sayapnya terlihat terluka, membuatnya tak mampu terbang.
“Ah, angsa yang malang. Kasihan sekali nasibmu,” ucap ibu muda itu dengan suara lembut.
Tanpa ragu, ia menggendong angsa tersebut dengan sangat hati-hati dan membawanya pulang ke rumah. Ia merasa tak tega meninggalkan makhluk lemah itu sendirian di padang rumput.
Sesampainya di rumah, ibu muda itu menaruh angsa di dekat perapian agar tubuhnya tetap hangat. Ia membersihkan luka di sayap angsa, memberinya air, dan menyuapi sedikit makanan. Angsa itu tampak tenang, seolah merasa aman berada di rumah sang ibu.
Sejak hari itu, ibu muda tersebut merawat angsa dengan penuh perhatian. Setiap pagi dan sore, ia membersihkan lukanya dan memastikan angsa itu cukup makan. Meski sibuk merawat anaknya yang sakit, ia tidak pernah mengeluh.
Hari demi hari berlalu. Kondisi angsa perlahan membaik. Lukanya mengering, bulu-bulunya kembali bersih dan indah. Ajaibnya, seiring dengan membaiknya kesehatan angsa, kondisi anaknya juga ikut membaik. Anak itu mulai bisa tersenyum, makan dengan lahap, dan tidur lebih nyenyak.
Suatu hari, angsa itu akhirnya sembuh sepenuhnya. Ia sudah bisa berjalan-jalan di dalam rumah, mengepak-ngepakkan sayapnya yang lebar, bahkan sesekali mengeluarkan suara riang. Melihat itu, hati ibu muda dipenuhi rasa syukur.
Keesokan paginya, angsa itu tampak gelisah, seolah ingin kembali ke alam bebas. Ibu muda itu mengerti. Dengan perasaan haru, ia membukakan pintu rumah dan mempersilakan angsa itu terbang kembali ke langit.
Angsa tersebut mengepakkan sayapnya, terbang berputar-putar di atas rumah seakan mengucapkan terima kasih, lalu melesat tinggi ke angkasa.
Saat ibu muda masih menatap langit, tiba-tiba ia mendengar suara yang sangat ia rindukan.
“Ibu, aku lapar!”
Ibu muda terkejut dan segera menoleh. Ternyata anaknya telah bangun dari tidurnya dengan wajah cerah dan tubuh yang segar. Anak itu benar-benar telah sembuh sepenuhnya. Air mata kebahagiaan mengalir di pipi sang ibu. Ia memeluk anaknya erat-erat sambil mengucap syukur.
Sejak saat itu, ibu muda percaya bahwa kebaikan yang ia berikan kepada angsa telah membawa keberuntungan bagi keluarganya. Hingga kini, masyarakat Skotlandia menganggap angsa sebagai burung pembawa keberuntungan.
Pesan Moral dari Dongeng Luar Negri Dari Skotlandia : Angsa Pembawa Keberuntungan adalah Berbuatlah baiklah kepada semua makhluk Tuhan. Orang yang herbuat baik akan mendapatkan kebahagiaan.