Gambar dalam Cerita
Lucky Wife
"Sekarang kamu ceritakan semuanya Sal, biar orang tua saya tau kronologi yang sebenarnya" Ucap Lian
Salsa menatap semua orang disana, ia harus kuat demi masa depannya dan bayi yang ada di dalam kandungannya
"Malam itu, saya lembur karena saya harus menggantikan teman saya yang saat itu sedang sakit hiks hiks"
"Setelah saya membersihkan dapur dan berniat pulang. Saya lihat Pak Damar kembali ke cafe dengan badan yang sudah sempoyongan"
"Hiks hiks, saya mencoba membantu Pak Damar untuk berjalan menuju ruangannya. Saya yang bingung bagaimana mengatasi orang mabuk berniat untuk menelpon salah satu teman laki-laki yang juga pegawai di cafe Pak Damar hiks hiks"
"Namun, saat saya berdiri di depan ruangan Pak Damar. Pak Damar langsung menarik saya ke dalam ruangannya dan melakukan hiks hiks, Pak Damar - "
"Pak Damar menodai saya Pak, Bu hiks hiks. Saya sudah coba memberontak dengan segala cara, tapi Pak Damar seperti orang kesetanan hiks hiks. Kekuatan saya tidak sebanding dengan dia, sampai akhirnya hal yang paling saya takutkan terjadi malam itu hiks hiks" Ucap Salsa terisak
Ibu Damar merasa sangat kasian pada Salsa, ia bangkit lalu memeluk perempuan itu
"Maafkan anak Ibu ya nak, Ibu gak menyangka kalo Damar akan melakukan hal sebejat itu pada kamu" Ucap Ibu Damar
"Bu, asal Ibu tau. Mas Damar ternyata gak sekali melakukan itu pada Salsa! Mas Damar bahkan mengancam Salsa jika Salsa melaporkan dia ke Polisi" Ucap Lian
"Hah? Apa itu benar Salsa?" Tanya Ayah Damar
"Hiks hiks, Iya Pak. Pak Damar mengancam saya jika saya melaporkan dia ke Polisi, saya juga akan di laporkan atas kasus pencurian uang di cafe hiks hiks"
"Saya berani bersumpah, selama saya bekerja sebagai kasir di cafe bapak. Saya gapernah sedikit pun mengambil uang yang bukan hak saya Pak, Bu hiks hiks" Ucap Salsa terisak
Ayah dan Ibu Damar memang mengenal Salsa sejak dulu. Mereka tau bagaimana sikap perempuan itu, hingga mereka sangat percaya jika Salsa tidak akan mengarang cerita tentang hal itu. Apalagi Lian sudah menunjukkan bukti cctv dimana Damar menarik tangan Salsa ke dalam ruangannya malam itu
"Kita harus cari Damar! Damar harus tanggung jawab dengan apa yang dia perbuat!"
"Bisa-bisanya dia kabur setelah tau perempuan malang ini mengandung anaknya!" Ucap Ayah Damar
"Apa Damar tau kalo kamu hamil anaknya nak?" Tanya Ibu Damar
"Hiks hiks, tau Bu. Saya sudah coba untuk minta pertanggung jawaban Pak Damar. Tapi Pak Damar justru marah pada saya dan bilang kalo ini bukan anaknya"
"Pak Damar juga minta saya menggugurkan kandungan saya Bu hiks hiks" Balas Salsa
"Kurang ajar! Ayah gapernah nyangka kalo ayah punya anak sebajingan Damar!!"
"Dia terlalu brengsek untuk jadi suami kamu Salsa! Kamu tidak perlu minta tanggung jawab sama dia!"
"Kamu besarkan saja anak kamu, jangan pernah kamu gugurin cucu saya. Kita akan tanggung jawab penuh sama bayi yang ada di kandungan kamu Salsa! Mulai hari ini kamu akan jadi anak kita menggantikan anak brengsek itu!" Ucap Ayah Damar
"Biar Lian yang tanggung jawab Ayah, izinkan Lian menikahi Salsa" Ucap Lian
Semua orang terkejut dengan ucapan Lian, Salsa sendiri bahkan tak percaya jika Lian akan berkata seperti itu
Salsa merupakan seorang pegawai cafe yang sudah bekerja hampir lima tahun. Salsa sendiri merupakan gadis yang sangat baik, ramah dan ceria. Hingga tak jarang banyak laki-laki yang menyukai Salsa.
Namun, Salsa hanya menyukai satu laki-laki yang menurutnya sangat baik, sopan, dan taat pada agama. Erlian Syahputra, salah satu putra pemilik cafe tempatnya bekerja.
Sejak pertama kali bertemu, Salsa dibuat jatuh cinta pada Lian karena sikapnya yang lemah lembut dan sangat menghargai wanita. Berbeda sekali dengan Kakak Lian, Damario Syahputra.
Damar merupakan sosok laki-laki yang suka seenaknya, tak pernah memikirkan perasaan orang lain dan sangat kasar pada pegawainya. Tak heran jika banyak karyawan di cafe yang memilih resign setelah ayah nya menyerahkan cafe itu pada Damar.
Damar memang suka berbuat seenaknya, termasuk pada Salsa. Hingga Salsa harus mengandung karena perbuatan keji Damar pada Salsa.
Salsa yang merupakan anak yatim piatu dan tak memiliki seorang keluarga pun harus bergantung nasib pada pekerjaannya di cafe. Dia tidak berani melakukan apapun saat Damar selalu mengancamnya.
Dan disaat Salsa hamil, Damar justru pergi entah kemana karena kedua orang tuanya bahkan sudah mengetahui sikap buruknya selama ini.
Itu semua karena Lian, adik dari Damar. Lian melihat Salsa yang hendak melompat di jembatan untuk mengakhiri hidupnya. Lian mencoba menahan Salsa dan menasehati perempuan itu secara lembut. Hingga Salsa menurut pada ucapan Lian dan mengugurkan niatnya untuk mengakhiri hidup.
Lian mengajak Salsa untuk berbicara dari hati ke hati, hingga Salsa pun menceritakan semua kejadian buruk yang ia alami pada Lian. Lian merasa iba pada perempuan baik itu, Lian juga tau perempuan seperti apa Salsa. Tak setahun dua tahun Lian mengenal pegawai ayahnya itu, ia tau persis bagaimana Salsa dan tidak mungkin jika Salsa berbohong padanya
Dengan sabar Lian pun mengajak Salsa untuk pergi ke psikolog guna mengobati psikis Salsa yang terlihat mulai terganggu karena kejadian itu. Lian juga menemani Salsa memeriksakan kandungannya. Dan disaat waktunya sudah pas, barulah Lian mengajak Salsa untuk bertemu kedua orang tuanya guna membicarakan masalah Damar pada mereka
***
"Ss - saya tidur di kamar Pak Lian?" Tanya Salsa gugup
Lian tersenyum lalu menggandeng Salsa untuk masuk ke dalam kamarnya. Lian menuntun Salsa untuk duduk di tepi ranjang bersamanya
"Jangan panggil Pak ya, sekarang saya kan sudah jadi suami kamu. Panggil Lian saja" Balas Lian
"Tt-tapi gak sopan Pak" Ucap Salsa menunduk
"Yang gak sopan itu kalo suaminya ngomong tapi malah nunduk ke bawah" Balas Lian sembari menarik dagu Salsa agar menatapnya
"Mm-maaf pak" Balas Salsa
"Sa, panggil Lian aja ya" Ucap Lian lembut
"Mas Lian" Balas Salsa
Jantung Lian berdegup sangat kencang saat Salsa untuk pertama kalinya memanggil ia dengan sebutan Mas.
Sejujurnya Lian memang sudah menaruh hati pada Salsa. Namun ia tak terlalu fokus pada perempuan itu karena Lian memang tidak ingin berpacaran. Lian ingin fokus mengembangkan toko kue milik Ibunya.
Jika Damar mewarisi cafe milik ayahnya. Lian sendiri di percaya untuk meneruskan bisnis Ibunya yang sudah memiliki beberapa toko kue di area Jabodetabek.
"Masyaallah, saya suka Sa. Panggil saya Mas saja ya" Ucap Lian lembut
"I-iya mas" Balas Salsa gugup
"Sekarang minum susu hamil dulu ya" Ucap Lian sembari menyodorkan segelas susu untuk Salsa
Salsa menerima susu pemberian Lian dan meneguknya hingga tandas
"Pinter sekali, di minum sampai habis"
"Sekarang tidur ya di ranjang, Saya tidur di sofa" Ucap Lian lalu hendak berdiri dari ranjangnya
Salsa menahan tangan Lian
"Kenapa? Butuh sesuatu?" Tanya Lian
"M-Mas tidur disini aja ya. Sofanya kecil, nanti badan Mas sakit semua" Balas Salsa
"Gapapa Sa, saya gamau kamu risih dan gak nyaman kalo saya tidur di sini" Ucap Lian
"Mas, kita udah suami istri kan? Kita harus coba belajar untuk terbiasa berdua, Termasuk tidur satu ranjang" Balas Salsa
Lian tersenyum lalu mengusap kepala Salsa lembut
"Yasudah, saya tidur disini. Sekarang kita tidur yaa, gak baik ibu hamil begadang" Ucap Lian
"I-iya Mas" Balas Salsa
Salsa pun merebahkan tubuhnya dan di susul Lian di samping Salsa.
"Sa, saya sering baca kalo Ibu hamil suka sekali jika perutnya di usap. Apa saya boleh usapin perut kamu? Siapa tau anak kita juga suka kalo di usapin ayahnya" Ucap Lian
Tangis Salsa kembali pecah saat Lian mengatakan hal itu. Salsa tak menyangka jika Lian benar-benar tulus pada nya, bahkan pada anak yang jelas-jelas bukan anaknya
"Loh? Sa? Kamu kenapa nangis? Kamu marah ya sama saya? Saya salah ya bilang begitu? Maafkan saya Sa, maaf" Ucap Lian panik
Namun bukannya menjawab, Salsa justru menarik tangan Lian dan menciumnya
"Mas hiks hiks, makasih sudah tulus sama aku hiks hiks. Makasih udah mau menerima aku dan anak ini. Padahal anak ini bukan anak - "
"Anak itu anak saya Sa. Kita sudah menikah tadi pagi, kita sah secara hukum dan agama. Jangan pernah bilang kalo anak yang ada di rahim kamu bukan anak saya yaa"
"Anak yang keluar dari rahim istri saya, itu adalah anak saya. Bukan anak orang lain" Ucap Lian sembari mengusap kepala Salsa lembut
"Makasih ya mas hiks hiks, makasih sekali lagi" Balas Salsa
"Udah ya makasih-makasihan nya. Sekarang tidur, sudah malam"
"Ayo, baring lagi. Biar saya usapin perut kamu" Ucap Lian lembut
Salsa pun mulai merebahkan tubuhnya dengan posisi terlentang. Lian yang ada di sebelah Salsa dengan perlahan mulai mengusap perut Salsa dengan lembut
"Assalamuallaikum anak ayah, sehat-sehat ya di dalam perut bunda. Ayah sama Bunda gak sabar liat kamu, delapan bulan lagi" Ucap Lian sembari mengusap perut Salsa
Salsa tersenyum hangat mendengar ucapan Lian. Hal ini sama sekali tak pernah terbesit sedikit pun dalam fikiran Salsa. Bisa menikah dengan laki-laki yang dia suka, dan mendapatkan kasih sayang yang tulus dari Lian.
***
"Lian, kamu gak ke bakery nak?" Tanya Ibu Lian
"Gak bisa bu, Salsa lagi mual parah. Lian gak tega ninggalin istri Lian" Balas Lian
"Yaudah, biar Ibu yang ke bakery ya. Kamu jagain Salsa aja di rumah" Ucap Ibu Lian
"Iya Bu" Balas Lian
Ibu Lian masuk ke dalam kamar Lian dan melihat Salsa tengah duduk di ranjang sembari menekuk kedua lututnya dan meremas kuat perutnya
"Hey, sayang? Kenapa di remes perutnya? Jangan nak" Ucap Ibu Lian yang kaget melihat tingkah Salsa
"M-maaf Bu, Salsa gak kuat. Rasanya mual banget" Balas Salsa
"Sayang, ibu hamil memang seperti itu. Ini namanya morning sickness. Kamu yang sabar yaa" Ucap Ibu Lian
"Biasanya mual nya bisa reda kalo di apain sih Bu? Lian gak tega liat Salsa begini" Balas Lian
"Coba kamu peluk istri kamu, puk-puk in punggungnya atau bisa elus-elus perutnya"
"Ya emang gabisa langsung ngilangin mualnya, tapi setidaknya bisa meredahkan sedikit mualnya Li" Balas Ibu Lian
"Boleh?" Tanya Lian ragu pada Salsa
"Boleh dong, kan kalian sudah suami istri" Ucap Ibu Lian
"Bu, Lian kan tanya nya sama Salsa. Bukan sama Ibu" Balas Lian
"Lian, Salsa. Kalian sekarang sudah jadi suami istri. Memang kalian bukan seperti pasangan lain yang menikah dengan orang yang mereka cintai"
"Tapi, hubungan kalian sekarang sudah SAH di mata Allah. Kalian sekedar bersentuhan saja bukan dosa, atau bahkan kalian melakukan apapun contohnya Lian yang mencium Salsa, Salsa cium Lian, atau melakukan hubungan suami istri itu justru dapat pahala besar sayang"
"Lian, Salsa. Ibu tau kalian masih beradaptasi dengan semuanya. Tapi Kalian bisa mulai belajar saling mencintai dengan menjalin kedekatan dan keintiman kalian berdua sebagai suami istri. Ibu yakin, cinta itu akan datang secepatnya" Ucap Ibu Lian
Lian menatap Salsa dengan senyum tipisnya kala melihat Salsa yang serius mendengar ucapan Ibunya. Salsa begitu cantik di mata Lian, apalagi setelah hampir seminggu mereka bersama membuat Lian sangat menyukai menatap kecantikan istrinya
"Iya Ibu, terimakasih nasihatnya. Salsa akan mengingat semua ucapan Ibu" Ucap Salsa
"Yasudah, kamu istirahat ya sayang"
"Ibu mau ke bakery, dan ayah lagi di cafe. Kalian berdua jaga diri di rumah baik-baik"
"Lian, jagain istrinya ya. Jangan di tinggal sendirian" Ucap Ibu Lian
"Iya Ibu" Balas Lian
Lian mengantarkan ibunya hingga ke pintu rumah mereka, lalu Lian kembali ke kamar dan menutup kamar mereka
"Masih mual banget?" Tanya Lian
"Masih" Balas Salsa
"Mau peluk? Kita coba saran Ibu, siapa tau jadi enakan Sa" Ucap Lian sembari merentangkan tangannya
Dengan ragu, Salsa masuk ke dalam dekapan Lian. Lian tersenyum lalu mengusap punggung istrinya
Dan anehnya, setelah mencium aroma tubuh Lian. Rasa mual yang ada di perut Salsa seketika mereda. Salsa yang tak sadar justru mendusel pada leher Lian dan menciumi leher Lian hingga membuat laki-laki itu sedikit mendesis menahan sesuatu di tubuhnya
"Sa? Kenapa?" Tanya Lian
"Cium aroma tubuh mas jadi buat perut aku gak mual lagi mas" Balas Salsa sembari menciumi leher Lian
"Sshhhhh Saahh" Lirih Lian
Salsa yang mendengar suara Lian seperti desahan, sontak melepaskan dirinya dari Lian
"Kenapa di lepas?" Tanya Lian heran
"M-maaf Mas" Balas Salsa menunduk
Lian mengangkat dagu Salsa lalu tersenyum menatap perempuan itu
"Gausah malu Sa, gapapa kok"
"Maaf kalo saya bikin kamu takut atau malu. Saya gapernah dekat dengan perempuan sama sekali apalagi bersentuhan"
"Dan tadi, jujur saya baru pertama kali merasakan gejolak aneh saat kamu ciumi leher saya. Saya juga refleks mengeluarkan suara seperti itu Sa, maaf ya" Ucap Lian
Salsa merasa bersalah pada Lian. Hampir seminggu menikah, namun Salsa belum juga memberikan hak Lian padanya. Salsa bahkan masih memakai hijabnya di depan Lian. Padahal lelaki ini sudah sangat baik kepadanya, tak seharusnya Salsa bersikap dingin pada Lian.
Meskipun Lian tak pernah sedikit pun meminta haknya, namun Salsa tau jika Lian pasti menginginkannya. Lian hanya menghargai Salsa yang mungkin masih belum sembuh dari trauma nya. Lian tak ingin memaksa Salsa untuk melakukan kewajibannya sebagai istri Lian
"Mas, maafin aku. Seharusnya kamu bisa dapat hak kamu sebagai suami aku. Tapi sampai saat ini, kamu belum mendapatkan itu dari aku. Maaf mas" Ucap Salsa
"Hey Sa? Kenapa mikir gitu? Apa karena ucapan saya tadi?"
"Sa, saya mengerti kondisi saat ini seperti apa. Saya juga tidak meminta hak saya sama kamu. Kandungan kamu lemah, dan dokter juga melarang untuk melakukan hubungan suami istri di kondisi kehamilan kamu sekarang"
"Ucapan Ibu jangan di masukin ke hati yaa, jangan di pikirin. Saya tidak pernah memikirkan hal itu sama sekali Sa. Saya memang laki-laki normal dan tau akan hak saya. Tapi saya juga gak tega untuk memaksa kamu memberikan hak saya"
"Kita belajar saling mencintai dulu ya, saya yakin seiring berjalannya waktu saya pasti bisa jatuh cinta sama perempuan baik seperti kamu. Tidak akan susah bagi saya untuk mencintai kamu Sa"
"Dan saya juga minta tolong sama kamu buka hati untuk saya ya. Dan disaat kita nanti saling mencintai, saya yakin melakukan malam pertama kita pasti akan jauh lebih indah karena di lakukan dengan perasaan cinta" Ucap Lian
Bak langit dan bumi, Salsa merasa Lian sangat berbeda dengan Damar. Lian begitu menghargai Salsa sebagai istrinya, dia sangat memuliakan Salsa dan tak memetingkan nafsunya. Sedangkan Damar, Damar bahkan memperlakukan Salsa bak jalang simpanannya yang bisa ia pakai saat ia butuh kepuasan.
Salsa kembali menangis dan Lian refleks memeluk Salsa untuk menenangkan istrinya
"Kamu terlalu baik untuk aku mas hiks hiks. Gak seharusnya kamu menikahi perempuan kotor seperti aku. Kamu layak dapat perempuan yang jauh lebih baik dari aku mas hiks hiks"
"Setelah anak ini lahir, kita bisa bercerai mas hiks hiks. Kamu harus dapat perempuan yang baik untuk jadi istri kamu, bukan perempuan murahan seperti aku hiks hiks" Ucap Salsa dalam tangisnya
Lian melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Salsa lalu menghapus air mata wanita itu
"Istighfar Sa, ayo istighfar" Ucap Lian lembut
"Astaghfirullahal'adzhim" Balas Salsa
"Sa, jangan pernah berpikir seperti itu lagi ya. Saya gak akan menceraikan kamu, karena Allah sangat membenci perceraian Sa"
"Prinsip saya, menikah hanya satu kali seumur hidup. Dan saya memilih kamu untuk menjadi istri saya selamanya"
"Kamu layak, kamu pantas dan kamu bukan perempuan seperti apa yang kamu ucapkan tadi Sa"
"Tolong, jangan pernah berbicara seperti tadi lagi yaa. Saya sudah menikahi kamu, berarti kamu memang takdir saya dan saya takdir kamu. Lupakan masa lalu ya dan fokus sama rumah tangga kita sekarang"
"Disini, ada anak yang harus kita rawat dan kita bahagiakan. Jadi tolong, bunda jangan sedih lagi yaa. Nanti adik ikutan sedih di dalam" Ucap Lian lembut
Salsa benar-benar tak bisa berkata-kata lagi. Lian terlihat sangat tulus dengan semua ucapannya. Salsa merasa bersyukur bisa menjadi istri dari Lian
"Makasih ya mas, aku bener-bener beruntung bisa jadi istri kamu" Balas Salsa
"Saya juga beruntung bisa jadi suami kamu" Ucap Lian sembari mengusap lembut wajah Salsa
Salsa hanya tersenyum pada Lian
"Apa saya boleh minta satu hal sama kamu Sa?" Tanya Lian
"Boleh mas, silahkan. Mas mau minta apa sama aku?" Tanya Salsa
"Apa saya boleh minta kamu lepas hijab kamu? Saya sudah menjadi suami kamu, kamu tidak perlu menutupi rambut kamu lagi di depan saya"
"Jujur saya kasian sama kamu, kamu pasti tidak nyaman karena setiap hari harus memakai hijab meskipun saat tidur dan di dalam kamar"
"Tiap malam saya kepikiran dan takut kamu tidak nyaman saat tidur karena masih harus memakai hijab di depan saya" Ucap Lian
Salsa tersenyum manis pada Lian melihat kekhawatiran pada raut wajah Lian
"Mas, makasih ya selalu mikirin aku. Aku gak nyangka kamu se khawatir ini hanya karena mikirin kenyamanan aku" Balas Salsa
"Sa, kamu itu istri saya. Dan kamu sedang mengandung anak kita. Wajar kalo saya khawatir dengan kondisi dan kenyamanan kamu" Balas Lian
"Mas mau bantu aku?" Tanya Salsa
"Bantu? Kamu butuh bantuan apa Sa?" Tanya Lian
"Bantu lepas hijab aku ya, aku mau kamu yang buka hijab aku sekarang" Balas Salsa
Lian tersenyum lalu perlahan membuka hijab yang Salsa kenakan.
"Masyaallah, cantik sekali kamu Sa"
"Saya makin bersyukur bisa menikahi perempuan secantik kamu" Puji Lian
Lian benar-benar tak menyangka jika Salsa sangat cantik dengan rambut panjang yang selama ini dia tutup dengan hijabnya.
Salsa tersipu malu mendengar pujian dari suaminya
"Sekarang, jangan pakai hijab lagi ya di depan saya. Saya berhak melihat kecantikan ini setiap hari Sa" Ucap Lian
"Berarti kalo pake hijab, aku gak cantik ya mas?" Goda Salsa
"Cantik, sangat cantik. Tapi hanya saya yang bisa melihat kecantikan kamu tanpa hijab ini. Dan saya gamau berbagi kecantikan ini dengan siapapun Sa"
"Jangan pernah lepas hijab kamu kalo keluar dari kamar yaa. Di depan ayah ibu pun gaboleh" Ucap Lian
Salsa tersenyum gemas melihat Lian yang mulai terlihat posesif padanya
"Iya mas, aku juga gak berniat membuka hijab ku sampai kapan pun itu" Balas Salsa
"Masyaallah, semoga bisa istiqomah seterusnya ya Sa" Ucap Lian
"Aamiin mas" Balas Salsa
***
Hari demi hari Lian dan Salsa lalui sebagai suami istri, dan tak terasa sudah dua bulan mereka menjalani kehidupan rumah tangga mereka. Kandungan Salsa pun sudah masuk bulan ketiga dan perutnya sudah mulai terlihat membuncit.
Dan di tengah malam seperti saat ini, tiba-tiba Salsa merasa sangat lapar. Namun ia tak tega membangunkan Lian yang baru saja tidur karena harus membantu ayahnya untuk mengurus cafe nya juga.
Dengan perlahan, Salsa pindahkan tangan Lian dari atas perutnya. Lalu ia bangkit dan berjalan mengendap untuk pergi ke dapur.
Namun baru saja sampai di dapur dan membuka lemari dingin. Salsa di kejutkan dengan suara Lian yang sudah berdiri di belakangnya
"Kirain jalan ngendap-ngendap mau kemana, ternyata ke dapur" Ucap Lian
"Astaghfirullah mas! Kaget" Balas Salsa
"Kenapa keluar kamar gak pake hijab? Kalo ada ayah gimana? Ayo pake" Ucap Lian sembari menyodorkan hijab Salsa yang ia bawa
"Hehe lupa" Balas Salsa lalu mengambil hijabnya dari Lian
"Ngapain malem-malem ke dapur? Jalan ngendap-ngendap lagi. Nanti kalo kenapa-kenapa di tangga gimana. Kan bisa bangunin mas dulu" Omel Lian
Ya, Lian sudah mulai mengganti sebutan dirinya dari saya menjadi mas, karena permintaan Salsa. Salsa merasa Lian terlalu formal jika masih menggunakan panggilan saya.
"Maaf mas, ini salahin si adek. Adek ngreog dalam perut, laper katanya"
"Aku juga gak tega bangunin mas, mas kan baru bobo, baru pulang dua jam yang lalu" Ucap Salsa
Lian menghela nafasnya lalu mendekati Salsa
"Adek laper? Kenapa gak bilang ayah? Kenapa minta bunda turun sendiri dari kamar? Hhmm" Ucap Lian sembari menyamakan tingginya dengan perut Salsa dan mengusap perut istrinya
"Adek gak tega bangunin ayah, ayah pasti capek pulang kerja" Balas Salsa
Lian bangkit lalu mengusap wajah Salsa
"Mas gak akan pernah capek kalo untuk kamu dan adek. Lain kali ngomong ya sama mas, jangan diem-diem pergi ke dapur sendiri. Perut kamu udah mulai besar, turun tangga gaboleh sendirian Sa. Paham" Ucap Lian
"Iya mas, maaf" Balas Salsa
"Yaudah, mau makan apa? Pengen sesuatu gak?" Tanya Lian
"Hhmm sebenernya" Ucap Salsa menggantung
"Sebenernya apa? Bilang aja Sa, mau apa? Hhmm?" Tanya Lian
"Sebenernya, pengen mam nasi goreng persimpangan yang deket cafe Mas. Gatau kenapa, kepikirannya itu mulu dari tadi. Makanya mau coba masak nasi goreng barusan, eh ternyata nasinya udah abis" Balas Salsa manja
Lian terkekeh melihat ekspresi Salsa yang sangat menggemaskan
"Duh, kasiannya bumil satu ini kehabisan nasi"
"Yaudah, ayo mas anter ke kamar dulu. Biar mas yang beli nasi gorengnya" Ucap Lian
"Gamau, mau ikut mas" Balas Salsa
"Sa, ini udah malem. Gak baik keluar malem-malem buat bumil" Ucap Lian
"Gamau maasss, mau mam disanaaaa. Mau ikuttt" Rengek Salsa
"Sa, tapi - "
"Mas aku ngidam lohh, nanti kalo gak di turutin adek ngeces terus gimana? Kan kita juga bisa naik mobil, aku juga pakai jaket" Ucap Salsa
"Hhmm, yaudah. Tunggu sini, mas ambilin jaket kamu di kamar" Balas Lian
"Yeayy, makasih mas" Ucap Salsa yang refleks mencium pipi Lian
Seketika tubuh Lian membeku saat merasakan ciuman dari istrinya, walaupun hanya di pipinya
Meskipun mereka sudah menikah dua bulan lalu, namun sentuhan fisik diantara mereka hanya sekedar pegangan tangan dan juga berpelukan. Lian pun hanya mencium Salsa sekali saat ia selesai ijab kabul dan di hadapan beberapa tamu yang memaksanya mencium Salsa saat itu
Sedangkan Salsa, sejak kejadian ia mencium leher Lian. Salsa tak pernah berani untuk melakukan hal itu lagi, karena ia tau hal itu pasti akan menyiksa Lian nantinya karena harus menahan hasratnya
"Kok cuma sekali? Yang satunya belum Sa" Ucap Lian sembari menunjuk pipi nya yang lain
Cup
Salsa mencium pipi yang di tunjukkan Lian
"Hahaha makasih cantik" Balas Lian berusaha menetralkan dirinya
"Iyaa, buruan mass. Udah laper bangettt" Rengek Salsa
"Hahaha iya iya, ini mas lari deh ke kamar" Ucap Lian lalu pergi meninggalkan Salsa di dapur
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit. Akhirnya Lian dan Salsa tiba di tempat nasi goreng favorit Salsa
Salsa makan dengan lahap nasi goreng favoritnya, sedangkan Lian hanya tersenyum melihat istrinya terlihat sangat lahap.
Ketika Lian asyik mengusap perut Salsa sembari memandangi Salsa makan. Tiba-tiba saja ada seseorang yang ikut bergabung di meja mereka
"Hay Li, Sa" Ucap seseorang
"Mas Damar?" Balas Lian
Salsa refleks merangkul lengan Lian, Salsa benar-benar takut melihat Damar. Ia teringat dengan semua kejahatan Damar padanya
Lian yang paham jika Salsa ketakutan, mencoba untuk mengusir Damar
"Mau ngapain lagi lo? Mending pergi, istri gue ketakutan liat lo!" Tegas Lian
"Istri? Hahahaha jadi lo yang nikah sama jalang ini? Hhm? Mau-mau aja lo Li, nikah sama bekasan gue" Ucap Damar meremehkan
Lian yang sudah geram pun bangkit lalu menarik kerah baju Damar dan menghajar lelaki itu
"Jangan pernah berani ngehina istri gue bangsat!" Bentak Lian
Bugh
Bugh
Bugh
Lian menghajar Damar membabi buta
"Lo sadar Li, dia emang murahan! Dia minta pertanggung jawaban cuma untuk manfaatin lo! Dia itu hanya perempuan miskin yang mau morotin harta kita doang!"
"Gue juga gak yakin kalo itu anak gue, pasti dia sering tidur dengan om-om demi dapet duit. Jangan mau lo di kibulin perempuan miskin itu" Ucap Damar
"Brengsek! Berhenti ngehina istri gue bangsat!!! Dia gak serendah itu! Yang rendah itu lo! Yang bajingan itu lo! Lo hancurin masa depan Salsa, lo perlakuin dia layaknya binatang! Lalu lo tinggalin dia gitu aja! Brengsek!!!" Umpat Lian lalu kembali menghajar Damar
Damar mulai tak terima dan mulai membalas Lian, Salsa hanya menangis menyaksikkan perkelahian antara Damar dan Lian. Sedangkan penjual nasi goreng berusaha mencari orang untuk membantunya memisahkan Lian dan Damar
Hingga Lian tersungkur karena pukulan Damar, membuat Salsa memberanikan diri untuk melindungi Lian. Ia takut jika Lian semakin parah karena Damar yang terus memukulnya
Dan saat Salsa berusaha melindungi Lian, Damar yang sudah tersulut emosi refleks menendang tubuh Salsa tepat di bagian perut Salsa dan membuat Salsa terjatuh tepat di sebelah Lian
"Salsaaaa" Teriak Lian
Lian mengepalkan tangannya dan langsung menghajar Damar yang masih shock setelah sadar jika ia melukai Salsa
"Anjing!!! Lo harusnya mati bangsat! Lo gak berhak hidup! Kalo sampai istri gue kenapa-kenapa, gue bakal bunuh lo anjing!!!" Teriak Lian sembari terus memukul Damar
Hingga akhirnya warga datang memisahkan Lian dan Damar. Lian langsung membawa Salsa ke rumah sakit terdekat meninggalkan Damar yang juga terluka disana.
Tak lupa Lian juga menghubungi kedua orang tuanya guna mengabari kondisi Salsa
***
"Mas, makan yuk" Bujuk Salsa
"Kamu aja ya yang makan, mas udah kenyang" Balas Lian
"Mas, mau sampai kapan begini? Aku sudah ikhlas mas, ini sudah satu bulan sejak kejadian itu. Mas juga harus ikhlas, kasian adik mas" Bujuk Salsa
Satu bulan yang lalu, sejak kejadian malam itu. Kandungan Salsa tidak bisa di selamatkan, yang membuat Lian dan Salsa harus kehilangan calon buah hatinya.
Salsa memang merasa kehilangan namun ia berhasil kuat karena kedua orang tua Lian yang selalu memberinya semangat dan mendoakannya agar bisa di beri keikhlasan. Dan seiring berjalannya waktu, Salsa pun bisa ikhlas dengan apa yang menimpa dirinya dan calon buah hatinya.
Berbeda dengan Lian, hingga saat ini ia masih merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Salsa dan bayinya. Lian merasa tak bisa bertanggung jawab dan menjaga Salsa dengan baik. Lian berubah menjadi murung dan sering melamun.
Lian juga jarang makan hingga membuat tubuhnya semakin kurus. Lian bahkan berubah menjadi dingin pada Salsa, dia masih merasa bersalah setiap melihat Salsa. Itu juga yang akhirnya membuat Lian lebih sering pulang malam tanpa berinteraksi dengan Salsa
"Kamu makan gih, mas gak lagi gak laper" Ucap Lian mengalihkan pembicaraan Salsa
Salsa menghembuskan nafasnya, melihat Lian yang dingin padanya dan semakin jarang interaksi diantara keduanya membuat Salsa benar-benar frustasi dan sakit hati dengan sikap Lian. Salsa tau jika Lian masih merasa bersalah, namun sudah berulang kali Salsa mencoba meyakinkan suaminya jika ia sudah ikhlas dan ini semua bukan kesalahan Lian. Nyatanya itu tak merubah apapun, Lian masih tetap menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian buah hati mereka
"Mas" Panggil Salsa
Lian tetap tak menggubris panggilan Salsa, Lian masih sibuk menggerakkan jarinya diatas laptop miliknya
"Mas, aku izin mau pergi. Aku mau urus perceraian kita ke pengadilan. Aku pergi dulu ya" Ucap Salsa lalu pergi dari kamar meninggalkan Lian
Ucapan Salsa berhasil membuyarkan fikiran Lian. Dengan cepat Lian menyusul Salsa keluar kamar.
Tepat di ruang tengah, Lian menahan tangan Salsa yang hendak melanjutkan langkahnya keluar dari rumah
"Kamu tadi bilang mau pergi kemana?" Tanya Lian
"Ke pengadilan agama" Balas Salsa
"Siapa yang mau cerai? Siapa Sa?" Tanya Lian
"Kita!"
"Udah gak ada yang harus di pertahankan dari rumah tangga kita mas. Kamu menikahi aku karena bertanggung jawab atas anak yang aku kandung. Dan sekarang, anak aku udah gak ada"
"Sekarang, aku bukan cuma kehilangan anak aku tapi aku juga kehilangan suami aku. Suami yang selalu perhatian sama aku, selalu ajak aku ngobrol dan bercanda, suami yang selalu nemenin aku, semua udah hilang"
"Makin hari hubungan kita makin jauh, kamu bahkan gapernah sedikit pun bicara sama aku. Kita memang satu kamar, tapi kamu selalu pergi saat aku belum bangun dan kamu datang saat aku sudah tidur"
"Lantas, apa lagi yang harus di pertahankan dari rumah tangga seperti ini mas? Gak ada" Ucap Salsa
Lian membeku mendengar semua ucapan Salsa. Dia baru sadar jika kelakuannya selama sebulan ini justru makin menyakiti hati Salsa.
"Sa, maaf jika sikap saya selama sebulan ini justru membuat kamu sakit hati"
"Jujur, setiap melihat kamu rasa bersalah itu selalu muncul Sa. Saya gagal jagain kamu, saya gagal jagain calon anak kita. Saya gagal jadi suami Sa" Ucap Lian sendu
"Mas, udah berapa kali aku bilang. Aku sudah ikhlas atas musibah itu. Ini musibah mas, bukan salah kamu"
"Aku juga gabisa jaga diri aku, semua juga salah aku. Andai aku gak minta nasi goreng malam itu, ini semua gak akan terjadi. Ak - "
"Hey, gak Sa. Ini bukan salah kamu, kamu gak salah Sa" Ucap Lian memotong ucapan Salsa
"Ini salah aku mas! Andai aku gak laper malam itu, aku gak akan kehilangan anak dan suami aku saat ini!" Balas Salsa
"Sa, maaf. Jangan bilang seperti itu lagi Sa, saya ada disini, saya disini sama kamu Sa. Kamu gak kehilangan saya"
"Maafkan saya, karena keegoisan saya yang terlalu menyalahkan diri saya sendiri justru membuat kamu merasa terabaikan sama saya Sa"
"Seharusnya saya ada untuk kamu dan kita saling menguatkan satu sama lain. Tapi, karena perasaan bersalah itu yang selalu menghantui saya, saya justru ikut menyakiti kamu dengan sikap saya. Maafkan saya Sa" Ucap Lian sembari menggenggam tangan Salsa
Salsa melepaskan genggaman tangan Lian, lalu memeluk erat suaminya
"Mas, aku gatau sejak kapan perasaan ini muncul. Tapi semenjak kamu diemin aku, aku ngerasa sedih banget mas, hati aku sakit, aku merasa gak berguna jadi istri, aku ngerasa aku hanya jadi bayang-bayang yang gak pernah kamu lihat"
"Mas, aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu. Maaf kalo aku ungkapin semuanya hiks hiks, aku udah gak kuat nahan perasaan aku mas. Maaf kalo aku cinta sama kamu, aku gak minta kamu balas perasaan ku mas hiks hiks. Aku hanya ingin jujur sebelum kita bener-bener berpisah nanti" Ucap Salsa terisak
Lian membalas pelukan istrinya tak kalah erat setelah mendengar ucapan Salsa.
"Sa, jangan pernah ucapin kata-kata itu lagi. Kita gak akan pernah pisah Sa, saya gak mau cerai sama kamu. Kita akan selamanya bersama"
"Sa, saya juga sangat mencintai kamu. Melihat kamu hari itu harus terbaring lemah di rumah sakit membuat saya benar-benar takut kehilangan kamu"
"Tapi sekarang, justru sikap saya yang membuat saya lagi-lagi hampir kehilangan kamu. Tolong, jangan pernah tinggalin saya Sa, jangan pernah ucapkan kata perpisahan lagi. Saya cinta sama kamu, saya sayang sama kamu. Maafkan sikap saya yang sudah keterlaluan selama satu bulan ini"
"Saya gak mengabaikan kamu Sa, saya masih peduli sama kamu. Tapi saya takut, saya selalu takut ketika bertemu kamu dan perasaan bersalah itu muncul lagi"
"Tolong maafkan saya Sa, jangan tinggalkan saya. Saya janji, saya gak akan bersikap bodoh lagi seperti kemarin. Maaf Sa" Ucap Lian
Salsa melepaskan pelukannya lalu menatap Lian dengan tatapan teduhnya
"Janji ya? Jangan diemin aku lagi kaya kemarin" Ucap Salsa
"Janji sayang" Balas Lian
"Eh? Kok?" Balas Salsa shock
"Sekarang kita udah jujur tentang perasaan kita masing-masing. Apa saya gaboleh manggil kamu dengan sebutan sayang? Saya kan memang sayang sama kamu Sa" Ucap Lian
"Boleh, tapi ada syaratnya" Balas Salsa
"Apa syaratnya?" Tanya Lian
"Jangan saya-saya lagi! Kan udah di bilangin, aku gak suka kamu terlalu formal mas" Balas Salsa
"Oh iya, maaf. Mas lupa sayang" Balas Lian
"Dih, aneh tau dengernya mas haha" Balas Salsa
"Dibiasain ya, karena mulai hari ini mas akan selalu panggil kamu sayang" Ucap Lian
"Iya mas, aku juga suka kok sama panggilan itu" Balas Salsa
Lian mengusap lembut kepala istrinya sembari tersenyum
"Sayang, mas minta tolong ya sama kamu. Kedepannya, jangan gampang minta pisah. Kalo ada masalah, kita obrolin baik-baik dan selesaikan masalahnya. Bukan hubungan nya yang harus di selesaikan sayang"
"Kamu juga harus inget, kalo sampai kapan pun. Mas gak akan pernah mau pisah sama kamu apapun alasannya. Hanya maut yang bisa memisahkan kita sayang"
"Jadi tolong ya, jangan gegabah mengambil keputusan untuk kedepannya. Mas gamau hubungan kita berantakan karena keegoisan kita"
"Mas juga masih belajar untuk jadi suami yang baik buat kamu, maafkan mas kalo masih banyak kurangnya selama jadi suami kamu ya" Ucap Lian
"Maaf mas, pikiran ku tadi kacau. Aku cuma gamau ngerasa jadi istri yang gak berguna buat kamu"
"Maafin aku juga kalo selama jadi istri mas, aku banyak salah dan kurangnya" Balas Salsa
"It's okay sayang, kita sama-sama belajar. Dan mulai hari ini, kita mulai semuanya dari awal lagi yaa. Kita bangun rumah tangga kita dengan penuh cinta" Ucap Lian
Salsa tersenyum sembari menganggukkan kepalanya
"Iya mas" Balas Salsa
***
Hubungan Lian dan Salsa semakin dekat setiap harinya. Setelah mereka sama-sama terbuka tentang perasaan mereka, rasanya lebih bahagia menjalani rumah tangga yang penuh dengan cinta.
Hari ini, Salsa yang sudah selesai dari masa nifasnya ingin memberikan sesuatu yang berharga untuk suaminya.
Setelah hampir berbulan-bulan menikah, Lian sama sekali tak pernah meminta haknya pada Salsa. Salsa tau jika Lian berusaha menahan setiap mereka tidur berpelukan. Lian bahkan hanya berani meminta ciuman bibir pada Salsa setelah mereka sama-sama tau tentang perasaan mereka.
Dan hari ini, kedua mertuanya tengah pergi ke luar kota. Lian harus pulang malam mengurus cafe dan bakery menggantikan Ayah dan Ibunya. Sedangkan Salsa sudah menyiapkan kejutan untuk suaminya di rumah
Salsa menghias kamarnya layaknya kamar pengantin baru yang penuh dengan bunga dan hanya di terangi oleh cahaya lilin. Salsa juga sudah merias dirinya secantik dan seseksi mungkin. Salsa mengenakan lingerie berwarna merah tanpa menggunakan pakaian dalamnya. Hingga puncak dadanya pun tercetak sempurna pada lingerie tipis yang ia kenakan.
Salsa ingin memberikan hal yang sangat istimewa untuk suaminya. Selama ini Lian sudah menjadi suami yang sangat baik untuknya dan membuat Salsa berkali-kali merasa menjadi istri yang beruntung karena mendapatkan suami seperti Lian.
"Assalamuallaikum" Ucap Lian sembari membuka pintu kamarnya
"Astaghfirullah" Lirih Lian menatap isi kamarnya
Lian tak melihat keberadaan Salsa, hingga tiba-tiba ia merasa ada tangan yang melingkar sempurna di perutnya
"Waalaikumsallam sayang" Balas Salsa sembari memeluk Lian erat
"Sayang? Ada apa ini? Kenapa kamarnya jadi begini?" Tanya Lian heran
Salsa terkekeh lalu melepas pelukannya
"Balik badan dong, liat ini istrinya udah cantik banget" Ucap Salsa
Lian refleks memutar tubuhnya menghadap Salsa. Tubuh Lian membeku melihat penampilan seksi Salsa malam ini. Bahkan milik Lian langsung menegang hanya melihat penampilan Salsa di hadapannya saat ini
"Astaghfirullah yang, kenapa pakai baju seperti ini? Nanti masuk angin" Ucap Lian polos
"Ishh Masss, aku seksi gak sih pakai baju gini? Kenapa kamu malah kek orang ketakutan gitu sih?" Tanya Salsa heran
"Kk-amu seksi banget sayang. Mas emang takut, mas takut kelepasan liat penampilan kamu seperti ini" Balas Lian gugup
"Kelepasan juga gapapa, kan emang tujuan aku itu" Balas Salsa
"Sayang, bukannya kamu masih dalam masa nifas? Kamu inget kan? Kalo di agama kita gaboleh berhubungan saat masa nifas?" Tanya Lian
"Aku sudah selesai sayang, aku sudah bersih. Dan malam ini aku mau memberikan hak kamu yang selama berbulan-bulan belum pernah kamu dapatkan" Balas Salsa sembari mendekat ke arah Lian
Salsa mengusap lembut dada Lian, lalu mengambil tas kerja Lian dan meletakkannya di sofa. Salsa menggandeng Lian dan mendudukan suaminya di ranjang. Dengan wajah nakalnya, Salsa duduk di pangkuan Lian dan mengalungkan tangannya pada leher Lian
"Ternyata yang bawah udah bangun ya? Hhmm? Kerasa banget soalnya mas" Bisik Salsa
Jangan tanyakan bagaimana kondisi Lian. Lian benar-benar tak menyangka jika istrinya bisa senakal ini padanya.
"Dia bangun sejak pertama kali liat kamu seseksi ini sayang" Balas Lian
"Hahaha mau dong, kenalan sama yang bawah" Balas Salsa
"Kamu kenapa bisa senakal ini sih? Hhmm? Bikin jantung mas gak karuan" Balas Lian
"Nakal sama suami sendiri emang gak boleh? Hhmm" Ucap Salsa
"Boleh, dan nakalnya emang harus sama mas aja. Gaboleh sama yang lain" Balas Lian
"Yaiyalah, nakalnya cuma sama suami ku aja. Gamau juga sama yang lain" Ucap Salsa
Lian tersenyum lalu menyambar bibir Salsa yang sejak tadi mengundangnya untuk ia lumat.
Salsa membalas ciuman Lian dengan penuh cinta. Perlahan tangannya membuka kancing kemeja Lian dan membuang kemeja suaminya ke sembarang arah
"Eughh yangg" Desah Lian ketika Salsa mulai menciumi leher Lian
Salsa mendorong tubuh Lian agar terbaring di ranjang. Salsa sudah bertekad malam ini ia ingin memuaskan suaminya yang sudah lama tak mendapatkan hak darinya.
Salsa membuka celana Lian dan menyisakan celana dalam Lian yang sudah nampak membesar. Salsa usap milik Lian dan membuat laki-laki itu mendesah tak karuan.
Salsa terkekeh melihat ekspresi Lian, ia tau ini pertama kalinya untuk Lian. Salsa juga tau bagaimana polosnya suaminya yang memang tak pernah dekat dengan wanita manapun selama ini. Jadi biarlah Salsa yang bekerja malam ini untuk memuaskan nafsu suaminya
"Ouhhh yanggg lebih kencang yangghh ashhh" Desah Lian
Salsa mempercepat gerakannya mengulum milik Lian ketika mendengar desahan dari suaminya. Dan ya, Salsa berhasil membuat suaminya mendapatkan pelepasan pertamanya.
"Yang, gila. Kamu jago banget yang, rasanya enak" Ucap Lian lemas
"Suka gak?" Tanya Salsa
"Suka banget yang" Balas Lian
"Mau setiap hari juga boleh kalo mulut ku gak pegel ya. Soalnya punya kamu gede banget mas hahaha" Ucap Salsa
"Gede mana sama punya Damar?" Tanya Lian refleks
"Gede punya suami aku dong. Pasti puas kalo di masukin mas" Balas Salsa
Mereka berdua sudah sama-sama dikuasai oleh nafsu, hingga Lian dan Salsa pun sama sekali tak merasa tersinggung saat membahas tentang masa lalu Salsa dengan Damar.
"Hahaha kamu ya, dasar nakal" Ucap Lian bangkit dan langsung menindih Salsa
Lian mencium bibir Salsa dengan penuh semangat. Tangannya sudah aktif meremas kedua buah dada milik istrinya.
Merasa tak puas, Lian menarik tali tipis lingerie Salsa hingga lingerie itu terbuka. Lian pun membuang lingerie Salsa dan menatap tubuh polos istrinya
"Sampe melotot gitu liatnya? Biasa aja dong sayang" Ucap Salsa
"Kamu seksi sayang, kamu indah" Balas Lian
"Aku Salsa, bukan Indah" Goda Salsa
"Ishh emang nakal ya" Ucap Lian
"Awhhh mashhh" desah Salsa ketika Lian melahap kedua dadanya bergantian
Mereka pun menghabiskan malam pertama mereka menjadi suami istri seutuhnya dengan penuh gairah. Entah berapa lama hingga mereka sama-sama puas dan mengusaikan permainan mereka.
"Terimakasih sayang, I Love you so much" Ucap Lian lemas
"Love you too sayang" Balas Salsa
Lian terbaring di sebelah Salsa sembari mengusap wajah lelah istrinya
"Mas masih gak nyangka bisa dapetin ini dari kamu sayang" Ucap Lian
"Kan ini udah jadi hak mas, udah sewajarnya kamu dapetin ini mas. Bahkan dari awal kita nikah juga kamu bisa dapetin hak kamu" Balas Salsa
"Mas takut sayang, mas takut kamu masih trauma untuk ngelakuin ini. Aku takut kamu masih terbayang-bayang sama bajingan itu. Mas gamau kamu bayangin laki-laki lain saat kita having sex" Ucap Lian
"Mas, ya gak mungkin aku bayangin bajingan itu. Justru aku gamau lagi inget-inget dia mas"
"Aku cinta sama suami aku, aku mau beri yang terbaik sama kamu. Tapi maaf, aku gabisa beri keperawanan aku untuk kamu mas. Aku udah cacat sebelum kita menikah" balas Salsa
"Hey, hey. Jangan bilang itu sayang. Mas gak peduli tentang itu. Mau kamu perawan atau gak, mas gak peduli"
"Dari awal kita menikah, mas udah terima kamu apa adanya. Mas juga gak terlalu mementingkan hal itu. Mas mau menikahi kamu karena mas tau kamu wanita baik, kamu pantas jadi istri mas"
"Gausah bahas itu lagi yaa. Mas bahagia nikah sama kamu. Mas cinta dan sayang sama kamu sampai kapan pun itu" Ucap Lian
Salsa tersenyum haru mendengar ucapan Lian
"Makasih ya mas, udah tulus sayang dan cinta sama aku" Balas Salsa
"Sama-sama sayang"
"Mas juga makasih, malam ini sudah di servis penuh sama kamu. Mas puas deh sama pelayanan istri mas ini hahaha. Gak di raguin lagi pelayanannnya mantap betul" Goda Lian
"Hahaha alhamdulillah deh kalo suami aku ini puas. Jadi gak sia-sia ini mulut aku pegel" Ucap Salsa
"Hahaha sini biar mas pijitin, biar gak pegel. Soalnya besok mas mau lagi" Balas Lian
"Dih, ketagihan ya hahaha" Balas Salsa
"Ketagihan lah, bibir kamu yang atas sama yang bawah sama-sama candunya, sama-sama enaknya kalo di masukin" Ucap Lian frontal
"Hahahaha suami polos ku udah berubah jadi mesummmmm. Tolongggg" Balas Salsa
"Kamu yang ngajarin ya yang" Balas Lian
"Hahahahaha" Salsa terkekeh mendengar jawaban Lian
***
Salsa membulatkan matanya saat melihat Damar berada di hadapannya. Salsa yang tengah mengambil minum di dapur tiba-tiba menegang saat mendengar suara yang sangat ia kenal memanggilnya. Dan benar saja, saat Salsa membalikkan tubuhnya, Damar sudah berada di belakangnya
"Hay cantik, apa kabar?" Tanya Damar
"Pp-pak Damar?" Ucap Salsa ketakutan
"Aku kangen sama kamu, kamu juga pasti kangen sama aku kan? Hhmm?" Goda Damar sembari berjalan mendekati Salsa
"Jangan mendekat!!! Kalo bapak berani mendekat, saya akan teriak!" Ancam Salsa
"Teriak aja, gak akan ada yang percaya sama kamu sayang. Kamu disini hanya menantu, sedangkan aku? Anak kesayangan Ibu dan ayah ku"
"Aku hanya tinggal memutar balikkan fakta, kalo kamu yang menggoda ku. Dan mereka pasti langsung mengusir mu" Ancam Damar
"Stop saya bilang! Jangan mendekatttt!" Tegas Salsa
"Wow, sudah mulai berani ya sekarang cantikkku ini. Semenjak menikah dengan adikku yang lugu itu, kamu semakin berani"
"Jadi gak sabar, mau main di ranjang sama kamu lagi, pengen tau seliar apa sekarang kamu di ranjang" Ucap Damar
"Gue bukan jalang yang bisa lo pake sesuka lo! Dulu gue emang bodoh dan pasrah dengan semua kebrengsekkan lo! Tapi sekarang, jangan harap lo bisa sentuh gue bangsat! Cuma suami gue yang bisa sentuh gue anjing!" Bentak Salsa
"Woww, garang ya? Jadi makin tertantang nih gue buat bikin lo ngedesah di bawah gue lagi. Lo gak kangen sama punya gue? Hhmm?" Goda Damar
"Gak sama sekali! Punya lo gak ada apa-apanya sama punya suami gue! Dia lebih jago muasin gue dan punya dia jauh lebih gede dari pada punya lo yang cuma sebesar sosis ayam!" Umpat Salsa
"Anjing lo ya! Berani-beraninya lo ngehina gue Salsa! Lo lupa siapa gue? Hahh?"
"Gue bisa bikin lo pisah sama suami lo malam ini juga! Gausah sok bangga-banggain suami lo depan gue! Liat aja, gue bakalan bikin lo di ceraiin Lian malam ini!" Ancam Damar emosi
"Suami gue gak akan percaya sama omongan busuk lo! Gue cinta sama dia, dan dia cinta sama gue! Kita gak akan pisah hanya karena hasutan iblis kaya lo!" Tegas Salsa
Damar yang hendak membalas ucapan Salsa, Damar melihat kehadiran Lian di belakang Salsa. Damar langsung memulai aktingnya dengan memeluk Salsa
"Iya, aku tau kamu kangen sama aku. Tapi di sini ada suami kamu sayang. Nanti kalo dia curiga gimana? Besok aja ya, kita check in nya? Hhmm?" Ucap Damar mesra
Salsa refleks mendorong tubuh Damar, namun saat Salsa hendak memaki Damar. Salsa di kejutkan dengan suara suaminya
"Salsa? Mas Damar?" Ucap Lian
Salsa refleks menoleh ke arah Lian dan berlari memeluk lengan suaminya
"Mas? Kenapa dia ada disini? Mas dia gangguin aku mas" Ucap Salsa ketakutan
"Sayang? Kenapa tiba-tiba berubah gitu sih? Biar aja Lian tau hubungan kita" Balas Damar
"Hubungan? Kalian punya hubungan?" Tanya Lian
"Gak mas, jangan percaya sama dia mas. Aku gak punya hubungan sama bajingan itu mas" Balas Salsa panik
"Salsa itu masih cinta sama gue Li. Dia cuma kasian aja sama lo, karena lo yang udah nemenin dia selama ini"
"Buktinya dia masih mau jalin hubungan sama gue. Dan dia pengen cerai sama lo katanya. Dia mau balik lagi sama gue" Ucap Damar
"Bener Sa?" Tanya Lian
"Mas, gak mas hiks hiks. Jangan percaya sama dia mas. Aku beneran cinta sama kamu mas" Balas Salsa terisak
Damar tersenyum licik melihat raut wajah Lian seakan-akan percaya pada semua ucapannya
"Kasian ya lo li, ternyata selama ini istri lo gak cinta sama lo. Padahal lo udah effort tanggung jawab nikahin dia eh dianya masih cinta sama gue" Ucap Damar
Lian tersenyum licik pada Damar
"Gue sih lebih kasian ke lo Mas. Effort banget ngarang cerita supaya gue dan Salsa cerai" Balas Lian
Salsa dan Damar membelalakan matanya. Padahal jelas-jelas Lian tadi menatap Salsa penuh kekecewaan dan sekaan percaya pada ucapan Damar. Namun ternyata salah, Lian sama sekali tak percaya pada Damar.
Lian memang terbiasa ikut bangun saat Salsa pergi tengah malam. Lian selalu menemani Salsa walaupun hanya sekedar ke dapur. Namun Salsa tak sadar jika Lian ikut bangun dan menemaninya ke dapur malam ini. Salsa pikir Lian terlalu lelah dan tak terbangun saat Salsa hendak mengambil minum di dapur
Lian mendengar dan melihat semua kejadian dari awal. Bagaimana Salsa menolak Damar sampai istrinya dengan fulgar membandingkan dirinya dan Damar. Lian tersenyum puas saat Salsa memujinya di depan Damar. Namun ia juga ingin memberikan sedikit pelajaran pada lelaki brengsek itu agar tak mengganggu istrinya lagi
"Maksud lo apa? Istri lo emang masih cinta sama gue! Dia yang godain gue! Gue gak ngarang cerita!" Balas Damar tak terima
Lian memeluk Salsa dan mencium bibir istrinya di depan Damar. Membuat Damar mengepalkan tangannya
"Gue lebih percaya sama mulut manis istri gue dibandingkan lo brengsek!"
"Oh ya? Gue juga gak salah denger kan tadi, kalo istri gue bilang. Punya lo cuma segede sosis ayam? Emang iya mas?"
"Emang iya sayang? Kecil banget dong? Punya Mas Damar?" Tanya Lian meremehkan
"Iya lah, gede punya kamu sayang. Lebih puas punya kamu" Balas Salsa menatap Damar dengan tatapan meremehkan
"Anjing ya lo berdua! Meskipun punya gue kecil, gue bisa tuh hamilin istri lo! Gak kaya lo, udah nikah berbulan-bulan? Mana hasilnya? Gak bisa hamilin Salsa ya lo? Hahaha" Ledek Damar
Salsa takut jika Lian terpancing emosi dan membuat perkelahian lagi diantara mereka
"Hahaha lo sotoy banget sih jadi orang? Emang lo tau gimana rumah tangga gue sama Salsa?"
"Gue sama Salsa kan emang pacaran dulu setelah halal bro. Kita sengaja gak buru-buru buat promil karena kita mau bebas ngapa-ngapain berdua"
"Lebih tepatnya mau eksplor lebih jauh sih, mana gaya yang paling enak buat di terapin tiap malem. Kita coba semua gaya, sampe nemuin yang pas dan bikin kita berdua makin keenakan dan puas pastinya" Ucap Lian memanasi Damar
Salsa menahan senyumnya, ternyata suaminya lebih jago untuk menghadapi Damar tanpa kekerasan
Sedangkan Damar mengepalkan tangannya, karena jujur Damar sendiri masih menyimpan rasa pada Salsa. Hanya saja karena sifatnya yang brengsek membuat dia tak berani bertanggung jawab atas perbuatannya dulu
"Kenapa ngepalin tangannya? Emosi sama gue? Kesel? Hhmm?"
"Gue ingetin ya Mas Damar! Sekali lagi gue liat lo gangguin istri gue, gue bakal bikin lo nyesel seumur hidup! Ngerti!" Ucap Lian
Lian lalu tersenyum menghadap Salsa
"Kita lanjutin yang tadi yuk sayang, adekku masih kangen sama kamu" Lanjut Lian sembari menggandeng istrinya pergi meninggalkan Damar yang masih mematung
Setelah sampai di kamar, Lian dan Salsa tertawa bersama mengingat wajah masam Damar
"Mas, makasih ya udah percaya sama aku" Ucap Salsa
"Harus dong, bodoh namanya kalo mas lebih percaya sama si brengsek itu daripada cantiknya mas ini" Balas Lian
Salsa tersenyum mendengar jawaban Lian
"Sayang, sepertinya dia ada di balik pintu. Dia mau nguping deh kayanya. Kita kerjain yuk" Bisik Lian
"Hah? Emang iya?" Tanya Salsa
"Tuh, denger langkah kakinya. Berhenti di depan kamar" Bisik Lian
"Iya ya" Balas Salsa sembari mendekatkan telinganya di pintu kamar
"Kita kerjain yuk, biar makin kebakaran dia" Ucap Lian
"Yuk" Balas Salsa tersenyum
"Ahhhh sayanghhh, kamuhh nikmaathh bangett sihhh ahhhh" Ucap Lian sembari menahan tawanya
"Masshhh lebih kencanggg" Balas Salsa
"Ohh shittt, istriii kuhh memangg terbaikkk" Ucap Lian
"Punyaaa kamuu jugaahh terbaikkk mashh" Balas Salsa
Sedangkan di balik pintu, Damar mengepalkan tangannya lalu menggebrak pintu kamar Lian dan Salsa
"Woy bangsat! Bisa gak kalo lagi ngeweu suara kalian pelanin! Brisik anjinggg!!" Teriak Damar dari balik pintu
"Apasih, lo berisik anjing! Lagi enak ini" Balas Lian dari balik pintu
Damar pergi dari depan kamar Lian sembari menghentakkan kakinya dengan kencang
Tawa Salsa dan Lian kembali pecah mendengar langkah kaki yang terlihat kesal itu
"Udah ih, ketawa mulu. Mending bobo yuk, besok kamu kerja sayang" Ucap Salsa
"Gamau bobo ahh" Balas Lian
"Mas, ini udah dini hari. Mau ngapain kamu, gamau bobo" Balas Salsa
"Mau olahraga ajaa, nanggung tuh. Udah denger suara desahan kamu barusan, jadi bangun dia" Ucap Lian melirik ke arah miliknya yang memang sudah berdiri di balik celana pendeknya
"Hahaha dasar, gampang bener sih bangunnya. Kan tadi cuma niat ngerjain si brengsek doang, kenapa bangun beneran?" Ucap Salsa sembari mengusap milik Lian
"Eughh yangg, enakk" Balas Lian
"Enak? Hhmm? Mau di manjain lagi?" Tanya Salsa
Lian menganggukkan kepalanya dengan wajah polosnya, membuat Salsa gemas pada suaminya
"Hahaha gemes banget. Yaudah yukk, cari pahala setelah ngerjain orang" Ucap Salsa
Lian tertawa lalu menggandeng istrinya menuju ranjang dan melanjutkan kegiatan mereka
***
"Ayah, Ibu. Lian udah mutusin untuk pindah dari rumah ayah dan Ibu"
"Sekarang ada Mas Damar yang akan nemenin kalian disini. Jadi Lian izin untuk pergi dari sini dan membawa istri Lian ya Yah, Bu" Ucap Lian
"Lian? Kenapa tiba-tiba sekali nak? Ada apa? Apa ada yang salah dengan sikap ayah dan Ibu? Apa Salsa gak betah disini nak?" Tanya Ibu Lian
"Ibu, Salsa sangat betah disini. Ayah dan Ibu sangat baik sama Salsa. Tapi Salsa harus ikut suami Salsa bu" Balas Salsa
"Lian? Kenapa nak?" Tanya Ayah Lian
"Jujur, kejadian semalam bikin Lian gak bisa tinggal satu rumah dengan laki-laki yang mencoba menghancurkan rumah tangga Lian dan selalu menggoda istri Lian"
"Lian hanya mau menjaga istri Lian dari laki-laki yang selalu mencoba melecehkan istri Lian yah, Bu" Ucap Lian
"Maksud kamu? Damar?" Tanya Ayah Lian
"Iya yah" Balas Lian
"Ck, ayah sudah bilang kenapa harus di bebasin anak itu! Tapi ibu mu yang selalu membela anak brengsek itu!" Ucap Ayah Lian
Ya, Damar memang sempat di penjara setelah kejadian malam itu yang membuat Salsa keguguran. Lian melaporkan Damar ke polisi dan membuat Damar di penjara. Namun, Ibu Lian memohon pada Lian untuk membebaskan Damar karena ia tak tega dengan putra nya.
"Gak mungkin mas mu seperti itu Lian. Dia sudah berjanji sama Ibu untuk berubah" Balas Ibu Lian
"Nyatanya dia gak pernah berubah! Dia bahkan mengancam istri Lian, dia akan membuat rumah tangga Lian berantakan kalo Salsa gak nurut sama dia!"
"Rumah ini sudah gak aman buat istri Lian, selama bajingan itu tinggal di rumah ini!" Ucap Lian kesal
"Lian, jaga bicara kamu! Dia itu kakak kamu!"
"Nanti biar Ibu yang bicara sama Damar ya supaya gak gangguin Salsa lagi" Balas Ibu Lian
"Ibu ini kenapa selalu bela Damar! Dia jadi anak sebrengsek itu karena Ibu selalu belain dia tau gak!"
"Apa ibu gak mikirin perasaan Lian dan Salsa? Terutama Salsa! Dia pasti trauma harus tinggal sama bajingan itu!" Omel Ayah Lian
"Ayah! Kenapa ayah bicara seperti itu! Damar itu anak kandung mu juga!"
"Salsa gak akan keberatan untuk tinggal disini, iya kan nak? Kamu gak akan pergi ninggalin Ibu kan?" Tanya Ibu Lian
"Ibu, cukup! Jangan egois!"
"Ibu gak bisa maksa Salsa untuk nurutin Ibu! Dia ketakutan bu! Tolong ngertiin istri Lian!"
"Orang yang mau lecehin dia tinggal satu atap sama dia! Ibu paham gak sihhh!" Tegas Lian
"Mas, udah" Ucap Salsa mencoba menenangkan Lian
"Ibu keterlaluan! Ibu terlalu memaksakan kehendak ibu sendiri! Kalo Ibu mau anak kesayangan ibu tinggal disini, yasudah biarkan Lian membawa istrinya pergi dari sini! Karena rumah ini memang gak aman untuk Salsa!" Tegas Ayah Lian
"Ck, lebay! Gue gak akan ngapa-ngapain istri lo juga kali" Ucap Damar yang baru saja turun dari tangga
"Damar, jaga bicara kamu nakk!" Tegur Ibu Lian
"Mereka yang lebay, Ibu percaya kan Damar gak akan macam-macam lagi? Damar udah janji sama Ibu, tapi mereka nya aja yang suka cari gara-gara sama Damar" Balas Damar
Lian mengepalkan tangannya dan Salsa mencoba menenangkan suaminya
"Terserah Ibu kalo mau percaya sama anak kesayangan Ibu itu. Lian gak butuh pembelaan maupun validasi siapa yang benar dan siapa yang salah"
"Disini Lian cuma mau izin pergi dari sini dan bawa istri Lian jauh dari manusia yang berniat jahat sama dia. Permisi" Ucap Lian lalu menggandeng tangan Salsa
"Hahaha gue udah gak nafsu kali sama istri lo. Gue udah tau rasanya gimana, udah bosen juga. Jadi gausah khawatir istri lo gue pake lagi. Sampe pindah rumah segala demi dia" Ucap Damar
Lian yang sudah tak dapat membendung emosinya lagi pun segera menghampiri Damar dan mengahajar laki-laki itu di depan ayah dan Ibunya
Ibu Lian sudah menangis sembari menahan Lian, sedangkan ayah Lian hanya diam melihat hal itu karena dia juga merasa emosi dengan ucapan kotor Damar tentang menantunya
"Lian udah nak hiks hiks, udah sayang" Ucap Ibu Lian menahan Lian
Salsa yang tak tega melihat Ibu Lian menangis pun segera memeluk suaminya dari belakang dan mencoba menenangkan Lian
"Mas udah, kasian Ibu. Udah ya sayang" Ucap Salsa
Lian melepaskan Damar dan mencoba menetralkan emosinya. Lian berbalik badan dan memeluk Salsa dengan erat
Sedangkan Ibu Lian mencoba membantu Damar untuk bangkit
"Ayah, Lian sama Salsa pamit ya. Ayah sama Ibu jaga diri baik-baik. Lian dan Salsa selalu mendoakan ayah dan Ibu" Ucap Lian lalu menyalimi ayah Lian
Lian yang sangat kesal pada Ibunya karena selalu membela Damar pun dengan sengaja pergi tanpa berpamitan padanya. Padahal jelas-jelas Damar menghina istrinya di depan Ibunya, namun Ibu nya justru diam saja dan tetap membela Damar.
***
"Sayang? Lagi masak apa? Hhmm?" Tanya Lian sembari memeluk istrinya dari belakang
"Lagi masak ayam kecap kesukaan suami aku" Balas Salsa
"Yeayy, makasih sayang. Mas emang lagi pengen ayam kecap" Ucap Lian
Salsa mematikan kompor lalu membalikkan tubuhnya menghadap Lian. Salsa mengalungkan tangannya pada Leher Lian dan menatap suaminya
"Mau sampai kapan mas gak kerja gini? Hhmm?"
"Mas juga gaboleh marah lama-lama sama Ibu sayang. Sikap Ibu memang salah, tapi beliau tetap Ibu kamu. Gak seharusnya kamu memutus komunikasi kamu seperti ini mas"
"Ini sudah dua bulan sejak kita keluar dari rumah. Mas masih marah sama Ibu? Hhmm?" Tanya Salsa lembut
"Sayang, tabungan mas masih banyak banget kok. Untuk kebutuhan kita berdua dua tahun juga masih ada. Meskipun mas gak kerja gak akan kekurangan uang" Ucap Lian
"Bukan masalah uang suami ku sayang"
"Kamu gak kasian sama Ibu? Harus ngurus bakerynya sendirian? Ibu sudah tua mas, gak seharusnya beliau masih kerja" Balas Salsa
"Mas mau nemenin kamu sama anak kita. Mas gamau kejadian kemarin keulang lagi sayang" Ucap Lian sembari mengusap perut Salsa
Ya, Salsa memang tengah mengandung buah hati Lian. Usia kandungan Salsa pun sudah masuk bulan ketiga. Mereka sengaja menyembunyikan kehamilan Salsa dari semua orang termasuk kedua orang tua Lian, karena Lian takut jika Damar tau dan kembali menyakiti Istrinya.
Lian juga memutuskan untuk pindah dari rumah orang tuanya dua bulan lalu karena tak ingin membahayakan Salsa dan calon buah hatinya. Berurusan dengan Damar cukup membuat Lian trauma dan takut kehilangan buah hatinya lagi
"Ibu setiap hari telpon aku, tanyain kabar kamu. Ibu mau minta maaf sama kamu secara langsung. Ibu mau datang kesini, tapi aku coba larang karena aku tau kamu belum siap ketemu ibu"
"Tapi aku rasa sekarang udah waktunya mas. Udah waktunya kita berdamai sama semuanya"
"Ayah dan Ibu juga cerita kalo Mas Damar udah berubah. Dia juga akan melamar seorang perempuan bulan depan" Ucap Salsa
"Mas gak percaya dia bisa berubah secepat itu. Pasti ini juga akal-akalan dia lagi" Balas Lian
"Mas, gak ada yang maksa untuk kamu percaya sama Mas Damar. Tapi tolong ya, Mas maafin Ibu dan berdamai dengan semuanya"
"Enam bulan lagi aku melahirkan mas dan akan menjadi seorang Ibu. Proses melahirkan itu taruhannya nyawa mas. Aku takut kalo seandainya aku gak selamat, setidaknya kamu sudah berdamai dengan Ibu yang bisa membantu kamu mengurus anak kita nanti" Ucap Salsa
Lian memeluk Salsa erat setelah mendengar ucapan Salsa
"Sayang, gaboleh ngomong gitu. Mas yakin kamu dan adek pasti selamat. Mas akan lakuin apapun asal kamu dan adek bisa selamat. Jangan pernah tinggalin mas sayang, mas gamau" Ucap Lian
"Mas, kematian itu sudah menjadi takdir manusia. Dan kita gabisa menghindari semua itu"
"Mas harus ikhlas kalo memang kita berjodoh hanya sampai anak kita lahir" Ucap Salsa sembari mengusap punggung Lian
"Mas mau minta maaf sama Ibu, mas mau berdamai dengan semuanya, mas mau ketemu Ibu. Mas mau sujud sama Ibu supaya Ibu doain kamu dan adik bayi"
"Doa Ibu menembus langit kan sayang? Mas mau minta doa itu untuk kamu dan adik bayi sayang. Mas gabisa bayangin perkataan kamu tadi, jadi stop bahas itu"
"Ayo, kita ke rumah Ibu sekarang" Ucap Lian
Salsa tersenyum melepaskan pelukan Lian
"Gaperlu mas, kita gak perlu ke rumah Ibu" Balas Salsa
"Kenapa? Bukannya tadi kamu yang maksa mau ke rumah Ibu" Balas Lian
"Iya, tapi sebentar lagi Ibu, Ayah dan Mas Damar mau kesini. Jadi mending kamu mandi gih, bau acem" Ucap Salsa sembari menutup hidungnya
Lian tersenyum lalu mengecupi seluruh wajah Salsa
"Jangan pernah tinggalin mas ya sayang, mas masih butuh kamu di hidup mas. Mas gabisa bayangin hidup mas tanpa kamu"
"Mas sayang banget sama kamu, mas cinta banget sama kamu. I love you so much Salsa" Ucap Lian diakhiri mengecup bibir Salsa
"Love you too my superhero" Balas Salsa
Lian tersenyum lalu mengecup kening Salsa dan masuk ke dalam kamar untuk mandi
Salsa menatap kepergian suaminya dengan senyum di wajahnya
"Betapa beruntungnya aku jadi istri kamu mas. Kamu adalah laki-laki terbaik setelah ayah yang sangat menghormati dan menghargai istrinya. Kamu menerima aku apa adanya, kamu bimbing aku dengan sabar, kamu selalu melindungi dan menjaga aku sepenuh hati. Dan kamu hanya diam jika kamu kesel dan marah sama aku. Kamu sama sekali gak pernah menggunakan nada tinggi sama aku, kamu selalu sabar ngadepin mood ku selama hamil"
"Masyaallah, terimakasih sudah menjadikan aku salah satu wanita yang beruntung karena memiliki suami seperti Mas Lian. Walaupun harus melewati jalan yang terjal, aku gak pernah menyesal dengan takdir yang berakhir indah ini. Terimakasih Tuhan" Monolog Salsa
~END ~