Gambar dalam Cerita
Rony dan Salma duduk berdampingan di teras rumah, menikmati malam yang tenang. Dua bulan terasa begitu lama bagi mereka berdua.
“Mas sudah nggak sabar,” ucap Rony pelan. “Pengen cepat nikah sama kamu.”
Salma tersenyum, pipinya merona. “Aku juga, Mas.”
Rony terkekeh kecil, menatap Salma dengan penuh sayang. “Kamu itu selalu bikin Mas tenang. Jangan tinggalin Mas ya.”
Salma mengangguk. “Insyaallah, kita sama-sama berjuang.”
Percakapan ringan itu menutup malam dengan harapan. Mereka tidak tahu, ujian terbesar justru sedang menunggu di depan.
Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia berubah menjadi hari penuh tanda tanya. Salma menunggu hampir dua jam di halte kampus, namun Rony tak kunjung datang. Ponselnya tak aktif. Hatinya gelisah.
Entah mengapa, langkah Salma justru membawanya ke sebuah tempat yang selama ini tak pernah ia kunjungi bersama Rony.
Pemakaman.
Di sana, Salma melihat Rony duduk di depan sebuah nisan. Ia tidak bermaksud menguping, namun setiap kata Rony menusuk hatinya.
Rony berbicara pada masa lalu—tentang Tiara, tentang rasa bersalah yang belum tuntas, tentang ketakutan kehilangan Salma seperti kehilangan Tiara.
Salma tak sanggup lagi berdiri. Air matanya jatuh.
“Aku yang nggak bisa berharap apa-apa lagi sama kamu, Mas,” ucapnya lirih.
Rony terkejut. Ia mencoba mendekat, namun Salma mundur.
Salma bicara dengan suara bergetar, menumpahkan semua perasaannya—tentang kebohongan, tentang rasa tidak dipilih sepenuhnya, tentang cinta yang terasa hanya menjadi pelarian.
“Aku nggak sanggup hidup dengan orang yang belum selesai sama masa lalunya,” katanya. “Aku mundur.”
Rony memohon, berjanji, menangis. Namun Salma sudah membuat keputusan terberat dalam hidupnya.
Ia pergi dengan hati hancur.
Dua bulan berlalu. Hari pernikahan yang direncanakan tak pernah terjadi. Salma memilih pergi ke luar negeri untuk melanjutkan studi, mencoba menyembuhkan dirinya.
Sementara itu, Rony jatuh dalam penyesalan. Ia berubah—menjadi dingin, keras, dan menyalahkan dirinya sendiri. Ia kehilangan Salma karena ketidaktegasannya sendiri.
Rony berulang kali mendatangi keluarga Salma, memohon kesempatan. Namun Papa Salma berdiri teguh.
“Papa mau Salma sembuh dulu,” katanya. “Dan kamu belum bisa menjamin kebahagiaannya.”
Rony pulang dengan hati remuk.
Di London, Salma berusaha bangkit. Ia fokus kuliah, merawat diri, dan menjaga jarak dari hubungan baru. Ada Paul, ada perhatian, namun hatinya belum siap.
“Aku bisa sembuhin luka aku sendiri,” kata Salma jujur.
Nabila, sahabatnya, selalu ada. Memeluknya saat Salma lelah, mengingatkannya bahwa ia berharga.
Namun takdir kembali mempertemukan Salma dan Rony.
Rony datang ke London—dengan kondisi yang jauh dari kata baik. Ia jatuh sakit, mentalnya rapuh, dan hidupnya sempat berada di titik terendah.
Salma marah, terluka, namun juga tak tega.
Ketika Rony pingsan di depan pintu apartemennya, Salma tak bisa berpaling.
Ia merawat Rony—bukan sebagai pasangan, tetapi sebagai manusia yang pernah ia cintai.
Perlahan, Rony membuktikan perubahan. Ia berobat, merawat diri, menata ulang hidupnya. Ia belajar jujur, belajar sabar, belajar tidak menuntut.
Salma melihat perjuangan itu. Luka di hatinya belum sepenuhnya sembuh, namun ia mulai membuka pintu sedikit demi sedikit.
Hari demi hari, kepercayaan tumbuh kembali—pelan, rapuh, namun nyata.
Saat Rony terluka karena menyelamatkan Salma dari kecelakaan, Salma runtuh. Ia menangis dalam pelukan Rony, menyadari bahwa cinta mereka belum benar-benar mati.
“Aku akan tanggung jawab,” ucap Salma. “Aku rawat kamu sampai sembuh.”
Dan Salma menepati kata-katanya.
Di masa itulah, mereka belajar kembali menjadi satu tim—tanpa paksaan, tanpa janji berlebihan.
Beberapa bulan kemudian, Rony benar-benar pulih. Salma pun menyelesaikan studinya lebih cepat dari rencana.
“Setelah wisuda, kita nikah,” kata Rony dengan suara bergetar. “Kalau kamu siap.”
Salma tersenyum. “Aku siap… asal kita jujur dan saling jaga.”
Rony mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
Akad nikah digelar sederhana di London. Tanpa kemewahan, tanpa pesta besar—hanya doa, restu, dan air mata haru.
“Sah.”
Satu kata itu menghapus luka panjang yang pernah ada.
Rony menatap Salma penuh syukur. “Terima kasih sudah bertahan, sudah memaafkan.”
Salma tersenyum lembut. “Terima kasih sudah berubah dan berjuang.”
Hari itu, mereka bukan pasangan sempurna—tetapi dua manusia yang memilih saling menyembuhkan.