Gambar dalam Cerita
Salma duduk di sisi ranjang rumah sakit, menggenggam tangan suaminya yang terbaring tak berdaya. Sudah hampir tiga bulan Rony berada dalam kondisi koma sejak kecelakaan tragis itu terjadi. Mesin-mesin medis mengelilinginya, berbunyi pelan namun konstan, seolah menjadi satu-satunya penanda bahwa hidup masih berjuang di tubuh laki-laki itu.
Setiap hari Salma datang, berbicara, berdoa, dan berharap. Ia bercerita tentang hal-hal kecil—tentang rumah, tentang pagi yang terasa sunyi, tentang anak mereka yang baru saja lahir. Tidak pernah sekali pun Salma merasa lelah, meski hatinya sering runtuh diam-diam.
“Aku di sini, Mas,” ucapnya lirih. “Aku tunggu kamu pulang.”
Hari itu, doa Salma dijawab. Rony membuka mata.
Tangis Salma pecah bukan karena sedih, melainkan karena syukur. Dokter mengatakan Rony selamat, tetapi ada satu hal yang harus diterima dengan lapang dada—Rony mengalami amnesia parsial. Ia kehilangan sebagian besar ingatannya dan menunjukkan perilaku seperti anak kecil, bingung terhadap dunia, takut pada hal-hal sederhana, dan tidak mengenali Salma sebagai istrinya.
Salma terdiam ketika pertama kali Rony bertanya, “Kamu siapa?”
Pertanyaan itu menghantam lebih keras dari kecelakaan apa pun. Namun Salma memilih tersenyum, meski air matanya jatuh.
“Aku teman kamu,” jawabnya lembut. “Aku di sini buat jagain kamu.”
Dokter menjelaskan bahwa kondisi Rony membutuhkan kesabaran luar biasa. Tidak boleh ada paksaan. Tidak boleh ada tekanan. Ingatan bisa kembali perlahan, atau mungkin tidak sepenuhnya.
Salma mengangguk. Dalam hatinya, ia sudah berjanji: apa pun kondisinya, ia akan tetap tinggal.
Rony dibawa pulang ke rumah orang tuanya agar proses pemulihan lebih mudah. Salma ikut tinggal di sana bersama bayi mereka, Celline. Hari-hari Salma dipenuhi rutinitas tanpa henti—mengurus anak, menjaga Rony, menenangkan saat ia takut, menemani saat ia menangis, dan tersenyum meski dirinya sendiri lelah.
Rony sering bersikap manja, mudah cemburu, mudah tersinggung, dan sangat bergantung pada Salma. Ada hari-hari ketika Salma hampir menyerah—saat anak mereka sakit, saat Rony rewel, saat tubuhnya kelelahan dan pikirannya penuh.
Namun Salma tidak pergi.
Ia menangis diam-diam di kamar mandi. Ia berdoa di malam hari. Ia menguatkan diri di hadapan mertua yang juga melihat betapa besar pengorbanannya.
“Kamu perempuan yang luar biasa,” kata Mama Rony suatu malam. “Rony beruntung punya istri seperti kamu.”
Salma hanya tersenyum. Ia tidak merasa luar biasa. Ia hanya mencintai.
Waktu berjalan. Bulan berganti. Rony perlahan membaik. Ada hari-hari ketika ia mulai mengingat hal kecil—nama ayahnya, sudut rumah, lagu lama yang dulu sering diputar. Salma membantu dengan pelan, menunjukkan foto-foto lama, bercerita tanpa memaksa.
Suatu sore, di balkon rumah, Salma membuka album pernikahan mereka.
“Ini kita,” katanya pelan.
Rony menatap foto itu lama. Kepalanya terasa berat. Ingatan datang seperti pecahan kaca—tajam, menyakitkan, dan membingungkan. Ia tiba-tiba menjerit kesakitan dan kembali tak sadarkan diri.
Salma panik. Ia menyalahkan dirinya sendiri.
Namun di rumah sakit, setelah penanganan intensif, keajaiban kembali terjadi.
Rony sadar.
Kali ini, ia menatap Salma berbeda. Matanya tidak lagi kosong.
“Salma…” suaranya serak.
Salma membeku.
“Istri aku,” lanjutnya, air mata jatuh tanpa ia sadari.
Salma menangis sejadi-jadinya. Ia memeluk Rony dengan hati-hati, seolah takut ini hanya mimpi.
“Aku di sini, Mas. Aku selalu di sini.”
Rony menangis. Untuk waktu yang hilang. Untuk istrinya yang setia. Untuk anaknya yang ia lewatkan masa tumbuhnya. Untuk pengorbanan yang tak pernah ia sadari sebelumnya.
“Aku minta maaf,” katanya berkali-kali.
Salma menggeleng. “Kamu gak pernah jadi beban. Kamu adalah rumahku.”
Beberapa minggu kemudian, Rony kembali pulang. Ia mulai beradaptasi dengan perannya sebagai ayah dan suami. Menggendong Celline, menenangkannya saat menangis, dan belajar kembali menjadi pelindung.
Suatu malam, setelah Celline tertidur, Rony menggenggam tangan Salma.
“Kamu gak pernah menyerah,” katanya. “Padahal kamu bisa pergi.”
Salma tersenyum lelah. “Cinta itu bukan soal bertahan saat bahagia. Tapi tetap tinggal saat semuanya sulit.”
Rony menunduk, mengecup punggung tangan istrinya dengan penuh hormat.
Di saat itulah Salma tahu—semua luka, air mata, dan lelahnya tidak sia-sia.
Mereka mungkin tidak sempurna. Hidup mereka pernah hancur. Namun dari reruntuhan itu, mereka membangun kembali sesuatu yang lebih kuat: keluarga yang disatukan oleh kesabaran, pengorbanan, dan cinta yang pulih.