Gambar dalam Cerita
"Apa dok? Cairan yang keluar dari payudara saya itu ASI? Gak mungkin dok, saya belum menikah apalagi hamil. Gak mungkin payudara saya keluar ASI" Ucap Salma
"Mbak, mbak yang tenang ya. Ini sudah biasa terjadi kok. Bukan hanya mbak yang mengalami permasalahan seperti ini. Saya sudah sering menangani kasus-kasus seperti mbak"
"Pada umumnya, ASI bisa keluar pada wanita yang tidak hamil, penyebabnya cukup bermacam-macam. Seperti ketidakseimbangan hormon, efek samping pengobatan dan mengidap kondisi kesehatan tertentu"
"Namun setelah saya melakukan pemeriksaan pada payudara mbak Salma. Payudara Mbak Salma tidak terdapat benjolan sama sekali atau yang mengarah pada tumor atau pun kanker payudara"
"Jadi ASI keluar mungkin karena kadar Estrogen pada Mbak Salma terlalu tinggi hingga menyebabkan cairan ASI keluar walaupun tidak sedang mengandung mbak" Jelas Dokter
"Astaghfirullah, tapi ini gak bahaya kan dok?" Tanya Salma
"Gak mbak, tapi mungkin akan sedikit nyeri saja saat ASI tidak di keluarkan dengan baik" Balas Dokter
"Dok, ini bertahan berapa lama? Apa selamanya dok?" Tanya Salma
"Tidak Mbak, dari beberapa kasus yang saya tangani. Biasanya ASI akan berhenti keluar paling lama sekitar enam bulan sampai tujuh bulan. Ada juga yang lebih cepat sekitar dua sampai tiga bulan saja"
"Semua tergantung kondisi tubuh mereka masing-masing mbak. Tapi yang jelas tidak akan selamanya keluar kok mbak" Balas Dokter
"Ahh syukur lah dok" Balas Salma
"Mbak Salma, maaf sebelumnya. Apaa saya boleh bicara di luar pemeriksaan sekarang?" Tanya Dokter
"Boleh dok, silahkan" Balas Salma
"Jadi gini mbak, saya baru memiliki cucu sekitar satu bulan yang lalu. Ibu nya meninggal saat melahirkan cucu saya. Jadi cucu saya belum mendapatkan ASI sama sekali dari Ibu nya"
"Jadi gini, Saya ingin cucu saya mendapatkan ASI untuk tumbuh kembangnya mbak. Apa mbak Salma mau menjadi Ibu Susu dari cucu saya mbak?"
"Tapi tolong jangan salah paham dulu ya mbak, saya bisa membantu keperluan kehidupan mbak Salma selama mbak Salma bersedia menjadi Ibu Susu cucu saya"
"Saya harap mbak Salma mau membantu saya mbak, kasian cucu saya mbak. Saya gak tega lihat dia hanya minum susu formula" Ucap Dokter
Kasian juga ya Bu Dokternya, lagian sayang juga ASI gue kalo gak di manfaatin. Gue juga lagi butuh duit buat bayar kuliah dua bulan lagi *batin Salma
"Hmm gini aja deh Dok, saya ikhlas ngasih ASI saya untuk cucu dokter. Tapi tolong berikan saya pekerjaan saja dok, saya lagi butuh pekerjaan untuk membayar uang kuliah saya. Apa ada dok? Pekerjaan yang bisa saya lakukan sembari tetap kuliah?" Tanya Salma
Dokter pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya
"Kamu jadi Ibu Susu sekaligus baby sitter cucu saya saja ya. Gimana? Kamu bisa tinggal di rumah saya dan menjaga cucu saya setelah kamu selesai kuliah. Saya masih memiliki banyak ART yang bisa membantu kamu untuk menjaga cucu saya jika kamu kuliah. Setelah kuliah baru bisa melanjutkan pekerjaan kamu" Ucap Dokter
Lumayan juga ya, gue gak perlu ngekos dong. Hemat biaya juga nih *batin Salma
"Baik dok, saya setuju" Balas Salma
"Kenalin saya Ratna. Panggil aja Bu Ratna ya Mbak Salma. Jangan dokter lagi, kan saya sudah jadi atasan kamu sekarang" Ucap Dokter
"Kalo begitu, Bu Ratna juga jangan panggil saya Mbak dong Bu. Panggil saja saya Salma Bu" Balas Salma
"Hahaha oke Salma. Kamu kemasi barang-barang kamu sekarang di kosan kamu ya. Nanti sore biar supir saya yang jemput kamu di kosan" Ucap Ratna
"Loh, kok dokter tau saya ngekos?" Tanya Salma
"Ini? Biodata kamu ada di saya loh untuk laporan pemeriksaan. Dan disini tertulis alamat kamu dengan nama Kos Putri Melati" Ucap Ratna
"Eh haha iya dok, saya ngekos di sana" Balas Salma
"Yaudah, Salma boleh keluar ya. Nanti saya akan menghubungi kamu jika supir saya akan menjemput kamu. Nomor kamu yang tertera disini kan" Ucap Ratna
"Iya dok" Balas Salma
***
"Ini cucu saya Sal, namanya Arrayyan Zahfi Parulian. Rayyan usianya masih sebulan Sal, dan dia jadwal minum ASI nya tiap Tiga jam sekali yaa. Atau kalo udah nangis sambil mainan mulutnya itu tanda nya dia haus"
"Ini kamar Rayyan sekaligus kamar kamu ya? Gapapa kan kamu sekamar sama Rayyan?" Tanya Ratna
"Gapapa Bu, kan lebih mudah kalo memang saya sekamar sama mas Rayyan" Balas Salma
"Yaudah, perlengkapan Rayyan di lemari warna biru ya. Nah ini lemari baru khusus baju-baju kamu, jadi bisa taruh disini" Balas Ratna
"Baik Bu" Balas Salma
"Sekarang coba deh Sal, susuin Rayyan. Saya pengen tau" Ucap Ratna
"Iya Bu, maaf ya kalo masih salah. Saya gatau soal beginian Bu" Balas Salma
"Iya Sal, wajar kalo kamu gatau. Kan kamu belum pernah punya anak" Ucap Ratna
Salma pun mulai mengeluarkan payudara nya dan mengarahkan pada Rayyan. Rayyan dengan semangat menghisap nipple Salma.
"Aduh senengnya, ketemu nen ya sayang hahaha. Liat Sal, ngisepnya kenceng banget" Ucap Ratna
"Aduh iya Bu, tapi agak nyeri rasanya. Nyeri banget malah" Balas Salma
"Iya soalnya ini baru pertama Sal apalagi Rayyan ngisep nya kenceng pantes nyeri. Tapi gapapa kok, nanti kamu bakal terbiasa" Balas Ratna
"Iya Bu" Balas Salma
"Yaudah, saya tinggal ke kamar ya Sal. Nanti makan malam turun, kita makan malam sama-sama ya" Ucap Ratna
"Bu, saya makan di kamar saja. Saya gaenak kalo harus gabung di meja makan keluarga Ibu" Balas Salma
"Gapapa Sal, sekalian saya kenalin kamu sama keluarga saya. Mau yaa, saya tunggu nanti pokoknya. Oke" Ucap Ratna lalu pergi keluar kamar
***
Salma turun bersama Rayyan yang sedang berada di gendongannya. Dengan langkah ragu, Salma mendekat pada meja makan keluarga Ratna.
"Hay Sal, akhirnya turun juga. Sini sini, duduk sebelah saya" Ucap Ratna
"Baik Bu" Balas Salma tak enak
Salma tersenyum menatap dua orang laki-laki yang berada di satu meja yang sama.
"Papa, Rony. Ini Salma yang Mama ceritain tadi" Ucap Ratna
"Sal, ini suami saya Nama nya Surya dan itu anak laki-laki saya namanya Rony, dia ayah dari Rayyan Sal" Ucap Ratna
"Salam kenal Pak Surya, Pak Rony. Saya Salma, Baby sitter tuan Rayyan" Ucap Salma mengenalkan diri
"Iya Sal, Mama udah cerita banyak tentang kamu. Terimakasih ya sudah mau menjaga cucu saya dan menjadi Ibu Susu dari cucu saya" Balas Surya
"Iya pak, sama-sama" Balas Salma
"Terimakasih sudah mau memberi ASI kamu untuk anak saya" Ucap Rony datar
"Sama-sama Pak" Balas Salma
Mereka pun melanjutkan makan malam dengan Salma yang masih menggendong Rayyan.
"Sal, makan yang banyak ya. Kan kamu sekarang lagi nyusuin Rayyan. Tambah yaa" Ucap Ratna
"Maaf Bu, Saya sudah kenyang. Ini udah cukup sekali, makasih ya Bu" Balas Salma sopan
Tepat setelah Salma menyelesaikan makannya, tiba-tiba Rayyan menangis.
"Bu Ratna, Pak Surya, Pak Rony saya izin ke kamar dulu ya. Sepertinya tuan Rayyan sedang haus. Permisi" Pamit Salma
"Iya Sal" Balas Ratna
Setelah kepergian Salma, barulah Ratna menanyakan pendapat pada suami dan anaknya
"Gimana menurut Papa? Bener kan kata Mama? Salma anak yang baik" Ucap Ratna
"Iya Ma, dia sopan, cantik, berhijab pula" Balas Surya
"Iya Pa, Mama gak salah kan cari Ibu susu buat Rayyan" Ucap Ratna
"Ma, tapi beneran aman buat Rayyan ASI Salma? Maksudnya kan? Dia masih gadis, tapi - "
"Aman Pa, itu bukan cairan penyakit. Itu emang ASI yang keluar. Salma kelebihan hormon aja, makanya walaupun belum pernah menikah atau lagi hamil. ASI nya udah keluar"
"Kita doain aja, ASI Salma keluar terus biar Rayyan tercukupi kebutuhan ASI nya" Balas Ratna
"Emang bisa tiba-tiba berhenti Ma?" Tanya Surya
"Bisa lah, kalo hormon nya kembali normal ya berhenti. Makanya Mama mau beliin Salma ASI booster ntar Mama campur sama minumannya aja biar Salma gatau" Ucap Ratna
"Mama mau jebak dia?" Tanya Rony
"Bukan Jebak, Mama cuma mau yang terbaik buat Cucu Mama. Kalo Salma tau dia gak akan mau minum, karena dia sendiri takut ASI nya keluar terus padahal dia belum nikah" Ucap Ratna
"Terserah Mama lah" Balas Rony
"Ck, kamu tuh jangan kerjaan terus yang di urus. Anak kamu juga sekali-kali di lihat, di urus Ron. Dia pasti rindu sama Papa nya" Ucap Ratna
"Anak Reina, bukan Anak Rony" Balas Rony
"Ron!" Bentak Ratna
"Ma udah ma" Tahan Surya
"Rony ke kamar dulu, udah kenyang" Balas Rony lalu pergi ke kamarnya
***
Pagi hari nya, Salma tengah menjemur Rayyan di halaman belakang rumah. Dia menjemur sembari mengayun-ayunkan pelan tubuh Rayyan. Salma juga bersenandung lirih menemani kegiatannya untuk menjemur tuan muda nya itu.
Ternyata kegiatan Salma tak luput dari pandangan Rony yang melihat Salma dari balkon kamarnya. Laki-laki itu fokus melihat betapa serius nya Salma mengasuh putra kecilnya di bawah.
"Beneran belum nikah? Tapi keliatannya udah cocok jadi Ibu" Monolog Rony
Setelah itu Rony kembali ke dalam kamarnya dan bersiap untuk ke kantor.
Saat Rony membuka kamarnya, tepat berpapasan dengan Salma yang baru saja selesai menjemur Rayyan.
"Selamat Pagi Pak Rony" Sapa Salma
"Pagi" Balas Rony singkat
"Dari mana?" Tanya Rony basa basi
"Dari jemur Tuan Rayyan di bawah Pak" Balas Salma
"Oh, oke" Balas Rony lalu pergi meninggalkan Salma
Hah? Gitu doang? Ini anaknya loh di gendongan gue? Kok gak di liat sama sekali sih. Aneh tuh orang, gak sayang anak banget *batin Salma
Salma pun tak mempedulikan Rony lagi lalu masuk ke dalam kamarnya untuk memandikan Rayyan dan bersiap untuk berangkat kuliah.
Setelah bersiap, Salma turun dan memberikan Rayyan pada ART di rumah Ratna
"Bi, titip Mas Rayyan ya Bi. Saya kuliah dulu, ASI nya udah di freezer ya Bi. Nanti tinggal angetin. Soalnya Salma hari ini ada tiga kelas Bi. Jadi sepertinya pulang sore. Gapapa ya Bi? Salma udah izin Ibu kok" Ucap Salma
"Alah mbak Salma, ya gapapa toh. Sebelum ada mbak Salma kan Den Rayyan sama saya. Udah tenang aja ya mbak, Mbak Salma yang semangat kuliahnya" Ucap Bibi
"Ahh makasih Bibi, saya berangkat dulu yaa" Balas Salma
Saat Salma hendak melangkah, tiba-tiba dia di kejutkan oleh suara Rony yang baru saja turun dari tangga
"Berangkat sama saya aja biar cepet" Ucap Rony pada Salma
"Loh, Pak Rony belum berangkat? Saya kira udah berangkat" Balas Salma
Rony memang mendengarkan semua percakapan Salma dan Bibi saat dia berada di tangga.
"Tadi mau berangkat tapi barang saya ada yang tertinggal di kamar" Balas Rony datar
"Oh, yaudah saya duluan ya pak" Balas Salma
"Berangkat sama saya aja" Ucap Rony
"Pak, gausah. Nanti bapak telat ke kantornya" Balas Salma
"Kampus mana?" Tanya Rony
"Nusabangsa Pak" Balas Salma
"Searah. Ayo sama saya" Ajak Rony
"Pak gak per - "
"Saya gak terima penolakan" Tegas Rony
"Udah mbak, bareng mas Rony aja. Gapapa" Timpal Bibi
"Huft, yaudah deh" balas Salma
"Sayangnya Ibu, Ibu berangkat dulu yaa. Anteng-anteng sama bibi. Jangan rewel ya nak, nanti sore kita ketemu lagi. Bye bye ganteng nya Ibu" Ucap Salma sembari mencium kening Rayyan
Rony tersenyum sangat tipis, bahkan sama sekali tak terlihat jika dirinya tengah tersenyum
Selama perjalanan, mobil Rony terasa sangat hening. Tidak ada yang memulai percakapan, hingga sampai di depan kampus Salma. Rony baru memulai obrolan nya pada Salma
"Nanti pulang jam berapa?" Tanya Rony
"Jam empat an pak. Maaf ya kalo saya pulang sore pak, karena hari ini ada tiga kelas" Ucap Salma
"Gapapa" Balas Rony datar
"Yaudah, saya keluar dulu ya Pak. Makasih atas tumpangannya pak" Ucap Salma
"Jangan panggil Pak. Saya gak setua Papa saya" Ucap Rony datar
"Ah, maaf. Kalo begitu saya panggil Tuan Rony saja ya tuan" Balas Salma tak enak
"Jangan! Saya tidak suka di panggil seperti itu! Panggil seperti Bibi dan ART lain panggil saya saja" Ucap Rony
"Oh iya, baik Mas Rony"
"Terimakasih sudah mengantar saya ke kampus ya mas, saya turun dulu" Ucap Salma sopan
"Belajar yang rajin" Balas Rony datar
"Iya mas" Balas Salma tersenyum sembari keluar dari mobil Rony
Mobil Rony melaju meninggalkan Salma
"Aneh, bener-bener aneh" Gumam Salma
***
Sudah hampir sebulan Salma bekerja pada keluarga Rony. Salma sangat betah bekerja bersama keluarga itu. Mereka benar-benar baik padanya. Walaupun Rony bersikap datar dan pendiam tapi dia juga selalu bersikap baik pada Salma.
Namun yang sampai saat ini Salma bingung kan adalah Rony hampir tidak pernah melihat anaknya sedikit pun selama sebulan Salma bekerja disana. Salma bahkan sering kali dengan sengaja membawa Rayyan yang sedang menangis di dekat Rony. Namun bukannya melihat anaknya, Rony justru pergi dan menghindar. Salma semakin penasaran dengan sikap Rony pada bayi kecil yang tak berdosa itu.
Salma merasa kehausan setelah menyusui Rayyan yang sedari tadi rewel dan baru bisa tidur saat tengah malam. Salma pun memutuskan untuk pergi ke dapur mengambil air. Salma kenakan hijab pasmina tanpa pentul lalu keluar kamar meninggalkan Rayyan yang sudah terlelap di baby box nya.
"Lagi apa Sal?" Tanya Rony
"Allahuakbar, Ya Allah mas. Saya kagettt" Ucap Salma sembari memegang dadanya
"Sorry sorry. Saya gak niat ngagetin kamu kok. Saya gatau kalo kamu sekaget itu" Balas Rony polos
"Ya mas mikir dong. Ini jam satu malem. Lampu juga udah gelap, ya saya mikir nya semua udah pada tidur. Tiba-tiba mas langsung di belakang saya. Apa gak kaget coba" Omel Salma
"Ya maaf, saya kan gatau" Balas Rony
"Eh astaghfirullah, maaf mas. Kenapa saya jadi kurang ajar ya ngomelin mas. Gapapa kok mas, saya nya aja yang penakut" Ucap Salma kikuk
"Gapapa, saya yang salah kok" Balas Rony
"Hmm mas Rony mau ngapain ke dapur?" Tanya Salma
"Mau bikin kopi" Balas Rony
"Bisa? Atau mau saya bikinin aja mas?" Tanya Salma
"Boleh. Saya bisa bikinnya tapi gak pernah pas rasanya, gaenak" Ucap Rony
"Hahahaha yaudah, tunggu ya mas. Saya bikinin" Balas Salma
"Tadi Rayyan kenapa? Kok nangis terus?" Tanya Rony sembari memperhatikan Salma yang tengah membuat kopi nya
"Gatau juga mas, rewel banget hari ini. Untung aja udah bobo, kasian soalnya nangis terus. Takut tenggorokan nya sakit" Balas Salma
"Kamu gak capek ngurusin Rayyan?" Tanya Rony
"Gak kok, malah seru tau mas. Rayyan tuh pinter, dia jarang banget rewel. Sebulan saya kerja disini, baru hari ini dia rewel gatau kenapa. Selama ini mah, anteng, pinter, lucu lagi anaknya. Gimana saya mau capek coba"
"Anak mas tuh lucu, sekali-kali di tengokin kali mas. Punya anak lucu gak pernah di liat sih" Sindir Salma
"Saya sibuk" Balas Rony datar
Salma paham jika Rony terasa tersindir dengan ucapannya. Terlihat perbedaan nada bicaranya setelah Salma menyindirnya, berubah menjadi dingin dan tegas. Salma tak ingin melanjutkan nya, karena ia juga takut Rony marah padanya.
"Yaudah, ini mas kopinya. Saya permisi ya" Pamit Salma lalu meninggalkan Rony begitu saja
Sesampainya di kamar, Salma memandangi wajah tampan Rayyan. Seketika hatinya sakit, saat melihat bayi kecil itu. Ibu nya sudah tiada, dan ayah nya sama sekali tak mempedulikan nya.
Oma Opa nya memang menyayangi nya, tapi sama dengan Rony. Kedua orang tua Rony bahkan masih sama-sama sibuk bekerja di usia mereka yang seharusnya sudah bisa bersantai di rumah dan menemani cucu mereka.
Sungguh malang nasib bayi mungil ini, Salma terisak sembari mengecupi wajah Rayyan. Membayangkan betapa kesepiannya dia nanti setelah Salma harus pergi dari hidup Rayyan. Apakah masih ada yang peduli dengannya nanti? Apa ada yang akan menemaninya bermain nanti? Semua bayangan menyakitkan itu terlintas di kepala Salma dan membuatnya semakin terisak sembari terus mengusap lembut wajah Rayyan.
***
Berhari-hari hingga berbulan-bulan tak terasa Salma jalani menjadi Ibu Susu untuk Rayyan. Kini genap enam bulan Salma bekerja di keluarga Rony, Rayyan pun tumbuh menjadi bayi yang sehat dan gembul.
Orang tua Rony sangat bersyukur, cucu nya kini benar-benar mendapatkan kasih sayang seorang Ibu dari Salma. Bahkan bisa di lihat dari perkembangan Rayyan yang sangat cepat dari usia bayi sepantaran nya. Rayyan sekarang bahkan sangat suka tertawa jika di ajak bercanda. Rayyan juga mulai mengoceh tak henti-hentinya, membuat siapapun menjadi gemas yang melihatnya.
Hubungan Salma dan Rony juga sudah tak secanggung saat awal mereka bekerja, walaupun sampai saat ini Rony masih enggan untuk melihat anaknya. Salma sudah berulang kali mencoba membujuk Rony tapi sia-sia. Rony tak pernah mendengarkan bujukan Salma.
Malam ini Rayyan menangis sangat kencang, ternyata badannya demam. Salma panik karena di rumah hanya ada Rony dan ART, sedangkan Bu Ratna dan Pak Surya sedang berada di luar kota. Setidaknya jika ada Bu Ratna, Salma tak akan panik karena Bu Ratna bisa langsung memeriksa kondisi cucunya.
Tok tok tok
"Mas.. Mas Rony" panggil Salma mengetuk pintu kamar Rony
Rony membuka pintu
"Kenapa sih Sal? Itu Rayyan bisa di suruh diem dulu gak sih! Saya pusing dengernya! Saya juga baru pulang dari kantor!" Bentak Rony
Salma yang panik, seketika terkejut saat Rony tiba-tiba membentaknya.
"Cuma mau minta tolong di anterin ke rumah sakit. Rayyan demam tinggi, mangkanya nangis terus"
"Tapi sepertinya saya salah minta bantuan sama orang! Lanjutin aja tidurnya! Gausah bangun sekalian. Dasar Egoiss!!" Tegas Salma lalu pergi meninggalkan Rony dengan air mata yang mengalir
Melihat itu Rony tersadar, tak seharusnya dia membentak Salma seperti itu. Mendengar ucapan Salma, membuat Rony sedikit khawatir dengan keadaan anak nya itu. Rony bergegas mengejar Salma
"Sal, Sal. Maafin saya, bukan maksud saya bentak-bentak kamu tadi. Maaf Sal" Ucap Rony mengejar Salma
Namun tak mendapat jawaban dari Salma.
"Pak Jono, anterin saya pak ke rumah sakit. Rayyan panas pak, tolong ya" Ucap Salma pada supir keluarga Rony
"Gausah Pak" Ucap Rony
"Lu kalo emang gak sayang sama anak lu setidaknya punya rasa kemanusiaan dikit!! Jangan jahat-jahat bisa gak sih jadi orang! Bayi kecil ini lagi butuh pertolongan! Kalo emang lu gamau nganterin, gausah ngelarang Pak Jono buat nganterin gue!!" Bentak Salma
"Yaudah gausah di anterin Pak! Turutin aja bos bapak yang jahat ini. Saya biar naik taksi" Ucap Salma lalu pergi meninggalkan Rony dengan emosi
"Bisa gak sih dengerin saya dulu! Jangan langsung marah-marah! Saya ngelarang Pak Jono karena saya yang mau anterin kamu ke rumah sakit!" Teriak Rony
Namun Salma sama sekali tak menoleh pada Rony. Dia keluar gerbang dan mencoba memesan taksi online. Rony masuk ke dalam mobil dan menyusul Salma.
"Masuk!" Titah Rony
Salma masih saja berjalan tak menghiraukan Rony. Rony menghentikan mobilnya dan menarik tangan Salma masuk ke dalam mobil.
"Masuk! Ini udah malem! Gak akan ada taksi yang mau terima! Ayo masuk! Kasian Rayyan kalo kamu keras kepala gini" Ucap Rony kesal
Salma masuk ke dalam mobil Rony, dia terus menangis karena khawatir dengan Rayyan yang masih saja menangis.
"Rayyan gak akan kenapa-napa, jangan nangis terus" Ucap Rony
"Gausah banyak omong bisa gak! Cepetan nyetirnya!" Tegas Salma
Rony hanya pasrah mendengar ucapan Salma. Sepertinya gadis di sampingnya benar-benar marah padanya.
Setelah sampai di rumah sakit, Rayyan pun di periksa dan ternyata Rayyan tidak mengalami penyakit yang serius. Dia hanya demam yang kemungkinan di sebab kan oleh Flu yang di deritanya. Namun karena demam yang terlalu tinggi, Dokter memutuskan untuk Rayyan menginap di rumah sakit hingga kondisinya membaik.
Salma semakin merasa bersalah, dia merasa dirinya tak bisa menjaga Rayyan dengan baik. Dia duduk di brankar Rayyan yang sudah tertidur pulas setelah di berikan suntikan obat. Sedangkan Rony masih sibuk mengurus segala administrasi untuk anaknya itu.
"Sayang, maafin Ibu ya nak. Ibu gabisa jagain Rayyan. Ibu jahat ya nak hiks hiks. Kasian anak Ibu, harus ngerasain tangannya di infus, di suntik. Pasti sakit ya sayang hiks hiks"
"Kalo bisa Ibu minta sama Allah, biar sakitnya buat Ibu aja. Jangan Rayyan, Ibu gabisa lihat Rayyan sakit begini nak. Besok pulang ya nak, jangan lama-lama bobo disini. Enakan bobo di rumah sambil pelukan sama Ibu. Iyakan sayang" Ucap Salma terisak
Rony yang baru sampai di kamar dibuat speechless mendengar semua keluhan Salma. Dia merasa menjadi ayah yang sangat jahat bagi putra nya sendiri. Bagaimana bisa Salma yang notabene nya adalah orang asing bagi Rayyan bisa menyayangi anaknya begitu tulus, sedangkan dirinya adalah ayah kandungnya namun sama sekali tak pernah menyayangi anaknya.
"Istirahat dulu gih, biar saya yang jaga Rayyan" Ucap Rony
Salma langsung menghapus air matanya ketika mendengar Rony sudah sampai di kamar Rayyan
"Saya gak mungkin bisa istirahat, kalo Rayyan masih begini. Mending bapak aja yang istirahat, pulang ke rumah. Rayyan kan ada di rumah sakit, jadi gak akan ganggu tidur bapak dengan tangisan dia" Ucap Salma
"Sal, saya minta maaf. Saya gak bermaksud seperti itu. Tadi saya bener-bener pusing sama kerjaan jadi gak sengaja bentak kamu dan Rayyan" Balas Rony
"Iya pak gapapa. Saya yang harusnya minta maaf karena udah ganggu waktu istirahat bapak. Jadi sekarang bapak pulang aja, istirahat. Biar saya sendiri yang jaga Rayyan disini" Ucap Salma datar
Entah mengapa, hati Rony rasanya sedikit tercubit ketika Salma bersikap dingin padanya. Apalagi semenjak kejadian di rumah, Salma sama sekali tak memanggilnya dengan sebutan Mas lagi. Salma benar-benar bersikap dingin dan ketus padanya.
"Sal please maafin saya, saya salah. Gak seharusnya saya bentak-bentak kamu kaya tadi. Maafin saya ya Sal" Mohon Rony
"Saya gak masalah kalo bapak bentak-bentak saya! Tapi sebelum itu bisa kan sekedar tanya kenapa Rayyan serewel itu tadi! Bukan langsung nyalahin Rayyan karena berisik! Punya hati gak sih bapak? Apa bener-bener gak ada rasa kasian sedikit pun pas denger anaknya nangis kaya tadi?"
"Seenggaknya kalo emang gak sayang sebagai anak. Bapak bisa punya rasa kemanusiaan sedikit! Dia masih bayi, dia nangis karena ngerasa badannya gak enak! Bukan mau dia juga nangis dan ganggu semua orang termasuk ayahnya sendiri!" Ucap Salma tegas
"Maaf Sal, saya memang bodoh. Saya keterlaluan, padahal Rayyan gak salah apa-apa. Tapi saya malah membenci anak saya sendiri" Ucap Rony menyesal
Rony menghembuskan nafas nya sebelum melanjutkan ucapannya.
"Dulu saya memiliki sahabat dari kecil, namanya Rea. Dari kecil sampe lulus kuliah kita selalu bareng-bareng. Sampe akhirnya saya memiliki kekasih saat kuliah, membuat hubungan persahabatan saya sama Rea sedikit renggang"
"Saya baru tau kalo ternyata Rea mempunyai perasaan sama saya. Padahal saya sendiri hanya menganggapnya sekedar sahabat bahkan sudah seperti adik saya sendiri"
"Rea kesal karena saya berpacaran dengan teman sekelasnya. Rea gak terima, dia minta orang tuanya menjodohkan saya dengannya. Karena Mama Papa sahabat dekat dengan orang tua Rea, akhirnya mereka gabisa menolak keinginan orang tua Rea"
"Saat itu saya marah sama Rea, karena saya cinta sama mantan kekasih saya saat itu. Saya gabisa jalanin pernikahan sama Rea, saya sama sekali gak cinta sama dia. Tapi Rea sepertinya terlalu obsesi memiliki saya, dia bahkan tak peduli saat saya mengungkapkan penolakan saya pada perjodohan itu"
"Akhirnya saya terpaksa menikah dengan Rea, tapi saya juga tak meninggalkan mantan kekasih saya saat itu. Saya tetap menjalin hubungan di belakang Rea, sampai akhirnya Rea tau jika saya masih berhubungan dengan orang lain. Dia marah, dia bahkan berniat membunuh kekasih saya saat itu"
"Saya lelah menghadapi Rea, rasa sayang saya sebagai adik bahkan menghilang dengan melihat sifat Rea yang semakin hari semakin tak terkontrol. Rea memfitnah mantan kekasih saya, hingga dia di bully di kampus habis-habisan, Rea juga terus menerus meneror mantan kekasih saya, sampai dia depresi dan berakhir meninggal dunia karena bunuh diri"
"Saya semakin benci pada Rea, bukan hanya karena saat itu saya masih mencintai kekasih saya dan berakhir harus kehilangan dia. Tapi karena tindakan Rea yang sangat sangat keterlaluan. Dia menghalalkan segala cara agar dia bisa mendapatkan saya"
"Rea bahkan sangat licik, tak puas dengan meninggalnya mantan kekasih saya. Sampai lulus kuliah pun, Dia terus mengganggu wanita yang mencoba dekat dengan saya. Rea juga terus menerus mencoba menggoda saya untuk menyentuh nya. Saya benar-benar tidak mau, untuk sekedar memeluknya saja saya gak Sudi Sal, saya sudah terlalu benci sama dia"
"Sampai dimana dia menjebak saya dengan alkohol yang di campur dengan obat perangsang. Kadar alkohol dan obat perangsang nya pun dia kasih yang paling tinggi. Dan terjadilah malam dimana saya sangat menyesalinya selama hidup saya"
"Setelah saya melakukan itu, saya sama sekali tak pernah menyentuh Rea lagi. Namun sialnya, sebulan kemudian ternyata kesalahan saya malam itu meninggalkan jejak. Rea hamil anak saya, rencana saya meninggalkan dia pun gagal"
"Rea bahkan mengancam meracuni makanan Mama Papa jika saya berani meninggalkan nya dan anaknya nanti setelah dia melahirkan Sal. Saya benar-benar terjebak oleh obsesi Rea. Rea sangat kejam dan saya sangat membencinya"
"Sampai dimana dia hamil sembilan bulan dan saya memilih untuk mengambil pekerjaan di Jepang selama beberapa Minggu. Hingga saya di kabarkan bahwa Rea meninggal saat melahirkan Rayyan. Bukan hanya itu, ternyata orang tua Rea juga meninggal karena kecelakaan saat mereka menuju rumah sakit untuk menemani Rea melahirkan"
"Saya langsung flight ke Indonesia setelah mendengar kabar duka itu. Saya bukan lari dari tanggung jawab, tapi saya masih tidak bisa berdamai dengan diri saya sendiri untuk melihat Rea melahirkan anak saya Sal. Anak yang gak pernah saya harapkan dari Rea"
"Mau gak mau, saya harus bertanggung jawab dengan Rayyan setelah Rea dan kedua orang tuanya meninggal. Tapi bodohnya saya, saya malah meneruskan sikap benci saya pada bayi kecil yang tak berdosa itu. Bayi kecil yang harus terpaksa hadir karena kesalahan saya malam itu"
"Saya selalu menghindar dari Rayyan, karena setiap saya melihat wajahnya. Saya menjadi luluh dan kasian pada Rayyan dan saya gamau itu terjadi. Setiap lihat Rayyan, saya selalu mengingat semua kejahatan Rea Sal. Bagaimana ibu nya dulu menghancurkan hidup saya"
"Tapi sekarang saya sadar, sikap saya selama ini salah. Rayyan gak berdosa, dia gak salah tapi saya justru membencinya. Dia memang lahir dari rahim Rea, tapi bukan berarti dia harus menanggung semua kesalahan Ibu nya" Ujar Rony panjang lebar
Salma tentu saja terkejut mendengar cerita dari Rony. Pantas saja jika sikap Rony seperti itu pada Rayyan. Ternyata luka yang di goreskan Ibu Rayyan juga sangat dalam di kehidupan masa lalunya.
"Bapak sadar kan sekarang? Rayyan bukan kesalahan pak. Itu semua sudah takdirnya, itu semua sudah jalan dari Allah agar Rayyan hadir di dunia dan jadi pelipur lara untuk Bapak"
"Jika Ibu Rayyan sudah membuat luka di hidup bapak, beliau juga sudah menghadirkan obat nya untuk Bapak. Rayyan itu obat untuk bapak, obat untuk bapak bisa sembuh dan berdamai dengan masa lalu bapak"
"Kasian Rayyan pak, selama ini dia gak pernah merasakan kasih sayang dari Ayahnya. Padahal ayahnya ada di dekatnya. Jangan limpahkan kesalahan ibu nya pada Rayyan pak. Tolong sayangi dia, selayaknya anak kandung bapak" Ucap Salma
"Iya Sal, bantuin saya ya. Bantuin saya untuk bisa mencoba menerima Rayyan di hidup saya. Bantu saya untuk bisa menyayangi anak saya sendiri"
"Kamu mau kan bantu saya Sal?" Tanya Rony
Demi Rayyan, ini kesempatan supaya Rayyan bisa mendapatkan kasih sayang papa nya *batin Salma
"Baik pak, saya mau bantu bapak demi Rayyan" Balas Salma datar
"Sal, saya bener-bener minta maaf sama kamu tentang tadi. Saya gak sengaja bentak kamu Sal, maafin saya" Ucap Rony memelas
"Huft, iya Pak. Saya udah maafin bapak kok" Balas Salma
"Gak, kamu belum maafin saya. Buktinya kamu masih panggil saya bapak. Bukan mas" Balas Rony
Dih, kok sok imut gini sih nih duda. Haha lucu juga *batin Salma
"Yaudah, iya mas. Saya sudah maafin Mas Rony" Balas Salma dengan senyuman terpaksa nya
"Makasih ya Sal, saya janji saya gak akan seperti tadi lagi. Saya juga janji, saya akan mencoba sayang dan menerima kehadiran Rayyan di hidup saya" Ucap Rony
"Iya mas, saya harap mas Rony gak ingkar sama janji nya ya mas. Kasian Rayyan" Balas Salma
"Iya Sal" Balas Rony
"Yaudah, sekarang Mas Rony tidur aja gih. Mas Rony kan capek tadi habis pulang kantor, lembur" Ucap Salma
"Saya mau jagain anak saya Sal. Kamu aja gih yang tidur, kamu pasti capek. Ngantuk juga kan habis nangis dari tadi" Balas Rony
"Gamau mas, saya gamau ninggalin Rayyan dulu. Mending Mas Rony tidur aja sekarang, nanti gantian sama saya. Mas Rony bangun, saya baru tidur. Gimana?" Tawar Salma
"Yaudah deh, gitu aja ya. Saya tidur duluan ya Sal?" Ucap Rony
"Iya mas, tidur di kamar aja. Jangan di sofa, nanti badan Mas Rony pegel-pegel" Balas Salma
"Iya Sal" Balas Rony
Rony memang menyewa ruang rawat inap yang paling bagus di rumah sakit ini demi putra nya. Di ruang rawat inap Rayyan, terdapat satu kamar tidur yang bisa di gunakan untuk istirahat.
Pagi harinya, Rony ternyata tidur terlampau nyenyak. Hingga dia bangun saat adzan subuh berkumandang. Dia bergegas bangun karena ia takut Salma kelelahan dan menunggunya bangun dari tidurnya.
Rony segera beranjak dari kamar, namun saat hendak menyapa Salma. Tubuh Rony tiba-tiba menegang saat melihat Salma tengah menyusui putra nya. Rony merasa kesulitan menelan saliva nya, saat melihat pemandangan di depannya.
Payudara Salma yang mulus terlihat oleh mata Rony tanpa halangan sedikit pun. Salma sendiri tak menyadari jika Rony tengah menatapnya, Salma fokus menatap wajah Rayyan sembari mengusap wajah putra kecilnya itu.
Anjing, subuh-subuh lihat beginian. Jadi bangun kan punya gue!
Udah Ron, jangan di liatin Mulu! Itu punya anak lu. Sadar!
Arghh mending ke kamar mandi deh, sekalian mandi terus sholat. Lama-lama disini ngeri gue khilaf ke Salma *batin Rony lalu pergi dari tempatnya menuju kamar mandi dalam kamar
***
Hari ini Rayyan sudah di perbolehkan pulang karena keadaan nya yang sudah membaik. Selama dua hari ini, Rony juga tak pergi ke kantor dan ikut mengurus Rayyan di rumah Sakit. Salma sedikit senang dengan perubahan Rony yang mau membantu menjaga Rayyan. Rony juga sudah mulai mau menggendong dan mencium wajah anaknya.
"Sini Sal, biar saya aja yang gendong Rayyan. Kamu cukup bawa tas kecil punya saya aja. Perlengkapan Rayyan kan udah di bawa Pak Jono tadi" Ucap Rony
"Gapapa mas, biar saya aja yang gendong Rayyan" Balas Salma
"No Sal, saya mau gendong anak saya. Oke" ucap Rony
"Yaudah iya mas" Balas Salma
Saat di mobil pun, Rony kekeuh untuk menggendong Rayyan dan sesekali mencium wajah putranya.
"Kamu bener ya Sal, di liat-liat Rayyan mirip banget sama saya" Ucap Rony
"Ya emang iya mas, kemana aja sih baru sadar. Rayyan udah umur 7 bulan baru sadar kalo anaknya mirip sama bapaknya" Balas Salma
"Gausah nyindir gitu deh, kan udah tau alesannya. Pake di ungkit-ungkit terus" Balas Rony
"Hahahaha iya iya, maaf ya Papa nya Rayyan. Emang niat mau nyindir kok haha" Balas Salma terkekeh
"Ck, nyebelin ya kamu ternyata. Berani lagi sama atasan" Ucap Rony
"Dih, atasan saya kan bos Rayyan. Bukan bapak hahaha" Balas Salma
"Haduh, bener lagi. Gabisa ngancem kamu dong saya hahaha" Balas Rony
"Gabisa lah, orang bos saya. Bos kecil ini hahaha" Ucap Salma sembari mencium Rayyan pada gendongan Rony
Jantung saya beneran gak aman tiap Deket kamu Sal. Apalagi kalo liat senyum kamu, rasanya tenang hati saya *batin Rony
"Eh eh, Sal? Ini kenapa? Kok Rayyan mulutnya begini?" Tanya Rony bingung
"Ohh, itu mau nen mas. Sini, biar Rayyan nya nen dulu" Ucap Salma
Rony membulatkan matanya, maksud Salma dia akan menyusui Rayyan di mobil? Di mobil itu juga ada Pak Jono, supir mereka. Rony tidak mau jika tubuh Salma nantinya di lihat oleh orang lain.
"Sal? Mau nyusuin Rayyan disini?" Tanya Rony panik
"Yaiya mas, ini hausnya sekarang" Ucap Salma
"Ada saya, ada pak Jono loh" Lirih Rony
"Ohh hahaha, ya saya juga gamau kali di liat mas atau pak Jono. Saya mau minta tolong, ambilin kain warna biru di tas Rayyan. Itu kain penutup untuk Ibu menyusui mas" Balas Salma
Rony segera mencari apa yang Salma minta, setelah ketemu baru lah Rony memberikannya pada Salma
"Ini Sal" Ucap Rony
"Minta tolong pasangin mas. Kalungin aja di leher saya. Saya gabisa ini gendong Rayyan" Balas Salma
"Hhmm iyaa, izin ya sebelum nya" Ucap Rony gugup
"Iya Mas" Balas Salma
Rony mulai mendekat ke ceruk leher Salma untuk mengaitkan kain penutup. Setelah selesai mengaitkan kain, saat Rony hendak beralih, tiba-tiba Pak Jono mengerem mobil dadakan dan membuat Rony tak sengaja mencium pipi Salma.
"Astaghfirullah" Ucap Salma dan Rony bersamaan
"Pak! Kok gak hati-hati sih. Ini kita bawa Salma dan Rayyan! Kalo Salma dan Rayyan kenapa-napa gimana!" Omel Rony
"Mas udah mas" Tahan Salma
"Mas Rony maaf, tadi tiba-tiba ada anak kecil yang nyebrang dadakan. Saya kaget makanya ngerem mendadak mas. Maaf mas" Ucap Pak Jono
"Udah mas, bukan salah Pak Jono. Jangan di marahin" Balas Salma
"Yaudah, di lanjut pak. Tapi pelan-pelan aja" Ucap Rony
"Iya mas, sekali lagi saya minta maaf ya mas" Balas Pak Jono
"Iya pak" Balas Rony
Setelah mobil kembali jalan, suasana menjadi canggung. Salma dan Rony masih sama-sama mencerna apa yang baru saja terjadi. Tak ambil pusing, Salma mulai menyusui Rayyan.
"Awsss ahh" Rintih Salma
"Hey kenapa Sal?" Tanya Rony panik
"Gapapa mas" Balas Salma malu
"Gapapa gimana! Kamu kesakitan gitu. Kenapa? Apanya yang sakit? Kita ke rumah sakit lagi aja ya?" Tanya Rony panik
"Eh eh ngapain? Gak mas, gausah. Saya gapapa kok" Balas Salma kikuk
"Jawab dulu! Apanya yang sakit. Kalo kamu gak jawab, saya suruh Pak Jono putar balik ke rumah sakit sekarang" Tegas Rony
"Ya Allah mas, gak perlu ke rumah sakit"
"Hmm ini mas, hmm puting saya di gigit Rayyan, kan Rayyan lagi tumbuh gigi mungkin gusi nya lagi gatel jadinya suka gigit-gigit" Ucap Salma malu-malu
"Lecet? Kalo lecet beli obat aja ya" Balas Rony khawatir
"Lumayan lecet, tapi gak perlu obat mas. Nanti sembuh sendiri" Ucap Salma malu
"Kamu gausah malu, Rayyan kan anak saya. Kamu kesakitan juga karena ulah dia. Jadi saya yang harus tanggung jawab. Kalo kamu malu, biar saya aja ya yang beli obatnya nanti ke apotik. Kamu tunggu aja di mobil" Balas Rony
"Eh gausah mas, beneran gausah" Tolak Salma
"Gausah gimana. Nanti kalo infeksi gimana Sal? Udah deh nurut yaa. Kalo masih gak nurut, saya sendiri yang ngobatin puting kamu!" Tegas Rony
Salma membulatkan matanya, dia benar-benar kaget dengan ancaman Rony padanya.
"Ihh apasih mas! Saya bisa sendiri!" Balas Salma
"Makanya nurut, saya yang beli obat nanti kamu obatin sendiri! Kalo masih ngeyel, saya yang ngobatin langsung! Gak peduli mau kamu marah juga, yang penting payudara kamu sembuh dan bisa ngasih ASI buat anak saya lagi" Ucap Rony
"Ck, mas! Frontal banget sih ngomongnya! Saya malu tau!" Omel Salma
"Apa sih? Frontal apanya? Kan bener yang saya omongin?" Ucap Rony
"Ish, tau deh. Mas nyebelin tau gak!" Omel Salma
Gemes banget, boleh gak gue gigit pipinya ini? *Batin Rony
"Hahaha iya iya maaf, mukanya gausah gitu. Mau di cium itu bibirnya? Kok maju-maju begitu? Hmm?" Goda Rony
"Ish, kamu kenapa sih mas? Jadi mesum gini? Udah tiba-tiba cium pipi saya! Ngacem ngobatin payudara saya! Sekarang malah mau cium-cium bibir saya!" Omel Salma
"Hmm kalo soal cium pipi, saya gak sengaja. Kan Pak Jono yang salah"
"Kalo mesum, ya wajar lah mesum. Saya kan cowo, masih normal lagi" Goda Rony
"Ya jangan ke saya mesumnya!" Omel Salma
"Terus ke siapa? Kan kamu Ibu nya Rayyan hmm?" Goda Rony
"Ish, tau ah mas! Ngeri deh deket-deket duda! Mesum Mulu" Balas Salma
"Kenapa sih? Duda duda begini, juga saya masih keren tau" Ucap Rony percaya diri
"Idih, PD mampus" Balas Salma
"Hahahaha emang keren, gimana dong" Balas Rony
"Mas, perasaan dulu pas baru kenal kamu tuh pendiem, cool, datar gak ada ekspresi, ngomong seadanya. Kok sekarang berubah sih? Makin banyak omong" Ucap Salma
"Ya berarti saya udah nyaman sama kamu. Kalo belum nyaman ya saya gak akan bersikap seperti ini lah" Balas Rony
Deg
Jantung Salma tiba-tiba berdegup sangat kencang saat Rony mengatakan hal tersebut.
Nyaman? Nyaman gimana nih maksud Rony? Please jangan baper Sal, please ini mah *batin Salma
"Oh, saya kira emang beru - "
"Awsss, aduh sayang. Jangan di gigit terus, sakit nak" Rintih Salma
"Sakit banget ya Sal? Dua dua nya kah yang lecet?" Tanya Rony
"Ck, ngapain sih bapak tanyain itu" Balas Salma sewot
"Astaghfirullah, jangan mikir macem-macem deh. Maksud saya kalo emang yang kiri gak sakit, di pindah aja biar Rayyan minum yang kiri" Ucap Rony
"Massss, ahhh. Saya malu loh mas!! Kok di terusin sih sama kamuuu masss" Rengek Salma
"Loh? Malu kenapa sih? Apanya yang harus di maluin?" Tanya Rony heran
"Ya mas, ngomongin itu kek gak di rem banget tuh mulut. Udah jangan di bahas, diem!" Omel Salma
"Iya iya Ibu, maaf yaa hahaha" Goda Rony
Rony anying! Jantung gue copot bangsat, ahhh Duda gilaaaa *batin Salma
"Ibu Ibu! Panggil yang bener" Omel Salma
"Kenapa sih? Rayyan boleh manggil Ibu, kok saya gaboleh?" Goda Rony
"Ya mas Rony siapa! Rayyan kan anak saya, wajar manggil Ibu" Balas Salma
"Loh, saya kan ayah nya Rayyan. Berarti boleh dong manggil Ibu? Saya juga gamau ah di panggil Papa. Mau nya ayah aja, biar pas sama Ibu" Ucap Rony
"Terserah deh, terserah mas Rony aja. Jujur saya capek di godain duda" Balas Salma
"Hahahaha capek tapi muka nya merah" Balas Rony
"Diem!" Tegas Salma
"Salting nya jelek nih Ibu hahaha" Goda Rony
"Mas saya turun yaa!!" Ancam Salma
"Hahaha iya iya, udah nih saya diem yaa hahaha"
"Oh iya pak, cari apotik dulu ya sebelum ke rumah" Ucap Rony pada Pak Jono
"Siap Mas" Balas Pak Jono
"Dasar duda gila!" Lirih Salma
"Saya masih bisa denger loh Sal" Ucap Rony
"Bodo amat" Balas Salma
Rony terkekeh melihat wajah kesal Salma. Sepertinya menggoda Salma akan menjadi hobi baru nya sekarang. Salma yang kesal terlihat sangat lucu dan menggemaskan di mata Rony.
***
"Sal, Ibu makasih banget ya sama kamu. Berkat kamu, Rony sekarang bisa menerima anaknya. Bahkan dia sayang banget sekarang sama Rayyan Sal" Ucap Ratna
"Bu Ratna, gausah bilang makasih ya Bu. Kan memang sewajarnya harus begitu. Rayyan kan anak Mas Rony, tanggung jawab Mas Rony ya bukan hanya tentang materi, tapi juga kasih sayang untuk Rayyan Bu" Balas Salma
"Iya, tapi itu semua gak akan terjadi kalo bukan karena kamu Sal. Selama ini Mama Papa udah coba kasih tau ke dia tapi gak pernah dia denger. Tapi setelah ada kamu dan Deket sama kamu, dia juga mau deket sama anaknya" Balas Ratna
"Alhamdulillah kalo dengan kehadiran saya bisa merubah sedikit sikap Mas Rony pada Rayyan Bu. Saya cuma kasian sama Rayyan, karena selama ini dia gak pernah dapet kasih sayang dari ayahnya" Ucap Salma
"Iya Sal, makasih yaa. Makasih banyak sudah mau merubah Rony Sal" Balas Ratna
"Iya Bu, sama-sama. Yaudah saya ke kampus dulu ya Bu. Rayyan lagi tidur di atas di temenin bibi" Ucap Salma
"Iya hati-hati ya Sal" Balas Ratna
"Mari Pak" Sapa Salma pada Surya
"Iya Sal, hati-hati ya" Balas Surya
Setelah kepergian Salma, Rony baru turun dari kamarnya.
"Salma lama banget gak turun-turun?" Gumam Rony
"Salma? Kamu nungguin Salma dari tadi Ron?" Tanya Surya
"Hhhmm iya Pa" Balas Rony ragu
"Salma udah berangkat dari tadi ke kampus. Kamu yang telat" Balas Ratna
"Ck, kok gak nungguin Rony sih berangkatnya Ma, Pa" Ucap Rony
"Ya mana Mama tau" Balas Ratna
"Hmm kamu suka ya sama Salma?" Tanya Surya
"Apa sih Pa" Elak Rony
"Jujur aja Ron, Mama udah gak pernah liat kamu sebahagia ini. Sekarang kamu tuh makin ceria, semangat terus, apa apa Salma, apa apa Salma. Udah keliatan banget kalo kamu lagi jatuh cinta" Ucap Ratna
"Papa dukung kok kalo kamu sama Salma Ron, dia baik, sopan, Sholehah. Tulus lagi sayang sama Rayyan. Udah nikahin buruan, sebelum di ambil orang" ucap Surya
"Mama juga Ron, mama udah ngerasa bersalah banget dulu udah maksa kamu nikah sama Rea dan ngancurin hidup kamu. Sekarang Mama bakal dukung apapun keputusan kamu, apalagi menikahi Salma. Mama dukung 100%" Timpal Ratna
"Mama Papa beneran?" Tanya Rony
"Beneran Rony, Mama seneng kamu bahagia seperti sekarang. Kejar lah kebahagiaan kamu nak, Mama Papa pasti dukung kamu" Ucap Ratna
"Mamaaa, Papa makasih yaa. Makasih kalian udah dukung Rony. Rony mau nikahin Salma ya Ma, Pa" Ucap Rony
"Iya, tapi kalo Salma nya mau ya. Kalo gamau jangan di paksa" Timpal Surya
"Salma pasti mau Pa, pesona duda keren gabisa di remehin hahaha" Ujar Rony
"Ck, gausah ke PD.an siapa tau Salma udah punya pacar di kampusnya. Gimana coba" Timpal Ratna
"Ish, Mama! Katanya dukung, tapi matahin semangat Rony" Ucap Rony
"Hahahaha ya udah coba aja sih, jangan ke PD an dulu. Mama mah dukung, Mama doain juga supaya Salma mau terima kamu" Balas Ratna
"Aamiin, makasih Ma, Pa" Ucap Rony
"Ya, di tunggu kabar baiknya Ron" Ucap Surya
"Siap Pa" Balas Rony
***
Seminggu kemudian, Sepulang Rony bekerja, ia bergegas masuk ke dalam kamar nya dan bebersih. Setelah itu, Rony masuk ke dalam kamar Rayyan tanpa mengetuk.
"Astaghfirullah! Mas Rony!!" Teriak Salma
Betapa kaget nya Salma ketika melihat Rony yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Rayyan saat dirinya tengah menyusui Rayyan. Salma langsung menutupi dadanya dengan kain yang ada di sekitarnya.
Anjir dua kali gue liat payudara Salma. Udah Ron gapapa, di biasain yaa. Bentar lagi kan itu juga jadi punya lu, bukan punya Rayyan doang *batin Rony
"Sal Sal, sorry. Saya gatau kamu lagi nenen in Rayyan. Sorry yaa" Ujar Rony sembari terus menutup matanya
"Ck, lagian asal masuk aja. Ketok dulu kek" Omel Salma
"Ini saya udah bisa buka mata belum?" Tanya Rony
"Buka aja" Balas Salma datar
Rony membuka mata dan menghampiri Salma.
"Sal maaf, saya beneran gatau kalo kamu lagi nenen in Rayyan. Maaf yaaa" Ucap Rony
"Lain kali ketok dulu, jangan asal masuk. Kan ini bukan cuma kamar Rayyan, tapi kamar saya juga" Balas Salma
"Iya, maaf yaa" Ucap Rony
"Yaudah, mau ngapain mas kesini?" Tanya Salma
"Kangen sama Rayyan, mau gendong sama cium-cium dia" Balas Rony
"Yaudah tunggu, anak nya masih nen" Balas Salma
"Masih lecet?" Tanya Rony
"Udah mendingan kok" Balas Salma
"Syukur lah"
"Hhmm Sal, nanti malem ikut saya ya. Mama nyuruh saya hadir di acara pertunangan kolega nya. Saya gak ada temen buat Dateng kesana" ucap Rony
"Gak ah, saya nemenin Rayyan aja di rumah. Ngapain ngajakin saya sih mas" Balas Salma
"Ya saya emang pengen ngajak kamu, dan Mama pun setuju. Mau yaa, pleasee"
"Nanti Rayyan di jagain Mama, Papa, Bibi. Kan banyak yang jagain Rayyan. Mau yaaaa" Bujuk Rony
"Gamau ah" Balas Salma
"Please lah Sal, yaa. Mau yaaa, pleasee" Mohon Rony
Salma yang tak tega pun akhirnya mengiyakan permintaan Rony
"Yaudah deh iya, saya mau" Balas Salma
"Yeay, thankyou Ibu" Ucap Rony
"Mas!" Tegur Salma
"Apa sih Ibu Salma? Hmm?" Goda Rony
"Yaudah deh, saya gak jadi ikut" Ancam Salma
"Eh eh, jangan ngancem gitu dong Sal. Gak asik banget sih. Yaudah deh, maaf yaa. Gak becanda lagi. Pokoknya nanti wajib ikut, gaboleh nolak" Ucap Rony
"Dih pemaksaan" Balas Salma
"Bodo amat, nanti ya jangan lupa jam 7 harus udah siap. Okee" Ucap Rony bangkit dan berjalan meninggalkan Salma
"Iya" Balas Salma
Rony membuka pintu dan keluar dari kamar. Namun beberapa detik kemudian, Rony kembali membuka pintu kamar dan memunculkan kepala nya Saja.
"Hmm Sal, Tete kamu mulus banget, gede lagi. Saya sukaa deh hahahaha" Goda Rony lalu menutup pintu dengan kencang
"Anjirr! Duda gilaa! Duda mesum! Duda kurang ajarrr!! Bangkeeee" Gerutu Salma kesal
Rony terkekeh di balik pintu mendengar ocehan Salma untuknya di dalam kamar. Rony berhasil menjahili gadis itu lagi hari ini.
***
"Mas, ini sepi banget. Salah tanggal kali kamu nih" Ucap Salma
Salma merasa heran ketika dirinya baru sampai di sebuah restoran hotel namun tak ada satu orang pun disana.
"Gak kok, ayo duduk aja disana" Ajak Rony
Rony menggandeng Salma menuju ke ruangan yang sedikit gelap dan berada di ujung restoran.
"Mas jangan macem-macem ya! Saya tampol juga nih. Ini gelap mas! Yang bener aja sih, masss" Omel Salma
"Sutss, diem dulu ih. Ngomel Mulu yaa" Balas Rony
"Ngomel Mulu, ngomel Mulu! Gimana gak ngomel, ini kamu bawa saya ke pojokan begini mana gelap! Mas beneran ya! Jangan macem-macem sama saya" Ucap Salma kesal
"Gak macem-macem, satu macem doang" Balas Rony
"Mass!! Ish beneran yaa. Dasar duda mesum!" Umpat Salma
Rony mendudukan Salma di sebuah kursi dan lampu menyala. Salma kaget melihat dekorasi di tempat makannya kali ini. Salma benar-benar terkejut dengan apa yang Rony lakukan padanya. Ini sangat manis, bahkan selama hidupnya Salma tak pernah sedikit pun mendapatkan perlakuan yang spesial seperti malam ini.
"Mas?"
"Special for you" Balas Rony
"Terimakasih sudah hadir di hidup saya ya Sal. Tanpa saya sadari, kehadiran kamu mampu menyembuhkan luka di hati dan hidup saya. Kehadiran kamu mampu membuat saya kembali memiliki semangat untuk melanjutkan hidup. Kehadiran kamu membuat saya kembali merasakan apa itu Cinta"
"Entah sejak kapan perasaan itu tumbuh di hati saya Sal. Setiap melihat senyum kamu, hati saya bahagia. Dan setiap melihat setetes air mata kamu, pun membuat saya merasakan sakit"
"Kamu gadis yang baik dan tulus. Kamu bahkan dengan tulus menyayangi anak saya yang saya sendiri pernah mengabaikannya Sal. Kamu hadir bukan sebagai penerang untuk saya, tapi juga untuk Rayyan anak saya"
"Saya benar-benar mencintai dan menyayangi kamu Sal. Saya ingin kamu menjadi pasangan hidup saya. Saya ingin hidup selamanya sama kamu Sal"
"Will you Marry Me, Salma Salsabil Alliyah?" Ucap Rony
Rony berlutut di depan Salma sembari menyodorkan sebuah kotak yang terdapat cincin berlian yang sangat cantik.
Sedangkan Salma sendiri masih speechless mendengar semua ungkapan hati Rony. Sejujurnya dia juga menyayangi Rony, bersama dengannya beberapa bulan ini membuatnya nyaman bahkan sudah sangat menyayangi laki-laki di depannya ini.
Dengan mata berkaca-kaca, Salma tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
"Yes, I Will Mas" Ucap Salma
Rony tersenyum bahagia lalu memasangkan cincin di jari manis milik Salma. Dia berdiri dan memeluk gadis yang kini berstatus calon istrinya itu
"Makasih sayang, makasih udah mau Nerima aku dengan segala kekurangan ku ya. Makasih banget" Balas Rony sembari mengecup puncak kepala Salma
"Sama-sama Mas" Balas Salma tersenyum haru
Selesai dengan agenda dinner romantis mereka, Salma dan Rony pun kembali ke rumah. Lagi-lagi Salma dibuat terkejut karena di rumah Rony sudah di sambut oleh kedua orang tua Rony sekaligus kedua orang tua nya yang datang dari kampung nya.
"Ayah, Bunda?" Ucap Salma lalu berlari memeluk kedua orang tuanya
"Hay nduk, gimana kabarnya?" Tanya Bunda Salma
"Baik Bun, ayah bunda gimana? Maaf ya, Caca gak pernah pulang karena Caca kerja disini Yah, Bun" Balas Salma
"Sudah sudah, calon mertua kamu sudah menjelaskan semuanya sama Ayah dan Bunda nduk" Ucap Ayah Salma
"Hah?" Tanya Salma bingung
"Bu Ratna dan Pak Surya, calon mertua kamu kan?" Tanya Bunda Salma
"Hhmm" Balas Salma ragu
"Ron? Di tolak?" Tanya Surya
"Sembarangan aja nih Papa, di terima lah" Balas Rony
"Terus Salma kok ragu jawabnya?" Tanya Ratna
"Maaf Bu, Pak. Salma bukan ragu, tapi Salma takut bapak dan Ibu gak setuju sama hubungan saya dan Mas Rony. Saya kan hanya gadis kampung yang masih kuliah di Ibukota" Balas Salma ragu
"Astaghfirullah Sal! Apa sih? Rony cerita apa sama kamu? Kok sampe kesannya saya sama papa nya Rony jahat banget"
"Masalah perjodohan Rony dulu kan, karena kedua orang tua Rea sahabat saya Sal. Dan itu kesalahan terbesar saya selama hidup, membuat hidup anak saya sendiri hancur"
"Kali ini saya gak akan ngelarang Rony lagi, Saya malah mendukung penuh hubungan kamu sama Rony. Tujuh bulan kamu disini, cukup membuat saya yakin untuk merestui kalian. Jadi jangan berpikiran seperti itu lagi ya Sal" Ucap Ratna
"Iya Sal, udah ya. Jangan kepikiran aneh-aneh. Rony ini pasti ceritanya jelek-jelek in Mama Papa kan? Sampe Salma takut begitu" Timpal Surya
"Astaghfirullah, gak Ma, Pa. Rony juga gatau kenapa Salma kepikiran begitu. Sumpah deh" Balas Rony
"Bukan salah mas Rony kok Bu, Pak. Ini pemikiran saya sendiri" Balas Salma
"Udah ya, jangan berpikiran aneh-aneh lagi. Sekarang kamu udah resmi jadi calon mantu saya. Jadi manggilnya jangan Bapak Ibu lagi dong Sal. Manggilnya Mama Papa aja yaa" Ucap Ratna
"I iya Ma" Balas Salma
"Selamat ya Ron, akhirnya di terima sama anak ayah" Ucap Ayah Salma
"Makasih yah, ini semua juga berkat doa Ayah sama Bunda" Balas Rony
"Bentar-bentar. Kok ayah sama bunda bisa kesini sih? Bisa kenal Mas Rony juga?" Tanya Salma bingung
"Loh, kan Rony yang jemput Ayah Bunda ke Probolinggo Ca. Rony minta kamu ke Ayah Bunda langsung terus ngajakin Ayah Bunda ke Jakarta" Ucap Bunda Salma
"Hah? Jadi dua hari ini kamu ke luar kota itu ke Probolinggo Mas?" Tanya Salma
"Hehe iyaa Ca" Balas Rony
"Dih, main Ca Ca aja" ucap Salma
"Gapapa, kan udah resmi jadi calon suami haha" Balas Rony
"Ayah sama Bunda kesini itu ya sekalian buat pernikahan kamu nduk. Rony minta nikah Minggu depan" Ucap Ayah Salma
"Hah? Yang bener aja sih Mas!" Balas Salma
"Kenapa? Kamu gamau? Minggu depan kan kamu udah libur semester Ca. Semuanya bisa di urus secepatnya kok. Kasian Ayah Bunda juga kalo bolak balik ke Jakarta. Jadi sekalian aja nikah Minggu depan" Balas Rony
"Iya sayang, gausah khawatir. Papa Mama banyak kenalan. Pasti bisa ngurus semuanya dengan cepat. Mau yaa, biar gak kelamaan juga" Ucap Ratna
"Yah? Bund?" Tanya Salma
"Gapapa nak, memang tujuan ayah bunda datang kan untuk pernikahan kamu sama Rony sayang" Balas Bunda Salma
"Gimana Ca? Mau ya? Besok langsung aku urus semuanya" Ucap Rony
"Bismillah, iya Caca siap" Balas Salma
"Alhamdulillah" Semua orang bersamaan
"Makasih sayang" Ucap Rony
***
Rony tengah menemani Salma menyusui Rayyan di kamar Rayyan. Salma menyandarkan tubuhnya di dada bidang Rony dan Rony yang bersandar pada dipan ranjang merangkul mesra pundak Salma sembari mengusap lembut lengan Salma.
"Makasih ya sayang, udah mau Nerima mas" Ucap Rony
"Sama-sama mas, aku juga makasih karena mas udah milih aku jadi pendamping Mas. Dengan begitu, aku gak perlu khawatir untuk pisah sama anak aku ini" Balas Salma
"Ohh, jadi kamu Nerima mas demi Rayyan? Iya?" Tanya Rony
"Hahaha masa cemburu sama anak sendiri sih?" Tanya Salma
"Iya, mas cemburu sama Rayyan" Balas Rony
"Hahahaha, ya gak dong. Aku Nerima mas, karena aku juga sayang sama mas" Balas Salma
"Beneran sayang?" Tanya Rony
"Iya mas" Balas Salma
"Hehe makasih sayang ku" Balas Rony
"Iya sama-sama" Ucap Salma
"Rayyan sekarang makin gembul ya sayang, gemesin. Pipi nya gembul banget" Ucap Rony
"Iya Alhamdulillah mas, BB nya juga naik terus tiap bulan" Balas Salma
"Berarti cocok tuh susu nya"
"Mas harus nyoba juga sih, soalnya mas makin kurus nih hehe" Goda Rony
"Dih, mulai mesum nya" Ucap Salma
"Gapapa kali yang, kan Minggu depan kita nikah. Boleh yaaa" Rengek Rony
"Nah itu tau, Minggu depan nikah. Yaudah tunggu aja enam hari lagi" Balas Salma
"Mau nya sekarang yang. Dikit aja yaa" Rengek Rony
"Apa sih mas, gak ihh. Lagian Rayyan masih haus ini" Ucap Salma
"Ish pelit nya. Yaudah, liat aja boleh gak?" Tanya Rony
"Kan udah pernah waktu itu" Balas Salma
"Itu mah cuma sebentar liatnya. Sekarang boleh liat ya?" Tanya Rony sembari mencoba membuka kain penutup dada Salma
"Mas, sabar kenapa sih? Minggu depan kan kita nikah" Balas Salma
"Pengen sekarang yang. Boleh yaa" Rengek Rony
"Jangan lama-lama" Balas Salma pasrah
Rony tersenyum lalu membuka penutup kain dada Salma dan terpampang lah satu payudara Salma yang tengah di nikmati oleh putra kecilnya.
"Ihh sayang, Rayyan lucu ya kalo lagi nen hahaha tuh mulutnya kenceng bener ngisepnya" ucap Rony terkekeh
"Iya, Rayyan kalo minum emang kenceng. Kek takut ada yang minta" Balas Salma
"Sekarang ada lah yang minta. Pokoknya mas juga minta jatah nen gantian sama Rayyan" Ucap Rony
"Dih, sama anak gamau ngalah banget" Balas Salma
"Biarin"
"Pantesan puting kamu sakit ya yang, dia kenceng banget gitu ngisepnya" Ucap Rony
"Kalo cuma ngisep sih gak masalah mas, kalo udah di gigit gigit itu sakit banget" Balas Salma
"Utututu kasiannya, tenang sayang. Mas gak akan gigit gigit kok. Paling mas mainin doang hehe" Balas Rony
"Ish apasih mas. Geli tau gak bahas begituan" Ucap Salma
"Ya gapapa dong, kan bentar lagi nikah" Ucap Rony sembari meremas payudara Salma yang menganggur
"Awhss mas!! Tangannya nakal banget sih" Omel Salma
Rony menarik dagu Salma dan mencium bibirnya. Melumat bibir ranum Salma dengan semangat. Menikmati betapa manisnya bibir calon istrinya itu. Sembari tangannya terus meremas payudara Salma.
Di tengah ciumannya, Rony melirik Rayyan yang ternyata sudah melepas nipple Salma dan tertidur. Rony beralih mengambil Rayyan dari gendongan Salma lalu meletakkan Rayyan pada baby boxnya.
"Mau ngapain? Udah sana keluar" Usir Salma
"Gamau, mau bobo disini sama kamu" Balas Rony
"Mas, jangan aneh-aneh deh. Sabar kek Minggu depan kita ni - "
Rony membungkam mulut Salma dengan bibirnya. Rony terus melumat dengan tangan yang sudah memainkan puting Salma yang belum sempat Salma masukkan ke dalam bajunya setelah Rayyan menyusu padanya.
Salma benar-benar dibuat terbuai dengan permainan Rony. Tanpa Salma sadari, Rony sudah membuka hijab nya dan membuka piyama tidurnya. Rony juga sudah membuka bra Salma dan melemparnya entah kemana.
Rony bahkan sudah membuat banyak tanda kepemilikan nya pada leher Salma.
"Ahhss Mas Ronyhh ahh" Desah Salma
Rony semakin gelap mata mendengar desahan Salma. Rony terus memainkan lidahnya pada puncak dada Salma, tangannya juga meremas payudara Salma yang satunya sembari memilin puting nya.
Rony juga menghisap dan merasakan ASI yang keluar dari payudara Salma. Menikmati apa yang selama ini putranya rasakan.
Sembari mulutnya terus menghisap nipple Salma. Tangan Rony mulai turun mengusap milik Salma, tangan Rony mulai menyusup masuk ke dalam celana yang Salma gunakan.
"Mas jangan, aku lagi halangan" Ucap Salma
Damn
Ucapan Salma berhasil membuat Rony kesal.
"Kok gak ngomong dari tadi sih yang? Ini terus gimana? Kepala ku pening, aku butuh pelepasan" Ucap Rony
"Ya maaf, lagian kamu tiba-tiba nyerang aku gini. Kan kita juga belum nikah, masa kamu mau lakuin itu sebelum nikah" Balas Salma
Sadar dirinya yang sudah kelewatan batas, Rony beralih memeluk Salma dan mencium kening Salma.
"Maaf sayang, mas kelepasan. Maaf yaa, maaf udah kelewatan sama kamu" Ucap Rony menyesal
"Iya, asal mas jangan gini lagi yaa. Minggu depan kita kan nikah, sabar dulu" Balas Salma
"Tapi mainan atas aja masa gabole yang? Gapapa ya? Hmm?"
"Mas udah ketagihan nenen ke kamu. Gapapa ya" Bujuk Rony
"Hhmm, yaudah lah. Mas udah tau ini" Balas Salma
"Yeay, makasih sayang" Ucap Rony
"Yaudah, ambilin baju sama bra aku. Dingin tau" Balas Salma
"Jangan, udah kamu pake selimut aja. Mas mau nuntasin ini dulu ke kamar mandi. Nanti mas mau bobo sini sambil nen yaa, jangan pake baju loh. Udah gini aja, tutupin selimut" Ucap Rony
Rony bangkit mengambil baju Salma dan meletakkan nya di sofa kamarnya lalu menutup tubuh atas Salma dengan selimut. Baru lah dia masuk ke kamar mandi
"Ck, gini nih kalo berhubungan sama Duda. Gabisa jauh-jauh dari Having Sex. Eh tapi kenapa gue mau ya? Ah udah lah, kan Minggu depan nikah ini. Mas Rony macem-macem juga tinggal ngadu sama orang tua nya" Monolog Salma
***
Hari ini adalah hari pernikahan Salma dan Rony, Rony benar-benar tak sabar menjadikan Salma istrinya. Apalagi semenjak malam itu, setiap malam Rony selalu mengendap-endap masuk ke dalam kamar Rayyan untuk tidur bersama Salma. Rony dan Salma akan tidur dengan sama-sama bertelanjang dada. Rony selalu meminta Salma membuka piyama dan bra nya agar memudahkan Rony untuk memainkan kedua gundukan kesayangannya.
Setiap hari tubuh Salma juga tak pernah bersih dari bekas permainan mulut Rony. Rony selalu memberikan kissmark pada leher dan dada Salma hingga penuh. Kecuali dua hari ini, Salma meminta Rony untuk tak meninggalkan jejaknya di leher Salma karena saat di make up nanti pasti dia akan membuka hijabnya. Salma takut jika Bunda atau pun Mama Rony melihat bekas kissmark Rony pada lehernya.
"Kenapa sayang? Kok sedih? Kan harusnya seneng, kita udah nikah udah Sah sayang" Ucap Rony ketika melihat wajah murung Salma
Saat ini Salma dan Rony tengah berada di kamar hotel, setelah melakukan resepsi di salah satu ballroom hotel bintang lima di Jakarta.
"Ish bukan gitu. Aku capek aja mas seharian ini full acara, belum lagi payudara ku sakit banget. Belum sempat pumping dari tadi" Balas Salma
"Mas bantu sini sayang, mas juga haus nih" Ucap Rony
"Ish, ini jatahnya Rayyan loh" Balas Salma
"Sayang, ASI kamu di freezer tuh banyak banget. Itu udah cukup buat Rayyan, gak akan kekurangan ASI sampe besok"
"Rayyan lagian udah pulang sama Mama, Papa, Ayah Bunda. Tinggal kita berdua doang di hotel"
"Udah sini, biar Mas aja yang minum ASI kamu. Dari pada kesakitan gitu. Pelit banget sih sama suami, kek tiap malem gak nenen aja" Ucap Rony
Salma pun mendekat lalu berbaring di samping Rony, Rony dengan sigap membuka piyama tidur Salma lalu membuka bra Salma dan menghisap nipple Salma dengan satu tangannya memainkan payudara Salma lainnya.
Salma mengusap lembut rambut Rony yang tengah menyusu padanya.
"Mas, kok udah hampir delapan bulan ini ASI ku masih keluar terus ya? Padahal dulu waktu pertama kali periksa sama Mama, Mama bilang nya gak selama ini loh keluarnya. Aku sehat gak sih? Kok aku takut ya mas?" Ucap Salma khawatir
Mampus, kan emang ini kerjaan Mama yang ngasih Caca ASI booster. Makannya ASI Caca keluar terus malah deres banget lagi. Gimana ini ya? Gue jujur takutnya Caca marah sama gue dan Mama. Yakali malam pertama di ambekkin *Batin Rony
"Jwangwan mwikwir mwacwem mwacwem swaywang" Ucap Rony sembari mengisap nipple Salma
"Ish, lepas dulu kek baru ngomong" Omel Salma
"Kamu jangan mikir macem-macem, kamu itu sehat. Berarti kamu subur sayang, ASI kamu deres. Padahal banyak loh yang udah melahirkan bahkan gak keluar ASI. Harusnya kamu bersyukur ASI kamu masih keluar kan, jadi Rayyan gak akan kurus. Dia akan terus menggembul berkat ASI kamu, ini aku juga bentar lagi pasti gembul nih. Susu nya cocok" Ucap Rony
"Ish! Mas! Aku serius loh. Aku takut tau" Balas Salma
"Yaudah yaudah, besok kita tanya Mama ya. Gausah khawatir sayang, punya mertua dokter tuh di manfaatin. Kan enak bisa konsultasi gratis tiap hari hehe" Balas Rony
"Bener juga sih, yaudah lah. Bobo yuk, udah gak sakit ini nen nya" Ucap Salma
"Eh enak aja. Udah di bantuin, malah mau bobo" Balas Rony
"Ish, kamu gak ikhlas bantuin istrinya? Lagian bantuinnya juga kamu doyan! Gak tersiksa sama sekali" Ucap Salma
"Hahahah ya bener sih, doyan banget malah"
"Masalahnya ini tuh malam pertama kita loh yang. Ayo lah, masa iya bobo"
"Aku juga tau ya kamu udah sholat. Jadi gak ada penghalang lagi. Ayo kita buat Adeknya Rayyan" Ucap Rony
"Harus banget sekarang mas? Aku capek loh" Balas Salma
"Kan aku yang gerak sayang, udah kamu nikmatin aja yaa. Hmm"
"Kamu gak kasian apa sama punya aku? Udah lama loh nganggur. Waktu itu juga kepake gara-gara di jebak, eh malah langsung nongol tuh tuyul di rumah"
"Apalagi ini, di lakukan secara sadar plus kamu lagi masa subur. Pasti langsung punya adik sih si Rayyan sayang" Ucap Rony
"Sembarangan aja ya, anak sendiri di katain tuyul" Balas Salma
"Kan emang kek tuyul. Udah gundul, gembul gembul lagi hahaha" Ucap Rony terkekeh
"Mas ih, jahat banget sih. Anak aku dikatain tuyul" Balas Salma
"Dih, si paling anak aku. Yaudah Rayyan anak kamu, sekarang aku minta anak aku dari kamu yaa. Yukk" Ajak Rony sembari menciumi leher Salma
Salma hanya pasrah mengikuti kemauan Rony. Di tolak pun tak akan bisa, Rony tak akan melepaskan Salma begitu saja.
Malam itu pun menjadi malam yang indah bagi Salma dan Rony. Malam dimana Salma dan Rony menyempurnakan ibadah pernikahan mereka.
"Makasih sayang, makasih untuk malam ini ya"
"Makasih juga selalu sabar dan sayang sama Rayyan layaknya anak kamu sendiri"
"Love you my busui" Ucap Rony yang masih terengah-engah setelah mendapat pelepasan entah yang keberapa kali nya
"Love you more mas" Balas Salma lemas
Nasib Salma yang awalnya hanya menjadi Ibu Susu sekaligus baby sitter untuk Rayyan, kini berubah menjadi istri dari Ayah kandung Rayyan. Salma juga tak menyangka jika nasibnya akan berubah seperti ini. Gadis kampung yang tak memiliki apa-apa, kini berubah menjadi istri dari seorang pengusaha kaya di Jakarta.
Salma juga tak menyangka, akibat dari kelangkaan pada tubuh nya yang mengeluarkan ASI disaat masih gadis justru mengantarkan dirinya pada kehidupan yang baru. Kehidupan yang tak pernah Salma bayangkan sebelumnya.
Salma sangat bersyukur, dibalik perbedaan nya dari gadis lain. Membuatnya kini bisa mendapatkan suami dan anak yang sangat dia sayangi. Dua laki-laki yang kini menjadi sumber Kebahagiaan untuknya setelah kedua orang tuanya.
~END~