Gambar dalam Cerita
Aku pertama kali bertemu dengan Misya dan Nasya saat mereka menjadi murid pindahan di sekolahku. Saat itu, aku sedang mengawasi siswa siswi yang terlambat dan memberi mereka hukuman. Meskipun mereka siswi pindahan, aku tetap berlaku adil memberi mereka hukuman, karena biar bagaimana pun, di sekolah lama mereka pasti menerapkan juga aturan yang sama.
Aku akui Misya gadis yang sangat cantik dan periang. Di hari pertama menginjakkan sekolah di sini saja sudah banyak orang yang mengenalnya karena luwesnya dia bergaul. Dan aku tidak berbohong saat aku mengatakan aku tertarik dengannya. Menurutmu apa yang membuat laki-laki tertarik pertama kali dengan perempuan kalau bukan wajahnya. Fokus pertama mereka pasti wajah. Mengenai sikap dan perilaku itu belakangan. Aku tidak akan munafik menyangkalnya.
Berbeda lagi dengan saudaranya, Nasya. Yah saat Misya memperkenalkan saudaranya, aku agak bingung pasalnya wajah mereka tidak ada kemiripan sama sekali. Meskipun banyak juga orang bersaudara yang tidak mirip, tapi pasti mereka memiliki sedikit kesamaan kan seperti matanya saja ataupun bibir dan hidung. Dan barulah aku tau kalau mereka saudara tiri.
Sifat mereka berbanding terbalik. Kalau Misya sangat ramah dan periang. Nasya malah sangat cuek dan dingin. Aku rasa dia memang tipe pendiam. Tapi harus kuakui dia juga cantik. Tapi jika aku disuruh memilih, aku lebih suka tipe perempuan yang ramah dan mudah bergaul. Karena akupun juga demikian. Tapi entah kenapa aku tidak bisa terlalu akrab dengan Nasya. Sikap cuek dan dinginnya seakan-akan memberi maksud bahwa dia tidak ingin didekati. Bahkan kepada Misya saja yang notabene saudaranya sangat kaku dan datar saat berbicara.
***
Meskipun aku tidak sekelas dengan mereka, aku tetap akrab dan menjalin pertemanan dengan mereka. Kami sering menghabiskan waktu untuk mengisi waktu luang. Sebenarnya lebih sering aku dan Misya. Nasya sangat jarang ikut kalau Misya tidak memaksanya. See , bagaimana bisa aku akrab dengan Nasya kalau orangnya saja tertutup.
Bahkan aku pernah mengajak Misya ke rumahku.Ternyata almarhum mama Misya teman dekat mamaku saat muda dulu. Jadilah Misya sering datang ke rumah karena mama yang menyuruhnya. Mama sangat menyukai kepribadian Misya karena mengingatkannya dengan teman lamanya.
Tidak jarang aku juga sering berkunjung ke rumah Misya. Aku sudah bertemu dengan mama tiri Misya yang tidak lain adalah mama kandung Nasya. Entah kenapa aku merasa perlakuan tante Elsa sangat aneh, maksudku dia ramah dan kelihatan baik, tapi seakan-akan dibuat-buat. Nah, kalau Nasya selalu membuatku bingung, kepada mamanya saja dia cuek dan dingin. Apa memang dari lahir dia cuek begitu. Jangan-jangan dia juga tidak pernah menangis. Karena tersenyum atau tertawa pun aku tak pernah melihatnya, wajahnya datar saja seperti papan.
***
Tapi penilaianku pada Nasya sedikit berubah saat melihatnya bekerja paruh waktu. Yah, saat itu aku sedang berada di sebuah cafe. Aku melihatnya sedang melayani pengunjung. Saat aku bertanya pada pelayan yang melayani pesananku, dia mengatakan bahwa Nasya sudah bekerja paruh waktu di sini sangat lama. Bukankah keluarga barunya, maksudku ayah Misya sangat kaya, mengapa dia tetap bekerja padahal aku yakin semua kebutuhannya terpenuhi. Ke sekolah saja mereka diantar oleh supir pribadi.
Tapi yang membuatku speechless , saat aku melihatnya tersenyum melayani pengunjung. Untuk pertama kalinya aku merasakan perasaan aneh menjalari dadaku. Aku suka melihat senyumannya meskipun bukan ditujukan kepadaku. Aku tahu senyuman itu sebagai bentuk profesionalitas sebagai pelayan kepada pengunjung, bukan senyuman seperti memang ingin tersenyum karena bahagia atau apapun, tapi tetap saja aku merasa itu senyuman terindah yang pernah kulihat. Anggaplah aku lebay. Namun, tidak bisa kupungkiri aku sangat mengharapkan senyuman itu ditujukan kepadaku.
Akhirnya hari itu, aku bagaikan seorang penguntit yang memerhatikan segala aktivitas Nasya. Aku berusaha tak terlihat olehnya. Untunglah tempatku duduk memungkinkan dia tidak terlalu memperhatikanku. Sampai dia pulang bekerja pun aku mengikutinya. Aku kira dia akan taksi atau angkutan umum, tapi ternyata dia mengayuh sepedanya pulang padahal ini sudah malam. Tanpa berusaha terlihat, aku mengikutinya diam-diam dari belakang dengan mobilku. Sampainya dia di rumah, aku baru merasa konyol karena mengikuti seorang gadis diam-diam yang selalui bersikap cuek dan dingin padaku.
Aku menyimpulkan kalau Nasya tipe gadis yang mandiri dan pekerja keras.
Sejak itu, aku sering menatap Nasya diam-diam jika dia bersama Misya. Tentunya tanpa disadari oleh mereka. Seringkali kalau aku melihatnya dari kejauhan, aku tidak melepaskan pandanganku darinya. Tapi saat dia akan melihatku ataupun Misya, maka aku akan pura-pura membuang muka. Aku rasa tidak akan ada yang menyadarinya kalau aku sering curi-curi pandang pada Nasya termasuk dirinya.
***
Namun ada suatu kejadian yang membuatku geram dengan Nasya. Saat itu, aku mendapati Misya yang agak meringis memegang pipinya, setelah kulihat ternyata pipinya kemerahan seperti bekas tamparan. Aku mengintrogasinya. Awalnya Misya tidak mau jujur, akhirnya setelah kupaksa, dia mengaku kalau tante Elsa lah yang habis menamparnya. Bukan hanya itu, ternyata selama ini Misya selalu disiksa oleh mama tirinya. Aku yang mendengar itu langsung geram dan menyangka Nasya juga ikut andil dalam penyiksaan Misya. Mungkin saja sikapnya yang cuek dan dingin memang sesuai dengan kepribadiannya yang jahat. Buktinya, dia cuek dengan Misya selama ini. Berarti dia memang mendukung mamanya untuk menyiksa Misya kan.
"jadi selama ini mama tiri kamu dan Nasya selalu jahat sama kamu?".
"mama tiri aku memang kayak gitu lang, tapi Nasya beda, dia justru baik banget sama aku", jelas Misya.
"alah..palingan dia cuma pura-pura baik aja di depan kamu padahal dia juga serigala berbulu domba seperti mamanya".
"nggak lang. Meskipun Nasya memang cuek, tapi dia sebenarnya baik banget".
"tetep aja aku nggak percaya sama dia. Pokoknya kalau lain kali kamu disiksa sama mama tiri kamu ataupun Nasya, kamu harus bilang sama aku".
Aku tidak akan percaya begitu saja ucapan Misya kalau Nasya tidak pernah berbuat jahat padanya. Bisa saja kan dia juga jahat seperti mamanya. Tante Elsa saja kelihatan baik dan ramah saat aku bertemu dengannya, tapi ternyata serigala berbulu domba, bisa jadi Nasya tidak jauh berbeda dengan mamanya.
***
Mama juga sangat geram saat aku menceritakan perilaku mama tiri Misya padanya. Sama seperti aku, mama juga yakin kalau Nasya sama jahatnya dengan mamanya. Aku sudah membujuk Misya untuk melaporkan perbuatan mama tirinya kepada papanya, tapi dia tidak berani, apalagi dia tidak punya bukti.
Aku tidak menyangka gadis baik dan periang seperti Misya harus mendapat keluarga baru yang jahat padanya. Aku berharap kejahatan Nasya dan mamanya segera terbongkar.
Mama menyuruhku pacaran dengan Misya agar lebih leluasa melindungi Misya. Aku tahu Misya cantik, sangat cantik malah, ditambah lagi dia baik dan mudah bergaul. Aku menyukainya, tapi entah kenapa tidak ada pikiranku sebelumnya untuk pacaran dengannya. Tapi bujukan mama menyadarkanku bahwa tidak ada salahnya aku coba menjalin hubungan dengannya. Mungkin suatu saat aku bisa mencintai Misya, lagian dia sangat cantik dan sebenarnya salah satu tipe idealku, sepertinya akan mudah jatuh cinta padanya. Lupakan Nasya, aku memang sempat tertarik dengannya waktu itu, tapi setelah aku tahu sifatnya, aku malah benci dengannya.
Aku mengutarakan perasaanku pada Misya saat dia berada di kelas bersama Nasya dan teman-temannya. Aku memang berharap ada Nasya agar dia bisa melihat bahwa Misya memiliki orang yang menyayangi dan melindunginya. Saat aku mengajak Misya berpacaran, tanpa berpikir dia langsung menyetujuinya. Itu berarti Misya memang ada rasa denganku. Syukurlah, setidaknya aku bisa melindunginya meskipun tidak bisa 24 jam bersamanya.
Aku selalu berusaha menjauhkan Misya dari Nasya di sekolah. Aku hanya takut Nasya berusaha mencelakakannya. Apalagi Misya sangat mempercayai dan meyakini bahwa Nasya gadis baik, aku tidak mau dia diperalat oleh Nasya.
Setiap aku melihat Nasya bersama Misya, aku selalu menatapnya dengan benci, bahkan terkadang aku mengeluarkan cacian dan memperingatkannya agar dia berhenti menyakiti Misya. Tapi Nasya tidak pernah membela diri, bahkan dia hanya diam dan cuek seperti biasa. Itu menandakan apa yang aku katakan benar kan.
***
Puncak kemarahanku adalah saat melihat Misya terjatuh dari tangga, dimana saat itu Nasya bersamanya. Aku yakin dia sengaja mencelakai Misya.
"Gue udah peringatin sama loe kan sebelumnya, kalo loe berani nyakitin Misya loe bakalan berhadapan sama gue !!!".
"Loe itu emang cewek terjahat yang pernah gue kenal ! Gue heran, emangnya salah Misya apa sih sama loe, sampai-sampai loe tega nyakitin dia terus, hah !!!".
Aku bahkan menamparnya saking kesalnya, padahal aku tidak pernah menyakiti perempuan sebelumnya. Tapi Nasya sudah kelewatan, dan dia berhak menerima itu. Di lubuk hatiku yang paling dalam, aku tahu itu salah karena menampar perempuan. Sejujurnya aku menyesal menampar Nasya, tapi aku juga tidak mungkin minta maaf karena biar bagaimana pun perbuatannya itu keterlaluan.
Nasya pun hanya diam tanpa membalas ucapanku. Itu berarti dia memang membenarkannya.
Saat aku mengobati luka Misya, dia justru membela Nasya yang mengira tidak ada sangkut pautnya dengan kecelakaan kecil yang dia alami.
"Nasya sama sekali nggak salah lang. Justru dia yang nolong aku saat jatuh", jelas Misya.
"Mungkin aja itu cuma akal-akalan dia aja. Dia sengaja membuat kamu jatuh, terus pura-pura nolongin kamu", balasku.
Misya menggeleng. "Nasya nggak kayak gitu. Dia saudara yang baik meskipun hanya saudara tiri. Mungkin alasan kamu membenci Nasya karena mengira dia selalu menyakiti dan berbuat jahat sama aku. Tapi nggak lang. Justru Nasya selalu bantuin dan nolongin aku. Apalagi kalo mama nyakitin aku".
"Mereka kan ibu dan anak kandung. Jadi bisa aja kan mereka bersekongkol", sahutku kesal.
"Aku nggak tau kenapa kamu terlalu berpikiran negatif sama Nasya. Tapi emang itulah kenyataannya. Nasya sangat berbeda dari mama Elsa. Meskipun Nasya agak cuek, tapi sebenarnya dia baik banget. Kamu percaya deh sama aku lang. Aku cuma nggak mau kamu terlalu jauh salah paham sama Nasya yang jelas-jelas nggak salah".
Aku mencerna ucapan Misya. Kenapa dia selalu menganggap Nasya baik sama dia. Apa benar aku salah paham selama ini?
***
Saat itu aku mengajak Misya makan malam di luar. Papanya yang kebetulan punya waktu luang ikut serta apalagi dia ingin mengenalku lebih jauh sebagai pacar anaknya. Papanya bahkan mengajak mama tiri Misya tapi untunglah dia tidak jadi ikut karena tidak enak badan. Misya juga berencana mengajak Nasya, tapi Nasya menolak karena kecapekan, apalagi dia habis pulang bekerja seperti biasa.
Pada saat kami tengah makan malam bertiga di sebuah restoran, aku sangat shock melihat kedatangan Nasya dengan penampilan yang kusut dan awut-awutan. Yang membuatku tertegun karena Nasya langsung bersujud di depan Misya dan papanya sambil terisak.
Aku langsung merasakan hantaman sakit di dadaku saat melihat Nasya menangis untuk pertama kali. Nasya berkali-kali minta maaf sambil menundukkan kepalanya. Rasanya aku ingin merengkuh dia ke pelukanku.
Setelah ditenangkan oleh Misya dan papanya, Nasya langsung menjelaskan kenapa dia sampai ke sini sambil menangis. Kabar mengejutkan lagi terkhusus buat Misya dan papanya, bahwa selama ini mama Nasya yang telah membunuh mama Misya. Nasya menjelaskan bahwa dia mendengar mamanya telah menyuruh orang waktu itu untuk membunuh mama Misya. Misya langsung oleng mendengar kabar itu dan ikut menangis. Nasya kemudian menyuruh papa Misya agar membuat mamanya mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Tante Elsa lengsung bekuk polisi saat kami pulang dari restoran dengan tuduhan pembunuhan di mana saksinya adalah anaknya sendiri. Saat tante Elsa di tangkap, dia meneriaki Nasya berrbagai makian karena menjebloskan mamanya sendiri. Nasya tidak berhenti menangis terutama saat mamanya menuduhnya anak durhaka. Aku ingin sekali menenangkan Nasya yang terlihat rapuh tapi di sisi lain, Misya sedang bersandar padaku dan butuh juga dikuatkan. Hatiku benar-benar sakit melihat Nasya seperti itu.
Di lain sisi, aku menyesal karena selama ini telah salah paham pada Nasya. Bahkan aku dengan tega menyakitinya dengan ucapan maupun perbuatan. Mengingat pernah menamparnya, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri.
***
Setelah kejadian itu, Nasya berubah drastis. Dulu dia memang cuek dan dingin, tapi sekarang semakin tertutup bahkan jarang bicara. Misya sering curhat padaku bahwa Nasya bahkan sempat ingin pergi dari rumahnya karena merasa tidak pantas berada di rumah itu. Tapi Misya dan papanya memaksa Nasya untuk tinggal. Syukurlah, setidaknya Nasya tidak akan sendiri kalau meninggalkan rumah itu karena aku tau Misya dan papanya sangat menyayangi Nasya.
Aku sering berkunjung ke rumah Misya dibandingkan dulu-dulu. Alasannya, aku selalu ingin melihat Nasya. Sebenarnya aku ingin minta maaf, tapi bahkan Nasya tidak pernah membiarkan aku berada di dekatnya. Karena saat aku berkunjung, dia selalu menghindar, bahkan menghindari tatapanku. Sepertinya dia memang benar-benar membenciku.
Aku sadar, aku memang pantas dibenci oleh Nasya. Sikapku benar-benar keterlaluan padanya dulu. Tapi aku benar-benar menyesal dan ingin memperbaikinya. Setiap aku melihat tatapan dingin Nasya, ada perasaan nyeri yang menghantam dadaku.
Entah kenapa segala perasaan aneh yang kurasakan pada Nasya belum pernah terjadi pada siapapun sebelumnya.
***
Yang aku ingat, aku kecelakaan mobil. Saat terbangun, ada keluargaku dan Misya. Mereka menceritakan bahwa aku koma selama satu bulan.
Aku terkejut saat mama dan Misya menceritakan bahwa Nasya telah mendonorkan darahnya karena diantara keluargaku, hanya golongan darah papa yang cocok, sedangkan riwayat kesehatan papa saat itu tak mengharuskannya donor darah. Aku tidak menyangka Nasya peduli padaku, aku kira dia sangat membenciku akibat perlakuanku padanya dulu. Ternyata dia memang gadis yang sangat baik. Misya benar, meskipun Nasya selalu cuek dan dingin, tapi dia memiliki hati yang sangat mulia. Penyesalanku rasanya semakin bertambah.
Tapi yang membuatku semakin terkejut, saat Misya mengatakan Nasya telah pergi meninggalkan kota ini. Dia pindah ke rumah saudaranya dan melanjutkan sekolahnya di sana. Padahal aku belum sempat minta maaf dan bicara padanya. Hatiku nyeri menyadari aku sulit bertemu dengan Nasya lagi. Aku belum mengatakan perasaanku padanya.
Aku sekarang sadar, kalau rasa aneh yang selalu menjalari dadaku saat di dekat Nasya adalah tanda bahwa aku mencintainya. Aku tidak mungkin merasa specchles saat melihat senyuman gadis lain kecuali senyuman Nasya. Aku tidak mungkin ikut merasa sedih dan sakit bersamaan melihat orang lain menangis kecuali melihat tangisan Nasya.
Dan sekarang, Nasya telah pergi dan tak tahu kapan kembali. Aku ingin menyusul ke tempat dia pergi, tapi Misya bahkan tidak tahu kota mana yang didatangi Nasya. Nasya sengaja merahasiakan keberadaannya. Misya hanya berhubungan dengan Nasya lewat media sosial. Nomornya pun sudah tidak aktif. Aku bahkan pernah men- stalking media sosialnya, tapi dia jarang bahkan hampir tidak pernah aktif.
Tapi aku akan tetap menunggu dia sampai kembali. Aku yakin Nasya pasti kembali.
***
7 tahun telah berlalu, namun tak hentinya aku mengharapkan bertemu lagi dengan Nasya. Percaya atau tidak, seringkali aku melakukan perjalanan bisnis ke berbagai kota hanya berharap bisa bertemu dengannya. Perasaan cintaku padanya tidak pernah hilang. Bahkan dengan statusku yang sekarang menjadi tunangan Misya, aku hanya mencintai Nasya.
Anggaplah aku bajingan.
Aku mencintai Nasya tapi bertunangan dengan Misya.
Aku terpaksa menerima pertunangan ini karena paksaan mama. Menurut mama aku sudah terlalu lama pacaran dengan Misya dan lebih baik segera di sahkan. Selama 7 tahun aku berhubungan dengan Misya, tak sekalipun aku punya perasaan sedikitpun padanya. Awalnya aku mengira mudah mencintai Misya yang ramah dan baik hati, tapi ternyata sampai sekarang hatiku hanya untuk Nasya. Dari awal perasaanku pada Misya hanya kekaguman belaka.
Perasaanku pada Nasya belum ada yang mengetahuinya. Aku baru akan mengatakan pada semua orang saat aku menemukan Nasya. Karena aku ingin dia orang pertama yang mendengar pernyataan cintaku.
Seandainya aku sudah bertemu dengan Nasya, aku akan membatalkan pertunangan ini. Sebenarnya aku tidak tega mengatakan yang sebenarnya pada Misya bahwa aku hanya mencintai Nasya dan tidak punya perasaan apa-apa padanya. Aku tahu Misya kesepian. Aku selalu menjadi tempatnya curhat dan bersandar jika dia punya masalah. Aku merasa paling bajingan kalau aku malah meninggalkannya saat dia membutuhkanku.
Alasan lain aku tidak memutuskannya karena dengan aku meninggalkan Misya, maka kesempatanku bertemu dengan Nasya pasti sangat kecil. Bisa saja suatu saat Nasya kembali ke rumah Misya, dan aku susah bertemu dengannya saat aku berpisah dengan Misya.
Yah, lagi-lagi aku tetap jadi bajingan bukan. Aku menyayangi Misya sebagai teman, tapi di lain sisi aku memanfaatkannya.
***
Penantianku selama 7 tahun akhirnya terbayar juga. Saat itu Misya mengabariku untuk mempertemukanku dengan seseorang. Awalnya aku penasaran, tapi saat aku melihat Misya menggandeng Nasya mendekat, rasanya aku ingin berlari memeluknya saking bahagianya.
Pertemuan pertama kami setelah sekian lama cukup canggung. Nasya tidak banyak berubah, mimik wajahnya tetap datar. Namun tak bisa kupungkiri kalau dia semakin cantik dengan kedewasaannya.
Aku ingin menyambutnya dengan ramah, namun rasanya tidak pas kalau aku tiba-tiba akrab setelah sekian lama baru bertemu, apalagi hubungan kami dulu bisa dikatakan agak dingin dan kaku. Jadilah sepanjang malam itu hanya Misya yang sangat antusias bicara. Sedangkan aku terus mencuri-curi pandang melihat Nasya yang malah fokus menatap wajah Misya dan hanya sekali-kali melirikku.
Aku juga baru tahu mendengar penjelasan Nasya bahwa dia sengaja pindah kembali ke kota ini karena kantor tempatnya bekerja memutasinya ke kota ini. Syukurlah.
***
Aku seperti penguntit yang terus mengikuti aktivitas Nasya. Terkadang aku seperti orang bodoh yang menunggunya sampai selesai bekerja. Kemudian pura-pura bertemu dengannya dan menawarinya tumpangan pulang. Bukan berarti aku tidak punya pekerjaan. Justru sekretarisku berulang kali menelponku saat aku sedang kelayapan di luar menjadi penguntit Nasya. Pekerjaanku sedikit tercecer, tidak masalah asal aku bisa mendapatkan Nasya.
Sebelum aku menyatakan perasaanku padanya, tentu saja aku harus mendekatinya dulu agar dia tidak terkejut saat aku langsung menyatakan perasaanku. Apalagi aku masih berstatus sebagai tunangan Misya, saudaranya.
Berulang kali aku menawari mengantarnya, berulang kali pula dia menolak ajakanku. Ada saja alasannya. Entah kenapa Nasya selalu menghindari kontak mata denganku seakan-akan takut perasaannya terbaca lewat mata. Aku curiga, jangan-jangan dia juga punya perasaan yang sama denganku.
"Kenapa sih kamu selalu nolak setiap aku mau antar pulang, sya?", tanyaku saat aku menawarinya lagi
"Apa pacar kamu marah kalo aku antar pulang ?", lanjutku ingin mengorek seputar kehidupan pribadinya.
"Nggak kok. Lagian kan aku udah biasa naik kendaraan umum kalo pulang. Selain itu, arah kita kan juga beda".
"Jadi bukan karena pacar kamu marah ?", pancingku lagi.
"Ngapain juga pacar aku harus marah. Orang punya pacar aja nggak", jawabnya dengan tersenyum. Yes!
"Kalo gitu aku nggak nerima alasan penolakan kamu cuma karena kita beda arah. Sekali-kali nggak apa-apa kan kalo antar kamu", sahutku memaksanya.
Akhirnya setelah aku memaksanya lagi, Nasya langsung mengiyakan ajakanku. Aku tersenyum bahagia akhirnya bisa berduaan dengan Nasya di dalam mobil.
***
Saat mama mengundang Misya dan keluarganya makan malam ke rumah, aku sudah curiga ada hal penting yang ingin mama sampaikan. Dan benar saja, mama membicarakan tanggal pernikahanku dengan Misya yang akan diadakan sebentar lagi. Misya terlihat antusias, tapi aku tidak. Aku masih berusaha mencari cara agar pernikahan nanti dibatalkan. Apalagi kehadiran Nasya di acara makan malam tersebut membuatku semakin serba salah.
Jadi saat Nasya izin ke toilet, aku diam-diam mengikutinya. Tau-taunya dia malah ke kolam renang dan merendamkan kakinya. Sepertinya dia sedang melamun.
"Kamu ngapain disini, sya?", tanyaku setelah mutuskan menghampirinya.
"Aku....cuma cari angin", jawabnya agak risih, mungkin karena kehadiranku.
"Emangnya nggak terlalu dingin apa disini ?".
Nasya hanya menggeleng.
Sepertinya sudah saatnya aku menyatakan perasaanku pada Nasya sebelum semuanya terlambat. "Nasya, kamu ikut aku deh", ucapku langsung menarik tangannya menuju taman belakang.
Aku menggenggam tangannya "Aku mau jujur sama kamu sya", ucapku menatapnya lekat.
"Aku cinta sama kamu", lanjutku kemudian.
Nasya terlihat terkejut mendengar ucapanku. Sepertinya dia tidak percaya, karena tiba-tiba dia melepaskan genggaman tanganku.
"Asal kamu tau sya, perasaan ini sudah ada semenjak 7 tahun yang lalu. Bahkan sebelum kamu donorin darahmu untukku. Aku terlalu malu untuk ngungkapin perasaan ini mengingat perbuatanku yang keterlaluan sama kamu"
"Ketika aku siuman dan mengetahui kamu sudah pergi, aku bener-bener menyesal telat mengatakannya, ditambah lagi saat aku tahu kamu yang donorin darah untukku", jelasku
"Aku sadar kalo perasaanku pada Misya hanya kekaguman saja. Gadis yang bener-bener kucintai adalah kamu sya. Bukan Misya tapi kamu". Aku benar-benar berharap Nasya mempercayai ucapanku.
"Kamu tau, aku sudah berusaha mencarimu selama ini, tapi aku tidak mendapat petunjuk. Bahkan kata Misya, kamu nggak memberitahunya daerah tempat tinggalmu. Aku sangat bahagia saat tiba-tiba kita dipertemukan. Dan aku sudah bertekad saat kita pertama bertemu tidak akan melepaskan kamu lagi. Aku nggak mau kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya. Aku bener-bener sayang sama kamu Nasya".
Nasya menggeleng."Kamu bohong lang. Aku nggak percaya sama kamu. Nggak seharusnya kamu ngomong kayak gini. Ini sama saja kamu menghianati cinta Misya".
"tapi Nasya...".
Nasya sudah berlari meninggalkanku sebelum aku menjelaskan lebih lanjut padanya. Pasti dia pikir aku malah menghianati Misya dengan mengutarakan perasaanku padanya.
Entah apa yang harus aku lakukan agar Nasya percaya padaku.
***
Hari-hari selanjutnya, Nasya benar-benar menghindariku. Bahkan dia tidak pernah memberiku kesempatan untuk bicara apapun padanya.
Di sisi lain, keluargaku semakin antusias mengatur acara pernikahanku dengan Misya.
Aku ingin mengatakan pada mereka untuk membatalkan pernikahan ini. Tapi setelah aku berpikir, aku akan menunggu pernikahan ini tiba untuk melihat sejauh mana Nasya akan terbuka padaku. Aku semakin yakin kalau Nasya juga memiliki perasaan yang sama. Mungkin saja dia tidak mau jujur karena tidak ingin menyakiti Misya.
Namun, pada saat acara pernikahan telah tiba, Nasya malah berencana keluar kota karena urusan pekerjaan. Misya yang mengatakannya saat aku bertanya keberadaan Nasya. Aku tidak menyangka dia justru menghindar. Baiklah, kalau Nasya ingin menghindar, maka aku yang akan mengejarnya.
Hari itu juga, aku langsung membatalkan pernikahanku dengan Misya. Aku jujur mengenai perasaanku selama ini bahwa aku hanya mencintai Nasya . Tentu banyak orang yang kecewa teruama dari pihak Misya. Sebenarnya aku tidak tega pada Misya, dia kelihatan sangat sedih dengan batalnya pernikahan ini. Aku memang bajingan karena telah menghancurkan hatinya. Tapi percuma saja aku hidup dengannya disaat aku mencintai gadis lain, ujung-ujungnya dia sendiri yang akan menderita. Aku juga tidak ingin kehilangan Nasya untuk kedua kalinya.
Syukurlah Misya mnerima keputusanku dengan lapang dada. Aku hanya berharap Misya bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik, yang bisa mencintainya suatu hari nanti.
***
Aku langsung mengejar Nasya ke bandara setelah pembatalan pernikahan, berharap dia belum pergi. Dan akhirnya doaku terkabul.
"Nasya.............!!" Teriakkku menghampiri Nasya dari kejauhan.
"Kamu mau ninggalin aku lagi ?", cecarku di hadapannya.
"Elang, kamu kok ?". Nasya terlihat bingung memandangku dan keluargaku serta Misya di belakang.
"Aku kan udah bilang sama kamu, aku nggak mau kehilangan kamu yang kedua kalinya. Misya udah tau semuanya kalo aku hanya mencintai kamu, jadi jangan pergi dari aku", jelasku
Aku melepaskan koper di genggaman Nasya "Aku bener-bener cinta sama kamu sya. Aku tau sikap aku dulu memang sangat kasar dan keterlaluan sama kamu. Tapi kamu harus tahu kalo itu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku", ujarku memandangnya sendu.
"Aku bener-bener nggak ngerti deh, bukannya ini hari pernikahan kamu sama Misya, tapi kok..."
"Aku sengaja batalin pernikahanku sama dia", jawabku. "Awalnya aku ingin batalin saat kamu datang. Tapi kata Misya kamu akan berangkat ke luar kota hari ini. Makanya aku langsung ke sini".
"Kamu kenapa jahat banget sama Misya, lang ? Misya itu sangat mencintai kamu. Dan dengan teganya kamu batalin pernikahan ini".
"Kalaupun pernikahan ini berlanjut, aku juga nggak akan bisa bahagiain Misya. Justru akan semakin membuatnya menderita kalau tau selama ini aku nggak mencintai dia, melainkan mencintai saudaranya yaitu kamu". Jelasku lagi berharap Nasya mengerti.
Misya menghampiri Nasya "Elang bener-bener mencintai kamu sya", jelas Misya
"Misya, Elang, kalian jangan bercanda deh. Ini semua nggak lucu tau". Nasya sepertinya masih tidak percaya.
"Kami nggak bercanda Nasya", sahutku
"Sebenarnya aku udah dengar pembicaraan kamu dan Elang saat malam itu. Dan semenjak itu, aku jadi tau kalo gadis yang dicintai Elang itu kamu, bukan aku". Jawab Misya. Dan aku baru tahu kalau Misya mendengar semuanya malam itu. Tapi dia sengaja menyembunyikannya.
"Maafin aku Misya, aku nggak bermaksud merebut Elang dari kamu. Kamu tenang aja, aku sama Elang nggak ada apa-apa kok, aku....."
"Sya, kamu nggak perlu minta maaf. Kamu nggak salah. Perasaan itu nggak bisa dipaksain. Mulai sekarang aku sama Elang cuma temenan kok. Bahkan mungkin aja sebentar lagi kami akan jadi saudara ipar", jawab Misya tersenyum pada Nasya.
Aku ikut tersenyum mendengar pernyataan Misya.
"Aku bener-bener rela kok kamu bisa bersama dengan Elang. Elang itu sebenarnya baik dan perhatian meskipun dulu dia sempat kasar sama kamu. Aku yakin kamu akan bahagia bersamanya".
Misya lalu meninggalkan kami berdua.
Aku kembali menggenggam tangan Nasya. "Percaya sama aku sya kalo aku bener-bener mencintaimu".
"Sya, kamu dengerin aku kan. Apa yang harus kulakukan agar kamu percaya sama aku ?"
Nasya menggeleng. "Aku percaya sama kamu. Cuman aku......aku masih ragu", jawab Nasya menunduk. "Ini terlalu cepat buat aku menerima semuanya", lanjutnya.
"Aku ngerti. Kita bisa mulai hubungan ini secara perlahan. Aku nggak akan maksain kamu nikah sekarang. Kita coba pacaran dulu sebelum memutuskan ke jenjang yang lebih serius".
"Terus bagaimana dengan keluarga kamu ? Aku tau mama kamu nggak suka denganku".
"Kamu tenang aja, keluarga aku nggak ada masalah kok. Mereka selalu ngedukung keputusan aku. Sama seperti aku dulu, mama hanya salah paham sama kamu". Jelasku. Mama memang sempat tidak menyukai Nasya karena aku juga, tapi semenjak Nasya mendonorkan darahnya untukku, mama juga mulai menyadari kalau Nasya gadis yang baik.
"Aku ingin menjalani hari-hariku denganmu. Dan aku akan mencintai kamu selamanya sampai ajal memisahkan kita. Kamu percaya kan ?". Nasya mengangguk. Aku langsung memeluknya dengan perasaan bahagia yang membuncah.
Akhirnya aku bisa mendapatkan Nasya.
***
Sebenarnya sepulang dari bandara, aku menawarkan pada Nasya untuk menikahinya saat itu juga. Tapi Nasya langsung menolak karena terlalu terburu-buru, apalagi dia belum percaya sepenuhnya denganku.
Akhirnya hari-hari selanjutnya aku habiskan waktu untuk meyakinkan Nasya bahwa aku tulus mencintainya dan serius ingin menikahinya.
Berali-kali aku melamarnya, berkali-kali pula aku ditolaknya.
Aku tau Nasya masih tidak enak pada Misya. Dia selalu merasa jahat telah merebutku dari Misya. Andai dia tahu akulah yang paling bajingan di sini karena nyata-nyatanya sedikit memanfaatkan Misya untuk mendapatkannya.
Tapi yang aku syukuri, Nasya sudah lebih terbuka padaku. Aku tahu wataknya memang cuek, tapi setidaknya dia sering mengungkapkan ekspresinya padaku, baik itu kesal, tersenyum maupun tertawa. Dan aku sangat bahagia bisa melihat semua itu.
Rasanya menyenangkan bisa menghabiskan waktu bersamanya sepanjang hidupku.
Aku bahkan menyuruh mama agar membujuk Nasya cepat menerima lamaranku. Oh yah, semenjak aku berhubungan dengan Nasya, mama juga sudah mulai akrab dengannya. Tapi bujukan mama tidak mempang juga ternyata.
Tapi aku tidak pernah menyerah membujuk Nasya menerima lamaranku.
"kamu masih belum mau menerima lamaranku sya. Aku udah beberapa kali lamar kamu loh. Tapi alasan kamu belum siap melulu", cebikku dengan muka memelas pada Nasya.
"kita kan baru bersama belum satu tahun, lang. Masa langsung ngajak aku nikah".
"loh emang kenapa? kan kita saling mencintai. Aku juga nggak mau lama-lama pacaran sama kamu".
"dulu kamu aja pacaran sama Misya 7 tahun baru merencanakan pernikahan. Lah, kita belum jalan satu tahun kamu udah ngajak nikah".
"kan aku udah jelasin sama kamu sayang kalau aku nggak pernah mencintai Misya. Mungkin aja itu alasan aku selama ini nggak pernah antusias ngajak dia berhubungan serius. Meskipun sebenarnya aku merasa bersalah sih karena merasa mempermainkan Misya selama ini. Hati aku udah yakin bahwa aku cinta sama kamu, tapi aku tetap nggak tega mengatakan pada Misya yang sebenarnya karena bisa melukai hatinya apalagi kalian bersaudara. Ternyata dari awal rasa yang aku miliki padanya hanya kekaguman belaka bukan cinta".
Nasya menghela napas. "sejujurnya aku masih nggak enak sampai sekarang lang sama Misya makanya aku masih belum mau menikah sama kamu. Aku ngerasa jadi wanita jahat karena merebut kamu dari Misya". Lihat kan, dia masih tidak enak pada Misya.
Aku merengkuh Nasya ke pelukanku. "sayang, kan aku udah bilang kamu nggak perlu ngerasa bersalah. Misya juga udah bilang kan sama kamu kalau dia baik-baik aja".
"aku tau. Tapi tetap aja aku nggak enak. Kayaknya aku baru tenang kalau Misya udah punya pasangan yang mencintainya".
"jangan bilang kamu baru mau menikah denganku setelah Misya menikah. Aku nggak mau yah sya kamu punya pikiran begitu. Aku tau Misya sangat menyayangi kamu begitupun kamu, tapi kamu nggak perlu mengorbankan apa-apa sayang. Kamu mau ngegantungin aku terus yah. Gini deh, aku akan bilang sama Misya kalau aku ingin segera nikahin kamu".
"jangan lang. Kamu nggak boleh ngomong begitu dulu. Lagian kan aku belum menerima lamaran kamu".
"terus gimana? Atau kamu mau aku ngenalin Misya ke beberapa temanku, barangkali ada yang cocok sama dia".
"loh kok kamu malah mau jodohin dia".
"yah habisnya kamu alasannya nggak enak melulu nerima lamaranku kalau Misya belum dapat pasangan, makanya aku sekalian jodohin dia aja".
"aku juga bingung lang. Di lain sisi takutnya Misya tersinggung atau terpaksa gitu".
"makanya kamu nggak usah nungguin Misya dulu dapat pasangan baru mau menerima lamaranku sya. Biarkan Misya yang memilih pasangannya kelak. Aku yakin kok Misya pasti mendapatkan laki-laki yang akan mencintainya seperti aku mencintai kamu".
Nasya terdiam, sepertinya dia mulai memikirkan upacanku
"jadi kamu mau yah menerima lamaranku. Aku ingin kamu jadi istriku secepatnya", Aku memandang Nasya dengan lekat.
Akhirnya Nasya menganggukkan kepalanya.
"yes....!!", pekikku bahagia sambil menggendong Nasya memutar.
Nasya tertawa melihat ekspresiku. Astaga! Aku menyukai tawa itu.
" i love you sayang", ucapku.
" me too ", jawabnya tersenyum.
***
Harus kukatakan bahwa hari yang paling membahagiakan dalam hidupku adalah hari pernikahanku dengan Nasya.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Nasya resmi menjadi istriku. Oh! Aku adalah laki-laki paling bahagia di muka bumi ini.
Nasya dengan gaun pengantinnya sangat bersinar di hari bahagia kami. Terlihat jelas kan kalau dia juga sangat bahagia dengan pernikahan ini.
Aku juga bersyukur karena Misya ikut andil dalam membantu pesta pernikahan kami. Setidaknya Nasya akan merasa lega karena dengan itu dia yakin bahwa Misya sudah benar-benar rela melihat aku dan Nasya bersama dan bahagia.
Semoga dia juga menemukan kebahagiaannya seperti aku dan Nasya yang bahagia sampai akhir hayat kami.
I love you my wife
The End