Misya
Romance
25 Jan 2026

Misya

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-25T235955.459.jfif

download - 2026-01-25T235955.459.jfif

25 Jan 2026, 17:00

download - 2026-01-25T235953.220.jfif

download - 2026-01-25T235953.220.jfif

25 Jan 2026, 17:00


Setelah kematian mama, aku sudah merasakan kesepian. Papa suka sibuk dengan urusan kantornya, bukan berarti beliau tak sayang padaku. Justru papa sangat memanjakan aku meskipun tidak bisa menemaniku sesering mungkin.

Keinginan papa untuk memiliki pendamping baru adalah hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Tapi aku juga nggak mungkin melarangnya. Papa berhak bahagia. Aku tau papa pasti juga kesepian tidak ada yang menemaninya. Makanya ketika papa membawa tante Elsa ke rumah, aku tidak punya pilihan lain selain menerimanya.

Tante Elsa sebelumnya adalah tetangga kami yang tinggal bersama anaknya, Nasya. Aku tidak terlalu mengenal Nasya meskipun rumah kami berdekatan. Bisa dikatakan, dia orangnya agak cuek dan tidak suka terlalu bergaul. Kami tentunya beberapa kali berpapasan, aku berusaha tersenyum menyapanya, tapi dia hanya menyapaku datar. Tapi meskipun begitu, aku tau kalau dia sebenarnya orang baik.

Aku nggak terlalu tau gimana papa bisa punya hubungan dengan tante Elsa, bukan berarti selama ini mereka tidak pernah bertemu. Saat mama masih hidup, tante Elsa sebenarnya sering ke rumah, apalagi saat ibu-ibu komplek perumahan mengadakan arisan. Cuma aku memang nggak terlalu akrab dengannya.


Jadi, saat tante Elsa sudah menjadi istri papa, kami pindah rumah. Papa bilang, dia sudah membeli rumah sebelumnya untuk kami tempati. Menurutnya terlalu banyak kenangan dengan mama di rumah lama kami, bukan berarti kami ingin melupakan mama.

Aku dan Nasya akhirnya juga pindah sekolah. Sebelumnya kami memang tidak pernah satu sekolah. Tapi setelah pindah, papa memasukkan kami di sekolah yang sama agar kami bisa berangkat bareng. Aku dan Nasya memang satu angkatan.

Sikap Nasya setelah kami tinggal bersama sebenarnya tidak banyak berubah, meskipun agak cuek tapi dia mulai akrab denganku. Ternyata memang pembawaannya seperti itu, cuek dan tomboy namun sebenarnya baik hati. Yang membuatku kagum padanya karena Nasya selalu kerja paruh waktu setiap pulang sekolah, padahal papa sudah cukup memenuhi kebutuhan kami, tapi tetap saja dia ingin mandiri, apalagi sebelum tinggal bersama kami, Nasya memang selalu kerja. Berbeda denganku yang sedari kecil selalu dimanja papa dan mama apalagi semua yang aku butuhkan selalu terpenuhi.

***


Aku kira dengan masuknya tante Elsa dan Nasya ke keluarga kami akan membawa kebahagiaan baru untukku dan papa. Tapi ternyata nggak seperti yang kubayangkan.

Awalnya tante Elsa sangat baik dan perhatian padaku, tapi lambat laun dia berubah. Dia selalu semena-mena terhadapku. Di depan papa dia berpura-pura baik dan menyayangiku, tapi di belakang tante Elsa selalu menyiksaku. Pekerjaan pembantu terkadang aku yang mengerjakan. Tante Elsa mengancamku kalau aku mengadu pada papa, apalagi aku nggak punya bukti perlakuannya. Tapi setidaknya Nasya berbeda, berulang kali dia sering bertengkar dengan mamanya karena selalu menyiksaku. Nasya selalu membelaku, bahkan ketika aku dihukum atau disuruh mengerjakan pekerjaan rumah, Nasya selalu membantuku. Meskipun dia cuek, dia selalu minta maaf atas perlakuan mamanya.

***


Kepindahanku bersama Nasya ke sekolah baru membuatku bertemu dengan Elang. Dia adalah kakak kelasku bersama Nasya. Awal pertemuan kami saat aku dan Nasya di hukum karena kami terlambat. Elang sebagai ketua osis yang langsung turun tangan menghukum kami. Awalnya aku merasa Elang sangat galak, tapi lambat laun aku menyadari kalau dia sangat baik dan perhatian.

Dan itulah, awalnya aku mulai jatuh cinta dengan Elang.

Awalnya kami hanya berteman. Aku dan Elang bahkan Nasya sering keluar bersama, kami mulai mengenal satu sama lain. Elang sering membawaku ke rumahnya. Ternyata mama Elang dulunya bersahabat dengan mamaku, makanya mama Elang langsung menyukaiku saat kami pertama kali bertemu. Sebenarnya aku juga sering mengajak Nasya ikut bersama kami, tapi kadangkala dia selalu menolak dengan berbagai alasan.

Elang adalah lelaki yang sangat tampan dan menjadi idola di sekolahku. Sikapnya sangat ramah kepada semua orang. Tapi yang aku bingungkan, dia selalu cuek dengan Nasya berbeda dengan teman yang lain dan denganku, padahal aku dekat dengan Nasya, tapi tetap saja setiap kami dalam keadaan bertiga, Elang dan Nasya jarang bahkan hampir tidak pernah bertegur sapa. Kalau tidak ada aku diantara mereka, pasti selalu terjadi kecanggungan karena mereka sama-sama cuek. Bisa dibilang aku adalah orang yang sangat ceria dan mudah berbaur dengan orang lain. Makanya aku punya banyak teman di sekolah, apalagi kedekatanku dengan Elang membuat banyak orang mengenalku.

***


Puncaknya saat itu aku disiksa oleh tante Elsa pulang kemalaman karena keluar bersama Elang. Tante Elsa menamparku sampai menimbulkan bekas di pipiku. Elang yang menyadari itu mulai mengintrogasiku. Akhirnya karena paksaan Elang, aku jujur padanya.

"jadi selama ini mama tiri kamu dan Nasya selalu jahat sama kamu?". Elang sangat marah saat mendengar penjelasanku.

"mama tiri aku memang kayak gitu lang, tapi Nasya beda, dia justru baik banget sama aku".

"alah..palingan dia cuma pura-pura baik aja di depan kamu padahal dia juga serigala berbulu domba seperti mamanya".

"nggak lang. Meskipun Nasya memang cuek, tapi dia sebenarnya baik banget".

"tetep aja aku nggak percaya sama dia. Pokoknya kalau lain kali kamu disiksa sama mama tiri kamu ataupun Nasya, kamu harus bilang sama aku".

Meskipun sudah kujelaskan, Elang tidak pernah percaya pada Nasya. Setiap kami bersama, pasti Elang selalu memandang sinis padanya, bahkan terkadang mengeluarkan kata-kata tajam.

***


Hal yang membuatku bahagia adalah ketika aku mulai berpacaran dengan Elang. Akhirnya cintaku nggak bertepuk sebelah tangan. Elang menyatakan perasaannya padaku di kelas saat aku bersama Nasya dan teman-temanku. Tentu saja aku langsung menerimanya karena akupun mencintai Elang.

Tapi semenjak saat itu juga, tante Elsa semakin menyiksaku karena berpacaran dengan Elang. Aku nggak tau kenapa tante Elsa benci melihatku pacaran dengan Elang. Katanya bukan aku yang pantas mendapatkan Elang.

Tapi yang aku syukuri, aku selalu punya tempat curhat, yaitu Elang dan keluarganya. Semenjak mama Elang mengetahui kalau aku disiksa oleh tante Elsa, beliau juga mulai menunjukkan kebenciannya. Sama seperti Elang, mamanya juga tidak menyukai Nasya, padahal aku sudah menjelaskan berulang kali padanya. Bahkan saat itu, aku dan Nasya ke rumah Elang makan malam karena diajak Elang. Sebenarnya dia tidak mengajak Nasya, namun aku memaksanya. Begitupun dengan Nasya, dia menolak kalau bukan aku yang memaksanya juga. Aku hanya ingin hubungan mereka menjadi baik, karena biar bagaimanapun mereka adalah orang yang dekat denganku. Nasya adalah saudaraku sedangkan Elang adalah pacarku.

Tapi saat Nasya bertemu dengan mama Elang, dia langsung ditatap dengan kebencian. Bahkan mama Elang mencaci-maki Nasya sebagai orang yang jahat. Nasya yang dicaci maki hanya diam dan pasrah tanpa melawan atau membela diri. Aku juga bingung kenapa Nasya kelewat diam dan cuek saat ada orang yang mencacinya. Begitupun saat dia dicaci maki Elang, dia hanya diam tanpa melawan.

Akhirnya semenjak itu, aku nggak pernah lagi memaksa Nasya ke rumah Elang setiap kali Elang membawaku ke sana, karena aku nggak mau Nasya selalu menjadi pelampiasan kemarahan Elang dan keluarganya.

***


Yang membuatku tidak habis pikir saat aku terjatuh dari tangga sekolah karena terpeleset. Aku yang saat itu bersama Nasya membuat Elang menuduhnya sengaja mencelakanku, padahal aku sendiri yang salah karena tidak hati-hati. Elang bahkan menampar Nasya di depan banyak orang. Aku sudah menjelaskan pada Elang tapi seperti sebelumnya dia nggak percaya dan tetap menganggap Nasya memang orang yang jahat.

"Nasya sama sekali nggak salah lang. Justru dia yang nolong aku saat jatuh", jelasku pada Elang.

"Mungkin aja itu cuma akal-akalan dia aja. Dia sengaja yang membuat kamu jatuh, terus pura-pura nolongin kamu", balas Elang dengan mimik wajah kesal.

Aku menggeleng.

"Nasya nggak kayak gitu. Dia adalah saudara yang baik meskipun hanya saudara tiri. Mungkin alasan kamu membenci Nasya karena mengira dia selalu menyakiti dan berbuat jahat sama aku. Tapi nggak lang. Justru Nasya selalu bantuin dan nolongin aku. Apalagi kalo mama nyakitin aku".

"Mereka kan ibu dan anak kandung. Jadi bisa aja kan mereka bersekongkol", sahut Elang masih dengan kekeraskepalaannya. Dia selalu meyakinkan dirinya bahwa Nasya adalah cewek jahat.

"Aku nggak tau kenapa kamu terlalu berpikiran negatif sama Nasya. Tapi emang itulah kenyataannya. Nasya sangat berbeda dari mama Elsa. Meskipun Nasya agak cuek, tapi sebenarnya dia baik banget. Kamu percaya deh sama aku lang. Aku cuma nggak mau kamu terlalu jauh salah paham sama Nasya yang jelas-jelas nggak salah".

Kali ini Elang hanya terdiam. Semoga saja dia memikirkan baik-baik perkataanku

***


Kejadian yang paling membuatku shock adalah saat aku keluar makan malam bersama papa dan Elang, dimana sebelumnya kami sudah mengajak Nasya tapi menolak karena capek habis bekerja.

Di saat makan malam sedang berlangsung di restoran yang kami kunjungi, tiba-tiba Nasya datang dengan wajah awut-autan dan dipenuhi keringat seperti habis berlari dan terburu-buru ke sini, ditambah lagi dia terisak dan bersujud di depan kaki papa dan aku sambil meminta maaf. Kami, aku, papa dan Elang tentu saja terkejut. Tapi yang lebih membuatku terkejut saat Nasya menjelaskan kalau tante Elsa adalah dalang dari kematian mama. Tante Elsa sengaja mencelakakan mama karena ingin masuk ke keluarga kami. Motif utamanya adalah harta.

Nasya bahkan memohon untuk memenjarakan mamanya karena dia malu dengan perbuatan mamanya selama ini. Aku nggak habis pikir, tante Elsa tega melakukan itu pada mama yang selama ini baik padanya.

Sepulang dari restoran tante Elsa langsung ditangkap polisi karena papa sudah melaporkannya disertai saksi yanitu Nasya sendiri. Tante Elsa sempat mencaci maki Nasya karena dia menjerumuskan ibunya sendiri ke penjara. Nasya hanya terdiam sambil terisal mendengar segala caci maki mamanya. Aku tau Nasya juga tidak tega mamanya di penjara, tapi dia juga tidak ingin kejahatan mamanya disembunyikan. Aku sangat kagum padanya. Aku tau dia memang gadis yang sangat baik.

***


Semenjak kejadian itu, Elang sudah nggak memandang lagi Nasya dengan sinis ataupun mencaci makinya. Tapi tetap saja sikap mereka selalu datar saat bertemu. Nasya sempat ingin keluar dari rumah karena merasa tak pantas, tapi aku dan papa bersikeras melarangnya. Biar bagaimanapun Nasya sudah kuanggap sebagai saudaraku terlepas dari kelakuan mamanya yang jahat. Tapi semenjak saat itu juga, Nasya semakin tertutup.

Entah hanya perasaanku saja, tapi ada yang beda dengan tatapan Elang setiap kali bertemu dengan Nasya. Sebenarnya dari dulu aku sudah menyadarinya, tatapan mata Elang sangat berbeda saat memandang Nasya dan saat memandangku. Aku juga tidak bisa mengartikannya. Berbeda lagi dengan Nasya yang selalu sulit kutebak. Tapi yang ku sadari, dia semakin cuek dengan Elang dan selalu menghindar setiap kali aku bersama Elang. Apa dia juga sudah mulai membenci Elang? Entahlah.

***


Saat Nasya memutuskan untuk pindah kota ke rumah jauh sudaranya, aku mati-matian menolak karena nggak mau berpisah dengannya, biar bagaimanapun aku sangat menyayangi Nasya sebagai saudaraku. Tapi Nasya bahkan lebih ngotot ingin pergi dan berjanji akan terus mengabariku. Akhirnya aku merelakannya meski membuatku sedih, apalagi Nasya pergi sebelum Elang sadar dari komanya.

Yah, Elang kecelakaan mobil dan tidak sadar selama sebulan. Dalam waktu sebulan itu, banyak yang terjadi, Elang kehilangan banyak darah dan membutuhkan donor. Papa Elang yang golongan darahnya sama tidak bisa saat itu karena riwayat penyakitnya. Entah kebetulan atau tidak, golongan darah Nasya sama dengan Elang. Akhirnya dia yang mendonorkan darahnya buat Elang. Aku nggak menyangka Nasya begitu baik menolong Elang padahal hubungan mereka sebelumnya tidak baik. Seandainya Nasya benar-benar membenci Elang, pasti dia nggak akan repot-repot menawarkan diri mendonorkan darahnya.

Saat Elang sadar dari komanya, aku menjelaskan semuanya pada Elang. Elang memang tak berkomentar apa-apa, tapi aku tau dia juga merasa bersalah karena selama ini selalu berpikiran negatif pada Nasya. Namun sayang, Elang dan Nasya nggak bisa bertemu lagi, padahal aku yakin hubungan mereka pasti membaik dan akur.

Setelah kejadian itu, aku mulai merasa sikap Elang semakin aneh. Bukan berarti dia kasar atau acuh padaku. Elang tetap perhatian seperti biasanya. Tapi saat bersamaku, aku terkadang mendapatinya melamun dan tidak berfokus padaku.

***


Setelah 7 tahun akhirnya Nasya kembali. Aku sangat bahagia bisa bertemu lagi dengannya. Selama ini kami hanya berhubungan lewat media sosial. Tapi bukannya tinggal bersama, Nasya lebih memilih mengontrak rumah yang tak terlalu jauh dari kantor tempatnya bekerja. Bukan tanpa alasan Nasya pindah, itu karena pekerjaannya.

Aku biasa melihat ekspresi shock di mata Elang saat aku mengajak Nasya pertama kali bertemu dengannya. Sama seperti 7 tahun yang lalu, mereka tetap saling cuek. Aku semakin bingung dengan mereka.

Aku dan Elang sudah bertunangan setahun yang lalu. Lebih tepatnya keluarga Elang yang memaksa kami bertunangan secepatnya. Elang pernah mengatakan padaku bahwa dia belum siap bertunangan apalagi menikah, tapi karena paksaan dari mamanya, akhirnya kami bertunangan. Aku tentu sangat bahagia karena aku mencintai Elang, tapi entah kenapa Elang nggak terlalu antusias sepertiku. Saat pertunangan, aku sudah mengundang Nasya tapi dia nggak sempat datang karena pekerjannya. Dan sebentar lagi kami akan menikah. Syukurlah Nasya sudah bisa menghadiri pernikahanku nanti karena kami tinggal di kota yang sama sekarang. Sebenarnya pernikahan ini pun atas paksaan dari mama Elang karena katanya kami sudah terlalu lama berpacaran.

***




Kejadian lain yang membuatku tidak pernah membayangkan sebelumnya ketika kami, aku, papa dan Nasya diundang makan malam ke rumah Elang untuk membicarakan pernikahan kami. Nasya yang kalau bukan karena paksaan tidak bakalan datang karena merasa keluarga elang masih memusuhinya, namun aku sudah menjelaskan kalau keluarga Elang sudah menerimanya.

Aku melihat Elang menghampiri Nasya yang sedang duduk di pinggir kolam. Aku pikir Elang ingin memperbaiki hubungannya dengan Nasya yang selama ini terasa kaku. Tapi saat Elang meraih tangan Nasya dan mengajaknya ke taman belakang, aku mulai curiga dan mengikuti mereka. Dan benar saja, Elang mengakui perasannya selama ini pada Nasya bahwa Elang mencintai Nasya bukan diriku. Selama ini dia hanya kagum pada kecantikanku. Elang juga mengaku sangat menyesal pernah berbuat kasar pada Nasya. Perasaanku hancur dan patah hati, tentu saja. Aku nggak menyangka selama 7 tahun kami berpacaran, Elang sama sekali tidak menaruh perasaan cinta padaku. Itu kah sebabnya dia tidak terlalu antusias dengan pertunangan kami. Bahkan aku baru menyadari sikap Elang selama kepergian Nasya adalah bentuk cintanya pada Nasya. Dan itu berarti Elang memang sudah mencintai Nasya pada awalnya. Yang nggak aku habis pikir, kenapa justru Elang menembakku dan malah bersikap cuek pada Nasya. Mungkin saja karena sikap Nasya yang selama ini juga cuek pada sekitar terutama pada Elang.

Nasya yang mendengar pernyataan Elang tidak percaya bahkan mengatakan kalau Elang malah menghianatiku. Aku memang merasa sakit hati karena orang yang kucintai selama ini ternyata mencintai saudaraku sendiri. Aku marah pada Elang karena nggak jujur selama ini. Aku juga nggak menyalahkan Nasya, karena dia nggak pernah bermaksud menarik perhatian Elang.

***


Aku pura-pura nggak tau mengenai pernyataan cinta Elang pada Nasya. Aku ingin tahu sejauh mana Elang menyembunyikan perasaannya pada Nasya, apalagi sebentar lagi kami menikah. Semenjak kejadian itupun Nasya selalu menghindar setiap bertemu dengan Elang apalagi kalau ada aku. Aku nggak tau bagaimana perasaan Nasya yang sebenarnya pada Elang. Aku sulit menebak isi pikirannya, tapi aku tau kalau Nasya tidak pernah menatap Elang dengan lama seakan-akan takut perasaannya bisa dilihat. Apakah Nasya juga mencintai Elang?

Elang juga semakin murung setelah kejadian itu, aku bisa melihat dia tidak pernah melepaskan pandangannya setiap kali bertemu dengan Nasya.

Puncaknya saat hari pernikahan kami. Entah kenapa Nasya tiba-tiba nggak bisa datang karena harus keluar kota mengurus pekerjaannya. Setelah aku menjelaskan pada Elang bahwa Nasya nggak bisa hadir, Elang seketika membatalkan pernikahan kami. Dia mulai menjelaskan kepadaku dan keluarganya bahwa dia hanya mencintai Nasya. Kenapa dia tidak membatalkan pernikahan ini setelah pernyataan cintanya pada Nasya karena ingin melihat sejauh mana Nasya menutupi perasaannya. Elang merasa kalau Nasya juga mencintai dirinya. Dia menunggu pernikahan ini untuk melihat sejauh mana tindakan Nasya, tapi justru Nasya semakin menghindar. Elang berkali-kali meminta maaf padaku dan papaku. Dia nggak bermaksud mempermainkan perasaanku.

Sejujurnya aku masih sakit hati. Bayangkan laki-laki yang kamu cintai mencintai saudarimu sendiri dan membatalkan pernikahan kalian. Tapi aku sadar, cinta memang nggak boleh dipaksakan. Kalau Elang dan Nasya memang saling mencintai, aku nggak mungkin tega menentang mereka.

Setelah aku menjelaskan kepergian Nasya, Elang menyusul Nasya ke bandara berharap Nasya belum pergi. Dan syukurlah, Nasya memang belum berangkat saat Elang menghampirinya. Dari jauh aku bisa melihat Elang memeluk Nasya. Saat aku mendekat, Nasya menjelaskan kalau dia nggak bermaksud merebut Elang, dan aku percaya karena aku yakin Nasya gadis yang baik. Bahkan dia nggak langsung menerima Elang, tapi setelah Elang memohon-mohon, barulah dia memberikan kesempatan pada Elang. Nasya juga meminta maaf berkali-kali pada ku karena tidak pernah bermaksud merebut Elang. Meskipun aku mencintai Elang, aku bahagia kalau mereka bisa bersama karena mereka adalah orang yang aku sayangi.

***




Author's pov

"kamu masih belum mau menerima lamaranku sya. Aku udah beberapa kali lamar kamu loh. Tapi alasan kamu belum siap melulu", cebik Elang dengan muka memelas pada Nasya.

"kita kan baru bersama belum satu tahun, lang. Masa langsung ngajak aku nikah".

"loh emang kenapa? kan kita saling mencintai. Aku juga nggak mau lama-lama pacaran sama kamu".

"dulu kamu aja pacaran sama Misya 7 tahun baru merencanakan pernikahan. Lah, kita belum jalan satu tahun kamu udah ngajak nikah".

"kan aku udah jelasin sama kamu sayang kalau aku nggak pernah mencintai Misya. Mungkin aja itu alasan aku selama ini nggak pernah antusias ngajak dia berhubungan serius. Meskipun sebenarnya aku merasa bersalah sih karena merasa mempermainkan Misya selama ini. Hati aku udah yakin bahwa aku cinta sama kamu, tapi aku tetap nggak tega mengatakan pada Misya yang sebenarnya karena bisa melukai hatinya apalagi kalian bersaudara. Ternyata dari awal rasa yang aku miliki padanya hanya kekaguman belaka bukan cinta".

Nasya menghela napas. "sejujurnya aku masih nggak enak sampai sekarang lang sama Misya makanya aku masih belum mau menikah sama kamu. Aku ngerasa jadi wanita jahat karena merebut kamu dari Misya".

Elang merengkuh Nasya ke pelukannya. "sayang, kan aku udah bilang kamu nggak perlu ngerasa bersalah. Misya juga udah bilang kan sama kamu kalau dia baik-baik aja".

"aku tau. Tapi tetap aja aku nggak enak. Kayaknya aku baru tenang kalau Misya udah punya pasangan yang mencintainya".

"jangan bilang kamu baru mau menikah denganku setelah Misya menikah. Aku nggak mau yah sya kamu punya pikiran begitu. Aku tau Misya sangat menyayangi kamu begitupun kamu, tapi kamu nggak perlu mengorbankan apa-apa sayang. Kamu mau ngegantungin aku terus yah. Gini deh, aku akan bilang sama Misya kalau aku ingin segera nikahin kamu".

"jangan lang. Kamu nggak boleh ngomong begitu dulu. Lagian kan aku belum menerima lamaran kamu".

"terus gimana? Atau kamu mau aku ngenalin Misya ke beberapa temanku, barangkali ada yang cocok sama dia".

"loh kok kamu malah mau jodohin dia".

"yah habisnya kamu alasannya nggak enak melulu nerima lamaranku kalau Misya belum dapat pasangan, makanya aku sekalian jodohin dia aja".

"aku juga bingung lang. Di lain sisi takutnya Misya tersinggung atau terpaksa gitu".

"makanya kamu nggak usah nungguin Misya dulu dapat pasangan baru mau menerima lamaranku sya. Biarkan Misya yang memilih pasangannya kelak. Aku yakin kok Misya pasti mendapatkan laki-laki yang akan mencintainya seperti aku mencintai kamu".

Nasya terdiam mencerna ucapan Elang.

"jadi kamu mau yah menerima lamaranku. Aku ingin kamu jadi istriku secepatnya", Elang memandang Nasya dengan lekat.

Akhirnya Nasya menganggukkan kepalanya.

"yes....!!", pekik Elang bahagia sambil menggendong Nasya memutar. Nasya tertawa melihat ekspresi Elang.

"i love you sayang".

***


Misya's pov

Saat mendengar Elang dan Nasya akan menikah, tentu saja aku bahagia untuk mereka. Meskipun mereka belum lama bersama, tapi aku yakin mereka akan langgeng dalam pernikahan. Sebenarnya aku tau hari di mana pembatalan pernikahanku dengan Elang dulu, Elang ingin langsung menikahi Nasya, tapi Nasya menolak karena dia masih ragu pada Elang.

Aku sudah menghapus perasaan cintaku pada Elang. Aku yakin suatu saat bisa mendapatkan laki-laki yang mencintaiku. Seringkali aku melihat tatapan nggak enak Nasya padaku saat dia bersama Elang, seperti saat kami makan malam pasti Nasya masih canggung. Berbeda dengan Elang yang benar-benar luar biasa santai, bahkan seringkali aku melihatnya berusaha menggoda Nasya, tapi memang pada dasarnya Nasya yang cuek. Aku nggak cemburu, malahan terkadang aku tersenyum geli melihat tingkah Elang bila sudah bersama Nasya. Elang yang luwes dan sangat suka menggoda dan Nasya yang suka acuh tak acuh. Tapi aku yakin mereka saling mencintai. Aku bahkan baru menyadari tatapan cinta Elang pada Nasya yang berbeda dengan ku dulu. Elang nggak pernah menatapku seperti dia menatap Nasya yang membuatku yakin bahkan perasaan Elang dahulu memang hanya sebatas kagum.

Untuk membuktikan pada Nasya bahwa aku benar-benar baik saja dia bersama Elang, aku ikut andil dalam persiapan pernikahan mereka. Semenjak Elang dan Nasya punya hubungan, mama Elang mulai akrab dengan Nasya. Seringkali mereka menghabiskan waktu bersama, Nasya bahkan selalu mengajakku. Sebenarnya mama Elang memang sudah menyadari kalau Nasya gadis baik semenjak dia mendonorkan darahnya saat Elang kecelakaan. Mama Elang juga pernah cerita bahwa Elang sangat berubah setelah menjalin hubungan dengan Nasya. Dia lebih terbuka dan bahagia. Bahkan Elang selalu menyuruh mamanya agar merayu Nasya supaya lamarannya cepat diterima.

Dan disinilah aku, menyaksikan pernikahan Elang dan Nasya yang sangat mewah dan meriah. Terlihat sepasang pengantin begitu bahagia dan bersinar. Dari Elang dan Nasya aku belajar yang namanya cinta sejati. Meskipun awalnya mereka saling cuek dan saling menyembunyikan perasaan masing-masing, bahkan mereka pernah berpisah begitu lama, tetap saja mereka kembali bersama karena cinta yang kuat diantara mereka.

Aku bahagia melihat Elang dan Nasya bahagia.

Kini giliranku yang akan menjemput kebahagiaanku sendiri.


The End



Kembali ke Beranda