Gambar dalam Cerita
"bukankah sudah kukatakan, jangan biarkan putri Aneth selalu keluyuran tanpa seizinku !".
"maafkan saya pangeran. Saya dan para pengawal lain sama sekali tidak menyadari kalau putri Aneth keluar secara diam-diam".
"kalian memang tidak becus dalam menjaga satu orang saja. Sekarang kalau sudah begini bagaimana? Kalau sampai ayah dan ibu kembali dan tidak melihat Aneth, saya yang akan dianggap tidak bisa menjaga adik sendiri. Dasar Aneth.., sudah besar masih susah diatur".
"maafkan saya sekali lagi pangeran".
"tidak ada gunanya minta maaf. Sekarang kerahkan seluruh pengawal untuk mencari putri Aneth sampai ketemu. Cepat laksanakan..!".
"baik pangeran". Para pengawal lalu berpencar untuk mencari putri Aneth ke seluruh pelosok wilayah kerajaan Western.
Pangeran Arnold terus mondar mandir di ruang kerja karena mencemaskan putri Aneth, adik satu-satunya. "awas saja kalau dia sudah kembali. Akan kumarahi dia habis-habisan. Berani-beraninya dia selalu mengacuhkan perintahku ".
***
"apa tidak apa-apa putri, jika putri selalu datang ke tempat ini ? Bukankah putri pernah bercerita bahwa putri selalu dilarang untuk keluar jika bukan berhubungan dengan masalah kerajaan".
"tenang saja Alice, itu tidak masalah. Meskipun aku tau, setelah aku pulang akan mendapatkan kemarahan dari istana, tidak apa-apa. Yang penting sekarang aku bisa bersama denganmu Alice dan anak-anak asuhanmu yang lain".
"saya hanya tidak menyangka, putri kerajaan negeri ini bisa pergi ke tempat seperti ini. Putri terhormat seperti anda bisa berbaur dengan para rakyat miskin di sini".
"bagaimana pun, mereka semua tetap rakyatku. Justru aku heran denganmu, meskipun aku belum terlalu tahu asal usulmu, tapi dari segi penampilanmu kamu tidak seperti orang biasa. Setiap hari kamu selalu datang ke tempat ini mengurus anak-anak yang terlantar, membantu rakyat miskin. Apa sebenarnya kamu berasal dari keluarga bangsawan ?".
Alice tersenyum. "saya hanya rakyat biasa putri".
Tiba-tiba para pengawal kerajaan datang. "maaf putri, kami diperintahkan pangeran Arnold untuk membawa putri kembali ke istana".
"bagaimana kalian bisa tahu aku berada di sini ?".
"itu tidak penting putri. Yang jelas silahkan ikut kami sekarang ke istana. Jika putri masih menolak, sesuai perintah pangeran Arnold, kami harus membawa putri dengan paksa".
"putri Aneth, lebih baik anda segera kembali ke istana. Pangeran Arnold pasti cemas dengan keadaan anda".
Putri Aneth akhirnya ikut bersama pengawal kerajaan.
***
"sudah berulang kali kukatakan, kau jangan terlalu mencampuri urusanku !".
"bagaimana bisa aku tidak ikut campur. Ayah dan ibu menyuruhku untuk mengawasimu agar tidak selalu keluar dari istana. Ke mana saja kau seharian ini Aneth ?".
"itu bukan urusanmu. Aku paling tidak suka dilarang-larang".
"oh aku tahu. Pasti kau habis bertemu lagi dengan Alice. Gadis yang merubahmu menjadi seorang pembangkang".
"kau jangan menyalahkan Alice. Aku ke sana bukan semata-mata ingin bertemu dengannya, tapi aku peduli dengan rakyat miskin disana. Bukankah itu memang yang seharusnya dilakukan sebagai penguasa di negeri ini".
"kau jangan mengambil alasan terus Aneth. Ini terakhir kalinya aku peringatkan kepadamu".
Putri Aneth langsung meninggalkan pangeran dan menuju ke kamarnya.
***
Putri Aneth masih tidak jerah juga. Meskipun sudah diperingatkan oleh pangeran Arnold, dia tetap mengunjungi tempat itu.
"apa keluarga kerajaan tidak akan marah jika putri datang lagi ke sini ?".
"aku tidak peduli lagi Alice. Aku sudah muak dengan peraturan istana yang melarangku keluar-keluar. Terlebih pangeran Arnold, sungguh menyebalkan".
"bagus yah, kau memang tidak pernah mendengarkan aku Aneth !", kata pangeran yang secara tiba-tiba datang diikuti pengawalnya di belakang.
Mereka kaget bukan main. "apa yang kau lakukan disini ?".
"harusnya aku yang bertanya balik, bukankah sudah kuperingatkan agar tidak ke tempat ini lagi. Dan kau Alice. Sampai kapan kau akan terus menghasut putri Aneth ? Apakah kau ingin dihukum oleh pihak kerajaan karena beraninya melakukan ini".
"maafkan hamba pangeran, hamba tidak bermaksud....".
"jangan salahkan Alice", potong Aneth. "dia sama sekali tidak bersalah. Ini kemauanku sendiri untuk datang ke tempat ini".
"kau memang tidak bisa ditoleri Aneth. Sekarang cepat ikut aku ke istana".
"aku tidak mau".
"baik. Kalau begitu, pengawal akan membawamu dengan secara paksa".
Aneth kemudian dibawa paksa oleh para pengawal yang dibawa pangeran Arnold.
"apa kau punya rencana licik terhadap kerajaan Western, Alice ?".
"maafkan saya pangeran, saya tidak punya niat apa-apa".
"kau jangan berbohong. Berapa jumlah uang yang kau inginkan, agar tidak terus mempengaruhi pikiran putri Aneth ?".
"saya sama sekali tidak membutuhkan uang dari anda pangeran".
"ternyata kau memang gadis yang pandai bersandiwara. Ku ingatkan kau Alice, jangan berani membuat masalah jika kau tak ingin dibawa ke istana untuk menerima hukuman". Pangeran Arnold langsung pergi.
Alice menatap kepergian pangeran dengan wajah datar.
***
"aku heran denganmu. Mengapa kau begitu membenci Alice ?".
"karena dia sudah mempengaruhimu ".
"Alice bukan gadis jahat seperti yang kau pikirkan. Apa kau tidak bisa menilai saat pertama melihatnya. Dia begitu lembut, tidak terlihat seperti gadis jahat. Justru aku kagum padanya. Dia tidak tanggung-tanggung untuk membantu rakyat miskin meskpun aku tidak tahu asalnya".
"itulah yang kukhawatirkan. Bagaimana mungkin kau berani bergaul dengan gadis bahkan tidak kau tau asal-usulnya. Bisa saja kan dia dari keluarga penjahat. Sengaja mendekatimu karena ada niat jahat. Apalagi dia tahu kalau kau adalah adikku. Calon raja di negeri ini".
"aku rasa penilaianmu sangat salah. Aku bisa melihat kalau Alice tidak seperti dugaanmu. Dia sangat murah hati, begitu mencintai rakyat. Andai saja dia menjadi ratu dimasa yang akan datang, aku yakin rakyat Western akan makmur dan tentram".
"apa secara tidak langsung kau mengatakan agar menyuruhku untuk memilihnya sebagai calon istriku Aneth ? Jangan pernah bermimpi. Kau tahu, aku hanya akan menikahi gadis bangsawan. Bukan seperti Alice".
"kenapa kau selalu melihat orang hanya dari segi martabat dan kekuasaannya. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu. Mungkin kau memang berbeda dari pemuda-pemuda disana. Mereka begitu tergila-gila dengan Alice karena kecantikan dan kelembutannya.Tidak sedikit dari mereka yang mengajukan diri untuk menikahi Alice. Tapi kau, malahan membencinya. Benar-benar aneh ".
"mungkin mata para pemuda itu saja yang tidak beres".
"bukan, tapi mata kaulah yang tidak beres. Jika aku seorang pria, mungkin aku juga akan menyukai Alice. Sekarang aku tanya kepadamu, apakah kau sama sekali tidak ada perasaan suka terhadap Alice ?".
"pertanyaan konyol apa yang kau tanyakan itu Aneth ?". Pangeran Arnold langsung meninggalkan Aneth.
"sepertinya, dia tidak jujur dengan perasaannya", pikir Aneth.
***
Kala itu pangeran tengah berburu ke hutan tanpa diikuti pengawalnya. Karena sudah terlalu jauh memasuki hutan, tanpa disadari pangeran sudah tersesat tidak menemukan jalan keluar.
"akh sial..! mengapa aku bisa tersesat ? ini sudah hampir petang, dan persediaan makananku pun sudah habis. Kalau aku menunggu sampai pagi, aku bisa-bisa kelaparan disini".
Pangeran bisa melihat dari kejauhan seorang gadis membawa lentera. Gadis itu menuju ke arah pangeran.
Oh, betapa kagetnya dia saat mengetahui gadis yang menghampirinya itu adalah Alice.
"pangeran ? apa yang anda lakukan disini pangeran ?".
"itu bukan urusanmu !", kata pangeran dengan nada kasar.
"sepertinya anda tersesat. Bagaimana kalau anda ikut bersama saya. Tidak jauh dari hutan ini ada sebuah perumahan penduduk. Dan saya tinggal disana. Mungkin anda bisa beristirahat disana sampai menunggu matahari terbit dan pangeran baru bisa kembali ke istana".
"apa kau punya niat jahat terhadapku ?".
"tidak pangeran. Sebagai rakyat biasa, saya hanya berniat menolong anda, seorang calon pemimpin di negeri ini. Saya tidak ada maksud lain, hanya menawarkan bantuan. Karena saya lihat sepertinya pangeran sangat kelelahan dan tentunya lapar". Pangeran Arnold menatap Alice .
"percayalah pangeran, saya tidak punya niat jahat dengan anda. Saya hanya berniat menolong. Tapi jika anda tidak mempercayai saya dan tidak ingin ikut, tidak apa-apa".
"baiklah. Kali ini saya menerima bantuanmu. Tapi hanya untuk kali ini saja. Saya juga tidak ingin mati kelaparan dan kedinginan di sini".
Pangeran Arnold lalu mengikuti Alice.
Setelah mereka sampai, Alice mempersilahkan pangeran Arnold untuk masuk ke sebuah rumah yang kecil, yaitu tempat tinggalnya. Pangeran yang sedang duduk di ruang tamu kecil mengamati seluruh isi rumah. Tidak lama setelahnya, datanglah Alice membawa secangkir teh hangat.
"silahkan diminum teh hangatnya pangeran. Saya tahu tubuh anda pasti kedinginan".
Pangeran Arnold lalu menyesap teh hangatnya. "tunggulah sebentar disini pangeran, saya akan membuatkan makan malam untuk anda". Alice lalu masuk ke dapur memasak.
Beberapa lama kemudian, karena merasa penasaran, pangeran Arnold lalu menyusul Alice ke dapur.
Pangeran mendapati Alice sedang mempersiapkan makanan di meja makan yang menurut pikiran pangeran juga sangat kecil.
Alice menyadari keberadaan pangeran. Dia begitu terkejut saat melihat pangeran Arnold berdiri di dekat pintu. "Pangeran ? Apa yang anda lakukan disini ? Saya baru saja ingin memanggil anda setelah mempersiapkan makanan ini".
"aku hanya penasaran, makanya ke sini".
"kalau begitu, silahkan duduk disini pangeran. Maaf saya hanya menyiapkan seadanya. Dan tentu makanan ini tidak ada apa-apanya dibanding makanan yang anda makan di istana".
Pangeran Arnold lalu duduk. Alice juga ikut duduk berhadapan dengan pangeran. Pangeran kemudian mencicipi makanan tersebut. "maafkan saya jika makanan ini tidak sesuai selera anda pangeran".
"tidak. Justru makanan ini sangat lezat. Kau sangat pandai memasak Alice".
Alice hanya tersenyum.
Pangeran tertegun melihat Alice tersenyum. Dia memang sangat cantik , pikirnya.
"apa kau tinggal sendiri di sini ?".
"iya pangeran".
"apa kau tidak takut tinggal sendiri ?".
Alice hanya menggeleng.
"orang tuamu di mana ?".
"maaf pangeran, saya tidak bisa memberi tahu siapapun tentang keluarga saya".
"yah aku tau. Aku rasa, kau hanya akan memberi tahu jati dirimu kepada orang yang kau anggap penting dan istimewa di hatimu".
Alice mengerutkan dahinya mendengar perkataan pangeran.
"setelah ini, aku hanya ingin istirahat. Aku harus kembali ke istana pagi-pagi sekali agar para orang istana tidak merasa khawatir".
"jika anda ingin beristirahat, anda bisa tidur di kamar dekat ruang tamu pangeran".
"bukankah dirumahmu hanya ada satu kamar. Apa secara tidak langsung kau ingin kita tidur satu kamar".
Wajah Alice menunjukkan keterkejutan. "tidak pangeran. Silahkan anda tidur di kamar. Saya bisa tidur di ruang tamu".
"meskipun aku seorang pangeran, aku tidak mungkin membiarkan seorang gadis tidur di sebuah kursi yang keras dan dingin sedangkan aku enak-enakan tidur di sebuah kasur. Lebih baik, aku saja yang tidur di ruang tamu, dan kau tetap tidur di kamarmu".
"jangan pangeran. Lebih baik anda tidur di kamar. Saya tidak apa-apa jika harus tidur di ruang tamu. Saya sudah terbiasa".
"tapi tetap saja aku tidak bisa membiarkanmu. Sudah, jangan membantah lagi".
Pangeran kemudian keluar menuju ruang tamu. Alice menyusul pangeran.
"kalau bisa, aku hanya minta engkau memberikanku selimut".
"anda yakin ingin benar-benar tidur disini ?, saya benar-benar tidak enak membiarkan anda yang seorang pangeran negeri ini tidur di sebuah kursi yang keras".
"apa aku harus mengatakannya beribu kali agar kau baru percaya ?".
"kalau begitu baiklah pangeran, saya akan mengambilkan anda selimut". Alice lalu masuk ke dalam untuk mengambil selimut.
Setelah itu dia memberikannya pada pangeran Arnold.
"maafkan saya pangeran, karena tidak bisa melayani anda dengan baik".
"aku yang seharusnya minta maaf karena telah merepotkanmu".
"tidak pangeran. Anda tidak merepotkan saya sama sekali".
Pangeran Arnold menatap Alice lekat. "aku juga ingin minta maaf atas sikap kasarku padamu waktu itu. Aku sudah menuduhmu menghasut Aneth. Ternyata dia benar, kau memang gadis baik. Aku menyesal pernah menuduhmu".
"sudahlah pangeran. Anda tidak perlu mempermasalahkan itu".
"terima kasih Alice".
***
Keesokan paginya, pangeran Arnold berpamitan untuk pulang. "sekali lagi terima kasih atas bantuanmu kemarin Alice".
"sama-sama pangeran".
"kalau begitu, aku akan kembali sekarang ke istana".
"hati-hati pangeran".
Pangeran berjalan menuju kudanya.
Tapi tiba-tiba dia kembali menghampiri Alice.
"ada apa pangeran ?".
"em..., apa boleh aku berkunjung ke sini lagi".
Alice terkejut mendengarnya.
"kenapa engkau terkejut ?, atau ada yang marah jika aku menemuimu ?".
"tidak pangeran. Saya sama sekali tidak keberatan jika anda berkunjung ke sini lagi".
Pangeran Arnold tersenyum. "terima kasih Alice".
Pangeran Arnold lalu kembali ke istana.
***
Setelah kejadian itu, pangeran Arnold seringkali datang ke tempat Alice, terkadang ikut membantu saat Alice mengurusi para orang miskin yang sakit . Bahkan pangeran Arnold sering menyuruh pengawal untuk membawakan makanan kepada mereka. Jika tidak ada tugas negara, pangeran Arnold selalu menyempatkan diri ke rumah Alice.
Bahkan dia sering diam-diam ke sana, seperti yang pernah dilakukan oleh Aneth.
"pasti kau merasa bosan bukan, karena aku sering mengunjungimu".
"tidak pangeran. Anda jangan berpikir seperti itu".
"apakah kekasihmu tidak akan marah jika ada laki-laki yang selalu datang ke tempatmu ?".
Alice tersenyum. "saya tidak punya kekasih pangeran".
"aku tidak percaya. Aneth bilang, sudah banyak lelaki yang mengajukan diri untuk melamarmu. Dan pastinya tidak mungkin kau tidak menerima salah satu diantara mereka".
"tapi saya memang belum mempunyai kekasih pangeran".
"apa karena kamu belum menemukan lelaki yang cocok ?".
Alice hanya tersenyum.
"kalau aku yang mengajukan diri untuk melamarmu, bagaimana ?".
Alice terkejut "ba..bagaimana bisa pangeran bercanda seperti itu ?".
"aku tidak bercanda Alice. Jujur, aku memang sudah menyukaimu sejak pertama aku melihatmu. Tapi aku terlalu naif. Dan semakin lama aku dekat denganmu, aku tidak bisa membohongi perasaanku kalau aku sungguh mencintaimu".
"pangeran, saya hanya seorang rakyat biasa. Pangeran lebih berhak menikah dengan gadis bangsawan".
"aku tidak peduli Alice. Awalnya, aku memang berniat menikahi seorang gadis bangsawan. Tapi sekarang, aku tidak bisa. Aku sudah terlanjur mencintaimu".
"saya...".
"apakah kau ingin aku bawa ke istana ?, aku ingin memperkenalkanmu pada orang tuaku ?".
"maaf pangeran, saya belum siap dengan itu. Apakah pangeran bisa memberi saya waktu untuk berpikir".
"baiklah Alice, aku juga tidak akan terlalu memaksamu untuk memberi jawaban sekarang".
"jawaban apa yang kau tunggu dari Alice pangeran ?", kata Aneth yang datang secara tiba-tiba.
Pangeran Arnold terkejut melihat Aneth. "Aneth ?, apa yang kau lakukan di sini ?".
"justru aku yang seharusnya bertanya. Mengapa kau bisa berada di sini. Bukankah sekarang kau yang melanggar aturan istana".
"hey Aneth, kau tau aku datang ke sini karena urusan yang sangat penting".
"urusan penting apakah dengan Alice yang membuatmu datang ke sini secara diam-diam ?".
"kamu mau tahu saja urusan orang".
Aneth mendekati Alice dan memegang lengannya. "Alice, cobalah kau ceritakan kepadaku, hal penting apa yang dia katakan kepadamu ?".
Alice melihat ke arah pangeran.
"aku meminta Alice untuk menjadi istriku. Sudah puas kau sekarang ?".
Aneth terkejut, kemudian langsung tersenyum. "ternyata dugaanku benar, kalau kau memang ada perasaan pada Alice".
"tapi Alice masih meminta waktu untuk memikirkan tawaranku".
"yah, aku setuju dengan Alice. Kau memang tidak harus menjawabnya sekarang Alice. Kau harus memberi pelajaran kepada pangeran yang sombong ini. Biar bagaimana pun, dulu dia pernah menghinamu".
"heh Aneth, aku sudah menyesali perbuatanku dulu. Dan sebagai adikku, tidak seharusnya kau berkata seperti itu, menjelek-jelekkanku di depan Alice".
Alice hanya tersenyum melihat adik kakak itu adu mulut.
***
Seluruh keluarga istana berkumpul di ruang tamu.
"Arnold, ayah sudah sepakat dengan kerajaan Adorra, kerajaan tetangga untuk menjodohkanmu dengan putrinya".
Arnold dan Aneth kaget sekali mendengarnya.
"bagaimana pendapatmu. Ayah yakin kau akan setuju, dengan umurmu yang sekarang, kau sudah pantas untuk menikah. Apalagi calon ratumu nanti bukanlah orang biasa, dia adalah putri dari kerajaan yang sangat terkenal itu".
"aku tidak bisa ayah. Aku tidak bisa menikah dengan putri dari kerajaan Adorra".
"kenapa ? Putri itu terkenal sangat cantik dan lembut. Dia pintar dan sangat berjiwa besar. Walaupun ayah belum pernah melihat wajahnya, tapi ayah yakin dia memang seperti itu".
"ayah, aku tidak peduli dia secantik apa. Aku tidak bisa menikah dengannya karena aku mencintai gadis lain. Dan aku hanya ingin menikah dengan gadis yang aku cintai itu".
"memangnya siapa gadis itu ?".
"dia hanya seorang rakyat biasa yang tinggal di negeri kita".
"apa ?, kau tentu tahu sendiri Arnold, ayah hanya ingin kau menikah dengan gadis bangsawan".
"aku tahu ayah, tapi aku tidak mungkin meninggalkan gadis itu, aku sangat mencintainya. Selain cantik, dia juga berjiwa besar".
"yang dikatakan Arnold benar ayah, Alice adalah gadis yang sangat baik. Dan aku setuju jika dia yang menjadi ratu di masa yang akan datang, karena dia begitu mencintai rakyat", bela Aneth.
"tapi kau tetap harus bertemu dengan putri dari kerajaan Adorra, Arnold".
"baiklah, aku tetap akan menemuinya. Tapi hanya itu, aku tidak akan menikahinya".
***
Pangeran Arnold datang ke tempat Alice dengan wajah murung.
"kenapa wajah pangeran begitu murung, apakah pangeran ada masalah ? apa ini masalah kerajaan ?".
"Alice, aku dijodohkan oleh ayahku dengan putri dari kerajaan tetangga".
Alice terkejut.
"tapi aku menolaknya. Aku tidak mungkin menikah dengannya karena gadis yang ingin aku nikahi hanya dirimu. Tapi ayah terus memaksaku untuk bertemu dengannya".
"kalau begitu, anda harus menemui putri itu".
"iya, aku memang akan menemuinya. Dan aku akan berkata kepadanya kalau aku mencintai gadis lain". Pangeran Arnold menatap Alice lekat. "tapi seharusnya kau memberi jawaban sekarang Alice, katakan kalau kau juga mencintaiku. Jadi aku lebih mantap mengatakan kepada putri itu bahwa kita saling mencintai".
"saya akan mengatakan itu apabila pangeran sudah bertemu dengannya. Karena bisa saja saat melihat putri itu, pangeran langsung jatuh hati padanya".
"itu tidak mungkin Alice. Walaupun kata ayahku dia sangat cantik, tapi bagiku tidak ada gadis yang lebih cantik dibandingkan dirimu. Dan aku hanya mencintaimu".
"tapi dia sederajat dengan anda pangeran. Anda dan dia sama-sama bangsawan".
"sudah kukatakan, aku tidak peduli dengan derajat atau martabat. Yang kubutuhkan sekarang hanyalah cinta".
Arnold memegang kedua tangan Alice. "kau harus berjanji bahwa setelah aku menemui putri itu, kau harus mengatakan kalau kau juga mencintaiku dan bersedia menikah denganku".
Alice mengangguk sambil tersenyum.
Pangeran Arnold juga tersenyum. "Alice, bolehkah aku mencium keningmu ?".
Alice terkejut dan langsung melepaskan tangannya yang dipegang pangeran Arnold.
"kenapa ? aku hanya ingin mencium keningmu, hanya itu. Apakah tidak boleh ?".
"belum saatnya juga pangeran".
"terus kapan ? apakah setelah aku menemui putri itu lagi ?".
Alice hanya mengangguk.
Pangeran Arnold mendengus kesal. "kau memang sangat suka menggantungku Alice".
Alice tersenyum tipis.
***
Pesta dilaksanakan oleh kerajaan Adorra. Semua bangsawan dari kerajaan tetangga menghadiri pesta tersebut. Terlihat raja kerajaan Adorra memberikan senyum kepada para tamu yang datang.
Raja dan ratu kerajaan Western beserta pangeran Arnold dan putri Aneth menghampiri Raja Charles.
"akhirnya anda dan sekeluarga datang raja Ferrald. Aku jadi iri dengan keluarga besar kalian. Didampingi ratu dan putra putri yang tampan dan cantik".
"anda bisa saja". Raja Ferrald tersenyum. "ngomong-ngomong, dimana putrimu yang cantik itu ?".
"mungkin sebentar lagi dia akan datang. Apa pangeran Arnold sudah tidak sabar melihatnya", ucapnya melirik ke arah pangeran Arnold.
"maafkan aku raja Charles. Aku tidak bisa menikah dengan putri anda. Aku sudah mencintai gadis lain".
"apa-apaan kau ini Arnold. Beraninya berkata seperti itu pada raja Charles", ucap raja Ferrald geram.
"aku hanya ingin mengatakan yang sebenarnya ayah sebelum raja Charles salah paham. Dan sebelum putri raja Charles juga salah paham".
Raja Charles malah tertawa. "tidak apa-apa raja Ferrald. Aku kagum dengan keterus terangan pangeran Arnold. Kalau memang dia sudah punya calon istri lain, tidak apa-apa. Bukankah pernikahan tidak bisa dipaksakan".
"maaf atas kelancangan anakku raja Charles".
"maafkan saya Raja Charles. Saya tidak bermaksud...".
"tidak apa-apa, aku maklum. Tenang saja pangeran Arnold, aku hanya ingin mengenalkanmu dengan putri semata wayangku. Jika kalian tidak bisa menikah, kalian kan bisa berteman. Lagipula, aku bisa menikahkan putriku dengan pangeran lain dari dari negara tetangga, karena memang sudah banyak yang mengajukan diri untuk melamarnya".
"terima kasih raja".
Beberapa lama kemudian, turunlah seorang gadis cantik dari tangga yang membuat semua orang terpukau terutama kaum pria.
Gadis itu mendekat ke arah raja Charles.
"nah, itu dia putriku", ucap raja Charles menunjuk.
Pangeran Arnold dan putri Aneth begitu terkejut melihatnya. "Alice ?".
Yah, putri Alice mendekati raja Charles dengan tersenyum. "ini dia putriku yang telah aku ceritakan".
Pangeran Arnold seperti tidak percaya yang dilihatnya adalah Alice.
"ternyata putrimu memang sangat cantik. Sungguh disayangkan aku tidak bisa menjadikannya sebagai menantuku".
"Alice ? benarkah ini kau ?".
"loh Pangeran sudah mengetahui nama putriku ?".
"Arnold, darimana kau tahu nama putri raja Charles, bukankan aku tidak pernah memberitahumu".
Pangeran Arnold masih terpaku menatap Putri Alice yang tersenyum padanya.
Seorang pangeran mendekati Alice. "maaf raja Charles, bolehkan saya mengajak putri Alice untuk berdansa ?, saya mendengar bahwa anda sudah menjodohkan putri Alice dengan pangeran lain. Apakah dia yang calon suaminya ?", ucapnya menunjuk pangeran Arnold.
Pangeran Arnold terkejut mendengarnya.
"itu terserah dari Alice. Kebetulan perjodohan mereka dibatalkan. Jadi Alice bukan milik siapa-siapa untuk sekarang".
"baiklah. Putri Alice, apakah anda ingin berdansa denganku ?", ucapnya mengulurkan tangan.
Alice hanya tersenyum. Saat dia ingin memegang tangan pangeran tersebut...
"hentikan !". Semuanya kaget. "jangan berani kau ajak dia berdansa denganmu karena dia milikku".
"apa yang kau katakan Arnold ?", raja Ferrald tampak bingung.
"Alice, kenapa kau diam saja ? bukankah kau harus menjelaskan ini semua padaku. Kau sudah tidak jujur padaku. Kau bilang hanya rakyat biasa dari kerajaan Western. Tapi nyatanya, kau adalah putri raja Charles dari kerajaan Adorra".
"iya Alice. Aku kira kau hanya rakyat biasa", tambah Aneth.
"tunggu, apa kalian sudah saling mengenal sebelumnya ?, kau juga Aneth ?", tanya raja Ferrald.
"Alice, jadi kau sudah kenal dengan pangeran Arnold ?", tanya raja Charles.
"raja Charles dan ayah serta semuanya, dengar..., sebenarnya gadis yang aku cintai itu adalah Alice. Aku tidak tahu ternyata Alice adalah putri dari kerajaan Adorra. Selama ini aku hanya mengenal dia sebagai rakyat biasa yang tinggal disebuah kampung terpencil di wilayah kerajaan Western".
"oh rupanya selama ini kau ke sana Alice, yang katamu sedang mengerjakan urusan penting, makanya meninggalkan istana beberapa hari ?". Tanya raja Charles memicingkan mata.
"itu memang urusan penting ayah. Aku ke sana membantu para warga miskin, karena mereka begitu menderita".
"baiklah aku terima.Tapi bagaimana tentang pangeran Arnold ?".
"aku sudah lama mengenalnya ayah".
"dan kau juga sudah berhubungan dengannya ?".
"saya memang sering menemui putri Alice, raja Charles. Saya begitu mencintainya, makanya saya menolak saat ayah ingin menjodohkan saya, karena saya hanya ingin menikah dengannya", ujar Arnold angkat bicara.
"aku benar-benar tidak menyangka dengan semua ini", ucap raja Charles.
"bukankah kau harus menepati janjimu Alice ?".
"apa itu masih perlu pangeran ?".
"tentu saja. Aku ingin kau mengatakan kalau kau mencintaiku dan bersedia menikah denganku di hadapan semua orang".
"baiklah. Aku..., aku mencintai pangeran Arnold dan bersedia menikah dengannya. Apakah sekarang anda puas pangeran ?".
Pangeran Arnold tersenyum. Bukan hanya dia, tapi raja Charles beserta orang tua pangeran Arnold dan putri Aneth tersenyum bahagia.
"tentunya aku puas Alice, tapi masih ada satu lagi yang kau lupa ". Pangeran Arnold mendekati putri Alice kemudian mencium keningnya mesra.
Putri Alice jadi tersipu malu. "tidak seharusnya anda melakukan ini di tempat ramai pangeran".
"aku tidak peduli. Dan ini hukumanmu karena tidak jujur padaku ".
The End