Gambar dalam Cerita
Shogoro merupakan sejenis Tsukumogami, sesosok arwah yang tinggal dalam benda rumah tangga. Dalam kasus ini, Shogo yang hidup. Sebuah gong berbentuk mangkok yang dilengkapi dengan pemukul dan digunakan dalam kebaktian agama Budha. Sebuah Shogo seringkali dipakai sampai beberapa kali. Ia terbuat dari besi. Jadi bisa tahan lama sebelum pecah. Sebuah gong yang telah rusak dan tidak bisa mengeluarkan suara bagus akan disimpan sampai ia terlupakan (atau mungkin ia menjadi salah satu saksi kriminal yang mengerikan) merupakan kandidat yang ideal untuk hidup menjadi yokai.
Seperti Nay Tsukumogami, Shogoro tidak berbahaya. Selebihnya, mereka hanya membuatmu terkejut. Mereka akan berkeliling pada malam hari seperti kura-kura besi, membenturkan tubuh mereka dan membunyikan nada mereka pada malam hari. Hal itu mungkin menyebabkan kau tidak bisa tidur nyenyak, tapi tidak lebih dari itu.
Nama Shogoro merupakan permainan kata-kata. Itu merupakan kombinasi dari Shogo, gong, dan goro, bagian nama biasa dari seorang anak laki-laki. Kata ini juga bisa dibaca sebagai kombinasi dari Shogo dan Goryo, hantu dari bangsawan atau aristokrat berabad-abad yang lalu. Goryo merupakan hantu yang berada di atas Yurei. Ia memainkan bagian besar dalam banyak cerita hantu Jepang.
Pada awal abad ke-18, ada sebuah keluarga pedagang kaya yang disebut Yodoya tinggal di Osaka. Selama beberapa generasi, Yodoya merupakan raja dari perdagangan padi. Mereka mampu mengumpulkan banyak uang. Generasi kelima, Yodoya Tatsugoro, memiliki banyak uang. Ia hidup sangat kaya hingga menarik perhatian dari Bakufu (sesuatu seperti polisi militer). Bakufu memutuskan bahwa keluarga Yodoya telah mengumpulkan terlalu banyak kekayaan. Mereka satu-satunya keluarga kaya. Hal itu tidak patut karena rakyat biasa memiliki kekayaan yang sangat banyak. Kekuatan ekonomi mereka berada di atas negara. Jadi, Bakufu mengambil semua yang Yodoya Tatsugoro miliki: padinya, bisnisnya, rumahnya, segala impiannya. Keluarga Yodoya hancur. Tatsugoro menjadi melarat. Bahkan benda tersayangnya, ayam emas yang disebut "Kogane no Niwatori)" telah diambil darinya. Kehilangan ayam emasnya yang berharga menyebabkan Tatsugoro sangat sedih hingga akhirnya ia meninggal dunia. Karena sebab kematiannya yang tidak menyenangkan ini, hantunya tidak bisa tenang. Normalnya, saat sesosok hantu gentayangan seperti ini akan mengikatkan diri pada objek yang menjadi hasratnya. Bisa jadi orang, tempat, atau dalam kasus ini adalah benda. Jiwa Tatsugoro bermaksud mengikatkan diri pada Kogane no Niwatori-nya yang berharga. Di Jepang, kata untuk gong dan emas bisa dibaca "kane". Malangnya hantu Tatsugoro yang bingung mengikatkan diri pada Shogo terdekat, bukannya ayam emasnya. Alat musik ini berubah menjadi Tsukumogami.