Gambar dalam Cerita
Imori merupakan hantu dari prajurit yang telah tewas, lalu berubah menjadi tokek. Mereka menghantui tempat dimana mereka kehilangan nyawa. Mereka mengusik dan menyerang para pejalan kaki.
Nama yokai ini sedikit membingungkan. Namanya tertulis dengan huruf kanji untuk tokek yang biasanya diucapkan "Yamori". Tapi dalam kasus ini, namanya dilafalkan dengan ucapan "Imori" yang berarti kadal. Saat ditulis menunjukkan bahwa ia merupakan hantu tokek, tapi saat diucapkan ia terdengar seperti hantu kadal. Sebenarnya, ia merujuk pada hantu tokek.
Pada zamam dahulu kala di Provinsi Echizen, hiduplah seorang biksu bernama Jingai Shuso. Ia merupakan biksu dari sekolah Soto. Ia hidup bertapa di pegunungan dan tinggal di dalam hutan yang lebat. Ia tidak mengindahkan orang-orang dari desa setempat yang ingin membawanya kembali. Ia lebih memilih menghabiskan seluruh waktunya untuk bertapa.
Pada suatu hari di dekat tempat pertapaannya di reruntuhan istana Yu-no-o, saat sedang membaca, ia kedatangan tamu seorang laki-laki kecil (tingginya sekitar lima atau enam inci) yang mengenakan topi hitam dan membawa tongkat. Laki-laki itu lalu berbicara padanya. Sebagai biksu yang baik, Jingai tidak membiarkan orang asing itu mengganggu belajarnya. Ia tetap melanjutkan membaca. Hal ini membuat si laki-laki marah. Lelaki kerdil lalu memprotes pada si biksu karena mengabaikannya sedangkan ia berdiri tepat di sana. Lagi, Jingai mengabaikan si manusia kerdil yang kemudian berubah menjadi sangat marah. Ia melompat ke atas tongkatnya dan terbang ke arah Jingai yang langsung menghalaunya dengan kipas. Si laki-laki kerdil jatuh ke tanah dan bersumpah akan membalas dendam pada Jingai.
Tidak lama setelah itu, lima wanita yang tingginya sekitar lima sampai enam inci datang pada Jingai. Mereka memprotes tentang bagaimana ia memperlakukan si laki-laki tua. Sementara mereka protes, di sekitar mereka muncul 10.000 orang kerdil dengan tongkat dan lengan baju terangkat. Mereka mengerumuni Jingai dan memukulinya dengan tongkat mereka. Itu seperti sekelompok prajurit semut mini sedang menyerangnya. Di kejauhan, ia bisa melihat sang jenderal: seorang laki-laki kerdil berpakaian merah dan memakai helm merah.
Si jenderal mini berteriak, "Keluar dari sini dan jangan pernah kembali, atau kami akan mengeluarkan matamu serta mengiris telinga dan hidungmu!"
Bersamaan dengan itu, beberapa lelaki mini telah memanjat sampai pundak Jingai. Mereka mulai menggigit telinga dan hidungnya. Jingai menghalau mereka dan kabur.
Si biksu melarikan diri dari gerombolan mini itu ke pintu gerbang rumah terdekat. Saat ia sampai di sana, sudah ada ribuan orang-orang mini yang membuatnya terjatuh.
Si jenderal berkata padanya, "Kami dengar kau telah bersikap kasar pada teman kami. Sebagai hukuman, kami akan memotong kepala dan kakimu!"
Ribuan katana mini ditarik dari sarung pedang mereka. Jingai lalu dikepung. Jingai yang ketakutan segera meminta maaf karena telah menyakiti hati mereka. Ia meminta mereka untuk membebaskannya. Si jenderal mengatakan padanya jika ia benar-benar menyesal, maka mereka akan membebaskan dirinya. Si jenderal menyuruh anak buahnya untuk mengusir Jingai dari gerbang. Jingai berhasil keluar dari sana.
Hari berikutnya, membayangkan apa yang terjadi, Jingai menyelidiki arah dari mana ia datang. Ia menemukan sebuah lubang besar di tanah yang dikelilingi sekawanan tokek. Ia lalu mengumpulkan beberapa penduduk desa untuk membantunya menggali lubang. Lubang itu memiliki kedalaman lebih dari tiga meter dan berisi lebih dari 20.000 tokek! Jauh di dalam, ia menemukan tokek yang memiliki panjang 12 inci. Ia menyadari bahwa tokek tersebut pasti si jenderal.
Penduduk desa yang paling tua menjelaskan pada Jingai bahwa dahulu kala, sekutu dari Nitta Yoshida membangun sebuah istana di dekat sana. Kemudian, istana tersebut hancur karena perang. Jiwa pemilik istana dan para prajurit yang mati menghantui sisa-sisa reruntuhan istana. Sejak itu, mereka telah menyebabkan kerusakan di wilayah tersebut.
Jingai mulai berdo'a untuk memberikan penghormatan yang layak. Saat ia selesai berdo'a, ribuan tokek itu hancur. Jingai dan para penduduk desa merasa kasihan pada arwah-arwah tersebut. Mereka mengumpulkan mayat-mayat dan membakarnya dalam prosesi pemakaman. Mereka memberikan penguburan yang layak dengan abu gunung untuk membangun pemakaman bagi para Imori.