SI KUCING DAN SI SEMUT
Fantasy
19 Jan 2026

SI KUCING DAN SI SEMUT

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-19T234615.410.jfif

download - 2026-01-19T234615.410.jfif

19 Jan 2026, 16:46

download - 2026-01-19T234513.947.jfif

download - 2026-01-19T234513.947.jfif

19 Jan 2026, 16:46

Alkisah, terdapat sebuah kota di mana penduduknya sangat menyukai kucing. Hampir seluruh rumah memelihara setidaknya seekor kucing. Di kota ini, tidak ada seekor pun kucing yang hidup di jalanan—seluruh kucing yang berada di sana merupakan kucing peliharaan. Tentu saja, para kucing ini dipelihara dengan sangat baik. Mereka diberi makanan kucing bermerek, diberi minum, bahkan memiliki jadwal khusus bermain. Tidak hanya itu. Mereka juga memiliki kamar tidur sendiri, walau berukuran lebih kecil dari kamar manusia.

Berawal dari kecintaan terhadap kucing, perlahan tapi pasti para kucing ini beralih menjadi simbol kekayaan pemiliknya. Tiap penduduk seolah berlomba untuk memamerkan kekayaannya melalui kucing peliharaan mereka. Mereka sibuk mengunggah potret kucing peliharaan mereka mengenakan pakaian mahal, bermain di tempat bermain yang didesain khusus, medali yang dimenangkan dari berbagai perlombaan antarkucing, atau bahkan saat mereka membawa kucing mereka berjalan-jalan ke luar negeri.

Seorang saudagar kaya di kota itu bukan pengecualian.

Saudagar itu mendiami sebuah rumah megah di tengah kota. Dia merupakan salah satu orang paling kaya di kota tersebut dan sebagai salah satu bukti kekayaannya, dia memelihara lima ekor kucing. Semua merupakan kucing ras yang harganya terbilang mahal. Masing-masing kucing memiliki kamar dan asisten yang bertugas merawat mereka. Tiap kucing bahkan memiliki akun media sosial yang dikelola oleh seseorang yang dipekerjakan oleh si saudagar.

Kelima ekor kucing itu juga diberi nama. Salah satunya, yaitu seekor kucing gendut berbulu putih dan cokelat keemasan, bernama Dino dan baru berumur satu tahun. Dino merupakan kucing kesayangan putri si saudagar, oleh karena itu kerap mendapatkan perlakuan istimewa. Hal ini pun membuat Dino tumbuh menjadi kucing yang manja dan sering berperilaku buruk terhadap keempat kucing yang lain. Alhasil, Dino tidak memiliki teman dan lebih sering bermain sendirian. Namun, tentu saja Dino tidak peduli. Dia memiliki banyak mainan dan tidak kekurangan apa pun. Ditambah lagi, jadwalnya cukup padat lantaran baru-baru ini Dino didapuk menjadi model untuk salah satu merek makanan kucing ternama.

Sore itu, Dino baru saja pulang setelah menjalani sesi pemotretan. Ketika hendak duduk di kamarnya, dia melihat seekor semut berjalan keluar dari piring makannya. Sebelum ini, Dino tidak pernah melihat semut di piring makannya lantaran sang asisten selalu telaten membersihkan piring makan mereka. Akan tetapi, hari ini sang asisten tengah keluar sebentar akibat suatu urusan mendadak, dan tidak sempat membersihkan sisa-sisa makanan di piring Dino.

Terkejut, Dino hanya dapat membelalak selama sepersekian detik. Kemudian, dia sadar apa yang sedang terjadi. Semut itu sedang mengangkut remah-remah. Semut itu mencuri makananku! pikir Dino. Dia pun menjulurkan cakarnya, berusaha menggapai si semut. Dino berhasil. Semut itu terguling dan menjatuhkan remah-remah yang dia bawa.

"Ha! Rasakan itu!" seru Dino penuh kemenangan.

Si semut bangkit dengan susah payah dan balas berteriak, "Kenapa kau melakukan itu?"

Dino mengeluarkan dengusan kesal. "Kau sedang mencuri makananku. Seharusnya kau meminta maaf. Dasar semut tidak tahu malu!"

Si semut menatap Dino sejenak. Kelihatannya dia baru menyadari siapa yang tengah berbicara dengannya. "Oh, jadi kau pemilik kamar ini?"

Itu benar-benar pertanyaan bodoh. Siapa lagi kucing yang akan memiliki kamar sebesar ini selain aku? pikirnya. Dino mengangguk. Dadanya membusung penuh kebanggaan. "Benar," jawabnya.

Dino mengira si semut akan menatapnya penuh kekaguman begitu mengetahui identitasnya. Namun, alih-alih terpukau, semut itu malah memberinya tatapan datar seraya menunjuk remah-remah yang tadi dia jatuhkan. "Kalau begitu ... boleh, kan, aku membawa itu? Kau memiliki banyak makanan, jadi permintaanku pasti bukan masalah besar," pintanya.

Ucapan si semut benar. Dino bahkan tidak akan memakan sisa-sisa makanan di piringnya lantaran asistennya akan mengganti makanan itu dengan yang baru, tapi nada bicara si semut membuat Dino kesal. Seharusnya semut itu memohon dengan lebih rendah hati, bukannya dengan nada arogan begitu. Bagaimanapun, dia sedang meminta makanan Dino.

"Kau tidak tahu bagaimana cara meminta dengan lebih sopan?" tukas Dino.

Semut itu menatapnya lama hingga Dino menjadi tidak nyaman. "Bukankah aku sudah bertanya dengan cukup sopan?" balas si semut.

Dino menyimpulkan bahwa semut itu tidak pernah diajarkan sopan santun. "Seharusnya kau bertanya seperti ini. Dino yang baik, bolehkah aku meminta makananmu?"

Semut itu terhenyak kaget. "Oh, jadi kau kucing bernama Dino?

Dino lagi-lagi membusungkan dada dengan bangga. Rupanya dia populer! Sudah sepantasnya. Bagaimanapun, dia memiliki paling banyak pengikut di media sosial ketimbang keempat kucing lain di rumahnya. "Benar," jawabnya. "Namaku Dino. Kau pasti sering mendengar tentangku, kan?"

"Ya. Kudengar kau kucing yang sombong, egois, dan tidak punya teman."

Kini ganti Dino yang terhenyak kaget hingga nyaris terjerembap. Tidak punya teman barangkali benar, tapi sombong dan egois? Dino tidak merasa pernah bersikap seperti itu. Bukankah dia selalu menyapa setiap kucing yang dia temui? Merekalah yang tidak pernah balas menyapa. Bukankah itu berarti merekalah yang seharusnya disebut sombong?

"Pasti ada kesalahan," tukas Dino, sedikit gusar. "Katakan, dari mana kau mendengarnya?"

"Dari banyak sumber," jawab si semut santai, kelihatannya tidak menyadari kegundahan Dino. Dia mengangkut remah yang tadi dia jatuhkan. "Kalau kau tidak keberatan, Dino yang baik, bolehkah aku membawa ini?"

Kendati si semut mengucapkannya sesuai dengan yang diinginkan Dino, entah kenapa kalimat itu lebih terdengar seperti sindiran. Dino berusaha menyibukkan diri dengan menjilat-jilat bulunya, akan tetapi dia tak bisa mengenyahkan ucapan semut tadi dari benaknya. Ini pertama kalinya Dino mendengar dia dikatai sombong dan egois. Dan Dino benar-benar terganggu akan hal itu.

Dino terus merasa terganggu hingga keesokan harinya tidak menghabiskan sarapannya. Dino juga tidak terlalu merespons ajakan bermain dari putri si saudagar, sampai-sampai gadis cilik itu duduk di sampingnya dengan wajah cemas lantaran mengira Dino sedang tidak enak badan. Tentu saja, Dino berusaha menjelaskan bahwa dia baik-baik saja. Akan tetapi, bagi manusia yang terdengar hanyalah bunyi mengeong yang tidak mereka pahami. Akhirnya, Dino pun menyerah dan memilih untuk bergelung diam-diam di atas kasur empuknya.

Setelah beberapa hari, Dino berhasil melupakan kata-kata si semut dan kembali menjalani aktivitas normalnya seperti biasa. Ketika baru saja menghabiskan makan siangnya, Dino lagi-lagi bertemu dengan si semut. Hanya saja, kali ini semut itu khusus datang untuk mengobrol dengan Dino, bukannya untuk meminta makanan.

"Hai," sapa si semut.

Dino menjilat-jilat cakarnya, dan baru sadar kalau dia belum tahu nama si semut. "Kau belum memberitahuku namamu," ucap Dino.

Si semut tertawa. "Aku kaget kau masih mengingatku. Namaku Mumut. Apa kabar, Dino?"

"Baik," jawab Dino, meski suasana hatinya kembali memburuk lantaran pertemuan dengan Mumut membuatnya teringat lagi akan ucapan Mumut beberapa hari yang lalu.

Mumut mengamati raut wajah Dino. "Tidak terlihat begitu. Jangan-jangan ... akibat ucapanku waktu itu?" godanya.

Dino memberengutkan wajahnya. Tebakan Mumut benar dan dia tidak suka itu. Dino tidak suka jika pikirannya terlalu mudah ditebak. Namun, di sisi lain, Dino tidak pandai berbohong, jadi dia tidak dapat menyangkal perkataan Mumut. Akhirnya, dia hanya bergelung dengan malas di kasurnya.

"Kau tahu kenapa mereka mengataimu sombong?" tanya si semut.

"Karena mereka iri, barangkali," jawab Dino asal-asalan.

Mumut mengangguk. "Separuh benar. Mereka memang sedikit iri karena kau lebih populer ketimbang mereka di media sosial, tapi masalahnya, mereka memang tidak terlalu menyukaimu bahkan sebelum kau dibuatkan akun media sosial."

Dino menguap lebar-lebar. Ini sudah hampir jam tidur siangnya. "Bukan salahku jika aku menjadi kucing kesayangan."

"Memang," Mumut mengiakan. "Masalahnya terletak pada sikapmu. Sebagai contoh, bukankah kau tidak pernah membiarkan mereka ikut mencicipi makananmu? Padahal kau tahu betul kalau putri si saudagar membelikanmu makanan yang paling mahal."

Dino terdiam. Apa yang dikatakan oleh Mumut benar. Kendati makanan mereka semua merupakan makanan bermerek, tapi Dino tahu kalau makanan yang diberikan padanya lebih mahal daripada makanan keempat kucing yang lain dan dia memang tidak pernah bersedia membaginya dengan mereka sebab Dino berpendapat bahwa miliknya adalah miliknya. Bukan untuk dibagi-bagi.

"Jika aku membaginya dengan mereka, lalu bagaimana denganku?" protes Dino.

"Yah, kau tak perlu membagi seluruhnya. Seperlunya saja. Hanya agar mereka juga dapat merasakan seperti apa rasanya makanan yang lebih mahal dari makanan mereka. Lagi pula, kau juga jarang menghabiskan makananmu."

"Bagaimana jika mereka menghabiskannya?"

"Menurutku, mereka kucing yang baik. Jadi, mereka tidak akan melakukannya. Kalau tidak percaya, kau coba saja."

Dengan serius, Dino mempertimbangkan kata-kata Mumut. Keesokan harinya, Dino mengundang keempat kucing yang lain ke kamarnya dan menawarkan mereka untuk mencicipi makanannya. Mereka tampak terkejut dan untuk sesaat mereka saling bertukar pandang, tapi kemudian mereka menerima tawaran Dino dengan senang hati. Tepat seperti ucapan Mumut, mereka tidak menghabiskan makanan Dino, melainkan hanya mencicipinya sedikit, kemudian kembali ke kamar mereka masing-masing setelah mengucapkan terima kasih.

"Kau benar," kata Dino ke Mumut ketika mereka bertemu lagi—entah untuk ke berapa kalinya. Sekarang Mumut cukup sering berkunjung ke kamar Dino untuk berbincang-bincang, bukan hanya sekadar untuk meminta remah makanan Dino. Sejujurnya, kini Dino sangat tidak keberatan untuk berbagi makanannya dengan Mumut. Sering kali, dia bahkan mempersilakan Mumut untuk mengajak teman-temannya datang agar dapat membawa lebih banyak remah-remah makanan ke sarang mereka.

"Benar tentang apa?" tanya Mumut.

"Tentang banyak hal," balas Dino dengan riang. Dia mendapat banyak nasihat dari Mumut tentang bagaimana menjadi kucing (atau pribadi) yang baik dan setelah mengikutinya, kini Dino sudah berteman akrab dengan empat kucing yang lain. Mereka bahkan kerap mengajak Dino bermain bersama setelah sesi pemotretan Dino selesai.

Mumut tertawa. "Sekarang tidak ada lagi yang mengataimu egois dan sombong. Kelihatannya kau mengikuti petunjukku dengan baik," ucapnya.

"Sebenarnya, sulit untuk melakukannya," sahut Dino jujur. Selama ini Dino sudah terbiasa menjadi kucing yang seluruh kemauannya diikuti. Dia terbiasa bersikap seenaknya tanpa memedulikan perasaan kucing yang lain. Jadi, untuk mengubah itu terasa sangat berat, bahkan Dino dulu merasa tak rela sewaktu harus menawarkan makanannya pada kucing yang lain.

Salah satu faktor yang mendorong Dino untuk terus mengikuti saran Mumut adalah, karena melakukannya memberikan Dino perasaan nyaman. Ketika untuk pertama kalinya membagi makanannya, Dino merasa bahagia. Ketika melihat teman-temannya dapat turut mencicipi makanan favoritnya, Dino merasa senang. Itu adalah perasaan yang sebelumnya tak pernah Dino rasakan.

Sekarang Dino menyadari kalau dulu dia tak bahagia. Meski Dino tak kekurangan apa pun, bahkan memiliki jadwal yang padat setiap harinya, tapi dia tak merasa senang. Dino tahu ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Namun, dia tak tahu apa itu. Akan tetapi, dengan bantuan Mumut, kini Dino pun menjadi jauh lebih bahagia.

"Berbagi dengan yang lain memang dapat memberikan perasaan menyenangkan," kata Mumut. "Selama kau melakukannya dengan tulus. Hal-hal baik akan menjadi semakin baik bila dibagi."

Dino mendengarkan dengan saksama. "Terima kasih banyak atas bantuanmu selama ini, Mumut," katanya. "Jika bukan karenamu, hari ini aku pasti masih menjadi kucing egois dan sombong yang tak suka berbagi."

Mumut tertawa. "Jangan berterima kasih padaku. Itu semua karena kau sendiri yang mau berusaha untuk menjadi lebih baik. Peranku hanyalah memberitahumu beberapa hal."

Dino melipat kedua kaki depannya ke bawah tubuh. Itu benar, tapi justru di situlah bagian yang paling penting.

Selama ini, tidak pernah ada yang mengatakan pada Dino bahwa perilakunya buruk. Mereka semua lebih memilih untuk menjauhinya, tanpa memberi Dino kesempatan untuk menjadi lebih baik atau bahkan untuk menyadari kalau dia belum menjadi kucing yang baik, sedangkan putri si saudagar selalu memuji-muji Dino. Demikian juga halnya dengan orang-orang serta kucing-kucing lain yang dia temui di lokasi pemotretan. Mereka semua selalu memuji betapa bagusnya bulu Dino serta betapa manis Dino.

Dari Mumut-lah untuk pertama kalinya Dino menyadari kalau perilakunya selama ini terbilang buruk.

Dan, Mumut tidak hanya berhenti sampai di situ. Dia juga membantu Dino untuk memperbaikinya. Jika tadinya Mumut tidak membantu, Dino yakin kalau hingga hari ini dia pasti masih menjadi Dino yang sama. Dia tahu kalau kelakuannya buruk, tapi tidak tahu bagaimana cara mengubahnya. Pada akhirnya, hal tersebut hanya akan membuat Dino frustrasi dan malah menjadi pribadi yang lebih buruk.

"Kau adalah teman yang baik, Mumut. Terima kasih," ucap Dino dengan tulus.

Itulah kesimpulan akhir yang didapat oleh Dino. Teman yang baik bukan teman yang selalu memujimu, melainkan berani untuk mengungkapkan kekuranganmu serta membantumu untuk memperbaikinya. Memang benar, selalu mendapat pujian itu menyenangkan, tapi itu tidak membantunya untuk menjadi lebih baik. Pujian malah membuatnya selalu merasa lebih tinggi daripada kucing yang lain tanpa menyadari kalau dia masih bisa berkembang menjadi lebih baik lagi.

Sebaliknya, kritikan tidak selalu mengenakkan untuk didengar. Malah Dino merasa kesal mendengarnya. Kejujuran selalu menyakitkan. Itu benar. Akan tetapi, dari kejujuran Mumut-lah Dino mendapat kesempatan untuk menyadari kekurangannya dan pada akhirnya kesadaran diri itu membawa Dino ke arah yang lebih baik—tidak hanya bagi dirinya tapi juga bagi lingkungan di sekitarnya.

Demikianlah, pada akhirnya Dino pun hidup berbahagia di rumah si saudagar bersama empat kucing temannya, serta Mumut si semut.

Kembali ke Beranda