Di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan hutan bambu, hiduplah sepasang kakak beradik bernama Dika dan Rani. Dika adalah kakak yang berusia sepuluh tahun, sedangkan Rani adiknya yang baru berusia tujuh tahun. Mereka tinggal bersama Ayah dan Ibu di rumah kayu sederhana.
Dika selalu merasa dirinya harus menjadi yang paling hebat. Kalau bermain, ia ingin selalu menang. Kalau membantu Ibu, ia ingin dipuji lebih dulu. Sementara itu, Rani adalah gadis kecil yang ceria, tapi sering kali merasa tersisih karena kakaknya terlalu ingin jadi yang utama.
Suatu sore, setelah membantu Ibu menjemur pakaian, Dika dan Rani duduk di teras rumah. Langit mulai berwarna jingga, menandakan matahari akan tenggelam. Rani berkata sambil menunjuk ke langit,
“Kak Dika, lihat! Nanti kalau malam, bintang-bintangnya akan banyak sekali. Rani ingin sekali punya bintang.”
Dika tertawa kecil.
“Bintang itu jauh sekali, Ran. Kakak saja belum tentu bisa mengambilnya.”
“Tapi pasti ada cara,” balas Rani dengan mata berbinar.
Keesokan harinya, mereka mendengar kabar dari Pak Seno, kakek tua di desa yang suka bercerita, bahwa ada sebuah bintang jatuh yang terperangkap di dalam hutan bambu. Bintang itu konon bersinar lembut dan bisa memberi kebahagiaan bagi siapa pun yang menemukannya.
Rani langsung menatap kakaknya dengan penuh harap.
“Kak… kita cari bintangnya, ya?”
Dika mengangguk. Ia juga penasaran, dan dalam hatinya ia ingin menjadi orang pertama yang menemukan bintang itu, supaya bisa membanggakan diri di depan teman-temannya.
Mereka pun berangkat sore itu juga. Hutan bambu di tepi desa terasa sejuk, tapi makin lama semakin gelap. Angin bertiup pelan, membuat suara dedaunan bergesekan seperti bisikan rahasia.
“Ran, jangan jauh-jauh dari kakak,” kata Dika sambil melangkah cepat.
Rani berusaha mengikuti, tapi langkah kakaknya terlalu cepat. Ia terhenti sejenak, memandangi cahaya kecil yang berkelip di kejauhan.
“Kak! Aku lihat sinarnya!” seru Rani.
Namun Dika tidak menoleh. Ia terus berjalan mengikuti jalan setapak lain yang ia pikir lebih cepat. Rani akhirnya memberanikan diri berjalan menuju cahaya itu sendirian.
Ternyata cahaya itu berasal dari sebuah bintang kecil, sebesar kepalan tangan, yang tersangkut di rumpun bambu. Sinarnya hangat dan membuat hati terasa damai. Rani mengulurkan tangannya, dan bintang itu seperti menyambutnya, mengapung di telapak tangan kecilnya.
Di saat yang sama, Dika malah tersesat. Jalan yang ia pilih ternyata buntu. Ia mulai panik ketika matahari benar-benar tenggelam. “Rani! Rani!” panggilnya.
Tak lama kemudian, dari balik rumpun bambu, muncul Rani dengan wajah lega.
“Kak Dika! Aku menemukan bintangnya!” katanya sambil menunjukkan cahaya hangat itu.
Dika terdiam. Ia merasa campur aduk—antara kagum dan malu. Selama ini ia selalu ingin menjadi yang paling hebat, tapi ternyata adiknya yang menemukannya.
“Bagaimana kalau bintangnya untuk Kakak saja?” tanya Rani tulus.
Dika menggeleng. “Tidak, Ran… Kamu yang menemukannya. Kakak malah meninggalkan kamu. Maaf, ya.”
Rani tersenyum. “Tapi kita bisa memegangnya sama-sama, Kak.”
Mereka pun memegang bintang itu bersama. Cahaya hangatnya semakin terang, dan entah bagaimana, bintang itu perlahan terbang ke langit malam, meninggalkan jejak cahaya seperti pelangi. Meski bintang itu pergi, hati mereka terasa penuh kebahagiaan.
Sesampainya di rumah, Dika tidak menceritakan bahwa adiknya yang menemukannya. Ia hanya berkata kepada Ayah dan Ibu bahwa mereka menemukan bintang itu bersama-sama.
Sejak malam itu, Dika berubah. Ia tidak lagi ingin selalu menjadi yang utama. Ia mulai belajar mendengarkan Rani, bermain bersama, dan membiarkan adiknya mencoba hal-hal baru lebih dulu.
Sementara itu, Rani merasa kakaknya kini lebih hangat dan perhatian. Mereka menjadi kakak beradik yang saling membantu, bukan saling mendahului.
Dan di malam yang cerah, saat mereka duduk di teras rumah, Rani terkadang berkata sambil menunjuk ke langit,
“Kak, lihat… itu bintang kita.”
Dika tersenyum, karena ia tahu, bintang itu bukan hanya milik Rani atau dirinya, tetapi milik mereka berdua—simbol bahwa kebahagiaan lebih indah jika dibagi bersama.
---
Pesan yang bisa di ambil:
Kadang, menjadi hebat bukan berarti selalu menjadi yang pertama atau paling pintar, tetapi mau berbagi, saling menghargai, dan menjaga orang yang kita sayangi. 🤗