Delapan tahun lalu, aku bekerja di sebuah perusahaan keamanan di Jepang. Itu adalah perusahaan kecil yang sibuk sepanjang tahun. Beberapa dari kami harus menghadiri konferensi bisnis di luar kota. Tugasku adalah memesan beberapa kamar hotel dimana kami bisa menginap.
Sebulan lebih sebelum konferensi, aku membuka internet untuk memesan empat kamar di sebuah hotel yang murah. Kelompok yang pergi ke konferensi adalah aku sendiri, rekanku yang bernama Shinichi, manajer kami, dan pemilik perusahaan.
Sehari sebelum konferensi dilaksanakan, aku menelepon pihak hotel untuk mengkonfirmasi pemesanan. Tapi aku dikejutkan oleh kabar yang tidak menyenangkan. Saat mereka mengecek pemesanan, staf hotel menyadari mereka membuat kesalahan besar. Mereka hanya menyediakan dua kamar single untuk kami.
Aku sangat geram. Aku memprotes dengan marah, tapi staf hotel memberitahuku mereka tidak memiliki kamar lain. Aku menuntut untuk berbicara pada manajer hotel. Akhirnya, ia memberitahuku ada kamar ganda yang bisa ia berikan pada kami dengan harga yang sama dengan kamar single . Aku tidak terlalu senang, tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali.
Hari berikutnya, kami menghadiri konferensi. Saat kami sampai di hotel, saat itu sekitar pukul satu pagi. Kami mengambil kunci kami di meja resepsionis. Karena sangat lelah, jadi kami berempat langsung masuk ke kamar. Tentu saja, pemilik perusahaan dan manajer memperoleh kamar single . Jadi, aku dan Shinichi terpaksa berbagi kamar.
Kamar kami terletak di lantai atas pada bagian belakang hotel. Saat aku membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan, aku merasakan perasaan ngeri yang aneh. Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi entah kenapa ruangan itu memiliki suasana yang sangat tidak menyenangkan. Kamar itu didekorasi bergaya Jepang, tapi luar biasa kotor.
Karena aku sudah lelah, jadi aku masuk ke dalam kamar sambil menaruh koperku di atas lantai. Aku bisa melihat rekanku, Shinichi yang tidak terlalu bahagia. Aku mencoba meyakinkannya bahwa mungkin saja kamar itu tak seburuk kelihatannya.
Ada dua buah futon * di atas lantai. Keduanya terlihat sedikit baru, tapi yang lainnya kotor dan tertutupi debu. Tirai terlihat compang-camping dan lembab. Kertas dinding mengelupas dari dinding dengan tambalan-tambalan, bahkan ada jamur dimana-mana. Hal itu sangat menjijikkan. Kamar tersebut seperti tidak pernah dipakai selama bertahun-tahun.
Ada dua buah shoji ** untuk berganti pakaian, jadi kami pergi ke belakangnya untuk berganti pakaian. Aku sedang menunduk ke lantai saat aku melihat sebuah noda merah gelap di karpet, seolah-olah seseorang menumpahkan sesuatu di sana tapi tak ada orang yang mau membersihkannya.
Aku memutuskan untuk protes ke manajer hotel tentang hal itu keesokan harinya. Pada waktu itu, yang paling kuinginkan adalah cepat-cepat mandi dan pergi tidur. Namun demikian, saat aku masuk ke dalam kamar mandi, ada bau busuk yang membuatku menutup hidung. Kamar mandi itu lembab dan pengap. Bak mandinya dipenuhi noda berwarna cokelat.
Kami berdua tidak jadi mandi, jadi kami hanya berbaring di atas futon dan mencoba untuk tidur. Futon yang kugunakan menghadap langsung ke arah kamar mandi, sedangkan futon milik Shinichi menghadap ke arah jendela.
Pada tengah malam, aku tiba-tiba terbangun. Aku mengedipkan mata dan melihat sekeliling. Dalam cahaya temaram, aku melihat pintu kamar mandi terbuka. Sebelumnya, pintu itu tertutup untuk mencegah baunya memasuki ruangan. Tapi sekarang pintu tersebut terbuka. Saat pandanganku berpindah ke bawah, aku melihat sesuatu bergerak di lantai.
Saat itu sangat gelap, aku tidak bisa memastikan itu apa. Ada dua bentuk gelap mencakari karpet.
"Apa lagi sekarang?" geramku. "Tikus?"
Mataku berangsur-angsur menyesuaikan diri dengan kegelapan. Aku tidak percaya pada apa yang kulihat. Itu adalah kepala seorang wanita dengan rambut hitam yang panjang. Apa yang kukira tikus ternyata adalah tangan wanita tersebut.
Tangannya yang berbonggol menggenggam dan mencakari karpet sebelum tubuhnya secara perlahan-lahan merangkak keluar dari kamar mandi, sedikit demi sedikit. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup rambut.
Aku tidak tahu apa yang terjadi. Saat itu seolah-olah aku lumpuh. Aku tidak bisa bergerak. Aku hanya berbaring di sana, menatap ketakutan pada wanita yang merangkak pelan-pelan ke arahku... inci demi inci... semakin dekat.
Akhirnya, aku tidak tahan lagi. Aku mengeluarkan teriakan yang tadinya tertahan dan berjuang keluar dari tempat tidur. Aku menghidupkan lampu dan wanita itu menghilang. Aku gemetar hingga keringat dingin turun dari dahiku.
"Shinichi," aku berbisik. "Apakah kau melihatnya...? Wanita itu... ia merangkak menyeberangi lantai..."
Aku mendekat untuk mengoyang-goyangkan tubuh Shinichi, tapi ternyata ia sudah bangun. Ia menoleh hingga aku bisa melihat matanya terbuka lebar penuh ketakutan.
"Aku juga melihatnya," ia berkata dengan suara bergetar. "Setengah jam yang lalu, ia menatap tajam melalui jendela... menatapku..."
Kami berdua berjuang untuk berdiri, menyambar tas kami, dan lari keluar dari ruangan. Kami menghabiskan waktu semalaman di ruang manajer untuk memberitahunya apa yang kami lihat.
Pagi berikutnya, kami pergi ke meja resepsionis untuk protes. Aku memberitahu manajer hotel bahwa kami tidak akan pernah menginap di hotelnya lagi. Kami juga akan memperingatkan semua orang yang kami kenal untuk tidak menginap di sana.
Kapan pun aku memikirkan tentang hantu wanita itu, betapa ia dekat sekali dengan kami, itu membuatku merasa ketakutan.
***
*Futon: Jenis perangkat tidur tradisional Jepang. Futon digelar di atas tatami, di atas tempat tidur, atau kasur. Satu set futon terdiri dari shikibuton sebagai alas tidur dan kakebuton yang lebih lunak sebagai selimut.
**Shoji: Panel dari rangka kayu berlapis kertas transparan. Kertas pelapis dapat berupa washi atau kertas bercampur serat sintetis. Dalam arsitektur tradisional Jepang, shōji berfungsi sebagai pintu geser, atau ketika dipasang permanen sebagai jendela atau partisi.