Cerita berikut ini diceritakan oleh temanku dari Jepang. Katanya, ia pernah membacanya pada sebuah surat kabar. Aku belum pernah melihat surat kabar itu, jadi aku tidak tahu cerita ini benar terjadi atau bohong belaka. Cobalah baca dan putuskan sendiri.
Ada sekelompok remaja yang terdiri dari empat anak laki-laki dan empat anak perempuan yang bersekolah di sekolah yang sama. Suatu malam, mereka mengadakan sebuah pesta kecil di salah satu rumah anak laki-laki. Saat itu telah larut malam dan obrolan berubah menjadi cerita-cerita menyeramkan. Sekelompok sahabat itu ingin menguji keberanian mereka dengan pergi ke tempat berhantu. Mereka pikir hal itu akan menyenangkan untuk menakut-nakuti diri mereka sendiri dengan berwisata di suatu tempat yang berhantu pada malam hari.
Bertahun-tahun yang lalu, mereka pernah mendengar tentang sebuah sekolah tua yang telah ditinggalkan. Tempat itu terletak di pinggiran kota. Semua orang bilang sekolah tersebut berhantu. Tidak ada satu pun dari kelompok sahabat itu yang percaya adanya hantu, tapi mereka ingin menakut-nakuti diri mereka sendiri. Selain itu, sekolah yang telah ditinggalkan tersebut merupakan tempat paling mudah yang bisa didatangi.
Salah satu dari gadis-gadis memiliki mobil, jadi mereka mengemudi ke sekolah dan berhenti di halaman luar. Kedelapan anak itu memutuskan untuk masuk sekolah secara berpasangan. Rencananya, setiap pasangan harus berjalan-jalan di sekitar sekolah berlawanan arah dengan jarum jam. Hal itu akan memakan waktu sekitar 10 menit untuk mengelilingi sekolah. Jika pasangan pertama sudah selesai maka saat mereka kembali, mereka harus menceritakan apa yang mereka lihat pada yang lainnya. Kemudian, giliran pasangan kedua yang harus berjalan mengelilingi sekolah.
Pasangan pertama yang terdiri dari seorang anak laki-laki dan perempuan masuk ke sekolah, sedangkan enam teman-temannya yang lain menunggu di dalam mobil. Setelah beberapa saat, mereka mulai tidak sabar. Saat itu sudah lebih dari 20 menit, tapi teman-teman mereka masih belum kembali. Setelah 30 menit berlalu sejak pasangan pertama pergi, teman-temannya yang lain mulai bosan menunggu. Anak laki-laki dan perempuan berikutnya memutuskan untuk berjalan mengelilingi sekolah guna mencari kedua teman mereka.
Teman-temannya yang lain menunggu dan terus menunggu, tapi pasangan kedua tak juga kembali. Teman-temannya yang tersisa tidak mengerti apa yang terjadi. Mereka mulai penasaran apakah teman-temannya memainkan kelakar pada mereka.
Saat itu hampir satu jam sejak pasangan pertama pergi. Anak laki-laki dan perempuan yang mendapat giliran ketiga dengan cemas pergi ke sekolah untuk mencoba mencari teman-teman mereka yang hilang. Mereka tak pernah kembali.
Anak laki-laki dan perempuan yang tersisa paling belakang merasa sangat gelisah. Si anak perempuan mulai menangis, sedangkan si anak laki-laki mencoba untuk menenangkannya.
Akhirnya, si anak laki-laki berkata, "Aku akan pergi untuk mencari yang lainnya. Jika aku tidak kembali setelah 30 menit, maka panggillah polisi."
Setelah si anak laki-laki pergi, si anak perempuan berdiri sendirian di tengah malam yang gelap dan dingin sambil menangis diam-diam. Ia menunggu selama satu jam, tapi tidak ada seorang pun yang kembali. Ia masuk ke dalam mobil, menghidupkan mesin, dan mengemudi ke kantor polisi terdekat.
Empat petugas polisi menemani si anak perempuan kembali ke sekolah. Saat menjelang subuh, mereka mulai mencari tujuh remaja yang hilang. Awalnya, mereka tidak bisa menemukan tanda-tanda dari anak-anak itu di lapangan sekolah, tapi kemudian mereka menemukan pintu samping sekolah tua. Gedung olahraga yang tak terpakai pintunya terbuka.
Para polisi masuk ke dalam, tapi ruangan itu kosong. Hanya ada kesunyian di udara. Saat mereka melihat ke dalam toilet gedung olahraga, mereka akhirnya menemukan tujuh remaja yang hilang. Leher mereka semua tergantung di atap.
Polisi menginterogasi gadis yang selamat. Ia bersumpah bahwa ia menceritakan cerita yang benar. Tujuh remaja pergi ke sekolah terlantar untuk menguji keberanian mereka. Mereka tidak punya alasan untuk melakukan tindakan bunuh diri.
Namun demikian, setelah menghabiskan waktu berminggu-minggu mencoba untuk memecahkan misteri tersebut, polisi akhirnya menutup kasus. Mereka berkata bahwa mereka tidak bisa menemukan bukti jika remaja-remaja itu telah dibunuh. Pada akhirnya, kejadian itu dijelaskan sebagai kasus dari histeria massal. Polisi mengklaim bahwa tujuh remaja pasti terlibat bunuh diri.
Sampai hari ini, tidak ada seorang pun di kota itu yang berani pergi ke sekolah tua terlantar setelah larut malam.
***