Aozukin
Horror
08 Jan 2026

Aozukin

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-09T000137.321.jfif

download - 2026-01-09T000137.321.jfif

08 Jan 2026, 17:01

download - 2026-01-09T000133.258.jfif

download - 2026-01-09T000133.258.jfif

08 Jan 2026, 17:01

Zaman dahulu kala, hiduplah seorang pendeta Budha bernama Kaian Zenji yang selalu mengenakan jubah biru. Ia menghabiskan hari-harinya dengan bepergian mengelilingi Jepang, bermeditasi, berdo'a, dan mencoba membantu siapa pun yang membutuhkan. Suatu malam, ia tiba di sebuah desa bernama Tomita.

Orang-orang menatap Kaian, kemudian mereka mulai menjerit dan memekik. Wanita dan anak-anak berlarian, berteriak dan meraung, jatuh bertindihan satu sama lain dalam upaya untuk kabur. Para lelaki mendekap senjata mereka dan datang berlarian padanya.

"Bunuh dia!" mereka menjerit ketakutan. "Bunuh dia sebelum dia membunuh kita!"

"Apa yang terjadi?" tanya Kaian sambil menutup kepalanya dengan tangan. "Kalian tidak perlu takut padaku. Aku tidak bermaksud melukai kalian."

Saat para lelaki itu melihat wajah Kaian yang ketakutan, mereka menurunkan senjata dan tertawa dengan gugup.

"Maaf," kata seorang laki-laki. "Kami kira kau orang lain."

"Ya, kami minta maaf atas kekacauan ini," kata yang lainnya dengan malu-malu.

"Itu karena jubahmu yang berwarna biru," kata yang lainnya lagi.

Salah satu laki-laki itu mengenalkan diri dan mengundang Kaian untuk tinggal semalam di rumahnya. Ia berkata bahwa ia adalah tukang pandai besi dan menawarkan Kaian makan serta minum.

"Saat kami melihatmu datang, kami kira kau adalah iblis," ia menjelaskan.

"Mengapa kalian berpikir begitu?" tanya Kaian. "Apakah aku terlihat seperti iblis?"

"Yah, itu cerita yang mengerikan," jawab si pandai besi. "Tapi aku akan menceritakannya padamu. Di gunung tepat di atas desa, ada sebuah kuil dan pendeta yang tinggal di sana mengenakan jubah biru sepertimu. Sang pendeta dulunya memiliki reputasi yang baik, karena ia sangat pandai dan baik hati. Orang-orang percaya padanya. Semuanya berubah musim semi yang lalu. Sang pendeta pergi ke desa lain untuk melakukan pembabtisan. Saat ia kembali, ia membawa seorang anak lelaki bersamanya. Ia adalah anak lelaki yang sangat tampan, kira-kira umurnya 12 atau 13 tahun. Pendeta itu menghabiskan seluruh waktunya dengan si anak lelaki dan bahkan sang pendeta jatuh cinta padanya. Semua orang berpendapat itu hal yang sangat aneh. Kemudian, anak laki-laki itu terserang penyakit. Kondisinya semakin serius dan dokter dari kota datang untuk merawatnya. Sayangnya, hal itu tidak berguna dan anak laki-laki itu akhirnya mati. Sang pendeta menangis terus menerus sampai ia tidak bisa menangis lagi. Ia memekik dan memekik sampai suaranya hilang. Satu hal yang paling aneh, ia menolak tubuh anak laki-laki itu dibakar atau dikremasi. Malahan, ia menggendong mayat itu di lengannya dan mengusap pipinya seakan-akan anak lelaki itu masih hidup. Kami tidak menyadari saat itu, tetapi sang pendeta meracau marah dengan keras. Suatu pagi, beberapa penduduk desa mengunjungi kuil dan apa yang mereka lihat membuat mereka kabur melarikan diri sambil berteriak ketakutan. Sang pendeta sedang memakan daging dan menjilati tulang anak lelaki itu. Mereka bilang sang pendeta berubah menjadi iblis. Sejak saat itu, sang pendeta meneror desa kami. Ia menuruni gunung malam demi malam dan menggali kuburan untuk mencari lebih banyak mayat. Saat ia menemukan mayat yang masih segar, ia akan memakannya. Kami semua mendengar dongeng kuno tentang iblis dan orang-orang hidup dalam ketakutan. Setiap rumah dipasangi papan yang kuat saat senja karena cerita tersebut telah menyebar di sini. Orang-orang tidak mau lagi datang kemari. Kau bisa melihat mengapa kami salah mengira kau adalah dia. Apa yang dapat kami lakukan untuk menghentikannya?"

"Hal-hal aneh terjadi di dunia ini," seru Kaian. "Ada beberapa orang yang dilahirkan sebagai manusia, tetapi terjadi sesuatu yang salah dan mereka melakukan perbuatan yang jahat dan tidak bermoral. Ini menyebabkan mereka berubah menjadi iblis. Hal itu bahkan terjadi sejak dulu. Dalam sebuah kasus yang kutahu, seorang wanita berubah menjadi ular. Kasus lainnya, seorang ibu lelaki menjadi sesosok setan kubur. Aku tahu lelaki lain yang menyukai daging dan diam-diam menculik anak-anak untuk memasak dan menghidangkan mereka sebagai makanan. Temanku yang seorang biarawan berjalan melewati sebuah desa dan ia tinggal semalam di gubuk milik seorang wanita tua. Saat itu hujan dan angin angin berderu kencang. Ia berbaring tanpa pencahayaan untuk menyamankan diri dari kesendirian. Saat malam semakin larut, ia mengira mendengar suara seekor kambing mengembik. Segera setelah itu, sesuatu mengendus sekitarnya untuk mengetahui ia masih tidur atau sudah bangun. Secepat kilat, ia memukulkan tongkatnya dengan keras. Makhluk itu berteriak dan roboh di lantai. Wanita tua mendengar keributan titu dan datang dengan lampu pelita. Mereka menemukan seorang gadis muda terbaring pingsan di lantai. Wanita tua memohon padanya untuk tidak membunuh gadis itu karena ia adalah anak perempuannya. Apa yang bisa ia lakukan? Ia pergi. Tetapi setelah itu, saat ia kembali ke desa tersebut, orang-orang sedang berkumpul untuk melihat sesuatu. Saat ia bertanya pada mereka apa yang terjadi, mereka memberitahunya jika mereka telah menangkap seorang gadis muda penyihir dan mereka akan membakarnya hidup-hidup."

"Jadi, bagaimana pendapatmu tentang pendeta kami?" tanya si tukang pandai besi.

"Menurutku, ada sesuatu yang dilakukan pada anak lelaki itu," balas Kaian. "Tingkah pendeta yang aneh dan tidak alami melekat pada anak laki-laki itu dan membuatnya berubah menjadi setan kubur. Apa yang kuketahui sekarang ialah kita menghadapi iblis. Aku mungkin saja bisa membantumu dan membersihkan desamu dari iblis celaka ini."

"Jika kau dapat melakukannya untuk kami, semua orang di sini akan sangat berterima kasih," kata si tukang pandai besi.

"Aku hanya membutuhkan satu hal," kata Kaian. "Sebuah tongkat kayu yang panjang dengan mata pisau yang tajam di dalamnya."

Jadi, si tukang pandai besi bekerja keras sepanjang hari. Akhirnya, ia memberikan senjata khusus yang dipesan oleh Kaian. Benda itu hanya terlihat seperti tongkat kayu biasa, tetapi saat kau memutarnya ke atas dan mendorongnya, ia akan memunculkan mata pisau yang tajam.

Dengan tongkat di tangan, Kaian pergi melakukan misinya. Ia memanjat puncak gunung sampai matahari tenggelam. Kuil itu terlihat sepi dan gerbangnya dikelilingi duri. Laba-laba memintal jaring-jaring pada patung-patung dan altar ditutupi oleh lumut dan kotoran burung. Seluruh tempat itu memancarkan perasaan hancur dan membuat mual.

Kaian berjalan ke depan dan mengetuk pintu. Dalam waktu yang lama hanya ada keheningan. Dari kegelapan, seorang laki-laki muncul sambil menggertakkan giginya.

"Mengapa kau datang ke sini?" teriaknya dengan suara parau.

Kaian menoleh dengan hati-hati, menjaga jaraknya agar tetap aman antara dirinya sendiri dan si setan kubur.

"Kuil ini sepi dan orang-orang pergi," katanya. "Di tempat gersang seperti ini, beberapa hal bisa terjadi. Orang-orang memberitahuku hal ini terjadi karena kau berubah menjadi iblis. Mereka bilang setiap malam, kau turun ke desa dan berpesta dengan daging manusia. Tidak ada seorang pun yang merasa hidupnya aman.

Sang pendeta maju ke arahnya, menggeram seperti anjing gila. Air liur menetes dari janggutnya dan ia terlihat sangat lapar. Tubuh Kaian tetap membelakanginya.

"Apa yang mereka katakan itu benar," gertak sang pendeta. "Daging manusia adalah makananku. Malam ini, aku akan menggunakan dagingmu untuk mengisi perutku."

"Bagaimana kalau aku memberitahumu ada sebuah obat untuk menyembuhkanmu?" kata Kaian.

Sang pendeta terkejut, "Sebuah obat?" tanyanya, ia melihat Kaian dengan curiga. "Jika kau tahu obat itu, cepat katakan padaku sekarang supaya aku dapat melarikan diri dari nasibku yang mengerikan ini."

Kaian melepas jubah birunya dan melemparkannya kepada pendeta yang busuk dan kejam.

"Pakai itu," katanya.

Sang pendeta menangkap jubah itu dengan cepat, kemudian ia duduk di batu pipih di depan kuil dan memakai jubah itu melalui kepalanya.

"Jangan coba menipuku," raung sang pendeta. "Aku masih bisa melihatmu, jadi jaga jarakmu. Jika tidak, aku akan mengunyah tulangmu sampai subuh."

"Pecahkan teka-teki berikut dan kau akan bebas dari kesengsaraanmu," kata Kaian. "Dengarkan baik-baik..."

Ia mulai mengatakan teka-teki tersebut:

Di atas air bulan bersinar,

diantara pohon-pohon angin bertiup dengan kencang,

dan mengapa tidak ada yang tahu?

Sang pendeta merenungkan kata-kata itu sejenak.

"Dapatkah kau memberiku sebuah petunjuk?" tanyanya.

"Tidak ada petunjuk," kata Kaian. "Kau harus berkonsentrasi dengan keras dan bersemedi, tak masalah berapa lama. Akhirnya, kau akan mengerti maknanya dan menemukan kebebasan dari kengerian ini."

Menit dan jam berlalu, sang pendeta masih duduk sambil terus berpikir, Kaian mulai mendekat sedikit demi sedikit. Ia bergerak tanpa kelihatan, memindahkan berat badannya dari kaki satu ke kakinya yang lain, dan menggeser setiap kaki semakin dekat ke tempat dimana sang pendeta duduk.

Malam berakhir dan sebuah cahaya abu-abu menyebar di langit sampai fajar menyingsing. Sang pendeta duduk tanpa bergerak di atas batu, berbisik tanpa suara, tidak lebih keras dari dengung nyamuk.

"Di atas air bulan bersinar,

diantara pohon-pohon angin bertiup dengan kencang,

dan mengapa tidak ada yang tahu?"

Kaian menonton dalam diam, tangannya menggenggam kuat-kuat ujung tongkatnya. Ia semakin dekat sampai sang pendeta menjauhkan diri.

Ia mendengar ayam jantan berkokok di kejauhan.

"Jadi, apakah kau sudah bisa memecahkan teka-teki itu?" tanya Kaian.

"Belum," jawab sang pendeta.

"Itu karena tak ada seorang pun yang bisa," kata Kaian sambil mengayunkan mata pisau tajam itu sekuat yang ia bisa.

Mata pisau yang tajam menusuk leher sang pendeta seperti pisau panas menyentuh keju, memotong kepalanya sampai menggelinding ke sisi gunung. Tubuhnya terjatuh, terbaring tak berdaya diantara rumput liar.

Kaian membersihkan mata pisaunya dan memasukkannya kembali ke dalam tongkat. Kemudian, ia mulai menuruni gunung untuk memberitahu warga desa bahwa mimpi buruk mereka sudah berakhir.

Kembali ke Beranda