Gambar dalam Cerita
Di sebuah daerah pinggiran kota di Jepang, hiduplah seorang pria yang tinggal sendirian di rumah warisan keluarganya. Rumah itu sudah tua, dengan dinding kayu yang sering berderit ketika malam semakin larut. Malam itu, sekitar pukul dua dini hari, pria tersebut terbangun karena rasa ingin buang air yang sudah tidak tertahankan.
Dengan mata setengah terpejam, ia bangkit dari tempat tidurnya. Rumah itu sunyi—terlalu sunyi. Tak ada suara serangga, tak ada angin yang menyusup lewat jendela. Hanya detak jam dinding di ruang tamu yang terdengar samar.
Ia berjalan pelan, meraba-raba dinding menuju kamar mandi. Lampu kamar mandi tidak dinyalakan, karena ia yakin hanya sebentar saja. Ia membuka pintu kamar mandi sedikit, membiarkan cahaya bulan purnama yang terang masuk dan menerangi ruangan dengan cahaya pucat kebiruan.
Saat ia sedang buang air, matanya menangkap sesuatu yang bergerak di luar pintu kamar mandi.
Bayangan.
Awalnya hanya samar—seperti siluet seseorang yang berdiri di ujung lorong. Ia berpikir mungkin hanya bayangannya sendiri, atau pantulan cahaya bulan. Namun bayangan itu tidak diam. Ia bergerak. Perlahan. Mendekat.
Jantung pria itu mulai berdegup lebih cepat.
Bayangan itu semakin jelas, hingga akhirnya ia bisa melihat sosok seorang wanita berdiri tepat di depan pintu kamar mandi. Wanita itu mengenakan kimono lama yang warnanya sudah memudar, penuh noda dan terlihat sangat kotor, seolah telah lama terkubur tanah. Tubuhnya tinggi—tidak wajar—kepalanya hampir menyentuh kusen pintu.
Wajahnya… tidak bisa dikenali.
Bukan karena gelap, tetapi karena wajah itu seperti tertutup sesuatu—entah rambut, entah kain, entah sesuatu yang lain. Tidak ada mata yang terlihat jelas. Tidak ada ekspresi. Hanya kehampaan.
Wanita itu berdiri diam, membisu.
Dengan suara bergetar, pria itu berkata,
“Apa yang sedang kau lakukan di sini? Cepat pergi!”
Tidak ada jawaban.
Udara di kamar mandi terasa mendadak dingin. Pria itu merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia ingin bergerak, ingin berlari, tetapi kakinya terasa berat, seolah menancap ke lantai.
Wanita itu melangkah maju satu langkah.
Dan satu langkah lagi.
Kimono itu terdengar bergesek dengan lantai, seperti kain basah diseret perlahan.
Pria itu menjerit—namun suaranya seperti tertelan oleh rumah itu sendiri.
Keesokan paginya, keluarga dan tetangga pria tersebut mencarinya ke seluruh rumah. Pintu-pintu terkunci dari dalam. Tidak ada tanda perampokan. Tidak ada darah. Tidak ada kerusakan.
Pria itu menghilang.
Satu-satunya hal aneh yang ditemukan adalah jejak kaki basah di lantai kayu. Jejak itu tidak seperti kaki manusia biasa—bentuknya menyeret, panjang, dan tidak seimbang. Jejak itu berjalan dari kamar mandi… menuju dinding ruang tamu.
Dan berhenti di sana.
Tidak menembus dinding. Tidak berbelok. Hanya berhenti, seolah sesuatu telah masuk ke dalam dinding itu sendiri.
Sejak saat itu, legenda tentang wanita berkimono mulai menyebar.
Konon, siapa pun yang mengetahui kisah ini berisiko didatangi olehnya.
Ia akan datang dalam waktu tiga hari, tepat di tengah malam.
Jika kalian terbangun dan mendengar tiga ketukan pelan dari luar pintu kamar mandi…
jangan membukanya.
Sebaliknya, ucapkan kalimat ini dengan suara tegas, sebanyak tiga kali:
“Uba Yo Sare.”
Itulah namanya.
Dan hanya dengan menyebut namanya, wanita berkimono itu akan pergi…
menjauh dari kamar mandi kalian.
Jika tidak—
tidak akan ada yang tersisa, selain jejak kaki yang berakhir di dinding rumah.