CEO WITH BENEFIT
Romance
06 Jan 2026

CEO WITH BENEFIT

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-06T081417.358.jfif

download - 2026-01-06T081417.358.jfif

06 Jan 2026, 01:14

download - 2026-01-06T081414.365.jfif

download - 2026-01-06T081414.365.jfif

06 Jan 2026, 01:14

Raline segera menaiki trans jakarta, suasana yang sangat berdesakan membuat siapapun yang menaiki ingin berteriak.

Bayangkan saja bus ini hanya sepi di hari minggu dan hari lebaran, selain hari itu? Benar - benar berlebih muatan nya.

Raline turun dari bus setelah dia sampai di halte taman anggrek, dengan langkah cepat ia menekan kartu multitrip nya ke pintu keluar dan segera menyebrang ke kantor di tempat nya bekerja.

"Aduhh semoga ga telat deh."

Memang, Raline belum pernah terlambat, hanya saja Raline ingin menghindar dari bos nya yang sangat menyebalkan.

Apakah bos itu tua?

Tidak.

Lalu?

Masih sangat muda, umurnya saja baru 26 tahun.

Entahlah apa yang membuat Raline tidak suka, yang ia pikirkan jangan sampai bertemu dengan bos nya.

"Aline kenapa loe? Kayak orang kesetanan?"

"Gapapa kok gue."

"Yang bener? Kok lari - larian gini?"

"Iya bri gue males nanti ketemu temen loe tuh"

"Yaelah, udah sana absen cepetan."

Abrio sedikit terkejut dengan tingkah laku Raline yang seperti dikejar setan, tetapi karena sudah menhetahui alasan nya, Abrio tidak asing.

*

"Aline loe mau makan siang gaaaa?"

"Mau sih tapi gue masih ada kerjaan"

"Yaudah loe mau gue beliin apaa?"

"Gausah raa gue bawa bekel kokkk"

"Yaudah gue makan sama brio yah , jangan lupa makan."

"Iyea Araaa "

Ara teman kantor Raline sekaligus penghuni kubikel sebrang Raline meninggalkan nya dan mengajak Abrio ke kantin yang berada di paling bawah gedung kantornya.

"Aish gila ya emang CEO macam apa coba yang ngasih gue kerjaan beda dari karyawan yg lain."

Raline mengecek segala data yang ada di atas kertas - kertas tebal dan Raline sebari membuka kotak bekal nya. Hari ini Raline hanya membawa sayur kangkung dan telur cabai. Sederhana karna Raline hanya mementingkan gizi dan kenyang nya saja.

"Ehm, Raline data - data yang saya berikan apa sudah semua kamu cek?"

Raline yang sedang mengunyah makananya terpaksa menelan nya walau belum saatnya. Raline bangun dari kursinya dan menatap bos nya.

"Maaf pak, sedikit lagi tinggal data pemasukan saja."

"Bagus."

"Boleh saya duduk disini melihat dokumen yang sudah kamu cek?"

"Silahkan pak."

Bos Raline mengambil kursi tempat duduk Ara dan menyeretnya ke meja Raline, duduk tepat di sisi samping meja Raline.

"Lanjutkan saja makan siangnya"

"Baik pak."

Raline melanjutkan makan siangnya dan mengecek segala data - data yang tersisa, pemasukan perusahaan yang terbilang wow.

Arbiaz POV

Gue melihat - lihat dokumen yang telah di periksa oleh Raline , hmm lumayan juga kerja seorang Raline, gue kira manusia yang sederhana ini kerja nya gak bener.

Dan dari muka nya ternyata cantik gini gak males kerja nya, biasanya muka cantik tapi penipu.

"Woy ngapain loe di meja Raline?" Abrio mengagetkan Biaz.

"Menurut loe gw ngapain hah?"

"Loe liat dong Raline ketakutan lu duduk disini"

"Yaelah emang gue setan?"

"Nah bagus sadar."

"Aish.. jangan sampe gue potong gaji loe "

"Ya jangan dong, gue kan mau kawin."

"Kawin kawin, gak ... Gue dulu lah yang kawin."

"Apaan sih loe berdua ngomongin kawin jam istirahat udah beres." Pecah Ara

"Iyee iyee." Arbiaz pun mengalah

"Jangan sampe gue bilangin nyokap lo."

"IYA ARA GUE PERGI, Raline kalau sudah selesai tolong bawa ke ruangan saya ya."

"Baik pak."

***

"Akhirnya selesai jugaa."

Raline meregangkan tangannya keatas dan kepalanya, Raline segera mengecek jam di tangannya.

Jam 3.30

"Wah gila satu jam lagi pulang yassh."

"Line, jangan lupa ke ruangannya pa Biaz."

"Oh iyaa, sippp makasiii Ara ku."

****

Raline pergi ke toilet didekat kubikel kubikel kantor, ia merapikan baju dan rambut nya, ya Raline memang sedikit acak - acak an bila sedang bekerja, bahkan Abrio terkadang mengatain nya Gembel rajin, dikarenakan rambutnya yang acak - acakan ketika bekerja.

Raline mengambil setumpuk dokumen nya dan berjalan ke arah ruangan Arbiaz, Raline menemui sekretaris pribadi Arbiaz, Olivie untuk mengecek apakah ada tamu di dalam ruangan Arbiaz.

"Ol, ada agenda ga pa biaz? Mau anter dokumen nih."

"Bentar diliat dulu yah."

"Hmmm ga ada kok, udah semua agenda penting nya dia kosong sampe pulang."

"Okee gue masuk yaaa."

"Iyah kerja lembur bagai kuda."

Raline masuk ke dalam ruangan Arbiaz, Olivie menutup pintu ruangan nya kembali.

"Permisi, Pak Arbiaz, saya mau mengantarkan dokumen yang sudah saya cek."

"Oh,masuk sini."

"Hmm ini sudah, ini sudah, ini juga, okay."

"Oh iya sebentar ada satu lagi"

Arbiaz mengambil sebuah map dari rak, dan menyerahkan map itu kepada Raline diatas meja nya.

"Saya mau ini kamu selesaikan ini di rumah karena besok mau saya pakai presentasi di jam 2 siang, saya harap kamu besok lagi sudah menaruh nya di meja saya."

"Ohh okay baik pak."

Arbiaz bangun dari tempat duduknya berjalan ke tempat duduk Raline, mendekati Raline.

"Malam ini saya mau konfirmasi nya melalui chat."

Dan Arbiaz mengizinkan Raline pergi.Pintu kamar apartemen kecil Raline terbuka, Raline memasuki kamar nya dan merebahkan badan nya diatas ranjang membentuk bintang laut.

"Kenapa yah sampe harus bawa kerjaan ke rumah."

Tinngg tong ting

Suara ponsel Raline berbunyi,segera Raline membuka aplikasi chat dan menemukan pesan masuk baru.

Yang terlihat hanya nomor saja tidak ada namanya.

Raline segera membuka foto profil, dan dia menemukan wajah Arbiaz, bos nya.

"Malam, mbak Raline, apakah sudah selesai file presentasi saya?"

Raline langsung terbangun dari ranjang nya dia segera membuka laptop dan folder presentasi itu dan langsung bekerja serta mendiamkan pesan bos nya.

*****

Raline to Pak Arbiaz

"Mohon maaf saya baru melihat pesan bapak, saya sudah selesai pak, besok pagi saya taruh di meja pak Biaz."

"Terima kasih."

Raline segera mengambil piring untuk nya makan malam, sambil menonton acara televisi kesukaannya untuk menghilangkan penat pekerjaan yang menekan nya.

***

Raline bergegas ke kantor Arbiaz, ditemui nya Arbiaz yang sedang mengecek presentasi menggunakan proyektor nya.

"Permisi pak, ini file yang bapak minta."

"Silahkan duduk"

"Oke saya cek sebentar."

"Oke sudah lengkap semua, terima kasih."

Baru saja Raline ingin meninggalkan ruangan Arbiaz, Raline terpanggil.

"Raline."

"Iya pak."

"Bisa nanti jam 4.15 ke ruangan saya? Mungkin saja ada yang harus saya evaluasi."

"Oke pak."

Raline meninggalkan ruangan Arbiaz, dan menutup pintu ruangan tersebut. Raline menyenderkan tubuhnya ke tembok dengan kaki gemetar.

"Gila sih ya udah ngasih kerjaan banyak, terus tar sore evaluasi, jadi qudha beneran gue lama lama."

***

"Aline mau bareng ga nih pulang? Loe udah selsai kan? Hari ini jumat nih besok weekend gak ada kerjaan lagi kan?" ajak Brio.

"Duluan aja briii gue masih ada urusan sama Pak Arbiaz."

"Ohhh gituu okay."

Abrio mengambil tasnya dan berjalan ke arah pintu keluar, sebelum keluar Brio mendekati Raline dan membisikan sesuatu.

"Hati-hati yah sama Arbiaz."

Kemudian Brio meninggalkan Raline.

*****

Raline membawa tas nya dan berjalan ke ruangan Arbiaz, Olivie saja sudah tidak ada di meja nya, Raline memberanikan mengetuk pintu dan membuka pintu secara perlahan memasuki ruangan Arbiaz.

"Silahkan masuk Raline, have a seat."

Raline duduk di kursi yang berhadapan dengan Arbiaz.

"Hmm mengenai hasil kerja kamu saya cukup terkesan, kamu bisa menyelesaikan semuanya dengan baik."

Arbiaz bangun dari kursinya dan membereskan telepon genggam dan laptop nya ke dalam tas dan mendorong kursi nya.

"Saya juga suka dengan presentasinya, terimakasih ya."

"Hmm saya mau keluar karna besok weekend, kamu mau nemenin saya makan ga?"

"Maksud nya pak?"

Arbiaz memutar kursi Raline ke samping dan menarik tangan Raline membawa Raline keluar dari ruangan nya, menuju parkiran mobil dan membawa Raline pergi.

****

"Kamu mau pesan apa?"

"Hmm duluan aja pak."

"Pelayan!"

"Iya, bisa dibantu mau pesan apa?"

"Steak sapi, kematanganya sempurna ya"

"Mbak nya mau pesen apa?"

"Steak ayam."

"Minuman nya?"

"Saya Don't forget me aja."

"Mbak nya?"

"Di sama in aja."

"Oke sebentar , pesanan akan diantarkan 20 menit."

Pelayan pun meninggalkan mereka berdua, Raline menatap keluar jendela, orang - orang berlalu lalang, banyak juga pasangan yang berjalan di derasnya hujan.

Raline kapan?

Uhhh tak usah ditanya.

***

Pesanan pun datang, asap steak yang baru keluar dari pemanggangan tercium baunya membuat siapapun tergoda dengan aroma nya, ditambah dengan perut Raline yang keroncongan.

"Selamat menikmati." sahut si pelayan

"Silakan dimakan Raline."

Raline mecoba memotong steak nya dengan perlahan, dengan hati - hati agar steak nya tidak terpental.

"Kamu asli mana?"

"Saya asli Bandung."

"Bapak asli mana?"

"Saya asli Magelang."

"Ohh magelang yang banyak candi nya itu yah?"

"Iyah Raline, kamu sering ke sana?"

"Hmm nggak, saya udah pernah kesana aja 3 kali waktu saya sekolah dulu."

"Haha study tour ya." Balas Raline sambil tersenyum.

***

"Raline, saya antar pulang ya."

"Tidak terimakasih pak ,saya bisa pulang sendiri."

"Udah gapapa, saya cuman anter kamu sampe depan kokk."

Arbiaz membuka pintu untuk Raline dan menutup nya. Arbiaz mengendarain mobil nya.

"Terim kasih pak, maaf merepotkan."

"Selaw aja, umur saya ga beda jauh sama kamu."

"Iya pak, saya duluan yah."

Baru saja Raline ingin membuka pintu mobil, Biaz menarik tangan Raline dan memanggil nya.

"Aline, kamu mau gak jadi lebih dari temen kantor?"Seminggu berlalu Raline bekerja, dan belum menjawab tawaran Arbiaz, tetapi seminggu ini juga Biaz mengantar Raline pulang, hanya mengantar dikarenakan sebentar lagi libur panjang dan banyak pekerjaan yang ingin dikejar.

"Ara loe kan sepupu Pak Biaz, Pak Biaz itu orang nya gimana?"

"Napa loe nanya - nanya? Biasanya benci bangedds."

"Nanya doang elahhh."

"Hehehe candaa, biaz tu orang nya dingin, tapi kalo orang nya udah deket dia ga kokk."

"Ohh gitu."

"Kenapa lu di ajak pacaran ya sama dia?"

"Nggakk, gue gak mau sama dia, dingin gitu kaku, banyak perintah tepat waktu."

"Alaahh wkwkw masih gue liatin line."

"Ckkk kalo CEO kan cwek nya banyak males gue."

"Whahaha Biaz mah engga kok dia ga se haus itu."

"Gue duluan ya Linee, ati ati ya."

"Hati - hati raaa."

Raline mengecek halaman terakhir di map terakhir pekerjaannya, akhirnya.

"Raline, gimana sudah selesai?"

Raline terkejut dengan hadirnya Arbiaz secara tiba - tiba dan langsung mengambil kursi Ara dan duduk di samping Raline.

"Eehmm tinggal ini pa terakhir."

"Oke karena Olivie sudah pulang dan Abrio juga sudah tidak ada, ruangan saya terasa sepi, jadi saya boleh disini?"

"Silahkan pak."

"Lanjutkan."

Arbiaz membuka ponsel nya mengecek beberapa email masuk, sambil memandangi Raline, dengan rambut berantakan, sekeras ini kah Raline? Pikir Biaz dalam hati. maaf ya bila saya membuatmu agak tersiksa.

"Ini pak sudah selsai."

"Oke saya cek disini saja ya."

"Ini sudah,hmm oke, oke, oke."

"Oke selesai semua, terima kasih Raline."

"Iya sama - sama pak."

"Hmm ini saya taruh di meja kamu dulu yah, besok pagi saya minta olivie membawa ke ruangan saya."

"Iya pak tidak apa - apa."

Arbiaz berdiri dari kursi nya dan mengembalikan kursi Ara ke tempatnya, Raline membereskan laptop dan iphone nya ke dalam tas ,dan merapihkan kursinya.

"Raline ikut saya yah..."Raline mengikuti langkah Arbiaz, entah dibawa kemana dirinya, Raline terus mengikuti arah Arbiaz berjalan.

Raline menaiki elevator bersama Biaz, ditekan nya tombol angka pada lift tersebut, lantai 35. Lantai teratas gedung ini.

Astaga ngapain ke lantai paling atas, semoga aja dia ga ngebunuh gue."

Raline tetap diam sambil memainkan jari tanganya, gugup takut semuanya mencapur aduk jadi satu, entah apa yang Biaz pikirkan dan apa yang akan Biaz lakukan kepadanya.

"Oke kita sudah sampai."

Arbiaz keluar dari lift diikuti Raline, lorong yang sangat remang-remang, tempat yang jarang sekali dilewati orang, sedikit cctv yang dipasang di sini, mungkin bila ada perayaan-perayaan tertentu saja yang membuat lantai teratas ini dipakai. Kalau hari biasa? hanya petugas kebersihan dan satpam mungkin.

Arbiaz membuka pintu berwarna hijau besar, menggengam tangan Raline dan mengajak nya keluar dari gedung itu, dengan langkah hati - hati Biaz menggiring Raline agar tidak mengenai genangan - genangan air.

"Duduk sini gapapa kan?"

"Iya gapapa." Angguk Raline ragu.

Arbiaz membuka jas nya dan memakai kan pada Raline, diingatnya hari ini adalah hari Jumat semua karyawan boleh mengenakan kemeja bebas, dan Raline mengenakan kemeja berlengan pendek.

"Emm, maaf ya gue harus bawa loe ke tempat ber angin kenceng kayak gini."

"Iya gapapa pak."

"Gak usah formal, jam kantor sudah abis jadi selow aja."

Angin berhembus semakin kencang, Raline semakin memeluk dirinya agar tubuhnya tetap hangat, tidak dengan Arbiaz yang sedari tadi biasa saja, rasanya angin hanya bergerak melewati dirinya saja tanpa mengubah sesuatu.

"Dingin ya?"

"Iya."

"Sini biar gak dingin."

Arbiaz memeluk Raline dengan erat, Raline tidak bisa bergerak dan dia pun tidak bisa menolak. Oke Arbiaz menang banyak. Mereka kini menatap langit yang penuh dengan bintang dan lampu - lampu gedung pencakar langit yang menyala ditengah sore menjelang malam.

"Kayaknya gue gak mau biarin karyawan gue sakit, jadi mending kita turun aja."

Arbiaz merangkul Raline bangun dari tempat duduk besi itu, tanpa melepaskan jas yang diberikan Arbiaz. Berjalan masuk ke lorong remang - remang, menuju elevator untuk segera sampai ke parkiran.

Lift pun berbunyi Arbiaz dan Raline masuk ke dalam lift. Arbiaz memandang Raline dengan dalam, Biaz mendorong lembut tubuh Raline ke sisi lift, memegang wajah Raline dan meraup bibir Raline dengan lembut.

Rasanya Raline ingin melepaskan diri dari Biaz tapi genggaman erat Biaz tidak bisa di lumpuhkan.

"Ehmm pak."

Arbiaz menghentikan aksi nya karena lift telah sampai ke lantai terbawah, tempat parkir. Tangan Raline di genggam kembali oleh Biaz menuntun Raline masuk ke dalam mobilnya.

"Karena besok weekend, jadi gue pinjem loe untuk nemenin gue."

Arbiaz memasangkan sabuk pengaman pada kursi Raline,dan memasangkan kursi nya, Arbiaz menyalakan mobil dan membawa mobilnya keluar dari gedung.

*

Sampai lah mereka di Apartemen yang Arbiaz tempati, Apartemen yang terbilang desain nya dari luar gedung saja sudah sangat mewah. Raline tidak bisa berkata- kata dan hanya memasang wajah melongo sedari tadi memasuki lobi, dan anehnya Raline tidak berupaya kabur.

Arbiaz menekan tombol elevator , lantai 18, didalam lift hanya terdapat mereka berdua, Arbiaz terus menggengam tangan Raline layaknya Raline akan terjatuh bila dilepaskan.

"Oke kita udah sampai."

Arbiaz menekan kartu masuk ke pintu apartemen nya, membukakan pintu untuk Raline mempersilahkan Raline masuk terlebih dahulu.

Dan kembali Raline melongo melihat isi apartemen Biaz, pantas saja Arbiaz memilih tinggal di lantai yang bisa dibilang ketinggian nya cukup tinggi, terpampang gelapnya kota dihiasi lampu - lampu gedung pencakar langit.

"Have a seat Aline."

Raline mendaratkan bokong nya di salah satu sofa panjang dan Arbiaz membuat segelas minuman untuk tamunya itu. Rasanya Raline ingin mengeluarkan ponsel nya dan mengambil gambar pemandangan yang oh Tuhan bagus sekali.

"Bagus banget."

"Bagus ya? yaa ini baru lantai 18 , mungkin kalau diatasnya lebih bagus lagi"

"Apartemen gue sangat jauh berbeda pemandangannya." Ucap Raline tragis.

"Gw tahu, di dekat tanah yang sedang ada pembangunan kan?"

"Ah benar." Jawab Raline tersipu malu.

"Silahkan diminum minumannya, gue mau ke kamar dulu."

Raline menerawang minuman yang dibuat Arbiaz kali saja ada obat yang tidak ia inginkan. Setelah menerawang, sepertinya tidak ada bau apapun. Arbiaz keluar dari kamar nya memakai kaos oblong berwarna putih dan celana pendek, tidak terlalu pendek sedang saja.

"Tenang aja gue gak masukin apapun ke dalam situ, cuman sirup dan air, sirupnya merk *** kalau loe mau tau."

Akhirnya Raline meminum minuman tersebut dan Arbiaz pun duduk di samping Raline, Raline meneguk minuman nya, dan Arbiaz? memandangi Raline yang sedang menjaga image dengan minum peralahan - lahan layaknya model iklan.

"Btw loe udah makan belom?"

"Belum"

"Oke gue bakal masak buat kita berdua"

Arbiaz melangkahkan kakinya ke dapur. Raline mengikutinya, mungkin ingin membantu. Raline duduk di sebuah kursi tinggi dan memandangi Arbiaz mengeluarkan bahan - bahan dapur dari kulkas, lengan nya yang kokoh membuat hanya memegang sayur saja terliha seksi, cahaya yang berasal dari atas meja tempat Raline duduk membuat hanya dada Arbiaz yang terkena cahaya, dan itu membuat kaos yang tipis semakin memperlihatkan isinya, tidak terlalu jelas tetapi tampak jelas bayangan kotak - kotak berasal dari dada dan perutnya. Oh tidak Raline siapa yang mengajarkan mu berpikir seperti itu.

***Selama 15 menit Arbiaz memasak dan voilaa akhirnya makanan itu selesai dimasak. Raline membantu Biaz membawa makanan ke meja yang tadi Raline tempati, mereka mendaratkan bokong nya masing-masing, berdoa terlebih dahulu dan menyantap makanan mereka.

"Besok loe ada acara kemana?"

"Umm, gak ada, gak kemana - mana"

"Ohh okay."

Yang mereka lakukan hanya menyantap makanan mereka dalam diam.

"Umm biar saya saja yang cuci, pak Biaz sudah masak."

"Serius?"

"Iya."

"Oke terimakasi ya, maaf merepotkan mu."

TING TONG

"Sepertinya ada orang diluar, cepat buka pintunya pak."

"Hih jangan memanggil gue pak."

"Sudah bukakan dulu saja pintu nya."

Arbiaz meninggalkan Raline, dan Raline memasukan piring - piring ke dalam tempat pencucian piring , kecuali wajan, mungkin Raline lebih yakin bila menggunakan tangan nya sendiri. Oke selesai, Raline tinggal menaruhnya diatas rak piring.

Raline kembali ke ruang tamu duduk di sofa dan memandangi isi ruang tamu tersebut, terdapat beberapa foto ia dan keluarganya, terdapat juga Ara sepupunya.

"Sudah selesai cuci piring nya?"

"Udah."

Arbiaz menghampiri Raline dan duduk di sebelah nya, tiba - tiba saja Raline dipeluk oleh Biaz, Raline yang terkejut hanya bisa diam dan menerima pelukan tersebut tanpa membalasnya, rambut Arbiaz yang basah dan harum sabun membuat nafas Raline lebih santai.

"Bersih - bersih, lo harus nemenin gue malam ini."

"Maaf tapi gue harus pulang."

"Nih."

Arbiaz menyodorkan sebuah kantong kertaa berwarna cokelat dan Raline hanya bisa mengeluarkan ekspresi tanya.

"Pilih yang cocok dan nyaman."

Raline hanya mengiya kan perintah Arbiaz, pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri.

Selesai Raline membersihkan diri ia keluar dari kamar mandi dan pakaian yang ia kenakan terbilang biasa saja tetapi atasan piyama yanng berbentuk V itu terlalu turun dan sedikit memperlihatkan belahan dada nya.

Raline duduk kembali di sofa, secara gesit ia mengambil bantal dan menutupi dadanya, rambut Raline yang basah membuat Arbiaz gatal ingin mengeringkan nya.

"Udah malem dan loe keramas?"

"Iyah emang kenapa?"

"Basah tau ga ga bisa tidur kalo gini nanti pusing."

Arbiaz mengambil hairdry dari laci dan mengeringkan rambut Raline, tanpa ada penolakan. Biaz bekerja dengan baik sampai-sampai Raline terbengong.

Di tengah lamunan Raline, Arbiaz tidak sengaja melihat belahan dada yang dipampangkan oleh baju piama itu, ugh memang bawahan Arbiaz iseng nya tidak tanggung -tanggung.

Arbiaz segera menyelesaikan mengeringkan rambut Raline, dan Raline belum terbangun dari lamunannya, Arbiaz menyisir rambut Raline dengan perlahan.

"Sudah selesai.

Dan Raline belum terbangun dari lamunanya.

Arbiaz dengan hati - hati mengangkat tubuh Raline dan akhirnya Raline terkejut.

"Astaga nanti gue jatuh."

"Lagian keenakan banget, gue sampe dicuek in."

Arbiaz membawa Raline ke sofa mendudukan nya dan Biaz juga ikut duduk. Namun yang mereka lakukan sekarang hanya diam satu sama lain memandangi kota.

"Karna udah malem gue tutup ya tirai nya."

Arbiaz menutup tirai jendela dan kembali ke tempat semula. Raline memandang Arbiaz di tempat duduk nya begitu pun sebaliknya.

Arbiaz memegang kedua tangan Raline mengusap - usap keduanya dan mencium keduanya.

"Dingin banget tangannya."

"Gue angetin yah."

"Hmm gausah nanti juga hangat sendiri."

"Gapapa, ini jg gara- gara gue."

Arbiaz langsung menarik tangan Raline dan Raline terjatuh di dada bidang milik Arbiaz, Arbiaz memeluk Raline dengan erat sehingga Raline tidak bisa kabur dari hadapan nya.

"Tapi hangetinya gak cuman peluk doang."Raline terbangun dari tidurnya dan segera mematikan alarm yang sangat berisik. Segera ia menyiapkan pakaian kerja dan peralatan kerja nya, membersihkan diri , memasak sarapan dan bekal, dan beranjak keluar.


ARA ☆


"Wher ar u line, wut time is it huh, i dun wanna make your enemy angry to me"


Pesan muncul di layar hape Raline , dari Ara tentu saja dikarenakan hari ini ada jadwal pertemuan , dan Raline harus ikut dengan Arbiaz untuk membawa beberapa perlengkapan materi presentasi Arbiaz.


Dan tentunya semua itu rencana Biaz.


Raline segera menekan tempat sidik jari untuk absen dan berlari secepat yang ia bisa tanpa membuat kebisingan. Tentunya untuk menghindari amarah Biaz.


"Sorry for late, saya sudah siap dengan semua yang anda butuhkan."


Arbiaz memasang wajah datar sambil memegang segelas kopi nya melihat Raline yang sangat terburu - buru.


"Okay, i forgive u, btw pertemuan nya diundur satu jam lagi, saya harap kamu bisa memperbaiki diri kamu."


"Baik pa"


"Satu lagi."


Raline memasang wajah was - was akan kata - kata Arbiaz.


"Saya harap kamu sudah sarapan, saya tidak mau kamu salah fokus."


"Baik pa."


Arbiaz meninggalkan Raline dan masuk kembali ke dalam ruangan nya , Raline menyandarkan tubuhnya di dinding dan menghela nafas lega.


****


"Silahkan masuk ke dalam mobil saya."


"Iya terimakasih pa."


Arbiaz membukakan pintu untuk karyawan nya, hal baru yang Biaz lakukan, membukakan pintu untuk karyawan nya. Siapa lagi kalau bukan Raline.


Arbiaz menyalakan mesin nya dan menjalankan mobil sport hitam keluaran tahun lalu, ugh sepertinya Raline merasa seperti orang ber uang seketika.


"Okay, jadi semua perlengkapan nya sudah siap?"


"Iya pa sudah siap."


"Okay kerja bagus."


Arbiaz menyalakan radio untuk memcah kecanggungan diantara mereka. Tetapi hasilnya sama saja , Raline tetap diam dan meratapi jalan.


"Raline?"


"Ya pa?"


"Hmm, i just wanna ask something, but there is no relation with our work, may I?"


"Sure."


"Hmm aku harap kamu ga lupa sama yang udah kita lewatin."


Namun Raline hanya diam.


"And, do u wanna be my FWB?"


Raline mencengkram tas hitam dipangkuan nya, ah tidak yang benar saja , Raline harus merelakan semuanya untuk CEO yang dia tidak suka, termasuk yang ia jaga hingga kini.


Raline hanya diam , hingga sampailah mereka ke gedung tempat pertemuan para CEO dan pengusaha - pengusaha. Kalau dilihat -lihat memang populasi CEO atau pengusaha muda yang tampan sangat sedikit.


"Okay Raline, jangan ada yang terlewat ya."


"Baik pa."


Raline mengecek semua bahan , dan ya tidak ada yang terlewat sedikitpun. Arbiaz memulai presentasi nya dan tanya jawab antar CEO, ah mengapa Arbiaz begitu terlihat berkarisma, mungkin saja bila Raline tidak berada di dalam rapat, dia akan berkata "Sisain satu ya Tuhan"


Jadwal pertemuan pun selesai, Raline dan Arbiaz harus kembali ke kantor mereka. Arbiaz kembali membukakan pintu untuk Raline dan sekarang ditambah lagi memasangkan sabuk pengaman untuk Raline.


"Oke kita pergi."


Arbiaz kembali menjalankan mobil nya, dengan sedikit melirik dari ekor matanya , ia dapat melihat Raline dengan pesona nya, wajahnya yang tidak terbalut make up tebal, blazer yang membuat d**a nya semakin maju, oh tidak Arbiaz kau sedang menyetir. Entah lah apakah Raline tidak mempunyai kemeja yang lebih longgar, jujur saja ini mengganggu penglihatan Arvbiaz.


"Raline"


"Iya mas? Eh maksudnya..."


"Saya merasa baju yang kamu kenakan agak..."


Arbiaz ingin mengatakan nya tapi tidak sanggup, takut membuat rendah perasaan Raline.


"Ada yang salah Pa?"


"Hmm gimana ya saya ucapin nya.'


Raline segera merapatkan blazer nya , mengetahui apa yang Arbiaz maksud.


Oh tidak, rasanya Raline ingin mengutuki dirinya sendiri.


***


Ting tong


Bel pintu apartemen Raline berbunyi, seorang pengantar paket memberikan sebuah paket kepada Raline, tidak besar.


SAYA HARAP INI BISA BERGUNA, DAN SAYA HARAP KAMU MEMAKAINYA


Raline membuka paketnya, dan mengeluarkan isinya, oke, kemeja , blouse dan pakaian kerja lainnya yang berukuran satu tingkat lebih besar dari yang ia punya.


Tidak terlalu besar tidak terlalu kecil, dan ini bisa menyamarkan apa yang Arbiaz maksud kemarin.


TING TONG TING 


Satu pesan masuk berbunyi dan berasal dari Arbiaz.


"Saya tidak akan mengambil apa yang kamu jaga."


Dia seperti peramal saja, tahu saja apa yang Raline pikirkan.


Entah apa yang Raline akan lakukan, kini ia berpikir sedikit keras untuk lebih menghindari bos nya itu.



Kembali ke Beranda