My Disaster CEO
Romance
04 Jan 2026

My Disaster CEO

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-04T194238.214.jfif

download - 2026-01-04T194238.214.jfif

04 Jan 2026, 12:42

download - 2026-01-04T194231.875.jfif

download - 2026-01-04T194231.875.jfif

04 Jan 2026, 12:42

Lantunan lagu Without Me dari Halsey mengalun merdu melalui earphone yang tersemat di telinga Alicia. Ia ikut bersenandung kecil, sementara netranya sibuk membaca novel romansa karya John Green. Gadis bermata bulat itu datang lebih awal dari pada mahasiswa lainnya.

Salahkan kebodohannya yang lupa mengganti baterai pada jam weker. Alicia mengira ia sudah terlambat datang, padahal jamnya sudah mati sejak kemarin pukul sepuluh malam.

Alhasil beginilah nasib Alicia sekarang, sendirian di kelas.

Alicia melepas earphone di telinga kirinya, merasa sedikit lelah mendengarkan lagu selama kurang lebih 45 menit. Ia merenggangkan kedua tangannya guna melepas penat. Netranya menjatuhkan perhatian ke luar jendela. Tidak seperti ketika Alicia tiba lebih awal, kampus sudah mulai ramai dipadati mahasiswa.

Seharusnya Kina udah dateng, batin Alicia, atau jangan-jangan dia ngebo lagi gara-gara marathon drama Korea?

Kina adalah sahabat Alicia sejak SMA. Meskipun bertolak cukup jauh, mereka sangat akrab. Alicia tidak pernah terlihat jauh dari Kina dalam waktu lama. Bahkan setelah lulus SMA, keduanya memutuskan mendaftar di Universitas yang sama.

Sepuluh menit sebelum kelas dimulai, Kina datang dengan wajah mengantuk. Cewek berambut panjang itu menyapa Alicia sebelum duduk di sebelahnya.

“Pasti nonton drama Korea, ‘kan?” tanya Alicia dengan senyuman kecil. Perutnya tergelitik melihat muka bantal Kina.

Kina menyandarkan kepalanya di meja dengan malas. “Jangan bawel, deh.”

“Nggak, tuh. Gue cuma tanya.”

“Mending lo urusin beragam laporan keuangan yang numpuk di tas lo,” dumel Kina sebelum menguap lebar. “sumpek tahu. Lo kayak mau pindah rumah aja dengan tas segede gaban itu."

“Ih, bawel lo.”

***

Kelas Alicia berakhir pada pukul sebelas siang. Ia punya janji untuk makan siang bersama Kina. Oleh karena itu, Alicia menunggu di kantin. Ditemani jus jeruk beserta novel, Alicia tenggelam ke dalam dunianya. Tidak peduli betapa ramainya mahasiswa yang berlalu lalang. Entah itu sedang makan siang, membolos mata kuliah, atau sekedar nongkrong bersama teman. Ada pula yang hanya duduk sendirian, seperti Alicia.

Alicia hanyalah salah satu dari mahasiswa yang tidak ikut kegiatan apa pun. Alias, mahasiswa kupu-kupu. Tidak heran bila ia tidak memiliki banyak teman. Bedanya, hampir seluruh mahasiswa tahu siapa dirinya. Dari pada mengucilkan, mereka cenderung segan untuk mendekat.

Ketika jam menunjuk pukul setengah dua belas, suasana kantin tiba-tiba berubah ricuh. Seolah ada bom waktu yang terpasang dan kini meledak. Seluruh perhatian mahasiswa berpusat pada satu objek yang sama, perempuan keturunan asing yang baru memasuki area kantin.

Biasanya, Alicia tidak suka suasana semacam itu. Namun, ia tidak mau repot-repot pindah lokasi.

“Itu yang namanya Lily?”

“Wah, keren banget ya kalau dilihat langsung.”

“Serius dia, nih? Cantik banget, dong.”

Nama Lily yang dibisikkan seolah mempunyai magnet tersendiri. Alicia menoleh, segera mencari sosok Lily yang sukses menggemparkan kantin. Perempuan itu duduk tidak jauh darinya, sedang menyantap roti bakar sendirian. Tidak ada gen Indonesia pada dirinya.

Pantas saja seisi kantin heboh, bule yang datang.

“Eh, sorry kelamaan.” kata Kina yang baru selesai dari jadwal kelasnya.

Alicia mengangguk. “Ayo. Kasihan Dava sama kak Fian nunggu lama.”

“Ah, mereka mah nggak usah dipikirin. Pasti lagi asyik mabar.”

“Tadi, sih, di-chat kak Fian. Katanya, mereka udah pesenin makanan,” Alicia merapikan poninya. “double cheese burger.”

Setelah Alicia merapikan barang-barangnya, mereka bergegas ke parkiran. Kina tidak pernah bisa tahan terhadap terik matahari di siang hari. Oleh karena itu, ia segera menggeret Alicia menuju parkiran demi merasakan dinginnya AC mobil.

Alicia yang merasa penasaran dengan Lily, ragu-ragu mencoba bertanya kepada Kina. Namun, belum sempat ia bersuara, tiba-tiba Kina bercetus. “Tadi ada Lily di kantin, ya? Heboh banget.”

“Iya. Kenapa?”

“Nggak heran kalau lihat orang Indonesia agak norak pas ketemu bule. Setahu gue, Lily itu anak DKV. Orangnya nggak neko-neko. Termasuk supel. Pengikutnya banyak di Instagram. Terus, keturunan Eropa. Kalau nggak salah, London.”

Alicia semakin penasaran. “Dia emang sendirian, ya? Tadi dia makan sendirian di kantin.”

“Kayaknya iya. Gosipnya, sih, dia belum lancar bahasa Indonesianya. Makanya, banyak yang belum berani ngomong sama dia. Entah benar atau nggak.”

“Masa, sih?”

“Gue nggak kenal dia secara personal. Tumben lo tanya-tanya beginian?”

Alicia mendengus. “Gue cuma tanya.”

“Lo merasa ada teman senasib, ya? ‘Kan lo termasuk blasteran juga. Eh, Lily bukan blasteran, ding.”

“Orang cuma tanya, kok. Penasaran aja, kok orang terkenal seperti dia malah sendirian.”

Sesampainya di mobil, tiba-tiba tercetus ide di kepala Kina. Sebelum mereka benar-benar meninggalkan area kampus, Kina bersuara. “Lo tertarik buat berteman sama Lily?”

Awalnya, Alicia tidak menjawab. Ia fokus menyetir. Akan tetapi, ketika berhenti di lampu merah Alicia bergumam. “Mungkin.”

***

Dari sekian orang yang mendekati Alicia, hanya beberapa yang dianggap teman. Cewek berambut panjang itu cukup selektif dalam kehidupan sosial karena tak ingin dimanfaatkan oleh orang lain. Menjadi salah satu anggota keluarga Collins membuatnya terkenal di kalangan darah biru Eropa. Sudah pasti banyak yang ingin mendekatinya. Alicia tidak suka itu dan lebih memilih berteman dengan Kina. Satu-satunya perempuan yang menjadi sahabatnya.

Alicia tidak menyesal. Justru ia senang karena bersama Kina sudah merasa cukup. Kina tidak pernah mengecewakannya dan selalu mengatakan hal yang seharusnya ia katakan.

“Cia!”

Selain Kina, Fian juga selalu menemani Alicia. Kakak sepupu tertua yang selalu menemani Alicia sejak kecil.

Alicia menoleh. “Kenapa, kak?”

“Lo yang kenapa, malah ngelamun,” Fian melirik arlojinya sekilas. “Tadi jalanan macet, ya?”

Alicia mengangguk. “Iya. Ada perbaikan jalan berlubang di dekat kampus.”

“NOT AGAIN!” seru Dava heboh sambil membanting ponselnya di meja. Sukses mengagetkan semua orang.

Sontak, Fian melotot. “Apaan sih, bego?”

“Kalah lagi,” Dava merengek. “Tim gue yang bego, bukan gue.”

Kina menggelengkan kepala. Lelah. “Pantes nggak punya pacar.”

Topik tentang asmara adalah topik sensitif bagi Dava. Entahlah, sejak melewati umur dua puluh, Dava sangat sensitif terkait percintaan.

“Punya kaca tuh jangan buat dandan, doang.”

Kina melirik kakaknya sinis. “Kata seseorang yang super menye sama masalah percintaan.”

“Eh, lo juga jomblo. Dilarang menghina saudara umat lo sendiri.”

“Mohon maaf, nih. Gue single. Lebih terhormat dari pada lo.”

Dava segera mencubit pipi adik kembarnya dengan ganas. “Awas aja kalau gue punya cewek secakep Lisa Blackpink, gue katain status terhormat lo itu.”

Selanjutnya diisi oleh keributan dan aksi saling mencubit di antara mereka. Bukan hal aneh lagi melihat Dava dan Kina ribut. Biasanya, Fian menjadi penengah dan Alicia sebagai penonton. Mungkin Fian sudah capek melerai keributan sepasang saudara kembar itu dan memilih cuek. Kalau sudah begitu, tidak ada yang bisa meredakan keributan mereka.

“Rese banget, sih, lo!” Kina berseru kesal setelah Dava mencubit lengannya. Tapi Dava justru tidak menunjukkan rasa bersalah. Barulah setelah Kina menekuk bibirnya, Dava mulai melunak.

“Bisa ngambek lo?” Dava menjawil pipi Kina, tapi cewek itu malah menyentakkan tangannya.

“Ih, adek gue yang dikata kembaran Dara 2NE1 jangan ngambek mulu. Senyum dong.”

“Gue nggak mempan sama traktiran.”

“Masa, sih? Lagi ada varian es krim baru, lho.”

“Bodo amat.”

Secara tidak terduga, tiba-tiba Dava menggenggam segelas es krim bertopping saus strawberry dan dua biskuit oreo. Entah sejak kapan es krim itu hadir di meja, yang jelas Kina sangat terkejut melihatnya. Pasalnya, ia adalah pecinta strawberry dan tidak pernah bisa menolak apa pun yang berbahan strawberry.

Bukan cuma Kina yang terkejut, Fian dan Alicia pun heran. Seingat Fian, Dava tidak memesan es krim strawberry. Kenyataan bahwa Dava terkadang bertindak ajaib itu sudah bukan hal baru lagi. Hanya saja mereka tidak pernah terbiasa ketika itu terjadi.

“Masih mau nolak, nih, neng?” kata Dava menaik-turunkan alisnya usil.

Cowok bermata hazelnut itu tahu persis adiknya tidak pernah bisa menolak strawberry.

Meskipun tampak malu setengah mati, tangan Kina tetap menyambar es krim itu dari tangan Dava. Sambil menahan malu, cewek itu menyantap es krimnya tanpa mengucapkan apa pun. Sontak saja membuat Dava terkekeh kemudian melanjutkan game-nya di ponsel. Harus Kina akui terkadang Dava bisa sangat manis sebagai kakak.

Terkadang, Alicia iri dengan Kina. Berbeda dari sahabatnya, ia merupakan anak tunggal.

“Omong-omong, lo udah nyelesaiin revisian kemarin, Dav?” tanya Fian sembari menyeruput coke-nya. “Nggak bisa santai, sih, kalau dapat Pak Subagia. Suka bener bikin orang dikejar waktu.”

Dava menghela napas. Tidak mengalihkan perhatian dari layar ponsel. “Kurang dikit, sih. Lampiran hasil penelitiannya belum gue cantumin. Terus belum gue translate ke bahasa Inggris. Mana grammar gue nggak sejago anak Sastra Inggris, eh, tuh orang nyuruh pake versi bahasa Inggris.”

“Kenapa nggak minta bantu sama anak Sastra aja? Dari pada translate sendiri, malah salah semua.”

“Maunya begitu. Tapi mereka juga pada sibuk ngerjain skripsi. Gue, ‘kan, jadi sungkan.”

Alicia tidak bisa ikut campur jika Fian dan Dava sudah membahas soal skripsi. Saat ini, keduanya sedang dalam tahap pengerjaan skripsi. Rencananya mereka ingin sidang di tahun ini kemudian segera mencari pekerjaan. Dengan kemampuan otak mereka, sudah tidak perlu diragukan lagi. Namun sayangnya, itu berarti perpisahan bagi Alicia. Sebab ia tidak bisa satu kampus lagi dengan mereka.

“Kenapa nggak coba minta bantu sama Lily? Anak DKV itu?” cetus Kina setelah selesai melahap habis es krimnya.

“Lily si bule itu?” tanya Dava dengan mata bulat. Anggukan dari Kina membuatnya berseru heboh. “Ya kali, woy. Dia aja nggak fasih bahasa Indonesia. Terus, gue yang ecek-ecek dalam persoalan grammar disuruh ngomong sama dia? Bunuh aja gue, Na!”

Kina merengut kesal. “Yeee, lo kok percayaan banget sama gosip itu, sih? Belum juga dicoba udah fitnah duluan.”

“Gini, ya, adekku tercinta. Dari pada tiba-tiba minta tolong ke dia padahal nggak kenal satu sama lain, mending gue minta tolong Cia,” kata Dava, kemudian melayangkan senyuman maut ke Alicia. “Ya, ‘kan, Ci?”

Alicia mau muntah.

“Dilarang ganjen ke adek sepupu gue,” sela Fian sedikit sewot. “Yang ada lo bukannya ngerjain translate malah ngegombalin Cia sampai bego.”

“Deeek, Fiannya jahaaat. Masa Dava dimarahin.” Dava memasang tampang terluka, yang membuat Kina memutar bola matanya, sementara Fian dan Alicia mengerutkan kening jijik.

“Na, tolong, dong, abang lo dikondisikan.” Alicia mendengus kesal seraya menggigit suapan terakhir burgernya.

“Jadi, gimana urusan translate skripsi lo? Gue ada temen yang jago bahasa Inggrisnya. Mungkin lo mau.” Fian mengecek ponselnya sekilas. “Nanti sore kayaknya dia ada jadwal kelas. Mau, nggak?”

Dava menoleh. Menatap Fian lekat-lekat. “Nggak usah, deh. Kan, ada ini.”

“Kina?” tanya Alicia bingung.

“Lo nggak tahu? Kina tuh adik paket lengkap. Selain cantik, rajin, nggak sombong, dia juga selalu mengabdikan diri buat membantu gue. Gue sayang adek gue.” Dava tersenyum lebar, tidak lain tidak bukan seluruh perkataan manisnya hanyalah karangan semata demi meluluhkan adiknya.

Sementara Fian dan Alicia berharap mereka ditelan bumi saat itu juga.

***

Seperti biasa, Alicia akan segera berganti pakaian selepas pulang kuliah. Selesai membersihkan diri, ia mengenakan rok span selutut dan kemeja putih beserta jas hitam. Memulas make up tipis agar tampak segar kemudian memakai heels. Selepas menyemprotkan parfum, cewek itu langsung mengemasi barang-barang, lantas menuruni anak tangga.

“Nggak makan siang dulu, Non?” tanya Mbok Ayu, pembantu yang sudah mengabdi sejak Alicia lahir.

“Tadi sudah makan sama kak Fian, Mbok. Aku langsung berangkat aja,” jawab Alicia sembari merapikan penampilannya kembali di depan cermin lemari gelas di ruang tamu. Alicia selalu berusaha menjaga penampilannya di kantor, setidaknya ia harus memberi contoh yang baik terhadap karyawan lain. “Mobilnya sudah disiapkan Pak Budi?”

“Sudah, Non.” Mbok Ayu segera berlari kecil kemudian membukakan pintu untuk Nona mudanya.

Alicia masuk ke mobil. Ditemani oleh supir pribadi sejak kecil, Alicia duduk dengan tenang di jok belakang. Ia membuka map kertas berisi beberapa lembar perjanjian yang perlu ditandatangani. Sebelum akhirnya ia juga disibukkan oleh ponselnya yang mulai berdering.

“Soal lembar perjanjian, saya masih mempelajari tiap butir kesepakatan yang tercantum.”

“….”

“Iya, Bapak. Bila perlu saya ingin kita bertemu secara personal untuk membahas kesepakatan ini lebih lanjut. Karena ini menyangkut perusahaan masing-masing, tentu kita ingin yang terbaik, bukan?”

Perusahaan. Ya, seperti itu lah hidup Alicia. Bukan hanya sekadar mahasiswa biasa. Ia juga memiliki perusahaan yang harus diurus di usia terlalu muda. Bagi Alicia, menjadi salah satu anggota keluarga Collins dan seorang Direktur Utama di perusahaan Collins Group merupakan beban terberat. Terlebih ia menghadapinya seorang diri. Tanpa didampingi sosok orang tua."Ah, iya. Soal data pendaftar kepala HRD kemarin sudah direkap?"

"Sudah, Nona. Rencananya hari ini akan diadakan rapat lebih lanjut mengenai perekrutan HRD pada jam tiga sore."

Alicia mengangguk. "Bagus. Lebih cepat lebih baik. Tahun ini sepertinya akan lebih banyak lagi yang melamar kerja. Kita harus cepat-cepat merekrut kepala HRD."

Ody, sekretaris Alicia, merapikan berkas-berkas yang sudah ditandatangani oleh Alicia kemudian pamit. Kepergian Ody kembali membawa kesunyian di ruang kerja Alicia. Ruangan yang terlalu besar untuk ditempati satu orang. Di belakang kursi kerja Alicia, ia dapat melihat pemandangan kota Jakarta. Ia juga dapat melihat matahari terbenam setiap harinya. Jika sudah terbenam, Ody akan membawakan sepiring pudding dan teh. Namun sepertinya hari ini Alicia tidak berminat pada camilan favoritnya.

Jujur saja, Alicia selalu lelah. Ia tidak bisa bersenang-senang seperti anak lain. Ia tidak bisa mengikuti UKM kampus. Padahal ada satu UKM yang menarik perhatiannya. Namun, Alicia terpaksa menjadi mahasiswa kupu-kupu karena memiliki tanggung jawab di kehidupan lain, Direktur Utama. Seringkali ia melupakan tugas-tugas kuliahnya karena terdesak oleh tugas kantor. Sering juga Alicia ketiduran di kelas karena lembur kerja.

Ah, betapa susahnya.

Alicia tidak boleh mengeluh. Ia tidak ingin mengecewakan orang tuanya.

"Tumben banget lo tidur. Jangan-jangan kemarin lo marathon drama Korea juga, ya?"

Alicia membuka matanya yang terpejam. Ada Kina yang duduk di sofa dengan membawa seplastik McDonalds. "Kok lo di sini? Kapan datangnya?"

"Baru aja. Lo aja yang nggak kedengeran."

"Terus, kenapa tiba-tiba dateng?"

"Lo lupa, ya? Ada tugas dari Pak Rendra tahu."

"Eh, sialan. Iya, ya. Lo mau ngerjain di sini?"

Kina mengangguk. Alicia mendumal kesal.

Gue bantu kerjain, deh. Udah gue duga lo bakal lupa sama tugas itu."

Alicia nyengir. "Gue, kan, punya tugas double-double."

"Banyak alasan lo, ah. Bilang aja lo juga bakal males ngerjain."

Spontan, Alicia melempar penghapus yang kemudian telak ditangkap oleh Kina. "Jangan ngajak ribut, deh. Bentar lagi gue ada rapat. Panjang urusannya kalau urusan pribadi dibawa ke kantor."

Kina menjulurkan lidahnya. "Sok perfeksionis. Udah ah, lo urus aja urusan kantor lo. Gue mau ngerjain, kurang dikit lagi."

Alicia bangkit dari kursi kerja kemudian berlari kecil menghampiri Kina. Ia ingin membongkar isi plastik McDonalds milik Kina. Biasanya cewek galak itu membeli es krim atau beberapa burger dan kentang goreng. Ia selalu berbagi dengan Alicia. Akan tetapi sepertinya hari ini Kina tidak mau berbagi karena cewek itu mencekal tangan Alicia. Tangannya melindungi McDonalds-nya dengan posesif. Hal ini membuat Alicia cemberut setengah mati.

"Kok nggak boleh, sih?" tanya Alicia kesal.

"Gue tahu lo terakhir makan burger doang di Wendy's. Ini paket panas, gawat kalau lo habisin." kata Kina sambil mendelik.

"Gue juga laper tahu."

"Oke, fine. Gue nggak laper, tuh," kilah Alicia cepat. Secepat ia berbohong, secepat itu pula perutnya berbunyi. Menimbulkan tawa kencang keluar dari bibir Kina.

"Oke, lo nggak laper. Cacing lo yang laper." ledek Kina di sela tawanya, tidak memedulikan teriakan kesal Alicia.

***

Selesai dengan urusan kantor, Alicia pergi ke rumah Fian untuk makan malam. Riska, Bunda Fian, mengundangnya kemarin. Katanya, sekalian kumpul bersama keluarga lain. Berhubung sebentar lagi hari Minggu, Bunda juga ingin seluruh keluarga berkumpul bersama. Oleh karena itu, Alicia juga diminta untuk menginap. Tetapi, ia menolak dan memilih ikut makan malam saja.

Rumah Fian tidak begitu jauh dari kantor Alicia. Letaknya di area terdepan perumahan sehingga tidak perlu masuk lebih jauh. Di depan rumah, terlihat beberapa sepupu Alicia sedang bercengkrama. Kedatangan Alicia membuat mereka berhenti bernyanyi demi menyapa cewek itu.

"Incess Korea dateng! Bawa oleh-oleh, nggak?" tanya Aldi rusuh sambil merentangkan kedua tangan ke Alicia.

Alicia menepis tubuh Aldi jauh-jauh. Bukan tanpa alasan, cowok itu penuh keringat hasil dari main basket dengan Fian. Alicia paling benci bau keringat cowok!

"Eh, jauh-jauh lo, ya. Bau asem dilarang deket-deket gue!" seru Alicia dengan mata mendelik. Sayangnya, tidak digubris oleh Aldi. Cowok itu malah menyengir dan berderap mendekat. Spontan saja Alicia berteriak heboh. "ALDI! IH, RESE LO, YA!"

Teriakan Alicia membuat Bunda dan Oma berlari keluar dari rumah. Raut panik Bunda segera sirna ketika melihat Aldi dan Alicia kejar-kejaran di halaman. Sedangkan, Oma menghela napas panjang. Seharusnya ia tidak perlu panik. Lama tidak berjumpa membuatnya lupa dengan kebiasaan para cucunya.

"Eh, ini anak dua masih aja kayak anak kecil," keluh Bunda. "Ayo masuk. Mumpung Cia udah datang. Keburu dingin ayam betutunya."

"Iya, tuh, Bunda. Aldi makin gede makin rese!" Alicia mengadu seraya berhambur ke pelukan Bunda. Melindungi diri dari bau keringat Aldi yang memang super asem.

"Dasar tukang ngadu!" olok Aldi tidak terima.

"Bodo amat!"

Bunda segera menggeret Alicia masuk ke dalam rumah sebelum terjadi keributan kembali. Kalau sudah kumpul keluarga begini Alicia dan Aldi memang selalu ribut. Ada saja yang diributkan. Namun, lebih seringnya adalah perkara bau keringat Aldi. Aldi yang suka bermain basket bersama Fian itu selalu menjahili Alicia. Dan selalu saja Bunda yang meleraikan.

Kali ini Alicia akan menjaga jarak sejauh-jauhnya dari Aldi. Sehingga ia duduk di sebelah Bunda, demi perlindungan diri. Selain Bunda, ia juga didampingi oleh Fian, tentunya cowok itu selalu mandi setelah bermain basket. Bentuk meja makan yang bundar membuat Alicia tidak duduk berhadapan dengan cowok berambut acak-acakan itu.

Makan malam dimulai setelah semua anggota keluarga hadir di meja makan.

Mereka berdoa bersama sebelum kemudian mulai menyantap makanannya masing-masing. Terkadang diselingi oleh obrolan ringan dari Opa. Kali ini Opa mengajak Alicia berbicara. Ya, meskipun tiap bertemu Opa selalu menyempatkan. Namun rasanya kali ini berbeda.

"Bagaimana dengan perusahaan? Berjalan baik?" tanya Opa sembari mengaduk tehnya.

Alicia mengangguk. "Iya, Opa. Baru-baru ini cuma ada agenda perekrutan kepala HRD sama perjanjian kerja sama dengan Peterson Corp."

"Peterson Corp? Bukannya sejak dulu kita sudah bekerja sama dengan mereka?"

"Iya, Opa. Kali ini mereka memperbarui butir perjanjiannya saja."

Opa mengangguk paham. "Kamu sudah bekerja keras."

Sebelum Alicia menyahut, tiba-tiba Keyla bersuara. "Iya, Opa. Sampai-sampai kak Cia punya mata panda yang hitam banget."

Keyla adalah adik Fian. Berbeda dari kakaknya, Keyla cenderung usil.

"Jangan kumat, deh, Key." Alicia meringis berusaha membujuk Keyla, tapi tentu saja Keyla tidak menggubrisnya.

"Ya, kan, kak Al? Katanya, sih, incess Korea. Kok, punya mata panda? Jangan-jangan incess Cina, tuh." Alih-alih menuruti permintaan Alicia, Keyla justru berceloteh lebar serta mengajak Aldi untuk ikut usil. "Eh, jangan, deng. Incess Cina juga kebagusan. Yang bener, sih, ngencess."

"Lo mau mati, ya?" Alicia justru memukul Fian karena cowok itu yang paling dekat dengannya. Sedangkan Keyla duduk jauh darinya.

"Kok malah gue yang dipukul?" tanya Fian tak terima.

"Lo di sebelah gue. Lo juga kakaknya."

Tidak hanya Fian yang protes, sikutan dari Bunda membuat Alicia diam. "Habisin dulu makannya. Kamu juga, Key."

"Ih, Bunda. Padahal kak Fian yang mulai duluan," Alicia merengut. "jangan belain Keyla terus, dong, Bun."

"Nggak ada yang belain Keyla, tuh." kilah Bunda seraya melirik galak pada Keyla.

"Ih, kok gitu, Ma!" Keyla sontak berseru. Namun, langsung merapatkan bibirnya kembali, tersadar di depannya acara makan malam belum usai. Oma hanya tertawa melihat kelakuan cucunya yang selalu manja.

"Jarang-jarang, lho, kita bisa kumpul begini. Harusnya kamu kurang-kurangi usilnya," Bunda mengelus kepala Alicia, lantas beralih pada Fian. "Kamu gimana proses skripsinya?"

"Zonk, Tante! Zonk sekali!" alih-alih Fian, justru Aldi yang menjawab. Cowok itu kembali menyeringai usil. "Fian aja main basket mulu. Gimana mau ngerjain skripsi? Udah dijamin mahasiswa aba-aw, sakit David!"

Aldi mengerutkan keningnya, kesal. Namun tak dihiraukan oleh David karena ia tak mau ditegur oleh Opa maupun Bunda.

Opa mengibaskan tangannya cuek. "Alicia, habis makan malam, ikut Opa sebentar, ya. Ada yang mau Opa bicarakan."

Sepuluh menit kemudian, makan malam selesai. Bunda dan Oma sedang mencuci piring di dapur dibantu oleh Keyla. Fian beserta cowok lainnya memilih naik ke lantai untuk bermain PlayStation. Sementara Alicia duduk di ruang keluarga bersama Opa. Ia bermain bersama Nina sebelum kemudian Opa datang dengan membawa segelas teh tawar.

"Terkait Peterson Corp, kamu harus lebih berhati-hati dengan mereka," kata Opa tanpa menunggu Alicia bersuara.

Alih-alih bertanya, Alicia mengangguk setuju. "Aku tahu, Opa. Karena mereka pemegang saham terbesar setelah aku, 'kan?"

Opa menggeleng. "Bukan itu. Opa ingat, sebelum Andre dan Amanda meninggal, mereka sempat membuat semacam perjanjian dengan keluarga Peterson."

Mendengar kedua orang tuanya disebut membuat Alicia terkejut. Ia tidak ingat, bahkan mungkin tidak tahu bila orang tuanya punya hal semacam itu. Bukannya jarang berkomunikasi, mereka pasti tidak sempat memberitahu.

Atau mungkin saja, mereka sengaja tidak memberitahu.“Dia udah di kantin. Sendirian, sesuai dugaan gue,” Kina memberitahu di video call bersama Alicia dan Dava. Kemudian, Kina melirik ke arah Lily yang sedang berkutat pada laptop dan sandwich.

Sejujurnya, Kina tidak yakin dengan rencana ini. Kina tidak mengenal Lily sama sekali. Begitu pula sebaliknya. Lalu, tanpa adanya hubungan saling kenal, Kina terpaksa berlagak sok kenal kepada Lily? Benar! Hanya untuk kepentingan skripsi kakaknya yang tidak tuntas!

Semalam, Dava sudah berada di ujung usahanya. Perasaan putus asa sudah menggoyahkan semangatnya. Sehingga, Dava menyetujui saran Kina untuk meminta bantuan Lily. Meskipun saat itu ia berdalih bantuan Kina lebih baik, nyatanya Kina tidak mau membantunya. Cewek itu lebih memilih membantu Dava minta tolong kepada Lily, alih-alih dirinya sendiri yang membantu skripsi Dava.

“Dav, lo di mana, sih? Buru cepetan ke kantin!” seru Kina setelah sepuluh menit Dava tidak kunjung datang. Ia takut Lily tiba-tiba pergi.

“Sabar, elah. Gue udah jalan dari tadi.”

“Jalan apa jalan lo? Lelet amat! Keburu pergi, ntar.”

“Gimana kalau lo recokin sekarang aja, Na?” usul Alicia tiba-tiba. “Daripada tiba-tiba pergi, kan.”

Tentu saja Kina melotot sempurna. Dari rencana keseluruhan, Kina mendapat posisi paling beresiko. “Ya, bener, sih. Tapi, hati gue masih belum siap.”

“Lo tinggal duduk di sebelah atau di depan dia. Terus, lo recokin dan sok bersalah, ‘kan?”

Kina mengangguk, wajah galaknya seketika berubah menjadi sedih. “Kedengarannya aja gampang, Cia. Lo coba di posisi gue, malunya itu lho setengah mampus.”

“Demi gue, dek. Demi gue,” Dava menyahut, alih-alih Alicia. Cowok itu terlihat mengibaskan poninya dengan raut memelas. “Lo tega ngebiarin gue mundur sidang? Lo mau jadi adek dari mahasiswa abadi?”

Kina tersenyum sinis. “Jadi, lo nggak mempermasalahkan harga diri gue di depan Lily?”

“Ini serius pertama dan terakhir kalinya. Please.”

Oke, Kina tidak harus memperpanjang perdebatan yang sia-sia ini. Mau tidak mau ia harus ke Lily. Mengganggu perempuan asing itu dan mengajaknya berteman untuk kemudian diminta membantu Dava.

Oleh karena itu, Kina beranjak dari kursi. Tanpa mematikan video call, ia mendekati Lily. Perempuan itu sedang membaca buku. Sesekali matanya beralih pada layar laptop. Sesekali juga tangannya bergerak menyuapkan sandwich. Lily sangat tenggelam ke dalam dunianya sendiri. Hingga ia tidak menyadari kehadiran Kina di depannya. Bersiap menyenggol gelas air mineral yang berdiri tidak jauh dari kertas-kertas Lily.

“Ups, I’m sorry,” kata Kina mendramatisir suasana tepat setelah tangannya menyenggol gelas tersebut. Dari raut terkejut Lily, perempuan itu pasti tidak mengendus unsur kesengajaan pada diri Kina. “I’m so sorry. I didn’t mean it.”

Tangan Lily dengan sigap menyingkirkan kertas-kertas catatannya dari genangan air. Perempuan bermata biru itu mengelap cipratan air dengan tisu. Kemudian memeriksa kertasnya yang sedikit basah.

“Kamu nggak perlu ngomong pakai bahasa inggris,” kata Lily tiba-tiba dengan fasihnya. Sukses mengejutkan Kina setengah mati. “Oh, ini nggak apa-apa, kok. Kertasnya nggak terlalu basah.”

Kina dengan mulut melongonya duduk tegap di hadapan Lily. “Lo… lo bisa bahasa Indonesia?”

Anggukan dari Lily membuat Kina semakin melongo. Tidak hanya Kina, baik Alicia dan Dava yang menyimak dari video call pun tidak jauh berbeda. Bagi Dava, ini sebuah keberuntungan. Ia tidak perlu susah-susah berbicara dengan Lily. Skripsi Dava sudah dipastikan aman!

Kakak kembar Kina datang dengan senyum cerah. Cowok tinggi itu duduk di sebelah Kina setelah menyapa Lily. Bahkan ia tidak peduli betapa sok kenalnya dia di depan Lily. Pokoknya, skripsinya aman.

“Gue Dava, hasil dari gen amoeba-nya Kina,” kata Dava berkelakar yang kemudian mendapat cubitan keras. “Maksudnya, gue kembarannya.”

Lily mengangguk, cewek berambut cokelat itu terkekeh. “Pantes mirip.”

“Gue minta maaf banget soal tadi. Itu pasti catatan, ya? Gue tulisin ulang, ya?” kata Kina bersalah. Ah, dirinya juga masih malu dengan insiden sok membully Lily. Kalau bukan karena Dava, Kina tak akan melakukannya.

“Itu cuma coret-coretan saja, kok. Kalau lagi bosan, tanganku selalu mencoret apa pun di sekitarku.”

“Berarti bisa gambar juga, dong?” celetuk Dava yang disambut gelengan kepala. “Kok gitu?”

“Gambar absurd aja, kok. Bukan yang bagus banget.”

“Benang wol gitu? Sama, dong. Jangan-jangan….”

“Kenapa?”

“Kita jo—aduh, sakit, bego!” Dava berseru sambil memegangi pinggangnya yang berkedut panas. Dava tidak akan pernah terbiasa dengan cubitan adiknya sendiri. Sakit! Tapi salahnya sendiri usil.

Kina memasang senyum lebar terbaiknya. “Omong-omong, ini Dava pengen minta bantuan buat skripsinya. Tapi kalau lo nggak mau juga nggak apa-apa.”

“Bantuan apa?” tanya Lily, menjatuhkan seluruh perhatiannya pada kakak beradik di depannya.

“Translate-kan skripsinya ke versi bahasa inggris. Dava itu masih kacau di grammar-nya. Jadi, dia takut salah ejaan.”

Dava mengangguk. “Gawat kalau gue bikin ulang lagi. Udah rugi di tenaga, di dompet juga.”

Alicia yang mendengarkan percakapan mereka melalui video call itu tersenyum. Cewek berkulit putih itu memutuskan tidak datang ke kantin. Sebab, tiba-tiba ada meeting mendadak di kantor. Tentu saja Alicia tidak bisa meninggalkannya. Ia akan pamit pada Kina setelah obrolan mereka dengan Lily selesai.

Firasat Alicia, sih, Lily akan setuju membantu Dava.

***

Alicia menyesap teh herbal sembari menyimak Ody membaca jadwal kerjanya hari ini. Tidak begitu banyak. Hanya sekadar rapat pembagian divisi beserta susunan divisi yang baru. Alicia bisa saja tidak usah mengurusnya, biar wakil direktur yang mengurus. Sayangnya, meeting dadakan dengan klien dari Peterson Corp membuatnya harus datang ke kantor. Otomatis, seluruh jadwal kerja sepele itu juga harus ia kerjakan.

Tenangkan dirimu, Alicia Collins. Kau tidak boleh marah pada klien-mu sendiri.

“Jadi, kapan meeting-nya bisa dimulai?” tanya Alicia setelah teh herbalnya habis.

“Klien sudah datang sejak sepuluh menit yang lalu, Nona. Jadi, meeting sudah bisa dilakukan sekarang.”

Secara spontan, mata Alicia melotot. “Sekarang?”

Ody mengangguk. “Iya, Nona. Sepertinya beliau bawahan dari Tuan Randy yang ingin membahas butir kesepakatan kerja yang baru.”

Alicia hampir tidak bisa percaya. Perusahaan besar itu mengirim pegawainya, alih-alih pemimpinnya. Seharusnya direktur utama yang turun tangan, bukan malah pegawainya!

“Ya sudah, suruh masuk. Meeting aku adakan sekarang.” kata Alicia sembari menghela napas.

Sesuai dengan permintaannya, klien tersebut masuk. Laki-laki muda, sepertinya di usia kepala dua. Perawakannya tinggi dan tampak berwibawa. Sangat berbanding terbalik dengan image karyawan biasa.

“Nama saya Rian, hari ini saya yang bertugas mewakili bos saya dari Peterson Corp,” kata Rian membuka pembicaraan. “saya membawakan titipan dari bos saya. Saya titipkan kepada sekretaris anda. Semoga anda berkenan menerimanya.”

Alicia tersenyum. “Tentu saja. Sebuah kehormatan bagi saya. Sampaikan rasa terima kasih saya kepada beliau.”

“Tentu saja, Nona.”

“Baiklah, mari kita mulai saja. Menurut Bapak Randy, bos anda, beliau ingin mengubah peraturan pada nomor satu sampai lima, benar?”

Sore itu, dengan sedikit pusing, Alicia menyelesaikan meeting dengan lancar. Meskipun ada sedikit kendala, akhirnya ia mampu menyelesaikannya. Ketika Alicia mengantarkan kepergian Rian, jam sudah menunjuk pukul enam sore. Masih ada tugas lain yang perlu ia selesaikan. Alih-alih membawa tugasnya pulang, Alicia memilih untuk menyelesaikannya di kantor.

Keadaan gedung kantor sudah sangat sepi. Hanya ada beberapa tugas kebersihan dan satpam yang berkeliling. Ruang kerja Alicia terletak di lantai tujuh, lantai tertinggi. Meskipun lampu sudah dinyalakan, tentu saja Alicia merasa was-was. Tanpa adanya Ody, Alicia benar-benar sendirian di lantai tujuh.

Kina: Cia! Lo masih di kantor, ya? Cepet pulang, dong. Gue, Dava sama Fian ada di rumah lo.

Alicia: Tumben. Ngapain?

Kina: Makan malam bareng sama sekalian gue kerjain tugas lo yang kemarin.

Alicia: Aduh, sorry. Gue pulang sekarang. Tunggu aja, gue bawa mobil sendiri kok.

Kina: Sip, hati-hati!

Alicia segera membereskan barang-barangnya setelah membaca chat terakhir Kina. Setelah memastikan semuanya tertata rapi, Alicia keluar dari ruangannya. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Alicia lembur. Tapi, bagaimana pun juga, ia tidak pernah bisa berdamai dengan kantor di malam hari. Benar-benar menakutkan.

Begitu sampai di parkiran, Alicia kembali kalut. Jam sudah menunjuk pukul setengah sembilan. Untuk beberapa alasan, Alicia memiliki trauma tersendiri dengan menyetir di malam hari. Tapi, mau tidak mau ia harus melakukannya atau ia tidak akan sampai di rumah.

Jadi, dengan perasaan kalut, Alicia memaksakan diri. “Okay, Alicia. Ini untuk pertama dan terakhir kalinya lo nyetir mobil larut malam. Tuhan bakal melindungi, jadi nggak perlu takut.”

Jalanan ibu kota cenderung ramai tanpa timbul kemacetan. Hal ini membuat Alicia bernapas sedikit lega. Setelah melewati dua perlintasan lampu lalu lintas, ia akan sampai di rumahnya.

Ketika Alicia bergerak setelah lampu menyala hijau, tiba-tiba sebuah mobil menghantam sisi kiri mobilnya begitu keras. Sontak, mobil Alicia terseret ke kanan hingga menabrak mobil lain. Kecelakaan beruntun itu terjadi dalam sekejap menimbulkan kehebohan.

Alicia tidak percaya. Ketakutannya menjadi kenyataan.“Cia, lo bisa dengar suara gue?” tanya Fian ketika melihat kelopak mata Alicia bergerak terbuka perlahan. Meskipun samar dan sangat pelan, Fian sangat senang. Buru-buru ia memencet bel untuk memanggil dokter.

Ketika dokter datang, kedua mata Alicia terbuka sempurna. Perempuan itu mengerjapkannya sejenak, beradaptasi dengan cahaya. Wajahnya tampak bingung selama diperiksa oleh suster. Meskipun masih terasa sulit untuk bersuara, Alicia berusaha menanggapi pertanyaan dokter.

“Keadaannya sudah membaik dibandingkan semalam. Nona Collins hanya perlu beristirahat dan perawatan intensif untuk luka-lukanya. Bila ada yang kalian butuhkan, silahkan panggil saya.” kata dokter menyelesaikan pemeriksaannya.

Fian mengangguk sebelum kemudian kembali duduk di sisi ranjang Alicia. Setelah tim medis keluar, keluarga Alicia kembali duduk di dekatnya. Wajah khawatir mereka telah berganti dengan wajah bahagia. Alicia akan sembuh.

“Lo tahu kesalahan lo, ‘kan?” tanya Fian tanpa memandang wajah Alicia. Sibuk mengupas apel.

“Iya, kak. Maaf.”

Fian mengembuskan napas panjang. Alicia tahu betul gestur itu. Fian sedang berusaha meredam emosinya.

“Dengar, gue berusaha nggak memperpanjang masalah ini. Selama mobil lo diperbaiki, lo harus diantar Pak Budi kemana pun. Paham?”

Dari pada gue bantah, nanti makin runyam.

Alicia mengangguk pelan. “Iya. Maaf, ya.”

Tidak tega melihat Alicia dimarahi, Bunda menjewer telinga putranya. “Kamu, tuh, ya. Baru aja Cia sadar, kamu malah marah-marahin dia.”

“Aduh, Bun. Mana ada, sih? Fian tuh kasih nasihat ke Cia biar nggak lembur-lembur lagi. Seenggaknya, kalau mau lembur tuh dianter pulangnya sama Pak Budi.” Fian meringis sambil mengelus telinganya yang perih bekas jeweran.

“Bagus, Ma! Sekali-sekali kak Fian tuh dimarahi. Jangan Key mulu!” seru Keyla semangat.

“Eh, berani-beraninya lo, ya. Awas aja, gue jejelin nih apel!”

Keyla, haters apel, menjerit heboh. “Nggak mau! Oma, kak Fian jahat!”

Dari sini, Alicia menyadari kesalahannya. Ia membuat keluarganya khawatir. Sama seperti dua tahun lalu, ketika kedua orang tuanya mengalami kecelakaan mobil. Alicia kembali mendatangkan trauma itu kepada mereka. Untung saja ia selamat. Tidak seperti kedua orang tuanya yang pergi dalam waktu satu malam.

Alicia merasa bodoh atas perilakunya.

“Gimana, nak? Sudah enakan?” tanya Opa yang baru datang. Lelaki renta itu segera duduk di kursi yang sebelumnya diduduki Fian.

“Sudah, Opa. Tinggal lukanya saja yang masih agak perih.”

“Lain kali berhati-hatilah. Opa takut sekali semalam.”

“Maaf, Opa,” kata Alicia sendu. “Aku janji nggak akan ulangi lagi.”

“Kamu punya sopir pribadi, ‘kan? Kalau terpaksa pulang malam, minta dijemput saja.”

“Pak Budi kemarin sedang sakit. Aku suruh beliau istirahat saja.”

“Sudahlah, yang lalu biarlah lalu. Sekarang kamu istirahat saja, ya.” cetus Bunda memutus obrolan. “Oh ya, katanya nanti Kina jenguk kamu.”

Alicia hanya bisa mengangguk. Akibat kecelakaan semalam, seluruh badannya terasa remuk gara-gara benturan. Ditambah pula dengan luka-luka goresan di beberapa bagian membuat Alicia semakin lelah.

Untuk sementara, Alicia akan beristirahat dari segala bebannya.

***

Malam harinya, Kina datang bersama Dava. Dengan membawa sekeranjang buah dan beberapa yoghurt kesukaan Alicia, mereka berjalan memasuki rumah sakit. Di tempat duduk dekat resepsionis, ada Fian sedang menunggu mereka. Berhubung ruang inap Alicia terjaga ketat, resepsionis tidak akan memberitahukan nomor ruangannya. Sehingga, Kina menyuruh Fian untuk mengantarkan.

“Gimana keadaannya?” tanya Kina. “dia nggak kenapa-napa, ‘kan?”

Fian mendesah pelan. “Ya, dia baik-baik aja. Tadi siang dia udah sadar.”

Kina mengembuskan napas lega. “Syukurlah. Tuh anak emang, ya. Suka banget bikin orang khawatir.”

Fian hanya tertawa seadanya.

“Eh, ngomong-ngomong,” celetuk Dava ketika mereka sampai di depan lift. Usai Fian memencet tombol, ia melanjutkan. “Gimana pelakunya?”

Seolah kesadaran bersama, Fian berdiri tegak. Selama ini ia hanya fokus pada Alicia. Ia tidak memikirkan pelakunya sama sekali. “Nggak tahu. Gue serahkan aja ke polisi. Gue lebih fokus ke Cia.”

Dava berdecak kagum, mengiringi langkah mereka bertiga memasuki lift. “Wow, murah hati banget lo. Kalau gue, udah pasti potong anunya dulu sebelum diserahin ke polisi.”

“Ih!” seru Kina kesal sambil memukul punggung Dava. Di dalam lift hanya ada mereka bertiga, tapi tetap saja ucapan Dava itu menjijikkan.

“Apaan sih, dek?”

“Lo tuh yang apa-apaan. Disaring dulu, kek!”

“Padahal udah pake disamarkan, coba kalau gue frontal. Makin menjadi-jadi lo.”

Kina melotot kesal. “Gue tonjok lo, ya.”

Spontan, Dava bersembunyi di belakang Fian. Meskipun adiknya tidak mungkin bisa menonjoknya karena sedang membawa keranjang buah, tetap saja ia takut.

“Ini di rumah sakit. Jangan ribut-ribut, ah.” Kata Fian melerai keributan. Bertepatan dengan pintu lift terbuka, mereka langsung berjalan keluar. Menyusuri lorong yang sepi.

Kamar yang ditempati Alicia merupakan kamar kelas atas yang dikhususkan untuk kalangan penting. Wajar saja jika lorongnya tampak sepi pengunjung. Jika ada yang menempati salah satu kamar, maka akan terlihat bodyguard yang berjaga di depan pintunya. Selain itu, hanya ada suster dan dokter yang berlalu lalang.

Sesampainya di kamar inap Alicia, Kina dan Dava disambut oleh Bunda. Kina cukup terkejut melihat hanya ada Bunda yang menemani Alicia. Ia pikir, ia akan bertemu dengan keluarga besarnya juga.

Dari pintu masuk, tampak Alicia sedang duduk menikmati buah potong sambil menonton televisi. Perempuan itu mengalihkan perhatiannya pada Kina kemudian tersenyum lebar.

Kina segera menghampiri Alicia lalu memeluknya cukup erat. “Lo bikin orang jantungan aja!”

“Maaf, dong,” balas Alicia sambil terkekeh. “Gue nggak kenapa-napa, tuh. Jangan sedih.”

Kina melepas pelukannya. “Tentu saja gue sedih, bego. Dava juga.”

“Lo nggak tahu seberapa takutnya gue. Gue pikir lo bakal pergi secepat itu, tahu nggak!” isak Kina dengan sesenggukkan. Wajar saja jika Kina menangis. Perempuan itu hanya punya satu teman perempuan selama ini, Alicia.

Alicia segera mengelus kepala Kina dan memasang senyum terbaiknya. “Gue nggak akan pergi, kok. Nih, gue baik-baik saja, ‘kan?”

Kina mengangguk. Setelah merasa lega, Kina menghapus jejak air matanya dan duduk di samping Alicia.

“Kina sama Dava sudah makan malam? Tante belikan makan, ya?” tawar Bunda tiba-tiba.

Dava menoleh kaget. “Eh, nggak usah, Tante. Saya nggak lapar, serius.”

Saat itu juga, perut Dava berbunyi nyaring. Wajah Dava memerah seketika. Ditambah pula ditertawakan oleh Alicia dan Kina, duh, double malu!

Bunda terkekeh pelan. “Perut emang nggak bisa bohong, kok. Tante belikan saja, ya. Titip Alicia dulu.”

“Hati-hati, Tante.” kata Kina mengantar kepergian Bunda. Setelah Bunda pergi, Kina menoleh pada Alicia. “Ceritanya gimana, sih? Kok bisa ketabrak? Termasuk parah, lho.”

Alicia mendongak. Mencoba mengingat rentetan tragedi semalam. “Gue jalan seperti biasa. Waktu itu jalanan lancar-lancar aja, kok. Nggak macet juga. Di lampu merah itu, deh, tiba-tiba aja ketabrak. Kayaknya si pelaku melanggar lampu merah. Makanya, nabrak gue.”

“Pelakunya juga masih belum jelas,” sahut Dava. “Serem emang. Dan kagetnya, kakak lo malah lebih memilih diserahkan sepenuhnya ke kepolisian. Murah hati sekali.”

“Dari pada gue repot-repot ngurusin pelaku mending gue urusin adek gue kali,” balas Fian yang duduk di sofa. “Gue nggak secuek itu juga. Selalu gue pantau dari berita di TV.”

Fian mengganti channel televisi ke tayangan berita. Seperti sebuah konspirasi, berita Alicia sedang ditayangkan. Menampilkan rekaman kondisi TKP saat ini yang masih ditelusuri oleh polisi. Kondisi lalu lintas pun tampak mengalami kemacetan karena polisi masih mengolah TKP.

“Kecelakaan lalu lintas yang terjadi di perempatan lampu lalu lintas ini melibatkan Alicia Fransisca Collins sebagai korban. Diduga pelaku mengendarai mobil BMW hitam melaju kencang saat lampu merah menyala. Akibatnya, pelaku menabrak mobil Jazz yang dikendarai oleh CEO Collins Group, Alicia Fransisca Collins. Kecelakaan ini mengakibatkan kemacetan di TKP sejak kecelakaan terjadi. Tak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Meski polisi tampak masih mengolah TKP, diduga polisi akan menutup rapat identitas pelaku.”

“Wah gila, gila. Kayaknya yang nabrak lo bukan orang sembarangan, deh,” celetuk Dava kesal. “Lo harus bertindak, Yan.”

Fian menoleh, lantas mengedikkan bahu. “Nggak, ah. Males tahu.”

“Demi adek sendiri pun lo nggak ada niatan gitu?”

“Doain aja pelakunya kena karma setimpal atau lebih.”

“Fian mah baik, nggak kayak lo, jahannam.” sahut Kina sadis. “Mending lo urus skripsi lo, gih. Minta bantuannya susah payah, jangan sampe lo sia-siain.”

Dava cemberut. “Bawel. Weekend waktu gue bersama Lily. Jangan ada yang ganggu gue.”

“Sok banget lo,” ledek Alicia dengan tawa. “Awas nanti malu-maluin di depan Lily. Nggak jago bahasa inggris.”

“Yeee, enak aja. Gue cuma nggak ahli di grammar,” sahut Dava santai. “Lily nggak bakal kerepotan sama gue. Syukur-syukur kalau gue bisa jadian sama dia. Aw aw!”

“Lily siapa, sih?” tanya Fian bingung. Satu-satunya yang belum pernah mendengar nama Lily.

Kina melengos pelan. “Masa nggak tahu? Bule di fakultas desainer kampus.”

Fian terdiam sejenak. Mengingat-ingat Lily yang dimaksud Kina. Seolah teringat sesuatu, Fian menyeletuk. “Oh, Lily yang itu. Itu, sih, temen gue yang gue bilang jago bahasa inggris. Lilyana Peterson.”

Alicia spontan terkejut. Peterson? Peterson yang itu?

“Ya iyalah jago, namanya juga bule,” kata Kina sinis. “tahu gitu mah harusnya lo bilang-bilang, kek. Biar gue nggak mempermalukan diri sendiri di depan dia.”

“Yakin banget gue bakal bantuin?” tanya Fian iseng.

Alih-alih Kina, Dava yang menjawab dengan aksen berlebihan. “Lo setega itu sama gue?”

Sebelum keributan terjadi, pintu ruangan terbuka. Menampilkan bodyguard Alicia sedang membawa bucket bunga mawar merah. “Permisi, saya mengantarkan kiriman dari resepsionis untuk Nona Alicia.”

“Dari siapa katanya?” tanya Alicia takjub. Sedikit grogi menerima kiriman bunga pertama dalam hidupnya.

“Tanpa nama, Nona. Tapi resepsionis menjamin tidak ada bahaya di dalamnya.”

“Cieee, dapat kiriman mawar!” seru Dava heboh. “Lo seterkenal itu, ya. Nggak kayak adek galak gue.”

“Apa lo bilang?!”

Alicia menjatuhkan perhatiannya pada bucket tersebut. Mawarnya sangat cantik dan segar. Pasti baru saja dipesan oleh pengirim. Dari ukurannya yang besar, pasti mahal. Selain bunga mawar, ada kartu ucapan yang terikat di tangkai bucket.

Get well soon, my dear.

Kembali ke Beranda