Gambar dalam Cerita
Derap langkah kaki-ku, mengisi keheningan. Dengan menggunakan high heels warna merah, aku melangkah menuju sebuah pintu yang menjulang cukup tinggi dan tampak kokoh.
Sudah jelas pintu itu mahal, kaki jenjangku berhenti melangkah. Menghela nafas pelan, untuk pertama kalinya aku merasakan perasaan gugup.
Bagaimana pun, ini hari pertama aku berkerja dengan profesi sekretaris dan bukannya model.
Menjadi model sangat mudah, kau hanya perlu berpose dan memberikan senyum memikat lalu fotografer akan membidik.
"Kau bisa melakukannya Sakura, don't be afraid ," ucapku menyemangati diri sendiri.
Ayolah, aku hanya perlu mengetuk pintu ini. Dan menghadap Mr. Uchiha yang merupakan Chief Executive Officer.
Bersikap profesional, dan semua selesai. Andai tadi aku tidak mendengar rumor buruk tentang boss-ku.
Mungkin, aku sudah dapat duduk dan mengerjakan tugas dengan santai. Memang salah-ku karena tidak hadir saat pengenalan CEO baru.
Harusnya, aku berkerja sebagai sekretaris Uchiha Itachi. Namun, mendadak pemimpin lama itu pindah. Dan memimpin, perusahaan Uchiha corp di luar negeri.
Damn it.
Dihari pertama berkerja aku sudah telat, dan sekarang malah mengundur waktu.
Memantapkan hati, aku memberanikan diri mengetuk pintu itu beberapa kali.
Yang pasti, aku sudah tidak dapat mundur lagi dan harus melangkah maju. Sudah terlanjur diketuk, tidak mungkin kabur bukan.
"Selamat pagi Mr. Uchiha, saya sekertaris baru anda. Haruno Sakura," tuturku dengan sopan, dan memperkenalkan diri.
"Masuk."
Suara yang menyahut dari dalam, terdengar familiar ditelinga ku. Memilih untuk mengabaikan, aku memegang dokumen data dan hendak melangkah masuk.
Secara otomatis pintu kokoh terbuat dari kayu itu terbuka dari dalam, ruangan itu tampak fantastis dengan nuansa hitam dan putih.
Langkah kaki-ku kali ini lebih percaya diri, masih ada keahlian seorang model mengalir di dalam darahku.
Sebuah jendela berukuran sangat besar itu memperlihatkan betapa sibuknya negara ini, dan hal itu wajar.
Mr. Uchiha, duduk sembari membelakangi-ku dengan kursi ergonomisnya yang memang dapat diputar.
"Ini data yang anda pinta." Aku meletakkan beberapa tumpuk dokumen itu keatas meja-nya.
Pria itu sama sekali tidak bergeming, membuat aku merasa sedikit cemas. Shit, ini pasti karena keterlambatanku dihari pertama bekerja.
Aura dari boss baru-ku, terasa begitu kuat. Refleks, aku menatap kebawah tidak berani untuk mendongak.
Dia memutar kursinya menjadi menghadap padaku, aku masih tetap sama. Tidak, punya niat untuk menatap wajahnya.
Tap... Tap... Tap...
Suara langkah kakinya, mengisi keheningan ruangan ini. Aku hanya diam, ok sepertinya aku terkena masalah.
Tertegun, aku diam membatu. Saat merasakan sebuah tangan kekar kini melingkar di pinggang ramping-ku.
"Merindukan-ku baby ," bisiknya membuat bergidik.
Holyshit, suara bariton itu sungguh sudah sangat akrab di indra pendengaran ku. Seorang pria, yang melewatkan malam penuh gairah denganku dulu.
Memejamkan mata sejenak, aku berusaha untuk tetap bersikap santai. Bagaimana pun, tidak semua orang berharap bertemu dengan mantan.
"Jadi kau boss, disini Sasuke?" Aku, mengajukan pertanyaan secara spontan.
Jelas itu pertanyaan bodoh, tapi ini lebih baik daripada harus membalas perkataan rindunya.
Sasuke mengecup sekilas pipiku, lalu melepaskan dekapannya. Memutar tubuh-ku, kini aku dapat melihat wajahnya yang masih saja sangat tampan, oh shit.
Mengangguk, Sasuke lalu menatap ku dengan onyxnya yang tajam namun memikat hati. Tulang rahangnya yang tegas dan hidung mancung tidak perlu diragukan.
Menyeringai, Sasuke menatap intens padaku. "Kau kecewa karena kini aku menjadi boss-mu. Cherry?"
Cherry, nama itu adalah panggilan khusus yang dia berikan padaku saat kami masih bersama. Siapa sangka, dia masih mengingatnya.
"Well, sebenarnya aku kecewa," ujar-ku sembari bersedekap dada, sudah tidak ada lagi ke formalitasan diantara kami.
Menaikkan sebelah alisnya keatas, reaksi Sasuke membuatku ingin menjahilinya.
"Benarkah?" tanyanya, yang ku respon dengan anggukan.
"Yah, aku sungguh kecewa. Padahal aku sudah memilih resign dari pekerjaan ku menjadi model agar dapat berkencan dengan seorang CEO. Tapi ternyata kaulah boss-ku, haruskah aku resign lagi?" tanyaku membuat tawa renyah mengalun keluar dari bibirnya.
Sasuke mendengus geli, lalu dia menyentil dahi-ku tidak terlalu kuat. Tapi tetap saja itu sakit.
"Kau semakin membuatku, tidak ingin melepaskanmu. Cherry," ujarnya, saat aku tengah mengusap dahi indahku yang menjadi korban.
Mencebik kesal, aku sudah tidak menganggapnya sebagai boss sekarang. Namun, sebagai mantan yang mengesalkan.
"Teruslah membual Sasuke," balasku, tanganku terulur memperbaiki tata letak dasinya yang sedikit miring.
Tersenyum geli, Sasuke hanya menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia membiarkanku memperbaiki dasinya, memang sendari awal, aku sudah sangat ingin memperbaiki dasinya.
Posisi kami begitu dekat, aku mencoba fokus merapikan dasinya. Sungguh konyol, kini aku terlihat seperti seorang istri yang membantu suami.
"Membual? Aku sedang tidak membual babe."
Suara Sasuke terdengar serak, dan seksi. Arghhh sial, kemana pikiranku melintas barusan.
"Kau sudah punya istri Sasuke, jangan berpikir aku tidak mengetahuinya," ucapku malas sembari meliriknya sekilas.
Diam, Sasuke sama sekali tidak membalas perkataanku. Mungkin, dia berpikir aku tidak tau. Bahwa Sasuke sudah menikah satu tahun lalu.
"Selesai," seruku dengan tersenyum, setelah merapikan dasinya.
Tersenyum tipis, Sasuke lalu memegang daguku. Membuat emeraldku kini beradu dengan onyx yang dulu begitu ku rindukan.
"Punya dua istri, sepertinya bagus."
Aku mendelik saat dia berkata demikian, lalu menginjak kakinya cukup kuat. Rasakan itu.
"In your dreams, Mr." Tanpa rasa bersalah, aku berucap demikian dan melangkah pergi.
Berbeda dengan laki laki biasanya, Sasuke hanya meringis padahal high heels ku cukup tinggi dan menginjaknya kuat.
Terkekeh, Sasuke lalu membalik badannya. Aku tau dia tengah memperhatikanku sekarang, tapi aku tidak peduli.
"Sexy," komentar Sasuke yang masih dapat ku dengar.
Dengan cepat, aku menghentikan langkahku dan menatapnya kesal. "Obscene," makiku penuh keberanian lalu dengan cepat melangkah keluar.
Flashback.
Paris-prancis.
Dengan menggunakan mini dress warna merah, yang memperlihatkan lekuk tubuh indahnya.
Sama sekali tidak terlihat sorot mata risih, di emerald Sakura. Perempuan yang baru saja masuk ke jenjang perkuliahan itu melangkah santai masuk kedalam club.
Beberapa pasang mata menatap kearahnya, tidak mengidahkan sama sekali. Sakura duduk dikursi meja pantry.
"Tolong satu cocktail," tuturnya, dengan nada suara cukup kuat.
Dentuman musik yang keras, ditemani dengan suara desahan yang samar-samar bukanlah hal yang aneh.
Sakura bertopang dagu, dan menatap sekitar dengan acuh. Untaian rambutnya yang berwarna softpink dengan kulit putih porselin membuat Sakura tampak begitu luar biasa.
Ia menaruh sebelah paha kanannya diatas paha kiri, sembari menunggu minuman yang ia pesan.
Tangan lentiknya bergerak dengan cepat mengetik diatas keyboard ponsel, mengirim sebuah pesan pada seseorang yang tengah mengkhawatirkannya.
"Bullshit," desisnya, mengumpat lalu menaruh alat komunikasi itu tanpa minat diatas meja.
Diwaktu yang bersamaan, bertender pria itu memberikannya cocktail yang diinginkan.
"Thanks." Menerima, Sakura lalu meneguk minuman beralkohol itu dalam tiga tegukan.
Malam ini, dia habiskan dengan minum-minuman beralkohol. Ia hanya duduk dikursi pantry tanpa ada niatan untuk turun ke lantai dansa.
Sudah beberapa saat berlalu, Sakura merasa sedikit mabuk. Pandangan matanya juga mulai kabur, mungkin karena ia meminta cocktail yang difermentasi kan dengan devil spring vodka.
Itulah kenapa kadar minuman alkohol yang Sakura pinta, sangat tinggi dan gampang membuat seseorang mabuk hanya dalam beberapa tegukan.
Seorang pria, duduk disampingnya. Sakura dapat mencium harum maskulin dari pria itu.
"Satu vodka."
Shit, suara bariton pria itu bahkan terdengar sungguh luar biasa. Sakura menggigit bibir bawahnya, mencoba untuk terlihat biasa saja.
Uchiha Sasuke, pria dengan gaya pakaian casual itu menatap kearah Sakura yang memejamkan mata sejenak.
Pusing, itulah yang Sakura rasakan, tapi. Ia tahu bahwa pria disampingnya ini terus saja menatap kearahnya.
Membuka kelopak matanya, Sakura kini melihat kearah Sasuke. " Excuse me, apa ada yang salah denganku?" tanya Sakura.
Mendengus pelan, sebuah seringai menghiasi wajah tampannya. "Kau terlihat menarik dimataku."
Senyum simpul menghiasi wajah Sakura. "Benarkah? Lalu, apa kau ingin menghabiskan one night stand denganku?" tawar Sakura.
Terkekeh pelan, Sasuke tidak pernah menyangka akan ada seorang yang bertanya seperti itu padanya.
"Tidak," balasnya membuat kening Sakura mengerut.
"Sialan," maki Sakura, pelan namun masih dapat didengar oleh Sasuke.
Sakura kembali meminum cocktail miliknya, mengacuhkan Sasuke. Mencari partner untuk menghabiskan malam sepertinya sedikit sulit.
Pria bermarga Uchiha itu tersenyum geli, saat mendengar umpatan meluncur keluar dari bibir ranum itu.
Bangkit berdiri dari kursi, Sasuke dengan tiba tiba mengangkat tubuh seksi Sakura keatas meja pantry bertender tanpa beban.
Tersentak kaget, Sakura mendelik kesal pada pelaku yang baru menolak ajakannya beberapa saat lalu.
"Oh fuck, apa yang ingin kau lakukan?" tanyanya.
Cahaya remang remang, membuat Sakura tidak dapat melihat bahwa Sasuke kini menatapnya penuh ketertarikan.
"Bukan hanya satu malam yang akan ku lewatkan denganmu, namun setiap malam," bisik Sasuke dengan suara serak tepat ditelinga Sakura dengan seringai tipis.
Sakura balik menyeringai. "Bagaimana jika aku tidak ingin menghabiskan setiap malam denganmu?" tanyanya main-main.
Tersenyum tipis, telapak tangan kanan Sasuke bergerak mengelus paha Sakura dengan lembut. "Aku jamin kau tidak akan menolak, babe," ucapnya lalu mencium bibir Sakura.
_______________
Seakan tersadar dari kenangan lama, aku meringis pelan mengingat pertemuan pertamaku dan Sasuke dulu.
Siapa yang menyangka bahwa aku akan memberikan mahkota-ku pada Sasuke, dan kami kembali bertemu dikampus serta menjalin kasih dalam kurung waktu cukup lama.
Sasuke adalah cassanova, dan putra bungsu keluarga Uchiha. Pria itu sangat famous, tentunya.
Aku mengaduk cappucino yang ku pesan beberapa saat lalu menggunakan pipet.
Untuk hubungan sebagai mantan kekasih, ku rasa hubungan kami terbilang cukup baik.
Cafetarian Uchiha corp bergaya Spanyol, lebih mirip seperti kafe bagiku.
Mengingat seberapa kayanya keluarga konglomerat itu, jadi ini adalah hal yang wajar.
Duduk sendirian dimeja pojok tidak membuatku merasa dikucilkan, yah ini hari pertamaku bekerja dan belum memiliki teman.
Merasa bosan, aku memilih untuk memainkan ponsel. Sebuah chat dari seseorang yang amat ku rindukan membuat bibirku naik keatas dan membentuk seulas senyum.
Aku yang sibuk mengetik diatas keyboard ponsel mendadak tidak fokus saat cafetarian tiba tiba menjadi heboh.
Layar ponselku kini menandakan panggilan masuk, memilih untuk beranjak pergi.
Aku berdiri dari kursi, dan mengangkat panggilan itu. "Hello dear ," sapaku lembut.
Kasak-kusuk terdengar dari seberang sana, membuatku merasa khawatir. "Sayang, kau baik-baik saja?" tanyaku.
Suara disambungkan telepon tidak terlalu jelas, mungkin karena cafetarian kini sangat berisik atau masalah jaringan.
Aku menekan tombol speaker pada ponsel, masa bodoh jika ada yang mendengar percakapanku. Karena aku hanya ingin memastikan, permata hidupku baik-baik saja saat ini.
Bruk!
Sebuah kesialan terjadi, karena terlalu fokus pada ponsel aku menabrak tubuh seseorang.
Memejamkan kelopak mata, aku sudah siap siaga merasakan kerasnya lantai marmer dan menjadi objek tertawaan semua orang.
Terpaku, aku dengan cepat membuka kelopak mata. Saat merasakan tangan kekar kini menahan pinggangku agar tidak jatuh, menghantam lantai.
Onyx tajam itu membuatku tertegun, ditambah dengan senyum tipis diwajahnya.
Buru-buru, aku berdiri tegak dan beruntung Sasuke melepaskan tangannya dari pinggangku.
Aku melakukan kesalahan fatal, dihari pertama bekerja. Damn it, hanya ada kata pemecatan dalam kepalaku saat ini.
"Maafkan saya Mr. Uchiha," ucapku formal sambil membungkuk sekilas.
Pantas saja, cafetarian menjadi heboh. Pasti karena kedatangan Sasuke kesini, harusnya aku berpikir tentang hal ini tadi.
Semua orang memandang kearah kami sekarang, bahkan dibelakang mantan-ku terdapat para jajaran tinggi perusahaan.
Diamnya Sasuke membuatku mengumpatinya didalam hati, sialan. Padahal jelas-jelas pria ini tau aku tengah berdiri kikuk dihadapannya.
Aku memberanikan diri, menatap wajahnya yang tampak datar. Kini, onyx Sasuke beralih menatap benda berbentuk persegi panjang, berwarna putih tergeletak di atas lantai marmer.
Oh my godness, mataku membelalak saat sadar ponselku terlempar jatuh dan masih menyala dalam keadaan tersambung panggilan telepon.
Sasuke, pria dengan jas mahal itu berjongkok dan mengambil ponselku. Membuatku meremas kuat rok span warna biru tua yang aku kenakan.
Alis Sasuke tertaut, membuatku berharap-harap cemas. Oh Tuhan ku mohon jangan buat Sasuke mengetahui segalanya sekarang, aku belum siap.
" M y dear ," ucap Sasuke dingin, menyebutkan nama kontak yang tertera disana.
Kembali, kasak-kusuk terdengar. Ditambah dengan speaker yang ku aktifkan tadi, membuat semua orang disekitar dapat mendengarkannya.
Mengigit bibir bawahku, aku sangat berharap sambungan telepon itu mati saja untuk saat ini.
"Mama! Salad, baru turun dari pesawat!"
Seruan anak kecil, penuh semangat membuat tubuhku membeku diam. Membayangkan bagaimana reaksi semua orang terutama Sasuke, seakan batu menimpa kepalaku."Shit." Spontan, umpatan dengan nada kecil terlontarkan dari mulutku.
Aku mengalihkan pandangan kearah lain asalkan tidak menatap manik onyx dengan sorot tajam Sasuke seolah-olah menusuk-ku.
"Ma, apa mama mendengar salad?"
Suara putri kecilku, yang memanggil namaku dan bertanya untuk memastikan karena tidak kunjung menjawab. Sedikit membuatku merasa tidak bersalah padanya.
Pikiranku sekarang mirip benang kusut. Tapi, entah keberanian darimana. Aku secara berani serta tiba tiba langsung melangkah maju, dan merebut kembali ponsel yang memang menjadi hak-ku.
Masa bodoh jika aku dipecat, karena ketahuan mempunyai seorang putri. Suara imut Sarada yang membuatku bersikap demikian, tanpa basa basi aku langsung mematikan sistem speaker diponsel dan mendekatkan benda komunikasi ini pada telinga kananku.
"Salad, mama akan menjemputmu dibandara. Kau tunggu disana ya my dear."
Sarada menyahut ucapanku dengan patuh, disituasi seperti ini. Aku merasa senang akan sikapnya yang sungguh, dapat dibanggakan.
" Good job, see you later honey ."
Sambungan telepon terputus, setelah pembicaraan berakhir. Helaan nafas pelan tanpa sadarku lakukan, dan dalam sekejap aku tersadar kembali akan situasi sekitar yang sulit dijelaskan.
Semuanya menatapku dengan sorot mata berbeda beda dan pendapat mereka masing-masing, oh God. Aku benar benar jadi terkenal di lingkungan kerja dalam kurung waktu kurang dari dua belas jam, sungguh prestasi yang memalukan.
Baiklah karena sudah begini, aku tidak punya jalan lain. Untuk saat ini anggap saja. Aku sedang memasang tampang muka tebal, dan tidak tau diri. Karena dengan seenak jidat, aku melangkah hendak pergi dari kantin atau lebih tepatnya kantor raksasa ini.
Tatapan Sasuke, terasa menembus diriku. Ini gila, dan aku tidak bisa disini lebih lama lagi.
Grep!
Aku membatu diam, saat sebuah tangan mencengkram pergelangan tanganku walau tidak terlalu kuat.
"Kau berhutang penjelasan padaku."
Lidahku terasa keluh, saat Sasuke membisikkan hal itu dengan nada dingin sarat akan intimidasi.
Refleks, bibirku menipis. Sialan aku merasa sangat gugup, bagaimana pun aura dari seorang Uchiha sungguh tidak main main.
Setelah berucap demikian, Sasuke melepaskan cengkraman tangannya. Pria yang menjabat sebagai CEO itu, kini memandang pada para karyawan yang masih asik menjadi penonton dan bergosip ria.
"Apa sedang ada tontonan menarik bagi kalian sekarang?!" tanyanya sekaligus membentak yang sarat akan sindiran.
Menunduk, aku berdiri diam. Suasana kantin mendadak sepi, tidak ada lagi suara apapun. Setelah Sasuke berucap seperti tadi dengan begitu tegas, aura boss sungguh cocok untuknya.
Sasuke melangkah pergi, bersama dengan para jajaran tinggi perusahaan yang masih setia mengikuti langkahnya.
Mencoba menenangkan diri, aku menghela nafas panjang. Dan menekankan didalam hati, bahwa kejadian ini tidak akan berdampak besar apalagi negatif.
Jelas aku sedang membohongi diriku sendiri, tapi itu membuatku lebih baik. Sikap percaya diriku sebagai mantan model nyatanya kembali runtuh jika berhadapan dengan dia, entah itu dulu mau pun sekarang.
__________________
Diruangan dengan nuansa maskulin itu, onyx tajam pemilik ruangan ini membaca setiap rentetan kata diatas kertas putih penuh dengan seksama.
Raut wajahnya terlihat amat datar, Sasuke lalu menutup dokumen tentang data seseorang secara detail yang ia pinta beberapa saat lalu.
Hembusan nafas kasar terdengar, Sasuke kemudian beralih menatap kearah tangan kanan kepercayaannya dengan sorot mata serius.
"Tutup bandaranya sekarang."
_________________
Aku duduk dengan gelisah dikursi penumpang taxi, karena kejadian tadi sedikit membuatku merasa takut.
Hal tadi tidak seharusnya terjadi, aku beranggapan demikian bukan karena egois. Karena, dari awal aku tidak pernah berniat untuk menyembunyikan fakta tentang keberadaan Sarada dari Sasuke. Tapi, ini terlalu cepat.
Setidaknya, aku butuh waktu beberapa saat untuk menyiapkan diri dan mempersiapkan segalanya.
Aku mencoba untuk tetap tenang, manik emerald ku kini beralih menatap keluar jendela taxi.
Mungkin butuh sekitar setengah jam untuk tiba dibandara dan bertemu permata hidupku, sedikit sulit untukku tadi menemukan taxi.
Berharap saja jalan tidak begitu ramai, apalagi sampai tercipta kemacetan. Membayangkannya jika benar terjadi, sungguh terasa mengesalkan.
___________________
"Ada apa ini?"
Aku menatap dengan penuh keheranan, saat mobil taxi yang ku tumpangi dipaksa berhenti saat sampai diportal depan bandara oleh sekelompok orang dengan tubuh tegap dan menggunakan jas seragam.
"Saya tidak tau nona."
Supir taxi menjawab pertanyaanku dengan nada suaranya yang amat kentara, sudah jelas dia juga sama denganku yang tidak tau situasi apa yang sedang terjadi saat ini.
Salah seorang pria, mengetuk kaca jendela dibagian belakang alias penumpang tempatku duduk saat ini.
"Nona Sakura, kami ada perlu dengan anda. Mohon keluar, dan bekerja samalah."
Gelisah, aku merasa bingung harus berbuat apa. Bahkan supir yang tampak tidak muda lagi itu menggelengkan kepalanya, seolah memberi kode bahwa jika aku membuka pintu mobil bisa saja berbahaya.
Pemikiranmu bergemelut, namun aku memilih untuk membuka pintu mobil dan menapakkan kaki-ku yang dibalut high heels keluar dari dalam taxi.
Pria tadi menyebut namaku, itu berarti ada seseorang yang memerintahkannya. Ditambah, akses masuk kedalam bandara ternyata telah diblokir, oleh orang yang berkuasa tentunya.
"Mohon ikut dengan kami nona Sakura, karena kami akan mengantar anda, untuk menemui putri anda didalam bandara," jelasnya, dengan nada serius.
Diam, aku memperhatikan sekitar. Ada beberapa mobil dibelakang, yang ternyata disuruh putar balik karena akses ke bandara telah ditutup.
Meski kini, ada satu orang didalam kepalaku yang mungkin saja menjadi pelaku. Tapi, aku mencoba menepis pemikiran itu jauh-jauh.
Pria didepanku berkata hal yang jujur, bahwa Sarada berada didalam bandara. Karena aku memasang GPS diponselnya, untuk jaga jaga disaat seperti ini.
Aku mengangguk kepala, tanda mengiyakan. "Baiklah, aku ikut kalian kalau begitu."
_________________
Aku berlari, masuk kedalam gedung bandara. Dengan cukup cepat meski menggunakan high heels, itu bukan sebuah halangan.
Beberapa pria yang mengawali tadi, hanya mengantarkan ku hingga bagian parkir bandara.
Bandara ini sangat luas, dan tidak ada seorangpun didalamnya sejauh aku masuk dan menjejakkan kaki.
Kakiku berhenti berlari, nafasku memburu. Karena kecepatan kakiku melangkah tidaklah main main, sedikit rasa sakit ku rasakan akibat berlari dengan sepatu hak tinggi.
"Mama!"
Suara akan kecil, yang sangat akrab dipendengaranku membuat manik emerald ku berbinar.
Aku menoleh kearah kiri dengan tersenyum, namun kemudian aku terpaku diam mendapati bahwa putriku. Sarada, yang beberapa bulan lalu berulang tahun. kini, tengah berada dalam gendongan Uchiha Sasuke.
Sudah sendari tadi, aku mengelus pelan pucuk kepala Sarada yang tengah tertidur lelap dalam pangkuanku sembari menyender.
Melihat raut wajah Sarada yang sangat imut dengan pipinya yang chubby membuatku merasa gemas dan menarik hidung mungil itu pelan.
Gelisah, Sarada sepertinya merasa risih dengan apa yang aku lakukan. Tapi aku justru malah terkikik geli, karena merasa terhibur.
Sebuah tangan kekar yang terulur mengelus pucuk kepala Sarada membuatku seketika tersadar, akan situasi saat ini.
Aku menatap kearah sang empu yang tidak lain adalah Sasuke, pria dengan setelan jas mahal itu menyetir mobil Nissan GT-R50 miliknya yang berwarna hitam elegan. Sebuah mobil limited edition dan berharga mahal.
Dia melirik sekilas pada Sarada, yang tengah tertidur dalam pangkuanku dengan sebuah senyum tipis.
"Kau selalu membuatku terkejut."
Suara Sasuke terdengar begitu dalam, membuat bibirku terasa keluh. Mencoba untuk tetap tenang, aku lalu menatapnya dengan sorot mata tidak yakin.
"Benarkah? Dalam artian baik atau sebaliknya?" tanyaku penuh rasa penasaran.
Sasuke terlihat berpikir sejenak, pria itu lalu memarkirkan mobilnya dengan aman.
"Kau tau jawabannya babe," balas Sasuke dengan seringai diwajahnya lalu mematikan mesin mobil.
Entah, aku yang tidak terlalu memperhatikan atau waktu yang berjalan cepat. Karena kini nyata kami sudah berada dilantai basement
Dia melepaskan seltbeat, lalu membuka pintu mobil dan berjalan memutar.
Membuka pintu mobil disebelahku, dan mengulurkan kedua tangannya. "Kemari, biar aku yang menggendongnya."
Haruskah aku terpana untuk kesekian kalinya, karena sikap Sasuke yang selalu gentleman baik dulu mau pun sekarang.
Dengan senang hati, aku menerima tawarannya. Membiarkan dia mengambil Sarada dari pangkuanku.
"Hati-hati, jangan sampai dia terbangun," ucapku sedikit khawatir.
Tapi itu sia-sia, karena Sasuke dengan sigap menggendong Sarada dengan penuh kelembutan bahkan putriku tampak tidak terganggu dan justru terlihat sangat nyaman dalam dekapan CEO Uchiha corp.
Mengambil tas milikku, kaki jenjangku yang berbalut high heels kini menapak pada lantai basement.
Pintu mobil tertutup, aku menatap Sasuke yang kini sibuk mengelus punggung Sarada.
"Ikut aku," ucapnya yang terdengar seperti perintah ditelinga ku.
Dan sialnya, aku menurut. Yah walau kami sepasang kekasih dimasa lalu, tapi sekarang dia boss-ku.
My sweet, CEO.
______________________
Ting!
Pintu lift terbuka, melangkah keluar. Kami berjalan beriringan. Menuju apartement yang tidak lain adalah milik Sasuke.
Aku memang menyetujui, untuk pergi ke apartementnya yang berada dekat dari bandara. Untuk meluruskan semua masalah yang terjadi dimasa lalu, dan memperjelas semuanya.
"Sepertinya kau harus menerima tawaranku."
Celetuk Sasuke membuatku kini menatapnya penuh tanya. "Tawaran? Tawaran yang mana?"
Aku mengerutkan kening tanda heran, sebuah seringai tipis menghiasi bibirnya membuatku merasakan firasat aneh.
Sasuke mendekatkan bibirnya ke telinga kiriku. "Menjadi istri keduaku," bisiknya dengan suara seksi.
Mencoba untuk tidak tergoda. Aku menatap malas Sasuke, lalu menyikut pinggangnya pelan. "Jangan bercanda terus denganku, Sasuke."
Sengajaku ucapkan namanya, sebagai tanda bahwa aku memang tidak punya niat. Bagaimana pun dia sudah menikah, hell mana mungkin aku merusak pernikahannya.
Dia terkekeh, Sasuke tampak begitu tampan dan aku harus mengakui itu sebagai tanda kejujuran.
"Sakura,"
Fokusku kini beralih, pada seorang perempuan dengan paras cantik serta bersurai merah terang.
"Karin...?" gumamku tidak percaya.
Pasalnya, sudah hampir delapan tahun kami tidak pernah bertemu. Karin adalah sahabatku sejak dibangku sekolah dasar.
Karin tersenyum dan berjalan mendekat kearah ku dengan membawa paper bag dikedua tangannya.
"Kau tinggal disini?" tanyaku bersemangat.
Mengangguk, Karin juga tampak begitu senang bertemu denganku. "Ya, aku baru tinggal disini sekitar sebulan. Bagaimana denganmu?" Karin menjeda pertanyaannya dan melirik sekilas pada Sasuke dan Sarada.
Lalu sebuah senyum penuh makna menghiasi wajahnya. Ia menatapku dengan kerlingan mata yang sudah sangat aku pahami.
"Kita tidak pernah bertemu dalam kurung waktu lama, dan sekarang kau sudah menikah? Damn it. Keluargamu tampak sungguh sempurna dan serasi," lanjutnya panjang lebar.
Oh my godness, aku sudah menebak bahwa dia akan berucap seperti itu. Menghela nafas pelan, menggeleng pelan.
"No, ini tidak seperti yang kau pikirkan Karin," ucapku menyanggah agar kedepannya Karin tidak salah paham.
Mengibaskan tangannya, Karin lalu menganggukkan kepalanya paham. "Baiklah aku tau, dia kekasihmu serta boss-mu bukan? Dan ternyata kalian sudah memiliki anak. Aku paham itu."
Sudah jelas dipandangan Karin kami terlihat sangat cocok, seorang pria tampan dengan jas mahal dan aku dengan setelan khas sekertaris kantor ditambah dengan Sarada diantara kami.
Karin sudah pasti berpikir seperti itu, sekertaris yang memiliki anak dengan bossnya sendiri. Menghembuskan nafas pelan, aku melirik sekilas ke pada Sasuke yang justru hanya mengamati dan tersenyum tipis.
Sialan, dia memang tidak memiliki niat untuk membantuku menjelaskan situasi. Meski, memang benar bahwa Sarada adalah anak Sasuke.
________________
Tanganku dengan telaten mencuci piring diatas wastafel, sesekali aku bersenandung kecil.
Apartement ini, masih sama seperti beberapa tahun lalu. Dulu, aku pernah dibawa Sasuke untuk kesini saat kami berlibur ke negara asal.
Tidak ada yang berubah, apartement ini masih sama mewahnya dan terkesan maskulin. Sungguh ciri khas Sasuke, begitu kentara terasa.
Beruntung, Sarada sama sekali tidak terbangun dan saat ini tengah bermimpi indah didalam kamar Sasuke.
Helai-an anak poni yang tidak terikat menutupi mataku, rambutku kini sudah diikat ponytail agar tidak menghalangi aktivitas cuci piring.
Beberapa saat lalu, Sasuke memesan junk food karenanya kulkasnya sebagian besar berisi soda dan minuman beralkohol.
Itulah mengapa kini, aku mencuci piring diapartementnya. Hitung-hitung sebagai tanda terima kasih untuk makanannya.
Selang beberapa saat, aktivitas yang ku lakoni akan selesai. Namun, aku dibuat kaget karena ulah seseorang.
Sebuah tangan kekar memeluk pinggangku posesif, Sasuke lalu membenamkan wajahnya diceruk leherku.
"Kau sudah semakin mirip istriku, Cherry," ujarnya dengan suara serak.
Tertawa pelan, aku masih senantiasa membilas piring lalu meliriknya sekilas. "Yes of course, aku istrimu didunia mimpi," balasku dengan candaan.
Sasuke mendecak, dia lalu menaruh dagunya dibahuku dan mengamati aktivitas yang sedang aku lakukan.
"Sudah pergi sana," usirku terang terangan.
Bukannya menurut, Sasuke semakin memelukku. "Kau berani mengusirku hm?"
Menganggukkan kepala, aku mengiyakan. "Tentu saja aku berani."
Membilas kedua tangan, aku mengambil serbet dan mengelap kedua tangan agar kering.
"Nah, sekarang lepaskan pelukkanmu Sasuke."
"Hn."
Sasuke dan gumam-annya, adalah hal yang tidak asing lagi bagiku. Jelas sekali pria tampan ini tidak akan menurut padaku dengan mudah.
Jika sudah begini, hanya ada satu cara. Dan mau tidak mau aku harus melakukannya.
Cup!
Aku mencium sekilas pipi Sasuke, dengan penuh kenekatan.
Menopang dagu, aku menatap pada Sasuke yang sibuk bertelepon dengan seseorang diseberang sana.
Sebuah ide konyol tapi menyenangkan kini melintas dikepala-ku, dengan cepat. Aku bangun berdiri dari sisi pinggir ranjang, dan tersenyum jahil.
Baiklah, let's do it.
"Oh baby... Sttt.. fuck! Damn, ahh shit."
Aku mendesah, dengan penuh penghayatan. Dengan suara cukup kuat hingga dapat didengar oleh orang yang kini menjadi teman ngobrol Sasuke ditelepon.
"Oh shit," umpat Sasuke, saat menyadari tingkah laku-ku.
Dia menjauhkan telepon yang masih tersambung, masa bodoh jika itu istrinya.
Siapa suruh tidak membiarkanku pulang ke apartement milikku sendiri, dan memaksa aku serta Sarada berada disini.
"Sakura...." Sasuke menegur-ku dengan suaranya yang dalam dan serak.
Aku terkikik geli, melihat bagaimana onyx Sasuke menatapku datar. Dia sedang kesal pastinya, tapi aku tidak peduli saat ini.
Terlalu sibuk tertawa, membuatku tiba tiba merasa terkejut. Saat tubuhku kini jatuh tepat diatas ranjang yang empuk karena ulah seseorang.
Entah sejak kapan, Sasuke sudah mematikan sambungan teleponnya dan kini menindihku.
"Kau goda aku lagi, ku buat ranjang ini roboh Cherry," ucap Sasuke dengan suara baritonnya yang terdengar seksi.
Ok, aku tahu dia sungguh sungguh mengucapkan itu.
Tanganku bergerak mengelus lembut rahangnya yang tampak tegas, posisi kami begitu intim.
Sasuke memejamkan matanya, menikmati elusanku. Dia selalu tampan, dan aku akui itu.
"Baiklah, I'm sorry ." Aku memilih untuk mengalah, yah ini pilihan terbaik.
Namun, Sasuke langsung membuka kelopak matanya dan seulas seringai menghiasi bibir seksinya.
Tiba-tiba alarm tanda bahaya berbunyi dikepalaku, oh damn it. Pikiranku mendadak kotor, hanya Sasuke yang mampu membuatku berpikir begini.
Sasuke mendekatkan wajahnya ke samping kanan wajahku, deruh nafasnya yang menepah membuatku refleks memejamkan mata.
"Sepertinya, akan lebih baik jika Sarada memiliki adik."
Nafasku tercekat, saat dia berbisik dengan nada begitu menggoda. Membuat detak jantungku terpacu lebih cepat, cassanova ini sungguh berbahaya.
Aku memberanikan membuka kelopak mata, kini Sasuke tengah menatapku dengan intens dan menyeringai puas.
"Kau takut, heh?"
Sadar aku telah dipermainkan olehnya, dengan cepat aku mendorong tubuh Sasuke yang menindihku.
Sedikit terhuyung, tapi Sasuke berhasil mengendalikan dirinya. Aku mendelik pada dia yang sekarang tengah terkekeh geli.
Dia menyebalkan, dan sialnya aku pernah mencintainya dulu.
Memalingkan wajah kearah lain, aku mengerucutkan bibirku dan mengembungkan pipi.
Sesekali aku melirik Sasuke, dan kembali membuang muka.
Meski sudah berumur 20-an tahun, dan sering bersikap dewasa. Tapi sikap manja dan mengambek akan aku keluarkan pada orang orang terdekat.
Dia mendengus geli, lalu melangkah mendekat padaku. Tangan kekarnya kini mencubit pipiku, tidak terlalu kuat tapi tetap saja sakit.
"Sasuke! Sakit tau," protesku, semakin menatapnya sangar.
Tapi pria ini justru tertawa, mungkinkah aku terlihat lucu dan menggemaskan saat kesal? Oh God.
_________________
Aku menatapnya dari bibir pintu, bagaimana Sasuke tengah mengusili Sarada yang tengah tertidur.
Sudah terlihat jelas bahwa Sasuke menyayangi Sarada, putri kami. Karena bagaimana pun, kenyataannya mereka memiliki hubungan darah dan ikatan sebagai ayah dan anak.
Sayangnya, kami tidak bisa menjadi keluarga meski saling menyayangi.
Aku menghela nafas panjang, lalu berjalan mendekat dan duduk disamping Sasuke.
Pria tampan bak dewa Yunani dengan pakaian casual itu kini beralih menatapku dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Ponselmu berdering," ucapku memberitahu dan menyerahkan benda persegi panjang canggih berwarna hitam padanya.
Mengangguk, Sasuke bangkit dari ranjang dan menerima ponsel miliknya. Lalu melangkah pergi, keluar dari dalam kamar.
Memijit pangkal kening, aku merasa gusar sekarang. Karena Sasuke terus menelepon dan mendapatkan telepon dari orang lain.
Meski kami sudah sepakat, untuk tidak memberitahu keberadaan Sarada pada semua orang terlebih keluarga konglomerat Uchiha.
Setidaknya sampai aku benar-benar siap dengan segala kemungkinan, bukan karena membayangkan kemarahan istri Sasuke, serta cemooh dan cibiran orang lain.
Namun, kemungkinan bahwa Sarada akan mendapatkan dampak negatif dari semua ini membuatku cemas dan gelisah.
Tanganku bergerak mengelus punggung putriku dengan lembut, Sarada tidur dengan lelap diatas kasur berukuran king size.
Beruntung, dia tidak terbangun karena perbincangan aku dan Sasuke yang sedikit absurd beberapa saat lalu.
" Love you dear ." Mengecup kening Sarada, aku lalu bangun dan beranjak pergi dari dalam kamar.
_______________
Aku menyeruput pelan orange jus lalu meletakkannya saat hanya tersisa setengah.
"Bye." Sambungan langsung terputus.
Tenten, perempuan itu baru saja menghubungiku dan meminta maaf karena tidak dapat menemui ku.
Seharusnya Tenten yang mengantar Sarada hingga apartement-ku dan menjaganya, tapi sesuatu tidak selamanya berjalan sesuai rencana.
Ternyata Tenten, mendapatkan kabar bahwa orangtuanya mengalami kecelakaan di kota Suna.
Dan bertepatan dengan itu, Sasuke datang lalu berkata bahwa dia adalah ayah kandung Sarada.
Aku tidak akan bertanya darimana Sasuke tau fakta itu, karena dia adalah Uchiha jadi jangan pernah dipertanyakan.
Melihat bukti yang diberikan Sasuke dan kemiripan diantara keduanya, Tenten langsung menyerahkan Sarada dan kembali melakukan penerbangan ke kota asalnya.
Aku tidak bisa menyalahkan siapapun, tentang semua ini. Dan lagi, aku tidak memiliki niat untuk menyembunyikan Sarada dari ayahnya.
Karena bagaimanapun, Sasuke berhak untuk tau tentang Sarada. Begitu pula sebaliknya, Sarada berhak tau tentang ayahnya.
__________________
Uchiha corp.
Aku melangkah dengan pelan, tidak tau untuk apa. Sasuke memanggilku untuk ke-ruangannya.
Dengan sepihak, CEO tampan itu memutuskan untuk agar aku dan Sarada tinggal diapartementnya.
Dan entah sebuah kesialan atau keberuntungan, aku mengaku kalah dan menyetujui hal itu.
Jangan berpikir kami akan tidur satu atap apalagi kamar, karena Sasuke tentu saja tidur dimansionnya bersama nyonya Uchiha yang tidak lain istrinya.
Dan kini, sudah hari kedua kami tinggal diapartementnya. Sasuke menghabiskan waktu dengan Sarada dari sore hingga menjelang tengah malam lalu pulang.
Setelah mendapatkan izin masuk, aku melangkah dengan tenang. Sasuke yang tadinya sedang sibuk dengan berkas kini menatap ke arahku.
"Kemari."
Intrupsi darinya sedikit ambigu bagiku, dua langkah aku melangkah kedepan.
"Mendekat Sakura," ucapnya lagi.
Untungnya, aku segera paham apa yang dia maksud. Aku berjalan mendekat padanya hanya ada sebuah meja yang menjadi pemisah.
Ini sudah sudah dekat bagiku.
Sasuke berdiri, dia dengan setelan jas mahal tampak sangat sempurna ditambah sikap seorang Uchiha yang menjadi nilai plus.
"Kau pasti pernah membaca novel yang dimana tokohnya melakukan sex dikantor, bukan?" tanya Sasuke.
Aku mengerutkan dahi dan diam sesaat, sex dikantor tidak pernah aku alami tapi aku memang pernah membacanya dibuku.
Sedikit bocoran, aku suka membaca novel dewasa dan Sasuke tentu juga mengetahui hal ini.
Aku mengangguk, "Sure, memang kenapa?" tanyaku. Lalu aku tersenyum jahil, tangan lentik-ku menjawel hidung mancungnya. "Kau mau ya?"
Tawa renyah terdengar, Sasuke menggelengkan kepalanya. "Otak-mu benar-benar mesum," komentar Sasuke, lalu menyentil dahi-ku.
Oh brengsek, pipiku tanpa sadar bersemu merah. Kenapa jadi dia yang selalu balas menjahiliku, mantan mengesalkan.Tanganku bergerak mengaduk cappucino yang baru dipesan beberapa saat lalu, dengan menggunakan sedotan.
Rona merah tanpa sadar kini menghiasi pipiku, percakapan absurd antara aku dan Sasuke kembali melintas.
Sialan.
Uchiha Sasuke, dan pesona miliknya memang sangat berbahaya untuk kesehatan jantungku.
"Sakura!"
Menoleh, kini atensiku beralih pada seorang perempuan yang tidak lain adalah Tayuya.
Dia menjabat sebagai sekertaris kedua Sasuke, yah kami bisa dibilang cukup dekat dalam waktu singkat.
"Tayuya, ada apa?" Aku menatapnya penuh tanya.
Tayuya mengatur nafasnya yang tidak teratur, lalu menatapku dengan sorot mata serius. "Kau dalam masalah."
"Apa maksudmu?" tanyaku balik, tidak kalah serius.
"Istri boss datang kesini dan memanggilmu."
Deg! Aku terpaku diam, istri Sasuke memanggilku? Bagaimana mungkin.
~~~~~~~~~~~~~~
Ruangan ini bernuansa putih gading, aku melihat seorang perempuan duduk di sofa dengan pakaiannya yang fashionable.
Dilihat dari belakang saja aku sudah dapat menebak siapa wanita itu, dia adalah istri Sasuke.
"Kau sudah datang ternyata, Sakura."
Wanita itu berdiri dari sofa, suaranya sangat familiar bagiku walau sudah beberapa tahun tidak bertemu.
Dia memutar tubuhnya, kini kami berdiri berhadapan. Membuatku mengulas senyum simpul, yah bersikap sopan pada istri boss.
"Nyonya memanggil saya?" tanyaku sopan.
Suara kekehan pelan terdengar, istri Sasuke itu bersedekap dada. Lalu melangkah menghampiriku.
"Kau tidak perlu se-kaku itu Sakura, bagaimanapun kita pernah akrab."
Mendengar ucapannya, aku menghela nafas pelan. Menatap pada manik aquamarine nya yang kini tampak tajam.
Dia adalah Yamanaka Ino, sahabat dekatku saat masa kuliah dulu. Dan kini, menjadi istri mantan pacarku. Yang tidak lain adalah, Uchiha Sasuke.
~~~~~~~~~~~~~~~
Penampilanku sekarang tampak sangat berantakan, tapi bukan itu yang aku pikirkan sekarang.
Aku melangkah masuk kedalam apartemen Sasuke, yang mendadak menjadi tempat tinggalku dan Sarada.
Setelah melepas high heels, aku berjalan kearah dapur membuka kulkas dua pintu dan mengambil es batu.
Pipi kananku terasa sakit, tampak memerah dan sudut bibirku sedikit terluka.
Siapa sangka nyonya Uchiha itu akan menamparku didetik berikutnya dan melenggang pergi begitu saja.
Aku mulai mengompres pipiku dengan sedikit meringis, aku akan menjemput Sarada ditempat penitipan anak.
Dalam waktu setengah jam, mungkin bekas tamparan ini akan memudar meski sedikit.
~~~~~~~~~~~~~
Selingkuhan.
Dikalangan kantor, sering terjadi perselingkuhan antara atasan dan bawahan.
Bahkan kini, kata selingkuh mulai dikaitkan dengan diriku. Rumor dengan cepat tersebar kemana-mana, menjadi perbincangan.
Ok aku tidak terlalu memikirkan pendapat orang lain padaku, tapi rumor ini bisa saja membuat mereka jadi tahu identitas-ku yang sebenarnya.
Seorang single parents, yang memiliki anak perempuan dengan ciri khas Uchiha.
Orang manapun akan langsung mengetahui bahwa Sarada adalah keturunan Uchiha, dalam sekali lihat.
Gen Uchiha memang menakjubkan.
"Mama."
Suara lucu itu membuatku menatap pada Sarada yang kini memegang boneka beruang berwarna biru yang diberikan Sasuke.
"Honey ada apa?" tanyaku, lalu mengangkat dan membaringkan tubuh Sarada diatas kasur.
Dia tampak ragu, namun aku mengelus pucuk kepalanya. "Apa yang ingin Sarada katakan?" tanyaku lagi.
"Apa papa tidak akan datang?" tanya Sarada dengan manik polosnya.
Aku berpikir sejenak lalu mengangguk. "Papa sedang sibuk, apa Salad merindukannya?"
Dengan cepat, Dia mengangguk. Aku tahu ini hal yang wajar mengingat Sarada sudah tidak bertemu Sasuke beberapa hari.
Setelah adegan aku ditampar istrinya, risegn adalah pilihan terbaik. Aku tidak ingin mencari keributan.
Lagi pula, aku berniat membawa Sarada pergi ke kota lain. Untuk bertemu seseorang, sejak awal pertemuan dengan Sasuke memang tidak pernah ada direncanaku.
~~~~~~~~~~~~~~~
Merasa sedikit haus, aku melangkah menuju area dapur. Guna menghilangkan dahaga yang tiba tiba muncul ditengah malam.
Namun, sebuah derap langkah kaki terdengar. Membuat diriku merasa waspada dan meraih spatula yang ada didekatku.
Suara itu berasal dari ruang tengah, lampu ruangan itu masih mati. Nekat, kakiku melangkah kesana.
Hendak menghidupkan saklar lampu, namun sebuah tangan kekar melingkar di pinggangku.
Tersentak kaget, aku dengan cepat menoleh kesamping. Mendapati Sasuke sebagai pelaku.
Menghela nafas lega, aku merasa bersyukur karena orang itu adalah Sasuke dan bukannya penjahat.
Bau alkohol begitu menyengat tercium, dia mabuk. Menghembuskan nafas panjang, aku mencoba melepaskan tangan Sasuke yang memeluk pinggangku.
Tapi semua itu sia-sia, justru dia malah mengeratkan pelukannya. Dan menenggelamkan wajahnya diceruk leherku.
"Sasuke," panggilku.
Sasuke sama sekali tidak meracau, ataupun mengumpat layaknya orang mabuk, dia hanya diam.
Ini sedikit aneh.
Kami hanya diam dengan posisi yang agak ekstrim, Sasuke adalah tipe orang yang jarang mabuk. Dan sekali dia mabuk, itu berarti ada sesuatu yang mengganggunya.
"Kenapa?"
Hanya satu kata, Sasuke berucap dengan pelan. Namun nada suaranya terasa begitu datar.
Aku mengerutkan kening, bingung, tentu saja. Siapa orang yang akan mengerti dengan satu kata seperti itu.
"Kenapa kau meninggalkanku Sakura?" tanya Sasuke lagi.
Tubuhku membatu diam, kali ini suara Sasuke terdengar bergemetar. Membuatku memejamkan kelopak mata sejenak.
Sakit, tentu saja. Aku merasa seperti ditusuk ribuan pisau saat Sasuke menanyakan alasan, tentang aku yang pergi meninggalkannya secara tiba tiba.
Ini memang salahku.
"Maafkan aku Sasuke."
Kali ini aku memilih egois, entah dia mabuk atau tidak. Aku tetap tidak dapat mengatakan alasannya, karena aku tidak akan pernah siap.
~~~~~~~~~~~~~~~
Mentari pagi menyambut, aku bersyukur Sasuke tidak membahas hal kemarin. Entah dia lupa atau tidak, aku juga tidak tahu.
Pintu kamar mandi terbuka, Sasuke. Pria yang menjabat sebagai CEO itu keluar dari sana hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.
Ototnya terlihat begitu kekar, siapa sangka aku pernah menciptakan kissmark ditubuh itu dulu.
Shit, apa yang ku pikirkan. Aku menggeleng kepala pelan, mengenyahkan pikiran itu sejauh mungkin dan menatap Sasuke yang ternyata juga tengah menatapku.
"Sasuke, aku dan Sarada ingin Mcdonald's," ucapku mengutarakan keinginan.
Junk food bukan pilihan terbaik, tapi isi kulkas sudah cukup memperihatinkan. Jadi, tidak ada pilihan lain.
"Benarkah?" tanyanya, memastikan.
Tanpa ragu aku mengangguk. "Tentu saja" ucapku.
Pria itu berjalan mengambil ponsel mahalnya yang berada diatas nakas, mengetik sesuatu dikeyboard. Mungkin memesan makanan, entahlah.
"Hn sudah," ujar Sasuke, pria itu lalu melempar sebuah handuk kecil padaku.
Dengan sigap aku menangkapnya, tanpa diberi tahu. Aku tahu bahwa Sasuke ingin agar diriku mengeringkan surainya.
Tipe pria yang agak manja.
Aku melangkah mendekat ke belakangnya, dan mulai mengeringkan rambut berwarna raven itu.
"Kapan makanannya tiba?"
Sasuke menaikkan sebelah alisnya, "Makanan?"
"Iya makanan," balasku sedikit bingung.
"Shit." Sasuke mengumpat pelan lalu mendengus geli membuatku kini bertanya tanya.
Tidak ingin mati penasaran, aku lalu menarik pipinya pelan. "Tunggu, jadi apa yang kau beli?"
Oh God, dia kini malah melirikku dengan onyx tajamnya sembari menyeringai. "Perusahaannya."
Singkat, padat, jelas. Membuatku menatapnya tidak percaya.
"Apa?"