Telat Sadar
Romance
01 Jan 2026

Telat Sadar

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-01T163539.021.jfif

download - 2026-01-01T163539.021.jfif

01 Jan 2026, 09:35

download - 2026-01-01T163535.302.jfif

download - 2026-01-01T163535.302.jfif

01 Jan 2026, 09:35

"K-kak Leo, sebenarnya aku—"

ucapan gadis itu terputus.

"Suka sama gue kan? Maaf kayaknya gue nggak bisa," sela laki-laki itu, Leo.

"Ke-kenapa kak? Aku kira kakak suka sama aku karena selama ini kita dekat," ucap Nara sambil menatap Leo intens.

Leo menyibakkan rambutnya kebelakang dan tertawa sinis. "Jangan mimpi deh, lo! Dekat bukan berarti gue suka sama Lo! Lagian, nggak mungkin lah, gue suka sama orang kaya lo!" Leo lalu melangkah pergi begitu saja.

Nara menunduk sambil meremas tangannya sendiri. Kenapa sih, pernyataan cintanya selalu ditolak? Apa karena ia jauh dari kata cantik? Apa ia jauh dari kata feminim? Ya, kadang tingkah Nara ini bar-bar.

Daripada galau dan memikirkan yang tidak-tidak di tempat itu, lapangan basket, Nara pun memutuskan untuk pergi ke kelas dan menemui teman laki-laki satu-satunya yang biasa ia ajak curhat jika sedang galau.

"Rel." Nara langsung duduk disebelah temannya yang sedang asik mengobrol dengan teman perempuannya yang Lain. Yah, Varel memang satu-satunya laki-laki yang enak buat diajak ngobrol maupun curhat.

"Eh, Nara. Kenapa muka lu cemberut gitu? Ditolak cowok lagi?" tanya Dinar dengan nada mengejek.

Nara yang sudah kesal, menggebrak meja cukup kencang, membuat Dinar sedikit terkejut. "Bacot! Nggak usah ikut campur lo!"

"Ya santuy, dong. Yaudah lah, Rel. Kita lanjut ngobrol lagi nanti. Bye! " Dinar pun bergegas pergi. Takut nanti Nara mengomeli dirinya.

"Ada apa, Nara?" tanya Varel, matanya malah terfokus pada ponselnya.

"Gue ditolak lagi." Nara menidurkan kepalanya dimeja.

"Udah tau. Elo sih, udah gue bilangin kan, jangan langsung nembak orang yang lo suka."

"Ya tapi, perasaan ini tuh—ah, udahlah. Pokoknya gue suka sama kak Leo, tapi ditolak dengan kata-kata yang kasar." Nara mengacak rambutnya frustasi.

"Udah, tutup mata aja. Palingan besok lo udah dapet penggantinya. Hati lo kan cepet reinkarnasinya." Kali ini Varel menatap Nara.

"Ya elah lo kira gue cacing pipih?! Eh, Rel. Lo lagi suka sama siapa sih? Kok gue nggak pernah denger lo lagi suka sama siapa."

"I-itu—gue masih suka sama si Nancy." Varel membuang mukanya kearah lain. Nancy itu gadis yang Varel sukai waktu kelas 8 SMP.

Nara hanya manggut-manggut, "Oh," ucapnya.

"Eh, Rel. Pulang sekolah wi-fi an di lorong kantor kepala sekolah yuk! Kaya biasanya," lanjut Nara.

"Hem. Pasti mau nonton drakor?"

"Iyalah, pliisss!!" Nara menyatukan kedua tangannya, memohon pada laki-laki didepannya ini.

Varel memutar bola matanya malas, yah, terpaksa deh. "Iyaya,"

***

2 hari kemudian .

"Varel!!" teriak seorang gadis di koridor. Membuat beberapa pasang mata tidak bisa tidak menoleh ke Nara.

Si pemilik nama pun mengehentikan langkahnya lalu berbalik, "Kenapa sih, Nar? Teriak-teriak Mulu, bikin malu."

Nara pun segara berlari mendekati si Varel. "Gue mau ngomong. Sebenernya, si Galang dilihat-lihat ganteng juga ya." Tanpa sadar, senyum Nara mengembang.

"Tuh kan. Yaudah, yang penting lo jangan ngelakuin hal-hal kayak sebelumnya! Yang ada nanti Galang malah ilfeel sama lo!"

"Emang gue ngelakuin apa aja emang?" Nara mencoba mengingat-ingat lagi apa saja kelakuannya.

Varel mengehentikan langkahnya, lalu menatap Nara, begitu juga dengan Nara. "Yang suka manjat pagar samping sekolah buat ambil markisa siapa? Suka nyapa semua orang dikoridor, lempar bola ampe kena kepala botak Pak Danu siapa? Pokoknya plis, jadi lebih feminim."

"Iya-iya." Nara memanyunkan bibirnya. Tak lama kemudian senyum Nara kembali mengembang. Tangannya melambai-lambai pada seseorang.

"Galang!" Nara menyapa laki-laki yang berpapasan dengannya, Galang.

Dengan ramah, Galang tersenyum dan membalas Nara. "Eh, Halo Nara."

Tepat di depan pintu kelas, Nara memegang tangan Galang, membuat laki-laki itu gugup setengah mati.

"Rel, tolong bantuin gue deket sama Galang, dong!" pinta Nara. Varel tak langsung menjawab.

"Pliis bantuin gue, Rel," rengek Nara lagi.

Akhirnya, Varel menatap Nara intens. Dan seperti biasa, ia tersenyum. "Iyaya. Gue pasti bantu kok,"

"Yeaayy! Makasih Varel! Lo emang temen terbaik gue, dah!" Nara berjalan masuk ke kelasnya dengan perasaan girang.

Ia tidak pernah tau apa yang sedang dirasakan Varel.

Hari-hari terus berlalu. Varel dengan segala upayanya membantu PDKT Nara dengan Galang akhirnya membuahkan hasil. Mereka berdua semakin dekat. Tetapi, belum sampai tahap pacaran.

Nara berjalan mendekati Varel sambil membawakan susu coklat kesukaannya. Ya, hitung-hitung sebagai balas budi karena sudah membantu PDKT-nya.

"Varel!" Nara duduk dihadapan Varel sambil menyodorkan susu kotak rasa coklat itu.

"Rel, ini gue beliin susu. Itung-itung buat balas budi, lah. Makasih ya udah bantuin gue PDKT sama Galang," ucap Nara. Namun, tidak biasanya Varel menunjukkan ekspresi badmood .

"Rel, Lo kenapa sih? Diem mulu, sariawan ya?" celetuk Nara.

"Bisa diem nggak?! Lo nggak akan tau apa yang gue rasain!" ucap Varel dengan suara cukup kencang.

"Y-ya nggak usah marah-marah, dong," ucap Nara.

"Lo ditolak ama Nancy?"

"Pikir sendiri." Varel pun pergi meninggalkan Nara sendiri.

Gue salah apa sih? Batin Nara.

***

Sejak hari itu, Nara dan Varel tidak pernah bertemu lagi. Mendadak Varel pindah sekolah karena pekerjaan Ayahnya yang harus pindah kota.

Tentang Galang, mereka memang dekat. Tapi hanya sebatas teman. Lagipula, perasaannya pada Galang sudah berubah dan Galang pun sudah punya pacar. Sejak Varel pindah, Nara merasa ada yang kosong di hatinya.

Hari ini, jadwal Nara piket kelas. Seperti biasa, kalau ia piket hanya membersihkan sampah-sampah di laci meja, lalu pulang. Sedangkan teman-temannya sibuk menyapu, mengepel dan merapikan buku-buku. Enak ya, jadi Nara.

Saat merogoh laci meja milik Varel, ia menemukan sebuah amplop kecil yang ada tulisan Katakana- nya diujung depan amplop.

Penasaran, Nara langsung membukanya dan membaca surat yang ditulis di kertas binder berwarna merah muda.

I love you Nara Adhitama 💕

@VarelGaming07

Singkat, namun mampu membuat dada Nara terasa sesak dan sakit. Tubuhnya langsung merosot ke lantai, air matanya mengalir deras. Ia sudah tidak peduli dengan orang-orang sekitar.

"Ra, Lo nggak papa?"

"Eh, Ra. Lo napa nangis?"

"Ra, oy!"

Mengapa? Kenapa ia baru sadar bahwa Varel menyukainya? Kenapa harus terlambat seperti ini, sih?! kenapa telat sadarnya, sih?!

Gue juga suka sama lo Rel .

[ E N D ]


Kembali ke Beranda