Beri Aku Waktu
Romance
01 Jan 2026

Beri Aku Waktu

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-01T152256.100.jfif

download - 2026-01-01T152256.100.jfif

01 Jan 2026, 08:23

download - 2026-01-01T152247.235.jfif

download - 2026-01-01T152247.235.jfif

01 Jan 2026, 08:23

Sudah sebulan lebih Gisel putus dengan Gavin. Akan tetapi, kenangannya tetap menemani hari-harinya yang kelam. Tempat yang dulu sering mereka datangi bersama berdua, kini hanya didatangi oleh Gisel saja. Seperti sekarang. Gisel mendatangi taman ini lagi. Taman yang masih terlihat sama, namun terasa berbeda.

Ia menduduki kursi taman. Bibirnya tersenyum tipis melihat bunga mawar yang dihinggapi kupu-kupu dengan berbagai warna yang terlihat cantik. Mereka terbang kesana-kemari seolah tengah menari bersama, dengan pancaran kebahagiaan. Namun, tak sebahagia dirinya saat ini.

Gavin Anggara. Lelaki yang berhasil meluluhkan hatinya sekaligus meruntuhkan harapannya, pergi begitu saja setelah mengucapkan kalimat singkat, namun terkesan menyayat hatinya.

Kita berhenti sampai sini ya Gis Makasih dua tahunnya ." ucapan Gavin dulu, yang masih terngiang di benaknya hingga saat ini.

"Siapa coba?"

Gisel terkejut ketika matanya ditutup oleh seseorang dari belakang.

"Galih ...." Gisel memegang kedua tangan kekar itu, lalu menjauhkannya dari matanya.

Galih tertawa. Ia melompat dari belakang kursi yang Gisel duduki, lalu langsung mendudukinya. Memang tidak sulit melakukan hal itu bagi laki-laki.

"Semenarik itukah kupu-kupu itu?" tanya Galih yang mengikuti arah pandang Gisel.

"Lucu," jawab Gisel singkat. Tatapannya masih fokus pada kupu-kupu dan bunga mawar itu. Ia bahkan tidak melirik Galih sama sekali.

"Lo gak bisa gini terus Sel, semakin lo kayak gini, semakin lo ngebunuh diri lo sendiri." Galih berkata dengan mata yang menatap Gisel lekat.

Gisel terdiam. Ia menghembuskan nafas pelan, lalu menatap Galih balik. "Gue masih gak bisa terima semua kenyataan ini, Gal. Gavin pergi gitu aja tanpa alasan yang jelas." Mata Gisel mulai berkaca-kaca.

"Kita gak bakal tau isi hati seseorang Sel. Cinta bisa datang kapan aja, dan pergi gitu aja. Mungkin dengan kepergian Gavin, tuhan memberi pelajaran buat lo untuk bisa mendapatkan yang lebih baik dari dia," ujar Galih dengan tenangnya.

"Emang bener ya, cinta bisa menjebak seseorang dalam zona nyaman. Kaya gue contohnya," ujar Galih kembali, yang membuat Gisel menoleh ke arahnya.

"Maksud lo?" tanya Gisel tidak mengerti.

Galih merubah posisinya menjadi menghadap Gisel. Tangannya mengambil kedua tangan Gisel, lalu digenggamnya erat. "Gue sayang sama lo Sel, gue cinta sama lo, bahkan gue gak mau kehilangan lo. Dengan liat keadaan lo yang kaya gini, buat gue ikutan sakit, Sel." Galih berkata dengan begitu lantangnya.

Gisel terkejut mendengarnya. Ia menarik tangannya yang digenggam oleh Galih. "Tapi, Gal ... kita kan udah janji buat gak jatuh cinta satu sama lain," ujarnya.

"Gue tau kita udah sahabatan dari kecil. Bahagia lo, bahagia gue. Kesedihan lo, kesedihan gue. Begitupun sebaliknya. Tapi perasaan gak bisa dibohongi, Sel. Gue sayang dan cinta sama lo, udah dari empat tahun yang lalu. Dari waktu kita duduk di bangku SMA." Galih menjelaskan sedetail-detailnya. Ia mengungkapkan semua perasaan yang sedari dulu dirasakannya pada Gisel.

"Kenapa gak bilang dari dulu?" tanya Gisel dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Gue takut Sel. Gue takut lo bakal jauhin gue kalau gue ungkapin perasaan ini. Perasaan yang gak seharusnya terjadi sama gue, dan perasaan yang bisa ngehancurin persahabatan kita," kata Galih. Matanya masih menatap Gisel, yang juga tengah menatapnya.

"Saat gue tau lo jadian sama Gavin, hati gue sakit Sel. Hidup gue kayak berubah. Walaupun ini mungkin terkesan lebay, tapi kenyataannya emang gitu. Bahkan, saat gue liat lo jalan berdua sama Gavin, gue lah orang pertama yang berharap kalau Gavin adalah gue."

Ucapan Galih membuat Gisel terdiam membisu. Ia bingung apa yang harus dilakukannya sekarang. Mulutnya seolah terkunci rapat, namun ia merasa ada gejolak aneh di hatinya setelah mendengar pengutaraan Galih.

"Maaf Sel, maaf gue udah jatuh cinta sama lo, dan mengingkari janji kita dulu. Gue gak maksa buat lo terima cinta gue. Tapi gue mohon, tetap jadi sahabat terbaik gue. Dan biarkan cinta gue ke lo, tetep tersimpan di hati gue," mohonnya dengan bibir yang berusaha untuk tersenyum.

Bukannya marah atau kesal, Gisel justru ikut tersenyum seperti Galih. "Lo gak salah Gal. Lo berhak jatuh cinta sama siapa aja, lo juga berhak buat ngungkapin nya. Makasih udah mau jujur." Terdengar nada tulus dari ucapan yang Gisel ucapkan.

"Tapi, maaf gue belum bisa nerima lo, Gal."

"Kenapa?" tanya Galih memelankan suaranya.

"Gue gak mau jatuh cinta sama orang cuma buat lupain Gavin. Gue gak mau dengan gue lakuin ini ke lo, yang ada gue malah nyakitin lo dengan cinta palsu." Gisel tersenyum kepada Galih.

"Kasih gue waktu buat bisa jatuh cinta sama lo, kalaupun gue gak bisa jatuh cinta sama lo, lo berhak cari yang lebih baik dari gue," lanjutnya, yang mencoba meyakinkan Galih.

"Gue akan tunggu lo, Sel," ucap Galih yakin. Terlihat senyuman itu semakin melebar, dan wajah Galih terlihat lebih bahagia sekarang.

"Makasih udah selalu ada buat gue." Gisel menyandarkan kepalanya pada pundak Galih.

"Gue terpaksa," canda Galih yang mendapat cubitan Gisel di perutnya.

"Aww! Sakit Sel!" ringis Galih.

"Rasain tuh!" Gisel menjulurkan lidahnya.

"Berani ya ...." Galih menggelitik Gisel sebagai balasannya.

Gisel tertawa kencang, karena perutnya yang merasa geli. "Galih! Berhenti!" teriaknya yang dibarengi tertawa.

Galih berhenti menggelitik Gisel yang masih tertawa kencang. Ia tersenyum senang melihat Gisel yang tertawa seperti sekarang. Sedetik kemudian, ia langsung memeluk Gisel erat.

"Selalu bahagia, Sel." bisik Galih.

Gisel membalas pelukannya. "Pasti," ujarnya yang tersenyum senang.

Mereka larut dalam kenyamanan, dan melupakan semua kesedihan yang mengelilinginya.

[ E N D ]


Kembali ke Beranda