Gambar dalam Cerita
Hujan mengguyur Kota Bandung. Aku berteduh di depan sebuah toko kue yang letaknya tidak jauh dari rumahku berada. Di tengah hujan yang kian menderas, tatapanku tertuju pada seorang lelaki yang ada disebrang jalan. Aku pun mencermati gerak-geriknya. Telah sadar, aku memergoki dirinya sedang memotret diriku dengan kamera yang berada digenggamannya. Lantas, aku segera mengalihkan pandanganku darinya.
Tak lama kemudian, aku mendengar suara parau yang berdeham tepat di samping kiriku."Hmm..."suara dehaman itu membuatku menoleh dan menaikkan satu halisku seakan berkata 'Apa?'. Lelaki itu tersenyum kepadaku sambil menyapa "Hai." Lalu ia menutup kembali payung berwarna biru yang ia pakai. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Ia pun kembali bertanya "Mau kemana?" "Mau pulang,"jawabku tanpa ingin balik bertanya.
Perlahan, hujan mulai mereda namun menyisakan gerimis yang berirama menari-nari di atas permukaan tanah. Lelaki itu kembali menatapku lekat dengan senyuman yang mengembang. Kuakui, lelaki itu memang tampan, manik mata berwarna cokelatnya sangat indah, padahal aku bertemu dengannya baru beberapa menit saja. Aku heran mengapa lelaki yang ku kira lima tahun lebih tua dariku itu menghampiri anak SMA seperti diriku ditengah hujan yang deras.
Aku menghembuskan napas pelan. Lamunanku tersadarkan ketika ia bertanya "Nama kamu siapa?" Aku menundukan kepalaku dengan sedikit gugup. Entah mengapa ada perasaan aneh menjalar menuju titik perasaanku. "Namaku Sandrina,"ucapku. Tak sadar aku tersenyum disela-sela ucapanku. Lalu aku mengangguk kepadanya, seakan pertanda bahwa aku akan pamit pulang. Namun, langkahku terhenti saat ia menarik tanganku "Pakai payung aku aja?" "Ah, enggak...rumahku dekat dari sini, terimakasih." Lagi-lagi aku menatap kedua bola mata lelaki itu. Manik mata hitam pekat dengan sorot mata teduh membuatku terpikat. "Yakin?"ia kembali bertanya. Aku hanya mengangguk mengiyakan, setelah itu beranjak pergi dari hadapannya. Satu penyesalanku ketika beranjak pergi, aku lupa menanyakan siapa namanya, mungkin karena aku terlalu gugup.
Tiba dirumah, aku termangu sambil menatap ke arah luar jendela. Menikmati angin berhembus mengibarkan rambut panjangku. Melihat pohon rindang seakan melambai-lambaikan tangannya, lalu beberapa helai daunnya jatuh berguguran.
Suasana hening membuat pikiranku terbang melayang membayangkan sosok paras. Lelaki dengan tatapan teduh yang kutemui siang tadi membuatku terpikat dan tak mau luput dari benakku. "Nak,"suara seseorang yang tak lagi asing dipendengaranku kini membuka pintu kamarku. Seketika lamunanku buyar. "Ada apa, Ma?" Mamaku mendekat ke arahku "Besok ada acara pernikahan saudara kamu, tidurnya jangan terlalu malam ya!jangan lupa makan juga, mama udah masak." Ucap Mamaku, beliau sangat perhatian padaku. "Iya Ma, sebentar lagi." Aku hanya mengiyakan. Lalu Mamaku kembali beranjak pergi dari kamarku.
Keesokkan harinya, aku bersiap-siap untuk menghadiri acara pernikahan saudaraku yang bernama Arka. Setiba disana, aku duduk pada bangku yang terletak paling depan. Akad nikah pun dimulai. Pandanganku fokus menuju seorang lelaki yang sedang memotret pernikahan Kak Arka. Aku tertegun, senyumanku kembali mengembang. Ternyata Tuhan kembali mempertemukan aku dengan lelaki yang kutemui kemarin siang.
Saat aku sedang menatapnya, ia berbalik menatapku dan mengabadikan potret diriku yang sedang girang karena bertemu dengannya lagi.
Setelah acaranya selesai, aku melihat Kak Arka sedang berbincang dengan lelaki itu, hal ini membuat rasa penasaranku semakin menggebu. Ku langkahkan kakiku, mendekat ke arahnya. Namun, tetap saja aku tak dapat mendengar dengan jelas perbincangan mereka yang terlihat begitu bisik-bisik seperti membahas hal yang sangat rahasia.
"Nak,ayo pulang." Ajak Mamaku ketika aku sedang memperhatikan mereka. Akhirnya aku pun mengiyakan karena aku tak mau Mamaku curiga pada diriku yang sedang mengagumi seorang lelaki.
Sampai dirumah, aku merebahkan diriku diatas kasur sambil melihat ponselku. Nampaknya seseorang tanpa nama mengirimku sebuah pesan lewat whatsapp. "Hai, Tiara ya?" Aku pun membalasnya "Jangan panggil Tiara, Sandrina aja." Aku baru sadar, mengapa dia memanggilku Tiara? Sedangkan yang memanggilku Tiara hanya keluargaku saja. Pikirku, seseorang itu memang sudah mencari tahu tentang diriku lewat keluargaku.
"Kamu siapa?"tanyaku. Seseorang tanpa nama itu kembali menjawab "Aku Gatma, seseorang yang bertemu pertama kalinya denganmu saat hujan."Mataku terbelalak membaca kata demi kata yang tertera. Sungguh, aku sangat senang bisa berbicang kembali dengannya.
Sejak saat itu hubungan kami semakin dekat, Kak Gatma jadi sering mengunjungi rumahku. Dia sangat ramah, dia mampu menghargaiku walaupun usiaku lebih muda darinya. Hingga akhirnya, ia menyatakan cintanya kepadaku. Satu kalimat yang selalu teringat dalam benakku, bahwa dia tidak akan pernah pergi meninggalkanku. Dia benar-benar berniat serius dan akan menyayangiku serta menerima segala kekuranganku. Aku mempercayai perkataannya.
Suatu hari, aku bertemu dengan Kak Gatma, ia mengajakku untuk jalan-jalan di sekitar Bandung, lalu ia mengantarku pulang ke rumah saat senja muncul dari tempat persembunyiannya. Ada yang berbeda dari perlakuan Kak Gatma, ia sempat memeluk erat diriku sembari berkata "Dah, Sandrina."sambil melambaikan tangannya. Seakan-akan kami tidak akan bertemu lagi. Aku pun membalas lambaian tangannya "Dah, Kak Gatma." sambil memperhatikan Kak Gatma yang sedang mengendarai motor sampai ia benar-benar hilang dari penglihatanku.
Hari setelah Kak Gatma mengajakku jalan-jalan di Kota Bandung, sikapnya mulai berubah, perhatian dan pedulinya mulai berkurang bahkan ia tidak pernah menghubungiku lagi.
Aku hanya bisa menghela napas dan membatin"Ya Tuhan, aku benar-bernar merasa kehilangannya,"sambil menatap ke arah luar jendela.
Mamaku yang melihat diriku seperti dalam gelisah pun akhirnya menghampiri diriku yang sedang menatap ke arah luar jendela "Ada masalah ya?" aku menggeleng pelan "Nggak,"jawabku singkat. "Mama lihat Gatma jarang ke rumah lagi, kenapa?" Pertanyaan itu menggores setitik luka dihatiku, membuat bibirku kelu tak sanggup ucap sepatah kata.
Aku menghembuskan napas kasar "Dia lagi sibuk kerja," jawabku agar Mamaku tidak curiga padaku yang memikirkan perubahan sikap Gatma. "Ini hari libur, masa iya hari libur masih sibuk kerja?" tanya Mamaku. Perkataan itu membuatku bepikir, aku semakin curiga ada sesuatu yang menyebabkan Kak Gatma berubah. "Oh iya, aku baru ingat sekarang kan hari minggu." Aku menatap Mamaku sambil berpikir apa yang harus aku lakukan.
Tak terasa waktu bergulir cepat, bulan dan bintang nampak menghiasi langit malam. Aku merebahkan diriku diatas kasur sambil memegang ponselku, lalu mencoba menghubungi Kak Gatma. Tak lama menunggu, suara seseorang yang asing dipendengaranku menjawab teleponku, suaranya terdengar seperti seorang perempuan.
"Halo?"
"Halo, siapa ya?"tanyaku dalam kebingungan.
"Kamu yang siapa?"ia malah balik bertanya. Aku terdiam sejenak.
Detik berikutnya.
"Aku pacarnya Kak Gatma,"ucapku dengan sangat yakin.
Seseorang itu kembali menjawab
"Aku Zephyra, calon istrinya Gatma, kamu ga usah ngaku-ngaku jadi pacarnya Gatma!" pekiknya hingga membuat hatiku teriris.
Aku tercengang, mencerna kata demi kata yang terlontar darinya. Air mata yang sudah ku bendung kini membuncah membasahi pipiku. Hujan yang mulai berjatuhan seakan menertawakan nasib malang diriku. Aku masih terdiam, sekujur tubuhku kaku seperti patung, bibirku tak sanggup mengucap sepatah kata, aku tidak percaya Kak Gatma telah mengkhianatiku.
"Halo?" ucap Zephyra lagi.
Dengan sekuat hati aku mulai berbicara dengan kalimat terbata-bata karena isak tangisanku "Ng-gak mungkin...Kak Gatma berjanji, dia mau menikahiku, dia gak akan pernah meninggalkanku."
Deru napas kian memburu, seseorang bernama Zephyra itu sepertinya marah padaku"Jangan mengada-ngada dan jangan ganggu hubungan aku lagi karena sebentar lagi kita akan menikah!" ucap Zephyra, lagi-lagi menggoreskan luka dihatiku.Aku menghembuskan napas pasrah,dengan sesak didada"Demi apapun gak bermaksud mengganggu hubungan kalian,"lirihku.
"Maaf, aku gak tau kalau Kak Gatma sudah jadi milik orang." Ucapku lagi.
Lalu aku meminta pada Zephyra untuk memberikan ponselnya pada Kak Gatma, dengan tulus aku berkata "Kak Gatma, terimakasih pernah menjadi bagian cerita dalam hidup Sandrina, sampai kapanpun Sandrina gak akan pernah lupa kebaikan Kak Gatma.Walaupun Kak Gatma pergi. Apapun sebab Kak Gatma seperti itu, aku selalu mendoakan yang terbaik untuk Kakak. Semoga Kak Gatma memilih jalan terbaik dan gak akan pernah melupakan aku, walau hadirku hanya untuk sebatas dikenang. Aku senang pernah mengenal Kakak,walau kenyataanya Allah tidak mengizinkan aku untuk mencintai Kak Gatma selamanya. Maaf Sandrina belum bisa menjadi apa yang Kakak mau, mungkin Zephyra jauh lebih sempurna dari pada aku. Aku ikut senang mendengarnya, selamat berbahagia Kak!"
"Iya, maaf aku gak bermaksud menyakiti perasaanmu."
Detik berikutnya ia kembali berucap "Lupakan saja aku."
Perlahan waktu membawanya pergi jauh dari sisiku. Meninggalkan serpihan memori yang membekas dalam ingatan. Kini, aku hanya bisa meratap. Saat langit malam tidak lagi menjadi saksi bisu perbincangan kami, hanya ada kabut menyelimuti kalbu. Jatuh meluruh bersama air mata, serta jerit tangisanku yang membisu.
Kenangan itu sering kali melintas dalam benak, aku masih ingat hari saat ia memeluk tubuhku adalah terakhir kalinya, untuk ku dengar suaranya, untuk ku lihat paras wajahnya, untuk ku genggam jemari tangannya seakan ia tak ingin pergi jauh dari sisiku, dan juga untuk menyambut hari-hari penuh rindu. Rindu yang menelusup menuju titik perasaanku kemudian menjalar ke seluruh tubuhku yang kaku, serta mulut yang membisu tak mampu berucap rindu. Sebab, aku tidak punya hak untuk merindu.
Mungkin, aku yang keliru akan hadirnya cinta, aku terlalu hanyut terbawa arus dan tatapannya yang memikat. Seharusnya aku sadar, bahwa siapapun mampu mengkianatiku, dan seharusnya tidak ada harapan selain harapan kepada Allah Swt Sang Maha Pencipta.
"Selamat tinggal kenangan,"batinku sembari memasang senyum keikhlasan. Sebab, bagiku cinta bukan hanya sekedar rasa ingin saling memiliki. Merelakan seseorang memilih kebahagian baru dan jalannya sendiri juga merupakan bagian dari cinta.
Tamat