Gadis kuat bernama Almira
Teen
17 Dec 2025

Gadis kuat bernama Almira

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2025-12-17T230128.969.jfif

download - 2025-12-17T230128.969.jfif

17 Dec 2025, 16:01

download - 2025-12-17T230124.417.jfif

download - 2025-12-17T230124.417.jfif

17 Dec 2025, 16:01

Seorang wanita berambut pendek sebahu,sedang menikmati coffenya disebuah kafe bernuansa eropa.

Siapa yang tidak mengenalnya?

Arinta Almirana.

Seorang wanita karir, yang sedang berada dipuncak kejayaannya. Ceo dan pendiri perusahan Peach Company yang bergerak dibidan Fashion dan kecantikan.

Rasanya apa yang tak dimiliki oleh perempuan berdarah bandung dan sulawesi ini?

Usia muda, karir yang bagus, wajah yang cantik, teman yang banyak, bahkan pendiri sebuah organisasi bernama MeLier Asossiciasion.

Sebuah organisasi sosial yang dimana isinya para sosialita indonesia, kolongmerat, pengusaha terkenal, dan wanita karir seperti dirinya.

Dan jangan lupakan, calon suaminya yang begitu mapan dan sangat perhatian.

Sempurna bukan? Namun hidup nyatanya bukan sebuah kesempurnaan, kembali kepadanya kesempurnaan hanya miliknya, milik tuhan semata.

Nyatanya dibalik hidup yang hampir sempurna, Azmira memiliki banyak luka yang disembunyikan begitu rapat.

Luka yang akan selalu membekas dalam ingatannya.

7 tahun lalu adalah hari yang paling berat dan mengesankan untuk Almira.

Dimana ia masih terbelenggu oleh siksaan sang ayah kepadanya, dimana selalu menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh Bima. Ayah kandungnya.

Tidak ada yang membelanya, sekalipun ibu kandungnya.Setelah perceraian orang tuanya saat ia berusia 5 tahun, ia harus hidup dengan Bima, sosok ayah yang keras, egois, pemabuk, dan pemain judi.

Hingga ia bertemu dengan sosoknya, sosok yang menjadi pahlawan dan menggantikan peran yang seharusnya menjadi cinta pertamanya yaitu sang ayah.

Arnio namanya, sosok laki laki tegas, tampan dan berwibawa, sosok yang sekarang menjadi calon suaminya.

7 tahun lalu Arnio berhasil menariknya dari segala luka yang mendera dikepalanya.

Almira kembali teringat, sosok Arnio yang masih berseragam putih abu abu, menyapanya untuk pertama kalinya.

Kamu gadis pemilik rumah nomor 17 kan?"

"Aku Arnio tetanggamu sejak sebulan lalu"

"Kenapa kamu selalu menunduk? Apakah karna luka dikepalamu ?"

"Kita bisa menjadi teman?"

"Bukankah aku cukup mengenalmu?, Gadis yang selalu berada dirumah, menatap kosong kearah jendela? Gadis yang tidak pernah menyalakan lampu dirumahnya?"

"Apakah kau tidak takut sendirian di kegelapan? Aku tau ayahmu selalu memukulmu, tidak papa setelah lulus, aku berjanji akan melindungimu , dan membawamu menuju kebahagiaan"

Sejak saat itu, Arnio tidak pernah melupakannya, ia benar benar menepati janjinya untuk membawa Almira pergi dari kehidupan sensara itu.

Hingga ia menjadi sosoknya yang sekarang ini, sosok yang begitu takut pada kegelapan, padahal ia selalu. berada dikegelapan saat itu.

Dimana ayahnya selalu memukulnya ketika menyalakan sebuah lampu, karna ia tidak ingin mengeluarkan uang sepeserpun untuk Almira.

"Kau kenapa melamun?"ucap seorang pria seusia dengan Almira,dia Arnio.

Almira tersenyum melihat Arnio, dan Arnio memeluk dan mencium puncak kepalanya.

"Kamu masih memikirkan hal itu?"

"Tidak, aku sedang berusaha melupakannya, tapj mengapa aku tidak bisa melupakan semua itu Ar?! Sungguh aku ingin melupakannya"ucap Almira sambil memeluk Arnio dengan air mata yang sudah mengalir deras dikelopak matanya.

"Tidak apa apa Mira,menangis lah jika kau ingin, karna pundakku akan selalu ada untuk melindungimu"

"Hiks aku ingin melupakannya Arnio aku ingin"ucap Almira dengan lirih

"Iya"

T

Dan tampa ia sadair, bahwa ucapannya akan membawanya kepada luka selanjutnya.

........

"Bibi"

Almira mengacak ngacak lemarinya mencari barang yang ia cari.

Kamarnya sudah seperti kapal pecah karna terus membuka dan menutup lemari lemarinya.

"Iya non? Non cari apa?"

Almira menghela nafas

"Bi, Almira mencari jam tangan Almira yang tadi pagi, Almira lupa manruhnya dimana, Almira tidak ingat"ucap Almira dengan frustasi.

"Maaf non? Tapi apakah itu jam tangan yang non cari?"tanya Bi Maria sambil menunjuk jam tangan yang ada ditangan Almira.

Almira melirik sekilas tangannya,

Astaga bagaimana aku bisa lupa ?"

"Oh iya bi makasih"

Pukul 9.00 Am indonesia,

Almira sedang bersiap untuk berkencan bersama Arnio, dan tak lama setelahnya mobil Arnio pun datang.

"Selamat pagi sayang"

"Pagi juga"

"Dress hijau? Bukankah kau menelfonku untuk memakai kaos biru? Kamu mau kita couple kan?"tanya Arnio dengan bingung.

"Benarkah? kapan? Aku tidak merasa mengatakannya?"tanya Almira

"Hmm tidak apa apa, kamu sangat cantik dengan dres itu"ucap Arnio sambil mengelus pelan rambut Almira.

Selama diperjalanan, Almira terus memikirkan sikapnya.ia merasa ada yang aneh dengan dirinya, ia akan memeriksanya nanti.

......

Almira meneteskan air matanya nelihat sebuah kertas berlogo rumah sakit.

Ia mengingat apa kata dokter psikologi yang menanganinya.

"Jadi keluhan apa yang anda alami?"

"Saya merasa aneh dengan diri saya dokter, saya kerap kali melupakan hal hal yang sederhana seperti jam tangan saya, atau janji kepada orang lain, bahkan saya merasa kesulitan berkonsentrasi bahkan untuk menggitung belanjaan saya"

"Hmm ibu Almira, sepertinya dari gejala gejala yang ibu alami, saya merasa anda mengidap penyakit Alzheimer bu"

Almira terkejut

"Alzheimer?! Bukankah penyakit itu tejadi pada lansia?"

"Benar sekali bu Almira, tapi Alzheimer ini juga bisa menyerang usia muda seperti anda, mungkin 5% anak muda didunia mengidap penyakit ini"

"Tapi dok? Mana mungkin?!"

"Bu Almira, apakah anda memiliki keluarga yang mengidap Alzheimer?,biasanya anak muda yang terkena penyakit ini, memiliki riwayat turunan atau genetik dari keluarganya, saya harap ibu terus mengelilingi diri anda dengan orang yang anda sayangi, dan rajin berkonsultasi agar kita bisa mencegah penyebaranya didalam otak"

Mendengar itu, Almira merasa dunianya seakan runtuh, apa yang harus dia lakukan? Bagaimana masa depannya dengan Arnio? Bagaimana perusahaanya? Bagaimana pernikahannya?

Pertanyaan itu terus memutar dikepala Almira, hingga puncaknya ia harus mengabaikan Arnio, tidak menjawab pesannya dan tidak menemuinya.

Almira ingin Arnio mendapatkan perempuan yang lebih baik darinya.

Bukan perempuan pelupa sepertinya.

Menghilangkan Arnio dari fikirannya bukanlah satu hal yang mudah,7 tahun mereka marajut kisah, namun Almira tidak bisa melupakan semua hidupnya tentang Arnio

Hingga jalan satu satunya, ia harus pergi dari kehidupan Arnio.

Almira memutuskan untuk terbang ke Afrika, menuju kota pretoria yang indah. dimana tempat itu selalu menjadi impiannya bersama Arnio.

Ia pergi,meninggalkan kota kelahirannya, yang penuh akan luka dan tawa.



.

......

3 bulan kemudian, disebuah rumah dikota pretoria Almira sedang menatap anak anak yang berada dipanti asuhan sebelah rumahnya.

"Jadi Samanta kau sedang melukis apa?"

"Kak Almira? Bukankah kau sudah menanyakan itu 3 kali?, Aku menggambar boneka salju"ucap bocah perempuan berambut ikal

"Benarkah Samantha? Sepertinya kakak sedang sakit kepala, jadi agak pelupa, sebaiknya kakak pergi istirahat dulu"

Almira masuk kedalam rumahnya, ia membuka ponselnya dan memesan layanan makanan,lalu meletakkan hpnya diatas naskas.

Sedetik kemudian

"Aku menaruh hpku dimana?"ucap Almira sambil mencari hpnya dikamar dan disetiap sudut ruangan

"Astaga, apakah aku menghilangkan hpku?"

Melihat keadaan Almira, pria yang sedari tadi mengamati Almira refleks menjatuhkan air matanya, tiga bulan lalu ia berhenti menghampiri Almira sebab Almira menolak keras keberadaanya bahkan meraung raung menyuruhnya pergi.

Arnio mengiyakan permintaanya,namun ia selalu mengawasi Almira dari jauh.

Hingga keadaan memaksanya untuk kembali ke Indonesia,karna harus mengurus perusahaannya yang bermasalah.setelah sebulan lamanya Arnio kembali lagi ke pretoria untuk melihat Almira.

Ia tak menyangka Almira berubah secepat ini.

Arnio mengambil handphone Almira dinaskas

"Apakah kau mencari ini?"ucap Arnio dengan sedih

"Ah iya hpku, dimana kau menemukannya"tanya Almira dengan senang.

"Kau menyimpannya dinaskas"

"Ah benarkah, aku melupakannya,tapi kau siapa? Apa aku mengenalmu? Oh iya apakah kau pengantar paket? Tapi aku merasa tidak merasa apapun"ucap Almira dengan lesu.

Arnio tidak bisa lagi membendung tangisnya

"Aku Arnio Almira, Arnio, calon suamimu"ucap Arnio dengan lirih.

Almira tersadar, dan mengingat ingatannya beberapa detik lalu.

"Arnio?

Almira melangkah mundur menghindari Arnio.

"Aku .. aku melupakanmu Arnio, apa yang sudah kulakukan?! Akh aku melupakanmu"ucap Almira sambil memukul kepalanya dengan keras.

Arnio memeluk Almira dengan erat.

"Tidak apa apa Almira, kamu jangan melukai dirimu sendiri, aku menerimamu apa adanya, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi, tidak akan pernah"ucap Arnio dengan lirih dan terus memeluk Almira yang memberontak.

"Tidak Arnio! Aku jahat, aku bodoh telah melupakanmu! Kau harus meninggalkanku, harus!"

Arnio tidak akan menuruti permintaan Almira, untuk meninggalkan Almira bahkan sampai mencari wanita lain, baginya Almira adalah segalnya, sumber kehidupannya.

Dimana ia dan Almira memiliki kisah yang tidak akan selesai hingga maut memisahkan mereka.

Nyatanya kebahagiaan tidak selalu datang untuk selamanya, namun cukup bersamamu, aku bahagia Almira.

Tidak ada perempuan sekuat dirimu, bahkan ketika kau melupakan semua hal tentang kita.

Tidak apa apa,sungguh aku tidak apa apa, lupakanlah semuanya, aku mengerti bahwa ingatan itu membuatmu sakit setiap mengingatnya, kau berhasil Almira, namun aku menyesal telah menyuruhmu melupakannya, karna pada akhirnya kenangan yang kau lupakan bukanlah semua kenangan tentang masa surammu , namun kau juga melupakan semuanya, bahkan untuk aku sekalipun.

Namun aku tidak akan pernah melupakanmu Almira.aku akan terus menjagamu seperti janjiku"batin Arnio sambil terus merengkuh tubuh Almira

Pov Almira

Arnio, pria kesayanganku, aku minta maaf jikasanya aku harus pergi meninggalkanmu. Karna 7 tahun itu akan menjadi sebuah cerita yang sangat ingin kukenang . Aku mungkin terlalu senang akan 7 tahun dihidupku yang hidup dengan suatu kebebasan. Dan pastinya bersamamu. Namun kau tau? Tuhan mengabukan doaku, untuk menghapus seluruh ingatanku. Jikalau pada akhirnya aku melupakan semua cerita ini, bahkan namamu. Aku mohon carilah wanita lain yang akan membuatmu bahagia, walau kutahu kau tidak akan mau, tapi aku menginginkannya Arnio. Aku menginginkanmu bahagia. Tidak apa kalau kau belum mau meninggalkanku, tapi aku mohon, setelah mataku terpejam untuk selamanya, carilah wanita yang dapat membahagiakanmu. Love you for eyes my lover.

Kembali ke Beranda