Gambar dalam Cerita
Aku menatap berulang kali jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Sudah hampir pukul sepuluh malam tapi aku belum pulang juga. Aku menggigit cemas bibir bawahku. Khawatir akan dimarahi setibanya di rumah nanti karena sudah berani melanggar jam malamku.
"Kamu pulang aja. Aku nggak papa kok." Aku menggeleng. Tidak mungkin aku meninggalkan temanku sendirian di cafe yang sepi pengunjung ini. Selain karena perasaan tidak tega, aku takut terjadi sesuatu yang buruk padanya.
"Kamu tenang aja. Rumahku dekat dari sini, jalanannya juga selalu ramai. Aku temani sampai teman kamu datang."
Sepuluh menit kemudian, sesosok tubuh berbadan tegap menghampiri kami. Ah, sepertinya ini dia orang yang ditunggu.
"Maaf gue telat, San. Latihannya baru kelar." Suaranya tidak begitu berat, tapi tidak cempreng juga. Wajahnya dibuat semeringis mungkin—senjata andalan agar tidak dimarahi.
"Gara-gara lo lama, teman gue jadi telat pulang. Tanggung jawab! Kita anterin dia dulu," ketus Sausan. Dia sampai memukul lengan cowok dihadapannya itu.
"Eh, nggak usah, San. Gue pulang sendiri aja," tolakku tak enak hati. Aku segan harus merepotkan orang lain, apalagi orang yang tidak aku kenal.
"Nggak papa, Shei. Kamu nggak bisa cepat pulang karena dia. Dia nggak bakal keberatan kok." Sausan berkata ringan. Aku melirik pelan teman Sausan yang belum aku ketahui namanya. Inginnya menggeleng agar dia dan Sausan tidak perlu mengantarku, tapi perkataannya membuatku kalah telak malam itu.
"Gue nggak keberatan nganter lo dulu. Sausan benar, gue salah dan gue harus tanggung jawab."
Aku kira pertemuanku dengan cowok berbadan tegap itu berhenti sampai di sana. Tapi siapa sangka itu hanyalah permulaan saja?
***
Halo, Shei.
Aku mengernyit saat nomor tak dikenal mengirimkan chat . Foto profilnya berwarna hitam. Display name -nya hanya bertuliskan huruf A.
Siapa?
Sorry, gue lupa memperkenalkan diri.
Alvin.
Temannya Sausan.
Mulutku membentuk huruf O. Ternyata cowok itu. Yang mengantarkanku pulang seminggu yang lalu.
Hai, Alvin.
Ada apa?
Gue minta maaf karena kejadian seminggu yang lalu.
Kata Sausan, lo dimarahin ortu karena pulang telat.
Sorry juga kalau gue baru bisa minta maaf sekarang, susah dapetin nomor lo.
Sausan pelit.
***
Permintaan maaf itu menjadi awal mula kedekatanku dengan Alvin. Aku tidak begitu ingat apa yang mengikat kami hingga makin akrab dari hari ke hari. Mungkin karena kepribadiannya. Mungkin juga karena selera humornya. Atau mungkin karena kami memang nyambung satu sama lain. Ntah lah, aku tidak tahu yang mana yang benar.
Sebelum aku lebih lanjut menyeritakan cerita kami, biarkan aku memperkenalkan dulu siapa itu Alvin. Nama lengkapnya Alvin Fiazer. Nama belakangnya agak aneh, ya? Aku juga menganggapnya begitu. Pernah ku tanya apa arti dari nama belakangnya. Katanya itu adalah gabungan nama dari kedua orang tuanya. Dia kelas sebelas, sama denganku, satu sekolah dengan Sausan. Dari cerita-ceritanya, aku tahu dia menggemari olahraga basket. Hobinya itu bahkan membawanya sampai ke ajang nasional. Sangat membanggakan bukan? Sayangnya, basket menyita waktunya sampai dia sering ketinggalan pelajaran sekolah. Dia sudah berusaha mengejar ketertinggalannya sampai ikut les, tapi dia masih keteteran. Ah, satu lagi. Dia jomblo. Dia sendiri yang mengatakannya padaku—padahal aku tidak bertanya. Entah itu informasi penting atau tidak.
"Oi!" Tepukan di bahuku membuatku sadar dari lamunanku. Di sana, Alvin berdiri dengan senyum lebarnya. Seragam sekolah putih abu-abu masih melekat di tubuhnya meskipun saat ini sudah pukul empat sore. Tas punggung berwarna hitam bertengger di bahu lebarnya. "Sore-sore malah ngelamun. Kesambet jin ntar."
"Mulut kamu, ih."
Alvin tertawa. Ia menarik kursi di sampingku lalu duduk di sana. Sebelum itu ia meletakkan tasnya di atas meja.
"Udah nunggu lama?" Aku menggeleng. Aku baru datang sepuluh menit yang lalu. Minuman pesananku baru diantarkan. "Kamu bohongkan biar aku nggak merasa bersalah?"
"Ngapain juga aku bohong. Nambah-nambah dosaku aja," cibirku.
"Kirain demi aku." Awalnya Alvin menggunakan lo-gue padaku. Tapi sepertinya lama-kelamaan dia jadi tidak nyaman kami berbeda panggilan begini, kemudian dia mengubahnya jadi aku-kamu—mengikutiku yang memang selalu menggunakan aku-kamu pada semua temanku.
"Gimana latihannya?"
"Capek. Keringetan, tapi aku udah mandi tadi. Jadi kamu nggak perlu khawatir bakal nyium bau nggak sedap." Lelah itu nyata terlihat di wajahnya, meskipun dia berusaha menutupi dengan cengiran khasnya.
"Harusnya kamu pulang kalau capek, bukannya malah ngajak aku ketemuan."
"Hm." Perlahan, Alvin merebahkan kepalanya di bahuku. Aku menegang sejenak. Helaan napasnya dapat aku dengar dengan posisi kami yang sedekat ini. "Males pulang. Ribut sama Bunda."
"Lagi?"
Kalau kalian kira kalau Alvin memiliki hubungan yang tidak baik dengan ibunya, kalian salah besar. Alvin sangat menyayangi ibunya—sebagaimana hubungan orang tua dan anak semestinya. Dia juga bisa dikatakan mama's boy dan lumayan manja pada ibunya—kalau mereka sedang akur. Hanya saja Alvin dan ibunya sering berbeda pendapat dan sama-sama keras kepala. Mereka kekeh memegang argumen masing-masing hingga berakhir saling ngambek seperti ini. Padahal yang mereka perdebatkan itu sering kali tidak penting.
"Kok nanyanya gitu? Seakan-akan aku sering ribut sama Bunda." Alvin menarik kepalanya dari bahuku. Ia protes padahal yang aku ucapkan benar.
"Emang iya kan? Kalau aku nggak salah hitung, ini udah ketiga kalinya di bulan ini."
"Mana ada. Kamu ngarang."
"Nggak penting banget aku ngarang gituan."
"Shei ...." Alvin merengek. Dia merebahkan kepalanya di bahuku lagi. Kelakuannya terkadang seperti anak kecil dan ... membuatku sedikit berdebar. "Bunda nyebelin tadi pagi. Masa aku disuruh ngurangin jadwal latihan. Mana bisa. Tim basket sekolahku bentar lagi mau tanding—meskipun cuma antar sekolah. Aku nggak mungkin bolos latihan sedangkan aku kaptennya."
Aku diam. Mendengarkan saja apa yang Alvin ceritakan. Tanggapanku belum diperlukan sebelum Alvin bertanya.
"Aku tahu bentar lagi ujian kenaikan kelas. Aku pasti belajar kok, nggak mungkin nggak. Aku nggak mau tinggal kelas. Tapi ya jangan berharap banyak sama nilaiku. Pas-pasan KKM aja alhamdulillah. "
Aku masih diam. Menunggu Alvin melanjutkan ceritanya. Tapi selang beberapa detik, cowok itu tidak juga membuka mulutnya. Dia malah menatapku dengan pandangan kesal. Apalagi salahku?
"Kok kamu diem aja, sih, Shei? Aku lagi curhat, nih. Butuh ditanggapi."
Oh, sudah selesai. Pantas dia kesal. Aku mendorong kepalanya menjauh sebelum berbicara. Ku putar badanku hingga kami duduk saling berhadapan.
"Bunda kamu cuma khawatir sama masa depan kamu, Al. Kamu tahukan nilai rapor ngaruh banget sama penerimaan SNMPTN? Kamu nggak mau apa masuk kuliah jalur undangan gitu, nggak perlu capek-capek belajar buat UTBK atau tes mandiri. Kalau nilai rapor kamu cuma pas-pasan KKM, universitas mana yang mau nerima kamu di SNMPTN?" Aku berujar lembut. Alvin tipe yang tidak bisa dikerasin . Cowok itu akan lebih batu dari lawannya.
"Ya ... aku tahu." Nada suaranya melemah. Bibirnya mengerucut dan jari telunjuknya sibuk menyusuri pinggiran meja. "Tapi aku nggak bisa ninggalin basketku. Les rasanya juga percuma, nggak nyangkut di otakku."
"Aku tahu kamu cinta banget sama basket. Tapi akademikmu tetap nggak boleh tinggal. Kamu hebat kalau bisa nyeimbangin antara akademik dan non-akademik."
Alvin diam cukup lama. Mungkin dia sedang merenungi ucapanku. Mungkin juga dia sedang berusaha mencari penyangkalan lain.
"Aku punya PR. Mending aku kerjain sekarang." Tanggapan yang sama sekali tidak kuduga. Alvin membuka tasnya lalu mengeluarkan buku paket matematika serta buku PR-nya. Dengan gerakan malas, dia membuka buku.
Aku memerhatikannya yang mulai menulis. Tidak bersuara, takut mengganggu konsentrasinya. Aku kira Alvin akan terus menekuni tugasnya, sayangnya pada menit kesepuluh dia menyerah. Rambutnya acak-acakan karena banyak digaruk saat dia bingung. Wajahnya yang tertekuk lucu menatapku.
"Nggak bisa." Pecah lagi rengekannya. Aku menghela napas sebentar sebelum ikut mengintip tugas cowok itu. Tentang matriks.
"Mau aku ajarin?"
Matanya yang tadi sendu berubah berbinar dengan cepat. "Kamu bisa?"
"Kayaknya. Aku coba dulu."
Alvin dengan semangat mengangsurkan buku paket serta buku PR-nya. Aku tahu niatnya, pasti minta dituliskan sekalian. Aku menyobek pertengahan buku PR-nya dan menyoret di sana.
"Sekalian aja, sih, Shei."
"Aku mau bikin kamu pinter, bukan tambah bodoh."
***
Sejak aku membantu Alvin mengerjakan tugasnya waktu itu, aku secara tidak resmi menjadi tutornya. Kata Alvin, dia lebih suka belajar denganku daripada guru di sekolah ataupun di les. Cara menerangkanku sederhana dan cepat diserap otaknya. Ntah benar atau hanya sekedar bualan.
Tidak semua tugasnya yang aku bantu, tapi dia sering tiba-tiba menelepon atau mengajakku keluar untuk membantunya mengerjakan tugas atau belajar bersama. Seringnya sih menelepon tengah malam dengan panik karena dia baru ingat ada tugas yang harus dikumpulkan besok pagi. Tidak terhitung berapa kali aku begadang demi menemani dan mengajarkannya mengerjakan tugas. Harusnya aku marah karena dia mengganggu jam istirahatku, membuang banyak waktuku demi dia. Sayangnya yang aku rasakan adalah sebaliknya. Aku mau disusahkan olehnya. Aku tidak keberatan diganggu padahal mau tidur. Aku senang merasa dibutuhkan olehnya. Aku dengan suka rela memberi banyak waktuku untuknya.
" Shei ...." Panggilnya pada suatu malam via telepon. Aku baru saja mematikan lampu kamar—bersiap untuk tidur.
"PR apa lagi sekarang?"
" Ih, kok kamu ngomongnya ketus gitu. Nggak ikhlas, ya, bantuin aku? " Alvin memang sedikit tidak tahu diri. Dia yang mau minta tolong, tapi malah dia yang merajuk.
"Ikhlas Al ...." kataku memanjangkan namanya. "Kalau nggak ikhlas, udah aku decline telepon kamu."
" Sheila Cantik emang terbaik. " Padahal itu hanya gombalan biasa, tapi sukses membuat jantungku disko malam-malam begini. " Bantuin fisika, ya. Pas materi ini aku nggak masuk karena lagi latihan basket. Ada PR dikasih tahu temanku barusan. Kalau nggak, tamat riwayatku di sama Bu Mena besok."
"Ya udah, buruan. Halaman berapa?" Aku menghidupkan kembali lampu kamar. Mengaktifkan loudspeaker ponsel dan membuka buku paket fisika sekaligus kertas coretan.
Lagi-lagi, aku begadang demi cowok satu ini. Alvin Fierza.
***
Alvin sepertinya makin sibuk saat kenaikan ke kelas dua belas. Katanya, dia dan timnya sedang mempersiapkan performa untuk pertandingan terakhir mereka. Ya, seperti pada umumnya, siswa kelas dua belas tidak diperbolehkan lagi mengikuti ekskul manapun. Harus fokus pada ujian nasional dan ujian masuk ke perguruan tinggi. Nilai tidak boleh anjlok.
Ngomong-ngomong tentang nilai, Alvin dapat nilai yang lumayan memuaskan pada semester lalu. Tidak sampai juara kelas sih , tapi nilainya lumayan bagus untuk ukuran yang pasrah nilainya dibatas KKM. Berita bagusnya lagi, ibunya cukup puas dengan nilai Alvin. Dia senang bisa mengakhiri kelas sebelas dengan tenang—tanpa ceramah dari ibunya.
Aku ikut mengapresiasi pencapaian Alvin tersebut. Aku tahu bagaimana giat dan semangatnya Alvin belajar ditengah ketertinggalannya karena basket. Aku saksi hidup yang menyaksikan betatap gigihnya dia. Meneleponku tengah malam untuk mengerjakan tugas dan mengajakku belajar bersama saat weekend menjadikanku ikut serta dalam perjuangannya. Aku ... bangga bisa menjadi salah satu bagian diperjalanan hidupnya.
Hampir dua minggu aku tidak bertemu Alvin. Dia juga jarang menghubungiku. Kesibukannya menyita waktunya. Biasanya, hampir setiap malam dia menelepon atau melakukan panggilan video, dengan dalih minta bantuan mengerjakan tugas atau hanya iseng saja—kangen katanya. Dalam dua minggu ini, baru dua kali dia menelepon dan tidak ada panggilan video. Di salah satu sesi telepon kami, dia sempat bercerita kalau jadwal latihannya mulai gila-gilaan. Belum lagi bimbel yang dia ikuti—paksaan ibunya.
Aku maklum karena waktuku juga lebih banyak untuk belajar sekarang, meskipun aku tidak sesibuk Alvin yang memegang ponsel saja jarang. Aku menyemangati dan mendukungnya. Tidak menuntut banyak karena aku bukan siapa-siapa, hanya teman. Miris, ya.
Rasa rinduku padanya membuatku nekat ke sekolahnya. Berdasarkan informasi yang aku dapat dari Sausan, pertandingan basket kali ini diadakan di sekolah mereka dan terbuka untuk umum. Aku mudah menyelinap kalau begitu.
Harusnya aku ditemani Sausan saat ini. Tapi Sausan mendadak ada urusan penting dan harus segera pulang. Jadilah aku sendirian di tempat asing. Untungnya pertandingan segera dimulai. Senyumku merekah saat melihat Alvin di tengah lapangan, sedang men- drible bola berwarna oranye.
Selama pertandingan, mataku terpaku pada Alvin. Kemanapun pergerakannya, aku ikuti. Alvin sepertinya tidak menyadari keberadaanku. Posisiku memang tersembunyi karena berada di bagian belakang—terhalang orang-orang di depan. Tidak masalah. Aku bisa menemuinya nanti setelah pertandingan selesai.
Setelah menunggu empat puluh enam menit, akhirnya pertandingan selesai dengan tim Alvin keluar sebagai pemenang. Aku bersorak dengan penonton lain—merayakan kemenangan mereka. Aku buru-buru turun dari tribun sambil membawa sebotol air mineral. Alvin pasti haus walaupun kemungkinan dia sudah punya minum, tapi apa salahnya aku memberikan perhatian padanya kan?
Langkahku yang tadinya semangat langsung melemah saat melihat sudah ada cewek lain yang memberi Alvin minuman. Senyum Alvin terukis dan dibalas senyum lebih manis oleh cewek itu.
Perlahan aku mundur, lalu balik badan. Ada rasa sesak di dadaku melihat Alvin akrab dengan cewek lain. Padahal, bisa jadi cewek itu temannya saja kan? Ntah lah, cemburu menguasaiku dengan hebat membuatku urung menghampirinya. Memilih pulang dengan rasa kecewa.
***
Aku tidak berani menanyakan siapa cewek tempo hari pada Alvin saat dia muncul di depan rumahku di suatu sore. Dia mengajakku makan es krim. Katanya sebagai traktiran kemenangannya kemarin. Alvin tidak tahu aku datang saat itu karena aku tidak berniat memberi tahu. Jika Alvin tahu, dia pasti akan bertanya banyak. Aku takut rasa cemburuku saat itu diketahui Alvin.
Sepanjang sore, Alvin menyeritakan bagaimana pertandingannya padaku. Aku pura-pura tertarik karena tanpa dijelaskan pun aku sudah tahu. Ingat, aku ada di sana. Aku memasang telinga baik-baik, siapa tahu Alvin menyinggung tentang cewek yang memberinya minum. Tapi sampai cerita berakhir dan kami hendak pulang, tidak sekalipun Alvin menyenggol tentang cewek itu. Kemungkinan cewek itu tidak penting karena Alvin tidak menyeritakannya. Ya, pasti begitu. Alvin menyeritakan semua hal padaku selama ini. Kalaupun ada yang tidak dia ceritakan, itu sesuatu yang tidak penting dan sudah dia lupakan.
Alvin menganggap cewek itu tidak penting dan sudah melupakannya. Huft, aku sudah bisa tenang sekarang.
***
Sayang sekali, aku terlalu percaya diri pada saat itu.
Alvin bertingkah aneh sejak kemarin. Dia tidak membalas satupun chat yang aku kirim—hanya dibaca, tidak mengangkat panggilanku, dan yang paling parah dia berhenti mengikutiku di media sosial. Aku mulai berpikir sudah melakukan kesalahan apa sehingga dia menghindariku seperti ini. Sekian lama aku memaksa otakku bekerja, tidak ada hasilnya. Aku tidak ingat sudah melakukan kesalahan apa padanya dan aku kesal sendiri. Mau minta penjelasan langsung tidak bisa, aku tidak tahu di mana rumahnya.
Seminggu sudah Alvin menjauhiku. Aku yang tidak tahan dengan semua pengabaiannya ini, akhirnya menelepon Sausan. Bertanya apa yang terjadi dengan Alvin pada temanku itu. Sausan terkejut mendengar ceritaku karena menurutnya Alvin baik-baik saja. Mereka masih saling melempar candaan tadi di sekolah dan Alvin tidak terlihat memiliki masalah apapun.
" Bentar, Shei. Gue hubungi Alvin dulu. Lagi nggak waras mungkin tuh anak. "
Aku menunggu penjelasan dari Sausan hampir sejam. Selama itu, hatiku tidak tenang dan jantungku berdetak tidak karuan. Aku takut kalau ternyata Alvin membenciku. Aku tidak akan siap menghadapi itu. Karena aku ... mencintai Alvin.
Ya, aku akui aku mencintainya. Ntah kapan rasa itu mulai tumbuh. Keberadaannya di sekitarku membuatku terbiasa dan menumbuhkan perasaan ini. Aku tidak tahu bagaimana perasaan Alvin padaku, apakah sama atau hanya menganggapku sebagai teman. Aku tidak berharap banyak karena memang dari awal pertemuan kami bukan mengarah ke sana.
Sausan tidak meneleponku. Dia mengirim chat dengan beberapa screen shoot hasil percakapannya dengan Alvin. Balasan Alvin membuat napasku tercekat. Duniaku rasanya runtuh seketika. Dia ... dia berhasil menjungkir balikkan duniaku dalam sekejap mata.
Gue nggak bisa lagi berhubungan sama dia, San.
Gue sekarang punya pacar dan cewek gue nggak ngebolehin gue berhubungan lagi sama dia.
Cewek gue cemburu banget sama dia.
Sejujurnya, berat bagi gue untuk jauhin dia.
Gue udah nyaman sama dia, udah dekat banget sama dia. Dia udah bantuin gue banyak hal.
Dia udah gue anggap teman dekat.
Tapi gue nggak bisa apa-apa, gue tetap harus memilih.
Sampai kan maaf gue ke dia, San.
Maaf udah bikin dia kecewa.
Dia nggak salah apa-apa, dia baik. Di sini gue yang salah.
Kalau dia marah, gue terima. Gue pantes dapetin itu.
Tolong bilang ke dia, semoga dia selalu bahagia.
Gue bakal ngehubungi dia, kalau keadaan udah memungkinkan.
Foto yang menampilkan Alvin sedang merangkul seorang cewek menjadi penutup chat yang dikirim Sausan. Di foto itu, mereka tersenyum sumringah dan terlihat serasi. Pandanganku mengabur ketika menyadari siapa cewek itu. Dia ... cewek yang tempo hari memberikan minuman pada Alvin.
Aku tersenyum hambar. Ternyata dia sudah pacar. Aku tidak tahu kenapa Alvin tidak mengatakan hal sepenting ini padaku. Alvin selalu menyeritakan semuanya padaku, dari yang penting sama tidak penting. Aku tidak tahu apakah dia sengaja menyembunyikan pacarnya dariku atau bagaimana. Sesulit itu mengatakan padaku kalau dia sudah punya pacar? Dia menganggapku teman dekatnya bukan? Meskipun sakit yang kurasa karena aku menganggapnya lebih dari itu.
Rasa sakit ini bukan hanya karena perasaan yang tidak terbalaskan. Tapi karena tidak dipercayai dan tidak dianggap penting oleh orang terdekat, sampai dibuang begitu saja saat tidak dibutuhkan lagi. Kalau begini ceritanya, aku menyesal pernah mengenal seorang Alvin Fierza. Lebih baik kami menjadi orang asing tanpa perlu menyakitiku seperti ini.