Pernahkah kamu mencintai tapi merasa tak dicintai?
Sekian lama berhasil menyita perhatian tapi terkalahkan oleh kebersamaan. Bukan, melainkan kebersamaan dengan dia.
Mungkin inilah yang sedang ku alami.
Temaram yang sedang terjadi menyita perhatian. Di pantai, kami bediri tegak saling menatap ke dalam dasar bola mata. Perlahan kami tersenyum bersama.
Semakin lama, cahaya semakin menusuk ke dalam dasar ingatan kami.
"Hai" ucapku yang malu-malu saat kini ia melihatku dengan baju basketnya juga beberapa titik keringat di dahi juga tubuhnya.
Ia tersenyum dengan menghampiriku, ku berikan ia sebotol mineral yang langsung di teguknya hingga tak bersisa.
"Gimana? Aku hebatkan di pertandingan kali ini"
Aku mengangguk "Kamu selalu hebat. Selamat untuk kemenanganmu" jawabku tulus
Ia mengusap rambutku, "Tunggu ya, Pita. Aku ganti dulu" ucapnya
Sena, lelaki yang kini menyandang status pacaran denganku. Kisah kami seperti remaja lainnya, ia salah satu lelaki tertampan dan populer di sekolah menengah atas yang kedudukannya sebagai ketua tim basket.
Sedangkan aku? Tentu saja aku hanya siswi biasa yang tidak terlalu populer atau bahkan bisa dikatakan sedikit populer berkat pacaran dengan Sena.
Jangan salah paham, aku murni mencintainya juga dia begitu.
Ah aku ingat awal pertemuan hingga kedekatan kami. Itu semua bermula saat hujan turun begitu derasnya ketika pulang sekolah, terpaksa aku menepi di dekat halte bus, aku tidak membawa kendaraan karena kendaraanku masuk bengkel.
Ia yang baik hati, menawarkan tumpangannya padaku yang mulanya ku tolak. Tidak enak, kami tidak terlalu dekat, bukan? Namun berkat gadis di samping kemudi yang memaksaku naik, maka mau tidak mau aku naik bersama. Gadis itu bernama Luvi, sahabat dari Sena.
Ia sungguh gadis yang cerdas juga menawan. Ia adalah ketua tim chereleader juga bagian dari anggota osis. Menarik bukan?
Entah bagaimana, kami menjadi sangat dekat sejak saat itu.
"Ayo, sayang" ucap Sena, yang menarikku dari awal cerita kami.
Aku mengangguk, namun Sena tampak merhatikan sekelilingnya.
"Luvi?" Tanyaku, ia mengangguk
"Ah itu si Luvi duluan, di jemput sama Brian"
Ia tampak senang "Woah.. gencar sekali Brian. Semoga mereka cocok ya" balas Sena dengan tawa dan wajah yang semangat dan aku juga tersenyum sambil mengangguk.
Sebenarnya, jika jujur aku sedikit meragukan pertemanan antara Sena dan Luvi. Seperti yang kita tahu, tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan tanpa perasaan salah satunya. Namun biarpun begitu, mereka sudah bertemu dahulu dibandingkan denganku.
"Mm.. Sena, kamu tidak cemburu?" Tanyaku ragu. Kini kami sudah mulai berjalan ke area parkir.
Dia menyemburkan tawanya "Aku dengan Luvi maksudnya?"
Aku hanya mengangguk
"Yang benar saja, Pita sayang. Jika memang aku menyukainya tentu sudah dari dulu bukan bersama dia?"
"Iya sih, tapikan bagaimanapun itu...."
"Sst.. ah bercandaan kamu gak lucu, sayang. Intinya, aku sudah sama kamu sekarang. Dan cuma kamu." Potongnya
Ia membukakan pintu mobil untukku, akupun memasuki mobilnya sementara ia mengitari mobilnya untuk duduk di bangku kemudi.
"Jadi mau kemana kita, yang?"
"Aku lapar"
"Mau makan apa?"
"Terserah" jawabku
Dia tampak berpikir mengetukkan jarinya di kemudi.
"Mie ayam?" Tanyanya
"Enak sih, tapi belum makan nasi."
"Nasi padang?"
"Sedang tidak ingin"
"Fast food?"
"Tidak sehat, sayang" balasku lagi
"Batagor?"
"Kan belum makan nasi, yang"
"Oh aku tahu, nasi goreng mang oleh" dengan semangat
"Tenggorokan lagi gak enak, ntar batuk"
"Jadi apa dong?"
"Sudah deh, fast food di depan jalan itu saja, biar cepat" balasku dengan senyum lebar
Ia tampak mengusap wajah sambil bergumam "Untung cinta" lalu tak lupa mengecup pipiku.
Akhirnya kami memilih makanan fast food di depan sana, renyahnya ayam goreng dengan tepung memanjakan lidahku. Aku memang penyuka makanan jenis fast food. Sedangkan Sena, penyuka segala jika bersama denganku pastinya.
Memulai hubungan dari kelas 2 yang kini kami telah menduduki kelas 3 semester akhir membuat kami saling memahami satu dengan lain. Mengenai Luvi aku terkadang sedikit cemburu tapi selalu berusaha untuk tampak biasa saja. Lagi pula mereka memang sudah dekat yang ku ketahui sedari awal masuk sekolah dulu.
Bahkan yang ku ketahui, ibu mereka saling berteman dekat juga rumah yang searah. Syukurlah antara ibu itu tidak menampilkan drama perjodohan karena persahabatan sebab itu akan merepotkan urusan percintaanku dengan Sena. Kesimpulannya, selama itu tidak terjadi maka hatiku aman, bukan?
Usai makan Sena langsung mengantarkanku pulang kerumah. Begitu tiba akupun langsung bergegas memasuki kamar untuk berganti pakaian dan terlelap sejenak hingga panggilan ibu membangunkanku dari mimpiku yang indah.
Sialan! Bisa-bisanya aku bermimpi menikah dengan Sena di sore hari begini.
Wah... Sepertinya aku memang sudah terserang virus bucin.
"Ada apa, Ma?" Tanyaku
"Itu hp kamu bunyi terus menerus siapa tau yang menelpon penting." Ibu menggelengkan kepalanya "Tidur sudah seperti orang pingsan"
Aku tergelak mendengar omelan di akhir kalimat ibuku. Ku akui memang itu kebiasan burukku.
"Yasudah, angkat telpon lalu mandi setelah itu kita makan malam bersama"
"Ay... Ay. Kapten!" Balasku.
Segera aku mengecek ponselku yang tergeletak di nakas.
Ada 10 panggilan tak terjawab dari Sena. Juga beberapa pesannya.
Komandanku♥️
Sayang.. Kangen
Eh.. kita baru ketemu. Tapi gimana dong?
Gak diangkat pasti tidur
Ohh.. Aku tau, kamukan tidur seperti orang mati.
Aku tertawa geli melihat pesannya yang tak kunjung ku balas. Satu pesan terakhir yang membuat aku sedikit was-was tapi mencoba biasa saja.
Aku mengantar Luvi sebentar ya, sayang. Belanja disuruh bundanya. Tidak lama.
Laluku balas dengan kata " O ke, hati-hati, sayang. Tipsam sama Luvi ya"
Setelah balasan iya darinya aku mandi dan makan bersama orang tuaku. Sedikit membahas beberapa hal untuk melanjutkan pendidikan apa setelah masa abu-abu usai. Orang tuaku, selalu berkata bahwa jangan pikirkan biaya, tugas anak adalah belajar saja. Biaya urusan kami dan yang terpenting jangan permalukan orang tua.
Aku memilih untuk mengambil hukum saja. Aku memang berasal dari kelas jurusan IPA tapi aku ingin menjadi Jaksa. Itupun kuliah di sini saja tanpa keluar negara. Mungkin aku akan memilih universitas terbaik di negeri saja.
Usai membahas ku lihat ponselku berbunyi menampilkan nama Luvi, sepertinya mereka sudah selesai belanja.
Kami memang menjadi dekat bahkan kami selalu curhat bersama, aku yakin ia ingin bercerita tentang Brian.
Segera ku angat panggilannya
"Hallo" ucapku
" Pitaaacuuuu " teriaknya gembira, membuatku sedikit menjauhkan ponselku
"Ia, Vi. Budek ni teriak-teriak" balasku
" Seriusan demi apa, Brian nembak aku tadi. Gilee banget, gak sih?" Nahkan dia memang akan curhat tentang semua gebetannya padaku tapi tampaknya Brian yang memenangkan hatinya
"Wah.. Terus gimana?"
" Ya terima dong. Gilee aja aku nolak. Uhh.. mana dia sweet banget bikin meleleh ketika nembaknya" ucapnya dengan lebay
Aku tertawa singkat "Selamat my luv luv nya aku. Jangan lupa PJ ya" balasku dengan semangat
" Eh tapikan, Pit. Masa Sena bilang Brian tidak sebaik pikiran kita"
Tunggu, bukankah Sena mendoakan semoga mereka cocok ya
"Masa sih? Bukannya Sena biasa suka ya menjodoh-jodohkan kalian malahan"
" Nah iya, bener, Pit. Tapi ketika saat Sena mengantarkanku tadi dia bilang melihat Brian bersama perempuan." Jelasnya di seberang sana
"Mungkin adik atau kakak atau sodara kali, Luv"
" Sepakat. Aku juga bilang gitu sama Sena."
"Lalu apa katanya?"
" Dia cuma menghendikan bahunya aja tanda tidak peduli"
"Yasudahlah, intinya kembali sama luvi aja gimananya. Nanti tanya aja sama Brian biar enak jugakan daripada prasangka buruk" jelasku
" Iya bener, Pit. Ohiya..."
Selanjutnya dilanjutkan dengan percakapan kami yang lainnya hingga tak terasa sudah malam dan kami mengakhirinya karena mengantuk.
Keesokan harinya libur, Sena mengajakku untuk berjalan-jalan ala remaja biasa. Menghabiskan waktu bersamanya minus Luvi karena ia juga berjalan bersama Brian yang ia tidak mau main bersama. Katanya nanti saja baru juga jadian pengen berduaan dulu.
"Wah.. warna lipstiknya bagus ya" ucapku seraya melihat lipstik baru kubeli yang di balas tawa kecil oleh Sena.
"Sena, bagaimana? Sudah menentukan pilihan lanjut kemana" tanyaku kemudian
Saat ini kami sedang di pusat perbelanjaan yang kini sedang makan di restoran setelah lelah berputar-putar juga menonton film.
"Sepertinya aku lanjut ke Harvard deh, yang. Kembali di pilihan utama. Mama Papa juga ingin begitu"
Ya Sena memang pernah mengatakan ini, Sena anak tunggal yang tentunya kedua orang tuanya ingin Sena menjadi penerusnya. Salah satunya melalui pendidikan diluar negeri. Saat itu ia bercerita masih bingung namun kini kutahu ia telah mantap dengan pilihannya berbeda denganku yang hanya ingin kuliah di dalam negeri saja.
"Artinya kita bakalan LDR" jawabku
Sena tertawa singkat lalu mengacak rambutku, menyuapkan potongan steak padaku yang langsung kuterima "Hanya sementara. Libur nanti kitakan bisa bertemu, sayang"
Aku menghela nafas, "Bagaimana jika kamu selingkuh dengan bule disana?"
Sena semakin tertawa "Seleraku masih lokal, sayang."
Tak urung aku tersenyum, "Yasudah deh"
"Kamu sudah bulat memilih hukum? Jadi jaksa" tanyanya
Aku mengangguk antusias. "Tentu saja, sudah ada beberapa referensi sih. Tapi sepertinya aku lebih tertarik ke Sumatera, kampus USU. Sepertinya menarik kalau aku bisa kuliah disana. Lagipula aku juga bisa hidup mandiri tanpa terlalu jauh kan? Ya setidaknya bukan diluar negeri" jelasku
"Serius? Banyak kampus bagus di pulau jawa padahal seperti kampus..."
"Iya, iya, sayang. Aku tau, tapi aku tertarik dengan kota Medan. Kampus USU. Aku lebih tertarik disana." Potongku
Ia menganggukkan kepalanya, "Oke. Yang terpenting selalu jaga hati kita ya" putusnya lalu aku mengangguk dan kami bercerita ringan tentang hal lainnya, layaknya pasangan mabuk asmara lainnya.
Selang beberapa bulan akhirnya, hari dimana kami tunggu telah tiba. Kami semua telah dinyatakan lulus. Masa putih abu-abu telah usai, digantian dengan kami yang memilih langkah mana yang kami ambil.
Malam ini adalah malam prom nigth , malam pesta kelulusan kami. Tentu saja malam ini aku berpasangan dengan Sena, Luvi dengan Brian, pacarnya.
Kami sedang menikmati alunan syahdu dengan gerakan ikut alunan juga tangan saling menggenggam pasangan. Mungkin esok aku dan Sena akan terpisah dengan jarak, perbedaan waktu dan tempat karena menuntut ilmu pendidikan untuk menjadi layak bersama.
Dan betapa senangnya, aku dan Sena terpilih menjadi raja dan ratu malam ini.
Lepas dari berdansa, aku kembali duduk di meja awal kedatanganku disini. Menikmati sedikit makanan ringan, seraya menyesap jus aku mengedarkan pandangan ke sekitar lalu tersenyum. Masa putih abu-abu yang menyenangkan.
Terlihat Luvi yang tertawa gembira bersama Brian, aku berharap ia bahagia selalu. Ku tatap Sena diujung sana, ia berbincang seru bersama temannya. Aku sudah cukup lelah karena sedari awal hadir aku sudah berbincang seru bersama yang lainnya.
Tak lama ponselku berdenting, nama Luvi tertera mengatakan bahwa Ia akan pulang duluan.
Ku lihat ia berjalan keluar bersama Brian dengan tangan tertaut dengan senyum mengukir.
Aku melirik arloji ternyata sudah cukup malam, usapan di rambut membuatku menoleh ternyata Sena sudah kembali ke meja kami.
"Sudah malam, bagaimana kita kembali saja"
Aku mengangguk "Luvi dimana?" Tanyanya karena memang kami datang bersama
"Ah iya, tadi Luvi bilang pulang duluan sama Brian. Barusan saja."
Ia mengangguk "Yasudah, ayo"
Kami berjalan menuju parkiran lalu masuk ke dalam mobil, mulai menjalankan mobilnya perlahan.
Percakapan sederhana mulai tercipta, mungkin usai ini kami akan menjalani LDR, tak masalah bagiku asal kami saling menjaga hati.
Hingga dering ponsel Sena berbunyi, ia langsung mengangkatnya
"Ya, Vi" ucapnya, aku menoleh ternyata Luvi yang menghubungi.
"Apa!" Ucapnya sambil melirik ke arahku, "Katakan kamu dimana?" Tambahnya, lalu membelokkan setir mobil ke arah balik
"Luvi kenapa?" Tanyaku penuh kekhawatiran
"Sayang, aku turunin disini. Tidak apa?"
Aku juga menatapnya penuh khawatir, ini sudah malam aku juga sedikit takut.
"Ada apa, Sena?"
"Luvi dilecehkan sama Brian. Aku ingin menjemputnya. Aku pesankan taksi online saja ya, aku juga gak tega ninggalin kamu"
"Aku ikut" balasku
"Pita, tapi..."
"Sudahlah Sena, ayo cepat. Luvi butuh bantuan kita" tukasku
Ia menghela nafas, "Baiklah" balasnya sambil menambah kecepatan
Dalam hati aku merapalkan doa semoga Luvi baik-baik saja disana. Aku tidak habis pikir, bagaimana Brian lelaki baik itu melecehkan Luvi. Sungguh ini diluar dugaanku. Brian adalah lelaki baik juga dari keluarga baik, tapi apa yang terjadi padanya sehingga ia seperti itu.
Hubungan pertemanan kami juga cukup baik, sedikit banyaknya aku mengerti dia tidak akan pernah berbuat buruk pada wanita.
Bahkan terkadang ia membantu Sesil, wanita seangkatan kami yang sering dibully. Sungguh apa yang terjadi?
Hingga kami tiba di sekolah, langkahku berlari terseok-seok mengikuti langkah Sena ke arah belakang sekolah.
Terlihat dari sana, adegan tarik menarik antara Brian dan Luvi, kancing teratas gaun Luvi juga sedikit terlepas.
Sena langsung menarik Brian dan melayangkan pukulan bertubi-tubi.
Aku mendekat pada Luvi langsung memeluknya, Luvi terisak-isak di pelukanku.
Aku menenangkannya, mengusap punggungnya berharap bisa meredakan sesak di jiwanya. "Aku takut, Sen" gumamnya yang cukup ku dengar jelas meski pelan, padahal aku yang sedang memeluknya. Mungkin dia syok.
Aku terus mengusap "Tidak apa, kamu sudah aman sama kami" ucapku
Lalu dengan tarikan sedikit tersentak, tanpa aba-aba Sena langsung menarik Luvi kedalam pelukannya dengan erat.
"Kamu tidak apa-apakan? Kamu sudah aman sekarang sama aku"
Tangis Luvi semakin nyaring, ia menganggukkan kepalanya "Sena, aku takut" paraunya
Ia masih menangis sesenggukan dalam dekapan sena, ku lihat Sena mencium puncak kepalanya, melihatnya hatiku seperti diremas.
Suara batuk dari Brian mengalihkan pandanganku terhadapnya, tampak ia terkapar dengan beberapa luka dan darah. Itu pasti sakit sekali.
Ia bangkit duduk, memegangi perutnya dan terbatuk kembali.
"Kau lihatkan mereka. Itu yang ku rasakan" aku menatap Brian mengangkat alis tidak mengerti maksud perkataannya, tapi aku menatap Sena dan Luvi lalu kembali memandang Brian.
"Aku tidak akan melakukan hal serendah ini, hanya aku harus berpura melakukannya agar semuanya jelas"
Aku sungguh tidak mengerti maksud perkataannya.
"Tidak ada kalimat pembenaran untukmu" balasku sambil menatap Sena dan Luvi yang kini sedang terduduk saling mengusap menenangkan.
"Mereka saling mencintai. Kita hanyalah penghalang mereka" ucapnya lagi dengan tertatih "Tapi terserah kau saja"
Aku menatap kembali ke arah Sena dan Luvi. Mereka bahkan tidak menghiraukan aku disini, perlakuan Sena saat menarik Luvi tadi juga tidak mempedulikan keberadaanku.
Menatap mereka begini, membuatku tertampar kenyataan bahwa tak ada pertemanan antara lelaki dan perempuan tanpa cinta di dalamnya.
Mungkin mereka bisa saja mengelak, tidak ada perjodohan ataupun semacamnya, tapi lelaki dan perempuan bersama selama bertahun-tahun menumbuhkan rasa tanpa disadari.
Tak sadar, air mataku menetes, kenapa sesakit ini rasanya.
Aku berjalan ke arah Sena dan Luvi. "Luvi, kamu baik-baik sajakan?" Tanyaku sambil duduk disebelahnya dan ia hanya mengangguk.
Lalu Sena mengajak kami pulang dengan merangkul Luvi dan aku mengekori di belakang mereka. Betapa bodohnya aku, kenapa baru benar-benar sadar.
"Pita, duduk di belakang tidak apakan? Luvi di depan" ucap Sena
Aku mendongak menatapnya sambil menggigit bibirku berusaha menahan sesak, tapi juga mengangguk "Ah, baiklah" jawabku, kenapa jadi mellow begini
Usai beberapa malam itu aku terus berpikir mengenai hubungan kami, bahkan Sena selalu menghibur dan bersama Luvi. Mereka bahkan lupa jika hari ini adalah jadwal keberangkatanku untuk ke Medan karena cita-citaku. Tak apa setidaknya, aku sudah mengingatkan melalui pesan singkat.
Saat aku sudah di bandara menunggu jadwal keberangkatan, Sena memanggilku juga disana bersama Luvi.
"Sayang, maaf aku lupa sampai tidak mengantarmu" ucapnya, orang tuaku sudah kembali karena ada urusan mendadak
"Tidak apa, tadi aku diantar sama orang tuaku kok"
"Pita, maaf aku juga lupa" ungkapnya ia memelukku "Aku pasti bakalan kangen banget sama kamu"
Aku menganggukkan kepalaku. Lalu aku menghampiri Sena, "Maaf ya, selama ini aku kurang peka dengan hubungan kalian"
"Kamu ngomong apa sih?" Tanya Sena
"Kamu dengan Luvi. Hubungan kita sampai sini saja ya. Kalian harus mulai peka terhadap satu sama lain"
"Pita, aku dan Sena hanya..."
Aku menggeleng, "Aku tahu kamu, Vi. Kamu harus percaya sama aku." Potongku cepat, sialnya air mataku menetes
Sena memelukku, "Maafin aku."
"Suatu hari nanti kita bertemu, kita akan jadi orang asing. Jangan tegur aku jika kamu bisa" tukasku menatapnya namun dia menggeleng.
Suara keberangkatanku diumumkan, aku mulai berjalan masuk tanpa menoleh ke belakang lagi, tak ingin mendengarkan ucapan Sena maupun Luvi. Aku sudah berusaha merelakan.
Bahkan saat aku kuliah di Medan, tepatnya di semester akhir, aku bertemu dengan Brian. Ia hanya sedang berlibur beberapa hari ke rumah saudaranya, bertemu denganku yang sedang jalan ke mall di Medan. Percakapan singkat kami terjadi, mengapa dia berbuat seperti itu pada Luvi.
Bahkan aku juga mempertanyakan perempuan yang pernah dibicarakan Luvi kala itu, tapi Brian hanya menjawab ia adalah sepupunya yang di Medan ini.
faktanya saat itu, ia berusaha meyakinkan Luvi bahwa Sena dan Luvi saling mencintai namun Luvi selalu menyangkal. Hingga ia berpura mengajak Luvi untuk melakukannya, Luvi berlari menolak dan ia menelpon Sena. Brian memberikan sedikit waktu pada Luvi hingga kami datang ia segera menarik Luvi berpura akan melakukannya.
Dan ku dengar darinya, jika Luvi berangkat ke Amerika lalu menikah dengan teman di kampusnya itu sesama pelajar indonesia. Sejak saat itu aku memang memutuskan hubungan dengan mereka.
Kini, saat ini, aku tertarik dari khayalanku di masa lalu.
Kini di hadapanku tampak Sena, kami saling menatap di tepi pantai ini, sudah bertahun-tahun berlalu tapi wajahnya masih juga rupawan, sinar senja yang memantul menjadi saksi bisu kami bertemu.
Mungkin sudah 6 tahun sejak pertemuan terakhir di bandara itu, namun dilihat ia semakin tampan saja, tubuhnya juga masih tegap sama seperti dulu. Tatanan rambutnya sedikit berubah tapi tak jauh.
"Mama..." Panggil anakku, Devan berusia 2 tahun.
Aku menoleh langsung mengangkatnya ke gendonganku, "Papa beliin kita es krim" adunya padaku
Tak lama suamiku, Arta. Datang menghampiriku "Ayo kita kembali ke hotel, anginnya mulai dingin" Aku mengangguk mengiyakan, Devan di ambil alih oleh Arta. Kami memang sedang berlibur di Bali.
Aku kembali sejenak menatap Sena yang sepertinya ingin menyapaku tapi ia ragu. Saat aku berbalik berjalan, ada suara lembut menyapa di telingaku
"Ih.. Sena aku cari kemana-mana ternyata disini. Ayo kitakan baru saja menikah. Jadi harus bersama terus"
Aku menolehkan kembali kepalaku sejenak menatap mereka, menyunggingkan senyuman padanya dan di balas anggukan senyuman pula untukku.
Pada akhirnya, kami hanyalah seorang figuran dalam kisah kehidupan kami.
Sena yang ku kira adalah tokoh utama dalam ceritaku, juga Luvi sahabat tokoh utama, ternyata mereka hanya figuran. Pemanis cerita cinta singkat kami.
Di masa putih abu-abu.
End