Aku berjalan mengikuti langkahnya, ia cepat sekali berjalan. Ini sudah malam dan aku sama sekali tidak mengetahui tempat ini, lebih tepatnya pertama kali datang kesini.
Suara burung gagak menambah bulu kudukku semakin naik, belum lagi angin berhembus menggerakkan dedahanan di sekeliling yang menciptakan sensasi aneh di malam hari. Oh ayolah, ini sudah pukul 10 malam.
"Renal, kamu gak lagi berusaha buat ninggalin aku, kan?"
Tadi kami ada urusan meninjau lapangan bersama, lokasi ini cukup seram karena banyak pepohonan. Kabarnya, ini akan dijadikan tempat wisata asri. Harusnya memang tadi siang kami sudah sampai tapi akibat beberapa kendala jadi sampai malam kami baru selesai. Belum lagi menunggu para petinggi lainnya, sungguh melelahkan.
"Oh ayolah Tasya, lihat mobilnya terparkir di sana. Udaranya dingin"
Aku menepuk keningku, benar. Kenapa aku saat ini jadi penakut sih.
Langsung ku bergegas berlari menuju mobil Renal "Cepat buka, Renal!" Teriakku
Akhirnya lega sekali sudah di dalam mobil.
Renal segera menghidupkan mesinnya, dan mulai merangkak perlahan meninggalkan proyek.
"Huh.. Lega banget" desahku
"Tumben, biasanya kamu pemberani"
Aku terkikik geli, mungkin ini akibat aku sering menonton maupun membaca kisah horor "Penakutkan manusiawi" tampikku
Ia hanya menganggukkan kepalanya sambil tetap fokus menyetir.
"Sya, makan dulu ya sebelum cari hotel. Laper juga ni"
"Oke. Aku juga laper banget sebenernya cuma malu aja mau bilang" ucapku sambil tertawa
Diapun ikut tertawa "Gayaaa syekali anda"
"Itu aja nasi goreng, enak deh kayaknya malam-malam gini" saranku
Di depan sana terdapat beberapa gerobak penjual makanan, Renal memberhentikan mobilnya kamipun segera turun.
Memesan nasi goreng dengan pelengkap minum teh manis hangat.
"Sudah seperti orang tua, minum kita teh manis" candaku
Renal tertawa "Ngejek akukan? Kamu kan tau aku suka ngeteh"
Ya aku tahu, karena sedari dulu aku sudah berteman dengan Renal.
Tak lama pesananpun datang dan kami langsung melahapnya, kelaparan tentu saja melanda kami jika dari tadi kami belum sempat makan.
"Loh, Tasya Renal" ucap seorang perempuan menghampiri kami
"Eh. Ya ampun. Windy, kan?" Tanyaku
Ia mengangguk antusias "kalian kok bisa sampai sini? Jauh banget mainnya sampe Bandung. Padahal di Jakarta juga banyak yang jual nasi goreng" ucapnya sambil tertawa
Windy tetaplah Windy, dia adalah teman SMA kami. Orangnya seperti ini, suka sekali berbicara tanpa jeda. Tapi tak urung ia baik hati. Saat di Jakarta dulu ia menemani neneknya, namun setelah neneknya tiada, ia kembali ke Bandung.
"Oh aku tahu, kalian lagi Honeymoon ya? Parah sih, nikah gak ngundang aku"
Wah... Ternyata dia tidak berubah. Masih saja suka menyimpulkan tanpa sebab dan masih belum memberi cela untuk kami menjawab
"Kamu apa kabar, Wind?" Tanya Renal
"Sehat dong" jawabnya "Kalian juga sehatkan?" Tambahnya
"Sehat juga ni. Seneng deh bisa ketemu kamu disini" ucapku
"Eh kalian honeymoon kenapa bajunya formal banget. Pake kemeja, celana bahan, blazer, apa-apan itu?"
Aku tertawa geli "Kami tadi ada kerjaan, Wind" balasku, Renal juga tertawa geli tapi tidak menjelaskan
"Oh sweet banget kalian. SD, SMP, SMA, kuliah sampe kerjaanpun barengan"
"Kita belum nikah, Wind" jelasku padanya
" What ! Ih Renal kok gitu" cecar Windy
"Aduh.. Wind. Pusing aku. Tanya aja sendiri sama Tasya." Balas Renal
"Ah gak seru Tasya, aku aja bisa liat loh Renal terbaik." Ucapnya "Tapi tenang Renal, aku jomblo ini. Baru putus. Kalau Tasya gak peka. Bisa banget sama aku. Apalagi kamu juga jomblokan? Makin seneng akutuh" tambahnya sambil tertawa
"Boleh. Sini deh no wa kamu"
Hah! Jawaban apa itu Renal. Katanya kamu mau berjuang buat aku, kok begitu.
Seperti dikatakan Windy, aku dan Renal bersahabat sedari dulu. SD, SMP, SMA, Kuliah hingga bekerja aku selalu terlibat bersamanya, selain itu rumah kami berdekatan. Berbicara tentang Renal, saat itu Renal menyatakan perasaannya padaku ketika tak lama aku bermasalah dengan pacarku, tepatnya mantan pacarku.
Bisa dibilang waktu yang tidak tepat, tapi begitulah faktanya. Mengingat hal itu, Roki aka mantanku pasti sudah bertunangan dengan Caca, anak teman ibunya.
Menyebalkan bukan? Dan Renal katanya akan berusaha membuatku menerimanya tapi kenapa malah begini.
Renal itu memang cuek, terkesan tidak peduli tapi sejujurnya dia orang yang humble juga hangat. Kesan yang sulit ditemukan pada orang lain dan itu yang membuatku bertahan untuk selalu berteman padanya.
" Tenkyu , Ren." Balas Windy ku lihat ia mengambil ponselnya dari Renal.
"Eh aku juga mau no kamu" sahutku sambil menyerahkan ponselku "No kamu gantikan" tambahku
Windy tertawa "Iya, ponsel aku hancur setelah di banting mantanku dulu, bukan mantan yang ini ya. Trus hilang kontak sama kalian" ia dengan cepat mengetikkan no nya padaku
Segera ku hubungi no itu lalu berkata "Itu no aku"
"Yauda aku duluan ya." pamitnya berjalan, tapi tak lama memalingkan wajahnya pada kami "Renal, nanti aku hubungi kamu ya." Tambahnya
Renal tertawa lalu mengangguk sambil mengacungkan ibu jarinya.
Aku menggelengkan wajahku "Dari dulu Windy gak berubah ya. Tetap aja lucu"
"Tapi Windy banyak berubah ya" Ucap Renal
Aku melihat ke arahnya, ku lihat Renal masih melihat Windy yang masuk ke dalam mobilnya "Makin cantik ya" lalu kembali melahap nasi gorengnya
Aku mengangguk, benar Windy memang makin cantik. Aku kembali melahap nasi gorengku juga.
Tak lama, acar berpindah ke piringku. Tentu saja Renal pelakunya. Aku tersenyum sejenak, "Terima kasih"
Aku memang sangat menyukai acar jika makan nasi goreng.
"Dihabiskan. Setelah ini ga ada drama lapar tengah malam ya, Sya"
Aku terbahak lalu menggoyangkan bahuku mengenai tubuhnya "Ah Renal.. Suka gitu" ia juga ikut tertawa sambil mengambilkan tisu mengelap sudut bibirku.
Akhirnya kamipun selesai, segera mencari hotel terdekat karena tubuh kami memang sangat letih. Ini adalah malam sabtu, besok libur tentu saja. Tapi pulang ke rumah juga bukan pilihan yang tepat karena seharian ini kami sudah sangat bekerja keras ditambah hujan lebat mengguyur jalanan.
Akhirnya kami menemukan sebuah hotel tidak besar lebih tepatnya seperti motel. Aku dan Renal segera masuk, tak sabar ingin merebahkan tubuh. Menunggu Renal memesan kamar.
"Ayo, Sya." Ucap Renal, ku lihat resepsionis tersenyum meledekku. Entahlah mungkin hanya firasatku
"Kamar berapa? Letih banget aku"
Renal menggaruk tengkuknya "Sya, jangan marah. Kamar sisa 1 jadi"
"Ha? Terus gimana?"
"Ya gimana? Sudah letih banget kalau kita keluar lagikan"
Aku menganggukkan kepala, ya sudahlah. Lagipula tidak akan terjadi apa-apa juga antara aku dengan Renal. Aku tahu banget siapa dia. Dulu juga kami pernah berbagi kamar saat SMA, aku yang takut menginap dirumahnya lalu malah menonton horror. Dia bisa menjaga batasan, malah aku yang tidur tanpa sengaja memeluknya, memalukan.
Begitu tiba di kamar, aku melepaskan sepatuku melompat ke kasur. "Ya ampun lega banget" desahku
"Bersih-bersih dulu kali, Sya."
Aku menepuk sisi ranjangku, "Sini deh, Ren. Nyaman banget dijamin malas bersih-bersih"
Renal tertawa geli "Aku bisa khilaf, Sya. Kamu tidak lupakan mengenai perasaanku?" Balasnya
Aku terdiam mengatupkan bibirku rapat, aku sedikit melupakan itu karena kami biasa bercanda ria. Ku tatap wajahnya yang sepertinya memang tidak bercanda hanya saja terselip nada canda saat ia mengatakannya.
"Ren... Mm.. Aku"
Cup.
Ia mengecup keningku membuatku terdiam sejenak lalu menatapnya. Ia hanya tersenyum lalu berlalu memasuki kamar mandi.
Aku menutup wajahku dengan tangan, lalu menelungkupkan wajahku pada bantal menggoyang-goyangkan kedua kakiku.
Oh kenapa aku salting?
Dulu gak begini deh perasaan.
Sudah deh mending tidur aja, rilex Tasya.
---
Dering ponsel mengusik tidur lelapku, posisi ini beneran nyaman. Aku terbangun dengan posisi memeluk Renal, tanganku mencari-cari ponsel lalu melihat siapa yang menghubungi sepagi weekend ku ini.
Aku bangkit duduk di ranjang menghela nafas karena terpampang nama Roki di layar ponselku.
Huh! Ada apa sih
Ku akui beberapa waktu belakangan ini dia selalu menghubungiku tapi selalu ku abaikan.
Ayolah.. Dia sudah bertunangan. Untuk apa lagi?
"Kenapa gak di angkat sih, Sya? Berisik banget" suara serak Renal mengintrupsi, aku menoleh ke arahnya
"Roki" jawabku
Diapun bangkit duduk, "Mau apa lagi sih dia? Gak bosen apa" tersirat nada cemburu di wajahnya sedikit menggelitik hatiku membuatku senang
Eh tadi aku bilang apa? Senang?
Tapi kenapa?
Gak, gak, gak. Aku gak boleh begitukan
"Angkat ajalah, siapa tau penting" sarannya
Aku menekannya, memutuskan untuk menjawabnya
"Ya?" Tanyaku
" Hallo, Sya. Syukurlah kamu angkat "
"Ada apa, Ki?"
" Bisa kita bertemu sebentar?"
Aku mengerutkan glabelaku, "Untuk?"
" Ada hal penting, boleh?"
Aku menghela nafas, "Roki, aku rasa kita sudah berakhir, aku tidak enak pada Caca. Jadi tolong kita akhiri saja" putusku
" Sya, Aku masih mencin " ku akhiri sepihak, aku sudah tahu apa yang ingin dia sampaikan.
Jika dia memang benar-benar tidak bisa bersama Caca, lalu kenapa melanjutkan? Itukan sudah keputusannya dari awal.
"Sya.. Aku rasa kamu perlu berdamai dengan keadaan." Ucap Renal
"Aku sudah berdamai, Ren. Aku juga sudah mulai mengikhlaskannya kalau kamu lupa, tapi lihatlah"
Ia memegang bahuku, mengarahkannya ke hadapannya "Bilang sama aku, kalau kamu sudah gak cinta sama dia?"
Aku terdiam, tidak mengerti harus berkata apa.
Tapi jika ditanya perasaanku, bohong sekali jika aku berkata tidak mencintainya. Sudah 3 bulan lamanya, tapi aku rasa perasaan ini masih ada.
Tapi aku rasa juga tidak. Sungguh aku tidak mengerti.
Dia melepaskan tangannya, "Gak bisa jawab? Bimbang?" Lalu ia tertawa kecil tapi terlihat terluka dan sungguh aku tak menginginkan itu
"Kamu masih cinta sama dia, Sya. Jadi untuk apa membohongi diri? Temuilah Roki" tambahnya lalu bangkit menuju kamar mandi meninggalkanku yang termangu akan jawabannya.
--
Sudah dua minggu ini Renal seperti menghindariku. Apakah aku ada salah dengannya?
Sepulang dari kegiatan proyek lalu sepertinya kami masih baik-baik saja.
Tadi ketika aku mengetuk ruangannya, berniat untuk mengajaknya makan siang tapi ia menolak mengatakan sudah ada janji dengan seseorang.
Satu hal baru yang kini ku ketahui, sekarang ia adalah direktur di perusahaan ini. Lebih tepatnya ternyata ini salah satu anak perusahaan milik kakeknya. Ia tidak pernah menceritakan ini, mungkin karena aku bukan siapa-siapanya kan?
Lupakan soal ini, yang paling menyebalkan adalah ia janji makan siang dengan Windy. Ah sedekat apa mereka sekarang ini? Bukankah baru bertemu dua minggu yang lalu.
Tentu saja, mereka sudah bertukar nomor ponsel.
Dan kini aku sedang di cafe yang sama dengan mereka, cafe yang tidak jauh dari kantor. Memandang mereka yang tengah asik berbincang.
Jangan katakan aku mengikutinya, sudah ku katakan bahwa ini letaknya tak jauh dari kantor.
Tapi Windy kan temanku juga, kenapa mereka tidak mengajakku?
Kenapa juga Renal merahasiakannya? Biasa juga kami selalu berbagi cerita.
Dari mulai zaman sekolah hingga kini, kami selalu bersama. Berbagi keseharian.
Aku menghela nafas, untuk apa juga aku bertanya-tanya. Biasa juga tidak begini. Saat bersama mantan-mantanku juga aku tidak peduli dengannya, karena dia juga akan selalu disampingku.
Ah sial. Ternyata aku baru sadar temanku hanya Renal.
Aku menunduk memegang bibir cangkir tehku, mengusapnya perlahan. Menstruasi membuatku mellow.
"Kebiasaan kamu gak berubah ya, Sya?"
Aku kembali mendongak, "Roki?"
Ia duduk di hadapanku, "Senang sekali akhirnya bisa bertemu denganmu. Akhir-akhir ini aku selalu menunggu kamu. Tapi aku lupa kamukan lebih sering makan di kantin kantor"
Aku hanya diam, ada benarnya. Aku biasa malas untuk keluar tapi kini entahlah.
Roki memegang tanganku yang langsung ku tarik. Aku menggeleng tanpa kata.
"Sya, please..." Mohonnya
Aku menggeleng "Maaf, Ki. Aku gak bisa'
"Aku menyesal, Sya. Aku uda batalin sama Caca."
Aku menatapnya tidak percaya, sependek itu pemikirannya. Aku mendengus tak percaya, mengalihkan ke arah lain yang sialnya malah terlihat kemesraan antara Renal dan Windy.
Hey apa-apaan itu Renal kenapa mengusap sudut bibir Windy? Ada tisu kali bisa sendiri. Biasa juga Renal begitu padaku. Sedikit aneh melihat Renal begitu, biasa juga sama aku.
"Sya, Aku ingin kita seperti dahulu" ucap Roki lagi.
"Ki, harusnya itu yang kamu katakan dahulu. Kemudian, ibumu juga tidak merestui kita. Kamu paham gak sih? Ibumu maunya Caca yang menjadi menantunya." Ucapku menggebu-gebu, lumayan untuk pelampiasan amarahku.
Eh tapi kenapa juga?
"Tapi aku sadar, aku bener-bener maunya kamu, Sya. Tolong pertimbangkan lagi"
Kini aku sadar, perasaanku pada Roki sudah hilang tak tersisa entah pergi kemana. Melihatnya sungguh membuatku muak.
"Maaf, Ki. Aku gak bisa. Jam makan siangku sudah habis."
Aku bangkit dari kursiku, tangan Roki menahanku, "Sya" ucapnya dengan tatapan memohon yang membuatku sekali lagi untuk mengatakan muak dalam hati karena Caca juga mengekori Roki sampai disini.
Aku melepaskan cekalan tangannya dari tanganku "Itu Caca sudah datang ke sini, Ki" lalu aku pergi meninggalkannya. Berpapasan dengan Caca dengan pandangannya yang penuh permusuhan.
Aku berjalan keluar cafe, tanganku kembali di tahan seseorang yang ku yakini pasti Roki. "Akukan... Renal?" Ucapku
"Ayo kembali ke kantor bareng. Daripada jalan kaki" ucapnya, padahal cafe ini kurang lebih berjarak 200 meter saja.
"Wind, aku duluan ya? Maaf ya gak bisa antar" ucapnya pada Windy
"Ah iya tidak apa, santai aja" balasnya
"Kalau tau kamu disinikan bisa bareng, Sya. Gak bilang sih" kata Windy padaku
"Ah aku juga tidak tau kalian disini" kilahku
Windy mengangguk "Yasudah lain kali aja kita makan bareng ya. Byee.." ucapnya padaku
kemudian ia menatap Renal sebelum berlalu " See you "
Ku alihkan pandanganku pada Renal, "Apa sih? Kenapa tidak mengantar Windy saja"
Renal hanya tertawa kecil tanpa menjawab membuatku semakin kesal. Ia membukakan pintu mobilnya padaku lalu aku masuk. Kembali ke kantor, sampai di parkiran, ia ingin turun aku mencegahnya dengan memegang tangannya.
"Ren, kamu kenapa sih dua minggu ini menghindariku? Oh aku tahu, karena posisi kamu uda Direktur ya jadi gak mau temenan sama aku lagi yang staff biasa"
"Apaan sih, Sya" balasnya dengan nada protes
"Aku yakin kamu tau maksudku, kenapa menghindariku? Aku ada salah ya"
"Sya, kita sudah dewasa. Aku rasa tidak sepantasnya kita seperti ini, kan?" Katanya dengan suara yang dalam sambil menatapku, lalu mengalihkan tatapannya pada tanganku yang masih menggenggam lengannya
Aku menggigit bibirku lalu melepaskannya, "Renal, bukankah kita biasa saja selama ini?" Tanyaku
Ia mengangguk, "Kamu mungkin begitu, Sya. Tidak denganku. Aku rasa aku juga butuh pelabuhan terakhir untuk melanjutkan hidup"
Aku menatapnya bingung. Kenapa Renal sikapnya aneh sekali.
"Aku yakin kamu mengerti. Aku juga gak bisa terus di samping kamukan Sya? Suatu hari nanti mungkin kita akan punya pasangan masing-masing." Jelasnya
"Ren, dari dulukan meskipun kita punya pasangan kita tetap temenan" kilahku
"Kamu harus tahu ini, Sya. Bu Karmila yang terhormat itu akan mencarikan istri buat aku kalau-kalau sampai akhir ini aku belum bisa bawakan calon menantu untuknya" jelas Renal padaku, aku tahu nada ucapannya terlihat kesal terbukti dia kesal pada ibunya sehingga menyebutnya bu Karmila
"Terus apa kita harus mengakhiri pertemanan, Ren?"
"Bu Karmila bilang, dia gak akan dapatkan calon menantu kalau aku terus sama kamu."
"Kenapa mama kamu gak jodohin kita aja?" Tanyaku dengan spontan
Tapi benarkan? Aku mengenal bu Karmila sudah pasti. Kami juga sudah berteman lama. Juga sering pergi bersama.
Renal tersenyum geli "Emang kamu mau sama aku? Kemarin kan kamu nolak aku"
Aku salah tingkah di buatnya, selama ini aku dengan Renal dekat, sangat tapi sepertinya tidak pernah begini. Renal selalu perhatian dari dulu tapi kami selalu layaknya teman.
Tapi satu hal yang sangat ingin aku tahu.
"Aa.. ee.. iya. Tadi bertemu Windy ngapain?"
"Kamu cemburu?"
"Enggak" sanggahku dengan cepat
Ia mengangguk-anggukkan kepalanya, "Dia salah satu kandidat calon menantu Bu Karmila"
"Ha? Apa!" Pekikanku tak sadar begitu saja. Oh Tuhan sempit sekali dunia itu
"Terus kamu mau?" Tanyaku tak sabar
Dia mengangkat bahu acuh "Ya mau gimana, cuma dia satu-satunya orang yang masuk di akal jika aku menerimanya. Ya setidaknya aku sudah kenal. Mmm.. kecuali...."
Ia menggantung ucapannya, "Kecuali?" Tanyaku
Dia hanya diam, tapi tatapannya begitu dalam padaku. Aku bahkan tidak dapat menafsirkan tatapannya, tatapan Renal yang sama saat ia menyatakan perasaannya.
Kemuadian tatapannya naik turun dari mata ke bibirku, oh aku tidak tau harus bagaimana
Selama beberapa detik begitu, tapi aku mulai sadar saat bibir kami bertemu.
Awalnya sebuah kecupan ringan tanpa protes dariku, dia mulai melumatnya perlahan tapi pasti. Yang mulanya aku diam, kini aku membalas ciumannya. Tanganku ku kalungkan ke lehernya, tangannya menarik tengkukku guna memperdalam ciuman kami. Lama kelamaan ciumannya seakan menuntut.
"Ahh.." lenguhan tak sadar keluar
Ia semakin bersemangat mencecapnya, hingga ia mengangkatku ke pangkuannya, entahlah kemahirannya datang dari mana yang jelas saat ini setan apa yang merasukiku. Tapi aku sungguh menikmatinya.
Renal melepas tautan bibir kami, nafas kami terengah-engah akibat ciuman itu. Ku lihat tatapannya menggelap menatapku. Matanya memandang lekat mataku.
"Ren..." Kataku terhenti kala bibir itu kembali memagut bibirku, menyalurkan hasrat yang menggelap di matanya. Ciuman kami kembali panas, dari ciuman ini aku dapat merasakan cinta yang diberikan Renal.
Perlahan kecupannya turun ke leherku, aku mendongakkan kepalaku agar ia dapat menjangkau sisi lainnya sedangkan jemariku meremas rambutnya. Saat tangannya ku rasakan membuka kancing kemejaku, atensi kepalaku lansung tersadar bahwa saat ini kami sedang di parkiran.
Aku mendorongnya pelan, "Ren... Cukup. Kita di parkiran"
Umpatan lirih ku dengar dari mulutnya, sungguh sisi liar Renal yang baru kali ini ku ketahui. Dan ini cukup menggangguku.
Ia mengusap pelan bibirku dengan ibu jarinya yang kuyakini bibirku terasa bengkak olehnya.
Menyadari posisiku yang tengah duduk di atasnya, akupun melepaskan diri kembali pada posisiku yang semula.
Aku memijat pangkal hidungku menelungkupkan kepalaku, menutup wajahku dengan tangan.
Sungguh aku malu bukan kepalang.
Ku dengar tawa kecil dari Renal tapi sepertinya aku ragu jika ia menyesalinya.
Aku menatapnya sejenak lalu menghela nafas, rasanya sesak mengingat ia akan di jodohkan oleh orang lain.
"Mm.. Jadi kamu terima jika dijodohkan oleh orang lain?"
Ia hanya mengangkat bahu tanpa mengatakan apapun.
Aku menghela nafas perlahan lalu turun dari mobilnya, ku lihat ia tidak turun melainkan menjalankan kembali mobilnya entah kemana, kemudian berjalan memasuki kantor duduk di kubikelku mengerjakan pekerjaan yang tertunda.
Tapi nihil, pikiranku tidak bisa fokus. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aku benar-benar tidak akan berteman lagi dengan Renal.
Atau mungkin, hidup tanpa Renal.
Ponselku berbunyi menampilkan nama Windy sebagai penelponnya. Dan segera ku angkat.
"Ya?"
" Maaf menghubungimu di jam kerja. Aku hanya ingin bertanya, Renal sukanya apa ya? Maksudku ia suka penampilan perempuan yang bagaimana?" Tanyanya di seberang sana. Aku menunggu kelanjutan ucapannya
" Mmm.. ini sedikit mengejutkan sih, tapi kami ya bisa dikatakan di jodohkan begitu. Nanti malam kami rencana ingin makan malam bersama. Jadi aku ingin terlihat cantik " ucapnya sambil sedikit tertawa disana.
" Sebenarnya ya, Sya. Aku dari dulu suka sama Renal. Tapi kalian selalu bersama buat aku patah hati. Tapi sekarang malah begini ceritanya " tambahnya
Uhh aku yakin disana dia pasti kesemsem gitu. Aku tahu sih dia memang suka Renal dulu, terlihat dari gestur tubuhnya. Belum lagi terkadang dia suka salah tingkah. Aku sih bodo amat tapi kenapa sekarang aku yang ketar ketir ya
Ih.... Apaan sih.
" Sya " panggilnya di seberang sana
"Eh.. Iya, Wind" sahutku
" Jadi Renal suka perempuan yang bagaimana?"
Tentu saja sepertiku, iyakan?
"Mm.. Aku juga tidak tahu pasti, Wind. Tapi dandan semaksimal mungkin saja" ucapku pada akhirnya
Dia tertawa diujung sana sebelum menjawab " Iya sih, setidaknya aku juga harus berusaha menarik hati diakan" tukasnya
Panggilan telah berkahir beberapa menit yang lalu, aku sungguh tidak fokus lagi disini. Aku harus bertemu dengan Renal.
Dan Sebelum kanjeng ratu Renal itu menjodohkan Renal aku harus bicara padanya, melabrak jika perlu. Enak saja dia mau jodoh-jodohkan Renal.
Ku lirik jam, 15 menit lagi jam kerja usai. Ah bodo amat aku kabur saja, keburu Renal bertemu dengan si Windy itu.
Aku melirik ke kanan dan ke kiri, lalu berlari keluar cepat-cepat pergi menuju kediaman kanjeng ratu Renal.
Begitu tiba dirumahnya, aku mendengar ucapan ibunya Renal "Kamu mau cari yang gimana lagi? Windy kan sudah masuk kriteria yang kamu sebutkan itu. Lagipula, Tasya itukan gak mau sama kamu" cerca Karmila itu yang di balas dengkusan oleh Renal
Cepat-cepat aku masuk menyela pembicaraan mereka "Tante, aku mau kok sama Renal" ucapku sambil menggandeng lengan Renal.
Tante Karmila berdecak "Jangan bercanda kamu, Sya. Nanti malam kami akan makan malam membicarakan hubungan mereka."
Aku menatap Renal mencari pembelaan. Ini aku sungguh-sungguh loh.
"Aku gak bercanda, Tante. Asal tante restuin sih hehe" ucapnya sambil tertawa di akhirnya karena malu
"Lihatkan, ma? Tasya itu suka sama aku. Cuma kemarin lagi bodoh aja" ucapnya lalu ku balas dengan tatapan tajam.
"Haduh... Pusing mama kalau begini"
"Tenang, ma. Nanti aku bicara sama Windy" lerai Renal
"Yasudahlah. Tasya awas kamu ya jadi menantu tante, nanti tante repotin Shooping bareng" tukasnya lalu berlalu, aku tertawa kecil, gak jadi menantu juga aku sering shopping bareng dia. Renal mana mau shopping bareng ibunya.
"Jadi, Sya. Lanjutin yang tadi di mobil yuk!" Bisik Renal di telingaku dengan muka tengilnya
Aku menatapnya dengan pongah lalu mengangkat tanganku, menggoyangkan jemariku lalu berkata
" Buy me ring."
ENDDDDDDD