Deby sudah bersiap siap dengan ranselnya, dia sudah tidak sabar dengan pengalaman pertamanya mendaki ke Gunung Salak dengan teman-teman dikampusnya, memang dia hanya cewek sendiri tetapi dengan empat sahabat cowoknya Ian, Beni, Iwan dan Rei pasti akan melindunginya dengan baik, kebetulan mama mengizinkan karena mama sudah mengenal teman Deby dari awal tahun kuliah pertama.
"Deby... Teman-teman kamu sudah datang sayang" teriak mama dari ruang tamu
"iya mah, Deby turun"
Saat Deby turun dia melihat teman-temannya sedang makan brownies buatan mama
"bentar ya Deb, enak banget nih kue mama kamu" ucap Beni yang memiliki badan paling gendut diantara kita
"iya Deb, sebentar dulu, abis ini mama kamu mau ambilin puding susu yang enak itu" timpal Ian
"Dasar, ga boleh lihat makanan langsung anteng deh, cepetan jangan lama-lama aku udah ga sabar nih berpetualang" ucap Deby semangat
Setelah selesai menyantap semua kue yg mama buat, mereka pamit untuk mendaki dan berangkat.
"hati-hati ya, cari tempat yang ramai saja, jangan ke tempat yang sepi" ucap mama yang berdiri didepan pintu pagar
"iya mah.. Dadah" jawab Deby
Hampir dua jam perjalanan, akhirnya sampailah mereka di pintu masuk pendakian gunung salak, dan setelah itu mereka mulai berjalan.
"Deb, kamu bawa cukup bekal kan?" tanya Beni
"Aduh Beni, naik juga belum udah mikirin makan melulu, pantasen aja perut lo gendut" jawab Deby kesal dan diikuti tawa anak-anak lainnya.
Mereka terus berjalan sesuai rute pendakian yang ada didalam peta, seharusnya sekitar lima belas menit lagi mereka akan sampai ke lokasi tenda pendakian.
Dan betul saja didepan mulai terlihat keramaian ada banyak tenda-tenda pendaki lain yang sudah berdiri disana.
"Ayu kita mulai buat tenda di sana ada lokasi yang kosong" ucap Rei
Mereka semua langsung menuju tempat itu dan segera membuat tenda, setelah selesai tidak terasa mulai maghrib, Deby menyiapkan makanan yang dia bawa untuk dibakar, sosis, mie rebus dan telur, dan Rei membantu Deby memasak.
"Deb, aku senang kamu ikut mendaki" ucap Rei manis
Sebenarnya Rei lah penyemangat Deby untuk ikut mendaki saat ini, Deby sudah lama mengagumi Rei, tapi belum berani untuk berterus terang
"aku juga senang Rei, sangat seru" jawab Deby
"udah mateng belum" rengek Beni
"udah, tapi sayangnya kamu ga kebagian" canda Rei kepada Beni diikuti tawa lainnya
Akhirnya setelah makan, bermain gitar dan bernyanyi, tidak terasa sudah tengah malam, mereka pun siap siap tidur. Deby menggunakan tenda sendiri yang berwarna biru, sedangkan teman lainnya di tenda mereka masing-masing.
"Deb...Deby bangun" suara samar diluar tenda, Debi membuka matanya dan melihat keluar
"Beni, ngapain kamu kesini?" tanya Deby
"Aku kebelet pipis, anterin aku yuk" jawab Beni
"kenapa mesti aku sih, kan banyak temen lainnya" jawab Deby malas sambil menguap dan mengucek matanya
"yang lain ga mau bangun, aku sudah kebelet pipis nih" rengek Beni
Tidak tega melihat wajah Beni, akhirnya Deby mengantar Beni juga
"Ben, kamu mau pipis dimana sih? Kita jalan udah mulai jauh lho dr perkemahan" ucap Deby
"cari tempat pipis yang enak Deb, sabar kenapa" jawab Beni
Tiba-tiba Deby melihat keramaian di tengah hutan, dengan suara ramai.
"Deb, kita kesana yuk, kayaknya ada kampung rumah penduduk aku bisa numpang pipis disana" jawab Beni
"iya, ramai bener padahal sudah malam gini"jawab Deby
Dan benar saja, saat mereka masuk ke tempat tersebut, ternyata banyak tukang dagang yang menjual sayur, daging dan buah juga penduduk yang sedang berbelanja.
"Kok aneh ya Ben, malam-malan gini ada pasar?" tanya Deby
"Sepertinya ini pasar malam Deb, gapapa kan banyak barang yang kita bisa beli buat besok, aku bosan makan mie melulu sekali kali kita makan ikan, kamu bawa uang kan?" tanya Beni
Deby merogoh kantung celananya "ada Ben, oiya kamu ga jadi pipis?"
"iya Deb, kamu tunggu disini ya, aku cari kamar mandi dulu" ucap Beni
Sambil menunggu Beni, Deby ke tempat salah satu pedagang yang menjual ikan.
"ikan yang ini berapa pak?" tanya Deby ke bapak penjual ikan
"dua ratus neng sekilo" ucap bapak tua itu
"dua ratus? Murah banget pasar ini" fikir Deby, dan Deby langsung memesan ikan setengah kilo
Dan Deby mulai ke tempat lain, harganya sangat murah, Deby membeli buah, membeli sayur, dan membeli daging juga.
Sudah hampir setengah jam Debi menunggu Beni dan belum terlihat juga, tiba-tiba ada nenek-nenek tua mendekatinya.
"Neng, tempatmu bukan disini, kamu harus kembali" ucapnya
"Maksudnya?" tanya Deby
"Ikuti jalan didepan yang terang, kamu akan kembali ke dunia kamu, sekarang juga" ucap Nenek itu
"tapi nek? Temanku belum kembali" ucap Deby
"jangan tunggu dia, dia ingin berbuat jahat pada kamu" ucap nenek itu
Dan tidak lama Deby melihat Beni datang
"mau apa kamu nek?" kata Beni
"jangan kau ganggu dia, dunia dia berbeda" ucap nenek tua itu kepada Beni
Tiba-tiba wajah Beni berubah, menjadi menyeramkan, wajahnya penuh darah dan berubah besar
"Kamu milikku" jawab mahluk itu dan saat mahluk itu mendekati Deby nenek tua itu menahannya, Deby lari sekencang-kencangnya dan mengikuti saran nenek itu dia berlari dijalan yang terang.
Tiba-tiba Deby terjatuh dan tidak sadarkan diri, saat dia membuka matanya dia melihat sekeliling, teman-temannya sedang memanggil namanya.
"Deby.. Kamu sudah sadar?" ucap Rei dan Ian
"aku dimana?" tanya Deby
"kamu tadi hilang dari tenda Deb, dan saat kita mencari kamu, ternyata kamu pingsan ditanjakan atas sana" ucap Iwan sambil menunjuk tanjakan disana.
"pingsan? Aku diajak Beni untuk mengantarnya pipis" ucap Deby
"pipis? Aku tidak kemana-mana, malah aku tidur dengan nyenyak di tenda" ucap Beny bingung
Pak Madun, penghuni yang menemukan Deby, meminta Deby menceritakan kejadian yang dia alami,dan setelah mendengar cerita Deby dia mulai menjelaskan.
"oh nak Deby, dibawa oleh hantu jail ke pasar hantu, disini sudah banyak yang mengalami kejadian serupa, untunglah nak Deby tidak apa-apa" ucap pak Madun
"sepertinya itu sangat nyata" ucap Deby
"baiklah karena nak Deby sudah sadar, dan sudah bertemu teman-teman, saya pulang dulu mungkin sebaiknya kalian segera pulang kerumah" ucap pak Madun, "oh iya tadi ada kantung milik nak Deby yang tertinggal.
Deby menerima kantung yang diberikan pak Madun, dan dia melihat isi kantung itu.
"ini belanjaanku dari pasar semalam" ucap Deby kaget
Dan teman-teman melihat ke dalam isi kantung tersebut
"ikan, buah,sayur dan daging masih segar dan utuh"
"apakah kita boleh memakannya?" tanya Beni spontan
semua teman-teman mengarah kepada beni dan memelototinya.